Saat Pria Dilecehkan Pria

1536px-three-legged_race_28579807458329

Orang tua kadang lupa bahwa tidak cuma anak-anak perempuan mereka yang perlu diajari cara merespon para pelaku pelecehan yang mengintai diri mereka. Anak-anak laki-laki lebih jarang diajari perihal isu yang sama, karena menganggap pria tak mungkin dilecehkan. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

KADANG ada hal-hal yang tidak bisa diterima oleh akal padahal terjadi benar. Seperti fenomena sebagian kaum pria yang dilecehkan oleh sesamanya. Pelecehan ini bukan semata dalam konteks verbal atau candaan. Tetapi juga sudah ke pelecehan fisik yang sangat mengganggu dan bahkan traumatis.

Parahnya karena budaya masyarakat yang masih cenderung paternalistik, kaum pria tidak bisa secara baik merespon keadaan yang di dalamnya mereka seharusnya bertindak garang terhadap si oknum peleceh. Ini karena di dalam benak mereka tidak pernah ada contoh kasus seorang pria yang merasa terlecehkan oleh pria lain. Mereka juga tidak pernah diedukasi mengenai bagaimana cara menanggapi tindakan-tindakan yang tak senonoh sesuatu yang sangat berbeda dari para perempuan yang posisinya jauh lebih rentan sejak lama sehingga mereka sudah lebih terampil soal edukasi seperti itu. Kita lihat saja di lingkungan keluarga kita, apakah kita sudah lazim menemukan orang tua yang secara sengaja mengedukasi anak laki-laki mereka jika mereka menghadapi predator atau pelaku pelecehan seksual?

Konstruksi paternalistik yang mengukuhkan ilusi bahwa pria adalah jenis superior ini kemudian melahirkan “toxic masculinity”. Di AS, merebaknya tindak kekerasan penembakan massal di sekolah-sekolah diduga juga turut dipicu oleh bom waktu ‘toxic masculinity’ ini. Secara gamblang, toxic masculinity ini merupakan “elemen maskulinitas yang mendorong dominasi pria dan mencegah pria untuk menunjukkan emosi mereka” (dailybeast). Di dalam cakupan jenis emosi-emosi itu ada juga emosi sedih dan marah yang seharusnya mereka tunjukkan setelah diperlakukan tidak senonoh oleh pihak lain. Tetapi karena banyak pria tidak melihat contohnya di dalam masyarakat sekarang ini, mereka kebingungan dan akhirnya memendamnya sebab tidak tahu ke mana harus menyalurkannya. Akhirnya semua emosi kemarahan dan kepedihan tadi terpendam, meledak dan mencederai lebih banyak pihak yang tak bersalah.

Seorang teman saya, sebut saja Y, menceritakan bahwa dirinya pernah menjadi korban dari perlakuan tidak senonoh seorang pria saat berada di dalam bu Trans Jakarta yang penuh sesak. Kondisi bus yang penuh memang sangat rawan dengan tindak kejahatan dan pelecehan semacam ini. Dan ini tidak cuma menimpa perempuan! Para pria bisa saja mendapati diri mereka digerayangi dan diremas tanpa persetujuan mereka. Dan ini bukan perdebatan ‘enak atau tidak’, tetapi lebih pada penerobosan tanpa izin ruang-ruang pribadi yang semestinya dipatuhi oleh pihak lain. Jika kaum Hawa lebih rawan dengan tindakan peremasan payudara atau bokong, kaum pria juga bisa dilecehkan jika dada, bokong, atau genitalianya disentuh oleh pihak lain tanpa persetujuan. Kasus yang menimpa teman saya ini mungkin jarang diceritakan karena pria akan malu jika bercerita soal pelecehan yang menimpanya. Dan di TKP, pria juga cenderung akan kebingungan apakah ia akan berteriak untuk bisa menghukum si pelaku atau bertindak sendiri atau membiarkan diri dan menghindar saja karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Teman saya ini berdiri dengan penumpang pria lain dan tidak pernah menyangka bahwa seorang pria di dekatnya berupaya menyentuh area pribadinya. Reaksinya saat itu tak begitu jelas, karena ia memilih untuk hanya menatap mata si pelaku dengan tajam untuk memberikannya semacam ancaman. Tetapi toh, pandangan tetap bukanlah suatu hukuman riil yang efektif. Ada peluang ia masih merasa aman dan akan meneruskan perilaku yang sama pada orang lain.

Lain lagi dengan teman saya yang lain, sebut saja F. Ia pernah dua kali menjadi korban tindak pelecehan di kendaraan umum (di kereta penuh sesak) yang ia hanya pendam saja hingga sekarang. Kejadian ini terjadi saat ia masih remaja (duduk di bangku SMP/ SMA). Ia pernah berdiri di gerbong kereta yang sesak. Di depannya seorang pria menghadap ke wajahnya dan tampak serius menatap ke depan tetapi bukan ke wajahnya. Tanpa ia sangka, ia merasakan ada sentuhan tangan yang meremas alat vitalnya. “Karena gue masih kecil, gue belum begitu paham. Kok gini? Gitu aja gue mikirnya. Gue pikir cuma nyentuh ga sengaja tapi lama-lama nggak nyaman,” kata F. Respon F saat itu ialah langsung menjauh dari si oknum. Ini karena ia merasa ada yang tidak benar dengan perilaku orang tersebut. Dan ia merasa ‘beku’, tidak ada yang bisa lakukan dalam kondisi itu. Tindakan yang masuk akal baginya adalah dengan menjauh saja. Meskipun ini bukan solusi yang final dan efektif karena si oknum bisa melancarkan perbuatannya pada calon korban lain.

Di kesempatan sial lainnya, F juga harus berdesakan dan berdiri di kereta. Kali ini ia tidak diserang dari depan sebagaimana sebelumnya. Sekarang ia diburu dari belakang. “Gue berdiri, sementara orang itu juga berdiri di belakang gue. Tiba-tiba gue rasain di pantat gue, orang itu sengaja nyentuhin burungnya ke pantat gue,” Y menceritakan pengalamannya yang pahit itu pada saya. Masalahnya ialah bagian pribadi oknum tersebut mengalami ereksi hebat dan Y merasakan seolah ia dipaksa untuk menjadi pelampiasan seksual si pria di belakangnya. Lagi-lagi, ia tidak bisa berbuat apapun selain menghindar, mencari tempat berdiri lainnya yang tidak bisa dijangkau oleh si predator seks.

Teman saya yang lain, J, menceritakan dirinya menjadi korban perlakuan tak pantas dari teman SMP-nya. Saat itu, ia berjalan di koridor sekolah dan kemudian seorang anak laki-laki di kelas lain berlari kencang ke arahnya dan tanpa disangka-sangka oleh J, anak laki-laki itu selama sedetik dua detik telah meremas kemaluan J dan terus berlari. “Setelah lanjut berlari, ia berhenti dan menatap saya, seolah menganggap tindakannya itu tidak salah, sepele dan bisa dimaklumi,” terang J kesal.

Bercermin dari semua pengalaman ini, kita semestinya mulai membuka mata bahwa:

Tindakan pelecehan bisa menimpa siapa saja.

Ini bukan soal gender; bahwa pria kebal dari tindakan semacam itu dan wanita pastilah korban. Baik pria dan perempuan bisa menjadi korban. Pelakunya juga demikian, bisa bergender pria dan wanita. Jadi, jangan sampai kita terkecoh! Dan sekarang saatnya jika Anda pria yang merasa pernah menjadi korban tindakan pelecehan semacam ini, Anda tak lagi merasa bungkam dan malu karena membuka pengalaman itu pada orang lain bisa jadi membuka kelemahan Anda juga. Jangan sampai juga pria-pria yang malu dengan pengalaman pelecehan itu membungkam diri dan menyalurkan amarah dan rasa terlukanya ke dalam bentuk-bentuk yang lebih destruktif, seperti tindak kekerasan dan membalas perlakuan serupa ke orang lain yang tak bersalah.

Kaum pria juga mesti membuka diri dengan teman-teman dekat mereka dan menanggapi cerita dan pengalaman ini dengan lebih baik. Tidak menanggapinya sebagai guyonan belaka (meskipun pada awalnya pasti sangat sulit untuk menceritakan ini tanpa adanya komentar-komentar usil dari teman yang mengira kita bercanda atau mengira kita hanya terlalu sensitif atau berhalusinasi). Bila kita dihadapkan pada seorang teman yang sudah mau membeberkan rahasianya pada kita, sebaiknya kita juga tidak menanggapi dengan sembarangan. Seolah hal serius itu merupakan bahan candaan. (*/)

Menjembatani Dunia Akademik dan Industri

Berpendidikan tinggi tidak selalu berarti mudah mendapatkan pekerjaan. Faktanya, menurut data BPS per Februari 2018 persentase pengangguran terbuka berlatar belakang universitas mencapai 6,31%, masih kalah rendah dengan lulusan SD (2,67%) dan SMP (5,18%). Masih menurut BPS, persentase lulusan perguruan tinggi yang terserap pasar tenaga kerja dari jumlah total lulusan perguruan tinggi cuma sekitar 12%. Bila tidak tertangani, masalah ini akan berdampak besar pada masa depan bangsa.

Apa penyebabnya? Dan bagaimana Sampoerna School System berkontribusi dalam pemecahan masalah besar bangsa ini?

Untuk mengupas isu ini, Marshall Schott (Chief Academic Officer di Sampoerna School System) berdiskusi dengan Desi Anwar dari CNN Indonesia. Kiprah Schott di bidang pendidikan tinggi tidak diragukan lagi. Sebagai catatan, Schott telah memiliki pengalaman dalam bidang pendidikan tinggi selama 18 tahun sejak bekerja di University of Houston hingga Lonestar College sebelum kemudian bergabung dengan Putra Sampoerna Foundation sejak 2015 lalu untuk menangani strategi dan operasional.

Bagaimana pendapat Anda tentang kondisi pendidikan di Indonesia yang masih banyak perlu dibenahi, dari mutu SDM dan daya serap lulusan perguruan tinggi yang rendah hingga kurikulum yang terus berubah?

Kami menyaksikan adanya kesadaran dari pemerintah mengenai pentingnya reformasi pendidikan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi RI yang berpotensi menjadi salah satu dari 10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia sebagaimana dikemukakan oleh perusahaan konsultan McKinsey. Penambahan persentase anggaran pendidikan hingga 20% dari APBN juga menandakan adanya kesadaran tersebut.

Sementara itu, di lapangan ditemukan kesenjangan antara kurikulum yang diajarkan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja sekarang.

Saran untuk pemerintah agar reformasi pendidikan tercapai adalah membangun kerangka kerja berkualitas antara pendidikan, bisnis dan industri; meningkatkan relevansi antara kurikulum dan kebutuhan pasar tenaga kerja; dan memperbaiki mutu pengajar.

Bagaimana peran guru saat ini tatkala pengetahuan dapat diakses dengan sangat mudah?

Guru memiliki peran yang banyak dan kompleks sehingga harus dipilah. Di abad teknologi ini, para guru berperan sebagai fasilitator, bukan lagi sebagai sumber pengetahuan satu-satunya.

Bagaimana Anda menyiapkan anak-anak Indonesia yang belum familiar dengan peran guru sebagai fasilitator ini?

Kami melakukannya dengan mengadakan Konferensi Pendidik Nasional tiap dua tahun. Fokus kami dalam konferensi ini ialah pentingnya pendidikan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics). Dengan hibah dari USAID, kami merancang program untuk menarik guru-guru dari berbagai pelosok Indonesia dan menunjukkan cara menggunakan teknologi saat mengajar dengan lebih menarik dan efektif.

Hal apa yang dapat memberikan dampak nyata pada pendidikan Indonesia?

Kami mengusulkan desentralisasi dan deregulasi pendidikan tinggi. Kemendiknas diharapkan memberdayakan institusi dengan wewenang lebih besar untuk meningkatkan otonomi pendidikan. Saat otonomi tercapai, kreativitas dan inovasi dalam mengatasi permasalahan bangsa akan meningkat pula. Standar yang berlaku tidak hanya satu. Bisa berbeda-beda karena kondisi dan situasi tiap universitas juga berbeda-beda.

Dengan sumber daya yang terbatas, perlu dibedakan satu institusi dengan lainnya. Untuk institusi yang mendidik orang dengan kemampuan menengah (misalnya politeknik), diberlakukan standar yang lain dari institusi yang berfokus pada riset, teknologi, komersialisasi dan kepemimpinan kelas dunia.

Seperti apa pendidikan ideal di abad ke-21? Apa makna belajar sesungguhnya?

Saat ini penguasaan materi pelajaran tidak lagi cukup. Ekonomi kreatif dan inovatif membutuhkan berbagai keterampilan lain seperti keterampilan 3C (Critical thinking, Collaboration, Communication). Pengajaran yang bersifat interdisipliner juga membantu mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam ekonomi kreatif.

Karena Sampoerna School System menerapkan metode yang lain dari sekolah lain, kelas kami juga tampak berbeda. Dalam ruang kelas, murid-murid bisa berpindah tempat duduk sesuai kebutuhan proyek yang harus dikerjakan di hari tertentu. Peran guru sebagai fasilitator dan pengarah siswa serta memberi informasi untuk bereksplorasi. Para siswa dididik untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Tak peduli kondisi, mereka akan bisa bertahan di dunia yang makin dinamis berkat keterampilan yang bisa dialihkan.

Materi apakah yang dipelajari di Sampoerna University?

Materi interdisipliner dengan dasar yang luas menjadi materi inti kami. Yang menjadi ciri khas ialah kewajiban mengikuti kelas STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) karena 80% pekerjaan di masa datang akan membutuhkan kompetensi ini.

Bagaimana cara penilaiannya?

Penilaian dilakukan secara terus-menerus dan bersifat kumulatif. Ujian akhir hanya bagian dari keseluruhan, bukan satu-satunya penentu kelulusan.

Yang dinilai ialah penguasaan materi, penyelesaian tugas, kemampuan komunikasi, kegigihan dan partisipasi. Di sini harus ada keseimbangan antara soft skills dan pertumbuhan pribadi siswa.

Bagaimana semua ini diajarkan?

Kami mengajarkan ini dengan menggunakan konsep abstrak dalam beragam konteks. Siswa mesti dapat menerapkan berbagai pengetahuan dalam kondisi dan situasi yang berbeda-beda. (Baca: TEAM Expo 2018: Bangun, Buat, dan Jelajahi Melalui STEAM)

Investasi seperti apa yang diutamakan mengingat keterbatasan sumber daya ini?

Dengan anggaran yang terbatas, kami memfokuskan pada hal-hal yang memengaruhi hasil pembelajaran siswa seperti teknologi dan infrastruktur (kelas, guru dan sumber daya pembelajaran).

Apakah para guru juga harus meningkatkan kemampuan?

Hal ini menjadi tantangan global. Semua guru abad ini harus memperbaiki kualitas mereka. Saya melihat guru-guru muda lebih mudah beradaptasi dalam penerapan teknologi di kelas. (Baca: Meningkatkan Kualitas Guru untuk Persiapan Abad ke-22)

Bisakah ini dibawa ke seluruh pelosok Indonesia?

Kami menjangkau daerah-daerah terpencil dan bekerjasama dengan para guru dan pemimpin lokal untuk menerapkan metodologi pengajaran modern dan kerangka kerja Cambridge yang memiliki keunggulan konten.

Kami terlibat dalam kerjasama di tingkat sekolah dasar di daerah-daerah di Sumatra, Jatim dan Papua. Bentuk kerjasama ini ialah kemitraan bisnis antara perusahaan dan publik. Dengan upaya-upaya ini, industri dan bisnis diharapkan akan makin dekat dengan pendidikan.

Apa yang dibutuhkan dunia kerja saat ini?

Asian Development Bank (ADB) menyatakan hampir 40% lulusan perguruan tinggi menganggur atau setengah menganggur setelah 12 bulan lulus karena adanya kesenjangan kurikulum dan kebutuhan dunia kerja.

Sampoerna School System mengadakan dua forum dengan bisnis dan industri dalam enam bulan terakhir dan menemukan kebutuhan tenaga kerja dengan kemampuan berbahasa Inggris yang bagus. Perusahaan multinasional membutuhkan orang dengan kemampuan bahasa Inggris yang memadai untuk bisa bekerja lintasbatas, berkemampuan komunikasi baik, bekerja baik dalam tim, kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis, dan kepemimpinan. Semua ini soft skills yang tidak bisa diajarkan dalam kelas seperti materi dan keahlian.

Indonesia kehilangan lapangan kerja karena tidak bisa bersaing dengan tenaga kerja asing yang lebih mumpuni dalam bahasa Inggris. Apakah daya saing generasi saat ini lebih baik?

Potensi, bakat dan semangat memang sudah ada pada generasi Indonesia saat ini. Untuk mengoptimalkan itu semua, kami menggunakan sistem STEAM. Hanya saja patut dipahami bahwa Indonesia begitu luas sehingga untuk menjangkau anak-anak berpotensi dan memberikan mereka peluang belajar masih menjadi tantangan besar. Karena itu, harus ada kerjasama bisnis dan masyarakat dalam penyediaan beasiswa.

Menurut Kemenkeu RI, Indonesia kekurangan 30.000 insinyur per tahun tetapi hanya kurang dari 20% dari siswa di Indonesia yang belajar STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics). Dengan menguasai STEAM, kita tidak perlu cemas anak-anak kita akan menganggur setelah lulus.Kami bergembira dengan adanya sejumlah inisiatif dari pemerintah sejak 2015 yang memberikan harapan. Salah satunya ialah internasionalisasi pendidikan di Indonesia. Caranya ialah dengan melihat best practice dari negara-negara lain. Dengan demikian, percepatan pembangunan akan tercapai. (*/)

Bakat Itu Bernama Memiliki Anak

“Be the parent today that you want your kids to remember tomorrow.” ~Unknown

KERESAHANNYA ditumpahkan sekonyong-konyong pada saya sebagai satu-satunya pendengarnya di mall yang ramai itu. Ia menyapu keningnya dan menyibak rambutnya yang agak gondrong, suatu gaya potongan rambut yang jadi ciri khasnya selama ini. Gaya sisirannya di tengah, mirip Alam adik penyanyi dangdut Vetty Vera yang pernah melambung namanya berkat lagu “Sedang-sedang Saja”.

Katanya berapi-api di depan saya tetapi tidak pada saya karena ia tahu saya tidak bersalah:”Aku pikir aku tidak berbakat jadi ayah…”

Dalam banyak hal, teman saya ini memang tidak memiliki bakat yang mencengangkan. Ia pria biasa, tidak memiliki wajah rupawan, berlatar belakang keluarga jelata, pendidikan yang setinggi SMA, dengan kemampuan finansial yang biasa, kecerdasan dan pekerjaan yang rata-rata, dan kesalehannya juga tidak istimewa.

bicycle_in_the_hague_36

Anak bungsu teman saya ini sedang kecanduan ponsel cerdas. Siang malam tidak bisa berpisah dari benda laknat itu. “Sampai tugas rumah lupa. Belajar apalagi. Mengaji tidak mau. Salat di masjid juga ogah. Padahal bapaknya kalau di rumah juga sudah memberi contoh. Huh!” keluhnya sambil menerawang ke pemandangan di luar dinding kaca mall yang menyajikan tumpukan jendela kamar apartemen yang semuanya tertutup sedang ditinggalkan para pemiliknya yang bekerja bertebaran di sekeliling area bisnis di situ.

Saya pikir ia orang yang sudah tahu konsekuensi logis dari menikah adalah memiliki anak dan harus mendidiknya. Saya tidak menduga ia berani berpikiran seperti itu. Tentu itu tidak pernah ia sampaikan kepada istrinya di rumah, yang jauhnya ratusan kilometer dari sini.

“Kamu beruntung…,” tiba-tiba ia mengalihkan pandangan ke saya. “Kamu tidak perlu memikirkan masalah seperti itu.”

Saya menyengir. “Mungkin belum. Belum saatnya… Atau tidak akan,” tukas saya memberikan tanggapan yang ala kadarnya.

“Ternyata aku sadar aku bukan tipe orang tua yang ideal. Aku tidak ingin menceramahi anak-anakku. Aku ingin mereka paham dengan sendirinya,”imbuhnya masih dengan kegalauan akut. Jelas rasa galau bukan monopoli anak-anak milenal lajang atau mereka yang belum menikah. Itu penyempitan makna. Setiap manusia selalu dirundung kegalauan, dalam tingkatan dan keparahan yang bervariasi dalam setiap jenjang kehidupannya. Yang belum sukses mencapai tujuan hidup, galau karena ingin sukses. Yang sudah sukses mendapatkan sesuatu, galau karena ingin terus mempertahankan kesuksesan, tidak mau kehilangan sedikitpun dan memutar otak soal bagaimana mencapai kesuksesan yang jauh lebih tinggi. Terus, terus dan terus. Tiada habisnya.

Saya menimpali sebisa saya atau diam saja begitu ia usai memberondong udara dengan kata-katanya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan saja sampai ia puas. “Terserah kamu sajalah…”

Saya sarankan ia memberi contoh tapi ia menampik dengan alasan itu tidak efektif lagi. Ia sudah berusaha ke masjid saat waktu salat tiba, toh si anak masih saja bergumul dengan ponselnya. Kalau dimarahi, anak itu bakal ngambek. Akhirnya teman saya ini berpikir pendek:”Ya sudahlah, biarlah dia senang sedikit. Toh di sekolah sudah belajar dan nilai-nilainya sudah memuaskan.”

Saya mendengus panjang. Jelas sudah siapa biang keladinya sebenarnya. (*/)

 

Merasa Tak Kuasai Bahasa Inggris, Orang Ini Bunuh Diri

depressedKemampuan berbahasa asing terutama bahasa Inggris memang hampir menjadi sebuah keharusan dalam era globalisasi. Dalam banyak bidang, bahasa Inggris dipakai sebagai alat komunikasi utama. Bagi mereka yang berkemampuan bahasa Inggris terbatas, terdapat dorongan yang besar untuk mencapai penguasaan yang disyaratkan oleh berbagai lembaga yang hendak mereka masuki.

Akan tetapi, kita tidak tahu besarnya tekanan untuk belajar bahasa asing di masyarakat hingga kita tahu adanya kasus semacam ini. Mahkamah Agung Korea Selatan mengeluarkan putusan bahwa seorang pekerja kantor tewas dianggap melakukan bunuh diri karena tidak mampu menguasai bahasa Inggris. Penguasaan ini disyaratkan oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Sang pria yang bernama keluarga Oh itu sebenarnya bukan orang yang bodoh. Ia lulusan teknik sipil dari sebuah kampus kenamaan di Seoul dan mulai bekerja untuk konglomerat besar di tahun 1990. Oh lalu dipromosikan hingga ia menjadi kepala proyek konstruksi pabrik di Kuwait pada bulan Juli 2008 dan dikirimkan ke negara Timteng itu.

Sayangnya, ia tidak percaya diri dengan kemampuannya berbahasa Inggris. Kelemahannya itu membuatnya selalu merasa dihantui. Ia memutuskan belajar bahasa Inggris mati-matian namun tetap merasakan tidak ada banyak kemajuan yang dicapai. Tahun 2008, ia menghabiskan 10 hari di pabrik di Kuwait dan kembali dengan keyakinan kuat bahwa ia tidak kompeten untuk posisinya.

Setelah didiagnosis dengan gejala gastroentritis akibat stres yang berlebihan, Oh memberitahu perusahaannya bahwa ia tidak seharusnya ditugaskan ke luar negeri.

Oh kemudian dipromosikan manajer departemennya dua bulan setelah itu tetapi menulis dalam catatan hariannya bahwa ia tak bisa ke Kuwait lagi karena penguasaan bahasa Inggrisnya yang begitu buruk. Oh bahkan tak percaya diri dan ingin segera pensiun dini.

“Rasanya saya tak bisa bernapas,” tulisnya dalam catatan harian. Ia kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap bangunan kantornya.

Mengapa Banyak Orang India Pintar Berbahasa Inggris?

Kalau dibandingkan negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, Korea atau negeri Indo China seperti Thailand, kecakapan orang Indonesia berbahasa Inggris masih lebih bagus. Tetapi jika dibandingkan dengan orang Singapura, Malaysia, dan India, kecakapan kita berbahasa Inggris kurang sekali.
Bagaimana ini bisa terjadi?

Sopir taksi yang pernah saya jumpai menjelaskan mengapa rakyat India banyak yang pandai berbahasa Inggris. Rupanya karena di sana belajar bahasa Inggris bukan sebuah mata pelajaran pelengkap atau ekstrakurikuler semata. Semua orang diajari bahasa Inggris gratis.

Pemerintah India juga mendukungnya. Siapapun baik yang bersekolah menengah atau perguruan tinggi dapat dipastikan diajari bahasa internasional ini. Tidak seperti di tanah air yang mengharuskan bayar untuk kursus. Kata sopir taksi yang saya temui itu, kata mantan majikan Indianya dulu, pemerintah India memberikan subsidi untuk rakyat yang mau belajar bahasa pergaulan dunia ini. Jadi jangan heran rata-rata orang India berbahasa Inggris dengan lancar. Karena semuanya gratis! “Gratis, tinggal datang kalau mau belajar bahasa Inggris!”kata sopir taksi itu lagi.

Di India, tampaknya bahasa Inggris dianggap sebagai salah satu bekal penting dalam kecakapan menjalani hidup. Bukan hanya sekadar formalitas di rapor sekolah yang membuat murid hapal aturan berbahasa tetapi tersendat saat menulis memo atau surat pendek sehari-hari atau tergagap saat berhadapan dengan orang lain yang mengajak bercakap-cakap dalam bahasa Inggris sederhana. Mereka yang berpendidikan rendah atau tinggi pun menjadi pintar berbahasa Inggris. Bahasa Inggris sungguh-sungguh menjadi modal untuk lebih maju dan lebih sejahtera.

Mantan majikan sopir taksi itu buktinya. Sekolahnya tidak tinggi tetapi bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Dari keahliannya berbahasa (bahkan ia juga sempat belajar berbahasa Indonesia) , ia berani merantau dan berdagang di India lalu meninggalkan lingkungan masa kecilnya nan kumuh di India.

(Sumber foto: Wikimedia – portrait of Shah Nawaz Khan.jpg)

Autodidacticism: Learn on Your Own for Yourself

“You can get help from teachers, but you are going to have to learn a lot by yourself sitting alone in a room.” -Dr. Seuss

That describes pretty much perfectly my approach to any passion I have now. My linguistic cum literary pursuit and then yoga have always been approached like this.

That said, one needs to apply strict discipline while adopting this method because based on my experience, it is harder to guide yourself than others while learning. There are always excuses and justifications to make, that tells you,”It’s ok not to practice now. It’s ok not to be the best. It’s fine not to ….” And suddenly you find yourself a total failure. Stuck and sucked by your own feeble mind.

Meeting Saras “Effectual” Sarasvathy

With Saras Sarasvathy, an Indian professor at the University of Virginia’s Darden School of Business.
She is known for her passion in entrepreneurship and education, which later on led her to inventing the effectuation theory. You may find her as a keynote speaker on TED Talks and Big Think.

20140525-205822-75502503.jpg

Tidak Peduli Usia 90 Tahun, Pria Inggris Ini Selesaikan Pendidikan Doktoralnya

Seorang kakek yang pernah ikut berperang dalam Perang Dunia II menyelesaikan pendidikan doktornya (S3) 1 bulan setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-90.

Eric Woof, sang kakek yang dulu bekerja sebagai pengajar, merayakan prestasinya itu. Ia meraih gelar Ph.D. dari Lancaster University, setelah 74 tahun meninggalkan dunia kampus.

Woof yang tumbuh sebagai anak seorang pekerja pelabuhan di London ini mengatakan dirinya meninggalkan sekolah saat berusia 16 tahun untuk mendapatkan pekerjaan tetapi kemudian berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai guru matematika dan kembali belajar setelah memasuki usia pensiun.

“Kelulusan ini merupakan salah satu pengalaman paling memuaskan dalam kehidupan saya,” kata Dr. Woof.

“Saat dulu saya masih usia sekolah, saya tidak bisa kuliah di kampus,”ia menjelaskan.

Di dekade 1930-an, ia mendapatkan beasiswa ke grammar school (sebuah sekolah lanjutan yang menekankan pada bahasa Latin dan Yunani untuk bersiap menghadapi kurikulum pendidikan tinggi) tetapi dipindahkan ke Somerset di awal berkecamuknya perang dan harus meninggalkan bangku sekolah di usia 16 tahun dan bekerja keras, meskipun ia sebenarnya memenuhi syarat untuk kuliah di London University.

Ayah Eric menyuruh anaknya itu bekerja dan menghasilkan uang untuk menafkahi keluarga. “Saya kembali ke London sebelum serangan dan bekerja di sebuah kantor di West End. Kami harus pindah saat rumah kami rusak berat.”

Setelah mengabdikan diri pada RAF selama perang, Eric kembali ke pekerjaan asalnya, pindah ke utara di tahun 1952. Di usia 39 tahun, ia memiliki pekerjaan yang mapan dan seorang istri dan 4 anak.

“Saya memutuskan mengajar dan berpikir apakah saya benar-benar menginginkannya sebagai cara untuk menghabiskan waktu hidup ini. Istri saya sangat mendukung.”

Jadi ia mendapatkan kursi di universitas dan belajar menjadi guru matematika, dan bekerja di Appleby Grammar School, Cumbria dan di tingkat pendidikan selanjutnya selama lebih dari 20 tahun.

“Saya menyukai dunia mengajar karena memberikan kepuasan pribadi yang begitu besar.”

Dr. Woof mulai belajar di waktu senggang dan sukses mendapatkan gelar MA di University of East Anglia pada tahun 2003.

Tahun 2008, ia mulai belajar kembali di University of Cumbria. Di sini ia didorong untuk belajar kembali di program doktoral bidang pendidikan di Lancaster University.

“Pendidikan tinggi meningkatkan kualitas diri dan wawasan saya,” ia berujar.

“Suasana keseluruhan di sana sangat kondusif dan mendorong (diri saya). Saya suka bertemu mahasiswa lain dan staf yang juga sangat membantu. Saya menikmati bersama dan bekerja dengan orang-orang muda sehingga saya bergaul dengan baik dengan mahasiswa lain.”

Ia berharap bisa menyerahkan artikel untuk jurnal-jurnal profesional di topik favoritnya: pendidikan.

Dari keempat anaknya, Louise ialah pensiunan guru, Chris bekerja di University of Liverpool, dan kini sudah pensiun, Clare bergerak di bidang manajemen dan Francis bekerja di University of Salford. Istrinya Joan sudah meninggal tahun 1990.

“Saya sangat beruntung karena sudah diberkati dengan kesehatan yang baik dan dukungan banyak orang,”pungkasnya.

Apa yang dapat kita petik dari pencapaian Eric Woof ini?

3 Public Speaking Tips from a Shy Guy

image

Public speaking has always been and will always be so hard for introverted shy people, like me or some of you. And the best thing that inescapably has to come to introverted people is when they need (or are made) to come up in front or up on the stage to speak, deliver speech, lead, perform or teach.

I’m a shy person. And you don’t know how much I HATE public speaking.

At times I give up on public speaking. Totally. I’m not that eloquent or outspoken to be a personality that stuns everyone in a certain situation or room. I want to! But something holds me back. It’s the FEAR that holds me back, I get chained to the bar and fail miserably to move forward. To be a better version of myself. I have things, messages and ideas on my mind to get across, to get understood or challenged or agreed.

Come what may!!!

Public speaking makes it possible for me to convey my worth-noting messages to more people out there but the fear and public speaking anxiety turns out a little bit too much and I can’t let it be that way.

So I decided to get rid of the fear, though it doesn’t vanish completely. The fear is still inside but at the very least, it has turned more controllable than ever before.

So I have tried public speaking gigs for a few times (several hundreds of times, if teaching for 5 years is included) and never managed to speak like a world-caliber speaker but I get used to it anyway. It is most likely because I have no choice and I can’t leave the responsibility to anyone else. And voila! I find myself speaking in front of hundreds of audience, something that normally makes me tremble to death.

As we’re enough with the preamble, these are my tips for you.

1. Know exactly what you’ll tell your audience.

Master the material you would present like no one else can. You, therefore, can speak like an expert. Experts are not a bunch of geniuses knowing all things. They know merely a few things, but only too well!

Also, it’s important to pick ONLY the topics you have a full grasp of. That said, you know what to do when offered to speak publicly about things you hardly know. Either you say NO immediately or you’d better learn it fast, which puts more pressure on you.

To avoid disappointment in audience, provide clear description in advance what your speech is all about, and if necessary, tell them what you will not cover in upcoming speech or presentation. It’s fine for some to leave if they don’t feel interested in your talks but hey, isn’t that better than speaking and seeing your audience yawning and scratching heads all the time?
This very first point is fundamental to public speaking, regardless of the fact that you’re an introverted or extroverted one.

Once you understand it all, you suddenly feel more relaxed and a lot more outspoken when told to speak in public. It’s because you feel confident enough to say:”Hey everyone, I declare humbly I know this better than you all so please listen to me now. I’m telling you things you will find beneficial sooner or later.”

2. Be honest.

Honesty is the best policy, especially when you are presenting yourselves in front of many people. Once you want to give audience a false impression of you, they’re likely to think,”Does s/he really mean what s/he says? Is that really who s/he is in the reality? Should I believe what s/he utters?”

If you think you can easily impress them with lies, believe me that they won’t be impressed. Once they find out, they’ll loathe you instead. Thus, be blunt and be candid. You’ll impress more if you stick to this.

3. Befriend audience.

Although you’re the authority as the speaker, you can’t speak rudely to audience, telling them unpleasant words you usually keep for yourself or family members. Be their friends. Don’t preach, just share. That way, they’ll listen to you better. So don’t judge them if you find them wrong. Share what you experienced before without giving the impression that you’re the right one, or you have one right solution to the problems they are facing, and claim,”I’m the judge. I’m right, you’re wrong. Period.”

So don’t get cocky even if you have plenty to share and have got more to show off. As a speaker, you need to show off but make sure it’s done wisely. Remain humble and be fully aware of the fact that one or some of audience can know more than you, have more profound understanding than yours. Or else, you will humiliate yourself in the process.

Happy speaking!

Knowledge is Power. Wrong, It Is Intangible Asset.

“Knowledge is like money: to be of value it must circulate, and in circulating it can increase in quantity and, hopefully, in value.”- Louis L’Amour

Gone are the days when we highly think of knowledge as inheritance to pass on to the subsequent generation. We now study something with the mind set to reap financial stability after graduation.

Virtual Classes Anyone can Enter for FREE, Literally

Student laptop

Let’s study online. (Photo credit: Wikipedia)

Khan Academy

http://www.khanacademy.org/

Academic Earth – Online courses from the world’s top scholars
http://academicearth.org/

TED – Technology, Entertainment, & Design
http://www.ted.com/

MIT Open CourseWare
http://ocw.mit.edu/courses/

Stanford Engineering Everywhere
http://see.stanford.edu/see/courses.aspx

Open Yale Courses
http://oyc.yale.edu/

About U. – Collection of free online courses from About.com
http://u.about.com/

Wikiversity
http://en.wikiversity.org/wiki/Wikiversity:Main_Page

YouTube EDU
http://www.youtube.com/education?b=400

The Open University – Study at the OU
http://www3.open.ac.uk/study/
http://openlearn.open.ac.uk/

University of the People
www.uopeople.org

University of Reddit
http://ureddit.com/

Open Culture – The best free cultural & educational media on the web
http://openculture.com/

VideoLectures – Exchange ideas & share knowledge
http://videolectures.net/

CosmoLearning – Free educational website with thousands of courses & documentaries
http://www.cosmolearning.com/

(Credit goes to Johnathan Chung)

 

 

On Becoming a Polyglot

Becoming a polyglot certainly sounds like something too good to be true. So far, I have learned 3 foreign languages. And the learning process is painfully lengthy, really.
English was initially not attractive to me. Yet as I grew up, the demand was increasingly higher. I just thought it would be cool for me to master it. Though I know I am exactly not even close to natives, I am so glad I can make a living by doing what I love.
The second foreign language to learn is Korean. I learned it intensively at a language course for free, to my utter surprise. Now I still retain the hangeul mastery but almost lose all the vocabulary and frequently used expressions stored 1,5 years ago. Poor me.
The third is Japanese. Of all foreign languages I have studied, this might be the worst. I completely lost all the basic knowledge.
I have no regrets that I cannot have a full grasp of all as I tend to think of language learning as a process of quality. The profound and thorough understanding of a
language comes first. Being able to speak many languages is good but I would rather learn few with above average proficiency than many  resulting in a linguistic mess on my brain.
What do you think,folks? Which side are you on? Quality or quantity? Let us know what you think 😉
p.s. : My very first post written on Samsung Gio! Impression? Virtual keypads cannot replace physical conventional keyboard of a PC.