Sekresi Seperempat Mati

Pernah tidak kamu bertanya ke petugas kondektur dan sopir bus transjakarta begini:”Pak/ mbak/ mas, kalau situ mau buang air, solusinya gimana?”

Saya belum pernah bisa mengumpulkan keberanian untuk melontarkan pertanyaan yang terkulum di lidah selama beberapa lama ini.

Pertanyaan ini wajar saja karena selama sejarah saya menaiki bus TJ, tidak pernah saya menemukan seorang petugas yang berdiri membungkuk dan memegang-megang pinggang sambil berteriak histeris:”Brentiiii pirrr, aye mo berakkk/ kencinggg!!!”

Padahal kondisi dalam banyak bus TJ tergolong dalam kategori dingin yang tidak wajar. Pendingin udaranya dengan ganas merambah seluruh bagian tubuh sampai merasuk ke sumsum tulang dan membuat kandung kemih keluberan air seni. Kalau tak terbendung lagi, ambrollah katup-katup pertahanan dan harga diri.

Urusan air seni sering membuat perjalanan menjadi agak kurang nyaman. Pernah suatu ketika saya naik taksi bersama rekan kerja ke sebuah hotel di Jakarta Utara untuk meliput sebuah acara seminar. Perjalanan darat yang cuma belasan kilometer dari kantor itu berujung petaka. Begitu taksi masuk ke jalan Gunung Sahari, lalin berubah super seret bak nasi aking yang ditelan secara paksa di tenggorokan kering. Kejengkelan karena terlambat sampai lokasi acara makin memuncak tatkala air di perut ingin keluar segera. Ditahan, semenit, dua menit. Bisa. Berpura-pura normal, masih bisa. Begitu memasuki menit ke 10, 20, 30, akhirnya pertahanan mulai luruh. Kecemasan karena tak sampai ke lokasi berubah menjadi kecemasan karena tak kunjung menemukan toilet. Tapi karena tidak realistis untuk menemukan toilet yang bisa dimasuki di tengah permukiman dan perkantoran padat, saya terpaksa menurunkan standar sampai ke pepohonan besar atau semak-semak. Di sini, saya merasa amat beruntung terlahir sebagai seorang laki-laki di masyarakat patriarki. Buang air kecil dan besar tak wajib di toilet, apalagi di kondisi darurat. Saya putuskan segera mengumumkan pada rekan kerja saya dan sopir taksi bahwa saya harus memenuhi ‘panggilan alam’dan segera menggunakan hak prerogatif sebagai pria untuk berdiri menghadap pohon dengan risleting celana terbuka. Begitu taksi tersendat dan di samping ada pohon besar, saya bergegas membuka pintu taksi dengan beringas, dan berdiri dengan khusyuk menghadap pohon tadi sembari berdoa agar taksi itu tak begitu cepat melaju menjauh. Menghembuskan napas lega yang panjang, saya segera menutup apa yang harus ditutup lalu membayangkan diri saya sebagai sprinter kaliber dunia Usain Bolt yang melayang dengan kayuhan kedua kaki jenjangnya ke depan mengejar taksi. “Fiuh, masalah sudah teratasi!” Senyum saya ke rekan kerja yang kebetulan perempuan. Saya mendengar dengusan irinya. Saya menatap ke depan. Lega dan jumawa.

Masih soal buang air di tengah perjalanan, saya pikir orang-orang yang bekerja jauh dari kantor mereka di Jakarta dan sekitarnya pasti sedikit banyak tahu rasanya menahan berak atau kencing sampai rasanya ingin memaki-maki seluruh orang di sepanjang jalan. Saya duga orang yang suka memencet klakson dengan gila-gilaan adalah mereka yang tergopoh-gopoh hendak ke rumah untuk melepas hajat.

Untuk mengatasi hal ini, ternyata ada orang yang dengan cerdas merancang sebuah produk yang cukup berfaedah untuk membuang air di tengah perjalanan. Foto produknya ada di atas. Saya sendiri cukup terkejut ada produk seperti itu yang diiklankan secara terang-terangan di situs belanja online di penghujung tahun lalu.

Alatnya sendiri cukup sederhana konsepnya. Tidak ada yang baru. Saya sendiri juga sudah pernah menggunakan botol air mineral untuk menampung air seni. Tapi memang bedanya, yang ini lebih ‘pas’ sehingga risiko tumpah (bayangkan saja) saat buang hajat akan minimal. Sayangnya, lagi-lagi ini pispot yang sepertinya cuma bisa dipakai oleh kaum Adam. Dan tetap saja, Anda mesti memastikan supaya air buangan mengalir sempurna ke dalam botol, bukannya tumpah ke celana. Dan ini sungguh sangat sulit apalagi jika ada di posisi duduk di mobil. Dan yang terpenting, alat ini cuma bisa dipakai saat pemakainya sendirian untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, atau jika ada orang lain di mobil itu, harus meminta izin agar tidak timbul kecanggungan dan ketidaknyamanan dalam hubungan selanjutnya. Menggunakan alat ini tatkala di mobil yang sama-sama ditumpangi pria mungkin bukan kendala. Tinggal buka resleting, cari posisi, alirkan. Lain halnya jika bersama dengan kenalan atau teman wanita. Saya yakin Anda akan mengangguk antusias, mengamini saya.

Saran saya untuk memperbaiki kinerja alat ini ialah dengan membuat botol penampung berdiri tegak lurus, bukan miring seperti yang ada di foto di atas. Karena jika miring, lalu tumpah ke celana, tamat riwayat kita.

Untuk itulah kenapa kaum Hawa sangat perlu untuk tinggal di dekat tempat kerja mereka. Supaya tidak seperti teman saya, yang saban hari bolak-balik ke tempat tinggalnya di pinggiran Jakarta hanya untuk menumpang tidur dan pagi buta kembali ke kantor. Dan sialnya karena jalur kantor dan rumah adalah jalur neraka yang dilewati proyek pembangunan infrastruktur transportasi massal Jakarta, ia pun kerap terjebak macet. Dan seperti jutaan orang yang terjebak macet di Jakarta, ia harus menahan kencing. Dan karena ia perempuan Indonesia yang beradab dan risih buang air di toilet umum (apalagi di semak-semak atau pepohonan pinggir jalan), tentu tak bisa ia sembarang jongkok dan melampiaskan ‘panggilan alam’.  Alhasil, ia divonis dokter terkena radang saluran kemih. Yah, ia menyerah kalah dengan lalu lintas Jakarta dengan menyewa sebuah kamar kos mahal di dekat kantor. Kini ia cuma pulang sepekan sekali atau saat ada keperluan mendesak saja. (*/)

Dia Lagi Belajar. Biarin Aja…

rear view of boy sitting at home

Photo by Pixabay on Pexels.com

Seorang teman pernah mengeluhkan dirinya tidak pernah ingin membaca buku saat sedang naik bus yang sedang bergerak. “Pusing,” katanya.

Mungkin ia benar. Tetapi tidak semua bus bergerak di atas jalanan yang rusak dan berlubang juga kan? Jadi kalau itu adalah bus kota yang sedang bergerak di jalanan ibukota yang mulus dan lebih banyak tersendat daripada melaju lancar, pastinya pengalaman membaca teman saya itu tidak akan sememusingkan yang ia pernah alami.

Sekalipun membaca di kendaraan membuat sedikit pusing, tetapi membaca di kendaraan umum di Jakarta membuat saya lebih bisa mengamankan kursi (tidak cuma anggota DPR, penumpang bus Trans Jakarta pun harus tahu strategi mengamankan tempat duduknya jika tidak mau tersingkir oleh yang lain).

Orang-orang seperti saya di kendaraan umum seperti bus Trans Jakarta memang kerap dimarjinalkan. Bukan karena saya golongan pariah, dekil, atau semacamnya. Namun, karena saya adalah pria bertubuh sehat dan rambut di kepala saya masih hitam legam. Karena saya pria, begitu ada perempuan yang lebih tua dari saya – entah itu terlihat sebaya dengan tante atau ibu atau nenek saya – otomatis ada pandangan menuduh pada saya juga. “Kok tega-teganya duduk saat ada wanita lebih tua berdiri? Dasar anak muda zaman sekarang….”

Salah kan?

Lalu kalau saya duduk, dan ada laki-laki yang tampak lebih tua dari saya, apalagi yang sudah renta dan rambut kepalanya memutih, maka saya seolah ikut menjadi golongan ternista jika tidak menampakkan simpati apalagi sampai pura-pura tertidur pulas di kursi.

Salah lagi kan?

Hal yang sama kalau masuk ke dalam bus, anak-anak yang masih kecil sehingga mereka (dianggap) lebih lemah dan lebih cepat lelah (padahal justru mereka ini tidak mau diam duduk begitu saja berlama-lama).

Satu strategi yang saya baru saja temukan untuk bisa tetap duduk di kendaraan umum yang penuh sesak tanpa harus terlihat jahat dan egois ialah membaca buku. Bukan membaca artikel Line Today di ponsel ya! Baca buku. Kalau perlu yang tebal dan meyakinkan seperti buku teks sekolah.


Taktik ini saya temukan saat dalam sebuah perjalan di bus Trans Jakarta. Karena bawaan saya lumayan berat, saya duduk dan menghela napas serta berdoa agar tiba di tujuan tanpa harus berdiri. Sebab saya habis berolahraga, berdiri sampai tujuan akan membuat saya makin lelah.
Nah, saat itu saya sedang membawa buku sehingga otomatis saya membukanya dan langsung bersandar ke jendela bus. Kadang-kadang saya memang menyengajakan diri untuk tidak menyentuh ponsel apalagi saat hari libur karena berusaha untuk melepas penat mata dari layar elektronik yang melelahkan otot-otot mata. Jadi kalaupun saya mau mengisi waktu dengan membaca, saya ingin memegang buku saja. Bukan e-book di gawai. Seakan ada keasyikan tersendiri dengan membuka lembaran-lembaran kertas dan melihat cetakan alfabet dari tinta hitam di kertas yang agak menguning itu.

Seorang pria baru saja masuk ke dalam bus. Saya tak begitu memperhatikan seperti apa dia. Tapi memang dia tampak lebih tua dari saya.

Sekonyong-konyong kondektur bus menghampiri saya yang sedang terpaku di buku. Saya sedang mencerna kalimat-kalimat rumit yang ada di dalam novel Jonathan Franzen ini. Begitu rumitnya sampai saya perlu mengulangi beberapa kali membaca untuk bisa mematrikan pesannya ke dalam pikiran. Ada beberapa bagian yang mudah dikunyah dan dicerna, seperti sepotong buah matang. Sementara sisanya membuat tenggorokan tercekat dan usus bekerja keras mengurai.

“Mas, bisa berdiri saja? Bapaknya mau duduk,” tegur si kondektur penuh dengan nada simpatik dan peduli untuk si bapak dan sedikit menghardik bagi saya.

Sontak seisi bus mengarahkan pandangan ke saya, seolah saya pelaku kriminal bernama anak millennial yang tidak memiliki nurani karena membiarkan seorang pria yang lebih tua berdiri sementara ia sendiri enak duduk-duduk membaca novel.

Sementara saya gelagapan karena kebingungan antara ingin mendahulukan jawaban atau perbuatan, pria itu malah mengatakan hal yang tak pernah saya duga akan dilontarkannya:”Sudah nggak apa-apa, pak. Dia belajar. Biarin aja…

Jadi, karena saya memegang buku kertas, saya dianggapnya sedang belajar. Apapun buku itu, tampaknya sama saja asumsinya: belajar. Terlintas dalam pikiran saya, apakah ia berkata demikian karena penampilan saya juga yang lebih mirip anak sekolah dari les atau anak kuliah dari rumah teman untuk belajar kelompok untuk mengerjakan makalah?

Dasar saya sudah capek dan tidak ingin berdiri membawa tas punggung yang berat, saya pun meletakkan kembali bokong ini ke kursi. Sedikit bersorak dalam hati, saya akui. Bukan karena saya tidak ingin menolongnya untuk duduk, tetapi karena meskipun pria itu lebih tua, ia masih terlihat sehat, tegap berdiri dan tidak sedang membawa beban berat di tangan dan tubuhnya. Sementara saya baru berolahraga dan lelah dan lapar dan membawa beban di punggung (pakaian kotor dan laptop).

Anyway

Karena ucapan si bapak itu, saya menjadi bertanya dalam hati karena ia sepertinya tidak bisa membedakan kumpulan kertas seukuran apa yang biasanya adalah buku teks pelajaran sekolah dan mana yang ukuran lazim sebuah novel atau karya fiksi.

Tetapi mungkin begitulah kesan jika Anda membawa buku dan membacanya di dalam kendaraan umum. Kemungkinan besar Anda pasti dikira seorang siswa sekolah atau mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri menuju ujian penting. Dosen atau guru? Kecil kemungkinan. Kan mereka sudah mengajar. Pastinya sudah lebih pintar jadi kenapa mesti baca di mana-mana sampai di kendaraan umum juga? Begitu mungkin logika kebanyakan orang.

Membawa dan membaca buku di dalam kendaraan umum memang seharusnya jangan dijadikan kedok untuk mempertahankan tempat duduk. Tetapi setidaknya itulah bonus yang pantas didapatkan para kutu buku yang lelah. (*/)

5 Pelajaran Hidup dari Freddie Mercury di Bohemian Rhapsody

gray metal statue of man raising hand near dock

Photo by bruce mars on Pexels.com

Sebelum menonton film biopic Freddie Mercury ini, saya cuma sepintas lalu mengenal band bernama Queen. Karena genrenya yang kurang familiar plus periode kepopuleran mereka yang jauh sebelum kesadaran musikal saya terbangun, saya terus terang kurang paham siapa saja personel band tersebut, lagu-lagu hitsnya, kehidupan mereka sebagai seniman, musisi dan pribadi.

Tentu saja karena ini jenis film biopic, kendalanya ialah ketimpangan antara film dan ‘kenyataan’ versi para pelakon peran di kehidupan nyata. Ada banyak selentingan bahwa film itu kurang pas menggambarkan Freddie. Ia bukan biang kerok bubarnya Queen karena sebelum ia merintis karier solo, sebelumnya ada juga anggota Queen lain yang sudah melakukan hal serupa. Lalu ada juga yang mengritik film ini karena dianggap melenceng dari sejarah. Untungnya semua itu bukan masalah bagi saya yang bukan penggemar berat Queen.
Tanpa ekspektasi macam-macam sejak awal, saya duduk di bioskop dan cuma mengharap adanya hiburan yang cukup layak untuk mengisi waktu senggang.

Kisah hidup Mercury ini berawal dari dirinya yang masih bekerja serabutan sambil mondar-mandir mencari posisi sebagai penyanyi profesional. Dan di dalam film, saya menemukan banyak pelajaran hidup dari jalan hidup Freddie yang tidak lazim. Berikut di antaranya.

PELAJARAN 1: “Uang tidak bisa membeli kebahagiaan tapi bisa memberikannya.”
Orang kaya yang tidak bahagia memang menyedihkan. Tetapi lebih menyedihkan lagi orang miskin yang tidak bahagia. Saya sepakat dalam hal ini. Uang memang bisa membebaskan manusia dari tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Uang memberikan kita pilihan. Orang kaya dan miskin bisa saja sama-sama jalan kaki tetapi bisa saja karena si orang miskin terpaksa jalan kaki karena tak punya uang. Sementara itu, si orang kaya bisa saja naik mobil tetapi memilih berjalan karena ingin menikmati suasana, berolahraga, atau menikmati udara segar. Motifnya sudah lain sama sekali. Yang satu karena tidak ada pilihan, yang lain karena sengaja memilih. Yang satu merasa terpaksa dan berat hati, yang lain merasa rela dan senang.

PELAJARAN 2: “Saat saya mati, saya ingin diingat sebagai musisi yang punya nilai dan substansi.”
Freddie tidak berkarya hanya karena ia ingin keuntungan finansial atau ketenaran. Ia menggubah lagu agar lagu itu bisa diingat sepanjang masa. Melewati generasinya sendiri jika bisa. Dan itu terbukti.
Idealisme Freddie juga ditunjukkan dengan karakter keras kepalanya saat berhadapan dengan seorang produser musik kenamaan yang tak memahami keunikan Bohemian Rhapsody. Jadi, walaupun usianya tak bisa dikatakan panjang, hidup Freddie lumayan bermakna karena idealisme, nilai dan substansi tadi.

PELAJARAN 3: “Saya selalu tahu saya seorang bintang dan sekarang semua orang sepakat dengan itu.”
Meski sering dipanggil pemuda ‘Paki” (karena ia anak imigran Pakistan), Freddie mengetahui panggilan jiwanya dari muda, yakni menjadi penampil yang berkualitas. Ia menolak anjuran ayahnya untuk hidup selayaknya pemuda lain seumurannya yang kuliah, mengantongi gelar dan merintis karier yang bagus dan membanggakan hingga pensiun usia tua nanti. Freddie yakin ia tak dilahirkan untuk menjalani kehidupan semacam itu. Bukan berarti kehidupan berkarier semacam yang banyak dari kita jalani itu lebih buruk tetapi ia hanya yakin bahwa ia memiliki pilihan yang lebih sesuai dengan jiwanya. Dan ia tidak cuma meminta profesi idamanya itu datang kepadanya. Ia berusaha keras untuk itu.

PELAJARAN 4: “Saya hanya seorang pelacur musik.”
Di balik glamornya profesi seniman dan musisi yang ia lakoni, Freddie tahu dirinya tetap manusia biasa. Yang membuatnya luar biasa adalah optimisme dan semangatnya dalam berkarya secara maksimal dalam rentang waktu hidupnya yang relatif pendek tetapi bernas. Kehidupan sebagai rock star juga tidak membuatnya berubah kepribadian. Ia tetap tahu esensi pekerjaannya: pengamen. Ia menyanyi dan tampil untuk menyenangkan orang. Dan ia melakukan tiap pekerjaannya dengan tingkat keseriusan yang tinggi.

PELAJARAN 5: “Perbuatan yang baik, perkataan yang baik, pemikiran yang baik”
Filosofi ini didengungkan oleh ayah Freddie yang datang ke Inggris sebagai seorang kepala keluarga imigran. Sebagai seorang ayah, ia berharap Freddie bisa membanggakan dirinya dengan mengikuti jalur yang diterima oleh masyarakat kebanyakan. Tetapi Freddie bukanlah pribadi yang biasa sehingga ia tidak sanggup mengungkung dirinya dalam kehendak sang ayah dan tuntutan masyarakat. Untungnya Freddie memiliki seorang ibu yang mendukung apapun yang dilakukan anaknya. Adegan tentang Freddie yang menuju ke rumahnya untuk ‘sowan” ke orang tuanya sebelum tampil di panggung konser amal Live Aid cukup mengharukan karena di situ, Freddie akhirnya menyaksikan ayahnya luluh dan mengakui bahwa pencapaian anaknya di dunia musik memang membawa kebaikan bagi banyak orang. Freddie, seburuk apapun ia di mata diri ayahnya, memiliki dedikasi yang tidak terkira pada dunia musik dan ia menggunakan popularitasnya untuk membantu orang lain yang dekat dengannya dan bahkan yang jauh darinya seperti orang-orang di Afrika yang rentan terjangkit AIDS.

The Returning (Sebuah Ulasan Penuh Kesan)

Karena bukan jenis orang yang suka berkali-kali menonton satu film yang sama (sebagus apapun itu), akhirnya saya memutuskan menonton sebuah film yang meskipun judulnya dalam bahasa Inggris ternyata diproduksi para pelaku sineas Indonesia.

Bintang yang saya langsung kenali sudah pasti ialah Laura Basuki. Sementara itu, muka lawan mainnya yang pria kurang saya ketahui. Mungkin karena wawasan film Indonesia saya kurang banyak. Jujur, ini kali pertama saya menonton film horor produksi Indonesia setelah sekian lama. Lagi-lagi karena di jam pemutaran yang sama, saya tidak mau menonton Bohemian Rhapsody (biopic Freddie Mercury) lagi apalagi menonton film remake The Nutcracker yang klasik dan plotnya sudah tertebak. Saya berharap setidak film Indonesia ini bisa menawarkan sebuah plot yang terpilin dengan aneh dan tanpa dugaan.

Apakah film ini berhasil memenuhi ekspektasi saya tentang film dengan plot twist yang menarik?

Baca terus saja ulasan suka-suka ini.

Jadi begini ceritanya kalau saya bisa mampatkan jadi satu alinea: seorang ibu dengan dua anak mengalami tragedi dalam kehidupan rumah tangganya yang harmonis. Tak disangka-sangka sang suami yang hobi bertualang mengalami kecelakaan dan tak ditemukan jasadnya. Istri yang setia itu pun syok. Hingga 3 bulan pasca menghilangnya sang suami, ia tak bisa menerima kenyataan bahwa ia itu sudah menjanda. Janda cerai mati, tepatnya. Meski jenazah suaminya belum ditemukan, tetap saja harapan itu tipis. Anaknya yang pertama mencoba mengingatkan bahwa ayahnya sudah tiada dan ibunya mulai harus melanjutkan hidup dengan menatap masa depan. Teman dekatnya juga mengatakan hal yang sama, bahwa ia harus berhenti berharap. Dan saat ia merasakan masih adanya kehadiran sang suami, justru ia disarankan menemui psikiater karena dianggap berhalusinasi dan mengalami depresi. Semua itu ditambah dengan tekanan dari ibu mertua yang meski terlihat perhatian tetapi tidak pernah menganggapnya becus mengurus anak. Kemudian entah bagaimana suami yang sudah hilang itu mengetuk pintu rumah. Tanpa ada luka dan cedera, pria itu mengisi kembali kekosongan dalam keluarga kecilnya. Semua berbahagia. Hanya saja ada satu yang mengganjal: sang suami bukan orang yang sama. Entah kenapa ada keanehan-keanehan yang menampakkan bahwa si suami ini ada sisi gelap yang tak tersembunyi. Ia ditampilkan terlihat makan berbutir-butir apel di tengah malam. Anak-anak mereka diteror sosok kelelawar raksasa yang mirip monster di pepohonan depan rumah. Istri dan anak-anak terus bergelut dengan kejutan-kejutan yang menunjukkan keanehan-keanehan dalam diri suami dan ayah ini. Kecurigaan pun muncul: apakah ia masih orang yang sama atau bukan? Ternyata memang keanehan itu bukan tanpa alasan. Pelan-pelan suaminya menemukan sebuah altar pemujaan dengan patung manusia kelelawar. Karena tak tahu altar itu milik siapa, ia mengkonfrontasi istrinya. Mengakulah sang istri bahwa di tengah kegundahan dan kerinduannya pada sang suami, ia membuat kesepakatan dengan makhluk berkekuatan gelap. Wujudnya mirip kelelawar. Seorang pria tua ternyata secara tak diundang memberikannya kitab untuk meneken perjanjian dengan siluman kelelawar agar suaminya bisa kembali. Dan sang istri, dengan penuh semangat, melakukan hal itu agar suaminya lekas kembali, agar dapat kembali hidup bersamanya dan membimbing anak-anak mereka dan menghadapi ibu mertua yang meremehkan kerja kerasnya. Singkat cerita, sang suami dan istri bersatu padu menghadapi siluman kelelawar yang menuntut tumbal. Sang istri secara licik sudah mengajukan sang ibu mertua sebagai tumbal tapi karena kalung yang dijadikan mahar itu ternyata dihadiahkan kembali ke cucunya, akhirnya diceritakan agar sang anak selamat, si istri sekaligus ibunya merebut kalung itu dan merelakan dirinya direngkuh sang siluman kelelawar ke alamnya (yang diibaratkan berada dalam tungku pemanggang tembikar). Akhirnya, sang suami tetap hidup bersama dua anaknya.

Ekspektasi saya terpenuhi. Plotnya cukup tak terduga. Saya pikir suaminya yang jelmaan setan atau manusia jadi-jadian tetapi saya salah besar. Wajar saja, karena penulis skenario dan sutradaranya mengarahkan sedemikian rupa agar ia tampak aneh, dan bukan lagi dirinya. Saya terkecoh. Apalagi di sini ditampakkan sang istri yang digambarkan sebagai karakter yang baik, kuat, tabah, dan setia. Tetapi siapa sangka ia bisa bersekutu dengan siluman demi sesuatu yang dicintainya? Dalam hal ini, saya angkat topi untuk penulis skenarionya.

Hanya saja, ada sejumlah kejanggalan logika di situ. Pertama, sang suami dikisahkan mengalami kecelakaan tapi bagaimana ia bisa kembali dengan kondisi sehat walafiat tanpa lecet sedikit pun? Tentu kritik ini bisa ditangkis dengan jawaban bahwa ia sudah diselamatkan siluman itu dari maut. Tapi kalau untuk saya, itu jawaban yang tak logis dan terlalu instan.

Kemudian bagaimana bisa pria tua pembawa kitab itu tahu bahwa si istri ini baru kehilangan suami dan begitu ingin sekali suaminya kembali ke rumah? Janggal bukan?

Kejanggalan lain ialah akting si ibu mertua alias ibu kandung si suami. Ekspresinya saat bertemu anaknya kembali setelah berbulan-bulan tak bertemu sungguh tidak wajar. Kurang ‘dapat’, istilahnya. Jangankan berbulan-bulan tak bertemu setelah anaknya dinyatakan hilang dalam kecelakaan tragis, seorang ibu tak bertemu anaknya sehari saja sudah rindu dan terus menangis. Dan menyaksikan ibu mertua ini menyuruh sang istri menerima ‘kenyataan’ bahwa suaminya sudah mati karena berbulan-bulan tak muncul itu juga aneh bin ajaib. Bagaimana bisa seorang ibu mengatakan hal itu? Kalau ada yang seharusnya paling tidak bisa menerima dugaan kematian sang anak justru itu ialah ibu kandung. Saya curiga ini bukan ibu kandung si suami. Tetapi sang penulis skenario tampaknya tak ingin mengulik lebih dalam soal ibu mertua itu jadi asumsi ini mengambang saja jadinya.

Soal efek visual, saya juga harus katakan sudah lumayan halus. Adegan-adegan saat siluman keleawar itu muncul, cukup meyakinkan. Adegan klimaks pamungkas saat si istri direnggut secara paksa oleh siluman kelelawar itu untuk diboyong sebagai tumbal juga relatif bagus dan meyakinkan.

Terlepas dari semua itu, saya harus mengapresiasi kerja keras insan perfilman kita yang sudah melakukan yang terbaik. Akting Laura Basuki, misalnya, terbilang ciamik. Ia mampu memerankan sosok istri yang begitu setianya pada suami dan mendedikasikan diri pada keutuhan keluarganya meskipun itu artinya mengorbankan perasaan bahkan nyawanya sendiri.

Tiga bintang dari 5 yang tersedia untuk film bergenre horor ini. (*/)

Dari “Gemar Film Pendek #10” Kineforum

8adbfe_40d582c73e964a6bb5f122af5da6298cmv2Kalau ingin film yang sekadar menghibur, kita bisa banyak temukan di luar sana. Namun, jika ingin menonton film yang lebih menggugah dan mengilhami kita, tontonlah film-film yang tidak ditayangkan di bioskop arus utama (mainstream). Begitu kira-kira pesan yang saya tangkap setelah menonton serangkaian film pendek di KineForum siang ini. Film-film yang saya tonton ini merupakan bagian dari “Candu Daya” yang berlangsung dari 5-7 dan 12-14 Oktober 2018 di KineForum, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Menonton film-film pendek ini bagi saya mirip dengan membaca cerpen. Tak panjang tetapi sarat makna dan sering memaksa para penontonnya untuk berpikir keras menebak pesan di baliknya. Karena akhir film kadang bukan akhir dari cerita itu sendiri tetapi seolah dipaksa berhenti karena kungkungan durasi. Ending yang menggantung ini cocok bagi tipe penonton yang menyukai stimulasi intelektual dalam menikmati sebuah karya seni. Bukan cuma duduk lalu disuguhi tontonan yang sudah berpola jelas, polarisasi protagonis VS antagonis yang baku, dan akhir cerita yang tertebak dengan amat mudah bahkan oleh anak TK zaman sekarang. Saya bukannya hendak menghakimi tipe penonton box office movies, tetapi produk budaya populer kadang membuat kita berpikiran sama dan berselera serupa. Di sini, film-film indie menyuguhkan ide dan konsep alternatif sebagai upaya mempertahankan keragaman ideologi dalam budaya kontemporer.

Berikut sekilas ulasan saya mengenai tiga film pendek yang saya baru saja saksikan dengan khidmat di bioskop film alternatif ini untuk pertama kalinya. Saya bukan penggemar film yang maniak jadi maklumi jika ulasan saya bersifat apa adanya dan abal-abal.

SIMBIOSIS (2015)

8adbfe_9350c6da7cf44ad8979cb7e4cd0118a1mv2

Film pertama ini berdurasi cuma 15 menit, terpendek dari dua film lain. Sutradaranya Wiranata Tanjaya. Simbiosis dibuat bukan untuk diikutsertakan dalam festival tetapi untuk memenuhi persyaratan akademis kelulusan (tugas akhir) sang sutradara dan timnya di Universitas Multimedia Nusantara. Langkah yang kreatif dan bagus untuk membuat karya akademis  menurut saya. Mirip seperti menerbitkan buku dari skripsi.

Film ini alurnya linier saja sebagaimana film-film pendek kebanyakan. Dikisahkan dua orang anak laki-laki kakak beradik mencari harta karun. Latar waktunya sangat tidak zaman digital, ditandai dengan radio analog portabel yang dibawa sang adik. Sebenarnya ini agak tidak masuk akal juga karena radio portabel bukan benda yang lazim dibawa ke mana-mana oleh seorang anak kecil. Plus, satu lagi ketidakmasukakalan lain yang saya temui di sini ialah tenda biru yang menaungi kaka adik ini saat malam hari di hutan. Saya tidak melihat mereka membawa tas besar atau apapun yang besar dan berbobot berat selayaknya sebuah tas yang berisi tenda. Ini kejanggalan yang harus dibereskan dari segi logika.

Kejanggalan berikutnya ialah peti besar harta karun yang berat bisa dibawa oleh sang adik hingga begitu jauh sampai sang kakak tidak bisa menemukannya dengan mudah. Untuk seorang anak SD yang masih berbadan mungil dan sudah berhari-hari tidak diberi makan oleh kakaknya yang egois (kakaknya di tengah perjalanan merampas berbotol-botol susu dari seorang pria dan susu itu ia simpan hanya untuk dirinya). Sepanjang film juga tak tampak adegan adik makan sesuatu sehingga logikanya ia tidak akan bisa bertahan selama berhari-hari di alam terbuka. Tapi ini kenapa ia bisa sekonyong-konyong membawa sebuah peti besar dan berat dari kayu yang kokoh (begitu kokohnya sampai kakaknya saja kesulitan membuka)? Saya agak terusik soal ini.

Namun, dari sudut pandang lain seperti pelajaran moral dari kisah kakak adik ini, saya bisa temukan satu isyarat bermakna dari percakapan penyiar radio dan sang bintang tamu yang diceritakan sudah bekerja dengan gaji tinggi di luar negeri tetapi memilih pulang ke Indonesia karena keluarga. Alasannya karena waktu untuk berkumpul dengan orang-orang tercinta tidak bisa dibeli dengan uang. Toh ia masih bisa bekerja di tanah air. Mangan ora mangan asal kumpul, begitu filosofi orang Jawa (yang juga makin luntur sekarang sebab makin banyak orang Jawa berdiaspora). Family comes first. Dan di sini, sang adik memegang teguh pemahaman tersebut (tecermin dari perkataannya soal ibu di rumah) yang kemudian disergah kakaknya yang tak mau pulang dan menganggap tempat itu adalah kebebasan. Pulang bukanlah pilihan bagi sang kakak yang terkesan egois tetapi memiliki pemikiran liberal dan jauh ke depan. Sebetulnya pergulatan ini sangat lazim ditemui di masyarakat modern Indonesia. Di sebuah keluarga pastilah ada anggota keluarga yang merantau atau merasa harus mengembangkan diri di luar zona nyaman di sekitar tempat tinggal mereka. Di sisi lain, ada juga anggota keluarga yang memilih setia di tempat kelahiran dan bagaimanapun juga sangat ingin mendarmabaktikan dirinya pada tempat asalnya. Masing-masing memiliki alasannya sendiri. Sang kakak mungkin terkesan jahat dan egois tetapi bisa jadi ia memiliki alasannya sendiri yang tidak kita tahu dari apa yang dipaparkan sutradara dalam film ini. Si adik juga belum tentu kasihan atau benar, karena ia malah mencelakakan sang kakak dengan membawa kompas itu dan mencari jalan pulang sendirian (dari awal si adik ini cukup pintar dengan meninggalkan jejak berupa topi, dasi, agar bisa pulang meski peta harta karun itu rusak terbelah dua). Ia tidak berpikir panjang bahwa diperlukan kekuatan besar untuk bisa mengarungi perairan yang memisahkan mereka dan tempat adanya harta karun itu. Jika ia saja sudah mengeluh kelelahan saat mendayung bersama kakaknya, bagaimana ia bisa sampai dengan selamat dengan hanya mengayuh sendirian di atas perahu yang tidak memiliki motor? Inilah argumen saya kenapa si adik juga tidak sepenuhnya benar. Ia memiliki sisi egoisnya sendiri juga, dan itu justru mencelakakan diri dan keluarganya yang terdekat saat itu: kakaknya.

THE FOX EXPLOITS THE TIGER’S MIGHT (2015)

8adbfe_ab7f51edbf7447d5b37939f9e5196737mv2

Lucky Kuswadi membuat film ini berdasarkan pengalamannya sebagai seorang keturunan Tionghoa di Indonesia. Film 24 menit ini berlatar belakang pertemanan dua orang anak laki-laki usia SMP bernama David dan Aseng. David ini saya duga anak pribumi dan ia anak keluarga TNI. Ayah David punya ajudan dan ajudannya ini seorang pria muda yang gagah dan tampan (diperankan Surya Saputra) dan rupanya memanfaatkan kegantengannya untuk merayu dan memeras ibu Aseng yang hidup sendirian tanpa suami. Ibunya ini meski usianya sudah jauh di atas si ajudan tetapi juga agak menyambut baik kasih sayang dari si ajudan yang mata duitan itu karena ia tak terlihat keberatan saat dipeluk dan dipuji memiliki kulit halus bak perawan oleh si ajudan. Padahal usianya sudah paruh baya dan badannya tak begitu terawat karena sibuk mengurusi toko kelontongnya yang laris manis. Uangnya banyak tetapi ia kesepian. Jadi ia menukar uang yang ia miliki itu dengan sejumput kasih sayang dari si ajudan yang kadang berkunjung sekadar untuk mengantar David menemui Aseng temannya di sekolah. Dugaan lainnya ialah sang ajudan ini memeras ibu Aseng karena ajudan itu tahu ibu Aseng menjual minuman Red Tiger yang ilegal.

Film ini bagi saya termasuk agak metaforis juga karena mungkin takut dengan sensor. Ini bisa dilihat dari penggunaan pistol (baik gesture tangan dan pistol betulan) sebagai pengganti phallus alias penis yang identik dengan kekuasaan dan patrarki yang menguasai dunia. Nuansa patriarkis juga kental dengan adegan anggota TNI yang digembleng dalam latihan fisik, wara wiri bertelanjang dada dalam sesi lari bersama atau push up dan sit up yang membuat mereka berpeluh parah. Sebuah keputusan sutradara yang relatif bijak, mengingat masyarakat Indonesia yang masih sensitif dengan isu kelamin seiring dengan menguatnya pengaruh kaum garis keras.

Bagi saya, film ini sebagai pengingat bahwa kekuasaan hanyalah sebuah dinamika, tarik ulur kekuatan dan pengaruh dari berbagai pihak sehingga bisa saja berubah susunannya kapan saja. Di film ini, mayoritas yang dominan (diwakili David) ternyata bisa dibalas oleh si minoritas submisif (diwakili Aseng). David yang seenaknya mengejek atau menekan si minoritas submisif (diwakili Aseng) akhirnya dipaksa untuk melayani Aseng secara seksual. David awalnya marah karena saat keduanya berfantasi seks bersama soal Erva Arnaz (sehingga bisa dikatakan mereka bukan anak SMP zaman sekarang), justru Aseng memfantasikan dirinya bisa menyetubuhi David juga. Tetapi ini bukan karena Aseng gay atau homoseksual, menurut saya, tetapi karena semata ia sangat geram hingga ke ubun-ubun dan ingin membalas segala dominasi David dalam kehidupannya bahkan keluarganya. Aseng yang marah mengambil pistol ayah David di rumahnya dan memaksa David untuk melakukan apapun yang Aseng inginkan termasuk membuka mulutnya dan memaksa David memuaskan hasratnya. Cuma di film Anda tidak akan menyaksikan Aseng berdiri membuka celana sembari David berlutut melakukan oral seks pada temannya yang menodongkan pistol ke arahnya. Tetapi seperti yang saya katakan tadi, si sutradara mengambil jalan tengah untuk menaruh pistol sebagai perlambang bagi phallus yang berkuasa daripada benar-benar menggunakan adegan oral seks yang berisiko membuat film menjadi kontroversial dan justru dipermasalahkan tidak berdasarkan esensi di dalamnya tapi semata-mata karena mengandung pornografi.

JOKO (2017)

8adbfe_cdf4bf7175a443949f616bf7bfa4c8b5mv2

Film ini ialah debut aktivis film Suryo Wiyogo sebagai sutradara yang juga produser film baik pendek dan panjang. Ia bahkan sempat terlibat dalam banyak produksi film dengan sutradara tersohor Indonesia semacam Hanung Bramantyo. Karena banyak berkecimpung di Yogyakarta, ia banyak bersentuhan dengan budaya lokal. Kali ini dia membahas tema yang cukup kompleks: kuasa pria atas wanita dan sesama pria. Ia juga beruntung bisa mendapuk aktor lokal berpengalaman dari Yogya sendiri sehingga kualitas karyanya terbilang baik.

Di film ini, aktor utamanya yang memerankan sebagai juragan penambangan pasir ilegal ini cukup meyakinkan sebagai seorang pria berorientasi seksual nyeleneh. Indri yang menjadi pembantu administrasi bisnis toko bahan bangunannya juga sudah tahu bahwa bosnya itu suka menggauli anak-anak laki-laki di bawah umur tetapi tampak memaklumi dan bahkan tidak berusaha menunjukkan rasa jijik atau keberatan membantu sang bos memuaskan nafsunya. Justru wanita ini yang menyarankan bosnya untuk segera merayu pemuda tanggung putus sekolah bernama Joko yang dianggapnya menarik untuk digarap sebagai korban berikutnya.

Di akhir kisah, bos toko bangunan itu tampak ingin menghabisi seorang pekerja penambangan pasir yang membuat kisruh. Bisa jadi ia adalah pekerja yang nasibnya mirip Joko, seorang pria muda yang polos dan dieksploitasi secara seksual kemudian tidak bisa menerimanya dan berupaya menggunakan dalih lain untuk menghancurkan bisnis tersebut. Kenapa? Karena di masyarakat Indonesia, tidak bakal ada yang percaya kalau laki-laki bisa diperkosa. Saat seorang laki-laki merasa dieksploitasi secara seksual oleh pihak lain dengan paksaan, tidak akan ada penegak hukum yang percaya dan aturan kita juga tidak bisa secara setimpal memberikan balasannya. Alih-alih mendapatkan keadilan, seorang pria korban kekerasan seksual justru akan memendamnya (karena masyarakat patriarkis kita juga tak pernah memberikan cara bagaimana merespon pelecehan dan penindasan seksual pada laki-laki karena secara alami semua laki-laki dianggap kebal dari tindakan ekspolitatif semacam itu). Karena itu, pria yang menjadi korban akan mencari pelampiasan lainnya agar bisa mendapatkan keadilan yang tidak bisa disediakan oleh hukum yang berlaku. Jadi meskipun sesama laki-laki, seseorang bisa ditindas secara seksual oleh sesamanya jika ada ketimpangan kekuasaan yang jauh dari kedua pihak. Dalam hal ini, bos itu lebih unggul dalam hal pengalaman dan ekonomi dari Joko yang hanya berusia 15 tahun dan menjadi pekerja kasar.

Yang patut disesalkan sehabis pemutaran film pendek ini, saya tidak bisa berdiskusi secara langsung dengan para sutradara atau penulis skenario ketiga film. Kebetulan mereka berhalangan hadir dengan berbagai alasan. Diskusi hanya dipandu oleh perwakilan dari Boemboe.org yang menjadi pihak yang memungkinkan pemutaran film ini dilakukan. Sesi ini membedakannya dari pemutaran film box office, selain harga tiketnya yang cuma Rp30.000 dan pemutaran film yang berdurasi hanya sekitar 60 menit. (*/foto-foto diambil dari Kineforum.org)

 

 

Faedah Sumpah Serapah

man wearing silver skull ring

Memaki-maki ternyata memiliki manfaat. (sumber foto: Pexels.com)

TIDAK ada yang lebih memuaskan daripada saat kita jengkel lalu bisa menemukan kebebasan untuk sekadar memuntahkan kekesalan dalam bentuk verbal. Ada yang selera makiannya bentuk eksplisit. Ada juga yang implisit. Ada yang suka dengan makian dari bahasa daerahnya karena lebih susah dipahami orang di luar sukunya. Ada pula yang memilih memaki dalam bahasa asing supaya lagi-lagi tak bisa dipahami orang lain sehingga bisa lebih leluasa baginya dalam melampiaskan uneg-uneg.

Ya, sumpah serapah memang terkesan barbar, tidak sopan, dan bahkan bisa membuat kita kehilangan pekerjaan [apalagi jika Anda memaki-maki di media sosial]. Tetapi jangan terlalu memusuhi makian juga karena ternyata sumpah serapah memiliki faedahnya tersendiri kalau kita mau telisik secara ilmiah.

swearbook

Emma Byrne, penulis buku “Swearing Is Good for You: The Amazing Science of Bad Language“, mengklaim bahwa menggunakan bahasa kasar dalam percakapan atau interaksi sosial dengan tepat justru bisa memberikan kita kredibilitas dan membantu membangkitkan rasa kepercayaan dan pertemanan di antara orang-orang dalam sebuah grup yang menghabiskan banyak waktu bersama.

“In some cases, she conludes, peppering our language with dirty words can actually give us credibility and establish a sense of camaraderie.” [sumber: Smithsonianmag.com]

Byrne adalah peneliti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang tinggal di London, Inggris. Ia sangat tertarik dengan bidang penelitian linguistik terutama sumpah serapah dan menelitinya dengan lebih mendalam dengan berfokus pada alasan mengapa manusia begitu suka memaki dan bagaimana bersumpah serapah membantu manusia dalam mencapai efek retorik.

Temuan Byrne yang menarik dan dipublikasikan di bukunya ini ialah bahwa makian jika ditambahkan secara proporsional dan terencana bisa memberikan efek yang positif dalam membangun kredibilitas atau reputasi seseorang saat berbicara di depan publik. Di bawah ini adalah simpulan dari penelitiannya yang melibatkan sejumlah subjek yang berstatus mahasiswa yang menonton video 2 pembicara: yang satu berbicara dengan makian (damn) dan yang lainnya benar-benar bersih dari kata-kata kotor. Tema paparan yang disampaikan kedua pembicara adalah isu tuntutan penurunan uang kuliah.

“What’s more, the students who saw the videos with the swearing were significantly more in favor of lowering tuition fees after seeing the video than the students who didn’t hear the swear word.” [sumber: Smithsonianmag.com]

Pembicara yang memaki dianggap lebih kredibel dalam merealisasikan harapan sebab ia mampu menunjukkan intensitas melalui paparannya. Sementara itu, pembicara yang sopan dan halus tanpa memaki dianggap kurang intens sehingga kurang kredibel dalam mencapai janji yang ia berikan.

Hanya saja, untuk mendapatkan kredibilitas itu seseorang tidak bisa seenaknya memaki. Terlalu sering memaki di saat yang kurang pas justru malah memberikan efek negatif.  Di sinilah Byrne menekankan pentingnya proportional swearing. Memakilah secara proporsional, nasihatnya. Bedanya memaki sembarangan dari memaki secara proporsional ialah seseorang memaki secara sengaja dan terencana. Bukan memaki karena tanda kejujuran.

“As with rehearsed gestures and well-orchestrated photo opportunities, swearing can be used instrumentally to give an impression of passion or authenticity.” [sumber: Smithsonianmag.com]

Namun demikian, apa enaknya memaki yang diatur dan direncana, bukan? Bukankah enaknya makin terletak pada spontanitasnya? Mungkin begitu pikir Anda.

Rekomendasi Byrne untuk menggunakan proportional swearing tentu berlaku untuk para politisi atau pembicara publik yang ingin menyita perhatian publik terutama jelang tahun politik ini. Tetapi untuk kita yang bukan bekerja di ranah semacam itu, proportional swearing bukanlah saran yang tepat.

Di sebuah lingkungan kerja, jika Anda menemukan ada orang yang tak malu memaki dalam percakapan untuk mengungkapkan rasa frustrasi terhadap masalah tertentu yang dihadapi bersama justru memberikan efek kedekatan dan menciptakan pertemanan dan solidaritas, sebagaimana yang disinggung Byrne sebagai “a sense of camaraderie”. Dan ini bukanlah makian yang proporsional juga karena lebih spontan.

Sudahkah Anda bersumpah serapah hari ini? (*/)

Supaya Tak Kedinginan di Perkantoran Jakarta [Bukan Advertorial/ Lomba Blog]

408111_sub3SEBAGAI seorang ectomorph sejati (baca: kurus abadi), saya merasa tidak pernah bermasalah dengan suhu ruangan tempat saya bekerja sebagai pengajar meskipun ruangan tersebut dipasangi pendingin udara (AC). Itu karena sebelumnya pola kerja saya masih penuh gerak. Saya banyak berdiri dan berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain dalam sehari. Jadi, setidaknya tubuh tidak mendingin karena suhu rendah dan kurang gerak.

Namun, begitu saya bekerja sebagai penulis di Jakarta, selalu saja saya merasa kurang enak badan karena pola kerja yang sedentari, alias duduk diam saja sepanjang 8 jam sehari. Itu minimal ya. Kalau lembur, malah bisa melebihi porsi 8 jam. Dan jumlah itu belum memasukkan waktu saya duduk di saat istirahat dan naik kendaraan umum. Intinya, memang sangat susah untuk bisa tetap aktif bergerak dengan pekerjaan sebagai penulis yang mengharuskan saya duduk di kursi secara terus-menerus. Awalnya saya tentu membayangkan bisa bekerja dengan lebih sehat dengan memasang meja kerja berdiri tetapi pilihan semacam itu belum lazim di Jakarta. Bahkan segila-gilanya working space atau kantor startup di Indonesia, setahu saya belum ada yang menawarkan itu. Tetapi kalau memang ada, saya juga ingin tahu sampai seberapa jauh para pekerja korporat dan startup di Indonesia mau mengakomodasi pergeseran gaya kerja agar lebih sehat.

Kembali ke masalah gangguan kesehatan akibat suhu rendah di perkantoran Jakarta, saya akibatnya kerap mengalami masalah begitu bekerja di gedung-gedung perkantoran ibukota. Meriang dan linu di sendi, begitu penjelasan singkat dan mudahnya untuk menerangkan apa yang saya rasakan sehabis keluar dari ‘kulkas raksasa’ (sebutan untuk pencakar langit dengan AC yang menusuk tiada ampun).

Awalnya saya pikir saya saja yang mengalami. Saya duga cuma saya yang ‘ndeso’ karena tidak kuat menghadapi AC yang terkendali secara sentral di banyak gedung di Jakarta. Saya tak normal dan karena itu saya malu untuk mengakui saya kedinginan saban masuk ke mall atau kantor. Karena saya melihat banyak orang lain di sekitar saya yang berbusana normal (dengan ketebalan wajar), saya beranikan untuk hanya memakai kaos dalam yang lebih tebal. Namun, ada kalanya kaos dalam tebal tak mempan dalam menghalau hawa dingin tersebut. Dan tangan saya terpapar hawa dingin dan tak sanggup berlama-lama mengetik dengan tingkat akurasi yang stabil. Akhirnya saya buang gengsi dan memakai jaket atau pakaian penghangat lain sepanjang bekerja. Apalagi begitu saya menemukan sejumlah rekan kerja yang merasakan keluhan yang sama soal temperatur ruangan.

Karena putus asa dan lelah mengalami keluhan yang sama berulang kali saban hari kerja (dan juga saat naik kendaraan umum seperti bus Trans Jakarta), saya putuskan mencari pakaian yang lebih efektif menangkal hawa dingin AC. Ini solusi yang paling masuk akal bagi saya karena di tempat kerja yang suhunya dingin secara artifisial.

Saya suka dengan produk Uniqlo HEATTECH karena tipis tapi efeknya lumayan menghangatkan tubuh di ruangan dingin. Begitu beli, saya langsung coba dan memang fit di badan [karena ukuran tubuh kecil jadi beli saja yang ukuran anak-anak paling besar] dan nyaman bak kulit kedua. Efek menghangatkannya terasa apalagi saat saya duduk di luar ruangan bersuhu normal (cuaca mendung). Badan saya terasa hangat sekali, tak terasa ada angin memasuki pori-pori tubuh, sehingga efektif menahan panas tubuh agar tak lepas begitu saja. Jadi, kalau dipakai di luar ruangan saat cuacanya hangat di Jakarta pastinya akan terasa sesak dan sumpek dan gerah. Tapi kalaupun tak dilepas dan berkeringat, keringatnya akan lekas kering sebab bahannya bersifat cepat kering. Cocoklah buat saya daripada harus lepas dan pakai jaket berulangkali.

Sebagai informasi, saya menulis pengalaman ini dan memilih produk Uniqlo karena kebetulan tinggal dekat di sebuah gerai Uniqlo sehingga sangat masuk akal jika saya lebih memilih produk ini untuk menghangatkan diri.

Urusan harga, pakaian ini memang lumayan mahal sih. Untuk kaos panjang, harganya dipatok 200.000 kurang 1.000. Sementara itu, leggingnya malah lebih murah 70.000. Pilihan warnanya kalau tak mau repot mencuci, pilih saja warna gelap seperti hitam atau biru. Ada juga warna merah dan putih tapi saya kurang sukai. Ingat, ini ukuran XL untuk anak (unisex). Saya duga harganya yang ukuran dewasa lebih mahal tapi ternyata tidak juga. Harganya sama!

Kalau kamu juga pekerja di gedung perkantoran Jakarta dan sering mengeluh kedinginan, bagaimana caramu mengatasinya? Bagikan ceritamu juga dong di kolom komentar di bawah.

Ketidaktelitian Indosat Oreedo, Kejengkelan Pelanggan

Jepretan Layar 2018-06-25 pada 15.54.32.png

SUDAH sembilan tahun saya menjadi pelanggan operator yang dikenal dahulu sebagai IM3 ini. Saya bukan tipe pelanggan seluler yang gemar berganti nomor atau memiliki nomor lebih dari satu. Sehingga saat ada kebijakan pendaftaran dan pembatasan nomor seluler saya juga tidak keberatan.

Beberapa hal yang saya perhatikan dari pelayanan operator yang sekarang dikenal sebagai Indosat Oreedo ini ialah pelayanannya yang kerap dikeluhkan. Satu yang saya juga ingin sampaikan di sini ialah bagaimana ketidaktelitian operator itu (yang mungkin tak sengaja) membuat saya dan seorang teman saya (dan mungkin banyak orang lain yang belum bersuara tapi melewatkannya karena berpikir “ya sudahlah, cukup tahu aja”) jengkel benar karena kami diperlakukan seperti keledai.

Apa pasal?

Begini ceritanya. Seperti yang Anda bisa baca di tangkapan layar di atas, saya ingin memperpanjang paket internet saya dengan mengakses aplikasi MyIM3 di perangkat. Lalu saya pilih sebuah paket dan pesan pendek untuk konfirmasi pembelian pun terkirim.

“Balas OK jika setuju, BATAL jika tdk setuju” begitu tulis operator.

Karena saya setuju, saya pun balas dengan ketikkan OK.

Tapi pembelian gagal. Untungnya pulsa saya utuh. Kalau sudah hilang, mungkin saya akan tambah berang lagi. Untuk ini, saya akui Indosat Oreedo patut diapresiasi. Pulsa saya juga akhir-akhir ini (sejak saya komplain via Twitter dengan menyebut @indosatcare) selamat dari pemotongan yang tak jelas alasannya (untuk itu ada kode pendek tertentu yang harus diketikkan untuk men-unsubscribe apapun itu dari nomor pelanggan, yang sayangnya tidak banyak orang tahu).

Percobaan ini saya lakukan berkali-kali dari tengah malam sampai siang karena saya takut pulsa saya akan tersedot untuk konsumsi data per kb (operator ini juga terkenal membuat pulsa pelanggan raib tanpa alasan jelas dan saya pernah jadi korban juga).

Dari puluhan kali seperti orang idiot mengirim balasan OK itu, saya akhirnya berhenti dan menyimpulkan ada gangguan di jaringan atau faktor lain.

Lalu saya entah kenapa iseng saja saat santai membalas pesan pendek tadi dengan “YA”, bukan “OK” seperti yang dituliskan.

Langsung ada SMS balasan tanda pembelian paket itu berhasil.

Saya ungkapkan itu di Instagram dan seorang teman juga mengatakan hal yang sama terjadi padanya. Instruksi itu terkesan membodohi pelanggan yang ingin membeli.

Sungguh saya tidak habis pikir, bagaimana bisa operator sendiri tidak seteliti ini memberikan instruksi pembelian paket?!! Saya bingung harus merasa geli, jengkel, atau bersumpah serapah saja.

Entah apakah tulisan ini terbaca oleh pihak operator atau tidak, saya simpulkan kualitas layanan Indosat Oreedo dalam hal pemberian instruksi sesimpel ini saat ini MENGECEWAKAN. Titik.

Apakah dengan ini saya akan pindah operator?

Kecil kemungkinan akan demikian karena saya sudah malas berganti nomor sebab operator lain juga pasti ada kelemahannya sendiri yang saya belum tahu. Plus, semua famili dan relasi tahunya nomor ini saja.

Jadi, mohon Indosat Oreedo peliharalah kami existing customers yang masih setia ini. Jangan permainkan kami dengan instruksi yang meski terlihat remeh tapi sangat penting begini. (*/)