Telaah Hoaks: Covid Bisa Dikalahkan dengan Makan Kurma?

Kurma memang sehat tapi apakah memang bisa bunuh Covid-19? Tunggu dulu. (Wikimedia)

ALKISAH beredar sebuah konten viral di WhatsApp. Begini bunyinya:

1400 TAHUN YANG LALU RASULULLAH TELAH MENEMUKAN OBAT VIRUS CORONA

Seluruh dunia sedang mencari obat untuk Virus corona, sedangkan Rasulullah salallaahu alaihi wa sallam sudah memberikan obat untuk semua penyakit sejak 1400 tahun yg lalu termasuk obat untuk virus corona.

Kita tidak boleh meninggalkan ajaran dan sunnah Rasulullah.

Kurma merupakan gula tertinggi untuk melawan virus corona, menurut professor America Hendrick Shatrick, seorang virologi
(ahli virus) spesialis virus Corona menjelaskan.

PH (tingkat keasaman) virus Corona bervariasi dari 30% sampai 70%.
Karena itu, untuk mematikan virus, kita harus banyak mengkonsumsi makanan yang memiliki kadar gula di atas virus Corona

Seperti :

Kurma – 70%
Pisang – 60%
Apel – 40%
Citrus/jeruk mandarin – 30 %
Nanas – 30%
Jeruk – 30%

KURMA akan mematikan virus sejak awal, sebelum mencapai paru-paru

Untuk mengkonsumsi kurma, lakukanlah sehari 3 kali tiga biji
(pagi 3 biji, siang 3 biji dan malam menjelang tidur 3 biji).

Inshaa Allaah.

Jangan simpan informasi ini untuk sendiri, berikan kepada keluarga dan teman-teman.

Allah adalah sebaik-baiknya Penjaga dan Dialah yang Maha Penyembuh dan Maha Pengampun.

Di grup WhatsApp mana? Tengok saja grup keluarga masing-masing.

Kemudian saya mencoba melacak nama virologist tadi. Tidak ada jejaknya. Entah apa saya yang kurang gigih atau memang literaturnya sedikit sekali.

Saya pun mencoba cara lain untuk membuktikan inti gagasannya bahwa kurma bisa memusnahkan Covid-19.

Apakah itu benar?

Saya menemukan sebuah publikasi riset dari Society for General Microbiology dengan judul: “Date syrup shows promise for fighting bacterial infections” yang juga diterbitkan laman ScienceDaily.com pada tanggal 30 March 2015. Anda bisa membacanya di tautan ini: http://www.sciencedaily.com/releases/2015/03/150330213949.htm.

Intisari temuan riset tadi ialah bahwa sirup atau jus kurma yang banyak dikonsumsi di Timur Tengah itu memiliki khasiat antibakteri dan bisa digunakan melawan sejumlah bakteri penyebab penyakit. Jenis bakteri yang diketahui bisa dibasmi dengan sirup kurma ialah Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Enterococcus spp. dan Pseudomonas aeruginosa.

Dalam kondisi “in vitro” alias di tabung percobaan atau kondisi laboratorium (bukan di dalam tubuh organisme), sirup kurma ini bisa menghambat pertumbuhan bakteri lebih cepat daripada madu yang memiliki khasiat serupa.

Kandungan dalam sirup kurma ini memang berguna bagi kesehatan. Sejumlah senyawa fenolik yang terbentuk secara alami dalam kurma memang bisa membunuh bakteri.

Anehnya meski sama-sama tinggi gula, sirup artifisial yang tidak ada kandungan fenolik tadi tak begitu efektif mencegah pertumbuhan bakteri.

Jadi sirup kurma ini dikatakan bisa bermanfaat untuk mengobati penyakit-penyakit yang dipicu bakteri-bakteri tadi. Sirup kurma juga sudah dipakai sebagai obat luka pencegah infeksi.

Dan perlu digarisbawahi bahwa percobaan tadi dilakukan dalam kondisi in vitro. Jadi ada kemungkinan hasilnya bisa berbeda jika dilakukan dalam tubuh organisme (manusia misalnya).

Dan seberapa banyak dosisnya? Ini yang belum terukur secara pasti. Bagaimana kalau terlalu sedikit sehingga efeknya tak terasa? Bagaimana kalau terlalu banyak sampai menimbulkan gangguan kesehatan lain?

Tapi BELUM ADA BUKTI ILMIAH bahwa sirup kurma atau kurma itu sendiri bisa membunuh Covid-19 yang sedang merajai dunia sekarang ini.

Jadi kita bisa simpulkan bahwa kalimat “kita harus banyak mengkonsumsi makanan yang memiliki kadar gula di atas virus Corona di dalam kabar di atas tadi BELUM BERDASAR.

Jangan sampai demi untuk menghindari Covid-19, kita malah mempertinggi risiko diabetes karena kurma yang matang apalagi busuk memiliki kadar gula yang sangat tinggi.

Dan kita tahu apapun itu yang berlebihan akan membawa ketidakseimbangan dan penyakit. Sebaik apapun sesuatu kalau terlalu banyak pastinya bikin nggak enak. (*/)

Duka Dunia Susastra Indonesia

PANDEMI tak akan pernah membuat kehidupan kita sama lagi. Sebelum pandemi kita memang sudah terbiasa dengan adagium “tiada yang abadi kecuali perubahan”.

Tapi sepanjang pandemi ini, kita seakan dipaksa sedemikian rupa untuk bisa diam, terpaku sambil menyaksikan atau mengalami perubahan-perubahan besar baik dalam skala mikro (pribadi) maupun makro (nasional dan internasional).

Kalau saya membayangkan pandemi ini seperti sebuah jaring nelayan raksasa yang dengan tiba-tiba menyeruak dan kita adalah ikan-ikan dalam perairan yang terkejut dan kocar-kacir sedemikian rupa. Kita harus bersembunyi di balik karang atau menimbun di bawah pasir hingga alat sang predator rakus ini lenyap dengan sendirinya. Karena mau melawan juga percuma saja.

Di mikrokosmos saya juga sedang terjadi perubahan. Beberapa teman beruntung belum terkena Covid-19. Saya sendiri juga setahu saya belum mengalami gejala-gejala yang dikatakan para dokter dan satgas Covid. Saya katakan “belum” karena saya ‘optimis’ nanti suatu saat saya juga pasti akan terjangkit virus ini. Ini bukan hal yang mengada-ada atau terlalu pesimis tapi mengingat persebarannya yang begitu pesat, saya tidak berlebihan kok mengatakan demikian. Tinggal menunggu waktu saja.

Beberapa orang di lingkaran terdekat seperti pekerjaan sudah ada yang terkena tapi belum ada yang sampai mengalami akibat fatal yang sampai kehilangan nyawa.

Namun, dua orang yang saya kenal di dunia susastra baru-baru ini saya ketahui meninggal karena Covid ini.

Yang pertama ialah alm. Wikan Satriati yang dikenal sebagai penyunting dan pekerja sastra yang ulet dan berjejaring luas di kalangan literati nusantara. Ia menjadi bagian dari Yayasan Lontar dan bekerja bersama John McGlynn untuk menerjemahkan karya-karya terbaik penulis Indonesia untuk disebarluaskan di kancah internasional.

Melalui Wikan saya juga bisa mengenal sosok-sosok berpengaruh di dunia susastra. Ia mengenal alm. Sapardi Djoko Damono dengan baik.

Ia juga kerap berkomunikasi dengan banyak penulis Indonesia yang karyanya terpilih untuk disuguhkan ke pasar internasional. Salah satu event global yang ia pernah ikuti untuk tujuan memperkenalkan karya sastra Indonesia ke dunia ialah Frankfurt Book Festival beberapa tahun lalu.

Saya juga berkesempatan bekerja bersama almarhumah dalam pengerjaan terjemahan naskah buku anak yang ia tulis, “Gadis Penjaga Bintang” (Of Stars and Prayers).

Selain alm. Wikan, saya juga kehilangan seorang teman penerjemah buku yang sudah dikenal luas berkat karya-karya terjemahan fiksinya yang ciamik. Namanya Dina Begum.

Yang paling saya ingat dari almarhumah adalah keramahannya yang terpancar dari dua matanya yang terlindung kaca. Meski ia pekerja teks komersial (plesetan untuk “pekerja seks komersial”), ia ternyata juga rajin beryoga. Dan inilah yang menyatukan kami. Kami sama-sama suka berlatih yoga.

Jadi melihat keceriaan dan semangat hidup alm. mbak Dina ini seakan ia jauh dari kematian. Sungguh. Bagi saya ia mungkin masih bisa hidup seribu tahun lagi.

Tapi siapa yang bisa menolak kehendak Tuhan untuk memanggilnya lebih cepat?

Sampai jumpa lagi Wikan dan mbak Dina Begum. (*/)

Pandemic Diary: Memaki sebagai Strategi Ilmiah Hadapi Pandemi

CAPEK dengan pandemi tapi nggak bisa ngapa-ngapain juga? Memakilah sampai kamu puas.

Buat Anda yang berpikiran sama dengan profesor di atas, saya tidak menyalahkan.

Tapi mari kita berpikir dari perspektif lain: memaki adalah penyaluran rasa kesal dan frustrasi yang paling mudah, murah dan tak memberikan dampak fisik (setidaknya).

Solusi saya bagi orang seperti profesor di atas ialah memblokir tweet yang mengandung kata-kata kotor yang tidak ia sukai. Mungkin seperti “sialan”, “bangke”, atau “kntl”.

Oke itu sih urusan dia ya.

Mari kita urusi urusan maki-maki ini.

Jadi gini, ada studi soal dampak memaki ini pada kesehatan. Dengan memaki seseorang bisa menahan sakit lebih lama.

Wow!

Peneliti-peneliti Keele University’s School of Psychology menemukan adanya efek penurunan sakit pada mereka yang memaki.

Berkata kotor biasanya memiliki efek yang melebih-lebihkan atau ‘lebay’ soal intensitas rasa sakit yang dirasakan seseorang.

Memaki membuat kita jadi lebih bisa menahan sakit yang tak tertahankan.

Subjek penelitian dihadapkan pada uji mandi es dan mereka dipersilakan memaki sepuasnya saat merendam diri di bak mandi es ini.

Hasilnya: mereka yang tahan lebih lama saat mandi es ialah subjek yang melepaskan kesakitan itu dengan memaki-maki.

Di saat pandemi begini, saat orang tak tahu lagi harus bertahan hidup dengan cara apa, terutama mereka yang ada di lapisan ekonomi bawah sudah frustrasi dengan kinerja pemerintah yang juga sama bingungnya, di sini saya paham betul bahwa memaki adalah solusi supaya tetap waras meski ya tidak akan menyelesaikan masalah atau menguatkan argumen, seperti kata profesor itu. Karena itu bukan wewenang rakyat kecil yang sedang memaki-maki ini. Rakyat kecil cuma bisa menunggu dan melihat sementara mencoba untuk bertahan hidup.

Dilarang keluar rumah tapi pemerintah memberikan bantuan terlambat (atau malah nggak sampai sama sekali). Diserukan ayo vaksin tapi distribusi vaksin juga lambatnya minta ampun dan prosedurnya melelahkan. Anak mau sekolah online tapi kok kuota habis dan gawai rusak karena panas (kalau itu masih ada duit untuk beli hp pintar juga). Please deh, gimana nggak pengen maki-maki?

Nah, lain halnya kalau ada pejabat yang memaki pejabat lain seperti kasus Kemal Arsjad yang mengatakan mau meludahi Anies Baswedan (sumber: detik.com). Apakah itu karena ada dendam pribadi atau sentimen personal? Karena saya yakin, ia bukan seorang penjual asongan yang tak bisa makan atau anaknya sakit saat PSBB diberlakukan secara ketat di Jakarta.

Jadi tolonglah Anda yang berpikir bahwa memaki bukanlah strategi menghadapi pandemi yang beradab, coba ajarkan rakyat kecil itu bagaimana melepas tekanan jiwa dan frustrasi itu dengan lebih baik dan beradab.

Jangan cuma mengernyit mencap orang-orang kecil yang memaki sebagai manusia tak tahu adab dan aturan. Mereka hanya menjerit minta pertolongan karena sudah terjepit sedemikian rupa.

Kalau memang kita belum bisa menolong, ya sudah cukup maklumi saja lah. Jangan disikapi dengan sinis. Berempatilah sedikit.

Jika Anda sudah tak ada anastesi untuk meringankan pasien yang sedang dioperasi, layakkah Anda menyuruhnya tutup mulut dan mengatakan: “Apakah makian Anda akan membuat Anda sembuh atau operasi ini jadi sukses?”

Begitu juga dengan orang-orang kecil yang sedang terbebani pandemi ini. Mereka juga sama dengan pasien yang sedang dibedah badannya tanpa obat bius sama sekali karena rumah sakitnya sudah kehabisan stok. Jadi saran saya: diamlah jika Anda tak merasakan hebatnya sakit yang ia sedang tanggung. (*/)

SUNGGUH TAK ELOK, Komentar Erick Tohir pada Kehidupan Pribadi Indra Rudiansnyah

ENTAH apakah ini sudah menjadi semacam budaya di masyarakat Indonesia. Bahwa inti hidup seseorang adalah pernikahan.

Memang dengan pernikahan, ada manfaat-manfaat yang bisa dinikmati seorang manusia.

Sains mengatakan menikah membuat seseorang lebih kuat saat dihadapkan pada ancaman depresi saat ekonomi RT jauh dari kata makmur sekalipun.

Hal ini dikukuhkan oleh penelitian dari Georgia State University tahun 2018 lalu. Mereka menemukan bahwa manusia yang menikah dan cuma memiliki pendapatan lebih rendah dari rata-rata pendapatan masyarakat masih bisa waras dan bahagia. Tapi bagi yang menikah dan kondisi mereka tak lagi di bawah garis kemiskinan, pernikahan tak lagi memberikan manfaat positif bagi kesehatan mental.

Lalu ada lagi penelitian sebelumnya soal kebahagiaan orang-orang yang menikah yang dilakukan Michigan State University tahun 2012.

Mereka mengatakan orang yang menikah bisa lebih bahagia dalam jangka panjang dibanding para lajang, demikian simpul peneliti.

Namun demikian, jika pernikahan itu gagal dan berakhir pada perceraian, dampaknya tidak cuma pada kesehatan jiwa pasangan yang bercerai dan anak-anak mereka jika sudah ada tapi juga pada lingkungan.

Sebuah studi tahun 2007 dari Michigan State University menemukan bahwa perceraian yang tren sekarang ini ternyata berdampak pada lingkungan hidup. Makin banyak rumah tangga dengan lebih sedikit orang yang akhirnya memakan lebih banyak ruang dan tempat yang juga mengonsumsi lebih banyak energi dan air bersih yang makin langka.

Begitu ya?! Nggak pernah kita mikir sampai ke situ sih ya.

Oke jadi memang pernikahan itu banyak manfaat tapi juga ada sisi negatifnya.

Tapi kembali ke kasus Erick Tohir dan candaannya pada Indra dalam sesi Instagram Live yang bukan bertema pernikahan atau asmara tapi temanya adalah prestasi Indra sebagai bagian dari tim uji klinis vaksin Covid-19 AstraZeneca di sana, tentu lelucon semacam ini agak kurang…yahhhh. Aneh aja sih.

Kalau orang Jawa bilang: “Ngono yo ngono tapi mbok ojo ngono.”

Yang artinya: “Gitu ya gitu tapi ya jangan gitu juga.”

Boleh sih bercanda tapi ya tahu batas lah pak. Anda seakan mengaburkan prestasi Indra dengan menyelipkan pesan subtil: “Kamu belum lengkap tanpa seorang perempuan di sampingmu.”

Tsahhh!

Ini semacam validasi bahwa bangsa Indonesia memang bangsa yang tergila-gila soal kawin, status pernikahan, dan sejenisnya. (*/)

Heterofleksibel: Mau Enaknya Saja Tanpa Stigma

BERTAMENG gelar ustaz dan pengajar agama, beberapa oknum memanfaatkan anak-anak di bawah umur sebagai pelampiasan seksual mereka yang dalam ajaran agama yang mereka ajarkan sendiri dicap menyimpang.

Di negara yang menggembar-gemborkan paham anti LGBT ini, kita bisa temukan sejumlah kasus ustaz yang menyalahgunakan kekuasaan dan kekuatan mereka pada santri-santri atau anak-anak laki-laki yang tak tahu apa-apa.

Saya ambil contoh saja kasus yang terbaru yang paling menggemparkan. Kasus di Padangpanjang, Sumatra Barat. Seorang ustaz bernama Syukron (33) memaksa santrinya onani dan melayaninya oral sex dengan dalih meningkatkan kepercayaan diri.

Dilansir dari Detik.com, Syukron yang langsung diadukan ke polisi oleh santri-santri tadi mengatakan:” Saya bukan gay. Buktinya saya punya anak dan istri. Itu saya lakukan karena khilaf saja. Karena tergoda setan.” Bah!

Ustaz-ustaz bejat seperti ini tidak seharusnya dihukum ringan karena dampak perbuatan mereka itu bisa sangat panjang dan berefek domino.

Lihat saja kasus yang melibatkan seorang musyrif atau pengasuh asrama di sebuah pesantren di Yogyakarta yang berinisial EK.

Selain menjaga dan mengajari santri mengaji dan memasak, siapa sangka dia juga menggunakan ponsel pintarnya untuk membujuk beberapa santri laki-laki untuk mau dijadikan objek oral sex.

Dalam interogasi, EK mengaku dirinya bisa sampai melakukan itu karena ia mau membalas perlakuan yang sama yang dialami dirinya saat dulu menjadi santri cilik juga.

Kedua kasus ini baru terjadi di tahun 2021 sehingga masih sangat segar dan mencerminkan sebuah fenomena tersendiri di masyarakat kita saat ini.

Kembali pada kasus ustaz Syukron tadi, kita tersentak dengan pengakuannya yang seakan menolak cap LGBT pada dirinya padahal apa yang ia lakukan itu jelas-jelas tindakan seksual sesama jenis. Bagaimana bisa juga seseorang yang sudah menikah melakukannya pada anak di bawah umur yang bukan pasangannya sendiri?

Klaim Syukron tadi memang tidak bisa diterima dalam perspektif seksualitas masyarakat Indonesia yang baru sesederhana heteroseksual VS biseksual VS homoseksual.

Jane Ward, akademisi yang meneliti fenomena ‘heterofleksibel’. (Foto: Wikimedia)

Tapi ternyata ada sebuah teori yang bisa menjelaskannya. Dituliskan oleh Jane Ward dalam bukunya “Not Gay: Sex Between Straight White Men“, ada istilah heterofleksibel yang merujuk pada sekelompok pria yang mengidentifikasi diri mereka sebagai heteroseksual tapi di situasi dan kondisi tertentu mereka berhubungan seks juga dengan sesama pria tanpa sepenuhnya menjadi penyuka sesama jenis.

Buku karya Jane Ward yang membahas soal heterofleksibilitas. (Foto: Amazon)

Ward meneliti fenomena unik bahwa dalam fraternity groups atau kelompok sosial eksklusif mahasiswa pria di kampus-kampus di AS terjadi secara rutin ritual hazing yang bertujuan untuk menciptakan keakraban di antara para anggota barunya. Ritual ini bersifat mirip inisiasi atau perpeloncoan yang ditujukan bagi mereka yang ingin masuk ke kelompok tadi. Jika dianggap gagal dalam menjalani ritual ini, seorang calon bisa didepak begitu saja.

Salah satu bagian dari hazing ini adalah elephant walk, di mana pemuda-pemuda kulit putih yang akan bergabung dalam kelompok fraternity ini polos tanpa busana dan berdiri dalam sebuah lingkaran lalu membungkuk dan memasukkan jari mereka ke anus teman yang ada di depan lalu mereka akan bergerak maju sambil disoraki para senior. Seperti sekawanan gajah yang saling melingkarkan ekor dan gading mereka.

Kelakuan pemuda-pemuda kulit putih heteroseksual lain yang sama sekali tidak heteroseksual ialah mereka bertelanjang ria dan saling menindih satu sama lain dan saling memaki dengan panggilan “faggot“, istilah peyoratif atau merendahkan yang dipakai untuk memanggil pria gay.

Di sini kita patut mengernyitkan dahi karena pemuda-pemuda ini adalah kelompok pria kulit putih yang agresif dan membenci kaum homoseksual. Mereka homofobik tetapi dalam sebuah kesempatan, mereka justru tidak ragu melakoni perbuatan yang mirip kelakuan kaum yang mereka benci.

Jadi ini memang sangat paradoks.

Mereka beralasan ini bukan didasari motif seksual atau ketertarikan sesama jenis. Ini hanyalah cara menguji kekuatan satu sama lain dan membangun hubungan yang erat.

Melalui Ward, Laurie Essig yang menulis untuk Salon.com mendefinisikan “heterofleksibilitas” ini sebagai sebuah permutasi terbaru identitas seksual. Artinya seseorang memiliki atau berniat mengadopsi gaya hidup heteroseksual dalam keseharian. Ia bisa memiki pasangan dari jenis kelamin berbeda tapi bedanya ia membuka diri terhadap hubungan seksual dengan sesama jenis dan bahkan menjalin hubungan romantis dengan sesama jenis.

Bedanya dengan biseksual lalu apa?

Nah ini sulitnya. Heterofleksibel bisa dibedakan dari biseksual dengan adanya unsur iseng atau senang-senang saja saat berhubungan dengan sesama jenis tapi tetap memegang teguh identitas heteroseksual.

Heteroflexible, I am told, is a lighthearted attempt to stick with heterosexual identification while still “getting in on the fun of homosexual pleasures.” – Laurie Essig

Haha memang membingungkan ya?

Ternyata tradisi hazing yang dilakukan mereka yang heterofleksibel ini menimbulkan masalah bagi mereka yang merasa dianiaya secara seksual. Dan kasus-kasus hazing yang ekstrem ini banyak disembunyikan di balik layar oleh militer AS (dan mungkin militer dunia?). Karena kita tahu sendiri, militer adalah dunia maskulin dan mereka hidup dengan kelompok yang homogen. Pria tinggal bersama pria. Akibatnya pria yang dianggap lebih lemah, lebih muda, lebih junior rentan sekali ditindas dan jadi korban.

Tradisi perpeloncoan ala militer yang disebut hazing ini sempat dipermasalahkan karena banyak korban yang membeberkan dan menuntut keadilan secara formal. Bahkan seorang prajurit AS saat bertugas di Irak dilecehkan sedemikian rupa oleh rekan-rekannya sendiri. Sesuatu yang sangat membuatnya terguncang.

Tapi anehnya ada juga yang menikmatinya dan sengaja membuka diri untuk melampiaskan hasrat seks pada rekan sesama jenisnya. Di kalangan militer, hal ini bisa terjadi karena mereka harus bertugas berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun jauh dari pasangan. Lalu apakah mereka akan dijamin bisa menahan libido? Ada yang mungkin sudah puas dengan merancap tapi yang mendambakan hubungan badan yang riil dengan manusia tentu tak puas.

Ward mengutip penelitian yang melibatkan sejumlah subjek serdadu militer yang mengaku diri mereka pernah terlibat hubungan seksual sesama jenis dengan rekan mereka saat bertugas.

Ini bukan paksaan. Tapi mereka melakukannya dengan sukarela. Ada yang saling memberikan oral sex dan kemudian masih berteman baik dan masing-masing menikahi perempuan yang mereka sukai.

Yang tak kalah aneh ialah saat seorang prajurit yang sudah punya anak dan istri justru memilih bersetubuh dengan sesama jenis karena alasannya ia tak mau tidur dengan perempuan yang artinya ia mengkhianati istrinya. Di dalam logika berpikirnya, melampiaskan libido pada laki-laki bukanlah perselingkuhan. Tentu mereka tak bisa dianggap berbohong saat mengatakan tidak tatkala diinterogasi istrinya di rumah: “Mas, kamu nggak tidur ama perempuan lain kan?” Jelas dia tidak merasa berbohong karena faktanya dia ‘cuma’ tidur dengan teman sejawat. Haha. Cerdas ya!

Dan rata-rata para serdadu militer ini sangatlah menganggap rendah kelompok LGBT. Dengan kata lain, mereka homofobik namun menghalalkan perilaku homoseksual sepanjang itu menguntungkan diri mereka.

Perilaku heterofleksibel ini dilazimkan di kalangan militer dan pelakunya tidak dianggap gay asal semua itu ditutup rapat, dilupakan dan tidak dibicarakan sama sekali begitu mereka di luar lingkungan militer.

Kembali ke kasus Syukron tadi, dengan mengetahui teori heterofleksibilitas ini kita bisa anggap bahwa memang masuk akal dia bukan gay walaupun melakukan seks dengan sesama jenis.

Namun, yang tetap tidak bisa dimaafkan dalam hal ini ialah bagaimana ia menyalahgunakan kekuatan dan kekuasaannya sebagai seseorang yang lebih senior kepada mereka yang berada di bawah kekuasaannya demi memuaskan diri sendiri tanpa mempedulikan perasaan orang lain yang ia tindas. Ini sangat menjijikkan dan tidak bisa dimaklumi.

Dan untuk itu, saya harus berkata bahwa ia seharusnya dikurung seumur hidup. Sebab yang ia lakukan sekarang bisa menimbulkan kasus-kasus baru di masa datang. Apalagi jika trauma para korban tak tertangani dengan baik dan mereka akhirnya membalas dendam pada anak-anak yang lebih muda tatkala nanti mereka dewasa sebagaimana yang dilakukan EK pada santri-santrinya.

Mereka memang tidak sejahat pembunuh. Tapi perbuatan mereka lebih menyiksa daripada pembunuhan. Korban-korban mereka akan terus hidup dengan trauma yang tak akan hilang bagaimanapun canggihnya terapi yang diberikan.

Yang lebih menjengkelkan lagi ialah bagaimana kaum heterofleksibel ini juga bisa membenci kelompok LGBT sedemikian rupa padahal mereka mengadopsi perilaku LGBT secara seenaknya dan tetap tidak mau menanggung stigma negatif yang dipikul orang LGBT di masyarakat. Ini sangat egois dan mau menang sendiri. (*/)

Pandemic Diary: Who Doesn’t Hate Their Governments Now?

THE emergency pseudo lockdown in Indonesia has enraged some people especially street vendors and those who make a living by selling goods by streets.

In Malang, East Java, a cafe bravely declared they charge a much higher price for state apparatus or law enforcers like police officers and armed forces. Because these state ‘slaves’ are taking hard measures towards street vendors, leaving them starving and penniless.

In the meantime, the government has not decided whether or not this fake lockdown is eased as the case number is still skyrocketing at the moment. No sign of slowing down whatsoever. (*/)

Pandemic Diary: Reposting Your Last Vacation Content Is A Trend

I suck at swimming and thus hate sea and body of water this much but isn’t holiday the right time to try something new?

I saw some people reposting their last vacation content. Some said that would be the first thing they will do once the travel ban is lifted and (almost) everyone is vaccinated and things get better.

While we keep dreaming till God knows when, why not celebrating what we have had?

The experience of last holiday may be stale but hey it’s better than nothing at all.

Enjoy my footage of plunging myself into the sea… (*/)

Terlanjur Busuk

JIKA sebelum lahir saya bisa memilih tempat kelahiran saya, saya mungkin akan memilih SWISS sebagai negara kelahiran saya.

Saya suka gunung dan padang rumput dengan rumah terpencil dan sedikit manusia.

Dan yang terpenting Swiss adalah negara yang menghargai waktu dan tidak korup serta netral.

Sebuah negara dengan kepribadian yang cocok untuk saya yang pasifis.

Feminisme ala Ulfa Dwiyanti

“SPONTAN” adalah acara komedi yang dulu saya sangat sukai di SCTV. Setiap Sabtu malam saya ingat saya sering duduk di depan TV untuk menyaksikan orang-orang terkena kejahilan Ulfa dan Komeng yang menjadi sosok sentral di program fenomenal ini.

Konsepnya sih bukan sama sekali baru. Ya namanya di kolong langit memang ada yang sama sekali baru? Kan semuanya juga salinan saja.

“Spontan” sebetulnya mirip acara “Just for Laughs Gags” yang diproduksi di Quebec, Kanada sana.

Tapi Spontan memiliki nuansa dan elemen lokal yang tak bisa dibandingkan dengan acara Kanada itu.

Dan karena itu saya jadi merasa “Spontan” bukan jiplakan. Ia saduran cerdas dan kreatif yang diolah sedemikian rupa. Jadi bukannya tanpa kerja keras juga membuatnya.

Saya masih ingat juga dengan gaya kocak Ulfa Dwiyanti saat itu dan Ulfa saat ini jelang usia ke-50 masih juga segar dan kerap membuat tertawa.

Padahal kehidupannya juga bukan tanpa nestapa.

Ya bagaimana tidak? Dia menjanda tiga kali. Perih pastinya ya. Satu kali bercerai saja traumatis apalagi harus mengalami hingga tiga kali. Ia pernah menikah dengan 2 pria Indonesia lalu seorang pria Belanda. Dan semuanya karam. Pastilah perceraian sebanyak tiga kali itu bukan fase hidup yang mudah dilalui.

Dalam wawancara dengan penyair radio Kis FM beberapa waktu lalu, saya sempat mendengar kini Ulfa memilih untuk ‘tenggelam’ dalam keluarganya dan memilih tidak menjalani kariernya sebagai komedian lagi padahal sebetulnya ia juga masih memiliki aura entertainer yang tidak akan luntur. Ulfa, saya yakin, memiliki jiwa entertainer sejati. Tiap tindak tanduknya sudah membuat kita tergelak.

Kini wanita yang memilih berhijab dan tinggal di Tangerang Selatan ini mengatakan dirinya memang tidak lagi berniat mencari duit di dunia hiburan dan pertelevisian.

“Hidup itu pilihan, ya nggak? Ternyata yang gue lalui selama ini. Kita sudah berkarya 20 tahun lah, ternyata gue harus memilih mana yang gue pengen raih. Ternyata nggak gampang. Kalo separo separo, gue nggak nyangkut. Begitu lagi begitu lagi. Lalu gue pilihlah keluarga sebagai prioritas gue,” terang Ulfa.

Lalu ia juga menyinggung pernikahannya: “Lalu ketika wanita sudah ‘dilengkapi’, lo mau ngapain? Haha…”

Yang agak aneh ialah bagaimana publik masih ada yang bertanya kenapa ia tidak lagi muncul di layar televisi. Sekadar pegang acara apalah. Tapi memang Ulfa benar-benar stop muncul sama sekali.

Meski ada kerinduan dalam masyarakat terhadap kehadiran sosok Ulfa, ia mengakui tak bisa lagi terus muncul di televisi karena sudah memiliki prioritas hidup lain.

Di sini saya merasa bahwa Ulfa adalah perempuan pekerja keras yang sudah feminis dari dulu mungkin ya. Ia tampil di mana-mana, menjalani proses sampai di posisi puncak industri hiburan di zamannya. Ia bukan tipe wanita yang bisa diam di rumah dan memasak di dapur saya pikir. Ia pribadi yang aktif dan sangat suka berinteraksi dengan banyak orang di luar. Aura alaminya adalah penghibur dan penampil.

Namun, ia kini memiliki pilihan hidup dan merasa tidak terpaksa dalam menjalani kehidupan sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga.

Jadi please, ‘masyarakat’ juga seharusnya memahami dan menghormati pilihan hidup Ulfa.

Feminisme mungkin banyak dimaknai perempuan abad digital ini sebagai sebuah gerakan untuk membebaskan diri dari kungkungan norma-norma masyarakat yang membelenggu mereka di rumah dan dapur.

Tapi bagaimana jika mereka memang memilih untuk di rumah dan dapur? Apakah mereka juga perlu diselamatkan?

Saya rasa itu sangat konyol. Kenapa harus mempermasalahkan pilihan hidup seseorang yang memang sudah secara sadar memilih jalan tersebut.

Kini Ulfa lebih memilih untuk menyalurkan semangatnya menghibur orang dengan membuka akun Instagramnya sendiri. Di sana ia mulai mendapatkan pengikut yang rindu dengan banyolan dan celetukan segarnya.

Ulfa selain tetap membanyol ternyata juga mulau tertarik dengan dunia essential oil. Lho kok kayak teman-teman yogaku yaa… Haha. (*/)

Pandemic Diary: Buy from Thy Neighbors

PANDEMIC is lingering. Especially in Indonesia.

People’s energy is drained and I am affected as well.

I’ve been losing my creative mood lately. I can’t explain exactly why this happens but this seems to happen to not only me but a lot of other people.

A friend in Victoria, Australia, complains why the government simply sets another lockdown without considering the loss of income a small business owner (he is a pilates studio owner) has to bear.

Meanwhile in Indonesia, street vendors are raided by police unit for public order (satpol PP) during the so-called lite version of lockdown (PPKM). They are struggling to feed themselves while the government refuses to provide basic needs to survive.

The state is accused of being absent in providing basic needs for its citizens. On Twitter, I saw #WargaBantuWarga hashtag that shows people’s solidarity to help each other in these horrid and tough times. A porridge seller in Jakarta also distributes his product for free for his neighbors during PPKM. In short, Indonesians are trying to save themselves from this pandemic with very very little help from the government.

It’s heartbreaking.

But you can NOT feel brokenhearted every day. At all times.

You can be mentally ill if you should lament and cry for every sad thing or update you see on the timeline. It sucks your life energy slowly but surely.

That’s what happens to me now. I have stopped feeling bad for enjoying my life while some people out there are dying of Covid-19 and some health workers resign after a delay of salary payment from the bureaucracy.

That said, I want to narrow down my span of attention to the world inside my housing complex.

I used to be proud of its serenity. Months ago, every time I went to this suburbia housing complex, I hardly saw a human. I always felt happy and relieved. I could take a long walk in the morning without wearing any mask. Not because I am an irresponsible citizen but because it is sooo scarcely populated I hardly met anyone along my morning walk. Just an ideal getaway from Covid-saturated Jakarta.

But by the beginning of this July, I have seen some cases of Covid in the complex I am living in.

Oh my God, please no.

It started from a different cluster. And gradually some people in my cluster also admit they are self-isolating themselves.

Finally it hit home, I mumble.

But we are not a housing complex with high density so I am a bit relieved.

I can still enjoy fresh air in the morning, the blue easy sky every day, and still have enough space to work out outside.

My life is unshaken thus far.

But my neighbors’ lives may be.

So all the inhabitants of the complex are encouraged to interact on a WhatsApp group.

Being on WhatsApp is just like a must for everyone. It can be a source of anxiety and relief at the same time.

From this group, we now know some people have contracted the virus and isolate themselves from the rest.

Alarmed, the neighborhood association of the mega cluster told us not to go out without wearing a mask.

And they closely observe people. Those who don’t obey the rule will be immediately reprimanded or scorned. Well, slightly.

My point is while being stuck at home, I realize I cannot cook well and ordering foods is the sole talent I have.

So I tried to search some local home businesses that sell foods.

And there are many of them.

Some only sell foods when they have time to cook.

The profit may be small but I guess every rupiah now counts even more.

So I repeatedly order nasi kuning and pastel from a neighbor. She is a house wife, as far as I know.

The other day she announced on the group that she is unable to cook from that day on because her kids start to attend online schooling sessions again. So there’s no way she could cook and sell the foods as usual. Which is why she temporarily quit.

Another neighbor can cook and sell me nasi bakar. Her cooking skills are quite good. I savor every bite of the dish. She is one of my favorite cooks.

But earlier this week, she also announced that she had to go back to her hometown in Lampung because her father passed away. Dying of a natural cause, if you ask whether it is Covid-related or not. It isn’t.

Besides these two, I have another local seller that sell me gado-gado. Probably the taste is not quite extraordinary and the speed of service is disappointingly slow but what makes it special is the price. Worth the price. Three servings of gado-gado only cost me IDR30,000, including delivery cost.

Another one is a neighbor who sells me mushroom satay (sate jamur). Quite a vegan delicacy. But it’s too salty for me but I ate it anyway. It tasted so good.

I also have another favorite of nasi bakar seller. Unfortunately the delivery costs me quite a lot. It is IDR 10,000. Other than that, I have no complaint.

All these are ordered NOT on an online platform because I know they profit very little from the profit sharing scheme and I don’t want to give my money away to a unicorn startup who doesn’t need my money to survive.

These people around me need my money even more.

So I decided to order directly from them.

I help them and they help me eat better.

It’s a symbiotic relationship. (*?)

Pandemic Diary: Soal Borok Viktor

Viktor di atas matras yoga yang kadang ia cakari karena gemas.
Dengan tekun ia mau berjemur setiap pagi saat saya juga beryoga.

VIKTOR, kucing ini, telah saya adopsi sebagaimana laporan saya beberapa hari lalu yang Anda bisa baca di sini. Setidaknya begitulah keinginannya saya baca dari tindak tanduknya yang tidak mau pergi jauh dari rumah saya.

Sebelumnya saya mencoba ‘menjebak’ satu kucing untuk mau tinggal di rumah saya karena saya saksikan mulai ada tikus-tikus bergerak diam-diam di saluran air depan rumah. Satu ember IKEA saya yang berwarna tosca yang saya sayangi sudah berlubang karena gigitan seekor tikus pada suatu malam. Kurang ajar memang mamalia satu itu. Saya kobarkan perang melawan spesies itu. Sungguh! Besoknya saya suruh tukang bangunan memasang jaring-jaring di saluran air yang terhubung ke kamar mandi.

Seekor kucing itu pernah singgah sesekali dan saya namai Viktoria karena betina. Tapi ia maunya cuma mampir makan lalu ‘cabut’ saja. Saat saya kunci pintu rumah, eh dia mengeong-ngeong nyaring dan menerobos jendela loteng rumah demi bisa melarikan diri.

Ok fine!

Viktoria enyah dan saya akan tendang jika ia mau ke teras rumah cuma untuk mengemis makanan lagi. Cuih! Saya juga punya harga diri sebagai manusia kali!

Seperti saya katakan beberapa hari lalu, saya diberikan rekomendasi beberapa teman yang peduli kucing untuk membeli obat untuk borok Viktor.

Tapi saya masih ragu, apakah memang separah itu atau tidak ya?

Saya semprot lukanya dengan minyak zaitun dan malah Viktor menggaruknya dengan kuku-kuku hitamnya yang runcing. Malah makin berdarah. Haduh!

Alhasil, saya diamkan beberapa hari.

Dan saya beri saja ia tempat berlindung dan pasokan makan Whiskas mungkin 4-5 kali sehari (nafsu makannya besar sekali meski ukuran badannya kecil, mirip…ehem.. saya). Tak ketinggalan segelas air putih untuk mengobati hausnya.

Syukurlah, tadi pagi saya amati ukuran luka yang sebelumnya menganga dan kemerahan tampak makin pucat dan mengecil, kering.

Baguslah. Kupikir juga ia masih bisa pulih secara alami tanpa harus diberi obat-obatan karena usianya masih muda. Ia bukan kucing buduk tua yang sudah renta. Ia mungkin di usia manusia sudah menginjak remaja. Tidak begitu mungil tapi juga masih belum dewasa betul. Ia masih sering terkejut saat bermain memburu serangga seperti kupu dan belalang di rerumputan depan rumah. Ia juga kadang masih menggigit ekornya sendiri, entah karena bingung karena di ekor itu ada serangga hinggap atau bagaimana.

Dan yang paling menjengkelkan ialah saat makan Viktor maunya saya ‘persilakan’. Padahal saya sudah beri dua cawan untuk menampung Whiskas sampai luber dan dia saat lapar cuma mau mengeong dan memburu kaki saya, menggesek-gesekkan ekornya yang panjang abu-abu itu ke kaki sehingga saya jadi geli dan akhirnya saya hampiri cawan-cawan makanan tadi dan pura-pura meletakkan sesuatu di situ dengan tangan. Baru deh dia mau menghampiri cawan dan makan. Manja banget!

Yang menarik ialah kalau saya ingin mengusir dia dengan cara halus, saya tidak perlu membentak. Cukup saya semprotkan sesuatu, dia pasti enyah dalam sekejap. Dia takut air dan benda-benda cair lainnya. Bahkan dari minyak zaitun ia menghindar.

Lalu saat sudah mengantuk ia naik ke koper saya, dan hinggap di sana dan melingkarkan tubuhnya untuk rehat. Matanya sayu dan menatap saya yang masih bekerja dengan masih mengeong-ngeong lirih. Sedetik dua detik kemudian, kelopak matanya terkatup sempurna dan perutnya kembang kempis ritmis. Suara papan ketik yang saya tekan cukup keras tak membangunkannya. Biasanya dia terbangun saat saya beranjak. Langkah kaki saya biasanya membuat Viktor jadi ingin bergerak juga. Entah kenapa.

Sementara itu, dunia di sekitar saya sedang jungkir balik karena Covid-19. Beberapa penghuni klaster perumahan saya melaporkan diri terkena virus. Hmm, saya memang agak cemas sih tapi tidak berlebihan karena toh saya masih menaati anjuran untuk isolasi diri di rumah meski ada tukang bangunan datang saban hari demi merampungkan renovasi.

Kini saya paham betul kenapa kucing begitu dipuja sebagai pengusir stres dan gundah gulana di kala pandemi yang gelombangnya terus susul menyusul seakan tiada habis padahal stamina kita sudah hampir tandas disedot Covid-19. (*/)

Sejarah Korean Wave: Semua Karena Film “Jurassic Park”

Korean Wave sudah berusia 2 dekade lebih dan tidak tampak tanda-tanda mereda. Kok bisa ya?!

HALLYU bukanlah istilah yang muncul begitu saja secara alami dari media atau kalangan pekerja seni Korsel.

Terminologi itu dibuat oleh pemerintah Korsel, tepatnya oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mereka.

Jadi jika Anda selama ini beranggapan semua tren yang berhubungan dengan Korean Wave yang dunia alami saat ini hanya karena suatu fenomena alamiah belaka, Anda salah besar.

Ini semua adalah upaya rekayasa yang kontinu dan sistematis oleh pemerintah Korsel sejak pertengahan tahun 1990-an.

Asal Istilah

Istilah “hallyu” dibuat oleh kementerian tersebut saat mereka akan merencanakan, memproduksi, dan mendistribusikan CD musik untuk mempublikasikan musik pop Korea ke negara-negara tetangga mereka di Asia Timur di akhir dekade 1990-an.

Tahun 1999 CD musim berjudul “Korean Pop Music” dijual pemerintah ke luar negeri. Di China, CD tadi dijual dengan label “Hallyu – Song from Korea“.

Istilah ini langsung dipakai orang secara luas di China berkat adopsi istilah itu oleh media China begitu produk budaya itu masuk ke pasaran.

Meskipun pada awalnya istilah ini cuma diterapkan pada musik, dalam perkembangannya produk ini juga menjalar ke produk-produk budaya Korsel lainnya misalnya serial TV.

Anehnya justru serial TV yang meledak lebih dulu daripada musik pop Korea.

Saya sendiri di Indonesia di awal tahun 2000-an menjadi saksi masuknya Korean Wave dengan ditayangkannya serial “Winter Sonata” dan “Full House” yang menjadikan nama Song Hye-kyo melejit.

Song Hye-kyo dan Rain di “Full House”

Jauh sebelum “Full House”, ternyata sudah ada drakor yang mencetak sukses di luar negara produsennya sendiri yakni “What Is Love All about“.

Memang drakor ini baru diputar di negara serumpun Korsel, China, pada tahun 1997 tapi masuknya drakor ini menandai sebuah era baru dominasi Korsel di industri hiburan negara tirai bambu yang sebesar itu.

Stasiun televisi domestik China CCTV menayangkan ulang lagi drakor tadi di slot waktu yang banyak ditonton orang karena banyaknya permintaan dalam bentuk telepon dan surat dari para penonton China.

“Saya mau drakor itu diputer ulang ya. Titik!” seperti itu nada panggilan dan surat mereka.

Sejak tahun 1997-1998 (saat krisis moneter Asia justru sedang parah-parahnya), popularitas drakor melejit di China. Di saat bersamaan, Korsel juga tidak luput dari hantaman badai krisis moneter yang legendaris itu.

Satu negara serumpun yang tak terhindarkan dari Korean Wave gelombang perdana ialah Taiwan. Di sini, drakor yang mendapat perhatian masyarakat ialah “The Autumn Story” yang diputar tahun 2001. Ratingnya sangat tinggi dibandingkan program-program TV kabel sejenis.

Kemudian muncullah drakor “Winter Sonata” yang saya ingat juga masuk Indonesia dan menjadi fenomena tersendiri. Tak dinyana serial ini juga mendapatkan tempat di hati penonton Jepang sampai NHK menayangkan ulang dua episode serial ini dalam sehari. Dahsyattt!

Di Indonesia sendiri, “Winter Sonata” sudah digadang-gadang bakal populer juga dan benar juga. Serial itu juga meledak di sini dan saya sempat menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Saat itu stasiun TV SCTV menayangkannya pada Agustus tahun 2002.

Jadi dibandingkan Jepang, sebenarnya Indonesia lebih dulu. Wow! Mungkin cuma di aspek ini kita tidak terlalu minder dibandingkan Jepang. Haha.

Sejak itu gelombang semakin tak terbendung.

Zaman sekarang mustahil Anda steril dari pengaruh Korea. (Wikimedia)

Wabah Budaya

Demam Korea makin meluas ke Asia Tenggara. Vietnam, Filipina, Thailand, dan Malaysia akhirnya kena juga di akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Begitu demam “Winter Sonata” usai, “Jewel in the Palace” yang dibintangi Lee Young-ae menyusul dan meledak juga di China, Taiwan, Hong Kong, serta negara-negara Asia Tenggara di pertengahan 2000-an.

Meski selama itu, gelombang Korea ini baru menyentuh Asia Timur dan Tenggara, lama-lama ia menjangkau Asia Barat alias Timur Tengah pad pertengahan dekade 2000-an.

Jewel in the Palace” yang menceritakan kisah hidup Seo Jang-geum yang penuh lika-liku hingga bisa mencapai status tinggi di masyarakat Korea yang sangat feodal dan kolot sebagai seorang tabib perempuan tersohor itu kemudian dijual hak tayangnya ke lebih dari 120 negara di dunia. Ya sama saja artinya drama ini sudah dinikmati manusia di 5 benua di muka bumi. Sinting memang invasi budaya drama ini.

Saya sendiri saat itu juga tergila-gila dengan drama satu ini. Lee Young-ae menyuguhkan akting dan wajah yang sama-sama tanpa cacat. Kulit wajahnya begitu bening sampai seperti pualam. Dan hingga kini sepertinya tampilan fisiknya juga tak berubah banyak berkat perawatan kulit yang bermutu tinggi.

Berkat meledaknya serial “Full House“, konser musik si aktor utama Rain juga tercatat sukses besar. Konser di Madison Square Garden tahun 2006 dan di Tokyo Dome tahun 2007 sungguh membuatnya kaya raya.

Rapper Psy memang tak seganteng Rain tapi one-hit wonder ini cukup memukau dunia di masanya. (Wikimedia)

Meski bukan aktor dan rupa serta fisiknya tergolong biasa saja, penyanyi solo rap pria Psy bisa melejit dengan “Gangnam Style” meskipun selanjutnya ia seolah tenggelam sekarang. Hit selanjutnya tak terdengar.

Di puncak ketenarannya, video klip Psy di YouTube termasuk video yang paling banyak ditonton.

Salah satu trik sukses Korean Wave memang gelombang ledakan yang susul-menyusul. Usai satu mereda, tak lama berselang yang lain muncul. Dan ini terus diupayakan bisa dijaga secara kontinu dan berkesinambungan. Hebat banget ini sih.

Salah satu yang perlu diperhatikan ialah selain peran pemerintahnya yang sangat proaktif dan penuh inisiatif untuk memulai dan memelihara Korean Wave ini agar terus berada di puncak, peran pers Korsel sendiri terbilang sungguh ciamik.

Pers Korsel selalu punya cara untuk memperluas cakupan Korean Wave. Berkat mereka, publik dicuci otaknya untuk menerima gagasan bahwa Korean Wave tidak cuma soal musik dan drama saja.

Tapi juga sampai ke dunia kuliner, misalnya. Pers mendengungkan kesuksesan restoran Korea di China yang dianggap fenomena Korean Wave juga. Begitu juga saat mobil-mobil produksi Korsel makin banyak dijual ke Asia Tenggara.

Dunia pengajaran bahasa asing juga tak terhindar dari gelombang ini. Di Mongolia, tercatat ada lonjakan jumlah peminat pelajaran bahasa Korea di awal 2000-an. Di Indonesia, saya sendiri belajar bahasa Korea saat itu dengan bimbingan seorang penutur asli yang tinggal di Semarang dan bersedia mengajar di kampus saya dahulu. Kursus bahasa Korea ini berbayar dan diadakan seminggu sekali dengan fokus pada pengenalan kosakata dasar dan tata bahasa sederhana serta ekspresi-ekspresi paling penting dalam percakapan harian. Dan saya cukup antusias dalam belajar dengan harapan bisa sedikit memahami percakapan dalam drama korea kesukaan saya, “Full House“. Betul, sampai sejauh itulah kegilaan dan kegandrungan saya saat itu!

Terlepas dari wacana yang terus dipupuk media Korsel, publik di negara itu juga sudah makin paham. Berita-berita Hallyu dikumandangkan dengan rasa bangga dan suka ria dengan nasionalisme ala Korea. Tidak ada yang nyinyir apalagi sinis dan analitis soal Korean Wave di dalam negeri mereka. Apakah ada yang memojokkan upaya pemerintah dan para pekerja seni dan hiburan? Katanya sih tidak ada. Jadi dengan kata lain, setiap warga Korsel juga suportif soal ini.

Bagi publik domestik, Korean Wave disajikan oleh pers sebagai bukti bahwa tingkat kompetitif Korsel di kancah internasional sudah tidak bisa dianggap sepele dan daya jualnya sudah sangat tinggi berkat kekuatan emosional yang besar sekali di benak para konsumen luar negeri. Dan benar sekali sih, itu yang saya rasakan. Saya beli barang-barang Korsel kadang bukan karena butuh tapi juga ada dorongan emosional yang memang tidak bisa dimasukkan logika. Ya karena suka saja. Tidak ada alasan kuat yang masuk akal. Dan hebatnya ini juga merasuk ke ranah penelitian akademis tentang Korean Wave.

Sekali lagi, peran pemerintah yang besar tidak cuma saat di awal Korean Wave diciptakan. Mereka secara konsisten mengawal gelombang demi gelombang ini melalui berbagai macam cara yang sulit dideteksi orang awam seperti kita. Ada yang menduga mereka menggunakan berbagai kanal komunikasi dan jejaring yang kompleks serta menggerakkan seluruh wacana, dialog dan jejaring tersebut untuk menjaga Korean Wave tetap pada koridor yang ditetapkan.

Untuk menjaga stabilitas Korean Wave, masing-masing subjek menyebarkan wacana dengan sudut pandang nasionalisme budaya dan menyingkirkan sudut pandang lainnya. Pemerintah Korsel tinggal memberi tugas pada masing-masing elemen dan mengucurkan anggaran yang diperlukan agar agenda tercapai dengan baik. Pemerintah rela mengucurkan dana banyak demi mempertahankan hegemoni budaya populer yang sudah dirintis sejak 2 dekade lalu itu.

Karena iri dengan kesuksesan “Jurassic Park” karya sutradara Steven Spielberg, Presiden Korsel Kim Young-sam membulatkan tekad untuk menggulirkan industrialisasi budaya yang masif. (Wikimedia)

Bagaimana Korean Wave Bisa Dipertahankan

Semua kegilaan ini berawal dari pemerintahan presiden Korsel tahun 1993 hingga 1998. Presiden Kim Young-sam menggagas pembangunan jejaring budaya setelah termotivasi oleh sebuah laporan mengenai pendapatan ekspor film terkenal garapan Steven Spielberg “Jurassic Park” yang konon bisa disetarakan dengan nilai ekspor 1,5 juta unit mobil Hyundai dari negeri ginseng itu.

Presiden Kim sontak terbelalak dan ngiler dengan prospek keuntungan yang bisa dinikmati bangsanya jika memiliki produk budaya yang bisa diekspor seperti film tadi.

Dimulailah sebuah upaya untuk merintis sebuah kebijakan yang serius dan intensif demi menciptakan sumber pendapatan negara yang lebih tinggi lewat sektor budaya.

Presiden Kim mendelegasikan tugas penting ini pada Biro Industri Budaya yang bernaung di bawah Kementerian Kebudayaan Korsel kala itu. Biro ini sebelumnya cuma bekerja untuk melindungi artefak-artefak budaya tradisional dan mempromosikan seni Korea.

Pemerintahan Kim berkomitmen penuh untuk menggelontorkan investasi yang tak sedikit pada industri seni dan budaya. Mereka mulai menggalang dana investasi untuk memproduksi film, musik pop, dan program siaran TV yang semenarik mungkin. Perusahan-perusahaan elektronik raksasa Korsel seperti Samsung, Hyundai dan Daewoo ditarik pemerintah untuk menanamkan investasi juga.

Tahun 1995 menjadi saksi diluncurkannya TV kabel dan seketika ini menjadi sumber harapan bagi pemerintah Korsel yang ingin melejitkan produk budaya mereka. Kanal TV kabel ini bisa digunakan sebagai saluran promosi produk budaya Korsel.

Optimisme pemerintah disambut kalangan penyanyi dan pemain drama yang mulai menarik perhatian pemirsa di China yang menjadi tetangga Korsel.

Upaya Presiden Kim Young-sam tak berhenti sampai di situ. Di pemerintahan penerusnya Kim Dae-jung (1998-2003), upaya yang sama dilanjutkan lagi meski negara itu juga babak belur dihajar krisis moneter 1998.

Presiden Kim Dae-jung bersalaman dengan Presiden Bill Clinton. Senyumnya menyembunyikan perih akibat kondisi ekonomi Korsel yang kena tsunami Krisis Moneter 1998. (Wikimedia)

Di dalam kondisi ekonomi yang kurang menggembirakan, pemerintah berpikir bahwa ketenaran musik pop Korsel bisa digunakan sebagai katrol dan mesin pemulih ekonomi Korsel yang anjlok.

Di titik inilah pemerintah Korsel mulai mempertimbangkan industri budaya sebagai fondasi utama ekonomi nasional. Anggaran pun dinaikkan hingga 500 kali lipat di masa presiden ini dan keputusan itu didukung dengan undang-undang pula. Jadi Korsel habis-habisan membuat Korean Wave sebagai sandaran ekonomi mereka memang sejak lama.

Tahun 1998, Korsel membolehkan budaya pop Jepang masuk setelah sebelumnya melarangnya. Tujuan utama dibukanya kran impor budaya itu ialah untuk menguji ketangguhan industri budaya dalam negeri mereka sendiri dahulu sebelum mengepakkan sayap ke pasar asing.

Dan seiring dengan dibukanya pintu impor, mereka juga mengekspor K-pop ke Jepang yang meski negara sahabat tapi juga mirip Indonesia dan Malaysia, kerap bersitegang gara-gara perselisihan teritori dan sejarah yang kelam. Kalau Anda tahu, sejumlah perempuan Korea dijadikan budak seks juga seperti yang dialami oleh sejumlah perempuan Indonesia di masa penjajahan Jepang dulu.

Pemerintah Korsel terus menyempurnakan apa yang telah mereka rintis. Mereka mengubah industri yang dipimpin negara menjadi sebuah sistem manajemen tersendiri.

Di industri perfilman, para pekerja film makin serius dengan mendirikan Dewan Film Korea (KOFIC) dengan tujuan melindungi industri film mereka sendiri dari serangan Hollywood dan meningkatkan kapasitas ekspor Korea dengan meningkatkan keragaman film dan memperluas jangkauan film mereka ke pasaran dunia.

Pemerintah Korsel benar-benar berniat menjadi penguasa industri konten dan game dunia sampai membentuk agensi tersendiri untuk mengurusi industri tersebut. (Wikimedia)

Di tahun 1999, pemerintah juga memperluas fokus ke industri game dan siaran. Mereka membentuk Korea Game Industry Agency dan Korea Broadcasting Visual Industry Agency (yang kemudian dilebur jadi KOCCA). Keduanya mengundang organisasi masyarakat sipil dan industri yang berkaitan sebagai anggota yang akan menerapkan kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah.

Agenda dan kebijakan pemerintah ini diteruskan ke pemerintahan Presiden Roh Moo-hyun (2003–2008). Saat itu drama seri Korsel sudah menjamur di Asia tapi belum mencapai era puncaknya.

Pemerintah menciptakan skema insentif yang kuat bagi mereka yang bersedia membantu upaya pemerintah dalam mendorong perkembangan industri dan bisnis budaya yang sangat masif ini.

Invasi ke Dunia Akademis

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Korsel mendirikan sebuah agensi baru bernama KOFICE dan meminta KOCCA yang berdiri tahun 2001 untuk mendorong terjadinya Korean Wave di dunia untuk membuka kantor-kantor baru di negara-negara Asia untuk meluncurkan studi terhadap fenomena Korean Wave. Jadi mereka memang merencanakan ini secara rinci.

Sejumlah pihak terkait seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Sains, Kementerian Perencanaan Masa Depan dan Teknologi Komunikasi dan Informasi, dan badan pemerintahan lainnya di bidang pariwisata dan perdagangan bersatu padu mendukung Korean Wave.

Presiden Lee Myung-bak saat upacara pelantikan. (WIkimedia)

Pemerintahan selanjutnya yang dipimpin Presiden Lee Myung-bak (2008-2013) mencanangkan target mereka untuk mengembangkan Korsel sebagai negara dengan kekuatan industri konten.

Kebijakan Lee itu diiringi dengan perubahan nama kebijakan, dari “industri budaya” menjadi “industri konten budaya”. Wow! Dan tentunya ada bedanya ya isinya. Bukan sekadar perubahan nama tapi esensinya sama saja seperti yang sering dilakukan pemerintah di negara X itu. Haha.

Lee merancang rencana promosi ini dan menitahkan 11 kementerian di bawahnya mendukung rencana tersebut agar menjadi nyata segera.

Meski menerapkan sistem demokrasi dan terkesan tidak setoriter kembaran utaranya, Korsel sebetulnya sebuah negara dengan sejarah militer otoriter dahulunya di dekade 1960-an dan 1970-an.

K-pop, Korean Wave 2.0

Di periode kepresidenan Lee, Korean Wave memasuki babak baru. Drakor memang sudah mendunia dan makin menurun pamornya (meski tidak di Indonesia terutama di masa pandemi). Di babak baru ini, pemerintah berencana mengekspor musik pop Korea sebagai komoditas untuk menciptakan Korean Wave baru yang dibantu oleh pers Korsel yang membabibuta menyebarkannya sebagai “Hallyu 2.0” atau “New Hallyu“.

Pemerintah berambisi mengekspor K-pop sampai di luar Asia. Dan rencana akbar itu dibekingi oleh unsur-unsur industri media, industri konten, kalangan akademisi, dan kelompok awam. Harus diakui belum ada sih negara manapun yang upaya ekspor budayanya bisa menyamai tingkat komitmen dan kekompakan sebagaimana yang bisa ditemui dalam fenomena Korean Wave ini.

Jadi tidak heran sekarang K-pop bisa masuk ke telinga orang Eropa, Amerika Latin, dan negara-negara yang jauh dari Korsel seperti negara-negara Afrika.

Hanya saja, sayangnya sudut pandang Korean Wave ini makin meluas justru makin menyempit sudut pandangnya menjadi cuma soal nasionalisme Korea di bidang ekonomi dan budaya.

Presiden Park Geun-hye bersama aktor Song Joong-ki, yang kini menduda pasca perceraian dengan aktris Song Hye-kyo. (WIkimedia)

Korean Wave sebagai Ekonomi Kreatif

Pemerintahan Presiden Park Geun-hye yang mulai berjalan tahun 2013 mencanangkan visinya yakni “Ekonomi Kreatif”. Meski terdengar bagus, istilah ini memang ambigu. Cakupannya luas sekali, bisa dari teknologi informasi dan komunikasi, budaya, dan bidang lainnya.

Bisa jadi ini sebuah revolusi karena Korsel sebenarnya berbasis industri manufaktur tapi kemudian pelan-pelan juga merambah industri yang produknya bukan alat-alat berat atau produk elektronik melulu.

Presiden Park menandaskan Korean Wave sebagai salah satu alat untuk mencapai visinya tadi. Pemerintahannya mendukung semua bisnis yang berkaitan dengan budaya pop dan teknologi informasi dan komunikasi. Dan masyarakat juga menghormati para pelaku bisnis jenis ini.

Katanya startup unicorn anak bangsa tapi kok pakainya brand ambassador Korea? (Foto: Instagram Tokopedia)

Pelajaran buat RI

Lalu apa yang bisa Indonesia pelajari dari ini semua?

Banyak ya. Tapi yang terpenting ialah adanya strategi nasional yang terarah dan berkesinambungan. Halah!

Lihat saja pemerintah Korsel yang sejak 1993 sampai detik ini masih konsisten di jalur industri budaya ini. Memang ada perubahan tapi tidak serta-merta radikal dan perubahan itu justru menyempurnakan yang sudah ada sebelumnya atau membuat kebijakan yang sebelumnya sudah ada tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Jadi di sinilah pentingnya mengendalikan ego pemimpin, rezim dan sektoral serta lebih fokus pada kepentingan bangsa secara keseluruhan. Bukan sosok presiden tertentu. Ini berbeda dari Indonesia yang seolah memandang kesuksesan seorang presiden sebagai jasanya semata. Helooo, itu kan kerja keras semua elemen bangsa. Jangan diakui sendirian lah hasilnya.

Tiap pemerintahan dan presiden di Korsel tampaknya memiliki visi besar yang sama. Kebijakan industri budaya yang kemudian berubah dari berorientasi perlindungan menjadi berfokus pada promosi. Dan perpanjangan tangan pemerintah dalam industri budaya dan konten ini makin kentara saja.

Efek negatif dari campur tangan pemerintah ini tentu saja ada. Korean Wave menjadi tidak organik dalam berkembang dan seolah cuma sebagai alat promosi ekonomi dan membangun brand buat bangsa Korsel.

Ini berbeda dari pertukaran budaya yang seimbang. Dalam Korean Wave yang didorong pemerintah Korsel, negara ini seolah memonopoli interaksi budaya yang terjadi. Ia menjadi pemimpin terus dan tak mengindahkan budaya lain yang ada di dunia.

Kalau Anda generasi lama seperti saya, Anda pasti pernah dengar ada program bernama “Titian Muhibah” yang saban tahun dilaksanakan Pemerintah RI zaman Orba dengan 2 negara tetangga yakni Malaysia dan Singapura. Nah, di Titian Muhibah ini kita bisa saksikan interaksi budaya yang seimbang.

Di era sekarang, Indonesia seolah tidak diberikan kesempatan oleh Korsel untuk unjuk budaya di pasar Korsel juga. Dan pemerintah RI juga tidak kelihatan ada upaya yang kuat dan komitmen yang nyata untuk membawa produk budaya RI ke Korsel.

Tak ayal, sebagian masyarakat Indonesia juga muak dengan demam yang tak usai ini. Mungkin ini adalah komentar yang bisa mewakili rasa eneg itu:

Ingatlah bahwa ini bukan ujaran kebencian kepada Kpopers, ya. Aku fans BLACKPINK, tapi aku peduli dengan kepentingan non Kpopers. Jujur saja aku benar-benar bosan dengan maraknya artis Korea yang diundang ke Indonesia. Dari BTS, TWICE, hingga grup lain yang aku lupa namanya, dan sekarang BLACKPINK??? ya Tuhan trend ini sudah terjadi selama DUA TAHUN!!! Selama dua tahun terakhir ini pihak stasiun TV terus saja menguntungkan Kpop stan, padahal nggak semua orang suka Kpop! Bagaimana dengan nasib non Kpopers terutama pecinta musik Barat? Kalaupun ada artis Barat yang datang ke Tanah Air itu pasti pihak lain (yang tidak berkaitan dengan stasiun TV manapun) yang mengundang jadi tidak akan disiarkan di TV, sedangkan artis Korea selalu pihak TV yang mengundang. Aku nggak main-main ya, aku sampai melewatkan event Tokopedia yang terbaru, padahal mereka telah mengundang satu-satunya girlband yang aku sukai, itu karena aku benar-benar jengkel. Harapanku kedepannya semoga pihak pertelevisian Indonesia mengundang artis Barat seperti Ariana Grande, Billie Eilish, Little Mix, Dua Lipa, atau yang lainnya deh. Sudah cukup dengan event berbau Korea-Koreaan, sudah saatnya pihak TV memuaskan hati non Kpopers. Kalian Kpopers jangan kesal ya! (dikutip dari sebuah komentar untuk artikel “Fenomena Korean Wave di Indonesia”)

Yang menyedihkan sih bagaimana mereka yang muak ini bahkan sudah tidak ingat lagi dengan budaya bangsanya sendiri.

Karena ketidakseimbangan yang mencolok mata ini, rasanya memang tak berlebihan jika saya mengatakan bangsa Indonesia sedang ‘dijajah’ dalam aspek budaya oleh Korsel.

Kenapa?

Karena bangsa kita tak berdaya dan tak bisa mengimbangi dengan kekuatan dan sumber daya industri kreatifnya sendiri.

Hal lain yang bisa dipelajari ialah bagaimana Korsel dengan lihai membangun jejaringnya untuk menyukseskan Korean Wave ini. Mereka mau bersusah payah mendirikan berbagai macam agen dan biro dan hebatnya semua agen itu bekerja secara selaras dalam arahan konduktor dalam suguhan ‘orkestra’ yang mencengangkan dan membius banyak negara ini.

Yang lagi-lagi memukau ialah bagaimana kompaknya warga Korsel dan kalangan akademisi, pekerja seni hiburan dalam mendukung program besar pemerintah mereka. Tidak ada kata NO. Tidak ada bantahan. Semuanya seiya sekata untuk berkontribusi sesuai bidang masing-masing. Karena semuanya paham ini untuk kebaikan bersama dan tidak ada satu pihak yang disanjung berlebihan untuk hasil kerja keras bersama tadi.

Bahkan elemen swasta seperti agensi entertainmen yang mencetak bintang-bintang semacam Girls’ Generation dan BTS itu juga dirangkul pemerintah dengan meminta mereka menyebarluaskan wacana dan perbincangan soal nasionalisme budaya Korsel ini dalam balutan musik Kpop yang enak didengarkan.

Agensi-agensi ini bekerja bersama pemerintah untuk memberikan asupan berita bagi pers Korsel yang ujungnya nanti menyukseskan agenda Korean Wave pemerintah. Jadi gosip-gosip yang beredar di media sosial dan website seperti Soompi.com itu bukan semata-mata bersifat organik dan alami.

Agensi-agensi tadi memanfaatkan ketenaran global untuk merekrut para penampil asing (seperti kita ketahui selebriti-selebriti Korsel sudah mulai mengajak kerjasama seniman asing Barat bahkan sudah masuk ke dunia perfilman Hollywood dan menunjukkan kekuatannya di AS yang notabenen jadi pusat perbincangan budaya global).

Di Indonesia, mana bisa seperti ini?

Ada kompetisi yang berlebihan dan ego sektoral antardepartemen, antarpemerintahan daerah, antarkepala daerah, dan itu sudah mengakar kuat. Jadi kelihatannya sih guyub dan rukun, tapi kalau sudah urusan politik dan kekuasaan, urusan masing-masing lah! Egoisnya sampai ubun-ubun! Haha. (*/)

Rujukan:

The Korean Wave: Evolution, Fandom, and Transnationality“. Edited by
Tae-Jin Yoon and Dal Yong Jin. 2017. Lexington Books

%d bloggers like this: