Bagaimana Mengasah Keterampilan Menulis dengan ‘Marathon’ Netflix?

ITULAH pertanyaan yang sempat saya tanyakan pada diri saya sendiri karena nggak mungkin lah nonton sambil mikir ini itu? Otak kan dalam modus santai bukan modus belajar.

Tapi seseorang mencoba menjawab itu dengan menuliskan sebuah panduan belajar menulis dengan menonton Netflix. Dan dari pertama memang syaratnya: harus menonton dengan niat untuk belajar, bukan cuma mendapat hiburan.

Saya ajak Anda mencoba mencermati pendapat Jim Woods berikut ini ya. Saya juga penasaran apakah nasihatnya itu bisa direalisasikan dalam kehidupan nyata saat nonton Netflix? Sebenarnya ia menulis sampai 30 kiat tapi sisanya kok saya pikir melantur, mengada-ada dan tak relevan. Cuma 11 ini yang terasa cespleng bagi saya.

  • Analisis bagaimana cerita di dalam film itu dibuat: Kita cermati konflik dan pemecahan konflik serta struktur cerita.
  • Pastikan tulisanmu mengalir: Sambil menonton, kita harus mencatat (di kertas atau di pikiran) bagaimana adegan-adegan dianyam, dijahit dan disatukan. Gunakan itu sebagai perbandingan bagi cara menulis kita? Apakah kita bisa menulis dengan mengalir atau terasa meloncat-loncat?
  • Pelajari cara menulis dialog yang baik: Menulis dialog yang alami tak mudah. Ini adalah salah satu keterampilan yang wajib dimiliki penulis.
  • Kembangkan karakter dalam cerita: Buatlah karakter dalam cerita kita berkembang dan berubah. Tidak stagnan. Kalau bisa malah perkembangannya tidak terduga dan penuh kejutan.
  • Ambil ide karakter dari film: Punya karakter yang menarik dan ingin angkat di tulisanmu? Coba gunakan karakter yang ada di sebuah film.
  • Kaitkan dengan dunia nyata: Ada beberapa film yang terasa sangat nyata, dan kita bahkan pernah mengalaminya. Inilah yang membuat orang kecanduan menonton. Mereka merasa sebagian dirinya ada dalam karakter di film. Begitupun saat menulis, selalu kaitkan tulisan dengan apa yang bisa dialami orang lain.
  • Buat akhir yang baru: Tak puas dengan akhir sebuah episode atau seri? Mengapa tidak menulis bagian akhir itu sendiri?
  • Kembangkan kekosongan alur: Pernahkah merasa ada sesuatu yang terlompati dalam sebuah film? Ya itulah yang namanya kekosongan alur. Cobalah menulis dengan mengisi adegan yang tak ada itu.
  • Jelaskan perasaan/ emosi yang bangkit: Pernahkah menangis atau terharu saat menonton film? Kenapa itu bisa terjadi padamu? Jelaskan dalam sebuah tulisan.
  • Telaah lebih dalam karakter favoritmu: Kalau ada karakter yang sangat menarik di film, coba fokus padanya dan tuliskan segala yang menarik dalam dirinya.
  • Baca bukunya: Sejumlah film di Netflix diangkat dari novel atau karya tulis lain. Cobalah membandingkan versi film dan novelnya. Misalnya “Eat, Pray, Love” yang filmnya ternyata kayak blah…hambar dibandingkan dengan memoar yang ditulis Liz Gilbert. Sad. Bahkan Julia Roberts tak sanggup memaksa saya memberikan 5 bintang untuk film itu. Sesedih itu lah.

Saya sendiri mencoba untuk mulai mencatat dan menganalisis saat menonton film apapun di Netflix. Dan rasanya memang agak merepotkan. But definitely worth it kalau kita memang mau menjadi penulis yang lebih baik. (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: