‘Klitih’, ‘Perang Sarung’, ‘Tawuran’, ‘Geng Motor’: The Violence Culture Gets Explained

Yogyakarta culture looks so lofty and amazing and intricate but we need to see the other side of coin. (Wikimedia Commons)

KLITIH used to mean something good, harmless. “Klitah klitih” means “to move to and fro looking for something, mostly for hangout spots”. But now it refers to a criminal act towards teenagers in Yogyakarta in early hours in the morning.

For years it’s been all rage but nothing substantial was done to combat the horrible social trend. From January to April 2022, there have been 12 cases of klitih. There have been 7 casualties since 2016. It doesn’t seem many but if it’s about life, losing one is too many. Especially these youngsters.

This is quite an irony because Yogyakarta, the epicentrum of klitih, is known for being a city of students, a home to several famous universities. How can a place be a civilized, erudite, educated yet violent at the same time? This is a big question to answer.

What makes klitih different from tawuran is it is a fight organized and carefully planned between two gangs from two schools or areas. So they already know their targets.

But klitih practitioners and victims are not familiar with each other. Victims are chosen randomly on street. They have no specific target. Anyone they meet on street could be victims. Even an adult can be an easy prey of these teenagers.

Perang Sarung is now also on the rise in Yogyakarta. Sarung is a sarong, a piece of cloth or fabric to cover the lower body of male muslims while praying. But here, teenagers fill their sarongs with sharp objects to hurt or kill others.

Seniority culture in schools in Yogyakarta has been said to be the cause of the street violence tradition. Freshmen/ juniors are recruited by seniors of a school to attack students of other schools that have had a long history of rivalry. Indoctrination is rampant under ground, unbeknownst to teachers, principals, and authorities, even their own parents. Or perhaps parents or guardians of these kids don’t even care at all.

Meanwhile, geng motor is defined as a gang consisting of youngsters that like to showcase their motorbikes on public streets. In Yogyakarta, this is not as rampant as klitih.

The regent of Sleman has recently signed a rule of curfew for people, prohibiting everyone especially teenagers getting out of their home from 10 pm to 4 am.

Is this enough?

Maybe not. We have not addressed the root of the problem at all.

Such rule has existed before but no substantial changes are seen. (*/)

(Un)Happy Earth Day!

PERINGATAN hari bumi tahun ini dalam suasana bulan Ramadan 2022.

Apa yang sudah berubah dalam beberapa tahun ini terkait dalam pelestarian lingkungan hidup di negara kita?

Rasanya kok tidak banyak ya. Masih jalan di tempat. Entahlah dengan yang Anda rasakan tapi saya sih begitu.

Bangsa kita sedang pusing dengan pertumbuhan ekonomi yang dirongrong oleh pandemi. Para petinggi cari berbagai siasat agar pendapatan negara kembali naik dan utang-utang bisa dilunasi. Sebagian pajak dinaikkan, sejumlah jenis bahan bakar dinaikkan harganya, sampai pergolakan sosial politik terus berekskalasi. Seperti bisul yang mungkin akan sebentar lagi pecah dan keluar nanah.

Di bidang lingkungan, mari kita lihat kepemimpinannya. Di tangan menteri perempuan, ternyata kok nggak ada perbaikan signifikan dalam menangani lingkungan. Ekspektasinya ibu-ibu bisa merawat lingkungan dengan semangat keibuan, eh ternyata malah lain kenyataan.

Ibu Menteri Lingkungan Hidup dikabarkan kena semprot warganet tahun lalu (sumber) karena mengeluarkan pernyataan di Twitter bahwa deforestasi tak boleh dihentikan atas nama emisi karbon.

Loh loh? Gimana???

Menghentikan pembangunan atas nama zero deforestation sama dengan melawan mandat UUD 1945 untuk values and goals establishment, membangun sasaran nasional untuk kesejahteraan rakyat secara sosial dan ekonomi- Siti Nurbaya

Sungguh mengecewakan. Bukannya menghentikan atau setidaknya memperlambat laju deforestasi tapi malah nge-gas! Demi rakyat katanya. Tapi banjir bandang dan longsor di mana-mana kalau musim penghujan. Yang menikmati untung besar ya cuma lingkaran oligark. Akar rumput kalau terciprat untung juga paling seujung jari.

Tahun ini juga dikabarkan wilayah Sumatera Barat mengalami darurat deforestasi yang hebat (sumber). Demi ekonomi yang digenjot perkebunan dan alih fungsi lahan, hutan primer seluas setengah juta hektar lenyap.

Lip service dalam pengelolaan lingkungan masih terjadi secara merajalela. Pemerintah sih memang sudah menandatangni COP Glasgow tapi biasalah, orang Indonesia beda antara bibir dan perbuatan.

Menurut Walhi, RI berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca 29% di tahun 2030 tapi sepertinya itu mustahil karena justru UU Cipta Kerja melawan komitmen itu. Entah argumen apa yang nanti pemerintah bakal berikan kalau ditanya soal komitmen ini.

Bahkan yang lebih mengenaskan ialah penggunaan batubara yang masih akan terus berlanjut sampai 2050. Menurut Walhi ini terlalu lama dan bisa membuat kondisi bumi makin kritis.

Tapi nggak masalah lah ya. Karena para pembuat kebijakan sekarang pada tahun 2050 pasti sudah tidak ada di muka bumi ini jadi biarlah itu ditanggung anak cucu nanti.

Sementara itu, pencemaran sampah plastik terjadi terus-menerus. Penanganan sampah di berbagai daerah di Indonesia masih sangat tertinggal. Sampah plastik membanjiri laut, danau, saluran air, masuk ke makanan dan minuman. Sangat memprihatinkan. Tapi teruskan saja sampai benar-benar ada bencana lingkungan yang berskala besar karena CUMA dengan begitu barulah kita tergerak untuk bersatu padu. Pemerintah akan lebih memberikan prioritas, masyarakat juga akan lebih mendengarkan. Tapi masalahnya kapan?

Apatisme memang berbahaya dalam penanganan lingkungan hidup dan pelestarian bumi. Karena kita harus tetap optimis. Tapi optimis sendiri tanpa dibarengi kepedulian dari orang lain juga melelahkan.

God, please save us from ourselves and our ignorance. (*/)

Ulama Berpolitik? Pantaskah? Begini Jawaban Bapak Sosiologi Ibnu Khaldun

PERNAH denger ada kyai yang marah-marah di YouTube karena ada pihak yang mencibir ulama yang terjun ke politik. Katanya dengan nada keras dan penuh kemarahan: “Itu ajarannya Belanda. Dulu mereka ingin supaya ulama nggak ikut campur ke politik supaya bisa menindas rakyat dan rakyat nggak bisa diberdayakan ulama. Jadi kalau sekarang ada yang ngomong gitu, jangan mau! Itu pemikiran penjajah!!”

Tapi kalau denger pendapatnya Ibnu Khaldun soal ulama yang tidak seharusnya terjun politik juga memang ada benarnya.

Kenapa?

Karena dunia ulama itu dunia idealisme dan intelektualitas, fokusnya ke ide-ide besar dan umum. Politik itu dunia pragmatis, mikirnya untung rugi, kepentingan sesaat, printilan duniawi tok.

Intelektual yang sejati nggak akan suka dengan politik, kata Ibnu Khaldun. Jadi kalau ada mengaku intelektual tapi kok mengejar jabatan publik, ya patut disangsikan komitmen dan konsistensinya sebagai intelektual. Nggak usah nyebut nama, kita tahulah orang-orang yang dulunya dikenal ilmuwan, ulama, akademisi tapi begitu terjun ke politik ya gitu deh. Sama aja ending-nya dengan orang-orang yang tanpa gelar bertumpuk-tumpuk.

Jadi kalau ulama dan akademisi kayak dosen, guru, rektor masuk politik ya biasanya kacau balau kerjanya. Buktinya sudah ada di mana-mana di negara ini. LOL…

Menurut Ibnu Khaldun, yang seharusnya masuk dunia politik itu orang-orang awam yang bukan orang yang unggul dalam pemikiran intelektual. Mereka ini paham betul bagaimana berpikir secara teknis dan praktis. Bukan idealis sebagaimana ulama dan akademisi.

Jadi kalau ada pilkada atau pilpres, menuruti saran dari Ibnu Khaldun, kita lebih baik pilih calon yang dari kalangan awam, praktisi, bukan ulama dan cendekiawan.

Kalau menurutku, ya memang nggak jadi politikus juga ulama dan akademisi masih bisa kok berpartisipasi dalam mengarahkan pemerintah ke jalan yang benar. Ya misalnya dengan memberikan konsultasi, arahan dan nasihat pada pemerintah di saat-saat genting kayak sekarang, saat negara makin turun empatinya pada rakyat dan nggak berdaya dalam menghadapi kartel, oligark, dinasti dan kelompok-kelompok yang secara egois mengutamakan kepentingan dan keuntungan mereka sendiri daripada kesejahteraan rakyat.

