Catatan Harian Berusia 131 Tahun Paparkan Letusan Krakatau dan Penderitaan Warga Lampung-Banten

PERNAH saya ditanya mengapa budaya menulis dan membaca di masyarakat Indonesia masih rendah padahal bangsa lain sepertinya melaju pesat.

Saya jawab dengan hasil refleksi dan pengamatan saya sendiri bahwa budaya komunikasi manusia Indonesia adalah budaya lisan, oral, ngomong, ghibah. Bukan budaya yang menulis, surat-menyurat, korespondensi, dan sejenisnya. Sebelum budaya membaca tertanam dalam, bangsa kita sudah kemasukan televisi, radio, dan sekarang Internet dan media sosial. Bye!

Maka dari itu sampai sekarang ada saja orang yang masih lebih nyaman menggunakan voice notes daripada mengetik jawaban mereka di aplikasi chat. Saya kenal beberapa orang seperti ini. Mereka biasanya sangat menyukai berbicara. Jago banget lah kalau disuruh menjelaskan, mempersuasi, mengobrol dari A sampai Z.

Tapi kadangkala kita bisa menemukan karya-karya tulis bangsa kita yang sebenarnya dari tradisi oral itu hanya saja dibukukan jadi kita masih bisa menikmati sampai sekarang.

Salah satu karya tulis yang langka ini ialah sebuah karya syair berjudul “Lampung Karam” ditulis Muhammad Saleh di 131 tahun lalu tatkala Gunung Krakatau meletus di Selat Sunda dan menjadi legenda karena kekuatannya yang begitu hebat dan dampaknya pada seluruh permukaan planet ini pada saat itu.

Ditulis dalam bahasa Arab-Melayu di Temasek (Singapura dulu kala), syair Saleh tadi mengandung pelajaran hidup dan catatan historis yang mirip jurnal/ diari mengenai kehidupan dan perilaku manusia selama peristiwa alam yang legendaris tersebut.

Tapi sayangnya syair yang terdiri dari 100 bait ini bisa diangkat lagi bukan karena disimpan anak bangsa di negara ini tapi disimpan Belanda di perpustakaan Universitas Leiden. Seorang dosen bernama Suryadi Sunuri menemukannya tahun 2005.

Dalam syair “Lampung Karam”, Saleh menceritakan bagaimana para warga sekitar Selat Sunda di Lampung berlari menyelamatkan diri begitu Krakatau mengamuk. Mereka harus nelangsa saat mengungsi karena ada pemilik rumah yang merasa keberatan menampung orang asing. Diceritakan juga kisah pengungsi yang memakai sebuah piring yang retak sampai kuah sayurnya tumpah. Sebagian pengungsi ada yang harus rela tinggal sementara di gua-gua karang, di bawah rumah panggung orang lain, tidur saling bertumpuk sebab keterbatasan ruang berlindung. (*/)

Remembering the Late Sapardi Djoko Damono (SDD)

Sapardi Djoko Damono, an Indonesian poet and giant literary figure in Indonesia, seated holding a cane with Redi of Universitas Diponegoro, my almamater. (photo credit: Redi)

Pada Suatu Hari Nanti

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari
(SDD)

That is the poem Sapardi wrote. Roughly translated, this is how it reads in English.

“ON A DAY IN THE FUTURE”

On a day in the future

My body will no longer exist

But in these stanzas

I will never let you alone

On a day in the future

My voice will no longer be heard

But between these stanzas

I will remain on your mind

On a day in the future

My dreams will no longer be known

Yet between letters in this poem

I will never get too tired to search you


(SDD)

Pak Sapardi came into my life when I was taking my Master’s between 2006 and 2009.

He taught “Literary Sociology” course in my probably second year of study. Soon I was in contact with him in person while he was teaching as an honorary guest lecturer.

As I was approaching the end of my study, I picked a novella titled “A Bird Named Enza” written by Dawn Meier as the subject of my thesis research and the novel recounts the Spanish Flu pandemic in 1920s (and I still cannot believe that I am living the life of the people I read in the novella at the very moment) and I analyzed it from the sociological standpoint.

As a lecturer, Pak Sapardi was respectable and had a wealth of literary knowledge that no one could surpass as far as our faculty was concerned. He was super seasoned, eloquent, versatile (he was a novelist, too) and articulate, making him a great performer and public speaker.

What I remember most about him is obviously his humility and simplicity.

His humility is shown by his attitude and tone while conversing with us in and outside of classes. He loved to share and teach and lecture. You can see him lecturing without us students feeling lectured or tutored. No stress, no intimidating jargon. No academic showoff.

Simplicity is his admirable second nature reflected mostly in his words. Despite his being a literary giant, he hardly ever talked to us his young students with words that are out of our grasp or beyond our ken.

I can tell he just showed us that he embodies what rice should be. Rice stalks with most seeds bow lowest.

We cannot miss you and your poems more, pak.

Au revoir!

Hanya untuk Hiburan dan Silaturahmi

BEGITU pernyataan resmi Disdukbud Banten tentang pemberian hadiah yang berupa dua lembar serbet untuk seorang pemenang lomba baca puisi di sebuah acara yang mereka selenggarakan beberapa waktu lalu.

Alasan lainnya ialah bahwa lomba itu untuk kalangan internal saja.

Lalu kenapa ada orang lain di luar instansi yang bisa masuk dan ikut serta? Tidak masuk akal. Kalau begitu diumumkan secara terbuka sebelum lomba dan ada pemberitahuan hadiahnya berupa apa.

Ditambahkan bahwa hadiah yang ada bersifat spontan karena tak ada anggarannya.

TIDAK ADA ANGGARAN???!

Banten nasibmu.

Jika ada hal yang bisa dilakukan oleh mereka untuk memperbaiki situasi ini adalah memberikan hadiah yang lebih layak bagi pemenang yang mahasiswa itu.

Kenapa?

Agar ia tak patah arang jika di masa datang memang ingin merintis ‘karier’ sebagai sastrawan. Dan agar tak ada orang-orang muda yang menyaksikan ini dan bergumam:”Sastra memang tidak ada harganya dan tidak bisa menghidupi manusia. Cuma bisa sebagai pembersih kotoran layaknya selembar serbet.”

Padahal manusia-manusia dengan pemikiran dan nurani yang tak bisa diperbaiki lagi semacam birokrat-birokrat itulah yang lebih tidak berguna daripada serbet yang setidaknya bisa memberikan faedah.

Dan jangan tersinggung juga kalau ada yang membaca ini. Kan cuma untuk hiburan dan silaturahmi? (*/)

 

Yang Terkurung Tapi Terlindung

Si Cantik (15)

Terus mencoba dan gagal melayang

Berulang-ulang hingga rasanya mau patah arang

Burung-burung yang belum matang

Sayap mereka lemah saat terkembang

Hingga satu saat mereka hendak pasrah

Karena otot terasa lelah melemah

Tak mereka nyana sayap bukannya patah

Malah membuat terbang makin terarah

“Bebas itu di atas!”

Cuit mereka lepas

Enaknya bergerak tanpa alas

Mengepak di lapisan udara dingin dan panas

Ah lihat, itu si Burung Emas!

Sangkar emas tak jua membuatnya lemas

Terkurung tetapi tak tampak murung

Terkungkung tetapi tak tampak linglung

“Aku terlindung!”

%d bloggers like this: