Tukang-tukang Terbaik dari Purwodadi

(via 1cak.com)

RUMAH sekarang nggak cuma jadi surga kita tapi juga benteng pertahanan kita dari wabah yang sedang menelan dunia di luar.

Kebijakan PPKM Darurat atau PSBB atau apalah apalah itu (saking capeknya liat gonta ganti nama huft!) yang sekarang diberlakukan lagi itu membuat kita jadi kayak siput yang disentuh antenanya, langsung menciut masuk ke dalam cangkangnya untuk mencari aman.

Ya udah deh kita di rumah aja sementara dulu deh. Nggak usah ke mana-mana mengingat fasilitas kesehatan juga kepayahan menangani orang sakit bukan cma covid tapi juga yang lain.

Karena itulah rumah jadi semacam pelarian.

Hari-hari ini rumah saya juga saya jadikan sebagai sebuah bunker raksasa yang nyaman.

Dan agar lebih nyaman lagi, saya merenovasinya.

Ya di masa pandemi, rumah yang nyaman dan aman adalah suatu investasi.

Sebuah rumah yang sudah sesuai selera dan kebutuhan mau besar atau kecil terasa sudah cukup. Asal cicilannya juga nggak macet sih ya. Kalau itu lain lagi ceritanya.

Karena saya tak bisa merenovasi dengan tenaga sendiri (nggak kebayang saya mesti mengaduk semen dan pasir sendiri lalu kerja juga), saya pun menggunakan jasa renovasi.

Zaman sekarang memang serba digital. Apapun kebutuhan saya hampir semua bisa ditemukan di media sosial.

Saya menemukan sebuah akun Instagram yang mempromosikan jasa renovasi rumah.

Nggak murah tapi ya memang segitu pasarannya.

Saya bilang pada diri sendiri: “Daripada kamu simpan duit itu di bank terus nilainya turun dan nggak dinikmati, mending kamu pakai saja buat renovasi rumah. Kamu bisa rasakan langsung enaknya.”

Cusss! Saya hubungi langsung si empunya akun via DM Instagram dan ia merespon.

Awal Maret lalu pun saya memulai proyek renovasi rumah itu.

Dan sampai sekarang proyek itu masih berjalan.

Lamaaa memang. Bayangkan saja, saya harus melewati liburan Idulfitri sehingga tukang-tukang bangunan ini mesti dikasih liburan karena mau mudik.

Eits mungkin Anda ingin menghakimi saya atau si pemberi kerja, tapi begini: sekali lagi tidak mudik itu bersifat imbauan bukan kewajban. Dan jika pemerintah saja begitu lunak, masak saya mau sok bertangan besi?

Kalau nanti saya kasih ‘tangan besi’ dan ‘darah dingin’, jangan-jangan malah mereka nggak mau lagi kerja sama saya di sini?

Lebih repot lagi kan?

Nah, tukang-tukang bangunan ini rupanya dari wilayah Jawa Tengah sebab si mandor dan tukang-tukang yang dibawa itu bisa berbahasa Jawa dengan begitu baik.

Ada yang bahasa Jawa halus dan ada juga yang cuma Ngoko alias kasar.

Saya amati bagaimana dunia pertukangan ini dan bagaimana mereka bekerja.

Dalam dunia pertukangan, ada yang namanya pemberi kerja alias majikan. Dia adalah yang memiliki agensi renovasi ini.

Lalu ada orang yang bertanggung jawab mengawasi jalannya proyek. Titelnya “mandor”. Dia ini bertugas juga memastikan pasokan material dan segala uba rampe yang diperlukan untuk merampungkan renovasi rumah.

Di level di bawah mandor ada “tukang” yakni orang yang punya keahlian alias hard skills membuat rumah dan segala tetek bengeknya.

Lalu di level bawah tukang berikutnya ada “kernet” yang jadi sejenis asisten bagi si tukang yang lebih senior.

Yang bekerja di rumah saya adalah seorang tukang yang lebih senior yang bekerja bersama seorang anak yang lebih muda yang ternyata keponakannya sendiri. Si anak muda itu jadi semacam asisten tukang kalau boleh dikatakan.

Sebagai orang Jawa modern, selera musik mereka belum tersentuh dunia luar. Mereka masih suka mendengarkan dangdut koplo atau dangdut pantura. Itu saja yang mereka putar saat sedang mengerjakan renovasi rumah. Seperti suatu doping alami, yang membuat irama kerja mereka lebih cepat dan juga lebih tahan lelah. Gila sih.

Jadi saya mencoba mentolerir musik itu dan tidak menyuruh mereka mematikan ponsel yang sedang memutar musik itu. Saya lebih memilih mereka bekerja lebih cepat dengan dibantu musik dangdut koplo daripada saya bisa menikmati suasana hening tapi mereka malah nggak kelar-kelar kerjanya.

Sebelum Idulfitri, mereka meninggalkan daerah rumah saya untuk mudik ke tempat asal mereka: Purwodadi.

Ada istimewa dengan daerah satu ini memang.

Semua tukang saya ini berasal dari daerah tersebut. Kabupaten Grobogan atau yang kerap disebut Purwodadi itu memang terkenal dengan kepiawaian konstruksi penduduknya. Di saat yang sama, mereka juga dikenal sebagai pekerja rel kereta api yang jago. Setidaknya itu yang pernah saya dengar dari sejarah perkeretaapiaan di Jawadwipa ini.

Usai Idulfitri, mereka pun berjanji balik mengerjakan renovasi rumah saya yang masih belum rampung.

Seminggu kemudian renovasi baru kembali dimulai. Namun, tukang yang datang mengerjakan bukan tukang-tukang yang dahulu.

Lho, kenapa ya?

Entah kenapa tukang yang dahulu itu memilih tinggal di rumah dulu karena ada proyek di rumahnya. Mungkin. Entah bagaimana persisnya. Pokoknya saya tahunya dia nggak ke sini lagi.

Dua tukang bangunan lain yang datang ini lagi-lagi memang dari Purwodadi.

Meskipun pertumbuhan ekonomi negara ini sedang dihantam pandemi dan konon jumlah pengangguran melonjak pesat, sebenarnya lapangan kerja itu masih ada kok. Lapangan kerja pertukangan ini tersedia banyak sekali karena di masa pandemi orang makin banyak di rumah dan mereka seperti saya memilih untuk menyulap rumah mereka menjadi tempat tinggal yang jauh lebih nyaman daripada saat sebelum pandemi.

Cuma masalahnya memang orang banyak yang kurang berminat. Ya meski ini profesi yang dianggap miring, kalau dikerjakan oleh orang yang tak ada passion juga rasanya bakal menyiksa. Profesi tukang bangunan tidak membutuhkan otot semata. Ada banyak faktor lain yang harus diperhitungkan jika seseorang mau jadi tukang bangunan yang sukses dan selalu kebanjiran tawaran job.

“Sekarang beda dari dulu, mas. Dulu tukang-tukang pada nyari kerja susah. Sekarang justru nyari tukang yang mau kerja itu susah,” ungkap seorang tukang yang kerja di rumah saya.

Akibatnya perilaku dan sikap pada mandor pun berubah. Jika dahulu para mandor seperti perwakilan majikan yang harus ditaati dan ditakuti, sekarang mandor dianggap sebagai kawan saja. Memang masih tinggi dan dihormati tapi jika mandor itu kasar atau tak adil dalam memperlakukan tukang-tukang di bawah naungannya, ia akan ditinggalkan.

Karena itulah, sekarang bahkan si pemberi kerja juga menganggap para tukang sebagai bos.

Seorang tukang di rumah saya berceletuk: “Masak pak X menyebut saya bos. ‘Ya bos, nanti saya anter pakunya.” Lho padahal dia yang bosnya!”

Saya paham bahwa si pemberi kerja ini juga sebenarnya memiliki dependensi terhadap tukang ini. Jika tidak ada tukang yang mau bekerja untuknya, lalu bagaimana jalannya proyeknya? Memang keahlian dan kerja keras intelektual si pemberi kerja yang bisa membuat rancangan dana pembangunan dan renovasi serta merancang rumah itu sangat penting tapi kalau tidak ada orang yang mau merealisasikan rancangan tadi di lapangan, semua rencana itu akan sia-sia juga akhirnya.

Jadi saya paham kenapa si pemberi kerja, mandor dan tukang bahkan para kernet juga sekarang cenderung lebih egaliter dan saling menghormati daripada saat dulu kala.

Saya sendiri kaget saat diberitahu bahwa kebutuhan pekerja bangunan sangat tinggi sebetulnya tapi cuma sedikit orang yang mau menjadi pekerja bangunan. Mungkin karena prestise profesi ini tidak ada. Apa sih yang bisa dipamerkan dari kehidupan ‘kantor’ seorang pekerja bangunan? Kan tidak bisa dimasukkan di Instagram atau ditampilkan di LinkedIn. Meski begitu, saya tak bisa tampik arti penting mereka yang mau melakoni profesi ini untuk mencari nafkah.

Di era yang begitu memanjakan kemalasan untuk bergerak, ternyata dunia masih butuh orang-orang yang mau bergerak sampai otot pegal dan kram di malam hari demi membangun rumah milik orang lain.

Yang unik ialah saat saya menemukan realita bahwa tukang-tukang dari Purwodadi ini juga dianggap lebih berkualitas daripada mereka yang berasal dari daerah lain. Entah kenapa mereka memang lebih jago, lebih teliti, lebih rajin, lebih taktis dalam menyiasati detail-detail yang kecil namun penting.

Seorang tetangga mempekerjakan tukang-tukang dari daerah sekitar rumah yang tentu bukan orang Purwodadi dan tebak apa yang terjadi pada rumah barunya dalam beberapa bulan?

Hasil renovasi di dapur ternyata tak bertahan lama. Gipsum di plafom dapur, saya lihat saat bertandang ke rumahnya, terlihat jatuh.

“Untung nggak pas di rumah, kan bahaya banget kalau pas ada orang di rumah,” ungkap tetangga saya dengan nada menyesal.

Saya juga teringat dengan ucapan si pemberi kerja (si pemilik agensi renovasi) saat bercerita pada saya bahwa ia hanya memberikan pekerjaan-pekerjaan rumit dan ‘berat’ pada tukang-tukang senior dari Purwodadi yang terbukti memiliki rekam jejak dan pengalaman yang teruji daripada tukang-tukang setempat.

Ia mengaku cuma menugasi tukang-tukang setempat pekerjaan renovasi yang lebih simpel dan tidak begitu membutuhkan strategi dan pengalaman.

Dalam kasus renovasi rumah saya, tukang yang pertama bekerja dulu adalah tukang yang senior sekali. Kerjanya paling berat karena dia yang membangun pondasi dari bawah sampai menegakkan dinding hingga belasan meter dari permukaan tanah. Ini ia lakukan dengan bantuan satu asisten (kernet) saja. Bukan dilakukan sebuah tim.

Pekerjaan berikutnya dilanjutkan tukang yang tak kalah senior dan si tukang senior kedua ini juga memuji mutu bangunan yang sudah dibuat si tukang senior pertama. Karena membangun pondasi itu tak mudah bahkan sampai ke pembuatan atap rumah. Tingkat keterampilannya harus mumpuni betul.

Saya sendiri mendengar si tukang senior itu sering meneriaki si kernet karena memang ia menuntut kualitas yang prima dalam pondasi bangunan yan dibangun agar tidak menyesal nantinya.

Si tukang senior kedua ini juga mengatakan dirinya sudah sejak lama bekerja sebagai tukang konstruksi di sejumlah proyek perumahan di sekitar Jakarta dan Tangerang.

Ia bekerja secara marathon, dari satu proyek ke yang lain.

“Saya selalu berusaha nggak nganggur lebih dari seminggu, mas,” tutur tukang senior kedua dengan jujur.

Ya bukannya pekerja keras, tapi karena dia memang ada tanggungan utang pendidikan anak-anak. Jadi tiap bulan harus ada dana untuk melunasi cicilan bulanan ke bank.

“Kok nggak berutang ke keluarga, pak?” tanya saya, kaget juga dia sudah berani berutang ke lembaga keuangan formal karena itu syarat-syaratnya kan nggak gampang lho.

Mau bagaimana lagi wong keluarga besar memang nggak mendukung, kata dia.

Anak laki-lakinya berbeda dari anak kebanyakan di kampungnya. Anakya mau jadi guru olahraga jadi ia ngotot kuliah ke sebuah universitas di Solo. Biaya kuliah per semester juga tak terbilang murah.

Ibu kandung si tukang senior kedua ini menentang keinginan cucunya tapi si anak itu tak menyerah. Malah marah saat ia disuruh cuma puas dengan ijazah SMA lalu bekerja jadi kuli bangunan.

Saya berkomentar: “Bagus dong, pak. Anaknya berpikiran maju.”

Saya memang berkomentar sesuai pengalaman saya. Bahkan di desa asal saya dulu, anak putus sekolah karena dia dan ortunya menganggap sekolah tinggi itu percuma masih lumayan banyak. Dan pendidikan menjadi suatu kunci mobilitas vertikal yang cespleng dalam keluarga saya. Orang tua saya jadi guru PNS dan banyak saudara mereka juga jadi guru dan PNS sehingga perekonomian lumayan mapan. Jauh dari kata susah meski juga nggak sampai tajir melintir.

Ia jelaskan panjang lebar: “Biaya kuliah anak saya itu Rp 4,5  juta per semester supaya bisa lulus sebagai guru olahraga. Saya pun berutang ke bank sampai 2 tahunan.”

Kalau dia menganggur sampai dua minggu lebih, wah bakal susah bayar cicilan bulanan.

Lalu bagaimana nasibnya kemarin saat Corona memaksa orang diam di rumah? Padahal pekerjaan tukang kan nggak bisa dikerjakan secara daring. Memangnya penulis atau editor yang tinggal nongkrong di rumah lalu buka laptop?C

Utangnya memang bukan untuk foya-foya. Selain untuk membiayai pendidikan anak sulungnya, ia membeli sepeda motor Beat untuk alat transportasi anak keduanya yang masih SMA.

Selain pada bank, ia juga berutang pada pegadaian. Wow!

Ada satu kernet yang ikut bersamanya. Ia lebih tua dan pengeluh. Saat bekerja kadang saya dengar sambat dari mulutnya soal utang yang harus dibayar lunas. Saat gaji telat, ia bisa banyak bacot.

“Saya nggak mau kayak gitu, mas. Terlalu mikirin utang karena malah jadi kepikiran dan nggak sehat buat diri,” ungkapnya soal teman kerja yang pengeluh itu.

Anaknya sendiri menuntaskan pendidikan S1 dengan perjuangan berat akibat deraan Corona kemarin.

Dia baru selesai setelah 4,5 tahun kuliah.

“Molor 1 semester mas karena Corona. Kan dia nggak bisa praktik ngajar secara online, kan jurusan dia pendidikan jasmani,” kata si tukang senior kedua.

Kuliah si anak ini cuma berlangsung dua hari seminggu. Sabtu dan Minggu saja.

“Sampai 2 semester, di semester 3 seminggu sekali, seterusnya seminggu sekali.”

Anaknya memang termasuk luar biasa di kampung. Saat anak-anak seumurnya memilih kerja, dia malah pilih kuliah.

“Ada anak perangkat desa dan guru di kampung tapi malah mereka putus kuliah. Buat saya anak harus bener-bener sekolah, yang penting bisa. Rumah sampai nggak bisa betulin. Tetangga pada betulin rumah, saya nggak bisa. Saudara-saudaranya cuma sekolah ke SMA saja terus kerja di proyek konstruksi. Proyek bangun rumah.”

Memang saudara-saudara kandungnya tak sepaham dengannya soal pentingnya pendidikan. Mereka tidak memberikan pendidikan tinggi untuk anak mereka. Boros!

“Tetangga juga pada jelek-jelekin dan mencibir saya karena malah menyekolahkan anak tinggi-tinggi.”

Semasa bekerja di rumah saya, ia mengaku mengirim semua gajinya ke rumah.

“Paling saya sendiri pegang duit 100 ribu,” ucapnya.

Hah? Itu buat uang makan atau apa? Kayaknya nggak mungkin.

Atau rokok? Saya lihat dia kenceng kalo merokok.

Terlepas dari itu, anaknya sekarang menjadi guru wiyata di sekolah menengah di Purwodadi dan di waktu luang membantu melatih anak-anak kecil sepakbola.

Ia mengaku penting untuk mengatur jarak usia anak karena selisihnya usia anak pengaruh ke pengeluaran keluarga. Kalau ada dua anak usianya berdekatan, wah bisa habis duit sekaligus buat pendidikan.

Sekarang anak sulungnya sudah menikah dan meminta maaf karena belum sampai kerja dan menghasilkan untuk ortu tapi sudah menikah. Istri anaknya sendiri orang Purwodadi juga.

Kampungnya masuk divisi 2 kabupaten Purwodadi jadinya anaknya ikut melatih anak anak yang berminta bermain di dalam liga tersebut.

“Lumayan lah, mas. Sekali melatih bisa dapet duit 50.000,” ucap si tukang senior kedua.

Tapi itu bukan tarif patokan karena anaknya sendiri tidak mau mematok biaya melatih anak-anak. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in save our nation and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.