“Don’t Look Up”, Satir Getir tentang Dunia yang Terpelintir

SELESAI menonton film yang dibintangi Leonardo Dicaprio dan Jennifer Lawrence ini, saya nggak habis pikir. Ini jenis film apa? Saya bingung apakah bisa menyebutnya fiksi ilmiah, futuristik, apocalyptic, tragedi, realis atau komedi? Karena film ini memuat semua elemen tadi secara merata kalau bisa saya katakan sebagai penikmat film amatir.

Uniknya film ini menyinggung semua orang di muka bumi, dari mereka yang menjabat sebagai petinggi negara adidaya sampai netizen jelata yang kekuasaannya cuma kekuatan jempol, hape dan kuota data/ wifi semata.

Film ini dengan sukses merangkum semua dagelan di panggung peradaban kita, tidak cuma di Amerika Serikat yang jadi latar belakang film ini tapi juga negara yang saya tinggali, Indonesia.

Di sini saya disuguhi olok-olok terhadap pers/ media dan integritas para awaknya. Media digambarkan begitu bobrok sampai memberikan bobot yang lebih banyak pada isu-isu romantika dan rumah tangga selebritas dan meremehkan masalah-masalah yang justru lebih penting bagi kemaslahatan kemanusiaan. Sebagai seseorang yang bekerja di dunia media, ini sebuah tamparan keras. Apakah separah itu ya media saat ini?

Lalu ada juga sindiran mengenai pemerintahan dan pejabat korup. Tapi anehnya manusia jelata di semua negara di dunia tak bisa lepas dari jeratan korupnya pejabat dan betapa tidak kompetennya orang-orang di pucuk pemerintahan itu seolah tidak ada pilihan lagi. Mereka memang bisa membuat rusuh, memberontak tapi cepat dilumpuhkan dan dibungkam lagi.

Yang paling getir adalah bagaimana kita tak bisa mengendalikan takdir kita tapi juga sekaligus bisa mengendalikannya pada taraf tertentu. Di sini kita seolah diberitahu bahwa teknologi tak bisa menjawab semua problem hidup kita. Ada banyak masalah pelik kehidupan yang cuma bisa dihadapi dengan kembali ke ‘akar’ kemanusiaan: kepercayaan pada adanya sesuatu di atas kita yang cuma manusia ini dan juga nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti kasih sayang, kekeluargaan, dan saling menghargai sesama makhluk hidup.

Film ini bagus dan layak ditonton jika Anda ingin merenungkan alasan kita ada di muka bumi ini. Kenapa kita lahir dan melakukan apa yang kita lakukan saat ini? Apakah mati harus dihindari sekuat tenaga atau direngkuh dengan sukarela? Apa nilai-nilai yang kita harus junjung tinggi dalam hidup dan mesti kita rengkuh lagi jika kita sempat khilaf agar hidup kita berakhir dengan bahagia dan yang terpenting, bermakna? Tapi apakah hidup kita ini memang punya makna atau baru ada makna jika kita memberinya? Entahlah, saya sebagai satu butir debu kosmis yang melekat di bumi ini sendiri tak punya jawabannya hingga detik ini. Dan mungkin memang tak wajib punya. Asal bisa hidup bahagia… (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in save our nation. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.