Category Archives: environment

Mr. Spruce

“Nama Anda seperti nama pembalap,” komentar saya begitu membaca kartu namanya. Sebagai orang asli suatu negeri lengang di belahan bumi utara sana, tingginya cuma rata-rata orang nusantara. Untuk ukuran keturunan suku Viking, saya pikir ia kurang menjulang.
.
Saya baca jabatannya. Atase, menangani urusan konsuler. Saya pandang lagi raut mukanya dan tampilannya. Dengan kaos sederhana begitu, siapa nyana ia pejabat tinggi di sini. Usianya tidak muda lagi dengan wajah berberewok abu-abu di sana sini. Saya tebak di masa mudanya rambutnya yang mulai membotak dan memutih juga sepirang gadis-gadis muda Skandinavia yang bersama dengannya. Gadis-gadis yang dengan seksisnya disapa jahil oleh oknum pegawai birokrat kroco yang sambil merokok berkata,”Neng, sini. Mau ke mana, Neng?” Norak.
.
Sebelum ia sodorkan kartu nama, saya sempat mengobrol beberapa lama setelah iseng menanyajan padanya apakah ada rilis pers dalam peristiwa yang baru saja kami saksikan bersama.
.
“Kenapa pohon ini yang ditanam? Apakah ini pohon asli negeri Anda?” Saya lontarkan pertanyaan tanpa banyak pertimbangan, untuk kemudian sedikit menyesali kekonyolan yang terkandung di dalamnya.
.
Ia menjelaskan panjang lebar bahwa tentu pohon yang dipilih ditanam di Jakarta bukan pohon asli tanah airnya yang dekat dengan kutub utara. “Jelas pohon itu tidak akan bisa tumbuh di Jakarta yang panas sepanjang tahun.” Saya tersenyum kecut. Tentu demikian logikanya.
.
Pohon aslinya bernama Home Spruce. Saya yang seumur hidup mendekam di wilayah tropis tak bisa membayangkan rupa dan ciri fisik pohon itu.
.
Ia bersedia membantu menyusun imaji Home Spruce dalam benak saya. “Pohonnya mirip cemara. Kami sering pakai sebagai pohon natal juga. Ini pohon menjadi kebanggaan nasional kami.”
.
“Apakah hanya tumbuh di negara Anda?” Timpal saya tanpa berani menyebut nama. Beginilah kalau keasyikan berbicara, lupa berkenalan.
.
Home Spruce, imbuhnya, hanya tumbuh di belahan bumi utara. Kayunya bisa dipakai apa saja. Termasuk membangun rumah dan perabotan. Multiguna. Bahkan getahnya bermanfaat untuk mempercepat penyembuhan luka. Untuk meredakan kemerahan di kulit, biasanya getah tadi dicampur dengan lilin lebah alias bee wax. Oleskan dan keluhan raib. Tetapi getah itu juga yang membuat kayu Home Spruce mesti dikeringkan dulm dulu sebelum diolah sebagai elemen bangunan.
.
Saya pernah dengar negerinya yang damai dan hening. Penduduknya sedikit, tak banyak berulah, relatif tertib dan waras. Politik domestik tak banyak menjadi berita. Lain dari sini yang hingar bingar. Untuk bertanya soal politik, saya merasa tidak tergelitik. Cukup.
.
Saya bersimpati padanya. Kesulitan beradaptasinya luar biasa untuk bisa hidup di Jakarta. Lalu lintas dan cuaca menjadi tantangan utama. Ia stres dengan Jakarta yang penduduknya setara total rakyat negerinya. Hanya saja mereka hidup di lahan yang jauh lebih lapang dari sini. Saya bergurau bahwa hutan menjadi pemisah antarrumah. Bukan pagar atau halaman. Saya terka dari deskripsi latar tempat novel Jonas Jonasson.
.
“Kami punya lelucon khas,” tuturnya. Ia tunjukkan kartun di layar iPhonenya. “Dua orang di negeri kami jika bertemu biasanya hanya bertatap mata lalu tersenyum.” Itu karena mereka tinggal begitu jauhnya dari tetangga terdekat sampai mereka tidak tahu apa yang mesti dibicarakan saat bersua.
.
“Pernah saya mengantar orang Indonesia untuk tinggal di sebuah rumah. Ia datang di saat terburuk. Bulan September sampai April. Gelap dan dingin. Dua bulan saja ia bertahan. Tidak kuat,” ujarnya.
.
Depresif memang. Makhluk tropis yang malang terkungkung dalam cengkeraman iklim ekstrim.
.
Tetapi setidaknya itu tempat ideal untuk beryoga dan bermeditasi, tandas saya.
.
“Ya, Anda betul. Hahaha!”
.
Saya lempar pandangan beberapa puluh meter ke depan, mengamati kendaraan-kendaraan yang menggeram tak bisa melaju dikekang merahnya lampu. Para pengendara yang berpeluh dan tak sabaran tertimpa sinar surya. Ah, bagaimanapun keramaian semacam inilah yang mungkin membuat orang tropis dari sini tetap optimis dan bergairah. Meski menggerutu lebih sering, kami juga tertawa lebih sering. Dan bagaimanapun dahsyatnya setan bernama inferiority complex bersemayam dalam otak kami yang membuat kami memuja negeri dan bangsa asing, kami akan selalu merindukan juga tempat yang panas, hiruk pikuk, dan kacau balau ini tak peduli banyaknya tempat lebih indah dan cantik yang terkunjungi oleh kami di muka bumi. (*)

Leave a comment

Filed under environment

Happy Earth Day, Everyone!

“Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people.”- Carl Sagan

If this planet is so insignificant, insubstantial, and
inconsequential, how about each of us? Totally meaningless cosmic dust particles???! But anyway, happy earth day! I love my planet and I hope so do you all.

{image credit: wikimedia}

Leave a comment

Filed under environment

Plastik Biodegradable Tak Seramah Lingkungan yang Kita Duga

Jangan tertipu. Hanya karena ada awalan “bio”, tidak serta merta sesuatu pasti ramah lingkungan. Seperti itulah yang ditemukan oleh tim peneliti dalam sebuah studi ilmiah yang menyimpulkan bahwa zat tambahan yang umum dibubuhkan dalam plastik yang diklaim biodegradable (lebih mudah dan cepat diurai secara alami di alam bebas) sebenarnya tidak lebih cepat membantu penguraian bahan tersebut dibandingkan plastik yang tidak diklaim biodegradable.

Dengan naiknya populasi manusia dan meluasnya tempat penimbunan sampah, sampah plastik menimbulkan masalah besar di seluruh dunia. Lain dari banyak jenis sampah lainnya, plastik membutuhkan puluhan tahun untuk bisa terurai. Sejumlah perusahaan mengklaim telah bisa memecahkan masalah itu dengan memproduksi plastik yang mereka klaim sebagai “biodegradable”. Plastik jenis itu memiliki zat tambahan yang dikatakan mampu mempercepat penguraian bahan-bahan kimia dalam plastik.

Plastik yang tidak tertimbun di tempat pembuangan akhir (TPA) kerap tertimbun begitu saja di jalan-jalan perkotaan, dan berakumulasi di sungai-sungai, lautan dan sumber air minum.

Baru-baru ini, sebuah tim peneliti dari Michigan State University yang dikelapai oleh Susan Selke dan Rafael Auras menguji tingkat
keteruraian plastik yang memiliki 5 senyawa berbeda yang dikatakan bisa meningkatkan kecepatan proses penguraian plastik.

Tim peneliti yang menjadi bagian dari Center for Packaging Innovation and Sustainability
kampus tersebut menguji plastik di bawah timbunan sampah di lab dan plastik yang terkubur dalam tanah selama 3 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada satu pun senyawa itu yang meningkatkan kadar keteruraiannya.

Studi ini diterbitkan pekan ini dalam jurnal Environmental Science and Technology.

“Saya merasaskeptis mengenai plastik biodegradable dari awal karena material itu tak biasanya terurai dengan mudah,” ujar Fred Michel, pakar manajemen sampah dan profesor di Ohio State University yang dikutip oleh KQED. “Sulit untuk membayangkan material yang Anda tambahkan ke plastik yang akan secara ajaib membuatnya terurai dengan lebih mudah.”

Michel dan rekan-rekannya juga menemukan bahwa klaim dari
pabrikan-pabrikan plastik itu sebagian besar tidak dapat
dipertanggungjawabkan.

“Saya tidak terkejut,” ucap Michel,”tetapi menarik mengetahui adanya material di pasar yang seperti itu, yang memiliki klaim yang tak bisa dibuktikan dalam pengujian kami.”

1 Comment

Filed under environment

Welcome Drought…

‎It’s been 3 days since the last time when the water pump operated and managed to suck water from the bowel of earth for us to shower and wash our dirty laundry and whatever needs cleaning. Now, we are almost entering the state of waterlessness if the other well is dried completely.

We’re not alone though. Some households are also experiencing the similar problem around the neighborhood, Karet Kuningan. They claimed the problem is the rain hasn’t arrived just yet. It was only super light drizzle for several days, but the temperature itself has already gone down. As we all know, the peak of dry season this year has been unusually horrifying. The temp reached 35 degree centigrade and it felt like in Sahara.

Now that ‎we are under such circmstance, we try to seek a scapegoat instead of fixing this unsustainable nature-exploiting behaviors like watering your dear plants or your dusty front yard with CLEAN tap water that actually is more suitable for other purposes like drinking, or bathing. Seriously, this infuriates me. Please, don’t act like clean water is cheap now. Even if it is, your money is useless anyway once the water supply is all used up with such recklessness by us. I cannot stress more! Clean water is a limited natural resource.

It’s time to teach ourselves how to save clean water. Perhaps you can start from closing the tap before you undo your wristwatch or roll your sleeves during wudhu. Or while you brush your teeth‎! I hate it so much when people leave the water runs while they are brushing teeth. No offense but it’s moronic. They let it run just like that and I can’t believe they do it. Craziness!

So the long-term solution wouldn’t be drilling deeper to suck more water from the mother earth, but how we all can change this behavior pattern and mindset towards clean water.

On that note, I think it’s the best time to tell these kids to change the way they use clean water. Unless they’re in a swimming pool, playing with too much clean water ‎should be considered a SIN. Make them feel the guilt of using too much clean water when showering, and they’ll understand:water is NOT to be used at their own disposal.

Leave a comment

Filed under environment