Institusi Pendidikan Tinggi Tak Bisa Dipercaya Lagi?

Di abad ke-21 semuanya berubah. Akses pendidikan seperti pintu gerbang yang terbuka lebar bagi semua orang. Pendidikan juga menjadi alat mobilitas sosial vertikal yang legal di banyak masyarakat. Maksudnya, orang tak peduli latar belakangnya kalau menuntut ilmu dengan baik pasti akan mendapat tempat di masyarakat. Yang miskin kalau mau belajar rajin pasti bisa lebih kaya melalui pendidikan yang dia punya. Hidupnya lebih sejahtera dan harapan hidupnya lebih panjang. Ya karena konon pendidikan tinggi tak cuma memberikan kecerdasan tapi ia juga membekali dengan kearifan, daya pikir dan kemampuan beradaptasi yang lebih baik dengan dunia yang terus berubah ini.

Tapi entah kenapa semakin hari terjadi pergeseran pola pikir yang memandang pendidikan sebagai hanya alat untuk meraih posisi dan kekuasaan di masyarakat. Pendidikan tinggi bukan lagi dicapai untuk tujuan mulia seperti meningkatkan taraf hidup masyarakat atau meratakan akses menuju ‘kolam’ pengetahuan bagi mereka yang ‘haus’.

Saat ini muncul semacam tren yang seolah menunjukkan pada kita bahwa pendidikan tinggi bisa dibeli. Untuk masuk ke perguruan tinggi yang berkualitas, kita bisa ‘membeli’ bangku dengan segepok duit.

Di sini saya ingin mengangkat 2 film yang membuka mata kita terhadap fenomena global ini. Betul, tren memprihatinkan ini tak cuma terjadi di Indonesia kok. Bahkan di negara-negara yang konon dicap lebih maju baik Barat dan Timur, hal yang sama juga ada dengan intensitas berbeda-beda. Untuk memberi gambaran tentang tren ini di dunia Barat saya pilih satu film dokumenter dan satu yang mewakili dunia Timur saya akan ambil sebuah serial drama Korea.

PENDIDIKAN SEBAGAI KOMODITAS DAGANG DAN SIMBOL STATUS

Film dokumenter pertama yang menyoroti fenomena turunnya kredibilitas perguruan tinggi ini adalah “Operation Varsity Blues: The College Admissions Scandal” (2021) yang tayang di Netflix. 

Kalau Anda pernah mengikuti berita tahun 2019, pernah ada kasus terkuaknya skandal penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus terkemuka AS yang melibatkan tokoh-tokoh masyarakat yang berprofesi sebagai pesohor, eksekutif top perusahaan, orang kaya, dan sebagainya.

Sosok yang kemudian ditemukan sebagai biang keladi ialah Rick Singer, yang melabeli dirinya sebagai seorang “konsultan independen”. Di sini istilah ini memakai tanda petik karena memang apa yang dilakukan oleh si Singer ini tak cuma memberi konsultasi soal pendidikan. Tapi masih banyak pekerjaan ‘plus plus’ yang dilakukannya agar para klien menjadi puas 1000%.

Di zaman sekarang, saat semua bisa dilakukan dengan alat komunikasi digital yang serba efisien dan cepat, rasanya memang bodoh untuk beralih ke dunia analog. Tapi yang tak banyak orang sadari ialah saat kita berkomunikasi secara analog alias tatap muka, kita lebih aman dari peretasan dan penyadapan. Untungnya, Singer ini tak berpikir sampai ke situ dan karena itulah penyelidikan FBI bisa berjalan lebih lancar jaya.  

Rick Singer mulanya cuma konsultan pendidikan biasa. Ia menjalani profesinya secara legal. Tak macam-macam. Namun, di tengah perjalanan ia makin paham bahwa ada tuntutan dari masyarakat terutama kelas atas untuk bisa memasukkan anak-anak mereka ke kampus-kampus bergengsi di AS dengan menghalalkan berbagai cara. Karena kita tahu, anak orang kaya belum tentu lebih pintar dan berbakat dari anak orang yang lebih proletar. Dan untuk menutupi kekurangan, anak-anak kaya ini dibantu orang tua mereka yang punya duit dan kekuasaan untuk masuk dengan bantuan Singer.

Secara legal, pekerjaan seorang konsultan pendidikan di AS ialah membantu persiapan tes SAT dan membantu anak menemukan kampus yang tepat untuk minat dan bakat mereka.

Singer mendirikan perusahaan layanan beasiswa atletik dan akademik “Future Stars” dengan ia sendiri sebagai presidennya. Lokasi Future Stars ada di Sacramento, California. Kelak perusahaan ini menjelma sebagai Singer Group yang mencap dirinya sebagai perusahaan konseling pendidikan dan bimbingan hidup makin ‘menggurita’.

Sebagai seorang pribadi, Singer dikenal sebagai guru les biasa. Ia dingin, jarang senyum, serius, dengan selera pakaian yang biasa saja. Untuk memberi kesan serius dengan profesinya sebagai pelatih akademik, ia memakai pakaian pelatih basket saat bekerja membimmbing anak-anak yang orang tuanya memilih jasanya.

Untuk bisa menjaring klien jetset, tentu tak bisa cuma mengandalkan marketing pola lama seperti word of mouth. Ia mencari kesempatan untuk presentasi di depan anggota klub country yang dihadiri orang-orang kaya raya yang memiliki anak usia sekolah. Dan di presentasinya, tentu ia tak bisa bersikap rendah hati. Ia menjanjikan hal-hal bombastis dan kadang kebohongan jika diperlukan untuk menarik para calon klien yang menggiurkan.

Dan Singer sanggup untuk berbuat apa saja demi keberhasilan anak-anak di bawah bimbingannya dalam mendapatkan kampus idaman. Tak jarang ia memalsukan data untuk mendaftar demi bisa memasukkan anak bimbingannya ke universitas pilihan. Kecurangan ini bahkan memalsukan jenis ras. Karena kampus-kampus ada kebijakan proporsi rasial, ada slot khusus untuk mereka yang bukan ras Kaukasia (kulit putih). Sehingga mereka yang mengaku ras Asia, Hispanik, kulit hitam bisa mendapatkan kesempatan masuk.

Diperkirakan ada sogokan 25 juta dollar yang dikumpulkan Singer dari ortu murid kaya untuk disalurkan ke para pelatih olahraga (untuk peminat beasiswa atletik) dan administrator universitas.

Kekeliruan dalam memandang perguruan tinggi, bukan sebagai wadah untuk meningkatkan kualitas manusia tapi malah menjadi alat mendapatkan prestise (yang berasal dari kata dalam bahasa Perancis yang artinya “tipu daya”) menjadi akar permasalahannya.

Masalah makin rumit saat pertumbuhan penduduk makin tinggi. Jumlah anak muda yang bersaing makin banyak. Meski sudah pintar kalau jumlah kursi yang tersedia tak bertambah juga percuma. Perbandingan pendaftar dan yang diterima makin menciut dari tahun ke tahun.

Sementara itu, universitas-universitas ini juga makin tersedot dalam kompetisi ranking “Best Universities” yang diperbarui dari tahun ke tahun dan seolah menjadi satu-satunya standar penentuan mutu pendidikan di sebuah universitas. Padahal ya belum tentu bisa mencerminkan standar kampus itu secara utuh dan objektif. Inilah yang namanya ilusi/ tipu daya.

Fakta lain yang menarik juga adalah bahwa olahraga kini juga dipakai sebagai alat untuk masuk ke perguruan tinggi. Namun, olahraga ini bukan olahraga yang lazim. Olahraga yang dimaksud adalah yang identik dengan kaum elit misalnya dayung, anggar, menunggang kuda yang tak bakal bisa dilakoni orang-orang dengan latar belakang kurang mampu atau di luar lingkaran elit kulit putih. Anak-anak kaya juga bisa dibantu untuk menonjol dan lebih dipertimbangkan dengan pemberian donasi berjuta-juta dollar kepada pembinaan olahraga tadi di kampus yang menjadi tujuan. Menantu Donald Trump Jared Kushner misalnya sebenarnya cuma anak berkecerdasan rata-rata tapi karena ayahnya bisa berkomitmen donasi 25 juta dollar ke kampus Harvard ya dia diterima.

Sejumlah pelatih olahraga di kampus Ivy League yang terjerat skandal ini bersama Singer di antaranya John Vandemoer pelatih tim layar di Stanford University, Donna Heinel direktur atletik senior, Jovan Vavic pelatih polo air di USC.

Tingkat stres di antara para calon mahasiswa juga makin mengkhawatirkan. Banyak yang merasa hidupnya hancur hanya karena gagal masuk ke universitas unggulan (‘Ivy League’). Padahal masih banyak universitas lain yang bisa dituju tapi karena kalah pamor, universitas-universitas tadi tak banyak dilirik.

Konspirasi Singer terendus pihak berwajib tatkala seseorang yang ditahan karena kasus sekuritas malah menyebut nama Rudy Meredith, seorang pelatih di Yale University, yang disebutnya meminta disuap. Dari Meredith, disebutlah nama Singer dan berawal dari sini pelan-pelan semuanya terbongkar.

Dalam pengawasan pihak berwajib, Singer diminta berkomunikasi terus dengan para CEO, selebriti yang menjadi kliennya dan terus mencatat percakapan mereka sebagai bukti persidangan. 

Sebanyak 50 orang yang terdiri dari pesohor, pelatih olahraga dan CEO terseret dalam skandal nasional memalukan ini. Termasuk di antaranya Lori Loughlin dan Felicity Huffman.

Yang disayangkan adalah begitu skandal ini terungkap, masyarakat malah makin memaklumi bahwa memang harga dan pengorbanan yang harus dibayar untuk bisa masuk kampus Ivy League memang tak bisa ditebus sembarangan orang bahkan mereka yang kaya dan terkenal sekalipun.

Dan inilah yang terjadi, karena kalau Anda cek di website pemeringkat universitas sedunia usnews.com, peringkat Stanford University, Harvard University, Yale University dan universitas yang namanya muncul di kasus ini tetap bertengger di peringkat atas.  

Yang perlu dibongkar lagi ialah persepsi masyarakat bahwa masa depan ditentukan oleh asal kampus seseorang, bahwa cuma lulusan kampus berperingkat top 10 atau top sekian di dunia yang bakal sukses dalam hidup. 

Yang terlupakan adalah bahwa pendidikan bisa dicapai di mana saja, di kampus mana saja, tak perlu kampus top menurut lembaga tertentu. Sekali lagi, masih banyak yang tertipu prestise yang cuma ilusi belaka. 

ASIA TAK BEDA

Di Asia, budaya menuhankan prestasi akademis juga tidak kalah dari Barat. Di negara-negara Asia yang dikenal sangat mengejar mutu SDM yang tinggi, pendidikan sudah seperti kebutuhan pokok. Ada bagusnya memang karena pendidikan bisa memperbaiki kesejahteraan rakyat tapi saat terlalu ekstrim, sebagian masyarakat menyalahgunakan pendidikan sebagai alat untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan dan tentunya gengsi alias prestise yang cuma ilusi. Dan akibatnya kesehatan mental anak-anak jadi korban juga.

Fenomena ini diangkat di drama “Sky Castle” yang ingin menyorot kegilaan orang Korea soal pendidikan tinggi yang bisa memberi mereka akses menuju ke kehidupan yang lebih ‘segala-galanya’ bagi anak-anak mereka. Tapi karena ini sudah menggejala di banyak negara Asia (tak cuma Korea), rasanya orang-orang tua Asia perlu juga menontonnya agar tidak menganggap pendidikan sebagai alat semata untuk keuntungan diri atau cuma sebagai pengatrol status ekonomi dan sosial keluarga.

Di “Sky Castle”, kita bisa menyaksikan pertarungan 4 keluarga demi prestise dan kebanggaan keluarga mereka masing-masing melalui prestasi akademis anak-anaknya. Diceritakan ada 4 ibu rumah tangganya yang menjadi titik pusat perhatian: Han Seo Jin (Yum Jung Ah), Lee Soo Im (Lee Tae Ran), No Seung Hye (Yoon Se Ah), dan Jin Jin Hee (Oh Na Ra). Ya patut dimaklumi, karena ibu-ibu seolah punya kewajiban mendidik anak-anak mereka sampai sukses. Sementara suami-suami menyibukkan diri mencari nafkah. Sistem patriarki yang kita juga bisa kita temui di tengah masyarakat Indonesia.

Masalah muncul saat masing-masing keluarga mencoba menggunakan anak-anak dan pencapaian akademis mereka di sekolah sebagai alat untuk mengatrol atau setidaknya mempertahankan status sosial ekonomi dan prestise di tengah kalangan terdidik, kaya dan sukses ini.

Muncullah sosok Kim Joo Young, seorang konsultan akademis yang berani menjamin anak-anak bimbingannya bisa siap masuk ke perguruan tinggi bergengsi idaman (orang tua) mereka. Profesi Kim ini mirip apa yang dilakoni Rick Singer juga. Layanan yang ia berikan cuma bisa diakses orang kaya dan terpandang yang ingin anak-anak mereka masuk ke perguruan tinggi bergengsi dengan menghalalkan segala cara.

Kim dibayar tinggi oleh para orang tua ini dan diamanati untuk melakukan segala cara demi mencapai tujuan akhir: mengantar anak-anak kaya ini lolos ujian masuk perguruan tinggi bergengsi di negara mereka. Sayangnya, cara-cara Kim membuat anak-anak itu rentan terhadap masalah psikologis dan mental juga. 

Di sini kita bisa perhatikan bahwa saat kompetisi dalam kehidupan masyarakat makin sengit, pendidikan tinggi digunakan sebagai salah satu cara ampuh untuk tetap berada di atas manusia-manusia lainnya. 

KEMBALI KE PENDIDIKAN TINGGI YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA

Rasanya tidak berlebihan kalau kita harus kembali ke fitrah pendidikan yang hakiki. Yang lebih tinggi dan agung daripada sekadar keuntungan pribadi atau keluarga dan golongan atau demi tujuan jangka pendek.

Kalau mengutip pemikiran mulia para pemikir, tujuan-tujuan pendidikan yang ideal ialah sebagai berikut:

“[…] the cultivation of curiosity and the disposition to inquire; the fostering of creativity; the production of knowledge and of knowledgeable students; the enhancement of understanding; the promotion of moral thinking, feeling, and action; the enlargement of the imagination; the fostering of growth, development, and self-realization; the fulfillment of potential; the cultivation of “liberally educated” persons; the overcoming of provincialism and close-mindedness; the development of sound judgment; the cultivation of docility and obedience to authority; the fostering of autonomy; the maximization of freedom, happiness, or self-esteem; the development of care, concern, and related attitudes and dispositions; the fostering of feelings of community, social solidarity, citizenship, and civic-mindedness; the production of good citizens; the “civilizing” of students; the protection of students from the deleterious effects of civilization; the development of piety, religious faith, and spiritual fulfillment; the fostering of ideological purity; the cultivation of political awareness and action; the integration or balancing of the needs and interests of the individual student and the larger society; and the fostering of skills and dispositions constitutive of rationality or critical thinking.” [sumber: https://www.britannica.com/topic/philosophy-of-education/Problems-issues-and-tasks]

Di negara kita, pendidikan direduksi menjadi cuma sarana meraih gelar atau tempat mencetak calon angkatan kerja produktif yang akan menyumbang nilai ekonomi ke GDP negara karena negara butuh pertumbuhan ekonomi yang cemerlang dan mesti naik dari tahun ke tahun. Tujuan mulia pendidikan seperti yang diungkap di atas malah terlupakan sama sekali dan bahkan digadaikan demi keuntungan jangka pendek.

Di sini, kita juga jumpai gelar-gelar akademik sebagai sebuah alat politik dan kekuasaan. SBY pernah dihadiahi gelar profesor kehormatan oleh Unhan. Yang kontrovesial adalah pengangkatan Megawati Soekarnoputri sebagai guru besar kehormatan Unhan karena kapasitas akademik dan karya ilmiahnya beliau dipertanyakan. Masalahnya adalah Megawati mengangkat topik yang berkaitan dengan dirinya sendiri sehingga otomatis objektivitasnya dipertanyakan. Karya tulisnya yang dianggap memuji-muji diri sendiri itu adalah “Kepemimpinan Presiden Megawati Pada Era Krisis Multidimensi, 2001-2004”. 

Yang lebih menggemparkan adalah pemberian gelar guru besar pada Nurdin Halid oleh Fakultas Ilmu Keolahragaan Unnes, setahun lalu (2021). Motivasi guru besar FIK Unnes yang memberikan gelar ini pada Nurdin dipertanyakan rekan sejawatnya sampai ia didepak dari grup WhatsApp Majelis Profesor Unnes. 

Keputusan FIK ini wajar dan patut dipermasalahkan karena sosok Nurdin memang sangat kontroversial dengan rekam jejaknya yang tak bisa dibilang bersih. Ia mantan terpidana korupsi. Sebagai pucuk pimpinan PSSI dulu, Nurdin juga dianggap biang keladi kemunduran sepakbola Indonesia. Menjamurnya mafia bola dan kultur bola yang tak mendukung perkembangan pesepakbola negeri ini pun dijadikan alasan mengapa Nurdin tidak pantas mendapat gelar kehormatan itu. Keputusan itu akhirnya menyulut api kemarahan BEM Unnes juga.

Akhirnya semua berpulang ke kita sebagai manusia pelakunya. Apakah kita akan mengizinkan semua ini terjadi terus-menerus sampai mengikis tujuan pendidikan yang ideal tadi? Atau kita akan mengambil tindakan konkret sebisa kita agar semua ini bisa disetop atau setidaknya dihalau agar tidak meluas di lingkungan terdekat kita? (*/)

Pandemic Diary: Using YouTube as a Source of Serious Learning

We all know YouTube. It’s a platform for video makers who want to monetize their skills, capture audience’s attention, and be famous, etcetera.

I do sometimes visit and enjoy YouTube. Not sometimes but most of the times. Almost every day. I see it as a source of inspiration. 

Of course I’m upset with the algorithm that always serves me with viral content on the homepage. It’s about the current information news, viral content that I don’t really like and I don’t really need. It doesn’t serve my purpose of going there.

Lately I just knew how we can actually learn from YouTube. You should actively and consciously seek.

So here’s the thing: we tend to be distracted and carried away as we are shown provocative headlines or titles of videos. So, the most important tip for learner’s on YouTube is that you should come with one purpose of learning and stick with it throughout the time. Well, of course that sounds boring. But it’s possible if you want to.

A friend  told a story how he learned a lot of stuff on YouTube. He boasted about learning architecture, fengshui, language, sports, and the list goes on, on this platform only.

He doesn’t really like reading books. He is not a text person. So enjoying videos is a lot easier for him.

But the problem is, how can we find a reliable source of learning on YouTube known for its crazy, misleading viral content?

Of course you can. Of course we can!

Make a deliberate search. Have an intention of what you are going to learn. You can’t just open YouTube and let your mind wonder and dragged and be served with algorithm and its stupid viral content.

You should make conscious efforts of staying on your learning path. Having a focus so you will be more directed. The algorithm will help you find more quality content afterwards. It’s all about mind game. Just show the algorithm who the real master is.

I do try to use this tip when on YouTube. But I want to learn I stay with my purpose and search only the content that I need most. I never let myself wonder. Oh, well maybe sometimes. Most of the time I tried to learn and seek inspiration from the content makers there.

I also try to learn philosophy on YouTube. I love visiting MJS Channel. It’s a channel featuring a group of academicians, philosophers, thinkers, clerics, and teachers. Here I also found an interesting teacher.

Unlike any other simplistic, or over simplistic, approaches of thinking any or every issue in our life nowadays, teaches me how to think clearly and objectively. Well, not entirely because I’m still learning as well.

This is an ocean of knowledge and I’m just dipping my toes in it. So the journey is still long and winding. (*/)

Kapan Prank Jadi Keterlaluan?

Beberapa waktu lalu kita tahu ada fenomena maraknya “prank” di media sosial, terutama YouTube. Bagi saya sendiri, konten semacam ini sebetulnya bukan barang baru. Cuma medianya saja yang berbeda.

Kalau dulu, acara-acara berformat prank juga sudah ada. Sebut saja “Spontan” yang dikenal di SCTV dengan dikomandoi Komeng. Acara setengah jam itu cukup populer dan menghibur.

Hanya saja yang cukup berbeda dari format prank zaman Spontan dan zama digital sekarang adalah sasaran dan cara mengerjainya.

Saya sendiri mengamati bahwa dalam format prank ala Spontan, saya lebih sedikit menemukan unsur bahaya atau merugikan yang teramat sangat bagi si korban prank. Dengan kata lain, memang korban dikerjai tapi tidak sampai habis-habisan atau membuat dia jadi menangis atau kecewa atau benci dengan si oknum.

Kita juga menemukan ada fenomena budaya April Mop yang akarnya sudah ada sejak zaman dulu. Dan ini bagian dari humor yang berkembang dalam kebudayaan manusia di mana saja. Humor menjadi bagian dari alat untuk membangun ikatan sosial di antara para anggotanya sehingga ada semacam solidaritas.

Prank sendiri bisa dibagi menjadi tiga jenis utama: “positive prank”, “neutral prank”, dan “negative prank”. Di era media sosial yang ‘kebablasan’ akhir-akhir ini, kita menyaksikan bagaimana negative prank menjadi fenomena dan merugikan orang lain baik secara material maupun psikologis.

Lalu bagaimana dengan positive prank? Prank yang positif juga ada yakni prank yang bertujuan baik, misalnya prank yang bertujuan untuk memastikan apakah seseorang memang mudah tertipu atau tidak.

Hanya saja, harus ada batasan. Apalagi di tengah attention economy seperti sekarang saat semua orang seolah sangat haus perhatian berkat media sosial, humor termasuk prank menjadi komoditas yang seksi untuk dijual. Pada gilirannya, orang-orang yang haus perhatian ini menghendaki konten yang melampaui batas agar bisa menarik perhatian khalayak ramai. Supaya viral mana bisa cuma membuat konten yang standar? Harus lebih ini, lebih itu! Inovatif dan ‘out of the box’!!! Tanpa peduli bahwa prank atau lelucon ini harus mengorbankan keselamatan orang lain.

Yang memprihatinkan lagi ialah makin banyak orang yang haus perhatian demi kepentingan ekonomi. Ini bisa ditemukan di kalangan YouTuber yang sangat mengutamakan ‘pageviews’ konten video mereka demi mendapatkan jumlah pelanggan yang lebih banyak yang pada gilirannya memperbanyak pundi-pundi mereka.

Di sisi para pemilik situs media sosial, hal ini memang juga menguntungkan karena situs-situs mereka dikunjungi makin banyak orang. Namun, di sisi kemaslahatan masyarakat, makin banyak orang yang dirugikan juga. Jadi, kalau ditilik dari motivasi, kemunculan prank di media sosial juga mirip dengan hoaks atau kabar bohong yang beredar di masyarakat kita.

Lalu kenapa kita suka meski kita tahu prank yang keterlaluan itu jelek? Psikolog berargumen bahwa hal itu tidak bisa dihindari karena prank adalah bentuk humor dan kehidupan manusia juga tidak bisa dipisahkan dari humor. Humor memberikan kita bentuk hiburan dan rekreasi yang murah dan terjangkau oleh siapa saja, tanpa harus membayar mahal akses atau tiket masuk menuju ke tempat-tempat hiburan seperti taman bermain, bioskop, dan sebagainya.

Dan kenapa juga orang tidak keberatan terlibat dalam prank? Psikolog berpendapat keterlibatan dalam prank memberikan kita sebuah tempat di dalam masyarakat atau lingkaran sosial di mana kita hidup. Dan ini sangat penting. Adanya pengakuan tersebut bagi sebagian orang sangatlah penting bagi mereka. Dengan ini, mereka percaya diri dan bangga.Dengan menjadi target prank, seseorang juga mungkin bisa dianggap sebagai bagian penting dalam sebuah kelompok.

Akan tetapi, saat prank sudah dilakukan di luar motivasi untuk membangun ikatan sosial yang positif dan sudah melanggar norma dan batasan kewajaran tentu kita harus segera mengambil tindakan tegas agar tidak terulang lagi. Prank yang membahayakan ini misalnya prank bunuh diri yang tentunya selain membahayakan si pelaku sendiri juga merugikan pihak-pihak lain yang ada di sekitar mereka. Atau kasus prank di Inggris yang sampai mengharuskan korbannya mengungkap riwayat medis yang seharusnya dijaga kerahasiaannya. Atau kasus prank di tanah air yang menyasar para pengemudi aplikasi online yang dikerjai sedemikian rupa yang membuat mereka kerepotan akibat pesanan fiktif.

Mereka yang membuat prank demi konten dan tujuan komersial mestinya sadar terhadap adanya batasan-batasan pidana dan etika yang ada dalam masyarakat kita ini sehingga tidak sembarangan membuat konten bertema prank yang malah merugikan pihak lain demi keuntungan pribadinya semata.

Di sinilah masyarakat kita perlu dididik soal literasi digital yang di dalamnya juga ada aspek etika digital. Bahwa masyarakat seharusnya sadar bahwa di dalam dunia maya juga berlaku aturan sebagaimana dalam dunia nyata.

Kala video-video prank ini marak, kita seharusnya menggunakannya sebagai momentum untuk menilik ke dalam lingkungan keluarga, sekolah dan sekitarnya serta menanyakan pada kita sendiri apakah kita sudah memberikan edukasi perihal penanaman etika.

Terlebih lagi ialah pemerintah termasuka instansi sekolah kita agar mengambil peran yang lebih aktif dalam menanamkan etika ke dalam pribadi anak-anak dan remaja usia sekolah agar tidak terseret arus tren bernama prank ini.

Pemerintah kita juga seharusnya bisa menggunakan kekuatannya untuk menekan dan mendesak para pengelola dan pemilik situs-situs media sosial seperti YouTube yang menjadi wadah konten semacam ini untuk mengambil tindakan tegas misalnya dengan menghapus konten prank yang melanggar etika. Dengan demikian, kita bisa menekan kemunculan konten-konten prank negatif dan mencegah para pembuatnya menangguk untung dalam bentuk apapun dari konten tersebut.

Solusinya tentu bukan dengan pemblokiran akses terhadap layanan media sosial seperti YouTube karena patut diakui manfaat yang didapatkan dari YouTube juga tidak sedikit bagi masyarakat kita. (*/)

Membaca yang Nikmat: Apa, Mengapa, dan Bagaimana

woman wearing green top reading book
Photo by Artem Bali on Pexels.com

Setelah seseorang lulus dari kuliah atau lepas dari pendidikan formal, biasanya kebiasaan membaca sudah luntur dengan sendirinya. Di masyarakat kita, orang yang membawa buku di kendaraan umum dianggap anak-anak mahasiswa. Saya sendiri pernah membuktikannya. Saat masih asyik membaca novel di moda transportasi umum, saya ditegur petugas agar mau menyerahkan tempat duduk saya untuk seorang pria yang lebih tua (paruh baya saja, belum terlalu renta). Yang mengejutkan pria itu malah menolak tawaran dan mengatakan,”Biarkan saja dia duduk. Dia sedang belajar, pak.”

Saya yang memang sudah lelah sehabis berolahraga gymnastik seharian menerima idenya itu dengan senang hati. Ya, dengan status penumpang seorang laki-laki yang masih muda dan sehat di angkutan umum (kecuali angkot) memang takdirnya adalah berdiri. Mau di bus Trans Jakarta atau komuter, penumpang laki-laki yang masih belia, kuat dan sehat tidak menjadi spesies prioritas untuk diberi tempat duduk. Jadi, saya cukup tersentak mengetahui laki-laki ini menyangka saya sedang belajar serius. Untunglah yang saya baca bukan komik dan mimik muka saya juga datar sehingga meyakinkan sekali jika saya berakting belajar.

Kembali ke masalah membaca, kebiasaan membaca memang masih dianggap belum bisa menghibur sepenuhnya. Kenapa? Mungkin karena di Indonesia ini, membaca masih dianggap sebagai kewajiban. Membaca adalah sebuah beban akademik. Aktivitas yang dilakukan jika ada tugas, atau untuk menyiapkan diri menghadapi ujian yang maha penting seperti Ujian Nasional.

Karena itulah, saat saya membaca tulisan novelis Ben Doinick yang berjudul “Why You Should Start Binge-Reading Right Now”,  saya sepakat dengan pemikirannya bahwa membaca (bahkan bagi mereka yang mengaku suka membaca pun) bisa menjadi kurang nikmat karena banyaknya godaan di sekitar kita dari ponsel pintar, media sosial, menonton film di Netflix, hingga kegiatan lain yang lebih memuaskan secara instan.

Saya teringat dengan sebuah percakapan dengan Prof. Marc Helgesen, Ph.D. yang mengajar di Miyagi Gakuin Women’s University, Jepang dan menjabat sebagai anggota dewan Yayasan Extensive Reading (ERFoundation.org).

Indonesia belum memiliki budaya membaca. Hal ini mengakibatkan adanya asumsi bahwa membaca hanya untuk dilakukan di kelas agar lebih pintar, dapat nilai bagus. Padahal jika kita bisa menerapkan metode Extensive Reading, yang artinya membaca materi/ buku yang isinya ringan dan menyenangkan sehingga kita merasakan kenikmatan dan kesenangan di dalamnya, secara perlahan kemampuan akademis dan linguistik kita juga turut membaik.

Misalnya, daripada hanya mengajarkan anak-anak untuk menghapalkan rumus tenses yang membuat mereka pusing itu atau hanya mengajarkan bagaimana membaca untuk memecahkan soal yang dihadapi di ujian nanti, guru bisa menugaskan mereka untuk memilih bahan bacaan yang mereka sukai kemudian barulah dari sana tenses diajarkan. Intinya, mulailah dari yang ringan dan menyenangkan dulu sehingga belajar lebih nikmat. “Membaca secara ekstensif lebih nikmat karena kita bisa ‘tenggelam’ dalam makna. Bukannya dengan mempelajari secara terpisah tata bahasa dan kosakata,” ujarnya.

Agar bisa lebih meleburkan budaya membaca dalam masyarakat kita, mari kita berikan contoh (bukan hanya menasihati tetapi kita sendiri menonton televisi!) dengan membaca buku-buku yang mudah dipahami, isinya ringan dan menyenangkan. Kenapa anak-anak? Karena mereka lebih mudah di’cuci otak’.

Lalu kenapa Membaca Ekstensif ini penting?

DI abad ke-21 yang sangat sarat dengan persaingan ini, anak-anak kita dan diri kita juga dituntut untuk bisa berpikir kritis, bertindak kreatif, berkolaborasi dan sebagainya. Dan semua ini tidak bisa dicapai dengan menghapal. Hanya membaca secara ekstensif-lah yang bisa mengantarkan ke sana. Dengan fondasi kuat dalam membaca dan bahasa, pintu peluang makin terbuka.

Siap membaca dengan lebih nikmat? (*/)

Saat Pria Dilecehkan Pria

1536px-three-legged_race_28579807458329
Orang tua kadang lupa bahwa tidak cuma anak-anak perempuan mereka yang perlu diajari cara merespon para pelaku pelecehan yang mengintai diri mereka. Anak-anak laki-laki lebih jarang diajari perihal isu yang sama, karena menganggap pria tak mungkin dilecehkan. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

KADANG ada hal-hal yang tidak bisa diterima oleh akal padahal terjadi benar. Seperti fenomena sebagian kaum pria yang dilecehkan oleh sesamanya. Pelecehan ini bukan semata dalam konteks verbal atau candaan. Tetapi juga sudah ke pelecehan fisik yang sangat mengganggu dan bahkan traumatis.

Parahnya karena budaya masyarakat yang masih cenderung paternalistik, kaum pria tidak bisa secara baik merespon keadaan yang di dalamnya mereka seharusnya bertindak garang terhadap si oknum peleceh. Ini karena di dalam benak mereka tidak pernah ada contoh kasus seorang pria yang merasa terlecehkan oleh pria lain. Mereka juga tidak pernah diedukasi mengenai bagaimana cara menanggapi tindakan-tindakan yang tak senonoh sesuatu yang sangat berbeda dari para perempuan yang posisinya jauh lebih rentan sejak lama sehingga mereka sudah lebih terampil soal edukasi seperti itu. Kita lihat saja di lingkungan keluarga kita, apakah kita sudah lazim menemukan orang tua yang secara sengaja mengedukasi anak laki-laki mereka jika mereka menghadapi predator atau pelaku pelecehan seksual?

Konstruksi paternalistik yang mengukuhkan ilusi bahwa pria adalah jenis superior ini kemudian melahirkan “toxic masculinity”. Di AS, merebaknya tindak kekerasan penembakan massal di sekolah-sekolah diduga juga turut dipicu oleh bom waktu ‘toxic masculinity’ ini. Secara gamblang, toxic masculinity ini merupakan “elemen maskulinitas yang mendorong dominasi pria dan mencegah pria untuk menunjukkan emosi mereka” (dailybeast). Di dalam cakupan jenis emosi-emosi itu ada juga emosi sedih dan marah yang seharusnya mereka tunjukkan setelah diperlakukan tidak senonoh oleh pihak lain. Tetapi karena banyak pria tidak melihat contohnya di dalam masyarakat sekarang ini, mereka kebingungan dan akhirnya memendamnya sebab tidak tahu ke mana harus menyalurkannya. Akhirnya semua emosi kemarahan dan kepedihan tadi terpendam, meledak dan mencederai lebih banyak pihak yang tak bersalah.

Seorang teman saya, sebut saja Y, menceritakan bahwa dirinya pernah menjadi korban dari perlakuan tidak senonoh seorang pria saat berada di dalam bu Trans Jakarta yang penuh sesak. Kondisi bus yang penuh memang sangat rawan dengan tindak kejahatan dan pelecehan semacam ini. Dan ini tidak cuma menimpa perempuan! Para pria bisa saja mendapati diri mereka digerayangi dan diremas tanpa persetujuan mereka. Dan ini bukan perdebatan ‘enak atau tidak’, tetapi lebih pada penerobosan tanpa izin ruang-ruang pribadi yang semestinya dipatuhi oleh pihak lain. Jika kaum Hawa lebih rawan dengan tindakan peremasan payudara atau bokong, kaum pria juga bisa dilecehkan jika dada, bokong, atau genitalianya disentuh oleh pihak lain tanpa persetujuan. Kasus yang menimpa teman saya ini mungkin jarang diceritakan karena pria akan malu jika bercerita soal pelecehan yang menimpanya. Dan di TKP, pria juga cenderung akan kebingungan apakah ia akan berteriak untuk bisa menghukum si pelaku atau bertindak sendiri atau membiarkan diri dan menghindar saja karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Teman saya ini berdiri dengan penumpang pria lain dan tidak pernah menyangka bahwa seorang pria di dekatnya berupaya menyentuh area pribadinya. Reaksinya saat itu tak begitu jelas, karena ia memilih untuk hanya menatap mata si pelaku dengan tajam untuk memberikannya semacam ancaman. Tetapi toh, pandangan tetap bukanlah suatu hukuman riil yang efektif. Ada peluang ia masih merasa aman dan akan meneruskan perilaku yang sama pada orang lain.

Lain lagi dengan teman saya yang lain, sebut saja F. Ia pernah dua kali menjadi korban tindak pelecehan di kendaraan umum (di kereta penuh sesak) yang ia hanya pendam saja hingga sekarang. Kejadian ini terjadi saat ia masih remaja (duduk di bangku SMP/ SMA). Ia pernah berdiri di gerbong kereta yang sesak. Di depannya seorang pria menghadap ke wajahnya dan tampak serius menatap ke depan tetapi bukan ke wajahnya. Tanpa ia sangka, ia merasakan ada sentuhan tangan yang meremas alat vitalnya. “Karena gue masih kecil, gue belum begitu paham. Kok gini? Gitu aja gue mikirnya. Gue pikir cuma nyentuh ga sengaja tapi lama-lama nggak nyaman,” kata F. Respon F saat itu ialah langsung menjauh dari si oknum. Ini karena ia merasa ada yang tidak benar dengan perilaku orang tersebut. Dan ia merasa ‘beku’, tidak ada yang bisa lakukan dalam kondisi itu. Tindakan yang masuk akal baginya adalah dengan menjauh saja. Meskipun ini bukan solusi yang final dan efektif karena si oknum bisa melancarkan perbuatannya pada calon korban lain.

Di kesempatan sial lainnya, F juga harus berdesakan dan berdiri di kereta. Kali ini ia tidak diserang dari depan sebagaimana sebelumnya. Sekarang ia diburu dari belakang. “Gue berdiri, sementara orang itu juga berdiri di belakang gue. Tiba-tiba gue rasain di pantat gue, orang itu sengaja nyentuhin burungnya ke pantat gue,” Y menceritakan pengalamannya yang pahit itu pada saya. Masalahnya ialah bagian pribadi oknum tersebut mengalami ereksi hebat dan Y merasakan seolah ia dipaksa untuk menjadi pelampiasan seksual si pria di belakangnya. Lagi-lagi, ia tidak bisa berbuat apapun selain menghindar, mencari tempat berdiri lainnya yang tidak bisa dijangkau oleh si predator seks.

Teman saya yang lain, J, menceritakan dirinya menjadi korban perlakuan tak pantas dari teman SMP-nya. Saat itu, ia berjalan di koridor sekolah dan kemudian seorang anak laki-laki di kelas lain berlari kencang ke arahnya dan tanpa disangka-sangka oleh J, anak laki-laki itu selama sedetik dua detik telah meremas kemaluan J dan terus berlari. “Setelah lanjut berlari, ia berhenti dan menatap saya, seolah menganggap tindakannya itu tidak salah, sepele dan bisa dimaklumi,” terang J kesal.

Bercermin dari semua pengalaman ini, kita semestinya mulai membuka mata bahwa:

Tindakan pelecehan bisa menimpa siapa saja.

Ini bukan soal gender; bahwa pria kebal dari tindakan semacam itu dan wanita pastilah korban. Baik pria dan perempuan bisa menjadi korban. Pelakunya juga demikian, bisa bergender pria dan wanita. Jadi, jangan sampai kita terkecoh! Dan sekarang saatnya jika Anda pria yang merasa pernah menjadi korban tindakan pelecehan semacam ini, Anda tak lagi merasa bungkam dan malu karena membuka pengalaman itu pada orang lain bisa jadi membuka kelemahan Anda juga. Jangan sampai juga pria-pria yang malu dengan pengalaman pelecehan itu membungkam diri dan menyalurkan amarah dan rasa terlukanya ke dalam bentuk-bentuk yang lebih destruktif, seperti tindak kekerasan dan membalas perlakuan serupa ke orang lain yang tak bersalah.

Kaum pria juga mesti membuka diri dengan teman-teman dekat mereka dan menanggapi cerita dan pengalaman ini dengan lebih baik. Tidak menanggapinya sebagai guyonan belaka (meskipun pada awalnya pasti sangat sulit untuk menceritakan ini tanpa adanya komentar-komentar usil dari teman yang mengira kita bercanda atau mengira kita hanya terlalu sensitif atau berhalusinasi). Bila kita dihadapkan pada seorang teman yang sudah mau membeberkan rahasianya pada kita, sebaiknya kita juga tidak menanggapi dengan sembarangan. Seolah hal serius itu merupakan bahan candaan. (*/)

Menjembatani Dunia Akademik dan Industri

Berpendidikan tinggi tidak selalu berarti mudah mendapatkan pekerjaan. Faktanya, menurut data BPS per Februari 2018 persentase pengangguran terbuka berlatar belakang universitas mencapai 6,31%, masih kalah rendah dengan lulusan SD (2,67%) dan SMP (5,18%). Masih menurut BPS, persentase lulusan perguruan tinggi yang terserap pasar tenaga kerja dari jumlah total lulusan perguruan tinggi cuma sekitar 12%. Bila tidak tertangani, masalah ini akan berdampak besar pada masa depan bangsa.

Apa penyebabnya? Dan bagaimana Sampoerna School System berkontribusi dalam pemecahan masalah besar bangsa ini?

Untuk mengupas isu ini, Marshall Schott (Chief Academic Officer di Sampoerna School System) berdiskusi dengan Desi Anwar dari CNN Indonesia. Kiprah Schott di bidang pendidikan tinggi tidak diragukan lagi. Sebagai catatan, Schott telah memiliki pengalaman dalam bidang pendidikan tinggi selama 18 tahun sejak bekerja di University of Houston hingga Lonestar College sebelum kemudian bergabung dengan Putra Sampoerna Foundation sejak 2015 lalu untuk menangani strategi dan operasional.

Bagaimana pendapat Anda tentang kondisi pendidikan di Indonesia yang masih banyak perlu dibenahi, dari mutu SDM dan daya serap lulusan perguruan tinggi yang rendah hingga kurikulum yang terus berubah?

Kami menyaksikan adanya kesadaran dari pemerintah mengenai pentingnya reformasi pendidikan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi RI yang berpotensi menjadi salah satu dari 10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia sebagaimana dikemukakan oleh perusahaan konsultan McKinsey. Penambahan persentase anggaran pendidikan hingga 20% dari APBN juga menandakan adanya kesadaran tersebut.

Sementara itu, di lapangan ditemukan kesenjangan antara kurikulum yang diajarkan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja sekarang.

Saran untuk pemerintah agar reformasi pendidikan tercapai adalah membangun kerangka kerja berkualitas antara pendidikan, bisnis dan industri; meningkatkan relevansi antara kurikulum dan kebutuhan pasar tenaga kerja; dan memperbaiki mutu pengajar.

Bagaimana peran guru saat ini tatkala pengetahuan dapat diakses dengan sangat mudah?

Guru memiliki peran yang banyak dan kompleks sehingga harus dipilah. Di abad teknologi ini, para guru berperan sebagai fasilitator, bukan lagi sebagai sumber pengetahuan satu-satunya.

Bagaimana Anda menyiapkan anak-anak Indonesia yang belum familiar dengan peran guru sebagai fasilitator ini?

Kami melakukannya dengan mengadakan Konferensi Pendidik Nasional tiap dua tahun. Fokus kami dalam konferensi ini ialah pentingnya pendidikan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics). Dengan hibah dari USAID, kami merancang program untuk menarik guru-guru dari berbagai pelosok Indonesia dan menunjukkan cara menggunakan teknologi saat mengajar dengan lebih menarik dan efektif.

Hal apa yang dapat memberikan dampak nyata pada pendidikan Indonesia?

Kami mengusulkan desentralisasi dan deregulasi pendidikan tinggi. Kemendiknas diharapkan memberdayakan institusi dengan wewenang lebih besar untuk meningkatkan otonomi pendidikan. Saat otonomi tercapai, kreativitas dan inovasi dalam mengatasi permasalahan bangsa akan meningkat pula. Standar yang berlaku tidak hanya satu. Bisa berbeda-beda karena kondisi dan situasi tiap universitas juga berbeda-beda.

Dengan sumber daya yang terbatas, perlu dibedakan satu institusi dengan lainnya. Untuk institusi yang mendidik orang dengan kemampuan menengah (misalnya politeknik), diberlakukan standar yang lain dari institusi yang berfokus pada riset, teknologi, komersialisasi dan kepemimpinan kelas dunia.

Seperti apa pendidikan ideal di abad ke-21? Apa makna belajar sesungguhnya?

Saat ini penguasaan materi pelajaran tidak lagi cukup. Ekonomi kreatif dan inovatif membutuhkan berbagai keterampilan lain seperti keterampilan 3C (Critical thinking, Collaboration, Communication). Pengajaran yang bersifat interdisipliner juga membantu mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam ekonomi kreatif.

Karena Sampoerna School System menerapkan metode yang lain dari sekolah lain, kelas kami juga tampak berbeda. Dalam ruang kelas, murid-murid bisa berpindah tempat duduk sesuai kebutuhan proyek yang harus dikerjakan di hari tertentu. Peran guru sebagai fasilitator dan pengarah siswa serta memberi informasi untuk bereksplorasi. Para siswa dididik untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Tak peduli kondisi, mereka akan bisa bertahan di dunia yang makin dinamis berkat keterampilan yang bisa dialihkan.

Materi apakah yang dipelajari di Sampoerna University?

Materi interdisipliner dengan dasar yang luas menjadi materi inti kami. Yang menjadi ciri khas ialah kewajiban mengikuti kelas STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) karena 80% pekerjaan di masa datang akan membutuhkan kompetensi ini.

Bagaimana cara penilaiannya?

Penilaian dilakukan secara terus-menerus dan bersifat kumulatif. Ujian akhir hanya bagian dari keseluruhan, bukan satu-satunya penentu kelulusan.

Yang dinilai ialah penguasaan materi, penyelesaian tugas, kemampuan komunikasi, kegigihan dan partisipasi. Di sini harus ada keseimbangan antara soft skills dan pertumbuhan pribadi siswa.

Bagaimana semua ini diajarkan?

Kami mengajarkan ini dengan menggunakan konsep abstrak dalam beragam konteks. Siswa mesti dapat menerapkan berbagai pengetahuan dalam kondisi dan situasi yang berbeda-beda. (Baca: TEAM Expo 2018: Bangun, Buat, dan Jelajahi Melalui STEAM)

Investasi seperti apa yang diutamakan mengingat keterbatasan sumber daya ini?

Dengan anggaran yang terbatas, kami memfokuskan pada hal-hal yang memengaruhi hasil pembelajaran siswa seperti teknologi dan infrastruktur (kelas, guru dan sumber daya pembelajaran).

Apakah para guru juga harus meningkatkan kemampuan?

Hal ini menjadi tantangan global. Semua guru abad ini harus memperbaiki kualitas mereka. Saya melihat guru-guru muda lebih mudah beradaptasi dalam penerapan teknologi di kelas. (Baca: Meningkatkan Kualitas Guru untuk Persiapan Abad ke-22)

Bisakah ini dibawa ke seluruh pelosok Indonesia?

Kami menjangkau daerah-daerah terpencil dan bekerjasama dengan para guru dan pemimpin lokal untuk menerapkan metodologi pengajaran modern dan kerangka kerja Cambridge yang memiliki keunggulan konten.

Kami terlibat dalam kerjasama di tingkat sekolah dasar di daerah-daerah di Sumatra, Jatim dan Papua. Bentuk kerjasama ini ialah kemitraan bisnis antara perusahaan dan publik. Dengan upaya-upaya ini, industri dan bisnis diharapkan akan makin dekat dengan pendidikan.

Apa yang dibutuhkan dunia kerja saat ini?

Asian Development Bank (ADB) menyatakan hampir 40% lulusan perguruan tinggi menganggur atau setengah menganggur setelah 12 bulan lulus karena adanya kesenjangan kurikulum dan kebutuhan dunia kerja.

Sampoerna School System mengadakan dua forum dengan bisnis dan industri dalam enam bulan terakhir dan menemukan kebutuhan tenaga kerja dengan kemampuan berbahasa Inggris yang bagus. Perusahaan multinasional membutuhkan orang dengan kemampuan bahasa Inggris yang memadai untuk bisa bekerja lintasbatas, berkemampuan komunikasi baik, bekerja baik dalam tim, kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis, dan kepemimpinan. Semua ini soft skills yang tidak bisa diajarkan dalam kelas seperti materi dan keahlian.

Indonesia kehilangan lapangan kerja karena tidak bisa bersaing dengan tenaga kerja asing yang lebih mumpuni dalam bahasa Inggris. Apakah daya saing generasi saat ini lebih baik?

Potensi, bakat dan semangat memang sudah ada pada generasi Indonesia saat ini. Untuk mengoptimalkan itu semua, kami menggunakan sistem STEAM. Hanya saja patut dipahami bahwa Indonesia begitu luas sehingga untuk menjangkau anak-anak berpotensi dan memberikan mereka peluang belajar masih menjadi tantangan besar. Karena itu, harus ada kerjasama bisnis dan masyarakat dalam penyediaan beasiswa.

Menurut Kemenkeu RI, Indonesia kekurangan 30.000 insinyur per tahun tetapi hanya kurang dari 20% dari siswa di Indonesia yang belajar STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics). Dengan menguasai STEAM, kita tidak perlu cemas anak-anak kita akan menganggur setelah lulus.Kami bergembira dengan adanya sejumlah inisiatif dari pemerintah sejak 2015 yang memberikan harapan. Salah satunya ialah internasionalisasi pendidikan di Indonesia. Caranya ialah dengan melihat best practice dari negara-negara lain. Dengan demikian, percepatan pembangunan akan tercapai. (*/)

Bakat Itu Bernama Memiliki Anak

“Be the parent today that you want your kids to remember tomorrow.” ~Unknown

KERESAHANNYA ditumpahkan sekonyong-konyong pada saya sebagai satu-satunya pendengarnya di mall yang ramai itu. Ia menyapu keningnya dan menyibak rambutnya yang agak gondrong, suatu gaya potongan rambut yang jadi ciri khasnya selama ini. Gaya sisirannya di tengah, mirip Alam adik penyanyi dangdut Vetty Vera yang pernah melambung namanya berkat lagu “Sedang-sedang Saja”.

Katanya berapi-api di depan saya tetapi tidak pada saya karena ia tahu saya tidak bersalah:”Aku pikir aku tidak berbakat jadi ayah…”

Dalam banyak hal, teman saya ini memang tidak memiliki bakat yang mencengangkan. Ia pria biasa, tidak memiliki wajah rupawan, berlatar belakang keluarga jelata, pendidikan yang setinggi SMA, dengan kemampuan finansial yang biasa, kecerdasan dan pekerjaan yang rata-rata, dan kesalehannya juga tidak istimewa.

bicycle_in_the_hague_36

Anak bungsu teman saya ini sedang kecanduan ponsel cerdas. Siang malam tidak bisa berpisah dari benda laknat itu. “Sampai tugas rumah lupa. Belajar apalagi. Mengaji tidak mau. Salat di masjid juga ogah. Padahal bapaknya kalau di rumah juga sudah memberi contoh. Huh!” keluhnya sambil menerawang ke pemandangan di luar dinding kaca mall yang menyajikan tumpukan jendela kamar apartemen yang semuanya tertutup sedang ditinggalkan para pemiliknya yang bekerja bertebaran di sekeliling area bisnis di situ.

Saya pikir ia orang yang sudah tahu konsekuensi logis dari menikah adalah memiliki anak dan harus mendidiknya. Saya tidak menduga ia berani berpikiran seperti itu. Tentu itu tidak pernah ia sampaikan kepada istrinya di rumah, yang jauhnya ratusan kilometer dari sini.

“Kamu beruntung…,” tiba-tiba ia mengalihkan pandangan ke saya. “Kamu tidak perlu memikirkan masalah seperti itu.”

Saya menyengir. “Mungkin belum. Belum saatnya… Atau tidak akan,” tukas saya memberikan tanggapan yang ala kadarnya.

“Ternyata aku sadar aku bukan tipe orang tua yang ideal. Aku tidak ingin menceramahi anak-anakku. Aku ingin mereka paham dengan sendirinya,”imbuhnya masih dengan kegalauan akut. Jelas rasa galau bukan monopoli anak-anak milenal lajang atau mereka yang belum menikah. Itu penyempitan makna. Setiap manusia selalu dirundung kegalauan, dalam tingkatan dan keparahan yang bervariasi dalam setiap jenjang kehidupannya. Yang belum sukses mencapai tujuan hidup, galau karena ingin sukses. Yang sudah sukses mendapatkan sesuatu, galau karena ingin terus mempertahankan kesuksesan, tidak mau kehilangan sedikitpun dan memutar otak soal bagaimana mencapai kesuksesan yang jauh lebih tinggi. Terus, terus dan terus. Tiada habisnya.

Saya menimpali sebisa saya atau diam saja begitu ia usai memberondong udara dengan kata-katanya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan saja sampai ia puas. “Terserah kamu sajalah…”

Saya sarankan ia memberi contoh tapi ia menampik dengan alasan itu tidak efektif lagi. Ia sudah berusaha ke masjid saat waktu salat tiba, toh si anak masih saja bergumul dengan ponselnya. Kalau dimarahi, anak itu bakal ngambek. Akhirnya teman saya ini berpikir pendek:”Ya sudahlah, biarlah dia senang sedikit. Toh di sekolah sudah belajar dan nilai-nilainya sudah memuaskan.”

Saya mendengus panjang. Jelas sudah siapa biang keladinya sebenarnya. (*/)

 

Merasa Tak Kuasai Bahasa Inggris, Orang Ini Bunuh Diri

depressedKemampuan berbahasa asing terutama bahasa Inggris memang hampir menjadi sebuah keharusan dalam era globalisasi. Dalam banyak bidang, bahasa Inggris dipakai sebagai alat komunikasi utama. Bagi mereka yang berkemampuan bahasa Inggris terbatas, terdapat dorongan yang besar untuk mencapai penguasaan yang disyaratkan oleh berbagai lembaga yang hendak mereka masuki.

Akan tetapi, kita tidak tahu besarnya tekanan untuk belajar bahasa asing di masyarakat hingga kita tahu adanya kasus semacam ini. Mahkamah Agung Korea Selatan mengeluarkan putusan bahwa seorang pekerja kantor tewas dianggap melakukan bunuh diri karena tidak mampu menguasai bahasa Inggris. Penguasaan ini disyaratkan oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Sang pria yang bernama keluarga Oh itu sebenarnya bukan orang yang bodoh. Ia lulusan teknik sipil dari sebuah kampus kenamaan di Seoul dan mulai bekerja untuk konglomerat besar di tahun 1990. Oh lalu dipromosikan hingga ia menjadi kepala proyek konstruksi pabrik di Kuwait pada bulan Juli 2008 dan dikirimkan ke negara Timteng itu.

Sayangnya, ia tidak percaya diri dengan kemampuannya berbahasa Inggris. Kelemahannya itu membuatnya selalu merasa dihantui. Ia memutuskan belajar bahasa Inggris mati-matian namun tetap merasakan tidak ada banyak kemajuan yang dicapai. Tahun 2008, ia menghabiskan 10 hari di pabrik di Kuwait dan kembali dengan keyakinan kuat bahwa ia tidak kompeten untuk posisinya.

Setelah didiagnosis dengan gejala gastroentritis akibat stres yang berlebihan, Oh memberitahu perusahaannya bahwa ia tidak seharusnya ditugaskan ke luar negeri.

Oh kemudian dipromosikan manajer departemennya dua bulan setelah itu tetapi menulis dalam catatan hariannya bahwa ia tak bisa ke Kuwait lagi karena penguasaan bahasa Inggrisnya yang begitu buruk. Oh bahkan tak percaya diri dan ingin segera pensiun dini.

“Rasanya saya tak bisa bernapas,” tulisnya dalam catatan harian. Ia kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap bangunan kantornya.

Mengapa Banyak Orang India Pintar Berbahasa Inggris?

Kalau dibandingkan negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, Korea atau negeri Indo China seperti Thailand, kecakapan orang Indonesia berbahasa Inggris masih lebih bagus. Tetapi jika dibandingkan dengan orang Singapura, Malaysia, dan India, kecakapan kita berbahasa Inggris kurang sekali.
Bagaimana ini bisa terjadi?

Sopir taksi yang pernah saya jumpai menjelaskan mengapa rakyat India banyak yang pandai berbahasa Inggris. Rupanya karena di sana belajar bahasa Inggris bukan sebuah mata pelajaran pelengkap atau ekstrakurikuler semata. Semua orang diajari bahasa Inggris gratis.

Pemerintah India juga mendukungnya. Siapapun baik yang bersekolah menengah atau perguruan tinggi dapat dipastikan diajari bahasa internasional ini. Tidak seperti di tanah air yang mengharuskan bayar untuk kursus. Kata sopir taksi yang saya temui itu, kata mantan majikan Indianya dulu, pemerintah India memberikan subsidi untuk rakyat yang mau belajar bahasa pergaulan dunia ini. Jadi jangan heran rata-rata orang India berbahasa Inggris dengan lancar. Karena semuanya gratis! “Gratis, tinggal datang kalau mau belajar bahasa Inggris!”kata sopir taksi itu lagi.

Di India, tampaknya bahasa Inggris dianggap sebagai salah satu bekal penting dalam kecakapan menjalani hidup. Bukan hanya sekadar formalitas di rapor sekolah yang membuat murid hapal aturan berbahasa tetapi tersendat saat menulis memo atau surat pendek sehari-hari atau tergagap saat berhadapan dengan orang lain yang mengajak bercakap-cakap dalam bahasa Inggris sederhana. Mereka yang berpendidikan rendah atau tinggi pun menjadi pintar berbahasa Inggris. Bahasa Inggris sungguh-sungguh menjadi modal untuk lebih maju dan lebih sejahtera.

Mantan majikan sopir taksi itu buktinya. Sekolahnya tidak tinggi tetapi bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Dari keahliannya berbahasa (bahkan ia juga sempat belajar berbahasa Indonesia) , ia berani merantau dan berdagang di India lalu meninggalkan lingkungan masa kecilnya nan kumuh di India.

(Sumber foto: Wikimedia – portrait of Shah Nawaz Khan.jpg)

Autodidacticism: Learn on Your Own for Yourself

“You can get help from teachers, but you are going to have to learn a lot by yourself sitting alone in a room.” -Dr. Seuss

That describes pretty much perfectly my approach to any passion I have now. My linguistic cum literary pursuit and then yoga have always been approached like this.

That said, one needs to apply strict discipline while adopting this method because based on my experience, it is harder to guide yourself than others while learning. There are always excuses and justifications to make, that tells you,”It’s ok not to practice now. It’s ok not to be the best. It’s fine not to ….” And suddenly you find yourself a total failure. Stuck and sucked by your own feeble mind.

Meeting Saras “Effectual” Sarasvathy

With Saras Sarasvathy, an Indian professor at the University of Virginia’s Darden School of Business.
She is known for her passion in entrepreneurship and education, which later on led her to inventing the effectuation theory. You may find her as a keynote speaker on TED Talks and Big Think.

20140525-205822-75502503.jpg

Tidak Peduli Usia 90 Tahun, Pria Inggris Ini Selesaikan Pendidikan Doktoralnya

Seorang kakek yang pernah ikut berperang dalam Perang Dunia II menyelesaikan pendidikan doktornya (S3) 1 bulan setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-90.

Eric Woof, sang kakek yang dulu bekerja sebagai pengajar, merayakan prestasinya itu. Ia meraih gelar Ph.D. dari Lancaster University, setelah 74 tahun meninggalkan dunia kampus.

Woof yang tumbuh sebagai anak seorang pekerja pelabuhan di London ini mengatakan dirinya meninggalkan sekolah saat berusia 16 tahun untuk mendapatkan pekerjaan tetapi kemudian berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai guru matematika dan kembali belajar setelah memasuki usia pensiun.

“Kelulusan ini merupakan salah satu pengalaman paling memuaskan dalam kehidupan saya,” kata Dr. Woof.

“Saat dulu saya masih usia sekolah, saya tidak bisa kuliah di kampus,”ia menjelaskan.

Di dekade 1930-an, ia mendapatkan beasiswa ke grammar school (sebuah sekolah lanjutan yang menekankan pada bahasa Latin dan Yunani untuk bersiap menghadapi kurikulum pendidikan tinggi) tetapi dipindahkan ke Somerset di awal berkecamuknya perang dan harus meninggalkan bangku sekolah di usia 16 tahun dan bekerja keras, meskipun ia sebenarnya memenuhi syarat untuk kuliah di London University.

Ayah Eric menyuruh anaknya itu bekerja dan menghasilkan uang untuk menafkahi keluarga. “Saya kembali ke London sebelum serangan dan bekerja di sebuah kantor di West End. Kami harus pindah saat rumah kami rusak berat.”

Setelah mengabdikan diri pada RAF selama perang, Eric kembali ke pekerjaan asalnya, pindah ke utara di tahun 1952. Di usia 39 tahun, ia memiliki pekerjaan yang mapan dan seorang istri dan 4 anak.

“Saya memutuskan mengajar dan berpikir apakah saya benar-benar menginginkannya sebagai cara untuk menghabiskan waktu hidup ini. Istri saya sangat mendukung.”

Jadi ia mendapatkan kursi di universitas dan belajar menjadi guru matematika, dan bekerja di Appleby Grammar School, Cumbria dan di tingkat pendidikan selanjutnya selama lebih dari 20 tahun.

“Saya menyukai dunia mengajar karena memberikan kepuasan pribadi yang begitu besar.”

Dr. Woof mulai belajar di waktu senggang dan sukses mendapatkan gelar MA di University of East Anglia pada tahun 2003.

Tahun 2008, ia mulai belajar kembali di University of Cumbria. Di sini ia didorong untuk belajar kembali di program doktoral bidang pendidikan di Lancaster University.

“Pendidikan tinggi meningkatkan kualitas diri dan wawasan saya,” ia berujar.

“Suasana keseluruhan di sana sangat kondusif dan mendorong (diri saya). Saya suka bertemu mahasiswa lain dan staf yang juga sangat membantu. Saya menikmati bersama dan bekerja dengan orang-orang muda sehingga saya bergaul dengan baik dengan mahasiswa lain.”

Ia berharap bisa menyerahkan artikel untuk jurnal-jurnal profesional di topik favoritnya: pendidikan.

Dari keempat anaknya, Louise ialah pensiunan guru, Chris bekerja di University of Liverpool, dan kini sudah pensiun, Clare bergerak di bidang manajemen dan Francis bekerja di University of Salford. Istrinya Joan sudah meninggal tahun 1990.

“Saya sangat beruntung karena sudah diberkati dengan kesehatan yang baik dan dukungan banyak orang,”pungkasnya.

Apa yang dapat kita petik dari pencapaian Eric Woof ini?

%d bloggers like this: