Bagaimana Rusia Menjadi Negara Adidaya dalam Senam (Gymnastics) 

Para pemuda Rusia didorong untuk berolahraga agar bugar dan siap berperang. (Wikimedia Commons)

KALAU Anda jeli mengamati perkembangan cabang olahraga senam dan turunannya (dari senam artistik, senam ritmik, senam akrobatik, dan sebagainya), Anda pasti akan menemukan atlet-atlet Rusia sebagai salah satu peraih medali di ajang-ajang olahraga internasional semacam kejuaraan dunia maupun olimpiade.

Fenomena dominasi Rusia di dunia senam ini menarik bagi saya karena fenomenanya mirip dengan bulutangkis di Indonesia. Kenapa bangsa X bisa berjaya di satu cabang olahraga tapi tidak di cabang olahraga lainnya, sementara bangsa Y sebaliknya?

Jawaban bagaimana Rusia bisa menjadi negara adidaya dalam dunia senam ada di buku Sport in Soviet Society oleh James Riordan.

Dijelaskan bahwa senam begitu populer di Rusia (saat itu Soviet di abad ke-19) karena ada alasan politisnya. Bangsa Rusia saat itu menderita kekalahan dalam Perang Crimea tahun 1855. Kekalahan itu memalukan buat mereka sampai mendorong pemerintahannya mencari cara-cara yang bisa meningkatkan solidaritas, semangat kebangsaan dan kesiapan nasional bangsanya dalam upaya-upaya mempertahankan maupun memperluas wilayah mereka.

Sebelumnya di Jerman juga sudah muncul perkumpulan senam Turnen, di Ceko juga ada perkumpulan senam Sokol, dan di Skandinavia muncul gerakan senam di abad ke-19. Bangsa-bangsa ini menjadikan senam sebagai upaya memulihkan kekuatan fisik rakyat setelah menderita kekalahan perang.

Melihat fenomena budaya fisik yang meluas di Eropa tadi, Rusia juga melihat potensi senam sebagai pemersatu dan penguat moral bangsanya.

Putin bersama atlet senam Aliya Mustafina (kiri) yang sudah pensiun. (Wikimedia Commons)

Akhirnya para pejabat Rusia kala itu sepakat bahwa senam bisa dipraktikkan rakyat Rusia secara luas agar semua orang memiliki kesiapan dan kebugaran fisik yang baik sehingga kapan saja mereka bisa siap dikerahkan jika dibutuhkan oleh negara.

Dengan restu dari pemerintah Rusia tadi, bersemilah budaya senam di Rusia. Klub senam pertama di Rusia muncul di kota Saint Peterseburg tahun 1863. Sebelum itu di tahun 1830, sebetulnya sudah ada juga klub senam yang dibuka seorang warga Swedia yang bermukim di Rusia bernama de Pauli. Di tahun 1863 juga muncul Masyarakat Senam Pal’ma yang terkenal dan kemudian juga berkembang pesat dan membuka lima cabang di lima kota lain di negara itu.

Di tahun 1868, Masyarakat Senam Moskow terbentuk dan menyelenggarakan pertemuan di sebuah aula besar di Boulevard Tsvetnoi yang kini dikenal sebagai gymnasium Klub Dinamo. 

Jika ditanya siapa bapak pendidikan senam Rusia, catatan sejarah akan mengacu pada satu nama: Pyotr Lesgaft. Ia memperkenalkan senam model Prusia ke angkatan bersenjata Rusia di tahun 1874.

Tak lama kemudian, Lesgaft juga membuka kelas senam bagi para serdadu angkatan bersenjata Rusia. Tahun 1896 ia membuka kelas senam khusus warga sipil, sehingga bisa dikatakan setiap warga negara Rusia bisa mengakses olahraga senam ini dengan mudah.

Federasi senam pertama di Rusia berdiri tahun 1883 dan otomatis menjadi federasi olahraga pertama di negara itu. Jadi tidak aneh jika dikatakan senam di Rusia sudah terlembaga secara formal sedemikian rupa sejak abad ke-19.

Uniknya salah satu anggota pendiri federasi senam ini adalah penulis terkenal Rusia, Anton Chekhov. Ia sendiri selain seorang sastrawan juga memiliki profesi asli dokter. 

Latihan fisik senam diperkenalkan ke sekolah-sekolah dan universitas-universitas di Rusia pada dekade 1870-an dengan tujuan menyiapkan generasi muda agar nantinya bisa bergabung dalam gerakan militer alias berperang.

Pendukung senam paling berpengaruh saat itu, Kozlovsky, berhasil ‘menjual’ proposal penerapan latihan senam di seluruh wilayah Rusia dengan menyatakan bahwa senam bisa dijadikan alat latihan militer, memungkinkan pengurangan wajib militer dan menjadi cara menghemat anggaran negara.

 

Atlet-atlet senam artistik putra dari Rusia dikenal memiliki prestasi sejak lama di kancah dunia. (Wikimedia Commons)

Senam kemudian dikemas sebagai olahraga disipliner yang dirancang untuk menghasilkan “seorang warga yang disiplin di saat negara damai dan menjadi petarung yang tak gentar saat peperangan terjadi”. Jadi senam juga dikaitkan dengan pertahanan nasional di Rusia saat itu.

Dengan adanya kebijakan penerapan latihan senam di seluruh institusi pendidikan di Rusia, otomatis dirilis juga diktat atau manual resmi senam bagi sekolah-sekolah di tahun 1872 dan 1878. Di dalam manual ini dijelaskan beragam latihan fisik yang terinspirasi oleh senam model Prussia tahun 1874.

Meski demikian, sekolah senam Sokol yang beraliran Slavic nasionalistik-lah yang dileburkan ke dalam praktik senam di Rusia pada dekade 1880-an oleh perkumpulan-perkumpulan senam yang baru terbentuk.

Dengan dukungan dari kelompok elit bangsawan dan kelas menengah yang makin banyak, senam makin populer. 

Atlet-atlet senam artistik Rusia dikenal tangguh dan paling artistik. (Wikimedia Commons)

Di Olimpiade 1912, Rusia mengirimkan tim senamnya untuk pertama kali dan langsung memenangkan beberapa medali.

Senam kemudian di tahun 1940 terdaftar sebagai salah satu dari cabang olahraga yang mengakui atlet perempuan juga. Ini sebuah kemajuan bagi perempuan apalagi di masa itu.

Di tahun 1933, Rusia mengakui secara resmi bahwa senam menjadi dasar bagi gerakan olahraga menyeluruh dan pendidikan jasmani di sekolah dasar, SMP dan SMA dalam sebuah konferensi senam.

Saat itu, setiap warga Rusia yang bekerja (alias kelas pekerja, bukan birokrat) didorong untuk memiliki badan yang bugar dan elok dipandang. Tidak kegemukan, malas apalagi lemah.

Senam juga digunakan negara sebagai medium budaya untuk menarik para atlet yang ingin masuk ke pusat budaya Rusia. Tak heran, senam sering dikaitkan dengan balet dan ekspresi budaya lainnya di negara Putin tersebut.

Balet sebagai salah satu alat pemersatu dan kekuatan budaya Rusia. (Wikimedia Commons)

Nilai estetik gerakan badan manusia yang digabungkan dalam senam dipandang setara dengan nilai estetik yang memancar dari seni di tingkatan tertinggi.

Rusia dengan demikian memiliki sebuah kekuatan budaya dinamis dan baru dalam bentuk media simbolis senam, kalistenik, tari, pameran formasi massal, dan beragam aktivitas olahraga lain.

Di Rusia, negara berpandangan bahwa olahraga dan seni adalah alat memodifikasi dan memperkaya pengalaman kemanusiaan dan senam bisa mendorong manusia menemukan dan mengembangkan potensi budaya dalam mereka sendiri.

Senam ini kemudian berkembang menjadi beberapa jenis. Di samping senam olahraga (sportivnaya gimnastika), ada juga binaraga (atleticheskaya gimnastika), senam untuk kebugaran di tempat kerja (proizvodstyennaya gimnastika), dan senam ritmik yang khusus untuk atlet perempuan (khudozhestvennaya gimnastika). (*/)

Atlet senam ritmik Rusia, Margarita Mamun. (Wikimedia Commons)

Cacar Monyet: Asal Mula, Cara Penularan dan Pencegahannya

Apa itu cacar monyet dan bagaimana mencegahnya? Baca di sini selengkapnya.

(Foto: CNN Indonesia)

ADA sebagian orang yang nyinyir dengan kemunculan cacar monyet sebagai darurat kesehatan yang baru-baru ini diumumkan WHO. Mereka mengatakan: “Ada-ada saja penyakit zaman sekarang. Paling juga buat bisnis vaksin.”

Tapi bukankah begitu hukum alam? Manusia dan penyakit saling berlomba untuk mengungguli satu sama lain. 

Kalau kita mau pikirkan lagi, ini adalah perlombaan yang tiada henti. Setelah satu kuman atau virus ditaklukkan, bisa jadi ia menjelma sebagai mutasi lain yang lebih ampuh. 

Kita sudah tahu kisah kekebalan kuman setelah dibombardir antibiotik. Dan kisah begini adalah sebuah keniscayaan dalam dunia medis.

Dan dengan banyaknya persinggungan/ kontak kita dengan makhluk hidup lain yang tidak semestinya hidup di dekat kita (satwa liar yang habitatnya di hutan malah kita pelihara di rumah atau kita makan), tidak heran banyak virus dan penyakit baru yang menjangkiti manusia juga. Jadi jangan nyinyir dulu, karena ini juga sebab ulah kita sendiri.

Mari kita pisahkan fakta soal cacar monyet ini dari kebencian dan sentimen negatif kita terhadap para pebisnis vaksin sebab jika kita abai, yang rugi juga diri kita sendiri. Karena tak jarang orang yang benci vaksin lalu menutup mata juga soal fakta ilmiah mengenai bahaya virus atau bibit penyakit baru.

Terlepas dari perdebatan kaitan kemunculan wabah baru dan potensi laba buat bisnis vaksin itu, kita perlu mempersenjatai diri kita dengan fakta-fakta ilmiah soal cacar monyet agar tidak lagi terulang kekonyolan berakibat hilangnya nyawa akibat ketidakpercayaan pada sains sebagaimana yang kita saksikan sendiri di awal pandemi 2020 lalu.

ASAL MULA CACAR MONYET

Jika dirunut ke belakang, penyakit ini sudah muncul dalam radar WHO di tahun 1958 dan telah memicu wabah skala kecil di Afrika Tengah dan Barat. Tingkat kematiannya antara satu dan sepuluh persen.

Setelah itu, di tahun 1971 dan 1978 juga tercatat sudah ada puluhan kasus yang terdeteksi di Nigeria. Dan kini ia menyebar ke wilayah Cekungan Kongo juga.

Lalu di tahun 2017 terjadi wabah lokal di Nigeria yang terjadi kembali, demikian ungkap kepala Center for Genome Sciences di US Army Medical Research Institute of Infectious Diseases.

Dari catatan WHO, wabah cacar monyet sudah terjadi di Sudan tahun 2005, Republik Kongo dan Republik Demokrasi Kongo tahun 2009 dan Republik Afrika Tengah tahun 2016. Di antara 4 September hingga 9 Desember 2017 sudah ada 1 kematian, 172 kasus suspect dan 61 kasus penularan cacar monyet ini. 

BIBIT WABAH ZOONOTIK

“Zoonotik” di sini maksudnya adalah jenis penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Dalam 6 bulan terakhir, lebih dari 9000 kasus cacar monyet sudah dilaporkan di seluruh dunia di berbagai negara yang bukan wilayah endemik penyakit ini.

Awalnya virus ini dideteksi di Inggris, Portugis, dan Spanyol, terutama pada para pria yang berhubungan seksual dengan pria lainnya.

Yang patut diwaspadai ialah fakta bahwa penyakit ini sudah menyebar ke sejumlah negara dengan cepat. Tak terkecuali ke pasien yang imunitas badannya rendah dan anak-anak yang rentan.

GEJALA-GEJALA CACAR MONYET

Cacar monyet ialah penyakit yang langka sebetulnya. Ia disebabkan virus cacar monyet yang menjadi bagian dari keluarga virus cacar air. 

Gejala-gejala cacar monyet ini mirip dengan gejala cacar (variola) juga tapi lebih ringan, demikian menurut laman CDC.gov. Tapi virus cacar monyet ini tak berkaitan dengan virus cacar air ternyata.

Gejala-gejala cacar monyet adalah demam, sakit kepala, nyeri otot dan punggung, kelenjar limfa yang membengkak, rasa dingin, kelelahan berlebihan, kemerahan di kulit yang mirip jerawat atau lecet yang bisa muncul di muka, rongga mulut dan bagian tubuh lainnya dari tangan, kaki, dada, alat vital, bahkan anus.

Kulit kemerahan ini bisa berlangsung selama beberapa tahap sebelum akhirnya hilang. Sakitnya bisa berlangsung selama 2-4 minggu. Kadang ada pasien yang mengalami kemerahan dulu baru diikuti gejala-gejala lainnya. Pasien lain bisa saja cuma mengalami kemerahan tanpa gejala lain.

MENULAR LEWAT BERAGAM CAIRAN TUBUH

Virus cacar monyet ini ternyata bisa menular ke kita lewat air liur (termasuk droplet), air mani/ sperma, air seni, dan sebagainya. Temuan ini dipublikasikan dalam Eurosurvillance dan dipimpin oleh Barcelona Institute for Global Health (ISGlobal).

Karenanya, untuk mencegah penularan, kita harus mencegah sentuhan langsung dengan pasien yang terinfeksi atau sentuhan dengan permukaan yang terkontaminasi oleh luka pasien tadi. Itu karena luka tersebut bisa membawa darah yang mengandung virus.

Jadi apakah perlu kita memakai masker lagi sebagaimana yang sudah dilakukan saat mencegah Covid-19? 

Masih perlu, karena air liur tadi bisa keluar dalam bentuk droplet yang sangat kecil dan terhirup masuk ke dalam tubuh.

DITAKUTI SEJAK DULU

Virus cacar jenis apapun dikenal sudah menjadi ancaman sejak dulu bagi umat manusia. Virus cacar bahkan dicap sebagai agen atau senjata terorisme biologis yang paling ditakuti manusia.

Virus cacar bisa mengalahkan pertahanan imunitas makhluk inang seperti manusia. Faktor pembatasan inang SAMD9 dalam badan manusia bisa dikalahkan oleh virus cacar padahal SAMD9 ini cukup kuat untuk memerangi sel tumor dan mutasi gen SAMD9 ini bertanggung jawab atas satu jenis kanker serius.

Imunitas manusia dan virus cacar memang terus berlomba-lomba salingmengungguli satu sama lain. Virus cacar terus memperbaiki kekuatannya dari waktu ke waktu agar bisa bertahan hidup dalam inang mereka. Maka tak heran pertarungan melawan virus cacar termasuk cacar monyet ini bakal terjadi sepanjang sejarah umat manusia. (*/)

Kafir

Di khotbah salat ied iduladha tempo hari ada sesuatu yang terus saya ingat.

Soal kafir mengkafirkan. Haha. Capek banget ya, hari gini masih saja bahas masalah ini.

Tapi sang khotib yang saya tak tahu namanya berkata begini: “Jangan asal menyebut seseorang kafir sekalipun dia nonmuslim.”

Wah, kaget dong ya. 

Siapa nih? Berani banget ngomong kayak gini? Haha. Ngeri kalau sampai terdengar kelompok yang berseberangan.

Tapi inilah untungnya jadi khotib, mau ngomong apa saja silakan. Jamaahnya harus diam dan mendengarkan, karena isi khotbahnya ditujukan untuk kebaikan dan kemaslahatan umat.

Tak lama, khotib menjelaskan bahwa vonis kafir pada seorang manusia tidak sebaiknya dilakukan semasa ia masih hidup. 

Karena seorang manusia baru bisa dikatakan kafir bila di akhir hidupnya ia tidak berada di jalan Allah SWT.

Inilah yang namanya akhir yang buruk atau su’ul khotimah.

Mereka yang mungkin lain keyakinan bisa saja di akhir hidup mereka malah lebih taat dan meninggal dalam keadaan yang lebih saleh dari mereka yang mencemooh. 

Di sini kita diingatkan bahwa semua skenario yang terdengar musykil itu mungkin lho. Karena Allah SWT adalah Maha Pembolak Balik Hati. Dia bisa membalik jalan hidup seseorang tanpa bisa disangka-sangka. 

Maka berhati-hatilah dengan lidah dan hati kita yang sering mengkafirkan orang bahkan yang sesama muslim juga hanya karena berlainan pendapat dari kita. 

Karena yang bisa memvonis kafir atau tidak itu ya cuma Allah SWT. 

Daripada sibuk menghakimi amal orang lain, marilah sibukkan diri dengan menilai diri sendiri.  (*/)

Seluk Beluk Uban: Dari Penanda Stres Hingga Risiko Penyakit

Usia saat seseorang mendapati uban pertama mereka bervariasi. Di sekolah menengah atas, seorang teman sebaya sudah beruban. Saat itu saya jadi merasa ngeri juga, kok bisa kami yang masih muda kena gejala penuaan sedini itu. Belum juga merayakan usia 20, kok sudah memutih.

Di usia 36-37, saya sendiri baru menemukan helaian memutih di rambut bagian samping. Saya pikir cuma pantulan sinar tapi kok tidak menghilang. Fix, itu sih uban, pikir saya. Ya kalau pun sudah ada uban juga paling sehelai dua helai. Dari kejauhan kepala saya masih terlihat seperti anak remaja. Hitam legam.

STRES TIDAK PERMANEN

Kalau ditanya soal pemicu uban, kata sains sih ada hubungannya dengan tingkat stres seseorang. Haha, apakah teman saya itu stres sejak SMA? Mungkin saja ya. Namanya juga manusia. Di luar hahahihi, di dalam merintih pilu.

Soal kaitan uban dan stres ini dikukuhkan tim riset dari Columbia University Vagelos College of Physicians and Surgeons. Mereka menemukan bahwa saat seseorang terkena tekanan psikologis, ia akan rentan memiliki uban di kepala.

Tapi kabar baiknya ilmuwan juga mengatakan bahwa begitu stres itu dikendalikan atau diatasi, uban seseorang juga hilang. Jadi uban tidaklah permanen asal kita bisa meminimalisir tingkat stres dalam kehidupan kita.

Nah, masalahnya kita ini pakai cara apa untuk mengatasi stres?

Kafein, rokok, dan alkohol jadi cara terpopuler mengusir stres sementara dengan tebusan kesehatan yang makin rusak. Kita kurang bijak dalam memilih cara mengendalikan stres dengan sehat.

GENETIS

Ternyata uban juga bisa dipicu faktor keturunan. Untuk uban jenis ini ya tidak bisa diganggu gugat kehadirannya. Tidak bisa diatasi cuma dengan mengendalikan stres.

Ilmuwan di University College London tahun 2016 menemukan IRF4, sebuah gen pemicu uban. Selain uban, gen juga berpengaruh dalam menentukan bentuk kepala dan kelebatan rambut seseorang.

Ilmuwan masih terus mencari tahu bagaimana menghambat kinerja IRF4 dalam proses terjadinya uban di rambut.

Uban sendiri bisa muncul saat produksi melanin di rambut terhambat. Diharapkan dari riset itu bisa ditemukan cara pencegahan uban dini.

RISIKO SAKIT JANTUNG

Bagi sebagian orang, kemunculan uban tidak membuat cemas karena toh bisa dicat.

Tapi jika Anda sudah menemukan uban di usia muda ada baiknya periksakan kesehatan jantung karena menurut penelitian, munculnya uban menunjukkan peningkatan risiko sakit jantung.

Dari sudut pandang ilmiah, penyakit atherosclerosis dan uban memiliki mekanisme yang mirip seperti perbaikan DNA yang kurang sempurna, stres oksidatif, perubahan hormon, peradangan dan penurunan jumlah sel yang berfungsi normal dalam badan.

KEKEBALAN TUBUH

Saat seseorang beruban, ada kemungkinan tubuhnya sedang mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh dan sedang terjadi infeksi virus.

Ini dibuktikan dengan studi yang menemukan bahwa uban berkaitan erat dengan aktivasi sistem kekebalan tubuh bawaan badan kita.

Saat tubuh diserang virus atau bakteri asing, sistem kekebalan tubuh bawaan ini akan bekerja maksimal. Badan memproduksi molekul interferon yang menjadi sinyal adanya organisme asing dalam badan kita. Interferon mendorong sel-sel tubuh menghalau perkembangan organisme asing ini.

Uban menandakan adanya disfungsi sel stem melanosit yang penting untuk membuat rambut tetap punya warna atau pigmen.

Ini menandakan gen yang mengendalikan pigmen di rambut dan kulit juga bekerja mengendalikan sistem kekebalan bawaan tubuh kita.

GIGI BERLUBANG

Uban juga menandakan peningkatan risiko terjadinya gigi berlubang pada seseorang.

Penjelasannya adalah karena rambut dan gigi sama-sama elemen terluar badan yang memiliki mekanisme perkembangan yang mirip meski materi gigi dan rambut berbeda. Rambut terbangun dari serat keratin yang terjalin erat satu sama lain. Gigi terbuat dari protein enamel.

Jadi intinya kalau sudah beruban, rajin-rajinlah jaga kesehatan dengan istirahat cukup, makan sehat dan olahraga plus cek kesehatan di rumah sakit untuk deteksi dini penyakit-penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, kanker, jantung, dan sebagainya.

Jokowi Asks Housewives Not to Give Birth to Babies Every Year, But That’s Just Sexist

JOKOWI made another blunder. As reported by Pikiran-Rakyat.com, President Joko Widodo commemorated the 29th National Family Day at Merdeka Square, Medan, North Sumatera on Thursday, July 7th 2022.

On the occasion, he asked all elements of the nation to work together to lower the number of stunting cases in Indonesia.

The commemoration was broadcast live on YouTube official channel of Presidential Secretariate in Jakarta.

Jokingly or not, Jokowi asked housewives not to give birth to babies every year.

Stunting has been a national issue that hinders the country from its ambitious goal to be a developed nation.

How is it possible to become a developed nation when many kids are still so malnourished, their growth in their golden early years is far from the standard?

He said that it is noteworthy that in preventing stunting cases, we need to regulate and give breaks between births.

But seriously, why didn’t he tell Indonesian men to just wear condoms or even better, undergo a proper vasectomy procedure?

I am a man myself but I find his advice incredibly sexist and unfair.

Women get pregnant because they are fucked by men!

So it is important that men also pay attention to available methods for them.

It’s not only about women giving birth like crazy but also men who don’t care about birth control.

What Indonesian Netizens Are Doing to Woo Ha-Ram Is Just Unpleasant, Stupid, and Shameful

//www.instagram.com/embed.js

INDONESIAN netizens are known for their ridiculous mob attacks agains whatever and whoever they think get under the way.

And they also bully those who they think are ridiculous to them.

One of the not-so-recent victim is Woo Ha-Ram, a Korean male diver who participated in the Olympics diving competition in 2021.

If you read the above post, the diver’s Instagram comment boxes are scattered with comments from Indonesians who mock his name.

The word “haram” which sounds like his given name Ha-Ram means “forbidden”.

That is the most commonly associated meaning with the word. Whenever people say “haram”, they immediately think of pork, murder, blood, anything forbidden by the rules of Islam.

But these people forget that the word “haram” also means “holy”. Mecca, the city where muslims around the world are headed to everytime they pray 5 times a day, itself is called “Masjidil Haram”, meaning “a holy or sacred place”. The place is considered holy because it is strongly tied with prophets like Ibrahim and Muhammad, two major prophets in Islam.

So Koreans, if your diver gets mocked by Indonesians, DO tell them that he is not “forbidden” or “un-halal” but instead he is a “holy” creature.

Woo Ha-ram is surely a divine creature when he dives beautifully into the pool.

That, I hope, will shut their mouths (or stop their thumbs?) for ever.

And anyway, I am Indonesian myself but I never condone such action. (*/)

%d bloggers like this: