Cacar Monyet: Asal Mula, Cara Penularan dan Pencegahannya

Apa itu cacar monyet dan bagaimana mencegahnya? Baca di sini selengkapnya.

(Foto: CNN Indonesia)

ADA sebagian orang yang nyinyir dengan kemunculan cacar monyet sebagai darurat kesehatan yang baru-baru ini diumumkan WHO. Mereka mengatakan: “Ada-ada saja penyakit zaman sekarang. Paling juga buat bisnis vaksin.”

Tapi bukankah begitu hukum alam? Manusia dan penyakit saling berlomba untuk mengungguli satu sama lain. 

Kalau kita mau pikirkan lagi, ini adalah perlombaan yang tiada henti. Setelah satu kuman atau virus ditaklukkan, bisa jadi ia menjelma sebagai mutasi lain yang lebih ampuh. 

Kita sudah tahu kisah kekebalan kuman setelah dibombardir antibiotik. Dan kisah begini adalah sebuah keniscayaan dalam dunia medis.

Dan dengan banyaknya persinggungan/ kontak kita dengan makhluk hidup lain yang tidak semestinya hidup di dekat kita (satwa liar yang habitatnya di hutan malah kita pelihara di rumah atau kita makan), tidak heran banyak virus dan penyakit baru yang menjangkiti manusia juga. Jadi jangan nyinyir dulu, karena ini juga sebab ulah kita sendiri.

Mari kita pisahkan fakta soal cacar monyet ini dari kebencian dan sentimen negatif kita terhadap para pebisnis vaksin sebab jika kita abai, yang rugi juga diri kita sendiri. Karena tak jarang orang yang benci vaksin lalu menutup mata juga soal fakta ilmiah mengenai bahaya virus atau bibit penyakit baru.

Terlepas dari perdebatan kaitan kemunculan wabah baru dan potensi laba buat bisnis vaksin itu, kita perlu mempersenjatai diri kita dengan fakta-fakta ilmiah soal cacar monyet agar tidak lagi terulang kekonyolan berakibat hilangnya nyawa akibat ketidakpercayaan pada sains sebagaimana yang kita saksikan sendiri di awal pandemi 2020 lalu.

ASAL MULA CACAR MONYET

Jika dirunut ke belakang, penyakit ini sudah muncul dalam radar WHO di tahun 1958 dan telah memicu wabah skala kecil di Afrika Tengah dan Barat. Tingkat kematiannya antara satu dan sepuluh persen.

Setelah itu, di tahun 1971 dan 1978 juga tercatat sudah ada puluhan kasus yang terdeteksi di Nigeria. Dan kini ia menyebar ke wilayah Cekungan Kongo juga.

Lalu di tahun 2017 terjadi wabah lokal di Nigeria yang terjadi kembali, demikian ungkap kepala Center for Genome Sciences di US Army Medical Research Institute of Infectious Diseases.

Dari catatan WHO, wabah cacar monyet sudah terjadi di Sudan tahun 2005, Republik Kongo dan Republik Demokrasi Kongo tahun 2009 dan Republik Afrika Tengah tahun 2016. Di antara 4 September hingga 9 Desember 2017 sudah ada 1 kematian, 172 kasus suspect dan 61 kasus penularan cacar monyet ini. 

BIBIT WABAH ZOONOTIK

“Zoonotik” di sini maksudnya adalah jenis penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Dalam 6 bulan terakhir, lebih dari 9000 kasus cacar monyet sudah dilaporkan di seluruh dunia di berbagai negara yang bukan wilayah endemik penyakit ini.

Awalnya virus ini dideteksi di Inggris, Portugis, dan Spanyol, terutama pada para pria yang berhubungan seksual dengan pria lainnya.

Yang patut diwaspadai ialah fakta bahwa penyakit ini sudah menyebar ke sejumlah negara dengan cepat. Tak terkecuali ke pasien yang imunitas badannya rendah dan anak-anak yang rentan.

GEJALA-GEJALA CACAR MONYET

Cacar monyet ialah penyakit yang langka sebetulnya. Ia disebabkan virus cacar monyet yang menjadi bagian dari keluarga virus cacar air. 

Gejala-gejala cacar monyet ini mirip dengan gejala cacar (variola) juga tapi lebih ringan, demikian menurut laman CDC.gov. Tapi virus cacar monyet ini tak berkaitan dengan virus cacar air ternyata.

Gejala-gejala cacar monyet adalah demam, sakit kepala, nyeri otot dan punggung, kelenjar limfa yang membengkak, rasa dingin, kelelahan berlebihan, kemerahan di kulit yang mirip jerawat atau lecet yang bisa muncul di muka, rongga mulut dan bagian tubuh lainnya dari tangan, kaki, dada, alat vital, bahkan anus.

Kulit kemerahan ini bisa berlangsung selama beberapa tahap sebelum akhirnya hilang. Sakitnya bisa berlangsung selama 2-4 minggu. Kadang ada pasien yang mengalami kemerahan dulu baru diikuti gejala-gejala lainnya. Pasien lain bisa saja cuma mengalami kemerahan tanpa gejala lain.

MENULAR LEWAT BERAGAM CAIRAN TUBUH

Virus cacar monyet ini ternyata bisa menular ke kita lewat air liur (termasuk droplet), air mani/ sperma, air seni, dan sebagainya. Temuan ini dipublikasikan dalam Eurosurvillance dan dipimpin oleh Barcelona Institute for Global Health (ISGlobal).

Karenanya, untuk mencegah penularan, kita harus mencegah sentuhan langsung dengan pasien yang terinfeksi atau sentuhan dengan permukaan yang terkontaminasi oleh luka pasien tadi. Itu karena luka tersebut bisa membawa darah yang mengandung virus.

Jadi apakah perlu kita memakai masker lagi sebagaimana yang sudah dilakukan saat mencegah Covid-19? 

Masih perlu, karena air liur tadi bisa keluar dalam bentuk droplet yang sangat kecil dan terhirup masuk ke dalam tubuh.

DITAKUTI SEJAK DULU

Virus cacar jenis apapun dikenal sudah menjadi ancaman sejak dulu bagi umat manusia. Virus cacar bahkan dicap sebagai agen atau senjata terorisme biologis yang paling ditakuti manusia.

Virus cacar bisa mengalahkan pertahanan imunitas makhluk inang seperti manusia. Faktor pembatasan inang SAMD9 dalam badan manusia bisa dikalahkan oleh virus cacar padahal SAMD9 ini cukup kuat untuk memerangi sel tumor dan mutasi gen SAMD9 ini bertanggung jawab atas satu jenis kanker serius.

Imunitas manusia dan virus cacar memang terus berlomba-lomba salingmengungguli satu sama lain. Virus cacar terus memperbaiki kekuatannya dari waktu ke waktu agar bisa bertahan hidup dalam inang mereka. Maka tak heran pertarungan melawan virus cacar termasuk cacar monyet ini bakal terjadi sepanjang sejarah umat manusia. (*/)

Pandemic Diary: Falling for Cikaracak Waterfall

Some Flowers from My New Normal Getaway

img_0681
Yellow

I told my friend yesterday that humans are viruses to the earth. That human population has now become so high that the balance of our ecosystem has been under massive threat!

He accused me of being overly cynical. He thought of me being an arrogant pessimist who is in denial of the fact that I am too a human being. I am undoubtedly too part of all this chaos.

He is true.

Humans reproduce and babies are born every single second as I am typing this post. And boy, is it a wonderful process of nature! Everyone praises the joy of having a child in their family. But as babies grow older, they lose their cuteness. And starting from their very first second of their lives, they begin to burden this earth.

But plants are different.

Flowers are part or all of plants’ reproductive structure. They are distinctive in color and form. And most importantly they are beautiful even if they grow in abundance.

Flowers are always seen as a symbol of beauty, happiness, respect, and gratitude in global civilizations. All humans without exception agree on this idea. No civilization or faith or religion has ever denied the beauty of flowers.

Plants never destroy our planet even if they are growing fast and proliferate so easily.

Perhaps because plants are not created with greed.

Plants know no ambition to rule or own in their lives.

They are the most delicate and toughest and most persevere sentient beings our universe has ever had. (*/)


 

Yellowish maroon
Orange
Purple
Pinkish
Strong pink
Violet
Bold red
White
Broken white
Soft red
Yellowish white
Purplish yellowish white
Pale Purple
Whitey pink

From My New Normal Getaway (Part 2 – End)

Can it be Venus?

[Read the previous part here: FROM MY NEW NORMAL GETAWAY (PART 1)]

“Morning Has Broken” might be the right song to sing at 5.30 am on top of the hill ridge that very morning.

I woke up at 4.50 am and got ready for a morning walk (or trekking as it involves uneven surfaces) with my best friend who got me here at the farm.

I hardly ever go outside before the sunrise in Jakarta in fear of cold wind (and the virus).

And now here, I had to deal with the chilly wind to climb up the hill in the absolute darkness which would soon be dispelled by the sunlight.

Virus is no longer on my mind. It was open green space and there were only 3 of us: my friend, I myself, and Pak Usaha who runs the farm with his team and also lives at the compound.

Pak Usaha led the way. I was a virgin trekker here and I had so much to anticipate.

We got the first post and it was a small hut made of bamboo (because what else is more environmentally friendly than bamboo?).

Breaking dawn…

LETTING GO OF ‘PERFECT’ SUNRISE 

Sunrise is certainly an everyday phenomenon but if you’re so used to urban living so you get chained at your work desk at home or at office, watching sunrise is simply a sublime experience. Something simple that we trade for a comfortable unnatural way of living, which turns out to spark the joy in us.

Watching sunrise is different from sunset. It requires more hardwork and determination. So if you do, you feel a sense of achievement and satisfaction.

But right there I did never think of such a thing. Who cared about achievement? No one would judge my experience of watching a sunrise on a particular morning? Silly, I think.

I watched the firmament only to find some lumps of dark grey clouds moving to block my view to the east where the sun ought to rise.

The weather did not permit us to have such a ‘perfect’ experience of sunrise.  But again, whose definition of ‘perfection’ here? Mine? Who do I think I am? How dare I judge and think that I deserve the control over all these external things from weather, clouds, the sun?

So I just sat down there and let go of my stubbornness to have the perfect sunrise experience that I think everyone must have.

Relief.

We were brought to another post, and still we had not seen a better angle. I didn’t even wish to improve the angle. But I just wanted to take time to really and fully digest this. This seemingly small feat was actually a big one. I’m sure to see a sunrise is a license to live another day, which some people on earth may have lost on that morning. So this was a great one.

Tea organically grown for you.

As we went down to the tea plantation, pak Usaha told us how amazing our Mother Nature is to allow us to grow tea with the best quality  at this elevation in Mount Salak.

Pak Usaha (in a white long sleeved polo shirt) and us

SOME WISDOM

We grow tea here organically and we try to offer the best quality with the latest technology, said he. He believes technology can enhance our experience of enjoying tea, unlike the traditional methods.

Pak Usaha told us to care about our foods starting from where they are produced, not from when they are served on our plates at home. And from foods, our conversation developed and widened, even larger than our un-simple, mundane lives in Jakarta.

As an organic farmer, his life is a statement of rebellion against the conventional, modern method of growing crops. These days, when food industry tries hard to make profit over benefits for people, he and his crew stay loyal to the natural method of growing plants that we consume every day, from rice to tea.

“As humans, we’re part of nature and when we use chemical fertilizers to grow our crops, we look down on nature and thus it’s a matter of time for us to perish,” Pak Usaha spoke wisely.

No caption needed.

This capitalistic method of feeding humans with industrialized foods is in fact caused by the rising number of world population. More humans keep appearing while resources are getting scarce and scarce. So when the last time we saw a lower pollution level during the corona lockdown around the world, a joke said that coronavirus is not the virus. Instead, humans are the actual virus to the nature! And I guess I cannot agree more on that. 

Am I against natalism? Well, you can say so. But at a certain length. With all this mess our predecessors have made, we cannot just reproduce uncontrollably like rats or cats or paramecium. So please 21st century Humans, reproduce mindfully. Because you cannot now get laid and ‘wash your hands off’ the responsibility as good parents. And having a kid is not only supposed to be a mindful decision but also a mindful life plan to mitigate any risks.

Pak Usaha also tickled our common sense as he criticized the government’s policy on foods. “The idea of providing 9 cheap basic foods (sembako murah) for everyone is just silly. And this is a ‘sexy’ campaign proposition every time a politician is running for a public office. 

So what’s the solution? Pak Usaha answered farmers in Indonesia must be allowed to voice their aspiration. They must be able to sell their crops fairly. HGB Agricultural trade must be done fairly just like in a fair-trade scheme. No economic oppression for farmers because they are the providers of the nation’s foods. Without farmers who can live a decent life like everyone else, it is impossible to tackle the latent and widespread poverty issue amongst farmers in Indonesia. 

Pak Usaha’s protest sort of tore my heart and conscience. I grew up in a non-agricultural family so I didn’t have any faintest idea about how bleak it is to live a life as a farmer but I do agree that farming is not a dream profession for many of youths in Indonesia. Everyone wants to be doctors, policemen, officials, directors, and so on but which Indonesian children are proud to say they want to be farmers in the future? I have never heard one myself. Mostly farmers in Indonesia work as farmers because they have no choice. They just have to do it.

Basked under the sun

NATURE ADVENTURE

What I like most about the farm is the river! I planned to dip my whole body but apparently it’s July and it’s dry season, which means water is getting scarce.

So I understand fully when I went down to the river only to find the river was filled with huge rocks and wild plants. But amazingly no snakes or leeches. Very safe, I’m not kidding. All I could dip in the river was my feet and ankles.

Fresh water in the river from Mount Salak

Besides rivers, visiting ricefields under the house was more than pleasant. Once again in my life, I stepped on earth and let my skin bare under the sun. I used to be playful and adventurous as a kid but as we all know school life brought me into the house all day long and playing outside was then slowly and gradually considered a useless pastime. It wouldn’t help improve my academic prowess, they guessed.

The brief contact with nature helped me sane again after being locked up inside for many months. It healed me in some way I cannot explain.

Sumptuous and fresh lunch: Nasi Bakar

VERDICT

I don’t know about you but if you asked me, I’d tell that this short getaway at the foot of Mount Salak is completely worth it. So worth the time and energy. It took only 2 hours to get there from the center of Jakarta, which is amazing! 

Some say it is overpriced but hey, I thank the price because without it as a barrier, there’d be too many visitors coming. And that’ll make physical distancing a lot more challenging in the New Normal. 

If you’re really interested, go take a personal car or if you want to decrease carbon emission, take a commuter line from the heart of Jakarta and as you get Bogor Station, book a personal car and it’ll get you there in 60 minutes only. (*/)

Fried rice and a sunny side up and fresh produce. Life is simple.

From My New Normal Getaway (part 1)

Burning down the stress in the short corona getaway

In the New Normal, people start to leave their homes and do whatever they can to stay sane by finding a place to destress and unwind.

I am no exception.

This week I was on a very very brief midweek getaway. And I can say it helped me dump all the emotional and psychological baggage I had for the entire corona lockdown at home and working from home period.

I have also seen people around me trying ways to reconnect with the nature, something they lost during the lockdown as they were staying at home like most of the time in the cities witnessing the government and all of us fail to curb coronavirus completely.

Rumah atas sawah or house above the ricefield at BSP Farm, Cijeruk, Bogor, offering you a majestic view everyone will envy.

My corona getaway lasted only two days. But the effect was so great that I can still feel the impact on my soul and wellbeing days after. I was wondering how much time it takes to completely be in need of this getaway again.

Yes, that is the house I was staying. Rumah atas sawah.

I live in the megacity where all I can see from my window every day is a jungle of concrete but in my getaway I was served with an expanse of greenery and fresh air no richest urban folks can enjoy in Jakarta.

Yes I still work on my laptop but this time it was for fun working with a welcome drink from BSP Farm.

Arriving at the farm in Cijeruk around noon, I felt awestruck by things around me. All was green. All was nature. All was neatly treated and well thought.

Behold the amazing picturesque view before you!

Foods are organically grown here because it is an organic farm. My first meal was the lunch and it was a very sumptuous one. As you can see below, it was a vegan lunch. This is thanks to their question before my friend and I booked the house. They even bothered to ask if we wanted to have a vegan menu or regular omnivorous one. Then I picked the vegan menu as I want to enjoy more of its organic produce.

First meal at the farm. Delish and healthy!

My lunch menu was no disappointment. Palatable and as healthy as it could be. Sliced papaya, fresh produce as side dish, fresh sambal, and fried tempeh. (Sorry the oranges were not theirs. I brought them from Jakarta.)

Time to spoil your senses with plants and flowers!

After lunch, it was the time to take a short walk and had a sightseeing that I badly needed to destress. We went to the main lobby which is a very quiet establishment.

Just a floor beneath, pak Usaha (a man who runs this farm) live with his small family and all the workers.

img_0385-1
The lobby of BSP Farm
The lounge

I had a short walk around the coffee plantation and soaked myself into the ocean of oxygen.

Afternoon snack

Things went awry when the power failure abruptly struck the entire farm. I never saw this coming! But our phones came in handy and soon after they with a lamp came to rescue at our house.

Cool wind blew and drizzle came down when we went out to the lawn for a bonfire.

Power failure seemed to ruin our getaway but make no mistake! It actually helped us enjoy even more.
It helped warm our body up at night.

No stars were in sight as the sky was shrouded by clouds. Which was unexpected because in July it is usually dry season. But I cannot fight against nature. She is always right! (To be continued)

[Read the second part here: FROM MY NEW NORMAL GETAWAY (PART 2)]

Dinner awaited!

Here is my recap in a video if you don’t bother to read.

Mr. Spruce

“Nama Anda seperti nama pembalap,” komentar saya begitu membaca kartu namanya. Sebagai orang asli suatu negeri lengang di belahan bumi utara sana, tingginya cuma rata-rata orang nusantara. Untuk ukuran keturunan suku Viking, saya pikir ia kurang menjulang.
.
Saya baca jabatannya. Atase, menangani urusan konsuler. Saya pandang lagi raut mukanya dan tampilannya. Dengan kaos sederhana begitu, siapa nyana ia pejabat tinggi di sini. Usianya tidak muda lagi dengan wajah berberewok abu-abu di sana sini. Saya tebak di masa mudanya rambutnya yang mulai membotak dan memutih juga sepirang gadis-gadis muda Skandinavia yang bersama dengannya. Gadis-gadis yang dengan seksisnya disapa jahil oleh oknum pegawai birokrat kroco yang sambil merokok berkata,”Neng, sini. Mau ke mana, Neng?” Norak.
.
Sebelum ia sodorkan kartu nama, saya sempat mengobrol beberapa lama setelah iseng menanyajan padanya apakah ada rilis pers dalam peristiwa yang baru saja kami saksikan bersama.
.
“Kenapa pohon ini yang ditanam? Apakah ini pohon asli negeri Anda?” Saya lontarkan pertanyaan tanpa banyak pertimbangan, untuk kemudian sedikit menyesali kekonyolan yang terkandung di dalamnya.
.
Ia menjelaskan panjang lebar bahwa tentu pohon yang dipilih ditanam di Jakarta bukan pohon asli tanah airnya yang dekat dengan kutub utara. “Jelas pohon itu tidak akan bisa tumbuh di Jakarta yang panas sepanjang tahun.” Saya tersenyum kecut. Tentu demikian logikanya.
.
Pohon aslinya bernama Home Spruce. Saya yang seumur hidup mendekam di wilayah tropis tak bisa membayangkan rupa dan ciri fisik pohon itu.
.
Ia bersedia membantu menyusun imaji Home Spruce dalam benak saya. “Pohonnya mirip cemara. Kami sering pakai sebagai pohon natal juga. Ini pohon menjadi kebanggaan nasional kami.”
.
“Apakah hanya tumbuh di negara Anda?” Timpal saya tanpa berani menyebut nama. Beginilah kalau keasyikan berbicara, lupa berkenalan.
.
Home Spruce, imbuhnya, hanya tumbuh di belahan bumi utara. Kayunya bisa dipakai apa saja. Termasuk membangun rumah dan perabotan. Multiguna. Bahkan getahnya bermanfaat untuk mempercepat penyembuhan luka. Untuk meredakan kemerahan di kulit, biasanya getah tadi dicampur dengan lilin lebah alias bee wax. Oleskan dan keluhan raib. Tetapi getah itu juga yang membuat kayu Home Spruce mesti dikeringkan dulm dulu sebelum diolah sebagai elemen bangunan.
.
Saya pernah dengar negerinya yang damai dan hening. Penduduknya sedikit, tak banyak berulah, relatif tertib dan waras. Politik domestik tak banyak menjadi berita. Lain dari sini yang hingar bingar. Untuk bertanya soal politik, saya merasa tidak tergelitik. Cukup.
.
Saya bersimpati padanya. Kesulitan beradaptasinya luar biasa untuk bisa hidup di Jakarta. Lalu lintas dan cuaca menjadi tantangan utama. Ia stres dengan Jakarta yang penduduknya setara total rakyat negerinya. Hanya saja mereka hidup di lahan yang jauh lebih lapang dari sini. Saya bergurau bahwa hutan menjadi pemisah antarrumah. Bukan pagar atau halaman. Saya terka dari deskripsi latar tempat novel Jonas Jonasson.
.
“Kami punya lelucon khas,” tuturnya. Ia tunjukkan kartun di layar iPhonenya. “Dua orang di negeri kami jika bertemu biasanya hanya bertatap mata lalu tersenyum.” Itu karena mereka tinggal begitu jauhnya dari tetangga terdekat sampai mereka tidak tahu apa yang mesti dibicarakan saat bersua.
.
“Pernah saya mengantar orang Indonesia untuk tinggal di sebuah rumah. Ia datang di saat terburuk. Bulan September sampai April. Gelap dan dingin. Dua bulan saja ia bertahan. Tidak kuat,” ujarnya.
.
Depresif memang. Makhluk tropis yang malang terkungkung dalam cengkeraman iklim ekstrim.
.
Tetapi setidaknya itu tempat ideal untuk beryoga dan bermeditasi, tandas saya.
.
“Ya, Anda betul. Hahaha!”
.
Saya lempar pandangan beberapa puluh meter ke depan, mengamati kendaraan-kendaraan yang menggeram tak bisa melaju dikekang merahnya lampu. Para pengendara yang berpeluh dan tak sabaran tertimpa sinar surya. Ah, bagaimanapun keramaian semacam inilah yang mungkin membuat orang tropis dari sini tetap optimis dan bergairah. Meski menggerutu lebih sering, kami juga tertawa lebih sering. Dan bagaimanapun dahsyatnya setan bernama inferiority complex bersemayam dalam otak kami yang membuat kami memuja negeri dan bangsa asing, kami akan selalu merindukan juga tempat yang panas, hiruk pikuk, dan kacau balau ini tak peduli banyaknya tempat lebih indah dan cantik yang terkunjungi oleh kami di muka bumi. (*)

Happy Earth Day, Everyone!

“Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people.”- Carl Sagan

If this planet is so insignificant, insubstantial, and
inconsequential, how about each of us? Totally meaningless cosmic dust particles???! But anyway, happy earth day! I love my planet and I hope so do you all.

{image credit: wikimedia}

Plastik Biodegradable Tak Seramah Lingkungan yang Kita Duga

Jangan tertipu. Hanya karena ada awalan “bio”, tidak serta merta sesuatu pasti ramah lingkungan. Seperti itulah yang ditemukan oleh tim peneliti dalam sebuah studi ilmiah yang menyimpulkan bahwa zat tambahan yang umum dibubuhkan dalam plastik yang diklaim biodegradable (lebih mudah dan cepat diurai secara alami di alam bebas) sebenarnya tidak lebih cepat membantu penguraian bahan tersebut dibandingkan plastik yang tidak diklaim biodegradable.

Dengan naiknya populasi manusia dan meluasnya tempat penimbunan sampah, sampah plastik menimbulkan masalah besar di seluruh dunia. Lain dari banyak jenis sampah lainnya, plastik membutuhkan puluhan tahun untuk bisa terurai. Sejumlah perusahaan mengklaim telah bisa memecahkan masalah itu dengan memproduksi plastik yang mereka klaim sebagai “biodegradable”. Plastik jenis itu memiliki zat tambahan yang dikatakan mampu mempercepat penguraian bahan-bahan kimia dalam plastik.

Plastik yang tidak tertimbun di tempat pembuangan akhir (TPA) kerap tertimbun begitu saja di jalan-jalan perkotaan, dan berakumulasi di sungai-sungai, lautan dan sumber air minum.

Baru-baru ini, sebuah tim peneliti dari Michigan State University yang dikelapai oleh Susan Selke dan Rafael Auras menguji tingkat
keteruraian plastik yang memiliki 5 senyawa berbeda yang dikatakan bisa meningkatkan kecepatan proses penguraian plastik.

Tim peneliti yang menjadi bagian dari Center for Packaging Innovation and Sustainability
kampus tersebut menguji plastik di bawah timbunan sampah di lab dan plastik yang terkubur dalam tanah selama 3 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada satu pun senyawa itu yang meningkatkan kadar keteruraiannya.

Studi ini diterbitkan pekan ini dalam jurnal Environmental Science and Technology.

“Saya merasaskeptis mengenai plastik biodegradable dari awal karena material itu tak biasanya terurai dengan mudah,” ujar Fred Michel, pakar manajemen sampah dan profesor di Ohio State University yang dikutip oleh KQED. “Sulit untuk membayangkan material yang Anda tambahkan ke plastik yang akan secara ajaib membuatnya terurai dengan lebih mudah.”

Michel dan rekan-rekannya juga menemukan bahwa klaim dari
pabrikan-pabrikan plastik itu sebagian besar tidak dapat
dipertanggungjawabkan.

“Saya tidak terkejut,” ucap Michel,”tetapi menarik mengetahui adanya material di pasar yang seperti itu, yang memiliki klaim yang tak bisa dibuktikan dalam pengujian kami.”

Welcome Drought…

‎It’s been 3 days since the last time when the water pump operated and managed to suck water from the bowel of earth for us to shower and wash our dirty laundry and whatever needs cleaning. Now, we are almost entering the state of waterlessness if the other well is dried completely.

We’re not alone though. Some households are also experiencing the similar problem around the neighborhood, Karet Kuningan. They claimed the problem is the rain hasn’t arrived just yet. It was only super light drizzle for several days, but the temperature itself has already gone down. As we all know, the peak of dry season this year has been unusually horrifying. The temp reached 35 degree centigrade and it felt like in Sahara.

Now that ‎we are under such circmstance, we try to seek a scapegoat instead of fixing this unsustainable nature-exploiting behaviors like watering your dear plants or your dusty front yard with CLEAN tap water that actually is more suitable for other purposes like drinking, or bathing. Seriously, this infuriates me. Please, don’t act like clean water is cheap now. Even if it is, your money is useless anyway once the water supply is all used up with such recklessness by us. I cannot stress more! Clean water is a limited natural resource.

It’s time to teach ourselves how to save clean water. Perhaps you can start from closing the tap before you undo your wristwatch or roll your sleeves during wudhu. Or while you brush your teeth‎! I hate it so much when people leave the water runs while they are brushing teeth. No offense but it’s moronic. They let it run just like that and I can’t believe they do it. Craziness!

So the long-term solution wouldn’t be drilling deeper to suck more water from the mother earth, but how we all can change this behavior pattern and mindset towards clean water.

On that note, I think it’s the best time to tell these kids to change the way they use clean water. Unless they’re in a swimming pool, playing with too much clean water ‎should be considered a SIN. Make them feel the guilt of using too much clean water when showering, and they’ll understand:water is NOT to be used at their own disposal.

Kita Mau #indonesiabersih!!!

‎Kebersihan sebagian dari iman, begitu katanya. Indah dan ideal sekali. Nyatanya? Di negeri yang secara statistik dipenuhi muslim ini, konsep itu cuma LIP SERVICE! Cuma slogan, hanya motto, semboyan, kata-kata mutiara! Sepanjang mudik kemarin, misalnya, saya saksikan sendiri bagaimana tepi jalan di jalur mudik juga menjadi korban sampah.’

Kasus lain yang baru-baru ini terjadi adalah di jalur hijau seberang gedung Mahkamah Konstitusi. Sejumlah orang tanpa ampun menginjak tanaman. Menginjak rumput masih dimaklumi, tetapi mereka menginjak dan menduduki tanaman yang lebih besar, untuk kemudian duduk, makan dan minum. Bisa ditebak, kemasan plastik dan kertas bungkusnya tersebar ke mana-mana. Tidak ada yang mau peduli. Sangat menjijikkan!

Saya peduli, tetapi saya malu memungut sampah mereka. Malu dianggap gila.
Gila karena terlalu gandrung kebersihan di lingkungan sekitar.
Gila karena ingin negeri ini lebih bersih dan tertata.
Gila karena ingin Indonesia dianggap lebih Islami daripada negeri-negeri Barat.
Gila karena ada orang-orang yang belum sadar mereka mengotori rumahnya sendiri dan tidur di dalamnya!

Saya teringat dengan penulis David Sedaris yang juga dianggap gila. Selain karena tulisannya yang gila dan blak-blakan, Sedaris punya satu kebiasaan yang amat ingin saya contoh. Sebelum ke luar rumah untuk berjalan-jalan di bukit dan padang rumput luas di rumahnya di Inggris, ia membawa kantong belanja. Bukan untuk membawa belanjaan, tetapi untuk menampung sampah-sampah yang ia pungut sepanjang perjalanan. Sedaris selalu melakukannya setelah menulis di pagi hari. Ia menyusuri bukit dan jalanan di pedesaan Inggris yang sepi dan indah tetapi menyimpan sampah. ‎Persetan dengan orang yang menganggapnya eksentrik. Ia mengaku pernah dianggap orang sedang menjalani hukuman kerja sosial memungut sampah karena sudah berbuat kejahatan. Padahal tidak demikian adanya. Untungnya, tidak seperti saya yang malu dicap gila, Sedaris terus melakukannya. Ia terus berjalan dan memungut sampah, membawanya ke rumah dan membuangnya pada tempat yang semestinya.

Lalu tiba-tiba tadi malam saya dihubungi ‎oleh seorang teman yang mengajak saya untuk menggalakkan semangat menjaga kebersihan ini. Ia ibu 3 anak, dengan suami berasal dari Prancis. Bosan dan kesal, itulah yang ia rasakan tatkala anak-anaknya membandingkan Indonesia dengan Prancis soal kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dan alam sekitar. Indonesia, mau tidak mau harus diakui, adalah bangsa yang masih harus belajar banyak soal satu itu ke bangsa-bangsa lain. Teman saya ingin sekali “memunguti semua sampah plastik yang bertebaran di Senayan”. Mungkin karena Ia kerap membawa anak-anaknya ke sana.

Begitu mengakarnya budaya buang sampah sesuka hati itu membuat saya memiliki satu hipotesis bahwa orang Indonesia sebagian besar tidak peduli atau memilih tidak peduli pada urusan sampah (terutama plastik dan ‎bahan-bahan kimia non-organik berbahaya lainnya) karena mereka belum diberi edukasi bahwa sampah anorganik itu tidak akan bisa membusuk begitu saja dan terurai di alam bebas layaknya sampah organik. “Kenapa harus dipungut dan dikumpulkan? Toh nanti akan lenyap sendiri,”pikiran mereka bisa jadi begitu. Tetapi sampah plastik bukanlah daun rontok yang bisa lenyap dan menyuburkan tanah secara alami. Sampah plastik berasal dari senyawa-senyawa kimia buatan manusia yang tidak secara alami ada dan terbentuk di alam bebas sehingga ia dianggap asing oleh alam dan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk akhirnya terurai, diterima kembali oleh alam ini.

Sekali lagi, perlu ada edukasi untuk membangkitkan kesadaran menjaga kebersihan dan menjaga kelestarian alam. Dan yang tak kalah penting ialah memberikan keteladanan, seperti halnya teman saya yang ingin dirinya bisa menjadi panutan bagi anak-anaknya dalam menjaga kebersihan. Jangan beralasan:”Yang penting hatinya bersih” karena kita tahu keduanya – kebersihan fisik dan rohani – itu penting.

Siap membuat #indonesiabersih dari sampah?

Baca juga: Bagaimana Amerika Serikat Bergulat dengan Sampah Plastiknya

Jalur Pantura saat mudik kemarin terasa seperti lautan sampah. Semua orang berhenti dan beristirahat lalu makan dan minum kemudian membuang sampah seenaknya. Kenapa orang Indonesia seperti ini? Sebuah keprihatinan bagi kita semua yang merasa warga negara yang peduli.

Aku Seneng Ono Sumur Resapan. Tapi Nggawene Rodo Cepet Sithik yo, Pak!

image

Koyo ngene kahanane dalanan ning kutha Jakarta nek wis bar udan. Opo maneh dina Jumat sore. Wis ora usah sambat nak meh lelungan karo nitih sepeda motor utowo mobil lan taksi. Mesthi macete. Mesthi strese. Mesthi mangkele.
Soko pirang dino kapungkur, trotoar ngarepe kantor panggonku nyambut gawe tambah ajur-ajuran. Ora iso dilewati. Iku amargo pemerintah Jakarta lagi semangat mbangun sumur resapan sing gunane nyalurake banyu udan. Wis ora gumun menowo ning Jakarta banjir kuwi lumrah, opo meneh wayahe rendeng koyo saiki. Mlebu wulan Nopember, udane soyo gede, mendung saben dino. Bu kosku sambat,”Pakeane ora garing-garing amargo mendung.” Pas udan gede wingi, bu kosku yo dadi wedhi olehe nyetriko klambi. Ndheke wedhi menowo kilate nyamber kabel listrik terus nyetrum awake sing pas lagi nyekel setriko. Dadine bu kos luwih milih turu wae. Nyetrikone mbengi sakwise udanr mandhek.
Perkoro sumur resapan, aku yo setuju wae karo pak Jokowi lan Ahok. Ananging kuwi pelaksanaane ojo sampek kesuwen. Delengen dhewe ning ndhalan koyo piye kuwi kahanane. Wis dalane macete gawe emosi, ditambah trotoare ajur mumur lagi diorak arik mbangun sumur. Yo sing sabar wae. Tapi menowo oleh menehi masukan, apike mbangune pas mongso ketigo. Dadi ora kebak blethok dalane mlaku.
Tapi nek wis kedarung yo piye maneh. Sing penting ora suwe-suwe iku mbangune pak! Aku emoh lho nek suwe-suwe nggawene.

Indonesian Forestry Minister was Pissed off by Harrison Ford, as He Should’ve been

I’m glad Harrison Ford pissed him off, as he should have. Because when Indonesians like me can do nothing but keep quiet, we are destroying ourselves. I’m bitterly happy that someone out there, out of the nation, pays attention to what is happening here and slaps us hard on our face. Because to me, actually Indonesian government doesn’t always know what it is doing to its people. These so-called leaders just get smart and people just don’t believe them anymore. I don’t believe anything in bureaucrats now. Never have, never will, provided that there are always the same people with the more or less similar corrupt mentality which apparently demolishes the entire system. I abandon the idea of participating in the 2014 general election. There is not so much to hope for. Why bother?
Harrison “Indiana Jones” Ford was supposed to meet Susilo Bambang Yudhoyono, the president of Indonesia, on Tuesday but instead saw the minister of forestry Zulkifli Hasan if I am not mistaken. The interview was meant for a documentary movie on environmental degradation and climate change here. As we all know haze caused by rampant fire in Sumatra is a regular man-made disaster that annoys and destroys not only the life quality of Indonesians themselves but also one of Singaporeans and Malaysians. In short, the haze is choking us all in the nearby islands and it keeps happening without much being done to prevent, which makes us so so sick of the whole vicious circle and worsening situation. Ford is known for his being an environmental activist. He has visited some national forests and parks in indonesia (something which I myself have never done so far) and managed to enrage the minister. Unhappily, there’s no video of the emotional moment uploaded on YouTube. If there’s one, I guess it’s going to be more viral than the senseless and thoughtless jackass like Vicky Prasetyo who has no idea of speaking proper English.

%d bloggers like this: