“Merli Sapere Aude” Shows Philosophy Can Be Cool

Philosophy is a boring subject, most people say.

But I’m pretty sure you’ll find it interesting once you watch this series.

Having watched the first season, I was mesmerized by the dynamic life of a small circle of philosophy students here.

Seen as weirdos due to overthinking, philosophy students break all the stigmas by leading a worldly, hedonic life.

Pol Rubio (Carlos Cuevas) as the protagonist is depicted as an intelligent, good-looking, yet underprivileged young man.

At first I thought he was guy as he had Bruno (David Solans) as his boyfriend but it turned out he self-confessed as a bisexual later on. You can see Pol (left) and Bruno (right) below.

On the contrary, Biel (Pere Valriberra) is a student that is what Pol is not. He is considered second tier, less physically attractive, slender, weaker, less confident in social and academic life.

Meanwhile, there is this boy named Rai (Pablo Capuz), who is living with his mother Victoria quite unhappily after his father passed away. He is rich but feeling empty in his life. Typical..

Maria Bolaño (María Pujalte) is a favorite lecturer in the philosophy faculty. She is a great influence to Pol Rubio. Intellectually, they are attracted to each other.

Bolaño herself is a complicated character. As a single mother, she has to take care of her already adult daughter with Down Syndrome. And Laura, her daughter’s name, is now building a relationship with Victor, a young man also with the same syndrome.

Bolaño struggles with her addiction to alcohol and Silvia, her former student who is now her colleague, is trying to help her recover.

The romantic relationships are quite dynamic here. They exchange sexual partners like a lot, which is not uncommon in the Western society.

What I like from the series is that they are scattered with great quotes. Uplifting enough if you’re having a bad day and need a mood booster. (*/)

Kisah Marly, Penulis Naskah Telepon Seks

Serial ini bisa ditonton di Netflix. (Foto: Rotten Tomatoes)

Awalnya Marly, seorang gadis muda yang masih duduk di bangku kuliah, melamar kerja di sebuah perusahaan rintisan yang menjual layanan telepon seks di era 1980-an di negara kincir angin.

Di situ, ia membaca sebuah naskah dan membaca dengan nada datar. Dan tentu saja ia ditolak karena cara dan nada berbicaranya kurang ‘mengundang’, tidak membuat para konsumen pendengarnya bergairah. Dan sialnya, wajahnya tersorot kamera saat seorang reporter meliput bisnis pertama yang menjual layanan unik di Belanda.

Tak lama, perusahaan rintisan itu batal diakuisisi oleh perusahaan yang lebih besar dan mapan sehingga Frank dan Ramon dua pentolannya kebingungan.

Di saat yang sama Marly juga kesal karena ia tak dapat pekerjaan sampingan menjadi pembaca naskah seks tadi dan malah wajahnya tersiar di seantero negeri. Ia dicap menjadi perempuan muda yang jorok, kotor dan binal.

Stigma itu membuat kedua orang tua Marly yang konservatif mengusir Marly dari rumah.

Antara bersyukur dan sedih, Marly pun menjalani kehidupannya sendiri di luar. Dan ia dipaksa melakoni pekerjaan apapun asal bisa menyewa apartemen yang layak.

Marly kemudian bertemu Frank kembali dalam sebuah kesempatan. Saat itu ia mengusulkan pada si petinggi perusahaan bahwa ia tak seharusnya cuma melayani kelompok pria heteroseksual yang selera seksnya mainstream alias mudah ditebak karena saking banyaknya.

Marly mengusulkan Frank untuk membuka layanan telepon seks juga bagi konsumen homoseksual/ gay, lesbian, bahkan bagi mereka yang punya ‘fetish’ atau kecenderungan terpancing gairah seksualnya dengan benda atau objek tertentu yang tak lazim.

Setuju dengan ide Marly, Frank pun direkrut menjadi penulis naskah seks di perusahaan itu. Sebagai percobaan pertama, Marly wajib menghasilkan konten naskah untuk 300 saluran telepon yang berbeda untuk segmen konsumen yang non-mainstream ini.

Menyadari betapa berat tugas itu, ia pun menyesali ‘mulut besarnya’.

Tapi justru dari situ, Marly memiliki kesempatan besar untuk menggali potensinya karena sebenarnya ia memiliki jalur yang tepat untuk menghasilkan konten yang menarik. Marly sedang kuliah dan belajar soal seksualitas dan seks di kampusnya dan banyak mater kuliahnya yang sebenarnya bersinggungan dengan bidang pekerjaan yang banyak membahas soal seks ini.

Per minggu, gadis cantik berkulit cokelat dan berambut keriting yang terlahir di Belanda dari pasangan imigran Afrika itu harus menyerahkan 20 naskah seks untuk dibaca bagi konsumen layanan telepon seks ini.

Saya menemukan serial Dirty Lines ini di Netflix dan cukup menikmatinya sebab banyak adegan yang sangat menohok bagi kita yang mengakui sebagai orang Asia yang berpegang teguh pada adat ketimuran yang menjauhi obrolan kotor semacam seks.

Dari situ, Marly malah menemukan keasyikan dalam menulis konten ini. Ia mengadakan pengamatan pada teman-teman di asramanya yang berhubungan seks secara sembarangan bahkan di kamar mandi umum.

Lalu ia juga turun ke jalanan bertemu penjaja seks demi studi lapangan. Semua karena perfeksionismenya.

Seperti apakah perjalanan Marly yang diperankan dengan apik oleh aktris Joy Delima selanjutnya di sini? Ikuti saja serialnya. (*/)

“Life’s Punchline”: Tragikomedi Rekomendasi

MENURUT tradisi Yunani Kuno, ada tiga jenis pertunjukan: komedi, tragedi, dan tragikomedi. Yang terakhir ini lebih cocok untuk melabeli Life’s Punchline.

Tidak ada yang spektakuler di sini sebenarnya. Konfliknya datar dan biasa saja. Tidak ada yang berdarah-darah, berpeluh atau menangis sampai parau. Konflik sehari-hari sekali dan kita bisa mengalaminya juga. Tidak ada elemen lebay atau hiperbola menurut saya.

Di sini kita bisa belajar bahwa kehidupan satu orang manusia ternyata berkelindan dengan rumitnya dengan kehidupan manusia lain. Jadi tak berlebihan sih kalau dikatakan dalam agama, saat seseorang membunuh manusia lain, ia sama saja membunuh seluruh umat manusia. Karena manusia bukan makhluk soliter. Kita berteman, berkeluarga, beranak pinak dan bekerja dengan manusia lain. Dan dari sana hubungan-hubungan muncul dan terbina.

Dan salah satu pelajaran yang penting dari sini juga adalah bahwa perpisahan bisa kok dirayakan. Karena selama ini kita diajari bahwa perpisahan selalu menyedihkan. Identik dengan air mata, saputangan, kata-kata selamat tinggal.

Tapi pada hakikatnya perpisahan adalah sebuah babak baru dalam hidup. Bukan akhir yang mentok seperti gang buntu yang membuat kita terjebak tak bisa ke mana-mana lalu kita benar-benar mati membusuk dengan menyedihkan di situ. Karena ternyata kehidupan terus berputar walaupun satu episode sudah ditutup. Ada kelopak bunga yang mekar setelah bunga lama berguguran.

Perpisahan juga membuat momen-momen itu menjadi lebih berharga dan bisa diapresiasi lebih tinggi di masa datang. Jika perpisahan tidak ada, mungkin saja kita mengabaikan momen-momen itu. Padahal di sinilah hidup menjadi lebih bernilai dan bermakna.

Hal lain yang saya dapatkan dari sini adalah bahwa keberadaan kita di muka bumi ini setidaknya memiliki harga dan makna bagi manusia lain. Meski itu cuma satu manusia. Jika kita sudah bisa membuat hidup satu manusia terasa lebih baik dan dia bisa bertahan melalui fase terberat dalam hidupnya dengan kehadiran kita dalam kehidupannya, ternyata itu sudah cukup untuk membuat hidup bermakna. Tak perlu muluk-muluk harus mencapai ini itu. (*/)

%d bloggers like this: