Pandemic Diary: Vaksinasi Kok Kayak Gini (Lagi)?

Mengular tanpa antisipasi buat pengantre yang lemah fisiknya

PAGI TADI saya kembali menjalankan perintah negara untuk menerima vaksin dosis kedua. Sinovac jenisnya. Nggak begitu masalah sih mau jenis apapun juga meski konon vaksin keluaran China ini nggak diterima oleh negara-negara Eropa. Tapi siapa juga yang mau plesir ke Eropah hari ginih?

Cuaca cerah, tapi inilah yang malah jadi masalah. Karena ya Allah ya Rabb, intensitas sinar matahari itu bikin nggak cuma gerah tapi juga sampai mau pingsan di tempat. Terutama bagi emak-emak yang seringnya cuma duduk-duduk di rumah selama ini. Bukannya melecehkan emak-emak ya tapi di sini saya jumpai emak-emak yang tiada melewatkan satu menit pun tanpa berkomentar soal panasnya hawa di sini dan capeknya otot kakinya dalam berdiri menunggu giliran.

Saya bukannya marah pada emak-emak ini tapi pada pihak penyelenggara (pemerintah kecamatan Maja atau Depkes Maja atau Puskesmas Maja atau entahlah pokoknya) yang kurang cerdas dalam mengelola alur dan pelaksanaan vaksinasi ini seperti yang sudah saya laporkan pada proses vaksinasi pertama di lokasi yang sama sebulan lalu (30 Juli 2021). Seakan tidak ada perbaikan proses saja. Asal dan nggak pakai pemikiran lebih taktis dan ah, entahlah. Males mikir ribet aja mungkin.

[Baca pengalaman vaksinasi pertama saya: “Vaksinasi Bikin Keki”]

Saya sendiri datang pukul 8.19 dan antrean sudah panjangnya segini. Saya sih sudah menguatkan mental saya mengingat pengalaman buruk di vaksinasi pertama. Berpanas-panasan sudah bukan hal yang mengagetkan.

Pihak penyelenggara seolah tidak mau memikirkan soal bagaimana membuat para pengantre nyaman dan terlindung dari sengatan matahari. Nggak masalah sih buat saya yang masih muda dan kuat tapi buat pengantre yang badannya sudah mulai renta meskipu belum begitu tua, pastinya sudah pada nggak kuat. Dan benar saja, banyak yang merasa kepanasan karena menunggu 30 menit lebih di antrean dalam terpaan sinar matahari pagi yang sebenarnya masih sehat sih tapi durasi ini agak berlebihan nggak sih?

Pertanyaan saya untuk pihak penyelenggara vaksinasi di kantor kecamatan Maja ini: Biayanya berapa sih buat menyewa tratak atau atap kain atau apalah itu supaya pengantre nggak serasa dijemur kayak pakaian basah?

Dan yang sangat disayangkan lagi memang adalah tidak adanya nomor antrean. Ini memperparah dan memberi celah bagi orang-orang yang nggak punya rasa disiplin. Serobot menyerobot antrean rasanya sudah menjadi risiko yang tak aneh dihadapi.

Entah ini menyerobot atau tidak: si suami mengantre tertib lalu si istri pergi dulu ke tempat teduh tapi kemudian pas sudah hampir dipanggil dia baru mendekat ke suaminya. Ini membuat orang yang ada di belakangnya jadi salah paham juga. Makanya saya anggap penyelenggaranya kurang pro karena nggak kasih nomor antrean. Kalau ada bukti nomor antrean kan nggak perlu mengantre di bawah matahari dan mencegah kerumunan juga. Karena petugas tinggal panggil sesuai nomor.

Lalu ada petugas pakai TOA bilang: “Yang warga KTP di luar Maja antre di sini. Yang KTP Maja di kanan ya.”

Ia baru mengumumkan pemisahan antrean ini pukul 8:45. Haha. Padahal jadwal vaksinasi pukul 8:30 sesuai flyer pengumuman di Instagram @kecamatan_maja. Anda bisa cek sendiri postingannya soal vaksinasi tanggal 27 Agustus 2021 di kantor kecamatan kalau nggak percaya.

Yang paling konyol lagi adalah tim vaksinasi baru tiba pukul 8:46 WIB! Gimana saya sebagai pengantre nggak geram?! Haha. Dasar karakter bangsa jam karettt! Pelihara aja terosss.

Gini lho, jadwalnya 8:30 itu kan udah mulai. Jadi idealnya kan udah sampe lokasi entah itu 15 atau 20 menit sebelumnya buat siap-siap karena alat-alat kerjanya kan juga butuh disiapkan. Dari laptop, printer, dokumen-dokumen. Nggak habis pikir kan?



Yang seharusnya diberitahukan lagi ialah adanya kewajiban untuk memeriksakan kondisi kesehatan sebelum menerima vaksinasi tahap dua ini.

Jadi antrean ada dua jenis: antrean pertama untuk memastikan kondisi dan kedua untuk vaksinasi.

Di antrean pertama, petugas bertanya apakah kita sedang batuk, demam, sakit tenggorokan, atau apalah semua gejala Covid itu disebutkan sama dia.

Di sini antrean sering disela oleh motor dan orang yang keluar masuk karena antrean saking panjangnya. Ya segitu parahnya pengaturan antreannya sampai ini nggak dipikirin. Sampah banget kan?

Saya bilang: “NGGAK ADA GEJALA APAPUN.”

Untuk yang ada keluhan, nanti disuruh tes SWAB tapi itu pun sukarela aja. Dan emang gratis tis.

Namun, namanya orang Indonesia kan, nggak puas kalo belum ngeyel. Ada lho yang ngaku batuk atau demam tapi nggak mau menjalani SWAB. Males aja.

Haha terserah deh.

Saya langsung antre lagi dengan memegang secarik kertas bertuliskan nama lengkap, usia dan kondisi T.A.K. (Tak Ada Keluhan).

Di sini menjadi ujian kesabaran kedua lagi dong. Terjepit di antara dua emak-emak yang nggak bisa diem.

Satu di depan mengantre bersama anaknya. Sebenarnya saya tak masalah lho ada ibu membawa anak kecilnya. Mungkin ia tak punya kerabat untuk dititipi di rumah. Tapi masalahnya si anak berlarian ke sana kemari dan tak pakai masker (anak-anak kecil di sini yang dibawa rata-rata nggak pakai masker, mirip kayak penggunaan helm, seolah anak kecil itu nggak bisa dikenakan peraturan karena ya masih belum dewasa aja, begitu cara pikir orang tua yang kurang bisa berpikir lebih bijak) dan ibu ini berteriak bebas memanggil anaknya layaknya sedang di rumah. Lari menjauh sedikit, ia teriak. Begitu berulang kali. Bukan sekali dua kali ya. Mbok ya ada pengendalian diri gitu lho. Oh ini tempat umum. Volume suara kecilkan dikit ah, kalau masih punya malu sih. Ya tapi juga namanya emak-emak. Mereka punya hukum sendiri.

Ada juga ibu-ibu yang berulang kali bertanya pada petugas saking nggak percayanya. Dia udah tanya ke satu petugas, lalu masih nggak percaya dan tanya ke petugas lain. Seolah mencari celah. Karena memang harus diakui, tingkat penguasaan informasi dan koordinasi serta komunikasi antarpetugas juga masih dipertanyakan. Kadang informasi yang mereka berikan berlainan. Terlihat kentara mereka nggak kompak, pemahaman mereka atas informasi yang seharusnya mereka kuasai itu tidak sama persis. Siapa yang salah? Tauk ah.

Lalu seorang petugas meledak juga akibat ada yang menyerobot antrean dan membuat antrean baru. Haha. Makanya, kalo lu nggak mau dibikin kesel, harus tegas dari awal dan kasih petunjuk yang klir. Nggak membingungkan gini. Udah tau orang itu nggak disiplin tapi dibiarin. Baru deh pusing sendiri.


Antrean pertama untuk periksa kondisi sebelum vaksinasi.

Di antrean pertama ditanyai gejala dan keluhan kesehatan. Kalau sehat walafiat, bilang aja: NGGAK ADA KELUHAN SAMSEK.
Antrean kedua untuk menerima vaksin.
Karakter penyampah sejati. Itu tong sampah merah ada lho di sebelah tapi puntung sama kaleng susu tetep di pot buangnya. Manusia kualitas sampah kan?
Baru di titik ini pengantre vaksin diberikan kursi.

Antrean vaksin baru lebih teratur begitu diberikan kursi. Di sini sih terkesan antreannya lebih beradab dan berjarak. Tapi pas berdiri tadi beuhhh! Nggak ada yang jaga jarak. Dan nggak bisa juga. Saya aja mau jaga jarak tetep dipepet dua ibu-ibu. Saya udah jaga jarak dibilang lemot dan nggak mau maju. Di belakang saya sampai bersenggolan.

Di belakang saya ini ibu-ibu yang mengomentari semua hal yang ia lihat dan rasakan. Jadi selama antre vaksinasi ini, saya mendengarkan setiap keluhannya soal kaki yang pegal, panasnya cuaca, lambatnya antrean, dan lain-lain. Saya cuma membatin: “OH MY GOD, NGGAK CUMA LU YANG MENDERITA LOH. JADI SETOP BUKA MULUT SITU KARENA DROPLET LU KELUAR DARI MASKER KAIN TIPIS LU ITU DAN LU DEKET-DEKET GUE!!!”

“Anda sopan saya segan”, itulah semboyan saya dalam bergaul. Dan si ibu ini sudah melewati batas sih. Capek saya mendengar keluhannya.

Tibalah saat saya mendapatkan suntikan vaksin pukul 10:39. Jadi bisa dibayangkan saya sudah berdiri di terik matahari sejak pukul 8:19. Untung saya sudah makan. Kalau nggak bisa pingsan sih. Tapi kalaupun pingsan pasti di situ bisa langsung dikasih kelapa muda atau sosis bakar karena ya para penjual kaki lima sudah berjaga di sudut sana untuk menggoda para pengantre yang kehausan dan kelaparan.

Sebelum vaksinasi, tiap orang harus menjalani pemeriksaan tekanan darah. Untung saya normal, 120. Jadi langsung divaksin deh. Bisa saja tekanan darah saya melonjak akibat stres mengantre atau dehidrasi saat mengantre selama itu di kondisi terik. Anggap saja itu keajaiban.

Cetak kartu vaksinasi adalah ujian kesabaran terakhir. Nggak lagi-lagi ikut ginian. Awful experience!

Setelah disuntik vaksin Sinovac kedua ini saya langsung menunggu dicetaknya kartu vaksin. Ya memang sih bisa unduh sendiri di aplikasi PeduliLindungi atau di website yang sama tapi ya kalau dicetakkan mungkin bisa dipakai untuk menunjukkan ke petugas kalau mau masuk ke sarana transportasi umum atau fasum. KARENA YA KITA KAN TAHU BERSAMA KALAU BANGSA INI DEMEN BANGET SAMA APAPUN YANG BERBAU FOTOKOPI ATAU PRINT. Kurang afdol kalau nggak megang. Kartu vaksin yang bisa ditunjukkan di aplikasi digital pun mesti harus dicetak juga supaya bisa disodorkan di ujung hidung petugas fasilitas umum.

Dan vaksinasi ini juga menjadi demonstrasi betapa kacaunya birokrasi dan pemerintahan kita. Ketergantungan pada fotokopi masih sangat tinggi (lihat saja itu tumpukan kertas di atas printer petugas). Padahal konon Revolusi Industri 4.0 didengung-dengungkan. Tapi mana sih penerapan teknologi yang bisa mempermudah hidup? Janganlah bicara muluk-muluk revolusi ini itu atau bangun Silicon Valley-nya Indonesia, kalau saat mengurus dokumen kependudukan dan administrasi saja masih pakai fotokopi. Siapa sih generasi muda yang nggak meradang kalau masih dengar kata fotokopi di abad ke-21 ini?

Pukul 11:35 WIB saya melangkahkan kaki dari tempat itu untuk pulang. Tanpa surat vaksinasi di tangan meski saya sudah 30 menit lebih menantinya. Ridiculous, karena saya berdiri di samping petugas dan hanya bisa menyaksikan lambatnya mereka memproses kertas-kertas surat vaksinasi pertama masyarakat. Ditambah dengan ngadatnya sebuah mesin cetak, saya membulatkan tekad untuk memelihara kewarasan saya dengan meninggalkan kerumunan yang dianggap sah oleh negara ini.

“Indonesia Indonesia, sometimes I don’t feel like I belong here. I just don’t,” pikir saya sambil melempar pandangan ke orang-orang yang mengobrol di bawah pohon dengan masker turun dan menyeruput es kelapa muda. (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

One thought on “Pandemic Diary: Vaksinasi Kok Kayak Gini (Lagi)?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: