Jadi Orang Dewasa Jangan Sampai Kehilangan Asa

(Wordpoint.com)

MAKOTO SATO berselimut dalam sebuah ruangan apartemen sendirian. Di luar matahari muncul tapi tidak ada keinginan dalam dirinya untuk menyibak tirai dan membanjiri ruangan itu dengan sinar matahari.

Ia malah asyik meringkuk dengan laptop Sharp di depannya. Sekilas ia tampak sedang menulis novel, karena ia pernah mengaku pada temannya Kenta Sekiguchi bahwa dirinya ingin menulis novel dan mengundurkan diri dari Great International, sebuah perusahaan kecil pembuat grafis untuk stasiun televisi tempat mereka bekerja bersama-sama.

Kenta berkata pada Makoto bahwa dirinya akan meninggalkan perusahaan itu segera karena anaknya akan lahir dari pacarnya. Bekerja di sana tak mencukupi kebutuhan keluarga barunya, pikir Kenta.

Tapi Makoto tidak sedang menulis apapun yang akan menjadi naskah novelnya. Ia bercakap dalam ruang chat online yang memberikannya penghiburan atas sepinya hidupnya dari kebermaknaan.

“Aku tidak punya apa-apa,” teriaknya lalu kembali berbaring, meninggalkan laptopnya di meja.

Beberapa tahun sebelumnya saat ia bercakap dengan pacarnya yang habis membaca novel tentang seorang juru ketik yang saat mabuk berhasil menulis sebuah novel, Makoto mengaku tidak memiliki apapun untuk ditulis meski tubuhnya memang penuh dengan kata-kata milik orang lain.

“Kau akan baik-baik saja. Kau menarik…,” kata si pacar menghibur. 

Dan memang 2 dekade bergulir setelah itu pun, Makoto masih bisa bertahan di industri yang sama. Membuat grafis. Dunia berubah tapi ia masih tetap saja menjadi juru ketik orang lain.

Kalau dicermati sih film ini mencoba menangkap kegalauan para geriatric millennial yang sedang memasuki usia paruh baya seperti Makoto Sato yang berusia 46 di tahun 2020.

Film ini merunut perkembangan cara orang berkomunikasi dari zaman surat menyurat, era sahabat pena sampai ke era media sosial (film ini bermula dengan munculnya permintaan pertemanan seorang mantan pacarnya di Facebook).

Dari korespondensi via surat dan kartu pos, film ini mendeskripsikan evolusi komunikasi menjadi pager dan telepon umum koin, lalu ponsel fitur (bukan cerdas). 

Di sini diceritakan juga bagaimana asyiknya memiliki sahabat pena yang memiliki idola yang sama. Sahabat pena itu bisa ditemukan di iklan majalah. Lucu ya, mau punya sahabat pena yang memiliki idola yang sama dengan berdiskusi via surat yang ditempeli guntingan foto idola itu. Tentunya guntingan foto-foto itu dari majalah yang masih populer di akhir 1990-an, saat media baru (online) belum merebut pangsa pasar.

Dengan sahabat penanya Inu-Cara, Makoto di tahun 1995 begitu getol menulis surat sampai ia mengoleksi setumpuk surat Inu-Cara dan ngoto kopi darat dengan Inu-Cara yang kemudian menjadi pacarnya yang di tahun 2020 ternyata sudah menikah dan punya anak serta entah kenapa mengirimkan permintaan pertemanan padanya di Facebook. (*/)

Hebatnya satu aktor ini bisa didandani sedemikian rupa sehingga bisa memerankan anak muda awal 20-an sampai usia kepala 4. (Foto: AsianWiki)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: