Tantangan Makan Kotor

TAHUN baru ini saya diberi tantangan anak-anak kantor. Tantangannya tidak lazim. Saat orang berbondong-bondong memulai kebiasaan baru yang sehat dan konstruktif, saya malah ditantang untuk menjalani kebiasaan yang buruk: makan jorok dan nggak olahraga selama 7 hari.

Sekarang sudah hari kedua saya menjalani tantangan dan saya rasanya sudah tidak bersemangat.

Badan pagi hari seharusnya saya gerakkan, jadinya cuma ‘mager’, rebahan.

Saya pun alihkan dengan aktivitas membersihkan rumah.

Tunggu, membersihkan rumah kan aktivitas fisik juga! Olahraga itu mah!

Nggak bisa. Bersih-bersih rumah bukanlah kegiatan olahraga cuy!

Kenapa?

Alasannya adalah karena membersihkan rumah bukan aktivitas fisik yang membidik otot-otot tubuh tertentu secara spesifik.

Kemudian durasinya juga tidak bisa terukur.

Lalu intensitasnya juga tidak bisa diukur. Karena aktivitas fisik baru dianggap sebagai olahraga jika detak jantung bisa di atas detak jantung harian saat kita istirahat alias tidak melakukan apapun.

Tantangan ini akan berakhir Minggu ini dan saya sudah tidak sabarrrrr…. Huhu

Pengalaman Tes Kesuburan Pria

PEMERIKSAAN kesuburan pria memang tak pernah terlintas dalam benak saya.

Tapi saat ditawari mengikui secara cuma-cuma, saya pikir: “Kenapa tidak?”

Akhirnya saya ikuti dengan tujuan ingin memastikan apakah pola hidup yang selama ini saya jalani sudah tepat atau belum. Karena selama 1 dekade belakangan saya sudah mencoba hidup lebih sehat: menghindari begadang, berolahraga rutin, makan makan yang lebih sehat, dan sebagainya.

Jika memang pola hidup saya sudah tepat, mungkin saya bisa meyakinkan lebih banyak orang di luar sana untuk mengubah pola hidup mereka agar menjadi lebih seimbang dan sehat lagi.

Persiapan tes kesuburan ini cuma tidak berejakulasi selama 2-7 hari lamanya. Tidak terlalu lama karena jika terlalu lama memang volume air mani bakal lebih banyak tapi juga jumlah sel sperma yang mati juga makin banyak. Sementara jika kurang dari dua hari juga bisa banyak sel sperma yang kurang matang. Volume air mani juga bisa cuma sedikit.

Di Bocah Indonesia, pengambilan sampel air mani sendiri dilakukan di sebuah ruangan khusus yang dilengkapi layar televisi pemutar video dan juga kamar mandi untuk membersihkan diri sehabis ejakulasi. Karena saat ejakulasi, bisa jadi muncrat ke mana-mana.

Bagi yang muslim, tentu bisa langsung mandi wajib agar setelahnya bisa salat. Karena mengeluarkan sperma termasuk hadas besar dan harus membersihkan diri secara tuntas dengan mandi besar.

Untungnya di kamar mandinya sudah ada sabun, shampoo dan shower sehingga aktivitas pembersihan sangat mudah.

Yang mungkin agar mencemaskan ialah ruangan pengumpulan sampel ini bersebelahan dengan lab perawat (yang semuanya perempuan) dan juga ruangan dokter spesialis adrologi. Dan cukup cemas juga apakah akan terdengar dari luar. Haha.

Tiap pasien diberi waktu setidaknya 30 menit untuk mengeluarkan air maninya. Jika tidak bisa juga, katanya bakal diberikan lubricant atau cairan pelumas.

Memang agak tricky karena melakukan onani di ruangan yang asing bisa memengaruhi kondisi psikologis pasien juga.

Nah, setelah air mani dikumpulkan di wadah steril, pasien diberikan lembaran yang harus diisi tentang waktu pengumpulan sampel, apakah ada yang tercecer atau tidak. Ini karena volume air mani yang keluar sekali ejakulasi juga dihitung dalam kesuburan pria.

Hasil dikirimkan via email 3 jam kemudian. Angka-angkanya akan dibandingkan dengan standar keluaran WHO tahun 2021. Dan di sini pasien bisa menebak-nebak bahwa jika ada yang ditandai maka artinya ia perlu berkonsultasi lebih lanjut dengan androlog soal perbaikan mutu sperma agar bisa berpeluang lebih cepat punya anak.

Setiap pria setidaknya perlu melakoni tes ini agar mengetahui betul kesuburan mereka dan kondisi kesehatan mereka secara umum. Karena kesuburan juga ada kaitannya dengan kesehatan.

Jika memang ada yang perlu diperbaiki dalam pola hidup, androlog akan menyarankan intervensi yang diperlukan.

Bagi Anda pria yang masih subur, bersyukurlah karena masih bisa memiliki anak. Tapi ingat juga bahwa menjadi ayah bukanah sekadar kemampuan menghamili seorang perempuan tetapi juga apakah setelah bayi itu lahir, ayah biologis ini juga bisa membesarkan dan mendidik anak itu sebaik-baiknya untuk menjadi manusia yang berkualitas. Tidak sekadar lahir, hidup, dan sudah. Tapi setidaknya kehadirannya bisa bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

Bagi pria, ceklah kesuburan Anda apalagi jika ingin punya anak karena jangan sampai menuduh istri Anda tidak subur padahal sperma Anda sendiri yang kurang subur. (*/)

Bagaimana Rusia Menjadi Negara Adidaya dalam Senam (Gymnastics) 

Para pemuda Rusia didorong untuk berolahraga agar bugar dan siap berperang. (Wikimedia Commons)

KALAU Anda jeli mengamati perkembangan cabang olahraga senam dan turunannya (dari senam artistik, senam ritmik, senam akrobatik, dan sebagainya), Anda pasti akan menemukan atlet-atlet Rusia sebagai salah satu peraih medali di ajang-ajang olahraga internasional semacam kejuaraan dunia maupun olimpiade.

Fenomena dominasi Rusia di dunia senam ini menarik bagi saya karena fenomenanya mirip dengan bulutangkis di Indonesia. Kenapa bangsa X bisa berjaya di satu cabang olahraga tapi tidak di cabang olahraga lainnya, sementara bangsa Y sebaliknya?

Jawaban bagaimana Rusia bisa menjadi negara adidaya dalam dunia senam ada di buku Sport in Soviet Society oleh James Riordan.

Dijelaskan bahwa senam begitu populer di Rusia (saat itu Soviet di abad ke-19) karena ada alasan politisnya. Bangsa Rusia saat itu menderita kekalahan dalam Perang Crimea tahun 1855. Kekalahan itu memalukan buat mereka sampai mendorong pemerintahannya mencari cara-cara yang bisa meningkatkan solidaritas, semangat kebangsaan dan kesiapan nasional bangsanya dalam upaya-upaya mempertahankan maupun memperluas wilayah mereka.

Sebelumnya di Jerman juga sudah muncul perkumpulan senam Turnen, di Ceko juga ada perkumpulan senam Sokol, dan di Skandinavia muncul gerakan senam di abad ke-19. Bangsa-bangsa ini menjadikan senam sebagai upaya memulihkan kekuatan fisik rakyat setelah menderita kekalahan perang.

Melihat fenomena budaya fisik yang meluas di Eropa tadi, Rusia juga melihat potensi senam sebagai pemersatu dan penguat moral bangsanya.

Putin bersama atlet senam Aliya Mustafina (kiri) yang sudah pensiun. (Wikimedia Commons)

Akhirnya para pejabat Rusia kala itu sepakat bahwa senam bisa dipraktikkan rakyat Rusia secara luas agar semua orang memiliki kesiapan dan kebugaran fisik yang baik sehingga kapan saja mereka bisa siap dikerahkan jika dibutuhkan oleh negara.

Dengan restu dari pemerintah Rusia tadi, bersemilah budaya senam di Rusia. Klub senam pertama di Rusia muncul di kota Saint Peterseburg tahun 1863. Sebelum itu di tahun 1830, sebetulnya sudah ada juga klub senam yang dibuka seorang warga Swedia yang bermukim di Rusia bernama de Pauli. Di tahun 1863 juga muncul Masyarakat Senam Pal’ma yang terkenal dan kemudian juga berkembang pesat dan membuka lima cabang di lima kota lain di negara itu.

Di tahun 1868, Masyarakat Senam Moskow terbentuk dan menyelenggarakan pertemuan di sebuah aula besar di Boulevard Tsvetnoi yang kini dikenal sebagai gymnasium Klub Dinamo. 

Jika ditanya siapa bapak pendidikan senam Rusia, catatan sejarah akan mengacu pada satu nama: Pyotr Lesgaft. Ia memperkenalkan senam model Prusia ke angkatan bersenjata Rusia di tahun 1874.

Tak lama kemudian, Lesgaft juga membuka kelas senam bagi para serdadu angkatan bersenjata Rusia. Tahun 1896 ia membuka kelas senam khusus warga sipil, sehingga bisa dikatakan setiap warga negara Rusia bisa mengakses olahraga senam ini dengan mudah.

Federasi senam pertama di Rusia berdiri tahun 1883 dan otomatis menjadi federasi olahraga pertama di negara itu. Jadi tidak aneh jika dikatakan senam di Rusia sudah terlembaga secara formal sedemikian rupa sejak abad ke-19.

Uniknya salah satu anggota pendiri federasi senam ini adalah penulis terkenal Rusia, Anton Chekhov. Ia sendiri selain seorang sastrawan juga memiliki profesi asli dokter. 

Latihan fisik senam diperkenalkan ke sekolah-sekolah dan universitas-universitas di Rusia pada dekade 1870-an dengan tujuan menyiapkan generasi muda agar nantinya bisa bergabung dalam gerakan militer alias berperang.

Pendukung senam paling berpengaruh saat itu, Kozlovsky, berhasil ‘menjual’ proposal penerapan latihan senam di seluruh wilayah Rusia dengan menyatakan bahwa senam bisa dijadikan alat latihan militer, memungkinkan pengurangan wajib militer dan menjadi cara menghemat anggaran negara.

 

Atlet-atlet senam artistik putra dari Rusia dikenal memiliki prestasi sejak lama di kancah dunia. (Wikimedia Commons)

Senam kemudian dikemas sebagai olahraga disipliner yang dirancang untuk menghasilkan “seorang warga yang disiplin di saat negara damai dan menjadi petarung yang tak gentar saat peperangan terjadi”. Jadi senam juga dikaitkan dengan pertahanan nasional di Rusia saat itu.

Dengan adanya kebijakan penerapan latihan senam di seluruh institusi pendidikan di Rusia, otomatis dirilis juga diktat atau manual resmi senam bagi sekolah-sekolah di tahun 1872 dan 1878. Di dalam manual ini dijelaskan beragam latihan fisik yang terinspirasi oleh senam model Prussia tahun 1874.

Meski demikian, sekolah senam Sokol yang beraliran Slavic nasionalistik-lah yang dileburkan ke dalam praktik senam di Rusia pada dekade 1880-an oleh perkumpulan-perkumpulan senam yang baru terbentuk.

Dengan dukungan dari kelompok elit bangsawan dan kelas menengah yang makin banyak, senam makin populer. 

Atlet-atlet senam artistik Rusia dikenal tangguh dan paling artistik. (Wikimedia Commons)

Di Olimpiade 1912, Rusia mengirimkan tim senamnya untuk pertama kali dan langsung memenangkan beberapa medali.

Senam kemudian di tahun 1940 terdaftar sebagai salah satu dari cabang olahraga yang mengakui atlet perempuan juga. Ini sebuah kemajuan bagi perempuan apalagi di masa itu.

Di tahun 1933, Rusia mengakui secara resmi bahwa senam menjadi dasar bagi gerakan olahraga menyeluruh dan pendidikan jasmani di sekolah dasar, SMP dan SMA dalam sebuah konferensi senam.

Saat itu, setiap warga Rusia yang bekerja (alias kelas pekerja, bukan birokrat) didorong untuk memiliki badan yang bugar dan elok dipandang. Tidak kegemukan, malas apalagi lemah.

Senam juga digunakan negara sebagai medium budaya untuk menarik para atlet yang ingin masuk ke pusat budaya Rusia. Tak heran, senam sering dikaitkan dengan balet dan ekspresi budaya lainnya di negara Putin tersebut.

Balet sebagai salah satu alat pemersatu dan kekuatan budaya Rusia. (Wikimedia Commons)

Nilai estetik gerakan badan manusia yang digabungkan dalam senam dipandang setara dengan nilai estetik yang memancar dari seni di tingkatan tertinggi.

Rusia dengan demikian memiliki sebuah kekuatan budaya dinamis dan baru dalam bentuk media simbolis senam, kalistenik, tari, pameran formasi massal, dan beragam aktivitas olahraga lain.

Di Rusia, negara berpandangan bahwa olahraga dan seni adalah alat memodifikasi dan memperkaya pengalaman kemanusiaan dan senam bisa mendorong manusia menemukan dan mengembangkan potensi budaya dalam mereka sendiri.

Senam ini kemudian berkembang menjadi beberapa jenis. Di samping senam olahraga (sportivnaya gimnastika), ada juga binaraga (atleticheskaya gimnastika), senam untuk kebugaran di tempat kerja (proizvodstyennaya gimnastika), dan senam ritmik yang khusus untuk atlet perempuan (khudozhestvennaya gimnastika). (*/)

Atlet senam ritmik Rusia, Margarita Mamun. (Wikimedia Commons)

Cacar Monyet: Asal Mula, Cara Penularan dan Pencegahannya

Apa itu cacar monyet dan bagaimana mencegahnya? Baca di sini selengkapnya.

(Foto: CNN Indonesia)

ADA sebagian orang yang nyinyir dengan kemunculan cacar monyet sebagai darurat kesehatan yang baru-baru ini diumumkan WHO. Mereka mengatakan: “Ada-ada saja penyakit zaman sekarang. Paling juga buat bisnis vaksin.”

Tapi bukankah begitu hukum alam? Manusia dan penyakit saling berlomba untuk mengungguli satu sama lain. 

Kalau kita mau pikirkan lagi, ini adalah perlombaan yang tiada henti. Setelah satu kuman atau virus ditaklukkan, bisa jadi ia menjelma sebagai mutasi lain yang lebih ampuh. 

Kita sudah tahu kisah kekebalan kuman setelah dibombardir antibiotik. Dan kisah begini adalah sebuah keniscayaan dalam dunia medis.

Dan dengan banyaknya persinggungan/ kontak kita dengan makhluk hidup lain yang tidak semestinya hidup di dekat kita (satwa liar yang habitatnya di hutan malah kita pelihara di rumah atau kita makan), tidak heran banyak virus dan penyakit baru yang menjangkiti manusia juga. Jadi jangan nyinyir dulu, karena ini juga sebab ulah kita sendiri.

Mari kita pisahkan fakta soal cacar monyet ini dari kebencian dan sentimen negatif kita terhadap para pebisnis vaksin sebab jika kita abai, yang rugi juga diri kita sendiri. Karena tak jarang orang yang benci vaksin lalu menutup mata juga soal fakta ilmiah mengenai bahaya virus atau bibit penyakit baru.

Terlepas dari perdebatan kaitan kemunculan wabah baru dan potensi laba buat bisnis vaksin itu, kita perlu mempersenjatai diri kita dengan fakta-fakta ilmiah soal cacar monyet agar tidak lagi terulang kekonyolan berakibat hilangnya nyawa akibat ketidakpercayaan pada sains sebagaimana yang kita saksikan sendiri di awal pandemi 2020 lalu.

ASAL MULA CACAR MONYET

Jika dirunut ke belakang, penyakit ini sudah muncul dalam radar WHO di tahun 1958 dan telah memicu wabah skala kecil di Afrika Tengah dan Barat. Tingkat kematiannya antara satu dan sepuluh persen.

Setelah itu, di tahun 1971 dan 1978 juga tercatat sudah ada puluhan kasus yang terdeteksi di Nigeria. Dan kini ia menyebar ke wilayah Cekungan Kongo juga.

Lalu di tahun 2017 terjadi wabah lokal di Nigeria yang terjadi kembali, demikian ungkap kepala Center for Genome Sciences di US Army Medical Research Institute of Infectious Diseases.

Dari catatan WHO, wabah cacar monyet sudah terjadi di Sudan tahun 2005, Republik Kongo dan Republik Demokrasi Kongo tahun 2009 dan Republik Afrika Tengah tahun 2016. Di antara 4 September hingga 9 Desember 2017 sudah ada 1 kematian, 172 kasus suspect dan 61 kasus penularan cacar monyet ini. 

BIBIT WABAH ZOONOTIK

“Zoonotik” di sini maksudnya adalah jenis penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Dalam 6 bulan terakhir, lebih dari 9000 kasus cacar monyet sudah dilaporkan di seluruh dunia di berbagai negara yang bukan wilayah endemik penyakit ini.

Awalnya virus ini dideteksi di Inggris, Portugis, dan Spanyol, terutama pada para pria yang berhubungan seksual dengan pria lainnya.

Yang patut diwaspadai ialah fakta bahwa penyakit ini sudah menyebar ke sejumlah negara dengan cepat. Tak terkecuali ke pasien yang imunitas badannya rendah dan anak-anak yang rentan.

GEJALA-GEJALA CACAR MONYET

Cacar monyet ialah penyakit yang langka sebetulnya. Ia disebabkan virus cacar monyet yang menjadi bagian dari keluarga virus cacar air. 

Gejala-gejala cacar monyet ini mirip dengan gejala cacar (variola) juga tapi lebih ringan, demikian menurut laman CDC.gov. Tapi virus cacar monyet ini tak berkaitan dengan virus cacar air ternyata.

Gejala-gejala cacar monyet adalah demam, sakit kepala, nyeri otot dan punggung, kelenjar limfa yang membengkak, rasa dingin, kelelahan berlebihan, kemerahan di kulit yang mirip jerawat atau lecet yang bisa muncul di muka, rongga mulut dan bagian tubuh lainnya dari tangan, kaki, dada, alat vital, bahkan anus.

Kulit kemerahan ini bisa berlangsung selama beberapa tahap sebelum akhirnya hilang. Sakitnya bisa berlangsung selama 2-4 minggu. Kadang ada pasien yang mengalami kemerahan dulu baru diikuti gejala-gejala lainnya. Pasien lain bisa saja cuma mengalami kemerahan tanpa gejala lain.

MENULAR LEWAT BERAGAM CAIRAN TUBUH

Virus cacar monyet ini ternyata bisa menular ke kita lewat air liur (termasuk droplet), air mani/ sperma, air seni, dan sebagainya. Temuan ini dipublikasikan dalam Eurosurvillance dan dipimpin oleh Barcelona Institute for Global Health (ISGlobal).

Karenanya, untuk mencegah penularan, kita harus mencegah sentuhan langsung dengan pasien yang terinfeksi atau sentuhan dengan permukaan yang terkontaminasi oleh luka pasien tadi. Itu karena luka tersebut bisa membawa darah yang mengandung virus.

Jadi apakah perlu kita memakai masker lagi sebagaimana yang sudah dilakukan saat mencegah Covid-19? 

Masih perlu, karena air liur tadi bisa keluar dalam bentuk droplet yang sangat kecil dan terhirup masuk ke dalam tubuh.

DITAKUTI SEJAK DULU

Virus cacar jenis apapun dikenal sudah menjadi ancaman sejak dulu bagi umat manusia. Virus cacar bahkan dicap sebagai agen atau senjata terorisme biologis yang paling ditakuti manusia.

Virus cacar bisa mengalahkan pertahanan imunitas makhluk inang seperti manusia. Faktor pembatasan inang SAMD9 dalam badan manusia bisa dikalahkan oleh virus cacar padahal SAMD9 ini cukup kuat untuk memerangi sel tumor dan mutasi gen SAMD9 ini bertanggung jawab atas satu jenis kanker serius.

Imunitas manusia dan virus cacar memang terus berlomba-lomba salingmengungguli satu sama lain. Virus cacar terus memperbaiki kekuatannya dari waktu ke waktu agar bisa bertahan hidup dalam inang mereka. Maka tak heran pertarungan melawan virus cacar termasuk cacar monyet ini bakal terjadi sepanjang sejarah umat manusia. (*/)

Seluk Beluk Uban: Dari Penanda Stres Hingga Risiko Penyakit

Usia saat seseorang mendapati uban pertama mereka bervariasi. Di sekolah menengah atas, seorang teman sebaya sudah beruban. Saat itu saya jadi merasa ngeri juga, kok bisa kami yang masih muda kena gejala penuaan sedini itu. Belum juga merayakan usia 20, kok sudah memutih.

Di usia 36-37, saya sendiri baru menemukan helaian memutih di rambut bagian samping. Saya pikir cuma pantulan sinar tapi kok tidak menghilang. Fix, itu sih uban, pikir saya. Ya kalau pun sudah ada uban juga paling sehelai dua helai. Dari kejauhan kepala saya masih terlihat seperti anak remaja. Hitam legam.

STRES TIDAK PERMANEN

Kalau ditanya soal pemicu uban, kata sains sih ada hubungannya dengan tingkat stres seseorang. Haha, apakah teman saya itu stres sejak SMA? Mungkin saja ya. Namanya juga manusia. Di luar hahahihi, di dalam merintih pilu.

Soal kaitan uban dan stres ini dikukuhkan tim riset dari Columbia University Vagelos College of Physicians and Surgeons. Mereka menemukan bahwa saat seseorang terkena tekanan psikologis, ia akan rentan memiliki uban di kepala.

Tapi kabar baiknya ilmuwan juga mengatakan bahwa begitu stres itu dikendalikan atau diatasi, uban seseorang juga hilang. Jadi uban tidaklah permanen asal kita bisa meminimalisir tingkat stres dalam kehidupan kita.

Nah, masalahnya kita ini pakai cara apa untuk mengatasi stres?

Kafein, rokok, dan alkohol jadi cara terpopuler mengusir stres sementara dengan tebusan kesehatan yang makin rusak. Kita kurang bijak dalam memilih cara mengendalikan stres dengan sehat.

GENETIS

Ternyata uban juga bisa dipicu faktor keturunan. Untuk uban jenis ini ya tidak bisa diganggu gugat kehadirannya. Tidak bisa diatasi cuma dengan mengendalikan stres.

Ilmuwan di University College London tahun 2016 menemukan IRF4, sebuah gen pemicu uban. Selain uban, gen juga berpengaruh dalam menentukan bentuk kepala dan kelebatan rambut seseorang.

Ilmuwan masih terus mencari tahu bagaimana menghambat kinerja IRF4 dalam proses terjadinya uban di rambut.

Uban sendiri bisa muncul saat produksi melanin di rambut terhambat. Diharapkan dari riset itu bisa ditemukan cara pencegahan uban dini.

RISIKO SAKIT JANTUNG

Bagi sebagian orang, kemunculan uban tidak membuat cemas karena toh bisa dicat.

Tapi jika Anda sudah menemukan uban di usia muda ada baiknya periksakan kesehatan jantung karena menurut penelitian, munculnya uban menunjukkan peningkatan risiko sakit jantung.

Dari sudut pandang ilmiah, penyakit atherosclerosis dan uban memiliki mekanisme yang mirip seperti perbaikan DNA yang kurang sempurna, stres oksidatif, perubahan hormon, peradangan dan penurunan jumlah sel yang berfungsi normal dalam badan.

KEKEBALAN TUBUH

Saat seseorang beruban, ada kemungkinan tubuhnya sedang mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh dan sedang terjadi infeksi virus.

Ini dibuktikan dengan studi yang menemukan bahwa uban berkaitan erat dengan aktivasi sistem kekebalan tubuh bawaan badan kita.

Saat tubuh diserang virus atau bakteri asing, sistem kekebalan tubuh bawaan ini akan bekerja maksimal. Badan memproduksi molekul interferon yang menjadi sinyal adanya organisme asing dalam badan kita. Interferon mendorong sel-sel tubuh menghalau perkembangan organisme asing ini.

Uban menandakan adanya disfungsi sel stem melanosit yang penting untuk membuat rambut tetap punya warna atau pigmen.

Ini menandakan gen yang mengendalikan pigmen di rambut dan kulit juga bekerja mengendalikan sistem kekebalan bawaan tubuh kita.

GIGI BERLUBANG

Uban juga menandakan peningkatan risiko terjadinya gigi berlubang pada seseorang.

Penjelasannya adalah karena rambut dan gigi sama-sama elemen terluar badan yang memiliki mekanisme perkembangan yang mirip meski materi gigi dan rambut berbeda. Rambut terbangun dari serat keratin yang terjalin erat satu sama lain. Gigi terbuat dari protein enamel.

Jadi intinya kalau sudah beruban, rajin-rajinlah jaga kesehatan dengan istirahat cukup, makan sehat dan olahraga plus cek kesehatan di rumah sakit untuk deteksi dini penyakit-penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, kanker, jantung, dan sebagainya.

Jerry Yan dan Gong Yoo: Para Perjaka Tua yang Awet Muda

KTP 45, penampilan 25. Itulah Jerry Yan. (Foto: weibo)

CITRA para pria yang belum menikah di usia ‘matang’ di mata masyarakat Asia yang masih konservatif memang ‘miring’.

Ya maklum saja karena di Asia yang kolot, orang-orang masih berpikir bahwa menikah seharusnya di usia 20-an atau awal 30-an. Setelah itu ya kadaluarsa. Telat. Ibarat produk yang dipajang di rak supermarket, expiry date sudah lewat. 

‘Miring’ bagaimana? Ada yang menganggap mereka tidak ‘laku’, sebuah tuduhan yang dilayangkan pda para perempuan yang belum menikah di usia 30-40 tahun juga. 

Mereka dicap sebagai ‘ampas’ dalam dunia asmara. Terlalu pilih-pilih sampai akhirnya malah tidak ada yang mau dengan mereka. 

Tapi ada dua orang perjaka tua dari negara Asia yang mungkin bisa dijadikan teladan bagi para pria yang belum menikah di luar sana. Mereka adalah Jerry Yan dan Gong Yoo. 

Sebenarnya ada juga selebritas pria yang belum menikah di usia 40-an. Sebut saja Chris Evans yang baru-baru ini heboh diberitakan soal iPhone 6S yang baru saja ia pensiunkan setelah dipakai tujuh tahun (padahal ya banyak orang juga melakukannya dengan beragam alasan dari tak punya duit untuk upgrade ponsel sampai alasan anti konsumerisme ). 

Ada juga Milo Ventimiglia yang menyita perhatian publik berkat celana super pendek yang memamerkan otot kakinya yang kencang. Tapi mereka hidup di masyarakat Barat yang lebih progresif. Jadi permakluman atas keterlambatan menikah sudah tidak begitu istimewa ya meski masih ada mungkin.

Berasal dari Taiwan, Jerry Yen dikenal berkat perannya yang legendaris cowok tsundere Tao Ming-tse di serial televisi Meteor Garden yang mengudara di Indonesia di awal dekade 2000-an lalu. Artinya sudah lewat 22 tahun. 

Tapi baru-baru ini Yen tampil ke depan publik dengan mencengangkan karena setelah dua dekade berlalu ia tampil masih sama persis dengan dirinya dua puluh tahun lalu. Tubuhnya masih tegap, kulit wajah dan tubuhnya juga masih kencang, perutnya masih ramping. Jadi saat ia berpakaian dengan kostum Tao Ming-tse lagi, ia masih sangat amat cocok dan menjiwai. 

Singkatnya ia sekilas tidak menua meski itu sama sekali tidak mungkin juga. Pastilah sudah ada perbedaan dalam fungsi tubuh seseorang di usia 40-an. Tapi Yen tampaknya merawat dirinya dengan begitu baik sehingga tidak ada alasan baginya untuk punya tubuh yang tidak elok dipandang. Dad bod bagi pria usia 40-an rasanya sudah jadi sebuah keniscayaan tapi sebagian pria mencoba melawan kemalasan mereka dengan berolahraga dan mengatur gaya hidup agar lebih sehat.

Gong Yoo sedikit lebih muda dari Jerry Yen yang 45 tahun. Ia 42 tahun tapi penampilannya masih sesegar pemuda usia 20-an. Kerutan sama sekali tidak terlihat di wajahnya yang pastinya sudah dirawat setiap hari dengan optimal. Ya namanya juga orang Korea Selatan yang masyarakatnya dikenal pemuja kemolekan ragawi. Karena inilah ‘aset jualannya’, kalau istilah kasarnya. 

Gong Yoo rajin nge-gym dan rawat muka tentu saja seperti kebanyakan pria Korea. (Foto: Viva News)

Cewek-cewek masih menantikan para perjaka tua seperti Yan dan Yoo meski mereka sudah pantas dipanggil om oleh mereka. Seolah mereka tak peduli dengan usia.

Tapi anehnya, kalau lihat pria Indonesia sendiri umur 40-an belum menikah pasti cewek-cewek itu nyinyir, kasak kusuk. Kemungkinan karena pria Indonesia paruh baya itu ya sudah awut-awutan penampilannya. Tidak merawat diri, malas olahraga, kalaupun rajin olahraga ya paling futsal seminggu sekali kalau ingat bersama circle kantor. Itupun sudah ngos-ngosan napasnya saat mengejar bola. Perut membuncit dan menggelembung sana sini. Dad bod, katanya. Ada yang suka katanya, tapi ya berapa sih persentasenya? (*/)

Tahan Lama Nggak Kira-kira (Ulasan Jam Cerdas Olahraga HR 500 Kalenji dari Decathlon)

Puasss! (Foto: Dok. pribadi)

KALAU Anda pernah baca kejengkelan saya sebagai pengguna smartwatch Garmin yang sudah diskontinu, Anda pasti paham bagaimana saya ingin smartwatch yang lebih tahan lama dalam penggunaannya.

Maksudnya penggunaan di sini adalah termasuk pelayanan purnajualnya. Karena begitu dibeli, setelah itu kita pasti butuh ganti baterai atau strapnya jika rusak.

Nah dalam kasus Garmin yang kemarin itu, ternyata seri jam itu sudah diskontinu sehingga saya terpaksa membiarkan arloji saya yang sebenarnya masih bagus itu tak terpakai. Kesal! Buang uang dan menambah sampah.

Lalu saya akhirnya membulatkan tekad untuk membeli satu produk smartwatch yang tak terlalu mahal (Garmin itu Rp1,8 juta saat saya beli tahun 2018).

Pilihan saya jatuh ke smartwatch keluaran Decathlon dengan brand Kalenji-nya.

Harga belinya saat saya beli awal Februari 2022 secara daring dari Decathlon Alam Sutera adalah Rp855.000.

Pertama-tama menggunakan jam ini saya terkesan dengan ketahanan baterainya. Tanpa banyak dipakai untuk mengukur detak jantung saat berolahraga, jam ini bisa bertahan 30 hari sekali cas. Amazing!

Dan memang saya cuma sesekali fitur-fitur olahraganya itu. Kebanyakan saya pakai cuma sebagai penunjuk waktu.

Kalau Anda mau, sebenarnya Anda bisa memakai jam ini dengan aplikasi Decathlon untuk mengukur kalori yang terbakar dan detak jantung saat berolahraga. Aplikasi ini sendiri memberi pilihan jenis olahraga yang cukup menarik.

Untuk berenang yang dangkal, rasanya memakai jam ini tak masalah. Tak bakal mati cuma karena basah dipakai saat wudhu atau hujan-hujanan. Jadi sehari-hari pun saya juga jarang lepas kecuali saat mau mandi.

Per hari ini saya coba berikan ulasan di website Decathlon dan ternyata arloji yang sama sudah turun harganya sampai Rp500.000! Sontak saya terkejut sih. Cuma dalam waktu 2 bulan sudah turun 300 ribu?

Saya jadi bertanya: Apakah produk ini bakal didiskontinu atau dihentikan dukungan purna jualnya begitu sudah didiskon semurah ini untuk menghabiskan stoknya?

Satu lagi masukan saya sebenarnya untuk Decathlon dan produsen semua smartwatch di pasaran: tolonglah supaya bagaimana caranya supaya produk Anda semua itu bisa dicas tanpa harus pakai kabel cas khusus!

Bayangkan betapa praktisnya jika semua gawai kita dari ponsel, laptop dan jam tangan bisa dicas dengan satu tipe kabel. (*/)

Kerokan Cuma di Indonesia? Ah Masa Iya?

(Foto: @shan.alexander)

SEPERTI batik, kerokan juga sebetulnya bukan budaya yang cuma ada di Indonesia lho.

Buktinya di Vietnam, apa yang kita sebut sebagai kerokan disebut sebagai terapi GUA SHA.

Kata orang Amerika yang diberi terapi ini sih rasanya nggak sakit tapi kelihatan ‘liar’ aja.

Iya lah badannya lumayan tebel. Coba kalau yang diberi terapi kurus kering. Pas kena tulang iga, meringis-ringis pastinya. (*/)

Bagaimana Agama Membuatmu Lebih Bahagia

SUATU malam saya mengobrol santai dengan seorang teman. Ia saya kenal sebagai pribadi yang dewasa, cerdas dan bijak. Tidak ada kesan bahwa ia memiliki kecenderungan untuk berpihak pada sebuah faksi atau kelompok politik dan kami juga tak pernah mengobrol soal itu sebelumnya.

Tapi entah kenapa saat itu ia tiba-tiba menyinggung soal istilah “kadrun” alias kadal gurun. Istilah ini seperti kita tahu merupakan sebuah sebutan peyoratif atau merendahkan bagi mereka yang dianggap “mabok agama”. Mereka ini sering dicap terlalu relijius, sok keArab-araban, kurang suka kemajemukan, keras, tak berkompromi pada mereka yang meyakini dan memeluk agama lain.

Dan untuk mengingatkan, istilah kadrun ini muncul dalam kosakata kita tatkala peperangan bertema politik identitas yang skalanya sudah mirip Bharatayuda versi digital antara Anies vs Ahok dan Jokowi vs Prabowo itu mencapai klimaksnya.

Saya sendiri tak pernah menggunakan istilah peyoratif semacam itu untuk melabeli orang karena jujur saya tak ambil pusing soal konflik politik yang berlangsung. Itu semua sudah diagendakan dan direncanakan demi sebuah ambisi kekuasaan jadi saya sebagai rakyat kecil cuma menonton lah. Tak mau begitu larut karena kalau sampai membela mati-matian juga tak ada untungnya.

Dan karena konflik politik identitas yang membelah bangsa ini, sampai sekarang konflik kadrun vs kecebong seakan sudah mustahil dihapus dari benak orang Indonesia.

Karena konflik itu jugalah, agama dicap sebagai sesuatu yang ‘memabukkan’ karena jika dipahami secara sempit, ia bisa menggiring kita menjadi manusia yang beringas dan sanggup bertindak apapun dengan mengatasnamakan ajaran agama dan Tuhan.

Tapi dari sindiran agama sebagai candu itu sebetulnya bangsa ini bisa bertahan di masa pandemi ini berkat agama juga lho.

The Economist pernah membahas soal bagaimana manusia-manusia yang tinggal di negara-negara berkembang (baca: miskin) bisa bertahan selama pandemi berkat optimisme yang ditanamkan dari nilai-nilai agama.

Dan untuk hal satu ini, bangsa kita jagonya. Angka kasus positif memang pernah gila-gilaan Juli-Agustus lalu tapi optimisme itu bahkan tak pernah surut. Kita terus bergerak. Masjid-masjid penuh. Tak ada yang namanya jaga jarak atau protokol kesehatan ketat.

Lalu yang membuat saya makin yakin lagi dengan kekuatan aset spiritual bangsa ini adalah sebuah penelitian yang dipublikasikan James Cook University tahun 2018 lalu. Di situ peneliti menemukan bahwa manusia-manusia yang relijius tetap bisa bahagia dengan meyakini sepenuh hati bahwa ada hikmah atau makna yang lebih dalam dari apapun yang terjadi dalam hidup mereka. Dan pandangan semacam ini sudah lazim kita temukan dalam ajaran agama-agama di Indonesia.

Dalam riset itu, ditemukan bahwa orang-orang yang mengapresiasi kejadian-kejadian kecil dalam keseharian mereka bisa merasakan emosi-emosi positif lebih baik daripada yang tak percaya Tuhan dan agama.

Misalnya mereka yang relijius merasa bisa lebih berterima kasih dan menghargai waktu yang dihabiskan bersama teman, keluarga. Dengan kata lain, mereka memberikan makna yang lebih tinggi pada detail-detail kecil dalam hidup.

Jadi bagi Anda yang merasa bahwa hidup ini kosong dan tak bermakna, cobalah mendekatkan diri pada Tuhan melalui ajaran agama yang relevan dengan Anda.

Tapi bagaimana kalau Anda cuma ingin meyakini adanya Tuhan dan tak mau terlalu larut dalam ritual dan formalitas beragama? Bisa saja Anda menekuni spiritualisme saja. Di sini Anda masih bisa menemukan esensi keilahian itu tanpa harus mengikuti ritual atau dogma agama tertentu. (*/)

Cara-cara Murah Pelihara Kesehatan Mental

SELAMA 11 tahun belakangan ini, saya mencoba berdisiplin dalam pola hidup. Sebelumnya saya tak begitu memperhatikan soal pola tidur, olahraga dan pola makan.

Tahun 2009 saya pernah mencoba melakoni pola hidup bak kalong. Tidur siang, bangun senja. Begitu terus. Dan saya tak merasa ada yang salah dengan pola aktivitas begini sampai di suatu titik saya merasa badan terasa remuk muk mukkk. Sering pusing dan flu. Meriang sudah bukan hal aneh. Dan saya merasa seperti sangat lemah dan tak bersemangat dalam melakukan apapun meski saya merasa masih bersemangat menulis. Saat itu saya seperti ‘kesetanan’ untuk menulis blog di malam hari, seolah saya tak akan mendapatkan ide menulis di siang bolong.

Karena tak bisa bangun pagi, otomatis saya juga jarang berolahraga (kalau tak bisa dikatakan tak pernah). Karena saya jarang ke luar rumah, dan hanya fokus pada hal yang saya sukai: menulis did epan laptop seharian penuh.

Lalu perlahan saya sadar saya mulai harus mengubah pola hidup tersebut. Rasanya memang menyenangkan bisa kapan saja bisa bekerja tapi ternyata tak begitu menyenangkan jika tidak ada struktur sama sekali dalam beraktivitas. Kebebasan penuh itu ternyata merenggut kesehatan fisik dan mental saya sendiri.

Di Desember 2010 saya mulai menekuni yoga. Dari latihan seminggu sekali kemudian menjadi setiap hari. Dan sekarang saya bisa menularkan pengetahuan dan pengalaman saya ke orang lain. Jadi saya sangat tidak menyangka, saya yang dulunya pemalas kalau disuruh menggerakkan badan dan keluar rumah, sekarang malah sebaliknya. Bahkan sampai ditanyai orang lain mengenai cara hidup sehat.

~~~

Hari ini 10 Oktober diperingati sebagai hari kesehatan mental sedunia dan kebetulan tadi pagi juga mengajar sebuah kelas yoga yang bertema yoga untuk meningkatkan energi.

Sempat saya singgung juga dalam sesi tersebut bahwa saya menyarankan agar saat energi kita turun (dalam yoga disebut ‘tamasik’), kita seharusnya berlatih gerakan-gerakan dinamis, mengalir (vinyasa), lebih banyak fokus pada jenis asana arm balance, backbend, dan twisting yang tujuannya meningkatkan detak jantung, memacu adrenalin, dan menyegarkan tubuh dengan melancarkan seluruh sistem peredaran darah, mengaktifkan sistem limfatik yang berperan penting dalam imunitas, dan masih banyak lagi.

Saya menekankan bahwa olahraga, menggerakkan badan, adalah sebuah takdir bagi tubuh manusia. Ia adalah suatu kebutuhan dasar. Seperti makan dan minum serta mandi, begitu kata saya. Apakah saat kita makan kita akan berharap tak perlu lagi makan selama setahun ke depan karena malas? Apakah setelah mandi kita merasa sudah bersih sehingga tak perlu lagi mandi setahun ke depan? Nah, demikian juga saat kita menyikapi olahraga. Jika ditanya seberapa sering harus menggerakkan badan, ya saya jawab: setiap hari. Kan kita juga makan, minum dan mandi tiap hari.

Dan pernyataan saya ini bukannya tak ada dasarnya sama sekali. Sebuah penelitian dari Southern Methodist University yang dipublikasikan di tahun 2010 lalu menyatakan olahraga adalah ‘obat ajaib’ bagi banyak orang yang menderita depresi dan kecemasan parah. Dan karena olahraga itu bisa dilakukan secara mandiri dengan bermodalkan kemauan individu, seharusnya olahraga diresepkan lebih sering sebagai penanganan gangguan kesehatan mental. Dalam studi ini jumlah olahraga yang dijalani ialah 150 menit perminggu dengan intensitas moderat, tidak berat. Tapi jika Anda ingin melakukan aktivitas olahraga yang berat, bisa dilakukan 75 menit per minggu.

Ilmuwan mengatakan olahraga meningkatkan mood, menekan stres, memperbaiki tingkat energi dan motivasi dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Dan yang terpenting: tidak ada motivasi dalam berolahraga bukanlah penghalang tapi seharusnya menjadi pendorong untuk berolahraga. Dengan kata lain, karena bad mood itulah Anda justru harus berolahraga agar kembali bersemangat. Bukan sebaliknya, menunggu mood membaik baru berolahraga. Konyol itu namanya!

Sebuah penelitian yang hasilnya dipublikasikan di The Lancet tahun 2018 lalu menegaskan mereka yang berolahraga memiliki kesehatan mental yang buruk 1,5 hari lebih pendek daripada yang tidak. Jadi memang olahraga tak menjamin Anda bebas 100% bebas gangguan dan kondisi mental tapi setidaknya bisa memperbaiki ketahanan kesehatan mental Anda dan mendorong pemulihan lebih cepat.

Tapi apakah Anda harus berolahraga sesering mungkin supaya kesehatan mental terjaga? Ternyata tidak juga lho. Ilmuwna mengatakan manfaat terbesar olahraga bagi kesehatan mental sudah bisa didapatkan dengan berolahraga 45 menit dengan frekuensi 3-5 kali seminggu. Jadi tidak harus 7 hari terus menerus.

Para ilmuwan sendiri belum bisa menjelaskan secara gamblang alasan mengapa kesehatan mental dan olahraga memiliki kaitan erat satu sama lain. Bisa jadi, ilmuwan menduga, bahwa kebiasaan ‘mager’ dan malas olahraga adalah salah satu gejala kesehatan mental yang buruk dan kebiasaan berolahraga dna gaya hidup aktif adalah salah satu tanda atau faktor yang berkontribusi pada ketahanan seseorang secara mental.

Penelitian lainnya yang dilakukan University of Otago dan hasilnya disebarkan pada publik tahun 2020 menyatakan ada 3 pilar kesehatan mental: tidur yang cukup, olahraga, makan buah dan sayuran segar.

Tidur yang cukup di sini adalah yang tidak kurang dari 8 jam tapi juga tidak sampai lebih dari 12 jam sehari. Lebih atau kurang bisa berakibat negatif pada kesehatan mental. Tapi yang tak kalah penting bagi kesehatan mental ialah mutu tidur kita. Percuma jam tidur sudah pas tapi belum bisa nyenyak.

Penelitian mengungkap depresi paling ringan ditemukan pada mereka yang tidur 9,7 jam sehari. Dan kesehatan terasa prima pada mereka yang tidur 8 jam per malam.

Bagaimana dengan porsi makan buah dan sayur? Menurut penelitian, 4,8 sajian sayur dan buah segar per hari memberikan kita kesehatan mental yang prima. Makan buah kurang dari 2 porsi sehari atau sampai berlebihan sampai 8 porsi sehari bisa membuat kesehatan menurun. Jadi memang harus pas.

Dengan demikian, sebetulnya menjaga kesehatan mental itu murah meriah kok. Cuma memang yang mahal itu cuma dua: motivasi dan konsistensi kita sendiri.

Dan dari sini kita juga idealnya tidak lagi ‘termakan’ janji manis pihak-pihak yang mengatakan ada pil atau obat ajaib X, atau Y, atau Z produksi pabrik untuk bisa hidup sehat. Bukan berarti semua multivitamin itu tak ada gunanya tapi jika tidak dibarengi dengan perbaikan pola hidup menuju ke arah yang lebih sehat yakni dengan meningkatkan konsumsi buah dan sayur, menata pola tidur dan berolahraga dengan porsi cukup maka akan sia-sia saja juga. (*/)

Multivitamin, Serius Efektif?

SEORANG teman dulunya menghiasi dinding Twitternya dengan tweet-tweet yang jenaka. Kini ia lebih banyak mewarakan produk multivitamin yang menurutnya ajaib, ampuh, cespleng, manjur dalam mencegah Covid, membangun sistem kekebalan tubuh, dan sederet keunggulan lainnya yang tidak dimiliki produk multivitamin sejenis.

Menghela napas berkali-kali saya membacanya.

Saya bukannya memusuhi multivitamin. Saya di kala sakit juga mengkonsumsi multivitamin kok.

Tapi saat ini, seolah tidak perlu sakit untuk bisa meminum mutivitamin. Kita seolah didorong untuk meminumnya demi mempertahankan atau meningkatkan kesehatan seolah inilah jimat menangkal penyakit terutama Covid yang terus didengung-dengungkan selama pandemi.

Saat saya membaca tweet-tweet promosi multivitamin itu, saya rasanya menangkap pesan bahwa multivitamin itu pengganti makanan yang bergizi. Atau bahkan bisa memberikan manfaat lebih banyak dari semua makanan segar yang disediakan alam.

Karena itu saya berpandangan jika kita kekurangan salah satu vitamin, bisa jadi ada yang salah dengan asupan sehari-hari kita.

Bisa jadi itu karena kurangnya variasi makanan kita, bukan karena tak mengonsumsi multivitamin yang dibanderol ratusan ribu rupiah!

Misalnya saat ini ada kecenderungan orang untuk meminum vitamin C dosis tinggi sehari demi mencegah Covid atau untuk mengobatinya. Demikian juga vitamin D, yang menurut orang bisa dikonsumsi jika kita tak punya waktu berjemur di sinar matahari. Haha, sungguh ironis sih karena kita itu hidup di daerah tropis. Begitu sibuknya kah sampai tak ada waktu berjemur di luar rumah?

Pola pikir yang menyederhanakan ini relatif berbahaya bagi kesehatan. Karena tubuh ini meski katanya didiagnosis kekurangan vitamin C misalnya, juga membutuhkan asupan vitamin dan zat mineral lain agar metabolisme dan penyerapan vitamin C itu berlangsung optimal.

Kecenderungan berpikir secara terpisah-pisah ini sangat ‘lucu’ sekaligus tragis karena sel-sel, jaringan-jaringan, dan organ-organ dalam tubuh manusia sendiri terkait satu sama lain. Kita berpikir bahwa tubuh bisa dipreteli layaknya suku cadang mobil. Kalau ban pecah, ya sudah itu artinya perbaiki ban saja. Setir tidak perlu diurus.

Kita lupa bahwa tubuh manusia adalah sebuah organisme yang membutuhkan tidak cuma satu zat gizi tertentu. Dan jangan lupa bahwa zat gizi apapun jika dosisnya dalam tubuh terlalu banyak atau sedikit juga bakal memicu munculnya penyakit. Karena pada hakikatnya, definisi “sakit” ialah saat seorang manusia mengalami ketidakseimbangan. Dan jor-joran mengonsumsi multivitamin itu menurut saya juga salah satu tindakan yang arogan dari manusia yang sok tahu dengan mekanisme kerja tubuhnya.

Alih-alih memperbanyak konsumsi buah dan sayur yang segar, orang memilih beli vitamin C dosis tinggi saat didera flu. Saat sembelit, orang tidak memperbanyak konsumsi serat dalam buah dan sayur tapi malah pergi ke toko untuk mendapatkan sumplemen serat dalam sachet plastik yang konon kandungan serat pangannya bisa melancarkan pencernaan.

Apakah itu salah? Tidak sepenuhnya kok. Boleh saja memenuhi kebutuhan vitamin dengan konsumsi multivitamin tapi selengkap-lengkapnya multivitamin kita, tidak akan bisa menandingi kekayaan kandungan vitamin dan mineral dalam sayur mayur dan buah-buahan segar.

Misalnya saat alami sariawan yang diduga karena kekurangan vitamin C, lalu kita makan suplemen vitamin C, ya kita cuma dapat vitamin C. Tapi saat seseorang memutuskan memakan pepaya atau jeruk untuk memenuhi kebutuhan vitamin C itu, ia juga tak cuma mendapatkan asupan vitamin C tapi juga berbagai senyawa dan zat gizi lainnya yang bisa membuat tubuh lebih sehat.

Saat ini juga masyarakat saking paranoidnya membeli secara sembarangan suplemen-suplemen multivitamin apapun yang menurut mereka bagus untuk tubuh tanpa berkonsultasi ke dokter.

Kenapa mesti bertanya ke dokter? Karena kita memiliki batas konsumsi maksimal yang jika dilanggara akan ada konsekuensinya terhadap kesehatan.

Dan yang sering membuat saya kurang sreg lagi dengan multivitamin yang terlalu dipertuhankan ini ialah seolah dengan konsumsi multivitamin, kita mendapatkan surat izin untuk ugal-ugalan dalam makan dan minum. Contohnya, begitu minum multivitamin, kita merasa lebih kuat lalu mengabaikan jam tidur di malam hari. Begitu minum multivitamin, kita merasa berhak untuk makan makanan yang tinggi kandungan lemak, gula, garam dan zat-zat pengawet dan aditif yang merugikan kesehatan. Ini semua ada di dalam makanan olahan dan makanan kemasan, minuman ringan dengan kadar gula yang bikin gila.

Kita juga harus mulai menerapkan cara pandang yang holistik atau menyeluruh untuk mengatasi semua masalah kesehatan kita. Jangan separuh-separuh.

Maksudnya, tidak ada satu faktor yang bisa berdiri sendiri membuat kita sehat. Ini banyak ditemui di tengah masyarakat. “Berjemur yuk, nanti sehat, kebal Covid” atau “minum rebusan daun ini yuk, nanti diabetes hilang.”

Pola pikir yang sepotong-sepotong dan memandang kesehatan dari cuilan-cuilan begini justru bisa membawa masalah baru. Dan inilah yang menjadi celah bagi mereka yang bermental dagang dan oportunis untuk mencari untung dari ketakutan dan kecemasan kita terkena penyakit.

Untuk mendapatkan asupan vitamin D yang cukup, misalnya, daripada dengan mudahnya membeli suplemen vitamin D yang dijual bebas, kita bisa berjemur dan itu pun tak perlu terlalu lama juga. Jangan rakus juga. Hindari sinar matahari pukul 11 sampai 3 sore. Pukul 10 pagi masih bisa berjemur tapi 5-10 menit saja. Apalagi di saat cuaca cerah, bukan mendung.

Bagi yang bertubuh kurus dan lemaknya sedikit serta berkulit tipis seperti manula, suplemen vitamin D bisa diberikan agar defisiensi tak terjadi. Karena mereka yang masih memiliki lemak di bawah kulit yang cukup dan kulitnya masih cukup tebal, produksi vitamin D lebih mudah. Bagi manula, proses lebih sulit meski mereka sudah berjemur sekalipun. Itulah kenapa manula rawan menderita osteoporosis. (*/)

Pandemic Diary: Vaksinasi Bikin Keki

Jaga jarak hanya konsep semata

VAKSINASI memang digadang-gadang sebagai penggulung pandemi. Tapi dengan tingkat efikasi yang masih rendah plus mutasi virus yang memunculkan varian anyar yang seakan tiada habisnya, vaksinasi seolah cuma harapan semu.

Bahkan vaksinasi malah bisa jadi sumber kerumunan yang memicu penularan yang lebih luas lagi.

Tak percaya?

Lihat saja ini semua.

Klaster vaksinasi potensial

Sebenarnya mau memberi apresiasi tapi saya juga tak mau menutup mata bahwa ada yang harus diperbaiki.

Saya tak percaya bahwa vaksinasi bisa dilakukan dengan taat protokol kesehatan yang ketat. Dan memang begitulah adanya.

Tidak udahlah bicara soal masyarakat di Indonesia ujung berung. Di sini yang cuma sejam dari Jakarta saja sudah rendah edukasinya soal jaga jarak.

Kendor akibat bosan menunggu

Saya mendaftar vaksinasi di dekat rumah dan di kantor kecamatan ini kerumunan terjadi.

Saya datang 30 menit sebelum dibuka dan sudah panjang lho antreannya.

Kemudian yang menyebalkan adalah semua tak bisa jaga jarak. Petugas pun tidak paham konsep itu dan cuma koar-koar tanpa ambil tindakan tegas.

Proses pendaftaran juga primitif. Pakai fotokopi. Entah sampai kapan cara begini masih dipakai. Abad ke 21 dan Revolusi Industri 4.0 dan kita masih pakai fotokopi untuk birokrasi ke mana-mana. Saya mengutuk kekolotan bangsa ini soal itu. Adiksi fotokopi ini sungguh menjengkelkan. Sungguh!

Kenapa tak pakai registrasi via whatsapp? Dan kenapa tak disampaikan berapa kuotanya?

Di tengah mengantre, kami diberitahu: “Maaf bapak ibu yang tidak bisa menunggu lama, bisa besok ke sini lagi.”

Alangkah baiknya diumumkan sehari vaksinasi jumlah maksimal berapa orang sehingga bisa dicegah antrean yang tak perlu. Sungguh saya tak habis pikir!!!

Ibu-ibu penyerobot

Vaksinasi juga menguak sifat asli bangsa ini yang tak suka mengantre. Semua maunya didahulukan. Kesal rasanya dengan sikap barbar begitu.

Seperti ibu ibu ini. Dia mengantre di belakang saya dan karena saya berupaya jaga jarak dengan orang di depan, dia pikir itu celah untuk menyela antrean.

Makin murkanya saya lagi ialah saat mengantre gegara saya jaga jarak dari petugas, ia selalu mendahulukan yang merapat ke arahnya. Iya itu petugas resmi vaksinasi. Paham tidak sih soal jaga jarak?

Jajan di lokasi vaksinasi

Sembari menunggu antrean, muncullah pedagang oportunis dari kelapa muda sampai pecel. Tentu saja saat menawarkan dagangan dan melayani pembeli, masker turun. Haha.

Petugas vaksinasi tapi kok ikut jajan, ngobrol dan buka masker?

Yang membikin saya tambah geli geli kepengen nabok ialah saat seorang petugas pendaftaran rehat dan membeli es kelapa muda lalu menurunkan masker, minum dan mengobrol. Haha.

Kerumunan begini memang sudah susah diatur. Petugas tak berdaya. Bisanya koar-koar pakai TOA. Tak digubris.

Keluhan utama saya adalah tata cara dan alur vaksinasi yang tak jelas. Di sini jalur arus masuk dan keluar jadi satu dengan orang yang mengantre. Jadi amburadul sekali. Petugas selalu bilang jaga jarak dan jangan berkerumun tapi bagaimana bisa jika tidak dijelaskan alur yang jelas?!

Persyaratan juga membingungkan. Ada warga datang dengan bawa salinan KK saja dan tak diperbolehkan tanpa ada salinan KTP. Padahal di pengumuman ada garis miring yang artinya ya bisa pilih salah satu salinan.

Nggak heranlah kalau ternyata memang terbawah dan terparah di peringkat ketahanan terhadap covid.
Speechless…😬

Di titik ini, saya ingin menjerit: “Kenapa sih Tuhan aku dilahirkan di sini?!!!”

Di hari kedua pasca vaksinasi perdana, saya tak merasakan demam atau pegal berlebihan di lengan kiri bekas tusukan jarum suntik.

Baru saya perhatikan memang muncul tanda lebam seperti habis dipukul.

Anehnya saya sendiri masih terus berolahraga tadi padahal kata teman, baiknya habis vaksinasi istirahat. Tapi bagaimana ya? Kalau kebanyakan istirahat juga badan jadi lesu.

Yang membuat saya tak habis pikir ialah saat menjelajahi akun Instagram pemerintah kecamatan tadi. Lho kok yang diunggah foto-foto saat antrean belum membludak dan menggila? Haha.

Sebelum antrean membludagh…
Jelas ini bukan antrean pukul 8 yang saya saksikan tadi..
Terlihat terkendali tapi cuma ilusi..

Saya tidak berkata pemerintah kecamatan tadi mencoba menipu publik tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa mereka memilih untuk menunjukkan versi kebenaran atau fakta yang menguntungkan mereka.

Dan dari sisi saya sebagai warga sasaran vaksin, saya juga berhak menjelaskan apa yang saya alami dan apa yang bisa diperbaiki lagi dari itu semua. (*/)

%d bloggers like this: