Netflix: Sumber Inspirasi atau Adiksi?

SAYA mengaku baru 2 bulan ini menikmati layanan Netflix yang tersohor dari 5 tahun lalu itu. Iya, saat Netflix diblokir sama Telkom itu lho. Makanya kayak wow banget itu kedengerannya langganan Netflix. Tahu sendirilah, apapun yang diblokir status quo pasti mengundang decak kagum, tanda tanya dan keinginan memiliki. Semacam buku Pram yang dinyatakan subversif oleh negara dulu. Makin dilarang, wah makin menggelinjang nafsu untuk menerobos ‘pagar-pagar’ itu. Namanya juga manusia!

Saya sendiri mencoba untuk bertanya ke diri sendiri sebelum membeli paket langganannya yang cukup ehem, mahal. Yang termurah Rp54.000 itu cuma bisa dinikmati di layar ponsel yang sempit. Duh, bisa juling kelamaan nonton di layar sesempit 5 inchi. Nggak bisa, pikir saya. Upgrade-lah saya. Mau nonton di laptop saja.

Sebenarnya saya ingin membuktikan apakah dari Netflix ini saya bisa setidaknya belajar sesuatu. Karena saya orangnya bukan movie goer yang ada film baru dikit langsung kesetanan ngantre di bioskop. Rileks aja napa. Saya nggak begitu demen setting publik yang agak merepotkan. Apalagi sekarang bioskop dibuka dengan protokol seketat-ketatnya. Dan tempat tinggal sekarang juga jauh dari bioskop. Jadi saya memilih Netflix sebagai sumber hiburan dan inspirasi.

Ada seseorang yang bilang di LinkedIn bahwa dengan mengamati konten populer di Netflix, kita juga sebenarnya bisa belajar banyak hal. Karena saya dan orang ini sama-sama bergerak di bidang kepenulisan, jadi ia menyarankan menimba ilmu dari konten-konten Netflix yang populer.

“Di konten yang populer itulah kita bisa belajar banyak soal formula kesuksesan sebuah film, naskah film, bla bla bla…,” tulisnya.

Hmm, masuk akal sih sebetulnya tapi setelah saya berlangganan kok saya malah lupa untuk belajar sesuatu dari konten Netflix yang saya konsumsi itu ya? Haha, malah larut dalam pusaran hiburan yang mudah dan menyenangkan ini. Damn it.

Sudah ada beberapa film yang saya nikmati sejak awal Agustus lalu:

  1. Navillera
  2. Athlete A
  3. Kotaro Lives Alone
  4. Move to Heaven
  5. Can’t Write- Live without Scenario
  6. Run On
  7. Sex/ Life
  8. The Chair
  9. The Bold Type
  10. Nureyev
  11. Eat, Pray, Love
  12. Breaking Bad

Ada satu serial dari Arab, entah Turki atau Saudi Arabia yang berjudul “The Writer” tapi kok jalan ceritanya agak …entahlah. Saya tinggalkan setelah menonton beberapa episode awal.

Sekarang saya masih mencoba menikmati “Breaking Bad” yang sebetulnya bukan selera saya. Tapi toh saya coba ikuti ceritanya karena katanya serial ini sungguh bagus pengembangan karakternya. Bayangkan ada seorang guru kimia SMA yang karena butuh duit banget jadi produsen dan pengedar meth, substansi terlarang yang bahkan lebih gila lagi efeknya daripada ganja.

Awalnya jijik sih karena atmosfer serial ini tuh dunia pengguna, pengedar narkoba dan polisi yang udah kayak Tom dan Jerry. Bedanya ini nggak lucu sama sekali. Ada kepala terpenggal, ada yang kehilangan kaki, ada mayat yang dihancurkan dengan larutan asam, ada yang dicekik sampai mati, ada yang…entahlah apalagi yang saya akan jumpai di season 2 ini.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Marathon nonton juga sudah jadi kebiasaan. Dulu saya suka menyewa VCD serial dan menikmatinya di laptop setelah pulang kerja. Sekarang zaman berubah dan saya beralih ke layanan streaming. Tak ada bedanya sih. Cuma persewaan VCD itu bisa diganti katalog virtual yang sangat mudah dilihat dan dipilih. Bahkan saya tak perlu membaca dan memutar episode pertama. Cukup arahkan kursor ke serial itu dan muncul cuplikan yang paling menarik dari konten yang dimaksud. Semudah itu.

Untuk sekarang, saya mungkin akan menonton sambil mencatat perubahan karakternya. Atau cuma menikmatinya saja lalu mengulang bagian yang menarik.

Tapi mungkin nanti saya akan tuliskan beberapa yang patut saya catat.

Kadang ingin menonton film yang sama sekali bukan selera saya tapi jadi bertanya ke diri sendiri: Ini hiburan atau siksaan? (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in movie and tagged , . Bookmark the permalink.

1 Response to Netflix: Sumber Inspirasi atau Adiksi?

  1. Perspektif says:

    Salam kenal. Makasi buat rekomendasi film-film di Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.