Karena sekali udah kecebur politik dan mencicipi kekuasaan, udah susah melepaskan. Kecanduannya lebih parah dari pecandu narkoba. Maunya nambah masa jabatan teros! Nggak peduli awalnya kelihatan sealim dan se-humble apapun. (*/)

“Don’t Look Up”, Satir Getir tentang Dunia yang Terpelintir

SELESAI menonton film yang dibintangi Leonardo Dicaprio dan Jennifer Lawrence ini, saya nggak habis pikir. Ini jenis film apa? Saya bingung apakah bisa menyebutnya fiksi ilmiah, futuristik, apocalyptic, tragedi, realis atau komedi? Karena film ini memuat semua elemen tadi secara merata kalau bisa saya katakan sebagai penikmat film amatir.

Uniknya film ini menyinggung semua orang di muka bumi, dari mereka yang menjabat sebagai petinggi negara adidaya sampai netizen jelata yang kekuasaannya cuma kekuatan jempol, hape dan kuota data/ wifi semata.

Film ini dengan sukses merangkum semua dagelan di panggung peradaban kita, tidak cuma di Amerika Serikat yang jadi latar belakang film ini tapi juga negara yang saya tinggali, Indonesia.

Di sini saya disuguhi olok-olok terhadap pers/ media dan integritas para awaknya. Media digambarkan begitu bobrok sampai memberikan bobot yang lebih banyak pada isu-isu romantika dan rumah tangga selebritas dan meremehkan masalah-masalah yang justru lebih penting bagi kemaslahatan kemanusiaan. Sebagai seseorang yang bekerja di dunia media, ini sebuah tamparan keras. Apakah separah itu ya media saat ini?

Lalu ada juga sindiran mengenai pemerintahan dan pejabat korup. Tapi anehnya manusia jelata di semua negara di dunia tak bisa lepas dari jeratan korupnya pejabat dan betapa tidak kompetennya orang-orang di pucuk pemerintahan itu seolah tidak ada pilihan lagi. Mereka memang bisa membuat rusuh, memberontak tapi cepat dilumpuhkan dan dibungkam lagi.

Yang paling getir adalah bagaimana kita tak bisa mengendalikan takdir kita tapi juga sekaligus bisa mengendalikannya pada taraf tertentu. Di sini kita seolah diberitahu bahwa teknologi tak bisa menjawab semua problem hidup kita. Ada banyak masalah pelik kehidupan yang cuma bisa dihadapi dengan kembali ke ‘akar’ kemanusiaan: kepercayaan pada adanya sesuatu di atas kita yang cuma manusia ini dan juga nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti kasih sayang, kekeluargaan, dan saling menghargai sesama makhluk hidup.

Film ini bagus dan layak ditonton jika Anda ingin merenungkan alasan kita ada di muka bumi ini. Kenapa kita lahir dan melakukan apa yang kita lakukan saat ini? Apakah mati harus dihindari sekuat tenaga atau direngkuh dengan sukarela? Apa nilai-nilai yang kita harus junjung tinggi dalam hidup dan mesti kita rengkuh lagi jika kita sempat khilaf agar hidup kita berakhir dengan bahagia dan yang terpenting, bermakna? Tapi apakah hidup kita ini memang punya makna atau baru ada makna jika kita memberinya? Entahlah, saya sebagai satu butir debu kosmis yang melekat di bumi ini sendiri tak punya jawabannya hingga detik ini. Dan mungkin memang tak wajib punya. Asal bisa hidup bahagia… (*/)

Ambivalensi Pria Indonesia, Tariq dan Fogging Gratis

Film kekerasan seksual yang ditulis pelaku kekerasan seksual. [Wikimedia Commons]

BEGITU selesai menonton film “Penyalin Cahaya” (2019) saya langsung mengetik tulisan bernada komentar ini karena saking gatalnya. Meski secara umum saya bisa katakan film ini cukup mencerminkan kenyataan penanganan kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan kampus, ada beberapa hal yang mengundang komentar dari saya.

Saya yakin sudah banyak orang yang menonton film satu ini karena hype atau keriuhan pemberitaannya sudah dari lama. Saya sendiri bukan movie goer yang menderita sindrom FOMO, yang merasa harus menonton sebelum yang lain karena takut dianggap ketinggalan. Kalau saya sih ketinggalan ya ketinggalan saja. Santai.

Terus terang saat memasuki adegan penghapusan hak beasiswa Sur akibat unggahan foto-foto mabuknya di media sosial itu, saya langsung berkomentar di Instagram stories saya bahwa inilah kenapa kita tak boleh mabuk-mabukan. Bang Rhoma Irama itu benar 1000%, kan? Tapi ya meski anaknya sendiri juga terjerumus di penyalahgunaan obat-obatan.. That’s beside the point.

Tapi sejurus kemudian saya menyadari bahwa reaksi itu muncul dari pikiran patriarkal saya yang tumbuh dan dididik di lingkungan yang mengagungkan sistem patriarki.

Saya sadar dengan berkomentar demikian ternyata saya tak berpihak pada Sur yang jadi korban pelecehan seksual di sini. Saya malah menyalahkan Sur dengan berfokus pada asumsi “coba kalau Sur nggak mabuk atau menolak minum alkohol, pasti dia nggak bakal tertimpa kejadian tragis kayak gini…”

Di sini saya menyadari bahwa saya masih memiliki pola pikir konservatif, bahwa minum miras setitik pun terlarang karena ada akibat buruknya bagi diri kita dan keluarga dan orang lain (bisa lihat kasus Gaga Muhammad).

Tapi untuk itu saya tak perlu meminta maaf sepertinya karena memang itulah keyakinan saya. Kalau di kitab suci dilarang, pastilah ada kerugian yang lebih besar daripada manfaat di balik sebuah benda terlarang tadi.

Namun, di sisi lain saya juga tak setuju dengan representasi konservatif di film itu yakni bapaknya si Sur yang memang relijius tapi kok tidak ada empati dan kasih sayang sama sekali buat anaknya. Ia terkesan cuek dan tak membela anak kandungnya sama sekali. Ia tampak tak punya tanggung jawab keuangan karena ibunya Sur yang menjalankan warung makan dan dia-lah yang pertama mengeluh saat tahu beasiswa Sur dicabut.

Representasi konservatif lainnya yang membuat jengkel ialah bapak dewan etika yang menjadi tempat Sur memberikan dokumen bukti pelecehan seksual. Lha dewan etika kok malah tak punya etika, menyebarkan dokumen amanah orang yang harusnya dijaga ketat?

Tapi di samping secuil pola pikir konservatif dan patriarkis tadi, saya juga memiliki keberpihakan pada Sur sebagai korban. Saya juga pernah jadi korban perundungan senior kampus dan itulah kenapa saya bisa memahami kemarahan Sur yang ingin menyelidiki kasus ini sampai tuntas benar meski akhirnya… [no spoiler sorry].

Saya juga ingin ada perubahan di budaya masyarakat dan kampus kita yang dari zaman dulu sudah kental senioritas. Dan ini payahnya kok tak berkesudahan meski sudah digembar-gemborkan aturan anti perundungan di lingkungan kampus. Dengan begitu saya termasuk punya pandangan yang progresif, liberal, dan terbuka juga sebenarnya.

Saya malah curiga apakah saya menderita “ambivalensi”. Menurut KBBI, kata ini artinya “perasaan tidak sadar yang saling bertentangan terhadap situasi yang sama atau terhadap seseorang pada waktu yang sama.”

Tapi seketika itu juga saya sadar bahwa ini jugalah yang korban-korban juga bisa rasakan terhadap para peleceh mereka. Peleceh ini bukan orang yang sepenuhnya jahat. Sering mereka adalah sosok ‘pengayom’ di sekitar kita. Mereka bisa baik, dermawan, penuh kharisma seperti Rama. Tapi mereka juga merusak, memperlakukan dengan hina, meludahi martabat korban. Sangat kompleks.

Lain kalau mereka tokoh antagonis sinetron Indonesia yang simpel: kalau jahat ya jahat banget dan kalau baik ya baik banget. Itu sih lebih mudah untuk menghakimi tapi sayangnya di dunia nyata tak begitu.

Dan saya curiga apakah pria-pria di Indonesia yang menonton ini juga merasakan ambivalensi ini atau mereka pura-pura tak mengalaminya?

Ambivalensi ini juga tecermin nyata dari terkuaknya rekam jejak Henricus Pria, penulis naskah film ini. Beberapa waktu lalu ia dikabarkan tersandung skandal pelecehan seksual juga. Bayangkan syoknya jadi cewek korban pelecehan seksual yang suka film ini karena sudah bisa menyuarakan aspirasi mereka tapi juga jadi eneg dan geram karena film ini dihasilkan dari otak seorang pelaku pelecehan seksual. Inilah ambivalensi yang saya maksud itu!

Lalu soal tokoh Tariq yang kelihatan seperti Alpha Male di sini tapi ternyata juga budak Alpha Male lain. Kenapa ia tak mau menuliskan kisahnya di selembar kertas atau menyuarakan itu lebih lantang? Bahkan saat korban perempuan lainnya dengan berani bersuara, ia cuma menyebarkan salinan luka sayatan di pergelangan tangannya.

Lho kok cuma segitu? Jelas dia masih setengah hati dalam membeberkan kisahnya sebagai kaum minoritas di semesta pelecehan seksual yang populasinya didominasi perempuan. Mungkin saja ia merasa minder dan tertekan lebih berat karena statusnya sebagai pria (tapi kena tindas pria lain yang lebih berkuasa dalam grupnya) dan sebagai pasien dengan kondisi kejiwaan tertentu.

Tariq juga menjadi cerminan pertemanan cowok zaman sekarang yang mungkin sekilas mirip keluarga. Tapi hanya karena saling menyapa “bro”, bukan berarti juga semua masalah pribadi bakal diceritakan. Ini lain dengan cewek yang cenderung lebih terbuka soal perasaan dan beban pikirannya dengan sesamanya. Ya ini mungkin juga andil dari toxic masculinity yang mengharuskan cowok-cowok harus tampil kuat dan teguh dalam kondisi apapun.

Terakhir, pengasapan (fogging) gratis itu sangat mengganggu pikiran saya. Kenapa sih ditampilkan dengan porsi yang menyita perhatian? Apa pentingnya sih sampai sutradara memberi ruang khusus untuk pengasapan pencegahan demam berdarah ini?

Kalau saya terawang, bisa jadi upaya untuk menyelipkan sebuah pesan melalui metafora bahwa fenomena pelecehan seksual itu mirip betul dengan penyakit demam berdarah di Indonesia. Dia itu laten. Bakal selamanya ada. Fogging gratis sebanyak apapun juga mustahil memusnahkan DB selama-lamanya. Nyamuk Aedes Aegypti itu bakal terus beranak pinak sampai kiamat nanti kok saya yaqin. Dan kalau fogging ini kebanyakan dilakukan malah bisa menyesakkan dan meracuni manusianya sendiri. Nyamuknya klenger memang tapi manusianya juga. Mirip dengan pengangkatan isu kekerasan seksual ini sebagai wacana atau diskursus di mana-mana tapi malah kita lupa di dunia nyata, penanganannya tak ada kemajuan. Buktinya RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual tak kunjung disahkan sampai detik ini.

Jadi, kok naif sekali ya kalau kita berpikir bahwa suatu saat pelecehan seksual sirna 100% dari Indonesia bahkan dunia. Cuma, yang bisa kita lakukan memang terus berjuang menegakkan keadilan untuk para korban pelecehan dan kekerasan seksual tanpa memandang gender dan hal lainnya bahwa ini tak semestinya terjadi karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan juga agama (kan katanya bangsa ini super relijius!). (*/)

Pola Judul-judul Berita Media Daring yang Jangan Sampai Diklik!

SEBAGAI anak media, emang ngeselin banget kalo baca berita-berita dengan judul yang hmm…klise dan clickbait banget. Menipu pembaca dan nggak mendidik karena biasanya sih nadanya memojokkan atau seksis atau diskriminatif dan bias.

Dari obrolan dan cuitan akun Twitter @ndorokakung, aku bisa rumuskan sejumlah pola yang biasanya dipakai para editor media online yang memburu pageviews dan klik ini.

Ini beberapa di antaranya pola judul/ headline yang jangan sampai dibaca nggak peduli gatelnya jempol buat nge-tap layar hape:

  • DITUDING … BEGINI PENJELASAN …
  • BEGINI PENJELASAN DARI … YANG DITUDUH …
  • VIRAL DITUDUH … , … BERI KLARIFIKASI
  • [ISI DENGAN ANGKA] FAKTA SOAL ….
  • VIRAL TUDINGAN ….., BEGINI KRONOLOGINYA
  • ….. BERIKAN KLARIFIKASI SOAL …
  • #KAMUHARUSTAU FAKTA MENARIK …. YANG DITUDUH ….
  • WASPADA! INI DIA [ISI DENGAN ANGKA] KALAU …
  • INILAH SOSOK …YANG DITUDUH …
  • …. CANTIK/ GANTENG/ SEKSI INI BIKIN NETIZEN GAGAL FOKUS
  • INI ISI …. [GARASI/ TAS/ DOMPET/ RUMAH/ MOBIL] MILIK [ISI DENGAN NAMA ORANG]

Kenapa jangan diklik atau dibaca?

Ya logikanya kalau diklik berarti udah kasih duit ke mereka yang tayangin berita kurang bermutu kayak gini.

Dengan mengklikdan membagikan, kita seolah memberikan dukungan.

Dengan menggunakan perhitungan jumlah klik tadi, mereka bisa menjual space beriklan ke orang lain dengan tarif yang WOW. (*/)

‘Ngemper’ di Tempat Umum Adalah Kebiasaan Orang Indonesia Paling ‘Hih‘!

PERNAH pastinya kita sebagai orang Indonesia melihat sesama duduk di lantai. Bukannya mencap atau menyudutkan atau misoginis, tapi kebanyakan sih yang saya temui pelakunya ibu-ibu.

Sebenarnya ya tidak ada salahnya sih duduk saat merasa lelah. Tapi saat tidak ada tempat duduk yang pantas, sebagian orang lalu menghalalkan segala tempat termasuk lantai di fasilitas umum seperti stasiun kereta, halte, dan sebagainya untuk jadi tempat duduk seperti di rumah sendiri.

Alasan saya menyebut ‘ngemper’ ini sebagai kebiasaan buruk adalah karena dengan duduk di tempat yang tidak seharusnya, kita sudah merendahkan diri di hadapan orang lain. Bayangkan kita sedang antre di bank lalu seenaknya ngemper dan merasa tidak bersalah. Lalu saat kita duduk di lantai, orang lalu lalang di depan kita. Apakah kita tidak merasa tidak pantas memperlakukan diri kita seperti itu? Mereka yang tidak punya kaki atau lumpuh saja ingin setengah mati untuk bisa berdiri layaknya manusia lain tapi kita kok malah merendahkan diri seperti itu?

Alasan lain kenapa saya tidak bersimpati pada mereka yang ngemper adalah karena kebiasaan ini mengganggu ketertiban. Saat kita ada di sebuah tempat umum dan tiba-tiba ada orang yang terlihat perilakunya menyimpang dan seolah dibiarkan, rasanya itu adalah bibit awal terbentuknya sebuah kebiasaan komunal yang buruk. Satu orang ngemper seenaknya lalu disusul dan ditiru yang lainnya.

Lalu bagaimana dong kalau memang kaki sudah capek banget atau rasanya mau pingsan atau sedang sakit saat naik kendaraan umum atau berada di tempat umum?

Kita bisa minta tempat duduk dengan petugas atau orang di sekitar kita yang lebih muda atau sehat. Jelaskan baik-baik kalau memang sedang tidak fit dan butuh duduk untuk istirahat.

Kalau memang tidak sakit dan cuma malas berdiri, artinya kita mesti menahan diri. Itulah inti kehidupan bermasyarakat, bukan? Kalau semua orang maunya seenaknya dan sampai melanggar hak orang lain, tidak bisa dibiarkan begitu saja kan? (*/)

Pola Lama Jurnalisme Firasat Indonesia

SEOLAH mengungkit firasat memiliki manfaat, jurnalisme kita terus saja sungkan meninggalkan zona nyaman dalam pola lamanya.

Catatan Harian Berusia 131 Tahun Paparkan Letusan Krakatau dan Penderitaan Warga Lampung-Banten

PERNAH saya ditanya mengapa budaya menulis dan membaca di masyarakat Indonesia masih rendah padahal bangsa lain sepertinya melaju pesat.

Saya jawab dengan hasil refleksi dan pengamatan saya sendiri bahwa budaya komunikasi manusia Indonesia adalah budaya lisan, oral, ngomong, ghibah. Bukan budaya yang menulis, surat-menyurat, korespondensi, dan sejenisnya. Sebelum budaya membaca tertanam dalam, bangsa kita sudah kemasukan televisi, radio, dan sekarang Internet dan media sosial. Bye!

Maka dari itu sampai sekarang ada saja orang yang masih lebih nyaman menggunakan voice notes daripada mengetik jawaban mereka di aplikasi chat. Saya kenal beberapa orang seperti ini. Mereka biasanya sangat menyukai berbicara. Jago banget lah kalau disuruh menjelaskan, mempersuasi, mengobrol dari A sampai Z.

Tapi kadangkala kita bisa menemukan karya-karya tulis bangsa kita yang sebenarnya dari tradisi oral itu hanya saja dibukukan jadi kita masih bisa menikmati sampai sekarang.

Salah satu karya tulis yang langka ini ialah sebuah karya syair berjudul “Lampung Karam” ditulis Muhammad Saleh di 131 tahun lalu tatkala Gunung Krakatau meletus di Selat Sunda dan menjadi legenda karena kekuatannya yang begitu hebat dan dampaknya pada seluruh permukaan planet ini pada saat itu.

Ditulis dalam bahasa Arab-Melayu di Temasek (Singapura dulu kala), syair Saleh tadi mengandung pelajaran hidup dan catatan historis yang mirip jurnal/ diari mengenai kehidupan dan perilaku manusia selama peristiwa alam yang legendaris tersebut.

Tapi sayangnya syair yang terdiri dari 100 bait ini bisa diangkat lagi bukan karena disimpan anak bangsa di negara ini tapi disimpan Belanda di perpustakaan Universitas Leiden. Seorang dosen bernama Suryadi Sunuri menemukannya tahun 2005.

Dalam syair “Lampung Karam”, Saleh menceritakan bagaimana para warga sekitar Selat Sunda di Lampung berlari menyelamatkan diri begitu Krakatau mengamuk. Mereka harus nelangsa saat mengungsi karena ada pemilik rumah yang merasa keberatan menampung orang asing. Diceritakan juga kisah pengungsi yang memakai sebuah piring yang retak sampai kuah sayurnya tumpah. Sebagian pengungsi ada yang harus rela tinggal sementara di gua-gua karang, di bawah rumah panggung orang lain, tidur saling bertumpuk sebab keterbatasan ruang berlindung. (*/)

PERHATIAN, IKEA BUKAN TEMPAT TAMASYA!

Tuh baca! Perlengkapan rumah, bukan taman bermain. Dikira Ancol! (Foto: IKEA Indonesia)

KALAU Anda ketinggalan obrolan terbaru di jagat maya Indonesia, sini saya beritahu.

Ada seorang ‘influencer’ (tahulah bagaimana abu-abunya istilah ini) yang mengeluhkan dirinya sudah bersiap membawa 7 orang anggota keluarganya ke IKEA terdekat.

Kejutannya IKEA tak mengizinkan masuk mereka semua kecuali sang ‘influencer’ yang sudah divaksin dua kali.

Di Instagram story-nya, sang ‘influencer’ pun meracau: “Nggak diberitahu harus begini begitu di website dan Instagramnya tapi pas masuk diperiksa.”

Netizen yang jengah dengan tingkahnya langsung menggigit umpan. Ibarat hiu kelaparan dikasih setetes darah saja langsung bisa mendeteksi.

Masalahnya IKEA sudah mengumumkan kewajiban vaksin sebelum masuk tokonya melalui linktree di bio akun Instagramnya. Makin ganaslah para warganet nusantara yang jempolnya terkenal lincah dan tak mengenal ampun ini.

Saat dikonfrontasi netizen, ia langsung defensif dengan mengatakan IKEA seharusnya tak cuma menjelaskan di linktree dong.

“Harus juga dipasang di highlight IG dan website resminya karena dua ini sering dilihat calon pengunjung,” alasan sang ‘influencer’ yang nggak tahu juga pengaruhnya apa ke peradaban masyarakat Indonesia ini.

Dan ternyata dia nggak sendirian. Karena ia mengaku banyak keluarga yang ditolak masuk rame-rame karena kebijakan protokol kesehatan ketit (saking ketatnya) tadi.

Dia segera meminta maaf via Instagram story-nya sih tapi poin yang ingin saya angkat adalah: HARUS BANGET YA IKEA JADI GANTI TEMPAT REKREASI KELUARGA?

Duh rasanya terdengar judgmental ya. Tapi mau gimana lagi, masyarakat kita ini memang unik sih. Toko furnitur dijadikan tempat tamasya keluarga. Ya memang semua orang berhak mengunjungi IKEA sih tapi ini kan masih masa pandemi dan toko IKEA itu ruang tertutup meski segede itu juga ya.

Dan memang benar pendapat sebagian netizen bahwa kalau memang butuhnya beli furnitur atau makanan di sana ya bisa dibeli secara online atau dipesan untuk dibawa pulang (takeaway).

Kalau memang keluarga butuh tamasya, lakukan saja di alam terbuka yang lebih aman.

Memang ada benarnya IKEA bertindak tegas seperti itu karena tahu sendirilah masyarakat kalau dilemesin sedikit jadi ngelunjak. Hahaha. Good move IKEA! (*/)

Pelecehan Seksual di KPI Bukti Fenomena Gunung Es Pelecehan Seksual Pria

KOMISI PENYIARAN INDONESIA sedang disorot karena mengalami masalah kekerasan, perisakan dan pelecehan seksual di lingkaran internalnya.

Miris melihat sang korban harus sampai menahan diri melapor bertahun-tahun bahkan nekat memviralkan di media sosial. Semua karena pengaduannya tidak digubris. Ya karena dia cowok. Dan pelakunya juga cowok. Di lingkungan kerja yang birokratis dan patriarkis pula. Tekanannya berlapis-lapis.

Tapi seperti lumpur Lapindo, tekanan hebat pun tidak bisa mencegah yang di bawah diam. Suatu saat ia akan menemukan jalannya untuk muncul. Menggelegak. Atau meletus?!

Berikut sikap resmi sang ketua institusi. Kita awasi bersama bagaimana ini berlanjut.

Hubungan antara Nasionalisme dan Kebahagiaanmu

HARI ini menandai 76 negara ini merdeka. Rasanya sih nano-nano. Persenyawaan antara bangga, sedih dan murka.

Bangga bisa sampai sejauh ini bangsa ini bertahan dihajar pandemi dan di saat yang sama merasa murka juga kalau melihat berita Juliari Batubara dan bagaimana negara dibikin linglung karena perkara korupsinya. Coba dia pejabat China. Drama begini pasti tidak bakal ada. Langsung di-dor aja di lapangan Tianamen.

Cukuplah soal orang itu.

Kita bahas nasionalisme saja.

Katanya seorang warga negara yang bangga bisa lebih bahagia.

Tapi semua bergantung pada apa yang dibanggakannya mengenai negara dan bangsanya.

Nasionalisme memang banyak versi. Ada yang sempit. Ada yang luas.

Yang sempit adalah nasionalisme yang membawa-bawa definisi “pribumi”, atau “penduduk asli”.

Yang luas adalah nasionalisme yang lebih fleksibel, yang terbuka dan inklusif. Menyambut siapa saja warga negara yang telah menyatakan sumpah setia pada negara tanpa memandang suku, agama, dan rasnya.

Kalau dilihat beberapa tahun belakangan, luka trauma akibat pilkada Jakarta dan Pilpres yang lalu itu masih membekas. Dalam. Sekali.

Beberapa pekan lalu pernah saya diajak bicara dengan teman yang sebelumnya tak pernah berbicara soal politik atau semacamnya.

Dan tiba-tiba di tengah pembicaraan, ia berceletuk satu kata yang membuat saya terhenyak: “kadrun”.

Owh, bukan bukan. Saya bukan di pihak manapun. Di pilpres kemarin itu saya bagkan golput karena alasan prosedural dan kerepotannya sekaligus kemalasan juga sih untuk pulang ke daerah asal karena cuma untuk nyoblos. Buat apa sampai harus dibela-belain gitu?

Dan meski saya golput, saya tentu tak berkoar-koar mengajak orang soal itu. Saya tak bangga dengan pilihan itu tapi juga tak menganggapnya nista. Sama saja lah dengan yang pro A atau kontra B.

Pilpres yang kental nuansa identitasnya itu serasa menegaskan kembali aroma nasionalisme sempit.

Terus terang saya kecewa. Kenapa sih kita yak kunjung dewasa? Begitu mudahnya diombang-ambingkan para perekayasa propaganda.

Satu studi tahun 2011 oleh Association for Psychological Science menemukan bahwa saat seorang warga negara yang memiliki konsep nasionalisme sempit memiliki tingkat kebahagiaan dan kesehatan mental yang lebih buruk. Nasionalisme sempit ini berkaitan dengan faktor etnis, kesukuan, keyakinan sebagai pemersatu bangsa. Jelas ini mirip dengan politik identitas yang santer dihembuskan mesin-mesin politik saat pilkada Jakarta Anies vs Ahok dan pilpres Jokowi vs Prabowo.

Sementara itu, warga negara yang mengadopsi konsep nasionalisme luas dan inklusif memiliki tingkat kebahagiaan lebih baik. Nasionalisme tipe ini dibuktikan dari rasa hormat dan perasaan sukarela untuk mencintai negara dan menaati aturan dan hukum yang berlaku di dalamnya. Di sini, tidak ada ruang untuk diskriminasi suku, agama dan ras. Apapun identitas SARA seseorang warga negara, asal ia sudah menjalankan dengan baik kewajiban-kewajiban sebagai warga negara maka ia sudah bisa dianggap nasionalis.

Tapi meski rasanya saya lebih condong ke nasionalisme jenis kedua, kok rasanya saya nggak bahagia ya? Haha.

Ah mungkin itu karena negara membiarkan ada segelintir warganya menginjak-injak hukum di mata rakyatnya sendiri.

Mungkin karena banyak ketidakadilan yang dibiarkan, dimafhumkan dan diwajarkan padahal ya mesti diluruskan.

Kalau Anda sendiri bagaimana? (*/)

%d bloggers like this: