Bahas Santai “The Origins of the Slavic Nations” untuk Memahami Akar Konflik Rusia-Ukraina 2022

PERANG Ukraina-Rusia yang sedang berkecamuk sekarang ini membuat orang bertanya-tanya, kenapa ya kok bisa terjadi? Bukannya mereka itu orangnya mirip-mirip. Lihat aja wajah dan perawakannya. Bahasanya juga sebelas dua belas. Buat orang luar, 2 negara ini tuh kayak nggak ada bedanya lho.

Di sini kita bisa belajar sih kalau persamaan itu nggak selalu dan pasti bakal berujung kerukunan dan keharmonisan. Sama rasnya kok ya masih bertengkar, kayak Korsel-Korut, Taiwan-Republik Rakyat China. Sama akar agamanya, tapi ya masih gontok-gontokan kayak Syiah-Sunni, kayak Saudi Arabia-Iran.

Di sini kita bakal coba bahas dikittt aja isi bukunya om Serhii Plokhy, dosen dan pakar sejarah Rusia-Ukraina, yang judulnya bisa dibaca di gambar di atas. Gamblang banget: “Asal Usul Bangsa Slavia Timur“. Ini cuma salah satu bukunya yang membahas soal isu yang sama.

Buku ini menurut Plokhy ingin mengurai akar konflik Rusia-Ukraina yang sejarahnya panjang juga meski nggak sepanjang konflik Israel-Palestina. Dia ingin mengemukakan pemikirannya yang diklaimnya lebih bebas dari agenda politik masing-masing negara dan bangsa yang terlibat di dalamnya, yakni Rusia milik Putin, Belarusia dan Ukraina. Dia ibaratnya ingin menjelaskan duduk perkara masalahnya supaya nggak ada kesalahpahaman lagi dan konflik berdarah lagi.

Seorang teman protes saat gw berkata “Sejarah itu kayak campuran fakta dan fiksi yang komposisinya nggak jelas.” Dia bilang ada metode penulisan sejarah jadi nggak serandom fiksi juga lho. Iya iya, tapi tetap saja ada sejumlah subjektivitas sejarawan atau pihak berkuasa dalam penulisan sejarah itu. Kepentingan politik penguasa pasti masuk ke dalam narasi sejarah tadi. Nggak mungkin nggak. Bisa jadi sejarawannya emang nggak bohong tapi dengan secermat mungkin memilih dan menyaring fakta yang bisa mendukung pemikiran dan pendapatnya. Tapi di saat yang sama menyingkirkan fakta lain yang dianggap nggak mendukung opini besarnya. Ini yang pembaca nggak tahu-menahu. Jadi sebagai pembaca sejarah, kita mesti tetap kritis deh. Jangan baca cuma satu dua sumber tapi sebanyak mungkin. Jadi paham banyak perspektif.

BAGAIMANA SEMUA BERAWAL?

Salahkan Mongol yang dulu menyerang negara bernama RUS’ KIEV yang berlokasi di kota Kiev saat ini. Karena serangan ini, bangsa yang semula satu jadi kocar-kacir dan berkembang sendiri di kemudian hari: Rusia, Belarusia dan Ukraina.

Kita ibaratkan ketiganya sebagai 3 saudara kandung yang berbeda kepribadian dan perilaku. Rusia menjadi figur kakak pertama yang dominan dan merasa menjadi pewaris bangsa Rus’ Kiev. Belarusia seperti anak kedua yang membeo si anak pertama. Dan Ukraina tumbuh sebagai anak bungsu yang punya kepribadian yang berbeda sendiri dalam keluarga.

Mereka pernah bersatu pas era Uni Soviet tapi kemudian bercerai berai lagi begitu Soviet runtuh.

Rusia tumbuh sebagai negara diktatorial. Belarusia yang banyak terpengaruh oleh kakaknya juga awalnya kebingungan mau bagaimana tapi kembali ke ‘fitrah’ sebagai bangsa dan negara yang otoriter. Sementara itu, Ukraina si anak bungsu malah berulah karena menunjukkan gejala-gejala mau ganti ‘agama’ sosialis komunis ke kapitalis ala Barat.

Masalah muncul saat Rusia berpikir gimana pun juga mereka masih satu keluarga besar Kievan Rus’. Nggak bisa keluar dari ‘agama’ keluarga seenaknya aja. Pokoknya nggak gitu konsep bersodara ala Rusia. 

Ukraina membantah pemikiran kakaknya: “Kita tuh nggak mirip-mirip amat kok, cuma kebetulan aja nama ortu sama di KK tapi sekarang jalan hidup kita udah beda, kak. Nggak usah maksa-maksa gw. Hidup gw, pilihan gw. Setop mendikte pilihan hidup gw. Gw udah ada circle baru ama anak-anak komplek kapitalis Barat sana.”

Kakak kedua Belarusia jadi agak gamang gitu denger argumen adiknya. “Bener juga ya, gw sebenernya juga nggak mau didikte dan dianggap sama ama kakak pertama terus. Gw punya identitas sendiri kok.” Tapi Belarusia ngga seberani itu buat ngebantah kakak pertama yang suka main tangan kalo dibantah dikit.

Kakak pertama nggak sepakat karena curiga dengan membiarkan adik ketiganya ‘membelot’, itu akan jadi titik awal musnahnya keluarga dan warisan budayanya. Pertama satu lalu pelan-pelan dipaksa ‘convert’ deh satu keluarga sama circle komplek Barat itu.

Jadi intinya kakak-kakaknya Ukraina ngerasa ada ancaman terhadap eksistensi mereka makanya jadi defensif banget. 

Penulis buku ini berpendapat bahwa setelah terpecah akibat serangan Mongol, 3 bangsa turunan Kievan Rus’ ini berkembang dengan punya jatidiri masing-masing. Nggak bisa diseragamkan meski bahasa dan budaya serta ciri fisik orang-orangnya itu mirip. 

Liat aja Indonesia & Malaysia deh. Semuanya ya mirip-mirip tapi ya ga bisa disamakan karena ada perbedaannya. Nah kan bingung semua? Sama tapi beda. Beda tapi ya sama. Wakwaw…

Kalau mau dipaksa jadi 1 negara, kok susah. Tapi dibiarin merdeka sendiri-sendiri, tetep aja gesekan mulu. 

Bedanya Indonesia-Malaysia konfliknya nggak frontal. Halus-halus aja tapi terus. Mungkin karena ‘misqueen’ dan ga ada komitmen kuat pemerintahnya dan ga ada anggaran sebesar Rusia buat rakit senjata canggih dan nuklir. 

Serhii Ploky yang nulis buku ini berasumsi bahwa tidak akan ada kesukuan atau konsep bangsa tanpa adanya jatidiri yang unik dan khas. Karena menurutnya sebuah bangsa itu ada karena ada jatidirinya. Nggak bisa cuma ngaku-ngaku sepihak berbeda lalu merdeka atau dipaksa bersatu ke negara lain. Jadi perspektif dia lebih objektif.

Emang udah bener Elon Musk bikin koloni baru di luar planet ini. Nggak ada konflik ginian di Mars. Setidaknya sampai ada manusia beranak pinak dan jadi buanyak di sana mungkin yah…

Suasana kota Kiev, ibu kota Ukraina. (Foto: KKTV)

KONSEP BANGSA

Serhii Plokhy yakin bahwa konsep bangsa itu udah ada jauh sebelum umat manusia memasuki era modern. Ini bisa dilacak dari sejarah etnisnya. Memang bangsa-bangsa di masa-masa pramodern (belum kenal aksara) itu nggak sesistematis dan terorganisir kayak sekarang yang udah ada undang-undangnya, lembaga ini itunya, kantor ini itunya tapi setidaknya udah ada konsep jatidiri itu. Dengan kata lain, hanya karena belum ada bukti tertulisnya bukan berarti bangsa itu nggak ada dan nggak bisa diakui.

Lagi-lagi ini masuk ke ranah politik identitas. Udah kenyang lah ya kita sama ‘mata kuliah’ satu ini pas Pilpres dan Pilkada Jakarta yang legendaris kemarin itu, yang sampe sekarang dampak ‘damage’-nya ke rakyat Indonesia itu masih ada dalam hal penyebutan “kadrun” vs “cebong”. 

Identitas/ jatidiri dimaknai sebagai fenomena yang mewujud secara alamiah dalam kesadaran dan tindakan dalam diri tiap individu dan bersama (kolektif). Jadi simpelnya kalo ngaku bangsa Indonesia tapi nggak mengakui Pancasila, nggak bisa dan nggak mau ngomong bahasa Indonesia dan menolak hukum dan pemerintahan yang sah ya nggak dianggap rakyat NKRI.

Dan susahnya ini sebuah spektrum gitu. Bukan YES or NO, hitam atau putih. Tapi berskala, dari 0 sampe 100. Dari yang sama sekali menolak identitas sampe bener-bener bisa menghayati jatidiri itu. Dan kebanyakan rakyat ada di skala tengah-tengahnya: mendukung bangsa saat sesuai dengan cara pikir dan agendanya sendiri-sendiri dan menentang saat bangsanya bergerak ke arah yang nggak sesuai ekspektasi.

Tapi kenyang bukan berarti terampil menguasai diri di masa mendatang agar tidak jatuh ke ‘lubang tai’ yang sama berkali-kali. Manusia kadang lebih parah dari kebo. Udah jatuh berkali-kali ya tetep ngotot ngaku dirinya makhluk paling sempurnaaa… Takaburrr parah emang. wqwqw (lalu ngaca).

LIHAI GUNAKAN SEJARAH DAN AGAMA

Putin di usia 60-an masih fit dan berani mengumbar bodi pas liburan musim panas di Siberia. Foto yang disebar via Kremlin ini seolah ingin menegaskan maskulinisme Rusia, mengirimkan pesan ke dunia bahwa Rusia itu perkasa dan siap menantang Amerika. (Sumber foto: Business Insiders)

Putin menurut gw mirip kayak Patih Gajah Mada yang bersumpah menyatukan nusantara. Pakdhe Putin pandai memanfaatkan narasi sejarah untuk melancarkan agenda politiknya agar Rusia tetap stabil dan besar. Nggak salah sebenernya. Itu manusiawi dan alami. Siapa sih yang mau negara dan bangsanya makin kecil, surut dan lama-lama lenyap? Maunya ya pasti makin besar, jaya, makmur, bla bla bla. 

Dalam kasus Rusia-Ukraina, konsep “nusantara” itu bisa disamakan dengan konsep “Русский Мир” (Russkiy Mir) atau “Dunia Rusia” yang mensyaratkan adanya penyatuan antara Rusia yang sudah adidaya dan “Rusia Kecil”, si ‘adik kecil pemberontak’ Ukraina. Ini disampaikan Putin melalui pidatonya 21 Februari 2022 sebelum memulai invasi ke Ukraina.

“Ukraina milik Dunia Rusia,” kata Putin. Bahkan nggak cuma Ukraina dan Belarusia, Dunia Rusia versi Putin juga mencakup wilayah yang warganya adalah mayoritas etnis Rusia, berbicara bahasa Rusia dan punya pertalian sejarah dengan budaya Rusia. Jadi wilayah Dunia Rusia bisa mencakup Kazakhstan utara, Belarusia, wilayah Donetsk dan Luhansk di Ukraina Timur dan Moldova, Ossetia Selatan dan Abkhazia di Georgia. Bahkan Serbia dan Israel pun masuk ke definisi Dunia Rusia Putin.

Serakah? Ya namanya juga penguasa. Sah-sah aja asal ada anggaran berlimpah dan kemampuan militer buat mewujudkannya.

Kini kita paham kenapa Papua terus bergejolak juga ya. Ya bisa banget dimaklumi karena mereka merasa akar budaya, bahasa dan jatidiri dengan masyarakat Indonesia (yang sangat Jawasentris) itu hampir nggak ada. Persamaan fisik apalagi. Satu-satunya penyatu ya cuma pernyataan setia ke NKRI dan pemerintahan beserta segala aturannya. Itulah kenapa Papua sangat amat ‘rapuh’.

Kembali ke Rusia, untuk menyebarkan propaganda Dunia Rusianya, Putin membentuk Yayasan Russkiy Mir di tahun 2007 dan ‘mencatut’ pernyataan pemimpin Gereja Ortodoks Rusia bahwa inti Dunia Rusia itu Rusia saat ini, Ukraina dan Belarusia. Ia meyakinkan masyarakat dunia bahwa keyakinan itu juga diamini oleh Gereja Ortodoks Rusia lho. Jadi fix, meyakinkan 100%. No debate pokoknya! ‘Bukti’ sejarah udah dapet. Dukungan agamawan juga udah. 

Tapi Ukraina nggak mau tunduk. Saat Rusia mencaplok Krimea tahun 2014, alasan yang digunakan adalah karena membela etnis Rusia di wilayah timur Ukraina yang konon dilarang menggunakan bahasa Rusia dan didiskriminasi pemerintah Ukraina.

Alasannya agak dibuat-buat emang tapi sekali lagi bukankah begitu ya politisi kalo ngomong? Nyerang karena ada alasan ‘baiknya’. Wqwq. Emang pinter cari angle yang pas. Bisa aja pokoknya.  

Buku “The Origins of the Slavic Nations” tulisan Serhii Plokhy ini membahas beragam lapisan dan aspek jatidiri Slavia Timur dari bahasan etnis dan bangsa, agama, politik, dan sosial. Dan buku ini bisa jadi gerbang buat memahami perang yang sedang berkecamuk sekarang ini.

PERJALANAN CARI JATIDIRI

Buat gw, naif banget buat kita untuk bersikap 100% pasifis dan bilang “no war” ke mereka yang bertikai dan berharap kelar secara instan. Terlepas dari korban jiwa atau luka, emang ini udah mirip ‘bom waktu’ kok. Bisa meledak kapan aja. Emang udah jalannya perang ya mau diapain lagi. 

Ini proses yang harus dijalani bangsa Rusia dan Ukraina dalam mengurai akar jatidiri dan mungkin menemukan jatidiri baru mereka. Nggak mudah emang.

Kita yang di Indonesia kayak tetangga yang rumahnya agak jauh tapi masih kena getahnya pas ada saudara kandung lagi bertengkar tengah malem lempar piring dan bacok-bacokan ga abis-abis padahal pengen tidur. Kesel, mau mendamaikan tapi kok ya urusan rumah tangga orang. Tapi kalo nggak dilerai, juga salah kita sebagai tetangga kok nggak peduli. 

(Foto: BioMed Central)

WAKTU YANG NGGAK TEPAT

Tapi timing-nya emang kerasa nggak banget buat dunia yang lagi berusaha pulih dari Covid. Tapi kalau mau menilik ke sejarah lagi, perang dan pandemi itu sama-sama eratnya lho.

Liat aja pandemi Flu Spanyol dan Perang Dunia 1 usai. Perang Dunia 1 pecah tahun 1914 dan usai 1918. Disusul munculnya pandemi di tahun 1918 dan 1919. Sepuluh tahun kemudian ekonomi dunia rontok tok tokkk dengan adanya “Great Depression”. 

Jadi kalau di abad ke-21 ini, kita udah alami “Great Recession” tahun 2009. GDP dunia turun ‘cuma’ 1% dan ekonomi dunia rasanya udah lesu darah. Lalu Covid-19 muncul akhir 2019 dan GDP total dunia drop 4,5% ‘saja’ dan kita merasa itu udah kayak mau akhir dunia. Dunia udah rasanya morat-marit karena satu virus baru.

Ditambah dengan kemungkinan pecahnya Perang Dunia III, kita bisa kehilangan pertumbuhan ekonomi global lebih banyak. Dari pengalaman Perang Dunia I, GDP yang lenyap karena disedot perang mencapai 9,5% dari tahun 1914 sampai 1920. Sementara itu, pasca PD II, GDP tercatat turun sampe 11% (menurut history.com). Dan kakek nenek kita ngalami zaman yang nggak enak itu. Zaman perang di mana-mana, ekonomi morat-marit. Ugh!

Bayangkan sendiri nanti dunia abis PD III kalo beneran terjadi. Haha. Disimpen dulu gilanya buat nanti.

TATA ULANG SEJARAH

Kembali ke buku “The Origins of the Slavic Nations” tulisan Serhii Plokhy ini, tujuan utamanya ialah menyusun ulang tahapan perkembangan jatidiri bangsa East Slavic berdasarkan data yang ada. Garis besar ya, DATA. Bukan narasi politik penguasa.

Dan serunya buku ini juga bahas bangsa mana sih dari ketiga ini yang secara historis paling berhak mengklaim dirinya sebagai bangsa keturunan paling setia pada warisan sejarah Kievan Rus’ yang jadi nenek moyang mereka itu. Apakah Rusia milik Putin, Belarusia, atau Ukraina?

Tujuan lainnya yang nggak kalah seru adalah mendefinisikan ulang jatidiri East Slavic yang jadi pokok permasalahan ini. Dari sini diharapkan adanya penyusunan ulang konsep mengenai sejarah pramodern bangsa Rusia, Ukraina dan Belarusia.

Tapi ngenesnya, apa Putin mau baca dan mengadopsi pemikiran Ploky ini ya? Very very unlikely sih. Tapi let’s see kalau Putin udah mokat atau lengser atau ada revolusi di Rusia. 

Kita tunggu aja Alexei Navalny, tokoh oposisi Putin dan aktivis antikorupsi yang sempat diracun oleh orang suruhan Putin, menggulingkannya entah kapan. Karena kasus racun ini, Federal Security Service Rusia sampai diberi sanksi oleh Uni Eropa dan Inggris.

Navalny ini mendukung juga aksi protes kelompok prodemokrasi di Belarusia tahun 2020 karena pemilihan presiden Belarusia yang sengit. Bahkan dia percaya diri bilang kalo revolusi di Belarusia bakal sampai ke Rusia juga. Putin, yang mantan agen KGB, ya nggak tinggal diam lah.

Kejengkelan Navalny patut dipahami karena Putin udah memangku jabatan presiden dan perdana menteri dari tahun 1999 sejak ia menggantikan Boris Yeltsin. Udah jadi presiden selama 23 tahun (meski pernah 4 tahun dari 2008-2012 turun untuk sekadar jeda antar masa jabatan biar nggak dibilang diktator aja)! Sukarno aja cuma 22 tahun. Haha.

Sebelumnya wajah Navalny juga udah pernah disemprot zat kimia sampai matanya hampir buta. Pokoknya ngeri dahhh kalo berani-berani menentang Putin. 

PUTIN DAN MUSLIM RUSIA

Seorang teman ada yang berseloroh: “Coba kalau yang diserang itu Palestina, bukan Ukraina, pasti Indonesia udah vokal duluan…”

Tapi emang pemerintah Rusia dari dulu sampai rezim Putin ini nggak ada masalah besar sama muslim di Rusia. Setidaknya sampai sekarang nggak ada berita diskriminasi atau penindasan layaknya yang dilakukan China ke suku Uyghur yang diberitakan mengalami genosida masif supaya nggak jadi bibit-bibit kelompok radikal yang bisa membahayakan persatuan dan kesatuan China Raya. Jadi mau protes apa wong emang hubungan mereka dengan presidennya baik-baik aja.

Seperlima rakyat Rusia adalah muslim dan karena mereka bisa melebur dengan mulus dengan masyarakat Rusia, muslim Rusia jadi nggak dianggap sebagai masalah. Ini lain dari kehadiran muslim di Eropa terutama di Eropa Barat yang dicap agak miring.

Dibandingkan negara-negara yang didominasi ras Kaukasia di Eropa, jumlah warga muslim Rusia itu terbesar lho. Belum digabungkan dengan dua wilayah Rusia dengan warga mayoritas muslim yang bergejolak: Chechnya dan Ingushetia.

Rusia juga menyatakan Islam sebagai agama yang diakui di depan hukum  dan bagian dari warisan sejarah Rusia sampai mendapatkan subsidi dari pemerintah. Di Rusia, Islam disejajarkan dengan Kristen Ortodoks. Bagi Putin, Islam bahkan lebih dekat dengan Kristen Orthodoks daripada Katholik (yang memang markasnya di Vatikan yang notabene di Barat).

Dari zaman Catherine Yang Agung, kaum muslim Rusia juga setia pada kekaisaran Rusia dan nggak mau memihak Turki yang menyerang mereka meski Turki ini muslim juga.

Di era Uni Soviet, Islam yang ajarannya berseberangan dengan atheisme yang dianut negara jadi tersisihkan dan ditindas bahkan orang muslim Chechnya sempat kena genosida tapi begitu Uni Soviet runtuh, Islam dapat posisi lagi.

Putin bahkan memasukkan tokoh muslim ke dalam lingkaran politiknya dan memberi subsidi ke masjid-masjid dan madrasah, sebuah langkah yang tentu nggak bakal Barat (Eropa dan AS) lakukan. 

Di sini Putin emang cerdik memanfaatkan simpati muslim supaya mau berpihak ke rezimnya. Itulah kenapa mungkin ada sebagian orang kita yang menganggap perang Ukraina ini lelucon dan kurang bersimpati. Ya karena mereka anti Barat, anti AS dan Eropa yang juga musuh Rusia.

Muslim di Rusia memang pernah nggak harmonis sama pemerintahnya. Orang-orang muslim di wilayah Chechnya punya sejarah panjang konflik dengan Rusia bahkan pernah mencoba memerdekakan diri tahun 1917 tapi Rusia berhasil menundukkan. 

Di masa Soviet, muslim di Chechnya mencoba mendapatkan pengakuan sebagai bangsa yang terpisah lagi tapi Boris Yeltsin menolak karena takut akses energi dan ekonomi putus. 

Chechnya berusaha memerdekakan diri lagi tahun 1991 dan peperangan besar meletus dari 1994 sampai 1996. Terbunuhnya presiden terpilih Chechnya kemudian disusul perjanjian damai tahun 1997.

Insiden demi insiden berdarah dikaitkan dengan gerakan separatis muslim Chechnya. Rusia yang nggak mau Chechnya lepas jadinya makin mengetatkan operasi anti radikalisme di sana. Referendum sampai diadakan dan hasilnya ya pastinya menguntungkan Rusia yang emang udah merekayasa supaya pemerintah lokal Chechnya bersikap pro Rusia.

Tahun 2004 pasca pembunuhan massal di sebuah sekolah di Beslan oleh kaum separatis Chechnya, Putin langsung mengetatkan cengkeramannya di sana.

Tapi menariknya di saat yang sama di luar Chechnya juga sejak 1990an sudah ada tren merangkul Islam di Rusia. Dan warga muslim yang tinggal di wilayah Rusia diizinkan beribadah haji, bangun masjid dan madrasah bahkan universitas, menerbitkan media pers sendiri.

Sikap Putin yang tampak pro Islam ini ditunjukkan pada muslim yang masih mau setia ke Rusia. Muslim yang ingin membentuk negara dan bangsa sendiri terpisah dari Rusia akan diperangi habis-habisan. 

Hebatnya Putin, ia sanggup mengubah opini mayoritas muslim Rusia menjadi lebih pro perang Suriah. Dan ini ditambah lagi dengan hasil riset Pew Research Center yang mengatakan bahwa sebagian besar (76%) masyarakat Rusia punya persepsi positif mengenai muslim di negara mereka.  

Muslim Chechnya juga baru-baru ini berkomitmen bantu operasi militer Putin di Ukraina. Muslim Chechnya (yang dulunya ditindas di era Uni Soviet) kini berbalik mendukung Rusia dan sebanyak 12 ribu orang muslim Chechnya menyatakan bersedia menjadi relawan perang, membantu Putin menaklukkan Ukraina. Ini dari sumber WIKIPEDIA.

Tapi gw baca dari Slate.com, faktanya nggak sesempurna survei dan opini tadi. Di Moskow, warga masih intoleran sama kehadiran muslim terutama kalau mereka sedang beribadah salat Jumat yang emang memakan tempat sampai ke jalan umum. Ya mau gimana dong wong pemerintahnya juga nggak izinin buat bangun lebih banyak masjid? Jadinya luber ke jalan-jalan deh. Pas Iduladha juga warga Moskow yang nonmuslim masih syok liat darah binatang qurban di trotoar.

APAKAH PERANG EFEKTIF?

Kembali ke isu perang ini, sejarawan dan penulis buku terkenal Yuval Noah Harari melalui Guardian.com menyatakan bahwa langkah agresif Putin malah bisa jadi bumerang bagi Rusia.

Bumerang gimana ya?

Gini maksudnya Yuval: pakai kekerasan dan senjata malahan bakal menguatkan identitas dalam diri orang-orang Ukraina. Karena ya mereka merasa menderita bersama-sama. Mereka malah sekarang punya musuh bersama yang nyata: Rusia dengan Putin sebagai dalangnya.

Impian Putin untuk menyatukan kekaisaran Rusia selalu bersandar pada sebuah kebohongan bahwa Ukraina bukanlah sebuah bangsa yang mandiri. Ukraina ialah sebuah bangsa dengan sejarah lebih dari 1000 tahun dan Kiev sudah menjadi kota mandiri yang maju bahkan saat Moskow masih terbelakang. Namun Putin terus mengumandangkan kebohongan tadi.

Rusia memang berada di atas angin dalam hal kekuatan militer dan sumber daya minyak dan gas, yang membuat posisi tawarnya di mata Barat (NATO) tak tergoyahkan. Yang bisa diberikan Barat cuma sanksi, sanksi dan sanksi. Tapi mereka masih menahan diri untuk mengerahkan pasukan ke Ukraina.

Yuval mengatakan lebih mudah bagi sebuah bangsa untuk menaklukkan bangsa lain. Yang lebih susah adalah bagaimana mengendalikan bangsa yang lebih lemah ini. Rusia memang adidaya dan lebih kuat dalam segi manapun tapi itu bukan berarti ia bisa menyetir bangsa Ukraina.

Dengan menumpahkan darah dan menghancurkan Kiev, Putin malah mematrikan kebencian dalam sanubari bangsa Ukraina. Padahal kebencian ini sebenarnya bisa dijadikan alat pemersatu Ukraina. (*/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.