Category Archives: health

Gila Gula: Pembiaran Peredaran Mamin Tinggi Gula dan Naiknya Angka Diabetes

six assorted color lollipops

Zaman sekarang tidak cuma permen yang berkandungan gula tinggi. Semua makanan dan minuman sekarang ditambahi gula. Gila!!! (Sumber foto: Pexels.com)

KONTROVERSI “susu kental manis” yang diharuskan ganti nama menjadi “kental manis” oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) beberapa waktu terakhir ini memang cukup membuat kegaduhan. Namun, kegaduhan ini sudah seharusnya terjadi walaupun kalau dipikir-pikir kegaduhan itu sudah seharusnya terjadi dahulu kala.

BPOM dituding sebagian masyarakat kurang responsif karena produk kental manis ini sebenarnya sudah beredar sejak lama. Kalau memang dipermasalahkan kenapa baru sekarang? Apakah BPOM ‘kecolongan’? Banyak praduga yang terus bermunculan.

Terlepas dari itu, di sisi konsumen sendiri, masih banyak yang tidak sadar dan tidak mau tahu tentang kandungan gula yang mereka konsumsi. Bukan suatu kutukan atau cobaan dari Yang Maha Kuasa bahwa bangsa ini menduduki peringkat ketujuh sedunia dalam ‘hal jumlah pasien diabetes (baca: Miris, Indonesia Peringkat 7 Pasien Diabetes Terbanyak di Dunia). Dengan kata lain, orang-orang Indonesia yang secara tidak sadar mengutuk diri mereka sendiri.

Kita bisa tanya diri kita, seberapa banyak gula yang sudah masuk ke dalam tubuh kita setiap harinya lalu dibandingkan dengan intensitas kegiatan fisik dan kebutuhan asupan gula kita setiap hari? Apakah defisit, pas, atau surplus?

Saya sendiri dulu pernah merasa miris mendengar seorang lansia yang dengan bangga mengatakan ia masih sehat berkat olahraga dan minum ‘susu’. Usut punya usut yang dimaksudkannya dengan ‘susu’ itu adalah susu kental manis cap … [isi dengan sesuatu yang bisa berkibar].  Saya tidak sampai hati menyampaikan bahwa susu itu kandungan gulanya tinggi padanya. Karena sulit meyakinkan orang awam sepertinya bahwa kental manis itu bukan susu. Kata “susu” di kemasan cukup ampuh mencuci otak konsumen bahwa mereka sudah sehat dengan mengonsumsi itu. Ditambah dengan harga kental manis yang lumayan murah daripada susu sapi, pantas saja ia menjadi pilihan utama masyarakat yang berekonomi lemah.

Siapa saja yang tidak membaca label kandungan nutrisi dalam kental manis tetapi masih bisa merasakan dengan lidah yang ‘jernih’, pastinya bisa merasakan bahwa manisnya produk itu lumayan tinggi. Yang kalau diminum setiap hari dalam jumlah yang berlebihan dan tidak diiringi aktivitas fisik yang sepadan sepertinya akan mendatangkan lebih banyak penyakit daripada kesehatan.

Masalahnya, masyarakat kita sudah kurang peka dengan gula karena mereka sudah telanjur dicekoki dengan gula yang banyak sejak kecil atau bahkan sejak lahir. Budaya menghidangkan minuman manis misalnya saat Lebaran sudah dianggap keharusan karena makin manis, artinya Anda makin dermawan pada para tetamu. Sirup pun diberikan dalam takaran yang tidak terkendali (bahkan selama puasa pun, pesta gula saban berbuka sudah dianggap lazim dengan berkedok pada dogma ‘berbukalah dengan yang manis’).

Budaya konsumsi segala macam yang manis terbukti membuat lidah orang Indonesia manja bahkan saat mereka berbuka mengonsumsi kurma yang bagi Nabi dahulu sudah manis. Saya pernah mendengar cerita dari orang tua saya, teman-teman mereka membuang kurma-kurma mahal yang mereka beli di Tanah Suci karena rasa kurma itu justru tidak manis. Cuma sepat atau agak pahit. Untuk menegaskan asumsi saya bahwa konsumen Indonesia memang sudah gila gula, Anda bisa menemukan banyak produk kurma impor yang kemudian di Indonesia dikemas lagi dan sudah ditambahi (dicelup atau disalut) dengan sirup glukosa (yang artinya sama saja dengan gula pasir) untuk membuatnya lebih manis. Karena saya duga, bagaimana bisa kurma-kurma itu terjual kalau rasanya sepat atau agak pahit? Orang Indonesia mana suka? Padahal dalam buah-buahan juga sebetulnya sudah ada kandungan gula alami yang lebih sehat (adanya serat membuat gula alami ini juga terserap lebih lambat sehingga aman bagi penderita diabetes sekalipun jika dikonsumsi secara wajar dan bijak). Jadi, Anda bisa bayangkan konyolnya kebanyakan masyarakat kita yang masih menambahkan gula pasir dalam jus buah-buahan yang sudah tinggi kandungan gula alami seperti mangga, pisang, jeruk.

Dan ini bukan cuma orang dewasa saja. Di bus Trans Jakarta, saya pernah mendengar tanpa bermaksud menguping percakapan seorang bapak yang sedang membawa anak laki-lakinya yang mungkin baru berusia 5-6 tahun. Mereka tampak asyik menikmati pemandangan di luar, sementara si bapak membawa sebotol minuman teh kemasan yang saya tahu kandungan gulanya gila-gilaan. Kenapa saya memvonis kandungan gulanya gila-gilaan? Karena saya pernah minum seteguk saja dan tenggorokan saya langsung protes. Serak! Di telepon genggamnya, tanpa rasa bersalah ia menjelaskan pada saudaranya di kampung bahwa dirinya sedang jalan-jalan dengan anaknya dan si anak ini memuaskan dahaganya di cuaca terik dengan meneguk dua botol minuman teh kemasan itu. Bayangkan! DUA! Saya satu teguk saja sudah tidak kuat. Saya berani taruhan orang tua yang belum sadar kesehatan semacam ini banyak di Indonesia. Jangankan mengawasi konsumsi gula anak-anak mereka, mengawasi konsumsi gula mereka sendiri saja belum bisa. Makanya janganlah heran menemukan diabetes makin banyak dijumpai di kelompok usia muda bahkan anak-anak yang dahulu jumlahnya lebih jarang.

MIRIS!

Sekali lagi untuk membuktikan bahwa makanan dan minuman kemasan yang beredar sekarang ini banyak yang kandungan gulanya tinggi, saya kemudian mencoba melakukan survei kecil-kecilan pada produk-produk makanan dan minuman kemasan mengenai kandungan gulanya. Kandungan gula dalam produk minuman biasanya dihitung per sachet sehingga lebih mudah ditakar. Begini hasilnya:

  • Ceremix Chocolate Sereal => 14 g
  • Good Day Carrebian Nut => 12 g
  • Energen Jahe => 17 g
  • Good Day Original => 13 g
  • ABC Kopi Susu => cuma mencantumkan bahwa produknya mengandung gula tanpa menyebut persis jumlah gramnya
  • Energen Kacang Hijau => 16 g
  • Good Day Mocacinno => 11 g
  • Kapal Api Kopi Susu => cuma mencantumkan bahwa produknya mengandung gula tanpa menyebut persis jumlah gramnya
  • Energen Cokelat => 17 g
  • Mintz Zig Zag (per sajian permen) => 2 g

Untuk kandungan gula dalam produk makanan seperti biskuit, hitung-hitungannya lebih rumit dari makanan. Kenapa? Karena entah kenapa alasannya, produsen menggunakan istilah “per sajian” (per serving) dan definisi sajian ini bervariasi, tergantung selera si produsen masing-masing. Ada yang mendefinisikan satu sajian itu tiga keping biskuit produknya, lalu yang lain berkata empat. Pokoknya tidak seragam. Jadi, kalau makan sebungkus biskuit, sangat mungkin konsumsi gula Anda sudah melebihi dari apa yang dicantumkan oleh si produsen. Misalnya, di kemasan ditulis kandungan gula 15 g. Nah, jangan beranggapan seluruh biskuit di kemasan itu kandungan gulanya cuma 15 gram. Telisik lagi informasinya. Lima belas gram itu per sajian yang dalam kurungnya apa? Nah, baru Anda kalikan dengan jumlah keping biskuitnya. Katakanlah di dalam kemasan ada 10 keping biskuit. Lalu produsen memproklamirkan kandungan gula produk per sajiannya cuma 10 g dan definisi sajian menurutnya adalah 2 keping. Maka, kandungan gula total sebungkus biskuit itu adalah 50 g. Angka itu sudah mencapai ambang batas konsumsi gula harian yang disarankan Kemkes (baca di sini)! Tetapi yang namanya orang Indonesia, mana bisa makan biskuit saja sehari? Pasti ada 3 porsi nasi putih (nasi juga gula sejatinya!), dan es teh manis. Nah, sudah jelas gula yang masuk ke tubuh Anda berlebihan. Itu sehari saja. Kalau sudah menjadi kebiasaan, efeknya tentu bisa dibayangkan.

Saya tidak menuduh mengonsumsi makanan dan minuman kemasan yang disebut di atas pasti akan memicu diabetes, tetapi kita hanya perlu lebih berpikir bijak dalam mengonsumsi semua itu. Jangan minum semua itu selayaknya minum air putih (saya pernah kenal orang yang hampir tak pernah minum air putih dan sehari-hari minum kopi kemasan saja) atau memakan biskuit seperti makan sayur segar. Namun, masyarakat kita banyak yang masih menggantungkan kesehatan pada pemerintah, artinya mereka cenderung berpikir,”Kan ini semua sudah dibolehkan beredar pemerintah, jadi pastinya sudah aman dan sehat dikonsumsi lah! Masak iya negara membiarkan rakyatnya sakit?” Ini yang mengkhawatirkan.

Sekali lagi, kita sebagai konsumen juga memiliki tugas untuk menjaga kesehatan diri sendiri. Tidak bisa manja, apalagi di negara yang pemerintahnya belum sepeduli itu dalam upaya pencegahan penyakit. Pemerintah baru mau keluar duit banyak kalau masyarakat sudah terkena penyakit. Buktinya, BPJS menjadi fokus upaya ‘peningkatan’ kesehatan masyarakat kita. Upaya pencegahan belum populer dan masyarakat juga belum banyak yang tertarik kecuali yang sudah telanjur terkena penyakit. Padahal angka prevalensi diabetes melitus di negeri ini menurut catatan Kemenkes naik dari tahun ke tahun. Parahnya lagi dari mereka yang sudah terkena, banyak yang tidak sadar punya diabetes melitus (baca di sini) sehingga mereka baru tahu memiliki diabetes begitu sudah mengalami komplikasi parah. Dan di Indonesia, jumlah penderita yang ada akan terus naik (baca di sini).

pexels-photo-207381.jpeg

Anak-anak muda makin banyak yang menderita prediabetes, yakni suatu kondisi pada seseorang yang belum sampai ke tahap diabetes tetapi kadar gula darah puasanya sudah lebih tinggi dari normal. (Sumber foto: Pexels.com)

“Kenapa kok diabetes mewabahnya baru sekarang? Dulu kakek nenek kita makan manis-manis saban hari juga tidak kena diabetes?” Mungkin begitu gumam Anda. Masalahnya aktivitas fisik manusia modern sudah jauh menurun dan asupan mereka malah makin banyak. Orang-orang makin jarang bergerak (ke warung tetangga saja naik sepeda motor) tetapi ketersediaan pangan sudah makin baik (mau makan apa saja tinggal pesan di aplikasi daring). Dengan kata lain, surplus terus! Numpuk terus! Tidak pernah dibakar. Modyarrr! (*/)

18 Hasil Studi tentang Diabetes yang Harus Anda Ketahui

person holding black tube

Diabetes sudah menjadi salah satu penyakit paling lazim di dunia. ( Sumber foto Pexels.com)

Diabetes atau kencing manis telah menjadi momok bagi jutaan orang di dunia saat ini. Di sekitar kita, entah itu keluarga atau tetangga atau teman kerja, pasti ada satu atau dua orang yang sudah divonis menderita kencing manis dan harus menjalani pengobatan selama sisa hidupnya. Kebanyakan karena gaya hidup yang sudah jauh melenceng dari cara hidup sehat.

Berikut ini adalah sejumlah hasil studi ilmiah mengenai diabetes yang mengungkap faktor-faktor yang bisa mempertinggi risiko kita terkena diabetes beserta cara pencegahan dan penanganannya agar tidak terus memburuk dengan cepat. Sebagaimana kita ketahui, begitu seseorang didiagnosis menderita diabetes, kondisi itu tidak bisa dipulihkan sepenuhnya. jadi, yang hanya bisa dilakukan ialah memperbaiki cara hidup agar lebih seimbang dan sehat.

Ortu merokok, anak perempuan berisiko lebih tinggi terkena diabetes

Satu lagi dosa yang harus ditanggung para orang tua yang merokok. Peneliti UC Davis menyimpulkan bahwa para wanita yang ibunya dulu merokok selama kehamilan memiliki risiko menderita kencing manis dua atau tiga kali lebih tinggi saat dewasa. Para ayah juga diduga berkontribusi serupa pada risiko diabetes anak-anak perempuan mereka.

Bekerja malam hari tingkatkan risiko diabetes

Anda bekerja dalam sistem giliran sehingga kadang mesti kerja di malam hari? Saatnya waspada, karena sebuah penelitian menyatakan para perempuan Afro-Amerika dengan sistem kerja bergiliran bahkan hingga harus bekerja di jam-jam tidur memiliki risiko 22 persen lebih tinggi terkena diabetes. Ditambah dengan faktor BMI dan gaya hidup yang kurang sehat, risikonya bertambah lagi 12 persen, menjadi 34 persen totalnya.

Diabetes gestasional bisa ‘menular’ ke suami

Mungkin kata ‘menular’ kurang tepat dalam konteks ini tetapi data penelitian McGill University menunjukkan jika seorang wanita menderita diabetes selama kehamilan, risiko sang suami mengalami diabetes juga naik, bahkan sampai 33 persen lebih tinggi dari para suami yang istrinya tidak menderita diabetes saat hamil.

Kekuatan genggaman tentukan risiko diabetes seseorang

Apa hubungannya kekuatan genggaman tangan Anda dan risiko diabetes yang Anda miliki? Sekilas tidak ada, tapi sebuah penelitian menunjukkan bahwa seberapa kuat genggaman tangan Anda mampu mengidentifikasi orang-orang dengan hipertensi dan diabetes yang tidak terdiagnosis. Hipertensi dan diabetes ‘senyap’ semacam ini ditemui pada mereka yang bertubuh kurus tapi memiliki kadar lemak tinggi dalam tubuhnya. Indeks massa tubuh mereka normal atau di bawah normal bahkan tapi porsi lemaknya lebih tinggi daripada massa otot (lemak pada pria 25 persen lebih, dan wanita 35 persen lebih sudah termasuk tinggi). Nah, di sinilah kekuatan genggaman berperan. Mereka yang bermassa otot kurang dari normal akan sulit menggenggam erat apapun dengan tangan mereka.

Pencegahan diabetes turut menjauhkan diri dari Alzheimer’s

Tak banyak yang tahu ada kaitan antara diabetes dan Alzheimer’s. Studi tim penelitian Washington University menyatakan kadar gula darah yang tinggi juga ikut menggenjot kadar amyloid beta, sebuah unsur plak di otak yang ditemui pada pasien Alzheimer’s.

Persepsi pengaruhi efektivitas upaya pencegahan diabetes

Perbedaan persepsi pada masing-masing orang mengenai diabetes ternyata turut mempengaruhi efektivitas upaya pencegahan diabetes. Fakta yang diperoleh dari studi ilmiah dari New York University ini menegaskan bahwa tidak ada satu pendekatan yang efektif untuk diterapkan pada semua orang. Misalnya mereka yang tidak memiliki anggota keluarga yang menderita diabetes lebih rendah kesadarannya terhadap risiko diabetes dan saat diberi edukasi diabetes, mereka cenderung lebih santai dan tidak begitu emosional karena merasa kecil kemungkinan terkena.

NYU

Menonton TV tingkatkan risiko diabetes

Saatnya menyingkirkan televisi dari rumah Anda. Temuan sebuah studi menyatakan bahwa untuk setiap jam menonton televisi, risiko seseorang terkena diabetes naik hingga 3,4 persen. Makin sedikit waktu menonton televisi per hari menurunkan risiko diabetes.

Risiko autisme pada anak meningkat jika ibu derita diabetes

Sebuah peringatan bagi para perempuan agar tidak mengabaikan kesehatannya sejak dini. Anak-anak yang terlahir dari ibu yang menderita diabetes memiliki risiko 4 kali lipat lebih didiagnosis autisme. Demikian ungkap tim peneliti dari Johns Hopkins University.

Istri cerewet baik bagi kesehatan suami dengan diabetes

Apa pasal? Ternyata menurut hasil sebuah penelitian oleh Michigan State University, saat hubungan pernikahan menjadi tegang karena sang istri lebih cerewet perkara kesehatan, suami penderita diabetes justru menuai manfaatnya. Ini karena istri biasanya secara terus menerus mengatur perilaku kesehatan suami, apalagi jika sang suami sudah divonis terkena diabetes. Sehingga meskipun pada permukaannya istri tampak menjengkelkan suami dan kerap membuatnya berang, sebetulnya hal ini baik bagi pencegahan kondisi suami dari situasi yang lebih buruk lagi. Kecerewetan itu adalah bentuk kepedulian dari para istri yang masih mencintai dan mengharapkan bisa berdampingan dengan para suami yang mereka cintai.

Kadar testoteron tentukan risiko diabetes pada pria

Sejak lama dokter mengetahui bahwa pria dengan kadar testosteron rendah berpeluang lebih tinggi menderita diabetes tipe 2. Namun, sebuah studi terbaru pertama kalinya menunjukkan bagaimana hormon membantu pria mengatur kadar gula darah dengan memicu mekanisme penanda utama dalam sel-sel dalam pankreas yang memproduksi insulin. Mereka sepakat bahwa testosteron berperan sebagai hormon anti diabetes pada pria. Untuk menerapkan temuan ini pada pengobatan diabates, masih diperlukan studi lanjutan agar tidak ada efek samping pada pasien pria.

Optimisme perpanjang harapan hidup penderita diabetes

Kalimat “mind over matter” bisa jadi berlaku juga dalam menyikapi diabetes jika Anda sudah terkena. Sikap optimis dan pantang menyerah serta keyakinan bahwa diabetes tidak bisa menghentikan Anda menikmati kehidupan semaksimal mungkin ternyata berguna memperpanjang harapan hidup. Peneliti membandingkan usia antara mereka yang terkena diabetes tetapi optimis bahwa luka di kaki mereka akan sembuh dan usia mereka yang juga menderita diabetes tetapi memilih bersikap cemas, kewalahan dan putus asa karena yakin luka itu akan membuat mereka meninggal lebih cepat. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok pertama lebih panjang usianya daripada yang kedua.

Depresi meningkatkan risiko diabetes

Digabungkan dengan berbagai faktor pencetus diabetes lainnya, depresi akan mempertinggi risiko seseorang terkena diabetes tipe 2. Demikian hasil studi ilmiah dari McGill University tahun ini. Kehadiran depresi dalam pikiran seseorang ternyata ikut membebani tubuh dan terus menyeretnya ke diabetes. Tidak tanggung-tanggung, depresi menaikkan risiko itu sampai enam kali lipat!

 

Lemak bisa mengobati diabetes

Sel-sel lemak ternyata bisa mengobati mereka yang terkena diabetes. Ilmuwan dari ETH Zurich membuktikan bahwa sel-sel pokok yang diekstrak dari jaringan lemak subjek penelitian bisa dipakai sebagai obat diabetes melalui pemrograman ulang genetis untuk membuat sel-sel itu lebih dewasa menjadi sel-sel beta yang berfungsi normal. Jika nantinya sukses, diramalkan para penderita diabetes bisa mengobati dirinya sendiri dengan prosedur medis tertentu yang menggunakan sel-sel lemak mereka sendiri.

Kecemasan berlebihan berkaitan dengan diabetes

Saya pernah mendengar bahwa diabetes juga bisa disebut sebagai sakit karena pikiran. Artinya, seseorang menderita diabetes karena terlalu banyak memikir hal-hal yang belum terjadi dan tidak pasti. Sebuah penelitian oleh peneliti di Rice University menegaskan hipotesis tersebut. Mereka menemukan kaitan antara stres emosional dan diabetes, yang berakar dari kemampuan otak mengendalikan kecemasan. Hal ini terjadi karena saat stres, tubuh cenderung mudah mengalami inflamasi atau peradangan. Mereka yang mengalami kesulitan mengendalikan diri cenderung lebih mudah tergoda dan tertarik pada hal negatif yang membahayakan kesehatan secara umum. Jika ini terjadi, ornag disarankan untuk mempraktikkan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari sehingga lebih terkendali dalam setiap langkahnya.

Ketidakseimbangan populasi bakteri tertentu di perut picu diabetes

Kita tahu banyak faktor pemicu diabetes seperti kegemukan, makan sembarangan, resistensi insulin karena faktor keturunan, tapi belum pernah kita diberitahu bahwa penyakit ini ada kaitannya dengan ketidakseimbangan jumlah bakteri tertentu dalam saluran cerna seseorang. Sebuah studi terbaru di University of Copenhagen menghasilkan temuan bahwa ketimpangan mikrobiota di usus ialah salah satu pencetus utama terjadinya resistensi insulin yang dianggap menjadi biang keladi diabetes tipe 2. Dua bakteri yang menjadi biang keladinya ialah Prevotella copri dan Bacteroides vulagtus. Jadi ternyata diabetes tidak melulu warisan atau gaya hidup yang kurang sehat lho!

Penderita diabetes menjadi panutan dalam keluarga

Temuan studi ilmuwan Penn State University ini menunjukkan bahwa mereka yang hidup dengan diabetes justru bisa menginspirasi anggota keluarganya yang lain untuk memperbaiki cara hidup agar lebih sehat dan seimbang. Bahkan pada kasus para penderita yang sudah cukup parah, anggota-anggota keluarga merasakan perjuangan antara hidup dan mati setiap harinya. Mereka mengatakan bangga dengan ketabahan dan semangat dalam menghadapi penyakit ini.

Diabetes bisa dicegah dengan SMS

Di India, pencegahan diabetes di kelompok usia 30-an dan 40-an dilakukan dengan pengiriman SMS berisi saran kesehatan seperti pengingat berolahraga, menjaga asupan dengan mengurangi lemak dan lebih banyak makan buah dan sayur segar. Selain program pengiriman SMS, muncul juga aplikasi mobile myArogya yang dikembangkan untuk membantu warga India mencegah diri dan orang yang disayanginya terjangkit diabetes dan penyakit kronis lainnya.

Obat diabetes turut berantas kanker payudara

Ilmuwan telah menemukan bahwa pioglitazone, obat yang biasa dikonsumsi pasien diabetes tipe 2,  memberikan alternatif menekan kadar protein NAF-1 yang dalam jumlah banyak bisa menyuburkan pertumbuhan sel-sel tumor. Peneliti menyatakan bahwa ada kemungkinan obat diabetes ini bisa dipakai sebagai senjata melawan tumor, kanker payudara dan sejenisnya. Kadar NAF-1 yang terlampau tinggi dikaitkan dengan berbagai kanker, dari prostat sampai liver.

Puasa Miliki Manfaat Anti Diabetes

feast_or_famine_in_warren2c_ri

Puasa terbukti memiliki khasiat kesehatan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Berkat sains, kita tahu beragam manfaatnya. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

PUASA terus mendapatkan pengakuan dunia mengenai manfaat kesehatannya secara ilmiah. Sebuah eksperimen klinis terbaru menunjukkan bahwa pola makan yang mirip puasa memiliki manfaat kesehatan yang mirip dengan puasa setiap hari.

Sebuah eksperimen ilmiah membuktikan pola asupan yang biasa disebut sebagai ‘intermittent fasting’ memiliki khasiat memperpanjang usia dan meminimalkan risiko menderita penyakit degenaratif. Dalam pola ini, Anda tidak akan disuruh berpantang makan dan minum sama sekali sebagaimana puasa Ramadan. Anda cukup melewatkan makan pagi, makan siang atau makan malam serta masih dibolehkan minum asal yang tidak mengandung banyak kalori (minum teh, air putih masih boleh) sehingga secara teknis, pencernaan istirahat selama 16 jam sehari.  Namun, menurut riset ini Anda tak disarankan minum suplemen antioksidan karena malah membuat manfaat puasa tak maksimal.

Bagi Anda yang memiliki kondisi prediabetes (kadar gula darah puasa sudah lebih tinggi dari 120 padahal belum terdiagnosis diabetes dan biasanya masih merasa sehat dan usia masih muda), rajinlah berpuasa karena ternyata puasa menurunkan risiko diabetes juga. Puasa menekan tingkat hormon insulin. Menurut peneliti, tubuh mengeluarkan protein tertentu karena tekanan oksidatif sehingga muncul radikal bebas dalam jumlah sedikit dalam sistem tubuh ini. Karena ada radikal bebas, tubuh mengalami stres (makanya saat puasa tidak dianjurkan minum suplemen antioksidan). Kadar radikal bebas yang jumlahnya sedikit dan terkendali ini justru berdampak baik bagi perlindungan tubuh.

Dugaan ilmuwan ialah dengan memberikan stres oksidatif dalam tingkat rendah pada tubuh secara rutin, tubuh bisa membangun respon yang lebih baik terhadapnya. Peneliti menemukan bahwa puasa menurunkan kadar insulin sehingga tidak berlebihan jika puasa memiliki khasiat anti diabetes.

Lebih rinci, pola makan seperti apa yang dimaksud oleh para ilmuwan di sini? Mereka menguji subjek penelitian dengan memberikan asupan 650 kalori untuk hari khusus puasa sementara untuk hari berikutnya mereka diberikan kesempatan melahap sampai 4550 kalori. Dengan kata lain, mereka cuma makan 25 persen dari anjuran asupan kalori harian dan kemudian melampiaskan rasa lapar itu di hari berikutnya dengan makan sampai 175 persen dari jumlah kalori yang direkomendasikan. Makanan yang dimasukkan juga tidak sepenuhnya sehat dan segar. Mereka bisa makan biskuit, daging merah berminyak, dan sebagainya sampai sekenyang mungkin. Tetap efek menyehatkan puasa itu terasa. Namun, sayangnya bagi mereka yang mengonsumsi suplemen antioksidan semacam vitamin C dan E saat puasa, efek menyehatkan puasa tersebut malah lebih rendah alias kurang optimal.

Yang menarik adalah sebagian subjek penelitian ini mengaku lebih susah menjalani fase berpesta pora (makan sampai kenyang) daripada saat harus berpuasa. Aneh? Bagi saya sendiri, hal itu masuk akal karena makan itu termasuk jenis kegiatan yang menghabiskan energi dan waktu juga lho! Belum lagi saat tubuh harus mencerna makanan yang banyak dan berat, pastinya diperlukan energi lebih banyak lagi. Berpuasa membuat kita jadi lebih ringan dan gesit beraktivitas karena tubuh sudah tidak ada kewajiban mencerna dan mengolah makanan. Tetapi di saat yang sama, tubuh juga sudah tercukupi asupannya dari makanan dan minuman saat sahur atau makan terakhir sebelum berpuasa. Makanya, justru bagi sebagian orang berpuasa itu lebih mudah. (*/sumber: University of Florida)

Diet Rendah Kalori: Satu Cara Ilmiah Obati Diabetes

Membatasi kalori yang masuk ke tubuh kita ternyata membuat tubuh tidak hanya ramping tetapi juga jauh lebih sehat dan jauh dari diabetes.

Tidak percaya? Coba simak hasil penelitian berikut ini.

Dinyatakan oleh tim riset yang didanai oleh The US Public Health Service bahwa mekanisme pembatasan asupan kalori secara cepat membalikkan kondisi seseorang yang didera diabetes tipe dua menjadi lebih sehat dan produktif serta bisa bertahan hidup lebih lama. Bila ini bisa dibuktikan dengan lebih jauh, bukanlah sebuah kejutan jika kita akan segera menemukan obat baru untuk mengobati penyakit ini.

Diet yang rendah kalori ini mencakup pembatasan berikut ini:

  • pengurangan konversi laktat dan asam amino menjadi glukosa;
  • pengurangan tingkat konversi glikogen di liver menjadi glukosa; dan
  • pengurangan lemak dalam makanan yang akan meningkatkan respon liver pada insulin.

Di AS, satu dari tiga orang warganya berisiko terkena diabetes tipe 2 hingga tahun 2050 menurut prediksi terkini yang dirilis The Center for Disease Control and Prevention. 

Kabar baiknya ada harapan untuk kembali sehat bagi para pasien yang menjalani operasi pengurangan berat badan bariatrik yang membuat membuat mereka membatasi asupan kalori sehingga memungkinkan penurunan berat badan secara lebih aman.

Tim peneliti Yale University meneliti lebih jauh dampak diet rendah kalori ini. Mereka meneliti subjek (tikus percobaan) yang hanya diberi makan seperempat asupan normal mereka. Ilmuwan melacak dan menghitung sejumlah proses metabolik yang berkontribusi pada produksi glukosa yang naik dalam liver.

Metode ini dikenal sebagai PINTA dan memungkinkan peneliti melakukan serangkaian analisis mendalam terhadap aliran metabolik penting dalam liver yang mungkin turut memicu resistensi insulin dan meningkatkan jumlah produksi glukosa dalam liver. Keduanya adalah proses utama yang memicu kenaikan gula darah pada pasien diabetes.

Dengan metode diet rendah kalori ini, ditemukan tiga mekanisme utama yang bertanggung jawab atas efek dramatis diet rendah kalori yang menurunkan dengan cepat gula darah dalam tubuh hewan percobaan yang menderita diabetes.

Di liver, diet rendah kalori membantu menurunkan produksi glukosa juga. Semua dampak positif ini bisa langsung dialami hanya dalam tiga hari menjalani diet.

“Memakai pendekatan ini untuk meneliti metabolisme lemak dan karbohidrat dalam liver membantu kita tahu bahwa ada gabungan tiag mekanisme yang bertanggung jawab atas penyembuhan kondisi hiperglikemia setelah menjalankan diet rendah kalori,” kata peneliti senior Gerald I. Shulman, pengajar ilmu kedokteran dan fisiologi sel dan molekuler di Yale dan peneliti di Howard Hughes Medical Institute.

Jadi, apakah Anda mau mencoba menjalankan diet rendah kalori ini untuk menurunkan kadar gula darah Anda selama tiga hari? Coba dulu ya.

Pria-pria ‘Kering’ dan Bigorexia

22a_new_sandow_pose_28vii29222c_eugen_sandow_wellcome_l0035269

Bigorexia mirip anorexia tetapi dengan obsesi untuk membesarkan tubuh. [Sumber foto: Wikimedia Commons]

“UNTUNG kerjaannya bukan mijit,” ujarnya sambil memijat pinggang saya. Sebagai seorang pria, tangannya tergolong lembut tapi tetap kuat.

Ia tak punya resep khusus. Hanya mengurangi olahraga angkat beban dengan barbel. Karena jika ia masih sering angkat beban seperti itu, ia akan dikomplain penerima jasa pijatnya.

“Pernah pakai sarung tangan. Busa juga pernah. Tapi tetap saja kasar jadinya dan kapalan,” tukasnya pada saya begitu saya melontarkan keluhan yang sama pada kedua telapak tangan saya.

Sekarang tukang pijat saya ini hanya menyempatkan diri berolahraga angkat beban yang sesungguhnya ia gemari cuma seminggu sekali. Apalagi alasannya mengurangi selain agar kelembutan tangannya tak rusak.

Kalau tidak olahraga, ia bisa kerepotan mengendalikan kolesterolnya. Bisa 259! Harusnya 100. “Makan bakso saja sudah pusing,” keluhnya. Padahal usia baru 39 tahun. Kupikir ada yang salah dengan pola makannya. Tapi masih untung ia bisa mengimbangi dengan olahraga dan mau rutin melakukannya. Ada yang sudah tahu punya keluhan kolesterol tinggi tapi tidak berbuat apapun dan hanya mengharapkan keajaiban dari Tuhan agar dirinya sehat. Seolah jika ia tidak berbuat apapun, masalah kesehatan itu bisa sirna dengan sendirinya. Meski ia tahu di dalam benaknya sendiri itu mustahil bisa terjadi.

Saya menyuruhnya agar tidak lupa memijat lengan saya yang pegal setelah melakukan dips sore tadi. “Nanti jadi gede nih,” komentarnya.

Saya menampik dengan tertawa kecil,”Ah, susah kalau saya. Memang habis latihan kayak gede dikit tapi habis itu kempes lagi kok.”

Ia mencoba menghibur saya dengan berkata bahwa itu bisa terjadi. “Kalau badan ini kan tipe kering jadi lama jadinya. Tapi nanti gedenya gede otot bukan karena lemak, pak.”

“Iya ya,” saya meratapi.

Tukang pijat saya ini menimpali,”Seperti saya nih. Mau fitness kayak apa juga nggak bakal gede. Segini gini aja.”
Dulu ia juga memiliki ambisi yang sama: membesarkan badan agar tampak gagah, kekar dan macho. Ia pun ke gym dan teratur angkat beban di sana. Dari selintas melihat perawakannya, meski tak besar saya juga tahu ia memiliki ketegapan yang tidak bakal bisa dimiliki jika seseorang tidak berolahraga secara teratur.

Untuk itu ia menganggarkan dana untuk membeli tiga kaleng susu penggenjot berat badan. Habis mengkonsumsi, tak ada perubahan sama sekali. Ia beli di toko offline Rp700.000-an tapi di toko online Rp500.000-an.

“Kalau badan tipe ‘basah’ gitu cepet gede badannya,” ucapnya lagi, menyanjung rekan-rekannya yang sudah memiliki bodi binaragawan.

Untuk menghibur dirinya dan saya sendiri yang ‘kering’, saya katakan:”Tapi mereka kalau sudah tidak olahraga dan makan sembarangan juga langsung naik berat badan dan gendut juga.”

Begitu bersemangatnya membesarkan fisik, ia sampai pernah menghabiskan putih telur dua kilo saban hari. “Saya buat cemilan itu putih telur. Dua kilo sehari. Tetep aja badan segini…” Ia dengan sengaja membeli putih telur yang ia rebus dan makan setiap hari. Ia makan dengan nasi juga. Sampai bosan dan muak. “Sudah dihajar susu dan putih telur, tetep aja segini.” Ia menyebut angka timbangan berat badannya antara 48 (sebelum fitness) dan 52 (setelah fitness).

Kalau disuruh pull up, ia mengaku bisa 3 set, masing-masing set 12 kali. Lumayanlah. Mengingat usianya mendekati kepala empat.

“Sekarang saya tujuannya sehat saja,” katanya sambil memijat kepala saya, menandakan sesi pijat ini segera usai.
Saat saya berkata kalau sudah tak olahraga beberapa hari saja rasanya sudah tidak enak, ia mengiyakan. “Otot yang sudah terbiasa olahraga itu nagih begitu nggak dibuat olahraga. Meski itu artinya ‘nagih’ dalam koridor yang positif juga. “Daripada nagih yang nggak nggak kayak narkoba.”

Mulanya ia rajin ke gym dan di sana saban pagi ia olahraga sampai energinya terkuras. “Jadi begitu habis nge-gym, malah capek, nggak sanggup buat kerja. Mending olahraga pagi-pagi di rumah pakai barbel sendiri dan bar di pintu buat pull up.” Berolahraga di gym memang asyik dan bersemangat tetapi kadang lupa daratan karena ada banyak orang lain sehingga muncul atmosfer kompetisi.
Sebagai sesama pria ‘kering’, saya merasakan apa yang ia rasakan. Kejengkelan kami melihat teman-teman kami yang berbadan lebih besar dengan porsi latihan yang sama atau bahkan lebih sedikit dari kami. Sementara itu, kami yang berjuang lebih banyak tidak kunjung ada hasil nyata. Pahit. Sepahit empedu.

Kami ini bosan dengan perawakan kurus dan tipis. Kami ingin bisa lebih ‘mengembang’. Dan seperti dirinya yang kini berolahraga bukan lagi untuk memfokuskan diri pada segi estetik tapi lebih pada kesehatan, kami beruntung tidak terjerumus pada BIGOREXIA, sebuah obsesi yang menggejala di kalangan pria muda akibat merebaknya video tutorial body building, calisthenics, dan sejenisnya di YouTube atau foto atlet yang pamer bisep, perut dan dada yang ototnya terdefinisi ideal di Instagram.

Bigorexia ini mirip anorexia. Ia sebuah kelainan psikologis yang ingin badannya lebih besar daripada yang terlihat sekarang di cermin. Dan bayangan di cermin itu seolah tak pernah cukup besar untuk memenuhi ekspektasinya. Obsesi itu pun melampaui akal sehat. Dari makan makanan sehat yang berkandungan protein tinggi setiap saat, sampai ke gym setiap hari dua sesi. Tanpa sakit, rasanya tak ada kemajuan. Harus sampai capek dan menembus batas kesanggupan fisik. Lalu agar bisa menjadi lebih besar, segala cara ditempuh. Dari minum susu whey, sampai makan dada ayam rebus tanpa bumbu. Begitu terus sampai jadi rutinitas.

Adakah yang salah dengan olahraganya? Tentu tidak. Sepanjang tidak melewati batas kemampuan dan kewajaran, olahraga sangat bagus. Tapi jika obsesi sudah masuk dan membuat olahraga itu menjadi penuh target dan ambisi tanpa kita bisa menikmatinya, lalu buat apa? (*/)

Begini Rasanya Bersepeda di Jakarta

Jepretan Layar 2018-05-12 pada 07.53.22

Kendaraan mewah bernama sepeda. [Dok pribadi]

DALAM suasana macet seperti di atas, kadang saya ingin sekali melenggang di sela-sela kendaraan bermotor roda empat dan roda dua seraya mengacungkan jari tengah pada sekeliling saya dan berteriak lepas:”F*@#$%^&*()(%$#  YOU, JAKARTAAAA!!!”

Tapi tentu saja tidak akan ada yang mendengar dengan jelas teriakan frustrasi saya sebab mulut saya dibekap masker karbon aktif agar tetap bisa bernapas lega di antara kepulan asap kendaraan bermotor yang membuat paru-paru bisa rontok seketika.

Kalau ditanya bagaimana rasanya bersepeda di Jakarta, saya akan menjawab rasanya campur aduk. Enaknya bersepeda di Jakarta adalah semua jalannya sudah beraspal jadi tidak bakal becek dan berlumpur parah.

Cuma itu enaknya.

Sisanya derita.

Misalnya soal ketersediaan “biker lane” alias jalur pesepeda. Itu cuma sebuah utopia di sini. Di jalur-jalur protokol memang ada jalur semacam itu. Indah terlihat, seolah mengatakan,”Pemerintah sudah memberi apa yang pesepeda butuhkan lho! Jangan bilang tidak peduli sama sekali.”

Baiklah itu benar tapi apakah itu cukup? Sementara di jalur pesepeda yang biasanya di badan jalan paling kiri dipenuhi dengan galian-galian PLN atau PAM Jaya. Ini tidak cuma sekali dua kali. Tapi RUTIN! Saya juga tidak habis pikir kenapa tidak dipikirkan sebuah sistem yang lebih enak dan awet dan efisien daripada gali dan tutup lubang semacam itu. Sekali lagi itu tetap misteri.

Dan karena galian yang tampaknya akan selalu diadakan secara berkala demi tujuan pemeliharaan atau peningkatan itu [seperti sekarang saat pembangunan dan peningkatan kapasitas listrik untuk Asian Games 2018 digalakkan],  permukaan jalur pesepeda juga akhirnya jadi tidak rata dan cenderung membahayakan pesepeda karena jika dilintasi dengan kecepatan tinggi bisa membuat oleng dan kalau sedang sial, bisa disambar kendaraan bermotor lain yang kebetulan melintas dengan kecepatan tinggi. Dengan kata lain, setelah digali, biasanya akan dtimbun dan diaspal lagi dan pengaspalan kembali ini biasanya kurang sempurna. Dan untuk kendaraan roda dua apalagi sepeda yang lebih ringan bobotnya dari sepeda motor, tentu permukaan yang bergelombang ini sangat terasa. Jangan dibandingkan dengan mobil yang sudah ber-shock breaker bagus!

Infrastruktur lain pendukung sepeda yang sangat kurang di Jakarta ini ialah lahan parkir yang ramah pesepeda. Okelah di beberapa gedung perkantoran dan mall di sini sudah memberikan ruang parkir yang aman dan nyaman tapi kesungguhan pengelola untuk menyambut pesepeda di areanya masih saya ragukan? Kenapa? Karena ambil contoh di Pacific Place, di sana ruang parkir sepeda agak susah ditemukan karena tersembunyi di pojok. Yang absurd adalah saat saya bertanya seorang pria yang sedang duduk terpekur memegang ponsel (yang saya duga petugas penjaga), saat saya tanya apakah saya harus ambil nomor untuk menitipkan sepeda saya, ia menganga seolah tidak pahammaksud pertanyaan saya. Rupanya ia bukan petugas jaga dan hanya kebetulan istirahat di antara shift kerjanya di mall itu. Ini saya tanyakan karena di sepeda-sepeda lain di area parkir itu, ada nomor-nomornya.

Pengalaman saya menitipkan sepeda di mall lain, Lotte Shopping Avenue, lain lagi. Tempatnya memang aman sekali dan ada petugas khusus yang disuruh manajemen untuk mengurusi sehingga tidak ada keraguan sedikitpun akan ada pencuri sepeda. Penitipan ini juga dikelilingi jeruji besi, sehingga seolah kami masuk ke sebuah penjara mini. Kami bisa meminta nomor ke petugas dan mengunci ke jeruji lalu ke mall. Masalahnya ialah tempat penitipan sepeda ini di basement yang agak susah ditemukan. Lain dengan parkiran di Pacific Place.

Tempat publik lain yang pernah saya sambangi dengan sepeda ialah FX Sudirman. Di sana parkirannya tidak mesti masuk ke basement sehingga lebih praktis dan hemat waktu. Letaknya di samping mall dan teduh sehingga lumayan nyaman. Sayangnya tidak ada petugas khusus dan areanya terbuka sehingga jika ada maling, kita harus ikhlas. Parkiran ini juga dekat dengan lalu lalang mobil yang keluar masuk mall sehingga agak miris,”Jangan-jangan nanti bisa diseruduk mobil sepeda kesayangan gue…”

Lemahnya infrastruktur ini ditambah dengan ketidakpedulian orang-orang di sekeliling dengan pesepeda. Saya tanya petugas parkir motor dengan harapan mereka tahu parkiran sepeda tapi kadang mereka sendiri tidak tahu apapun. Sungguh mengenaskan! Pada jajaran manajemen geudng yang sudah memiliki area parkir sepeda, tolong dong Anda edukasi mereka yang Anda bawahi itu untuk tahu lokasi parkir sepeda di tempat mereka bekerja! Saya paling jengkel kalau sampai di satu tempat umum, dan saya sudah membaca pengalaman biker lain di weblog bahwa di situ ada parkir sepeda tapi saat saya memastikan ke staf di sana, tidak ada yang tahu persis lokasinya. Jadi ini yang salah siapa? Tapi baiklah daripada mencari kambing hitam, kita cari solusinya saja. Saya berusaha mencari dengan cara saya sendiri dan mereka sebagai pekerja di sana juga paham seluk beluk tempat kerjanya.

Bersepeda di sini juga jangan sampai melupakan masker karbon agar napas tidak sesak dipenuhi emisi kendaraan bermotor yang populasinya melebihi kapasitas jalan.

Saya sering bertanya,”Sampai kapan orang Jakarta akan bertahan hidup dalam pola seperti ini? Hidup di dalam kompartemen mobil selama berjam-jam dalam sehari, menginjak rem dan gas bergantian, menahan berak dan kencing sampai wasir dan infeksi saluran kemih dan dehidrasi ringan sampai berat. Batas sabar dan gila memang tipis…”

Tapi saya pikir ini semua akan terpecahkan jika orang Jakarta dan sekitarnya sudah beralih ke moda transportasi umum sehingga mereka mau meninggalkan kendaraan pribadi.

Nah, masalahnya pemerintah masih ‘memble tapi tidak kece’ dalam mengelola sistem transportasi umum sampai sekarang. Betul sekarang akan ada LRT, MRT dan segala perbaikan di sistem bus Trans Jakarta. Tapi dibandingkan negara-negara lain yang merdekanya sama dengan kita (pertengahan abad lalu), kita itu tertinggal jauh. Dengan kata lain, Jakarta itu masih PURBA. Karena kota-kota di masa depan atau kota-kota di negara maju saat ini tak lagi sesak dengan mobil. Mobil itu justru lebih banyak dipakai penduduk di perdesaan karena di sana kendaraan umum lebih jarang. Jadi kalau di kota besar seperti Jakarta masih disesaki motor dan mobil, itu sebenarnya mencerminkan kenyataan bahwa memang Jakarta belum menjadi kota metropolitan. Ia adalah kota hasil penggabungan yang kacau antara kemajuan kota dan budaya desa. Kemajuan kota adalah mall dan gedung pencakar langit serta toilet-toiletnya yang bersihnya melebihi kamar tidur warga jelata. Budaya desa ialah rumah tapak dan warung  tegal di sekitar perkantoran dan kebiasaan membuang sampah sembarangan karena mereka pikir plastik pembungkus makanan dan minuman bisa membusuk sendiri laksana daun pisang dan jati.

Tapi sekali lagi, saya tidak mau menyerah dengan semua tantangan itu. Mari bersepeda terus. Sebab kita harus menjadi perubahan yang kita inginkan, sabda Mahatma Gandhi. (*/)

 

Semboyan 35

photo_2018-04-28_20-01-32.jpg

SEIRING berjalannya kala, saya menemukan fakta bahwa tiap manusia memiliki kecepatan menua yang berbeda-beda. Ada yang menua dengan kecepatan luar biasa. Terlalu dini. Mereka ini adalah orang-orang yang sudah memiliki jiwa tua sejak dari kecil. Seperti seorang teman SD saya yang sudah sejak dulu sering melerai dan mengalah. “Sudah sudah, tidak ada untungnya berkelahi. Ayo maaf-maafan,” katanya pada kami kalau ribut sedikit di kelas. Meskipun memang itu ideal sebagaimana dinyatakan dalam pelajaran PMP dan penataran P4 [kepanjangan singkatan-singkatan ini hanya bisa dipahami generasi saya dan yang lebih tua], saya harus katakan aneh bagi anak SD untuk bisa sedewasa itu. Mengerikan dan tidak natural. Saya sudah tidak lagi bertemu dengannya tetapi saya berani bertaruh ia akan jauh lebih dewasa daripada yang sudah.

Ada juga manusia yang memiliki kecepatan menua lumayan wajar dan sepatutnya. Untuk menentukan ‘wajar’ dan ‘sepatutnya’, masyarakatlah yang menentukan. Mereka ini menjalani kehidupan dengan linimasa yang sudah ditentukan para tetua. Masuk sekolah usia ini, lulus kuliah usia itu, menikah umur X, punya anak umur Y, pensiun umur Z. Dan mungkin mati umur….? Tampilan dan rupa mereka pun mengikuti selayaknya peran-peran baru dalam tiap fase kehidupan itu.

Lalu ada juga yang menua lebih lambat dan dengan demikian dianggap sebuah karunia [untung saja kita hidup di sebuah masyarakat yang sangat terobsesi dengan penampilan muda selama-lamanya]. Karunia yang tak diupayakan secara sengaja apalagi sampai menghalalkan segala cara.

Malam itu saya mendapati tetamu yang lagi-lagi ingin tahu soal rahasia awet muda saya. Bermula dari pertanyaan soal pekerjaan, saya berkata soal apa yang saya lakukan akhir-akhir ini. Menulis; bertemu para petinggi bisnis asing; menerbitkan buku. Seperti itu.

Tiba-tiba Morpheus yang duduk di depan saya mulai mengendus sesuatu yang mencurigakan. Benar saja, ia langsung mengklairifikasinya:”Berapa usiamu?”

Saya tahu jika saya standup comedian, inilah saatnya saya bisa mulai mempersiapkan sebuah suspense yang nantinya bisa saya akhiri dengan punchline yang jitu. BOOM!

Karena ia ingin tahu dan benar-benar tidak terbendung lagi, saya katakan bahwa ia punya 3 kesempatan untuk menebak usia saya yang sebenarnya. Dan Morpheus serta Harly di sampingnya sangat antusias memenangkan sayembara ini, seolah-olah ada hadiah besar nan menggiurkan menanti mereka.

Mereka dengan cepat menebak beberapa kali tapi menyerah kalah.

Saya berikan jawabannya pada Bram, interpreter mereka selama di Indonesia, yang ada tepat di sebelah saya. Lalu ia juga tersentak mendengar jawaban saya.

Saya tahu mereka selama beberapa hari terakhir ini mengira saya seorang anak muda usia 20-an. Taksiran mereka pun dinaikkan begitu saya menjelaskan pekerjaan saya serta gaya dan isi omongan saya yang terlalu dewasa untuk level usia itu.

Ya, saya memang sudah meninggalkan usia 20-an lebih dari hampir 5 tahun lalu, kata saya pada Morpheus.

“What??!! You’re ….!!??” tanyanya masih tidak percaya.

“What do you eat???!!”  teriaknya sambil masih memandangi wajah saya penuh rasa tidak percaya.

Tidak cuma Harly dan Morpheus yang terkejut. Tapi juga teman-teman serombongannya yang lain yang mengira bahwa saya masih berusia 20-an padahal saya sudah pertengahan 30-an tahun ini.

Saya katakan saya sudah sangat terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Tidak kaget lagi, tersinggung atau merasa melambung karena dipuji awet muda.

Orang-orang tergila-gila untuk tampil awet muda. Meskipun itu bagus dan tidak ada salahnya, memiliki penampilan fisik yang tidak sesuai umur membuat saya kesulitan dalam beberapa hal.

Misalnya dalam menampilkan diri saya di depan publik atau orang lain. Karena saya tidak memiliki wajah dan penampilan yang sepantasnya untuk umur saya, saya harus berjuang lebih keras untuk membuktikan pada mereka bahwa saya punya pengalaman dan keahlian yang memang sudah sepatutnya dimiliki oleh orang-orang seusia saya. Dan ini tidak bisa dilakukan hanya dengan menyodorkan portfolio. Seperti dalam kehidupan nyata, dalam situasi percakapan Morpheus dan Harly baru saja, saya harus menjelaskan bahwa saya bekerja sebagai penulis dan saya memiliki juga pengalaman sebagai wartawan dan mengajar yoga.

Ada rasa lelah untuk menjelaskan setiap bertemu dengan orang baru bahwa saya bukanlah anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa.

Dari video di atas, saya bisa merasakan langsung rasanya saat dianggap terlalu muda di tempat kerja. Saat itu saya masih mengajar, dan karena tampilan saya yang lebih cocok sebagai mahasiswa daripada dosen, saat saya bertemu mahasiswa dan dosen baru pertama kalinya saya lebih sering dikira sebagai mahasiswa. Petugas administrasi mengira saya anak baru yang tentunya tidak pantas diperlakukan secara hormat. Dianggap sambil lalu dan tanpa respek yang semestinya saya dapatkan.

Saat saya masuk ke sebuah tempat kerja yang baru, saya juga tidak bisa tidak menjelaskan usia saya. Dan ini sangat mengganggu karena saya tentu tidak bisa menjelaskan kenapa saya harus dihormati dengan mengatakan usia saya sebenarnya tanpa diminta. Tentu orang akan menganggap saya aneh dan gila hormat tapi jika hal itu terlambat diketahui orang-orang di sekitar saya, kejadian-kejadian menyakitkan hati pasti akan menimpa saya. Beberapa orang yang tahu usia saya akan memberikan perlakuan yang lebih halus tapi mereka yang tidak, akan cenderung semena-mena dan seenaknya.

Soal hal-hal yang hanya diketahui oleh generasi tertentu, saya juga kadang terjebak dalam percakapan yang tidak saya pahami karena mereka yang ada di dalamnya adalah generasi di bawah saya, sementara mereka mengira saya paham dan tahu betul. Entah itu acara TV atau lagu atau produk kebudayaan pop yang khas di generasi masing-masing. Akan sangat aneh jika saya mengatakan saya tidak tahu atau tidak suka dengan sesuatu yang digandrungi oleh banyak generasi di masa itu. Mereka tak tahu bahwa saya bukan bagian dari generasi yang lebih muda itu. Saya bagian dari generasi kakak-kakak dan paman-paman mereka semua!

Lalu tentang pilihan pakaian. Ini juga sumber kekesalan saya karena seringkali saya mesti ke acara-acara yang mengharuskan saya tampil sebagaimana orang dewasa seusia saya. Hanya saja susah sekali untuk menemukan pakaian yang bisa mengeluarkan aura dewasa saya tanpa tampil gombrong. Alhasil, jas-jas dan kemeja dan celana panjang yang saya kenakan selama ini kebesaran dan bergaya baggy. Sangat tidak nyaman memakainya. Saya kadang ingin sesekali memakai baju dengan ukuran pas. Tapi jika beli di toko pakaian mana bisa? Ukuran saya tidak akan pernah ada. Solusinya ada tiga: mengecilkan pakaian jadi dari toko-toko atau membuat sendiri pakaian idaman itu atau terpaksa memilih di rak remaja dengan ukuran terbesar yang tersedia. Di Uniqlo, saya sangat merasa dimanja karena di bagian anak-anak saya menemukan busana yang pas dengan tubuh saya. Masalah berikutnya adalah pakaian-pakaian anak-anak ini meredupkan aura dewasa saya. Saya malah kelihatan makin muda karena kebanyakan model-model pakaian anak sangat khas, berbeda dari model pakaian pria dewasa yang lain. Ini memang agak nyeleneh, atau kurang sesuai dengan aturan dalam masyarakat tapi bagaimana lagi? Saya juga bingung harus memaksakan diri memakai pakaian orang dewasa yang tidak pas dan kurang nyaman. Tubuh yang tidak banyak berubah sejak SMA ini juga sepertinya mendukung saya untuk tampil terlalu muda. Terus terang ukuran pakaian memang belum berubah banyak sejak  20 tahun lalu.

Obrolan berlanjut dengan pemaparan yang saya berikan untuk Morpheus dan Harly. Keluarlah dari mulut saya soal kebiasan tidur awal dan bangun pagi, soal minyak zaitun yang saya minum dan oleskan, kebiasaan yoga dan olahraga saban hari, kebiasaan berhenti makan sebelum pukul 8 malam. Dan makin saya paparkan, makin mereka bertanya banyak. Kenapa harus sampai seperti itu? Kenapa olive oil?

“Siapa yang mengajarimu soal minum olive oil?” tanya Morpheus lagi.

“Guru yogaku…,” jawabku jujur.

“Usia berapa dia sekarang?” ia menyelidik. “Jangan bilang dia 200 tahun usianya. Karena kalau benar, aku akan mencari dan berguru kepadanya…”

Belum usai ia melontarkan lelucon itu, ia potret wajah saya dan mengatakan:”Saya akan kirimkan fotomu ke istri saya di Taipei.Kita lihat apakah ia bisa menebak dengan benar atau tidak…”

Dan istrinya gagal.

 

P.S.:

Semboyan 35 adalah semboyan suara yang dilakukan dengan cara masinis membunyikan suling (trompet/klakson) lokomotif secara panjang untuk menjawab kepada kondektur kereta api dan PPKA bahwa kereta api sudah siap untuk diberangkatkan. Kadang juga dibunyikan pada waktu melintas di perlintasan jalan raya atau pada tempat-tempat tertentu untuk mendapatkan perhatian dari orang atau hewan agar menyingkir dari rel kereta api. [sumber: Wikipedia]