Berapa Gaji Penulis di Jakarta?

PENULIS memang bukan bidang karier yang membuat kita bisa kaya raya seperti teknologi informasi atau programming, coding, dan sejenisnya. Sosok Elon Musk, Mark Zuckerberg, Jack Dorsey atau Bill Gates yang notabene orang-orang kaya di AS bukanlah orang yang bekerja sebagai penulis.

Saya harus akui fakta itu.

Kalaupun ada penulis sekaya raya J.K. Rowling ya itu kasus istimewa sekali. Bukan hal yang lumrah.

Kalau saya ditanya mengenai besaran gaji penulis di Jakarta, mungkin saya harus bertanya secara lebih spesifik lagi: “Penulis yang bagaimana dulu nih?”

Karena di pasar tenaga kerja tanah air, pekerjaan penulis itu tidak dilabeli “penulis”. Tahu kan maksud saya?

Di situs josbtreet.com, misalnya, kita susah menemukan sebuah posisi atau lowongan kerja yang berlabel “penulis”.

Photo by Min An on Pexels.com

KISARAN GAJI PENULIS

Di pasar tenaga kerja sekarang, pekerjaan penulis itu bisa berupa label-label seperti “copywriter”, “UX/ UI writer”, “editor”, “SEO writer”, “penulis artikel SEO”,”script writer”, “content writer”, “social media admin”, “journalist”, “legal consultant writer”, “reporter”, “wartawan”, “freelance writer”, “creative copywriter” dan sebagainya.

Karenanya, agak mustahil untuk menyamaratakan gaji untuk semua posisi ini. Ya alasannya karena beban dan scope pekerjaan mereka juga berbeda-beda.

Tapi jika harus disebut gaji yang biasanya diberikan untuk penulis level pemula, biasanya ya UMR lah. Dan itu bergantung besaran UMR yang ditetapkan pemerintah dari tahun ke tahun dan wilayah kerjanya. Kalau di DKI Jakarta kisaran UMR-nya adalah Rp 4.416.186,548. Ya memang bisa dikatakan lumayan tinggi tapi kan biaya hidup juga tak murah.

Saya akan ambil contoh beberapa pekerjaan penulis di perusahaan-perusahaan dan bisnis di jobstreet.com.

Ada creative copywriter yang gajinya 3-4,2 juta untuk sebuah bisnis rumahan. Ini angka yang relatif kecil tapi mengingat itu bisnis rumahan, bukan korporasi besar, ya harap maklum. Bisa kok kerjaan begini dipakai jadi batu loncatan ke pekerjaan berikutnya yang lebih menjanjikan.

Lalu ada juga lowongan content writer/ blogger yang diberikan sebuah perusahaan yang lumayan besar skalanya dan di situ lulusan baru diimng-imingi gaji lebih tinggi 5,3-6 juta per bulan. Ini angka yang lumayan menurut saya. Tapi waspada juga sih, kalau gaji agak tinggi bisa jadi beban kerjanya juga tinggi. Bisa jadi itu dua pekerjaan yang digabung jadi satu. Atau karena persyaratannya memang susah dipenuhi. Misalnya TOEFL yang di atas skor rata-rata. Haha.

Lalu ada juga lowongan legal content writer yang gajinya Rp4,3-6 jutaan. Menurut saya angka ini cukup bagus. Tapi ingat ini bidang kerja yang menuntut akurasi dan kecepatan karena menulis untuk platform blog dan media sosial.

Ada juga lowongan kerja UX writer dengan gaji maksimal Rp6 juta dan ini lumayan bagus menurut saya. Angkanya bisa meningkat seiring dengan pengalaman kerja juga.

Ada juga lowongan content writer dari grup media besar ibukota yang tak mencantumkan gaji. Ini biasanya besarannya menyesuaikan. Mereka mungkin tak keberatan dengan gaji yang lebih tinggi dari standar pasar asal kerjanya memang oke dan pengalaman banyak. Dan mereka memberi batasan usia yang lumayan panjang (maksimal 35 tahun) padahal biasanya karyawan dengan titel writer itu maksimal 20-an.

Beberapa tahun terakhir juga muncul permintaan UX writer karena makin banyak startup dan tech companies di Indonesia yang butuh penulis microcopies (teks-teks pendek sesimpel notifikasi di aplikasi mobile). UX writers ini yang bertanggung jawab membuat copies yang lebih enak dibaca dan intuitif. Salah satu best practice UX writing di Indonesia menurut saya sih aplikasi GoJek (GoTo) yang microcopies-nya khas lokal banget. Bahasa-bahasa yang muncul di percakapan netizen terbaru juga kadang muncul di microcopies mereka. Dan menurut saya kisaran gaji UX writers mungkin lebih tinggi dari writers di bidang lain. Karena ya namanya startup apalagi perusahaan unicorn atau decatron mana segan merogoh kocek untuk mendapatkan talent terbaik?

Harus diakui bahwa bidang profesi ini tidak ramah usia. Bagi mereka yang sudah beranjak tua dan membutuhkan pendapatan lebih banyak karena tuntutan hidup, cuma mengandalkan keterampilan menulis sangatlah musykil.

JANGAN BERPUAS DIRI

Bicara soal gaji memang tidak ada habisnya. Ini karena manusia sudah takdirnya suka membandingkan keadaannya dengan keadaan orang lain yang menurutnya masih sama atau selevel. Dan dari situ mereka memutuskan apakah diri mereka pemenang atau pecundang memiliki jenjang karier dan umur dan gaji yang tipikal.

Dari besaran gaji dan kenaikan gaji per tahun, memang susah membayangkan akan menjadi makmur dan kaya dengan gaji penulis yang masih di bawah 2 digit.

Di jenjang senior, akan ada titik saat gaji penulis sudah ‘mentok’ dan tak bisa dinaikkan lagi.

Dari sini biasanya perusahaan memakai strategi menggabungkan beban kerja yang dua kali lipat bagi si penulis jika ia memang mau digaji 2 kali lipat dari awal besaran gajinya. Misalnya gaji awal Rp6 juta, artinya kalau mau dapat gaji Rp12 juta ya harus sanggup menyelesaikan beban kerja 2 kali lipat juga. Jadi kenaikan gajinya karena diiringi dengan kenaikan beban kerja juga. Tapi karena menulis adalah sebuah pekerjaan yang biasanya makin efisien saat kita makin piawai dan berpengalaman, beban kerja yang dobel itu sebenarnya bisa ditangani meski dengan manajemen waktu ketat.

Nah, di sinilah penulis mesti pintar cari otak untuk dapat pekerjaan sampingan. Mencari uang hanya dengan menulis memang bisa tapi sekali lagi ada keadaan saat menulis saja tak cukup. Harus ada sumber penghasilan ekstra.

Karena itulah, saat masih dalam masa awal karier, mindset yang harus dipupuk adalah mencari pengalaman dan belajar hal-hal dan keterampilan baru yang bisa menjanjikan sebagai sumber pemasukan masa depan.

Belajar apa saja yang berkaitan dengan dunia tulis menulis tak akan ada ruginya kok. Misalnya belajar atau kursus soal media sosial, periklanan, branding dan SEO yang akan selalu dibutuhkan bagi pelaku bisnis digital saat ini.

Di ranah offline, penulis juga bisa mencoba belajar menulis buku dan bekerja sebagai editor. Yang ingin bisnis penerbitan juga bisa membuat usaha penrbitan sendiri.

KAPAN BERHENTI MEMBANDINGKAN?

Membandingkan gaji memang asyik dan tak ada habisnya tapi kita harus tahu kapan saatnya berhenti membandingkan dan fokus pada apa yang bisa kita kerjakan untuk memperbaiki kualitas diri. Karena saat kualitas dan pengalaman kita meningkat, lazimnya uang akan mengikuti.

Boleh sesekali membandingkan tapi kita lupa dengan kehidupan yang begitu banyak variabelnya. Kita mengabaikan hal-hal lain yang juga tak kalah penting dalam hidup. Contohnya gaji mungkin cuma Rp5 juta tapi kalau badan sehat dan tak menghabiskan banyak uang untuk periksa ke dokter dan perawatan di rumah sakit, bukankah itu sebuah kekayaan juga? Ya cuma memang tak bisa dinilai dan dilihat tapi bisa dirasakan dan jadi dasar kita menjalani hidup karena gaji besar tapi sakit-sakitan juga buat apa?

Dan jangan lupa untuk tidak selalu membandingkan dulu agar kita bisa menetapkan diri kita sukses atau gagal dalam hidup. Hidup kita tidak selalu bisa dibandingkan dengan orang lain kok. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.