Ella

Hari sudah beringsut temaram. Ia makin resah dan lelah. Nekat meski uang sudah tidak seberapa menjelang hari raya, gadis muda itu melambaikan taksi di depannya. 

Toh THR akan segera ditransfer. Ia hanya mau pulang segera ke rumah. Ada nenek dan kakeknya di sana menunggu. 

“Mereka pasti cemas kalau aku pulang lewat beduk Maghrib,”batin Ella. 

Hampir putus asa, Ella lambaikan lagi tangannya. Lemah tetapi tidak gemulai. Ia sudah dehidrasi berat seharian di dalam ruangan berpendingin. Bibirnya pecah-pecah. Tenggorokannya tercekat saking keringnya. 

Taksi itu berkelebat melewatinya. Ada orang di jok belakangnya. 

“Sial!”makinya dalam hati,” Ah, padahal kan aku sedang puasa…”

Ella memasrahkan diri. Ia masih melambaikan tangan tetapi tidak seambisius sebelumnya untuk mendapatkan taksi kosong.

Saat ia sudah pasrah jika sewaktu-waktu pingsan di trotoar, sebuah taksi meluncur mendekatinya. “Alhamdulillah,”ucapnya sembari sempat bertanya apakah itu bisa menebus makian sebelumnya. Entahlah, itu kan urusan Tuhan, pikirnya lagi.

Ella membuka pintu taksi dengan perlahan, berharap bisa bertemu dengan sopir yang baik dan jelas identitasnya. Ia siap membanting pintu jika taksi itu tidak dikemudikan sopir dengan tanda pengenal yang dipajang di dasbor depan. Di ibukota, begitulah menurutnya seorang wanita mencegah kejadian yang tidak diinginkan. Meskipun ini bulan puasa, katanya dalam hati. 

Begitulah ia dididik selama ini oleh kedua kakek neneknya. Keduanya sudah meninggal dalam kondisi mengenaskan 8 tahun lalu dalam kecelakaan mobil. Maka dari itulah ia kini tinggal dengan kakek dan neneknya, orang tua mendiang ibunya. Sementara itu, orang tua bapaknya sudah tak bisa diketahui keberadaannya. Mereka lenyap saat tsunami menelan bibir pantai Aceh.

“Mau ke mana, mbak?”tanya si sopir. Pria itu masih muda. Wajahnya keras dan tegas, cocok untuk berpetualang di jalanan Jakarta. Di kepalanya, bertengger sebuah kopiah putih. Kopiah itu mengingatkannya pada kopiah sang kakek, yang terus saja membuatnya rindu ke rumah di waktu senja. Kakek bisa memasak makanan enak. Nenek juga. Tetapi karena kakek adalah seorang laki-laki itulah yang menurut Ella membuat makanannya makin enak. Terasa tidak biasa.

Butuh waktu sejenak bagi Ella untuk menjawab. “Oh iya, aku mau ke Kelapa Gading, pak,”tukasnya singkat. Ia bahkan merasa terlalu malas membuka mulut. Energinya sudah hampir nol.

Argo dihidupkan, dan mulailah perjalanan taksi menjelang senja itu. 

Lalu lintas makin tidak bersahabat. Toh taksi itu terus melaju meski kecepatannya tak teratur. Kadang melaju kencang, tetapi lebih sering melambat.

Ella tak peduli. Pandangannya menerawang melalui jendela taksi. Tak lupa ia mencatat nomor taksi dan nama sopirnya lalu mengunggahnya ke Twitter. “Buat jaga-jaga,”pikirnya. Ia selalu terbayang-bayang dengan kecelakaan setahun lalu itu. Taksi yang dinaiki kedua orang tuanya ditabrak trailer di sebuah ruas jalan nan sepi. Hingga kini belum diketahui pelakunya.

Perasaan nelangsa itu urung menyedotnya lebih dalam lagi dengan pecahnya keheningan dalam kabin taksi. 

“Tahu nggak mbak tadi siapa yang baru naik taksi saya?”sopir taksi itu berusaha membunuh kebosanannya.

“….Hmm…Siapa pak?”Ella sungguh sedang tidak bersemangat mendengarkan apapun tetapi ia memaksa diri bersikap sopan, seolah antusias dengan upaya ramah sang sopir taksi.

“Reporter-reporter!!!”

“Oh ya?”

“Iya mbak. Mereka tuh cerita. Dapet Rp500.000 sehari kalau mau ngikutin  pak Jono.”

“Lumayan yah pak…”

“Yah bukan lumayan lagi! Kalau saya dapet segitu juga sudah nggak jadi sopir taksi.”

Ella tercekat. Uang sebesar itu mungkin ia bisa habiskan sekali belanja pakaian di Uniqlo atau produk kosmetik favorit di The Body Shop. Namun, untuk seorang sopir taksi bernama Solikhun, Rp500.000 sudah berarti banyak.

“Itu saja ngikutinnya nggak sehari kok, mbak. Cuma 3-4 jam! Gimana nggak enak?!”Sopir taksi itu berceloteh. “Kalau saya mending berhenti jadi sopir, tinggal pegang ekornya pak Jono udah. Dapet duit terus…”

Ella menghela napas. Pak Jono lagi, pak Jono lagi. Ia sudah amat bosan dengan semua kampanye pak Jono. Di mana-mana ada berita pak Jono, yang terus bersitegang dengan lawannya pak Broto. Ella merasa terkepung dan jenuh dengan berita-berita politik. Ia menjauhkan diri dari siaran televisi yang mengumbar pemberitaan pertarungan kekuasaan keduanya. Pun di peramban ponselnya tak ada satu pun situs daring yang ia kunjungi untuk mendapatkan informasi terkini dari kampanye pak Jono dan pak Broto.

 Solikhun penggemar Iman Aris, seorang politisi senior yang ia anggap sosok ideal pemimpin negeri. Terpelajar dan berani serta tahu benar kehendak rakyat. Tak ayal saat Iman Rais pensiun dari jabatan politiknya di partai yang ia dirikan, Solikhun yang sebelumnya 5 tahun bergabung dan berpartisipasi di dalam partai itu ikut keluar.

Itulah mengapa ia menolak memilih dalam pemilihan presiden baru kali ini. Ia hanya mau memilih Iman. Titik. Tidak ada kompromi. Sehidup semati bersama tokoh idolanya itu.

Sebetulnya Ella memahami perasaan Solikhun. “Saya dulu juga memilihnya, pak,”timpal gadis itu. Pendek saja ia menjawab. Ia tidak mau dianggap cerewet.

Lagi-lagi Solikhun menyebut angka 500 ribu tetapi kali ini ia menyebut angka itu untuk menggembarkan besaran imbalan yang diberikan partai yang didirikan oleh Iman padanya karena sudah berhasil memenangkan simpati sebagian besar orang di kampungnya. Alhasil, TPS di tempatnya menjadi basis pemenangan partai Iman.  “Saya bisa mendekati orang-orang di kampung saya waktu itu makanya dapat imbalan.” Ingin rasanya Ella bertanya:”Mengapa mengaku menjadi agen perubahan negeri padahal sama saja melakukan politik uang?!” Namun, suaranya tertahan di dalam. Ia tahu ia sedang puasa. Jangan berdebat, batinnya menenangkan diri. Pandangan matanya kembali menerawang ke luar jendela.(*/)

“Maybe Tomorrow”: Pengen Bunuh Diri Karena Pandemi? Mungkin Kamu Butuh Nonton Film Ini

LEBARAN yang penuh suasana desperate lagi tahun ini memang sangat menyesakkan ya. Terutama bagi kaum penganut mudik garis keras. Belum lebaran, kalau belum mudik tatap muka.

Sampai-sampai menteri pun sambat di singgasana gadingnya: “Heh jangan kan elu semua ye, eug aje silaturahim onlen juga kok. Udah dua lebaran ini! Udah deh jangan sok-sokan mudik ke kampung…”

Ya bu menteri siy enak, onlen sitaturahimnya pake wifi kenceng, gejet terkini, lha kita yang jelata ini megap-megap kalo ngomong di video call. Mau voice note aja kok ya nggak keliatan muka. Mau kirim-kiriman e-card kok ya, lama-lama mata pegel, jempol kram buat forward-forward ke orang se-WhatsApp. Kesel kan?

Karena itulah, eug mau menghabiskan waktu dengan lebih produktif (whatever that means).

Karena nggak langganan Netflix, Viu, dan layanan kayak gitu (ceritanya lagi bokek, pelit aja ding), ya udah ke Tubitv aja yang gretongan.

Eh setelah ngubek-ngubek kok nemu satu film yang bagus.

Temanya desperation gitu. Putus asa.

[SPOILER ALERT. Buat yang nggak suka dibocorin plotnya, jangan terusin baca ya.]

Dua karakternya remaja cowok dan cewek Perancis yang ketemu online buat merencanakan kapan mereka bisa bunuh diri bareng. Mereka chat intens. Belum membuka jati diri sih tapi udah tuker-tukeran gambar (kebetulan si cowok suka sketching dan si cewek suka menulis).

Si karakter cowok ini tipikal korban perisakan di sekolah. Dia itu nerd, berkacamata, anak rumahan, suka main gim komputer, nonton film porno, nggak demen olahraga jadi pas diajak si cewek mendaki gunung kepayahan gitu. Kasihan.

Sementara itu, si anak cewek ditelantarin ayah kandungnya dan memilih tebing di pedalaman Swiss sebagai tempatnya akan bunuh diri karena ayahnya pernah mengajaknya ke sana. Ia ke sana secara teratur berharap ayahnya ada di sana dan bertemu lagi tapi kok ya nggak nemu-nemu. Jadi, ini semacam keputusasaan dirinya dalam menemukan sang ayahanda yang bisa-bisanya menelantarkan dirinya. “Salah aku apa sih?” gumam dia.

Si cewek yang namanya Sarah ini karena kepahitan hidupnya juga menerima perundungan dari pria-pria di sekolahnya. Ia dikatai jelek (padahal ya nggak juga sih, dibanding Kekeyi aja dia masih lebih wow kok). Cuma memang Sarah ini suka ketus, sinis dan dingin, bahkan sama si Philip kenalan baru di internet itu.

Sementara itu, Philip ini cowok yang merasa dirinya lemah. Ia sejak dulu dirundung di sekolah dan bahkan guru-gurunya tak berbuat apapun untuk melindunginya. Seolah itu hal yang wajar tapi secara psikis, tindakan perundungan itu mengikis jiwa Philip. Ia jadi pribadi yang menutup diri. Ia pernah menjalani operasi usus buntu dan secara sadar ia mengorek-ngorek luka operasinya cuma agar tidak kembali ke sekolah terlalu cepat. ia tak mau kembali ke lingkungan yang membuatnya tersiksa secara batin.

Keduanya ngobrol-ngobrol santai malam harinya. Tapi obrolan santai itu merembet ke masalah-masalah filosofis dan eksistensialisme manusia.

Philip melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang meski terdengar klise namun terus saja relevan dengan apa yang dirasakan manusia. Misalnya:

“Manusia mengejar kebahagiaan yang tak kunjung datang.”

Duh perih kan, gan?

Lalu ia mengatakan manusia mirip hamster yang lari di sebuah roda. Lelah tapi tak bisa berhenti. Tapi anehnya orang tua tetap menganjurkan anak-anak mereka berlari dalam kehidupan meski mereka sendiri tak tahu esensi berlari seperti itu untuk apa.

Philip juga mengatakan kalimat yang mengiris: “Kamu bangun dalam kondisi depresi dan tak tahu alasannya.” Tapi manusia terus menjalani hidupnya dengan harapan hidup akan membaik padahal ya tetap gitu gitu aja.

Philip juga menggugat Tuhan (atau ‘tuhan’ dia sendiri?) dengan menganggap Tuhan sedang mempermainkannya dalam sebuah maze yang di dalamnya ia berlarian menemukan jalan keluar namun tak kunjung bisa keluar karena Tuhan menurutnya memblokade semua jalan keluar itu. Ia merasa seperti tikus lab yang cuma capek mondar-mandir.

Klimaksnya ialah saat keduanya mulai merasakan kedekatan dan bisa menghibur satu sama lain tapi kemudian Sarah menuduh Philip ini tak berani bunuh diri tapi cuma ingin tidur dengannya. Lalu mereka sudah bersiap terjun ke jurang tapi Sarah malah menghentikan upaya mereka dan ingin memeriksa surat bunuh diri si Philip. Ia berdalih ingin memastikan isinya sudah pas belum agar orang tidak berspekulasi nantinya.

Eh malah akhirnya mereka sibuk membaca surat terakhir untuk orang yang nantinya mendapati jenazah mereka. Isi surat Sarah menurut Philip lebih puitis dan menyentuh hati dan koheren. Sementara ia cuma menggambar sketsa dan puisi pendek. Ia merasa kurang berbakat, begitulah Philip.

Eh, Sarah yang tadinya menuduh Philip cuma bernyali kecil malah kemakan omongannya sendiri. Entah bagaimana ia terpeleset di bibir jurang dan hampir mati kalau Philip tidak mengulurkan tangannya dan menariknya lagi ke atas.

Sekembali di atas tebing, keduanya menenangkan diri sambil terengah-engah. Ternyata memang Sarah tak siap mati. Tubuhnya menggigil masih membayangkan betapa ngerinya bergelantungan di bibir jurang sesaat sebelumnya. Ia menemukan dirinya masih ingin hidup ternyata.

Dan keduanya malah sibuk mendiskusikan isi buku sketsa Philip yang menurut Sarah mengagumkan. Sebuah bangku yang ia anggap sebagai teman namun kemudian mesti dibongkar karena ada proyek konstruksi di taman itu. lalu ada juga sketsa manusia berhubungan seks, sebuah obsesi bagi Philip yang masih perjaka dan hanya bisa membayangkan seks melalui film-film porno di internet.

Akhir film ini cukup mengecewakan sih menurut eug, karena Philip dan Sarah yang sebenarnya sudah memahami satu sama lain dan Sarah juga sudah terang-terangan memuji Philip sebagai pria yang kiyut, humoris dan cerdas, eh malah Philip yang menampik. “Ah kamu becandain aku sekarang kan?” gitu katanya. Hambar deh jadinya.

Keduanya nggak jadi bunuh diri sih tapi malah meneruskan kehidupan masing-masing. Diringkas dalam sebaris teks di akhir film, Philip kemudian menuntut ilmu di universitas, dan lulus dari jurusan seni. Sementara si Sarah menekuni ilmu psikologi. Dan sehabis dari tebing Swiss itu, mereka diceritakan tak pernah bertemu kembali. Huh, padahal kupikir mereka akan menikah dan beranak-pinak.

Tapi eug tetap menganggap film ini oke sebab bisa mengecewakan aku. Nggak menuruti logika dan selera penonton. At least masih ada kejutannya. Dan ya memang aku terkejut sih, campur kecewa.

Satu pemikiran yang boleh diingat dari film ini ialah bunuh diri mungkin bukan jalan keluar, sebab manusia sewajarnya pasti masih ada hasrat bertahan hidup seburuk apapun kehidupan yang mereka jalani. Dan mungkin bukan karena terjalnya hidup ini yang menjadikan seseorang ingin bunuh diri tetapi lebih pada bagaimana menjalani hidup sesuai dengan panggilan jiwa masing-masing. Mereka yang terus menggunakan ‘topeng’ akan selalu ingin mengakhiri hidup. Tetapi begitu jiwa mereka bebas dan bisa menjalani hidup sebagai diri sendiri dan mendapat teman yang memahami, mereka pasti akan menemukan semangat hidup kembali. Bak sebuah bunga layu yang terpercik air, mekar perlahan.

Menonton film ini disarankan banget buat yang sedang capek dengan hidup, lelah dengan kondisi yang menghimpit kayak sekarang ini.

Ini linknya ya: https://tubitv.com/movies/559346/maybe-tomorrow?start=true

Jadi buat teman-teman yang berjuang untuk menemukan tujuan untuk bertahan hidup di masa pandemi yang mencabik-cabik jiwa ini, kuy kamu bisa! (*/)

[SHORT STORY] A SECRET KEPT FOR GOOD

Written by Aris Kurniawan

Translated by Akhlis Purnomo

It is the time when Bardi tells the secret between him and his late wife to them. Bardi knows the secret is not that vital for them to know. But he feels he needs to disclose it anyway. That afternoon after cleaning up the cemetery of his late wife, Bardi plans to drop by at the step child and son-in-law across the village cemetery land. Bardi is standing at the intersection, about to cross the street when suddenly a motorcycle ridden by three teenagers speeding towards him.
**
Back then before he left this house on the 40th days after his wife’s passing ten years ago, Badri apologized to his step child and son-in-law and begged to be allowed to visit the house once in a while in remembrance of his deceased wife. They never forgive Badri wholeheartedly but do not have a heart to drive him away every time he comes around.


In the first year, every Kliwon Friday Bardi visits where his late wife’s body is rested and drops by at his step child’s house. Bardi  would be standing there a long time, staring closely at every inch of the verandah and yard before he knocks the door. His step child would show up and flatly welcome him. The step child would let him take a seat at the verandah and bring him a glass of sweetened tea. There is not any warm conversation between them but ‘how are you?”. 


The next years, Bardi has come less frequently than the first year as he sees the response of the step child and the son-in-law every time he is around. They seem to start to feel annoyed about his visits. They serve him no more tea. These recent five years, Bardi only pays a visit once a year — that is on Lebaran day — to his late wife cemetery. 


Bardi is unemployed. He is a slouch. He always has much time for hanging out and wandering around on his motorcycle he is proud of. 


Bardi has been married to this woman for more than 20 years and during those years he has been a parasite to her. The step child and son-in-law despise him. Every single day he is polishing his motorbike which is already shining and then sitting at the veranda, smoking and sipping his coffee after driving his wife to the market in the wee morning hour to keep the store her previous husband inherited to her. In the afternoon, Bardi would be wandering around. He never shows care when his son-in-law is busily fixing the broken fences, cleaning up the yard from falling dry mango leaves, fixing clogged sewage behind the kitchen or leakage at the roof.
In such a relaxed manner, Bardi ignores it and sits down, sipping his coffee and glancing at the mango tree at the yard. Out of his mouth, he whistles to attract the birds perching on the mango tree branches. He would tell his wife if in any case the step daughter or son-in-law dares to get him to lend a hand while they are fixing up the clogged sewage or leakage at the roof.  That happens once and a quarrel between the mother and daughter breaks. The two has a psywar after that. They keep quiet when encountering each other for some time.  


Such fights often break anytime with the same trigger cause. That makes the step child and her husband stay distant and hostile to Bardi from time to time. But Bardi does not even care about it and gets cocky, knowing his wife stands for him. 


Bardi sees her the first time at the cinema around the downtown subdistrict area, that is what her child hears from rumors. It is the owner of coffee shop (that also serves as an illegal prostitution meeting point). The woman was widowed by a hardworking man. She always thinks living a life without a spouse is a total misery. Once the iddah period expires, she looks for a new man. At the time her pubescent child shows her annoyance every time her mother acts like a whore.


After a number of encounters, the woman gets married to Bardi, spending on the previous husband’s inheritance assets. With it also, the woman lets Bardi live the life of leisure. His step child and son-in-law wonder why Bardi is loved so much by him. He is not particularly charing by any standards — he even looks awful-looking as a man. He is far from genius. He is reserved, thus he does not know much how to flirt. But the woman always stands by him and treats him as if he were a spoiled last-born son in the family. This case seems to be the embodiment of the ridiculous idea that love is blind. Bardi’s step child and son-in-law have the suspicion that the mother is spellbound by Bardi.


They often see their tired mother hastens to go home from the shop only to serve drink and peel some mangoes for Bardi who spends his time all day long watching television and leaving through magazines at home. The woman even apologizes when Bardi comments on how she peels the mangoes. Then Bardi with his sulky face teaches her how to peel mangoes without leaving any skin on the flesh. His step child and son-in-law get aggravated by what they see. They really want to punch him in the face but they can do nothing. All they can do is bury the anger deep down inside, letting it accumulate. 


When the daughter want to talk about the matter, without hesitating the woman scolds her back,”No need to teach me. You know nothing!”


Every time they pray for his doom to come soon. They want him to get hit by a truck on the street while riding his motorbike. But to no avail, the prayers do not seem to be fruitful. Bardi gets more and more spoiled. He changes his motorbike. This time he buys Honda Scoopy. Of course, it is from the money the woman has earned by keeping the grocery store at the market. 


“I’m going downtown, Mam, watching drama. Get bored at home. Mami don’t have to go with me. Just spare me some money later,” pleads Bardi, one afternoon.
“Okay, Pi. Maybe you need some break. Bring me something later,” she replies while her hand is slipping some money into his shirt pocket. She asks him no more. The daughter and the husband want to go to get their vomit buckets. They stop eating. They are losing appetite after feeling so stuffed with only little food. Immediately after Bardi’s motorbike noise is gone, the daughter argues with the mother. A huge fight between them breaks once again.


The day after that, when Bardi is sitting down and sipping his coffee as usual, the daughter and son-in-law can no longer hold the resentment. After Bardi’s motorbike runs over a soursop tree just planted days before. Together they reprimand Bardi. The man shows no remorse and looks at them with complete disgust, hatred and slight threat. They no longer care about Bardi’s telling it all to the woman.


That really happens. After she is home from the market, the woman without any warning gets extremely furious like a hurt serpent. She kicks all the flower pots nicely put at the porch. The pots are now broken. She is pulling out all the soursop trees from the ground,  throwing away the entire book collection of his step daughter and son in-law on the yard, while at the same time throwing a verbal tantrum. At the highest point of her anger, the woman tells both of them to leave the house. 


“Leave this house now, you ungrateful child!!! You know no manners!”


Taking the threat seriously, they are soon leaving the house. They move and rent a house next door. For weeks, both mother and daughter ignore each other. 


But after that, according to some neighbors, the woman often weeps for she really regrets what she did. These neighbors keep telling the woman wants her daughter back. But the daughter and son in-law are reluctant to do so. They say they will never go back to the house before Bardi gets kicked out.


Despite that, both of them keep an eye on the woman. Day by day, the woman looks even more thinner. She has more debts than ever before. They now start to take pity on her but they still hold grudge. Besides, it is too much hassle to move along with all their belongings. 


Until one day, the neighbors shout out loud to call the daughter. She is told high blood pressure is hitting her mother. The woman falls down off the rickshaw.


Without delay they take her and rush to the nearest hospital. Three days later, the woman passes away in the Intensive Care Unit. Her blood vessel breaks out. Right before she slips into comma which leads her to death, she leaves a message to both her daughter and son in-law that they need to take care of Bardi no matter what and live with him. 


Bardi shows up just when his wife’s body is about to be taken to the graveyard. Like a meek teenage girl, he is crying beside the corpse.
**
Bardi gropes the tombstone thickly covered with moss, on which his wife’s name is engraved. He patiently gets rid of the moss off the tombstone surface. It is as if he were rubbing and polishing and retrieving all the fond memories of their first encounter.


Bardi met her for the first time long before they met at the cinema. And that coffee shop owner had never match them together. Bardi had planned it all. After he was back from the last adventure, he wrote Ramini a letter in which he told her when and where to meet each other. And he decided it was at a coffee shop across the cinema.
“Bardi, you’re really back,” Ramini said with her nervous yet happy tone of voice. It was a long time ago since Bardi left the village. It was exactly the time when Bardi left his parents to pursue his dream of becoming an actor. Ramini’s love could never hold Bardi back.


Since her teenagehood, Ramini lived with Bardi as a domestic helper. The girl was only one of many helpers employed at the most respected onion whole seller in the village. After Bardi’s leaving, his parents gradually sank into bankruptcy. But Ramini stayed with Bardi’s parents without getting paid a single dime, with the only hope in mind that Bardi would be back and marry her someday.


After a long time, Bardi never showed up. Finally Ramini forgot her first love and was married to a son of another onion seller in a neighboring village. Their marriage ran smoothly, especially after a daughter was born only to make the marrital ties even tighter. 


However, as Ramini’s daughter grew up as a teenage girl, she heard Bardi was back. He was back for something or someone other than Ramini but she persisted on seeing him in person. 


In a clandestine fashion, she managed to see Bardi. She stopped him while he was walking down the outskirt of the village when he was about to depart to somewhere. Bardi and Ramini talked for hours at a small food stall at an old quay, nearby a flock of mangroves.


“Ramini, go home soon. Off I go now. I’ll write you a letter.” 


The letter Bardi promised came after years later to set up their meeting ata ciffee shop across the cinema. Whether it was a sheer coincidence or not, Ramini just lost her husband. That was the secret Bardi had never been able to share with his step daughter and son in-law. 


Bardi has no time to elude his fated doom, too. A motorbike with three teenagers is rushing rapidly towards him. The motorbike knocks over him and Bardi falls down with his head hitting the cemetery walls.  (*)

Cirebon, August 2016


Aris Kurniawan was born in Cirebon, 24 Agustus 1976. He is writing short stories, reports, essays for a number of publications. His books are “Lagu Cinta untuk Tuhan” (Love Songs for God) (A short story collection, Logung Pustaka, 2005), “Lari dari Persembunyian” (Run away from the Hideaway) (A collection of poems, Kampung Djiwa Community, 2007). The father of three children works as a freelance journalist in a number Jakarta media outlets.
 
 
 

Ethical Reflections for Teachers (From “The Red Teacher”)

The movie gives me a glimpse of promise that writing can prevail even in the toughest times of our mortal lives.

What can teachers give to their students?

People would most probably answer: knowledge and wisdom.

But sometimes teachers can give their – almost – whole livelihood and future career, like Tae-nam.

Depicted as a young, faint-hearted man who happens to teach at a local small school for girls, he is not a favorite teacher among students. Instead, he won the heart of the authoritarian principal to pave a smooth way to his future career.

But things were about to change after Tae-nam found out a red book at a small bookstore. The book tells a fictitious story of a Korean general, and most importantly, the romantic affairs between his wife and a good-looking young officer that directly reported to the general.

There was not supposed to be any problems for reading the book. However, the book was banned by the government as it was assumed to humiliate the Korean leader at the time.

Tae-nam knew this and stealthily devour the book, from cover to cover and immediately got rid of that the next day.

Unbeknownst to Tae-nam, Soon-duk who was his student and had a difficulty to respect authorities at school and showed a tendency of being a rebel found the red book (it was called so as the cover was red in color) and read it, too.

Non only was the book read by Soon-duk, it was also read by the entire class.

The story escalated when the classmates could hardly wait for the next sequel of the adult novel.

Soon-duk, having a streak of literary talent in her, tried to compose her own sequel of the novel to quench her classmates’ thirst of romantic stories.

Using her late father’s typewriter, Soon-duk finished her novel and published it on her own. Copies of Soon-duk’s prose were then circulated and sold by her trusted circle of friends.

[Spoiler alert!]

The conflict arises when the principal found Soon-duk’s novel after Tae-nam accidentally threw the book out of the classroom’s window.

An investigation was then launched to discover the writer. A band of government agencies got involved in the process of investigation. They studied the copies and found that the typewriter had a certain defect on it.

Being guilt-ridden, Tae-nam helped Soon-duk hide the typewriter so she could escape the punishment: being expelled from the school.

Instead, to protect Soon-duk better, Tae-nam confessed that the typewriter belonged to him and it was he who wrote the sequel of the novel. His motif should be to save Soon-duk from the government sanction, which could make her future life even more miserable. The fact that her father used to be a suspect of the similar offense also made her position even more difficult. Once she was caught and brought to trial, her social life seemed to be over. Soon-duk would be stigmatized for the rest of her life.

No students knew this confession as Tae-nam left the school without prior notice.

Soon-duk’s life went well. She even went to university years after. And somehow she found out that Tae-nam had to work at a smaller private school with a much lower salary, making even harder for him to be confident to find a woman to marry.

But then a questions arises:

Is Tae-nam’s action an ethical one?

Though Tae-nam is described as a teacher that finally took the best decision to protect his student, ethically it is not right.

By taking the blame, Tae-nam did not allow Soon-duk to learn her lesson. The hard way of course. But at the very least, she could take charge of her own bold action of publishing such a novel.

However, Soon-duk was also unaware of the fact that the book was banned and thus whoever wrote it could be sent to prison.

In this case, Tae-nam took charge of his fault for letting Soon-duk know about the book (by not properly disposing of the book, by burning it down, for example). And it was also his fault that the principal found the copies of Soon-duk’s novel.

Socrates said: “The truly wise man will know what is right, do what is good, and therefore be happy.”

I’m wondering whether Tae-nam was happy with his own decision. But what I am sure of is that he is proud of his own bold actions for taking side with the oppressed young soul. (*/)

Semua Orang Menangis

close up of teenage girl
Photo by Pixabay on Pexels.com

Tak mudah hidup di dunia ini. Tiap orang terus-menerus merasa kesal dengan hal-hal remeh yang tak berjalan sesuai keinginan mereka: yang satu dihina oleh seorang teman; yang lain diabaikan oleh keluarganya; tetapi yang lain bertengjar dengan pasangannya atau anaknya yang sudah remaja.

Sering orang menangis saat mereka tidak bahagia. Ini alami. Untuk jangka pendek, saat saya masih muda, saya bekerja di sebuah kantor. Menjelang waktu makan siang, saat orang-orang di kantor lapar dan lelah dan gusar, mereka mulai menangis. Atasan saya akan biasanya memberikan saya sebuah dokumen untuk diketik dan saya akan menyingkirkan dokumen itu dengan geram. Ia akan berteriak pada saya,”Ketik itu!” Saya akan balas menjawab,”Tidak mau!” Ia sendiri kesal di telepon dan membantingnya. Begitu ia akan bersiap untuk makan siang, ia begitu kesal sampai menangis. Jika seorang kenalan mampir ke kantornya dan membawanya keluar untuk makan siang bersama, ia akan menolak dan mengabaikan orang tadi. Kemudian mata orang itu juga akan bercucuran dengan air mata.

Setelah makan siang, kami biasanya merasa baikan, dan kantor kami penuh dengan kesibukan, orang-orang membawa map dan berjalan tergesa-gesa ke sana kemari, ledakan tawa muncul dari dalam kubikel-kubikel. Pekerjaan akan berjalan lancar hingga akhir sore. Kemudian saat kami lapar dan lelah, bahkan lebih lelah daripada di pagi harinya, kami biasanya mulai menangis kembali.

Kebanyakan kami terus menangis saat meninggalkan kantor. Di lift, kami saling menyikut dan di perjalanan menuju kereta bawah tanah kami menatap orang-orang yang datang menghampiri kami. Di tangga yang menurun menuju kereta bawah tanah, kami memaksa untuk menerobos kerumunan orang yang naik ke atas.

Saat itu musim panas. Saat itu, tidak ada pendingin udara di gerbong-gerbong kereta bawah tanah, dan saat kami berdiri mengantre, bergoyang di antara perhentian, air mata berlinang di pipi, keringat membasahi punggung dan kaki kami, dan kaki para perempuan sudah membengkak di dalam sepatu-sepatu mereka.

Sebagian orang secara perlahan-lahan mulai berhenti menangis begitu mereka makin dekat dengan rumah mereka dan terutama jika mereka berhasil mendapatkan tempat duduk. Mereka akan mengedipkan bulu mata mereka yang basah dan dengan puasnya menyedot jari-jemari mereka sembari membaca koran dan buku, mata mereka masih terus bersinar.

Mereka mungkin tak menangis lagi hari itu. Saya tak tahu, karena saya tak bersama mereka; saya hanya bisa membayangkan. Saya sendiri biasanya tidak menangis di rumah, kecuali di meja, jika makan malam saya sangat mengecewakan, atau jika saya hendak tidur, karena saya tidak ingin tidur, karena saya ingin bangun keesokan hari dan berangkat kerja. Tapi mungkin orang lain menangis di rumah, mungkin saat mereka menangis dan berhenti di malam hari, tergantung pada apa yang mereka temukan di sana. (*/)

Diterjemahkan dari cerpen di rubrik Flash Fiction NewYorker.com bertajuk “Everyone Cried” oleh Lydia Davis

Marriage Equality and Celibacy

A young man for decades longed for equality in all of his aspects of life. He got what he wanted that fateful day. The new leader of the society he was living in was so liberal he allowed everyone to marry anyone they wished. Even a human being of the similar kinship, gender, and so forth. Yet, the young man went bored. He wanted to push the boundaries. Now even further. He loved a book so much he decided to marry it. He went to the ruler of society. Yes, he allowed the young man to marry the book. He got overly elated by the permission. He slept with it every night. He hugged it every time he could. He even had an intercourse with it every midnight but they never had any offsprings. Again, he got bored. The young man stumbled upon a heavenly spirit. He fell in love with it, too. And of course, he wanted to marry it, and he asked the leader’s permission and he did at last get it, while abandoning the book as the boredom got its most extreme. He flirted with the heavenly spirit. He adored it so much but the thing was he could never touch it. At one point, the boredom appeared once again. Now the young man wanted marriage no more. He wanted celibacy for which he asked the permission to the wise leader. The leader frowned upon learning the young man’s wish. “You can marry anyone, anything. Isn’t that enough?” The young man spoke,”It is enough. More than enough. To let me arrive to the conclusion that I want no one, nothing, but my Self.” It seemed celibacy did not impress the leader. So he lightly told some guards,”Take him to my lions. They need some flesh to eat.” The young man stabbed himself before they reached the lions’s cage. Hence, he finally met with Celibacy. For good.

The Liar

‎In a kingdom where a slave was working, a grand master and his chief maid lived. The slave knew the chief maid was a liar. A pathological one. While the slave along with his co-slaves worked days and nights in the most honest fashion they could, the maid pretended to be working more than the slaves to get all their credits.

One day, when the sunlight ‎began baking the ivory tower they lived in, the grand master uttered,”I desired cool air in my hall.”

“Your wish is my command, your majesty,” the chief maid replied.

She ordered the slave and all his friends,”You all hear the command. He wants the coolest air but remember, I want the cooler one than his. Or else I shall tell him all of you don’t work as expected.”

The slave’s thin arms reached out in the air, as if asking for divine assistance.

He leisurely walked into the control room of the entire ivory tower. ‎And click! He activated the arctic mode in the centralized air conditioning system and locked all the gates afterwards, leaving only the grand master and the chief maid dying frozen inside the structure.

Within minutes, he and his friends were freed already. Swimming in the pond, they were reborn as independent creatures.

(image credit: wikimedia)

Maya Tidak Gila

Study of a Seated Veiled Female Figure (19th Century)
Study of a Seated Veiled Female Figure (19th Century)

Maya itu aneh tetapi nyata. Di kelas, selama kurang dari setahun kami berada di satu bangku yang sama, ia diam seribu bahasa. Kami tak saling menyapa. Ia tidak bisu. Hanya saja, saya hidup di dunia nyata. Maya, di dunia Maya sendiri. Dunia itu penuh dengan aktor-aktor Hongkong terkenal. Andy Lau, Jay Chou, Jimmy Lin. Pria-pria semacam mereka itulah. Mereka sipit, berkulit bersih, rupawan, bergelimang dollar (Hong Kong, tentunya) dan ketenaran sebagai selebritas.

Maya kerap menjadi bahan olok-olok. Hidupnya di lingkungan sekolah cukup susah. Toh ia bisa bertahan selama 3 tahun, dan lulus dengan begitu susah payah. Saya tahu itu.

Saya masuk ke kelas ini atas pilihan pribadi saya. Tanpa peduli pertimbangan orang lain, saya putuskan masuk ke kelas IPS setelah di kelas IPA otak saya menolak bekerja. Sayangnya, cuma kelas IPS 1 yang muridnya berjumlah ganjil. Dan kursi kosong itu hanya ada satu. Di sebelah Maya. Kalau Anda jadi saya, harus bagaimana?

Suaranya yang kecil dan tidak jelas di telinga saat diajak bicara membuat siapa saja merasa terkekeh, ingin menggoda dan memanfaatkan kepolosannya untuk sekadar hiburan di waktu rehat. Keji sekali kelihatannya, tetapi olok-olok itu tampak normal saja di mata kita, orang-orang di sekitarnya yang menganggap Maya idiot.

Sebetulnya kata idiot kurang pas diberikan pada Maya nan malang itu. Ia bukannya anak yang begitu dungu. Apalagi ber-IQ jongkok. Sama sekali salah. Ia masih bisa berpikir. Hanya saja, kata orang, ia tak kuat lagi dengan orang tuanya. Mereka berdua menekan Maya agar bisa menjadi anak berprestasi di sekolah. Begitu kira-kira selentingan yang beredar selama ini di sekolah kami yang besar itu.

Wajahnya sering terlihat menunduk ke arah lantai. Saya juga penasaran kenapa ia kerap memandang ubin kelas kami yang kotornya minta ampun kala hujan. Saat diajak berbicara, pandangan matanya sedetik dua detik terarah ke lawan bicara dan sisanya ia arahkan lagi ke lantai. Ia terus memandang lantai, lalu mengangguk-anggukkan kepala seolah sudah paham perkataan yang baru diucapkan lawan bicaranya. Bila Maya tak setuju atau punya komentar, ia akan tetap tertunduk dan mulutnya komat kamit dalam tingkat kejelasan suara yang rendah. Cara melangkah Maya terlalu lebar bagi seorang anak gadis. Kakinya itu pendek tetapi tak mau kalah dengan lebarnya langkah Tim yang pemain basket nan jangkung itu. Di punggungnya yang kecil, Maya biasa menggantungkan sebuah tas punggung berukuran besar. Isinya macam-macam. Anehnya, buku-buku Maya itu bercampur aduk tak karuan. Saya menebak ia tak peduli apakah sudah membawa buku-buku yang diperlukan sesuai jadwal pelajaran atau tidak. Maya hanya membawanya saja di punggung. Masa bodoh dengan kesesuaian jadwal di sekolah atau tidak. Karena itu, Maya juga sering dimarahi karena tak mengerjakan atau membawa hasil pekerjaan rumah. Di sinilah, saya kadang sangat percaya ia idiot.

Perilakunya susah ditebak. Jalan pikirannya juga bukan milik orang biasa. Ada sesuatu yang salah di otaknya. Sangat salah. Katakanlah, murid kebanyakan lebih suka mencontek daripada tertangkap basah guru tidak mengerjakan PR. Maya cukup berani mengabaikan kewajiban itu dan masuk ke kelas tanpa merasa bersalah dengan buku kosong. Guru-guru kami sudah tahu ia berbeda. Begitu berbedanya hingga ia diperlakukan bagai anak bawang dalam sebuah permainan. Saat ia diketahui tak mengerjakan PR, guru-guru biasanya diam saja. Mereka tak banyak bicara, apalagi memaksa. Alhasil, nilai-nilai Maya ada di batas bawah rata-rata nilai kelas.

Maya pernah suatu saat menjadi sasaran keisengan guru yang jahil. Guru PPKn, tepatnya. Siang itu, kami semua tengah menyimak pemaparan sang guru di depan. Membosankan. Kami menatap lembar demi lembar buku teks itu. Maya yang ada tepat di depan guru tampak sungguh sibuk. Tubuhnya membungkuk. Ah, dia cari mati, batin saya. Kegiatan itu sudah menjadi favoritnya sebagai alat pembunuh kebosanan yang meraja. “Tapi bukan begitu caranya!” teriak saya dalam hati. Saya tak bisa bayangkan jika si guru memergokinya menggambar kartun-kartun ala komik Jepang itu. Ya, ia pandai sekali menggambar. Sketsa-sketsanya mirip milik komikus profesional. Beberapa siswi di kelas kami bahkan terus terang menyukai dan memuji bakat artistik Maya itu. Maya yang keasyikan menggambar itu akhirnya diingatkan si guru PPKn untuk menggarap pekerjaan yang dibebankan. Tak mau, Maya melanjutkan menggambar karakter kartunnya di buku catatannya. Semua buku catatannya lebih mirip buku gambar. Tulisan tangannya yang jelek itu lebih sedikit daripada jumlah sketsa tokoh kartun idolanya. Sekarang tahu rasa dia kepergok guru begitu, pikir saya. Sejurus, karena mungkin kesal, guru itu merebut buku Maya, lalu memamerkan hasil coretannya ke seisi kelas dan membahasnya. “Ini siapa, Maya?” tanya guru PPKn itu padanya. Maya sontak terkejut, ekspresinya mirip anak yang mainannya tiba-tiba direbut anak lain. Ia gusar sekali, berteriak dengan kedua tangan terjulur ke atas mencoba meraih kembali buku itu. Tergambar di lembar buku itu sesosok pria muda. Bisa jadi itu lelaki idamannya. Setidaknya dalam fantasinya. Suara gadis itu meraung-raung. Saya cemas ia akan pingsan atau meracau atau berbuat nekat yang tak bisa ditebak. Begitu juga kejadiannya dengan guru sejarah kami yang marah karena Maya membiarkan lembar kegiatan siswanya kosong melompong. Maya beranjak tiba-tiba dari tempat duduknya dan keluarlah ia dari kelas. Tatapan mata kami mengikuti. Semenit, dua menit, lima menit, ia tak kunjung kembali. Kemudian pelajaran tertunda. Maklum guru kami juga jadi cemas karenanya. Jelas ini murid yang sungguh istimewa sehingga tidak bisa ditangani dengan metode yang lazim. Maya kembali ke kelas di jam pelajaran berikutnya. Ia tak mau lagi berada di kelas saat ada guru-guru tadi. Tapi pekan depannya, ia rupanya sudah lupa. Tandanya, ia sudah masyuk dengan aktivitas sketsanya yang lebih membuat jiwanya puas dan bahagia itu. Begitu ia menggambar, dunia ada di kertas dan pensil yang ia hadapi. Apakah ini suatu jenis autisme? Saya kurang tahu.

Untung wali kelas kami wanita penyabar. Bagaimana kami tahu ia penyabar? Rambutnya selalu memiliki gulungan dan lengkungan menawan di ujung-ujungnya. Ikal mayang yang tidak alami, kami tahu. Rol-rol rambut itu membantunya mencapai tatanan rambut yang maksimal. Wajahnya juga terias baik. Bukan jenis riasan yang selesai dalam 5 menit, tetapi 50 menit. Itulah kenapa saya katakan ia sabar. Setelah ia memberikan instruksi, biasanya ia menyapa Maya untuk membawa anak itu kembali ke dunia nyata.

Jelang ujian, Maya tetap menggambar seperti biasa. Kalau bosan melanda, gadis berambut sebahu itu membaca buku komik pinjamannya dari rental buku di pusat kota. Ia membuat saya geleng-geleng kepala saat dengan lihai menaruh komik itu ke dalam buku teks pelajaran yang ukurannya bisa dua kali lipat. Ia tahu guru di depannya tak akan menarik perhatian, karena guru mana yang tidak senang melihat muridnya tekun membaca buku? Mereka mengira Maya fokus menyerap saripati pelajaran dalam buku. Di saat-saat seperti itulah, saat ia tak peduli dengan akibat yang bisa ditimbulkan kenekatannya itulah, saya yakin ia bukan manusia waras. Kami sudah kelas tiga dan murid terbengal di kelas pun telah memeras otak, memikirkan bagaimana bisa lulus dari sekolah ini dan melanjutkan hidup mereka di luar tembok sekolah yang mengungkung ini. Maya tak tampak mencemaskan hal-hal semacam itu. Yang ada di di kepalanya bagaimana menggambar Jimmy Lin dengan lebih realistis lagi, bagaimana menggambar semua tokoh kesayangannya di komik Jepang yang baru ia pinjam tadi sore.

Ebtanas menjelang dan ia bergeming dari hobinya itu. Yang penting, akhirnya ia lulus dari sekolah ini. Akhirnya ia bebas menggambar apa saja. Meski nantinya kembali terkungkung di bangku kuliah. Entah bagaimana ia berhasil keluar dari sana, tetapi ia pasti lebih menderita. Dunia memang kejam baginya.

Update:

Februari tahun kemarin seorang teman bertemu dengan Maya di sebuah usaha foto dan syuting video bernama “Macro”  (depan Pasar Wergu Wetan sebelah selatan Jamu Nyonya Mayong).

On Adulthood

‎”So how old were you on your birthday last month?” Tengo asked, changing subjects.
“Twenty three. A full-fledged adult.”
“Of course,” Tengo said. He was already thirty but yet to have a sense of himself as an adult. It just felt to him like he had spent thirty years in the world. (Haruki Murakami: 1Q84, page 855)

That was Tengo’s thought as he talked to Nurse Adachi, one of the nurses taking care of his dying father in a little town’s hospital for the elderly‎.

The problem with younger people is they tend to think older ages mean more freedom‎ and booze, a privilege to break curfew.

As one gets older, however, ‎they don’t give a damn to the so-called freedom, because they learn already; with greater freedom, comes greater responsibility. And that’s the worst part of being an adult. Responsibility…

Roy (4)

Kalau ada anak-anak tiri dalam keluarga kami itu adalah semua keturunan Wongsodjojo. Sejak Opa mendirikan Plazia, bisnis itu sudah menjadi anak kandung bagi keluarga kami. Waktu kami dari bangun tidur hingga hendak tidur didominasi oleh ambisi Opa dalam melakukan ekspansi bisnisnya. Tidak ada pilihan. Kami – anak dan cucu-cucunya – harus turun tangan karena ia tidak mau bisnis ini dikerjakan sepenuhnya oleh profesional sewaan. Mereka bisa berkhianat padanya, sementara kami darah dagingnya tidak. Begitulah alasan Opa mengajak kami dalam menjalankan Plazia yang kini sudah mencapai 4 dekade. Usiaku hanya separuhnya lebih sedikit.

Dalam setiap wawancara di media, Opa dan Papa selalu berkata,”Keluarga adalah segalanya.” Betul sekali. Karena ia menganggap ini semua di atas kami keluarganya. Opa selalu dielu-elukan media massa. Ia memiliki kredibilitas yang tinggi dalam sepanjang masa kerjanya sebagai pebisnis ulung spesialis pembangun pusat perbelanjaan.

Saat Opa masih muda, ceritanya padaku suatu malam saat aku masih SMP, ambisinya begitu besar untuk menjadi lebih sejahtera. Sejahtera itu maksudnya kaya raya. Mengalami kepahitan hidup di zaman kolonial, Opa hanya bisa memiliki mimpi untuk tidak mati berkalang kemiskinan. Ia melihat kakek buyut menggelepar di lantai rumah yang masih dari tanah saat ia duduk di bangku sekolah rakyat. Ayahnya keracunan makanan. Suatu siang ia masuk ke hutan untuk berburu hewan apapun yang bisa dimakan karena persediaan makanan menipis di pasar dan harganya bukan kepalang mahalnya. Kami bukan keluarga taipan atau bangsawan yang bisa membeli beras dan lauk dengan leluasa. Kakek buyut sadar berburu hewan di hutan lebih melelahkan hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari tumbuhan dan umbi yang bisa dimakan. Ia mendapati umbi gadung di satu sudut hutan. Besar dan menggiurkan jika nanti diolah oleh nenek buyut sehingga ia pun mencabutnya dan membawa pulang ke rumah. Nenek buyut masih berusia 17 tahun saat itu. Dengan pengalaman memasak seadanya, ia mengolah umbi gadung itu. “Sini aku cicipi dulu. Jangan-jangan tidak enak. Kalau tidak enak, kalian tidak usah makan,” kata kakek buyut pada istri dan 4 anaknya petang itu. Suasana sudah temaram karena senja mulai meraja. Dengan nenek buyut berada di sampingnya, Opa yang anak ke-empat itu mengamati ayahnya menggigit umbi gadung. Sejurus setelah itu, kakek buyut terlihat tercekik. Kami mengira ia hanya butuh air minum, tetapi ia menampakkan kesakitan yang lebih parah daripada hanya sekadar tercekik kunyahan umbi. Kakek buyut terkena racun gadung, yang ternyata belum dibersihkan secara sempurna oleh nenek buyut. Mereka semua tak berdaya, hanya bisa membantunya menepuk bahu dan punggungnya, berharap makanan beracun itu
meninggalkan tubuhnya. Terlambat. Mereka, termasuk Opa yang masih kecil itu, hanya bisa menangisi jasad kakek buyut di lantai. Kakak tertua Opa melesat ke luar rumah mencari bantuan tetapi apa daya ia datang sesaat setelah kakek buyut tak bergerak. Tabib kampung itu hanya bisa duduk dan memeriksa denyut nadinya kemudian menggeleng lemah,”Maaf, sudah tidak terselamatkan.” Nenek buyut tidak mau percaya begitu saja. Ia menjerit menyadari umbi itu mengambil nyawa suaminya. Ia mengerang beberapa saat karena kejadian itu berlangsung tiba-tiba. Ia memeluk jenazah kakek buyut lalu sekonyong-konyong beranjak ke tengah ruangan. Anak-anaknya mengamati gerak-geriknya sambil masih bersimpuh di sekitar jasad sang ayah. Si tabib sudah pergi, ia menyebarkan berita kematian itu ke penghuni kampung. Tangan nenek buyut meraih wadah umbi tadi dan kemudian membuangnya dengan kasar ke luar rumah. “Kalian jangan makan itu lagi. Ingat ya, jangan sentuh apalagi makan umbi seperti itu lagi,”kata nenek buyut lirih pada keempat anak-anaknya. Ia melingkarkan kedua tangannya yang kurus akibat kurang makan seperti jutaan orang pribumi di zaman pendudukan Jepang saat itu ke empat anak-anaknya lalu memeluk mereka erat-erat. Dari pelukan itu ia mendapatkan kehangatan dan energi hidup. Sangat berbeda dari pelukan terakhir yang ia berikan pada sang suami, yang dingin dan kosong. Tidak ada nyawa di dalamnya. Anak-anaknya berbeda. Mereka masih berdetak jantungnya, masih bernapas dan terisak mengikutinya.

Begitu suaminya disemayamkan di pemakaman kampung yang makin dipenuhi jenazah korban kelaparan itu esok harinya, nenek buyut memutuskan keempat anak-anaknya sebagai cinta dan masa depannya. Tidak ada lagi tempat untuk cinta lain, pria lain yang bisa menggantikan sang suami. Hidup tidak pernah mudah bagi orang tua tunggal, baik dulu maupun sekarang. Dan nenek buyut bersikukuh untuk tetap menjanda di sisa hidupnya. “Aku takut kalian nanti diperlakukan semena-mena kalau aku kawin dengan pria lain. Mungkin ia baik dengan kalian saat aku ada, tapi siapa bisa menjamin akan begitu kalau aku tidak bersama kalian? Kalaupun ia benar-benar baik dengan kalian, apakah anak-anaknya dan keluarganya juga begitu pada kalian? Ibu tidak yakin, nak,”jelas nenek buyut saat kakak sulung Opa menyampaikan kabar ada seorang duda di kampung itu yang tertarik meminangnya. Ia tahu ia hanya bisa menikah dengan duda. Meskipun paras dan tampilannya lumayan menawan untuk ukuran perempuan yang sudah tak lagi perawan, anaknya sudah banyak. Ia bukan janda kembang yang lebih bebas menerima pinangan pria manapun yang berminat. Namun, ia sudah berniat menutup semua pintu kemungkinan itu. Tak akan ada lagi suami baru. Titik. Bahkan jika itu adalah permintaan anak-anaknya.

Pernah suatu kali, seorang pria yang ditinggal pergi istrinya mencoba merebut hati anak-anaknya. Ia sukses menciptakan imaji positif sebagai ayah pengganti yang baik bagi 4 anak laki-laki itu. Dari sekolah, pria itu mengantar mereka ke rumah dengan truk tentara. Ia memang ditugasi menjaga truk itu. Seperti mendiang suaminya, sang pria juga tentara. Nenek buyut berkata dulu saat suaminya masih hidup mereka pernah menyinggung tentang orang yang akan menjaga nenek buyut jika kakek buyut tak bisa lagi bersamanya. Nenek buyut
bersungut-sungut dengan perkataan suaminya yang ia pikir mengada-ada. Ia menegaskan ia tidak akan semudah itu beralih ke lain hati meski kakek buyut meninggalkan dunia ini sekalipun. Dan nenek buyut berhasil menepati janji itu seumur hidupnya. Hingga akhir hayatnya di usia 90, ia bangga bisa menemui suaminya dalam kondisi setia.

Dibesarkan dalam kondisi penuh keprihatinan sejak kecil, Opa ingin membahagiakan ibunya dengan tidak pernah berhenti bermimpi menjadi orang yang lebih kaya.

Opa pernah bercerita bahwa dirinya banyak belajar ketangguhan dalam menjalani hidup dari sang ibu. Menemani nenek buyut berjualan di pasar membuat Opa akrab dengan suasana jual beli. Ia kerap menyaksikan orang bersilat lidah demi mendapatkan harga terbaik dalam setiap transaksi perdagangan, dari seikat kangkung yang dibutuhkan untuk mengusir lapar hingga 10 gram emas dalam perhiasan pusaka keluarga yang terpaksa dijual demi kebutuhan pendidikan.

Opa tidak suka dengan sekolah. Bukan berarti ia bodoh. Ia lebih suka belajar sendiri. “Prodigy”, begitu kata orang manca menyebutnya. Dibandingkan kakak-kakaknya, ia memang berotak lebih encer. Ia bisa lulus dari sekolah rakyat lebih cepat. Hanya satu yang ia dambakan, membuat sang ibu tidak malu dan ayahnya di atas sana bangga. Di usia 16 tahun, ia masuk kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri kenamaan. Saat itu dosen-dosennya bahkan masih didatangkan dari Belanda. Sambil berbisnis kecil-kecilan, Opa berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya di usia 20 tahun. Bukan suatu pencapaian biasa kala itu.Tampak mudah saat ia menceritakan saat ini tetapi pada
kenyataannya ia kerap harus berjuang keras mengasah otak untuk menutup biaya hidup dan uang kuliah yang selangit. Dari pulang kuliah di petang hari, Opa muda masih harus berkemas bekerja hingga larut memenuhi permintaan pelanggan di pasar. Ia berjualan apapun, dari kain hingga sabun mandi untuk bisa mendapatkan uang demi menyambung hidup. Dalam kondisi yang belum mapan sama sekali itu, Opa menikahi Oma yang juga kuliah di kampus yang sama. Oma perempuan yang ulet bekerja juga. Ia bukan perempuan yang suka menonjolkan diri sehingga apapun yang ia lakukan sebagai seorang istri, ia atasnamakan sang suami.

Selama usia 20-an, Opa melanglang buana di kota-kota besar di negeri ini. Dari Jakarta sampai Surabaya, ia pernah sambangi. Semua demi menemui kolega bisnis.

Kepribadian Opa yang periang dan supel serta mampu membujuk orang untuk melakukan apa yang ia mau secara sukarela memang sebuah pesona. Ini juga yang membuat Oma jatuh cinta rupanya. Opa mampu menaklukkan hati bukan hanya wanita yang ia sukai tetapi juga orang tua wanita itu, yang tidak menyukainya pada awalnya. Mereka pernah berencana kawin lari tetapi Opa meyakinkan tindakan itu tidak perlu. Orang tua Oma hanya ingin menantu seorang dokter, karena mereka dokter juga. Opa yang ‘hanya’ lulusan jurusan ekonomi pun memutar otak. Dengan kecerdasannya itu, ia berhasil meyakinkan mereka bahwa ia juga memiliki pengetahuan tentang kedokteran. Ia berburu buku kedokteran di pasar buku Kwitang, dan membacanya di sela-sela kegiatan berniaganya. Buku-buku itu tebal dan memiliki penjelasan yang kompleks. Bersama Oma, mereka mendiskusikan isi buku itu saat berkencan. Oma juga seorang dokter tetapi ia memutuskan tidak akan membuka praktik. Tanggung jawabnya terlalu besar, katanya. Selesai melahap buku-buku itu, ia seperti anak yang siap menjalani ujian akhir. Opa menemui orang tua Oma dan meyakinkan bahwa dirinya juga seorang dokter, hanya saja ia berkata ijazahnya hanyut tenggelam kala rumah kontrakannya terendam banjir. Tak percaya begitu saja, kedua orang tua Oma mengajaknya bertanya jawab mengenai masalah medis. Dan Opa berhasil meyakinkan mereka di akhir diskusi bahwa dirinya pernah mengenyam pendidikan kedokteran formal. “Kamu jebolan mana?” tanya ayah Oma ingin tahu lebih lanjut. “Saya hanya punya satu dosen, pak,”tukas Opa. “Oh ya, siapa dosen hebat itu?” ujarnya. Opa berkata tenang sambil melirik Oma,”Dia…”

Oma akhirnya panjang lebar menceritakan betapa kerasnya tekad Opa untuk meminangnya. Termasuk di dalamnya ialah bagaimana Opa
menghabiskan banyak waktu untuk membaca dan berdiskusi mengenai topik-topik dalam buku yang baru saja ia lahap.

Dahi ayah Oma mengernyit. Ia tak percaya lalu melontarkan satu pertanyaan lagi pada Opa yang terlihat tenang dan siaga. Pertarungan belum selesai, batinnya.

“Apakah kamu bersumpah akan siap menjaganya bahkan hingga kami orang tuanya tidak lagi ada?”

Opa mengangguk. “Meski saya bukan dokter, saya berjanji akan membangun sebuah rumah sakit dengan nama om dan tante nantinya.”

Roy (3)

III

Semalam aku tidak bisa tidur. Hanya gelisah membolak-balik badan di tempat tidur dan sesekali memeriksa ponsel di meja kecil samping bantal. Aku cemas dengan apa yang akan kuhadapi besok.

Alarm ponsel berdering nyaring. “Ah masih jam segini…,”aku menarik selimut, berharap masih akan ada injury time. Tapi waktu tidak mendengarkan permohonanku untuk berhenti sejenak. Kuseret diriku menuju ke kamar mandi, berpakaian, lalu makan.

Kupandangi kaca itu sambil tertegun,”Aku pasti bisa melalui hari ini!” Kutundukkan kepalaku lagi dan kupejamkan mata, berharap aku bisa membuka mata dan sudah berada di bangku sekolah, belajar Al Kitab.

Sudah pukul 7.00 dan aku masih berupaya menemukan kunci mobilku. Sedikit panik aku memanggil pak Boy. Nama aslinya memang Boy, karena ayahnya suka dengan Onky Alexander, si pemeran film Catatan Si Boy.

“Lho, belum tau ya mas?” ia balik bertanya,”Itu kuncinya sudah diambil ayah mas Roy.”

“Apa???”aku tidak percaya karena kunci itu aku letakkan di meja kamar. Bagaimana Papa mengambilnya? Dan yang lebih penting lagi, bagaimana aku harus ke kantor?

“Mas Roy sudah pulas tadi malam pas kuncinya diambil,”pak Boy menjelaskan.

Aku tak terlalu peduli dengan bagaimana Papa mengambil kunci mobilku karena aku harus segera menemukan cara untuk bisa ke kantor sekarang juga atau aku akan terlambat. Jalan dan lalu lintas Jakarta tak pernah bisa ditebak, dan dari pengalaman, jarak 5 km dari kantor dan rumah bisa ditempuh lebih dari 2 jam kalau sedang naas. Kali ini aku sudah kesiangan dan tak ada mobil yang bisa dipakai. Semua kuncinya dipegang Papa.

“Mas Roy, kalau mau saya panggilkan teman saya. Kan sedang
buru-buru,”tukas pria berperawakan kecil itu lagi. Apa rencananya?

“Maksud pak Boy?” Pandangan saya menyelidik.

Pak Boy mengusulkan,”Supaya tidak telat ke kantor, naik ojeknya bang Sidik aja mas…”

“Apa?!! Hmm…” Aku belum pernah mencoba tetapi ini kondisi darurat dan aku tidak ada solusi lain.

“Ya sudah pak, cepat panggilkan. Aku harus sampai jam setengah sembilan lho!”

Sejurus ia merogoh ponsel di sakunya dan menghubungi sang teman. Mereka berbicara dalam bahasa Betawi.

“Sudah siap!”ia berkata padaku.

Setengah menit kemudian, aku berada di jok sepeda motor itu, melesat dengan memakai helm. Ah, jambul rambutku yang sudah aku buat susah payah hancur tertimpa helm. Tak apalah, asal tidak terlambat.

Dalam 20 menit, aku sudah sampai di lobi gedung kantor Plazia di kawasan pusat aktivitas bisnis ibukota. Aku heran kenapa bang Sidik tahu lokasi kantor ini tanpa aku jelaskan. Rupanya usut punya usut, ia diberitahu pak Boy sebelumnya.

Masuk ke kantor aku sedikit terengah-engah. Kusaksikan di seluruh gedung hanya ada orang-orang dengan dua jenis penampilan: berseragam dan tidak. Namun demikian, aku tahu semuanya akan bekerja di sini. Office boys berseragam yang bernasib malang; mereka karyawan outsourcing yang bergaji relatif kecil. Begitu aku baca di sebuah situs berita kemarin. Mereka kembali berdemo, setelah wacana kenaikan BBM berhembus dan harga-harga kebutuhan pokok membubung tanpa ampun. Sementara para eksekutif dan pegawai profesional itu lalu lalang dengan pakaian-pakaian kerja yang lebih bagus. Entah itu jas atau batik tulis mahal. Mereka tampak lebih beruntung dari rekannya yang kerah biru, tetapi juga menanggung utang yang sering di luar batas penghasilan mereka.

Hari pertama menjadi karyawan magang di perusahaan Papa sungguh membekas karena aku seperti orang dungu. Aku berusaha datang lebih pagi agar bisa mempelajari medan. Aku tahu aku tidak akan bekerja di bidang ini hingga akhir karirku tetapi aku juga tidak mau bekerja asal dan menunjukkan etos kerja yang rendah. Itulah yang Papa contohkan padaku selama ini:bekerja sepenuh hati. Kalau dalam kasusku, HAMPIR sepenuh hati. Aku cuma tidak mau menodai kredibilitas dan kompetensi serta profesionalismeku sebagai individu merdeka, bukan sebagai pekerja atau pengusaha.

Aku tidak tahu apa-apa tentang bagaimana menjadi karyawan apalagi bagaimana menjalankan sebuah perusahaan. Aku tidak tahu letak toilet, tidak bisa menemukan kertas fotokopi, tidak bisa menggunakan telepon karena ternyata setiap orang harus memiliki kode rahasia agar bisa menghubungi nomor telepon di luar kantor. Tak mau repot, aku pakai saja ponselku. Tetapi tetap aku harus berhemat. Aku tak mau tagihan ponselku membengkak. Bagaimanapun aku yang membayar tagihan ponselku, meski ayah dan kakek memiliki uang untuk membeli perusahaan
telekomunikasi itu sekalipun.

Rupanya Jodi – si pria ceriwis itu – adalah manajer di sini. Mungkin manajer komunikasi, karena ia sungguh cerewet, suka berkomentar tentang apa saja. Termasuk tentang diriku. Penampilanku, caraku memutuskan, dan apapun itu hampir selalu ia puji.

Aku harus bertahan dengan sikap Jodi yang suka menyanjung-nyanjung ini. Setidaknya hari ini, dan beberapa ratus hari mendatang. Atau hingga Papa dan Opa mengubah pikiran mereka dan membolehkanku menjadi pendeta, seperti yang aku impikan.

“Dasinya bagus sekali, pak. Hari ini terlihat sangat segar, penuh semangat ya mulai bekerja di sini,”matanya berbinar sambil melontarkan komentar ‘jilatan’ di depanku dan beberapa orang saat makan siang. Iya, aku makan siang bersama mereka di kantin karyawan yang pengapnya bukan kepalang itu. Letaknya di basement gedung kantor kami. Di jam makan siang, sungguh penuh sesak dengan orang. Karena gerah oleh komentar Jodi dan udara di dalam kantin yang pengap, aku pun melepas dasi biru itu dan memasukkannya ke saku celana hitamku. Dasar orang gila, batinku. Perhatiannya berlebihan dan itu tidak hanya membuatku jijik. Teman-temannya juga.

Meja kerjaku menghadap ke arah utara. Di ketinggian lantai 69 ini, kami bisa menyaksikan laut dari jendela. Pertemuan cakrawala dan laut nun jauh di sana kabur. Seperti masa depanku ini. Apakah aku akan menjadi pendeta nantinya atau hanya menjadi pebisnis seperti ayah, kakek, paman dan semua orang di sekitarku ini?

Tidak banyak yang tahu betapa tidak menyenangkan menjadi salah satu pewaris tahta seperti ini. Aku tidak membahas sisi uangnya tetapi bagi banyak orang, kehidupanku adalah yang mereka sangat dambakan. Kenyataannya tidak begitu mudah sebetulnya. Semua kadang di luar kendaliku, meski aku tahu aku bisa melawan. Akan tetapi, mereka adalah bagian dari orang-orang yang aku kasihi. Mereka telah menjagaku dari kecil hingga seperti sekarang ini. Bagaimanapun aku tidak mau mengecewakan mereka.

Roy (2)

II

Bila aku dianugerahi kekuatan super, mungkin aku hanya menginginkan satu hal:kekuatan mengendalikan waktu. Kalau aku bisa mengendalikan waktu, aku bisa mencegah bulan Oktober datang menjemputku. Itu alasan utamaku.

Oktober yang mendebarkan itu akhirnya datang jua. Aku hanya bisa berharap bertahan hingga Desember tahun depan sembari menabung sebagian uang yang diberikan perusahaan karena aku karyawan magang spesial. Lalu aku bisa memikirkan bagaimana aku bisa keluar perusahaan dan membiayai studi master teologiku yang sudah kuimpi-impikan. Sungguh aku menantikan hari itu. Aku tidak peduli dengan perusahaan, aku hanya mau menjadi pendeta.

Aku masih ingat bagaimana opa merangkul akrab pendeta yang pernah memberikannya penghiburan spiritual saat bisnisnya hancur lebur diombang-ambingkan badai krisis moneter. Di usia 6 tahun aku menyaksikan sendiri kondisi kami sekeluarga yang dilanda ketakutan yang amat sangat. Kekayaan kami justru tidak bisa membuat kami aman. Karena semua harta itulah, kami diburu; sehingga aku mulai bertanya:”Untuk apa semua harta dan uang ini jika membuat kami harus menderita?” Saat itulah aku mulai membenci cita-cita menjadi pengusaha meski papa dan opa mendengung-dengungkannya setiap saat.

Diajak mengunjungi semua proyek-proyek yang dijalankan perusahaan kami di berbagai daerah tidak membuatku terpanggil jua menjadi pengusaha atau penerus mereka nantinya. Hatiku meronta.

Kadang aku berkhayal bagaimana kehidupanku jika aku tidak terlahir sebagai keturunan pengusaha kaya raya seperti ini. Apakah aku akan jauh lebih beruntung karena bisa sekolah teologi tanpa dipaksa menjadi pengusaha atau aku bisa menjadi seorang anak muda yang penuh gairah berbisnis sehingga tanpa dipaksa orang tua, aku dengan sendirinya menerjunkan diri dalam bisnis keluarga? Aku berusaha berhenti berfantasi seperti itu karena semakin membuat kenyataan ini terasa pahit.

“Tok tok tok!!!”ketuk seseorang di pintu. Khayalanku terpaksa berhenti. Aku menata posisi tubuh dan berpura-pura berkonsentrasi ke layar sabak elektronikku yang sebenarnya masih belum menyala. Di layarnya yang gelap itu, terpantul wajah seorang pemuda yang sudah terlihat tegang menjelang jam kerja baru yang akan dimulai beberapa menit lagi.

Seorang pria yang belum kukenal masuk. Kutolehkan wajah ke arah pintu, ia tersenyum dan menyapaku ramah,”Selamat pagi, pak Roy!” Ia kemudian diikuti oleh beberapa orang lagi yang juga ikut menyalamiku. Wajah-wajah mereka tidak asing tetapi aku tidak pernah secara spesifik mengetahui nama mereka. Mereka bawahan papa.

Tanpa aku sangka, mereka berbaris di depanku dan seorang pria yang tampak lebih senior berkata seolah mewakili kelompoknya,”Saya Jodi, pak Roy. Kami sudah diberitahu pak Benny soal Anda yang mulai kerja hari ini.” Ia ulurkan tangannya dan mengembangkan senyuman terbaik untuk anak bosnya.

Jodi menggenggam tanganku erat. Tangannya kasar, tubuhnya agak gempal dan tinggi, kacamatanya tebal berangka gelap dan solid. Suara bass Jodi kemudian menggema,”Selamat datang ke Plazia!!!”

(Bersambung)

%d bloggers like this: