Category Archives: health

Dari Lidah Turun ke Hati

IMG_9382

Semasa kecil saya terbilang anak yang susah makan sehat. Saya pembenci sayur mayur. Buah pun hanya saya makan sesekali. Tidak rutin setiap hari apalagi setiap makan. Kebanyakan asupan saya cuma makanan dengan kandungan makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Untuk mikronutrien (vitamin dan mineral), saya sangat berkekurangan. Dan saya merasa tidak ada makanan mengandung sayur yang enak untuk ditelan.

 

Nenek saya mengetahui masalah ini dan tentu merasa prihatin karena kecenderungan susah makan dan memilih-milih makanan yang saya derita. Akibatnya kondisi kesehatan dan tumbuh kembang saya kurang pesat. Beliau kerap memberikan saya minuman-minuman yang rasanya aneh, hambar dan kadang pahitnya tidak tertahankan.

 

Karena saya saat itu masih belum paham manfaat minuman-minuman yang dibuat nenek, saya kerap membuang dan sengaja tidak menghabiskannya. Padahal nenek sudah membuatkan dengan susah payah. Beliau ternyata membuat semua minuman alami tersebut dengan memarut lalu memerasnya sendiri dengan kedua tangannya. Dan beliau tidak memberikan tambahan gula atau pemanis seperti madu yang terlalu banyak sehingga saya sungguh-sungguh membenci rasanya.

 

Bahan-bahan natural yang kerap dipakai nenek saya untuk membuat minuman ini biasanya apotek hidup yang beliau tanam sendiri di halaman belakang rumah. Ada kunir, jahe, lalu temulawak. Bahan yang disebut terakhir ini dan kemudian hari saya ketahui sangat berguna dalam menjaga dan memulihkan kesehatan.

 

Saat saya duduk di tingkat 3 di kampus, saya pernah menderita demam dan rasa lemas serta sakit di ulu hati yang begitu hebat. Muka saya pucat dan tidak sanggup bergerak banyak. Saya merasa sangat mudah lelah.

 

Karena tidak kuat lagi, saya pulang ke rumah dengan kepayahan dan setelah memeriksakan diri ke rumah sakit, diagnosisnya bukan tifoid atau demam berdarah seperti yang saya bayangkan tetapi hepatitis C. Saya ingat lagi, memang saat itu saya tinggal di lingkungan yang kurang higienis sehingga saat satu orang terkena hepatitis, kami semua menjadi korban. Penularannya yang demikian cepat dan tidak terduga membuat kami sempat syok karena mirip sebuah wabah skala kecil di daerah kos yang saya tinggali saat itu.

 

Pengobatan secara medis pun saya jalani agar kesembuhan tercapai. Bola mata dan kulit saya menguning. Saya hanya bisa berbaring beberapa pekan. Benar-benar harus memulihkan diri total. Tidak mengerjakan dan memikirkan apapun karena percuma jika badan istirahat tetapi pikiran terus bekerja keras. Karenanya, saya hanya menuruti nasehat untuk benar-benar melepaskan dulu beban tugas kuliah sampai benar-benar pulih.

 

Mengetahui saya sakit hepatitis, nenek saya pun membuatkan jamu temulawak. Karena kali ini saya sakit lumayan parah, saya tidak bisa tidak menuruti nasihatnya untuk meneguk sampai habis jamu yang ia buatkan untuk saya.

 

“Minum sampai habis ya, ini kan bagus buat yang lagi sakit kuning. Biar cepat sembuh,” saran nenek saya dengan lembut dan sabar. Ia tahu saya tidak begitu suka dengan minuman itu. Toh ia tetap membuatkan saya dan menunggui saya meminumnya sampai habis.

 

Beberapa pekan berlalu dan nenek saya masih dengan tekun memberikan saya minuman temulawak alami tadi setiap harinya. Dari pertama saya begitu membenci baunya yang menyengat, berangsur-angsur saya memahami bahwa jika saya mau segera sembuh dan sehat seperti sediakala, saya harus menikmati proses ini dulu, termasuk meminum jamu yang tidak saya sukai awalnya.

 

Akhirnya setelah saya kembali memeriksakan diri ke rumah sakit dan laboratorium, saya dinyatakan sembuh dari hepatitis juga. Warna bola mata dan kulit saya kembali normal dan tidak lagi menguning.

 

Jika ingat saat-saat itu, saya patut berterima kasih pada nenek saya yang dengan setia menggunakan bahan alami untuk menunjang proses pemulihan liver saya yang meradang terkena virus hepatitis. Temulawak memang sudah terbukti sejak lama memelihara fungsi hati (liver) sebagai organ penting tubuh, mengurangi keluhan kesehatan yang lazim ditemui dalam masayarakat modern seperti masalah pencernaan (kita tahu semua bahwa pola makan dan bahan makanan orang masa kini sangat tidak sehat)

 

Setelah saya bekerja dan tinggal di ibukota sejak 7 tahun lalu, rasanya hampir mustahil saya bisa meracik minuman temulawak alami seperti yang pernah dibuatkan nenek saya itu sesering yang saya mau. Padahal cara hidup saya di Jakarta sangat rentan stres, bahkan lebih berat daripada cara hidup saya dulu saat masih mahasiswa. Kadang sebagai copywriter dan penulis, saya harus begadang untuk mengerjakan draft tulisan yang sudah dekat ke tenggat waktu. Cara kerja seperti ini sudah barang tentu sangat rawan kelelahan dan membebani kerja hati.

 

Karena saya sudah pernah merasakan betapa tidak enaknya sakit, kini saya lebih sadar kesehatan dengan menjaga pola makan dan makanan yang masuk, pola istirahat, dan segala hal yang berkaitan dengan kesehatan secara umum. Saya yang dulu benci sayur dan buah segar dan sangat pilih-pilih makanan dan jarang sekali berolahraga kini mencoba memperbaiki diri dengan membiasakan mengkonsumsi buah dan sayur segar setiap hari. Dan untuk olahraga, saya memilih yoga, yang selain meningkatkan kekuatan dan kelenturan tubuh, juga memiliki khasiat meredakan stress yang ampuh. Ini semua menjadi perisai yang ampuh bagi saya dalam melindungi diri dari tekanan stress yang datang bertubi-tubi. Selain itu, saya memiliki teman-teman yang jauh lebih banyak sekarang sehingga saya merasa lebih bahagia dan bisa berbagi keluh kesah apalagi saya yakin stress dan sakit liver bukan Cuma karena dipicu oleh faktor-faktor konkret dan bisa dilihat tetapi juga hubungan yang lebih halus dan sulit diukur seperti eratnya pertemanan dan kekeluargaan.

 

Setelah nenek saya berpulang beberapa tahun lalu, saya masih merindukan minuman-minuman yang ia racik itu. Dan yang pasti, saya juga sangat merindukan minuman temulawaknya yang mampu mempertahankan kesehatan liver saya di tengah hiruk pikuk lingkungan perkotaan yang padat dan penuh stress.

 

Akan tetapi, ternyata untuk bisa menikmati lagi khasiat kesehatan minuman temulawak khas nenek saya tersebut, saya tidak perlu bersusah payah menanam rimpang temulawak sendiri di halaman atau pot dan memeras airnya tiap hari seperti yang nenek saya dahulu lakukan. Kini ada Herbadrink Sari Temulawak yang dikemas secara praktis dalam kantung rapat dan higienis. Meski dikemas secara modern, produk ini tidak menggunakan bahan pengawet yang membahayakan kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Harganya juga relatif terjangkau. Untuk setiap dus yang isinya 5 sachet, harganya sekitar Rp10.000. Jumlah ini sudah cukup untuk bekal seminggu.

 

Untuk menikmati manfaat kesehatan dari temulawak secara praktis kapan saja dan di mana saja, saya tinggal simpan dan bawa beberapa sachet Herbadrink Sari Temulawak ini. Saya tidak perlu repot merebus air karena untuk menyeduhnya saya juga bisa menggunakan air suhu ruangan. Bahkan air dingin pun bisa melarutkan bubuk Herbadrink ini dengan baik. Namun, karena saya lebih suka dengan air suhu ruangan atau air hangat, saya lebih sering meminumnya hangat.

 

Bagi saya, menikmati minuman Herbadrink Sari Temulawak tidak hanya memberikan khasiat perawatan kesehatan liver agar tetap prima di tengah terpaan stres dalam padatnya jadwal pekerjaan tetapi juga memberikan saya pelipur rindu terhadap almarhumah nenek saya. Karena saya percaya lidah mampu menyimpan sekaligus membangkitkan ingatan-ingatan yang tak ternilai harganya dari masa lalu manusia. (*)

Leave a comment

Filed under health, writing

Yogi Harus Berani Lawan Gravitasi

17795749_10210578405393721_731692790818310210_n

TUJUH tahun lalu tidak terbersit dalam benak saya untuk mempelajari, menekuni apalagi membagikan nilai dan pelajaran positif yoga ke banyak orang. Saya justru lebih tertarik pada biola. Untuk itu saya rela merogoh kocek untuk melego sebuah biola murah untuk pemula yang saya setiap akhir pekan mainkan di Taman Suropati, Menteng.

Tiga bulan berlalu. Saya terus belajar biola tetapi tak kunjung ada kemajuan berarti pula. Sementara itu, teman-teman selevel saya yang masih duduk di bangku SD sudah melesat. Mereka bermain lebih lincah, terampil, dan memukau.

Mulanya saya tak bergeming. Saya terus berlatih, dengan harapan akan terjadi perubahan suatu hari. Saya akan bisa menggesek lebih piawai, dan bisa menempatkan jari jemari dengan lebih lincah di papan senar yang sempit dan panjang itu.

Saya terus berusaha. Tanpa putus asa.

Hingga suatu pagi, saya datang lebih awal sebelum pelajaran biola saya dimulai. Sembari menunggu, saya kitari taman tersebut. Karena ada sebuah kerumunan yang tidak lazim, saya pun tertarik. Seakan ada daya tarik atau gravitasi yang menghisap saya untuk mendekat dan rekat.

Sekelompok orang sedang berlatih yoga. Jumlah mereka tak banyak. Hanya empat atau lima. Di lain hari kadang hanya dua, yaitu saya dan gurunya.

Saya sendiri merasa hati ini makin lekat dengan yoga sampai satu ketika saya putuskan untuk meninggalkan biola saya di kamar (dan masih menyimpannya di pojok kamar hingga detik ini) dan pergi ke Taman Suropati di Minggu pagi dengan satu niat: berlatih yoga saja. Saya sudah bisa legawa menerima fakta bahwa biola bukan bakat terbaik saya. Yoga terasa lebih masuk akal dan ‘klik’ untuk saya. Saya tidak memakai logika untuk memutuskan hal ini. Cuma mengandalkan naluri.

Saya sadar bahwa yoga bukanlah olahraga (dan olah pikiran dan jiwa juga sebetulnya) yang populer di antara kaum pria. Apalagi di tahun 2010, saat para pelaku yoga pria belum sebanyak sekarang. Yoga masih diasosiasikan sebagai olahraga yang feminin. Para pelakunya kebanyakan ibu-ibu paruh baya yang ingin menyulap badan menjadi langsing; bukan pria-pria yang ingin menyehatkan diri dengan cara lebih alami dan hanya memakai berat tubuh. Dan meskipun masih ada, asumsi  semacam ini makin luntur sekarang.

Keputusan menekuni yoga mirip perjuangan melawan gravitasi yang menarik mayoritas orang untuk berpikir seragam dan penuh prasangka, tanpa mau mencoba sebelum memberi cap, terhadap hal-hal apapun di sekitar kita.

Tiba-tiba saya sadar bahwa untuk menjadi sebuah sumber gravitasi baru, kita perlu pertama-tama memiliki keberanian untuk melawan gravitasi lama yang menjadi status quo.

Dan yoga memberikan saya sebuah celah peluang untuk menilik lebih jauh ke dalam diri saya sehingga saya memahami potensi diri daripada menuruti keinginan yang sering belum sesuai dengan realitas. Sejak itu, saya mendedikasikan diri untuk yoga dan komunitas yang telah membesarkan saya hingga seperti sekarang.

12733599_10206965683397929_2548702930890611255_n.jpg

Soal menentang daya tarik bumi, dalam yoga, saya bisa menemukan filosofinya. Kita bisa jumpai banyak postur yang masuk dalam jenis inversion (posisi badan terbalik). Misalnya pincha mayurasana (pose merak) seperti pose dalam foto di atas. Pose-pose semacam ini konon membuat darah lebih terpacu deras ke otak, sehingga aliran darah otak lebih lancar, daya pikir lebih tajam, lebih bersemangat sebelum memulai aktivitas yang padat. Ditambah dengan kegemaran membaca, yoga seakan menjadi pelengkap yang harmonis untuk memperkaya intelektualitas, daya pikir dan wawasan mengenai berbagai hal dalam kehidupan.

Postur-postur inversion mengajarkan kita keberanian untuk berdiri tegak saat memiliki sebuah opini, pemikiran, pandangan yang dianggap orang-orang di sekitar kita kurang lazim, kurang populer, dan kurang keren tetapi kita yakini sebagai sesuatu yang baik dan positif bagi perkembangan diri kita, untuk kemudian memberikan pengaruh positif itu pada sebanyak mungkin orang di sekitar kita.

14519787_10208858301712204_7095540187430850385_n.jpg

Yoga melalui postur-postur serta filosofi di baliknya juga mengajarkan pada saya bagaimana hal-hal yang tampaknya aneh sebetulnya memiliki manfaat di baliknya. Gerakan-gerakan yang menurut banyak orang lucu, janggal, konyol, atau “kurang kerjaan” karena dianggap di luar kewajaran ternyata menyimpan manfaat kesehatan yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Ambil contoh postur satu kaki di belakang kepala di atas, yang terlepas dari keanehannya, mampu melonggarkan dan meregangkan sendi pinggul yang kaku setelah seharian bekerja, duduk selama minimal 8 jam di kantor. Perlu diketahui bahwa area pinggul menyimpan banyak tekanan dan beban dalam posisi duduk seperti ini. Jadi, bukan hal aneh lagi jika para pekerja kantoran banyak yang berpinggul kaku. Bahkan mereka yang masih muda sekalipun!

Dan setelah saya belajar yoga, saya simpulkan bahwa keanehan dalam diri kita justru bisa menjadi kelebihan yang berperan sebagai gravitasi yang menarik orang-orang dengan visi dan pemikiran yang sama untuk berkumpul dan mengadakan sebuah gerakan sosial yang besar.

15492334_10209604009754439_6707191168054862567_n.jpg

Kini saya masih aktif berkegiatan di Komunitas Yoga Gembira, Taman Suropati, Menteng, yang menjadi tempat saya mengenal yoga pertama kali tujuh tahun lalu. Dan untuk menyebarkan kampanye hidup sehat melalui yoga di ruang terbuka hijau di area perkotaan, saya juga dituntut berperan sebagai penanggung jawab media sosial dalam komunitas. (*)

5 Comments

Filed under health, yoga

Mengapa Yoga Olahraga Ideal untuk Penulis

Salah satu olahraga (dan jiwa) yang ideal bagi para penulis ialah yoga. Ambil contoh pengarang termasyhur J. D. Salinger yang pernah melakukan kriya yoga. Salinger konon juga melakukan latihan pernafasan (pranayama) dua menit sehari dan bereksperimen dengan Ayurveda. Salinger mengenal yoga dari ajaran Swami Vivekananda, seorang sosok agamawan dan pemikir ulung dari Kalkutta yang mempopulerkan Vedanta dan yoga di Barat di akhir abad ke-19. Menurut Vivekananda, yoga bermakna satu:”Kesadaran akan Tuhan.”

Namun, yoga juga tidak hanya mengenai spiritualisme. Ia juga menyentuh aspek fisik dan keseimbangan jiwa raga agar manusia dapat berkarya dan berkegiatan dengan lebih baik. Mengapa yoga merupakan olahraga ideal untuk penulis? Ada delapan (8) alasan untuk menjelaskan argumen itu. Selamat menyimak!

ATASI SAKIT OTOT. Pose-pose yoga atau asana yoga memiliki dampak positif bagi kesehatan penulis yang sibuk di meja kerjanya. Sebagaimana kita ketahui, duduk berjam-jam membuat metabolisme tubuh berubah, memicu kegemukan, penyakit kardiovaskuler dan kondisi kesehatan menurun. Keluhan-keluhan ringan seperti sakit leher, bahu dan punggung juga bisa diatasi dengan menggunakan asana yoga yang tepat. Pose downward-facing dog, misalnya, bisa meregangkan kembali hamstring yang kaku akibat duduk. Jika dibiarkan, otot yang kaku itu akan memicu gangguan kesehatan yang lebih serius, membuat tubuh lebih kaku dan kurang bugar sehingga produktivitas menurun akibat sakit berkepanjangan.

ATASI SAKIT PUNGGUNG. Melakukan sejumlah asana yoga akan membuat sakit punggung Anda berkurang, bahkan menghilang. Sakit ini bisa meningkat intensitasnya hingga menghalangi proses kreatif menulis Anda.

CEGAH SINDROM META KARPAL. Penulis dirundung kecemasan terkena sindrom meta karpal (carpal tunnel syndrome) yang dipicu oleh aktivitas mengetik selama berjam-jam setiap hari. Studi menunjukkan bahwa mereka yang bekerja dengan mesin kasir, menjahit dengan mesin, menghabiskan waktu lama bekerja dengan mesin di pabrik manufaktur memiliki tingkat kerawanan menderita sindrom ini. Dan gerakan yoga sederhana bisa mengatasi risiko ini.

MENINGKATKAN ENERGI. Saat merasa lelah dan kurang berenergi, penulis bisa menggunakan asana yoga tertentu seperti berdiri dengan kepala di bawah (headstand) untuk meningkatkan energi dan semangat menulis. Konon novelis Dan Brown melakukannya. Sebuah studi tahun 2006 menemukan bahwa mereka yang ikut serta dalam latihan hatha yoga (yoga yang berdasarkan gerakan fisik) selama 6 bulan mengalami peningkatan signifikan dalam vitalitas, energi dan pencegahan kelelahan lebih baik daripada mereka yang hanya berolahraga jalan kaki.

MENJERNIHKAN PIKIRAN. Menurut sebuah studi, yoga juga dapat membantu mendorong pikiran lebih jernih sebelum menulis. Sekelompok orang yang berpartisipasi dalam kelas yoga 60 menit seminggu dilaporkan mengalami perbaikan dalam tingkat kejernihan pikiran, energi dan kepercayaan diri.

MENGENDALIKAN STRES, CEMAS DAN DEPRESI. Stres dalam jumlah moderat diperlukan agar kita bisa menyelesaikan pekerjaan atau tugas. Tetapi begitu kita merasa terlalu tertekan dan stres mengendalikan kita, saat itulah stres bisa membahayakan kesehatan jiwa raga. Kita semua bisa mengendalikan (bukan menghilangkan sama sekali, karena itu tidak mungkin) dalam kehidupan kita. Bagi banyak penulis, yoga bisa melakukan hal ini dengan efektif. Dalam sebuah studi tahun 2011, peneliti menyimpulkan bahwa latihan yoga rutin mampu mengurangi kecemasan, stres dan depresi serta meningkatkan kualitas hidup seseorang dalam jangka panjang. Sebuah studi lain menemukan bahwa para perempuan yang menderita tekanan mental yang mengikuti kelas yoga selama 3 bulan mengalami penurunan tingkat stres dan depresi dan peningkatan kesehatan jiwa raga. Disimpulkan juga dalam penelitian lain bahwa yoga dapat membantu mengatasi depresi, sehingga jika Anda merasa sedih setelah mengalami kejadian yang kurang menyenangkan dalam hidup, lakukan beberapa asana yoga, ambil napas lebih dalam dan amatilah jika Anda merasakan pikiran Anda menjadi lebih jernih dan rileks.

MELEJITKAN KREATIVITAS DAN MENYINGKIRKAN HAMBATAN MENULIS. Writer’s block, begitu istilahnya, kerap dikambinghitamkan jika penulis tidak mampu menyelesaikan karya sesuai jadwal yang disepakati. Jika dilakukan dengan benar dan aman serta di bawah pengawasan pihak yang berpengalaman, latihan yoga akan memberikan efek meditatif yang pada gilirannya melejitkan energi kreatif dalam diri penulis yang beryoga. Para peneliti yakin bahwa bila digabungkan dengan pernapasan yang lebih tenang, dalam dan rileks serta gerakan tubuh yang lembut, yoga dapat membuat ide-ide kreatif itu membuncah kembali. Yoga dan meditasi memberikan akses pada kita ke dalam relung-relung di dalam jiwa dan kesadaran yang memicu kemunculan ide kreatif. Sejumlah studi membuktikan bahwa para praktisi yoga dan pelaku meditasi memiliki kemampuan untuk memperlambat gelombang otak mereka dalam hitungan menit (mencapai tingkatan “alfa” dan bahkan ke pola gelombang “theta” yang berkaitan dengan pemikiran kreatif). Katakan selamat tinggal pada writer’s block!

MENGAJARKAN MANFAAT KONSISTENSI. Konsistensi dalam yoga juga mengajarkan pada kita betapa berharganya konsistensi dalam menulis juga. Keduanya sangat berkaitan. Untuk mendapatkan manfaat dari keduanya, lakukan secara teratur setiap hari. Jadikan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan Anda dan manfaat maksimal dari yoga dan menulis itu akan datang dengan sendirinya.

Delapan alasan tadi mungkin belum mencakup semua manfaat yoga bagi para penulis. Adakah alasan lain mengapa yoga menjadi pilihan olahraga bagi penulis? Bagikan di kotak komentar di bawah tulisan ini.

Leave a comment

Filed under health, yoga

Mengenal Jaringan Fascia

800px-Bartolomeo_Passerotti_-_The_Butcher's_Shop_-_WGA17071Dalam beberapa kelas yoga, istilah “fascia” kadang disebut oleh pengajar. Secara sederhana, fascia merupakan sebuah lapisan atau selubung tipis yang berwujud jaringan mirip serat yang menyelimuti sebuah otot atau organ tubuh lainnya. Fascia bisa ditemukan dalam badan manusia dan hewan. Menurut penjelasan Wikipedia, fascia tersusun sebagian besar dari zat kolagen yang terbentuk di bawah lapisan kulit kita. Fungsi fascia sendiri ialah untuk merekatkan, menstabilkan, membungkus dan memisahkan otot-otot dan organ dalam tubuh lainnya.

Dr. Robert Schleip, seorang ahli bedah dari Universitas Ulm Jerman, menggunakan kamera khusus dan meneliti fascia dengan lebih mendalam. Sebelumnya, fascia hanya dikenal sebagai jaringan pembungkus organ dan otot tubuh, tetapi baru-baru ini fascia mendapatkan perhatian lebih banyak dari sejumlah kalangan. Apa pasal? Karena fascia juga memiliki potensi menjadi sumber sakit di tubuh kita.

Untuk mengetahui bagaimana bentuk dan warna fascia, Anda tidak perlu mengunjungi ruang operasi di rumah sakit terdekat. Cukup lihat kios-kios penjual daging sapi, kerbau atau kambing (atau masjid terdekat, karena sekarang Idul Adha). Tukang daging biasanya membuang semacam lapisan putih yang menyelimuti daging sebelum dijual pada Anda. Itulah yang namanya fascia.

Fascia, menurut penuturan Schleip, memiliki peran yang penting dalam transmisi kekuatan otot dan ia juga berguna sebagai organ sensorik. Bahka sebenarnya fascia adalah organ sensorik yang paling kaya dan vital dalam penerimaan rangsangan. Sehingga jika ada gangguan pada fascia, disfungsi dalam tubuh bisa terjadi atau rasa sakit kronis bisa muncul.

Saat dilepaskan dari tubuh, fascia diketahui (melalui uji laboratorium) masih memiliki kemampuan untuk berkontraksi (menegang) dan mengendur secara independen.

Bagi para peneliti dari Universitas Ulm Jerman tersebut, disimpulkan bahwa rasa sakit dan ketegangan bisa muncul dari jaringan fascia.

Fascia menyelimuti semua otot dan organ kita dan berpartisipasi dalam semua gerakan tubuh kita. Jaringan ini juga mengandung syaraf dan pembuluh darah. Di samping itu, cairan juga mengalir dan beredar dalam fascia sehingga memungkinkannya bekerja bak pompa hidrolik yang halus.

Fascia bisa membentuk adhesi atau kerekatan, mengalami pelubangan (perforasi), atau ketegangan yang kompleks.

“Itulah yang kami ingin teliti, mengenai bagaimana fascia sesungguhnya bekerja,” ungkap Schleip. Ia dan tim penelitinya ingin menemukan cara bagaiman membuat fascia yang tegang menjadi kembali rileks.

Meski letak fascia di bawah kulit, ia bisa dimanipulasi dari luar. Caranya dengan menggunakan Metode Rolfing. Metode yang melibatkan intervensi pada fascia ini biasa dipakai untuk mengatasi keluhan sakit di leher dan bahu.

Menurut Schleip yang berasal dari Divisi Neurofisiologi Universitas Ulm Jerman itu, metode ini juga bermanfaat membantu penyembuhan gangguan dalam sistem otot dan rangka tubuh seperti pengerasan jaringan dan sensasi subjektif (misalnya rasa pegal dan kaku).

Para praktisi metode Rolfing menggunakan teknik-teknik pemijatan yang menyasar jaringan fascia agar kembali ke kondisi sediakala.

(sumber foto: Wikimedia Commons)

Leave a comment

Filed under health