Kenapa Makin Malas Mengonsumsi Berita

blur bokeh business connection

Photo by Markus Spiske temporausch.com on Pexels.com

Pernah saya menerima hadiah televisi, saya terima tetapi saya berikan pada anggota keluarga. Bukan karena sok gaya. Cuma buat apa? Semua berita bisa diakses lebih cepat melalui internet. Dan saya juga ingin menghindari menonton berita dan konten televisi yang destruktif bagi pikiran dan jiwa.

Sebagai pelaku industri konten, saya tahu sedikit banyak betapa murahnya konten sekarang diproduksi. Hampir semua situs berita bahkan media cetak dan televisi menjelma sebagai pabrik konten yang terus berlomba dalam meraup laba. Idealisme tersisih.

Dari pengalaman saya memproduksi konten daring dan buku, jelas memproduksi konten daring seperti artikel blog seperti yang Anda baca sekarang adalah amat murah. Tinggal pakai modal waktu, gawai, koneksi internet dan klik ‘publish’.

Membuat buku, sebaliknya, sangat panjang dan melelahkan prosesnya. Satu buku saja bisa hampir setahun mengerjakannya sampai tuntas benar, dari perumusan ide awal, penggodokan, penyusunan anggaran dan tetek bengek, wawancara, transkripsi, penyuntingan‎, fact checking, percetakan, penerbitan, sampai promosi dan penjualan. Itu garis besarnya saja. Belum hal-hal lain yang lebih rinci.

Menjelang perhelatan politik seperti sekarang, saya juga makin malas baca berita atau mengunjungi situs berita daring. Semuanya punya kepentingan. Bahkan yang terlihat idealis dulunya sekalipun sudah mulai ditunggangi. Kesal memang rasanya.

Kadang-kadang alih-alih membaca berita murahan dengan judul clickbait, saya membaca komentar-komentar di bawahnya. Ada yang berkata,”Berita nggak mutu. Gini aja jadi berita!” Yang lain menimpali:”Ya kan konten ginian yang didemenin masyarakat.” Konteksnya adalah video anak muda yang mempreteli kendaraan roda dua pacarnya di depan polisi gara-gara tak punya surat-surat. Uniknya ada netizen ‎waras yang berkomentar,”Bukan demen, tapi banyakan kontennya emang ga mutu.” Lalu yang satunya menyampaikan pendapat:”Ya kalau nggak mutu jangan diklik. Itu satu-satunya cara supaya situs-situs itu nggak bikin konten nggak mutu.”

Saya sepakat.

Tapi netizen edan lain berkata,”Ya namanya manusia, penasaran lah liat judul aneh, merangsang, sinting!”

Jawaban itu menyiratkan ketakutan yang bernama FOMO, Fear of Missing Out. Ketakutan jika dianggap ketinggalan, begitu lugasnya. Takut dianggap dungu saat ditanya rekan kerja saat berbicara soal topik terbaru atau video viral terkini atau foto terkeren selebgram di saat berlibur.

Saya suka dengan kutipan dari fs.blog ini:
“Apa yang kau baca di dunia maya saat ini tidak ada gunanya. Semua itu tidak berguna bagi hidupmu. Tidak juga bisa membantumu membuat keputusan yang lebih baik. Tak juga akan membantumu memahami dunia. Tidak pula membantumu mengembangkan hubungan yang mendalam dan bermakna dengan orang-orang di sekitar‎mu. Yang cuma bisa terjadi ialah perubahan suasana hati dan mungkin perilaku.”

Saya menganalogikan mengonsumsi berita saat ini sebagai seorang penikmat nasi padang yang tanpa sadar dikurung di restoran padang. Ia terus melahap nasi padang siang malam sampai tidak tahu ada jenis makanan lain yang tak kalah lezat di dunia ini.‎ Ia merasa sudah menjelajahi dunia kuliner hanya dengan mencicipi semua yang ada di daftar menu restoran.

Satu-satunya cara bisa keluar dari lingkaran setan ini ialah dengan membaca buku-buku yang ditulis oleh mereka yang terbukti memberikan kontribusi pada peradaban. Bukan artikel-artikel clickbait atau konten media sosial yang viral ‎bukan main itu. Atau lakukan hal-hal yang signifikan bagi perkembangan diri kita di dunia nyata.

Karena kualitas ‎hidup kita ditentukan sedikit banyak oleh cara kita menghabiskan waktu luang. (*/)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone.

Tanggulangi Peredaran Konten Negatif dengan Cara Ini

Konten bernuansa negatif seakan tiada habisnya diciptakan dan diedarkan di jagad maya. Biasanya konten negatif dikeluarkan dengan agenda tertentu. Misalnya, di tahun politik ini (di Indonesia setiap tahun terasa sebagai tahun politik) rasanya konten negatif bertema pemilihan presiden akan merebak. Konten politik ternyata tak memonopoli, karena konten hoax soal kesehatan juga turut meramaikan kesemerawutan dunia maya kita.

Yang terbaru adalah beredarnya berita palsu mengenai dipukulinya seorang pembicara perempuan setelah berceramah soal sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diangkat lagi menjelang peringatan G30S/ PKI. Di masa rezim Joko Widodo, isu PKI kerap sekali dipakai lawan-lawan politik. Diduga karena Joko Widodo dibekingi oleh PDI Perjuangan yang didirikan Megawati Soekarnoputri. Di masa Orde Lama tatkala ayah Megawati berkuasa, kaum Nasionalis memang dianggap dekat dengan para penyokong Komunisme. Paham Nasakom (nasionalis, agama, komunis) yang diangkat Presiden Soekarno dipandang memberi celah bagi kaum komunis untuk melakukan kudeta di negeri ini. Selanjutnya Anda bisa baca di tempat lain.

Nah, berita soal pemukulan seorang perempuan berjilbab yang berceramah soal sejarah PKI di Bekasi itu kemudian diketahui sebagai kebohongan karena diketahui dari pelacakan foto yang menunjukkan bahwa foto tersebut berasal dari akun Instagram seorang perias Malaysia. Alih-alih dipukuli, wanita di foto itu sengaja dirias agar tampak babak belur dipukuli hingga matanya lebam dan bibirnya berdarah-darah. Padahal itu hanya makeup dengan bahan gelatine prosthetic.
Untuk menanggulangi sirkulasi konten tipu muslihat sejenis ini, ada caranya sendiri. Dan yang penting, siapa saja bisa melakukannya. Ini penting sebab menjadikan kita bisa lebih merasa terlibat dengan dunia maya yang setiap saat kita geluti.

Begini caranya:

  • Simpan hasil tangkapan layar (screenshot)
  • Laporkan ke pengaduan konten http://aduankonten.id/
  • Atau kirimkan hasil tangkapan layar tadi ke email aduankonten@mail.kominfo.go.id
  • Atau laporkan konten negatif itu ke nomor WhatsApp 08119224545

To Be a Good Entrepreneurship Reporter, Don’t Be an Entrepreneur

So here’s the rule of thumb for entrepreneurship and business reporters out there: Don’t be the person you want to interview and write about. In other words, don’t be an entrepreneur or business person. This piece of advice sounds a little bit counter-intuitive as I thought it’d be much easier to understand the subject matters by being in their shoes, seeing things the way these people do so I can write better about them and their companies.

It turns out I’m wrong…

Reporters need to stay away from being an entrepreneur themselves. They can’t be a top-notch reporter and a great entrepreneur at the very same time. They have to relinquish one of the two.

That’s probably the gist of Sarah Lacy’s statements. The founder of media company Pando.com was asked whether being an entrepreneur herself changed her way of writing as a tech reporter. As we all know, Lacy has worked for almost 15 years writing about the tech industry, the people and the whole dynamics in it. She answered it bluntly,”I’m a way worse reporter now…”

Asking hard questions to other entrepreneurs as an entrepreneur cum reporter is relatively easy, claimed Lacy. Yet, she stated that what bothered her to do her best job she always wanted is the OVEREMPATHY on the answers. “So particularly when it comes to things I’ve gone through…like having the ousted board member (she might be reminded of Mike Arrington ousted from TechCrunch or?) or even like a cash crunch or hiring a sales guy that didn’t work out[…]”

She further said she didn’t write as much as she used to and she felt for these pitiful entrepreneurs. “Because I see every side to it and I feel for them,”explained the mother of two.

Thank God, I’m not an entrepreneur because if I have to be one, I would certainly lose my best job ever. And I would never trade being a writer to any job on earth. This is very much the best. At least for now.

The Success Catalyst of Journalism Businesses

At Galeri Nasional

Mark Briggs of Poynter Institute claims his course would tell you – aspiring entrepreneurial journalists – what to do before plunging to the business world. After the huge success of BuzzFeed and The Huffington Post, every journalist seems enchanted to give this a try. Who knows it’ll be a fruitful business undertaking that’ll lead you to a life full of fortune?

But if you’re like me, you know it takes more than writing and reporting skills to do great in journalism industry. There’re so many factors we need to take into account to be successful. And yet, the meaning of success itself is blurred. What I mean by success may be entirely different from what you mean, and what any other journalists mean.

Briggs couldn’t be as popular and wealthy as Kara Swisher, Sarah Lacy, Jakoeb Oetama or Jonah Peretti but he is for sure quite experienced in his own way. He stated his course “aims to give participants the knowledge and tools needed to launch content-driven news/information websites. We’ll take you from idea to implementation and, when necessary, help you retool or replace ideas with better versions.” In complete, he writes:

If you’re considering starting a news or information-oriented website, this course will help you decide whether an entrepreneurial path is the right one for you. And if you’re looking for a crash course on starting a business, it will show you the ropes, point you to the right resources and help you formulate the questions you most need answers to.

WHAT YOU WILL LEARN:

After completing this course, you’ll have newfound knowledge about creating a business and bringing your specific idea to fruition.

You’ll be able to:

  • Explain the difference between an idea and a product.
  • List the basic elements of a business plan.
  • Define basic business and marketing terms, including ROI and CPC.
  • List and summarize the legal structures available when establishing a business, and identify their strengths and weaknesses.
  • List popular technological platforms and cite strengths and weaknesses of each.
  • List available analytics tools and identify what to track and how to analyze the numbers.
  • Summarize the primary options when forming a business as a legal entity, getting legal and accounting help and finding software to help run the business.
  • List and describe major ad networks (e.g., BlogHer, Federated Media)

For your specific business, you’ll be able to:

  • Define your market, approximate its size and identify your audience
  • Write an executive summary.
  • Define the current work that needs to be done and identify the people who can do it.
  • Determine whether funding is needed and, if so, how much.
  • Decide whether the business can be bootstrapped and, if not, identify options for securing funding.
  • Estimate how many users/customers/viewers/readers will be “enough” to make the business work.
  • Identify qualities that distinguish your business from your competitors.
  • Perform a basic assessment of potential adjacent markets.
  • List questions that need to be answered about your product, market and/or business.
WHO SHOULD TAKE THIS COURSE:
  • Journalists working at legacy operations interested in founding a start-up venture
  • Recent journalism graduates interested in working in journalism, but not for a “traditional” journalistic business
  • Anyone passionate about a community, topic or cause who has a desire to start a publication-based business with journalistic values

For a moment, I let the words seep into my mind. Is it going to work? Can all these topics cover what it takes to be a successful entrepreneur in journalism industry?

It doesn’t seem that easy. Mastering all these things might be leading us closer to the goal but definitely not instantly.

We need a CATALYST.

What could that be? The mysterious catalyst that we’re searching for…

I remember several juniors asking me if they could just stay in the comfort of their hometowns while doing their journalism gigs. I told them, if they can be in Jakarta, it’d be much better.

The reason is because they need NETWORKS, people. They must see and talk to people, not only sitting and typing at home. Journalism businesses do NOT work that way. You have to go out, see more and more people, talk to them, dig tons of information from these folks you may not find at the smaller social circle in hometown.

Only Churnalists — Not Journalists — will Get Replaced by Robots

Of all jobs, there are 8 that digital media futurist Amy Webb predicted would eventually vanish at some point in the future: toll booth operators and cashiers, marketers, customers, factory workers, financial middle men, journalists, lawyers, and phone workers.

I frowned and continued reading on. This might be a joke. Utter disbelief.

Webb argued journalists will be wiped out as the new technology could replace their functions as news gatherers. Webb, who used to work as a journalist at Newsweek and The Wall Street Journal, stated:”[…] the next culprit will be algorithms that allow news outlets to
automatically create stories and place them on websites without human interaction. Robot journalists (fedora optional) are already writing thousands of articles a quarter at The Associated Press.”

That, if it really happens, will be a calamity for us journalists.

But what we can do to prevent this from happening to us?

No worries. For versatile, professional and competent journalists, being fired and getting replaced by algorithms certainly never happens. Obviously algorithms have no creativity a human journalist has.

So be as indispensable as you can be, journos! Or else, you’ll perish.

Tentang Wawancara, Mewawancarai, Diwawancarai dan Membaca Wawancara

Wawancara. Bisa dianggap mudah saja atau tantangan luar biasa. Mewawancarai secara alami lebih dituntun oleh keingintahuan lalu terkumpullah serangkai fakta atau apapun yang diasumsikan seperti fakta. Klaim dan simpulan tak berdasar kadang menyelip di sana sini yang terpaksa muncul karena ingin hasil wawancara lebih bombastis dan menarik dibaca orang. ‎Dan mungkin, karena pemeriksaan fakta (fact checking) sudah harus mengalah oleh tenggat waktu. Maklum, pembaca makin tak sabaran. Dunia (merasa) makin tak sabaran. Ini sungguh membingungkan dan sejatinya mengibakan. Karena pewarta makin lama makin seperti budak saja. Upah tak seberapa, tetapi mesti bekerja menata kata dari berbagai fakta yang ditemuinya, tanpa kenal penat yang meraja dan redaktur yang semena-mena.

‎Wawancara kerap dilakukan secara impromptu. Alhasil pertanyaan-pertanyaan yang dikeluarkan sekenanya. Tak tersusun baik, teracak, tanpa alur. Kalaupun tersusun sebelumnya, hanya dilakukan di sela rangkaian aktivitas yang padat luar biasa. Bahkan karena otak beku, pertanyaan sering mengabaikan logika. Norma juga bukan kendala, etika juga. Lalu bagaimana? Ini semua sungguh membuat gila! Bagaimana bisa mencapai hasil sempurna?!

Tetapi mendapatkan kesempatan wawancara pun sudah beruntung kadang. Bukan sekali dua kali pertanyaan sudah tertuang rapi di lembaran dan ternyata harus dibuang ke keranjang karena ‎sang narasumber yang (berpikir dirinya) terlampau terkenal sulit ditemui langsung dan begitu sibuk, atau memilih menyibukkan diri dengan jurnalis-jurnalis media besar dan melupakan pewarta-pewarta media maya.

Sementara itu, ada sebagian mereka yang mati-matian menjerat wartawan. Membuatnya terpaku di suatu waktu dan bangku, mendengarkan perkataan narasumber gila publisitas tanpa‎ jeda lalu menyajikan berbagai suguhan menggoda. Dari voucher makan tanpa biaya, jamuan makan cuma-cuma, memiliki kesempatan mencicipi kemewahan yang tak terjangkau anggaran dari upah bulanan.

Pewarta mewawancara sering karena tak ada pilihan lain di mata. Ya sudah, apa adanya saja, gumamnya.‎ Tenggat waktu toh makin dekat. Jadi daripada hari ini kena damprat, kenapa harus kesempatan ini dibiarkan lewat? Tinggal rekam atau catat. Sisanya bisa dikembangkan dari fantasi atau hasil menjelajahi hasil yang disuguhkan mesin pencari.

Kecewa kadang mendera kalau narasumber incaran menolak menjawab pertanyaan yang merangsang perbincangan intens. Seolah ia menutup pintu. Terkunci di situ dan tak bisa melangkah lebih jauh. Yang hanya bisa dilanjutkan hanya isu-isu yang membuat jemu. Itu itu melulu. Rasanya sudah buntu.

Hati berubah gembira jika berhadapan dengan narasumber yang dermawan bukan kepalang. Satu pertanyaan sentilan membuka sekaligus banyak jawaban, bahkan yang tidak terlintas sebelumnya untuk ditanyakan. Terus, terus, terus gali saja sampai habis. Tandas hingga puas.

‎Sial, ada hal bagus untuk diberitakan yang keceplosan diucapkannya tapi ia beberapa detik kemudian baru sadar dan minta dirahasiakan. “Off the record ya…” Mungkin akan lebih mudah jika diabaikan saja dan tetap memuatnya dalam berita lalu menikmati pujian dari redaktur dan pembaca tetapi bagaimana kalau narasumber murka dan mencap tak bisa dipercaya? Susah juga ya.

Mendapat masukan tentang kesalahan padahal sudah menulis sesuai pernyataan? Bukan anomali. Bahkan frekuensi terjadinya bisa tinggi. Karena itu, jangan menggores pena tetapi rekamlah suara. Jari tak bisa bersuara, tetapi suara manusia yang bisa.

‎Diwawancarai apalagi. Tak kalah pelik. Apa yang harus dipersiapkan? Duh, nanti kalau tidak tahu harus menjawabnya bagaimana? Baiklah, jawab sebisanya. Ini bukan ujian. Rileks saja. Berpakaian terbaik, supaya kalau difoto tak akan mengecewakan orang tua dan kerabat serta sobat yang akan menjadi sasaran pameran. Percuma, karena si pewawancara tak bawa kamera. Punyanya Blackberry semata. Di hari mendung saja, hasilnya sudah kabur. Ia tak pernah meminta foto, jadi mungkin memang tak memerlukannya. Lalu setelah terbit, muncullah foto-foto di jejaring sosial. Sial! Baiklah, fotonya tak terlalu buruk tetapi bagaimanapun juga tak ada permintaan izin yang terlontar.

Spekulasi usia narasumber bukannya masalah raksasa. Bahkan bisa dikatakan propaganda biasa agar semua percaya itulah seharusnya usia berdasarkan tampilan di netra. Tak ada keberatan‎ karena kesalahan dari ketidaktahuan itu kadang sebuah kenikmatan. Namun, lain kali, akan lebih baik menulis yang benar-benar diketahui saja. Agar sang narasumber tak terkesan berbohong memudakan usia. Padahal ia tak juga berupaya menutupinya.

Waspada juga membaca hasil wawancara. ‎Mungkin yang berlebihan si pewawancara. Kadang juga si terwawancara. Acap kali dua-duanya. Atau kekurangtajaman pendengaran dan pemikiran yang perlu dimaafkan, bukan diperkarakan. Sepanjang tak ada yang merasa dirugikan atau disudutkan.

A Hotel with Newsroom Flavor; Hot or Not?

The Press Hotel is like no other hotels on earth. Probably designed for overly dedicated journalists who don’t mind at all spending their life days and nights, being chained at their working desk, the hotel is located in Portland, the US. It was not a brand new building though. Previously the hotel was a number of offices of Portland Press Herald but in 2010 was left unoccupied as the journos moved to another office building.

There are so many lifestyle facilities guests can enjoy right here. The Press Hotel has its integrated art gallery full of past remnants like archaic typewriters. It is not going to excite overworked journalists who in dire need of total break from their highly demanding jobs. ‎
If you want to get drunk, go drink some booze at “The Inkwell”. It is a bar with newsy taste in every inch of it. You’ll find artworks that look like things you’re likely to find at a typical newsroom back then.

(image credit : poynter)

Hadiri ASEAN Literary Festival 2015 19 Maret Nanti!

Setelah menghadiri ASEAN Literary Festival tahun kemarin di Taman Ismail Marzuki, dua pekan lagi ajang yang sama akn digelar masih di tempat yang sama. Tema besarnya adalah mengenang sastrawan Indonesia yang beberapa waktu lalu baru saja berpulang ke Sang Pencipta, alm. Sitor Situmorang.

Berikut keseluruhan pernyataan pers dari pihak ASEAN Literary Festival 2015:

“Memasuki tahun kedua, ASEAN Literary Festival (ALF) 2015 akan dibuka pada Kamis, 19 Maret 2015, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, dan akan menjadi persembahan khusus bagi sastrawan Sitor Situmorang. Karya-karya Sitor akan ditafsir ke dalam komposisi musik, tari, dan berbagai pertunjukan. Di antaranya akan tampil pianis Ananda Sukarlan, yang akan membawakan puisi panjang Sitor Situmorang yang ditulis tahun 1955 berjudul “La Ronde”. Malam pembukaan ALF 2015 akan menjadi pementasan pertama komposisi tersebut. Ananda Sukarlan memilih penyanyi muda bersuara emas dari Surabaya bernama Nikodemus Lukas untuk menyanyikannya. Selain “La Ronde”, Nikodemus juga akan membawakan karya-karya Ananda yang lain, yang juga berangkat dari puisi Sitor Situmorang, seperti “Surat Kertas Hijau” dan “Malam Kebumen.”

“Sitor Situmorang diangkat menjadi tema pada malam pembukaan karena pengaruhnya yang sangat besar bagi kesusastraan Indonesia. Ini sebuah upaya memperkenalkan Sitor pada generasi muda,” ujar Abdul Khalik, Direktur ALF, di Jakarta, Jumat (27/2). Selain itu, tampil pula Nabilla Rasul, penari muda peraih hibah Seni Yayasan Kelola 2013 yang pernah tampil di pagelaran musikal Onrop, Dance Generation, dan Heart Records. Nabilla akan menafsirkan puisi Sitor berjudul “Dia dan Aku” dalam komposisi gerak tarian.

Ada pula special performance dari Signmark (Finlandia), musisi tuna rungu pertama di dunia yang berhasil mendapatkan kontrak rekaman dengan label major dunia. “Penampilan Signmark menunjukkan komitmen ALF untuk menjunjung inklusivitas, memberikan hak-hak yang sama bagi kaum diffable,” kata Abdul Khalik. “Selain itu, ini juga bagian dari perayaan keragaman bahasa yang menjadi jantung dari sebuah festival sastra.” Orasi budaya akan disampaikan oleh dr. Ma Thida, sastrawan asal Myanmar.
ALF 2015 diikuti lebih dari 20 negara (baik ASEAN maupun non-ASEAN) dan akan berlangsung hingga 22 Maret 2015, dengan rangkaian acara seperti pemutaran film, seminar, jumpa penulis, workshop menulis, tur sastra, dan berbagai pertunjukan berbasis karya sastra. Informasi lengkap mengenai ASEAN Literary Festival 2015 dapat diperoleh di situs resmi http://www.aseanliteraryfestival.com.

Informasi lebih jauh dapat menghubungi:
Ruth Stephanie (Project Officer ASEAN Literary Festival 2015) 082120646147, 082215898935
aseanliteraryfest@gmail.com”

How to Get the New Generation of Journalists TOTALLY SCREWED

Technology is never guilty. But still most people claim it’s a double-edged sword. I crack a smile. These people are mostly as f*cked up as the problem they’re talking about.

As ridiculous as it may sound, we might need to recall how all this mess in journalism currently is blamed on the surge of information technology. To me, it sounds like a fool trying to blame his own foolishness. Human race is just looking for a scapegoat, naturally. Because technology can’t avenge! Or at least talk to the creator back.

No one can rephrase the whole chaos in journalism industry any better like Jason Calacanis, a media entrepreneur cum seasoned journalist, does. And yes, nowadays journalism is also a field of industry. Like any other industries, it must generate profits, which at times sacrifices its then-highly-valued principles.

Here’s what I can sum up from Calacanis’ thought about the mess that the fresh, newer generation of journalists have to work and live with.

First of all, to screw new journalists’ work ethics and lives in general, you as an employer have to put too much pressure on these budding journos. Put the pressure with no mercy AT ALL.

Calacanis points out that more than 75% of the new generation of journalists out there are under pressure. Geez, he’s wrong in that almost all journalists are always under pressure, so are the churnalists (you know what churnalism means, I suppose). Pressure free is almost always impossible, except if a journalist writes for sheer fun. Yet, I agree with his idea that new journalists are now even more and more miserable under the inhumane demand of their employers.

“We know that a simple headline, factually correct, factually stated, accurate, does NOT drive traffic. But deception, lying, playing with words, bending the truth raises the number of tweets. What’s the impact on active journalism? Is this sending us in the wrong direction?!!” he questioned.

Another thing to make these new journalists screwed is leave them work days and nights without mentors. By mentors, I mean people who have the know-how, real experiences and time and resources to share with these poor young journalists.

Next, once they have no appropriate mentors, you can also strip them off their editorial assistance. That means they’re allowed to publish whatever they want to publish without any substantial copy editing done and rigorous fact checking the way old school journalists used to do.

Also, you have to push them. Like really really PUSH them to publish MORE content FASTER than their predecessors and at the same time remind them of maintaining VERY HIGH quality standard of journalism. Calacanis said they all are “a recipe for disaster”.

That way, if our new journalists make mistakes, offend people, or spread bogus news all over the world, they have no choice but take the blame.

That said, a mini apocalypse is on the way. To say the least, maybe democracy is falling apart.

But who cares?

(Image credit: Wikimedia)

Strategi BuzzFeed

Dikenal sebagai situs yang kontennya kerap beredar secara viral di Internet, BuzzFeed bisa dikatakan menjadi salah satu fenomena media yang mencengangkan di abad informasi ini. Valuasinya diketahui mencapai miliaran dollar AS. BuzzFeed sukses sebagian karena mampu mencerminkan bagaimana kita merespon konten di dunia maya.

Seperti dirangkum dari laman TechinAsia, Buzzfeed sukses berkat beberapa strategi yang sebelumnya tak banyak terpikirkan oleh pebisnis media.

Tidak cuma menarik dan bagus, konten harus memiliki kepentingan sosial. Masalahnya hal itu cukup sukar dirumuskan. Semuanya cuma berdasarkan naluri tim editorial semata. Bahkan BuzzFeed menjadikan jejaring sosial sebagai tujuan utama pembuatan kontennya. Dengan 200 editor di dalamnya, BuzzFeed mempublikasikan 700 hingga 900 konten dalam sehari di situs mereka. Para penulis dibiarkan begitu saja mempublikasikan konten mereka namun tidak semuanya akan ditampilkan di laman depan situs. Bila konten itu tidak banyak dibagikan orang, ia akan lenyap dengan sendirinya. BuzzFeed akan habis-habisan mempromosikan konten yang begitu menarik bagi orang setelah menarik perhatian orang di jejaring sosial.

BuzzFeed mensurvei ke sebanyak mungkin orang. Dengan bertanya ke sebanyak mungkin orang yang akan menjadi target pembacanya, BuzzFeed terus menyesuaikan diri dengan minat mereka sehingga kontennya tetap digemari. Jadikan topik-topik yang paling digemari sebagai prioritas utama tanpa harus mengabaikan topik konten lainnya yang juga penting untuk menjangkau audiens baru yang sebelumnya tidak banyak digarap situs berita lain. Ini penting untuk terus menumbuhkan jumlah pembaca situs.

BuzzFeed merekrut blogger-blogger top. BuzzFeed berinvestasi secara serius dalam hal sumber daya penulis kontennya. Perusahaan media itu menarik blogger-blogger dengan audiens yang sudah setia untuk membuat konten di situs BuzzFeed.

BuzzFeed juga bereksperimen dengan banyak bentuk konten, termasuk bentuk konten tulisan panjang dan analitis yang mungkin bagi sebagian orang berbeda dari bentuk konten listicle atau kumpulan foto dan meme yang kurang mengasah intelektual pembacanya. Namun demikian, konten listicle yang bombastis, instan dan menarik utnuk dibagikan masih menjadi yang utama. Ini dilakukan karena pola konsumsi konten juga berubah. Untuk itu, mereka menunjukkan keseriusan dengan membawa masuk Ben Smith (jurnalis politik berpengalaman) dan Steve Kendall dari majalah Spin untuk menangani konten jenis long-form. Demi mengukur kinerja konten long-form, BuzzFeed tidak menggunakan tolok ukur (metrics) yang sama dengan konten listicle atau meme lainnya. Memang tidak ada yang absolut dalam mengukur kinerja konten. Cuma
mengandalkan logika, spekulasi, perasaan dan naluri.

BuzzFeed mengutamakan waktu yang dihabiskan dalam mengkonsumsi konten. Durasi waktu yang dibutuhkan orang untuk membaca konten dijadikan tolok ukur yang makin penting.

BuzzFeed membuat konten lebih mudah dibagikan dan sesuai untuk dibagikan di aplikasi percakapan mobile seperti WhatsApp, Line, Kakao Talk, WeChat, dan sebagainya. Ini penting bagi pasar dengan audiens yang getol mengakses konten via ponsel cerdas.

BuzzFeed terus menyesuaikan diri dengan berbagai situs jejaring sosial dan cara-cara lain yang membuatnya lebih mudah dibagikan dan ditemukan. Pertama, mereka menggunakan istilah-istilah pencarian dan mengunggah berbagai konten yang bertema serupa. Kemudian mereka mulai menggunakan Facebook lalu Pinterest. BuzzFeed tidak ambil pusing dengan algoritma jejaring sosial yang berubah-ubah karena mereka hanya fokus pada pembuatan konten yang menarik untuk disebarkan, entah itu tulisan, foto dan video.

BuzzFeed membolehkan artikel ‘daur ulang’. Namun, ini bukan berarti tinggal salin rekat (copy paste) begitu saja. Masih diperlukan pengolahan agar sudut pandang, nada penyampaian dan suara yang digunakan berbeda dari yang sudah ada.

BuzzFeed tak banyak menggunakan judul artikel yang bersifat menipu pembaca. Judul-judul yang disebut “clickbait” itu memang awalnya bisa mendatangkan banyak pengunjung tetapi efeknya dalam jangka panjang, makin sedikit orang yang percaya dan memilih untuk mengabaikan karena telah pernah dikecewakan sebelumnya karena judul yang tidak sesuai dengan kenyataan atau dilebih-lebihkan.

BuzzFeed menggunakan prinsip “tak banyak membual tapi memberikan lebih banyak” dalam tim editorialnya. Ini karena mereka mendorong pembaca untuk tidak hanya mengklik sebuah judul atau tautan tetapi juga mendorong mereka membagikannya ke sebanyak mungkin orang via jejaring sosial. Jika judul bombastis, dan isinya kurang sesuai harapan dan membuat kecewa, mana mungkin orang mau membagikannya?

(image credit:smallbusiness.foxbusiness.com)

Bagaimana Memperkenalkan Startup Anda pada Jurnalis, Tanpa Spamming

Bukan rahasia lagi bahwa startup-startup ‘haus publikasi’. Mereka ingin media meliput bisnis mereka. Mereka ingin semua orang
membicarakan produk dan layanan yang mereka luncurkan. Mereka mau brand mereka menempel di otak orang sebagaimana “Aqua” untuk air minum dalam kemasan, atau “Sanyo” untuk pompa air. Mereka mau kampanye marketing digitalnya viral hingga tingkat global di jejaring sosial. Entrepreneur pendiri startup juga tidak kalah ingin dikenal oleh publik dan dianggap sosok sukses dan bisa menjadi panutan.

Sayangnya, tidak banyak entrepreneur sekaligus pendiri startup yang mau bersusah payah untuk memilah-milah jurnalis yang ingin mereka tuju. Mereka biasanya membombardir jurnalis yang mereka telah dapatkan alamat surelnya dengan berbagai pernyataan pers atau semacamnya dengan satu keyakinan:”Siapa tahu mereka mau memuatnya?”

Padahal dalam sudut pandang jurnalis, menerima surel yang tidak dikehendaki secara terus menerus bisa cukup mengganggu produktivitas. Kita bisa bayangkan betapa repotnya memilih puluhan surel yang harus dibuka, dibaca, disortir dan dibalas serta kemudian diolah menjadi berita di kotak masuk (inbox) dalam sehari.

Kesalahan umum yang biasa terjadi ialah entrepreneur dan startup mengirimkan surel pada jurnalis yang memiliki minat dan bidang liputan yang tidak atau kurang sesuai. Misalnya, seorang jurnalis yang bertugas meliput sektor bisnis properti akan merasa terganggu jika dibanjiri dengan surel berisi press release dari perusahaan ritel.

Persoalan akan lebih mudah bagi entrepreneur dan startupnya jika diketahui bahwa si jurnalis memiliki tugas peliputan yang mencakup bidang yang relatif luas. Contohnya, jika seorang jurnalis ditugasi meliput dunia bisnis dan ekonomi secara umum. Tentu pengiriman surel pernyataan pers yang isinya peluncuran produk baru atau pendirian startup baru akan lebih dapat diterima. Namun, sekali lagi tidak semuanya demikian.

Mengapa mengirimkan surel secara membabi buta ke semua jurnalis tidak sepatutnya dilakukan? Karena selain bisa dianggap spamming dan merepotkan jurnalis itu sendiri, entrepreneur juga akan menghabiskan waktu dan tenaganya secara tidak efektif dan efisien. Ibarat berperang dengan peluru terbatas, Anda sudah menghamburkan peluru yang berharga itu dalam waktu beberapa detik. Hematlah peluru-peluru itu dengan membidik lalu menembak musuh dengan cermat dan tepat. Apa artinya 1000 tembakan meleset dibandingkan 1 peluru yang bisa menembus jantung pimpinan musuh?

Lalu apa yang bisa dilakukan agar entrepreneur tidak terjebak dalam permainan spamming ini? Yang pertama dan utama menurut entrepreneur media Jason Calacanis ialah membaca artikel dan konten yang dihasilkan oleh seorang jurnalis. Kemudian setelah itu, ikutilah ide-idenya di blog, jejaring sosial setidaknya selama sebulan. Jadilah pengikut akunnya di Twitter, baca tweet-tweetnya. Bertemanlah dengannya di jejaring sosial Facebook jika memungkinkan. Semua ini perlu sekali dilakukan sebelum Anda memutuskan menghubungi si jurnalis. Mengapa ini penting? Agar Anda bisa paham bagaimana mereka berpikir melalui apa yang mereka katakan dan tuliskan. Seperti yang dikatakan Calacanis, menghubungi jurnalis via surel tanpa mengenal mereka dan apa yang mereka lakukan dalam pekerjaan sungguh “sebuah kegilaan”. Ditegaskan juga oleh Greg Galant (salah satu pendiri Mucrack), bahwa 90% dari jurnalis yang ia survei mengatakan lebih menyukai orang yang menghubungi mereka sudah mengikuti tulisan-tulisan mereka sebelumnya karena dengan begitu mereka tidak cuma sekadar mengirimkan surel tanpa dikehendaki. Ada hubungan yang terjalin dan jurnalis akan lebih yakin bahwa Anda menyisihkan waktu untuk meneliti siapa mereka dan apa yang mereka kerjakan.