Pengalaman Membeli Rumah Pertama dan Tinggal di Citra Maja Raya [Bagian 2]

BACA SEBELUMNYA DI BAGIAN PERTAMA: “PENGALAMAN MEMBELI RUMAH DAN TINGGAL DI CITRA MAJA RAYA [2020-SEKARANG]

BEBERAPA waktu terakhir terutama di awal 2022 ini, saya mengamati bahwa jumlah pengunjung dan pembaca artikel bagian pertama soal pengalaman membeli rumah dan tinggal di Citra Maja Raya (CMR) ini makin banyak. Tampaknya makin banyak orang yang penasaran dan sedang mempertimbangkan untuk membeli rumah di sini entah itu untuk investasi atau mau dihuni.

Saya juga memahami karena CMR digadang-gadang bakal jadi sebuah kota mandiri layaknya BSD atau Bintaro begitu. Konsepnya memang masih sebagai kota penyangga aktivitas manusia-manusia ibukota. Tapi menurut sata sendiri ke depan mestinya kota ini juga bisa menjadi sebuah pusat ekonomi yang mandiri, terpisah atau setidaknya bisa beroperasi tanpa harus melulu ke Jakarta.

Saya menulis bagian kedua secara terpisah di sini setelah sebelumnya memperbarui terus artikel pertama saya. Tapi lama-lama kok makin panjang dan terasa agak susah di-scroll. Haha. Saya sendiri kalau mau menulis update terbaru juga kerepotan mesti lama scroll ke bawah. Ya sudahlah saya putuskan membuat artikel lanjutannya di halaman terpisah supaya pembaca tidak capek scroll dan tetap bisa menikmati.

Kalau saya katakan di CMR ini kemarin sempat macet karena arus balik Lebaran 2022, itu memang suatu anomali. Arus lalin untuk hari seterusnya kembali lagi seperti semula. Cuma 1-2 kendaraan saja. Kemacetan jadi hal mustahil dijumpai.

Tapi soal trotoar dan tempat bersepeda dan jogging di sini saya lihat kok tidak ada lajur yang terdedikasi khusus untuk itu. Ini sangat amat disayangkan. Kalau sekarang sih memang masih bisa jogging ke mana-mana dengan nyaman tapi bayangkan 5-10 tahun mendatang saat populasi di sini melonjak (mungkin ya), jalan yang sepi dan halaman ruko yang lapang pasti sudah luber terisi kendaraan bermotor.

Seharusnya kalau menurut saya pengembang memikirkan bagaimana menampung para pemakai sepeda dan moda transportasi non-motor lainnya seperti otopet, segway yang mestinya diakomodasi karena lebih futuristik dan ringkas bagi mobilitas orang-orang urban di masa depan. Sepeda motor itu sudah mesti dianggap kuno lho. Ini supaya kita tidak terjebak permasalahan yang sama dengan Jakarta dan kota-kota besar di Asia Tenggara yang berjibaku dengan kemacetan.

Untuk jarak dari stasiun Maja yang tak begitu jauh tapi juga tak bisa dikatakan dekat dengan berjalan kaki, moda transportasi sekunder untuk mengangkut manusia dari stasiun ke rumah mereka mestinya harus yang lebih ringkas dan murah. Di stasiun Maja saja sekarang halaman parkir sepeda motor sudah lumayan penuh lho di siang hari. Belum lagi kalau ada pemilik mobil yang naik komuter, wah bisa penuh cuma untuk beberapa unit mobil saja.

Makanya dari kasus para penyuka sepatu roda di Jakarta beberapa hari lalu, kita yang di CMR ini mestinya harus mengantisipasi. Jangan sampai masalah Jakarta terulang lagi. Harus ada pelajaran yang bisa dipetik dari kacaunya Ibu Kota Negara yang makin tenggelam itu.

https://platform.twitter.com/widgets.js

UPDATE 13 MEI 2022

Hari ini saya iseng jalan pagi dan ternyata bertemu dengan sebuah jalur baru. Di calon kota mandiri ini memang selalu ada kejutan sebab perkembangannya masih belum bisa ditebak sepenuhnya. Yang bisa diketahui cuma rencana tata ruang kota tapi pengejawantahannya bagaimana di lapangan kan belum tahu persis.

Ternyata dari klaster Benoa ada jalan tembusan ke arah selatan yang dulunya saya cuma bisa lewati dengan memutari klaster Sanur. Buldoser tampaknya dipakai untuk meratakan medan jalan.

Lalu dari situ saya terkesima dengan sebuah danau buatan yang sebelumnya saya tak pernah tahu ada di situ. Saya pernah sekali jalan kaki memutari sini, jauh sekali tapi kok tidak lihat ada danau ini.

Di tepi danau ini tampaknya akan dibangun klaster lain karena tanah tampak diratakan di sini dengan tujuan untuk dibangun tentunya.

Di sekitarnya masih banyak ladang dan pepohonan. Asri tapi tetap saja karena musim jelang kemarau begini, pukul 7 pagi saja matahari sudah teriknya minta ampun. Gosong tidak ditanggung.

UPDATE 15 MEI 2022

Kalau Anda punya unit rumah di CMR tapi belum sempat menempati atau ingin menyewakan setelah lama kosong, biasanya rumah harus dibersihkan. Nah, kalau Anda malas membersihkan sendiri karena sudah terlampau awut-awutan dan tumbuhan liar sudah tumbuh di halaman sampai jadi pohon tinggi besar melampaui atap rumah (ini benar terjadi), jangan khawatir karena ada jasa untuk membersihkan dan merawat rumah kosong Anda. Namanya zaman susah, semua yang mendatangkan duit pastilah dijalani orang. Sepanjang halal tak begitu masalah kan?

Ada beberapa pertimbangan dalam penentuan tarif pembersihan rumah kosong biasanya di CMR. Setelah diobservasi, biasanya penyedia layanan bersih-bersih rumah ini bakal mematok tarif.

Kalau layanan dasar seperti mengepel lantai kotor dan mencabuti rerumputan liar di halaman rumah sih masih termasuk standar. Tapi kalau sudah mengharuskan penebangan pohon liar sih harus dilihat sebesar apa ukuran pohonnya. Makin besar, tentunya makin mahal nanti jasanya.

Dengan kondisi CMR yang masih saja sepi begini, memang tak heran jika ada sebagian pemilik unit di sini yang gamang dan ingin menjual saja rumah mereka. Karena mungkin di sini cuma investasi dan sudah butuh duit. Tapi jika Anda masih belum begitu butuh duit, lebih baik sih ditunda saja menjualnya karena kalau Anda bersabar harga jualnya bakalan lebih tinggi dari harga belinya, begitu kata seorang makelar rumah di sini.

Untuk pemilik unit rumah di CMR Tahap 1, ada yang merasa lebih baik beli tanah kavling saja dan membangun sendiri unitnya. Hal itu bisa dilakukan di klaster Padma, dekat bundaran kantor pemerintahan desa Maja Baru, yang juga dekat gerbang CMR 2. Harganya sih dengar-dengar Rp2 juta per meter persegi. Kalau di sekitar Maja ini, kavling di luar CMR sih mungkin tak semahal itu. Ada selisih harganya tapi tentu nantinya ada bedanya kalau rumah Anda masuk kota mandiri CMR dan tidak. Suasana sekitarnya bakal beda. Percuma membangun rumah bagus dan megah tapi di sekitarnya awut-awutan dan manajemen sampahnya kurang baik. Saya tidak berlebihan, karena di Maja (di luar CMR) ini penanganan sampah masih memprihatinkan sekali. Warga masih seenaknya buang sampah di pinggir jalan dan tanah kosong. Karena pemerintah daerahnya belum peduli betul dengan penegakan hukum buang sampah sembarangan. Kalau Anda punya rumah bagus, apakah rela jika tanah di sekitar Anda jadi tempat menimbun sampah? Tentu tidak kan? Dalam lingkungan perumahan, hal ini dijamin tidak bakal menimpa kita. Semuanya lebih sedap dipandang karena ada manajemen kota yang mengaturnya. Kalau ada yang melanggar bakal ditegur dan dikenai sanksi.

Mereka yang tinggal di CMR biasanya adalah mereka yang juga sudah punya rumah atau dulunya tinggal dan bekerja di Alam Sutra, Bumi Serpong Damai (BSD), dan sekitarnya. Mereka pagi-pagi biasanya berangkat dengan kereta komuter line pagi-pagi. Kereta terpagi pukul 4 subuh. Mereka parkir sepeda motor di stasiun Maja dan pulang malamnya, cukup bayar Rp5.000.

Kalau ditanya apakah di CMR sudah ada Go-Jek atau Grab, saya katakan SUDAH. Please jangan dikira daerah ini setertinggal itu. Di sini memang sepi tapi cuma 2 jam kurang dari Jakarta lho. Ini bukan Papua. Dan keberadaan Go-Jek dan Grab juga masih sedikit memang karena di sini ada Trans Baduy, semacam layanan online ojek lokal dan abang-abang ojek panggilan di pangkalan-pangkalan masih banyak. Kalau belum ada layanan Go-Jek dan Grab mana mungkin juga Janji Jiwa buka gerainya di CMR ini? Buktinya mereka sudah buka satu gerai di dekat klaster Tevana.

Untuk masuk ke dalam CMR, Anda bisa memilih satu dari 3 pintu yang tersedia: pintu gerbang patung kuda CMR 1, CMR 2, jalan akses dekat klaster baru Agate dan Tampaksiring yang akan tembus ke Jasinga, Bogor.

PROSEDUR IZIN RENOVASI RUMAH DI CITRA MAJA RAYA

Renovasi di CMR sudah jadi hal jamak alias normal. Ya bagaimana lagi, wong pengembang cuma membangun setengah rumah saja sebetulnya. Dari luas tanah yang tersedia, yang dibiarkan kosong bisa setengahnya kalau dihitung cermat. Makanya tidak heran kalau harga rumah tapak di CMR bisa miring sekali. Beda dari Jakarta dan sekitarnya yang sudah berjuta-juta untuk per meter perseginya.

Kalau Anda punya rumah di CMR dan ingin memperluas bangunan unit Anda yang terasa sempit sekali, bisa mengajukan segera perizinan renovasi. Kalau Anda cuma mengerjakannya sendiri, semua ini harus diurus sendiri juga. Tapi kalau Anda punya dana ekstra buat renovasi, serahkan saja semuanya ke agen yang merenovasi karena seharusnya itu sudah jadi tanggungan mereka. Ini berdasarkan dari pengalaman saya merenovasi sih. Tapi patut diketahui ini agen yang profesional, bukan cuma tukang bangunan yang diserahi proyek renovasi rumah lho. Karena tidak mungkin kalau harus memberikan tanggung jawab itu ke tukang bangunan.

Cara mengajukan renovasi ialah mengumpulkan beberapa dokumen sebagai berikut:

  1. fotokopi KTP pemilik rumah
  2. fotokopi KTP tukang bangunan yang mengeksekusi renovasi
  3. fotokopi BAST alias Berita Acara Serah Terima
  4. fotokopi PPJB alias Perjanjian Pengikatan Jual Beli (halaman depan dan belakang saja)
  5. foto gambar kerja renovasi
  6. Melunasi Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL) bulanan Anda

Nah begitu sudah terkumpul, bisa diserahkan langsung ke kantor Manajemen Kota CMR/IPL di gerbang Citra Maja Raya 1. Anda juga bisa menngirim file dokumen ini semua ke renovasi.citramaja@gmail.com. Tapi sekali lagi, jangan kaget lah kalau sudah kirim softcopy begini lalu masih diminta hardcopy juga. Anda tahu negeri ini kan? Di era Revolusi Industri 4.0, NFT dan Metaverse begini, tradisi fotokopi masih terus lestari.

Lalu jangan kaget juga kalau Anda diminta menyetor sejumlah duit ke pengembang sebagai jaminan untuk pengerjaan renovasi ini. Tujuannya menurut saya agar renovasi yang akan dilakukan tidak melanggar aturan yang diberikan pengembang. Karena kalau tidak diatur, saya juga pasti yakin kalau perumahan ini bakal sudah jadi kayak perkampungan biasa yang carut marut, kacau balau. Dan di sinilah aturan itu semestinya membuat lingkungan bisa menjadi relatif lebih rapi dan enak dipandang mata. Kalau tinggal di perumahan tapi lingkungannya tidak teratur sih lalu apa bedanya dengan tinggal di luar sana? Haha.

Ketentuannya kalau tak salah adalah membiarkan facade atau bagian muka rumah seperti semula saat dibangun pengembang dalam jangka beberapa tahun pertama. Dan jujur sudah ada beberapa pemilik rumah yang sengaja melanggar demi keinginan mereka sendiri. Mereka berpikir: “Lha wong rumah-rumah saya sendiri, sudah beli kok dilarang-larang mau renov kayak gimana?” Ada betulnya, tapi meski ini rumah Anda tapi Anda tinggal di perumahan yang tentu terikat dengan peraturan. Mohon ditaati, kalau tak mau ya angkat kaki. Sesimpel itu. Ada sebagian orang yang saya lihat belum siap dengan ini, cara berpikirnya seperti orang yang punya rumah di kampung ortunya sendiri, renovasi seenaknya. Tidak bisa begitu, Pulgoso! Jadi paham kalau Manajemen Kota bakal memberikan sanksi. Apa sanksinya? Saya belum tahu persis sih. Apakah bisa sampai dibongkar paksa? Kurang tahu juga. 

Ada juga seorang tetangga yang berulah begini. Muka rumahnya dipermak habis. Sampai Manajemen Kota mampir dan menegur. Sampai sekarang pengerjaan renovasinya belum ada tanda-tanda dimulai lagi sejak berhenti libur Lebaran lalu. Apakah kena sanksi atau disuruh berhenti pihak Manajemen Kota? Saya kurang paham juga sih. Saya sendiri memantau kasus ini sebagai suatu preseden. Jika MK tegas, saya pikir tata ruang dan tata kota CMR bakal bagus seterusnya. Tapi kalau dari sini saja sudah lembek, wah bisa gawat nantinya. Ketidaktegasan pada satu oknum bisa merembet ke yang lain. Pasti yang lain merengek juga diizinkan merenovasi sesuai selera.

Berikut tata cara pengambilan uang jaminan izin renovasi:

1. Tukarkan Surat Ijin Renovasi dan Bukti Transfer dengan tanda terima ke Kantor Manajemen CMR

2. Tunggu 2-3 bulan

3. Setelah 2-3 bulan telepon/datang ke kasir Citra Raya (Citra Raya Tangerang ya, bukan Citra Maja Raya)

4. Kasir Citra Raya untuk pelayanan CMR bukan Senin DAN (bukan “sampai”) Kamis tanggal 1 s/d 25 setiap bulannya pukul 10.00 – 14.00 WIB.

Untuk langkah pertama dapat menyerahkan dokumen ke kantor Customer Care/MK dengan cc dokumen Pak Kennedy dan pembayaran bisa via virtual account yang nanti tertera di surat izinnya atau bisa ke kasir yang di kantor marketing. Untuk info selanjutnya, bisa hubungi Pak Kennedy (Manajemen Kota CMR) +62 813-9946-6477.

UPDATE 1 JUNI 2022

Ada kabar di media sosial Instagram @aboutcitramaja yang menyatakan bahwa terjadi peristiwa perampokan di warung tegal di seberang masjid Al Ikhlas CMR. Detailnya sebagai berikut.

https://platform.twitter.com/widgets.js
//www.instagram.com/embed.js

Kalau dari pengamatan saya sendiri sih tadi sekitar maghrib memang ada mobil patroli sekuriti CMR mangkal di depan warung tegal naas itu. Tapi begitu Isya, sudah tidak ada mobilnya dan cuma ada 2 orang petugas berjaga di sana. Entah apa maksudnya. Karena mustahil juga ya pelaku melakukan kejahatan dua kali berturut-turut di lokasi yang sama persis.

Yang patut disayangkan memang penerangan di CMR yang sekarang ini agak kurang sehingga mungkin dimanfaatkan pihak-pihak yang kurang baik niatnya. Tapi kalaupun itu alasannya, lokasi kejadian pencurian motor dan perampokan itu justru ada di area yang lumayan terang di bundaran CMR Tahap 1. Kalau yang kerap gelap itu justru di area CMR Tahap 2.

Apalagi ini terjadi setelah pihak manajemen menaikkan IPL yang dikeluhkan pihak penghuni karena katanya pengangkutan sampah saja tidak tiap hari.

Tapi terlepas dari semua kejadian kriminal ini, sebetulnya kondisi di CMR masih relatif aman kok.

Dan pagi tadi meski sehari sebelumnya hujan dan mendung seharian, cuacanya cerah dan bisa untuk jogging dengan nyaman.

//www.instagram.com/embed.js

UPDATE 6 JUNI 2022

Saya bertanya ke staf legal Citra Maja Raya dan mendapat kabar bahwa dokumen rumah saya sudah jadi dan siap dijemput. Saya pun hubungi petugas yang ditunjuk staf legal itu via WhatsApp dan mendapatkan undangan sebagai berikut:

Sehubungan dengan telah tersedianya dokumen legalitas atas tanah dan bangunan yang terletak di Perumahan Citra Maja Raya, melalui surat ini kami mengundang Bapak/Ibu untuk melakukan pengambilan legalitas berupa Sertipikat, Ajb dan Imb atas UNIT di maksud pada :

Hari : Senin-Jumat (tanggal merah libur)
jam : 09:00-16:30
Tempat : Ruko Legal Citra Maja Raya sebrang Management Office Citra Raya Cikupa (sebelah ruko OPPO)

Adapun persyaratan yang harus di penuhi untuk melakukan pengambilan legalitas berupa Sertipikat, Ajb dan Imb sebagai berikut :

1.Membawa asli Ktp dan Fc Ktp
2.Membawa Surat Ket Lunas dan Fc Surat Ket Lunas (apabila sebelumnya proses KPR)

Penjadwalan untuk melakukan pengambilan legalitas berupa Sertipikat, Ajb dan Imb bisa dikonfirmasi minimal h-2 sebelum legalitas diambil.

Terima kasih atas perhatiannya.

Saya sebenarnya keberatan kalau harus jauh ke Cikupa. Ini agak mengesalkan karena saya sudah bermukim di Maja sini. Tapi seakan pihak pengembang masih memuastkan kegiatan legal mereka di Cikupa. Bikin kesel memang. Dipikirnya mereka semua penghuni Citra Maja Raya ini masih di Jakarta apa bagaimana ya? Kalau saya masih di Jakarta sih Cikupa mungkin lebih dekat. Tapi mbok ya disediakan alternatif bagi mereka yang sudah menetap di Maja untuk mengambil di kantor marketing Citra Maja Raya. Ini kebijakan yang saya tidak habis-habisnya berpikir!

Begini lho kenapa itu mengesalkan, karena ke sana itu butuh waktu setidaknya sejam dari Maja dan jia ada yang ketinggalan, otomatis harus esok hari ke sana lagi karena bolak-baliknya itu sudah capek sekali.

Kalau kata petugas legal CMR, ini semua adalah bentuk Standard Operational Procedure (SOP). Tapi apakah harus menyusahkan seperti ini? Apakah memang lazim ya membeli rumah di satu area tapi urus dokumen di area lain yang jauh begitu? Kalau menurut pengalaman Anda bagaimana? Apakah memang ini hal yang bisa dimaklumi atau sebenarnya pengembangnya yang harus lebih akomodatif?

UPDATE 9 JUNI 2022

Dari undangan yang sudah saya terima tempo hari, saya pun ke lokasi yang dimaksud: ruko legal Citra Maja Raya di seberang Management Office Citra Raya Cikupa.

Di perjalanan, saya diberitahu oleh sopir saya bahwa memang kadang pemilik rumah harus ambil sertifikat kepemilkan di luar kantor perumahan yang dihuni karena perusahaan pengembang bekerjasama dalam hal legalitas tanah dan rumah dengan perusahaan lain. Dalam kasus saya perusahaan ini adalah PT Putra Asih Laksana (PAL). Perusahaan ini membayari pajak bumi dan bangunan saya dulu sebelum saya menerima sertifikat kepemilikan secara sah.

Tapi argumen itu ternyata kurang masuk akal karena saya lihat di kolom nama dan alamat wajib pajak, alamat PAL ini ada di Jl. Kopi Sangiang No 21 Rt 0 RW 0 Maja Baru, Lebak. Berarti deket banget dong dengan rumah saya tapi kenapa saya mesti ke Citra Raya Cikupa yang notabene puluhan kilometer?? Ini yang saya masih tidak paham. SOP macam apa yang dimaksud staf legal CMR itu?

Saya ditemui oleh seorang pria yang ternyata teman pak Fauzan yang mengundang saya via WhatsApp. Ia membawakan beberapa dokumen: SPPT PBB tahun 2022 dari Pemkab Lebak-Badan Pendapatan Daerah Lebak yang harus mulai saya bayar sendiri lewat bank atau kantor pos atau Tokopedia, Surat Setoran Pajak Daerah Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, Bukti Pembayaran Pajak/ Retribusi BPHTB Lebak dari Bank BJB yang sudah dilakukan oleh notaris yang kita tunjuk, Sertifikat (Tanda Bukti Hak).

Di sertifikat tertera pemegang hak semula adalah APL tadi yang dialihkan ke saya sebagai pemilik unit rumah tersebut. Lalu ada salinan Akta Jual Beli (AJB) dari notaris yang berkedudukan di Citeras, Maja. Dari alamat notaris ini juga sebenarnya dekat Maja. Jadi kenapa saya harus ke Cikupa? Haha.

Si staf legal ini menerangkan bahwa sertifikat ini sudah hak milik karena lunas. Ia menyebutkan detail-detail penting seperti nama lengkap, tanggal lahir, alamat rumah dan luas tanah, lalu menyuruh saya membaca dan memeriksa jika ada kesalahan yang tidak seharusnya ada.

Dan ternyata yang lucu ini nih: di undangan tertera pengambilan AJB, Sertifikat dan IMB. Nah di sini stafnya berkata: “Untuk IMB-nya lagi proses, pak. Belum bisa diambil.”

Lho, kalau begitu kenapa di undangan WhatsApp itu ada tulisan “IMB”??? Alasannya karena masih proses PBB.

“Paling nunggu beres dan nanti diinfoin….,” kata si staf legal.

Hahahaha…

Untung saya masih berkepala dingin. Kalau saya orangnya temperamental, mungkin sudah ada drama di sana.

Oke saya coba bertanya apakah bisa saya ambil di kantor manajemen atau pemasaran di CMR. Kalau saya harus jauh ke Cikupa lagi sementara saya sudah tinggal di CMR, saya sangat amat keberatan apalagi saya juga sudah mulai bekerja di kantor. Masak saya mesti ke sana lagi 2 jam pulang pergi di jalanan Maja-Cikupa yang jauh dari kata mulus dan menunggu lagi entah sampai kapan? Kalau memang belum ada IMB ya bilang saja lah jujur. Sangat disayangkan sih. Apa kurang teliti saat mengirim undangan itu atau bagaimana tapi saya kecewa sekali terus terang. Karena kalau memang IMB masih belum keluar kan masih bisa memberitahu saya dalam waktu beberapa hari sebelum saya mengambil jauh-jauh begitu. Makanya saya ngotot meminta ambil IMB di Citra Maja Raya saja.

Si staf ini berkata saya bisa janjian dengan petugas legal nanti (Fauzan) agar saya bisa ambil IMB saat yang bersangkutan mampir ke CMR untuk tandatangan akad pembelian rumah di sana. Nah, kenapa itu bisa?!

Lalu saya tandatangani semua salinan surat dan proses pengambilan sudah selesai meski belum tuntas dan lega karena IMB masih belum ada. Jadi catatan saja buat Anda yang mau ambil dokumen begini di Cikupa sana, bersabarlah. Banyak-banyak tanya kalau memag sudah keluar semua suratnya. Jangan seperti saya. Sudah dikabari bisa ambil 3 dokumen, eh yang ada cuma 2. Mending nunggu sampai semuanya ada saja baru diambil.

Tapi saya juga agak ragu kalau nanti saya minta ambil di CMR, apakah memang si staf legal mau? Jangan-jangan ditampik lagi: “Sudah SOP-nya, pak!” Hahaha. Capek deh!

Kalau ada manajemen CMR baca ini, please lah jangan menyusahkan pemilik rumah yang sudah rela pindah dari Jakarta dan memutuskan untuk meninggali rumah di kawasan yang masih sepi begini. Kalau tidak, proyek Anda itu bakal terkesan makin sepi! Hargailah warga CMR yang hendak mengurus dokumen atau izin renovasi dengan memindahkankan divisi legal Anda ke sini, ke CMR ini. Kami beli rumah di CMR, kenapa ambil dokumen di Cikupa?

UPDATE 21 JUNI 2022

Berita buruknya mutu kualitas udara Jakarta merebak lagi (sumber: indonesiaexpat.id). Banyak teman yang mengeluh terjebak macet di Jakarta. Jadi kemacetan seperti sebelum pandemi sudah kembali. Saya selalu mendapati berita buruknya mutu udara ini kalau musim kemarau mulai datang ke Jawa. Di Sumatra sendiri berita kabut asap sudah mulai muncul. Jadi ya begitu deh, mutu udara kita tak makin bagus.

Kondisi begini bakal terus terjadi tiap tahun karena dari pemerintah sendiri juga belum bisa menyebar aktivitas ekonomi kita agar tidak cuma di Jakarta. Pemindahan ibukota ke Kalimantan masih jauh dari harapan dalam upaya desentralisasi dan de-Jakartasentrisme ini.

Saya pernah dengar dari seorang teman bahwa memiliki pekerjaan di tengah ibukota memaksa orang untuk tinggal di dekat kantornya sehingga mereka mati-matian harus beli rumah dengan KPR yang entah lunas saat usia sudah kepala 6 atau 7. Ini semua karena terlalu banyak orang di tengah kota. Lahan sempit diperebutkan terlalu banyak orang. Harga naik tak terkendali. Mau sampai kapan?

Solusi satu-satunya ya menyebarlah kita yang masih mau hidup sehat dan waras. Saya berkata begitu karena hidup di kerumunan perkotaan yang menyesakkan seperti Jakarta sudah tak sehat secara fisik, psikologis, mental dan entahlah, segalanya.

Ini diperparah dengan tradisi WFO yang kembali lagi membuat macet jalanan ibukota. Padahal ya WFH sesekali juga bisa kok tetap produktif.

UPDATE 29 JUNI 2022

Tadi saya mendapat informasi bahwa manajemen kota CMR ingin mendata warga CMR pengguna layanan Komuter Line yang ada di tiap klaster. Tujuannya untuk mendata jumlah warga yang ada di sini dan jika memang cukup banyak ya akan dibuatkan sebuah stasiun sendiri di dalam lingkungan perumahan CMR ini.

Dari pengalaman saya sebagai pengguna KRL, jarak dari rumah saya ke stasiun Maja memang tak bisa dibilang dekat. Makan waktu setidaknya 10 menit untuk mencapai stasiun dengan naik sepeda motor. Saya pernah coba naik sepeda jenis city bike (bukan sepeda balap mahal seperti Bianci yang bisa melesat cepat ya) makan waktu 15 menitan. Dan kalau berangkat siang sedikit pastinya sudah bermandikan keringat lagi sih. Haha.

Di website resminya pengembang membanggakan kedekatan itu seperti ini:

Citra Maja Raya memiliki lokasi strategis, hanya 500 meter dari Stasiun Kereta Rel Listrik (KRL) Maja yang sudah terhubung ke Jakarta Pusat dan telah dilengkapi fasilitas skala kota yang lengkap.”

Faktanya yang dekat dengan stasiun ya gerbang pintu CMR Tahap 1 itu, bukan rumah Anda masing-masing. Haha. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in miscellaneous and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.