‘Ngemper’ di Tempat Umum Adalah Kebiasaan Orang Indonesia Paling ‘Hih‘!

PERNAH pastinya kita sebagai orang Indonesia melihat sesama duduk di lantai. Bukannya mencap atau menyudutkan atau misoginis, tapi kebanyakan sih yang saya temui pelakunya ibu-ibu.

Sebenarnya ya tidak ada salahnya sih duduk saat merasa lelah. Tapi saat tidak ada tempat duduk yang pantas, sebagian orang lalu menghalalkan segala tempat termasuk lantai di fasilitas umum seperti stasiun kereta, halte, dan sebagainya untuk jadi tempat duduk seperti di rumah sendiri.

Alasan saya menyebut ‘ngemper’ ini sebagai kebiasaan buruk adalah karena dengan duduk di tempat yang tidak seharusnya, kita sudah merendahkan diri di hadapan orang lain. Bayangkan kita sedang antre di bank lalu seenaknya ngemper dan merasa tidak bersalah. Lalu saat kita duduk di lantai, orang lalu lalang di depan kita. Apakah kita tidak merasa tidak pantas memperlakukan diri kita seperti itu? Mereka yang tidak punya kaki atau lumpuh saja ingin setengah mati untuk bisa berdiri layaknya manusia lain tapi kita kok malah merendahkan diri seperti itu?

Alasan lain kenapa saya tidak bersimpati pada mereka yang ngemper adalah karena kebiasaan ini mengganggu ketertiban. Saat kita ada di sebuah tempat umum dan tiba-tiba ada orang yang terlihat perilakunya menyimpang dan seolah dibiarkan, rasanya itu adalah bibit awal terbentuknya sebuah kebiasaan komunal yang buruk. Satu orang ngemper seenaknya lalu disusul dan ditiru yang lainnya.

Lalu bagaimana dong kalau memang kaki sudah capek banget atau rasanya mau pingsan atau sedang sakit saat naik kendaraan umum atau berada di tempat umum?

Kita bisa minta tempat duduk dengan petugas atau orang di sekitar kita yang lebih muda atau sehat. Jelaskan baik-baik kalau memang sedang tidak fit dan butuh duduk untuk istirahat.

Kalau memang tidak sakit dan cuma malas berdiri, artinya kita mesti menahan diri. Itulah inti kehidupan bermasyarakat, bukan? Kalau semua orang maunya seenaknya dan sampai melanggar hak orang lain, tidak bisa dibiarkan begitu saja kan? (*/)

Pusing Soal Puting

TERLIHAT wajar memang kalau ada satu ekor kucing kecil menyusu pada kucing yang lebih besar. Oh itu kan ibunya, gumam kita.

Tapi Junior bukan anak Viktor. Karena Viktor masih muda juga meski sudah makin besar sejak saya pungut.

Dan keduanya kucing jantan. Jadi Viktor ini juga tak punya puting yang besar dan penuh air susu juga kalau diisap sekuat tenaga. Tapi toh demikian, Junior tetap mengisap kuat-kuat saat Viktor berbaring.

Awalnya Viktor risih sih tapi lama-lama ia membatin: “Ya udah lah bodo amat.” Dia makin terbiasa. Dari yang awalnya menendang Junior agar tak menyedot putingnya sampai akhirnya cuek dan memilih tidur saat Junior mengisap ganas. Hiiy!

Menyaksikan ini saya jadi bertanya: “Apakah dorongan mengisap air susu itu masih begitu kuat dalam diri Junior yang masih usia anak? Tapi apakah itu pelampiasan saja? Karena apa yang ia butuhkan juga tak terpenuhi. Tak ada setetespun susu bisa dinikmatinya dari puting susu Viktor yang bahkan masih perjaka ting ting.”

Jadi ingat dengan pertanyaan absurd: “Apakah guna puting susu laki-laki?”

Haha itu pertanyaan yang menohok bagi pria karena memang kalau dipikir ya tiada guna. Cuma ‘aksesoris’. Supaya dada tetap ‘sedap’ dipandang mata atau terlihat sama dengan wanita. Tapi fungsinya cuma buat kesenangan seksual (puting pria membantu mereka terangsang lebih dahsyat jika distimulasi dalam foreplay). Beda dengan puting wanita yang punya tugas lebih mulia: memberi makan generasi seterusnya.

Seberapa estetik puting elo, guysss? (Foto: https://europepmc.org/article/med/32983812)

Omong-omong soal puting, ternyata ada penelitian soal posisi puting yang dianggap paling ‘estetik’ alias pas dan enak dipandang mata.🤣

Penelitian ini sebenarnya untuk mengetahui posisi pas puting pria sehabis operasi maskulinisasi dada yang bisa dilakukan pada pasien pria yang semula obesitas lalu mengalami penurunan berat badan yang drastis dan signifikan. Kulit di seluruh tubuh mereka pastinya melar semua dan setelah lemak laknat tadi luruh, kulit mereka pun menggelambir di segala sudut badan. Maka dari itu, area dada dan puting mereka harus direkonstruksi lagi supaya tidak terlihat seperti payudara tapi dada pria yang kencang, datar dan berputing lebih kecil dari wanita.

Dan ternyata posisi puting yang paling estetik adalah posisi C dan yang paling dianggap nggak estetik adalah posisi G. 😅

Posisi puting ideal di dada pria ternyata nggak sembarangan. Harus di titik tengah antara ketiak dan tulang dada tengah. Terlalu ke tengah, bakal aneh. Terlalu ke pinggir mendekati ketiak juga ‘lucu’.

Dan ketinggian puting tidak terlalu dekat dengan garis batas bawah otot pectoral.

Posisi C ini memang bisa dikatakan ideal sekali karena memang di majalah Men’s Health yang memajang banyak dada pria, proporsi itu yang banyak ditemui.

Usut punya usut ada juga yang namanya perbandingan ideal posisi puting. Gilaa!!

Harus sejajar dengan puting satunya dan sedikit keluar dari garis lurus yang ditarik antara ketiak dan pusar.

(Foto: https://www.science20.com/beachcombing_academia/male_nipple_repositioning_and_golden_ratio-94635)

Hmm, ternyata ribet juga jadi pria ya. Ada ekspektasi dada dan putingnya yang ideal harus seperti apa.

Ya namanya juga kesetaraan. Jangan cuma wanita yang jadi sasaran objektifikasi. Haha. (*/)

Filosofi Petruk

LAIN dari Semar yang dikisahkan sebagai titisan dewa, Petruk adalah representasi rakyat jelata dan manusia biasa. Ya walaupun sebenarnya juga ia adalah anak seorang raja raksasa dan bermuka tampan tapi kemudian menjadi legam kulitnya dan hidungnya memanjang akibat hobinya berkelahi. Lengannya panjang, tubuhnya tinggi dan kurus.

Namun, karakter Petruk yang menonjol ialah pandai bicara, humoris, cerdas dan punya keberanian. Ia juga piawai dalam kebudayaan. Ia menguasai tembang-tembang yang menghibur dan bermakna dalam secara filosofis.

Petruk juga dikenal memiliki nama lain “kantong bolong”. Secara harafiah, makna frasa itu adalah kantong yang berlubang. Secara kiasan, Petruk memang karakter yang tak suka menyimpan dan menumpuk-numpuk harta benda atau kepunyaan apapun dalam dirinya. Ini mencakup pengetahuan dan hal-hal yang immaterial alias tak berujud.

Nama lain Petruk yang unik ialah Dawala, sebuah kata yang merujuk pada sifat sabar, penurut dan setia.

Nah, bagaimana dengan kita yang saat ini hidup di zaman materialisme dan hedonisme dan konsumerisme yang gila-gilaan?

Apakah filosofi Petruk ini bisa kita terapkan dalam kehidupan kita? Semoga di 2022 harapan ini bisa terlaksana ya. (*/)

“Sewu Susu”

SEBUAH patung unik ada di Omah Petroek di Pakem, Sleman, Yogyakarta. Patung ini sekujur tubuhnya dicat merah menyala. Dan yang paling menarik ialah jumlah payudaranya tak cuma dua. Ada lima!

Ada yang menganggapnya sebagai perwujudan Mbok Turah, sosok mistis yang menjadi perlambang kemurahhatian seorang ibu yang dalam hal ini adalah Gunung Merapi yang senantiasa memberi manusia dengan berkah kesuburan tanahnya.

Namun, ternyata patung itu dijuluki “Sewu Susu” (seribu payudara). 

“Patung ini adalah lambang dari pemberian seorang ibu yang memberikan semuanya, dari kesenangannya hingga hidupnya sendiri. Oleh karena itu sang seniman merasa bahwa memberikan sepasang buah dada terasa tak cukup. Seolah seluruh badan ibu itu adalah payudara yang memberi tak habis-habisnya,” ujar Romo Sindhu sang pendiri Omah Petroek. (*/)

Paniklah! Masak Nggak?

OMICRON resmi terdeteksi di Indonesia.

Ya tinggal menunggu waktunya aja kan.

Nggak usah sok denial, pakai bilang “Nggak bakalan bisa kena Omicron.”

Tapi lagi-lagi ya emang mau panik atau nggak ya tetep kudu fokus ke Protokol Kesehatan.

Nggak ada cara ampuh atau jalan pintas buat mencegah penularan varian anyar Coronavirus ini.

Ada yang bilang: “Capek banget pandemi ini. Lingkaran setan abisss!”

Tapi sekali lagi ya, semoga kita nggak kena. Kalaupun kena nanti, semoga lekas pulih. (*/)

Kamu Budak atau Tuan?

BEBERAPA waktu lalu saat peringatan hari buruh, terjadi ‘kericuhan’ di media sosial.

Mereka yang merasa tak bekerja di pabrik dan bekerja kantoran enggan disebut dan dimasukkan dalam kategori buruh.

Lalu disergah yang lain, dengan alasan: “Ya elah sama-sama digaji majikan, mau kerja di kantor atau pabrik ya intinya buruh itu mah!”

Ya itu memang bedanya “kerah putih” dan “kerah biru”.

Yang putih merasa lebih tinggi dari yang biru karena nggak harus berkotor-kotor. Cukup di dalam ruangan ber-AC, bersama majikan atau pemodal.

Tapi definisi superman dari Nietzche membuyarkan semuanya.

Buruh adalah mereka yang dua pertiga waktunya dalam sehari tersita oleh kepentingan lain selain dirinya, maka itu artinya ia masih buruh! Hahaaha.

Jadi artinya meski jabatan CEO, CFO, CMO, C apalagi yang lainnya itu, nggak peduli. Tetep aja itu namanya kepala buruh. Kerja juga. Masih belum bebas.

Bahkan kalau pemilik modal atau taipan sekalipun kalau masih urusannya buat bisnis melulu ya artinya ia masih jadi buruh buat duitnya. Duit memang harusnya membebaskan tapi jika berlebihan duit juga bisa mengungkung. Hidupnya capek buat mengelola dan mengembangkan duit yang seabrek tadi. Padahal udah banyak loh tapi kurang puas aja. Harus diinvestasikan di sini, di situ, jual lagi terus beli yang baru. Nggak ada abisnya. 😝

Jadi apakah kamu udah tuan atau masih buruh?! (*/)

Hidup Macam Apa Ini?

MENEMUKAN kutipan ini di media sosial dan bertanya: “Hidup macam apa yang cuma begini?”

Jajan Salad di The Lapan

BARU-BARU ini subkultur Jakarta Selatan disudutkan karena memiliki semesta bahasanya sendiri. Bahasa Jaksel adalah sebuah makhuk hibrida, persilangan antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang telah diberi makna baru yang kadang melenceng dari makna aslinya.

Menurut saya, kawasan Bintaro di Tangsel juga masuk subkultur tersebut. Di sini bersamaan dengan BSD menjadi kawasan perluasan subkultur Jaksel itu.

Tempat-tempat kongkow yang dilabeli creative hub dan creative compound bermunculan untuk menjaring generasi Z agar mau menyambangi dan mengkonsumsi.

Salah satunya ialah The Lapan, yang ada di Bintaro Sektor 7.

Kesan pertama ialah tempat ini relatif nyaman untuk ngobrol bareng teman atau sekadar makan atau bertemu rekanan kerja di luar kantor di masa pandemi yang akan lebih aman (konon) jika dilakukan di luar ruangan sebab sirkulasi udaranya lebih lancar.

The Lapan ini juga muncul semasa pandemi. Dan seakan menjadi respon terhadap kebutuhan anak muda generasi pandemi ini untuk bisa kongkow dengan tetap menjaga Protokol Kesehatan.

Di level pertama, saya disambut oleh sebuah serambi yang dipenuhi pengunjung. Masing-masing meja diatur berjarak.

Lalu ada sebuah salon dan di sampingnya sebuah kios yang mirip toko buku. Saya masuk. Eh ternyata bukan toko buku komersial tapi persewaan buku gratis. Konon creative compound ini memang menyediakan ruangan persewaan ini untuk menampung buku-buku yang masih layak baca dari orang-orang di sekitar mereka untuk anak-anak TK yang ada di depan lokasi.

Tapi mungkin seiring dengan perkembangan The Lapan, koleksi bukunya tak cuma buku anak-anak yang jadi bacaan anak TK tadi tapi juga banyak buku serius untuk pembaca dewasa semacamnovel-novel Haruki Murakami yang dikenal memiliki bumbu-bumbu seks mirip stensilan Eny Arrow meski tetap berlabelkan “buku sastrawi”.

Setelah menelusuri kios-kios makanan di The Lapan, pilihan saya jatuh ke ROOTS yang menyediakan hidangan dan minuman sehat.

Saya pun memesan semangkuk (almost) cesar salad. Di sini agak aneh sih karena bukan daging ayam tapi ikan salmon dan telur rebus. Well, mungkin in kreasi anyar pemiliknya. Atau mungkin jajan salad saya saja yang kurang jauh.

Tapi terlepas dari itu rasanya enak. Tak ada yang kurang menurut saya. Seladanya segar dan renyah. Tiada ulat, meski kalaupun ada juga saya tak keberatan. Termakan satu atau dua juga tak masalah. Buat saya itu justru sertifikat organik yang sesungguhnya. Haha.

Tekstur daging ikan salmonnya juga pas. Tak begitu lembek tapi juga masih bisa dikunyah dengan sedikit usaha bagi gigi dan rahang. Telur juga masaknya tak berlebihan. Tandanya kuning telurnya tak sampai kering tapi masih lembab.

Menu ROOTS tertampil di depan kiosnya. Harganya memang tak murah untuk ukuran ‘jajanan’ tapi sepadan kok dengan nutrisi yang didapat.

Yang saya agak keluhkan mungkin tampilan depannya yang kurang wow. Tulisan “The Lapan” terkesan agak malu-malu. Kurang besar dan menarik perhatian jika dilihat dari jalan.

Saat berkunjung cuaca cerah dan udara sedang gerah. Tak terbayang jika cuaca hujan angin dan kebetulan sedang di sini. Pastinya harus buru-buru berkemas agar tak kecipratan air hujan. (*/)

Menulis Jangan Pamrih Harta Apalagi Ketenaran

Ah masak iya?

KALAU ditanya, apakah yang kita mau dari menulis? Yang pertama terbersit dalam otak pastinya adalah mau terkenal, mau kaya.

Patut dimaklumi kok karena media massa juga mengeksploitasi berita soal penulis yang secara finansial memang mencengangkan dan sering diundang ke acara-acara publik penting baik di televisi maupun kanal YouTube atau akun media sosial populer.

Tapi di samping harta dan kepopuleran, apa sih yang bisa kita dapatkan dari aktivitas menulis?

Bagi saya, menulis sendiri merupakan kegiatan yang tidak sekadar keren untuk diri sendiri tapi juga demi kepentingan generasi mendatang. Generasi yang membutuhkan catatan informasi dan pengetahuan serta pengalaman kita sebagai warga dunia di era pandemi abad ke-21 ini. Haha.

Ini era yang sangat unik. Masyarakat dunia sudah tak mesti saling berperang. Kondisi relatif aman tenteram, peperangan besar-besaran juga belum ada sejak tahun 1945. Wacana Perang Dunia III seolah masih fiksi futuristik.

Dan karena tidak ada ancaman keamanan dari sesama manusia dari peperangan hebat, kita beranak pinak sampai tak terkendali sehingga bumi harus menanggung akibat dieksploitasi demi memberi makan hampir 7 miliar manusia.

Kita juga tak harus pusing memikirkan apa yang harus dimakan besok. Kita relatif aman sentosa.

Maka Coronavirus pun bertindak untuk sekadar mengisi catatan sejarah dengan sedikit pelajaran hidup umat manusia.

Karena itulah saya sempat menuliskan beberapa catatan soal kondisi pandemi di blog ini dengan label “pandemic diary“. Ya sekadar sketsa yang bisa menggambarkan kondisi peradaban di saat dipaksa berkonfrontasi dengan koloni makhluk hidup mikroskopik yang sangat menular dan mematikan bagi sebagian yang lemah dan rentan.

Rasanya mungkin asyik melihat entah 20 atau 30 atau 40 atau 50 tahun lagi, blog ini dibaca lalu dikutip seseorang yang tak saya kenal karena ia belum lahir sekarang tapi ingin memaparkan sekelumit soal zaman Coronavirus ini.

Betapa saya juga ingin mengatakan ambivalensi mengenai pencabutan kebijakan pemerintah untuk memberlakukan penghapusan cuti bersama Natal dan Tahun Baru 2022.

Di satu sisi, wah bagus deh buat memulihkan pertumbuhan ekonomi. Roda ekonomi sudah seret dan karena sekarang sudah mulai dirilekskan pembatasannya, aliran uang, produk dan jasa makin lancar jaya. Sesuatu yang patut disyukuri bagi kita yang merasakan kesulitan ekonomi maupun aspek lain dalam hidup akibat penerapan PSBB atau PPKM yang berseri.

Tapi di lain sisi juga ada kecemasan yang berdesir halus dalam benak. Benarkah ini sudah aman? Jangan jangan… Karena sesungguhnya tiada satu orang pun bisa memastikan apakah memang kondisinya sudah sepenuhnya aman atau belum untuk euforia lagi.

Ya sudahlah, mari kita tidak usah khawatir hingga tiba saatnya memang sudah harus khawatir. Yang penting siap saja untuk berbagai skenario. Mau yang terbaik siap. Mau yang terburuk juga kuat. Namanya hidup kan? Tak bisa maunya enak melulu. (*/)

Berapa Gaji Penulis di Jakarta?

PENULIS memang bukan bidang karier yang membuat kita bisa kaya raya seperti teknologi informasi atau programming, coding, dan sejenisnya. Sosok Elon Musk, Mark Zuckerberg, Jack Dorsey atau Bill Gates yang notabene orang-orang kaya di AS bukanlah orang yang bekerja sebagai penulis.

Saya harus akui fakta itu.

Kalaupun ada penulis sekaya raya J.K. Rowling ya itu kasus istimewa sekali. Bukan hal yang lumrah.

Kalau saya ditanya mengenai besaran gaji penulis di Jakarta, mungkin saya harus bertanya secara lebih spesifik lagi: “Penulis yang bagaimana dulu nih?”

Karena di pasar tenaga kerja tanah air, pekerjaan penulis itu tidak dilabeli “penulis”. Tahu kan maksud saya?

Di situs josbtreet.com, misalnya, kita susah menemukan sebuah posisi atau lowongan kerja yang berlabel “penulis”.

Photo by Min An on Pexels.com

KISARAN GAJI PENULIS

Di pasar tenaga kerja sekarang, pekerjaan penulis itu bisa berupa label-label seperti “copywriter”, “UX/ UI writer”, “editor”, “SEO writer”, “penulis artikel SEO”,”script writer”, “content writer”, “social media admin”, “journalist”, “legal consultant writer”, “reporter”, “wartawan”, “freelance writer”, “creative copywriter” dan sebagainya.

Karenanya, agak mustahil untuk menyamaratakan gaji untuk semua posisi ini. Ya alasannya karena beban dan scope pekerjaan mereka juga berbeda-beda.

Tapi jika harus disebut gaji yang biasanya diberikan untuk penulis level pemula, biasanya ya UMR lah. Dan itu bergantung besaran UMR yang ditetapkan pemerintah dari tahun ke tahun dan wilayah kerjanya. Kalau di DKI Jakarta kisaran UMR-nya adalah Rp 4.416.186,548. Ya memang bisa dikatakan lumayan tinggi tapi kan biaya hidup juga tak murah.

Saya akan ambil contoh beberapa pekerjaan penulis di perusahaan-perusahaan dan bisnis di jobstreet.com.

Ada creative copywriter yang gajinya 3-4,2 juta untuk sebuah bisnis rumahan. Ini angka yang relatif kecil tapi mengingat itu bisnis rumahan, bukan korporasi besar, ya harap maklum. Bisa kok kerjaan begini dipakai jadi batu loncatan ke pekerjaan berikutnya yang lebih menjanjikan.

Lalu ada juga lowongan content writer/ blogger yang diberikan sebuah perusahaan yang lumayan besar skalanya dan di situ lulusan baru diimng-imingi gaji lebih tinggi 5,3-6 juta per bulan. Ini angka yang lumayan menurut saya. Tapi waspada juga sih, kalau gaji agak tinggi bisa jadi beban kerjanya juga tinggi. Bisa jadi itu dua pekerjaan yang digabung jadi satu. Atau karena persyaratannya memang susah dipenuhi. Misalnya TOEFL yang di atas skor rata-rata. Haha.

Lalu ada juga lowongan legal content writer yang gajinya Rp4,3-6 jutaan. Menurut saya angka ini cukup bagus. Tapi ingat ini bidang kerja yang menuntut akurasi dan kecepatan karena menulis untuk platform blog dan media sosial.

Ada juga lowongan kerja UX writer dengan gaji maksimal Rp6 juta dan ini lumayan bagus menurut saya. Angkanya bisa meningkat seiring dengan pengalaman kerja juga.

Ada juga lowongan content writer dari grup media besar ibukota yang tak mencantumkan gaji. Ini biasanya besarannya menyesuaikan. Mereka mungkin tak keberatan dengan gaji yang lebih tinggi dari standar pasar asal kerjanya memang oke dan pengalaman banyak. Dan mereka memberi batasan usia yang lumayan panjang (maksimal 35 tahun) padahal biasanya karyawan dengan titel writer itu maksimal 20-an.

Beberapa tahun terakhir juga muncul permintaan UX writer karena makin banyak startup dan tech companies di Indonesia yang butuh penulis microcopies (teks-teks pendek sesimpel notifikasi di aplikasi mobile). UX writers ini yang bertanggung jawab membuat copies yang lebih enak dibaca dan intuitif. Salah satu best practice UX writing di Indonesia menurut saya sih aplikasi GoJek (GoTo) yang microcopies-nya khas lokal banget. Bahasa-bahasa yang muncul di percakapan netizen terbaru juga kadang muncul di microcopies mereka. Dan menurut saya kisaran gaji UX writers mungkin lebih tinggi dari writers di bidang lain. Karena ya namanya startup apalagi perusahaan unicorn atau decatron mana segan merogoh kocek untuk mendapatkan talent terbaik?

Harus diakui bahwa bidang profesi ini tidak ramah usia. Bagi mereka yang sudah beranjak tua dan membutuhkan pendapatan lebih banyak karena tuntutan hidup, cuma mengandalkan keterampilan menulis sangatlah musykil.

JANGAN BERPUAS DIRI

Bicara soal gaji memang tidak ada habisnya. Ini karena manusia sudah takdirnya suka membandingkan keadaannya dengan keadaan orang lain yang menurutnya masih sama atau selevel. Dan dari situ mereka memutuskan apakah diri mereka pemenang atau pecundang memiliki jenjang karier dan umur dan gaji yang tipikal.

Dari besaran gaji dan kenaikan gaji per tahun, memang susah membayangkan akan menjadi makmur dan kaya dengan gaji penulis yang masih di bawah 2 digit.

Di jenjang senior, akan ada titik saat gaji penulis sudah ‘mentok’ dan tak bisa dinaikkan lagi.

Dari sini biasanya perusahaan memakai strategi menggabungkan beban kerja yang dua kali lipat bagi si penulis jika ia memang mau digaji 2 kali lipat dari awal besaran gajinya. Misalnya gaji awal Rp6 juta, artinya kalau mau dapat gaji Rp12 juta ya harus sanggup menyelesaikan beban kerja 2 kali lipat juga. Jadi kenaikan gajinya karena diiringi dengan kenaikan beban kerja juga. Tapi karena menulis adalah sebuah pekerjaan yang biasanya makin efisien saat kita makin piawai dan berpengalaman, beban kerja yang dobel itu sebenarnya bisa ditangani meski dengan manajemen waktu ketat.

Nah, di sinilah penulis mesti pintar cari otak untuk dapat pekerjaan sampingan. Mencari uang hanya dengan menulis memang bisa tapi sekali lagi ada keadaan saat menulis saja tak cukup. Harus ada sumber penghasilan ekstra.

Karena itulah, saat masih dalam masa awal karier, mindset yang harus dipupuk adalah mencari pengalaman dan belajar hal-hal dan keterampilan baru yang bisa menjanjikan sebagai sumber pemasukan masa depan.

Belajar apa saja yang berkaitan dengan dunia tulis menulis tak akan ada ruginya kok. Misalnya belajar atau kursus soal media sosial, periklanan, branding dan SEO yang akan selalu dibutuhkan bagi pelaku bisnis digital saat ini.

Di ranah offline, penulis juga bisa mencoba belajar menulis buku dan bekerja sebagai editor. Yang ingin bisnis penerbitan juga bisa membuat usaha penrbitan sendiri.

KAPAN BERHENTI MEMBANDINGKAN?

Membandingkan gaji memang asyik dan tak ada habisnya tapi kita harus tahu kapan saatnya berhenti membandingkan dan fokus pada apa yang bisa kita kerjakan untuk memperbaiki kualitas diri. Karena saat kualitas dan pengalaman kita meningkat, lazimnya uang akan mengikuti.

Boleh sesekali membandingkan tapi kita lupa dengan kehidupan yang begitu banyak variabelnya. Kita mengabaikan hal-hal lain yang juga tak kalah penting dalam hidup. Contohnya gaji mungkin cuma Rp5 juta tapi kalau badan sehat dan tak menghabiskan banyak uang untuk periksa ke dokter dan perawatan di rumah sakit, bukankah itu sebuah kekayaan juga? Ya cuma memang tak bisa dinilai dan dilihat tapi bisa dirasakan dan jadi dasar kita menjalani hidup karena gaji besar tapi sakit-sakitan juga buat apa?

Dan jangan lupa untuk tidak selalu membandingkan dulu agar kita bisa menetapkan diri kita sukses atau gagal dalam hidup. Hidup kita tidak selalu bisa dibandingkan dengan orang lain kok. (*/)

Kekuatan Cerita dalam Perdagangan NFT

Wild Lion Society NFT Project (Foto: NFTCulture.com)

SEBAGAI generasi awal millennial, saya merasakan masa-masa kebangkitan internet 1.0 di akhir tahun 1990-an. Ya meski itu masih sebatas angan tapi kala itu saya sudah bersentuhan dengan komputer, belajar Microsoft Windows edisi lama, penggunaan Microsoft Words dan Excel. Disket juga sempat saya pakai untuk menyimpan data. Sebuah kenangan yang sangat menegaskan garis batas usia dan generasi.

Mulailah saat saya kuliah, internet makin merebak dalam kehidupan manusia Indonesia. Teknologi seluler memungkinkan hal ini terjadi. Teknologi EDGE memungkinkan saya mengunduh nada dering polifonik yang setingkat lebih tinggi dan bergengsi daripada nada dering monofonik. Bahkan mulai ada nada dering MP3 juga. Dan ini terus terang membuat saya keranjingan. Itulah pertama kalinya lagu-lagu kesayangan bisa didengar tanpa harus membawa pesawat radio yang berat ke mana-mana, memakai kaset dan walkman yang ditenagai baterai yang harus beli lagi kalau habis energinya. Pokoknya jauh dari kepraktisan mendengarkan musik sekarang. Belum lagi keterbatasan kapasitas penyimpanan di ponsel yang cuma 40-50 MB!! Gila kan, mana cukup buat 10 lagu MP3. Paling cuma 4-5 dengan bitrate sepantasnya. Tapi sekarang satu kartu memori bisa memuat ratusan lagu sampai kuping berdengung mendengar seharian. Alangkah drastisnya perubahan teknologi kita.

Akhir-akhir ini saya juga ‘dipaksa’ untuk mengenal sebuah produk teknologi baru lagi. Namanya NFT. Kepanjangannya Non-Fungible Tokens, yang akarnya dari Bitcoin, sebuah mata uang kripto yang merajai dunia sekarang.

Istilah ini sendiri pertama kali saya ketahui dari bio seorang techpreneur di Twitter. Kalau tidak salah ingat itu bio Elon Musk.

NFT sebenarnya bisa apa saja sesuai dengan keinginan manusia pembuatnya. Komunitas NFT sudah berkembang secara ‘bawah tanah’ sejak lama. Kenapa saya katakan ‘bawah tanah’ karena kalangan terbatas saja yang berada di dalamnya. Mereka ini para geek dan nerd yang paham bagaimana teknologi baru ini bekerja.

Gelombang Kripto terjadi mulanya saat Bitcoin muncul tahun 2009, disusul Litecoin tahun 2011 dan Dogecoin tahun 2013. Lalu muncul lebih banyak mata uang kripto lain.

Dari sini muncul keinginan dari para pengembangnya untuk membuat benda-benda digital yang bisa dikoleksi dan bisa diperjualbelikan dengan mata uang kripto ini. Begitulah setiap inovasi bermula. Dari pikiran iseng manusia-manusia yang kurang kerjaan dan merasa dunia ini sudah membosankan dan perlu sesuatu yang baru.

NFT pertama yang muncul mungkin ialah CryptoKitties, yang ada di Ethereum tahun 2017. Dari sana meledaklah proyek-proyek NFT.

APA ITU NFT?

NFT bisa diartikan sebagai catatan digital yang aman secara kriptografis karena bisa memverifikasi kepemilikan atau akses menuju sebuah karya seni digital. Bayangkan NFT ini sebagai sebuah plat mobil bisa memverifikasi kepemilikan kendaraan tersebut. Tanpa plat itu, meski mobilnya di garasi Anda pun, mobil itu bukan milik Anda.

Nah apa saja sih yang bisa dijual bersama NFT ini?

Kalau dari jawaban seorang teman yang menggeluti ini sih bisa apapun. Dari file gambar jpeg sederhana, video, lagu, suara lain, podcast, bahkan pindaian file yang menurut kita penting semacam ijazah sampai hal-hal yang tak penting dan konyol seperti gambar sederhana yang bisa dibuat anak balita. Haha.

CERITA YANG UTAMA

Dan ternyata harus ada storytelling yang harus dipakai di balik NFT ini juga agar bisa laku. Mirip karya seni di dunia nyata kok. Seringlah kita temui lukisan yang sepertinya saking abstraknya sampai kita tidak paham karena memang sekilas mirip karya yang dibuat asal-asalan. Tapi begitu dijelaskan cerita di balik itu, atau ideologi atau pemikiran di balik karya yang kelihatan simpel dan konyol itu, kita jadi paham mengapa karya ini dinilai begitu tinggi. Ya argumen kadang bisa masuk akal dan kadang ada yang terkesan mengada-ada. Tapi begitulah keragaman dan kemajemukannya.

Storytelling ini mesti dituangkan di titel, deskripsi NFT yang dijual ke pasar. Ada tag-tag yang mesti diberikan pada NFT agar punya makna dan kategori. Dengan demikian para kolektor bisa dengan mudah menemukan NFT yang unik.

Lihat saja pendiri Twitter Jack Dorsey yang menjual twit pertamanya sebagai NFT lalu berhasil dijual senilai Rp41 miliar. Tentu ini sekilas terkesan konyol dan tak masuk akal. Bagaimana twit ‘receh’ begini ditukar dengan uang sebesar itu? Tapi kisah di belakang hal receh itu harus dipertimbangkan. Inilah yang saya maksud dengan kekuatan storytelling.

Yang unik dari NFT ini adalah ada hak royalti sebagai produsen dan hak kepemilikan. Hak sebagai produsen akan terus melekat pada karya NFT meski ia sudah dijual sekalipun. Dan mereka yang membeli dari produsen dan dari pembeli sebelumnya cuma bisa memiliki hak kepemilikan. Hak sebagai produsen tak hilang meski NFT itu diperjualbelikan ke dan dari banyak tangan. Jadi, para produsen NFT bisa terus menangguk untung. Inilah kenapa anak-anak muda begitu tergiur masuk dunia NFT ini. Ya sebab bisa membuat karya apapun sebisa mereka dan seunik mereka lalu menjualnya dan untungnya dari royalti (yang besarannya sekitar 15%) bisa berakumulasi kalau dijual ke banyak orang. (*/)

Photo by David McBee on Pexels.com

PENGGUNAAN STORYTELLING

Kita bisa ambil contoh Wild Lion Society NFT Project ini. Mereka wajib menyusun sebuah tulisan yang mirip proposal dan berisi detail-detail penting proyek mereka agar kolektor mau membeli karya NFT yang mereka hasilkan.

Di sini mereka memberikan rincian tanggal peluncuran NFT milik mereka melalui kanal Discord (sebuah platform komunikasi digital baru), bagaimana ide NFT ini muncul, keunikannya, tim di baliknya, harga dan alasan mengapa harga tersebut layak dan pantas, dan gimmick-gimmick lain yang membuat orang lain merasa tertarik dan terlibat aktif sebagai anggota komunitas. (*/)

Pandemic Diary: Selamat Datang Omicron…

Photo by Andrew Neel on Pexels.com

GELOMBANG ketiga diprediksi akan terjadi Desember ini karena ya pas banget lah dengan musim liburan akhir tahun. Dari sejarah juga memang pandemi itu bisa pasang surut sampai benar-benar lenyap. Jadi, gelombang ketiga ini memungkinkan terjadi ya apalagi masih ada yang ogah divaksin. Haha. Zaman udah secanggih ini tapi sisi dungu umat manusia tetaplah melekat.

Di sisi lain, karena pemerintah sudah trauma disalahkan, mereka lalu ancang-ancang memberlakukan penghapusan cuti bersama Nataru alias Natal dan Tahun Baru (singkatan apalagi sih ini? Dasar orang Indonesia males ngetik panjang).

Saya baca di banyak media, ada satu varian baru Coronavirus yang muncul dan terdeteksi (hanya Tuhan yang tahu berapa banyak sebenarnya sekarang varian mutasi Coronavirus). Konon ia 5 kali lebih menular katanya daripada virus asalnya di Wuhan. Varian Delta yang kemarin itu kalah. Top deh! Gemoy nggak sih!

Namanya Omicron.

Ditemukan pertama kali di Botswana dan Afsel, varian anyar ini cukup menggemparkan karena itu bisa berarti bakal naik lagi kurva yang sudah melandai.

Dan bagaimana karakter sebenarnya si varian Omicron? Sayangnya belum ada yang paham 100% karena ya butuh waktu aja untuk bisa meneliti perilaku Omicron ini.

Yang patut diwaspadai ialah jika varian Omicron ini bisa tahan kekebalan yang sudah dibentuk oleh vaksin-vaksin yang sudah disuntikkan ke jutaan orang. Itu artinya ada kemungkinan gelombang ketiga akan terjadi dan vaksin sia-sia. Tapi itu baru skenario terburuk saja. Tentu kita berharap vaksin yang ada masih bisa membendung si Omicron. Tapi tidak ada yang bisa menjamin juga sepenuhnya.

Namun, Omicron tetaplah Coronavirus jadi vaksin yang sudah kita terima dalam tubuh pasti memberikan efek perlindungan. Hanya saja, persentase efektivitas vaksin yang kita terima seberapa? Itu yang belum tahu. Plus, vaksin juga bisa menurun efek proteksinya seiring berjalannya waktu. Makanya kita butuh vaksin booster.

Terus banyak orang bertanya: “Gimana dong caranya membendung penyebaran Omicron ini?”

Ya mau varian apapun itu, tetap terapkan 3M dengan ketat sih. Tidak ada alasan untuk kendor. Karena kalau kendor yang bayar ‘ongkos’ kita juga sendiri.

Di Afsel sendiri kenaikan kasus terjadi karena selain muncul varian baru ini juga karena tingkat vaksinasi masih 29% dari populasi total dan ada acara yang bersifat kerumunan yang memicunya. Jadi kalau kita mau berkata konser offline bakal bisa digelar sebentar lagi, tunggu dulu lah. Daripada menyesal.

Meski katanya WHO Omicron ini cuma menimbulkan gejala yang lebih ringan tapi mereka lebih cenderung ditemui di anak-anak muda yang kekebalan tubuhnya masih relatif prima dibanding kelompok lansia.

Tapi yah mau varian apapun itu kalau di Indonesia sih life must go on. (*/)

%d bloggers like this: