Cara Mencintai Pekerjaan yang Tak Kau Cintai

DRAMA seri Jepang ini menceritakan seorang tukang cek naskah yang bertabiat periang, ceplas ceplos dan suka berdandan menor. Tak berlebihan kalau judulnya “Pretty Proofreader“.

Foto: Asianwiki

Dari apa yang saya baca di Asianwiki, drama ini diadaptasi dari novel karya Ayako Miyagi dan Amyumi Nakatani. Tahun dirilisnya 2016 jadi lumayan sudah jadul sebetulnya.

Tapi yang menarik dari drama ini sebenarnya pelajaran berharga bagi Anda yang saat ini sedang merasa terjebak dalam pekerjaan yang membosankan atau kurang disukai karena berbagai alasan.

Di sini Etsuko Kono si tokoh utamanya diceritakan sangat mendambakan pekerjaan editor di sebuah majalah fashion Lassy. Begitu gandrungnya sampai dia baca semua edisi majalah itu dan mengoleksinya di kamar kosnya yang sempit di atas sebuah warung edon yang dikelola teman ayahnya, Taisho Oda.

Gadis 28 tahun itu gigih benar dalam memperjuangkan impiannya menjadi editor fashion. Ia berkali-kali melamar ke perusahaan penerbitan yang di dalamnya juga mencakup penerbitan majalah Lassy.

Eh tak disangka, ia dinyatakan diterima sebagai karyawan, tapi bukannya di majalah Lassy. Ia justru direkrut sebagai seorang juru pemeriksa naskah buku yang juga bernaung di bawah perusahaan yang sama dengan Lassy.

Sempat ia kecewa berat karena masuk ke divisi yang membosankan. Teman-teman kerjanya berpenampilan kaku, pendiam dan nerdy. Lihat saja penampilan Rion Fujiwa yang saban masuk kerja cuma pakai blazer abu-abu. Lalu Mitsuo Yoneoka yang queer, dan 3 orang lainnya yang juga pendiam dan berkacamata tebal. Intinya divisi proofreading ini penuh dengan orang-orang yang tak bisa tampil di depan layar, termasuk si manajer Naoto Takehara.

Etsuko Kono kemudian bertemu dan jatuh cinta pada Yukito Orihara, seorang anak muda yang sebetulnya punya talenta sebagai penulis tapi belum yakin betul dengan bakatnya itu.

Ia menggunakan nama pena sebagai samaran agar sang ayah yang ternyata adalah penulis kenamaan Daisaku Hongo tidak kecewa dengan karya-karyanya yang menurut Yukito sendiri kurang setara dengan karya ayahnya.

Karena itulah Yukito terpaksa menerima tawaran bekerja sebagai model majalah Lassy setelah teman SMA Etsuko Kono menawarinya. Teman yang bernama Toyoko Morio ini kemudian menampungnya di rumahnya dan sempat terjebak cinta lokasi yang kemudian dia sadari bahwa ia cuma kesepian.

Kembali soal pekerjaan, si Yukito juga sempat ragu dengan pilihan kariernya sebagai penulis fiksi. Apalagi kepercayaan dirinya melemah begitu ia mendapatkan komentar jujur dari editornya Hachiro Kaizuka yang juga teman sejawat Etsuko Kono di kantor.

Yukito pun mencoba untuk tidak meninggalkan dunia menulis. Ia menulis tapi dengan mengambil perspektif yang menurutnya lebih menarik bagi dirinya.

Di akhir cerita, ia menerbitkan sebuah buku yang membahas sejumlah orang dengan profesi ‘di balik layar’ seperti tukang servis mainan anak di playground, pekerja proyek jembatan, dan sejumlah profesi yang tak banyak dilirik dan dibicarakan orang sebagaimana profesi populer seperti pesohor, aktor, penyanyi, dan sebagainya.

Ini tentu sangat berlawan dengan tren zaman sekarang, saat orang-orang berlomba tampil di depan layar. Mereka memanfaatkan media sosial sebagai pengganti televisi dan media arus utama yang tak lagi menyediakan ruang untuk mereka yang dianggap kurang ‘menjual’.

Di sini kita bisa resapi perjalanan karakter Etsuko Kono yang awalnya cuma ingin bertahan 3 bulan di divisi proofreading dan secepatnya ingin pindah ke Lassy sebagai editor bersama Toyoko Morio.

Eh ujung-ujungnya ia malah terlalu jatuh cinta pada pekerjaanya sebagai proofreader dan melewatkan tawaran mengerjakan sebuah proyek di majalah Lassy yang memberinya kesempatan membuktikan kecintaannya pada dunia fashion.

Etsuko Kono diceritakan sebagai seorang pekerja yang tak mau setengah-setengah dalam bekerja. Walaupun ia tak begitu suka pekerjaan proofreader, toh ia bersedia melakukan pekerjaan itu dengan semaksimal mungkin. Bukan cuma untuk mengisi waktu atau sebagai batu loncatan ke pekerjaan editor yang ia dambakan.

Bagi saya ini relevan dan sangat membantu menaikkan semangat bagi Anda yang sedang merasa kurang cocok dengan pekerjaan yang digeluti saat ini.

Kalau Anda memang merasa tak cocok dengan pekerjaan sekarang karena berbagai alasan, jangan jadikan itu sebagai alasan untuk mengerjakannya secara asal-asalan karena dari sini karakter kita justru sedang diuji.

Jadi tetaplah bekerja dengan sepenuh hati entah itu terlihat orang atau tidak. Karena kalau semua mau menjadi aktor yang tampil di panggung, siapa yang mau bekerja di balik layar menjadi sutradara, penata rias, pengatur cahaya? (*/)

Daripada Nonton “Tinder Swindler” Mending Nonton Ini…

Buka mata, buka pikiran. Sebuah film tentang dunia paralel yang matriarkis. (Foto: Whatsnewonnetflix)

FILM PERANCIS ini kalau bisa saya katakan sih menggunakan teori dekonstruksi dari Jacques Derrida. Di sini tatanan patriarkis dijungkirbalikkan menjadi matriarkis. Penonton dibawa ke dunia paralel yang di dalamnya kaum wanita adalah yang dominan. Mereka mengangkangi para pria, spesies kelas dua.

Judulnya “I Am Not an Easy Man” (2018). Sutradaranya Eléonore Pourriat yang juga menjadi penulis naskahnya bersama Ariane Fert.

Saat menonton ini, saya kebetulan membaca berita singkat soal perkembangan kasus si Gofar Hilman yang dari tahun lalu dituduh melecehkan seorang wanita.

Publik pun lagi-lagi terbelah. Satu kutub berkomentar: “Tuh kan bener, si korban dibungkam dan diancam tuh pasti di baliknya..” Di kutub sebaliknya ada yang bersikeras: “Nah kan apa gue bilang. Dia tuh difitnah. Ceweknya halu aja…”

Sejurus saya kembali menonton film ini dan merasa bahwa tarik ulur yang sedang terjadi antara 2 karakter utamanya yakni seorang pria bernama Damien (diperankan Vincent Elbaz) dan Alexandra (direpresentasikan dengan baik oleh Marie-Sophie Ferdane).

Dunia paralel dimulai tatkala Damien yang sok kegantengan dan sok memesona ini menebar daya tarik ke perempuan di sebuah ruas jalan saat ia berjalan bersama sahabatnya Cristophe. Mereka habis dari sebuah acara peluncuran buku yang dibantu penyelenggaraannya oleh asisten pribadi Cristophe, Alexandra, yang digoda terus oleh Damien.

Sejak terbentur tiang itu, dunia Damien tak sama lagi. Ia ditendang dari kantornya oleh rekan kerjanya yang wanita yang ternyata membenci ide-ide bisnisnya yang selama ini disukai atasan mereka. Si atasan lebih suka ide rekan wanitanya sekarang. Ini mengejutkan karena selama ini Damien selalu menjadi primadona di kantor perusahaan startup yang maskulin. Tiba-tiba diperlakukan seperti sampah, Damien pun kesal dan undur diri.

Di rumah, ia cuma tinggal dengan kucing kesayangannya. Sebagai laki-laki di dunia patriarkis, status lajangnya tak begitu dipermasalahkan. Begitu ia masuk dunia paralel yang matriarkis, tiba-tiba status itu diangkat terus oleh ayahnya. Ia disudutkan terus seolah ia harus segera menikah dan berkeluarga.

Di dunia paralel ini, Damien mengobral dirinya habis-habisan demi menarik cewek idamannya Alexandra yang bekerja sebagai penulis terkenal. Ia menulis novel populer yang sangat kuat nuansa feminisnya. Alexandra berkepribadian dominan di sini. Ia berolahraga keras, berhubungan dengan banyak pria dan memperlakukan mereka seperti koleksi. Untuk tiap satu pria yang ia tiduri, ia mengabadikannya dengan sebuah kelereng yang dikumpulkan di sebuah sudut rumahnya. Dengan kata lain, ia menganggap pria-pria ini adalah taklukannya. Miriplah dengan apa yang dilakukan dan digembar-gemborkan juga oleh Gofar di sebuah siniar, bahwa ia dengan bangga pernah meniduri banyak cewek. Di sini kita disuguhi pembalikan konteksnya: bagaimana sih rasanya jika cowok yang dikoleksi sebagai objek seks dan penaklukan petualangan seks seorang cewek yang dominan dan lebih segala-galanya dari mereka?

Film ini sepertinya ingin mengajak kita untuk memikirkan ulang konstruksi sosial mengenai gender. Apakah cowok harus selalu yang di depan memimpin? Harus dominan, boleh ‘nakal’, harus menjadi yang menonjol? Apakah cewek harus patuh, pasif, baik, tidak boleh bandel, mengurusi rumah tangga dengan baik?

Kita seperti dibukakan sebuah pintu menuju skenario lain bahwa mau cowok mau cewek ya bisa saja mengisi peran apapun asal ada sistem dan penguasa yang mendukung. Pria beruntung karena selama ini didukung oleh yang berkuasa dari zaman entah kapan. Dogma agama, norma sosial, bahkan aturan hukum sangat kuat mendukung dominasi pria di segala lini. Dan ini mulai perlahan digerus oleh gelombang feminis.

Kita harus membuka mata bahwa cowok memang bisa melecehkan tapi juga bisa menjadi korban pelecehan. Cewek juga meski biasanya jadi korban, mereka juga bisa lho jadi pelaku kekerasan seksual.

Di dunia yang serba mungkin ini, semua bisa terjadi. Jangan picik menjawab: “Ah itu musykil!” (*/)

Damien di dunia matriarkis mencoba memenuhi standar pria ideal: tanpa bulu, memiliki bokong yang kencang, kaki jenjang, dan mati-matian mengobral diri agar segera memiliki seorang pasangan ideal (cerdas, cantik dan kaya) dan punya anak segera karena sudah didesak orang tua. (Foto: mubi.com)

Nasib Buruk Akibat Lupa Tanda Kutip

BAYANGKAN Anda menjadi Tomasz Giemza (diperankan dengan gemilang oleh aktor Maciej Musialowski), seorang pemuda Polandia yang sudah masuk jurusan hukum di universitas bergengsi. Bangga pastinya.

Tapi kebanggaan tadi hancur lebur begitu ia dipanggil dalam sebuah sidang dugaan plagiarisme. Ia didepak dari bangku kuliah karena alpa dalam menyertakan tanda kutip dalam tugas esainya. Bahkan itu bukan skripsi lho.

Tanpa bisa protes lagi, ia menerima keputusan tadi dengan terpaksa. Pendidikan yang menjadi satu-satunya jalan untuk mobilitas vertikal dalam stratifikasi sosial, kini lenyap sudah. Sedih banget…

Ia sebenarnya pemuda miskin yang pernah dekat dengan sebuah keluarga terpandang Krasucki. Mereka ini tinggal di ibukota Warsawa, tinggal di apartemen mewah di tengah kota dan punya lingkaran pergaulan elit. Semacam diplomat, politisi, pebisnis, dan sebagainya.

Sementara protagonis kita ini cuma pemuda udik dengan niat tulus untuk menjalin hubungan dengan keluarga kaya tadi karena ia memang menaruh hati pada putri pasangan Krasucki, Gabi.

Tomasz pun punya trik khusus untuk mengetahui opini yang paling jujur dari keluarga ini mengenai dirinya. ia meninggalkan ponselnya di sofa dan pura-pura pulang. Ponselnya pun merekam pembicaraan tiga orang ayah, ibu dan anak ini soal dirinya.

Eksperimen meninggalkan ponsel itu membuat hatinya remuk karena dalam rekaman, ketiga orang tadi malah mencemoohnya. Mereka membicarakannya seolah sebagai seorang pengemis yang ingin mengiba, meminta perlindungan dan cinta dari Gabi. Memang biaya pendidikan Tomasz ditanggung keluarga Krasucki dan ia tentu tak bisa serta merta mendendam hanya karena mereka mencemoohnya di balik punggungnya.

Sebagai seorang laki-laki, tentu harga dirinya jatuh. Tomasz mendengarkan setiap detik rekaman tadi dengan bibir bergetar dan mata berurai airmata.

Namun, ia masih berusaha tabah dan gigih dalam mendekati Gabi dan keluarganya itu. Dan keputusannya untuk tetap menjalin koneksi dengan keluarga Krasucki berbuah manis.

Ia bertemu Beata Santorska, seorang praktisi humas ‘bawah tanah’. Ia mengepalai sebuah agensi partikelir yang bekerja demikian rapi untuk secara sistematis membantu para klien dalam mengubah dan membentuk citra di dunia maya. Jika perlu segala cara (baik yang haram sekalipun) untuk ditempuh.

Tertarik dengan bidang kehumasan ‘bawah tanah’ ini, Tomasz mencoba mengerjakan sebuah proyek untuk mencoreng citra seorang pesohor YouTube yang bergerak di bidang kebugaran dan kesehatan. Ia sesatkan opini publik soal selebriti maya ini dan produk minuman kesehatannya yang mengandung kunyit. Tomasz mengusulkan bahwa ia akan menggaungkan isu bahwa kelebihan minum produk minuman suplemen tadi bisa membuat overdosis betakaroten padahal itu tak sepenuhnya benar. Ia penuhi media sosial dengan foto-foto dan unggahan akun palsu yang mengeluhkan kulit mereka menguning akibat minum minuman suplemen si selebriti YouTube itu. Runtuhlah citra dan kerajaan bisnis si selebriti ini. Sampai ia menangis di sebuah video demi klarifikasi atas kabar yang dihembuskan Tomasz.

Cerita bergulir makin menegangkan saat Beata mengatakan ada proyek baru yang melibatkan Pavel Rudnicki (Maciej Stuhr), seorang politis muda yang percaya dengan semangat keterbukaan Eropa pada kaum imigran dari Asia Barat. Latar belakang film ini memang Polandia yang sedang bergolak akibat pertentangan kaum sayap kanan yang ingin Polandia bebas dari kaum imigran muslim dari tanah Arab yang bergejolak (Suriah). Rudnicki adalah wajah sayap kiri, semangat toleransi dan moderat terlihat dalam setiap kampanyenya.

Tomasz pun menerima dengan bersemangat proyek penghancuran citra Rudnicki ini begitu ia tahu Rudnicki ada hubungan erat dengan keluarga Krasucki.

Konflik makin meruncing tatkala Tomasz tahu ia bisa menggunakan keluarga yang ia benci tapi juga hormati itu untuk memuluskan proyek Rudnicki.

Dari sana, langkah Tomasz makin tak terbendung. Ia mulai menggunakan strategi dan cara yang nekat dan penuh kebencian demi keuntungin dirinya sendiri.

Saya sendiri bisa paham bahwa sebuah kejahatan tak muncul begitu saja. Ada banyak faktor pemicu yang berkontribusi di dalamnya yang kita sebagai pihak luar mesti ketahui dan kaji lebih cermat dan bijak.

Menghakimi memang mudah tapi tak akan membawa kita ke pemahaman lebih dalam mengapa sebuah tindak kriminal yang begitu keji dan jahat bisa terjadi. Kita tahu manusia bukanlah makhluk yang bertindak secara random atau tanpa sebab.

Di sini kita tahu bahwa Tomasz sebetulnya baik tapi dalam perjalanannya ia menjadi korban sebuah sistem kemasyarakatan yang ketat dan tanpa ampun.

Ia pun berusaha menemukan solusinya sendiri yang bertentangan dengan norma dan moral.

Terlepas dari akhir film yang agak kabur, saya bisa memberikan rekomendasi atas film dan akting si Maciej Musialowski yang top. Ia berhasil menghidupkan karakter Tomasz yang harus begadang memutar otak demi bertahan dalam sebuah pekerjaan yang tak lazim dan pada hakikatnya ilegal.

Riasan untuk si aktor utama juga meyakinkan. Lingkaran hitam di bawah mata yang cekung pada wajah Tomasz sangat mencerminkan rupa seorang pekerja modern yang di waktu terjaganya tak bisa jauh dari layar laptop, ponsel ataupun televisi. (*/)

Apakah Burung Pelikanmu? (Ulasan Film Perancis “MILF”)

Film cinta-cintaan ‘berondong’ dan tante-tante yang cukup menarik. (Foto: whatsnewonnetflix)

“MOTHERS I LIKE TO FUCK” bukan jenis film yang relijius. Ini karya sinematik yang penuh dengan adegan tak patut jika ditilik dari standar orang ‘Timur’. Meski Barat juga sebetulnya pernah sesetia itu dengan dogma-dogma moral dan agama besutan gereja mereka.

Di sini dikisahkan ada Elise, Cecile, dan Sonia, 3 wanita yang sudah menginjak kematangan dalam perjalanan hidup mereka. Elise dan Cecile sudah menikah dan memiliki anak. Cecile baru 3 tahun menjanda, masih terbayang-bayang almarhum suaminya. Sonia sendiri berada dalam hubungan pacaran yang labil dengan seorang pria yang ‘menggantungnya’ seenaknya saja. Dan Elise sudah beranak satu tapi masih sangat menikmati kebebasan meski tak ada suami karena cerai hidup. Mereka wanita lajang dan sangat matang dengan kondisi hidup yang berlainan.

Saat Cecile mengajak Sonia dan Elise membantu menyiapkan rumahnya agar siap dijual ke orang lain, eh secara tak sengaja mereka malah bertemu dengan 2 orang pemuda instruktur surfing di pantai dekat rumah Cecile. Paul dan Julien kalau menurut Elise mirip David Hasselhof yang dikenal di era 90-an dengan tubuh atletis dan kulit terbakar matahari serta adegan lari di pantai yang legendaris itu. Tubuh mereka juga tipikal badan penjaga pantai Baywatch.

Paul dan Julien. (Foto: Dunnozmovie)

Sementara kedua temannya mulai bermain api asmara dengan 2 berondong yang usianya selisih belasan tahun, Cecile justru malah bertemu dengan Markus, seorang anak muda yang ia kenal dulu sebagai pengasuh anak-anaknya yang sekarang sudah jadi remaja. Cecile kaget kini Markus sudah menjelma sebagai seorang pria muda yang tubuhnya menjulang melebihi dirinya. Kekagetan khas emak-emak di Indonesia juga kalau bertemu keponakan atau anak saudara jauh yang jarang bertemu. Markus tinggal dan bekerja bersama Paul dan Julien juga dalam sebuah bisnis kursus surfing di tempat itu. Dan ia menjabat sebagai manajer, ia mengaku.

Burung pelikan di kamar Cecile. (Foto: Dunnozmovie)

Saya tak akan membocorkan plot cerita tapi yang menarik di situ adalah saat Cecile menemukan seekor burung pelikan besar yang tak mau diusir dari kamar tidur Cecile sehingga wanita itu rela untuk tidur di lantai bawah saja.

Bersama Sonia dan Elise, Cecile mencoba segala cara agar satwa ini mau enyah. Dijerat dengan tali, tak berhasil. Dipancing dengan makanan, tak mau. Gagal semua. Akhirnya mereka pasrah.

Namun, di akhir film, si burung ini ditampilkan sedang bertengger di jendela kamar Cecile dan akhirnya mau mengepakkan sayapnya keluar. Meninggalkan kamar Cecile selama-lamanya.

Di film ini kita bisa temukan beberapa tipe manusia. Ada manusia yang terlihat siap, agresif, terbuka pada segala kemungkinan dan optimis dalam menyambut peluang. Namun, pada kenyataannya di titik tertentu, saat kondisi di sekitarnya mengizinkannya untuk melejit dan tumbuh ia malah membatasi diri. Ia tak mau meninggalkan zona nyamannya.

Lalu ada tipe manusia yang terlihat sudah optimis, berpikiran terbuka, siap berjuang demi impian meski itu artinya menentang norma atau aturan masyarakat. Namun, sayangnya ia malah dipatahkan oleh manusia lain atau hal lain yang dikiranya akan melambungkannya. Sakitnya sungguh luar biasa.

Sementara itu juga ada manusia yang peragu. Awalnya meragukan dunia di sekitarnya, apakah dunia ini akan mendukung impiannya yang tak masuk akal? Ia sudah siap menyerah bahkan jika harus mengecewakan manusia lain yang berharap ia maju. Lalu entah bagaimana ia pun maju juga dengan enggan tapi juga menikmatinya.

Ada juga yang terlihat tak serius, bermain-main, tapi sesungguhnya serius sekali dan berharap tinggi. Sayang ia malah diragukan manusia lain yang seharusnya mendukungnya maju. Lalu ia pun tetap setia bagaimanapun akhirnya.

Dan anehnya ada lagi yang diam-diam saja. Tak banyak koar-koar, tak banyak ulah dan keributan. Tapi tiba-tiba membuat gebrakan. Dan malah mencetak kemajuan yang lebih dramatis dari yang sejak awal blak-blakan.

Markus dan Cecile (Foto: Dunnozmovie)

Begitulah manusia. Tingkah polahnya ada-ada saja. Aneh. Tidak ada habisnya.

Tapi yang paling menyenangkan adalah tipe manusia yang meski digunjing, dicerca, tapi malah sepenuh hati membantu mereka yang membuatnya menjadi bahan ghibah dan olok-olok.

Mungkin burung pelikan itu sebuah metafora yang dibuat sutradara untuk sebuah hal yang kita harus lepaskan, relakan, pasrahkan untuk lenyap dan meninggalkan kekosongan dalam hidup kita. Karena dengan kekosongan itu, akan ada ruang untuk menyambut hal atau manusia baru yang bisa hadir dalam hidup kita.

Satu kutipan yang juga tak kalah menarik dari Markus ialah saat ia disamakan dengan anak-anak Cecile, ia berkata: “Aku mungkin seusia anakmu tapi aku bukan anakmu.”

Ya bayangkan di Perancis saja prasangka masih sekental itu ya. Apalagi di Indonesia yang sejak dini masyarakatnya sudah ditanamkan untuk tidak menikahi wanita yang usianya sepantaran ibu mereka melalui kisah Tangkuban Perahu… ? Ya itu kan dilarang karena Dayang Sumbi ibu kandungnya Sangkuriang. Kalau tidak, ya tak masalah seharusnya. (*/)

Jadi Orang Dewasa Jangan Sampai Kehilangan Asa

(Wordpoint.com)

MAKOTO SATO berselimut dalam sebuah ruangan apartemen sendirian. Di luar matahari muncul tapi tidak ada keinginan dalam dirinya untuk menyibak tirai dan membanjiri ruangan itu dengan sinar matahari.

Ia malah asyik meringkuk dengan laptop Sharp di depannya. Sekilas ia tampak sedang menulis novel, karena ia pernah mengaku pada temannya Kenta Sekiguchi bahwa dirinya ingin menulis novel dan mengundurkan diri dari Great International, sebuah perusahaan kecil pembuat grafis untuk stasiun televisi tempat mereka bekerja bersama-sama.

Kenta berkata pada Makoto bahwa dirinya akan meninggalkan perusahaan itu segera karena anaknya akan lahir dari pacarnya. Bekerja di sana tak mencukupi kebutuhan keluarga barunya, pikir Kenta.

Tapi Makoto tidak sedang menulis apapun yang akan menjadi naskah novelnya. Ia bercakap dalam ruang chat online yang memberikannya penghiburan atas sepinya hidupnya dari kebermaknaan.

“Aku tidak punya apa-apa,” teriaknya lalu kembali berbaring, meninggalkan laptopnya di meja.

Beberapa tahun sebelumnya saat ia bercakap dengan pacarnya yang habis membaca novel tentang seorang juru ketik yang saat mabuk berhasil menulis sebuah novel, Makoto mengaku tidak memiliki apapun untuk ditulis meski tubuhnya memang penuh dengan kata-kata milik orang lain.

“Kau akan baik-baik saja. Kau menarik…,” kata si pacar menghibur. 

Dan memang 2 dekade bergulir setelah itu pun, Makoto masih bisa bertahan di industri yang sama. Membuat grafis. Dunia berubah tapi ia masih tetap saja menjadi juru ketik orang lain.

Kalau dicermati sih film ini mencoba menangkap kegalauan para geriatric millennial yang sedang memasuki usia paruh baya seperti Makoto Sato yang berusia 46 di tahun 2020.

Film ini merunut perkembangan cara orang berkomunikasi dari zaman surat menyurat, era sahabat pena sampai ke era media sosial (film ini bermula dengan munculnya permintaan pertemanan seorang mantan pacarnya di Facebook).

Dari korespondensi via surat dan kartu pos, film ini mendeskripsikan evolusi komunikasi menjadi pager dan telepon umum koin, lalu ponsel fitur (bukan cerdas). 

Di sini diceritakan juga bagaimana asyiknya memiliki sahabat pena yang memiliki idola yang sama. Sahabat pena itu bisa ditemukan di iklan majalah. Lucu ya, mau punya sahabat pena yang memiliki idola yang sama dengan berdiskusi via surat yang ditempeli guntingan foto idola itu. Tentunya guntingan foto-foto itu dari majalah yang masih populer di akhir 1990-an, saat media baru (online) belum merebut pangsa pasar.

Dengan sahabat penanya Inu-Cara, Makoto di tahun 1995 begitu getol menulis surat sampai ia mengoleksi setumpuk surat Inu-Cara dan ngoto kopi darat dengan Inu-Cara yang kemudian menjadi pacarnya yang di tahun 2020 ternyata sudah menikah dan punya anak serta entah kenapa mengirimkan permintaan pertemanan padanya di Facebook. (*/)

Hebatnya satu aktor ini bisa didandani sedemikian rupa sehingga bisa memerankan anak muda awal 20-an sampai usia kepala 4. (Foto: AsianWiki)

Netflix: Sumber Inspirasi atau Adiksi?

SAYA mengaku baru 2 bulan ini menikmati layanan Netflix yang tersohor dari 5 tahun lalu itu. Iya, saat Netflix diblokir sama Telkom itu lho. Makanya kayak wow banget itu kedengerannya langganan Netflix. Tahu sendirilah, apapun yang diblokir status quo pasti mengundang decak kagum, tanda tanya dan keinginan memiliki. Semacam buku Pram yang dinyatakan subversif oleh negara dulu. Makin dilarang, wah makin menggelinjang nafsu untuk menerobos ‘pagar-pagar’ itu. Namanya juga manusia!

Saya sendiri mencoba untuk bertanya ke diri sendiri sebelum membeli paket langganannya yang cukup ehem, mahal. Yang termurah Rp54.000 itu cuma bisa dinikmati di layar ponsel yang sempit. Duh, bisa juling kelamaan nonton di layar sesempit 5 inchi. Nggak bisa, pikir saya. Upgrade-lah saya. Mau nonton di laptop saja.

Sebenarnya saya ingin membuktikan apakah dari Netflix ini saya bisa setidaknya belajar sesuatu. Karena saya orangnya bukan movie goer yang ada film baru dikit langsung kesetanan ngantre di bioskop. Rileks aja napa. Saya nggak begitu demen setting publik yang agak merepotkan. Apalagi sekarang bioskop dibuka dengan protokol seketat-ketatnya. Dan tempat tinggal sekarang juga jauh dari bioskop. Jadi saya memilih Netflix sebagai sumber hiburan dan inspirasi.

Ada seseorang yang bilang di LinkedIn bahwa dengan mengamati konten populer di Netflix, kita juga sebenarnya bisa belajar banyak hal. Karena saya dan orang ini sama-sama bergerak di bidang kepenulisan, jadi ia menyarankan menimba ilmu dari konten-konten Netflix yang populer.

“Di konten yang populer itulah kita bisa belajar banyak soal formula kesuksesan sebuah film, naskah film, bla bla bla…,” tulisnya.

Hmm, masuk akal sih sebetulnya tapi setelah saya berlangganan kok saya malah lupa untuk belajar sesuatu dari konten Netflix yang saya konsumsi itu ya? Haha, malah larut dalam pusaran hiburan yang mudah dan menyenangkan ini. Damn it.

Sudah ada beberapa film yang saya nikmati sejak awal Agustus lalu:

  1. Navillera
  2. Athlete A
  3. Kotaro Lives Alone
  4. Move to Heaven
  5. Can’t Write- Live without Scenario
  6. Run On
  7. Sex/ Life
  8. The Chair
  9. The Bold Type
  10. Nureyev
  11. Eat, Pray, Love
  12. Breaking Bad

Ada satu serial dari Arab, entah Turki atau Saudi Arabia yang berjudul “The Writer” tapi kok jalan ceritanya agak …entahlah. Saya tinggalkan setelah menonton beberapa episode awal.

Sekarang saya masih mencoba menikmati “Breaking Bad” yang sebetulnya bukan selera saya. Tapi toh saya coba ikuti ceritanya karena katanya serial ini sungguh bagus pengembangan karakternya. Bayangkan ada seorang guru kimia SMA yang karena butuh duit banget jadi produsen dan pengedar meth, substansi terlarang yang bahkan lebih gila lagi efeknya daripada ganja.

Awalnya jijik sih karena atmosfer serial ini tuh dunia pengguna, pengedar narkoba dan polisi yang udah kayak Tom dan Jerry. Bedanya ini nggak lucu sama sekali. Ada kepala terpenggal, ada yang kehilangan kaki, ada mayat yang dihancurkan dengan larutan asam, ada yang dicekik sampai mati, ada yang…entahlah apalagi yang saya akan jumpai di season 2 ini.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Marathon nonton juga sudah jadi kebiasaan. Dulu saya suka menyewa VCD serial dan menikmatinya di laptop setelah pulang kerja. Sekarang zaman berubah dan saya beralih ke layanan streaming. Tak ada bedanya sih. Cuma persewaan VCD itu bisa diganti katalog virtual yang sangat mudah dilihat dan dipilih. Bahkan saya tak perlu membaca dan memutar episode pertama. Cukup arahkan kursor ke serial itu dan muncul cuplikan yang paling menarik dari konten yang dimaksud. Semudah itu.

Untuk sekarang, saya mungkin akan menonton sambil mencatat perubahan karakternya. Atau cuma menikmatinya saja lalu mengulang bagian yang menarik.

Tapi mungkin nanti saya akan tuliskan beberapa yang patut saya catat.

Kadang ingin menonton film yang sama sekali bukan selera saya tapi jadi bertanya ke diri sendiri: Ini hiburan atau siksaan? (*/)

“Run Boy Run”: Kulup Adalah Penyelamat

Srulik atau Jurek Staniak diperankan oleh dua anak kembar ternyata. (Tangkapan layar: Run Boy Run di Tubitv.com)

SRULIK seharusnya bisa selamat. Tapi kulupnya yang sudah disayat sejak bayi membuatnya harus menderita di masa-masa awal hidupnya.

Berkali-kali anak laki-laki keturunan Yahudi yang lahir di Polandia ini harus dibuang, diburu dan terlunta-lunta di tengah pergolakan Perang Dunia II.

Saat itu pasukan Nazi Jerman di bawah pimpinan Hitler sedang buas-buasnya memburu orang Yahudi di seluruh daratan Eropa.

Keluarga asli Srulik di sebuah kota kecil di Polandia juga tidak luput dari kejaran pasukan Nazi itu.

Keluarganya tercerai berai begitu Nazi masuk ke kota tempat mereka tinggal. Sang ayah sendiri ditembak mati oleh serdadu Nazi.

Srulik, diberi nama baru “Jurek Staniak” oleh ayahnya, mesti bertahan hidup sendirian. Ia dipesan oleh ayahnya agar tetap bertahan hidup bagaimanapun juga. Ia tak boleh putus asa apalagi menyerah dalam kondisi terberat sekalipun.

Sebenarnya Srulik bisa saja selamat dengan sangat mudah. Tapi kemalangan mulai datang saat ia bermain-main bersama sekelompok anak laki-laki yang sedang berlomba mengukur jarak kencing mereka.

Perlombaan yang tidak ada gunanya, konyol tapi menyenangkan bagi anak-anak seusia itu. Mereka belum mengenal rasa malu membuka celana di depan orang lain dan memang tidak ada risiko apapun bagi anak laki-laki di masa itu untuk sekadar bersenang-senang dengan kelamin mereka.

Tapi bagi anak laki-laki Yahudi, penis adalah bagian tubuh yang sakral. Srulik pernah dinasihati sesama anak laki-laki Yahudi: “Jangan sampai membuka celanamu di depan orang.”

Dan anak itu benar adanya. Mempertontonkan kelamin yang sudah tak berkulup adalah permulaan penderitaan bagi laki-laki Yahudi dari berbagai usia.

Laki-laki Yahudi bisa saja mengaku dirinya bukan Yahudi. Mereka bisa mengaku dirinya beragama lain tapi jika mereka saat mereka membuka celana tidak ditemui adanya kulup di ujung penis mereka, semua itu dianggap kebohongan semata.

Bahkan jika ia hapal seluruh isi Injil kalau ujung penis sudah telanjang tanpa kulit pembungkus itu, ia tetaplah dicap Yahudi.

Semua berawal dari membuka celana. (Tangkapan layar: Tubitiv.com)

Srulik dengan mudah menghapal doa-doa Katholik yang diajarkan seorang wanita Polandia padanya.

Tapi malangnya ia tertangkap juga karena dicurigai sebagai anak Yahudi. Lalu ia dibawa ke seorang pejabat Nazi.

Srulik mengaku ia anak Polandia, agamanya Kristen karena ia bisa merapal doa-doa Katholik dengan fasih.

“Buka celanamu!” hardik si pejabat Nazi itu.

Srulik yang tahu risikonya pura-pura berusaha untuk membuka ikat pinggangnya.

Si pejabat Nazi itu tak sabar dan langsung menurunkan celana Srulik begitu saja.

Srulik tercekat tentu saja. Tak bisa berkata-kata. Ia setengah ditelanjangi dan identitas dirinya yang seharusnya tetap tersembunyi juga ditelanjangi di depan musuh.

“Lihat, kamu Yahudi!” bentak si pejabat Nazi.

“Aku harus dioperasi saat kecil karena infeksi, pak,” kilah Srulik yang mengaku bernama Jurek agar identitas Yahudinya tetap tak terendus.

Tentu si pejabat Nazi tak semudah itu percaya.

Srulik pun diseret ke luar, hendak dijadikan mainan hidup untuk anjing-anjing pemburu Nazi yang buas.

Tapi Srulik sanggup melarikan diri, berkat ingatannya yang kuat atas pesan si ayah: “Larilah ke rawa atau sungai. Di situ, anjing-anjing tak akan bisa mencium baumu. Kau akan selamat…”

Dan ia lari sekencang mungkin ke sungai yang ada di sekitar sana. Ia pun selamat setelah membenamkan tubuh ke air sungai dan terhindar dari tembakan acak pasukan Nazi yang ingin memastikan ia mati tenggelam di sungai itu.

Kali ketiga saat ia membutuhkan kulup ialah saat ia hendak dioperasi oleh seorang dokter di sebuah rumah sakit besar karena tangan kanannya tergilas mesin penggilingan di sebuah rumah pertanian.

Saat perawat melucuti pakaian Srulik yang sudah pingsan hampir kehabisan darah, si dokter melihat burung Srulik yang sudah disunat.

Sontak ia berkata: “Saya tidak mau mengoperasi Yahudi.”

Ia keluar dari ruang operasi dan membiarkan anak laki-laki itu meregang nyawa.

Esoknya nyawa Srulik sudah di ambang kematian. Tangan kanannya sudah membusuk separuh. Tubuhnya menggigil karena memerangi infeksi yang terjadi akibat luka parah itu.

Seorang dokter senior mendatangi rumah sakit itu dan melihat tubuh Srulik yang mungil tergeletak di koridor rumah sakit, dibiarkan sekarat.

Si dokter senior marah karena pembiaran luka Srulik itu membuat anak itu sekarang harus berisiko diamputasi.

Akhirnya dokter senior tadi mengambil keputusan untuk memotong lengan bawahnya hingga siku.

Akibat burungnya disunat, ia juga harus kehilangan lengan kanan bawahnya. Sad. (Tangkapan layar: Tubitv.com)

Adegan Srulik yang sukses bertahan hidup tapi harus syok melihat tangannya buntung dan menangis di kamar mandi memandang cermin lalu ke tangannya yang hilang itu sungguh memilukan.

Tapi di momen kepiluan itu rasanya juga ada kelegaan, bahwa ia meski sudah cacat tapi masih bisa bertahan hidup dan memegang teguh pesan ayahnya.

Srulik beruntung dirinya bisa melewati momen perih itu. Ia hidup hingga masa tuanya di Israel. Dan meski masa kanak-kanaknya begitu perih untuk diingat, ia mampu melanjutkan hidup meski tanpa kulup.

Film ini pantas untuk menyandang bintang 5 karena si protagonis dimainkan dengan ciamik oleh dua anak kembar Andrzej dan Kamil Tkacz.

Yang memukau juga adalah bagaimana mereka membuat lengan kanan Srulik terlihat buntung sungguhan. Saya sampai mencari di Google tentang si pemeran Srulik untuk memastikan bahwa ia masih punya lengan kanan dan lengan itu bukan lengan prostetik!

Sutradara Pepe Danquart patut diberikan standing ovation karena mampu mengarahkan semua kru di film ini untuk mengejawantahkan tiap kata dalam novel karangan Uri Orlev yang berdasarkan kisah nyata itu dengan begitu piawai. Terbukti film ini mengantongi 10 penghargaan dari penonton di Amerika.

Terlepas dari fakta bahwa sekarang Srulik ini menjadi bagian dari Israel yang menindas Palestina, sebagai manusia saya paham bahwa lingkaran setan kekerasan yang manusia ciptakan sendirilah yang menyebabkan semua perang, pertumpahan darah dan segala kesusahpayahan ini.

Dan alangkah tragisnya jika seorang anak manusia yang tak tahu apa-apa harus terseret di dalam pusarannya dan menjadi korban.

Kini anak-anak Palestina juga banyak yang bernasib seperti Srulik: terlunta-lunta tanpa punya rumah, kehilangan anggota badan, atau malah nyawa karena pertumpahan darah yang dilakukan orang-orang dewasa. Mereka tak bisa protes dan terpaksa ikut di dalamnya.

Ah, bukankah esensi kehidupan adalah nestapa? (*/)

Anda bisa menonton film ini secara GRATIS seutuhnya di tautan berikut: https://tubitv.com/movies/600075/run-boy-run?start=true

Kenapa Muslim Harusnya Anti Nazi dan Hitler

Lili menenangkan Sarah, sahabatnya yang berhasil lolos dari Holocaust. “Setelah aku bisa melalui ini semua, aku mau ke Palestina,” ucapnya. (Foto: tangkapan layar Tubitv.com)

DUA gadis muda sedang berpelukan di ranjang. Si pemilik ranjang terbangun tiba-tiba karena mimpi buruk di tengah malam. Nama gadis itu Sarah. Sebagai seorang penyintas Holocaust, gadis Yahudi kelahiran Hungaria itu mengalami trauma yang sangat mendalam dan membuatnya sering mendapat serangan panik dan tremor terutama di tangan kanannya.

Lili, sahabatnya yang menjadi protagonis dalam film adaptasi novel Péter Gárdos “Fever at Dawn” (2015) ini, mencoba menenangkannya sebisanya. Lili menyanyikannya lagu “Malam Kudus” yang ia kenal lewat sesi peribadatan di gereja Protestan yang ia masuki. Meski ia Yahudi, Lili sudah muak dengan identitasnya sebagai Yahudi dan berencana berganti agama ke Kristen Protestan agar bisa hidup lebih damai, tak dikejar-kejar Nazi. Dan ia sudah berkomplot bersama pacar jarak jauhnya yang juga penyintas Holocaust, Miklós, untuk bersama-sama berganti agama lalu menikah dalam tata cara Protestan.

Dialog mereka kemudian berlanjut dengan keinginan Sarah untuk meninggalkan kamp rehabilitasi yang mereka tinggali saat itu di Swedia untuk menuju ke tanah yang menurut Taurat dijanjikan untuk bangsa Yahudi, tanah Palestina.

“Setelah aku bisa melalui ini semua, aku mau ke Palestina,” kata Sarah dengan bibir masih bergetar.

Ya Palestina. Saat itu masih tahun 1945, belum ada Israel.

Sebuah baris dialog yang masih sangat relevan dengan masa kini, karena detik ini kita masih juga bergelut dengan pertikaian Yahudi vs Palestina. Tak kunjung ada solusi nyata dari tahun ke tahun.

Terlepas dari beragam persepsi orang bahwa ini adalah konflik agama (Yahudi versus Islam), atau murni persengketaan antara Yahudi sebagai penjajah dan bangsa Palestina sebagai pihak terjajah yang tanah airnya diserang dan direbut, satu fakta pasti ialah Holocaust yang dilaksanakan Hitler dan pengikutnya semakin mendorong orang-orang Yahudi yang selamat untuk membentuk koloni di tanah Palestina.

Dan ‘berkat’ Holocaust, kita sebagai manusia juga menjadi melek bahwa kebencian yang terlalu dalam bisa dimanfaatkan pihak lain yang memiliki agenda tersendiri. Dengan kata lain, kita diperalat!

Artikel ini mengungkapkan ada puluhan ribu muslim yang dengan sukarela menjadi tentara Nazi. Hitler dengan cerdik memanfaatkan kita umat muslim sebagai pendukung cuma-cuma.

Untuk merebut simpati umat muslim yang dimusuhi Uni Soviet kala itu, bahkan Hitler memerintahkan perbaikan masjid, musholla dan madrasah. Hitler menyuruh semua tentaranya memperlakukan umat muslim dengan baik karena muslim adalah ‘musuh alami’ para Yahudi.

Saya tidak menyuruh Anda untuk berpihak pada Israel dan Yahudi beraliran ultra nasionalis di balik negara itu, tetapi saya juga tidak menyuruh Anda mengelu-elukan Hitler dan Nazisme cuma karena mereka berani membunuh Yahudi dalam skala yang tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

Saya hanya mengajak Anda untuk merenungi kalimat mitikus Rumi berikut:

“Selamatkan Hatimu dari gelapnya kebencian.”

Anda bisa menonton film ini gratis di:

https://tubitv.com/movies/599269/fever-at-dawn?start=true

Di Balik Kegelapan Pekat, Ada Cahaya Hebat

Astronot NASA dan seorang perempuan imigran Aljazair di Perancis bertukar kisah. (Tangkapan layar: Tubitv.com)

MITOLOGI Yunani Kuno memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Saat SMA, saya pernah ingin mencuri sebuah ensiklopedia karena di dalamnya ada pohon keluarga dewa-dewi Yunani Kuno dan kisah-kisah lengkap mereka. Aphrodit, Hermes, Apollo, Athena, duh banyak banget yang membuat saya ingin membaca sampai tuntas semuanya. Apa daya beban belajar tak bisa ditinggalkan.

Di film “Macadam Stories” ini, mitos dari Yunani Kuno diselipkan juga dan sebelumnya saya belum pernah mendengarnya. Jadi ini tidak klise, setidaknya untuk saya ya.

Jadi seorang astronot NASA tetiba jatuh ke atap sebuah apartemen. Pendaratan yang mulus untungnya. Tidak ada yang cedera dan tidak ada kerusakan yang ditimbulkan.

Begitu astronot itu keluar kapsulnya ia limbung dan linglung. Ini di mana? Ia tentu tak bisa mengenali tempat ia mendarat karena bumi ini begitu luas. Ternyata ia mendarat di sebuah kota di Perancis.

Sialnya ia cuma bisa berbahasa Inggris. Namun, pintu yang ia ketuk ternyata milik seorang perempuan imigran Aljazair yang cuma fasih berbahasa Perancis. Bahasa Inggrisnya sama sekali nol.

Si astronot makin gusar karena ia tak dijemput. Malah disuruh menginap di apartemen si perempuan selama 2 hari sebelum sebuah helikopter diperintahkan menjemputnya.

Di situ, astronot ini diperlakukan bak anaknya sendiri. Anak laki-laki si perempuan itu sedang direhabilitasi akibat mungkin penyalahgunaan narkoba dan ia manusia yang tak becus apa-apa. Bekerja keras bukan hal yang ia anggap mulia.

Awalnya saya geram sih dengan sikap si astronot yang sudah dibantu si perempuan itu tapi malah berlagak marah-marah dan ingin selekasnya keluar. Dan dia lupa berterima kasih pada si perempuan itu yang sudah meminjaminya telepon untuk menelepon markas besar NASA.

Tapi lama-lama mereka berdua akrab. Si astronot bersimpati pada perempuan itu. Ia bahkan mau memperbaiki pipa wastafel rumah perempuan itu meski gagal juga. Tetap bocor sampai ia harus pulang.

Adegan yang menyentuh ialah saat ia memberikan kaos kesayangan anaknya ke si astronot untuk dipakai. Dan si anak kandung tentu keberatan kaos kesayangannya dipakai orang asing. Tapi di sisi lain, si anak kandung juga tak percaya dengan kisah ibunya. “Serius ada astronot NASA tiba-tiba nginep di rumah, mah?” ia bertanya dengan nada begitu lalu memvonis ibunya mulai berhalusinasi.

Lalu muncullah mitos Yunani itu. Setelah si perempuan tua bertanya bagaimana antariksa rasanya, si astronot menjawab bahwa antariksa sama dengan lautan. Tak berbatas. Di mana-mana terasa tak berujung. Manusia diselimuti olehnya.

Si astronot ini lalu bercerita bahwa dulu orang Yunani Kuno menganggap bintang-bintang adalah lubang-lubang kecil. DI balik lubang-lubang itu, sebenarnya ada dewa-dewa yang mengintip dan mengawasi setiap tingkah polah manusia yang bermacam-macam.

Kemudian si astronot berkata: “Behind all the dark, there is a great light…” (*/)

P.S.:

Tonton filmnya gratis di sini https://tubitv.com/movies/516307/macadam-stories?start=true

%d bloggers like this: