Daripada Nonton “Tinder Swindler” Mending Nonton Ini…

Buka mata, buka pikiran. Sebuah film tentang dunia paralel yang matriarkis. (Foto: Whatsnewonnetflix)

FILM PERANCIS ini kalau bisa saya katakan sih menggunakan teori dekonstruksi dari Jacques Derrida. Di sini tatanan patriarkis dijungkirbalikkan menjadi matriarkis. Penonton dibawa ke dunia paralel yang di dalamnya kaum wanita adalah yang dominan. Mereka mengangkangi para pria, spesies kelas dua.

Judulnya “I Am Not an Easy Man” (2018). Sutradaranya Eléonore Pourriat yang juga menjadi penulis naskahnya bersama Ariane Fert.

Saat menonton ini, saya kebetulan membaca berita singkat soal perkembangan kasus si Gofar Hilman yang dari tahun lalu dituduh melecehkan seorang wanita.

Publik pun lagi-lagi terbelah. Satu kutub berkomentar: “Tuh kan bener, si korban dibungkam dan diancam tuh pasti di baliknya..” Di kutub sebaliknya ada yang bersikeras: “Nah kan apa gue bilang. Dia tuh difitnah. Ceweknya halu aja…”

Sejurus saya kembali menonton film ini dan merasa bahwa tarik ulur yang sedang terjadi antara 2 karakter utamanya yakni seorang pria bernama Damien (diperankan Vincent Elbaz) dan Alexandra (direpresentasikan dengan baik oleh Marie-Sophie Ferdane).

Dunia paralel dimulai tatkala Damien yang sok kegantengan dan sok memesona ini menebar daya tarik ke perempuan di sebuah ruas jalan saat ia berjalan bersama sahabatnya Cristophe. Mereka habis dari sebuah acara peluncuran buku yang dibantu penyelenggaraannya oleh asisten pribadi Cristophe, Alexandra, yang digoda terus oleh Damien.

Sejak terbentur tiang itu, dunia Damien tak sama lagi. Ia ditendang dari kantornya oleh rekan kerjanya yang wanita yang ternyata membenci ide-ide bisnisnya yang selama ini disukai atasan mereka. Si atasan lebih suka ide rekan wanitanya sekarang. Ini mengejutkan karena selama ini Damien selalu menjadi primadona di kantor perusahaan startup yang maskulin. Tiba-tiba diperlakukan seperti sampah, Damien pun kesal dan undur diri.

Di rumah, ia cuma tinggal dengan kucing kesayangannya. Sebagai laki-laki di dunia patriarkis, status lajangnya tak begitu dipermasalahkan. Begitu ia masuk dunia paralel yang matriarkis, tiba-tiba status itu diangkat terus oleh ayahnya. Ia disudutkan terus seolah ia harus segera menikah dan berkeluarga.

Di dunia paralel ini, Damien mengobral dirinya habis-habisan demi menarik cewek idamannya Alexandra yang bekerja sebagai penulis terkenal. Ia menulis novel populer yang sangat kuat nuansa feminisnya. Alexandra berkepribadian dominan di sini. Ia berolahraga keras, berhubungan dengan banyak pria dan memperlakukan mereka seperti koleksi. Untuk tiap satu pria yang ia tiduri, ia mengabadikannya dengan sebuah kelereng yang dikumpulkan di sebuah sudut rumahnya. Dengan kata lain, ia menganggap pria-pria ini adalah taklukannya. Miriplah dengan apa yang dilakukan dan digembar-gemborkan juga oleh Gofar di sebuah siniar, bahwa ia dengan bangga pernah meniduri banyak cewek. Di sini kita disuguhi pembalikan konteksnya: bagaimana sih rasanya jika cowok yang dikoleksi sebagai objek seks dan penaklukan petualangan seks seorang cewek yang dominan dan lebih segala-galanya dari mereka?

Film ini sepertinya ingin mengajak kita untuk memikirkan ulang konstruksi sosial mengenai gender. Apakah cowok harus selalu yang di depan memimpin? Harus dominan, boleh ‘nakal’, harus menjadi yang menonjol? Apakah cewek harus patuh, pasif, baik, tidak boleh bandel, mengurusi rumah tangga dengan baik?

Kita seperti dibukakan sebuah pintu menuju skenario lain bahwa mau cowok mau cewek ya bisa saja mengisi peran apapun asal ada sistem dan penguasa yang mendukung. Pria beruntung karena selama ini didukung oleh yang berkuasa dari zaman entah kapan. Dogma agama, norma sosial, bahkan aturan hukum sangat kuat mendukung dominasi pria di segala lini. Dan ini mulai perlahan digerus oleh gelombang feminis.

Kita harus membuka mata bahwa cowok memang bisa melecehkan tapi juga bisa menjadi korban pelecehan. Cewek juga meski biasanya jadi korban, mereka juga bisa lho jadi pelaku kekerasan seksual.

Di dunia yang serba mungkin ini, semua bisa terjadi. Jangan picik menjawab: “Ah itu musykil!” (*/)

Damien di dunia matriarkis mencoba memenuhi standar pria ideal: tanpa bulu, memiliki bokong yang kencang, kaki jenjang, dan mati-matian mengobral diri agar segera memiliki seorang pasangan ideal (cerdas, cantik dan kaya) dan punya anak segera karena sudah didesak orang tua. (Foto: mubi.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.