Apakah Burung Pelikanmu? (Ulasan Film Perancis “MILF”)

Film cinta-cintaan ‘berondong’ dan tante-tante yang cukup menarik. (Foto: whatsnewonnetflix)

“MOTHERS I LIKE TO FUCK” bukan jenis film yang relijius. Ini karya sinematik yang penuh dengan adegan tak patut jika ditilik dari standar orang ‘Timur’. Meski Barat juga sebetulnya pernah sesetia itu dengan dogma-dogma moral dan agama besutan gereja mereka.

Di sini dikisahkan ada Elise, Cecile, dan Sonia, 3 wanita yang sudah menginjak kematangan dalam perjalanan hidup mereka. Elise dan Cecile sudah menikah dan memiliki anak. Cecile baru 3 tahun menjanda, masih terbayang-bayang almarhum suaminya. Sonia sendiri berada dalam hubungan pacaran yang labil dengan seorang pria yang ‘menggantungnya’ seenaknya saja. Dan Elise sudah beranak satu tapi masih sangat menikmati kebebasan meski tak ada suami karena cerai hidup. Mereka wanita lajang dan sangat matang dengan kondisi hidup yang berlainan.

Saat Cecile mengajak Sonia dan Elise membantu menyiapkan rumahnya agar siap dijual ke orang lain, eh secara tak sengaja mereka malah bertemu dengan 2 orang pemuda instruktur surfing di pantai dekat rumah Cecile. Paul dan Julien kalau menurut Elise mirip David Hasselhof yang dikenal di era 90-an dengan tubuh atletis dan kulit terbakar matahari serta adegan lari di pantai yang legendaris itu. Tubuh mereka juga tipikal badan penjaga pantai Baywatch.

Paul dan Julien. (Foto: Dunnozmovie)

Sementara kedua temannya mulai bermain api asmara dengan 2 berondong yang usianya selisih belasan tahun, Cecile justru malah bertemu dengan Markus, seorang anak muda yang ia kenal dulu sebagai pengasuh anak-anaknya yang sekarang sudah jadi remaja. Cecile kaget kini Markus sudah menjelma sebagai seorang pria muda yang tubuhnya menjulang melebihi dirinya. Kekagetan khas emak-emak di Indonesia juga kalau bertemu keponakan atau anak saudara jauh yang jarang bertemu. Markus tinggal dan bekerja bersama Paul dan Julien juga dalam sebuah bisnis kursus surfing di tempat itu. Dan ia menjabat sebagai manajer, ia mengaku.

Burung pelikan di kamar Cecile. (Foto: Dunnozmovie)

Saya tak akan membocorkan plot cerita tapi yang menarik di situ adalah saat Cecile menemukan seekor burung pelikan besar yang tak mau diusir dari kamar tidur Cecile sehingga wanita itu rela untuk tidur di lantai bawah saja.

Bersama Sonia dan Elise, Cecile mencoba segala cara agar satwa ini mau enyah. Dijerat dengan tali, tak berhasil. Dipancing dengan makanan, tak mau. Gagal semua. Akhirnya mereka pasrah.

Namun, di akhir film, si burung ini ditampilkan sedang bertengger di jendela kamar Cecile dan akhirnya mau mengepakkan sayapnya keluar. Meninggalkan kamar Cecile selama-lamanya.

Di film ini kita bisa temukan beberapa tipe manusia. Ada manusia yang terlihat siap, agresif, terbuka pada segala kemungkinan dan optimis dalam menyambut peluang. Namun, pada kenyataannya di titik tertentu, saat kondisi di sekitarnya mengizinkannya untuk melejit dan tumbuh ia malah membatasi diri. Ia tak mau meninggalkan zona nyamannya.

Lalu ada tipe manusia yang terlihat sudah optimis, berpikiran terbuka, siap berjuang demi impian meski itu artinya menentang norma atau aturan masyarakat. Namun, sayangnya ia malah dipatahkan oleh manusia lain atau hal lain yang dikiranya akan melambungkannya. Sakitnya sungguh luar biasa.

Sementara itu juga ada manusia yang peragu. Awalnya meragukan dunia di sekitarnya, apakah dunia ini akan mendukung impiannya yang tak masuk akal? Ia sudah siap menyerah bahkan jika harus mengecewakan manusia lain yang berharap ia maju. Lalu entah bagaimana ia pun maju juga dengan enggan tapi juga menikmatinya.

Ada juga yang terlihat tak serius, bermain-main, tapi sesungguhnya serius sekali dan berharap tinggi. Sayang ia malah diragukan manusia lain yang seharusnya mendukungnya maju. Lalu ia pun tetap setia bagaimanapun akhirnya.

Dan anehnya ada lagi yang diam-diam saja. Tak banyak koar-koar, tak banyak ulah dan keributan. Tapi tiba-tiba membuat gebrakan. Dan malah mencetak kemajuan yang lebih dramatis dari yang sejak awal blak-blakan.

Markus dan Cecile (Foto: Dunnozmovie)

Begitulah manusia. Tingkah polahnya ada-ada saja. Aneh. Tidak ada habisnya.

Tapi yang paling menyenangkan adalah tipe manusia yang meski digunjing, dicerca, tapi malah sepenuh hati membantu mereka yang membuatnya menjadi bahan ghibah dan olok-olok.

Mungkin burung pelikan itu sebuah metafora yang dibuat sutradara untuk sebuah hal yang kita harus lepaskan, relakan, pasrahkan untuk lenyap dan meninggalkan kekosongan dalam hidup kita. Karena dengan kekosongan itu, akan ada ruang untuk menyambut hal atau manusia baru yang bisa hadir dalam hidup kita.

Satu kutipan yang juga tak kalah menarik dari Markus ialah saat ia disamakan dengan anak-anak Cecile, ia berkata: “Aku mungkin seusia anakmu tapi aku bukan anakmu.”

Ya bayangkan di Perancis saja prasangka masih sekental itu ya. Apalagi di Indonesia yang sejak dini masyarakatnya sudah ditanamkan untuk tidak menikahi wanita yang usianya sepantaran ibu mereka melalui kisah Tangkuban Perahu… ? Ya itu kan dilarang karena Dayang Sumbi ibu kandungnya Sangkuriang. Kalau tidak, ya tak masalah seharusnya. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in movie and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.