Pandemi Diary: Siap-siap Gelombang Entah ke Berapa…

COVID-19 belum sirna dari muka bumi dan memang takkan pernah musnah.

Alih-alih hilang, ia terus bermutasi, berubah dan beradaptasi dengan lingkungan.

Dan celakanya mungkin ia berubah menjadi lebih kuat daripada sebelumya.

Dikabarkan di media massa akhir-akhir ini jumlah kasus Covid kembali naik.

Tapi apakah itu bisa dipercaya?

Kalau kata salah satu pakar (virologi) Prof. G. N. Mahardika dari Universitas Udayana Bali, jumlah kasus di Indonesia sama sekali tidak bisa dijadikan patokan, guys.

Haha Ya bagaimana lagi kan memang cara pengujian dan jumlah pengujian juga rendah sekali.

Kita masih menggunakan rapid antigen, bukan PCR. 

Rapid antigen ini tingkat sensitivitasnya lebih rendah dan tidak akurat.

Latar belakang / pemicu kenaikan kasus juga belum diketahui dengan akurat. Apakah itu karena peningkatan testing karena makin banyak yang masuk rumah sakit, atau karena ada pasien yang mendapatkan perawatan tertentu atau karena perjalanan yang makin sering akhir-akhir ini terutama di kelompok yang belum divaksinasi booster (ketiga)? Atau apakah memang pemerintah melakukan pengujian secara acak di tempat-tempat umum seperti stasiun kereta?

Dengan kata lain, pernyataan kenaikan jumlah kasus Covid itu tidak bisa diketahui secara akurat.

Yang pasti adalah protein di virus mutasi baru BA 2 hingga BA 5 ini tidak berbeda jauh dari nenek moyangnya. Tidak ada indikasi yang menyatakan bahwa proteinnya berbeda jauh dari Covid Omicron.

Omicron ini bahkan dikatakan sudah menginfeksi 60-80% warga dunia. Jadi sebenarnya kita sudah tervaksinasi secara alami di samping menjalani vaksinasi buatan.

Lalu soal kemampuan virus Covid varian BA 4 dan 5 menghindari vaksin sehingga dikatakan varian ini lebih kuat, kurang beralasan. Kecepatan replikasinya juga tidak banyak berubah dari nenek moyangnya dulu. Makanya kekuatan vaksin menghadapi varian-varian baru ini juga masih bisa diandalkan. Ketakutan bahwa vaksin sudah tidak mempan menghalau varian baru Covid ini tidak beralasan.

Sebagai gantinya, tolok ukur yang bisa digunakan adalah tingkat okupansi rumah sakit saat ini dan juga prevalensi global. Menurut virolog ini, tren prevalensi varian-varian Covid ini menurun juga di seluruh dunia. Hanya saja varian BA2,4, dan 5 ini memiliki tingkat penularan lebih tinggi daripada Omicron.

Jadi ya kembai lagi ke protokol kesehatan yang jadi senjata pusaka kita itu. Haha. 

Kalau ditanya bagaimana bisa varian baru ini menular? Ya karena memang protokol kesehatan sudah diabaikan. Jangankan di ruangan terbuka, di ruangan tertutup juga orang sudah mulai mengabaikan pemakaian masker. 

Mau bagaimana lagi? Karena pemerintah juga sudah mencabut level PPKM dan juga tidak peduli lagi dengan penularan ini. Presiden sudah mengizinkan buka masker di ruang terbuka saat bertemu orang lain. 

Dengan vaksinasi, pemerintah seolah sudah ‘lepas tangan’. Kalau masih tertular itu urusan Anda masing-masing ya. 

Masalah kita dalam penanganan pandemi dari dulu smapai sekarang juga masih sama kok: 100% masyarakat bersama-sama menjalankan protokol kesehatan.

Ini yang dari dulu sulitnya minta ampun! Karena ada saja yang membandel. Entah itu berkerumun, menurunkan masker karena berbagai alasan, dan sebagainya. (*/)

Pandemic Diary: Apakah Benar Indonesia Sukses Lewati Pandemi Covid-19?

SETELAH presiden Joko Widodo mengumumkan masyarakat boleh copot masker di ruang terbuka beberapa waktu lalu dan penurunan level PPKM ke level terendah serta dibolehkannya mudik Lebaran tahun ini, masyarakat Indonesia seakan tumpah ruah ke berbagai wilayah untuk melampiaskan keterkungkungan mereka selama 2 tahun ini dalam rumah.

Saya sendiri melihat pusat-pusat perekonomian makin menggeliat. Mall mulai ramai lagi, bioskop pun dibuka kembali. Ini bisa dilihat dari berbagai unggahan di media sosial terutama Instagram stories yang menunjukkan kembalinya orang Indonesia ke fasilitas umum, layaknya sebelum pandemi menyerang.

Dan setelah apa yang terjadi selama 2 tahun ini, saya pernah mendengar seseorang bertanya: “Memangnya Covid itu ada ya?”

Haha serius. Saya tidak bohong. Ya begitulah kondisi di lapangan. Sudah dibombardir dengan berbagai berita dan informasi tapi kalau sudah tak percaya dari dalam hatinya, ya sudah. Tidak bisa dipaksa. Bahkan hingga ia sudah terjangkit pun, bisa saja lho masih berkata: “Ini bukan Covid.” Lalu harus bagaimana?

Pengumuman copot masker di ruang terbuka itu sendiri dikatakan sangat terlambat. Bahkan jadi lucu karena sesungguhnya di lapangan masyarakat sudah sejak lama sudah mencopot masker mereka. Imbauan pemerintah untuk selalu pakai masker saat di luar rumah hanya mempan saat di tempat umum dengan kepentingan ekonomi yang tinggi semacam pasar, mall, sekolah, pabrik, stasiun kendaraan umum, dan sebagainya. Tapi di luar itu semua ya masker tak pernah dipakai lagi. Bahkan aparat kalau keluar area kerja juga sudah copot masker meski belum dibolehkan presiden kok. Dan tak perlu ke kampung-kampung, Anda bisa temukan orang tak pakai masker di tengah Jakarta.

Setelah pengumuman presiden ini, masker menjadi semacam pernyataan sikap dan pemikiran seseorang mengenai kesehatan mereka. Mereka yang bersikap waspada dan hati-hati dengan kesehatan, masih memilih untuk mengenakan masker. Apalagi mengingat level pencemaran udara bagi Anda yang tinggal di perkotaan itu tinggi. Masker bisa mengurangi dampak pencemaran pada paru-paru kita. Lalu belum lagi virus selain Covid, misalnya TBC, flu, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang bisa menjangkiti kita semua di lingkungan yang makin tak terbendung saja.2

Meski RI ditunjuk menjadi tuan rumah Forum Penanganan Bencana PBB tahun ini, tapi untuk mengatakan RI sukses melewati pandemi ini, rasanya kok terlaku pongah ya.

Kita jangan lupa deh dengan berbagai pekerjaan rumah yang masih terbengkalai di dalam rumah. Termasuk penyesuaian hidup dengan perubahan iklim yang konon juga berkaitan dengan munculnya Covid-19 ini. Penularan virus hewan ke manusia ini awalnya ya dari perambahan hutan dan eksploitasi satwa liar yang seharusnya dibiarkan hidup di hutan, bukan dikonsumsi manusia.

Tapi namanya juga manusia. Makin dilarang, makin bernafsu malahan.

Soal keberhasilan vaksinasi, ada yang mengklaim kita bisa menghasilkan vaksin sendiri dari Biopharma. Tapi nyatanya di lapangan kan stoknya tak bisa mencukupi untuk satu negara. Malahan yang populer dan lebih membanjiri program vaksinasi itu jenis vaksin asing macam Pfizer, Moderna, Astrazeneca, Sinovac, dan sebagainya. Memang vaksinnya gratis tapi kita tidak tahu apa yang harus digadaikan negara demi mendapatkan hibah vaksin ini ya.

Sekarang pemerintah menepuk dada bahwa hasil penanganan pandemi mereka sukses. Hasilnya sekarang masyarakat Indonesia sudah bisa kembali beraktivitas, roda ekonomi kembali berputar, semuanya kembali bekerja seperti sediakala. Ekonomi pun digenjot terus demi mencapai target pertumbuhan di atas 5% tahun ini. Optimisme meluber ke mana-mana dengan dibukanya kran turis baik ke dalam dan ke luar negeri. Pokoknya optimis teruslah ya.

Resiliensi dan daya lenting masyarakat Indonesia memang mencengangkan tapi itu bukan berarti pemerintah bisa mengakuinya sebagian hasil kerja kerasnya selama ini. Itu prestasi milik rakyat. Please jangan diakui sebagai hasil kerja Anda, bapak-bapak birokrat.

Ketangguhan masyarakat ini bukan berarti pemerintah lalu membiarkan masyarakat begitu saja. Tetap dong bapak-bapak harus kerja keras memberikan perlindungan dan kemudahan bagi rakyat yang sudah bekerja membanting tulang begini. Jangan malah tambah dipajaki makin tinggi. (*/)

Pandemic Diary: Setelah Kedaruratan Lewat, Wajibkah Vaksin Covid-19 Mulai Disertifikasi Halal?

VAKSIN Covid-19 di awal pandemi dulu tahun 2020 memang sempat menuai kontroversi soal kehalalan. Maklum mayoritas warga 62 adalah muslim. Isu ini pun jadi maha penting.

Saat itu MUI memang sudah mewanti-wanti. Halal haram tiap jenis vaksin yang disuntikkan ke masyarakat harus dipastikan.

Lalu perdebatan ini pun dimanfaatkan kalangan pengingkar Covid-19, dengan mengatakan bahwa vaksin itu haram dan seharusnya tak diberikan ke manusia Indonesia.

MUI melunak karena vaksin Merah Putih produksi RI sendiri tak kunjung diluncurkan ke pasar. Bahkan Menkes Terawan seolah ‘tenggelam’ dalam pusaran badai pandemi. Suaranya lenyap total dari publik, seakan ia sudah dilucuti dari kewenangan dan jabatan Menkesnya secara halus.

Beberapa vaksin menurut MUI memang diharamkan tapi karena jumlah vaksin lain yang halal masih terbatas, ya sudahlah dipakai saja dulu daripada lebih banyak yang mati karena Covid-19.

Vaksin produksi Sinopharm (bukan Sinovac) resmi dinyatakan haram oleh MUI (sumber: CNBC). Bahkan vaksin Astrazeneca juga dicap haram.

Alasan pengharamannya karena ada kandungan tripsin babi dan kita tahu bersama babi dalam bentuk apapun dilarang masuk ke dalam badan muslim.

Nah sekarang begitu pandemi mulai menyurut, ada pihak yang mengungkit kembali isu halal haram vaksin ini.

Alasan mereka adalah kita sudah melewati fase darurat. Di fase ini, semua orang termasuk muslim boleh memakai vaksin apapun yang bisa menekan tingkat kematian akibat Covid meski itu haram karena ada kandungan babinya.

Tapi begitu masyarakat Indonesia sudah mulai menikmati penurunan level PPKM dan vaksin ketiga sebagai booster disebarkan, sudah seharusnya dibahas mengenai kehalalan vaksin juga.

Kini setelah lolos uji klinis, vaksin diharapkan bisa memenuhi standar kehalalan untuk rakyat Indonesia yang muslim.

Kalau menurut saya, kalau sudah dianggap patut memberlakukan standar kehalalan vaksin ini, silakan saja. Tapi apakah ada vaksin Covid-19 yang halal? Kalau belum bisa tersedia untuk semua, ya artinya kita masih dalam kondisi darurat dong!

Dengan terus memaksakan masyarakat muslim mengonsumsi vaksin haram, pemerintah sendiri gagal dalam mematuhi UU Jaminan Produk Halal dan Jaminan Perlindungan Konsumen dalam hal ini umat muslim. (*/)

Pandemic Diary: Mudik ‘Balas Dendam’ Terheboh dalam Sejarah Jadi Akhir Pandemi RI?

DENGAN kemunculan varian baru di AS dan lockdown di Shanghai China akibat merebaknya Covid-19 lagi, Indonesia menikmati keberuntungan dengan diizinkannya masyarakat untuk kembali mudik.

Tak kurang 79 juta orang kembali ke kampung halaman secara gila-gilaan di akhir bulan Puasa dan April 2022 lalu. Jumlah ini konon memecahkan rekor.

Dan memang terjadi kekacauan di berbagai titik jalan yang menjadi rute mudik di Jawa. Terutama memang Jawa sih yang tingkat mobilisasinya sangat tinggi.

Akibat kemacetan yang tak tertahankan di ruas tol Cipularang Bandung-Jakarta, sempat ada pengemudi stres dan mencak-mencak nggak karuan di sana.

Menurut detik.com, tol Cikampek-Bandung macet karena dampak sejumlah pengguna jalan tol yang dari Bandung-Jakarta protes turun ke jalan karena terlalu lama tidak bisa masuk tol Cikampek pada hari Jumat (29/4).

Pemerintah memang menyarankan halal bihalal dilakukan dengan Protokol Kesehatan. Tidak ada makan-makan apalagi mengobrol.

Menurut Medcom.id, aturan halal bihalal Lebaran 2022 adalah sebagai berikut:

  • PPKM level 3: maksimal tamu 50 persen dari kapasitas
  • PPKM level 2: maksimal tamu 75 persen dari kapasitas
  • PPKM level 1: maksimal tamu 100 persen

Untuk acara makan bersama juga diatur. Jumlah tamu dengan jumlah di atas 100 orang, makanan dan minuman harus disediakan dalam kemasan yang bisa dibawa pulang. Serta tidak boleh ada makanan atau minuman yang disajikan di tempat (prasmanan). Intinya buka masker di tempat yang sama tak diperbolehkan.

Tapi pada praktiknya sih ya tidak memungkinkan dilakukan. Masyarakat sudah merasa pandemi ini berakhir karena pemerintah mengendurkan larangan ini itu, masker juga tak dipakai tak masalah menurut mereka, karena vaksin menjadi alasan untuk merasa aman membuka masker. Kalau yang sudah sejak dulu tak percaya Covid sih malah makin membandel.

Lalu arus kembali ke Ibu Kota juga sama puyengnya. Tol Cikampek macet lagi menurut Sindo News.

Itulah kenapa ini bisa dikatakan mudik paling heboh sepanjang sejarah modern. Populasi makin banyak, pemudik beranak pinak, dan semua ingin menghemat biaya mudik dengan menggunakan mobil pribadi (karena cukup bayar bensin saja katanya).

Volume pemudik darat memang menggila karena di bandara kenaikan pemudik tak begitu signifikan sepengetahuan saya. Suasana bandara baik saat saya berangkat dan pulang terlihat sama saja. Arusnya datar. Tidak ada antrean panjang. Yang tentu saja melegakan saya sebagai pengguna moda transportasi ini.

Apakah pandemi sudah usai di bumi Indonesia?

Mungkin saja. Tapi tak menutup kemungkinan juga bakal ada lagi lockdown jika jumlah kasus naik dan varian baru muncul. Ah, memang tiada henti pandemi ini. (*/)

Pandemic Diary: ‘Revenge Traveling’ yang Bikin Pening

WARGA +62 sedang euforia dalam hal melancong akhir-akhir ini. Apalagi level PSBB sudah diturunkan. Makin menjadi-jadilah pelampiasannya.

Dan berita yang konyol saya dengar hari ini soal sepasang laki bini dari Samarinda Kalimantan Utara yang dinyatakan positif terkena Covid-19 sehingga mereka ditolak untuk masuk Bali.

Tapi gilanya alih-alih berdiam diri di rumah sampai terbukti negatif, eh mereka ubah destinasi ke Malang dan tetap melancong ke Batu dan bersenang-senang di sana sembari menyebarkan virus di sepanjang jalan. Haha.

Akibatnya begitu mereka terlacak, mereka langsung diciduk polisi. Dikenailah mereka pasal 93 UU Karantina dengan sanksi 1 tahun pidana dan denda Rp100 juta.

Mereka datang ke Malang dan mereka menjalani rapid test yang disediakan Polresta Malang Kota.

Hal ini terkuak juga akibat keluarnya postingan di Instagram soal keduanya yang positif tapi masih leluasa ke luar dan berjalan-jalan.

Sinting memang kelakuan orang-orang sehabis pandemi ini. (*/)

Menulis Jangan Pamrih Harta Apalagi Ketenaran

Ah masak iya?

KALAU ditanya, apakah yang kita mau dari menulis? Yang pertama terbersit dalam otak pastinya adalah mau terkenal, mau kaya.

Patut dimaklumi kok karena media massa juga mengeksploitasi berita soal penulis yang secara finansial memang mencengangkan dan sering diundang ke acara-acara publik penting baik di televisi maupun kanal YouTube atau akun media sosial populer.

Tapi di samping harta dan kepopuleran, apa sih yang bisa kita dapatkan dari aktivitas menulis?

Bagi saya, menulis sendiri merupakan kegiatan yang tidak sekadar keren untuk diri sendiri tapi juga demi kepentingan generasi mendatang. Generasi yang membutuhkan catatan informasi dan pengetahuan serta pengalaman kita sebagai warga dunia di era pandemi abad ke-21 ini. Haha.

Ini era yang sangat unik. Masyarakat dunia sudah tak mesti saling berperang. Kondisi relatif aman tenteram, peperangan besar-besaran juga belum ada sejak tahun 1945. Wacana Perang Dunia III seolah masih fiksi futuristik.

Dan karena tidak ada ancaman keamanan dari sesama manusia dari peperangan hebat, kita beranak pinak sampai tak terkendali sehingga bumi harus menanggung akibat dieksploitasi demi memberi makan hampir 7 miliar manusia.

Kita juga tak harus pusing memikirkan apa yang harus dimakan besok. Kita relatif aman sentosa.

Maka Coronavirus pun bertindak untuk sekadar mengisi catatan sejarah dengan sedikit pelajaran hidup umat manusia.

Karena itulah saya sempat menuliskan beberapa catatan soal kondisi pandemi di blog ini dengan label “pandemic diary“. Ya sekadar sketsa yang bisa menggambarkan kondisi peradaban di saat dipaksa berkonfrontasi dengan koloni makhluk hidup mikroskopik yang sangat menular dan mematikan bagi sebagian yang lemah dan rentan.

Rasanya mungkin asyik melihat entah 20 atau 30 atau 40 atau 50 tahun lagi, blog ini dibaca lalu dikutip seseorang yang tak saya kenal karena ia belum lahir sekarang tapi ingin memaparkan sekelumit soal zaman Coronavirus ini.

Betapa saya juga ingin mengatakan ambivalensi mengenai pencabutan kebijakan pemerintah untuk memberlakukan penghapusan cuti bersama Natal dan Tahun Baru 2022.

Di satu sisi, wah bagus deh buat memulihkan pertumbuhan ekonomi. Roda ekonomi sudah seret dan karena sekarang sudah mulai dirilekskan pembatasannya, aliran uang, produk dan jasa makin lancar jaya. Sesuatu yang patut disyukuri bagi kita yang merasakan kesulitan ekonomi maupun aspek lain dalam hidup akibat penerapan PSBB atau PPKM yang berseri.

Tapi di lain sisi juga ada kecemasan yang berdesir halus dalam benak. Benarkah ini sudah aman? Jangan jangan… Karena sesungguhnya tiada satu orang pun bisa memastikan apakah memang kondisinya sudah sepenuhnya aman atau belum untuk euforia lagi.

Ya sudahlah, mari kita tidak usah khawatir hingga tiba saatnya memang sudah harus khawatir. Yang penting siap saja untuk berbagai skenario. Mau yang terbaik siap. Mau yang terburuk juga kuat. Namanya hidup kan? Tak bisa maunya enak melulu. (*/)

Pandemic Diary: Selamat Datang Omicron…

Photo by Andrew Neel on Pexels.com

GELOMBANG ketiga diprediksi akan terjadi Desember ini karena ya pas banget lah dengan musim liburan akhir tahun. Dari sejarah juga memang pandemi itu bisa pasang surut sampai benar-benar lenyap. Jadi, gelombang ketiga ini memungkinkan terjadi ya apalagi masih ada yang ogah divaksin. Haha. Zaman udah secanggih ini tapi sisi dungu umat manusia tetaplah melekat.

Di sisi lain, karena pemerintah sudah trauma disalahkan, mereka lalu ancang-ancang memberlakukan penghapusan cuti bersama Nataru alias Natal dan Tahun Baru (singkatan apalagi sih ini? Dasar orang Indonesia males ngetik panjang).

Saya baca di banyak media, ada satu varian baru Coronavirus yang muncul dan terdeteksi (hanya Tuhan yang tahu berapa banyak sebenarnya sekarang varian mutasi Coronavirus). Konon ia 5 kali lebih menular katanya daripada virus asalnya di Wuhan. Varian Delta yang kemarin itu kalah. Top deh! Gemoy nggak sih!

Namanya Omicron.

Ditemukan pertama kali di Botswana dan Afsel, varian anyar ini cukup menggemparkan karena itu bisa berarti bakal naik lagi kurva yang sudah melandai.

Dan bagaimana karakter sebenarnya si varian Omicron? Sayangnya belum ada yang paham 100% karena ya butuh waktu aja untuk bisa meneliti perilaku Omicron ini.

Yang patut diwaspadai ialah jika varian Omicron ini bisa tahan kekebalan yang sudah dibentuk oleh vaksin-vaksin yang sudah disuntikkan ke jutaan orang. Itu artinya ada kemungkinan gelombang ketiga akan terjadi dan vaksin sia-sia. Tapi itu baru skenario terburuk saja. Tentu kita berharap vaksin yang ada masih bisa membendung si Omicron. Tapi tidak ada yang bisa menjamin juga sepenuhnya.

Namun, Omicron tetaplah Coronavirus jadi vaksin yang sudah kita terima dalam tubuh pasti memberikan efek perlindungan. Hanya saja, persentase efektivitas vaksin yang kita terima seberapa? Itu yang belum tahu. Plus, vaksin juga bisa menurun efek proteksinya seiring berjalannya waktu. Makanya kita butuh vaksin booster.

Terus banyak orang bertanya: “Gimana dong caranya membendung penyebaran Omicron ini?”

Ya mau varian apapun itu, tetap terapkan 3M dengan ketat sih. Tidak ada alasan untuk kendor. Karena kalau kendor yang bayar ‘ongkos’ kita juga sendiri.

Di Afsel sendiri kenaikan kasus terjadi karena selain muncul varian baru ini juga karena tingkat vaksinasi masih 29% dari populasi total dan ada acara yang bersifat kerumunan yang memicunya. Jadi kalau kita mau berkata konser offline bakal bisa digelar sebentar lagi, tunggu dulu lah. Daripada menyesal.

Meski katanya WHO Omicron ini cuma menimbulkan gejala yang lebih ringan tapi mereka lebih cenderung ditemui di anak-anak muda yang kekebalan tubuhnya masih relatif prima dibanding kelompok lansia.

Tapi yah mau varian apapun itu kalau di Indonesia sih life must go on. (*/)

Capek Mata Boleh. Capek Hati Jangan.

SEORANG teman di kantor lama mengeluhkan kesehatn matanya terganggu akhir-akhir ini.

Pandangannya buram. Tak sejernih biasanya. Lalu terasa matanya kering.

Usut punya usut setelah ke dokter mata, ia divonis mengalami kelelahan mata.

“Kamu kalau work from home seharian di depan laptop ya? Kalau nonton Netflix sambil tiduran miring ya?”

Fix, diagnosisnya akurattt!

Semua kebiasaan buruk teman saya tadi sepertinya juga menjadi bagian kebiasaan kita dan termasuk saya juga sih😅

Saya selalu mengingatkan diri sendiri agar mematikan lampu dan ponsel sebelum tidur karena saya bisa juga mengalami keluhan yang sama kalau saya tak cegah dari sekarang.

Karenanya saya sesekali merehatkan mata dari laptop dan ponsel. Sekadar menyaksikan langit dari atap rumah. Seperti yang saya saksikan sore ini. Tidak ada sunset yang spektakuler sih tapi lumayan menghibur.

Selamat berakhir pekan!😘

Pandemic Diary: Kembali Ngantor? Bagaimana dengan Viktor?

Era WFH akan berakhir?

SEJUJURNYA saya merasa tidak ada yang hilang dalam hidup sejak kebijakan kerja dari rumah diberlakukan.

Saya sangat sangat menikmatinya bahkan. Karena inilah impian saya sejak lama.

Dan sekarang, setelah vaksinasi makin meluas, muncul wacana akan membuka kembali kebijakan kerja di kantor.

Sementara itu, bagaimana pandemic pet aku???

Apakah bijak meninggalkan Viktor sendirian di rumah selama bekerja seharian?

Ah, sungguh buah simalakama memang.

Pandemic Diary: Pemerintah, Mohon Bergunalah…

VAKSINASI masih terus digalakkan tapi katanya kesenjangan masih lebar. Selebar kesabaran masyarakat menanti dosis pertama dan kedua mereka.

Sementara vaksinasi gencar di Jawa dan Bali, program ini katanya sih kendor di luar dua pulau tadi. Lama dan bikin orang-orang dari sana nggak bisa bepergian karena syarat naik pesawat sekarang pakai sertifikat vaksin. Setidaknya sekali.

Kemarin baca berita juga bahwa Jakarta sudah mencapai kekebalan kelompok dan kasus menurun tajam. Ya bagus sih tapi, emangnya Indonesia Jakarta doang?!

Pemerintah kayak keteteran banget buat memeratakan vaksinasi. Unsur keadilan itu susah diwujudkan.

Sementara rakyat jelata mengantre, segelintir orang pamer vaksin ketiga mereka padahal bukan tenaga kesehatan juga kerjanya. Just because they have privilege. This country is so vucked up.

Sementara itu, koruptor Juliari Batubara dan keluarganya merengek dikurangi hukumannya karena merasa sudah sangat menderita dirisak rakyat. Owhh hellowww?!

Sebagai politisi, jangan cuma siap menerima fasilitas mewah saja dong. Siapkan juga mental dan keluargamu semua kalau ada risiko kena kasus. Kalau nggak, nggak usah jadi politisi kaleee!

Akhirnya cuma diganjar 12 tahun. Dikasih 120 tahun pun kayaknya nggak setimpal bagi orang-orang kecil yang bansosnya ditilep.

Jangan sampai kita lupa bahwa ada banyak fakir miskin dan anak yatim di masa pandemi ini yang mati dan nggak bisa makan karena orang-orang mental korup macam Juliari.

Platform Kitabisa seolah menjadi alasan pemerintah cuci tangan dari ketidakbecusan mereka menangani kemiskinan pandemik ini. Ya sesama rakyat memang masih bisa membantu tapi kalau kamu sebagai pemegang mandat nggak bisa mengelola uang rakyat dan membiarkan koruptor begini berkeliaran dan cuma dihukum ala kadarnya, bagaimana negeri ini mau bebas korupsi?!!! (*/)

Pandemic Diary: Serba-serbi Jaga Kesehatan Mental Selama Pandemi

KESEHATAN MENTAL seakan menjadi topik yang hot akhir-akhir ini.

Ya siapa yang nggak terganggu mentalnya saat begini sih? Sekalipun manusia yang bermental baja pun pasti ada kena sedikit banyak kan. Mustahil 100% nggak terdampak. Itu denial.

Saya sendiri mencoba untuk menjaga kewarasan dengan mencoba kiat-kiat yang diberikan dr. Zulfia Syarif SpKj. berikut:

  1. Fokus pada hal yang bisa dikendalikan: Pandemi penuh dengan hal-hal yang nggak bisa kita kendalikan sepenuhnya. Maka setop terlalu control freak terhadap segala hal dalam kehidupan atau kesehatan mental kita jadi tumbalnya. Fokus pada hal-hal yang bisa kita lakukan misalnya melaksanakan protokol kesehatan, berdiam di rumah dulu, ikut vaksinasi, dan sebagainya.
  2. Berdiet berita dan media sosial: Orang kerap cemas tatkala terlalu sering mengonsumsi berita di media sosial. Jangan mencari informasi apalagi memercayai informasi di grup WhatsApp atau media sosial. Dapatkan informasi dari sumber berita yang Anda percayai misalnya kantor berita yang sudah teruji kredibilitasnya dan batasi konsumsi konten atau berita di luar itu. Batasi juga waktu konsumsi berita. Jangan membiarkan diri scroll dan larut begitu saja dalam isi percakapan di grup WhatsApp.
  3. Fokus pada kegiatan positif: Mental bisa lelah saat fokus pada hal-hal yang sudah kita tak bisa lakukan selama pandemi. Di saat begini, gantilah fokus pada hal-hal yang masih bisa kita nikmati dan lakukan. Jika harus bekerja dan beraktivitas di rumah, ya sudah nikmati saja. Nikmati saat-saat harus bersama keluarga di rumah karena hal itu tak bisa terjadi setiap hari sebelum pandemi.

Terus terang saya sendiri juga sudah berusaha melakukannya dengan menghabiskan waktu di rumah untuk belajar hal-hal baru di rumah, membaca buku-buku yang tak pernah saya baca sebelumnya, dan lebih bijak lagi saat dihadapkan pada banjir informasi di media sosial. Kita harus mindful atau sadar dan eling saat baca berita. Kita harus ingat bahwa faktanya saya sendiri masih sehat dan menghalau kecemasan yang tidak perlu dan tidak pasti bakal terjadi juga. (*/)

Pandemic Diary: Vaksinasi Bikin Keki

Jaga jarak hanya konsep semata

VAKSINASI memang digadang-gadang sebagai penggulung pandemi. Tapi dengan tingkat efikasi yang masih rendah plus mutasi virus yang memunculkan varian anyar yang seakan tiada habisnya, vaksinasi seolah cuma harapan semu.

Bahkan vaksinasi malah bisa jadi sumber kerumunan yang memicu penularan yang lebih luas lagi.

Tak percaya?

Lihat saja ini semua.

Klaster vaksinasi potensial

Sebenarnya mau memberi apresiasi tapi saya juga tak mau menutup mata bahwa ada yang harus diperbaiki.

Saya tak percaya bahwa vaksinasi bisa dilakukan dengan taat protokol kesehatan yang ketat. Dan memang begitulah adanya.

Tidak udahlah bicara soal masyarakat di Indonesia ujung berung. Di sini yang cuma sejam dari Jakarta saja sudah rendah edukasinya soal jaga jarak.

Kendor akibat bosan menunggu

Saya mendaftar vaksinasi di dekat rumah dan di kantor kecamatan ini kerumunan terjadi.

Saya datang 30 menit sebelum dibuka dan sudah panjang lho antreannya.

Kemudian yang menyebalkan adalah semua tak bisa jaga jarak. Petugas pun tidak paham konsep itu dan cuma koar-koar tanpa ambil tindakan tegas.

Proses pendaftaran juga primitif. Pakai fotokopi. Entah sampai kapan cara begini masih dipakai. Abad ke 21 dan Revolusi Industri 4.0 dan kita masih pakai fotokopi untuk birokrasi ke mana-mana. Saya mengutuk kekolotan bangsa ini soal itu. Adiksi fotokopi ini sungguh menjengkelkan. Sungguh!

Kenapa tak pakai registrasi via whatsapp? Dan kenapa tak disampaikan berapa kuotanya?

Di tengah mengantre, kami diberitahu: “Maaf bapak ibu yang tidak bisa menunggu lama, bisa besok ke sini lagi.”

Alangkah baiknya diumumkan sehari vaksinasi jumlah maksimal berapa orang sehingga bisa dicegah antrean yang tak perlu. Sungguh saya tak habis pikir!!!

Ibu-ibu penyerobot

Vaksinasi juga menguak sifat asli bangsa ini yang tak suka mengantre. Semua maunya didahulukan. Kesal rasanya dengan sikap barbar begitu.

Seperti ibu ibu ini. Dia mengantre di belakang saya dan karena saya berupaya jaga jarak dengan orang di depan, dia pikir itu celah untuk menyela antrean.

Makin murkanya saya lagi ialah saat mengantre gegara saya jaga jarak dari petugas, ia selalu mendahulukan yang merapat ke arahnya. Iya itu petugas resmi vaksinasi. Paham tidak sih soal jaga jarak?

Jajan di lokasi vaksinasi

Sembari menunggu antrean, muncullah pedagang oportunis dari kelapa muda sampai pecel. Tentu saja saat menawarkan dagangan dan melayani pembeli, masker turun. Haha.

Petugas vaksinasi tapi kok ikut jajan, ngobrol dan buka masker?

Yang membikin saya tambah geli geli kepengen nabok ialah saat seorang petugas pendaftaran rehat dan membeli es kelapa muda lalu menurunkan masker, minum dan mengobrol. Haha.

Kerumunan begini memang sudah susah diatur. Petugas tak berdaya. Bisanya koar-koar pakai TOA. Tak digubris.

Keluhan utama saya adalah tata cara dan alur vaksinasi yang tak jelas. Di sini jalur arus masuk dan keluar jadi satu dengan orang yang mengantre. Jadi amburadul sekali. Petugas selalu bilang jaga jarak dan jangan berkerumun tapi bagaimana bisa jika tidak dijelaskan alur yang jelas?!

Persyaratan juga membingungkan. Ada warga datang dengan bawa salinan KK saja dan tak diperbolehkan tanpa ada salinan KTP. Padahal di pengumuman ada garis miring yang artinya ya bisa pilih salah satu salinan.

Nggak heranlah kalau ternyata memang terbawah dan terparah di peringkat ketahanan terhadap covid.
Speechless…😬

Di titik ini, saya ingin menjerit: “Kenapa sih Tuhan aku dilahirkan di sini?!!!”

Di hari kedua pasca vaksinasi perdana, saya tak merasakan demam atau pegal berlebihan di lengan kiri bekas tusukan jarum suntik.

Baru saya perhatikan memang muncul tanda lebam seperti habis dipukul.

Anehnya saya sendiri masih terus berolahraga tadi padahal kata teman, baiknya habis vaksinasi istirahat. Tapi bagaimana ya? Kalau kebanyakan istirahat juga badan jadi lesu.

Yang membuat saya tak habis pikir ialah saat menjelajahi akun Instagram pemerintah kecamatan tadi. Lho kok yang diunggah foto-foto saat antrean belum membludak dan menggila? Haha.

Sebelum antrean membludagh…
Jelas ini bukan antrean pukul 8 yang saya saksikan tadi..
Terlihat terkendali tapi cuma ilusi..

Saya tidak berkata pemerintah kecamatan tadi mencoba menipu publik tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa mereka memilih untuk menunjukkan versi kebenaran atau fakta yang menguntungkan mereka.

Dan dari sisi saya sebagai warga sasaran vaksin, saya juga berhak menjelaskan apa yang saya alami dan apa yang bisa diperbaiki lagi dari itu semua. (*/)

%d bloggers like this: