Anna Politkovskaya, Jurnalis Perempuan Rusia Musuh Vladimir Putin

on

ANNA POLITKOVSKAYA lahir dari orang tua berdarah Ukraina tapi bekerja sebagai diplomat Soviet. Karena itulah dia punya privilege mengakses banyak informasi dari Barat sejak kecil. Bahkan ortunya sering menyelundupkan bahan bacaan karya penulis-penulis Barat yang dilarang di Rusia.

Dengan masa kecil yang erat dengan dunia informasi, tidak aneh Anna tertarik menekuni jurnalisme saat kuliah. Dia kuliah di Universitas Negeri Moskow. Di sini saja bibit pemberontakannya mulai terlihat karena dalam skripsinya ia mengangkat Marina Tsvetaeva, seorang penyair perempuan yang karya-karyanya diharamkan Stalin untuk dibaca rakyat Rusia. 

Pengalaman kerja Anna setelah kuliah sangat mencengangkan jika dipamerkan dalam CV. Ia bekerja untuk media resmi Komite Pusat Tertinggi Soviet dan tentu saja isinya 100% memihak rezim saat itu. Beberapa tahun kemudian ia bekerja untuk majalah Aeroflot, maskapai penerbangan Uni Soviet. Di sini ketangguhan Anna diuji juga karena ia harus memutar otak membuat tulisan-tulisan yang memukau penumpang sekaligus menyembunyikan sisi kelam Uni Soviet saat itu. Dalam hatinya, ia sangat jijik dengan kemiskinan dan kekejaman yang mesti diderita kelompok akar rumput.

Begitu Uni Soviet rontok dan Mikhail Gorbachev naik tahta, Anna berharap dirinya bisa mengerjakan karya jurnalisme layaknya media Barat. Ia mendirikan Novaya Gazeta (Suratkabar Baru) dan meliput perang Chechnya.

Kebetulan di era perang Chechnya ini Putin juga mulai muncul ke panggung politik dan menunjukkan ‘taringnya’ sebagai salah satu macan politik baru di Rusia yang berguncang pasca keruntuhan Uni Soviet. Putin sendiri melihat presidennya, Gorbachev sebagai sosok yang kurang bisa menyatukan Uni Soviet.

Anna-lah yang mengabarkan juga kekejaman tentara Soviet pada penduduk sipil di Chechnya sehingga pada akhirnya membuat rakyat Rusia mendesak Boris Yeltsin untuk memilih perdamaian dengan Chechnya.

Anna meyakini juga bahwa Putin dan antek-anteknya di KGB berada di balik proklamasi sepihak ‘teroris’ Chechnya Shamil Basaev yang memicu pertumpahan darah di Dagestan tahun 1999. Insiden ini dijadikan Putin sebagai alasan untuk menggunakan kekerasan kembali di Chechnya dan menaklukkannya di bawah kendali rezim Rusia. (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.