Category Archives: miscellaneous

Dari “Gemar Film Pendek #10” Kineforum

8adbfe_40d582c73e964a6bb5f122af5da6298cmv2Kalau ingin film yang sekadar menghibur, kita bisa banyak temukan di luar sana. Namun, jika ingin menonton film yang lebih menggugah dan mengilhami kita, tontonlah film-film yang tidak ditayangkan di bioskop arus utama (mainstream). Begitu kira-kira pesan yang saya tangkap setelah menonton serangkaian film pendek di KineForum siang ini. Film-film yang saya tonton ini merupakan bagian dari “Candu Daya” yang berlangsung dari 5-7 dan 12-14 Oktober 2018 di KineForum, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Menonton film-film pendek ini bagi saya mirip dengan membaca cerpen. Tak panjang tetapi sarat makna dan sering memaksa para penontonnya untuk berpikir keras menebak pesan di baliknya. Karena akhir film kadang bukan akhir dari cerita itu sendiri tetapi seolah dipaksa berhenti karena kungkungan durasi. Ending yang menggantung ini cocok bagi tipe penonton yang menyukai stimulasi intelektual dalam menikmati sebuah karya seni. Bukan cuma duduk lalu disuguhi tontonan yang sudah berpola jelas, polarisasi protagonis VS antagonis yang baku, dan akhir cerita yang tertebak dengan amat mudah bahkan oleh anak TK zaman sekarang. Saya bukannya hendak menghakimi tipe penonton box office movies, tetapi produk budaya populer kadang membuat kita berpikiran sama dan berselera serupa. Di sini, film-film indie menyuguhkan ide dan konsep alternatif sebagai upaya mempertahankan keragaman ideologi dalam budaya kontemporer.

Berikut sekilas ulasan saya mengenai tiga film pendek yang saya baru saja saksikan dengan khidmat di bioskop film alternatif ini untuk pertama kalinya. Saya bukan penggemar film yang maniak jadi maklumi jika ulasan saya bersifat apa adanya dan abal-abal.

SIMBIOSIS (2015)

8adbfe_9350c6da7cf44ad8979cb7e4cd0118a1mv2

Film pertama ini berdurasi cuma 15 menit, terpendek dari dua film lain. Sutradaranya Wiranata Tanjaya. Simbiosis dibuat bukan untuk diikutsertakan dalam festival tetapi untuk memenuhi persyaratan akademis kelulusan (tugas akhir) sang sutradara dan timnya di Universitas Multimedia Nusantara. Langkah yang kreatif dan bagus untuk membuat karya akademis  menurut saya. Mirip seperti menerbitkan buku dari skripsi.

Film ini alurnya linier saja sebagaimana film-film pendek kebanyakan. Dikisahkan dua orang anak laki-laki kakak beradik mencari harta karun. Latar waktunya sangat tidak zaman digital, ditandai dengan radio analog portabel yang dibawa sang adik. Sebenarnya ini agak tidak masuk akal juga karena radio portabel bukan benda yang lazim dibawa ke mana-mana oleh seorang anak kecil. Plus, satu lagi ketidakmasukakalan lain yang saya temui di sini ialah tenda biru yang menaungi kaka adik ini saat malam hari di hutan. Saya tidak melihat mereka membawa tas besar atau apapun yang besar dan berbobot berat selayaknya sebuah tas yang berisi tenda. Ini kejanggalan yang harus dibereskan dari segi logika.

Kejanggalan berikutnya ialah peti besar harta karun yang berat bisa dibawa oleh sang adik hingga begitu jauh sampai sang kakak tidak bisa menemukannya dengan mudah. Untuk seorang anak SD yang masih berbadan mungil dan sudah berhari-hari tidak diberi makan oleh kakaknya yang egois (kakaknya di tengah perjalanan merampas berbotol-botol susu dari seorang pria dan susu itu ia simpan hanya untuk dirinya). Sepanjang film juga tak tampak adegan adik makan sesuatu sehingga logikanya ia tidak akan bisa bertahan selama berhari-hari di alam terbuka. Tapi ini kenapa ia bisa sekonyong-konyong membawa sebuah peti besar dan berat dari kayu yang kokoh (begitu kokohnya sampai kakaknya saja kesulitan membuka)? Saya agak terusik soal ini.

Namun, dari sudut pandang lain seperti pelajaran moral dari kisah kakak adik ini, saya bisa temukan satu isyarat bermakna dari percakapan penyiar radio dan sang bintang tamu yang diceritakan sudah bekerja dengan gaji tinggi di luar negeri tetapi memilih pulang ke Indonesia karena keluarga. Alasannya karena waktu untuk berkumpul dengan orang-orang tercinta tidak bisa dibeli dengan uang. Toh ia masih bisa bekerja di tanah air. Mangan ora mangan asal kumpul, begitu filosofi orang Jawa (yang juga makin luntur sekarang sebab makin banyak orang Jawa berdiaspora). Family comes first. Dan di sini, sang adik memegang teguh pemahaman tersebut (tecermin dari perkataannya soal ibu di rumah) yang kemudian disergah kakaknya yang tak mau pulang dan menganggap tempat itu adalah kebebasan. Pulang bukanlah pilihan bagi sang kakak yang terkesan egois tetapi memiliki pemikiran liberal dan jauh ke depan. Sebetulnya pergulatan ini sangat lazim ditemui di masyarakat modern Indonesia. Di sebuah keluarga pastilah ada anggota keluarga yang merantau atau merasa harus mengembangkan diri di luar zona nyaman di sekitar tempat tinggal mereka. Di sisi lain, ada juga anggota keluarga yang memilih setia di tempat kelahiran dan bagaimanapun juga sangat ingin mendarmabaktikan dirinya pada tempat asalnya. Masing-masing memiliki alasannya sendiri. Sang kakak mungkin terkesan jahat dan egois tetapi bisa jadi ia memiliki alasannya sendiri yang tidak kita tahu dari apa yang dipaparkan sutradara dalam film ini. Si adik juga belum tentu kasihan atau benar, karena ia malah mencelakakan sang kakak dengan membawa kompas itu dan mencari jalan pulang sendirian (dari awal si adik ini cukup pintar dengan meninggalkan jejak berupa topi, dasi, agar bisa pulang meski peta harta karun itu rusak terbelah dua). Ia tidak berpikir panjang bahwa diperlukan kekuatan besar untuk bisa mengarungi perairan yang memisahkan mereka dan tempat adanya harta karun itu. Jika ia saja sudah mengeluh kelelahan saat mendayung bersama kakaknya, bagaimana ia bisa sampai dengan selamat dengan hanya mengayuh sendirian di atas perahu yang tidak memiliki motor? Inilah argumen saya kenapa si adik juga tidak sepenuhnya benar. Ia memiliki sisi egoisnya sendiri juga, dan itu justru mencelakakan diri dan keluarganya yang terdekat saat itu: kakaknya.

THE FOX EXPLOITS THE TIGER’S MIGHT (2015)

8adbfe_ab7f51edbf7447d5b37939f9e5196737mv2

Lucky Kuswadi membuat film ini berdasarkan pengalamannya sebagai seorang keturunan Tionghoa di Indonesia. Film 24 menit ini berlatar belakang pertemanan dua orang anak laki-laki usia SMP bernama David dan Aseng. David ini saya duga anak pribumi dan ia anak keluarga TNI. Ayah David punya ajudan dan ajudannya ini seorang pria muda yang gagah dan tampan (diperankan Surya Saputra) dan rupanya memanfaatkan kegantengannya untuk merayu dan memeras ibu Aseng yang hidup sendirian tanpa suami. Ibunya ini meski usianya sudah jauh di atas si ajudan tetapi juga agak menyambut baik kasih sayang dari si ajudan yang mata duitan itu karena ia tak terlihat keberatan saat dipeluk dan dipuji memiliki kulit halus bak perawan oleh si ajudan. Padahal usianya sudah paruh baya dan badannya tak begitu terawat karena sibuk mengurusi toko kelontongnya yang laris manis. Uangnya banyak tetapi ia kesepian. Jadi ia menukar uang yang ia miliki itu dengan sejumput kasih sayang dari si ajudan yang kadang berkunjung sekadar untuk mengantar David menemui Aseng temannya di sekolah. Dugaan lainnya ialah sang ajudan ini memeras ibu Aseng karena ajudan itu tahu ibu Aseng menjual minuman Red Tiger yang ilegal.

Film ini bagi saya termasuk agak metaforis juga karena mungkin takut dengan sensor. Ini bisa dilihat dari penggunaan pistol (baik gesture tangan dan pistol betulan) sebagai pengganti phallus alias penis yang identik dengan kekuasaan dan patrarki yang menguasai dunia. Nuansa patriarkis juga kental dengan adegan anggota TNI yang digembleng dalam latihan fisik, wara wiri bertelanjang dada dalam sesi lari bersama atau push up dan sit up yang membuat mereka berpeluh parah. Sebuah keputusan sutradara yang relatif bijak, mengingat masyarakat Indonesia yang masih sensitif dengan isu kelamin seiring dengan menguatnya pengaruh kaum garis keras.

Bagi saya, film ini sebagai pengingat bahwa kekuasaan hanyalah sebuah dinamika, tarik ulur kekuatan dan pengaruh dari berbagai pihak sehingga bisa saja berubah susunannya kapan saja. Di film ini, mayoritas yang dominan (diwakili David) ternyata bisa dibalas oleh si minoritas submisif (diwakili Aseng). David yang seenaknya mengejek atau menekan si minoritas submisif (diwakili Aseng) akhirnya dipaksa untuk melayani Aseng secara seksual. David awalnya marah karena saat keduanya berfantasi seks bersama soal Erva Arnaz (sehingga bisa dikatakan mereka bukan anak SMP zaman sekarang), justru Aseng memfantasikan dirinya bisa menyetubuhi David juga. Tetapi ini bukan karena Aseng gay atau homoseksual, menurut saya, tetapi karena semata ia sangat geram hingga ke ubun-ubun dan ingin membalas segala dominasi David dalam kehidupannya bahkan keluarganya. Aseng yang marah mengambil pistol ayah David di rumahnya dan memaksa David untuk melakukan apapun yang Aseng inginkan termasuk membuka mulutnya dan memaksa David memuaskan hasratnya. Cuma di film Anda tidak akan menyaksikan Aseng berdiri membuka celana sembari David berlutut melakukan oral seks pada temannya yang menodongkan pistol ke arahnya. Tetapi seperti yang saya katakan tadi, si sutradara mengambil jalan tengah untuk menaruh pistol sebagai perlambang bagi phallus yang berkuasa daripada benar-benar menggunakan adegan oral seks yang berisiko membuat film menjadi kontroversial dan justru dipermasalahkan tidak berdasarkan esensi di dalamnya tapi semata-mata karena mengandung pornografi.

JOKO (2017)

8adbfe_cdf4bf7175a443949f616bf7bfa4c8b5mv2

Film ini ialah debut aktivis film Suryo Wiyogo sebagai sutradara yang juga produser film baik pendek dan panjang. Ia bahkan sempat terlibat dalam banyak produksi film dengan sutradara tersohor Indonesia semacam Hanung Bramantyo. Karena banyak berkecimpung di Yogyakarta, ia banyak bersentuhan dengan budaya lokal. Kali ini dia membahas tema yang cukup kompleks: kuasa pria atas wanita dan sesama pria. Ia juga beruntung bisa mendapuk aktor lokal berpengalaman dari Yogya sendiri sehingga kualitas karyanya terbilang baik.

Di film ini, aktor utamanya yang memerankan sebagai juragan penambangan pasir ilegal ini cukup meyakinkan sebagai seorang pria berorientasi seksual nyeleneh. Indri yang menjadi pembantu administrasi bisnis toko bahan bangunannya juga sudah tahu bahwa bosnya itu suka menggauli anak-anak laki-laki di bawah umur tetapi tampak memaklumi dan bahkan tidak berusaha menunjukkan rasa jijik atau keberatan membantu sang bos memuaskan nafsunya. Justru wanita ini yang menyarankan bosnya untuk segera merayu pemuda tanggung putus sekolah bernama Joko yang dianggapnya menarik untuk digarap sebagai korban berikutnya.

Di akhir kisah, bos toko bangunan itu tampak ingin menghabisi seorang pekerja penambangan pasir yang membuat kisruh. Bisa jadi ia adalah pekerja yang nasibnya mirip Joko, seorang pria muda yang polos dan dieksploitasi secara seksual kemudian tidak bisa menerimanya dan berupaya menggunakan dalih lain untuk menghancurkan bisnis tersebut. Kenapa? Karena di masyarakat Indonesia, tidak bakal ada yang percaya kalau laki-laki bisa diperkosa. Saat seorang laki-laki merasa dieksploitasi secara seksual oleh pihak lain dengan paksaan, tidak akan ada penegak hukum yang percaya dan aturan kita juga tidak bisa secara setimpal memberikan balasannya. Alih-alih mendapatkan keadilan, seorang pria korban kekerasan seksual justru akan memendamnya (karena masyarakat patriarkis kita juga tak pernah memberikan cara bagaimana merespon pelecehan dan penindasan seksual pada laki-laki karena secara alami semua laki-laki dianggap kebal dari tindakan ekspolitatif semacam itu). Karena itu, pria yang menjadi korban akan mencari pelampiasan lainnya agar bisa mendapatkan keadilan yang tidak bisa disediakan oleh hukum yang berlaku. Jadi meskipun sesama laki-laki, seseorang bisa ditindas secara seksual oleh sesamanya jika ada ketimpangan kekuasaan yang jauh dari kedua pihak. Dalam hal ini, bos itu lebih unggul dalam hal pengalaman dan ekonomi dari Joko yang hanya berusia 15 tahun dan menjadi pekerja kasar.

Yang patut disesalkan sehabis pemutaran film pendek ini, saya tidak bisa berdiskusi secara langsung dengan para sutradara atau penulis skenario ketiga film. Kebetulan mereka berhalangan hadir dengan berbagai alasan. Diskusi hanya dipandu oleh perwakilan dari Boemboe.org yang menjadi pihak yang memungkinkan pemutaran film ini dilakukan. Sesi ini membedakannya dari pemutaran film box office, selain harga tiketnya yang cuma Rp30.000 dan pemutaran film yang berdurasi hanya sekitar 60 menit. (*/foto-foto diambil dari Kineforum.org)

 

 

Faedah Sumpah Serapah

man wearing silver skull ring

Memaki-maki ternyata memiliki manfaat. (sumber foto: Pexels.com)

TIDAK ada yang lebih memuaskan daripada saat kita jengkel lalu bisa menemukan kebebasan untuk sekadar memuntahkan kekesalan dalam bentuk verbal. Ada yang selera makiannya bentuk eksplisit. Ada juga yang implisit. Ada yang suka dengan makian dari bahasa daerahnya karena lebih susah dipahami orang di luar sukunya. Ada pula yang memilih memaki dalam bahasa asing supaya lagi-lagi tak bisa dipahami orang lain sehingga bisa lebih leluasa baginya dalam melampiaskan uneg-uneg.

Ya, sumpah serapah memang terkesan barbar, tidak sopan, dan bahkan bisa membuat kita kehilangan pekerjaan [apalagi jika Anda memaki-maki di media sosial]. Tetapi jangan terlalu memusuhi makian juga karena ternyata sumpah serapah memiliki faedahnya tersendiri kalau kita mau telisik secara ilmiah.

swearbook

Emma Byrne, penulis buku “Swearing Is Good for You: The Amazing Science of Bad Language“, mengklaim bahwa menggunakan bahasa kasar dalam percakapan atau interaksi sosial dengan tepat justru bisa memberikan kita kredibilitas dan membantu membangkitkan rasa kepercayaan dan pertemanan di antara orang-orang dalam sebuah grup yang menghabiskan banyak waktu bersama.

“In some cases, she conludes, peppering our language with dirty words can actually give us credibility and establish a sense of camaraderie.” [sumber: Smithsonianmag.com]

Byrne adalah peneliti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang tinggal di London, Inggris. Ia sangat tertarik dengan bidang penelitian linguistik terutama sumpah serapah dan menelitinya dengan lebih mendalam dengan berfokus pada alasan mengapa manusia begitu suka memaki dan bagaimana bersumpah serapah membantu manusia dalam mencapai efek retorik.

Temuan Byrne yang menarik dan dipublikasikan di bukunya ini ialah bahwa makian jika ditambahkan secara proporsional dan terencana bisa memberikan efek yang positif dalam membangun kredibilitas atau reputasi seseorang saat berbicara di depan publik. Di bawah ini adalah simpulan dari penelitiannya yang melibatkan sejumlah subjek yang berstatus mahasiswa yang menonton video 2 pembicara: yang satu berbicara dengan makian (damn) dan yang lainnya benar-benar bersih dari kata-kata kotor. Tema paparan yang disampaikan kedua pembicara adalah isu tuntutan penurunan uang kuliah.

“What’s more, the students who saw the videos with the swearing were significantly more in favor of lowering tuition fees after seeing the video than the students who didn’t hear the swear word.” [sumber: Smithsonianmag.com]

Pembicara yang memaki dianggap lebih kredibel dalam merealisasikan harapan sebab ia mampu menunjukkan intensitas melalui paparannya. Sementara itu, pembicara yang sopan dan halus tanpa memaki dianggap kurang intens sehingga kurang kredibel dalam mencapai janji yang ia berikan.

Hanya saja, untuk mendapatkan kredibilitas itu seseorang tidak bisa seenaknya memaki. Terlalu sering memaki di saat yang kurang pas justru malah memberikan efek negatif.  Di sinilah Byrne menekankan pentingnya proportional swearing. Memakilah secara proporsional, nasihatnya. Bedanya memaki sembarangan dari memaki secara proporsional ialah seseorang memaki secara sengaja dan terencana. Bukan memaki karena tanda kejujuran.

“As with rehearsed gestures and well-orchestrated photo opportunities, swearing can be used instrumentally to give an impression of passion or authenticity.” [sumber: Smithsonianmag.com]

Namun demikian, apa enaknya memaki yang diatur dan direncana, bukan? Bukankah enaknya makin terletak pada spontanitasnya? Mungkin begitu pikir Anda.

Rekomendasi Byrne untuk menggunakan proportional swearing tentu berlaku untuk para politisi atau pembicara publik yang ingin menyita perhatian publik terutama jelang tahun politik ini. Tetapi untuk kita yang bukan bekerja di ranah semacam itu, proportional swearing bukanlah saran yang tepat.

Di sebuah lingkungan kerja, jika Anda menemukan ada orang yang tak malu memaki dalam percakapan untuk mengungkapkan rasa frustrasi terhadap masalah tertentu yang dihadapi bersama justru memberikan efek kedekatan dan menciptakan pertemanan dan solidaritas, sebagaimana yang disinggung Byrne sebagai “a sense of camaraderie”. Dan ini bukanlah makian yang proporsional juga karena lebih spontan.

Sudahkah Anda bersumpah serapah hari ini? (*/)

Supaya Tak Kedinginan di Perkantoran Jakarta [Bukan Advertorial/ Lomba Blog]

408111_sub3SEBAGAI seorang ectomorph sejati (baca: kurus abadi), saya merasa tidak pernah bermasalah dengan suhu ruangan tempat saya bekerja sebagai pengajar meskipun ruangan tersebut dipasangi pendingin udara (AC). Itu karena sebelumnya pola kerja saya masih penuh gerak. Saya banyak berdiri dan berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain dalam sehari. Jadi, setidaknya tubuh tidak mendingin karena suhu rendah dan kurang gerak.

Namun, begitu saya bekerja sebagai penulis di Jakarta, selalu saja saya merasa kurang enak badan karena pola kerja yang sedentari, alias duduk diam saja sepanjang 8 jam sehari. Itu minimal ya. Kalau lembur, malah bisa melebihi porsi 8 jam. Dan jumlah itu belum memasukkan waktu saya duduk di saat istirahat dan naik kendaraan umum. Intinya, memang sangat susah untuk bisa tetap aktif bergerak dengan pekerjaan sebagai penulis yang mengharuskan saya duduk di kursi secara terus-menerus. Awalnya saya tentu membayangkan bisa bekerja dengan lebih sehat dengan memasang meja kerja berdiri tetapi pilihan semacam itu belum lazim di Jakarta. Bahkan segila-gilanya working space atau kantor startup di Indonesia, setahu saya belum ada yang menawarkan itu. Tetapi kalau memang ada, saya juga ingin tahu sampai seberapa jauh para pekerja korporat dan startup di Indonesia mau mengakomodasi pergeseran gaya kerja agar lebih sehat.

Kembali ke masalah gangguan kesehatan akibat suhu rendah di perkantoran Jakarta, saya akibatnya kerap mengalami masalah begitu bekerja di gedung-gedung perkantoran ibukota. Meriang dan linu di sendi, begitu penjelasan singkat dan mudahnya untuk menerangkan apa yang saya rasakan sehabis keluar dari ‘kulkas raksasa’ (sebutan untuk pencakar langit dengan AC yang menusuk tiada ampun).

Awalnya saya pikir saya saja yang mengalami. Saya duga cuma saya yang ‘ndeso’ karena tidak kuat menghadapi AC yang terkendali secara sentral di banyak gedung di Jakarta. Saya tak normal dan karena itu saya malu untuk mengakui saya kedinginan saban masuk ke mall atau kantor. Karena saya melihat banyak orang lain di sekitar saya yang berbusana normal (dengan ketebalan wajar), saya beranikan untuk hanya memakai kaos dalam yang lebih tebal. Namun, ada kalanya kaos dalam tebal tak mempan dalam menghalau hawa dingin tersebut. Dan tangan saya terpapar hawa dingin dan tak sanggup berlama-lama mengetik dengan tingkat akurasi yang stabil. Akhirnya saya buang gengsi dan memakai jaket atau pakaian penghangat lain sepanjang bekerja. Apalagi begitu saya menemukan sejumlah rekan kerja yang merasakan keluhan yang sama soal temperatur ruangan.

Karena putus asa dan lelah mengalami keluhan yang sama berulang kali saban hari kerja (dan juga saat naik kendaraan umum seperti bus Trans Jakarta), saya putuskan mencari pakaian yang lebih efektif menangkal hawa dingin AC. Ini solusi yang paling masuk akal bagi saya karena di tempat kerja yang suhunya dingin secara artifisial.

Saya suka dengan produk Uniqlo HEATTECH karena tipis tapi efeknya lumayan menghangatkan tubuh di ruangan dingin. Begitu beli, saya langsung coba dan memang fit di badan [karena ukuran tubuh kecil jadi beli saja yang ukuran anak-anak paling besar] dan nyaman bak kulit kedua. Efek menghangatkannya terasa apalagi saat saya duduk di luar ruangan bersuhu normal (cuaca mendung). Badan saya terasa hangat sekali, tak terasa ada angin memasuki pori-pori tubuh, sehingga efektif menahan panas tubuh agar tak lepas begitu saja. Jadi, kalau dipakai di luar ruangan saat cuacanya hangat di Jakarta pastinya akan terasa sesak dan sumpek dan gerah. Tapi kalaupun tak dilepas dan berkeringat, keringatnya akan lekas kering sebab bahannya bersifat cepat kering. Cocoklah buat saya daripada harus lepas dan pakai jaket berulangkali.

Sebagai informasi, saya menulis pengalaman ini dan memilih produk Uniqlo karena kebetulan tinggal dekat di sebuah gerai Uniqlo sehingga sangat masuk akal jika saya lebih memilih produk ini untuk menghangatkan diri.

Urusan harga, pakaian ini memang lumayan mahal sih. Untuk kaos panjang, harganya dipatok 200.000 kurang 1.000. Sementara itu, leggingnya malah lebih murah 70.000. Pilihan warnanya kalau tak mau repot mencuci, pilih saja warna gelap seperti hitam atau biru. Ada juga warna merah dan putih tapi saya kurang sukai. Ingat, ini ukuran XL untuk anak (unisex). Saya duga harganya yang ukuran dewasa lebih mahal tapi ternyata tidak juga. Harganya sama!

Kalau kamu juga pekerja di gedung perkantoran Jakarta dan sering mengeluh kedinginan, bagaimana caramu mengatasinya? Bagikan ceritamu juga dong di kolom komentar di bawah.

Ketidaktelitian Indosat Oreedo, Kejengkelan Pelanggan

Jepretan Layar 2018-06-25 pada 15.54.32.png

SUDAH sembilan tahun saya menjadi pelanggan operator yang dikenal dahulu sebagai IM3 ini. Saya bukan tipe pelanggan seluler yang gemar berganti nomor atau memiliki nomor lebih dari satu. Sehingga saat ada kebijakan pendaftaran dan pembatasan nomor seluler saya juga tidak keberatan.

Beberapa hal yang saya perhatikan dari pelayanan operator yang sekarang dikenal sebagai Indosat Oreedo ini ialah pelayanannya yang kerap dikeluhkan. Satu yang saya juga ingin sampaikan di sini ialah bagaimana ketidaktelitian operator itu (yang mungkin tak sengaja) membuat saya dan seorang teman saya (dan mungkin banyak orang lain yang belum bersuara tapi melewatkannya karena berpikir “ya sudahlah, cukup tahu aja”) jengkel benar karena kami diperlakukan seperti keledai.

Apa pasal?

Begini ceritanya. Seperti yang Anda bisa baca di tangkapan layar di atas, saya ingin memperpanjang paket internet saya dengan mengakses aplikasi MyIM3 di perangkat. Lalu saya pilih sebuah paket dan pesan pendek untuk konfirmasi pembelian pun terkirim.

“Balas OK jika setuju, BATAL jika tdk setuju” begitu tulis operator.

Karena saya setuju, saya pun balas dengan ketikkan OK.

Tapi pembelian gagal. Untungnya pulsa saya utuh. Kalau sudah hilang, mungkin saya akan tambah berang lagi. Untuk ini, saya akui Indosat Oreedo patut diapresiasi. Pulsa saya juga akhir-akhir ini (sejak saya komplain via Twitter dengan menyebut @indosatcare) selamat dari pemotongan yang tak jelas alasannya (untuk itu ada kode pendek tertentu yang harus diketikkan untuk men-unsubscribe apapun itu dari nomor pelanggan, yang sayangnya tidak banyak orang tahu).

Percobaan ini saya lakukan berkali-kali dari tengah malam sampai siang karena saya takut pulsa saya akan tersedot untuk konsumsi data per kb (operator ini juga terkenal membuat pulsa pelanggan raib tanpa alasan jelas dan saya pernah jadi korban juga).

Dari puluhan kali seperti orang idiot mengirim balasan OK itu, saya akhirnya berhenti dan menyimpulkan ada gangguan di jaringan atau faktor lain.

Lalu saya entah kenapa iseng saja saat santai membalas pesan pendek tadi dengan “YA”, bukan “OK” seperti yang dituliskan.

Langsung ada SMS balasan tanda pembelian paket itu berhasil.

Saya ungkapkan itu di Instagram dan seorang teman juga mengatakan hal yang sama terjadi padanya. Instruksi itu terkesan membodohi pelanggan yang ingin membeli.

Sungguh saya tidak habis pikir, bagaimana bisa operator sendiri tidak seteliti ini memberikan instruksi pembelian paket?!! Saya bingung harus merasa geli, jengkel, atau bersumpah serapah saja.

Entah apakah tulisan ini terbaca oleh pihak operator atau tidak, saya simpulkan kualitas layanan Indosat Oreedo dalam hal pemberian instruksi sesimpel ini saat ini MENGECEWAKAN. Titik.

Apakah dengan ini saya akan pindah operator?

Kecil kemungkinan akan demikian karena saya sudah malas berganti nomor sebab operator lain juga pasti ada kelemahannya sendiri yang saya belum tahu. Plus, semua famili dan relasi tahunya nomor ini saja.

Jadi, mohon Indosat Oreedo peliharalah kami existing customers yang masih setia ini. Jangan permainkan kami dengan instruksi yang meski terlihat remeh tapi sangat penting begini. (*/)

Pijat Nikmat Tanpa Maksiat yang Terlaknat

tractionmassage

Mau pijat nikmat tanpa maksiat? Syaratnya: Jangan pakai cawat saja. [Sumber foto: Wikimedia Commons]

SAYA sebagai konsumen jasa pijat. Tukang pijat ini, sebaliknya, sebagai produsen jasa pijat. Meskipun berada di dua pihak yang terlihat berkebalikan, bersama-sama kami memiliki keluhan pada dunia pijat memijat via aplikasi daring yang makin banyak digunakan sekarang.

Sembari menikmati pijatannya yang mantap di punggung dan bahu saya yang ‘remuk’ setelah sukses mencapai 50 kali pull up, 50 kali dips, 30 kali handstand pushups dan 30 kali chin up dalam latihan gymnastics sorenya, saya luncurkan keluhan saya mengenai kelakuan seorang oknum rekannya yang tanpa saya minta memberikan saya servis ‘pijat vitalitas’, yang seharusnya membuat saya berang tapi ternyata serba salah karena saya pikir itu mungkin jenis pijat yang saya tak ketahui pernah ada. Tapi setelah beberapa saat kemudian saya pikir, di aplikasinya saja tidak tertera jenis servis semacam itu, kenapa saya harus memakluminya? Kali ini saya seolah hendak meminta persetujuan darinya. Sekadar memverifikasi dugaan saya bahwa hal itu memang tidak bisa dibenarkan dalam koridor penyediaan jasa pijat yang sah dan etis.

Benar juga firasat saya.

“Bapak bisa laporkan itu. Dilarang banget sama [isi dengan nama aplikasi penyedia jasa pijat masa kini keluaran lokal],” jawab tukang pijat saya ini secara spontan. “Nanti biar bisa dikasih penalti, pak.” Bahkan bisa langsung diputus kemitraan karena bisa dianggap mencemarkan reputasi pihak penyedia layanan pijat panggilan itu.

Ah, saya terkesiap. Berarti saya harus laporkan si tukang pijat laknat ke customer service layanan itu segera, batin saya.

“Takutnya seperti saya, pak. Dapet yang ‘aneh-aneh’,” cerocosnya tanpa saya minta.

ANEH-ANEH???

Ia langsung merinci lagi:”Saya… maaf ini ya pak. Saya menghindari banget area Setiabudi sini.”

Saya terkejut. Saya sudah tinggal di sini selama delapan tahun dan kenapa ia bergidik saban dapat panggilan konsumen pijat dari kecamatan yang konon namanya didapat dari nama pahlawan nasional Indo Belanda, Douwes Dekker, itu?

Saya tanyakan bagaimana etika memijat bagi seorang masseuse, dan ia jawab,”Itu [baca: memijat sampai ke area selakangan dan pribadi] terlarang banget. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.”

Masalah muncul begitu ada satu pihak yang tidak menginginkan hal itu. Baik di sisi pemijat dan yang dipijat. Kami sama-sama korban juga.

Dari sisi yang dipijat, saya merasa sudah diisengi gara-gara oknum tukang pijat itu memberikan jenis ‘pijatan’ yang bahkan tidak terlintas di pikiran saya dan memang tidak saya minta baik secara implisit maupun eksplisit.

Dari sisi yang memijat, tukang pijat ini mengaku kerepotan menolak permintaan yang aneh-aneh dari konsumen pria yang ‘mencurigakan’. Kebanyakan konsumen nakal semacam ini, akunya, tinggal di Setiabudi. Makanya, saat ia tahu alamat saya ternyata bukan di Kampung Melayu [saya kebetulan salah memasukkan alamat] dan baru tahu bahwa saya tinggal di Setiabudi, saya duga ia mengalami syok yang sama. “Ah, sialan. Jangan jangan pelanggan nakal lagi,” batinnya.

Pihak penyelenggara jasa juga sebenarnya susah untuk menyaring orang-orang dengan kelakuan cabul seperti oknum itu. “Paling ketahuannya pas sudah ada customer yang lapor,” kata tukang pijat saya sambil terus menggilasi punggung saya yang tipis mirip papan cucian.

Tukang pijat saya mengadu begini soal kelakuan oknum-oknum pelanggan yang nakal:”Kalau sudah di paha itu ada yang rese. Minta dikocokin lah, segala macem…”

Suatu kali ia pernah dipanggil konsumen di area Setiabudi. Tempatnya bagus. Apartemen mewah pokoknya. Bersih dan rapi. Tapi pikiran si penghuni tak seresik itu juga.

“Saya kan pas pijat pakai baju berkancing seperti yang di foto aplikasi. Nah, pas itu saya sampai hampir bertengkar dengan dia karena baju saya ditarik dan kancing-kancing lepas semua,” ungkapnya jujur. Saya lihat dia memang tak lagi bekerja dengan pakaian model itu, Kaos jadi pilihan yang lebih aman dari tarikan.

Karena panik, tukang pijat aplikasi ini sampai mengancam untuk memanggil “satgas”. Mungkin yang ia maksud adalah petugas sekuriti di apartemen yang bersangkutan itu. Pasti ia akan malu karena ketahuan berbuat tak senonoh. Dengan sesama pria lagi! Duh!

“Bukan saya memvonis ya, pak. Maaf-maaf kata nih. Orderan yang saya ambil di daerah Setiabudi itu rata-rata hampir semuanya minta [baca: jasa pijat maksiat],” ucapnya lemah, seakan menandaskan bahwa dirinya juga sama-sama korban seperti saya.

Modus operandi si konsumen pijat nakal ini biasanya adalah mengamati dulu foto-foto tukang pijat. “Biasanya kalau fotonya kurang cakep, langsung dia cancel.”

Saya sendiri sebelum mendapatkan tukang pijat satu ini saja malah di-cancel oleh tukang pijat lainnya. “Terlalu jauh pak. Saya di Cempaka Putih,” alasan si tukang pijat itu. Apakah ia juga meneliti foto saya di aplikasi? Tunggu, saya tak pernah merasa memasukkan foto di aplikasi itu. Jadi musykil ia membatalkan sebab rupa atau kesan pertama.

Akun-akun konsumen nakal yang sering batalkan pesanan tanpa sebab yang ‘jelas’ itu bisa dicekal oleh pihak penyelenggara jasa aplikasi pijat panggilan ini.

“Masih bujang atau homo kali dia, pak. Kalau seperti saya yang pijat buat cari nafkah untuk anak istri sudah beda pasti cara kerjanya.”

Ia sendiri pernah memiliki langganan seorang pria yang begitu dermawan. “Kalau dia ngasih duit cuma untuk pijat dua jam itu nggak dihitung lagi duitnya. Pertama dia kasih Rp600.000. Kemudian dua kalinya dia panggil lewat nomor pribadi saya. Nah, baru ketiga kalinya baru ketahuan dia punya ‘niat yang gituan’. Bukannya disuruh mijit badan, saya malah disuruh meganging ‘itunya’,” ia mengingat.

Ia mencoba menampik secara halus permintaan konsumen yang haus layanan seks ini. Kalau tangannya memijat di sekitar paha dan ditarik ke arah selakangan, ia buru-buru minta maaf dan turun ke lutut. Saya paham, ia juga tidak bisa melewatkan imbalan sebesar ratusan ribu rupiah yang bisa menghidupi diri dan keluarganya dengan begitu saja. Jadi, ia harus menahan diri sebisa mungkin. “Paling akhirnya dia ngocok sendiri,” ujarnya. Tapi ia tetap bertahan karena bayarannya untuk pijat dua jam bisa berpuluh-puluh kali lipat dari konsumen kelas teri macam saya yang hanya bisa memberi imbalan kurang dari Rp100.000 per jam. “Terakhir dia kasih Rp1,3 juta untuk dua jam,” katanya sedikit bangga. Untuk imbalan sebesar itu, ia rela menahan risih saat si pelanggan pria itu merancap dengan tangannya sendiri. “Takut nular juga kan, pak? Virus gituan.”

Kalau sudah tidak memikirkan uang, mungkin ia akan sudah meninggalkan pelanggan itu dan bekerja yang lebih aman dari pelecehan semacam itu. Tapi ia masih memikirkan keluarga yang harus diberi makan, dan ia juga enggan terlibat hubungan seksual apapun dengan pelanggannya. Ia dipanggil hampir tiap minggu oleh pelanggan satu ini, yang bisa dikatakan dapat mencukupi nafkahnya dengan mudah. “Kalau tidak Sabtu ya Minggu. Pastinya sih malem malem. Jam 11 atau 12 malem baru nelpon.”

Kata tukang pijat saya ini, memang pelanggannya itu bukan sengaja memanggil jam segitu tapi karena kesibukan yang tak terkira. “Dari segi pembicaraan saya tahu dia orang penting. Misalnya ngobrol sama temennya habis dari ketemuan dengan kementerian apa gitu.”

Seolah saya tak percaya, saya masih tanyakan,”Ini bapak bapak?”

“Bapak bapak. Iya. Orang Indonesia. Di apartemennya itu banyak juga temannya. Cowok cowok.

Begitulah dilema kami berdua, para korban yang juga mendapatkan kenikmatan dari pijatan. Sebagai konsumen, saya merasa diuntungkan karena saya tak perlu keluar rumah dan biayanya juga lebih murah. Terakhir kali saya pijat di mall, saya masih merasa kurang puas dan lama ditambah dengan keharusan pulang ke rumah setelah pijat, yang membuat otot-otot dan pikiran yang sudah di kondisi rileks maksimal menjadi menegang lagi. Biayanya juga lebih terjangkau dengan jasa pijat panggilan.

Sebagai produsen, ia juga tak kuasa menolak rezeki dari jalur ini. Meskipun itu artinya ia harus menghadapi pelanggan yang haus seks, tak masalah asal ia masih bisa menolak dan pelanggan tidak berang karena penolakan itu.

Benar-benar sebuah dilema.

Lalu mungkinkah bisa menikmati layanan pijat yang nikmat tanpa harus bersinggungan dengan kemaksiatan yang terlaknat itu? Saya dan tukang pijat saya ini tak bisa memberikan jawabannya yang pasti karena masih menemukan sisi yang bisa dinikmati . (*/)

L0058581 Ivory figure of man massaging the back of another man. Japan

Tapi pijat dalam pakaian lengkap juga bukan solusi tepat karena efek pijatannya jadi kurang maksimal. [Sumber foto: Wikimedia Commons]

 

 

 

 

Bakat Itu Bernama Memiliki Anak

“Be the parent today that you want your kids to remember tomorrow.” ~Unknown

KERESAHANNYA ditumpahkan sekonyong-konyong pada saya sebagai satu-satunya pendengarnya di mall yang ramai itu. Ia menyapu keningnya dan menyibak rambutnya yang agak gondrong, suatu gaya potongan rambut yang jadi ciri khasnya selama ini. Gaya sisirannya di tengah, mirip Alam adik penyanyi dangdut Vetty Vera yang pernah melambung namanya berkat lagu “Sedang-sedang Saja”.

Katanya berapi-api di depan saya tetapi tidak pada saya karena ia tahu saya tidak bersalah:”Aku pikir aku tidak berbakat jadi ayah…”

Dalam banyak hal, teman saya ini memang tidak memiliki bakat yang mencengangkan. Ia pria biasa, tidak memiliki wajah rupawan, berlatar belakang keluarga jelata, pendidikan yang setinggi SMA, dengan kemampuan finansial yang biasa, kecerdasan dan pekerjaan yang rata-rata, dan kesalehannya juga tidak istimewa.

bicycle_in_the_hague_36

Anak bungsu teman saya ini sedang kecanduan ponsel cerdas. Siang malam tidak bisa berpisah dari benda laknat itu. “Sampai tugas rumah lupa. Belajar apalagi. Mengaji tidak mau. Salat di masjid juga ogah. Padahal bapaknya kalau di rumah juga sudah memberi contoh. Huh!” keluhnya sambil menerawang ke pemandangan di luar dinding kaca mall yang menyajikan tumpukan jendela kamar apartemen yang semuanya tertutup sedang ditinggalkan para pemiliknya yang bekerja bertebaran di sekeliling area bisnis di situ.

Saya pikir ia orang yang sudah tahu konsekuensi logis dari menikah adalah memiliki anak dan harus mendidiknya. Saya tidak menduga ia berani berpikiran seperti itu. Tentu itu tidak pernah ia sampaikan kepada istrinya di rumah, yang jauhnya ratusan kilometer dari sini.

“Kamu beruntung…,” tiba-tiba ia mengalihkan pandangan ke saya. “Kamu tidak perlu memikirkan masalah seperti itu.”

Saya menyengir. “Mungkin belum. Belum saatnya… Atau tidak akan,” tukas saya memberikan tanggapan yang ala kadarnya.

“Ternyata aku sadar aku bukan tipe orang tua yang ideal. Aku tidak ingin menceramahi anak-anakku. Aku ingin mereka paham dengan sendirinya,”imbuhnya masih dengan kegalauan akut. Jelas rasa galau bukan monopoli anak-anak milenal lajang atau mereka yang belum menikah. Itu penyempitan makna. Setiap manusia selalu dirundung kegalauan, dalam tingkatan dan keparahan yang bervariasi dalam setiap jenjang kehidupannya. Yang belum sukses mencapai tujuan hidup, galau karena ingin sukses. Yang sudah sukses mendapatkan sesuatu, galau karena ingin terus mempertahankan kesuksesan, tidak mau kehilangan sedikitpun dan memutar otak soal bagaimana mencapai kesuksesan yang jauh lebih tinggi. Terus, terus dan terus. Tiada habisnya.

Saya menimpali sebisa saya atau diam saja begitu ia usai memberondong udara dengan kata-katanya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan saja sampai ia puas. “Terserah kamu sajalah…”

Saya sarankan ia memberi contoh tapi ia menampik dengan alasan itu tidak efektif lagi. Ia sudah berusaha ke masjid saat waktu salat tiba, toh si anak masih saja bergumul dengan ponselnya. Kalau dimarahi, anak itu bakal ngambek. Akhirnya teman saya ini berpikir pendek:”Ya sudahlah, biarlah dia senang sedikit. Toh di sekolah sudah belajar dan nilai-nilainya sudah memuaskan.”

Saya mendengus panjang. Jelas sudah siapa biang keladinya sebenarnya. (*/)

 

Gini Rasanya Punya Temen 4L4Y

images

(((((OM. OM. OM)))))))))

[pake efek echo yang maksimal…]

Gitu deh si anak alay ini demen manggil gue. Buat lo semua yang sering baca blog ini [biarin kalo dikatain GR], dah tau lah kalo gaya nulis kayak gini emang bukan gaya gue yang alami. Serius gue kagok alias kaku kalo disuruh nulis pake dialek Jakarta-Betawi yang kental. Takutnya ada yang bilang,”Halah wong Jawa wae ngomong ‘elo gueh’!!! Rak macem. Rak pantes!

Sebenernya ini temen baru gue yang umurnya jauh. Ga tau kenapa banyak temen baru yang umurnya bahkan sampe separuh umur gue akhir-akhir ini. Agak risih tapi mau nolak gimana, udah kenyataan dan fakta.

Enaknya kalo punya temen alay yang umurnya setengah umur gue atau beda umurnya sampe lebih dari 10 taun itu, lo bisa ngecengin semau-mau elo. Mau siang, malem, sore pagi ngecengin, silakan.

Kayak pas temen gue yang alay ini kepedesan makan di meja di pojokan space. Bibirnya dhower. Ampir nyentuh tanah. Pokoknya Angelina Jolie kalah lah ya.

Dia ini anak alay tapi gue salutnya agak sopan sih ama gue [KADANG AJA, SERINGNYA BEGAJULAN JUGA].  Tapi kalo lagi ga inget umur, dia suka ngecengin gue juga kayak temen sepantarannya. Makanya dia nggak nyumpah serapah pas kepedesan sampe parah gitu. Dia masih sok cool. Mungkin juga karena kebawa kerjaan dia sebelumnya yang di sekolah robotik apalah gitu. Gue juga nggak jelas amat. Mau nanya gengsi, kayak wartawan aja. Pake nanya-nanya.

Tapi serius gue nulis ini juga karena ditantangin ama die.

“Om, tulis dong tentang gue di blog elo,” gitu kata anak ingusan ini.

Oke oke, gue jawab santai.

Anak alay ini masih haha hihi sambil minum banyak, soalnya masih pedes lidahnya abis makan ayam penyet lombok ijo yang level pedesnya menurut gue sih standar lah. Tapi dasar dia emang lidah sensi, peka dan terlalu halus [minumnya aja Milo melulu tiap pagi], dikasih cabe dikit, cuping idung dah megar ke samping mpe maksimal. RAPUHHH!Jepretan Layar 2018-04-26 pada 17.55.34.png

Apakah itu termasuk membuka aib teman seperti yang diingatkan vokalis grup kasidahan di atas?

Gue nggak peduli. Jawab sendiri…

Pas malem malem gue juga pernah diajak ama dia ini nonton video nggak jelas. Video di YouTube yang bahasnya alien, konspirasi apalah. Ceritanya ada makhluk nggak jelas ketangkep bayangannya sekilas di kamera lalu dikasih caption,”Itu makhluk apahhhh???!!” Bisa jadi kan itu monyet atau simpanse, soalnya kayak item dan jalan ama dua kaki aja. Lain ama hewan kaki empat yang biasa ada di hutan.

Itu semua dia dapet dari grup WhatsApp [catatan: gue gak demen nyingkat istilah ini jadi WAG. Kebiasaan buruk orang Indonesia manusia, semuanya disingkat-singkat].

Sebagai orang tua [gue emang dah kayak omnya aja], gue ngerasa ‘Ya Allah, ini ya kerjaannya anak-anak muda jaman now? Gosipin desas-desus alien, konspirasi kalo alien itu emang dah ada tapi disembunyikan dari pengetahuan masyarakat.

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.13.03.png

Tapi lagi-lagi nurutin nasihat mbak vokalis kasidahan di atas, gue dengerin aja cerocosan anak alay sobat gue ini dengan SABAR dengan niat memelihara pertemanan. Sebenernya gue dah ngantuk padahal pas itu. Mau jerit,”Kembalikan …[isi dengan durasi video alien apalah apalah itu] menit hidupku yang terbuanggggg!!!!”

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.13.24.png

Omong omong soal sarjana, dia ini lagi ngerjain skripsi. Kadang dia bawa laptop itemnya yang tebel itu ke space buat ngetik di ruang meeting sendirian. Dia ngomong,”Tadi abis ketemu dosen pembimbing. Nih dah bab 4!” Padahal gue ga nanya juga sih ya. Dia yang kelewat informatip.

Gue ga tau dia beneran ngerjain atau nonton manga [yang gue pernah pergokin] atau belanja onlen [meski cowok juga keranjingan belanja ni anak alay temen gue].

Di sela waktu ngerjain skripsi ama kerja [yang gue ga tau di perusahaan apa tapi katanya dia mau resign supaya bisa fokus ke skripsi], ternyata dia masih nyempeti  baca buku. Bukunya itu soal Soe Hok Gie, semacem analisis surat-surat aktivis itu. Tebelnya minta ampun. Gue aja nggak tau bisa ngabisin sekali duduk. Apalagi temen gue ini yang lebih betah nonton feed Instagram daripada negliat kertas yang udah dicetakin huruf.

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.13.36.png

Seminggu kemudian gue tanya udah sampe mana bacanya. Dia jawab sambil salah tingkah,”Ummm, ni nih yang ditandain ama stiker!”

Dan itu di halaman 2-3. Padahal dah seminggu yah.

Konyolnya itu buku dia bawa ke mana-mana. Tiap di space, dia bawa.

Dibaca?

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.13.47.png

Nah, itu udah dijawab mbak-mbaknyaaa!!!

Satu lagi yang dia suka jadiin senjata kalo gue mau makan sehat adalah tulisan seorang idola dia yang kerjaannya semacem penulis [dia ga tau gue juga penulis apa?] atau pengusaha. Ceritanya idolanya itu olahraga dan makan disiplin banget. Eh tetiba divonis dokter kena penyakit autoimun apa gituh gegara [kutipan versi si idola tentang dokternya] cara hidup dia yang “terlalu sehat” . Eh terus si anak alay ini nyemprot gue,”Makanya nggak usah terlalu sehat, om!!”

Gue mbatin,”Helawww!”

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.32.06.png

Sekali lagi gue iye iyein aja. Gue ga mau debat kusir ama dia. Kesian. Maksudnya, kesian gue jadi tambah setresh.

Sebenernya gue mau bilang kalo gue ama si idola itu:

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.36.18.png

Iya betul. NGGAK SAMA.

So, jangan langsung divonis pasti yang sok bergaya hidup sehat nantinya kena autoimun itu.

Sekali lagi kalo gue sih mikirnya gini yak: “Kalo gue udah berikhtiar sehat aja masih dikasih Allah penyakit gituan, apalagi gue hidup berantakan ga sehat?”

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.40.14.png

Buat nutup postingan ini, gue cuman mau bilang sebagai orang yang lebih tua, gue emang kudu SABAR EKSTRAAAA!!!

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.45.27.png

Tapi gue juga terima kasih ama anak alay ini soalnya suka nemenin gue di space kalo lagi abis kerja sendirian. Ga bengong bengong amatlah jadinya. Makaci anak alay! [TAMAT]

 

P.S.:

Menulis ini ternyata tidak mudah lho. Saya stres menemukan gaya menulis yang selepas ini. Mungkin karena saya terlalu sering menulis dalam ragam formal dan resmi.