Kisah Seorang ‘Kucing’ Pemburu Gadun Termasyhur dalam Sejarah

WHO rules the world?

Bukan perempuan. Sori ya, girls.

Orang-orang yang memimpin dunia adalah mereka yang merasa dirinya spesial dan dunia sepakat dengan itu.

Sementara itu, para pecundang adalah mereka yang sama juga merasa diri mereka istimewa tapi sayangnya…dunia tak setuju dengan pendapat itu.

Seperti itulah rasanya menjadi Andrew Philip Cunanan, tokoh antagonis yang justru menjadi pusat cerita dalam serial “The Assassination of Gianni Versace“.

Cunanan mati bunuh diri di usia 27 tahun setelah membunuh sejumlah pria dari berbagai latar belakang. Jika ia tak membunuh Gianni Versace, desainer kondang, mungkin namanya bakal tenggelam dalam sejarah seperti pembunuh serial biasa.

Dan pada kenyataannya, Cunanan memang spesial. Setidaknya dalam hal rupa.

Dalam istilah anak muda sekarang, ia ditakdirkan punya wajah glowing, good looking. Perpaduan pas antara gen Asia (Filipina) dan Kaukasia.

Andrew dibesarkan oleh ayah kandung Modesto yang tukang tipu dan pembual besar. Ia pernah bekerja untuk Meryll Lynch tapi begitu tersandung kasus penjualan saham gelap, ia didepak dari pekerjaannya dan melarikan diri ke negeri asalnya, tak peduli masa depan Andrew dan istrinya.

Alhasil, Andrew yang dibesarkan dengan keyakinan yang ditanamkan Modesto secara terus-menerus sejak usia dini bahwa dirinya adalah individu yang istimewa dan dengan demikian berhak diperlakukan spesial dan hidup dengan gaya hidup yang juga di atas rata-rata (doi ogah kerja keras) akhirnya terjebak pada ilusi tersebut hingga akhir hidupnya.

Untuk bisa memiliki gaya hidup borjuis itu, Andrew sudah mencicipi menjadi ‘kucing’ (pria muda yang melacur pada om-om alias gadun yang berduit banyak).

Dari sana ia mengincar lebih banyak laki-laki tua yang berumur senja dan kaya-raya tentunya.

Namun, di samping itu ternyata ia juga menyempatkan menebar pesona kepada sejumlah pria sebayanya. Dua di antaranya ialah Jeffrey Trail, seorang mantan tentara AS yang menyembunyikan orientasi seksualnya, dan David Madison, seorang arsitek muda yang meminati sejenis.

Semua pengembaraannya itu bermuara pada Gianni Versace yang tak menunjukkan ketertarikan untuk dekat dengannya padahal Cunanan merasa dirinya sudah berdandan dan mengerahkan segala cara untuk memikat ‘gadun’ ini habis-habisan. Penolakan Versace membuat Cunanan terhina dan ia mencari cara untuk membalas penolakan yang pahit itu.

Yang sebenarnya bersalah di sini, kalau saya boleh berkata sih, si Modesto Cunanan. Bukan Andrew.

Andrew adalah seorang korban dari orang tua yang tak becus mendidik dan gagal menjadi panutan bagi anak-anak mereka.

Jadi, kalau Anda bilang pasangan child-free itu egois dan menentang ketentuan Tuhan dan alam, saya juga bisa katakan bahwa memiliki anak akibat sembarang berhubungan seks atau mendidiknya secara sembarangan sehingga kemudian ia menjadi sampah masyarakat juga sangat egois karena merugikan masyarakat dan juga menentang hukum alam dan ilahi. (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: