Hubungan antara Nasionalisme dan Kebahagiaanmu

HARI ini menandai 76 negara ini merdeka. Rasanya sih nano-nano. Persenyawaan antara bangga, sedih dan murka.

Bangga bisa sampai sejauh ini bangsa ini bertahan dihajar pandemi dan di saat yang sama merasa murka juga kalau melihat berita Juliari Batubara dan bagaimana negara dibikin linglung karena perkara korupsinya. Coba dia pejabat China. Drama begini pasti tidak bakal ada. Langsung di-dor aja di lapangan Tianamen.

Cukuplah soal orang itu.

Kita bahas nasionalisme saja.

Katanya seorang warga negara yang bangga bisa lebih bahagia.

Tapi semua bergantung pada apa yang dibanggakannya mengenai negara dan bangsanya.

Nasionalisme memang banyak versi. Ada yang sempit. Ada yang luas.

Yang sempit adalah nasionalisme yang membawa-bawa definisi “pribumi”, atau “penduduk asli”.

Yang luas adalah nasionalisme yang lebih fleksibel, yang terbuka dan inklusif. Menyambut siapa saja warga negara yang telah menyatakan sumpah setia pada negara tanpa memandang suku, agama, dan rasnya.

Kalau dilihat beberapa tahun belakangan, luka trauma akibat pilkada Jakarta dan Pilpres yang lalu itu masih membekas. Dalam. Sekali.

Beberapa pekan lalu pernah saya diajak bicara dengan teman yang sebelumnya tak pernah berbicara soal politik atau semacamnya.

Dan tiba-tiba di tengah pembicaraan, ia berceletuk satu kata yang membuat saya terhenyak: “kadrun”.

Owh, bukan bukan. Saya bukan di pihak manapun. Di pilpres kemarin itu saya bagkan golput karena alasan prosedural dan kerepotannya sekaligus kemalasan juga sih untuk pulang ke daerah asal karena cuma untuk nyoblos. Buat apa sampai harus dibela-belain gitu?

Dan meski saya golput, saya tentu tak berkoar-koar mengajak orang soal itu. Saya tak bangga dengan pilihan itu tapi juga tak menganggapnya nista. Sama saja lah dengan yang pro A atau kontra B.

Pilpres yang kental nuansa identitasnya itu serasa menegaskan kembali aroma nasionalisme sempit.

Terus terang saya kecewa. Kenapa sih kita yak kunjung dewasa? Begitu mudahnya diombang-ambingkan para perekayasa propaganda.

Satu studi tahun 2011 oleh Association for Psychological Science menemukan bahwa saat seorang warga negara yang memiliki konsep nasionalisme sempit memiliki tingkat kebahagiaan dan kesehatan mental yang lebih buruk. Nasionalisme sempit ini berkaitan dengan faktor etnis, kesukuan, keyakinan sebagai pemersatu bangsa. Jelas ini mirip dengan politik identitas yang santer dihembuskan mesin-mesin politik saat pilkada Jakarta Anies vs Ahok dan pilpres Jokowi vs Prabowo.

Sementara itu, warga negara yang mengadopsi konsep nasionalisme luas dan inklusif memiliki tingkat kebahagiaan lebih baik. Nasionalisme tipe ini dibuktikan dari rasa hormat dan perasaan sukarela untuk mencintai negara dan menaati aturan dan hukum yang berlaku di dalamnya. Di sini, tidak ada ruang untuk diskriminasi suku, agama dan ras. Apapun identitas SARA seseorang warga negara, asal ia sudah menjalankan dengan baik kewajiban-kewajiban sebagai warga negara maka ia sudah bisa dianggap nasionalis.

Tapi meski rasanya saya lebih condong ke nasionalisme jenis kedua, kok rasanya saya nggak bahagia ya? Haha.

Ah mungkin itu karena negara membiarkan ada segelintir warganya menginjak-injak hukum di mata rakyatnya sendiri.

Mungkin karena banyak ketidakadilan yang dibiarkan, dimafhumkan dan diwajarkan padahal ya mesti diluruskan.

Kalau Anda sendiri bagaimana? (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: