Kafir

Di khotbah salat ied iduladha tempo hari ada sesuatu yang terus saya ingat.

Soal kafir mengkafirkan. Haha. Capek banget ya, hari gini masih saja bahas masalah ini.

Tapi sang khotib yang saya tak tahu namanya berkata begini: “Jangan asal menyebut seseorang kafir sekalipun dia nonmuslim.”

Wah, kaget dong ya. 

Siapa nih? Berani banget ngomong kayak gini? Haha. Ngeri kalau sampai terdengar kelompok yang berseberangan.

Tapi inilah untungnya jadi khotib, mau ngomong apa saja silakan. Jamaahnya harus diam dan mendengarkan, karena isi khotbahnya ditujukan untuk kebaikan dan kemaslahatan umat.

Tak lama, khotib menjelaskan bahwa vonis kafir pada seorang manusia tidak sebaiknya dilakukan semasa ia masih hidup. 

Karena seorang manusia baru bisa dikatakan kafir bila di akhir hidupnya ia tidak berada di jalan Allah SWT.

Inilah yang namanya akhir yang buruk atau su’ul khotimah.

Mereka yang mungkin lain keyakinan bisa saja di akhir hidup mereka malah lebih taat dan meninggal dalam keadaan yang lebih saleh dari mereka yang mencemooh. 

Di sini kita diingatkan bahwa semua skenario yang terdengar musykil itu mungkin lho. Karena Allah SWT adalah Maha Pembolak Balik Hati. Dia bisa membalik jalan hidup seseorang tanpa bisa disangka-sangka. 

Maka berhati-hatilah dengan lidah dan hati kita yang sering mengkafirkan orang bahkan yang sesama muslim juga hanya karena berlainan pendapat dari kita. 

Karena yang bisa memvonis kafir atau tidak itu ya cuma Allah SWT. 

Daripada sibuk menghakimi amal orang lain, marilah sibukkan diri dengan menilai diri sendiri.  (*/)

What Indonesian Netizens Are Doing to Woo Ha-Ram Is Just Unpleasant, Stupid, and Shameful

//www.instagram.com/embed.js

INDONESIAN netizens are known for their ridiculous mob attacks agains whatever and whoever they think get under the way.

And they also bully those who they think are ridiculous to them.

One of the not-so-recent victim is Woo Ha-Ram, a Korean male diver who participated in the Olympics diving competition in 2021.

If you read the above post, the diver’s Instagram comment boxes are scattered with comments from Indonesians who mock his name.

The word “haram” which sounds like his given name Ha-Ram means “forbidden”.

That is the most commonly associated meaning with the word. Whenever people say “haram”, they immediately think of pork, murder, blood, anything forbidden by the rules of Islam.

But these people forget that the word “haram” also means “holy”. Mecca, the city where muslims around the world are headed to everytime they pray 5 times a day, itself is called “Masjidil Haram”, meaning “a holy or sacred place”. The place is considered holy because it is strongly tied with prophets like Ibrahim and Muhammad, two major prophets in Islam.

So Koreans, if your diver gets mocked by Indonesians, DO tell them that he is not “forbidden” or “un-halal” but instead he is a “holy” creature.

Woo Ha-ram is surely a divine creature when he dives beautifully into the pool.

That, I hope, will shut their mouths (or stop their thumbs?) for ever.

And anyway, I am Indonesian myself but I never condone such action. (*/)

Bahaya ‘Kecanduan’ Amal

Khotbah Jumat adalah khotbah yang banyak ditinggal tidur orang. Haha. Serius, faktanya memang berapa banyak dari jamaah yang benar-benar menyimak isi dan mengingat intisari khotbah yang disiapkan dengan susah-payah oleh khotib?

Anda bisa menjawabnya sendiri…

Kalu minggu kemarin ga inget apa-apa karena ingetnya khotibnya cuma teriak-teriak, minggu ini mayan bisa diinget.

Yang pertama khotib cerita bahwa amalan yang membuat Allah SWT senang itu bukan amalan-amalan kayak salat, puasa, zikir.

Karena salat itu kalau dilakuin yang terhindar dari perbuatan keji dan munkar ya manusianya sendiri. Jadi benefitnya di manusia itu saja.

Puasa juga begitu. Kesehatan fisik dan ketenangan yang kita peroleh dari puasa ya cuma bisa dinikmati kita saja.

Zikir juga begitu. Setelah zikir, jiwa kita merasa tenang tapi nggak bisa otomatis buat orang lain di sekitar kita tenang dan hepi.

Lain cerita dengan amalan sedekah atau infak yang langsung bisa dirasakan oleh orang lain yang menerimanya.

Tapi kata khotib, sedekah nggak cuma berupa duit kok. Semua perbuatan baik dengan maksud menolong sesama atau makhluk lain bisa termasuk kategori sedekah.

Lalu juga kita jangan menyandarkan diri pada satu jenis amalan saja dan otomatis optimistis bakal masuk surga.

Kata khotib sih banyak orang ‘kecanduan’ dengan satu jenis amalan favorit lalu meninggalkan amalan lain. Mengira bahwa dengan amalan favorit itu saja dirasa sudah cukup mengantar ke surga padahal belum tentu. Ekspektasi semacam itu adalah bentuk kesombongan manusia.

Dan gongnya sih soal orientasi atau goal dalam beramal. Janganlah beramal demi mendapatkan surga karena surga itu ciptaan Allah. Dengan beramal demi surga, kita malah terjebak dalam penuhanan surga, padahal kan kita beramal untuk Yang Menciptakan Surga. Jadi cek dulu niat beramal: demi surga atau …?

Pengalaman Belanja Online di Uniqlo Indonesia

UNIQLO bisa dikatakan jenama pakaian paling saya suka dari dulu. Entah kenapa ya, dari model, warna dan (terpenting!) ukuran saya merasa busana-busana Uniqlo adalah yang paling pas di badan ini.

Soal ukuran badan, saya memang agak ‘problematik’. Karena tak terakomodasi di section dewasa, akhirnya saya lebih sering ke section anak-anak. Seringnya saya bawa pulang pakaian ukuran remaja 14-15 tahun. Ini pas, tapi masalahnya lengan mereka lebih pendek, sehingga jaket dan kemeja terasa agak kependekan di lengan dan bahu. Badan saya yang siluetnya sudah kurus kering ini makin menonjol saat diberi pakaian pas badan begini.

Tapi kalau saya beli pakaian ukuran pria dewasa ukuran S terkecil pun saya masih kedodoran. Dilema ini terus saya hadapi. Tak jarang saya mesti ke penjahit karena mesti mengepaskan ukuran pinggan, bahu, lengan. Capek banget dan boros. Apalagi sekarang saya sudah tak tinggal di tempat dahulu. Keberadaan penjahit yang mumpuni untuk melakoni pekerjaan mempermak dengan bagus kok rasanya susah ditemukan. Sedih…

Akhirnya saya mencoba melihat-lihat toko online Uniqlo lagi. Iseng sih, tak ada niat beli. Nanti kalau mau beneran beli ya ke tokonya saja di Bintaro, gumam saya.

Tapi begitu saya browsing dan banyak yang saya pikir pas dan bagus, saya berpikir: “Kenapa mesti susah-susah ke sana? Di sini tersedia fitur belanja online juga.”

Akhirnya ya sudah saya coba lah kemudahan ini.

Karena saya orangnya tak ingin kecewa, saya mencermati ukuran pakaian satu persatu. Tabel ukuran saya baca teliti, dan tentu saya cari ukuran terkecil.

Dan ternyata sekarang ada ukuran XS! Ini kabar menggembirakan buat saya karena itu berarti Uniqlo mendengar aspirasi pelanggannya. Entah dari mana mereka tahu bahwa ada lho sekelompok pria Indonesia yang badannya lebih kecil dari rata-rata dan tentu tak bisa membeli pakaian anak-anak karena meski ukurannya pas tapi model pakaian anak-anak berbeda sekali dari pakaian oramg dewasa. Serius ini. Saya sendiri merasakannya saat memakai karena lho saya merasa modelnya memang makin membuat saya malah jadi anak remaja. Padahal di situasi formal, saya mau membuat orang tahu saya pria dewasa. Hahaha. Susah ya.

Singkat cerita pemesanan saya lakukan dan 2 hari kemudian paket ini datang di pintu rumah. Jasa kurirnya menggunakan Ninja. Tidak ada ongkos kirim yang dibebankan ke saya dari Uniqlo. Tapi mungkin harga jual pakaiannya di toko online mereka sudah di-mark up? Saya tak mengecek di toko offline mereka untuk membandingkan sih.

Sebagai gambaran, satu Celana Smart Ankle 2WAY Stretch (Cotton) harganya di toko online Uniqlo adalah Rp599.000. Kemeja Broadcloth Extra Fine Cotton Lengan Panjang Rp399.000. Sweater Washable Milano Rib Lengan Panjang Rp299.000. Kemeja Premium Linen Kerah Tegak Rp499.000. Kemeja Katun Linen Kerah Tegak Rp299.000. T-Shirt Dry Warna Crew Neck Lengan Pendek Rp99.000 untuk warna putih dan Rp79.000 untuk warna biru. Dua Celana Boxer Tenun Kotak Multi Warna Rp118.000.

Saya sendiri memberikan bintang 5 untuk kualitas pelayanan belanja daring Uniqlo Indonesia. Sudah lancar dan mulus banget.

Di dalam paket pakaian ini saya temukan busana yang saya pesan, formulir pengembalian jika memang ada pakaian yang saya tak sukai setelah coba, dan katalog busana perempuan berhijab. Saya agak sayangkan kenapa Uniqlo memberikan saya sebuah katalog demikian karena saya kan pria. Buat apa saya diberi katalog perempuan begitu? Tak bakal membuat saya beli pakaian lagi. Mending saya diberi katalog pakaian pria supaya bisa jadi wishlist berikutnya.

Kalau saran saya, kemasan pakaian harusnya sudah diinovasi agar tak memakai bahan plastik bening lagi. Karena kecemasan akan kelestarian lingkungan hidup kan sekarang sudah makin meningkat. Uniqlo sudah sepatutnya memikirkan hal tersebut, mencari bahan alternatif pengganti bungkus plastik ini. (*/)

https://platform.twitter.com/widgets.js

Pengalaman Membeli Rumah Pertama dan Tinggal di Citra Maja Raya [Bagian 2]

BACA SEBELUMNYA DI BAGIAN PERTAMA: “PENGALAMAN MEMBELI RUMAH DAN TINGGAL DI CITRA MAJA RAYA [2020-SEKARANG]

BEBERAPA waktu terakhir terutama di awal 2022 ini, saya mengamati bahwa jumlah pengunjung dan pembaca artikel bagian pertama soal pengalaman membeli rumah dan tinggal di Citra Maja Raya (CMR) ini makin banyak. Tampaknya makin banyak orang yang penasaran dan sedang mempertimbangkan untuk membeli rumah di sini entah itu untuk investasi atau mau dihuni.

Saya juga memahami karena CMR digadang-gadang bakal jadi sebuah kota mandiri layaknya BSD atau Bintaro begitu. Konsepnya memang masih sebagai kota penyangga aktivitas manusia-manusia ibukota. Tapi menurut sata sendiri ke depan mestinya kota ini juga bisa menjadi sebuah pusat ekonomi yang mandiri, terpisah atau setidaknya bisa beroperasi tanpa harus melulu ke Jakarta.

Saya menulis bagian kedua secara terpisah di sini setelah sebelumnya memperbarui terus artikel pertama saya. Tapi lama-lama kok makin panjang dan terasa agak susah di-scroll. Haha. Saya sendiri kalau mau menulis update terbaru juga kerepotan mesti lama scroll ke bawah. Ya sudahlah saya putuskan membuat artikel lanjutannya di halaman terpisah supaya pembaca tidak capek scroll dan tetap bisa menikmati.

Kalau saya katakan di CMR ini kemarin sempat macet karena arus balik Lebaran 2022, itu memang suatu anomali. Arus lalin untuk hari seterusnya kembali lagi seperti semula. Cuma 1-2 kendaraan saja. Kemacetan jadi hal mustahil dijumpai.

Tapi soal trotoar dan tempat bersepeda dan jogging di sini saya lihat kok tidak ada lajur yang terdedikasi khusus untuk itu. Ini sangat amat disayangkan. Kalau sekarang sih memang masih bisa jogging ke mana-mana dengan nyaman tapi bayangkan 5-10 tahun mendatang saat populasi di sini melonjak (mungkin ya), jalan yang sepi dan halaman ruko yang lapang pasti sudah luber terisi kendaraan bermotor.

Seharusnya kalau menurut saya pengembang memikirkan bagaimana menampung para pemakai sepeda dan moda transportasi non-motor lainnya seperti otopet, segway yang mestinya diakomodasi karena lebih futuristik dan ringkas bagi mobilitas orang-orang urban di masa depan. Sepeda motor itu sudah mesti dianggap kuno lho. Ini supaya kita tidak terjebak permasalahan yang sama dengan Jakarta dan kota-kota besar di Asia Tenggara yang berjibaku dengan kemacetan.

Untuk jarak dari stasiun Maja yang tak begitu jauh tapi juga tak bisa dikatakan dekat dengan berjalan kaki, moda transportasi sekunder untuk mengangkut manusia dari stasiun ke rumah mereka mestinya harus yang lebih ringkas dan murah. Di stasiun Maja saja sekarang halaman parkir sepeda motor sudah lumayan penuh lho di siang hari. Belum lagi kalau ada pemilik mobil yang naik komuter, wah bisa penuh cuma untuk beberapa unit mobil saja.

Makanya dari kasus para penyuka sepatu roda di Jakarta beberapa hari lalu, kita yang di CMR ini mestinya harus mengantisipasi. Jangan sampai masalah Jakarta terulang lagi. Harus ada pelajaran yang bisa dipetik dari kacaunya Ibu Kota Negara yang makin tenggelam itu.

https://platform.twitter.com/widgets.js

UPDATE 13 MEI 2022

Hari ini saya iseng jalan pagi dan ternyata bertemu dengan sebuah jalur baru. Di calon kota mandiri ini memang selalu ada kejutan sebab perkembangannya masih belum bisa ditebak sepenuhnya. Yang bisa diketahui cuma rencana tata ruang kota tapi pengejawantahannya bagaimana di lapangan kan belum tahu persis.

Ternyata dari klaster Benoa ada jalan tembusan ke arah selatan yang dulunya saya cuma bisa lewati dengan memutari klaster Sanur. Buldoser tampaknya dipakai untuk meratakan medan jalan.

Lalu dari situ saya terkesima dengan sebuah danau buatan yang sebelumnya saya tak pernah tahu ada di situ. Saya pernah sekali jalan kaki memutari sini, jauh sekali tapi kok tidak lihat ada danau ini.

Di tepi danau ini tampaknya akan dibangun klaster lain karena tanah tampak diratakan di sini dengan tujuan untuk dibangun tentunya.

Di sekitarnya masih banyak ladang dan pepohonan. Asri tapi tetap saja karena musim jelang kemarau begini, pukul 7 pagi saja matahari sudah teriknya minta ampun. Gosong tidak ditanggung.

UPDATE 15 MEI 2022

Kalau Anda punya unit rumah di CMR tapi belum sempat menempati atau ingin menyewakan setelah lama kosong, biasanya rumah harus dibersihkan. Nah, kalau Anda malas membersihkan sendiri karena sudah terlampau awut-awutan dan tumbuhan liar sudah tumbuh di halaman sampai jadi pohon tinggi besar melampaui atap rumah (ini benar terjadi), jangan khawatir karena ada jasa untuk membersihkan dan merawat rumah kosong Anda. Namanya zaman susah, semua yang mendatangkan duit pastilah dijalani orang. Sepanjang halal tak begitu masalah kan?

Ada beberapa pertimbangan dalam penentuan tarif pembersihan rumah kosong biasanya di CMR. Setelah diobservasi, biasanya penyedia layanan bersih-bersih rumah ini bakal mematok tarif.

Kalau layanan dasar seperti mengepel lantai kotor dan mencabuti rerumputan liar di halaman rumah sih masih termasuk standar. Tapi kalau sudah mengharuskan penebangan pohon liar sih harus dilihat sebesar apa ukuran pohonnya. Makin besar, tentunya makin mahal nanti jasanya.

Dengan kondisi CMR yang masih saja sepi begini, memang tak heran jika ada sebagian pemilik unit di sini yang gamang dan ingin menjual saja rumah mereka. Karena mungkin di sini cuma investasi dan sudah butuh duit. Tapi jika Anda masih belum begitu butuh duit, lebih baik sih ditunda saja menjualnya karena kalau Anda bersabar harga jualnya bakalan lebih tinggi dari harga belinya, begitu kata seorang makelar rumah di sini.

Untuk pemilik unit rumah di CMR Tahap 1, ada yang merasa lebih baik beli tanah kavling saja dan membangun sendiri unitnya. Hal itu bisa dilakukan di klaster Padma, dekat bundaran kantor pemerintahan desa Maja Baru, yang juga dekat gerbang CMR 2. Harganya sih dengar-dengar Rp2 juta per meter persegi. Kalau di sekitar Maja ini, kavling di luar CMR sih mungkin tak semahal itu. Ada selisih harganya tapi tentu nantinya ada bedanya kalau rumah Anda masuk kota mandiri CMR dan tidak. Suasana sekitarnya bakal beda. Percuma membangun rumah bagus dan megah tapi di sekitarnya awut-awutan dan manajemen sampahnya kurang baik. Saya tidak berlebihan, karena di Maja (di luar CMR) ini penanganan sampah masih memprihatinkan sekali. Warga masih seenaknya buang sampah di pinggir jalan dan tanah kosong. Karena pemerintah daerahnya belum peduli betul dengan penegakan hukum buang sampah sembarangan. Kalau Anda punya rumah bagus, apakah rela jika tanah di sekitar Anda jadi tempat menimbun sampah? Tentu tidak kan? Dalam lingkungan perumahan, hal ini dijamin tidak bakal menimpa kita. Semuanya lebih sedap dipandang karena ada manajemen kota yang mengaturnya. Kalau ada yang melanggar bakal ditegur dan dikenai sanksi.

Mereka yang tinggal di CMR biasanya adalah mereka yang juga sudah punya rumah atau dulunya tinggal dan bekerja di Alam Sutra, Bumi Serpong Damai (BSD), dan sekitarnya. Mereka pagi-pagi biasanya berangkat dengan kereta komuter line pagi-pagi. Kereta terpagi pukul 4 subuh. Mereka parkir sepeda motor di stasiun Maja dan pulang malamnya, cukup bayar Rp5.000.

Kalau ditanya apakah di CMR sudah ada Go-Jek atau Grab, saya katakan SUDAH. Please jangan dikira daerah ini setertinggal itu. Di sini memang sepi tapi cuma 2 jam kurang dari Jakarta lho. Ini bukan Papua. Dan keberadaan Go-Jek dan Grab juga masih sedikit memang karena di sini ada Trans Baduy, semacam layanan online ojek lokal dan abang-abang ojek panggilan di pangkalan-pangkalan masih banyak. Kalau belum ada layanan Go-Jek dan Grab mana mungkin juga Janji Jiwa buka gerainya di CMR ini? Buktinya mereka sudah buka satu gerai di dekat klaster Tevana.

Untuk masuk ke dalam CMR, Anda bisa memilih satu dari 3 pintu yang tersedia: pintu gerbang patung kuda CMR 1, CMR 2, jalan akses dekat klaster baru Agate dan Tampaksiring yang akan tembus ke Jasinga, Bogor.

PROSEDUR IZIN RENOVASI RUMAH DI CITRA MAJA RAYA

Renovasi di CMR sudah jadi hal jamak alias normal. Ya bagaimana lagi, wong pengembang cuma membangun setengah rumah saja sebetulnya. Dari luas tanah yang tersedia, yang dibiarkan kosong bisa setengahnya kalau dihitung cermat. Makanya tidak heran kalau harga rumah tapak di CMR bisa miring sekali. Beda dari Jakarta dan sekitarnya yang sudah berjuta-juta untuk per meter perseginya.

Kalau Anda punya rumah di CMR dan ingin memperluas bangunan unit Anda yang terasa sempit sekali, bisa mengajukan segera perizinan renovasi. Kalau Anda cuma mengerjakannya sendiri, semua ini harus diurus sendiri juga. Tapi kalau Anda punya dana ekstra buat renovasi, serahkan saja semuanya ke agen yang merenovasi karena seharusnya itu sudah jadi tanggungan mereka. Ini berdasarkan dari pengalaman saya merenovasi sih. Tapi patut diketahui ini agen yang profesional, bukan cuma tukang bangunan yang diserahi proyek renovasi rumah lho. Karena tidak mungkin kalau harus memberikan tanggung jawab itu ke tukang bangunan.

Cara mengajukan renovasi ialah mengumpulkan beberapa dokumen sebagai berikut:

  1. fotokopi KTP pemilik rumah
  2. fotokopi KTP tukang bangunan yang mengeksekusi renovasi
  3. fotokopi BAST alias Berita Acara Serah Terima
  4. fotokopi PPJB alias Perjanjian Pengikatan Jual Beli (halaman depan dan belakang saja)
  5. foto gambar kerja renovasi
  6. Melunasi Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL) bulanan Anda

Nah begitu sudah terkumpul, bisa diserahkan langsung ke kantor Manajemen Kota CMR/IPL di gerbang Citra Maja Raya 1. Anda juga bisa menngirim file dokumen ini semua ke renovasi.citramaja@gmail.com. Tapi sekali lagi, jangan kaget lah kalau sudah kirim softcopy begini lalu masih diminta hardcopy juga. Anda tahu negeri ini kan? Di era Revolusi Industri 4.0, NFT dan Metaverse begini, tradisi fotokopi masih terus lestari.

Lalu jangan kaget juga kalau Anda diminta menyetor sejumlah duit ke pengembang sebagai jaminan untuk pengerjaan renovasi ini. Tujuannya menurut saya agar renovasi yang akan dilakukan tidak melanggar aturan yang diberikan pengembang. Karena kalau tidak diatur, saya juga pasti yakin kalau perumahan ini bakal sudah jadi kayak perkampungan biasa yang carut marut, kacau balau. Dan di sinilah aturan itu semestinya membuat lingkungan bisa menjadi relatif lebih rapi dan enak dipandang mata. Kalau tinggal di perumahan tapi lingkungannya tidak teratur sih lalu apa bedanya dengan tinggal di luar sana? Haha.

Ketentuannya kalau tak salah adalah membiarkan facade atau bagian muka rumah seperti semula saat dibangun pengembang dalam jangka beberapa tahun pertama. Dan jujur sudah ada beberapa pemilik rumah yang sengaja melanggar demi keinginan mereka sendiri. Mereka berpikir: “Lha wong rumah-rumah saya sendiri, sudah beli kok dilarang-larang mau renov kayak gimana?” Ada betulnya, tapi meski ini rumah Anda tapi Anda tinggal di perumahan yang tentu terikat dengan peraturan. Mohon ditaati, kalau tak mau ya angkat kaki. Sesimpel itu. Ada sebagian orang yang saya lihat belum siap dengan ini, cara berpikirnya seperti orang yang punya rumah di kampung ortunya sendiri, renovasi seenaknya. Tidak bisa begitu, Pulgoso! Jadi paham kalau Manajemen Kota bakal memberikan sanksi. Apa sanksinya? Saya belum tahu persis sih. Apakah bisa sampai dibongkar paksa? Kurang tahu juga. 

Ada juga seorang tetangga yang berulah begini. Muka rumahnya dipermak habis. Sampai Manajemen Kota mampir dan menegur. Sampai sekarang pengerjaan renovasinya belum ada tanda-tanda dimulai lagi sejak berhenti libur Lebaran lalu. Apakah kena sanksi atau disuruh berhenti pihak Manajemen Kota? Saya kurang paham juga sih. Saya sendiri memantau kasus ini sebagai suatu preseden. Jika MK tegas, saya pikir tata ruang dan tata kota CMR bakal bagus seterusnya. Tapi kalau dari sini saja sudah lembek, wah bisa gawat nantinya. Ketidaktegasan pada satu oknum bisa merembet ke yang lain. Pasti yang lain merengek juga diizinkan merenovasi sesuai selera.

Berikut tata cara pengambilan uang jaminan izin renovasi:

1. Tukarkan Surat Ijin Renovasi dan Bukti Transfer dengan tanda terima ke Kantor Manajemen CMR

2. Tunggu 2-3 bulan

3. Setelah 2-3 bulan telepon/datang ke kasir Citra Raya (Citra Raya Tangerang ya, bukan Citra Maja Raya)

4. Kasir Citra Raya untuk pelayanan CMR bukan Senin DAN (bukan “sampai”) Kamis tanggal 1 s/d 25 setiap bulannya pukul 10.00 – 14.00 WIB.

Untuk langkah pertama dapat menyerahkan dokumen ke kantor Customer Care/MK dengan cc dokumen Pak Kennedy dan pembayaran bisa via virtual account yang nanti tertera di surat izinnya atau bisa ke kasir yang di kantor marketing. Untuk info selanjutnya, bisa hubungi Pak Kennedy (Manajemen Kota CMR) +62 813-9946-6477.

UPDATE 1 JUNI 2022

Ada kabar di media sosial Instagram @aboutcitramaja yang menyatakan bahwa terjadi peristiwa perampokan di warung tegal di seberang masjid Al Ikhlas CMR. Detailnya sebagai berikut.

https://platform.twitter.com/widgets.js
//www.instagram.com/embed.js

Kalau dari pengamatan saya sendiri sih tadi sekitar maghrib memang ada mobil patroli sekuriti CMR mangkal di depan warung tegal naas itu. Tapi begitu Isya, sudah tidak ada mobilnya dan cuma ada 2 orang petugas berjaga di sana. Entah apa maksudnya. Karena mustahil juga ya pelaku melakukan kejahatan dua kali berturut-turut di lokasi yang sama persis.

Yang patut disayangkan memang penerangan di CMR yang sekarang ini agak kurang sehingga mungkin dimanfaatkan pihak-pihak yang kurang baik niatnya. Tapi kalaupun itu alasannya, lokasi kejadian pencurian motor dan perampokan itu justru ada di area yang lumayan terang di bundaran CMR Tahap 1. Kalau yang kerap gelap itu justru di area CMR Tahap 2.

Apalagi ini terjadi setelah pihak manajemen menaikkan IPL yang dikeluhkan pihak penghuni karena katanya pengangkutan sampah saja tidak tiap hari.

Tapi terlepas dari semua kejadian kriminal ini, sebetulnya kondisi di CMR masih relatif aman kok.

Dan pagi tadi meski sehari sebelumnya hujan dan mendung seharian, cuacanya cerah dan bisa untuk jogging dengan nyaman.

//www.instagram.com/embed.js

UPDATE 6 JUNI 2022

Saya bertanya ke staf legal Citra Maja Raya dan mendapat kabar bahwa dokumen rumah saya sudah jadi dan siap dijemput. Saya pun hubungi petugas yang ditunjuk staf legal itu via WhatsApp dan mendapatkan undangan sebagai berikut:

Sehubungan dengan telah tersedianya dokumen legalitas atas tanah dan bangunan yang terletak di Perumahan Citra Maja Raya, melalui surat ini kami mengundang Bapak/Ibu untuk melakukan pengambilan legalitas berupa Sertipikat, Ajb dan Imb atas UNIT di maksud pada :

Hari : Senin-Jumat (tanggal merah libur)
jam : 09:00-16:30
Tempat : Ruko Legal Citra Maja Raya sebrang Management Office Citra Raya Cikupa (sebelah ruko OPPO)

Adapun persyaratan yang harus di penuhi untuk melakukan pengambilan legalitas berupa Sertipikat, Ajb dan Imb sebagai berikut :

1.Membawa asli Ktp dan Fc Ktp
2.Membawa Surat Ket Lunas dan Fc Surat Ket Lunas (apabila sebelumnya proses KPR)

Penjadwalan untuk melakukan pengambilan legalitas berupa Sertipikat, Ajb dan Imb bisa dikonfirmasi minimal h-2 sebelum legalitas diambil.

Terima kasih atas perhatiannya.

Saya sebenarnya keberatan kalau harus jauh ke Cikupa. Ini agak mengesalkan karena saya sudah bermukim di Maja sini. Tapi seakan pihak pengembang masih memuastkan kegiatan legal mereka di Cikupa. Bikin kesel memang. Dipikirnya mereka semua penghuni Citra Maja Raya ini masih di Jakarta apa bagaimana ya? Kalau saya masih di Jakarta sih Cikupa mungkin lebih dekat. Tapi mbok ya disediakan alternatif bagi mereka yang sudah menetap di Maja untuk mengambil di kantor marketing Citra Maja Raya. Ini kebijakan yang saya tidak habis-habisnya berpikir!

Begini lho kenapa itu mengesalkan, karena ke sana itu butuh waktu setidaknya sejam dari Maja dan jia ada yang ketinggalan, otomatis harus esok hari ke sana lagi karena bolak-baliknya itu sudah capek sekali.

Kalau kata petugas legal CMR, ini semua adalah bentuk Standard Operational Procedure (SOP). Tapi apakah harus menyusahkan seperti ini? Apakah memang lazim ya membeli rumah di satu area tapi urus dokumen di area lain yang jauh begitu? Kalau menurut pengalaman Anda bagaimana? Apakah memang ini hal yang bisa dimaklumi atau sebenarnya pengembangnya yang harus lebih akomodatif?

UPDATE 9 JUNI 2022

Dari undangan yang sudah saya terima tempo hari, saya pun ke lokasi yang dimaksud: ruko legal Citra Maja Raya di seberang Management Office Citra Raya Cikupa.

Di perjalanan, saya diberitahu oleh sopir saya bahwa memang kadang pemilik rumah harus ambil sertifikat kepemilkan di luar kantor perumahan yang dihuni karena perusahaan pengembang bekerjasama dalam hal legalitas tanah dan rumah dengan perusahaan lain. Dalam kasus saya perusahaan ini adalah PT Putra Asih Laksana (PAL). Perusahaan ini membayari pajak bumi dan bangunan saya dulu sebelum saya menerima sertifikat kepemilikan secara sah.

Tapi argumen itu ternyata kurang masuk akal karena saya lihat di kolom nama dan alamat wajib pajak, alamat PAL ini ada di Jl. Kopi Sangiang No 21 Rt 0 RW 0 Maja Baru, Lebak. Berarti deket banget dong dengan rumah saya tapi kenapa saya mesti ke Citra Raya Cikupa yang notabene puluhan kilometer?? Ini yang saya masih tidak paham. SOP macam apa yang dimaksud staf legal CMR itu?

Saya ditemui oleh seorang pria yang ternyata teman pak Fauzan yang mengundang saya via WhatsApp. Ia membawakan beberapa dokumen: SPPT PBB tahun 2022 dari Pemkab Lebak-Badan Pendapatan Daerah Lebak yang harus mulai saya bayar sendiri lewat bank atau kantor pos atau Tokopedia, Surat Setoran Pajak Daerah Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, Bukti Pembayaran Pajak/ Retribusi BPHTB Lebak dari Bank BJB yang sudah dilakukan oleh notaris yang kita tunjuk, Sertifikat (Tanda Bukti Hak).

Di sertifikat tertera pemegang hak semula adalah APL tadi yang dialihkan ke saya sebagai pemilik unit rumah tersebut. Lalu ada salinan Akta Jual Beli (AJB) dari notaris yang berkedudukan di Citeras, Maja. Dari alamat notaris ini juga sebenarnya dekat Maja. Jadi kenapa saya harus ke Cikupa? Haha.

Si staf legal ini menerangkan bahwa sertifikat ini sudah hak milik karena lunas. Ia menyebutkan detail-detail penting seperti nama lengkap, tanggal lahir, alamat rumah dan luas tanah, lalu menyuruh saya membaca dan memeriksa jika ada kesalahan yang tidak seharusnya ada.

Dan ternyata yang lucu ini nih: di undangan tertera pengambilan AJB, Sertifikat dan IMB. Nah di sini stafnya berkata: “Untuk IMB-nya lagi proses, pak. Belum bisa diambil.”

Lho, kalau begitu kenapa di undangan WhatsApp itu ada tulisan “IMB”??? Alasannya karena masih proses PBB.

“Paling nunggu beres dan nanti diinfoin….,” kata si staf legal.

Hahahaha…

Untung saya masih berkepala dingin. Kalau saya orangnya temperamental, mungkin sudah ada drama di sana.

Oke saya coba bertanya apakah bisa saya ambil di kantor manajemen atau pemasaran di CMR. Kalau saya harus jauh ke Cikupa lagi sementara saya sudah tinggal di CMR, saya sangat amat keberatan apalagi saya juga sudah mulai bekerja di kantor. Masak saya mesti ke sana lagi 2 jam pulang pergi di jalanan Maja-Cikupa yang jauh dari kata mulus dan menunggu lagi entah sampai kapan? Kalau memang belum ada IMB ya bilang saja lah jujur. Sangat disayangkan sih. Apa kurang teliti saat mengirim undangan itu atau bagaimana tapi saya kecewa sekali terus terang. Karena kalau memang IMB masih belum keluar kan masih bisa memberitahu saya dalam waktu beberapa hari sebelum saya mengambil jauh-jauh begitu. Makanya saya ngotot meminta ambil IMB di Citra Maja Raya saja.

Si staf ini berkata saya bisa janjian dengan petugas legal nanti (Fauzan) agar saya bisa ambil IMB saat yang bersangkutan mampir ke CMR untuk tandatangan akad pembelian rumah di sana. Nah, kenapa itu bisa?!

Lalu saya tandatangani semua salinan surat dan proses pengambilan sudah selesai meski belum tuntas dan lega karena IMB masih belum ada. Jadi catatan saja buat Anda yang mau ambil dokumen begini di Cikupa sana, bersabarlah. Banyak-banyak tanya kalau memag sudah keluar semua suratnya. Jangan seperti saya. Sudah dikabari bisa ambil 3 dokumen, eh yang ada cuma 2. Mending nunggu sampai semuanya ada saja baru diambil.

Tapi saya juga agak ragu kalau nanti saya minta ambil di CMR, apakah memang si staf legal mau? Jangan-jangan ditampik lagi: “Sudah SOP-nya, pak!” Hahaha. Capek deh!

Kalau ada manajemen CMR baca ini, please lah jangan menyusahkan pemilik rumah yang sudah rela pindah dari Jakarta dan memutuskan untuk meninggali rumah di kawasan yang masih sepi begini. Kalau tidak, proyek Anda itu bakal terkesan makin sepi! Hargailah warga CMR yang hendak mengurus dokumen atau izin renovasi dengan memindahkankan divisi legal Anda ke sini, ke CMR ini. Kami beli rumah di CMR, kenapa ambil dokumen di Cikupa?

UPDATE 21 JUNI 2022

Berita buruknya mutu kualitas udara Jakarta merebak lagi (sumber: indonesiaexpat.id). Banyak teman yang mengeluh terjebak macet di Jakarta. Jadi kemacetan seperti sebelum pandemi sudah kembali. Saya selalu mendapati berita buruknya mutu udara ini kalau musim kemarau mulai datang ke Jawa. Di Sumatra sendiri berita kabut asap sudah mulai muncul. Jadi ya begitu deh, mutu udara kita tak makin bagus.

Kondisi begini bakal terus terjadi tiap tahun karena dari pemerintah sendiri juga belum bisa menyebar aktivitas ekonomi kita agar tidak cuma di Jakarta. Pemindahan ibukota ke Kalimantan masih jauh dari harapan dalam upaya desentralisasi dan de-Jakartasentrisme ini.

Saya pernah dengar dari seorang teman bahwa memiliki pekerjaan di tengah ibukota memaksa orang untuk tinggal di dekat kantornya sehingga mereka mati-matian harus beli rumah dengan KPR yang entah lunas saat usia sudah kepala 6 atau 7. Ini semua karena terlalu banyak orang di tengah kota. Lahan sempit diperebutkan terlalu banyak orang. Harga naik tak terkendali. Mau sampai kapan?

Solusi satu-satunya ya menyebarlah kita yang masih mau hidup sehat dan waras. Saya berkata begitu karena hidup di kerumunan perkotaan yang menyesakkan seperti Jakarta sudah tak sehat secara fisik, psikologis, mental dan entahlah, segalanya.

Ini diperparah dengan tradisi WFO yang kembali lagi membuat macet jalanan ibukota. Padahal ya WFH sesekali juga bisa kok tetap produktif.

UPDATE 29 JUNI 2022

Tadi saya mendapat informasi bahwa manajemen kota CMR ingin mendata warga CMR pengguna layanan Komuter Line yang ada di tiap klaster. Tujuannya untuk mendata jumlah warga yang ada di sini dan jika memang cukup banyak ya akan dibuatkan sebuah stasiun sendiri di dalam lingkungan perumahan CMR ini.

Dari pengalaman saya sebagai pengguna KRL, jarak dari rumah saya ke stasiun Maja memang tak bisa dibilang dekat. Makan waktu setidaknya 10 menit untuk mencapai stasiun dengan naik sepeda motor. Saya pernah coba naik sepeda jenis city bike (bukan sepeda balap mahal seperti Bianci yang bisa melesat cepat ya) makan waktu 15 menitan. Dan kalau berangkat siang sedikit pastinya sudah bermandikan keringat lagi sih. Haha.

Di website resminya pengembang membanggakan kedekatan itu seperti ini:

Citra Maja Raya memiliki lokasi strategis, hanya 500 meter dari Stasiun Kereta Rel Listrik (KRL) Maja yang sudah terhubung ke Jakarta Pusat dan telah dilengkapi fasilitas skala kota yang lengkap.”

Faktanya yang dekat dengan stasiun ya gerbang pintu CMR Tahap 1 itu, bukan rumah Anda masing-masing. Haha.

UPDATE 3 JULI 2022

Rasanya akhir-akhir ini patroli digalakkan di sekitar CMR. Saya lihat mobil patroli parkir seringnya di depan warteg yang pernah kerampokan. Dan di beberapa titik ada juga pos baru untuk petugas. Bentuknya mirip kurungan manusia karena ada jerujinya. Haha. Kecil sekali dan siapa sih yang betah duduk di situ lama-lama? Heran juga kok desainnya kurang memanusiakan orang yang akan memakainya.

Lalu yang heboh lagi adalah kabar dari klaster Ubud yang katanya ada sengketa antara warga dan manajemen kota (MK) CMR. Ini karena pihak warga dianggap membangun lapangan semen yang melanggar ketentuan. Pihak MK menganggap itu lahan pengembang dan tidak boleh digunakan seenaknya tanpa izin. Rupanya memang ada miskomunikasi antara warga dan MK. Sangat disayangkan memang.

Pembongkaran lapangan di Ubud, CMR 2.

Kalau dipikir-pikir ya memang ini menjengkelkan tapi memang seharusnya jika mau bangun apapun, kita harus ngobrol dulu dengan manajemen kota.

Di sisi lain, pihak pengembang juga perlu memperbaiki kinerjanya. Karena keluhan soal penerangan yang kurang merata agak meresahkan warga terutama yang tinggal di rumah yang jauh dari tetangga lain atau dari pos sekuriti sehingga jika ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi (misal pencurian, perampokan) warga akan lebih sulit mengenali pelaku karena penerangan tidak maksimal di jalan-jalan klaster.

Dari pengalaman saya sendiri, ada satu lampu jalan di depan rumah yang sudah mati dari tahun lalu. Hingga hari ini saya mengetik ini, yang artinya sudah setahun lebih, tetap saja dibiarkan gelap seperti sebelumnya. Karena sudah capek mengeluh, ya sudahlah.

Kalau saya duga sih, pihak MK sedang mencoba menurunkan anggaran listrik penerangan jalan. Mungkin karena kenaikan TDL juga per 1 Juli ini ya. Sayangnya bisa mengakibatkan penurunan level keamanan di dalam perumahan.

Tentu ini bagi warga menjadi poin kritik sebab MK beberapa waktu lalu menaikkan tarif Iuran Pemeliharaan Lingkungan. Seharusnya ada peningkatan layanan tapi fakta berbicara lain.

UPDATE 12 JULI 2022

Hari ini ada pemberitahuan dari Manajemen Kota Citra Maja Raya soal aplikasi MyCiputra.

Yth Bapak/Ibu
Pemilik unit…..

Terima kasih kami sampaikan kpd Bpk/Ibu atas kerjasama yg baik selama ini, utk meningkatkan mutu pelayanan kami, mulai 01 Agst 2022 Citra Maja Raya akan menggunakan aplikasi MY CIPUTRA sebagai sarana informasi terkait dgn tagihan, cara pembayaran, history pembayaran konsumen terhadap IPL&keluhan, serta informasi seputar Citra Maja Raya.

Kami menghimbau kpd pemilik unit utk melakukan registrasi di aplikasi MY CIPUTRA dari Play Store/App Store. Utk login diaplikasi MY CIPUTRA dpt menggunakan nomor Unique ID: 4034ANI01L.06/23

Tutorial login & penggunaan aplikasi MY CIPUTRA silahkan akses link video berikut :
https://www.youtube.com/watch?v=mZVGhnzrX8o&feature=youtu.be

Setelah registrasi cek email anda utk membuat password, jgn lupa utk melihat spam box jika tdk ada email di inbox .

Info lebih lanjut dpt menghubungi di WA Center No 08111398885 (hanya chat) pd jam operasional 08.00 s/d 17.00 WIB hari Senin s/d Jumat.

Terimakasih,
Citra Maja Raya

Aplikasi ini bukan buatan baru-baru ini karena ternyata itu semua dipakai juga untuk proyek Ciputra lainnya. Bukan cuma Citra Maja Raya ini. Fungsinya apa? Ya cuma cek tagihan IPL. Kalau soal info CMR kok saya tidak menemukan info yang berfaedah, mending cek media sosial.

Keluhan-keluhan memang bisa dikirimkan via aplikasi ini tapi balik lagi ke pihak Manajemen Kotanya, apakah langsung ditangani atau cuma diakumulasi saja tanpa ada tindak lanjut nyata? Kalau aplikasi sekadar cuma cadar agar terlihat transparan, modern, dan sebagainya, ya saya tidak bakal terkesan. Yang penting itu tindak lanjutnya kok. Mau pakai aplikasi atau tidak mah bodo amat.

Di tengah warga berkembang ketidakpuasan akibat kenaikan Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL) karena ini sejauh tulisan ini dibuat belum dijelaskan di website resmi atau media sosial CMR.

Saya juga baru tahu dari tetangga bahwa ada masalah-masalah yang berkembang di vendor security di klaster yang masuk Real Estate dan Rumah Sederhana. Menurut tetangga saya ini, MK tahu bahwa vendor security yang ditunjuk kelurahan menerima cuma Rp X (lebih sedikit) daripada jumlah seharusnya yang mereka terima. Selisihnya patut dipertanyakan: Masuk ke kantong siapa nih?

Demikian juga gaji tukang sapu di lingkungan CMR ini. Hitam di atas putih sih Rp X tapi yang benar-benar diterima oleh mereka menurut tetangga saya cuma sekian (lebih sedikit, tidak ada 50%-nya). Sisanya itu masuk ke kantong siapa? Itu pertanyaan besarnya.

Kalau ini benar terjadi di lapangan, maka bisa jadi ada masalah pengupahan di bawah standar yang tidak boleh terjadi. Gaji mereka ini di bawah UMR sehingga tidak manusiawi jika kita mengharap kita mereka bekerja dengan maksimal. Sekuriti pun akhirnya menambal kekurangan gaji ini dengan melakukan beragam cara supaya ‘dapur tetap ngepul’. Bisa dengan mengharuskan pemilihan pihak renovator rumah adalah rekanan mereka, atau memungut sejumlah uang pada kontraktor/ pemilik unit yang merenovasi rumah. Di sebuah klaster, pernah MK ditantang sekuritinya untuk memberi gaji sesuai UMR dan mereka tak merespon jelas. Apakah salah? Ya tidak juga karena mereka dizolimi dari ‘atas’ ini.

Ini memang baru dugaan tapi kita bisa cek dengan para sekuriti dan tukang sapu di lingkungan ini.

https://platform.twitter.com/widgets.js

UPDATE 21 JULI 2022

Beberapa waktu lalu saya mencoba jadi anggota pusat kebugaran di Eco Club Citra Maja Raya sini. Sebelumnya saya juga pernah ke sini tapi belum terpikir untuk menjadi anggota.

Alasannya karena dari rumah saya, lokasi Eco Club ini agak jauh. Haha.

Tapi setelah dipikir-pikir, ini lebih baik daripada berolahraga di rumah.

Berolahraga di rumah cukup membosankan selama 2 tahun ini. Perlu variasi.

Dengan sudah meredanya pandemi (setidaknya vaksinasi sudah ada bahkan di Maja ini), rasanya keluar dan berolahraga di pusat kebugaran tak terlalu mengkhawatirkan.

Untuk jadi member cukup bayar Rp150.000 per bulan. Anda bisa sepuasnya pakai alat di sini untuk membentuk badan.

Untuk menggunakan kolam renang, Anda bisa bayar tiket masuk Rp20.000 per orang.

Dan itu belum harga sewa loker! Untuk menyimpan barang di loker, Anda mesti sewa Rp5000 lagi dan anehnya loker cuma bisa dibuka sekali setelah dikunci. Artinya Anda tidak bisa bolak-balik membuka menutupnya sesuak hati. Ada bagusnya karena Anda mesti konsentrasi menikmati sesi berenang daripada bolak-balik ke loker ambil makanan atau kamera.

Di kolam renang disediakan jasa life guard alias pool watch jika ada yang tenggelam. Tapi untuk orang dewasa rasanya kok tak bakal tenggelam, wong kedalamannya saja tidak ada 160 cm! Haha. Kayak main di kolam anak.

Kolam renang ini punya pemandangan yang indah karena di belakangnya langsung terlihat danau buatan yang luas, tempat orang-orang di sekitar kampung itu memancing.

Sementara itu, di sebelah kiri kolam renang ada water boom khusus anak-anak yang bertuliskan “Atlantis Temple” yang sengaja meniru konsep Atlantis di Ancol, kepunyaan Ir. Ciputra juga.

Selain renang dan gym, Anda bisa melakukan badminton dalam sasana khusus. Jadi tempatnya dalam ruangan, sehingga jika hujan tak bakal berhenti.

Untuk aturan di Eco Club Anda bisa baca di twit saya di atas.

UPDATE 22 JULI 2022

Beberapa pekan lalu pernah beredar berita penculikan di Instagram. Sebuah akun bernama Nita menuliskan di story instagram begini:

“Barusan ada kejadian mau maghrib, korban bernama Andra anak pa Bahtiar sektor 2, korban dibawa oleh pelaku depan rumahnya, pelaku pura2 nanya alamat, korban di bawa ke ruko ubud, korban diikat tangan dan leher, untung ada orang lewat mau sholat maghrib ditolongin, pelaku melarikan diri, bawa sajam, kini korban ada di rumah, tolong agar menjadi perhatian, ciri pelaku tinggi kurus tapi pake kupluk motor vario ungu knalpot berisik, agar waspada, tks.”

Pusing memang kalau baca story seperti ini. Haha, karena ejaan dan tanda baca awut-awutan dan singkatan di mana-mana sehingga cukup menyita waktu juga untuk menyerap pesannya.

Dan ini beredar di grup whatsapp klaster Ubud sepertinya karena teman saya tinggal di sana dan meneruskan pesan ini pada saya.

Saya sendiri mencoba memverifikasi kebenaran kisah ini dan memang darin keterangan sekuriti juga ada kejadian itu tapi menimpa seorang anak di luar CMR. Bukan di lingkungan CMR ini.

Tapi itu hasil bertanya ke satu orang sekuriti saja sih. Belum begitu valid lah.

Kebetulan Rabu lalu juga memang terjadi mati listrik mendadak. Ternyata ada pohon tumbang di Rangkas dan efeknya sampai ke sebagian klaster di CMR ini. Ada klaster yang tidak terimbas. Tapi klaster saya kena imbas dan mati sampai saya pulang kerja.

Makanya saya terkejut saat masuk gerbang perumahan dan suasana hitam pekat sepanjang jalan. Ini membuat suasana rawan kejahatan.

Terus terang di saat malam memang ada saja anak-anak muda yang sengaja parkir di depan ruko atau duduk di depan ruko kosong untuk entah melakukan apa. Kalau keduanya berlawanan jenis, ya kita jadi berprasangka kan? Kalau sesama jenis, juga tetap saja membuat curiga.

Mobil patroli sayangnya setahu saya cuma beredar di tahap 1.

Omong-omong, tulisan di blog ini soal CMR makin banyak dibaca. Jika dibandingkan pembaca tahun 2021, di pertengahan tahun ini saja jumlah pembaca sudah jauh di atasnya.

Kalau saya boleh menduga, mungkin ini karena makin banyak peminatnya juga.

Tapi tentu, mereka butuh opini orang yang bukan dari pihak pengembang atau agen penjual karena opini mereka ya pasti tidak netral lah ya. Haha.

Kalau saya sih menulis ini karena ingin berbagi informasi saja.

Sepekan lalu juga ada seorang pembaca yang sengaja mengirimkan email ke saya dan berterima kasih karena saya sudah menuliskan semuanya.

Ini menunjukkan betapa masih minimnya informasi soal Citra Maja Raya ini di Internet. Ada yang suka menonton video YouTube tapi karena saya pikir akan lebih baik jika ditulis saja (dan karena saya juga lebih nyaman menulis) ya saya tulis saja di sini.

Kalau saya mesti membuat video YouTube, effort saya lebih besar dan jadinya malah capek karena habis energi saya untuk merekam dan menyunting konten supaya menarik. Haha. Tujuan saya malah jadi tidak tercapai.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Adakah pertanyaan yang mengganjal soal Citra Maja Raya ini? Silakan berikan komentar di bawah atau email saya di akhlispurnomo(at)gmail(dot)com.

Saya akan coba jawab dengan semampu saya.

UPDATE 1 AGUSTUS 2022

Seorang pembaca blog ini bertanya via email soal manusiawi tidaknya menjalani rutinitas sehari-hari dengan naik kereta komuter line dari Maja ke Jakarta.

Kebetulan saya sendiri work from office cuma 3x seminggu ke daerah Bintaro. Tidak sejauh Jakarta. 

Durasi komuter Maja-Jurangmangu 1 jam dan ditambah 10 menit naik motor ke rumah. Jadi bisa 3 jam habis di jalan total per hari. 

Kalau menurut saya sih kapasitas komuternya masih lebih manusiawi dibandingkan jurusan Manggarai-Bogor.

Setahun saya kerja naik komuter nggak pernah kok sampai separah komuter jurusan Bogor di rush hours karena lokasi perumahan pengguna komuter di sepanjang jalur Rangkas ini lumayan merata ya. Di Serpong atau Cisauk sudah turun dan bisa duduk. Bahkan kalau beruntung bisa duduk lebih awal dari itu lho. Tapi untuk hari Jumat atau besoknya tanggal merah, biasanya lebih padat dan banyak yang mudik dan naik sampai Rangkasbitung sehingga peluang bisa duduk lebih kecil. Tapi masih manusiawi, tidak bakal berdiri ‘dipepes’.

Kalau tiap hari harus work from office, lain cerita mungkin saya nggak kuat juga sih. Bayangkan 3 jam habis di jalan dan mesti berjibaku dengan cuaca di luar yang belum tentu bersahabat. Kalau pulang dan lagi hujan itu yang sedih banget. Karena sudah capek dan mau tidur tapi harus berbasah-basah di jalan dengan kondisi jalan yang agak gelap dan berlumpur (ruas jalan di luar perumahan memang agak ngeri karena kadang ada konvoi truk-truk besar pengangkut pasir yang mungkin digunakan menguruk Pantai Indah Kapuk atau entah perumahan mana lagi).  

Saya pernah kos di Jakarta lagi karena kerja di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan sana dan harus commute 5 hari seminggu ke Jakarta dan rasanya capek banget. Jam 5 pagi buta harus siap siap lalu pulang sih tidak begitu masalah. Tapi perginya itu sangat amat menguras energi karena mesti pagi buta dan saya jadi tidak bisa santai. Tidur agak telat pun bisa kesiangan dan kalau terlewat kereta pagi jam 05.15 berabe jadinya nanti. Di sini kebebasan saya terenggut dan saya kurang menikmati bangun pagi yang terburu-buru itu.

Tapi setelah saya nekat memutuskan meninggalkan pekerjaan di jantung Jakarta dan memilih pekerjaan yang jaraknya lebih ke rumah atau bahkan bisa dikerjakan di rumah (untungnya bidang pekerjaan saya bisa dilakukan di mana saja asal ada koneksi Internet), akhirnya saya mendapatkan pola kerja dan commute dekat yang lebih manusiawi dan bersahabat buat kesehatan badan ini dalam jangka panjang. Karena prinsip saya sekarang, buat apa kerja ngoyo dan uang banyak tapi badan mudah sakit? Jadinya malah uangnya buat berobat melulu.

Menurut saya, warga Maja yang sudah memutuskan menetap di sini mesti memikirkan bagaimana akhirnya nanti mereka sepenuhnya beraktivitas kerja di radius dekat rumah mereka. Kalau kita terus berpikir untuk mempertahankan pekerjaan yang mapan di Jakarta dan ogah melepas semua kenyamanan ibukota tempat semua fasilitas sudah ada, kita bakal susah sepenuhnya bisa pindah ke Maja sini.

Saya sendiri mencoba untuk membangun sebuah jejaring untuk mata pencaharian saya di sini dengan berkenalan dengan sebanyak mungkin warga di sini. Dengan demikian, mereka tahu kompetensi saya yang bisa membantu mereka lalu saya tak perlu ke Jakarta lagi untuk ‘menjual’ kompetensi’ saya. Mereka pun tak perlu jauh-jauh ke Jakarta atau Serpong, BSD cuma untuk mendapatkan jasa atau kompetensi itu. Dengan begitu, saya tidak capek di jalan dan saya bisa turut membangun perekonomian di Maja ini.

Memang untuk sekarang meski saya sudah bisa menjual kompetensi saya di sini, pemasukannya belum bisa untuk makan sehari-hari bahkan tapi saya yakin ke depan, bakal ada lebih banyak peluang yang terbuka lebar untuk membuat sebuah ceruk pekerjaan bagi diri kita sendiri di Citra Maja Raya ini seiring dengan makin banyaknya warga yang menetap di sini.

Dan jika Anda masih sangat bergantung dengan Jakarta, semua famili di Jakarta, semua sumber pemasukan di Jakarta, susunlah strategi untuk mengurangi ketergantungan tadi supaya tak tiap hari commute ke Jakarta. Sekali dua kali seminggu oke lah ke Jakarta, tapi jika itu tiap hari rasanya kok tidak perlu.

Buat saya, aktivitas commute itu yang mesti diperhitungkan biayanya bukan cuma soal transportasi sih tapi juga biaya psikologis dan kesehatan kita, karena makin panjang perjalanan, makin menumpuk stres dan beban psikologis ke diri kita. Telat dikit, stres. Ketinggalan kereta, stres. Ada yang ketinggalan di rumah, stres. Cuaca kurang bersahabat, stres. Belum lagi kalau kebelet buang air selama perjalanan commute dan kita ada jadwal meeting penting yang seharusnya tidak telat. Makin panjang perjalanan juga makin tinggi risiko terpapar polusi. Dan yang terpenting, kita bisa menggunakan waktu commute itu untuk hal-hal yang lebih produktif. Bayangkan waktu yang sudah dibuang untuk naik kendaraan dan di atas kendaraan itu kita tidak melakukan hal-hal produktif. Buat saya, 3 jam sehari itu bisa untuk mengerjakan sesuatu yang lebih berguna sebetulnya.

Tapi karena saya masih bisa menulis di blog ini saat di komuter, jadi bagi saya commute tak begitu membuang waktu produktif saya.

Rutinitas commute ini kalau dijalani 1-2 tahun mungkin masih enak tapi kalau sampai tua, sepertinya kok terlalu menyiksa diri.

Beberapa orang mungkin berkilah, buka usaha atau kerja di sini sepi dan nggak ‘menutup’. Ya memang, masuk akal wong namanya daerah baru dan masih berkembang dan sepi begini.

Tapi kalau kita tidak mulai bangun posisi dari sekarang, ya nantinya saat sudah mulai ramai, kita ketinggalan dari yang sudah mulai dari sekarang.

UPDATE 5 AGUSTUS 2022

Kalau mau jeli mengamati, makin banyak penghuni Citra Maja Raya akhir-akhir ini. Saya lihat saja di sekitar saya, makin banyak tetangga yang merenovasi rumah, baik itu untuk ditinggali atau nantinya dikontrakkan.

Ini tentu ada bagus dan tidaknya. Bagusnya jadi lebih ramai dan berkembang, ekonomi makin menggeliat. Kawasan ini makin menarik bagi warga Jakarta yang sudah capek berjibaku dengan banjir dan polusi.

Tapi di sisi lain juga makin kompleks masalah antarmanusianya. Konflik antarwarga makin berpotensi terjadi karena lingkungan makin ramai. Sebagian pemicunya bisa soal pembangunan tembok rumah atau pagar batas rumah yang melampaui batas resminya, hewan peliharaan warga sendiri yang dilepas, buang kotoran sembarangan, atau berulah, memutar musik atau karaoke malam-malam dengan hingar bingar padahal tetangga punya bayi atau akan berangkat kerja subuh esok paginya.

Lalu ada yang temperamental saat di grup WhatsApp, menyebar pesan hoaks tanpa merasa bersalah. Grup WhatsApp yang semula jadi ajang silaturahmi dan jual beli makin lama makin kurang enak. Padahal belum juga 2024, sudah begini jadinya.

Kompleksitas masalahnya mulai sama seperti orang Jakarta saja padahal jika kita di sini sama-sama berpikir dewasa, manusia mana yang tidak mau hidup damai dengan tetangga-tetangga?

Saya pikir rumah tidak cuma soal bangunan yang kita tempati tapi juga lingkungan manusia dan alam yang ada di sekitar kita. Jadi binalah hubungan yang baik antartetangga.

Jangan egois, jangan seenaknya sendiri, jangan memperlakukan tetangga sebagaimana Anda tidak ingin diperlakukan.

UPDATE 8 AGUSTUS 2022

Seorang pembaca mengirimkan pertanyaan soal prospek penyewaan rumah di CMR ini. Kebetulan ia ingin membeli rumah di klaster Agate yang lokasinya dekat dengan kantor pemerintah desa Maja Baru. Lokasi ini strategis karena konon juga bakalan ada pintu tol dengan akses ke CMR di sini.

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari seorang agen jual beli properti di CMR, per Agustus ini memang kondisi pasar properti di CMR masih lesu darah.

Sebagai gambaran, harga sewa rumah di sini untuk tipe rumah real estat cuma Rp7,5 juta per tahun. Bahkan ada yang mengobral Rp500.000 per bulan.

Alasannya karena suplainya sangat melimpah ruah sementara konsumennya yang berdaya beli kuat sangat terbatas jumlahnya.

Belum lagi kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dari hantaman pandemi lalu dan ditambah resesi akibat perang Rusia-Ukraina yang belum juga usai.

Namun sekali lagi, untuk jangka panjang semoga ada tren positif karena ekonomi dunia pastinya bakal membaik. Resesi adalah bagian dari siklus ekonomi yang tidak terelakkan sehingga kita tinggal jalani dan bertahan saja agar tidak putus asa di tengah jalan.

UPDATE 12 AGUSTUS 2022

Pernah saya diceritai teman saya bahwa ada seorang pengguna TikTok yang sering mengunggah ceritanya commute dari Maja ke Jakarta. Kebetulan orang itu tinggal di Citra Maja Raya dan kerja di Shopee sebagai desainer.

Saya taksir waktu perjalanan dari rumah ke kantornya 2 jam. Ini karena saya juga pernah menjalani aktivitas commute dari Maja ke jantung Jakarta dan cuma kuat beberapa bulan saja. Karena setiap jam 5 pagi harus sudah melesat ke stasiun dan standby di dalam gerbong. Jam 5 lebih 15 kereta berangkat dan saya bisa bobo lagi di kursi.

Pengalaman ini membuat saya sangat mengapresiasi mereka yang harus berangkat kerja pagi buta. Bayangkan kalau hujan subuh-subuh. Aduh ga kebayang ribetnya sih. Mana ngantuk juga. Risiko mengendarai motor saat pagi buta dan masih mengantuk lalu terburu-buru supaya tidak terlambat naik kereta sangat menurunkan tingkat kenikmatan hidup sebetulnya. Tapi kalau tidak ada pilihan lagi ya mau bagaimana? Jalani saja.

Untungnya saya tidak harus berangkat jam 5 subuh lagi. Saya bisa kerja lebih siang dan kerja di rumah jika memang tidak perlu ngantor. Makanya saya masih bisa menikmati hidup meski tinggal jauh dari kantor. Jarak ideal rumah-kantor/ tempat kerja memang sebaiknya tidak lebih dari 30 menit. Kalau lebih dari itu tingkat stresnya makin tinggi.

Di postingan TikToknya ini, si mas Yaser bercerita perjalanan ke Bintaro dengan turun di stasiun Jurangmangu. Dan ada komentator yang berkata “tinggal di tempat terpencil berarti penurunan taraf hidup”.

Haha, ah ya nggak juga lah. Tergantung prioritas masing-masing orang kok. Kalau saya sendiri, pindah ke sini karena sudah bosen dengan kualitas udara, lingkungan di Jakarta yang polusinya tinggi, sesak, gersang. Di Maja sini setidaknya lebih segar udara paginya, bisa jogging pagi-pagi, tidak harus terkungkung tembok melulu di rumah. Bisa lihat cakrawala dan langit.

Sementara itu, memang harus diakui ada orang yang mengutamakan kemudahan transportasi, fasilitas hidup (entah itu sarana hiburan, dsb) yang memang belum ada di Maja sini. Silakan saja tinggal di kota besar asal jangan iri melihat orang yang tinggal di tempat terpencil seperti Maja ini tidak harus terlilit utang KPR berpuluh-puluh tahun. Haha.

@pasutridesainer karna datang kepagian, kami nunggu mall buka dan lanjut makan di RAMEN YA! yay! bisa juga ya kemana mana jalan kaki, asal ada transportasi umum 😝 #fyp #krl #citramajaraya #bintaro #bxc #transportasiumum ♬ Beatbox – NCT DREAM
https://www.tiktok.com/embed.js

UPDATE 17 AGUSTUS 2022

Hari kemerdekaan RI ke-77 ini dirayakan dengan tenang dan damai di Citra Maja Raya. Hehe.

Sebenarnya ada juga kok di sini yang upacara, seperti pihak pemerintahan di kantor kecamatan mengadakan upacara bendera yang paskibranya dari SMAN 1 Maja. Ini saya duga sebab sejak 1 Agustus lalu segerombol anak-anak SMA berlatih di lapangan dekat bundaran EcoClub sana. Lalu meeka siangnya salat di Masjid Al Ikhlas. Saking seringnya sampai saya hapal.

Biasanya kalau hari libur begini ada sebagian pemilik unit yang menyempatkan berkunjung ke rumah mereka dan membersihkan isi rumah. Tapi entah kenapa ini masih sepi sih.

Untuk memeriahkan peringatan HUT RI ke-77, di klaster saya digelar sejumlah lomba dari sepeda hias, sepakbola pakai daster, makan kerupuk, dan lain-lain. Panjat pinang tidak diadakan karena dipandang kurang aman. Betul juga sih kalau jatuh dan terjerembab bisa berabe. Hadiah belum tentu dapat, malah uang habis buat terapi dan berobat. Makanya panitia cari jenis lomba yang relatif aman tapi masih menyenangkan dan menghibur warga.

Cuaca di Maja akhir-akhir ini lumayan ekstrim. Pagi dan siang teriknya menyengat lalu sore dan malam bisa hujan sederas-derasnya. Untungnya tidak disertai petir sebab petir di sini entah kenapa lebih tinggi desibelnya dari Jakarta atau daerah lain yang pernah saya datangi. Tadi malam saja saya kehujanan di jalan. Sangat deras dan jarak pandang terbatas. Ditambah lampu penerangan Citra Maja yang di beberapa ruas tidak menyala. Sangat berbahaya untuk keselamatan pengendara dan juga risiko tindak kriminal.

Beberapa teman mengeluhkan kurangnya penerangan ini juga. Terutama yang rumahnya di sudut-sudut klaster yang kurang terpantau sekuriti. Memang agak riskan. Perlu pasang CCTV atau semacamnya terutama setelah beberapa waktu lalu ada kabar pembobolan rumah di sebuah klaster real estate di CMR tahap 1. Klaster mana saya lupa tapi intinya sangat disayangkan apalagi IPL sudah naik (real estate bahkan sampai 300 ribuan per bulan) dan keamanan masih belum maksimal. Kalau pihak manajemen kota Citra Maja Raya membaca ini, tolonglah ditindaklanjuti.

Saat ini sedang berjalan proses perataan lahan klaster Agate di dekat kantor pemerintahan desa Maja baru. Dan karena tanah berceceran, begitu hujan datang, jalan jadi penuh lumpur. Bisa membahayakan pengendara motor karena licin.

Beberapa hari lalu ada tetangga hendak bayar IPL dan bertanya mengapa nomor rekening virtual yang biasanya tidak bisa dipakai transfer. Barulah dia tahu sekarang mesti bayar via aplikasi MyCiputra. Sebenarnya aplikasi ini tujuannya bagus. Memberi pelayanan secara digital jadi warga CMR tak perlu ke loket untuk bayar IPL tapi saya pikir kalau cuma sekadar bayar-bayar dan komplain ya kurang sih. Semestinya ada berita soal sosialisasi aturan terbaru dari Manajemen Kota atau rencana penyelesaian pembangunan fasilitas X atau Y. Karena hingga saat ini saja gedung bioskop CGV yang sudah ada papan penunjuknya malah belum ada juga. Sebagian berasumsi gedung CGV itu adalah kantor marketing CMR saat ini yang bakal jadi bioskop jika jumlah warga CMR sudah lumayan banyak.

Baru saja menerima sebuah email dari seorang pembaca tulisan ini juga dan saya berterima kasih sudah ada yang membaca.

Dari sini saya yakin bahwa kawasan CMR ini membutuhkan sebuah media kawasan agar informasi bermanfaat lebih dapat diakses siapa saja. Tapi idealnya media ini independen dan netral, artinya bukan dikuasai atau didanai pengembang Ciputra atau rekanannya sehingga bisa lebih berimbang dan akurat.

Saya amati kemunculan beberapa akun media sosial di Instagram yang ingin muncul sebagai media kawasan misalnya Seputar Maja, All About Maja, dan sebagainya. Tapi belum ada website beritanya padahal syarat bisa dikatakan sebagai sebuah media yang mapan dan sah di era digital sekarang adalah punya website. Bukan cuma media sosial. Kalau cuma akun medsos ya apa bedanya dengan akun Lambe Turah atau jurnalisme asal comot yang pakai konten dan copy yang bombastis demi cuan semata? Dan punya akun medsos saja sangat riskan karena bisa diretas atau ditutup pihak media sosial secara semena-mena.

UPDATE 18 AGUSTUS 2022

Mendengar ada kabar kasus pembobolan di citra maja raya lagi. Kali ini di ruko di dekat lapangan bendera dekat bundaran ecoclub. Jam 5 pagi diperkirakan terjadi pembobolannya. 

Ada lagi kasus kecelakaan anak di klaster pecatu. Usia 13 tahun dan sekolah di dekat klaster sana. Katanya kecelakaan tunggal di belokan klaster Cendana situ, ngebut, jatuh, rahang patah, mengalami pendarahan dalam dan muntah darah lalu meninggal di perjalanan ke rumah sakit. 

Dari sini memang saya bisa katakan masih banyak pengendara motor di sini yang abai dengan keselamatannya sendiri. Tidak mengenakan helm yang berstandar SNI. Cuma bertelanjang kepala ke sana kemari. Padahal terik matahari Maja terbilang menyengat juga. Di sini pepohonan sudah dibabat jadi yang adem cuma kebun-kebun warga saja. 

Jalanan yang masih sepi juga memang merangsang pengendara untuk mengebut seenaknya. Dan di sini warganya tak suka memakai helm. Haha. Sebuah kebiasaan buruk.

Ditambah dengan pengawasan dan disiplin orang tua yang kurang (malah mengajari dan membolehkan anak di bawah umur tanpa KTP dan tentunya SIM, yang fisik dan mentalnya belum stabil benar untuk mengendarai motor), jalanan lurus dan sepi di sini sudah mirip sirkuit buat remaja dan anak muda yang ingin sok jadi pembalap F1. Sayangnya mereka tidak paham para pembalap F1 sudah bugar dan stabil badan dan mentalnya sehingga lebih terkendali saat mengebut. Remaja dan anak muda ini meniru tanpa menimbang risiko. Ya akhirnya beginilah akibatnya.

Pengurusan IMB ternyata bisa diurus sendiri tapi ribet ke kantor pemerintah Lebak dan menunggu dan ada biaya tambahan. Masih murah kata serorang tetangga. Asal rumah sudah lunas sih manajemen kota bakal tunduk aja. Makanya ada beberapa warga yang merombak wajah hunian yang tentu melanggar ketentuan tapi ya dibiarkan karena mereka mengurus IMB sendiri ke yang berwenang. 

Sebenarnya ada bagusnya kalau bebas begitu tapi lama-lama jadi bisa memicu kecemburuan sosial di antara warga klaster. Seakan-akan uang bisa membatalkan kebijakan dan aturan, dan itu memang benar. Jadi bukan lagi “seakan-akan”. Hahaha! 

Ini seperti anak orang kaya masuk ke sekolah yang mengharuskan setiap anak berseragam sama tapi sekelompok anak elit menolak dan punya kebebasan berpakaian lebih wah, glamor, mewah, atau bahkan seronok dan tidak pantas. Dan pihak sekolah seakan tidak berdaya dan guru tak bisa menegur karena ortu anak elit ini sudah bayar SPP, uang pangkal dan uang gedung lebih tinggi. 😆

Maksud saya, jika memang Anda ingin membangun sebuah bangunan rumah dengan desain dan bentuk suka-suka, ya ambil kavling di klaster Padma sono aja lah. Ngapain beli rumah yang sudah jadi di klaster non-kavling? Begitu logika saya. 

UPDATE 4 SEPTEMBER 2022

Klaster Tampaksiring sedang dalam proses pembangunan dan banyak tanah urukan dari lahan lain di CMR ini diangkut ke sana. Akibatnya jalanan sering berdebu di siang hari saat truk-truk besar pengangkut tanah merah ini melintas. Di sore hari dan malam saat hujan turun, semua ini menjemla menjadi sirkuit licin dengan lumpur dan pasir halus. Jadi cukup meresahkan juga sih sebenarnya untuk pengendara motor. Mobil sih tak begitu masalah.

Baru-baru ini di ruko Navina juga akan dibuka sebuah bakery yang menempati 3 lot ruko sampai temboknya mesti dijebol dan semuanya direnovasi ulang. Pastinya bakal besar banget sih ini toko roti. Entah apakah nanti konsepnya seperti Holland Bakery begitu atau gimana, saya kurang tahu persis sih.Tapi ini bagus sebab menandakan ada yang tertarik berbisnis di sini.

Dan kemarin ada undangan dari Kantor Balai Desa terkait pemilihan kepala desa Maja Baru karena posisi klaster saya tepat di wilayah Maja Baru. Patut diketahui, Citra Maja Raya ini menduduki beberapa wilayah desa di kecamatan Maja. Ada yang Maja Baru, ada yang Curugbadak, Sangiang, Pasirkembang.

Jadi dipastikan bakal ada pilkades serentak di wilayah CMR ini dan mereka warga CMR yang sudah punya KTP Maja bisa memilih. Saya sendiri salah satunya.

UPDATE 10 SEPTEMBER 2022

Cuaca di Maja sini makin ekstrim saja memang. Kalau pagi buta, kabut turun sampai rasanya dingin banget. Ternyata suhu bisa sampai menyentuh 20-an derajat celcius.

Pagi ini saya keluar rumah sekitar pukul 6 dan kaget karena ada kabut turun cukup rendah di antara rumah-rumah. Jadi ini memang cuacanya cukup dingin.

Tapi begitu agak siang jam 7-10 suhu makin hangat. Bahkan saya sempat bersepeda mengitari rute yang biasa saya tempuh sampa lumayan bekeringat.

Lalu suhu siangnya bisa melejit ke 30 derajat lebih dan membuat gerah. Sinar matahari terik sekali.

Dan tiba-tiba mendung datang dan sorenya biasanya hujan deras turun.

Begitulah pola cuaca di sini sekarang.

Rabu kemarin saya mendapatkan pesan via Whatsapp dari nomor resmi Citra Maja Raya dan isinya begini:

Kepada Yth, bpk/ibu Pemilik Unit ***** Blok **** (Perumahan Citra Maja Raya)

Dengan ini kami menginformasikan bahwa untuk pembayaran PBB 2022 atas Unit Bpk/Ibu dengan NOP **** sudah dapat dibayarkan melalui Bank BJB terdekat atau melalui aplikasi Tokopedia paling lambat 30 September 2022.

Adapun untuk pengambilan SPPT PBB dapat menghubungi tim legal dinomor (021) 5966-3243

Terima kasih

Nah saya pun langsung mencoba membayar via Tokopedia. Dan ternyata memang mudah dan tak buang waktu.

Tinggal ke website tokopedia atau aplikasinya (kalau saya sih pilih website karena lebih enak di layar laptop, bukan ponsel yang sempit).

Cari saja layanan pembayaran PBB di kotak pencarian, akan keluar “Bayar PBB” dan Anda tinggal pilih PBB wilayah mana. Karena CMR masuk wilayah Lebak, ya Anda mesti pilih Kab. Lebak.

Masukkan nomor objek pajak (NOP) Anda yang sudah diberikan pihak legal dan akan keluar jumlah pajaknya. Tinggal Anda melunasi dengan metode pembayaran digital. Kalau saya via GoPay karena jumlah pajaknya murah sih cuma Rp74 ribuan. Ya sudah daripada lupa, langsung dilunasi sajalah.

Sebagai bukti setor pajak, Anda akan menerima email pemberitahuan dan total biayanya Rp79 ribuan. Itu karena ada biaya admin Tokopedia Rp5.000. Ya lumayanlah daripada antre atau bayar manual via Bank BJB.

Saya mengapresiasi kemudahan ini karena lebih transparan, hemat tenaga dan waktu dan risiko korupsi lebih bisa ditekan.

UPDATE 11 SEPTEMBER 2022

Hari ini saya menemani seorang teman yang ingin membeli rumah di Citra Maja Raya. Ia tertarik membeli rumah di sini karena harganya masih murah sekali dibandingkan Jakarta dan sekitarnya. Ia sendiri lajang jadi tinggal di sini terasa lebih tenang.

Karena kantor marketing jauh, saya antar dia ke seorang kenalan baik yang membuka jasa penjualan ruko dan rumah. Kenalan saya ini membuka jasa perantara untuk membantu para pemilik unit yang ingin menyewakan atau menjual unitnya ke khalayak ramai yang berminat.

Ia bahkan diantar ke beberapa unit yang sedang dalam proses penawaran ke calon pembeli. Ada yang di klaster Cendana, pemiliknya sedang butuh duit karena si suami sedang sakit gagal ginjal. Unit dengan dua kamar tidur hanya ditawarkan Rp180 jutaan. Saking butuh uangnya cepet.

Lalu ada lagi unit di Canggu yang harganya di luar budget teman saya karena si pemilik merasa unitnya dekat sekolah dan rumah itu juga sudah direnovasi bahkan dipagar teralis semua segala. Pokoknya aman deh. Tapi ternyata teman saya kurang sreg dengan suasana terkungkung macam begitu.

Satu lagi di Tevana yang kontur tanahnya turun naik. Sepertinya pas di pinggir sungai. Jadi agak-agak cemas juga sih kalau tanahnya bergerak atau bergeser.

Di tur singkat ini saya bisa lihat memang oversuplai perumahan ini masih terjadi. Unit-unit rumah ini masih menunggu pemilik. Dan kalaupun sudah ada pemilik, mereka masih menunggu agar pemilknya mau menghuni. Banyak yang masih di daerah asal rumah mereka dan rumah di sini sebagai investasi saja.

Teman saya ini sendiri ingin menghuni rumah yang nantinya dibeli sehingga ia sebetulnya berhak atas keringanan pajak. Kan ada subsidi pemerintah bagi para pembeli rumah pertama.

UPDATE 6 OKTOBER 2022

Selasa tanggal 3 Oktober lalu ada peristiwa yang meresahkan yakni masuknya geng motor bersenjata tajam ke wilayah Maja sini. Masih di luar kompleks Citra Maja Raya sih tapi dekat stasiun Maja yang notabene pusat peradaban Maja. Haha.

Sebuah video beredar di grup whatsapp klaster saya. Isinya menunjukkan adanya sekelompok anak muda yang mengacung-acungkan celurit yang panjangnya tak lazim. Pokoknya panjang sekali sampai seperti cemeti.

Lalu besoknya ada berita soal insiden ini di detik.com. Judulnya tidak menyebut Maja. Begini bunyinya: “Viral Geng Motor Acungkan Sajam di Jalanan Lebak, Ini Kata Polisi“.

Kejadian ini terjadi di pertigaan Pasar dan Stasiun Maja yang juga dekat dengan kantor Koramil Maja.

Di lingkungan Citra Maja Raya sih mereka tidak sampai masuk dan berbuat yang macam-macam juga. Jadi tidak usah cemas. Cuma memang sangat tidak disarankan keluar atau pulang sangat larut malam karena logika umum lah: malam hari sangat rawan dengan hal-hal berbau kriminalitas.

UPDATE 8 OKTOBER 2022

Di grup whatsapp klaster saya beredar sebuah salinan surat perintah Polres Lebak yang wilayahnya mencakup Citra Maja Raya ini untuk melakukan penyekatan terkait potensi serangan geng motor yang tempo hari pernah merambah ke jalanan Maja ini.

Menurut edaran, anak-anak geng motor ini mencari seseorang yang tinggal di perumahan Bambu Kuning yang lokasinya memang dekat dengan Citra Maja Raya.

Warga diingatkan untuk tidak keluar malam hari apalagi sampai lewat tengah malam di jalanan Maja karena anak-anak geng motor ini bisa saja membabibuta mengacungkan senjata tajam berupa clurit panjang itu ke siapa saja yang lewat.

Menurut saya fenomena kekerasan anak muda ini merupakan sebuah bentuk kegagalan sistemik dan komunal masyarakat dan negara kita. Plus adanya situasi resesi ekonomi begini. Pendidikan rendah, lapangan kerja menyusut, angka pengangguran naik, dan tentu angka kriminalitas juga melejit.

Kecemasan atas kemunculan geng motor dengan senjata tajam ini juga sebetulnya ditambah dengan cuaca buruk seminggu belakangan. Jakarta dan Tangerang setahu saya babak belur dihajar curah hujan tinggi dan banyak yang merasa sudah lelah dan ingin menyerah untuk tinggal dan mencari nafkah di Jakarta.

Dan menurut saya kekeraskepalaan para pembuat kebijakan pemerintahan dan swasta untuk menggiatkan kembali WFO atau kerja di kantor tiap hari untuk setiap karyawan adalah KONYOL.

Kenapa? Ya karena kita sudah paham kalau Jakarta itu sudah super jenuh dengan populasi manusia. Dan seakan kita sudah lupa betapa birunya langit Jakarta saat lockdown 2020 diberlakukan dan saat kebijakan WFH diterapkan. Ternyata mereka yang sifat pekerjaannya digital tetap bisa produktif kok.

Makanya saya sangat mendukung perusahaan yang memahami kebutuhan karyawannya yang bisa bekerja dengan sistem hibrida atau kadang kerja di kantor, kadang di rumah. Jadi fleksibel. Tidak kaku, 5 hari mesti di kantor. Helo! Ini tuh sudah abad 21.

Dan seakan pemerintah dan perusahaan-perusahaan tidak mau menyebar titik-titik aktivitas ekonomi agar tidak terus terkumpul di Jakarta. Konsentrasi aktivitas ekonomi di satu tempat membuat harga properti di situ menjadi tidak masuk akal. Padahal uang yang terkumpul di situ bisa disebar ke tempat-tempat lain yang membutuhkan suntikan duit untuk menggairahkan perekonomian mereka.

Upaya menyebar aktivitas ekonomi agar tidak terus berkonsentrasi di Ibu Kota itu penting karena DKI sudah tidak bisa menampung aktivitas jutaan orang seperti sekarang. Permukaan air tanah Jakarta sudah menurun dan air laut masuk perlahan ke cadangan air tawar di dalam tanah.

Berapa kali kemacetan super parah pasca hujan lagi yang bisa membuat kita sadar sih?

Dan saya juga paham bahwa ada sebagian profesional yang memilih gaji lebih rendah asal bisa bekerja dari rumah atau dari mana saja. Kegiatan commute itu sangat melelahkan secara fisik, mental dan psikologis bagi pekerja yang sangat perlu menaikkan kondisi kesehatan mental mereka.

UPDATE 10 OKTOBER 2022

Hari ini saya bekerja dari rumah setelah pihak HRD menyatakan mereka membolehkan karyawan bekerja di rumah sebab peringata cuaca ekstrim dari BMKG sudah diterbitkan di media sosial. Jadi sudah valid dan memang nyata kalau ancaman perubahan iklim ini sungguh berdampak besar.

Bahkan kemarin sore ada update di media sosial bahwa di area Tangerang juga terkena serangan hujan angin sampai stasiun Rawa Buntu terkena hujan angin, stasiun Serpong mengalami kerusakan di atapnya, hujan es di Parungpanjang. Haha. Ini semua adalah jalur yang saya lewati saat pergi dan pulang ke Citra Maja Raya tercinta.

Alhamdulillah saya masih bisa bekerja di rumah karena sudah ada WiFi di rumah juga. Dan alhamdulillah juga koneksinya lumayan memuaskan sejauh ini saya berlangganan. Sebab di kantor saya di Tangsel sana, langganan IndiHome tidak memuaskan, sering putus koneksinya. Membuat pekerjaan tak lancar. Di sini dengan paket paling murah saya masih bisa bekerja dengan aman dan nyaman di rumah.

Dan ancaman cuaca ekstrim ini masih ditambah dengan ancaman geng motor yang merambah ke sini. Rasanya lengkap sudah cobaan.

UPDATE 19 OKTOBER 2022

Pagi tadi saya mendapat berita soal kecelakaan yang dialami seorang tetangga yang tergelincir dan lecet akibat jalan yang licin dan berpasir di sekitar area pembangunan klaster Tampaksiring dan Agate yang berlokasi di sekitar bundaran gerbang CMR 2.

Memang sudah sejak proses pembangunan klaster tadi dimulai, jalanan berdebu di sepanjang jalur Citra Maja Raya 3 yang sedang dikembangkan dan dua klaster baru di CMR 2 tadi. Saat cuaca panas, jalan jadi berdebu parah. Saat cuaca hujan, ya jadinya licin dan berlumpur. Makanya saya sekarang jadi malas naik motor ke stasiun saat pergi pulang kerja sebab kalau malam mesti mengendarai motor dalam kondisi badan mengantuk, rasanya saya bakal bikin celaka diri sendiri. Mending ngojek saja lah.

Saya pun langsung melayangkan keluhan alias komplain via nomor hotline WhatsApp CMR EState. Karena di aplikasi MyCiputra, section “KomplainKu” juga tidak memungkinkan untuk mengirimkan keluhan warga. Jadi saya bertanya, untuk apa ada fitur itu di aplikasi MyCiputra. Haha.

Lalu jelang pilkades di desa Maja Baru, karena klaster saya masuk wilayah tersebut, saya juga ikut berhak mencoblos.

Berikut pengumuman dari paguyuban klaster saya terkait ini:

PENGUMUMAN

Hal: Surat Keterangan Domisili

  1. Untuk bapak atau Ibu yang belum punya KTP Maja namun sudah punya SK domisili lebih dari 6 bulan, harap datang ke kantor Desa untuk verifikasi dan mendaftar pemilihan Kades.
    Batas waktu s/d Rabu, 26 Oktober 2022 dengan bertemu bu Novi.
  2. Untuk yang sudah mempunyai KTP Maja Baru, namun belum 6 bulan juga perlu verifikasi untuk ikut mencoblos di Pilkades.
  3. Untuk penghuni baru atau yang belum memiliki SK Domisili, diharuskan memiliki SK Domisili Maja jika sudah menetap di klaster Kintamani untuk payung hukum atau legalitas untuk melindungi diri sendiri secara hukum. Untuk saat ini harap langsung datang ke kantor Desa langsung bertemu bu Novi membawa fotokopi KK, jam kerja 08.00 – 13.00. Mumpung saat ini biaya membuat SK Domisili ringan karena ada Pilkades yaitu 10.ribu rupiah.
    Khususnya untuk yang sudah menetap lebih dari 6 bulan, dan belum memiliki SK Domisili harap langsung ke kantor Desa. (Pintu masuk 2 sebelah kanan TK, sebelah kiri Gedung Serba Guna dekat Bundaran Tampak Siring)

Note: dibawah juga saya share nomor WA bu Novi (Sekdes Maja Baru), sekali lagi untuk yang sudah domisili lebih dari 6 bulan dan belum memiliki SK Domisili diminta menghubungi beliau untuk membuat SK Domisili.

Dari koordinator Paguyuban hanya mendorong semua warga Kintamani yang memiliki hak pilih menggunakan-nya, supaya ke depannya memudahkan warga Kintamani membentuk RT Dan RW dengan memilih Kepala Desa yang bisa menjadi harapan baru warga Kintamani. Meski 100% penghuni Kintamani adalah pendatang, namun secara administratif tetap membutuhkan layanan dari kantor Desa.”

Saya sendiri sudah mengantongi KTP sini jadi tinggal datang dan tak perlu mengurus SK domisili.

Dengan maraknya berita resesi, sepertinya ada dampaknya ke penjualan rumah di sini. Di klaster saya bahkan ada yang berniat mengobral rumahnya dengan menjual di harga Rp100 juta saja padahal harga beli terendah di sini tahun 2020 Rp160 juta. Apakah segitu butuh duitnya? Saya tak tahu persis.

(*/)

UPDATE 25 OKTOBER 2022

Sabtu lalu ada acara interaktif yang menarik di kafe Sudut Tangga yang dihadiri beberapa warga CMR. Temanya soal perencanaan keuangan di masa resesi.

Digagas oleh Lusia Priandarini dan Amelia, acara Maja Ngariung yang bakal digelar tiap bulan sekali ini katanya ingin menghadirkan pembicara dari warga CMR untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan soal banyak hal dengan sesama warga.

Di sini ternyata baru banyak saya ketahui bahwa ada juga sebagian warga CMR yang pindah ke sini sebab terpaksa. Entah karena kena PHK, karena keuangan mepet di masa pandemi, dan sebagainya.

Saya sendiri ke Maja untuk melepaskan diri dari kungkungan Jakarta selama pandemi. Di kota tersebut, kepadatan dan lockdown yang menyesakkan membuat kesehatan mental dan fisik hancur.

Di Maja, dengan kebebasan bergerak di luar rumah, pandemi terasa jauh dan mitos belaka memang. Setidaknya saya masih bisa menikmati ketenangan, kesegaran udara dan kehangatan sinar matahari tiap hari. Tak seperti di Jakarta yang membuat saya tak bisa melihat langit dan menikmati udara pagi dan melihat langit dengan sebebas-bebasnya.

UPDATE 8 NOVEMBER 2022

Apakah resesi sudah sampai di Maja? Bisa jadi.

Dari yang saya dengar, seorang teman yang menawarkan jasa renovasi, bisnis mereka mulai sepi.

Tampaknya gegara berita resesi, orang-orang pemilik unit di Citra Maja Raya menahan diri untuk tidak belanja demi merenovasi rumah.

Meski begitu saya juga melihat ada yang membuka bisnis di sini. Sebuah toko roti bernama Panen Roti dibuka di ruko Navina.

Di sektor teknologi, PHK besar-besaran juga mulai melanda tak cuma di Indonesia tapi juga luar negeri padahal di masa puncak pandemi 2020 sektor ini termasuk yang lumayan naik dan stabil. Justru mereka yang kerja di sektor teknologi ini yang bisa menikmati bekerja di rumah yang jadi sebuah kemewahan.

Sekarang pandemi belum usai dan sudah ditambahi resesi pula. Haha bertubi-tubi rasanya memang.

PPKM level 1 kembali diterapkan karena angka kasus covid naik, demikian pernyataan Kemendagri. Begitu saya baca di detik.com setengah jam lalu.

Tapi meski demikian, fenomena ramainya konser dan antrean panjang iPhone 14 seakan menampik resesi di sini.

Masak iya orang kelaparan dan ekonomi susah mampu beli tiket konser boybands Korea, band Barat, dan beli ponsel pintar gres??? Apa itu masuk di akal??

Tapi begitulah kesenjangan di negara ini. Sangat timpang dan memprihatinkan.

UPDATE 13 NOVEMBER 2022

Hari ini ada pemilihan kepala desa dan kami warga Citra Maja Raya yang masuk ke wilayah desa Maja Baru yang terdaftar dalam daftar pemilih dipersilakan memilih.

Seorang teman merasa kaget karena masih ada money politics. Saya tertawa saja, “Kamu ke mana aja?” Maklumlah dia tumbuh besar di Jakarta yang mungkin untuk urusan seperti ini lebih ketat. Di daerah termasuk Maja ini warga biasa ya mencoblos calon yang kasih uang ke mereka.

Saya sendiri sudah tidak kaget karena hal semacam itu juga terjadi kok di tempat asal saya. Bukan DKI Jakarta pastinya.

Begitulah fakta menyedihkan pemilihan kades di sini. Kalau perlu perbaikan, tidak bisa dari satu pihak tapi sistem dan budayanya mesti dirombak total. Dan ketegasan pemimpin yang atas.

Saya sendiri sudah punya KTP Maja dan dengan begitu otomatis berhak memilih.

Saya baru sadar daerah perkampungan penduduk di sini itu sangat menyedihkan jalan-jalannya.

Perjalanan saya ke TPS sungguh berliku dan sudah mirip offroad route buat pebalap. Kalau hujan, tak terbayang sengsaranya yang lewat di situ.

UPDATE 8 DESEMBER 2022

Pastinya Anda yang ingin pindah ke Maja ini bertanya-tanya juga apakah daerah ini relatif bebas banjir dan gempa bumi.

Setelah gempa mengguncang Cianjur tanggal 21 November lalu, memang rasanya kita jadi cemas soal risiko gempa di rumah yang kita tinggali. Maklum, gempa ini tidak bisa diramal kapan bakal mengguncang. Lain dari tsunami yang bisa diprediksi, gempa tidak. Manusia cuma bisa pasrah dan berusaha bertahan.

Citra Maja Raya sendiri pernah juga dirambah gempa. Tapi untungnya tidak sampai parah sebagaimana di wilayah pesisir selatan sana. Biasanya daerah Bayah – yang masih masuk kabupaten Lebak – memang kerap terpampang sebagai episenter gempa.

Begitu juga saat tadi ada gempa di Sukabumi, wilayah Maja sini adem ayem. Bahkan saya sendiri tidak merasa. Berita gempa pun merajai media televisi. ya itu karena orang Jakarta merasakannya. Mereka memang sensitif dengan guncangan sehalus apapun sebab banyak yang menghuni gedung tinggi. Tapi entah kenapa Jakarta seakan tahan gempa. Belum pernah ada kejadian gempa bisa memporakporandakan ibu kota lama tersebut.

Soal bencana banjir, Maja juga relatif aman kok. Akhir-akhir ini curah hujan yang menggila tidak sanggup menggenangi wilayah CMR. Setidaknya di wilayah klaster saya di CMR tahap 2 sini. Di klaster saya ini ketinggian tanahnya memang cukup untuk menyelamatkan rumah dari genangan.

Bahkan dibanding rumah-rumah di barisan seberang, baris punya saya termasuk lebih tinggi. Carport saya saja miring karena saking tingginya. Sementara itu, carport tetangga lebih landai.

Baru-baru ini beredar berita di sini yang isinya soal sebagian tanah Citra Maja Raya yang terancam disita. Sebagian warga klaster saya sontak cemas tapi setelah dibaca, ternyata tidak ada wilayah CMR Tahap 2 yang terancam disita.

Dikatakan oleh reporter dalam berita tersebut bahwa bagian tanah yang terancam disita tadi berada di wilayah desa Curug Badak dan Pasir Kembang. Sementara itu, wilayah klaster saya di desa Maja Baru jadi relatif amanlah.

Ternyata ancaman penyitaan tadi akibat kekalahan Maria Sofiah dan PT Harvest Time (yang saya duga pihak rekanan Ciputra Group dalam proyek Citra Maja Raya ini) dalam proses kasasi di Mahkamah Agung terkait kepemilikan tanah seluas 5.819.378 meter persegi dengan PT Equator Majapura Raya.

Rincian bidang tanah yang berisiko disita pengadilan adalah sebagai berikut:

1. Wilayah yang masuk ke Desa Curug Badak

  • Blok Binong
  • Blok Cewak
  • Blok Ranca Letik
  • Blok Cirukam
  • Blok Pangasinan
  • Blok Makam Gede
  • Blok Seusepan
  • Blok Cipining
  • Blok Dukuh Hangit
  • Blok Kebon Kopi
  • Blok Ranca Cabe
  • Blok Ranca Berem
  • Blok Sumur Batu
  • Blok Pasir Cipining
  • Blok Cadas Konali
  • Blok Leuwipanjang
  • Blok Curug Nini
  • Blok Cipondok

2.  WIlayah yang masuk ke Desa Pasir Kembang

  • Blok Rajab
  • Blok Cipahet
  • Blok Ranca Wiru
  • Blok Ranca Palem
  • Blok Tajur
  • Haur Dapung

Saya pikir penyitaan ini bakal terselesaikan dengan baik sebab masak iya bangunan yang sudah ada semuanya bakal dirobohkan?

UPDATE 18 DESEMBER 2022

Jelang akhir tahun, Maja muncul dalam pemberitaan nasional terkait dengan ditolaknya izin mengadakan perayaan Natal di lingkungan perumahan Citra Maja Raya.

Dikutip dari Kompas.com, bupati Lebak ibu Iti menyatakan menolak permohonan dari komunitas Kristiani di Maja sebab ada kesepakatan dalam Forum Kerukunan Antar Umat Beragama yang seolah tidak memperbolehkan dibukanya gereja di Maja. Kesepakatan mana tidak dijelaskan secara detail dan ini yang membuat publik bertanya-tanya dan memicu rasa ketidakadilan dalam beribadah.

Yang lebih memicu kegeraman lagi adalah tidak diizinkannya juga perayaan Natal di Maja. Saat komunitas Kristiani mengajukan izin untuk merayakan di Ecoclub Citra Maja Raya, eh bupati masih menolak.

Sontak komentar bernada miring dari mereka yang mengklaim diri sebagai Pancasilais dan pluralis pun menyeruak di media sosial. Bahkan akun Instagram sang bupati juga kena serbu tapi langsung dimatikan komentarnya. Haha. Pusing memang kalau sudah dihajar netizen 62. Ngeri! Dikasih berita negatif dikit langsung seperti ikan piranha mencium bau darah. Piranha kecil memang tapi kalau yang datang dan menggigiti banyak ya akhirnya ikan paus juga bisa mati pelan-pelan.

Namun, sore tadi dapat kabar terbaru dari akun Instagram Maja Ngariung bahwa masalah sudah terpecahkan karena perayaan di Ecoclub akhirnya diperbolehkan dengan kawalan dari polisi setempat. Dan memang saya tadi saksikan ada beberapa polisi datang sempat salat di masjid. Ini jarang terjadi. Polisi Lebak tak pernah terlihat di masjid Al Ikhlas ini.

Soal izin pendirian gereja yang belum ada, komunitas Kristiani saya lihat sudah ada yang menyewa ruko untuk tempat beribadah mereka. Entah itu komunitas yang mana saya kurang tahu tapi letak ruko tadi ada di sekitar Masjid Al Ikhlas situ juga. Seberangnya malah.

Sebelumnya mereka berlokasi di ruko lainnya yang kemudian disulap jadi toko atau tempat usaha.

Sebenarnya praktik mengubah tempat usaha jadi tempat ibadah begitu memang sudah lazim ditemui di Ibu Kota. Saya lihat di Mall Ambassador Jakarta Selatan sana juga ada gereja di lantai paling atasnya. Ya mau gimana lagi wong pendirian gereja dipersulit.

Ada-ada saja memang Indonesia akhir-akhir ini. Jelang 2024, saya jamin bakal makin santer isu-isu pembenturan agama seperti ini. Waspada saja.

Sementara itu, cuaca ekstrim melanda banyak wilayah di Alam Sutera dan Jakarta. Syukurnya di Maja paling hujan masih normal. Tidak banjir, Genangan pun tidak ada. Cuma, panasnya itu memang luar biasa. Pohon peneduh jalan juga masih mungil-mungil jadi di jalan seperti dipanggang saja.

UPDATE 20 DESEMBER 2022

Membaca berita soal tragisnya para pembeli apartemen di Meikarta, saya jadi sangat bersyukur dengan pilihan saya untuk membeli rumah di Citra Maja Raya ini. Sungguh.

Bayangkan Anda sudah mencicil bertahun-tahun, eh huniannya belum ada juga. Dijanjikan serah terima, lewat dua tahun belum ada kejelasan. Sementara itu, pekerjaan tidak ada dan ekonomi lesu di kala pandemi dan resesi begini. Ah, sangat melelahkan secara psikologis dan mental! Mau menang sekalipun, rasanya energi sudah habis untuk mengurusnya. Merasa diperlakukan tidak adil dan menuntut keadilan adalah sebuah proses yang menyedot banyak energi. Apalagi jika penguasa atau pihak berwajib tidak bisa berbuat apa-apa. Lihat saja pemerintah juga tidak bertindak menengahi. Berkomentar sedikit saja pun tidak. Mengerikan memang. Seolah tinggal di rimba saja. Tidak merasa terlindungi.

Proses memiliki rumah di sini relatif mulus sebetulnya. Setidaknya dalam kasus saya.

UPDATE 9 JANUARI 2023

Merayakan tahun baru di CMR tidak terlalu sepi juga. Kalau saya bisa katakan, lumayan meriah lho.

Tanggal 1 Januari lalu, saya sengaja merayakan di klaster saya. Ternyata banyak tetangga yang berkumpul dalam rangka undangan paguyuban klaster.

Jadi bagi yang tidak ada acara atau punya budget liburan, bisa kok di Citra Maja aja dan merayakannya di sini.

Lewat tengah malam bahkan ada kembang api menghiasi angkasa.

Meski memang sejurus setelahnya cuaca kembali memusuhi. Hujan turun dan kami seperti dipaksa bubar.

Saya juga langsung pulang rumah dan tidur. Pokoknya lebih nyaman dan aman daripada mesti menyusahkan diri merayakan di tengah keramaian Bundaran Hotel Indonesia yang sangat sesak. Di TikTok saya saksikan ada seseorang yang berkeluh kesah begitu. Haha. Dasar anak muda perantau yang haus pengalaman kekinian ibukota. Mereka ini seolah menganggap tahun baruan di kos atau rumah itu kurang meriah dan menyedihkan. Dan di keramaian mereka seolah lebih bangga dan wah. Padahal malah justru lebih menyusahkan diri sendiri karena habis itu malah susah pulang dan hujan turun pula karena cuaca masih buruk di awal Januari lalu.

Di klaster saya sendiri mulai ada pembagian RT dan RW pasca Pilkades akhir tahun lalu. Dan paguyuban klaster saya sudah membagi-bagi tim pemilihan ketua RW dan RT.

RT dan RW ini penting agar status kependudukan warga klaster saya tidak menggantung. Dan saya sendiri juga berpikir demikian. Jika belum punya ketua RT dan RW itu rasanya masih seperti kelompok rumah saja. Belum ada persatuan yang resmi. Paguyuban sendiri cuma sebatas keakraban antartetangga. Untuk urusan administrasi kependudukan ya tidak bertaji dan bergigi. Jadi susah kalau mau mengurus KTP atau Kartu Keluarga.

Dan makin hari makin banyak orang-orang yang saya dengar pindah atau memilih memiliki rumah di Citra Maja sini.

Seorang teman mengatakan malah ada rumah Andreas Harsono, seorang jurnalis senior , di klaster tetangga saya. Wah… (*/)

Kalenji Run Active Jogging Shoes: Sepatu Jogger Pemula dari Decathlon

LEPAS Idulfitri begini rasanya memang mesti kembali ke jalur pola hidup aktif dan sehat kembali. Bukan berarti puasa itu tidak sehat ya tapi buktinya sebagian orang mengurangi gerak badan dan berbuka dengan makanan yang tak sehat pula. Alhasil berat badan naik dan badan tak karuan rasanya. Puncaknya pas Lebaran, kebiasaan makan berlebihan (overeating) membebani pencernaan dan sebagian orang jatuh sakit di saat harus mondar mandir silaturahmi.

Seperti biasa, banyak manusia yang baru sadar pentingnya olahraga dan pola hidup sehat saat sudah sakit. Maka sehabis Lebaran ini, banyak orang memulai mengubah pola hidupnya. Dan mereka yang selama puasa sedang jeda berolahraga, habis Lebaran mulai menggiatkan diri lagi.

Bagi Anda yang ingin memulai berolahraga tanpa harus ke pusat kebugaran yang mahal, olahraga jogging menjadi salah satu pilihan yang terjangkau. Jogging bisa dilakukan di mana saja meski tidak kapan saja (siapa yang mau jogging tengah malam? Haha).

Olahraga jogging juga murah meriah. Cukup berbekal sepatu yang nyaman dan fungsional, siapa saja bisa memulai melakukannya. Kalau jalan beraspal sebagai medan jogging juga mudah ditemukan. Kita bisa menyusuri jalan kompleks rumah atau ke lapangan berpaving atau berumput. Asal bukan berlumpur atau basah.

Nah, salah satu pilihan sepatu jogging murah meriah adalah sepatu jogging Run Active Kalenji dari Decathlon Indonesia ini. Dari situs Decathlon.co.id, harganya sekarang (saat tulisan ini ditayangkan) adalah Rp350.000. Lumayan murah apalahgi setelah didiskon 22% dari harga Rp450.000 sebelumnya.

Saya sendiri sudah mengincar sepatu ini sejak lama. Eh, tak disangka-sangka, sebelum Lebaran lalu saya ditawari sepatu jogging ini gratis oleh pihak Decathlon Alam Sutera untuk pembuatan konten Instagram mereka. Tujuannya ingin mengajak orang memulai olahraga kembali sehabis bulan puasa yang biasanya membuat orang malas bergerak.

Saya sendiri tidak diwajibkan menulis ulasan tapi saya menulis ini karena merasa ingin memberikan informasi sebagai pertimbangan Anda yang membaca dan sudah mengincar sepatu ini tapi masih ragu. Apakah sepatu ini sesuai dengan banderol harganya? Yuk kita bahas bersama.

KENYAMANAN

Jenis sol sepatu ini relatif tebal. Entah berapa milimeter tebalnya tapi membuat telapak kaki, pergelangan kaki dan sendi lutut saya tetap nyaman dan aman saat berbenturan dengan jalan beraspal atau semen keras tempat kita berjogging.

Dengan ukuran bervariasi, bisa pilih ukuran yang sedikit lebih besar untuk memberi ruang buat kaos kaki.

Sepatu ini mungkin tak cocok untuk pelari profesional atau marathon. Tapi itu memang sudah sepatutnya karena ini dibuat untuk pelari pemula.

Bagian dalam sepatu nyaman karena tebal tapi saat dipakai berlari tetap terasa ringan. Bahkan tanpa kaos kaki pun mungkin kulit tungkai kaki tak lecet.

PILIHAN WARNA

Di website Decathlon, saya menemukan 4 varian warna sepatu ini. Selain biru yang saya terima, ada putih, hitam dan abu-abu. Menurut saya varian biru ini lebih kalem dan tak begitu mencolok mata.

Namun demikian, kalau Anda lari di kegelapan, ternyata sepatu ini bisa bersinar karena ternyata garis putih di tengah sepatu ini bisa gemerlapan kalau tertimpa sinar.

Tentu tak bakal menolong saat Anda jogging pagi hari. Kecuali pagi hari itu gelap gulita, atau Anda jogging malam hari.

HARGA

Sebagaimana saya sudah kemukakan di atas, harganya Rp350.000. Level harga seperti ini tergolong masih murah bagi masyarakat kebanyakan.

Dengan desain sepatu yang lumayan bagus dan bergaya, harga seperti ini layak. Sudah bisa membedakan dari sepatu yang lebih murah. Dan memang tak sebagus sepatu lari ‘serius’ yang rata-rata Rp500.000 ke atas.

MULTIGUNA

Kalau dipakai di luar sesi jogging, sepatu ini masih tampak modis dan tidak memalukan. Anda masih bisa diterima masyarakat saat memakai sepatu ini ke mall atau pesta atau event publik lain. Asal pilihan warnanya tak terlalu ngejreng. Dan menurut saya varian biru ini paling cocok di segala suasana dibandingkan varian warna lainnya.

Jadi menurut saya sepatu Kalenji ini memang worth the money. Apalagi setelah didiskon begini.

Poin plusnya sepatu Run Active ini sudah memenuhi kebutuhan jogger pemula dengan harga yang masuk akal. Kenyamanan juga bagus.

Poin minusnya sih katanya belum ada ukuran besar buat mereka yang tak muat di ukuran kaki 39-43 yang dimiliki mayoritas populasi. (*/)

Kesalnya Jadi Pembeli di Berpijar Cafe, Kudus

KALAU food bloggers sering menulis soal tempat makanan yang mesti dikunjungi di suatu daerah, saya kali ini mencoba berbeda.

Saya akan tuliskan di sini sebuah tempat makan yang sebaiknya JANGAN SAMPAI Anda kunjungi kalau Anda di Kudus. Kecuali benar-benar terpaksa.

Serius. Ini bukan candaan, bukan satir, atau sarkasme. Ini pernyataan yang tanpa niat buruk bagi sesama konsumen. Apalagi menyinggung saudara Ato Pujiharto yang namanya tertera di kuitansi di atas.

Karena saya punya pengalaman teramat buruk di tempat makan satu ini.

Namanya BERPIJAR COFFEE (atau seharusnya “CAFE”? Entahlah) yang berlokasi di Kompleks Wana Wisata Pijar Park, Kajar, Kabupaten Kudus, Jateng.

Awalnya saya dan saudara-saudara iseng ke sini karena suasananya sejuk dan hijau. Bisa sambil bermain dan berjalan-jalan di sekitarnya yang masih banyak pepohonan pinus ala gunung.

Kami pesan makanan seperti yang tertera di kuitansi. Taro milk, red velvet, boba, jahe susu, teh panas, dan air mineral.

Makanan yang kami pesan juga banyak. Sop iga, mendoan, pecel pakis khas Kudus, seblak.

Kami menduga memang bakal lebih lama. Ya paling 30 menitan lah ya. Kami paham kok sekarang Lebaran dan memang volume pengunjung pasti melonjak. Kami lihat di sekeliling memang orang banyak lalu lalang.

Lalu kami meninggalkan meja sejenak dan menyuruh satu orang dari kami untuk menunggu di situ agar pelayan tahu bahwa kami masih di sana menunggu.

Tapi ada yang aneh di kafe ini. Kami kebetulan duduk di belakang kasir. Beberapa pelanggan mendatangi mbak kasir sambil berbicara dengan nada ketus, tak enak, geram juga.

Tanpa harus menguping, saya tahu bahwa mereka kesal karena makanan yang dipesan belum juga keluar padahal sudah menunggu selama 2 jam. Dua jam!!!

Sejumlah pelanggan protes dengan makanan yang lama keluarnya. (Foto: Dok pribadi)

Sudah tercium ‘bau amis’ di sini. Tapi kami masih belum mau pindah karena kami sudah membayar makanan kami itu lunas. Berhak dong kami menunggu.

Eh tak dinyana hal yang sama terjadi pada kami.

Satu jam lebih menunggu tak ada kejelasan juga kapan makanan keluar. Kami menelpon nomor di kuitansi.

Saat ditanya kenapa makanan belum keluar, suara di ujung sana menjawab: “Sudah diantar tadi tapi tidak ada yang menjawab atas nama XXXX.”

Padahal di meja kami ada satu orang saudara saya yang menunggu dengan kelaparan.

Memang aneh standar operasional di sini. Tidak ada nomor meja. Tidak ada pemanggilan nama pelanggan yang jelas dan berkali-kali. Yang tidak masuk akal adalah bagaimana orang meninggalkan tempat itu setelah memesan makanan yang sudah dibayar mahal!

Dan kasir juga cuma diam seolah tidak tahu bahwa orang yang memesan itu duduk di meja sekian. Itu aneh menurut saya karena dia sendiri yang menerima order dan melihat wajah orang yang memesan. Setidaknya teringat sedikit lah.

Penyaji makanan dari dapur juga tak datang lagi memeriksa orang yang memesan sudah kembali atau belum setelah tadi dipanggil tapi menurutnya tak ada. Bukannya sekali memanggil lalu sudah kembali ke dapur. Dia mungkin kesal dan capek tapi kami sebagai pelanggan juga sudah membayar. Di depan!

Akhirnya makanan sampai setelah kami menelepon nomor di kuitansi. Tentu kami geram karena sudah menunggu 2 jam lamanya dan sudah lapar bukan main.

Soal citarasa makanan rasanya kok seenak apapun kalau sudah begini payahnya pelayanannya jadi tak enak lagi. Kami sebagai pembeli tak lagi merasa nyaman makan di tempat yang harus menunggu dengan begitu ‘menyiksa’ begini.

Kuitansi pembelian (Foto: Dok. pribadi)

Jadi intinya ya kami sebagai pembeli kecewa berat dan kapok datang ke sana lagi. Sumpah!

Kalau tidak ada keindahan pemandangan di sekitarnya, mungkin tempat ini bakal cepat tutup. Tapi mungkin karena mereka pikir dengan pelayanan ala kadarnya begini toh orang masih mau kok bertandang makan. Ya sudah, mungkin pelayanannya dibiarkan begini buruknya oleh manajemen dan pemilik.

Tapi saya sebagai konsumen ingin mengingatkan sesama konsumen lainnya. Please jangan buang waktu Anda di sini. Anda berhak mendapatkan tempat makan dengan kualitas pelayanan yang lebih baik dengan harga yang sama persis!!!

Untuk manajemen kafe ini, saya sangat menyanyangkan tidak adanya standar operasional yang baku dan jelas. Misalnya bagaimana jika makanan terlalu lama disajikan, durasi menunggu keluarnya makanan (lihatlah resto siap saji yang pakai standar sekian menit untuk menyajikan makanan sejak pembayaran dilakukan konsumen), dan sebagainya.

Jika memang belum siap dan tak ada perbaikan, tutup sajalah. Daripada menjebak konsumen-konsumen yang semestinya bisa menikmati hari dengan mood bagus tapi gara-gara ke sini malah jadi marah-marah dan kecewa. Sungguh, membuat konsumen kecewa dan marah itu menurut saya dosa terbesar untuk para pelaku industri hospitality termasuk kuliner. (*/)

Hotel Kapsul Bandara Soekarno Hatta: Akomodasi Kekinian dengan ‘Tumbal’ Kenyamanan

DALAM rangka mudik, Jumat malam pekan lalu saya menginap di DIGITAL AIRPORT HOTEL.

Megah dan modern serta futuristik memang namanya. Pokoknya memukau dan yang penting murah meriah karena tarifnya cuma Rp300.000-an lebih sedikit.

Konon inilah akomodasi ‘merakyat’ yang ada di lingkungan bandara Soekarno Hatta (CGK). Alternatif yang lebih borjuis yakni Anara Airport Hotel yang tarif termurahnya konon Rp700.000-an. Bisa sih bayarnya tapi kok sayang banget uang sebanyak itu dihambur-hamburkan demi menginap kurang dari 12 jam saja.

Saya memang cuma menginap semalam di bandara ini karena takut terlambat naik pesawat. Jarak rumah ke bandara Soetta cukup jauh dan transportasi kurang bisa diandalkan. Maklum bukan Jakarta. Jadi akses ini masih agak memprihatinkan.

Akhirnya saya naik taksi online ke bandara dari rumah. Meski bisa naik komuter ke Jakarta lalu ke bandara dengan kereta khusus bandara, rasanya bakal bisa menghemat waktu dan tenaga dengan langsung dari rumah ke bandara. Inilah dilemanya: kalau hemat waktu, boros uang. Kalau hemat duit, boros waktu.

Jiwa proletar ini ingin menjerit rasanya tatkala mengetahui tarif yang dipatok sekali jalan ke bandara Rp300.000an. Mau tak mau ya harus mau kalau tak mau telat boarding pesawat. Ikhlaslah saya melepas duit segitu demi ketepatan waktu esok hari. Saya tak mau stres puasa begini gara-gara lalu lintas atau terlambat karena keteledoran sendiri. Apalagi dipelototi orang sepesawat karena naik terlambat. Ugh malu-maluin!

Saya akan naik pesawat Citilink di Terminal 3 Domestik sehingga pas sekali kalau saya menginap di hotel ini. Bayangkan saja, tinggal turun satu lantai dengan lift, saya bisa tidur.

Inilah suasana pintu masuk terminal 3 domestik Jumat malam. Agak lengang karena gerai-gerai tutup meski yang masih buka juga ada seperti Alfa Express dan sejumlah tempat makan.

Jadi hati sudah tenteram karena risiko terlambat naik pesawat sudah berkurang mungkin 99%. Sisanya adalah kedisiplinan bangun pagi sehabis sahur untuk mengantre check-in dan boarding. Proses paling merepotkan bagi penumpang pesawat. Entah kapan bisa sepraktis penumpang bus atau kereta.

Terminal 3 Keberangkatan Domestik tampak lengang di malam hari Jumat tanggal 29 April 2022. (Foto: Dok pribadi)

Setelah bertanya ke seorang petugas, saya diantar ke lantai bawah. Ternyata kantornya petugas tadi juga di sebelah hotel tujuan saya.

Saya pun akhirnya menemukan hotel tersebut. Tak lalu lalang orang di depannya. Apakah di dalamnya sepi?? Saya berharap demikian.

Eh ternyata salah besar. “Hampir full mas,” kata si resepsionis laki-laki.

Masak sih, gumam saya. Karena di lobinya saja sepi. Di ruang lounge untuk bersantai dan membuka laptop untuk sekadar bermain wifi gratisan pun juga cuma 2 orang tampak duduk manis dengan menjaga jarak.

Saya merasa agak tertipu karena di aplikasi Tiket.com saya melihat hotel kapsul ini punya jenis kamar yang terpisah, bukan kapsul. Apakah saya yang terlalu naif atau kurang teliti atau bagaimana ya? Tapi seingat saya memang ada yang mirip kamar hotel begitu. Tapi mas resepsionis menekankan bahwa tidak ada kamar yang saya minta. Sebenarnya saya tak masalah tambah barang Rp100.000 untuk bisa mendapatkan kamar kecil terpisah. Eh malah ternyata tak ada. Ya sudahlah.

Wajah depan hotel menyapa calon penginap. (Foto: Dok. pribadi)

Saya bayar uang deposit Rp50.000 sebagai jaminan jika kartu akses hilang. Duit ini bakal dikembalikan jika kartu utuh dikembalikan esok hari padanya.

Lalu saya bayar sesuai tarif resmi dan masuk ke dalam koridornya.

Sebenarnya bukan kali pertama saya menginap di hotel kapsul begini. Di Bandung saya juga pernah di hotel berkonsep sama. Agak kapok karena berisik akibat suara orang check in pagi buta. Tapi mau bagaimana? Murah sih.

Begitu juga di sini. Saya cuma bisa tidur menutup telinga dengan bantal saat jengkel dengan suara buka tutup loker dan pod tidur di sekeliling saya.

Intinya tidak nyaman memang tidur di sini. Saya tak mau berbohong. Tapi buat Anda yang merasa ketepatan waktu dan harga murah adalah prioritas ya tidak ada pilihan lain.

Untuk mandi dan ke kamar kecil, Anda mesti jalan ke luar hotel dan di koridor bisa bertemu para petugas kebersihan bandara sedang apel ganti shift kerja.

Kamar mandi sih standar saja. Tidak buruk dan setidaknya terpisah dan ukurannya besar. Tak bakal ada yang mengintip kok. Karena ruangannya terpisah oleh tembok bak kamar hotel. Tapi tidak ada shampoo. Cuma sabun cair.

Lalu saat sahur, saya ke lantai atas dan membeli makanan siap santap di Alfa Express yang masih buka entah sampai jam berapa. Pukul 22.30 saya ke sana dan mereka masih melayani.

Karena esoknya masih puasa, saya bangun sahur dan makan di dalam pod tidur ini sembari menikmati tayangan TV.

Soal kenyamanan tidur di sini, saya bisa katakan baik dan standar. Tapi bakal lebih bagus lagi kalau pod ini kedap suara. Untuk orang yang tidur terbiasa dalam kondisi sunyi, saya tak bisa nyenyak tidur dalam kondisi berisik.

Untuk suhu udara dalam pod, cukup dingin. Sekitar 22 derajat celcius. Ada beberapa lubang angin yang terus berputar menjaga sirkulasi udara. Suhunya seharusnya bisa diatur di panel tapi entahlah saya kok tidak bisa mengaturnya agar lebih hangat karena saya tak bisa tidur dalam kondisi terlalu dingin.

TV dan audionya berfungsi baik tapi saya tak begitu peduli itu. Tidak ada pun saya masih ada ponsel.

Ambiance dalam pod bisa diatur dengan mengganti warna lampunya. Tapi saya tak peduli juga karena saya biasa tidur dalam kondisi gelap total. Saya tak takut kegelapan.

Untuk keempukan bantal dan tempat tidur, saya bisa katakan lumayan. Selimut agak tipis untuk orang yang suka tidur dalam kondisi hangat.

Seprai dan sarung bantal diganti tiap kali tamu baru datang jadi risiko penularan atau infeksi penyakit bisa ditekan.

Secara keseluruhan, saya bisa katakan hotel ini pantas untuk harga selevel ini dan lokasinya yang ada di bandara. Ini poin super plus.

Tapi selain itu, tidak ada kelebihan lain. Semuanya standar. Keamanan juga relatif bagus karena kuncinya digital jadi kartu mesti di-tap ke detektor pod dan loker agar bisa mengakses. Tapi kalau Anda orang yang ceroboh dan sering menghilangkan barang setipis kartu, hati-hati saja. Kalau Anda teledor, orang bisa menyalahgunakan kartu akses yang ditemukan untuk mengambil barang Anda tanpa izin.

Yang bisa diperbaiki lagi tentunya adalah lokasi kamar mandi dan toilet yang terpisah dari ruangan pod tidur semua tamu. Cukup repot kalau sudah tidur tapi harus ke toilet. Mengantuk dan harus jalan jauh itu menyiksa sekali. Swear! (*/)

Hunian Idaman di Pedalaman Hutan

Scholar’s Library, New York, USA. Designed by Gluck+ (Photo: @steffan on Instagram)

MELIHAT foto-foto hasil rancangan firma arsitektur Amerika GLUCK+ di atas, rasanya ingin pindah ke dalamnya. Tak peduli belum ada ATM BCA di sekitarnya, belum ada AlfaMart atau Indomaret, belum ada sambungan listrik (karena bisa pakai panel surya), belum ada wifi pun tak masalah.

Asal ada koleksi buku kesukaan, pepohonan, dan ruangan yang bersih, rapi untuk berteduh dan membaca dan membaringkan badan dan buang hajat tentunya.

Senang rasanya hidup di antara rumah yang desainnya rapi dan tak banyak pernak-pernik yang memusingkan kepala dan netra, menyisakan banyak ruang sehingga pikiran jadi lega, tak disesaki dengan barang-barang yang sebenarnya tak diperlukan.

Firma arsitektur ini konon dinamai berdasarkan nama Peter Gluck dan Mitra Arsitekturnya. Tanda plus sendiri menandakan mereka bersikap inklusif. Mereka berupaya mengakomodasi semua selera dan kebutuhan berbeda orang-orang yang majemuk.

Gluck masih menjadi petinggi di firma ini. Ia lulusan Yale University dan memiliki gelar Master Arsitektur dari Yale School of Art and Architecture di tahun 1965. Ia pernah ke Tokyo dan merancang proyek besat untuk konstruksi Jepang sehingga tak diragukan ia terpengaruh oleh estetika tradisional Jepang tapi juga memiliki ciri modern yang efisien dalam desainnya. (*/)

Hari Hak Cipta dan Buku Sedunia dan Fenomena Berbagi File Digital

John Grisham dibuat kesal dengan pembajak ebook. (Foto: Wikimedia Commons)

SAYA baru tahu hari ini itu diperingati sebagai “World Book and Copyright Day“. Entah siapa yang mencanangkan tapi pastinya bukan orang Indonesia.

Ya karena Indonesia bukan negara yang patut dicontoh soal penegakan hukum kekayaan intelektual dan penerbitan pastinya. Di sini para penulis masih melarat rat rat. Kecuali yang sudah punya nama besar dan bisa mendiversifikasi pemasukan dengan mendapatkan kontrak film, iklan, merchandise dan sebagainya. Tapi buat yang masih emerging dan kurang terkenal, please jangan berharap banyak.

Tapi jangankan di Indonesia tempat pembajakan buku terjadi secara blak-blakan di marketplace semacam Shopee dan Tokopedia, di Amerika sana saja masih keluar keluhan dari para penulis buku lho.

Penulis novel thriller hukum John Grisham bahkan menulis sebuah artikel yang mencurahkan kekesalannya soal budaya pembajakan buku di dunia maya yang seakan tidak bisa dihentikan (sumber: thehill.com). Sekelas Grisham saja yang seharusnya sudah bisa dikatakan makmur dan tak perlu memusingkan soal pendapatan masih membahas soal ini lho. Gila nggak sih?

Di artikelnya, Grisham merasa tak berdaya meski dia sendiri seorang pengacara juga kalau dihadapkan dengan pembajakan bukunya yang terjadi secara masif di internet. Ia mengeluhkan susahnya menuntut Kiss Library, sebuah perpustakaan digital yang berbasis di Ukraina yang menjadi jejaring pembajakan e-book yang ia estimasi sudah merugikan industri penerbitan AS sebanyak ratusan ribu dollar.

Perpustakaan digital ini susah dibasmi karena domainnya banyak sekali. Dari kisslibrary.net, kissly.net, thekissly.net, libly.net, cheap-library.com, dan masih banyak lagi. Jadi diblokir satu domain bisa pindah dan menjelma menjadi domain lain. Masih ada juga Z-Library dan LibGen yang sama saja menyediakan unduhan gratis e-book banyak jenis. Pokoknya mirip permainan Tom-Jerry. Capek.

Grisham menjelaskan bahwa meski sudah memiliki pasukan penuntut hukum yang digawangi Amazon dan Penguin Random House, dua korporasi raksasa dalam dunia penerbitan, mereka masih kewalahan untuk menyeret para pelaku dan mendapatkan ganjaran yang setimpal atas kerugian yang diderita. Biaya meluncurkan tuntutan hukum ini saja sudah selangit.

Mereka menemukan 2 nama besar yang bisa dikatakan sebagai dalang di balik ini semua: Rodion Vynnychenko and Artem Besshapochny. Mereka warga Ukraina, negara yang sekarang sedang dibombardir Putin.

Singkat cerita, mereka kemudian terlacak pemerintah setempat dan dipanggil untuk pemeriksaan tapi tak mau muncul ke pengadilan. Tentu saja. Masak maling mengaku.

Grisham kesal karena dengan sistem yang ada sekarang ini, biaya untuk menuntut pihak-pihak pembajak buku tak sebanding dengan kerugian. Dengan kata lain, biayanya begitu tinggi sehingga para penulis buku harus pasrah menjadi korban terus-menerus. Ini seperti menjadi korban pencurian dan pihak berwajib diam saja. Begitu korban melapor, malah ditarik biaya oleh pihak berwajib. Mirip situasi penegakan hukum di negara kita. Haha. Makanya pada malas melapor dan menuntut pelaku kejahatan. Diam saja dan bisanya cuma mendendam dan berkata-kata pedas.

Perkumpulan penulis di AS The Authors Guild dikatakan terus melobi Kongres AS agar masalah ini segera diatasi. Mereka juga mendesak pemerintah AS agar mengubah hukum supaya menekan mesin pencari untuk memblokir situs-situs pembajakan buku. Sehingga kalau ada yang mencari link Kiss Library, mereka tak bakal bisa menemukannya dengan mudah.

====

Lalu mengapa sih fenomena pembajakan buku masih terus marak terjadi?

Mungkin kita bisa menilik dari sisi psikologisnya nih.

Sebuah penelitian oleh Joe Cox dari University of Portsmouth Business School menguak bahwa fenomena penyebaran file digital termasuk e-book ini didasari oleh sebuah mentalitas “Robin Hood”.

Berdasarkan data survei nasional Finlandia yang mencatat kebiasaan berbagi file, status sosial ekonomi dan sikap mengenai penyebaran file secara legal dan ilegal pada 6103 responden dari berbagai kelas ekonomi, ditemukan bahwa ada pandangan bahwa para penyebar file secara ilegal menganggap dirinya sebagai Robin Hood bagi orang lain. Mereka para dermawan yang merampok dari orang kaya yang menindas.

Dalam perspektif Cox, ada dua jenis penyebar file ilegal ini: leechers dan seeders. Leechers adalah para lintah yang menyedot file. Mereka mengunduh file dari pihak lain tapi tidak secara eksplisit menyediakan konten bagi orang lain. Seeders adalah mereka yang mendapatkan file untuk disebarkan ke leechers.

Seeders ini kalau dipikir-pikir tak menikmati kekayaan atau keuntungan dari aktivitas ilegal mereka tapi mereka terus melakukannya karena merasa terdorong oleh semangat solidaritas ala komunitas dan ingin mendapatkan pengakuan di antara yang lain. Mereka merasa ‘di atas angin’ karena sanggup mengakali sistem yang ada. (*/)

Voiceless and Faceless Vlogging for Introverts

Having found Sorekara Melancholy on YouTube perhaps around a year ago, I revisited the channel this morning and felt surprised to know a rise in the number of subscribers.

Back then it only garnered thousands of subscribers. I wasn’t even sure if the channel would get more exponentially.

First of all, it isn’t the regular vlogs we can find on YouTube.

You cannot find the channel owner’s face. You can’t even hear his voice. So it’s safe to say he is an introverted man. Yes the only fact of his life we all know is that he is a Japanese man in his thirties, living all alone at an apartment. He cooked himself, water his plants in the morning, works at home, work out, reads books, etc.

It looks so lonely, less exciting to some extroverts, but also soothing, peaceful and desirable to introverts.

It’s good to know that introverts can express themselves with their audiovisual content without making them feel uneasy.

Though it looks amazing to start a voiceless and faceless vlog channel but I don’t think it’s for everyone because it takes a sense of art and tech to create this series of videos.

With my less than impressive digital editing skills, I think what is possible for me is to explore creative writing to express myself instead of exploring with aesthetic videos like his.

Thermae Romae Novae: Saat Barat Belajar dari Timur

MARI YAMAZAKI, sang pembuat serial animasi, pernah tinggal di Italia dan menemukan bahwa peradaban Romawi Kuno memiliki budaya pemandian yang mirip dengan apa yang dimiliki oleh negara asalnya Jepang.

Dari situ, ia tercetus ide untuk membuat sebuah serial animasi yang mengisahkan perjalanan seorang tokoh sejarah Lucius Modestus yang dikenal sebagai arsitek andal dari kecil hingga ia bisa mencapai puncak sebagai seorang arsitek tempat pemandian yang menjadi teman dekat kaisar Romawi saat itu, Hadrian. Kaisar satu ini memang dikenal senang dengan hal-hal berbau seni dan budaya termasuk arsitektur. Ia bahkan memiliki bakat arsitektur juga.

Sebagai plot twist-nya, Lucius ini diceritakan bisa melakukan perjalanan waktu ke Jepang di abad 21. Sehingga ia terpapar dengan banyak hal yang masih terkait dengan budaya mandi di Jepang yang tentu sudah dianggap sangat canggih dan maju jika dibandingkan standar Romawi Kuno.

Saat menonton serial ini, saya seperti dihadapkan pada dua bagian yakni bagian animasi saat menceritakan hidup Lucius di Romawi saat pemerintahan Kaisar Hadrian. Dan satu bagian adalah sesi saaat Mari Yamazaki melakukan perjalanan napak tilas untuk menggali budaya mandi di Jepang yang konon usianya sudah lebih tua dari usia peradaban Romawi Kuno. Jadi dari premis bahwa Jepang sudah lebih dulu punya budaya mandi daripada orang Romawi Kuno inilah ia membuat serial animasi Thermae Romae Novae.

Ada hal yang membuat saya terkesan dengan keberanian Yamazaki di sini ialah bahwa ia seorang wanita Asia yang mengisahkan cerita dari sudut pandang seorang laki-laki Romawi yang penuh dengan nuansa macho dan maskulin.

Karena di sini temanya mandi, otomatis tidak bisa dihindari adegan di kamar mandi, saat Lucius telanjang bulat. Karena pemandian Romawi Kuno cuma khusus laki-laki, Yamazaki juga otomatis mesti menggambar banyak tubuh pria dari berbagai usia dalam kondisi tanpa benang sehelai pun.

Karena budaya Jepang masih menabukan gambar atau foto penis secara terbuka tanpa sensor, tentu ada beberapa pengaburan alat kelamin pria di adegan-adegan itu. Di satu adegan saat Lucius mandi dengan seorang kakek di kamar mandi pribadinya, di situ alat vital Lucius disensor.

Lucius di sini digambarkan sebagai seorang pria yang memiliki kepercayaan diri penuh sebagai seorang pria dari kebudayaan yang maju. Ia tak malu harus berjalan ke sana kemari dalam kondisi tanpa busana. Dan egonya tertusuk saat ia mengetahui bahwa orang-orang Jepang yang lebih pendek dan pesek justru memiliki peradaban dan kebudayaan mandi yang jauh lebih maju.

Uniknya di sini semua dialog Lucius dalam bahasa Jepang tapi saat berada dengan orang-orang Jepang modern ia gagap dan tak bisa berbahasa Jepang. Mungkin ini demi kemudahan penonton mencerna percakapan saja.

Melalui seri animasi ini, Yamazaki menurut saya menegaskan bahwa budaya mandi Jepang lebih maju dari Romawi lho. Kami sudah lebih baik dan lebih awal memulai, pesannya dalam setiap episode. (*/)

Di setiap pemandian, Lucius diceritakan bisa menembus lorong waktu ke Jepang modern. (Foto: FilmyHype)

%d bloggers like this: