“Life’s Punchline”: Tragikomedi Rekomendasi

MENURUT tradisi Yunani Kuno, ada tiga jenis pertunjukan: komedi, tragedi, dan tragikomedi. Yang terakhir ini lebih cocok untuk melabeli Life’s Punchline.

Tidak ada yang spektakuler di sini sebenarnya. Konfliknya datar dan biasa saja. Tidak ada yang berdarah-darah, berpeluh atau menangis sampai parau. Konflik sehari-hari sekali dan kita bisa mengalaminya juga. Tidak ada elemen lebay atau hiperbola menurut saya.

Di sini kita bisa belajar bahwa kehidupan satu orang manusia ternyata berkelindan dengan rumitnya dengan kehidupan manusia lain. Jadi tak berlebihan sih kalau dikatakan dalam agama, saat seseorang membunuh manusia lain, ia sama saja membunuh seluruh umat manusia. Karena manusia bukan makhluk soliter. Kita berteman, berkeluarga, beranak pinak dan bekerja dengan manusia lain. Dan dari sana hubungan-hubungan muncul dan terbina.

Dan salah satu pelajaran yang penting dari sini juga adalah bahwa perpisahan bisa kok dirayakan. Karena selama ini kita diajari bahwa perpisahan selalu menyedihkan. Identik dengan air mata, saputangan, kata-kata selamat tinggal.

Tapi pada hakikatnya perpisahan adalah sebuah babak baru dalam hidup. Bukan akhir yang mentok seperti gang buntu yang membuat kita terjebak tak bisa ke mana-mana lalu kita benar-benar mati membusuk dengan menyedihkan di situ. Karena ternyata kehidupan terus berputar walaupun satu episode sudah ditutup. Ada kelopak bunga yang mekar setelah bunga lama berguguran.

Perpisahan juga membuat momen-momen itu menjadi lebih berharga dan bisa diapresiasi lebih tinggi di masa datang. Jika perpisahan tidak ada, mungkin saja kita mengabaikan momen-momen itu. Padahal di sinilah hidup menjadi lebih bernilai dan bermakna.

Hal lain yang saya dapatkan dari sini adalah bahwa keberadaan kita di muka bumi ini setidaknya memiliki harga dan makna bagi manusia lain. Meski itu cuma satu manusia. Jika kita sudah bisa membuat hidup satu manusia terasa lebih baik dan dia bisa bertahan melalui fase terberat dalam hidupnya dengan kehadiran kita dalam kehidupannya, ternyata itu sudah cukup untuk membuat hidup bermakna. Tak perlu muluk-muluk harus mencapai ini itu. (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: