“Run Boy Run”: Kulup Adalah Penyelamat

Srulik atau Jurek Staniak diperankan oleh dua anak kembar ternyata. (Tangkapan layar: Run Boy Run di Tubitv.com)

SRULIK seharusnya bisa selamat. Tapi kulupnya yang sudah disayat sejak bayi membuatnya harus menderita di masa-masa awal hidupnya.

Berkali-kali anak laki-laki keturunan Yahudi yang lahir di Polandia ini harus dibuang, diburu dan terlunta-lunta di tengah pergolakan Perang Dunia II.

Saat itu pasukan Nazi Jerman di bawah pimpinan Hitler sedang buas-buasnya memburu orang Yahudi di seluruh daratan Eropa.

Keluarga asli Srulik di sebuah kota kecil di Polandia juga tidak luput dari kejaran pasukan Nazi itu.

Keluarganya tercerai berai begitu Nazi masuk ke kota tempat mereka tinggal. Sang ayah sendiri ditembak mati oleh serdadu Nazi.

Srulik, diberi nama baru “Jurek Staniak” oleh ayahnya, mesti bertahan hidup sendirian. Ia dipesan oleh ayahnya agar tetap bertahan hidup bagaimanapun juga. Ia tak boleh putus asa apalagi menyerah dalam kondisi terberat sekalipun.

Sebenarnya Srulik bisa saja selamat dengan sangat mudah. Tapi kemalangan mulai datang saat ia bermain-main bersama sekelompok anak laki-laki yang sedang berlomba mengukur jarak kencing mereka.

Perlombaan yang tidak ada gunanya, konyol tapi menyenangkan bagi anak-anak seusia itu. Mereka belum mengenal rasa malu membuka celana di depan orang lain dan memang tidak ada risiko apapun bagi anak laki-laki di masa itu untuk sekadar bersenang-senang dengan kelamin mereka.

Tapi bagi anak laki-laki Yahudi, penis adalah bagian tubuh yang sakral. Srulik pernah dinasihati sesama anak laki-laki Yahudi: “Jangan sampai membuka celanamu di depan orang.”

Dan anak itu benar adanya. Mempertontonkan kelamin yang sudah tak berkulup adalah permulaan penderitaan bagi laki-laki Yahudi dari berbagai usia.

Laki-laki Yahudi bisa saja mengaku dirinya bukan Yahudi. Mereka bisa mengaku dirinya beragama lain tapi jika mereka saat mereka membuka celana tidak ditemui adanya kulup di ujung penis mereka, semua itu dianggap kebohongan semata.

Bahkan jika ia hapal seluruh isi Injil kalau ujung penis sudah telanjang tanpa kulit pembungkus itu, ia tetaplah dicap Yahudi.

Semua berawal dari membuka celana. (Tangkapan layar: Tubitiv.com)

Srulik dengan mudah menghapal doa-doa Katholik yang diajarkan seorang wanita Polandia padanya.

Tapi malangnya ia tertangkap juga karena dicurigai sebagai anak Yahudi. Lalu ia dibawa ke seorang pejabat Nazi.

Srulik mengaku ia anak Polandia, agamanya Kristen karena ia bisa merapal doa-doa Katholik dengan fasih.

“Buka celanamu!” hardik si pejabat Nazi itu.

Srulik yang tahu risikonya pura-pura berusaha untuk membuka ikat pinggangnya.

Si pejabat Nazi itu tak sabar dan langsung menurunkan celana Srulik begitu saja.

Srulik tercekat tentu saja. Tak bisa berkata-kata. Ia setengah ditelanjangi dan identitas dirinya yang seharusnya tetap tersembunyi juga ditelanjangi di depan musuh.

“Lihat, kamu Yahudi!” bentak si pejabat Nazi.

“Aku harus dioperasi saat kecil karena infeksi, pak,” kilah Srulik yang mengaku bernama Jurek agar identitas Yahudinya tetap tak terendus.

Tentu si pejabat Nazi tak semudah itu percaya.

Srulik pun diseret ke luar, hendak dijadikan mainan hidup untuk anjing-anjing pemburu Nazi yang buas.

Tapi Srulik sanggup melarikan diri, berkat ingatannya yang kuat atas pesan si ayah: “Larilah ke rawa atau sungai. Di situ, anjing-anjing tak akan bisa mencium baumu. Kau akan selamat…”

Dan ia lari sekencang mungkin ke sungai yang ada di sekitar sana. Ia pun selamat setelah membenamkan tubuh ke air sungai dan terhindar dari tembakan acak pasukan Nazi yang ingin memastikan ia mati tenggelam di sungai itu.

Kali ketiga saat ia membutuhkan kulup ialah saat ia hendak dioperasi oleh seorang dokter di sebuah rumah sakit besar karena tangan kanannya tergilas mesin penggilingan di sebuah rumah pertanian.

Saat perawat melucuti pakaian Srulik yang sudah pingsan hampir kehabisan darah, si dokter melihat burung Srulik yang sudah disunat.

Sontak ia berkata: “Saya tidak mau mengoperasi Yahudi.”

Ia keluar dari ruang operasi dan membiarkan anak laki-laki itu meregang nyawa.

Esoknya nyawa Srulik sudah di ambang kematian. Tangan kanannya sudah membusuk separuh. Tubuhnya menggigil karena memerangi infeksi yang terjadi akibat luka parah itu.

Seorang dokter senior mendatangi rumah sakit itu dan melihat tubuh Srulik yang mungil tergeletak di koridor rumah sakit, dibiarkan sekarat.

Si dokter senior marah karena pembiaran luka Srulik itu membuat anak itu sekarang harus berisiko diamputasi.

Akhirnya dokter senior tadi mengambil keputusan untuk memotong lengan bawahnya hingga siku.

Akibat burungnya disunat, ia juga harus kehilangan lengan kanan bawahnya. Sad. (Tangkapan layar: Tubitv.com)

Adegan Srulik yang sukses bertahan hidup tapi harus syok melihat tangannya buntung dan menangis di kamar mandi memandang cermin lalu ke tangannya yang hilang itu sungguh memilukan.

Tapi di momen kepiluan itu rasanya juga ada kelegaan, bahwa ia meski sudah cacat tapi masih bisa bertahan hidup dan memegang teguh pesan ayahnya.

Srulik beruntung dirinya bisa melewati momen perih itu. Ia hidup hingga masa tuanya di Israel. Dan meski masa kanak-kanaknya begitu perih untuk diingat, ia mampu melanjutkan hidup meski tanpa kulup.

Film ini pantas untuk menyandang bintang 5 karena si protagonis dimainkan dengan ciamik oleh dua anak kembar Andrzej dan Kamil Tkacz.

Yang memukau juga adalah bagaimana mereka membuat lengan kanan Srulik terlihat buntung sungguhan. Saya sampai mencari di Google tentang si pemeran Srulik untuk memastikan bahwa ia masih punya lengan kanan dan lengan itu bukan lengan prostetik!

Sutradara Pepe Danquart patut diberikan standing ovation karena mampu mengarahkan semua kru di film ini untuk mengejawantahkan tiap kata dalam novel karangan Uri Orlev yang berdasarkan kisah nyata itu dengan begitu piawai. Terbukti film ini mengantongi 10 penghargaan dari penonton di Amerika.

Terlepas dari fakta bahwa sekarang Srulik ini menjadi bagian dari Israel yang menindas Palestina, sebagai manusia saya paham bahwa lingkaran setan kekerasan yang manusia ciptakan sendirilah yang menyebabkan semua perang, pertumpahan darah dan segala kesusahpayahan ini.

Dan alangkah tragisnya jika seorang anak manusia yang tak tahu apa-apa harus terseret di dalam pusarannya dan menjadi korban.

Kini anak-anak Palestina juga banyak yang bernasib seperti Srulik: terlunta-lunta tanpa punya rumah, kehilangan anggota badan, atau malah nyawa karena pertumpahan darah yang dilakukan orang-orang dewasa. Mereka tak bisa protes dan terpaksa ikut di dalamnya.

Ah, bukankah esensi kehidupan adalah nestapa? (*/)

Anda bisa menonton film ini secara GRATIS seutuhnya di tautan berikut: https://tubitv.com/movies/600075/run-boy-run?start=true

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in movie and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.