Agar Brand dan Bisnis Anda Bertahan dari Pandemi COVID-19

Di masa awal ditemukannya beberapa penderita COVID-19 di Indonesia, masyarakat fokus pada peningkatan gaya hidup sehat. Mereka meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga sistem kekebalan tubuhnya dengan melakukan banyak cara, seperti makan makanan bergizi, mengonsumsi suplemen kesehatan (jamu, multivitamin), berolahraga (melalui kelas daring di aplikasi maupun YouTube dan platform digital lainnya). Mereka juga makin sering menjaga kebersihan tangan sehingga penjualan produk pembersih tangan (hand sanitizer), cairan disinfektan berbahan dasar alkohol, sabun antikuman meningkat tajam.

Akan tetapi, begitu pandemi mulai menyebar lebih luas dengan ditandai oleh terus naiknya jumlah penderita COVID-19, kecemasan menjalar dan perilaku masyarakat akan makin mengarah ke pembelian bahan pokok dalam jumlah besar (stock-piling) yang agresif. Dan karena kegiatan di luar rumah semakin dibatasi, masyarakat juga akan makin bergantung pada platform belanja daring. Semua kegiatan jual beli dilakukan secara daring dan pengiriman paket makin tinggi frekuensinya. Inilah yang terjadi di China dan Italia, dua negara yang paling banyak mencatatkan jumlah penderita COVID-19.

Dan karena masa pandemi ini masyarakat lebih mencemaskan keselamatan, mereka juga lebih fokus pada belanja barang-barang kebutuhan pokok untuk bertahan hidup. Mereka terutama cenderung banyak membelanjakan uang dalam bentuk makanan siap saji yang bisa disantap kapan saja saat diperlukan tatkala karantina di rumah diperpanjang, makanan kaleng juga menjadi buruan.

Bisnis jual beli daring seperti Amazon.com justru makin moncer di masa pandemi ini. Tercatat Amazon.com malah kerepotan melayani pesanan pembeli dan sampai harus menambah jumlah karyawan sebanyak kurang lebih 100.000 orang. Belum lagi ada kemungkinan suplai sulit sehingga diperkirakan harga-harga barang kebutuhan pokok akan makin membubung tinggi.

Sektor-sektor yang Gugur

Dengan begitu cepatnya pandemi ini menyebar, bisnis-bisnis di bidang pariwisata, akomodasi (seperti hotel, penginapan) dan transportasi (seperti travel agent, maskapai penerbangan) sudah dipastikan terpukul hebat sebelum sektor lainnya terkena. Di Amerika Serikat saja, maskapai-maskapai penerbangan sudah meminta suntikan dana dari pemerintah agar tetap bisa terus beroperasi, dan tidak jatuh pailit karena kekurangan kas yang bisa diibaratkan darah bagi tubuh perusahaan. Hal ini bisa dipahami karena larangan bepergian (travel ban) diberlakukan di mana-mana.

Dan karena masyarakat tidak keluar rumah dan membatasi tingkat konsumsi mereka secara drastis hingga ke level kebutuhan pokok saja, laju ekonomi makin berat. Tidak heran jika bisnis barang elektronik rumah tangga (lemari es, AC), otomotif, ponsel pintar, serta produk-produk kebutuhan sekunder dan tersier lain akan makin turun peminatnya.

Sektor transportasi online juga menurun setidaknya 30% di Jakarta dan menurunkan pendapatan mereka. Karena itu, pemerintah mengimbau mereka beralih dari mengantar orang menjadi kurir barang saja karena justru saat ini makin banyak orang yang membeli barang dengan jasa pengiriman atau kurir.

Sektor perbankan juga diperkirakan bakal terpukul karena bank-bank akan terkena ‘default’.

Skenario terburuk ialah akan terjadi kelumpuhan ekonomi. Untuk menjaga diri dari kemungkinan terburuk inilah kita harus bersiap dari sekarang.

Sektor-sektor Subur

Sejumlah sektor bisnis justru mengalami pertumbuhan tatkala masyarakat didera krisis akibat Coronavirus (COVID-19). Di antaranya ialah sektor ritel (retail) yang di awal-awal pandemi mengalami lonjakan permintaan dari konsumen. Sektor ritel yang berbentuk toko konkret mungkin akan terpukul juga tetapi khusus untuk ritel di dunia maya alias online retail tampaknya akan berada di taas angin karena orang-orang segan ke luar rumah akibat kecemasan pandemi sehinga ada kemungkinan perilaku semacam ini akan terus tertanam di benak konsumen meski COVID-19 nantinya juga akan berlalu. Seperti kita ketahui, begitu presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia sebagian masyarakat sudah melakukan panic-buying di mana-mana terutama di Jakarta sebagai episentrum. Produk-produk kebutuhan pokok (sembako) laku keras baik di toko offiline dan online. Hal ini sudah terbukti di China tatkala wabah SARS menyapu negeri itu tahun 2004, platform online shopping lokal banyak yang menuai laba berkat ketakutan masyarakat berbelanja secara langsung di luar rumah.

Di samping ritel sembako, sektor lain yang moncer ialah bidang kesehatan. Bisnis apotek tampaknya akan makin bersinar. Penjualan produk-produk kesehatan seperti vitamin C akan melonjak. Semuanya demi meningkatkan sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi serangan virus.

Bisnis media seperti radio, berita daring akan terus bisa bertahan karena relatif aman sebab bisa dilakukan dari rumah atau dalam ruangan. Masyarakat yang tertawan di dalam rumah mereka sangat membutuhkan informasi untuk mengisi waktu. Konsumsi konten ini akan terus meningkat apalagi dengan berlakunya kebijakan bekerja dari rumah (work from home) sehingga makin banyak waktu untuk mengunjungi situs berita daring dan mendengar radio. Untuk bisnis televisi, mungkin akan terganggu sebab lebih membutuhkan kehadiran fisik secara bersamaan, misalnya dalam siaran langsung (live programs).

Bisnis gim daring (online games) juga diramal tambah menjanjikan sebab di rumah dengan banyaknya waktu, masyarakat terutama kaum millennials pasti mencari gim.

Bisnis-bisnis hiburan digital semacam Netflix sedang di atas angin. Apalagi dengan tidak diperbolehkannya orang berkerumun di bioskop, mereka akan beralih ke hiburan yang lebih bisa diakses secara privat di rumah. Buktinya saham Netflix dan sejenisnya membubung tinggi setelah pandemi terus meluas ke berbagai belahan dunia.

Di dunia olahraga sendiri, bisnis fitness center akan menurun. Studio yoga juga akan menurun pengunjungnya akibat larangan berkelompok. Sementara itu, sebaliknya platform olahraga online akan menjamur karena orang selain segan untuk berjejal dan menempuh perjalanan jauh, mereka akan memilih untuk di rumah dan berolahraga sendiri tanpa ada risiko tertular penyakit.

Platform-platform online yang menjembatani komunikasi yang dilakukan dalam bekerja di rumah juga akan berkembang sangat subur. Di Indonesia, bekerja di rumah rasanya masih jauh dari angan karena sebagian besar masyarakat kita tidak mengenal pekerjaan di rumah. Kalaupun mereka mengakuinya, profesi atau pekerjaan apapun yang bisa dilakukan di rumah adalah jenis yang mereka anggap tidak bergengsi, dipandang remeh dan tidak ada prestisenya. Dan ini bukan omongan saya saja, karena saya saja pernah mengalami ditolak permohonan perpanjangan paspor gara-gara saya dulu sempat hanya bekerja secara lepas alias tidak berkantor. Negara seolah masih menganaktirikan mereka yang bekerja secara lepas di rumah dan tidak menghamba pada korporasi. Masyarakat Indonesia saat ini mau tidak mau diharuskan bekerja dari rumah. Dan meski tidak bisa semuanya mengadopsi cara kerja begini, yang penting adalah masyarakat kita mulai sadar bahwa bekerja dari rumah adalah solusi yang sangat jitu bagi masalah yang mereka selama ini harus hadapi, dari kemacetan, banjir, dan sebagainya yang sangat menguras kondisi fisik, psikologis dan mental para pekerja. Perusahaan-perusahaan dan instansi pemerintah yang selama ini masih setengah-setengah menjalankan kebijakan bekerja dari rumah dipaksa menyelami plus minus bekerja dari rumah dalam beberapa bulan mendatang. Sebelum ini, pola kerja dari rumah memang sudah populer di kalangan Millennials yang mendambakan fleksibilitas kerja di mana saja tanpa terikat waktu dan tempat. Dengan pandemi ini, tidak hanya Millennials tetapi generasi-generasi sebelumnya juga dipaksa untuk mengadopsi. Tidak heran mungkin saja pola kerja ini akan diterapkan bahkan jika pandemi COVID-19 ini sudah berlalu. Apalagi jika terbukti efektif.

Dampak diadopsinya pola kerja dari rumah (working from home) akan mendorong perubahan yang begitu luas dalam masyarakat kita. Misalnya, online delivery akan makin dianggap wajar dan bagian dari kehidupan. Dan perkembangan ini bisa jadi mendorong makin banyak bisnis untuk mengembangkan layanan pengiriman barang dan produk mereka sendiri tanpa menggantungkan diri pada layanan pihak ketiga.

Pandemi COVID-19 juga mendorong perbankan digital untuk terus meluas di tengah masyarakat kita. Makin banyak layanan yang tidak memerlukan tatap muka sehingga risiko tertular menurun. Saat ini perbankan kita memang sudah menuju ke arah tersebut, ditandai dengan maraknya perbankan online di ponsel pintar. Kegiatan perbankan seperti membuka rekening sudah bisa dilakukan secara daring, tidak perlu ke kantor cabang bank yang bersangkutan dan mengantre dan menunggu lama dan berbicara dengan teller bank. Dengan pandemi ini, masyarakat akan secara otomatis tergiring untuk memanfaatkan kemudahan bertransaksi jarak jauh dari rumah mereka sendiri. Meskipun nantinya pandemi bisa berlalu, bisa jadi perubahan perilaku ini akan terus menetap dan menjadi permanen.

Semua kegiatan ekonomi akan dipaksa oleh pandemi COVID-19 ini agar menuju ke ranah digital. Konsumen menginginkan kontak fisik yang seminimal mungkin karena cemas dengan adanya virus dan di sisi lain perusahaan dan brand juga dipaksa menuruti kemauan pasar. Bagi mereka yang masih menjalankan semua kegiatan ekonomi di ranah offline dan belum berniat ke ranah online, sekarang saatnya melakukan revolusi itu sebelum sepenuhnya terlambat agar bisa mempermudah transaksi/ pembelian setelah para konsumen enggan meninggalkan rumah.

Apa Yang Bisa Dilakukan Marketers?

Lalu dari semua kondisi dan prediksi tadi, apa yang bisa dilakukan oleh para pemasar atau marketers di Indonesia terutama? Menurut penulis Yuswohady, yang paling masuk akal adalah menggenjot aktivitas dan kampanye di Humas (Public Relations). “PR yes, marketing no, selling absolutely no!” kata pembicara tersebut.

Saat inilah menurut Yuswohady, saat masyarakat dirundung musibah, saatnya brand sebagai corporate citizens melakukan aktivitas yang menunjukkan empati tinggi pada masyarakat. Perusahaan atau lembaga adalah warga negara juga dan mereka idealnya juga tidak hanya menjadi makhluk ekonomi yang mengejar keuntungan semata tetapi juga menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

“Inilah saatnya brand itu harus memberi (giving), bukan menerima (getting) dengan menjadi bagian dari solusi bagi masalah yang menghadang (Coronavirus),” tuturnya.

Namun di saat yang sama, lazimnya semakin banyak yang kita berikan, semakin banyak yang kita terima pula. Makin tinggi empati yang diberikan pada masyarakat yang terkena dampak pandemi, semakin tinggi juga peluang brand untuk mendapatkan citra positif di dalam benak masyarakat bahkan saat pandemi berlalu.

Cara-cara membangun citra positif itu seperti biasanya adalah mengadakan kegiatan-kegiatan bertema tanggung jawab sosial korporat (Corporate Social Responsibility). Hal ini bahkan sudah diterapkan oleh beberapa perusahaan seperti Kimia Farma yang sudah membatasi pembelian masker dalam jumlah besar. Saat pihak lain menimbun dan mengekspor masker demi keuntungan pribadi, justru apotek Kimia Farma menyediakan masker dalam harga jual normal (Rp2.000 per lembarnya). Ruangguru juga mengizinkan platformnya dinikmati secara gratis saat pandemi berlangsung sehingga sekolah-sekolah ditutup sehingga proses belajar mengajar di sekolah tidak memungkinkan dan harus diganti dengan proses belajar mandiri di rumah. Beberapa media daring juga secara khusus berempati dengan menggratiskan konten premium mereka. Sekilas omset mereka justru menurun tetapi ini semua sejatinya adalah investasi jangka panjang sehingga konsumen akan terus mengingat brand mereka.

Sebenarnya ini adalah saat yang tepat bagi brand dalam membangkitkan kesadaran (awareness), kesetiaan (loyalty), sehingga advokasi bisa muncul dengan sendirinya. Advokasi ini terjadi saat sejumlah konsumen bangkit membela brand yang mereka anggap memiliki visi dan misi yang mulia dan selaras dengan pandangan mereka.

No Opportunism and Hard Selling!

Bahkan bagi brand-brand yang sedang menikmati keuntungan atas pandemi ini, ia menyarankan juga tidak secara blak-blakan melakukan kegiatan ‘hard selling’ sehingga mereka terkesan menikmati penderitaan orang banyak. Brand mereka akan dianggap masyarakat kurang empatik dan buruk. Ia menandaskan pentingnya menghindari strategi marketing yang oportunistik, terkesan memanfaatkan musibah. “Yang saya sarankan CSR dan lebih ke PR,” tegasnya.

Kondisi pandemi ini memberikan ruang bagi kehumasan (PR) yang selama ini dianaktirikan oleh brand karena dianggap tidak menghasilkan keuntungan secara langsung. “PR selama ini dicap sebagai kampanye pencitraan dan menghasilkan ‘image‘ semata tapi justru di masa-masa sulit seperti sekarang ini, PR itu yang paling kuat dan berdampak (powerful and impactful),” ungkapnya. Kegiatan CSR sebagai bagian dari kehumasan misalnya dianggap kurang ‘nendang’ dan hanya sebagai formalitas bagi brand padahal ada juga dampak positifnya bagi brand dalam jangka panjang. Dan memang hasilnya tidak bakal dinikmati saat ini juga (karena bagaimana mau mendapat untung karena masyarakat toh daya belinya melemah di saat pandemi). “Jadi (brand-brand -pen) sekalian ‘nyemplung’ dan empatik, menunjukkan itikad baik untuk menjadi warga negara yang baik untuk membantu masyarakat luas di tengah kondisi sulit.”

Brand-brand yang sudah menunjukkan aksi cepat tanggap dalam pandemi ini misalnya Grab Food memungkinkan pengiriman makanan tanpa ada kontak fisik antara si pembeli makanan dengan si kurir. Fitur ini diberikan demi memenuhi imbauan pemerintah agar masyarakat menerapkan ‘social distancing‘. Di sini brand masih bisa melakukan selling secara halus (soft), melakukan kegiatan bisnis mereka dengan tetap semaksimal mungkin menekan kontak fisik antarmanusia. Brand ini sukses mengedepankan solusi bagi masyarakat.

Mencontoh dari sini, brand-brand di Indonesia bisa mulai bekerja keras mencari masalah-masalah yang ada di masyarakat saat ini dan mempersembahkan solusi bagi mereka yang membutuhkan di masa kita semua harus bekerja dari rumah dan menjaga jarak dengan individu lainnya.

Resep Bertahan Bagi Bisnis Rentan

Bagi bisnis-bisnis yang rawan dengan efek negatif pandemi COVID-19 ini, sangat disarankan untuk mengamati perilaku konsumen dan mengubah strategi bisnis mereka agar bisa terus bertahan melewati krisis ini. Akan ada banyak sekali perilaku konsumen yang berubah setelah mengalami pandemi COVID-19 ini. Misalnya bisnis restoran yang saat ini lesu karena siapa yang mau makan di luar dengan risiko tertular virus?

Nasihat pertama dan paling utama ialah dengan segera beralih ke platform online. Ini sudah tidak bisa ditunda. Jika Anda ingin bisnis terus bertahan dan dapat melewati krisis, bangun strategi Anda sendiri untuk menuju ke kanal daring. Ibarat katalisator, COVID-19 terus mendorong terjadi revolusi digital dan online.

Yuswohady juga menyarankan agar brand-brand berlomba menjadi yang pertama dalam menyuguhkan solusi di bidang mereka terkait pandemi COVID-10. Misalnya langkah yang dilakukan Ruangguru membuatnya menjadi yang terdepan dan paling diingat (top-of-mind) di antara banyak platform belajar daring sejenis. Begitu juga Telkomsel yang memberikan bonus paket internet bagi pengguna untuk bisa belajar di rumah.

“Karena itu carilah masalah-masalah yang berkaitan dengan pandemi COVID-19, kebijakan working from home dan social distancing ini dan memberikan solusi inovatif berupa program CSR/ PR yang pertama di bidang kita masing-masing agar terus diingat masyarakat. Karena siapa yang mau mengingat yang kedua dan ketiga dan seterusnya?”

Bagaimana dengan brand-brand produk tersier semacam otomotif, peralatan elektronik rumah tangga, dan sejenisnya yang masyarakat akan lebih jarang butuhkan selama pandemi ini? Yuswohady mengatakan memang sulit. Salah satu jalan bertahan ialah dengan membangun brand saat mempertahankan penjualan sangat sulit. Bisa saja masih menjual tapi caranya dengan halus (soft selling), bukan hard selling.

Brand juga semestinya sadar bahwa penjualan mereka akan menurun dalam waktu dekat ini. Dan untuk merespon penurunan ini, mereka bisa mengandalkan PR (humas) untuk sekali lagi membangun brand. Karena toh mau berjualan sampai diskon habis-habisan pun akan percuma juga dengan melemahnya daya beli masyarakat dan pembatasan keuangan mereka untuk konsumsi barang-barang primer yang saat pandemi akan menjadi prioritas tertinggi. (*/)

Untuk Bahagia, Tak Perlu Bekerja Bagai Kuda

couple wearing horse mask
Haruskah bekerja siang malam bagai kuda sampai sukses tapi depresi atau cukup kerja santai dan lebih bahagia? Maunya sih kerja santai tapi juga sukses ya. ( Photo by THE COLLAB. on Pexels.com)

Di ibukota, bekerja 8 jam sehari sudah menjadi suatu kelaziman. Bahkan kalau itu belum cukup, bisa ditambah lembur, atau datang pagi, atau masuk lagi akhir pekan. Pokoknya, kalau bisa bekerja lebih lama dan keras, kenapa tidak?

Karena lebih lama kita bekerja, kita berpikir akan menjadi semakin produktif.

Ya, itu lain perkara.

Itu pola pikir bangsa Asia dan Amerika Serikat zaman sekarang. More is better.

Betul bahwa bekerja lebih baik daripada menganggur. Memiliki pekerjaan meskipun terkesan rendah asalkan halal dan tidak merugikan orang lain lebih terhormat daripada menjadi pengangguran di rumah.

Memiliki pekerjaan juga membuat kita lebih percaya diri di pergaulan masyarakat.

Dan yang terpenting, memiliki pekerjaan juga memberikan kita keseimbangan dalam hidup.

Bagaimana bisa?

Lihat saja hidup mereka yang sudah terlampau kaya. Mereka sampai harus menciptakan pekerjaan untuk diri mereka sendiri agar mereka tidak cuma hidup tanpa tujuan. Hidup yang cuma diisi foya-foya mungkin terasa menyenangkan bagi banyak orang tetapi secara mental dan psikologis serta spiritual, terasa hampa.

Namun, bagi banyak orang jelata seperti kita, bekerja adalah cara untuk mencapai kebahagiaan. Dan karena kebahagiaan butuh kemapanan finansial, kita bekerja untuk mendapatkan uang dan kenyamanan hidup.

Masalahnya kita sudah terlalu tergila-gila dengan bekerja. Elon Musk, entrepreneur  yang terkenal dengan PayPal, Space-X dan Tesla itu, pernah mengatakan bekerja selama 120 jam seminggu (yang artinya hampir setiap hari bekerja) adalah suatu keharusan jika mau sukses (yang logisnya kesuksesan membuat kita bahagia, meski tak selalu).

Tapi sebuah studi menyanggah pendapat Musk tersebut. Cuma dibutuhkan kerja selama 1 jam sehari agar seorang manusia bisa bahagia.

Studi ini melibatkan lebih dari 70.000 subjek di Inggris. Para subjek memiliki kesehatan mental yang lebih baik begitu mereka tidak lagi menganggur.

Namun, efek positif bekerja sudah bisa dirasakan pada keseimbangan mental manusia pada titik delapan jam kerja seminggu (1 jam per hari). Bukannya 8 jam sehari!

Bekerja lebih dari 8 jam seminggu, menurut ilmuwan, tidak akan menambah efek positif bekerja.

Betul bahwa tidak semua orang menginginkan jumlah jam kerja seminimal ini. Mereka yang sedang asyik membangun terobosan-terobosan baru seperti Elon Musk tentu saja tidak bisa cukup bekerja sejam sehari. Dapat dipahami jika (otak) mereka bekerja mati-matian bagai kuda.

Namun, jika Anda bukan tipe entrepreneur atau inventor atau maniak kerja seperti Musk, dan lebih ingin mendapatkan keseimbangan hidup dan kebahagiaan, cobalah bekerja selama 8 jam seminggu.

Lagi-lagi, ini juga tidak memungkinkan untuk semua orang.

Mereka yang bekerja penuh waktu atau di bawah kebijakan instansi atau dirundung masalah keuangan atau memiliki tanggungan yang masih butuh sokongan dana banyak, tentu saja bekerja sejam sehari bisa membuat mereka dirumahkan.

Ya, kalau tidak bisa, selanjutnya yang mungkin ialah menyiasati sikap dan pendekatan kita terhadap pekerjaan saja.

Anggap pekerjaan adalah suatu kegiatan positif pengisi waktu luang yang menyenangkan sepanjang masa produktif kita sebagai manusia modern.

Makanya jangan melakukan pekerjaan yang sangat dibenci. Atau kalau Anda benci, coba cari strategi untuk mencintainya.

Dengan mencintai pekerjaan, bekerja 8 jam sehari tak akan terasa demikian lama. Begitu kan? (*/)

To Be a Good Entrepreneurship Reporter, Don’t Be an Entrepreneur

So here’s the rule of thumb for entrepreneurship and business reporters out there: Don’t be the person you want to interview and write about. In other words, don’t be an entrepreneur or business person. This piece of advice sounds a little bit counter-intuitive as I thought it’d be much easier to understand the subject matters by being in their shoes, seeing things the way these people do so I can write better about them and their companies.

It turns out I’m wrong…

Reporters need to stay away from being an entrepreneur themselves. They can’t be a top-notch reporter and a great entrepreneur at the very same time. They have to relinquish one of the two.

That’s probably the gist of Sarah Lacy’s statements. The founder of media company Pando.com was asked whether being an entrepreneur herself changed her way of writing as a tech reporter. As we all know, Lacy has worked for almost 15 years writing about the tech industry, the people and the whole dynamics in it. She answered it bluntly,”I’m a way worse reporter now…”

Asking hard questions to other entrepreneurs as an entrepreneur cum reporter is relatively easy, claimed Lacy. Yet, she stated that what bothered her to do her best job she always wanted is the OVEREMPATHY on the answers. “So particularly when it comes to things I’ve gone through…like having the ousted board member (she might be reminded of Mike Arrington ousted from TechCrunch or?) or even like a cash crunch or hiring a sales guy that didn’t work out[…]”

She further said she didn’t write as much as she used to and she felt for these pitiful entrepreneurs. “Because I see every side to it and I feel for them,”explained the mother of two.

Thank God, I’m not an entrepreneur because if I have to be one, I would certainly lose my best job ever. And I would never trade being a writer to any job on earth. This is very much the best. At least for now.

The Success Catalyst of Journalism Businesses

At Galeri Nasional

Mark Briggs of Poynter Institute claims his course would tell you – aspiring entrepreneurial journalists – what to do before plunging to the business world. After the huge success of BuzzFeed and The Huffington Post, every journalist seems enchanted to give this a try. Who knows it’ll be a fruitful business undertaking that’ll lead you to a life full of fortune?

But if you’re like me, you know it takes more than writing and reporting skills to do great in journalism industry. There’re so many factors we need to take into account to be successful. And yet, the meaning of success itself is blurred. What I mean by success may be entirely different from what you mean, and what any other journalists mean.

Briggs couldn’t be as popular and wealthy as Kara Swisher, Sarah Lacy, Jakoeb Oetama or Jonah Peretti but he is for sure quite experienced in his own way. He stated his course “aims to give participants the knowledge and tools needed to launch content-driven news/information websites. We’ll take you from idea to implementation and, when necessary, help you retool or replace ideas with better versions.” In complete, he writes:

If you’re considering starting a news or information-oriented website, this course will help you decide whether an entrepreneurial path is the right one for you. And if you’re looking for a crash course on starting a business, it will show you the ropes, point you to the right resources and help you formulate the questions you most need answers to.

WHAT YOU WILL LEARN:

After completing this course, you’ll have newfound knowledge about creating a business and bringing your specific idea to fruition.

You’ll be able to:

  • Explain the difference between an idea and a product.
  • List the basic elements of a business plan.
  • Define basic business and marketing terms, including ROI and CPC.
  • List and summarize the legal structures available when establishing a business, and identify their strengths and weaknesses.
  • List popular technological platforms and cite strengths and weaknesses of each.
  • List available analytics tools and identify what to track and how to analyze the numbers.
  • Summarize the primary options when forming a business as a legal entity, getting legal and accounting help and finding software to help run the business.
  • List and describe major ad networks (e.g., BlogHer, Federated Media)

For your specific business, you’ll be able to:

  • Define your market, approximate its size and identify your audience
  • Write an executive summary.
  • Define the current work that needs to be done and identify the people who can do it.
  • Determine whether funding is needed and, if so, how much.
  • Decide whether the business can be bootstrapped and, if not, identify options for securing funding.
  • Estimate how many users/customers/viewers/readers will be “enough” to make the business work.
  • Identify qualities that distinguish your business from your competitors.
  • Perform a basic assessment of potential adjacent markets.
  • List questions that need to be answered about your product, market and/or business.
WHO SHOULD TAKE THIS COURSE:
  • Journalists working at legacy operations interested in founding a start-up venture
  • Recent journalism graduates interested in working in journalism, but not for a “traditional” journalistic business
  • Anyone passionate about a community, topic or cause who has a desire to start a publication-based business with journalistic values

For a moment, I let the words seep into my mind. Is it going to work? Can all these topics cover what it takes to be a successful entrepreneur in journalism industry?

It doesn’t seem that easy. Mastering all these things might be leading us closer to the goal but definitely not instantly.

We need a CATALYST.

What could that be? The mysterious catalyst that we’re searching for…

I remember several juniors asking me if they could just stay in the comfort of their hometowns while doing their journalism gigs. I told them, if they can be in Jakarta, it’d be much better.

The reason is because they need NETWORKS, people. They must see and talk to people, not only sitting and typing at home. Journalism businesses do NOT work that way. You have to go out, see more and more people, talk to them, dig tons of information from these folks you may not find at the smaller social circle in hometown.

Kerja Nyata Firman Adi dengan Kreasi Digitalnya Encirclo

Saat anak muda lainnya mencari kerja, menganggur atau sibuk beretorika soal bagaimana membangun negeri dengan kreasi digital, Firman Adi Prastowo sudah memulai kerja nyata dengan merintis dan membesarkan startup yang bernama PT Encirclo Nusa Integra alias Encirclo bersama empat orang rekannya.

Business networking platform Firman dan kawan-kawannya ini berupa situs web yang bertujuan untuk meningkatkan awareness atas keberadaan sebuah entitas bisnis. Dengan kata lain, mereka menyediakan ruang maya untuk perusahaan-perusahaan menampilkan profil bisnis mereka. Dalam platform ini, setiap perusahaan yang menjadi anggotanya juga akan berkesempatan menjalin kerjasama dengan perusahaan lain yang ada dalam platform tersebut. Platform terbuka ini seolah menyambut semua perusahaan untuk menjadi anggotanya.

Firman tertarik menjadi entrepreneur karena tantangan dan dinamikanya. 

Encirclo didirikan 4 orang lulusan ITB (Institut Teknologi Bandung) angkatan 2011. Karena semua pendirinya warga Bandung, tidak heran startup ini berbasis di ibukota Jawa Barat tersebut.

Ditanya mengenai jurusannya saat kuliah, Firman malu-malu menjawab,”Dulu saya mengambil jurusan (Ilmu) Cuaca sebenarnya.”

Firman dibesarkan oleh kedua orang tua yang sudah 16 tahun berkecimpung di dunia entrepreneurship. Kini keluarganya bisa dikatakan keluarga entrepreneur karena sejak tahun lalu dirinya dan sang kakak juga turut merambah profesi yang sama dengan orang tua mereka. Kakaknya yang masih bekerja juga mulai mencoba berbisnis sendiri sementara dirinya merintis Encirclo.

Ketertarikan Firman pada dunia entrepreneurship sudah muncul sejak lama. Begitu bertemu dengan teman-teman kuliah yang memiliki passion yang sama, ia pun tidak melewatkan kesempatan untuk berkolaborasi mendirikan sebuah startup.

Usia startup ini memang masih sangat muda. Tahun 2015 yang lalu menjadi saksi berdirinya Encirclo. “Tapi kami mulai membuat produknya sejak Februari tahun ini,” imbuhnya.

Hingga pada saat saya bertemu dengan Firman, situsnya masih dalam tahap alfa. Mereka tengah mengembangkan versi beta. “Rilisnya rencana bulan Oktober,” ia menandaskan.

Menyoal manfaat bergabung dalam platform ini, Firman menandaskan bahwa selain ketersediaannya yang cuma-cuma, layanan mereka juga akan memberikan peluang berkolaborasi antarperusahaan. Tanpa mengeluarkan banyak biaya, perusahaan bisa menemukan peluang kerjasama yang potensial mendatangkan keuntungan bagi mereka di Encirclo.

Ia mencontohkan jika sebuah perusahaan pembuat sepatu ingin menemukan perusahaan yang bisa memasok tali sepatu dalam harga yang murah, mereka bisa mencarinya di Encirclo dengan mudah, lalu menghubungi perusahaan yang mampu memenuhi permintaan tali sepatu dalam jumlah besar tadi. Intinya, platform ini menjembatani bisnis dengan bisnis lain. 

Dari uraiannya, jelas bahwa meskipun platform ini mirip dengan konsep sosial yang ada dalam media sosial yang sudah ada, Firman menggarisbawahi Encirclo adalah platform bisnis, bukan media sosial. Sehingga di dalamnya pengguna bukanlah individu tetapi sebagai perwakilan sebuah bisnis. “Subjek utama platform kami ialah perusahaan. Bagaimana perusahaan bisa berkembang dan berkolaborasi,” terangnya.

Monetisasi dilakukan dengan menggunakan keanggotaan berbayar (paid/ premium membership), pemasangan iklan, dan project solutions. Yang terakhir itu, ia contohkan, akan berguna jika perusahaan ingin menemukan mitra dalam memenuhi kebutuhannya dalam proses produksi yang bertenggat waktu singkat dan mendesak sekali. Kemudahan bagi anggota menemukan mitra dalam waktu singkat inilah nantinya yang akan dijadikan alat mencetak penghasilan. 

Senjata pamungkas monetisasi Encirclo ialah big data. “Kita akan banyak mengumpulkan data perusahaan di berbagai kategori,” ucapnya. Contohnya, orang akan makin mudah menemukan perusahaan di berbagai kategori, misalnya makanan.

Impian Firman dan Encirclo sederhana tapi mulia: berguna untuk banyak orang. “Kami ingin membuat sesuatu yang berdampak besar (impactful) bagi banyak orang dan membangun sebuah brand dari Indonesia yang impactful terutama dari sisi pengembangan perusahaan.” Ia menampik membangun startup dengan ambisi menjualnya suatu saat bagi pihak yang berminat.

Oktober tahun ini Encirclo mulai mencari klien untuk menggenjot pertumbuhannya. Mereka ingin menjajaki pasar, mencari metriks atau tolok ukur yang tepat dalam aktivitas yang dilakukan. 

Bagi Firman yang masih baru dalam dunia entrepreneurship, ia menyadari dirinya masih harus banyak belajar. Dan satu pelajaran yang baru saja ia dapatkan ialah sebagai entrepreneur baru, fokus boleh saja tapi semua hal harus dicoba. Jika ada respon yang paling signifikan dan positif di satu hal yang menjadi subjek eksperimen, entrepreneur boleh mulai fokus menggarapnya. 

Layanan Encirclo belum dibuka secara terbuka bagi masyarakat luas sehingga menurut Firman, target mereka dalam waktu dekat ini ialah menetapkan tujuan dan semua yang diperlukan untuk mencapainya. “Kami ingin membangun network, gain traction. Mulai tahun kedua dan ketiga, kami ingin sudah ada revenue.”

Untuk menopang roda bisnis startup yang masih dalam fase kecambah ini, Firman mengaku Encirclo sudah memiliki angel investor tetapi ia enggan menyebutkan nama.

Tentang kondisi dunia startup di Indonesia, Firman memiliki pendapatnya sendiri. Dari pengamatannya, ekosistem startup negeri ini sudah mulai terarah. “Mungkin karena sudah bubbling. Makin banyak orang mendirikan startup meski itu karena alasan hanya ingin terlihat keren,” ucapnya yang menegaskan bahwa dirinya dan Encirclo tidak termasuk kategori tersebut.

Karena populasi startup di Indonesia juga makin banyak, tak pelak peluang mendapatkan pendanaan (funding) juga makin menciut. Pihak investor saat ini mulai semakin mengetatkan persyaratan dan kriteria bagi startup penerima dana. Baginya, menjamurnya startup tidak serta merta membuat kondisi lebih baik karena tidak sedikit yang mendirikan dan membuat tanpa tahu pasti tujuannya. Mereka mendirikan startup dan membuat produk hanya untuk jangka pendek. 

Firman juga mengakui ada sebagian entrepreneur muda yang masih setengah-setengah menjalani bisnis. “Begitu tantangannya meningkat, mereka mudah menyerah dan beralih menjadi pencari kerja,” ucapnya dengan nada kecewa.

Jika ia ditanya apakah ingin menjadi  entrepreneur dengan “unicorn startup”, ia menjawab tentu ingin. “Tetapi kami lebih ingin fokus pada apa yang kami punyai sekarang dan membuat sesuatu yang impactful.” (*Foto: Dok. pribadi)

Sanggar Anak Akar isn’t Going down without a Concert

A FUNDRAISING CONCERT that afternoon was one attempt by Sanggar Anak Akar at reclaiming rights for those in need of a humanistic education. Their existing simple school building in Kalimalang is now occupied with a construction project of new flyover in town hoping to give more space to the ever growing traffic heading in and out of Jakarta. They thus need to move away and grab some new piece of land to hold students consisting of marginalized school-aged children in the megapolitan.

Goodwill is always blessed. Somehow they managed to do it. ‎Various parties poured their supports in any possible form — tangible and intangible — to the social foundation of Anak Akar Indonesia. Several musicians agreed to join the fundraising concert; Bonita and the Hus Band, Ratu Queenous, Marya Genova, Tony Q and Navicula Band were entertaining the entire audience with upbeat, high-spirited songs.
Initiator Susilo Adinegoro, affectionately called “Pakdhe Sus” (pakdhe: ‘big uncle’ in Javanese), ‎extended his gratitude towards Minister of National Education Anis Baswedan, who made it unannounced. An abrupt presence was of course much better than sudden absence, Anis joked. The minister who happened to be wearing a pair of washed-up rather baggy jeans admitted he should have been in Cairo, Egypt, but somehow the arrangement was altered, enabling him to show up to provide support, which he did by taking part actively in the auction of an artwork made by a 10-year-young painter from the school.

Susilo also announced the launch of Sekolah Kampung Urban, a ‎program involving ten social nonprofit communities in Jakarta. “Ten communities in five areas in Jakarta will not build a physical school. Rather, they use what is around them as learning materials. We call it integrative education,” the light-built man argued, redefining education for all of us.

Pakdhe Sus mentioned some social entrepreneurship elements will be involved in the schools. “Today, we’ll begin the program and in December, the participants from 10 communities are to present what they have learned thus far and what to carry out in the upcoming year,” he elaborated.

Being an independent social worker and initiator himself in Indonesia Mengajar (a social and educational movement sending young graduates to teach in the most remote areas in Indonesia)‎, Anis said he was no stranger to what Sanggar Akar Anak did. He emphasized on the importance of being an active doer than a mere dreamer. “Every child is entitled to education access and though the State is constitutionally obliged to provide education for all, morally speaking each and every one of us who is educated is required to educate other Indonesians.”

It could be the first time I saw a public official getting down to earth and speaking out of real experience instead of boring rethorics and cliche mostly because he had been in the shoes of others and identified the similar roots and hence similarity of visions. That indicated some progress in Indonesia’s education‎, at least for me.

Zero to One: Catatan Kampus yang Berisi Pemikiran Seorang Jenius

‎Blake Masters mungkin tak pernah menyangka catatan kuliahnya akan dibaca jutaan orang di dunia. Masters duduk di bangku kuliah Stanford Law School di tahun 2012, saat entrepreneur super sukses Peter Thiel menyambangi kampusnya untuk berbagi ilmu dan wawasan. Dengan tekun sekali, Masters mencatat pemikiran-pemikiran sang guru dalam catatan kuliahnya yang bertajuk “Computer Science 183: Startup”. Catatannya itu ia unggah ke dunia maya dan abrakadabra! Begitu banyak orang membacanya. Thiel pun turun tangan. Ia mengajak Masters merevisi catatan kuliah yang begitu bermanfaat itu bagi audiens global. Tahun 2014, buku ini pun lahir dan siap dikonsumsi pasar.

Dalam sebuah kesempatan, Thiel pernah mengatakan bahwa ia TIDAK menganggap kemajuan teknologi seperti iPhone sebagai suatu inovasi. ‎Tidak ada sesuatu yang benar-benar baru dan segar serta aneh dari iPhone yang telah sampai ke seri keenam itu. Bukan berarti ia benci terhadap semua perkembangan teknologi informasi yang terjadi dengan pesat ini, tetapi Thiel yakin bahwa semua itu cuma kemajuan horisontal. Thiel mau kemajuan vertikal yang lebih banyak terjadi dalam kehidupan kita sekarang. Dan buku ini tampaknya memiliki misi untuk menanamkan pemikiran itu dalam benak para pembacanya, yaitu agar mereka terdorong membuat sesuatu yang baru dan aneh. Bukan cuma mengekor dan memperbanyak sesuatu yang sudah ada dan sudah terbukti sukses.

Sebagai sebuah himpunan informasi , buku ini memang berbeda. Bagi penyuka buku dengan judul yang berpola bombastis seperti “kiat sukses (masukkan ambisi apapun yang Anda mau)”, atau “rahasia menuju (ketikkan cita-cita paling muluk-muluk yang Anda pernah bayangkan), saya sarankan jangan membeli buku ini. Pasti Anda akan kecewa. Anda juga tidak akan menemukan formula-formula sukses dari Thiel atau kumpulan kisah keberhasilan yang standar, monoton dan bisa ditebak yang digemari kebanyakan orang. Itu karena buku ini menyasar mereka yang mau diajak berpikir berat, sangat berat.

Yang menarik, Thiel berpendapat entrepreneurship tidak dapat diajarkan hanya dengan menyuguhkan formula, akronim, rumus atau jargon ‎penjamin sukses. Dalam sekapur sirih di awal buku, Thiel menjelaskan:”Paradoks dalam mengajarkan entrepreneurship ialah bahwa formula (untuk sukses -pen) tidak ada; karena tiap inovasi itu baru dan unik, tidak ada pihak yang bisa merumuskan dalam istilah nyata cara untuk berinovasi. Sungguh, satu-satunya pola yang paling menonjol yang saya ketahui ialah bahwa orang-orang sukses menemukan nilai di tempat-tempat yang tidak terduga, dan mereka melakukan itu dengan memikirkan mengenai bisnisnya dari prinsip-prinsip pertama daripada (mengandalkan -pen) formula-formula” (Zero to One, hal 2-3).

Zero to One yang terdiri dari 14 bab itu membuat kita berpikir keras untuk memahami hakikat teknologi, perkembangannya, kegunaan sejatinya bagi kemaslahatan manusia, dan lain-lain. Thiel mungkin dapat dikatakan sebagai filsuf teknologi abad modern karena ia menggunakan sejumlah sudut pandang keilmuan di dalam penjelasannya. Dalam bab “You Are Not a Lottery Ticket” misalnya Thiel memakai tinjauan sejarah, budaya, psikologi dan ekonomi dalam menjelaskan 4 kelompok besar berdasarkan perspektif terhadap masa depan. Di sini ia mencomot sejarah bangsa-bangsa dan masyarakat besar dunia untuk memberikan gambaran lengkap mengenai pemikiran dan sikap yang berbeda-beda dalam memandang masa depan. Anda bisa menemukan penjelasannya di halaman 62.

Dalam bab pamungkas “Stagnation or Singularity?”, Thiel mencoba mengajak kita kembali berpikir dan mengambil simpulan besar. Dari sana, ia mendorong kita yang membaca untuk bertindak dengan memberikan tugas agung. Berikut kalimatnya di halaman terakhir buku itu:

“Tugas kita saat ini ialah menemukan cara-cara tunggal dalam membuat hal-hal baru yang akan membuat masa depan tidak cuma berbeda tetapi juga lebih baik – naik dari nol menjadi satu. Langkah pertama dan utamanya yaitu berpikir untuk diri Anda. Hanya dengan memandang dunia kita dengan cara baru, sesegar dan seaneh para leluhur memandangnya pertama kali dahulu kala, baru kita bisa menciptakannya kembali dan melestarikannya untuk masa depan”. (Zero to One, hal 195)

‎Setelah membaca buku ini, perspektif kita mengenai entrepreneurship tak akan pernah sama lagi. Tiba-tiba kita menjadi lebih kritis untuk bertanya,”Benarkah mereka yang dilabeli atau mengklaim diri sebagai entrepreneur itu betul-betul entrepreneur? Atau cuma hebat dalam menjual dan mengemas lalu mengeruk untung untuk ditimbun? Apakah inovasi yang selama ini dibangga-banggakan itu sungguh suatu inovasi sejati yang mengarah ke atas (vertikal)? Atau jangan jangan cuma ilusi yang Thiel sebut sebagai kemajuan horisontal?”

Promotion Out of Desperation

‎You know when people promote their products or services owing to desperation plus ignorance of effective, ethical and brainy strategies. They simply bombard your neews feeds with self promotional updates. It’s all right there to see and dislike.

And guess what, how many people really want to buy from merchants like this immediately? I don’t. Maybe you don’t. I don’t know‎ but still it’s sickening and foolish to see.

So these so-called entrepreneurs, intrapreneurs‎, or whatever titles we can find to attach to them, are B.S. (Bachelor of Suckers, for sure).

I liken these pseudo marketing strategy to the marketing and sales strategy of street vendors. Yes, I am being mean and rude right now because I cannot take it any longer. I can NOT. They are pretty much like street vendors, who desperately knock everyone’s window of cars at a super hectic Jakartan intersection and offer what they ‎have by shouting and being very pushy and annoying.

So please, please, don’t be such a jerk to your potential customers. Be kind to them to present the best of you. The best and most ethical, to be frank.

Dikirim dari ponsel cerdas BlackBerry 10 saya dengan jaringan 3 Indonesia.

Salah Kaprah Semangat “Just Do It!” dalam Bisnis dan Hidup (Ulasan Novel Pendek Kaas)

‎Terlalu seringnya orang menganjurkan kita untuk tak banyak berpikir dan langsung berbuat sesuatu yang nyata membuat mereka kerap mengutip semboyan Nike: “Just Do It!”. ‎Tak banyak orang yang sadar pemikiran asal berbuat seperti itu juga bisa menjadi mata pedang yang melukai diri sendiri.

Saya ingat dengan penuturan seorang entrepreneur, Rama Mamuaya. Pendiri DailySocial.net itu mengajak orang mengkritisi semboyan “Just Do It!”. Karena waktu sungguh berharga, dan jangan membuang waktu hanya untuk melakukan hal-hal tanpa landasan dan analisis yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan, yang hanya membuat kita melakukan berbagai kesalahan yang semestinya bisa dihindari. Melakukan sesuatu memang penting tetapi juga harus disertai strategi yang tepat, begitu kira-kira ia berkata. Saya sepakat dengan Rama. Hal ini tidak cuma berlaku di entrepreneurship tetapi juga dalam banyak bidang kehidupan.

Dalam novella terjemahan dari Belanda yang terbit atas bantuan dana Erasmus Huis (Pusat Kebudayaan Belanda di Jakarta) yang berjudul “Keju” (Kaas) , pelajaran yang disuguhkan sang penulis asal Belgia, Willem Elsschot (nama pena dari Alfons de Ridder), sungguh amat mirip dengan apa yang disampaikan Rama tadi. Elsschot memang tidak sempat mengupas lebih dalam mengenai sisi-sisi gelap manusia yang tidak sabar, ingin menempuh jalan pintas, meremehkan masalah dan haus pengakuan dari orang-orang di sekitarnya tetapi ia mampu memberikan teguran atas sifat alami sebagian manusia untuk ingin cepat kaya dengan senjata optimisme semata tanpa diiringi sikap, pola pikir dan mentalitas yang tepat.

Cerita bergulir saat seorang pria Belgia bernama Frans Laarmans ingin mengubah peruntungannya begitu ia mendapat tawaran berbisnis keju Edam (jenis keju yang berbungkus lapisan merah berbentuk mirip roda). Laarmans yang cuma bekerja sebagai kerani (juru ketik dokumen-dokumen perdagangan) di galangan kapal ‎itu memang sudah muak dengan kondisi sosial ekonominya yang stagnan. Begitu masuk ke lingkaran sosial atas yang dipimpin Mijnheer van Schoonbeke, dalam diri Laarmans muncul hasrat ingin dihargai, dan satu-satunya jalan yang terbuka di depannya saat itu adalah menjadi pebisnis keju Edam. Ia ditawari menjadi importir keju Edam dari Belanda dan ditugasi menjualnya ke berbagai pelosok Belgia dan Luksemburg. Untuk itu ia sampai ingin meninggalkan pekerjaan keraninya. Sang istri menolak ide itu. Akhirnya ia merintis bisnis keju secara penuh waktu dengan dalih sakit syaraf. Alhasil, pria beranak dua itu diperbolehkan izin 3 bulan cuti tanpa digaji. Tetapi tak masalah, pikir tokoh utama kita itu karena gaji dan komisinya sebagai importir keju dua kali lipat dari gaji kerani.

Penulis kerap menunjukkan ‎betapa bebal dan tak siapnya si kerani itu menjalani kehidupan sebagai pebisnis keju. Frans tak tahu seluk beluk keju. Bahkan ia tak makan keju yang ia jual. Alasannya karena ia tak suka. Bagaimana seorang pebisnis bisa menggambarkan produknya pada calon pembeli jika ia saja tak suka dan tidak tahu? Dan yang lebih konyol, Frans tak terlalu percaya diri dengan disebut sebagai pedagang keju. Dengan berbagai trik, ia memilih nama perusahaan yang lebih bergengsi daripada hanya sekadar mengatakan berjualan keju Edam yang berkualitas tinggi.

Ego Frans sebagai pebisnis yang masih seumur jagung terus diuji tatkala ia menemui fakta bahwa menjual keju tak semudah yang ia sangka. Telah merekrut sejumlah orang sebagai agen penjual, bisnisnya tak kunjung sukses dalam hitungan pekan dan bulan. Hingga akhirnya sang mitra, Hornstra dari Amsterdam, yang mengiriminya keju Edam 20 ton berencana datang ke rumah yang ia juga pakai sebagai kantor. Frans gentar. Harga dirinya sebagai pimpinan keluarga dan bisnis sudah tercabik-cabik. Ia tak sanggup menghadapi Hornstra dan mengabari bahwa ia menyerahkan semua tanggung jawab penjualan keju tadi kembali pada Hornstra. Hanya sedikit sekali yang berhasil terjual. Itu pun karena upaya anak laki-lakinya yang masih berusia 15 tahun tetapi sudah cakap berbahasa Inggris dan mendapatkan pembeli. Frans sudah tak lagi tahan menjadi pengusaha keju dan memutuskan kembali menjadi kerani. Untung saja ia menuruti nasihat sang istri untuk tidak mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja.

Dalam beberapa kali penuturan, pembaca bisa menemukan kekonyolan Frans yang ingin menjalankankan bisnisnya dengan pola pikir seorang kerani, bukan cara pikir dan kerja seorang pengusaha.‎ Ia misalnya lebih memusingkan kertas dinding, meja kerja dan mesin ketik serta kertas surat berkop resmi Gapfa (begitu nama perusahaannya) daripada bagaimana agar keju 20 ton itu terjual laris secepatnya, menghasilkan untung dan mengembangkan usaha keju itu terus menerus. Jelas pengarang ingin memperolok sang tokoh utama yang demikian bebal karena ia mengira menjual keju adalah perkara mudah, hanya karena asumsi bahwa keju adalah makanan yang selalu dibutuhkan semua orang.

‎Elsschot menggambarkan ironi yang banyak dihadapi orang saat ini meski novella ini diterbitkan tahun 1969. Ironi itu adalah betapa banyaknya orang yang ingin menjadi entrepreneur tetapi belum sadar bahwa mental mereka belum atau bahkan sama sekali tidak dan tidak akan pernah menjadi entrepreneurial. Tak banyak yang bisa menerima bahwa keahlian berwirausaha memang sebuah bakat di dalam diri yang juga harus diiringi kerja ekstra keras, koneksi yang luas dan keberuntungan yang tinggi jika mau sukses. Pesan moralnya mungkin adalah semua orang mau mencicipi atau menangguk nikmat menjadi pengusaha tetapi belum siap dengan sengsara yang harus dijalani sebelumnya. Karena meski kesempatan itu datang menghampiri, kerap kali kita justru belum menyiapkan diri.

Menjajal Layanan Uber di Jakarta (1)

Sebuah brand yang unggul tidak selalu disambut baik semua pihak. Makin berada di atas angin, sebuah brand juga bisa mendapatkan makin banyak sambutan dan ‘sambitan’ (kritik -red). Demikian juga dengan layanan transportasi mobil pribadi mirip taksi, Uber, yang digagas Travis Kalanick. Jika Anda mengikuti perkembangan Uber di negeri Paman Sam dan negeri-negeri lain, Anda mungkin tahu maksud saya.

Terlepas dari semua itu, sejak pertengahan tahun ini, Uber memang sudah memulai layanannya di Jakarta. Dan meskipun sudah ada rentang waktu sekitar 4 bulan sejak Agustus 2014, Uber belum banyak dikenal warga Jakarta terutama daerah niaga dan bisnis di Sudirman Central Business District (SCBD), area yang menjadi tempat beroperasinya layanan ini.

Putik (bukan nama asli) adalah salah satunya. Saat saya menyebut layanan Uber, ia memicingkan mata sambil bertanya,”Apa itu?” Putik tipikal generasi millenial, yang masih muda (pertengahan 20-an), kelas menengah, dan melek teknologi. Di tangannya tergenggam smartphone terkini. Akan tetapi, ia lebih memilih taksi burung biru yang menjadi penguasa pasar di Jakarta. Maklum, ia menggunakan voucher taksi dari kantornya. Dengan menggunakan Uber yang biayanya dibebankan secara otomatis ke kartu kredit, Putik akan kesulitan meminta reimburse (penebusan biaya) dari kantor. Dalam kasus Putik, voucher taksi yang biasa diberikan berbagai korporasi bagi karyawan yang bertugas menjadi solusi yang memudahkan, karena karyawan tak perlu menyediakan uang tunai. Perusahaan akan membayarkan ongkos yang tertera di voucher yang bisa ditulis tangan.

Hari itu saya teringat dengan Uber dan memutuskan mencoba layanannya. Setelah sekian lama, saya baru mencobanya, karena seperti Putik, saya masih memiliki banyak moda transportasi alternatif. Ada ojek, lalu juga ada layanan taksi burung biru yang juga bekerjasama dengan perusahaan tempat saya bekerja. Saya memang memilih tidak membeli kendaraan bermotor apapun di Jakarta. Saya bukan tipe orang yang banyak berkelana, apalagi jika tidak ada agenda yang jelas. Ditambah dengan kacaunya jalan-jalan Jakarta yang menjadi sumber frustrasi jutaan orang dan keengganan saya menghabiskan waktu senggang untuk mencuci dan merawat seonggok benda dari logam (lebih baik saya membaca buku, menulis dan bersantai), saya lebih memilih menggunakan moda transportasi umum yang meski lebih mahal tetapi membebaskan saya dari kewajiban-kewajiban penguras waktu dan energi seperti mengurus BPKB, STNK, SIM, atau ketakutan-ketakutan saat dihadang polisi lalin, sakit kepala saat kemacetan yang mendera. Saya relatif bisa bebas dari semua itu.

Saya juga bukan bagian dari banyak orang di Jakarta yang memilih mencicil kendaraan bermotor demi ‘kenyamanan dan kecepatan’. Dalam satu kesempatan, Dahlan Iskan pernah berteori mengenai revolusi sepeda motor yang menurutnya mampu menyejajarkan kalangan menengah bawah dengan mereka yang lebih kaya raya dalam hal kecepatan mobilisasi berkegiatan. Inilah suatu era saat masyarakat bawah bisa sama cepatnya dengan mereka yang berada di atas, kata Dahlan. Ia juga mengajukan hipotesis mengenai alasan mengapa angka penjualan sepeda motor makin melonjak pasca kenaikan BBM (yang tentu diiringi naiknya konsumsi BBM). Karena dengan biaya transportasi umum yang relatif makin mahal, seseorang sudah bisa menggunakan anggaran transportasi umumnya itu untuk mencicil kendaraan bermotor roda dua! “Dengan uang Rp700.000 untuk biaya angkot, saya bisa langsung ambil sepeda motor dan mencicilnya Rp600.000 sebulan dalam waktu tiga tahun, sepeda motor itu menjadi milik saya. Sementara yang naik angkot, tetap saja naik angkot. Yang mencicil sepeda motor dalam waktu 3 tahun sudah punya sepeda motor yang nilainya paling tidak Rp12 juta. Dia punya aset! Yang naik angkot tidak [punya aset – pen],”terang mantan menteri BUMN era SBY itu panjang lebar. Saya sepakat untuk tidak sepakat. Dengan kata lain, saya sepakat itu benar, tetapi saya lebih memilih alternatif pembelian aset selain kendaraan bermotor, yang tidak sesuai dengan selera dan gaya hidup saya saat ini. Entah nanti. Namun, mengingat saya lebih cenderung ke gerakan penekanan dampak pemanasan global, saya akan berpikir dan menimbang lebih panjang saat harus membeli kendaraan bermotor.

Karena itulah, Uber memiliki peran dalam memperkaya pilihan moda transportasi bagi orang-orang kelas menengah bahkan bawah sekalipun seperti saya yang belum memiliki hasrat membeli kendaraan bermotor dan lebih memilih kenyamanan (sangat nyaman bahkan karena mobil-mobil Uber biasanya kendaraan pribadi mewah) serta aspek kepraktisan dalam mobilisasi sehari-hari tanpa direpotkan dengan tanggung jawab sebagai pemilik kendaraan yang kerap cemas di tengah digelarnya operasi Zebra atau Lilin.

Saya pun memutuskan mengunduh aplikasinya di iPhone. Untuk menggunakan Uber, saya harus memasukkan nomor kartu kredit. Saya mencoba memasukkan nomor kartu debit saya karena alasan iseng semata. Dan ditolak oleh server Uber. Akhirnya, saya masukkan juga nomor kartu kredit Bank Mandiri saya. Diterima seketika itu juga. Kemudian seperti aplikasi mobile lain, saya juga harus memverifikasi nomor ponsel agar komunikasi suara dan teks (SMS) lebih lancar dengan sang sopir sewaan. Masukkan kode verifikasi yang berupa 4 digit angka itu dan Anda siap menggunakan layanan Uber.

Siangnya saya hendak menuju kawasan Sudirman. Saya harus tiba pukul 2 di sebuah tempat. Pukul 1 kurang 10 menit, saya mencoba memesan kendaraan dari Uber dulu. Saya buka aplikasi dan mulai menentukan “pickup location” (lokasi penjemputan) kemudian juga “destination” (tujuan). Dari penentuan itu, kemudian Uber akan mengeluarkan estimasi atau taksiran biaya transportasi. Dalam pemesanan saya ini, taksirannya Rp30.000 sampai Rp34.000. Di bawahnya, Uber menyertakan sangkalan (disclaimer) “Fares may vary due to traffic, weather, and other factors. Estimate does not include discounts or promotions.” Saya ‘tap’ layar di tombol “call UberBlack” tetapi muncul notifikasi “Sorry for the delay. We had some trouble connecting, but should have you moving shortly. Try again or sign out.” Apakah ini karena masalah jaringan Internet yang lambat? Saya kurang tahu. Yang pasti ini agak sering terjadi tetapi bukan masalah besar.

Sebuah ikon mobil berwarna hitam tertampil di aplikasi Uber, menandakan ada satu mobil armada mereka yang sudah siap siaga menjemput saya. Ada juga estimasi waktu mencapai titik lokasi penjemputan. Nama dan foto wajah si sopir itu pun tertampil di bawah. Namanya Bara Priadi, mobil yang ia kendarai Mercedes-Benz S-Class. Rata-rata bintang yang sudah ia kantongi 4,7. Di Uber, setiap pengemudi memang diberikan skor kualitas layanan. Jangan sampai sopir mendapatkan bintang 1 atau 2. Minimal 3. Lebih baik lagi 4 atau bahkan 5. Kalau tidak, mereka harus siap diskors 7 hari dari pekerjaannya.

Sejurus seseorang dengan nomor telepon asing menghubungi saya. Saya angkat. Rupanya Bara, katanya,”Pak, maaf saya baru saja mau makan siang. Bagaimana kalau bapak minta yang lain dulu?” Saya jawab,”Baiklah.” Saya maklum karena saya sendiri saat dihubungi juga sedang memasukkan beberapa suapan terakhir dari soto ayam yang saya pesan.

Kemudian saya memanggil mobil lainnya. Saya mendapati pengemudi lain bernama Kamid, yang masih 9 menit dari lokasi saya berada. Ia menggunakan Toyota Innova. Memang tidak semewah yang sebelumnya tetapi bukan masalah bagi saya. Kamid memiliki rata-rata perolehan bintang yang lebih baik, yaitu 5. Bagaimana bisa sesempurna itu? Saya tahu jawabannya kemudian setelah turun dari mobil itu.

Kamid menelepon saya setelah saya selesai bersantap siang dan berdiri di dekat jalan. Sebelumnya ia menelepon meminta arahan lokasi. Dalam beberapa menit, saya mendapati seseorang dengan mobil Toyota Innova dan wajah yang mirip dengan foto tadi. Ia menebak-nebak, karena saya belum mengunggah foto ke profil Uber saya. Ia masih ragu hingga saya memastikan bahwa sayalah yang memesan mobilnya.

Masuklah saya dan dimulailah perjalanan selama 20 menit dari Karet Pedurenan hingga ke Sudirman. Bukan jarak yang begitu jauh. Dekat saja. Tetapi karena cuaca begitu panas, rasanya akan lebih nyaman duduk di mobil berpendingin udara daripada angkot dan bus Kopaja yang gerahnya buka  kepalang.

Kamid seorang pria berkeluarga yang berusia 32 tahun bulan depan. Setelah saya masuk, ia menepi dari bahu jalan. Di dasbornya, terlihat sebuah iPhone hitam, dan di layar aplikasi Ubernya terlihat nama saya. Ia mengecas smartphone tersebut, yang ternyata bukan miliknya. Itu fasilitas Uber, kata Kamid. Ponselnya sendiri – yang ia simpan di antara kedua pahanya – tidak semahal itu.  Ia mungkin tidak tahu risiko infertilitas yang dipicu sinyal radio jika meletakkan ponsel sedekat itu dengan bagian tubuh yang vital tetapi bukan masalah, karena toh ia sudah punya 1 anak.

Tidak seperti taksi burung biru, mobil layanan Uber adalah mobil pribadi. Sopirnya tak memakai seragam. Mereka juga tidak menggunakan alat komunikasi radio dengan operator yang memberitahu jika ada pelanggan. GPS tak ada, hanya smartphone yang memandu mereka.

“Tadi dari selatan ya, pak?” saya membuka percakapan karena saya melihatnya dari jl. HR Rasuna Said. Ia menjawab dengan ramah,”Iya tadi kebetulan dari sana macet. Lagi keliling-keliling aja.”  Saya duduk di bangku depan di sebelah kirinya. Saya hendak duduk di belakang tetapi mengurungkan niat karena saya ingin bercakap-cakap.

“Biasanya kerja apa, pak?” tanya saya lagi.

“Saya sopir ekspedisi, pak.”

“Ini lagi libur atau bagaimana?” saya ingin tahu. Di benak saya, Kamid adalah pemilik mobil ini. Atau penyewa setidaknya, kemudian ia mendaftarkan diri ke Uber. Begitu asumsi saya. Saya salah.

“Nggak, pak. Ini sudah habis kontrak dan ada pengurangan karyawan dan armada. Yang dicari yang punya SIM B1 umum.”

“Oh, bapak nggak punya ya?”

“Kalau saya B1 polos, pak.”

Saya bertanya-tanya arti B1 polos dalam hati. Saat masuk rupanya mereka tidak mewajibkan SIM B1 umum, setelah mereka tahu pajak untuk SIM B1 umum dikenai pajak lebih murah dari yang ‘preman’ jadi diutamakan yang umum. “Jadi plat mobil yang sekarang ya plat mobil kuning semua,”terangnya. Saya mencoba mencerna makna ‘preman’ tadi. Apakah itu artinya membuat SIM dengan cara ‘nembak’ alias instan dengan cara menghubungi oknum dalam agar lebih cepat? Saya ingat dengan penuturan suami dan anak ibu kos saya yang membuat SIM C lebih cepat. Dua SIM cukup bayar Rp1,2 juta. Masing-masing Rp600 ribu. Untuk prosedur biasa bisa memakan waktu 6 bulan katanya tetapi harganya jauh lebih murah, sekitar seperempat tarif pembuatan instan. Tidak ada ruang untuk yang ingin cepat tetapi taat hukum dan aturan. Hanya ada dua: cepat tetapi ‘melanggar’ prosedur, atau lambat tetapi taat prosedur. Uang menentukan prioritas layanan. Seperti bank yang memberikan layanan prima bagi nasabah prioritasnya. Tetapi masalahnya, ini layanan publik, bukan komersial.

“Tahu dari mana Uber ini?” tanya saya.

“Dari teman. Dari Internet juga. Ya, cari-cari, pak. Ya namanya lowongan kerja. Yang penting bisa kerja gitu, pak,” ungkapnya.

Kamid tidak segan berbagi bagaimana ia bisa menjadi pengemudi Uber. Jika di negeri asalnya para pemilik mobil sendiri yang mengendarai mobil Uber, di Jakarta metodenya lain. Mungkin setidaknya untuk saat ini. Apakah karena kesulitan menarik minat para pemilik mobil yang menganggur di garasi untuk menyewakan mobil mereka? Saya kurang tahu tetapi Kamid berkata Uber telah menyediakan segalanya. Baik iPhone dan mobil sudah ada. Ia hanya tinggal menyetir.

“Baru berapa bulan kerja di Uber, pak?” selidik saya.

“Waduh, saya saja baru mulai kerja hari ini!” jawabnya. Itulah mengapa ia masih mendapat skor sempurna, karena seorang ibu yang menuju ke kedutaan Belanda sebelum saya mungkin sudah berbaik hati memberikan skor bintang 5 padanya. Ibu itu baik hati, apalagi kata Kamid, ia sedikit membuat kesalahan. Karena belum terbiasa memakai iPhone, jarinya menyentuh layar saat aplikasi terbuka dan entah kenapa ada sedikit kesalahan soal tarif. Ia meminta maaf dan si penumpang itu memakluminya. “Kepencet trip-nya jadi dia kena cas. Saya telepon atasan saya,’Pak, maaf ini ada trebel (maksudnya ‘trouble‘).

“Kemarin dua hari saya ikut tes sambil lihat video cara kerjanya. Setelah paham dan lulus tes, saya dipanggil kembali.”

“Tes apa?” saya terus menggali informasi.

“Ya… ringan sih sebenarnya,” jawabnya dengan agak berat, terdengar agak menimbang-nimbang pilihan kata yang tepat.

“Biasalah tentang pelayanan konsumen. Bagaimana agar tidak komplain. Beda dari yang di pabrik. Diusahakan kami dapat bintang dari pelanggan antara 4-5. Tapi kami tidak boleh minta.”

“Memang kalau dapat di bawah bintang 3 bisa diberhentikan atau dapat penalti?” tanya saya lagi.

“Ya, bisa di-skorsing 7 hari.”

Obrolan kami tiba-tiba berbelok menjadi lebih personal. Dari peran penyelidik, kini saya yang menjadi terselidik. Kami bertukar informasi usia, asal daerah, latar belakang keluarga, pendidikan.

“Kalau bapak tahu jalan ke tempat tujuan?” ia sekonyong-konyong bertanya.

Apakah ia tak tahu tempat tujuan saya? Ternyata sama saja dengan sebagian sopir taksi burung biru yang hampir buta rute di dalam Jakarta, batin saya.

“Saya kalau [daerah] kota, baru ini,” ia mencoba menjelaskan. Kamid menerangkan mengapa ia sampai kurang paham dengan daerah Sudirman.

Sebelumnya ia bekerja sebagai sopir perusahaan ekspedisi outsourcing. Ia mengaku hanya melewati jalan-jalan protokol, tidak sampai menelusuri jalur-jalur tikus dan gang.

Mobil Toyota Innova kami meluncur ke jalan protokol Sudirman. “Belok kiri, pak,” kata saya begitu kami berada di depan Sampoerna Strategic Building. Kami perlahan menuju ke Senayan dengan kecepatan rata-rata 30-40 km/ jam. Kondisi lalu lintas saat itu pun masih agak lancar. Kami bersiap untuk melewati bottleneck di depan kampus Unika Soegijapranata.

DI

Kepercayaan yang sangat besar bermata dua. Ia bisa membuat seseorang melejit karena berhasil mewujudkan amanah orang lain. Atau bisa menjadi batu sandungan yang akan mengakhiri riwayat bukan hanya orang yang menerima kepercayaan tetapi juga si pemberi kepercayaan. Toh kompleksitas kepercayaan ini tidak membuat Dahlan Iskan (selanjutnya disebut DI) menyerah begitu saja. DI tetap yakin dengan memberikan kepercayaan besar pada mereka yang dianggapnya patut menerima tanggung jawab itu, semua akan berjalan baik sebab dirinya bukan manusia super. DI tetap butuh orang lain untuk mendelegasikan tugas-tugas penting menjalankan bisnis atau organisasi yang ia pimpin.

Syaratnya bukan main-main. Si calon penerima kepercayaan mesti memiliki integritas dan antusiasme yang sangat baik. DI mengaku saat menjadi menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) semasa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, ia mengangkat seorang direktur utama dengan dua syarat tadi.

DI tidak banyak mempersoalkan mengenai kecerdasan calon tersebut. Logikanya, kata DI, jika seseorang sudah mencapai level setinggi itu (hampir menjadi direktur utama), pastinya ia sangat pintar. Tidak ada signifikansinya untuk mencermati aspek kecerdasan si kandidat.

Integritas seolah seperti sebuah daya pembeda di antara lautan orang cerdas seperti sekarang.

KESEIMBANGAN INTEGRITAS-ANTUSIASME

Antusiasme, yang ia definisikan sebagai keinginan untuk maju, juga memainkan peranan penting dalam menentukan terpilihnya seseorang menjadi pemimpin yang baik dalam kacamata DI. Jika seseorang sudah memiliki integritas yang sudah tidak diragukan lagi, belum tentu ia akan menjadi pimpinan yang ideal. Karena integritas tanpa hasrat membuat kemajuan dalam organisasi hanya akan membuat kemandekan. Apa artinya integritas itu jika ia tidak dilengkapi dengan antusiasme yang bisa ditularkan ke sekelilingnya dalam organisasi tempatnya berada dan bekerja untuk kemudian menggerakkan orang lain dalam mencapai kemajuan?

DI pun mengisahkan seorang direktur utama yang pernah ia berhentikan. Bukan karena dia sudah tertangkap basah atau terbukti dengan meyakinkan melakukan tindakan korupsi, tetapi ‘hanya’ karena dirut itu dianggap tidak kompeten dalam membuat kemajuan dalam organisasi yang dipimpinnya. Ia dikenal jujur, bergaya hidup bersahaja, sangat sederhana untuk ukuran seorang petinggi negara. Ke mana-mana naik angkot, kata DI. Singkat kata, ia memiliki dan menunjukkan standar integritas yang tinggi, jauh dari rekan-rekan sejawatnya.

Saat ia mencopot jabatan si direktur utama yang bersahaja dan jujur luar biasa itu, DI beralasan,”Maaf saya mencopot Anda meski Anda dikenal berintegritas tinggi karena integritas dan kejujuran itu hanya berguna untuk Anda sendiri tetapi tidak bisa memajukan organisasi ini. Bapak hanya ingin masuk surga sendirian, padahal kita mau masuk surga beramai-ramai.”

DI menyoroti bagaimana perlunya menjaga keseimbangan integritas dan antusiasme tersebut. Jangan sampai terjadi ketimpangan dalam diri seorang pemimpin terutama yang bergerak di bidang bisnis dan pemerintahan. Kedua aspek itu sama-sama penting dan dibutuhkan.

Kecemasan DI itu ia kaitkan dengan pemerintahan atau organisasi manapun yang mencoba menampilkan citra kejujuran dan mengabaikan aspek antusiasme. Apakah selain jujur, ia bisa membuat kemajuan nyata? Karena mereka yang jujur tetapi tidak bisa membuat kemajuan – menurut hemat DI – tidak diperlukan di sebuah organisasi. DI yakin masih banyak orang jujur lainnya yang bisa membawa kemajuan dalam organisasi. “Jangan silau dengan seseorang yang secara publik terkenal sangat jujur tetapi belum tentu memiliki keahlian, ketrampilan membuat kemajuan,”jelas DI. Apakah tokoh ini mencoba mengarahkan kritik pada pemerintahan sekarang atau pemerintahan lainnya? Saya tidak bisa gegabah mengartikan pernyataannya tersebut.

PENTINGNYA JADI ORANG TIDAK PENTING

Tidak memiliki jabatan itu penting, ungkap DI. Dengan begitu, kita bisa mengetahui kita bisa hidup atau tidak. Tahapan inilah yang ia sedang lalui.

DI pernah menjadi direktur utama kira-kira 100 perusahaan di Grup Jawa Pos dan sekonyong-konyong DI suatu hari ingin berhenti dari jabatan strategis itu. Tanpa ragu, ia mengumumkan pengunduran dirinya itu.

Namun, itu belum apa-apa karena DI masih menjabat sebagai komisaris utama. Setidaknya selama pengalaman tak menjabat posisi dirut itu, ia merasa baik-baik saja.

DI kemudian mengambil langkah radikal dalam karir bisnisnya. Ia mengundurkan diri juga dari posisi komisaris utama dalam seluruh perusahaan tempat ia terlibat. Ia ingin tahu bagaimana rasanya hidup tanpa jabatan sama sekali.

“Ternyata baik-baik saja, tidak ada masalah karena saya masih meminta satu hal pada Grup Jawa Pos. Silakan mereka melakukan apa saja, angkat siapa saja menjadi apa saja. Saya tidak akan ikut campur lagi, ikut menilai kelayakannya. Beri saya satu kewenangan saja:memberhentikan siapa saja,”DI berceloteh. Alhasil, pengangkatan pun dilakukan dengan lebih cermat karena jika si orang tidak bekerja dengan baik, ia akan diberhentikan langsung oleh DI.

DI harus rehat dari semua aktivitas bisnisnya pasca vonis kanker hati yang hampir merenggut nyawanya. Ia harus menjalani perawatan agar bisa bertahan hidup dengan melakukan transplantasi hati (liver) di Tiongkok selama hampir 2 tahun. Setelah sembuh, ia berjanji akan mengabdikan dirinya untuk hal lain yang lebih besar daripada bisnis dan mencari uang. Kini ia sepenuhnya mengabdikan diri untuk masyarakat luas melalui entrepreneurship sosial.

Saya sempat ingat kisah DI yang dimuat di Koran Jawa Pos suatu hari di tahun 2009. Saat itu saya sedang istirahat di sela-sela jam mengajar di sebuah kampus swasta di kota asal. Berita di televisi penuh dengan Tragedi Lumpur Lapindo, atau kata ANTV, TV One dan Viva News, Lumpur Sidoarjo.

KEHIDUPAN PASCA MENTERI BUMN

DI merasa pesimis dengan kansnya menduduki jabatan di pemerintahan lagi. Apa pasal? Dirinya tidak memiliki partai, tidak memiliki hubungan dekat apapun dengan poros kekuasaan dari pihak pemenang Pemilu Presiden lalu, dan jabatan Menteri BUMN sangat strategis sehingga banyak sekali diincar orang.

Dua bulan sebelum diumumkannya susunan kabinet pemerintahan Jokowi-JK, DI sudah yakin dirinya tidak terpilih. Dan ia harus memutar otak mengenai bagaimana cara menghabiskan waktunya nanti.

Kualitas kepemimpinan seseorang bukan hanya dilihat dari keinginannya untuk maju bersama orang-orang yang ia pimpin dan ajak kerjasama, tetapi juga dilihat dari bagaimana ia bersikap objektif dan tidak memaksakan kehendak demi kebaikan bersama. Itulah yang persisnya yang dilakukan oleh DI saat ia sadar kemungkinannya bekerja sebagai aparatur negara sudah sangat tipis, dan memang akhirnya ia tidak terpilih.

DI sempat terpikir untuk kembali ke Grup Jawa Pos (GJP). Akan tetapi, sesudah menimbang masak-masak, DI mengurungkan niatnya. Ia memutuskan tidak kembali ke perusahaan yang sudah membesarkan namanya itu. “Karena saya sudah 8 tahun meninggalkan GJP. Omong kosong kalau saya masih tahu detil GJP. Seseorang yang tidak tahu detilnya bisa salah mengambil keputusan.”

Alasan keduanya ialah bahwa DI mengamati perkembangan GJP tanpa dirinya selama sewindu itu lebih pesat daripada masanya dulu. “Berarti sistem di sana (GJP-pen) berjalan, kepemimpinan di sana berjalan, dan segala macam parameter berjalan sesuai harapan,”ia mengatakan. Bila ia kembali ke GJP, DI ragu dirinya akan bisa bekerja tanpa merusak sistem dan tatanan yang sudah ada dan berjalan baik itu. Kebesaran hati semacam inilah yang perlu dimiliki banyak pemimpin kita. Keluasan pemikiran yang membuat kita tidak menjadi gila kekuasaan.

“Hatching Twitter”: Dinamika Startup dalam Balutan Sastrawi

Jurnalis dan kolumnis New York Times Nick Bilton bisa dikatakan berhasil menciptakan sebuah biografi yang menarik. Hanya saja, karyanya yang satu ini bukan biografi yang membahas mengenai kehidupan satu individu. Bilton menuliskan Hatching Twitter, sebuah rentetan sejarah startup legendaris yang kerap disebut bersamaan dengan Facebook sebagai dua penguasa besar dunia jejaring sosial di dekade kedua abad ke-21. Ia menuliskan secara runut dinamika Twitter yang sebagaimana startup lainnya juga mengalami banyak momen-momen dramatis. Riwayat Facebook telah diprofilkan dalam film “The Social Network”. Sayangnya, Twitter belum. Namun, siapa tahu ada rumah produksi yang tertarik mengadaptasi karya Nick Bilton ini menjadi sebuah karya sinematografi yang elok dan sedap dihayati?

Entah disengaja atau tidak, Nick Bilton menurut pandangan saya sudah menggunakan metode penulisan yang berhasil membuat naskahnya menjadi lebih filmis, alias layak dijadikan sebagai film. ‎Di sini, ia mengabaikan aspek-aspek kaku yang biasa dijumpai dalam dunia entrepreneurship dan bisnis. Anda sama sekali tidak akan menemukan kosakata khas keuangan seperti IPO, saham, atau sebagainya. Dengan begitu, tidak berlebihan kalau saya katakan buku ini bisa dikonsumsi siapa saja, tanpa membuat dahi berkerut, tanpa harus mencari kata yang asing di Google, tanpa harus merujuk glosarium. Singkat kata, Bilton meramu perjalanan Twitter hingga menjadi seperti sekarang agar mudah dicerna masyarakat awam, anak-anak sekolah dasar yang sudah bisa membaca sekalipun.

Pertama kali membaca, saya sudah bersiap untuk berpikir memahami kalimat-kalimatnya yang teknis dan pelik. Setelah banyak membaca artikel-artikel panjang di blog-blog teknologi dan startup seperti TechCrunch, Gizmodo, Pando, dan Recode‎ yang kadang tidak jelas konteksnya, saya merasa lebih nyaman membaca penuturan Bilton yang sangat sastrawi.

Jelas Bilton menanggalkan gaya bertutur seorang kolumnis dan jurnalis, serta mengadopsi gaya storytelling yang membuat alur dalam buku ini terkesan mengalir seperti aliran air. Karena menulis tentang Twitter, Bilton juga menggunakan jargon khas jejaring sosial itu. Dalam judul dan sub-judulnya, Bilton menuliskan tagar (hashtag) seperti #START untuk menandai bab pengantar yang berisi penjelasan kondisi Twitter tanggal 4 Oktober 2010 pukul 10.43 pagi. Terdepaknya CEO Evan Williams diceritakan di sini. Detil-detil remeh yang sebelumnya hanya diketahui pihak internal Twitter‎ kini terkuak dan justru menjadi kekuatan dari kisah itu karena Anda para pembaca bisa merasakan gejolak emosi para pelaku dalam kisah nyata itu. Misalnya, Anda bisa menemukan detil menarik di bab #START, saat Evan Williams merasa mual dan ingin muntah setelah “ditendang” dari kursi CEO dalam sebuah kudeta di ruang rapat direksi Twitter yang “berdarah”. Istrinya Sara yang juga bekerja di sana menghampiri Evan yang memiliki akun @ev dan bertanya,”Bagaimana perasaanmu?” Evan menjawab,”Sial (Fuck).” Ia harus mengumumkan pengunduran dirinya itu sembari memperkenalkan seorang suksesor, Dick Costolo.

Saya suka dengan gaya penulisan seperti ini. Sangat GQ. Maksud saya, mirip dengan gaya menulis para jurnalis Majalah GQ. Tulisan mereka berdasarkan fakta, bernilai jurnalistik, tetapi memiliki nilai sastrawi yang tinggi. Penuturannya lewat perspektif orang pertama. Di buku ini, sudut pandang orang ketiga tunggal dipakai agar penulis lebih bebas merangkai potongan-potongan kisah yang ia dapatkan dari “beberapa ratus jam wawancara dengan para pegawai dan eksekutif Twitter dan Odeo dan teman eksekutif, pejabat pemerintah, diskusi dengan hampir semua orang yang namanya disebut di dalam buku serta para pesaing mereka‎.” Jadi bisa dibayangkan betapa keras kerja Bilton mengumpulkan fakta dan informasi yang terekam dalam berbagai email internal, rekaman wawancara dan tentu saja data di jejaring sosial Twitter. Ia mengklaim telah memastikan kebenaran tempat, waktu terjadinya kejadian dengan melacaknya di Twitter.

Hatching Twitter cocok untuk Anda yang ingin membaca sesuatu yang bermakna tanpa harus banyak berpikir keras mengenai bisnis dan entrepreneurship. Anda akan dimanjakan dengan penuturan sisi-sisi humanis para entrepreneur ini, yang tentunya jarang dibeberkan di tulisan para jurnalis teknologi yang biasa menyorot angka dan data, untung dan rugi, tren dan pelemahan, dan hal-hal lain yang sangat jurnalistik.

Membaca buku ini membuat saya juga ingin bertanya,”Siapa yang perjalanan startupnya mau saya tulis jadi buku ya?” Seandainya ada yang bersedia.

%d bloggers like this: