Tantangan Makan Kotor

TAHUN baru ini saya diberi tantangan anak-anak kantor. Tantangannya tidak lazim. Saat orang berbondong-bondong memulai kebiasaan baru yang sehat dan konstruktif, saya malah ditantang untuk menjalani kebiasaan yang buruk: makan jorok dan nggak olahraga selama 7 hari.

Sekarang sudah hari kedua saya menjalani tantangan dan saya rasanya sudah tidak bersemangat.

Badan pagi hari seharusnya saya gerakkan, jadinya cuma ‘mager’, rebahan.

Saya pun alihkan dengan aktivitas membersihkan rumah.

Tunggu, membersihkan rumah kan aktivitas fisik juga! Olahraga itu mah!

Nggak bisa. Bersih-bersih rumah bukanlah kegiatan olahraga cuy!

Kenapa?

Alasannya adalah karena membersihkan rumah bukan aktivitas fisik yang membidik otot-otot tubuh tertentu secara spesifik.

Kemudian durasinya juga tidak bisa terukur.

Lalu intensitasnya juga tidak bisa diukur. Karena aktivitas fisik baru dianggap sebagai olahraga jika detak jantung bisa di atas detak jantung harian saat kita istirahat alias tidak melakukan apapun.

Tantangan ini akan berakhir Minggu ini dan saya sudah tidak sabarrrrr…. Huhu

3 Akun Instagram Berbasis Teks yang Wajib Di-follow

SELAMA 2022 banyak sekali akun Instagram yang saya temukan dan ikuti.

Tapi dari semua yang saya ikuti di tahun ini, cuma secuil yang sepenuhnya berbasis teks.

Dan entahlah, tapi 3 akun ini yang saya rasa paling kena di hati.

Cuma huruf, tidak ada foto atau ilustrasi apapun sama sekali. Lain dari konten akun-akun lain yang melulu memanjakan mata dan telinga.

Meski demikian, masih saja isi akun-akun ini terasa menarik untuk dinikmati.

Ya karena rangkaian katanya sangat terpilih, terseleksi sedemikian rupa sehingga sangat menyentuh hati. Pas sekali dibaca saat di kereta, atau saat ingin mengisi waktu luang. Buat renungan atau riset buat konten.

WE’RE NOT REALLY STRANGERS

Isi akun ini sangat simpel bentuknya. Tangkapan layar, jepretan foto yang isinya teks di layar hp atau gawai lain.

Nggak neko-neko atau susah untuk mengedit dalam pembuatannya meski pasti ada strategi di baliknya.

Kadang ada juga sih video TikTok yang masuk tapi itu sangat jarang sekali.

Kebanyakan isinya SMS, chat, DM, atau catatan di aplikasi Notes yang menggelitik, membuat trenyuh atau haru biru.

BRIANNA WIEST

Kalau satu ini saya ikuti karena saya sudah membaca bukunya yang bertema self journaling.

Lumayan seru meski postingannya cuma sederet teks yang buat mereka yang menyukai visual, bakal membosankan parah.

Kadang Wiest membagikan penggalan bukunya yang menurutnya paling ‘nyes’ di hati atau paling relevan dengan sebuah momen, misal tahun baru begini.

DIMOETRY

Akun ini milik seorang mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) jurusan Computer Science bernama Ariel Dimitri.

Awalnya ia cuma mengisi iseng-iseng akunnya dengan tulisan pendek yang ia klaim sebagai puisi tapi sebetulnya menurut saya lebih mirip verbal sketch.

Saya sebut demikian sebab kata-katanya menggambarkan suasana hatinya pada momen tertentu.

Terkesan sendu, agak ‘menye-menye’, melankolis, cenderung overthinking. Tapi ya bukankah begitu memang semua sastrawan dan penyair? Mesti overthinking. Hahaha… (*/)

“Merli Sapere Aude” Shows Philosophy Can Be Cool

Philosophy is a boring subject, most people say.

But I’m pretty sure you’ll find it interesting once you watch this series.

Having watched the first season, I was mesmerized by the dynamic life of a small circle of philosophy students here.

Seen as weirdos due to overthinking, philosophy students break all the stigmas by leading a worldly, hedonic life.

Pol Rubio (Carlos Cuevas) as the protagonist is depicted as an intelligent, good-looking, yet underprivileged young man.

At first I thought he was guy as he had Bruno (David Solans) as his boyfriend but it turned out he self-confessed as a bisexual later on. You can see Pol (left) and Bruno (right) below.

On the contrary, Biel (Pere Valriberra) is a student that is what Pol is not. He is considered second tier, less physically attractive, slender, weaker, less confident in social and academic life.

Meanwhile, there is this boy named Rai (Pablo Capuz), who is living with his mother Victoria quite unhappily after his father passed away. He is rich but feeling empty in his life. Typical..

Maria Bolaño (María Pujalte) is a favorite lecturer in the philosophy faculty. She is a great influence to Pol Rubio. Intellectually, they are attracted to each other.

Bolaño herself is a complicated character. As a single mother, she has to take care of her already adult daughter with Down Syndrome. And Laura, her daughter’s name, is now building a relationship with Victor, a young man also with the same syndrome.

Bolaño struggles with her addiction to alcohol and Silvia, her former student who is now her colleague, is trying to help her recover.

The romantic relationships are quite dynamic here. They exchange sexual partners like a lot, which is not uncommon in the Western society.

What I like from the series is that they are scattered with great quotes. Uplifting enough if you’re having a bad day and need a mood booster. (*/)

Pandemic Diary: Is 2023 The End of It All?

PANDEMIC is over in Indonesia. But for real?

As far as I know, the policy of social and mobility restriction has been over since…. a long time ago.

I mean, we can already enjoy trips to anywhere across the archipelago for quite some time whil China and some other countries are still combatting the new variants of Covid-19.

For those who are in favor of economic growth (and that means a lot of Indonesians), restriction of mobility means killing them slowly. And that’s even faster, especially after the recession news is blown full steam.

Days ago, Prof. Zubairi, a prominent physician cum a highly popular Instagram influencer, announced on his feed that he is in favor of the end of the restriction.

However, he underlines some points that there are still neighboring countries like China that are struggling to combat the new variant.

Joko Widodo, Indonesia’s president, is on the news today. He stated that tomorrow it will be announced whether or not Indonesian government will continue the notorious PPKM, which in fact has been ineffectual and not been put into practice by most Indonesians, I dare to say. LOL.

The policy may be rigidly implemented in public facilities such as public transportation and government-owned facilities but other than that, we are totally free of masks and can move pretty much freely without physical distancing.

People are now used to interacting without masks once again. We go anywhere without masks and no one will frown their eyebrows. The pandemic is unofficially over for most Indonesians. Mostly because we’ve been too tired and too stressed out financially.

I’ve heard of complaints from youngsters especially those who recently graduated (or graduated from university in the last few years) on Twitter how hard it has become for Generation Z to land a decent-paying job. Even low-paid internships are now highly desired. They need internships to just stay optimistic and afloat in spirit and personal finance.

Freelancing is still not prestigious as it was but if it pays the bills then they’ll do it anyway. Really, being unemployed is the worst feeling ever. You feel useless when in fact you’re so young and actually useful enough to make money for the nation. (*/)

ChatGPT Bukan Ancaman bagi Lapangan Kerja Pekerja Kata Asalkan…

Kecerdasan Buatan ChatGPT bisa menulis sebaik manusia, katanya. Tapi apakah bisa menggusur para jurnalis dan penulis manusia? Tunggu dulu!

SEPEKAN lalu saya membaca sebuah unggahan milik editor in-chief media Singapura di LinkedIn.

Di unggahannya, Terence Lee sang editor menyatakan kekagumannya terhadap ChatGPT, sebuah piranti lunak berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence).

Lee meminta ChatGPT mengubah sebuah rilis pers menjadi artikel berita pendek. Bersamaan dengan itu, dihasilkan juga beberapa pilihan judul bagi artikel tersebut.

“Meskipun percobaan pertama tak begitu bagus tapi ChatGPT memahami umpan balik saya dan mengubah artikel tadi menjadi sebuah tulisan yang hampir layak tayang. Dan itu cuma sekali penggunaan. OpenAI sungguh menakjubkan,” tuturnya.

Di unggahannya, Lee juga memuat beberapa tangkapan layar soal proses tersebut.

Pertama, ia mengetikkan sebuah arahan penulisan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan ChatGPT sebaik-baiknya: menulis artikel 200 kata mengenai topik yang ditentukan Lee.

Kemudian Lee menyalin rekat rilis pers yang dijadikan acuan. Di sinilah materi asal yang bisa diolah ChatGPT.

Kemudian ChatGPT menghasilkan satu paragraf panjang. Tentu kurang enak dibaca. Lee kemudian memerintahkan: “Bagi menjadi beberapa paragraf pendek”.

ChatGPT kemudian mematuhinya dan berhasil menghasilkan tulisan dengan 5 alinea pendek. Lee memberikan sedikit revisi di sini. Ia tak mau ada kata “saya” dan ChatGPT mengeksekusinya. Ia hapus semua kata “saya” dan “ku” agar artikel lebih formal dan profesional.

Kemudian ia memerintahkan ChatGPT menghasilkan 5 opsi judul yang menarik untuk calon artikel. Seketika ChatGPT memberikannya.

Lee memilih opsi pertama dan menyuruh ChatGPT memasukkan satu frasa agar lebih akurat dan memendekkan judul itu agar lebih ringkas. ChatGPT melakukannya dengan efisien.

PERLUKAH PANIK?

ChatGPT seperti sederet inovasi teknologi yang baru muncul pasti memunculkan resistensi/ perlawanan.

Ingat dahulu saat internet muncul, mereka yang bekerja di surat kabar menganggapnya sebagai ancaman. Ada betulnya, tapi itu kalau mereka tak mau beradaptasi kan?

Begitu juga saat email muncul, para pekerja kantor pos pasti menganggapnya sebagai ancaman yang harus dilawan dan dilenyapkan.

Begitu juga yang sekarang terjadi pada ChatGPT. Ia mengguncang banyak industri: dari media, SEO, hingga jurnalistik.

MENGENAI CHATGPT

ChatGPT ialah sebuah chatbot berbasis Kecerdasan Buatan yang baru-baru ini menghebohkan internet.

Dalam waktu 5 hari saja, ChatGPT meraih 1 juta pengguna aktif yang penasaran dengan kekuatannya mengolah kata.

Muncul banyak prediksi dengan kemunculan ChatGPT ini. Ada yang meramalkan tergusurnya lapangan kerja pekerja kata. Ada yang meramalkan otomatisasi bakal melanda seluruh industri di dunia. Ada lagi yang meramalkan kemunculan inovasi terbesar setelah kemunculan iPhone di awal abad 21.

Kita saat ini sedang di fase pertama. Dalam 10 tahun mendatang, banyak industri akan diguncang oleh kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) termasuk ChatGPT ini. Demikian ungkap entrepreneur teknologi Joe Speiser dalam utas Twitternya di akun @jspeiser tanggal 14 Desember 2022 lalu.

Menurut Speiser, AI bakal melejitkan kreativitas, alih-alih menghambatnya. Argumennya adalah karena kreativitas adalah soal menghubungkan ide-ide yang tak berkaitan erat. AI bisa dipakai untuk melakukan riset, menulis lirik lagu dan menghasilkan naskah film. Wow!

Yang patut dipahami ialah bahkan menulis dengan AI pun perlu proses. ia menggarisbawahi bahwa proses menulis dengan bantuan AI bisa berlangsung dalam hitungan hari hingga tahun.

“AI tidak menggantikan kreativitas tapi cuma membuatnya lebih cepat,” tegas Speiser. Itu karena AI bisa mengerjakan banyak tugas sekaligus. Beban pekerjaan yang kalau dikerjakan otak manusia bakal tak sanggup.

Lebih lanjut ia bahkan mengatakan AI bisa membantu para pekerja teknologi di bidang coding, pekerja konten, pemasaran, dan SEO. 

——————

Kembali ke unggahan Lee tadi, saya pun tergelitik untuk bertanya pada Lee: “Bagaimana para reporter dan editor bisa bertahan dan tetap relevan?” Mengingat ChatGPT bisa bekerja dengan kemampuan dan keterampilan yang pekerja kata miliki.

Lee mengatakan kita para pekerja kata dan pewarta sesungguhnya tidak perlu begitu antipati pada ChatGPT atau Kecerdasan Buatan apapun yang nanti muncul dengan alasan berikut ini.

JURNALISME TIDAK CUMA MENULIS

Kata Lee, sebagian besar pekerjaan pewarta melibatkan banyak hal dan menulis hanyalah secuil pekerjaan mereka.

Mendapatkan ide berita yang menarik (scoop) misalnya tak bisa dilakukan Kecerdasan Buatan sebagus apapun dia bisa bekerja. Hal ini cuma bisa dilakukan manusia yang punya otak yang bekerja dengan kejelian dan insting berita yang terasah.

PENGETAHUAN DAN PENGALAMAN MANUSIA TAK TERGANTIKAN

Pakar SEO Andrew Holland menanggapi bahwa meski memang bakal ada guncangan di dunia pekerja kata, tak bisa disangkal bahwa ada “tacit knowledge” milik manusia yang tidak bisa digantikan oleh Kecerdasan Buatan ini.

Apa sih yang dimaksud dengan “tacit knowledge” ini?

Maksudnya adalah pengetahuan dan pengalaman yang kita serap selama kita menjalani kehidupan sebagai manusia.

Inilah yang membedakan kita manusia dan mesin: pengalaman hidup. Mesin secerdas apapun masih belum bisa memilikinya. Entah nanti di masa depan.

KEPERCAYAAN

Kita niscaya akan tiba pada satu periode saat banyak tulisan dan konten dihasilkan dengan AI ini. Setidaknya ini akan terjadi sampai satu dekade mendatang.

Tapi sebagai manusia pekerja kata, kita tidak perlu menangis sebab di sini kita masih bisa menggunakan senjata pamungkas: kepercayaan, ungkap Speiser.

Ya, saat semua teks dibuat oleh robot, teks yang dibuat oleh manusia bakal langka dan lebih dipercaya. Masyarakat akan mencari-cari konten yang dibuat oleh sesama manusia karena pada hakikatnya konten ya dibuat oleh manusia untuk manusia demi menyampaikan sebuah pesan yang bermuatan emosi atau pemikiran.

PELUANG DARI KECERDASAN BUATAN

Masih menurut Speizer, bagi Anda yang merasa bahwa AI bakal menggusur lapangan kerja, Anda harus menyesuaikan diri dengan kondisi industri terkini.

Bagaimana caranya?

Speizer menjelaskan sekilas bahwa dalam setidaknya 10 tahun mendatang, kita bisa tetap relevan jika kita bergabung dengan tim-tim yang menciptakan AI.

Jika Anda suka mengajar, Anda juga bisa belajar menggunakan AI dan menerapkannya di industri atau bidang Anda lalu mengajarkannya pada orang lain yang pasti membutuhkan agar tetap ada di barisan terdepan angkatan kerjanya.

Cara ketiga bisa tetap punya pekerjaan di era AI ialah dengan menggabungkan AI ke dalam sistem-sistem bisnis kita. Jangan malah menolak AI! Bunuh diri itu namanya. (*/) 

Russian Choreography Is The Best

I have no idea why Russians are the best in the dancing and artistry department.

Really.

They seem to excel in every synchronized stuff on the earth.

One that amazes me still is their performance at Tokyo Olympics 2020 in 2021 (confusing I know).

But here’s their best performance in the water to a score composed by Dennise Gordezov.

I love the tune but to no avail cannot find it anywhere on the internet.

So I keep it here.

“Parade of the Planets”, that’s how the performance is called. Justly called…

Pengalaman Mengganti Baterai Macbook Air Awal 2014 Agar Masih Bisa Dipakai di 2022

Oktober adalah awal musim gugur saat Apple mulai gencar menjual gawai-gawai model terbarunya.

Dunia heboh dengan antre para pembeli iPhone 14 dan iPhone 14 Pro yang katanya bisa zoom lebih jauh. Video zoom itu diposting seorang pengguna iPhone 14 yang menonton konser NCT yang gegap gempita. Meski ia berada jauh dari panggung toh masih bisa melihat muka para idolanya.

Tapi buat saya sih yang lebih memuaskan bukan memiliki gawai baru tapi bagaimana mempertahankan gawai lama selama mungkin.

Dengan semangat mempertahankan gawai lama ini, saya iba melihat Macbook Air saya yang sudah tak bisa beroperasi tanpa dicolok ke sumber daya saat dipakai sehingga saya tak mungkin beraktivitas jauh dari colokan atau power outlet. Agak merepotkan sih.

Tanggal 24 Oktober lalu saya putuskan menggunakan jasa Mac Arena yang berlokasi di SDC Gading Serpong, Tangerang, Banten untuk mengganti baterai Macbook Air keluaran tahun 2014 awal yang saya miliki sudah sejak Oktober 2014. Artinya sudah 8 tahun ya. Sungguh sangat lama untuk ukuran gawai. Apalagi jika dibandingkan dengan laptop Windows.

BACA JUGA: ADU MACBOOK AIR KELUARAN 2014 DAN 2020

Karena seri lama, Macbook ini juga cuma bisa pakai OS Big Sur. Tidak bisa update lagi dengan OS keluaran anyar.

Macbook Air saya ini tidak ada keluhan apapun sejak dulu. Sangat amat awet meski pernah terbanting karena kecerobohan. Tapi itu cuma sedikit penyok di pojoknya. Permukaan keyboard huruf N juga sudah hilang karena aus. Padahal saya tidak punya kuku yang panjang dan tajam lho. Anehnya cuma huruf N yang hilang. Haha.

Saya hubungi nomor WhatsApp yang tertera di website mereka. Kalau Anda ingin menghubungi, bisa di nomor (021) 29171182.

Awalnya saya dijelaskan bahwa baterai bisa diganti dan ada garansi sampai setahun kalau mau tapi begitu mengetahui tahun produksi laptop saya ini, pihak Mac Arena tidak sanggup memberi garansi sampai setahun. Haha nasib gawai lama.

Lalu saya iyakan saja dan diberi garansi 2 bulan deh. Ya daripada tidak ada sama sekali.

Biayanya total Rp1.299.000 (termasuk harga baterai baru dan biaya kunjungan teknisi ke tempat pelanggan). Tidak murah memang tapi cukup memuaskan dan praktis karena saya tinggal duduk di kantor atau rumah dan ada teknisi datang untuk mengganti baterai.

Untuk charger, alhamdulillah masih bisa dipakai lancar tanpa gangguan. Padahal usianya juga sama tuanya lho. Pokoknya alhamdulillah banget sih kalau punya gawai yang tahan lama. Irit banget ‘jatuhnya’. Mungkin lebih murah dan nggak merepotkan seperti gawai murah yang terus-terusan diservis. Capek pikiran dan repot saat bekerja. (*/)

BACA JUGA: BAGAIMANA MEMBERDAYAKAN MACBOOK AIR YANG SUDAH KUNO/ VINTAGE?

Pandawara Group: Teladan Anak Muda Pembuat Konten Viral Positif

TIKTOK saat ini memang jadi sarangnya kreator konten anak-anak muda. Tidak cuma yang membuat eneg, tapi juga ada yang positif sih.

Konten TikTok didominasi oleh konten ghibah, saling kritik, saling singgung, yang sedikit sekali faedahnya.

Dan saya tak mendapatkan manfaatnya… Menghibur sih tapi cuma bisa memperkaya diri mereka.

Untungnya buat orang lain dan masyarakat banyak apa?

Tapi untung tidak semuanya begitu.

Salah satu kreator konten anak muda yang berbeda dan menurut saya patut diikuti dan diteladani adalah Pandawara (Pandawara Group).

Anak-anak muda Bandung ini memulai memunguti sampah yang bertebaran di sekitar mereka. Entah itu di pinggir jalan, sampai ke sungai-sungai dan saluran air yang penuh dengan sampah plastik terutama.

Dari cerita-cerita mereka kita bisa tahu bahwa masyarakat Indonesia itu mentalitas manajemen sampahnya sangat amat primitif sekali.

Mereka pikir jika dibuang ke sungai, sampah akan hilang. Memang sih hilang dari pandangan mata tapi bukan berarti hilang dari muka bumi.

Cerita-cerita mereka juga menunjukkan bahwa sungai masih menjadi tong sampah raksasa bagi masyarakat kita.

Jorok, bodoh, dan tidak beradab banget sih memang.

Lucunya lagi masyarakat saling menyalahkan kalau ada banjir. Padahal ya salah mereka sendiri karena mereka yang tidak mau membayar jasa petugas pengumpul sampah.

Dan jijiknya lagi sih ada oknum masyarakat yang begitu tahu bahwa aksi bebersih itu akan diunggah ke TikTok dan begitu tahu mereka terkenal di TikTok, orang-orang tak tahu malu itu ikut aksi bersih dengan tujuan ingin tampil di video TikTok mereka. Mereka cerita ada pak RW yang mengatasnamakan aksi bebersih mereka untuk mengangkat reputasi mereka.

Gobloknya lagi, mereka ini sudah membersihkan sungai yang bukan di sekitar rumah mereka tapi masyarakat di sekitar sungai itu malah marah-marah. Alasannya karena sampah di sungai itu dibuang ke TPS padahal mereka Pandawara ini bukan warga setempat. Tapi kan logikanya, dibantu bebersih kenapa situ marah, bebal?? Hahaha. Sudah bodoh, jorok pula.

Lalu ada cerita lagi saat mereka menemukan sungai yang sudah dibersihkan dan ada sampah-sampah tak lazim yang berbau klenik, dari boneka santet yang dibuka perutnya lalu ada anggota Pandawara yang sakit sampai 3 hari. Ada juga kain putih mirip pocong yang dibuang ke sungai oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Dan apa yang dilakukan mereka sebenarnya belum menuntaskan masalah lingkungan kita yang amat parah. Karena mereka mengakui mereka cuma bisa mengurangi keparahan. Tidak bisa sampai membersihkan secara tuntas karena begitu sudah dibersihkan ada saja warga yang mengotori lagi. Bahkan ada warga yang buang sampah di depan mata mereka saat bersih-bersih. Padahal sudah tua jadi harusnya beri contoh yang baik lah. Haha. Sungguh tak tahu malu yaaaa.

Masalah sampah memang sudah jadi masalah nasional di negara ini. Masalah yang tak kunjung diberikan solusi serius oleh Jokowi dan pemerintah dari dulu sampai detik ini.

Saya sendiri akan memilih kandidat presiden atau pemimpin daerah yang memperhatikan masalah sampah ini.

Dan mungkin jika tidak bertemu ya, saya ingin pindah negara saja. Sudah muak saya melihat manusia-manusia tak bersyukur yang mengotori rumah mereka yang indah dan permai ini dengan sampah-sampah. (*/)

Masihkah Blog Relevan di Era TikTok dan Instagram?

Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan Hari Blogger Nasional dihantui dengan pertanyaan semacam “Apakah blogger masih rajin menulis?”, “Apakah blog masih relevan?”, “Memang masih ada yang baca blog ya?”.

Kalau jawaban saya: “Ya, blogging masih relevan dan pasti bisa bertahan kok di era apapun.”

Karena menurut saya blog itu mirip email. Keduanya boleh diolok-olok sebagai bentuk komunikasi internet yang primitif, tidak efisien, merepotkan, dan sebagainya.

Tapi lihatlah sekarang, setelah 30 tahun kita menggunakan internet, email dan blog masih ada kok dan mereka tidak serta merta hilang meski TikTok dan Instagram merajai.

Fenomena blog mirip dengan surat kabar dan radio juga. Kemunculan media komunikasi baru yang lebih segar dan canggih boleh saja menyita perhatian masyarakat dunia tapi saat semua yang baru ini masih belum bisa memberikan rasa nyaman dan aman (karena masih dalam tahap eksperimen dan eksplorasi), email dan blog sudah lumayan familiar dan menjadi media komunikasi yang lebih mudah dipahami teknik penggunaannya.

Mengonsumsi konten TikTok dan Instagram kurang bisa memberikan perspektif yang lebih mendalam. Dan tentu jika dikutip akan kurang meyakinkan.

Tapi tidak demikian dengan blog. Apalagi jika blog itu ditulis dengan kesungguhan. Tidak cuma berdasarkan opini belaka tapi ada logika, nalar, argumen yang disertai bukti kuat dan ilmiah yang ditambahkan.

Dan blog lebih aman dari kesalahpahaman karena ruang menjelaskan konteks dan duduk perkara sangatlah luas. Tak cuma sekadar 1-2 menit audio visual yang bisa disalahartikan jika tak disertakan konteksnya.

Kerawanan untuk disalahartikan inilah yang justru dimanfaatkan TikTok agar video bisa viral di populer.

Di blogosphere, tulisan yang viral ya memang karena isinya jelas, tajam, punya argumen yang kuat. Tidak menyesatkan. Clickbait mungkin cuma ampuh sesaat tapi tidak viral seterusnya karena orang bakal paham polanya. (*/)

Dunia Makin Sengsara, Bahkan Rusia

ENTAH siapa yang harus disalahkan dengan meluasnya gejala resesi ekonomi dunia saat ini.

Perang Rusia vs Ukraina yang meletus sejak dari Maret lalu sampai sekarang belum ada ujungnya. Bahkan setelah Jokowi mendatangi kedua negara dan mengundang kedua presiden negara serumpun itu ke pertemuan tingkat tinggi G20 di Bali nanti.

Di Indonesia sendiri, kehidupan rakyat juga sudah cukup sengsara ya. Gelombang PHK di startup dan pabrik-pabrik akibat melemahnya daya beli masyarakat yang dipicu tingkat inflasi yang makin tinggi sudah terasa efeknya.

Padahal baru saja kita lewat dari pandemi covid-19 dan sudah dihajar resesi yang sudah diumumkan secara resmi oleh IMF dan para petinggi negara kita tercinta.

Tapi bagaimana ya, ini itu seperti musibah buatan manusia sendiri. Bayangkan kalau kita nggak ada perang dan sok-sokan invasi negara lain. Ya Putin memang sering disebut sebagai pemicu semua kekacauan dunia ini tapi di balik tindakan invasi Putin itu juga sebetulnya pasti ada yang memicu. Blok Barat (NATO) pastinya sudah berulah juga.

Di Inggris sendiri resesi dan inflasi membuat sebagian anak sekolah kelaparan di jam istirahat. Ini Inggris yang notabene identik dengan status negara dunia pertama yang kaya dan maju. Kemakmuran sangatlah terjamin. Tapi mendengar berita itu, kita tentu bergidik. Jika Inggris saja begini sengsara, apalagi kita negara yang terjebak di status negara berkembang dan menengah?

Jadi siapa yang salah? Tak masalah siapa, karena yang penting kita sama-sama hidup makin susah sekarang.

Bahkan di Rusia, rakyatnya juga makin kesulitan. Tonton saja video YouTube satu ini.

Pengalaman Tes Kesuburan Pria

PEMERIKSAAN kesuburan pria memang tak pernah terlintas dalam benak saya.

Tapi saat ditawari mengikui secara cuma-cuma, saya pikir: “Kenapa tidak?”

Akhirnya saya ikuti dengan tujuan ingin memastikan apakah pola hidup yang selama ini saya jalani sudah tepat atau belum. Karena selama 1 dekade belakangan saya sudah mencoba hidup lebih sehat: menghindari begadang, berolahraga rutin, makan makan yang lebih sehat, dan sebagainya.

Jika memang pola hidup saya sudah tepat, mungkin saya bisa meyakinkan lebih banyak orang di luar sana untuk mengubah pola hidup mereka agar menjadi lebih seimbang dan sehat lagi.

Persiapan tes kesuburan ini cuma tidak berejakulasi selama 2-7 hari lamanya. Tidak terlalu lama karena jika terlalu lama memang volume air mani bakal lebih banyak tapi juga jumlah sel sperma yang mati juga makin banyak. Sementara jika kurang dari dua hari juga bisa banyak sel sperma yang kurang matang. Volume air mani juga bisa cuma sedikit.

Di Bocah Indonesia, pengambilan sampel air mani sendiri dilakukan di sebuah ruangan khusus yang dilengkapi layar televisi pemutar video dan juga kamar mandi untuk membersihkan diri sehabis ejakulasi. Karena saat ejakulasi, bisa jadi muncrat ke mana-mana.

Bagi yang muslim, tentu bisa langsung mandi wajib agar setelahnya bisa salat. Karena mengeluarkan sperma termasuk hadas besar dan harus membersihkan diri secara tuntas dengan mandi besar.

Untungnya di kamar mandinya sudah ada sabun, shampoo dan shower sehingga aktivitas pembersihan sangat mudah.

Yang mungkin agar mencemaskan ialah ruangan pengumpulan sampel ini bersebelahan dengan lab perawat (yang semuanya perempuan) dan juga ruangan dokter spesialis adrologi. Dan cukup cemas juga apakah akan terdengar dari luar. Haha.

Tiap pasien diberi waktu setidaknya 30 menit untuk mengeluarkan air maninya. Jika tidak bisa juga, katanya bakal diberikan lubricant atau cairan pelumas.

Memang agak tricky karena melakukan onani di ruangan yang asing bisa memengaruhi kondisi psikologis pasien juga.

Nah, setelah air mani dikumpulkan di wadah steril, pasien diberikan lembaran yang harus diisi tentang waktu pengumpulan sampel, apakah ada yang tercecer atau tidak. Ini karena volume air mani yang keluar sekali ejakulasi juga dihitung dalam kesuburan pria.

Hasil dikirimkan via email 3 jam kemudian. Angka-angkanya akan dibandingkan dengan standar keluaran WHO tahun 2021. Dan di sini pasien bisa menebak-nebak bahwa jika ada yang ditandai maka artinya ia perlu berkonsultasi lebih lanjut dengan androlog soal perbaikan mutu sperma agar bisa berpeluang lebih cepat punya anak.

Setiap pria setidaknya perlu melakoni tes ini agar mengetahui betul kesuburan mereka dan kondisi kesehatan mereka secara umum. Karena kesuburan juga ada kaitannya dengan kesehatan.

Jika memang ada yang perlu diperbaiki dalam pola hidup, androlog akan menyarankan intervensi yang diperlukan.

Bagi Anda pria yang masih subur, bersyukurlah karena masih bisa memiliki anak. Tapi ingat juga bahwa menjadi ayah bukanah sekadar kemampuan menghamili seorang perempuan tetapi juga apakah setelah bayi itu lahir, ayah biologis ini juga bisa membesarkan dan mendidik anak itu sebaik-baiknya untuk menjadi manusia yang berkualitas. Tidak sekadar lahir, hidup, dan sudah. Tapi setidaknya kehadirannya bisa bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

Bagi pria, ceklah kesuburan Anda apalagi jika ingin punya anak karena jangan sampai menuduh istri Anda tidak subur padahal sperma Anda sendiri yang kurang subur. (*/)

On tiktok and content consumption pattern

I have known some youtubers getting comments on their channels from their subscribers: “Hey why don’t you create TikTok videos? This could be viral. So useful and eye-opening…”

But not all youtubers welcome such encouragement to swift their territory. YouTube has become their comfort zone. 

I myself came from different content background. I grew up as a digital citizen as a blogger. I write stuff. I have never seen myself as an expressive personality that eloquently gets my messages across with my own voice, demonstrate things, and show my face carefreely for unclear purposes. As a yoga instructor, I know I have to show my body because this is my tool. But to show off my face is a different thing. I am no beauty blogger or model. 

With such prohibition in mind, i entered the TikTok world to share what I know and experience as a yoga and general movement practitioner. 

TiktTok has brought us to the new era of content packaging. Now we don’t have to make so much effort to create serious and professional YouTube content or a well researched blog post that may take days or weeks to craft and edit and polish. 

One can just record or even stitch videos and add a home-made, amateurish, blurry and shaky video with least preparation and simplest tools and it gets viral. Boom! Million views in a day. Crazy! 

The instant gratification is so much higher on TikTok than on Instagram or any other social media platforms. So high they are pushing themselves harder than ever before to surpass TikTok and its algorithm. 

%d bloggers like this: