Kisah X Life Berdayakan Para Terapis di Masa Pandemi

SEBAGAI salah satu pengguna setia Go Life, saya merasa kehilangan tatkala GoJek memutuskan menghapus layanan itu tahun 2020 lalu saat pandemi pertama melanda.

Periode itu kemudian disusul oleh keputusasaan di kalangan terapis. Salah satu terapis yang pernah memijat saya dan memiliki nomor saya mengirimkan SMS saat PSBB pertama. Isinya ia meminta sedekah karena tabungan menipis dan tak kuat lagi bertahan di tengah lockdown dan suasana mencekam yang tak memungkinkan dirinya keluar untuk mencari nafkah.

Keluhan ini sangat banyak karena kita tahu jumlah talent Go Life sangat banyak. Tak cuma tukang pijat tapi juga pembersih rumah, tukang servis AC, dan sebagainya.

Seorang wanita bernama Reviani S. Kadaryanto mendengar keluhan-keluhan ini dan mencoba mengakomodasi mereka dengan membuat sebuah wadah bagi terapis. Namanya X Life, yang ia ambil dari nama “Ex Go Life” karena rata-rata terapis ini memang mantan terapis dari Go Life milik GoJek dahulu.

Mulanya X LIFE membuka peluang bagi para penyedia jasa yang tak membutuhkan sentuhan fisik. Baru setelah itu, mereka perlahan membuka kesempatan bagi para mantan terapis untuk menyediakan jasa pijat.

Namun, tentu saja tak sembarangan. Mereka harus menaati protokol kesehatan saat bekerja memijat klien demi menjaga kepercayaan klien dan juga menjaga keselamatan semua terapis dan klien.

Sebenarnya ia baru membuat aplikasi mobile khusus X Life setelah akun media sosial Instagram X Life (@X.Life.id) kebanjiran pesanan. Jadi sembari ia melayani klien di media sosial, ia juga memikirkan pengembangan aplikasi mobilenya agar semua order bisa tertangani dengan efisien.

Layanan X Life ini menjangkau sejumlah kota besar di Jawa seperti Jabodetabek, Surabaya, Malang, Yogyakarta dan Denpasar.

Jenis layanannya berupa gaya hidup seperti pijat, makeup, sampai sterilisasi seperti fogging, dan servis mobil.

Dalam memasarkan dan mempromosikan jasa X Life, Revi tak mengandalkan anggaran marketing yang selangit. Ia cuma bermodalkan akun Instagram dan kemudian ia mendapatkan jejaring dengan sekitar 4000 terapis dan penyedia jasa lainnya. Aplikasi juga menunjukkan penyedia jasa yang sudah divaksin sehingga klien bisa lebih percaya dan yakin.

Awalnya karena para penyedia jasa ini sudah kesulitan ekonomi, mustahil bagi Revi untuk memungut iuran atau mewajibkan bagi hasil. Mereka dibolehkan bergabung tanpa biaya sepeserpun. Semua pembayaran/ transaksi dilakukan tunai melalui mitra sehingga uang yang diterima bisa langsung dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka ini. Revi menggunakan sistem kepercayaan (trust) pada penyedia jasa X Life.

Ia mengaku tidak membeli pengikut Instagram jadi semua pengikutnya memang asli, organik, bukan tipu-tipu.

Semula ia sempat berpikir bahwa jumlah pengikut memang biasa saja (baca: kurang banyak dibandingkan jumlah pengikut akun selebgram atau tokoh) tapi ia tak begitu memperdulikannya sebab jumlah order saja menumpuk. Kenapa harus repot-repot beli pengikut cuma untuk memberi kesan tertentu pada masyarakat/ pengguna media sosial? (*/disarikan dari wawancara Kis in the Morning)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: