MASA KECIL STEVE JOBS

Semua produk Apple terinspirasi desain Joseph Eichler, pengembang real estate kesukaan Steve Jobs. (Photo by Pixabay on Pexels.com)

Untuk menuangkan saripati kehidupan Jobs dalam kertas, Walter Isaacson membutuhkan 1200 lebih lembar kertas. Tak mengejutkan karena Jobs adalah sosok yang gimana ya… udah hampir kayak nabi di zaman modern ini. Kalau semua produk Apple adalah kitab suci dan pemilik perangkat Apple adalah penganut ajaran Jobs, itu artinya dia seorang yang sukses besar. Mirip seorang pemimpin ‘cult’, punya kuil sendiri (Apple Stores), warisan yang terus digemari dan diamalkan (Mac, iPad, iPhone, Watch, TV, Music) dan hebatnya juga terus diperbarui agar tak usang.

Buku ini mengandung 42 bab yang diawali dengan penjelasan orang-orang yang terlibat dalam kehidupan Jobs. Mereka digambarkan sebagai karakter sebuah naskah drama. Seolah mempersiapkan pembaca dari dini agar Isaacson sebagai penulis nggak harus repot menjelaskan X itu anunya Jobs, Y itu anunya Jobs. Jadi pas cerita ya udah cerita aja ngalir. Kalau pembaca lupa siapa adalah apanya Jobs ya tinggal balik ke halaman karakter. Clever!

Bab pertama menceritakan masa kanak-kanak Jobs yang sebenernya tragis. Ia anak kandung dari hubungan di luar nikah. Ayah biologisnya mahasiswa kelahiran Suriah Abdulfattah Jandali, anak bungsu keluarga terpandang dan tajir melintir di negaranya (raja minyak, literally) dan ibu biologisnya Joanne Schieble yang cuma mau memberikan anaknya pada ortu angkat yang lulusan sarjana. 

Steve Jobs bayi kemudian diadopsi Paul dan Clara Jobs yang sejak awal mengatakan bahwa Steve anak adopsi jadi nggak ada drama ala sinetron Indonesia atau K-drama gitu ya. 

Tapi meski minim drama, tetap saja ada luka batin. Ada perasaan tidak diinginkan yang ia harus hadapi seumur hidupnya, yang Isaacson katakan diduga  keras juga menjadi alasan kuat Jobs menjadi begitu terobsesi dengan kontrol. Control freak, istilahnya. Ia nggak bisa mengendalikan fakta bahwa ia lahir dan tak diinginkan ortunya maka hal lain dalam hidupnya harus bisa dikendalikan agar hidupnya tak tambah kacau, begitu mungkin instingnya menuntun.

Ada betulnya kalau sebelum kita jadi orang tua, kita harus menyembuhkan luka batin sendiri karena jika dibiarkan, luka batin itu akan kita ‘wariskan’ ke anak-anak kita. Steve Jobs saat dewasa juga melakukan kesalahan yang sama dengan Abdulfattah. Ia memiliki anak di luar ikatan pernikahan dan menelantarkannya, meski kemudian ia menyesali dan mengakui anak tadi.

Penelantaran ini semacam tema utama dalam hidup Jobs. Jadi tidak ada salahnya menganggap jika tahun tahun pertama kehidupan anak adalah fondasi. Sekali ada yang salah, kurang pas, ya makin besar makin parah kalau nggak langsung dikoreksi. 

Isaacson juga menulis penelantaran ini membuat Jobs sangat keras dan kasar. Berdarah dingin, gitu deh. Sakit hatinya ditelantarkan itu jadi luka permanen dan mencap ortu biologisnya sebagai bank sperma dan telur semata. Ortuku cuma Paul dan Clara, katanya.  

Tapi Steve tanpa Paul Jobs bakal jadi kayak anak anak biasa. Paul-lah yang memperkenalkan asyiknya mendesain, menciptakan dan mengutak-atik barang apapun. Paul mengajarkan pentingnya kesempurnaan mendesain perabotan, dan ini bakal jadi bekal yang maha penting bagi Steve saat ia merintis karier di bidang teknologi.

Paul memang bukan lulusan sarjana yang tajir kayak Abdulfattah tapi justru itulah yang membuat Steve punya kemampuan bisnis yang bagus. Paul sering mengajak Steve cilik berburu suku cadang dan komponen bekas lalu menawar dengan sadis😂. Keahlian ini sangat vital buat pebisnis karena memang kalau berbisnis dengan mindset “ya udahlah mahal dikit nggak masalah” itu ga bisa. Kalau mau untung gede ya kudu sadis pas nego. 

Nah di sini kalo kita mau bahas soal privilege, Steve sebenernya ya punya privilege ( punya ortu kandung yang pinter dan kaya karena itu artinya proses perkembangan janin terutama otaknya prima banget, ia tinggal di pusat perkembangan ekonomi dan teknologi dunia) dan kelemahannya sendiri (luka batin sebagai anak adopsi). Tapi yang penting ia bisa mengoptimalkan privilegenya dan berhasil mengkompensasi kelemahan dia. 

Satu sosok yang menginspirasi Steve ialah Joseph Eichler, pengembang real estate terkenal di California. Desain rumah Eichler dikenal minimalis dan resik, rapi. Mari Kondo approves pokoknya. Tapi semua itu bisa didapat dengan biaya terjangkau. Dinding dan pintu geser terbuat dari kaca, pilar yang dibiarkan telanjang tanpa dekorasi, dan lantai berpenghangat yang ga bakal bikin masuk angin kalo ketiduran di atasnya. Steve ngomong kalo desain Eichler ini mengilhami dirinya bikin produk dengan feel yang mirip. Minimalis, rapi, dan yang penting ‘murah meriah’. Desain ala Eichler dicoba diterapkan Steve ke Mac dan iPod pertama.

Meski Paul jago nawar, bukan berarti dia jago jual. Karena gigih dan mau nyoba profesi baru di real estate, dia ngabisin duit buat bayar lisensi agen real estate tapi hasilnya nol. Keuangan keluarga ambruk dan Steve jadi kena imbasnya. 

Setelah dewasa Steve sadar Paul ga cocok jadi agen real estate karena ayahnya itu ga punya mental penjilat atau sikap suka menyenangkan orang lain dan mengarang apapun agar keinginannya tercapai. (*/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.