Sejarah Korean Wave: Semua Karena Film “Jurassic Park”

Korean Wave sudah berusia 2 dekade lebih dan tidak tampak tanda-tanda mereda. Kok bisa ya?!

HALLYU bukanlah istilah yang muncul begitu saja secara alami dari media atau kalangan pekerja seni Korsel.

Terminologi itu dibuat oleh pemerintah Korsel, tepatnya oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mereka.

Jadi jika Anda selama ini beranggapan semua tren yang berhubungan dengan Korean Wave yang dunia alami saat ini hanya karena suatu fenomena alamiah belaka, Anda salah besar.

Ini semua adalah upaya rekayasa yang kontinu dan sistematis oleh pemerintah Korsel sejak pertengahan tahun 1990-an.

Asal Istilah

Istilah “hallyu” dibuat oleh kementerian tersebut saat mereka akan merencanakan, memproduksi, dan mendistribusikan CD musik untuk mempublikasikan musik pop Korea ke negara-negara tetangga mereka di Asia Timur di akhir dekade 1990-an.

Tahun 1999 CD musim berjudul “Korean Pop Music” dijual pemerintah ke luar negeri. Di China, CD tadi dijual dengan label “Hallyu – Song from Korea“.

Istilah ini langsung dipakai orang secara luas di China berkat adopsi istilah itu oleh media China begitu produk budaya itu masuk ke pasaran.

Meskipun pada awalnya istilah ini cuma diterapkan pada musik, dalam perkembangannya produk ini juga menjalar ke produk-produk budaya Korsel lainnya misalnya serial TV.

Anehnya justru serial TV yang meledak lebih dulu daripada musik pop Korea.

Saya sendiri di Indonesia di awal tahun 2000-an menjadi saksi masuknya Korean Wave dengan ditayangkannya serial “Winter Sonata” dan “Full House” yang menjadikan nama Song Hye-kyo melejit.

Song Hye-kyo dan Rain di “Full House”

Jauh sebelum “Full House”, ternyata sudah ada drakor yang mencetak sukses di luar negara produsennya sendiri yakni “What Is Love All about“.

Memang drakor ini baru diputar di negara serumpun Korsel, China, pada tahun 1997 tapi masuknya drakor ini menandai sebuah era baru dominasi Korsel di industri hiburan negara tirai bambu yang sebesar itu.

Stasiun televisi domestik China CCTV menayangkan ulang lagi drakor tadi di slot waktu yang banyak ditonton orang karena banyaknya permintaan dalam bentuk telepon dan surat dari para penonton China.

“Saya mau drakor itu diputer ulang ya. Titik!” seperti itu nada panggilan dan surat mereka.

Sejak tahun 1997-1998 (saat krisis moneter Asia justru sedang parah-parahnya), popularitas drakor melejit di China. Di saat bersamaan, Korsel juga tidak luput dari hantaman badai krisis moneter yang legendaris itu.

Satu negara serumpun yang tak terhindarkan dari Korean Wave gelombang perdana ialah Taiwan. Di sini, drakor yang mendapat perhatian masyarakat ialah “The Autumn Story” yang diputar tahun 2001. Ratingnya sangat tinggi dibandingkan program-program TV kabel sejenis.

Kemudian muncullah drakor “Winter Sonata” yang saya ingat juga masuk Indonesia dan menjadi fenomena tersendiri. Tak dinyana serial ini juga mendapatkan tempat di hati penonton Jepang sampai NHK menayangkan ulang dua episode serial ini dalam sehari. Dahsyattt!

Di Indonesia sendiri, “Winter Sonata” sudah digadang-gadang bakal populer juga dan benar juga. Serial itu juga meledak di sini dan saya sempat menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Saat itu stasiun TV SCTV menayangkannya pada Agustus tahun 2002.

Jadi dibandingkan Jepang, sebenarnya Indonesia lebih dulu. Wow! Mungkin cuma di aspek ini kita tidak terlalu minder dibandingkan Jepang. Haha.

Sejak itu gelombang semakin tak terbendung.

Zaman sekarang mustahil Anda steril dari pengaruh Korea. (Wikimedia)

Wabah Budaya

Demam Korea makin meluas ke Asia Tenggara. Vietnam, Filipina, Thailand, dan Malaysia akhirnya kena juga di akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Begitu demam “Winter Sonata” usai, “Jewel in the Palace” yang dibintangi Lee Young-ae menyusul dan meledak juga di China, Taiwan, Hong Kong, serta negara-negara Asia Tenggara di pertengahan 2000-an.

Meski selama itu, gelombang Korea ini baru menyentuh Asia Timur dan Tenggara, lama-lama ia menjangkau Asia Barat alias Timur Tengah pad pertengahan dekade 2000-an.

Jewel in the Palace” yang menceritakan kisah hidup Seo Jang-geum yang penuh lika-liku hingga bisa mencapai status tinggi di masyarakat Korea yang sangat feodal dan kolot sebagai seorang tabib perempuan tersohor itu kemudian dijual hak tayangnya ke lebih dari 120 negara di dunia. Ya sama saja artinya drama ini sudah dinikmati manusia di 5 benua di muka bumi. Sinting memang invasi budaya drama ini.

Saya sendiri saat itu juga tergila-gila dengan drama satu ini. Lee Young-ae menyuguhkan akting dan wajah yang sama-sama tanpa cacat. Kulit wajahnya begitu bening sampai seperti pualam. Dan hingga kini sepertinya tampilan fisiknya juga tak berubah banyak berkat perawatan kulit yang bermutu tinggi.

Berkat meledaknya serial “Full House“, konser musik si aktor utama Rain juga tercatat sukses besar. Konser di Madison Square Garden tahun 2006 dan di Tokyo Dome tahun 2007 sungguh membuatnya kaya raya.

Rapper Psy memang tak seganteng Rain tapi one-hit wonder ini cukup memukau dunia di masanya. (Wikimedia)

Meski bukan aktor dan rupa serta fisiknya tergolong biasa saja, penyanyi solo rap pria Psy bisa melejit dengan “Gangnam Style” meskipun selanjutnya ia seolah tenggelam sekarang. Hit selanjutnya tak terdengar.

Di puncak ketenarannya, video klip Psy di YouTube termasuk video yang paling banyak ditonton.

Salah satu trik sukses Korean Wave memang gelombang ledakan yang susul-menyusul. Usai satu mereda, tak lama berselang yang lain muncul. Dan ini terus diupayakan bisa dijaga secara kontinu dan berkesinambungan. Hebat banget ini sih.

Salah satu yang perlu diperhatikan ialah selain peran pemerintahnya yang sangat proaktif dan penuh inisiatif untuk memulai dan memelihara Korean Wave ini agar terus berada di puncak, peran pers Korsel sendiri terbilang sungguh ciamik.

Pers Korsel selalu punya cara untuk memperluas cakupan Korean Wave. Berkat mereka, publik dicuci otaknya untuk menerima gagasan bahwa Korean Wave tidak cuma soal musik dan drama saja.

Tapi juga sampai ke dunia kuliner, misalnya. Pers mendengungkan kesuksesan restoran Korea di China yang dianggap fenomena Korean Wave juga. Begitu juga saat mobil-mobil produksi Korsel makin banyak dijual ke Asia Tenggara.

Dunia pengajaran bahasa asing juga tak terhindar dari gelombang ini. Di Mongolia, tercatat ada lonjakan jumlah peminat pelajaran bahasa Korea di awal 2000-an. Di Indonesia, saya sendiri belajar bahasa Korea saat itu dengan bimbingan seorang penutur asli yang tinggal di Semarang dan bersedia mengajar di kampus saya dahulu. Kursus bahasa Korea ini berbayar dan diadakan seminggu sekali dengan fokus pada pengenalan kosakata dasar dan tata bahasa sederhana serta ekspresi-ekspresi paling penting dalam percakapan harian. Dan saya cukup antusias dalam belajar dengan harapan bisa sedikit memahami percakapan dalam drama korea kesukaan saya, “Full House“. Betul, sampai sejauh itulah kegilaan dan kegandrungan saya saat itu!

Terlepas dari wacana yang terus dipupuk media Korsel, publik di negara itu juga sudah makin paham. Berita-berita Hallyu dikumandangkan dengan rasa bangga dan suka ria dengan nasionalisme ala Korea. Tidak ada yang nyinyir apalagi sinis dan analitis soal Korean Wave di dalam negeri mereka. Apakah ada yang memojokkan upaya pemerintah dan para pekerja seni dan hiburan? Katanya sih tidak ada. Jadi dengan kata lain, setiap warga Korsel juga suportif soal ini.

Bagi publik domestik, Korean Wave disajikan oleh pers sebagai bukti bahwa tingkat kompetitif Korsel di kancah internasional sudah tidak bisa dianggap sepele dan daya jualnya sudah sangat tinggi berkat kekuatan emosional yang besar sekali di benak para konsumen luar negeri. Dan benar sekali sih, itu yang saya rasakan. Saya beli barang-barang Korsel kadang bukan karena butuh tapi juga ada dorongan emosional yang memang tidak bisa dimasukkan logika. Ya karena suka saja. Tidak ada alasan kuat yang masuk akal. Dan hebatnya ini juga merasuk ke ranah penelitian akademis tentang Korean Wave.

Sekali lagi, peran pemerintah yang besar tidak cuma saat di awal Korean Wave diciptakan. Mereka secara konsisten mengawal gelombang demi gelombang ini melalui berbagai macam cara yang sulit dideteksi orang awam seperti kita. Ada yang menduga mereka menggunakan berbagai kanal komunikasi dan jejaring yang kompleks serta menggerakkan seluruh wacana, dialog dan jejaring tersebut untuk menjaga Korean Wave tetap pada koridor yang ditetapkan.

Untuk menjaga stabilitas Korean Wave, masing-masing subjek menyebarkan wacana dengan sudut pandang nasionalisme budaya dan menyingkirkan sudut pandang lainnya. Pemerintah Korsel tinggal memberi tugas pada masing-masing elemen dan mengucurkan anggaran yang diperlukan agar agenda tercapai dengan baik. Pemerintah rela mengucurkan dana banyak demi mempertahankan hegemoni budaya populer yang sudah dirintis sejak 2 dekade lalu itu.

Karena iri dengan kesuksesan “Jurassic Park” karya sutradara Steven Spielberg, Presiden Korsel Kim Young-sam membulatkan tekad untuk menggulirkan industrialisasi budaya yang masif. (Wikimedia)

Bagaimana Korean Wave Bisa Dipertahankan

Semua kegilaan ini berawal dari pemerintahan presiden Korsel tahun 1993 hingga 1998. Presiden Kim Young-sam menggagas pembangunan jejaring budaya setelah termotivasi oleh sebuah laporan mengenai pendapatan ekspor film terkenal garapan Steven Spielberg “Jurassic Park” yang konon bisa disetarakan dengan nilai ekspor 1,5 juta unit mobil Hyundai dari negeri ginseng itu.

Presiden Kim sontak terbelalak dan ngiler dengan prospek keuntungan yang bisa dinikmati bangsanya jika memiliki produk budaya yang bisa diekspor seperti film tadi.

Dimulailah sebuah upaya untuk merintis sebuah kebijakan yang serius dan intensif demi menciptakan sumber pendapatan negara yang lebih tinggi lewat sektor budaya.

Presiden Kim mendelegasikan tugas penting ini pada Biro Industri Budaya yang bernaung di bawah Kementerian Kebudayaan Korsel kala itu. Biro ini sebelumnya cuma bekerja untuk melindungi artefak-artefak budaya tradisional dan mempromosikan seni Korea.

Pemerintahan Kim berkomitmen penuh untuk menggelontorkan investasi yang tak sedikit pada industri seni dan budaya. Mereka mulai menggalang dana investasi untuk memproduksi film, musik pop, dan program siaran TV yang semenarik mungkin. Perusahan-perusahaan elektronik raksasa Korsel seperti Samsung, Hyundai dan Daewoo ditarik pemerintah untuk menanamkan investasi juga.

Tahun 1995 menjadi saksi diluncurkannya TV kabel dan seketika ini menjadi sumber harapan bagi pemerintah Korsel yang ingin melejitkan produk budaya mereka. Kanal TV kabel ini bisa digunakan sebagai saluran promosi produk budaya Korsel.

Optimisme pemerintah disambut kalangan penyanyi dan pemain drama yang mulai menarik perhatian pemirsa di China yang menjadi tetangga Korsel.

Upaya Presiden Kim Young-sam tak berhenti sampai di situ. Di pemerintahan penerusnya Kim Dae-jung (1998-2003), upaya yang sama dilanjutkan lagi meski negara itu juga babak belur dihajar krisis moneter 1998.

Presiden Kim Dae-jung bersalaman dengan Presiden Bill Clinton. Senyumnya menyembunyikan perih akibat kondisi ekonomi Korsel yang kena tsunami Krisis Moneter 1998. (Wikimedia)

Di dalam kondisi ekonomi yang kurang menggembirakan, pemerintah berpikir bahwa ketenaran musik pop Korsel bisa digunakan sebagai katrol dan mesin pemulih ekonomi Korsel yang anjlok.

Di titik inilah pemerintah Korsel mulai mempertimbangkan industri budaya sebagai fondasi utama ekonomi nasional. Anggaran pun dinaikkan hingga 500 kali lipat di masa presiden ini dan keputusan itu didukung dengan undang-undang pula. Jadi Korsel habis-habisan membuat Korean Wave sebagai sandaran ekonomi mereka memang sejak lama.

Tahun 1998, Korsel membolehkan budaya pop Jepang masuk setelah sebelumnya melarangnya. Tujuan utama dibukanya kran impor budaya itu ialah untuk menguji ketangguhan industri budaya dalam negeri mereka sendiri dahulu sebelum mengepakkan sayap ke pasar asing.

Dan seiring dengan dibukanya pintu impor, mereka juga mengekspor K-pop ke Jepang yang meski negara sahabat tapi juga mirip Indonesia dan Malaysia, kerap bersitegang gara-gara perselisihan teritori dan sejarah yang kelam. Kalau Anda tahu, sejumlah perempuan Korea dijadikan budak seks juga seperti yang dialami oleh sejumlah perempuan Indonesia di masa penjajahan Jepang dulu.

Pemerintah Korsel terus menyempurnakan apa yang telah mereka rintis. Mereka mengubah industri yang dipimpin negara menjadi sebuah sistem manajemen tersendiri.

Di industri perfilman, para pekerja film makin serius dengan mendirikan Dewan Film Korea (KOFIC) dengan tujuan melindungi industri film mereka sendiri dari serangan Hollywood dan meningkatkan kapasitas ekspor Korea dengan meningkatkan keragaman film dan memperluas jangkauan film mereka ke pasaran dunia.

Pemerintah Korsel benar-benar berniat menjadi penguasa industri konten dan game dunia sampai membentuk agensi tersendiri untuk mengurusi industri tersebut. (Wikimedia)

Di tahun 1999, pemerintah juga memperluas fokus ke industri game dan siaran. Mereka membentuk Korea Game Industry Agency dan Korea Broadcasting Visual Industry Agency (yang kemudian dilebur jadi KOCCA). Keduanya mengundang organisasi masyarakat sipil dan industri yang berkaitan sebagai anggota yang akan menerapkan kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah.

Agenda dan kebijakan pemerintah ini diteruskan ke pemerintahan Presiden Roh Moo-hyun (2003–2008). Saat itu drama seri Korsel sudah menjamur di Asia tapi belum mencapai era puncaknya.

Pemerintah menciptakan skema insentif yang kuat bagi mereka yang bersedia membantu upaya pemerintah dalam mendorong perkembangan industri dan bisnis budaya yang sangat masif ini.

Invasi ke Dunia Akademis

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Korsel mendirikan sebuah agensi baru bernama KOFICE dan meminta KOCCA yang berdiri tahun 2001 untuk mendorong terjadinya Korean Wave di dunia untuk membuka kantor-kantor baru di negara-negara Asia untuk meluncurkan studi terhadap fenomena Korean Wave. Jadi mereka memang merencanakan ini secara rinci.

Sejumlah pihak terkait seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Sains, Kementerian Perencanaan Masa Depan dan Teknologi Komunikasi dan Informasi, dan badan pemerintahan lainnya di bidang pariwisata dan perdagangan bersatu padu mendukung Korean Wave.

Presiden Lee Myung-bak saat upacara pelantikan. (WIkimedia)

Pemerintahan selanjutnya yang dipimpin Presiden Lee Myung-bak (2008-2013) mencanangkan target mereka untuk mengembangkan Korsel sebagai negara dengan kekuatan industri konten.

Kebijakan Lee itu diiringi dengan perubahan nama kebijakan, dari “industri budaya” menjadi “industri konten budaya”. Wow! Dan tentunya ada bedanya ya isinya. Bukan sekadar perubahan nama tapi esensinya sama saja seperti yang sering dilakukan pemerintah di negara X itu. Haha.

Lee merancang rencana promosi ini dan menitahkan 11 kementerian di bawahnya mendukung rencana tersebut agar menjadi nyata segera.

Meski menerapkan sistem demokrasi dan terkesan tidak setoriter kembaran utaranya, Korsel sebetulnya sebuah negara dengan sejarah militer otoriter dahulunya di dekade 1960-an dan 1970-an.

K-pop, Korean Wave 2.0

Di periode kepresidenan Lee, Korean Wave memasuki babak baru. Drakor memang sudah mendunia dan makin menurun pamornya (meski tidak di Indonesia terutama di masa pandemi). Di babak baru ini, pemerintah berencana mengekspor musik pop Korea sebagai komoditas untuk menciptakan Korean Wave baru yang dibantu oleh pers Korsel yang membabibuta menyebarkannya sebagai “Hallyu 2.0” atau “New Hallyu“.

Pemerintah berambisi mengekspor K-pop sampai di luar Asia. Dan rencana akbar itu dibekingi oleh unsur-unsur industri media, industri konten, kalangan akademisi, dan kelompok awam. Harus diakui belum ada sih negara manapun yang upaya ekspor budayanya bisa menyamai tingkat komitmen dan kekompakan sebagaimana yang bisa ditemui dalam fenomena Korean Wave ini.

Jadi tidak heran sekarang K-pop bisa masuk ke telinga orang Eropa, Amerika Latin, dan negara-negara yang jauh dari Korsel seperti negara-negara Afrika.

Hanya saja, sayangnya sudut pandang Korean Wave ini makin meluas justru makin menyempit sudut pandangnya menjadi cuma soal nasionalisme Korea di bidang ekonomi dan budaya.

Presiden Park Geun-hye bersama aktor Song Joong-ki, yang kini menduda pasca perceraian dengan aktris Song Hye-kyo. (WIkimedia)

Korean Wave sebagai Ekonomi Kreatif

Pemerintahan Presiden Park Geun-hye yang mulai berjalan tahun 2013 mencanangkan visinya yakni “Ekonomi Kreatif”. Meski terdengar bagus, istilah ini memang ambigu. Cakupannya luas sekali, bisa dari teknologi informasi dan komunikasi, budaya, dan bidang lainnya.

Bisa jadi ini sebuah revolusi karena Korsel sebenarnya berbasis industri manufaktur tapi kemudian pelan-pelan juga merambah industri yang produknya bukan alat-alat berat atau produk elektronik melulu.

Presiden Park menandaskan Korean Wave sebagai salah satu alat untuk mencapai visinya tadi. Pemerintahannya mendukung semua bisnis yang berkaitan dengan budaya pop dan teknologi informasi dan komunikasi. Dan masyarakat juga menghormati para pelaku bisnis jenis ini.

Katanya startup unicorn anak bangsa tapi kok pakainya brand ambassador Korea? (Foto: Instagram Tokopedia)

Pelajaran buat RI

Lalu apa yang bisa Indonesia pelajari dari ini semua?

Banyak ya. Tapi yang terpenting ialah adanya strategi nasional yang terarah dan berkesinambungan. Halah!

Lihat saja pemerintah Korsel yang sejak 1993 sampai detik ini masih konsisten di jalur industri budaya ini. Memang ada perubahan tapi tidak serta-merta radikal dan perubahan itu justru menyempurnakan yang sudah ada sebelumnya atau membuat kebijakan yang sebelumnya sudah ada tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Jadi di sinilah pentingnya mengendalikan ego pemimpin, rezim dan sektoral serta lebih fokus pada kepentingan bangsa secara keseluruhan. Bukan sosok presiden tertentu. Ini berbeda dari Indonesia yang seolah memandang kesuksesan seorang presiden sebagai jasanya semata. Helooo, itu kan kerja keras semua elemen bangsa. Jangan diakui sendirian lah hasilnya.

Tiap pemerintahan dan presiden di Korsel tampaknya memiliki visi besar yang sama. Kebijakan industri budaya yang kemudian berubah dari berorientasi perlindungan menjadi berfokus pada promosi. Dan perpanjangan tangan pemerintah dalam industri budaya dan konten ini makin kentara saja.

Efek negatif dari campur tangan pemerintah ini tentu saja ada. Korean Wave menjadi tidak organik dalam berkembang dan seolah cuma sebagai alat promosi ekonomi dan membangun brand buat bangsa Korsel.

Ini berbeda dari pertukaran budaya yang seimbang. Dalam Korean Wave yang didorong pemerintah Korsel, negara ini seolah memonopoli interaksi budaya yang terjadi. Ia menjadi pemimpin terus dan tak mengindahkan budaya lain yang ada di dunia.

Kalau Anda generasi lama seperti saya, Anda pasti pernah dengar ada program bernama “Titian Muhibah” yang saban tahun dilaksanakan Pemerintah RI zaman Orba dengan 2 negara tetangga yakni Malaysia dan Singapura. Nah, di Titian Muhibah ini kita bisa saksikan interaksi budaya yang seimbang.

Di era sekarang, Indonesia seolah tidak diberikan kesempatan oleh Korsel untuk unjuk budaya di pasar Korsel juga. Dan pemerintah RI juga tidak kelihatan ada upaya yang kuat dan komitmen yang nyata untuk membawa produk budaya RI ke Korsel.

Tak ayal, sebagian masyarakat Indonesia juga muak dengan demam yang tak usai ini. Mungkin ini adalah komentar yang bisa mewakili rasa eneg itu:

Ingatlah bahwa ini bukan ujaran kebencian kepada Kpopers, ya. Aku fans BLACKPINK, tapi aku peduli dengan kepentingan non Kpopers. Jujur saja aku benar-benar bosan dengan maraknya artis Korea yang diundang ke Indonesia. Dari BTS, TWICE, hingga grup lain yang aku lupa namanya, dan sekarang BLACKPINK??? ya Tuhan trend ini sudah terjadi selama DUA TAHUN!!! Selama dua tahun terakhir ini pihak stasiun TV terus saja menguntungkan Kpop stan, padahal nggak semua orang suka Kpop! Bagaimana dengan nasib non Kpopers terutama pecinta musik Barat? Kalaupun ada artis Barat yang datang ke Tanah Air itu pasti pihak lain (yang tidak berkaitan dengan stasiun TV manapun) yang mengundang jadi tidak akan disiarkan di TV, sedangkan artis Korea selalu pihak TV yang mengundang. Aku nggak main-main ya, aku sampai melewatkan event Tokopedia yang terbaru, padahal mereka telah mengundang satu-satunya girlband yang aku sukai, itu karena aku benar-benar jengkel. Harapanku kedepannya semoga pihak pertelevisian Indonesia mengundang artis Barat seperti Ariana Grande, Billie Eilish, Little Mix, Dua Lipa, atau yang lainnya deh. Sudah cukup dengan event berbau Korea-Koreaan, sudah saatnya pihak TV memuaskan hati non Kpopers. Kalian Kpopers jangan kesal ya! (dikutip dari sebuah komentar untuk artikel “Fenomena Korean Wave di Indonesia”)

Yang menyedihkan sih bagaimana mereka yang muak ini bahkan sudah tidak ingat lagi dengan budaya bangsanya sendiri.

Karena ketidakseimbangan yang mencolok mata ini, rasanya memang tak berlebihan jika saya mengatakan bangsa Indonesia sedang ‘dijajah’ dalam aspek budaya oleh Korsel.

Kenapa?

Karena bangsa kita tak berdaya dan tak bisa mengimbangi dengan kekuatan dan sumber daya industri kreatifnya sendiri.

Hal lain yang bisa dipelajari ialah bagaimana Korsel dengan lihai membangun jejaringnya untuk menyukseskan Korean Wave ini. Mereka mau bersusah payah mendirikan berbagai macam agen dan biro dan hebatnya semua agen itu bekerja secara selaras dalam arahan konduktor dalam suguhan ‘orkestra’ yang mencengangkan dan membius banyak negara ini.

Yang lagi-lagi memukau ialah bagaimana kompaknya warga Korsel dan kalangan akademisi, pekerja seni hiburan dalam mendukung program besar pemerintah mereka. Tidak ada kata NO. Tidak ada bantahan. Semuanya seiya sekata untuk berkontribusi sesuai bidang masing-masing. Karena semuanya paham ini untuk kebaikan bersama dan tidak ada satu pihak yang disanjung berlebihan untuk hasil kerja keras bersama tadi.

Bahkan elemen swasta seperti agensi entertainmen yang mencetak bintang-bintang semacam Girls’ Generation dan BTS itu juga dirangkul pemerintah dengan meminta mereka menyebarluaskan wacana dan perbincangan soal nasionalisme budaya Korsel ini dalam balutan musik Kpop yang enak didengarkan.

Agensi-agensi ini bekerja bersama pemerintah untuk memberikan asupan berita bagi pers Korsel yang ujungnya nanti menyukseskan agenda Korean Wave pemerintah. Jadi gosip-gosip yang beredar di media sosial dan website seperti Soompi.com itu bukan semata-mata bersifat organik dan alami.

Agensi-agensi tadi memanfaatkan ketenaran global untuk merekrut para penampil asing (seperti kita ketahui selebriti-selebriti Korsel sudah mulai mengajak kerjasama seniman asing Barat bahkan sudah masuk ke dunia perfilman Hollywood dan menunjukkan kekuatannya di AS yang notabenen jadi pusat perbincangan budaya global).

Di Indonesia, mana bisa seperti ini?

Ada kompetisi yang berlebihan dan ego sektoral antardepartemen, antarpemerintahan daerah, antarkepala daerah, dan itu sudah mengakar kuat. Jadi kelihatannya sih guyub dan rukun, tapi kalau sudah urusan politik dan kekuasaan, urusan masing-masing lah! Egoisnya sampai ubun-ubun! Haha. (*/)

Rujukan:

The Korean Wave: Evolution, Fandom, and Transnationality“. Edited by
Tae-Jin Yoon and Dal Yong Jin. 2017. Lexington Books

A Tiger in Winter: A Struggling Writer in A Modern Society

Director and scriptwriter Lee Kwang-Kuk might not have intended to hit us writers hard in the bull’s eye. But when one of his dialogs in “A Tiger in Winter” (2017) which you can watch for free here shows you how laymen see writers, I was more offended than Kyung-yoo the protagonist himself.

The scene shows you know how badly writers are prejudiced in Korean society, which also holds true in mine (Indonesian). They are almost as lowly as unemployed people.

Kyung-yoo (Lee Jin-wook) is a homeless young man with a writing talent which unfortunately he tries to put behind his past. He wrote a novel but felt that the outcome was far than satisfactory to him.

Sadly, the society doesn’t seem to appreciate his talent. He sought a low-paid half-time job as a fast food chain waiter. He is older than most applicants and the manager of restaurant seems to be interested in hiring him but the young man was harassed for being unemployed for quite a long time. This employment gap was according to Kyun-yoo filled with a writing stint. He put much effort into his novel but somehow something held him back from publishing it.

He ran into his former girlfriend Yoo-jung (Ko Hyun-jung) while working as a driver for drunk car owners. And Yoo-jung was a little bit tipsy after perhaps some bottles of liquor that night.

Yoo-jung was a different type of writer. She was awarded a prestigious accolade for her published novel. Currently she was trying to start writing her second novel but could not find an inspiration.

The story gets more interesting as Kyung-yoo dealt with more and more uncivilized and rude behaviors from his clients. The conflict breaks when the male protagonist thought he discovered the ‘ill’ intent behind the rekindled past love.

To me, this movie perfectly captures how peoples in general view artists and writers, especially those writing fiction. It’s bitter but true.

Such an underestimating attitude is shown by the current Indonesian government. Renowned artist Butet Kertaradjasa felt troubled and hugely disappointed that one of the ministers defines artists as people whose faces can be seen on television only. Meanwhile, Butet’s definition of artists is everyone who has dedicated their lives to arts and make a living from it. These artists are those hardest hit by the pandemic. They cannot exhibit their artworks, their shows get cancelled until God knows when, and they have bills to pay (source: Merdeka.com).

As people are frantically supporting medical workers and appreciating doctors and nurses’ hard work amid the pandemic around the globe, we can still enjoy stories from various platforms and forms, be it books, podcasts, movies, short movies thanks to the hardwork of writers.

Stories keep us sane in our modern, clean, and comfortable confinements called houses, apartments, flats, or dorms.

But again, will people start appreciating writers’ hard work or keep ignoring their toil? (*/)

Ethical Reflections for Teachers (From “The Red Teacher”)

The movie gives me a glimpse of promise that writing can prevail even in the toughest times of our mortal lives.

What can teachers give to their students?

People would most probably answer: knowledge and wisdom.

But sometimes teachers can give their – almost – whole livelihood and future career, like Tae-nam.

Depicted as a young, faint-hearted man who happens to teach at a local small school for girls, he is not a favorite teacher among students. Instead, he won the heart of the authoritarian principal to pave a smooth way to his future career.

But things were about to change after Tae-nam found out a red book at a small bookstore. The book tells a fictitious story of a Korean general, and most importantly, the romantic affairs between his wife and a good-looking young officer that directly reported to the general.

There was not supposed to be any problems for reading the book. However, the book was banned by the government as it was assumed to humiliate the Korean leader at the time.

Tae-nam knew this and stealthily devour the book, from cover to cover and immediately got rid of that the next day.

Unbeknownst to Tae-nam, Soon-duk who was his student and had a difficulty to respect authorities at school and showed a tendency of being a rebel found the red book (it was called so as the cover was red in color) and read it, too.

Non only was the book read by Soon-duk, it was also read by the entire class.

The story escalated when the classmates could hardly wait for the next sequel of the adult novel.

Soon-duk, having a streak of literary talent in her, tried to compose her own sequel of the novel to quench her classmates’ thirst of romantic stories.

Using her late father’s typewriter, Soon-duk finished her novel and published it on her own. Copies of Soon-duk’s prose were then circulated and sold by her trusted circle of friends.

[Spoiler alert!]

The conflict arises when the principal found Soon-duk’s novel after Tae-nam accidentally threw the book out of the classroom’s window.

An investigation was then launched to discover the writer. A band of government agencies got involved in the process of investigation. They studied the copies and found that the typewriter had a certain defect on it.

Being guilt-ridden, Tae-nam helped Soon-duk hide the typewriter so she could escape the punishment: being expelled from the school.

Instead, to protect Soon-duk better, Tae-nam confessed that the typewriter belonged to him and it was he who wrote the sequel of the novel. His motif should be to save Soon-duk from the government sanction, which could make her future life even more miserable. The fact that her father used to be a suspect of the similar offense also made her position even more difficult. Once she was caught and brought to trial, her social life seemed to be over. Soon-duk would be stigmatized for the rest of her life.

No students knew this confession as Tae-nam left the school without prior notice.

Soon-duk’s life went well. She even went to university years after. And somehow she found out that Tae-nam had to work at a smaller private school with a much lower salary, making even harder for him to be confident to find a woman to marry.

But then a questions arises:

Is Tae-nam’s action an ethical one?

Though Tae-nam is described as a teacher that finally took the best decision to protect his student, ethically it is not right.

By taking the blame, Tae-nam did not allow Soon-duk to learn her lesson. The hard way of course. But at the very least, she could take charge of her own bold action of publishing such a novel.

However, Soon-duk was also unaware of the fact that the book was banned and thus whoever wrote it could be sent to prison.

In this case, Tae-nam took charge of his fault for letting Soon-duk know about the book (by not properly disposing of the book, by burning it down, for example). And it was also his fault that the principal found the copies of Soon-duk’s novel.

Socrates said: “The truly wise man will know what is right, do what is good, and therefore be happy.”

I’m wondering whether Tae-nam was happy with his own decision. But what I am sure of is that he is proud of his own bold actions for taking side with the oppressed young soul. (*/)

Spa Korea Gamalama

animal photography animals cute hairy
Monyet juga bisa stres. Spa solusinya. (Sumber foto: Pexels.com)

Macaque (baca “mekak”, penekanan di suku kata kedua) adalah spesies monyet di Jepang yang terkenal dan menjadi bekas ikon grup WhatsApp kami di kantor (kini telah diganti dengan Song Hye-kyo).

Sebuah fakta yang menarik tentang macaque ini yakni ternyata monyet-monyet betina yang tahan hidup di daerah dingin itu mirip manusia juga. Mereka sengaja mandi air hangat di sumber air panas secara teratur di taman margasatwa Jigokudani dengan tujuan untuk melepas penat di tengah kesibukan sebagai primata.

Konon satu di antara tiga monyet betina ini berendam air panas di musim dingin. Mereka berendam air hangat lebih sering di musim dingin daripada di musim lainnya.

Di kumpulan macaque yang mengenal strata, monyet-monyet betina yang senior dan dominan ternyata memiliki hak untuk berendam lebih lama dan ‘leyeh-leyeh‘ tanpa diinterupsi monyet lain. Berendam di air hangat membuat mereka lebih santai dan bisa menghemat panas tubuh yang berharga di iklim dingin.

Entah apakah Gamalama terilhami oleh perilaku macaque-macaque betina ini. Tetapi tidak bisa dipungkiri ada pola yang sama. Mereka sama-sama menikmati spa untuk melepas stres.

Bedanya dari macaque-macaque yang hanya berendam di sumber air panas alami, Gamalama tidak bisa sembarangan berendam di alam bebas begitu.

Dengan berbekal selembar voucher spa ala Korea dari Chibi, Gamalama menuju ke sebuah tempat di daerah selatan ibukota yang katanya akan tak lagi menyandang status ibukota.

Ia mengetuk pintu spa. “Enak nih, pasti bakal bisa tidur pas dipijit-pijit, destress, rilek, amboyyy… Keniqmatan haqiqi,” batinnya sambil bersiul masuk.

Di dalam lobi, Gamalama disambut hangat dan ceria oleh seorang resepsionis.

“Namanya siapa, mbak?”

“Gamalama…,” jawabnya dengan dagu mendongak ke atas.

Terbiasa dengan tingkah angkuh pelanggan-pelanggan, resepsionis mempersilakannya duduk dengan nada datar.

Ia salah perkiraan.

Di dalam, ia menyaksikan tubuh-tubuh hampir telanjang digosok dengan kain-kain sekepalan tangan. Antusias dan bertenaga. Begitu gerakan tangan para pekerjanya.

Pertama-tama ia ‘dijebloskan’ ke dalam ruangan sauna. Setelah setengah jam di dalamnya bergelimang keringat, ia digelandang ke arena pemandian.

Bak seekor sapi yang dimandikan di tengah sungai, Gamalama diharapkan untuk diam oleh seorang perempuan pemusnah daki.

“Diam ya! Jangan gerak!” si wanita paruh baya itu mengingatkan Gamalama yang masih terguncang secara batin dalam pengalaman pertama di spa khusus wanita bergaya negeri ginseng.

Begitu ia sudah pasrah, kembali ia syok saat lengannya diangkat secara tiba-tiba. Yang hanya ia bisa lakukan hanya menatap langit-langit bangunan spa saat tangan perempuan perontok sel kulit mati itu menjelajah ketiaknya.

“Aku dimandiin kayak orang matik….,” gumamnya dengan rasa kesal, malu, terkejut.

Tenang. Ibu-ibu di sebelah mengerang mbak menggosok dan berkata dengan bahasa Jawa:”Kamu pakai sarung tangan yang halus tapi kok kenceng banget suaranya?”

Begitu keluar spa, Gamalam disambut dengan muka ceria si mbak resepsionis. Sapanya lantang,”Gimana mbak Gamalama? ‘Panen’ yah?”

Sialan, batin Gamalama lagi.

“Panen DAKI maksud kamu???” rutuk Gamalama sembari melangkah gontai. (*/)

woman wearing sunhat
Ilustrasi tampilan Gamalama pasca spa. Kondisi yang sayangnya cuma sementara. Akan kembali seperti semula tatkala melantai kembali di jalanan Jakarta. (Foto oleh Pexels.com)

Songpyeon Warna Warni dan Indahnya Berbagi

IMG_3697.JPG
Terakhir kali mengetuk pintu kamarku di malam hari, ia meminta pinjaman uang. Saat itu ia mau ke Bandung. Butuh uang Rp400.000, pintanya dalam bahasa Inggris yang lancar. Katanya ia belum terima transfer dari istrinya di Seoul. Semua gajinya ditransfer ke sana, dan ia akan mendapat uang dari istrinya. Kadang kiriman uang itu terlambat dan ia panik bukan kepalang. Pasalnya ia harus membiayai pengeluaran sehari-hati. Tapi aku cuma punya Rp200.000 di dompet. Kuserahkan ke dia. Ia pun pernah meminjam sekali dan uangku dikembalikan tepat waktu, sehingga rekam jejaknya cukup bagus. Katanya 3 hari lagi setelah kembali ke Jakarta, dan uang itu ada, ia akan lunasi segera.

Ia menepatinya. Tanpa aku menagih, ia sudah mengetuk pintu kamarku lagi. Di tangannya ada 2 lembaran uang 100 ribu Rupiah baru. Kamsahamnida, ucap mr Ahn dengan mata berbinar. Aku paham, berkat sebulan kursus bahasa ini di tahun 2009. Kedua matanya sipit tetapi bukan sipit khas Tiongkok. Entah lah bagaimana perbedaannya tetapi sipit keduanya sedikit berbeda.

Hidup terpisah dari sanak keluarga memang membutuhkan ketabahan tersendiri. Untung mr Ahn memiliki teman-teman setanah air di sini. Jika tidak, aku pastikan ia bisa gila seketika. Jakarta bukan tempat yang ramah bagi mereka yang berasal dari luar. Bandingkan saja dengan Seoul, maka Jakarta seperti itik buruk rupa. Sangat kusam, carut marut.

Namun, ia di sini bukan untuk menikmati hidup tetapi membangun hidup. Ia ingin anaknya lebih sejahtera darinya. Karenanya ia berhemat selalu. Pulang ke kampung pun cuma sekali dalam 4 tahun. Ia pulang akhir tahun lalu setelah dari 2009 berada di ibukota Indonesia.

Malam ini ia ketuk pintuku lagi. Kali ini bukan untuk meminjam uang atau melunasi pinjaman. Aku pikir ia ingin aku membantunya memperbaiki koneksi Internet yang macet. Pernah juga ia mengetuk pintuku tengah malam. Modemnya gagal bekerja. Padahal ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan. Aku buka modemnya. Masih bagus. Lalu aku masukkan kartu modemnya ke smartphone Samsung Galaxy Young mungilnya. Tak ada kerusakan. Saat tethering dicoba, memang tidak bisa. Jadi bukan modem yang bersalah. Kuperiksa jumlah pulsa kartunya. Nol. Pantas saja.

Rupanya ia kembali mengetuk pintuku hanya untuk mengantarkan songpyeon, makanan bulat berwarna-warni asli negerinya. “Halal,”ia memberikan setengah kotak songpyeon penuhnya padaku. Ia selalu mengatakan itu sebelum memberikan makanan apapun padaku. Dulu ia juga yang memberiku kimchi asli buatan rumah dari temannya. Bagaimana kudapan ini tidak halal? Songpyeon hanya terbuat dari tepung ketan dan isi kacang tanah yang manis. Warnanya bervariasi dan cerah bukan main. Cerahnya sama dengan suasana hati kami para semut pekerja di akhir pekan ini. Semut-semut pekerja kecil yang bekerja sepanjang waktu melayani ibunda ratu yang cuma bisa duduk di singgasana dan makan lalu bertelur sebanyak-banyaknya.

Kamsahamnida, mr Ahn…

Ia pun masuk lagi ke peraduannya yang ada selangkah dari pintu kamarku. Mungkin untuk kembali bekerja. Begitulah orang Korea. Hidup untuk berkarya. Sementara orang Indonesia lebih terlena dengan alamnya yang berlimpah tiada tara.

Korea dalam Realita

(Image credit: Wikimedia)

Seperti gading, tiada bos yang tak retak…

Begitu peribahasa modifikasinya. Pokok bahasan yang satu itu tidak pernah kering sampai akhir zaman nanti, saya yakin. Selalu saja ada yang bisa diperbincangkan, dikritisi, dicela, dicaci, dan jika ada, dipuji, dari seorang bos.

“Halo, gimana kabarnya?”sapanya ramah di suatu pagi yang bersuasana biasa saja di sebuah ruang bawah tanah yang sedikit pengap tetapi hangat.

Saya terkejut seorang wanita menyapa saya dengan ceria. Beberapa nano detik dibutuhkan otak ini untuk menemukan informasi identitas si nona dalam otak saya. Ah, namanya X, panggil saja Xena. Kibasan rambutnya yang panjang tergerai itu mengingatkan saya pada Xena sang wanita perkasa.

Tetapi lain dari Xena, tubuhnya tidak kekar. Bahkan jika dibandingkan dengan tubuhnya beberapa bulan lalu sebelum pindah kerja ke perusahaan lain, ia tampak jauh lebih menggembung. Entah pilihan kata ini benar atau terlalu kasar, tetapi memang tidak ada yang benar kalau sudah menyoal bentuk dan berat badan. Kata-kata sifat apapun bisa diartikan sebagai pelecehan karya Tuhan. Mulut saya katupkan agar tidak keluar kata-kata semacam:”Hai, makin gemuk saja kamu?! Tambah makmur ya?” Meskipun lebih berisi, ia tampak lelah. Senyumnya agak sedikit dipaksakan.

Kami bercerita panjang lebar dari pengalaman menghadapi bos-bos terdahulu hingga yang sekarang. Tawa sesekali pecah saat kisah-kisah lucu dan absurd mengalir dari mulut. Bos-bos eksentrik dengan kebiasaan dan cara kerja dan perilaku yang tidak lazim.

Hingga di suatu titik, ia menceritakan bos lelakinya yang masih berusia 32 tahun di depan saya. Sambil sesekali menyedot jus jeruk segar dari wadahnya, ia berceloteh,”Bosku ini orang Korea…” Jeda, karena ia tengah merangkai kata.

Pria Korea. Kupikir ia akan bercerita dengan mengharu biru, bangga dengan si bos baru. Raut mukanya biasa saja. Malah cenderung datar. Tetapi saya ingat ia sedang membicarakan seorang manajer, bukan selebriti K-pop atau K-drama. Mimik muka dan bahasa tubuhnya, saya lalu menduga, menunjukkan bahwa si manajer bukan orang yang menyenangkan, apalagi rupawan. Kalau pun tampan, minusnya kelakuan menjadi sandungan memberi sanjungan.

Benar saja. Lanjutnya,”Bosku itu udah punya istri ama anak tapi orangnya ambisius gitu, jadi suka menjilat. Ngintilin presidennya ke mana-mana.” Oh, saya memberi simpati singkat sembari membatin,”Lanjutkan…” Otak saya mencatat dengan huruf besar:”KOREA PENJILAT…”

Teman saya resah, menengok jam tangan. Sementara saya masih tenang dan tekun mendengar. Selesaikan dulu ceritamu, batin saya memohon. Padahal percuma saja. Memangnya dia bisa membaca pikiran saya?

Saya pancing,”Memang pria Korea brengsek ya?” Saya sedikit bergeser menjadi seorang devil’s advocate agar pembicaraan lebih seru. Devil’s advocate adalah orang yang mendukung sisi buruk argumentasi agar perbincangan lebih membara. Begitulah kira-kira.

Pancingan itu sukses. Tak dinyana ia mengeluarkan ekspresi persetujuan spontan. “Iyaaa!! PK banget!!” PK, kependekan dari istilah prokem masa kini Penjahat Kelamin, mengacu pada pria yang suka berselingkuh. Otak saya seolah mengambil pensil dan kertas kemudian menulis dengan huruf tebal font kapital:”KOREA PK”.

Bagaimana ia tahu? Ia pernah menangani reimbursement bertanda terima dari klub malam ternama ibukota, Alexis. Sebetulnya kalau orang berkata Alexis yang teringat dalam benak saya adalah gadis baik- baik, manis dan cerdas seperti Alexis Bledel, pemeran utama Gilmore Girl. Tetapi klub malam ini membuat reputasi nama Alexis tercemar parah. Andai Bledel pernah ke sini dan mengetahuinya, bisa jadi ia akan minta rehabilitasi nama, atau menuntut klub itu di muka hukum. Saya berkomentar,”Wah, kenapa tidak ditegur? Kan kalau ketahuan bisa mencemarkan nama baik perusahaan itu.” Sebelum menjawab ia tersenyum simpul,”Itu dia sama-sama Presidennya, buat entertain tamu rekanan sih… Susah kalau urusan moral di sini.”

Manajer yang menurutnya kurang kompeten itu bekerja tidak becus. Ia bertekad dipromosikan menjadi general manager tetapi prestasinya dapat dikatakan tidak istimewa. B, begitu kalau ia dapat nilai di kuliah. Tidak bodoh tetapi juga tidak mencengangkan.

Tidak jarang ia dan teman-teman kerjanya mengaku dilimpahi pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab si manajer Korea tadi. Supervisor disuruh mengisi lembar penilaian kinerja rekan supervisornya, padahal hidup matinya karir yang bersangkutan akan ditentukan dari penilaian tersebut. Mana tega kalau memberi penilaian buruk pada teman sendiri? Kalau memberi penilaian terlalu bagus nanti bisa menjadi bumerang buat diri sendiri. Dilematis.

Orang Korea yang bekerja di Indonesia, tutur dia, banyak yang bertingkah seperti OKB, Orang Kaya Baru. Di negerinya sana mereka cuma orang dengan gaya hidup biasa saja tetapi begitu bekerja di Indonesia, dengan kurs kita yang lebih rendah, mereka menjadi lebih leluasa meningkatkan level gaya hidup.

Tetapi tidak semua pria Korea juga seperti itu. Sebagai penyeimbang informasi saja, mr. Ahn yang tinggal di sebelah kamar saya terlihat lebih sederhana dalam hal gaya hidup. Kemejanya beberapa. Laptopnya Acer yang biasa dipakai mahasiswa. Ia juga tidak punya mobil. Ke mana-mana berjalan kaki. Saya menduga karena tingkat pendidikannya. Ia tak seberuntung pria Korea lainnya, termasuk si manajer muda teman saya. Mungkin mr. Ahn bukan manajer. Tetapi yang aneh, ia tidak ingin diketahui bermukim di tempat kami oleh teman-teman kerjanya apalagi atasannya di kantor. Ia tidak sebutkan alasannya secara jelas. Mungkin saja ia mau berhemat hingga titik darah penghabisan tetapi malu. Mengencangkan ikat pinggang sampai maksimal dan menjadikan gengsi sebagai tumbalnya.

MBC Akan Putar Sekuel ‘Jewel in the Palace” Oktober 2015

Stasiun televisi Korsel MBC tengah mengerjakan sekuel dari serial drama sejarah korea yang menjadi tersohor di seluruh dunia “Jewel in the Palace”. Kemungkinan bintang utamanya adalah Lee Young-ae lagi. Sebagaimana diketahui, Lee adalah pemeran Dae Jang Geum, karakter perempuan yang menjadi protagonis dalam serial yang banyak digemari juga di Indonesia itu.

Kim Young-hyun, yang menulis naskahnya, mengatakan Kamis bahwa serial baru itu dijadwalkan akan mengudara Oktober 2015. Tahun lalu, Presiden MBC Kim Jog-guk mengatakan dalam sebuah konferensi bahwa pihak penyiar serial ini akan mengejar agar target penayangan sekuel tersebut bisa dipenuhi di paruh pertama tahun 2015.

Agensi Lee Young-ae menyatakan bahwa mereka belum menandatangani kontrak formal tetapi mereka mengaku menerima sebuah sinopsis di bulan Januari dan tengah mempertimbangkannya. “Lee mungkin akan menjadi bagian dari proyek besar ini,”ungkap mereka.

Agensi itu menambahkan bahwa tanggapan di antara penggemar di China sangat besar dan sejumlah perusahaan menawarkan berinvestasi dalam sekuel ini dan menanyakan mengenai hak penjualannya.

Jika benar serial ini akan tayang kembali dan menghadirkan Lee, saya sebagai penggemar serial ini juga akan sangat gembira dan tidak sabar untuk kembali menikmati intrik-intrik dalam istana kerajaan Korea di abad pertengahan itu. Semoga tahun depan, kita bisa menyaksikannya!

Korea National Contemporary Dance Company “Bul-ssang” Tomorrow Evening!

This just in!

If you’re into Korean contemporary arts, you won’t miss this FREE event. Bul-ssang, Korea national contemporary dance company, is to be held on Sunday, October 20, 2013. The show will begin at 8 pm sharp and end at 9pm. Lucky you if you stay in Jakarta because the event takes place at Theater Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya 73 Jakarta 10330.
There is invitation needed to attend. RSVP email at reserve@kccindonesia.org. Don’t forget the dress code is smart and casual.
Don’t know where that is? Here is the Google Maps for you.
View Larger Map

Indonesia U-19 Team Won over South Korea. Sounds Awesome… until PSSI Takes over!

The same old story. Prodigies now, losers later. That’s partly why I loathe football. The drama off the field is too much. But I want to post something different tonight even my thumbs don’t really want to.
Leave the pessimism for now because Indonesia national U-19 (under 19 years old) team just won 3-2 over the Taeguk Warriors tonight at Gelora Bung Karno, Jakarta. That said, the team is officially allowed to compete in the final match of Asia Cup 2014 in Burma.
The team is coached by Indra Syafri, so make sure you don’t mistakenly credit this victory to any of House of Representatives or shitty bureaucrats or legislators like the shameless Marzuki Alie.
And tonight, after a huge downpour, Ravi Murdianto et al can take a warm bath immediately and grab some hot drinks and whole foods to curb the seeds of flu because seriously, flu is running rampant in this city these days! The weather has been extreme and harsh. One can sweat profusely during the day and get cold in an instant after being caught in the rain like today’s.
But hats of for Lee Tae-hui et al for the fair game. Some haters say they can come back and put on their makeup again but I also see some women asking if someone knows who wore number 6, admiring the cuteness of the brondongs (slang for ‘cute young men’ in Indonesian). Obviously they’re heartthrobs and we Indonesian men are already sick with this Korean Wave phenomenon, because these Korean men fill up our women’s imagination with the so-called perfection blatantly doled out by Korean screenwriters and songwriters and all of their artists through the Korean dramas and movies and songs and korea-graphers.
Evan Dimas got a hat-trick. The three goals were scored by Dimas, who served as the captain.
As promising as the U-19 team looks like, how long until the sweet victory turns sour in the next few years? PSSI must be proud of their knack for killing these young auspicious talents.

When Kimchi is Traded with Jengkol

Ahn Bak-hyun is a nice, decent, withdrawn Korean man living next door. Literally the next door because we stay like in a rented house with a bunch of separate rooms inside it.

He speaks very basic Indonesian, which makes it almost impossible to sustain a long conversation with him. His command of English is not quite impressive but when I compared to the girl at a booth where I got shirts at Yeosu premium outlet last year, he is a lot better. Living in Seoul for his entire lifetime, he couldn’t fathom the heat of living in the tropical Jakarta. But from what I heard, he had traveled extensively to some islands other than Java. His job enables him to do so. That’s the privilege I don’t have. I am Indonesian with literally no traveling experience in Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku and Western Papua. But ironically enough, I have visited Macau, Hongkong, Singapore and South Korea. That said, I really feel like a fraud. “How dare you declare yourself an Indonesian native?”a voice inside me protested. I shrugged and argued,”I had no option. Air fares to Papua, for your information, is much much higher than ones to Singapore or Malaysia!”

Mr. Ahn says he’s got a grownup daughter. I saw her on the laptop screen a long time ago when they were Skype-ing. The connection speed was a top source of frustration. It didn’t work afterall and it seemed to him that chatting by text is the most plausible type of interaction with his daughter in Seoul.

So one afternoon, mbak Erna, the caretaker of the rented house (she is paid to stay with us by the house owner and to do the laundry and she sells foods too), was seen busy in the kitchen. She cooked jengkol, the type of food you cannot see anywhere else but in Indonesia.It is more or less like “petai” or “pete” but bigger in size. Some people still consume it although obviously consuming petai and jengkol makes you urine stink. Yes, literally and seriously STINK. I am not lying or overstating. You’ll know the smell of the urine of jengkol eaters instantly, at times so effortlessly you may frown and stop inhaling for a moment so as not to be choked by the intensity.

And mr. Ahn smelled the fried jengkol mbak Erna just cooked. He was walking down the stairs and yelling,”Apa ini?” (What’s this?).

“Jengkol”, mbak Erna replied.

He picked some and tasted the jengkol served on the plate.

“Enak,”mr. Ahn said. Delicious. He was awestruck by the taste of jengkol, something I couldn’t describe by words simply because I have NEVER tasted that before.

I, however, have eaten kimchi. A few times. And I feel like I am a fraud once again.

Korean Culture Fair at Lotte Shopping Avenue (a Photoblog)

Korean culture fair is held in Jakarta

image

Just at the entrance, the dashing Hyun Bin and one of the SNSD members are welcoming you. You can see the banner prepared for the president’s visit.

image

Enjoy the enchanting stairs just after the entrance.

image

And this one too is for Park Geun-hye ssi.

image

We have to pay to take pictures here, I guess. I don’t know how much to strike a pose with traditional costumes of Koreans but maybe not much.

image

image

image

The paintings of Korean artists are displayed on flat plasma Samsung TV screens. Slightly classic.

image

image

Another work of art from a Korean artist with more contemporary flavor.

image

image

image

And some Indonesian artists’ works with the modern, urban, contemporary art taste.

South Korea President Park Geun-Hye to Come to Jakarta

President of South Korea to visit Jakarta.

image
Yesterday afternoon, South Korean President Park Geun-hye visited Indonesia in her presidential capacity for the very first time since she was appointed in February this year. Mari Elka Pangestu, minister tourism and creative economy, was seen accompanying Park at the mall.

Reportedly, she was scheduled to talk with SBY but managed to pay a very brief visit to Lotte Shopping Avenue where Korean Culture Fair is being held. The fair is planned to last for several weeks. Visitors may sightsee around the mall to enjoy the art works of the select contemporary artists from both countries.

The Lotte premium shopping arena is located at Ciputra World Jakarta, just the opposite of where I work. Park’s visit caused a huge traffic jam around the already packed street of prof. Dr. Satrio (Casablanca, Mega Kuningan, South Jakarta). As we all know, Friday traffic in the capital is the last thing we hope to be stranded in while the weekend mood is already in the air.

(Image credit: @lotte_love_jkt)

%d bloggers like this: