“Ugly Truth”: Mengacak-acak ‘Daleman’ Facebook

(Foto: Amazon.com)

Masih inget sih zaman zaman dulu masih jadi tech reporter. Zaman saat startup mulai bermunculan di Indonesia. (Hampir) Semuanya karena anak-anak muda Indonesia itu terobsesi dengan kesuksesan Facebook. Tiap gw wawancara selalu sedikit banyak ada penyebutan Silicon Valley dan Zuck dan Facebook. Sampe eneg sih😂

Dan beberapa orang entrepreneur kita juga udah nyoba bikin medsos sendiri. Dari Koprol yang diakuisisi Yahoo dan lenyap karena Yahoo bangkrut lalu ada Sebangsa dan Fupei. Masih banyak lagi tapi intinya semuanya ga ada kabarnya sampai sekarang. Sebangsa masih ada tapi kayak di kondisi ‘’mati segan hidup tak mau”.

Ya anak-anak muda Indonesia itu memang masih naif-naifnya. Belum tau betapa ngerinya kalau startup itu makin mendominasi sebuah ceruk industri lalu sampai menggurita jadi kayak sebuah kerajaan kecil yang tentakelnya menancap di keseharian kita sampai adiktif.

Di buku ini kita diingatkan kalau sesuatu yang awalnya lucu, cute, gemesin bisa tumbuh gede, buas dan menelan diri kita sendiri. 

Jadi memang ada benernya langkah pemerintah China buat memperingatkan entrepreneur-entrepreneur super tajir di sana supaya jangan terlalu tajir. 😂 Harus ada pihak yang mengerem startup-startup teknologi ini karena kalau nggak kita bisa dijadikan budak ama mereka. 

MAU HEBAT KUDU JAHAT?

Kita kalau nonton acara talkshow pebisnis-pebisnis hebat ngomong di TV kayak terkagum-kagum banget ngga ada habisnya.

Dulu gw juga gitu tapi pelan-pelan nyadar dan nanya ke diri sendiri: “Perbuatan gila dan jahat apa yang bisa dia lalukan demi bisa di posisi itu sekarang?”😂

Bukannya suuzhon ya tapi mengingat gilanya office politics, politik internal negara dan antarnegara saat ini, pertanyaan ini nggak bisa untuk nggak dilontarkan ke orang-orang ‘hebat’ tadi.

Zuck sendiri bisa mengakuisisi WhatsApp dan Instagram lalu menumbuhkan kekaisaran bisnisnya seperti sekarang karena DIA TANPA RAGU DAN MALU MELANGGAR JANJI pada pendiri Instagram dan WhatsApp. Pada dasarnya integritas dirinya sebagai manusia sudah tercoreng. 

Janji apa itu? Janji supaya Zuck dan tim Facebooknya nggak ngutak atik tampilan, operasional dan feel dari aplikasi Instagram yang udah punya tempat di hati penggemarnya. 

Tapi Zuck dan Sheryl Sandberg pelan pelan mencampuri operasional Instagram dan memasukkan iklan ke Instagram. 

Dua pendiri Instagram pastinya kesel banget karena ngomongnya di awal iya iya tapi di tengah kok pait🤣Akhirnya mereka ga tahan dan mundur aja.

‘NGACANGIN’ WHATSAPP

Seperti Systrom, pendiri WhatsApp Jan Koum dan Brian Acton juga dicurangi ama Zuck. Pada keduanya, Zuck janji akan menjaga WhatsApp sebagai ekosistem terpisah dari Facebook sebelum meneken perjanjian akuisisi. 

Sebenernya Facebook dah punya aplikasi mirip WhatsApp tapi daripada susah-susah nggedein produk sendiri, kenapa nggak beli aja langsung yang udah jadi? Duit perusahaan numpuk juga. Diakuisisilah WhatsApp oleh Facebook.

Dalam sebuah pertemuan, Sandberg dan Zuck menekan Acton untuk mendapatkan cara memonenitisasi WhatsApp yang jadi lawan berat Messenger, produk chat Facebook sendiri. 

Acton bilang kasih aja tarif ke pengguna karena privasi diutamakan di sini. Inilah kenapa dulu ada berita berhembus bahwa WhatsApp akan berbayar tapi nggak jadi. Itu karena Sandberg nolak rencana pemberlakuan tarif berbayar buat pengguna WhatsApp. 

Sandberg bilang sistem tarif gitu gak bakalan bikin untung gede. Lalu ia memaksa penerapan konsep iklan yang tertarget alias targeted advertising di WhatsApp. Inilah kenapa kalau kita habis chat tentang produk X di WhatsApp, iklannya bisa muncul di Facebook atau Instagram setelah itu. Pinter sih tapi… creepy!

“Aku janji….Tapi bo’onggg,” gitu deh attitude Zuck ama Sandberg. Pebisnis ulung tapi ga punya integritas. 

SANDBERG VS. DORSEY

Jack Dorsey sama kayak Zuck dalam hal status mereka sebagai pendiri medsos yang sukses secara spektakuler. Tapi dalam hal sikap, visi dan langkah bisnis mereka kayak Merkuri dan Pluto.

Saat dipanggil untuk bersaksi untuk penyelidikan federal terkait kasus pelanggaran privasi oleh Cambridge Analytica tahun 2018, Sandberg menyeret Dorsey dan Sundar Pichai si CEO Google sebagai saksi lain. Mudah diendus bahwa motifnya adalah mencoba menjerat Twitter dan Google juga dalam isu pelanggaran privasi. Sungguh rubah betina😂

Pichai menolak mentah-mentah. Tapi Dorsey menerima undangan jadi saksi di acara dengar pendapat yang digelar di Washington DC itu. 

Sandberg dateng ke pengadilan dengan pakaian resmi, punya banyak asisten, naskah dan cara berbicara yang sudah jelas direncanakan dengan matang sebelumnya.

Tapi Dorsey nggak. Dia dateng dengan jenggot ga dicukur, pakaian yang serampangan, kalimat-kalimat yang dilontarkannya pun spontan dan kadang terbata-bata. 

Sandberg tampak arogan, percaya diri dengan kata-kata yang tertata apik, seolah menjawab tapi cuma mengalihkan topik. Lain banget dengan Dorsey yang blak-blakan, nggak pake embel embel, kata-kata indah. Dan ternyata, pejabat-pejabat federal lebih percaya kata-kata Dorsey daripada Sandberg.🤣😂

DILEMA SEMITIS

Bagaimanapun suksesnya Zuck, ia tak bisa melarikan diri dari identitas etnisnya: Yahudi. Dalam sebuah wawancara dengan Kara Swisher, seorang jurnalis yang vokal dan kritis di Silicon Valley, Zuck ditanya kenapa dia nolak menghapus postingan yang masuk ujaran kebencian dan berbahaya. Dalihnya sih semua orang punya hak berpendapat. Ya kalo ada salah-salah dikit ya ga masalah lah, gitu katanya. Toh juga Facebook dah kasih solusi: kasih konten tadi flag supaya susah ditemuin. Bukan dihapus sih. 

Di sini Swisher bertanya apakah jika ada postingan bahwa insiden penembakan murid SD di Sandy Hook itu dianggap karangan belaka, apakah Facebook akan menghapus?

Zuck bilang postingan itu emang ga sesuai fakta tapi Facebook ga bakal hapus. Lalu dia bikin blunder sendiri dengan mengatakan: “Gini ya gue itu Yahudi dan ada orang-orang yang ga percaya Holocaust itu pernah terjadi. Gue tersinggung kalo ada orang bilang itu fiksi. Kupikir mereka nggak sengaja memiliki informasi yang salah mengenai itu (tentang pernah terjadi tidaknya Holocaust).”

Intinya Zuck ngotot kalo Facebook itu tugasnya unik dan nggak ada duanya di dunia ini yaitu memberikan ruang bagi semua orang untuk membagikan pengalaman dan berinteraksi dan berkumpul dengan cara yang baru. Wkwkw. Omong kosong sih itu, kata Swisher yang mencap argumen Zuck itu malah jadi bumerang.

Bener aja, habis bilang Facebook ga bakal menghapus postingan penyangkal Holocaust, Zuck langsung kena damprat sejumlah kelompok Yahudi di AS, Eropa dan Israel. 

Nada tanggapan mereka pada pernyataan Zuck itu kayak gini: “Lu gila ya? Anti Semitisme itu ancaman abadi buat Yahudi di seluruh dunia.” Mereka sepakat Facebook punya tanggung jawab moral dan etis untuk menghentikan penyebaran informasi anti semitis. 

But again, memangnya Zuck peduli apa soal moral dan etika? Chuaksss…

BUMERANG

Banyak orang non-Yahudi yang menganggap kaum ini sebagai satu kesatuan yang solid. Tapi nggak juga. Di dalam, mereka juga saling sikut. Bagi Zuck, kejayaan kerajaan bisnis Facebooknya adalah yang utama dan pertama bahkan di atas identitas Yahudinya.

Di sebuah kesempatan, taipan berdarah Yahudi terkenal yang pernah disangkutpautkan dengan Krisis Moneter Asia 1998 George Soros murka besar pada Facebook dan pembuatnya. Soros cemas dengan pembiaran disinformasi dan kampanye propaganda yang gila-gilaan di Facebook dan Google selama pilpres AS yang akhirnya membuat sosok seedan Trump terpilih. Soros kesal dan mencap kedua tech companies itu mau untungnya sendiri dan cuek sama akibat dari penggunaan platform mereka yang tak semestinya. 

Facebook melalui Zuck dan Sandberg menggemakan dampak positif kebebasan berpendapat yang bisa mengubah dunia tapi membutakan diri mereka dengan akibat buruk penyalahgunaan kebebasan berpendapat tadi di medsos. 

Sebuah laporan internal Facebook mengejutkan Zuck karena menyatakan makin banyak pengguna Facebook usia millennial yang notabene cerdas berinternet yang termakan postingan yang menyangkal Holocaust. Mereka ini mikir Holocaust cuma kejadian pembunuhan massal yang dilebih-lebihkan. Emang ada orang Yahudi yang dibunuhin sih tapi ya nggak sampe jutaan juga kali, pikir millennials yang percaya bahwa sejarah Holocaust itu lebay.

INDONESIA, PENYALAHGUNA FACEBOOK

Di bab ketujuh buku ini, nama Indonesia disebut. Bukan karena sesuatu yang membanggakan sih. 

Negara ini disebut bersama dengan Turki sebagai kedua negara yang menurut laporan internal dan rahasia Facebook adalah negara-negara yang melancarkan kampanye disinformasi yang bertujuan untuk membentuk dan menggiring opini masyarakat dan pemilihan-pemilihan yang nggak cuma digelar di dalam negeri tapi juga di negara-negara tetangga mereka. 🥲Parahhh!

Apa sih beda “disinformasi” dari “misinformasi”? Kalau “misinformasi”, orang yang menyebarkan itu ga tahu kalau infonyang disebarkannya salah. Dalam “disinformasi”, orang yang menyebarkan info yang salah itu tahu betul kalau info itu salah tapi masih menyebarkannya karena punya tujuan menyesatkan dan membingungkan orang yang membacanya. Jadi pelaku disinformasi lebih keji daripada misinformasi. 

Fakta tersebut terkuak dari laporan Alex Stamos, chief security officer Facebook. Ia mendorong pembuatan kebijakan penggunaan yang mencegah Facebook dipakai jadi alat politik negara-negara semacam Rusia, Turki dan glek, Indonesia untuk mencampuri urusan rumah tangga tetangga-tetangga mereka. Tapi pejabat-pejabat teras Facebook lain ga sepakat. Ngapain sok ngatur negara-negara itu, kita kan korporat, ga usah masuk urusan politik, pikir mereka sambil mengabaikan desakan Stamos. 

ASAL USUL “UGLY TRUTH”

Buku ini berawal dari serangkaian liputan investigatif soal Facebook di tengah skandal pelanggaran privasi yang dilakukan Cambridge Analytica. Editor Pui-Wing Tam mengompori Cecilia Kang dan Sheera Frenkel agar mau menulis lebih mendalam.

Seperti karya jurnalisme investigatif umumnya, “Ugly Truth” ditulis bukan dengan mengandalkan gosip atau “katanya” tapi berdasarkan pernyataan dari banyak sumber internal Facebook. Ada mantan karyawan, ada juga yang masih berstatus karyawan di perusahaan itu. Jadi risiko yang harus ditanggung oleh mereka ini sangat besar dari segi hukum. Mereka bisa tersangkut banyak masalah hukum karena pasti ada Non-Disclosure Agreement (NDA) yang terpaksa mereka langgar.

Sebagai sebuah organisasi, Facebook memang sudah terlalu besar pengaruhnya sehingga risiko menjadi jahat dan rakus pun membesar pula. Sementara di dalamnya, orang-orang yang masih percaya dengan moral dan etika serta nurani berusaha memberontak dan mengubah keadaan dari dalam meski harus melawan status quo yang kekuatannya melebihi kekuasaan sekjen PBB sekalipun. Yang kewalahan memilih keluar karena meski gaji tinggi dan prestise sebagai bagian dari tech company ini oke banget, kerja dengan melawan kata hati ya menyiksa batin juga. Lama-lama bisa sakit jiwa dan yang lebih nggak tahan adalah perasaan ikut bersalah karena merusak tatanan dunia. Nggak membuat dunia lebih baik tapi malahan bobrok.

ZUCK + SANDBERG = DEADLY COMBO

Mark Zuckerberg dan Sheryl Sandberg adalah dua zat kimia yang sebenarnya tak berbahaya tapi jika dicampur hasilnya sangat mematikan, seperti pemutih dan cuka yang bisa menghasilkan gas klorin.

Seperti programmer pada umumnya, Zuck makhluk nokturnal. Ia suka begadang kalau kerja. Koding sampe lewat tengah malam. Masuk kantor kalau udah mau siang. Bawahan-bawahannya sering harus menyesuaikan waktu kerja Zuck yang kayak kelelawar itu, kayak meeting jam 11 malem. Dia lagi semangat-semangatnya, orang lain udah pada klenger.

Sandberg 15 tahun lebih tua dari Zuck. Pola tidurnya teratur. Menaikkan selimut pukul 21.30 dan bangun pukul 6 pagi teng lalu olahraga kardio intensitas tinggi. Sebagian eksekutif Silicon Valley emang sadar banget dengan kesehatan mereka karena mereka yakin itu kunci ketajaman pikiran saat mengambil keputusan penting.

Gaya kerja Zuck lebih santai dan digital. Ke mana-mana bawa laptop dan telat hadir dalam rapat atau bahkan melewatkan rapat sama sekali karena lebih suka ngoding sendiri. Seorang nerd dan geek sejati.

Sandberg sendiri lebih kolot. Ia suka bikin rencana kegiatan di buku agendanya dan mencatat dengan tangan saat rapat. 

Zuck sadar Sandberg bisa menjadi pelengkap yang sempurna di Facebook. Wanita itu punya jejaring luas di perusahaan top Fortune 500 dan pemerintahan.

PANDEMI SEBAGAI PELUANG POLES CITRA DIRI

Yang menarik ialah membaca bagaimana Facebook memasuki era pandemi tahun lalu. Sebagai pebisnis yang hyper-connected, Zuck tahu betul bahaya dan penularan Covid yang begitu cepat bahkan sebelum virus itu terdeteksi di AS.

Tanggal 26 Januari, Facebook bersiap dengan strategi kerja jika Covid melanda AS. Mereka menyiapkan kebijakan kerja dari rumah (WFH), menyiapkan alat cek fakta untuk memberantas info tentang teori konspirasi Covid yang beredar di Facebook, bahkan menyiapkan artikel blog untuk membantu memberantas misinformasi, penyebaran info pencegahan Covid ke pengguna, hingga memberi kesempatan WHO dan CDC untuk memasang iklan layanan masyarakat. 

Harus diakui Zuck sangat responsif. Ia CEO AS pertama yang mengizinkan karyawannya tanpa kecuali kerja di rumah. Ia juga menyiapkan bisnis supaya tidak syok saat kehilangan pengiklan di masa pandemi dan menyiapkan infrastruktur vital Facebook (pusat data) agar lebih solid karena ia tahu miliaran pengguna akan aktif lebih banyak saat pandemi. Dan ia benar!

Keputusan tepat dan cepat Zuck itu menaikkan spirit staf Facebook. Ditambah dengan tampilnya sang istri Priscilla Chan yang juga seorang dokter ke muka publik. Via Facebook Live, Chan mengundang Dr. Anthony Fauci (Prof. Wiku-nya AS) untuk ngobrol soal pandemi. Lebih dari 5 juta pengguna menyimak. 

APAPUN DEMI CITRA

Tapi itu semua bukan 100% demi kepentingan karyawan. Sebulan memasuki pandemi, Zuck puas banget karena dapet laporan divisi humas bahwa citra Facebook di mata masyarakat membaik meski sempat anjlok karena skandal Cambridge Analytica.

Seberapa terobsesi Zuck sama citra? SANGAT.  Obsesinya ngalahin obsesi capres jelang pilpres soal pencitraan karena survei soal citra perusahaan ini ia terus gencarkan TIAP HARI hari selama beberapa tahun belakangan. Kebayang budget untuk PR-nya berapa?

Apa sih yang ada di survei itu? Dua poin utama di survei pencitraan itu adalah GFW dan CAU.

GFW (Good for the World) adalah poin pertanyaan yang ingin mengetahui persepsi pengguna soal seberapa baiknya eksistensi Facebook bagi dunia dan manusia-manusia di dalamnya.

CAU (Cares about Users) mengacu pada poin survei yang menggali persepsi atau anggapan pengguna mengenai seberapa peduli Facebook pada kepentingan para penggunanya. 

Berdasarkan survei April 2020, diketahui bahwa penanganan pandemi di lingkungan kerja Facebook yang cepat dan tepat tadi menaikkan level GFW di mata pengguna sejak citra perusahaan ambruk akibat skandal Cambridge Analytica. Zuck pun tersenyum puas! (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.