Heterofleksibel: Mau Enaknya Saja Tanpa Stigma

BERTAMENG gelar ustaz dan pengajar agama, beberapa oknum memanfaatkan anak-anak di bawah umur sebagai pelampiasan seksual mereka yang dalam ajaran agama yang mereka ajarkan sendiri dicap menyimpang.

Di negara yang menggembar-gemborkan paham anti LGBT ini, kita bisa temukan sejumlah kasus ustaz yang menyalahgunakan kekuasaan dan kekuatan mereka pada santri-santri atau anak-anak laki-laki yang tak tahu apa-apa.

Saya ambil contoh saja kasus yang terbaru yang paling menggemparkan. Kasus di Padangpanjang, Sumatra Barat. Seorang ustaz bernama Syukron (33) memaksa santrinya onani dan melayaninya oral sex dengan dalih meningkatkan kepercayaan diri.

Dilansir dari Detik.com, Syukron yang langsung diadukan ke polisi oleh santri-santri tadi mengatakan:” Saya bukan gay. Buktinya saya punya anak dan istri. Itu saya lakukan karena khilaf saja. Karena tergoda setan.” Bah!

Ustaz-ustaz bejat seperti ini tidak seharusnya dihukum ringan karena dampak perbuatan mereka itu bisa sangat panjang dan berefek domino.

Lihat saja kasus yang melibatkan seorang musyrif atau pengasuh asrama di sebuah pesantren di Yogyakarta yang berinisial EK.

Selain menjaga dan mengajari santri mengaji dan memasak, siapa sangka dia juga menggunakan ponsel pintarnya untuk membujuk beberapa santri laki-laki untuk mau dijadikan objek oral sex.

Dalam interogasi, EK mengaku dirinya bisa sampai melakukan itu karena ia mau membalas perlakuan yang sama yang dialami dirinya saat dulu menjadi santri cilik juga.

Kedua kasus ini baru terjadi di tahun 2021 sehingga masih sangat segar dan mencerminkan sebuah fenomena tersendiri di masyarakat kita saat ini.

Kembali pada kasus ustaz Syukron tadi, kita tersentak dengan pengakuannya yang seakan menolak cap LGBT pada dirinya padahal apa yang ia lakukan itu jelas-jelas tindakan seksual sesama jenis. Bagaimana bisa juga seseorang yang sudah menikah melakukannya pada anak di bawah umur yang bukan pasangannya sendiri?

Klaim Syukron tadi memang tidak bisa diterima dalam perspektif seksualitas masyarakat Indonesia yang baru sesederhana heteroseksual VS biseksual VS homoseksual.

Jane Ward, akademisi yang meneliti fenomena ‘heterofleksibel’. (Foto: Wikimedia)

Tapi ternyata ada sebuah teori yang bisa menjelaskannya. Dituliskan oleh Jane Ward dalam bukunya “Not Gay: Sex Between Straight White Men“, ada istilah heterofleksibel yang merujuk pada sekelompok pria yang mengidentifikasi diri mereka sebagai heteroseksual tapi di situasi dan kondisi tertentu mereka berhubungan seks juga dengan sesama pria tanpa sepenuhnya menjadi penyuka sesama jenis.

Buku karya Jane Ward yang membahas soal heterofleksibilitas. (Foto: Amazon)

Ward meneliti fenomena unik bahwa dalam fraternity groups atau kelompok sosial eksklusif mahasiswa pria di kampus-kampus di AS terjadi secara rutin ritual hazing yang bertujuan untuk menciptakan keakraban di antara para anggota barunya. Ritual ini bersifat mirip inisiasi atau perpeloncoan yang ditujukan bagi mereka yang ingin masuk ke kelompok tadi. Jika dianggap gagal dalam menjalani ritual ini, seorang calon bisa didepak begitu saja.

Salah satu bagian dari hazing ini adalah elephant walk, di mana pemuda-pemuda kulit putih yang akan bergabung dalam kelompok fraternity ini polos tanpa busana dan berdiri dalam sebuah lingkaran lalu membungkuk dan memasukkan jari mereka ke anus teman yang ada di depan lalu mereka akan bergerak maju sambil disoraki para senior. Seperti sekawanan gajah yang saling melingkarkan ekor dan gading mereka.

Kelakuan pemuda-pemuda kulit putih heteroseksual lain yang sama sekali tidak heteroseksual ialah mereka bertelanjang ria dan saling menindih satu sama lain dan saling memaki dengan panggilan “faggot“, istilah peyoratif atau merendahkan yang dipakai untuk memanggil pria gay.

Di sini kita patut mengernyitkan dahi karena pemuda-pemuda ini adalah kelompok pria kulit putih yang agresif dan membenci kaum homoseksual. Mereka homofobik tetapi dalam sebuah kesempatan, mereka justru tidak ragu melakoni perbuatan yang mirip kelakuan kaum yang mereka benci.

Jadi ini memang sangat paradoks.

Mereka beralasan ini bukan didasari motif seksual atau ketertarikan sesama jenis. Ini hanyalah cara menguji kekuatan satu sama lain dan membangun hubungan yang erat.

Melalui Ward, Laurie Essig yang menulis untuk Salon.com mendefinisikan “heterofleksibilitas” ini sebagai sebuah permutasi terbaru identitas seksual. Artinya seseorang memiliki atau berniat mengadopsi gaya hidup heteroseksual dalam keseharian. Ia bisa memiki pasangan dari jenis kelamin berbeda tapi bedanya ia membuka diri terhadap hubungan seksual dengan sesama jenis dan bahkan menjalin hubungan romantis dengan sesama jenis.

Bedanya dengan biseksual lalu apa?

Nah ini sulitnya. Heterofleksibel bisa dibedakan dari biseksual dengan adanya unsur iseng atau senang-senang saja saat berhubungan dengan sesama jenis tapi tetap memegang teguh identitas heteroseksual.

Heteroflexible, I am told, is a lighthearted attempt to stick with heterosexual identification while still “getting in on the fun of homosexual pleasures.” – Laurie Essig

Haha memang membingungkan ya?

Ternyata tradisi hazing yang dilakukan mereka yang heterofleksibel ini menimbulkan masalah bagi mereka yang merasa dianiaya secara seksual. Dan kasus-kasus hazing yang ekstrem ini banyak disembunyikan di balik layar oleh militer AS (dan mungkin militer dunia?). Karena kita tahu sendiri, militer adalah dunia maskulin dan mereka hidup dengan kelompok yang homogen. Pria tinggal bersama pria. Akibatnya pria yang dianggap lebih lemah, lebih muda, lebih junior rentan sekali ditindas dan jadi korban.

Tradisi perpeloncoan ala militer yang disebut hazing ini sempat dipermasalahkan karena banyak korban yang membeberkan dan menuntut keadilan secara formal. Bahkan seorang prajurit AS saat bertugas di Irak dilecehkan sedemikian rupa oleh rekan-rekannya sendiri. Sesuatu yang sangat membuatnya terguncang.

Tapi anehnya ada juga yang menikmatinya dan sengaja membuka diri untuk melampiaskan hasrat seks pada rekan sesama jenisnya. Di kalangan militer, hal ini bisa terjadi karena mereka harus bertugas berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun jauh dari pasangan. Lalu apakah mereka akan dijamin bisa menahan libido? Ada yang mungkin sudah puas dengan merancap tapi yang mendambakan hubungan badan yang riil dengan manusia tentu tak puas.

Ward mengutip penelitian yang melibatkan sejumlah subjek serdadu militer yang mengaku diri mereka pernah terlibat hubungan seksual sesama jenis dengan rekan mereka saat bertugas.

Ini bukan paksaan. Tapi mereka melakukannya dengan sukarela. Ada yang saling memberikan oral sex dan kemudian masih berteman baik dan masing-masing menikahi perempuan yang mereka sukai.

Yang tak kalah aneh ialah saat seorang prajurit yang sudah punya anak dan istri justru memilih bersetubuh dengan sesama jenis karena alasannya ia tak mau tidur dengan perempuan yang artinya ia mengkhianati istrinya. Di dalam logika berpikirnya, melampiaskan libido pada laki-laki bukanlah perselingkuhan. Tentu mereka tak bisa dianggap berbohong saat mengatakan tidak tatkala diinterogasi istrinya di rumah: “Mas, kamu nggak tidur ama perempuan lain kan?” Jelas dia tidak merasa berbohong karena faktanya dia ‘cuma’ tidur dengan teman sejawat. Haha. Cerdas ya!

Dan rata-rata para serdadu militer ini sangatlah menganggap rendah kelompok LGBT. Dengan kata lain, mereka homofobik namun menghalalkan perilaku homoseksual sepanjang itu menguntungkan diri mereka.

Perilaku heterofleksibel ini dilazimkan di kalangan militer dan pelakunya tidak dianggap gay asal semua itu ditutup rapat, dilupakan dan tidak dibicarakan sama sekali begitu mereka di luar lingkungan militer.

Kembali ke kasus Syukron tadi, dengan mengetahui teori heterofleksibilitas ini kita bisa anggap bahwa memang masuk akal dia bukan gay walaupun melakukan seks dengan sesama jenis.

Namun, yang tetap tidak bisa dimaafkan dalam hal ini ialah bagaimana ia menyalahgunakan kekuatan dan kekuasaannya sebagai seseorang yang lebih senior kepada mereka yang berada di bawah kekuasaannya demi memuaskan diri sendiri tanpa mempedulikan perasaan orang lain yang ia tindas. Ini sangat menjijikkan dan tidak bisa dimaklumi.

Dan untuk itu, saya harus berkata bahwa ia seharusnya dikurung seumur hidup. Sebab yang ia lakukan sekarang bisa menimbulkan kasus-kasus baru di masa datang. Apalagi jika trauma para korban tak tertangani dengan baik dan mereka akhirnya membalas dendam pada anak-anak yang lebih muda tatkala nanti mereka dewasa sebagaimana yang dilakukan EK pada santri-santrinya.

Mereka memang tidak sejahat pembunuh. Tapi perbuatan mereka lebih menyiksa daripada pembunuhan. Korban-korban mereka akan terus hidup dengan trauma yang tak akan hilang bagaimanapun canggihnya terapi yang diberikan.

Yang lebih menjengkelkan lagi ialah bagaimana kaum heterofleksibel ini juga bisa membenci kelompok LGBT sedemikian rupa padahal mereka mengadopsi perilaku LGBT secara seenaknya dan tetap tidak mau menanggung stigma negatif yang dipikul orang LGBT di masyarakat. Ini sangat egois dan mau menang sendiri. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in miscellaneous and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.