Pandemic Diary: Menemukan Diri di Rumah Sendiri

DENGAN masih merajanya Covid-19 di luar sana, saya memilih untuk fokus pada hal-hal yang bisa saya kendalikan.

Salah satunya ialah rumah saya.

Pandemi yang membuat saya tinggal di rumah lebih banyak seolah memberi saya banyak waktu untuk memperhatikan lingkungan dalam dan luar rumah.

Saya memang sejak dari dulu anak rumahan.

Belajar di rumah, olahraga di rumah, nonton film di rumah.

Melancong memang mengasyikkan. Saya suka melancong tapi saya bukan tipe orang yang seolah menuhankan aktivitas itu.

Wajib traveling sebulan sekali ke luar daerah. Atau wajib traveling ke daerah yang belum pernah didatangi.

Bisa traveling atau tidak tidak membuat hidup saya terasa kurang lengkap kok.

Saya rasa ada yang aneh dengan pleasure economy yang pernah merebak sebelum pandemi kemarin yang ditandai dengan melejitnya startup-startup perjalanan dan wisata macam Tiket.com dan Traveloka.com itu.

Seolah terus-terusan menelusuri dunia di luar adalah sebuah kemenangan. Sebuah lencana yang dikoleksi dan kemudian bisa dipamerkan ke semua orang. Atau untuk sekadar bahan konten. Haha. Saya akui saya juga kadang begitu.

Tapi kalau melihat orang yang keranjingan traveling sampai seolah nggak bisa hidup tanpa traveling, itu rasanya ada yang aneh dengan rumahnya.

Bisa jadi rumahnya tak lagi terasa sebagai rumah. Dengan kata lain, rumahnya sudah menjadi semi neraka dunia. Haha. Ada yang membuat kurang nyaman atau bahkan stres kalau di rumah. Kemungkinan besar sih hubungan dengan manusia-manusia di dalamnya.

Salah seorang teman saya juga demikian.

Ia sangat suka melancong. Berbagai tempat wisata dari yang touristy sampai yang exotic dan langka karena saking nggak pernah didengar orang konon sudah pernah ia kunjungi.

Dalam sebuah perjalanan, kami pernah berbincang. Begini kira-kira isi pembicaraan kami:

“Tau nggak? Mama aku itu kalau di rumah ya, bikin kesel. Selalu ngomel melulu. Nuduh aku pergi pergi muluk padahal masih pandemi gini.”

“Ya ada benernya sih…”

“Tapi masalahnya dia tuh nggak ada berhentinya gitu. Sampek capek dengernya.”

“Oh ya?”

“Kayak orang parnoan. Dikit dikit nanya gue dari mana. Udah cuci tangan belum. Pake masker nggak tadi pas keluar rumah. Kayak nggak percaya ama gue banget.”

“…..”

Liat gini aja di rumah udah seneng sekarang aku tuh. (Foto oleh IKEA Indonesia)

Jadi nggak salah lah kalau saya jadi menyimpulkan dia itu sering melancong demi melarikan diri dari mamanya.

Saya sendiri hidup di perantauan jadi kurang bisa merasakan pengalamannya itu. Sudah dari sedekade lebih lalu saya tak lagi tinggal di rumah orang tua. Dan begitu saya ‘pulang’, rasanya saya bukan ke rumah tapi numpang tinggal di rumah orang tua saja.

Kemudian karena saya membeli rumah kecil di daerah yang konon kata orang Jakarta “antah berantah” sebelum pandemi melanda Maret 2020, saya berniat menghuninya. Sungguh saya sudah bosan menyewa kamar kos sempit di tengah rimba Jakarta.

Tapi sebelumnya saya harus mengisinya. Nggak mungkin lah saya tinggal di rumah yang kosong melompong.

Akhirnya saya putuskan belanja perabot dan kasur dari IKEA. Cukup menguras rekening sih tapi puas karena desainnya minimalis banget. Lain dengan rumah orang tua saya yang terasa … gimana ya, jadul gitu deh.

Lalu saya pun mencoba memberikan banyak sentuhan pribadi pada rumah. Supaya rumah ini terasa vibe Akhlis-nya.

Saya menjadikan rumah sebagai suatu sarana ekspresi diri, aktualisasi diri dan pemuasan diri. Haha.

Semua desain dan penataan ruang adalah pilihan mutlak saya. This is my space, pikir saya. Saya memang tidak bisa mengatur semesta tapi di dalam semesta mini ini, saya bisa menjadi diktator otoriter absolut. Tentu saja orang tua berusaha memberikan saran tapi kembali lagi saya penentu keputusannya. Karena ya budget juga dari saya sebagian besar.

Ubin pun harus sesuai selera saya!

Dan yang cukup menyenangkan sekaligus memusingkan ialah memilih ubin. Saya suka dengan gaya minimalis dan industrialis. Saya pilih lantai kayu (karena ubin keramik bikin lantai lebih dingin kalau hujan), dan hangat di mata. Cat dinding putih sehingga kesannya sangat resik dan ‘telanjang’. Lalu ubin kamar mandi juga saya pilih yang agak bernuansa alam dan tetumbuhan.

Saya sempat ditawari kontraktor untuk memasang wallpaper yang meriah agar dinding tak terkesan hampa.

Tapi saya tolak mentah-mentah karena saya mau pajang tetumbuhan dalam ruang agar kehampaan itu bisa lebih marak dengan kehidupan yang riil, bukan ilusi semata. Meski urusan merawat tumbuhan-tumbuhan itu nantinya lain urusan. Haha.

Saya menemukan keasyikan sendiri merenovasi rumah begini karena ya mau pergi ke mana juga kan? Bahaya juga kalau keseringan pergi. Pengalihan perhatian dan energi serta sumber daya keuangan yang paling masuk akal ya perbaikan rumah.

Dan selama perbaikan rumah ini, saya juga menemukan jatidiri saya lho. Jadi nggak harus pergi ke tempat eksotik dan instagrammable baru bisa menemukan diri.

Saya menemukan bahwa ternyata saya sangat suka tetumbuhan. Saya berupaya keras menyisakan lahan terbuka untuk ditanami rerumputan dan tumbuhan hias di depan rumah. Bagi saya itu oase. Dan saya ngotot untuk tidak menyemen semua bagian lahan rumah. Saya ingin ada taman dan pohon di depan rumah, seperti yang ada dulu di rumah ortu saya tapi kemudian ditebang dan jadi garasi mobil.

Saya juga menemukan diri saya penikmat olahraga solo. Saya tak suka nge-gym. Saya lebih suka fokus pada diri saya sendiri saat berolahraga. Mengobrol memang mengasyikkan tapi malah jadi distraksi. Plus jadi ancaman penularan virus kalau olahraga di gym yang ada orang lain.

Untuk itu saya jadi agak anti mobil dan kendaraan bermotor (Greta Thunberg can relate). Saya juga menganggap kendaraan bermotor merepotkan. Kalau dicuri juga susah kembali. Dan adanya layanan ojek daring sudah menjadi alasan lain untuk tidak membeli kendaraan pribadi. Setidaknya juga selama pandemi, saya tak banyak pergi. Kerja di rumah sendiri. Aman dan nyaman. Mau cari apalagi? Wifi? Sudah ada juga di sini.

Semua yang saya butuhkan sudah ada di rumah. Alhamdulillah… (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: