Duka Dunia Susastra Indonesia

PANDEMI tak akan pernah membuat kehidupan kita sama lagi. Sebelum pandemi kita memang sudah terbiasa dengan adagium “tiada yang abadi kecuali perubahan”.

Tapi sepanjang pandemi ini, kita seakan dipaksa sedemikian rupa untuk bisa diam, terpaku sambil menyaksikan atau mengalami perubahan-perubahan besar baik dalam skala mikro (pribadi) maupun makro (nasional dan internasional).

Kalau saya membayangkan pandemi ini seperti sebuah jaring nelayan raksasa yang dengan tiba-tiba menyeruak dan kita adalah ikan-ikan dalam perairan yang terkejut dan kocar-kacir sedemikian rupa. Kita harus bersembunyi di balik karang atau menimbun di bawah pasir hingga alat sang predator rakus ini lenyap dengan sendirinya. Karena mau melawan juga percuma saja.

Di mikrokosmos saya juga sedang terjadi perubahan. Beberapa teman beruntung belum terkena Covid-19. Saya sendiri juga setahu saya belum mengalami gejala-gejala yang dikatakan para dokter dan satgas Covid. Saya katakan “belum” karena saya ‘optimis’ nanti suatu saat saya juga pasti akan terjangkit virus ini. Ini bukan hal yang mengada-ada atau terlalu pesimis tapi mengingat persebarannya yang begitu pesat, saya tidak berlebihan kok mengatakan demikian. Tinggal menunggu waktu saja.

Beberapa orang di lingkaran terdekat seperti pekerjaan sudah ada yang terkena tapi belum ada yang sampai mengalami akibat fatal yang sampai kehilangan nyawa.

Namun, dua orang yang saya kenal di dunia susastra baru-baru ini saya ketahui meninggal karena Covid ini.

Yang pertama ialah alm. Wikan Satriati yang dikenal sebagai penyunting dan pekerja sastra yang ulet dan berjejaring luas di kalangan literati nusantara. Ia menjadi bagian dari Yayasan Lontar dan bekerja bersama John McGlynn untuk menerjemahkan karya-karya terbaik penulis Indonesia untuk disebarluaskan di kancah internasional.

Melalui Wikan saya juga bisa mengenal sosok-sosok berpengaruh di dunia susastra. Ia mengenal alm. Sapardi Djoko Damono dengan baik.

Ia juga kerap berkomunikasi dengan banyak penulis Indonesia yang karyanya terpilih untuk disuguhkan ke pasar internasional. Salah satu event global yang ia pernah ikuti untuk tujuan memperkenalkan karya sastra Indonesia ke dunia ialah Frankfurt Book Festival beberapa tahun lalu.

Saya juga berkesempatan bekerja bersama almarhumah dalam pengerjaan terjemahan naskah buku anak yang ia tulis, “Gadis Penjaga Bintang” (Of Stars and Prayers).

Selain alm. Wikan, saya juga kehilangan seorang teman penerjemah buku yang sudah dikenal luas berkat karya-karya terjemahan fiksinya yang ciamik. Namanya Dina Begum.

Yang paling saya ingat dari almarhumah adalah keramahannya yang terpancar dari dua matanya yang terlindung kaca. Meski ia pekerja teks komersial (plesetan untuk “pekerja seks komersial”), ia ternyata juga rajin beryoga. Dan inilah yang menyatukan kami. Kami sama-sama suka berlatih yoga.

Jadi melihat keceriaan dan semangat hidup alm. mbak Dina ini seakan ia jauh dari kematian. Sungguh. Bagi saya ia mungkin masih bisa hidup seribu tahun lagi.

Tapi siapa yang bisa menolak kehendak Tuhan untuk memanggilnya lebih cepat?

Sampai jumpa lagi Wikan dan mbak Dina Begum. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in pandemic and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.