On TikTok and Mental Health

I have been active on TikTok in these recent three weeks. The purpose of my presence on TikTok is to share things that I know and learn. To get heard of course is one of my goals here. My message is that everyone should be self motivated to get fit and active for the sake of their own wellbeing as this is what I have enjoyed and reaped from my practice (both yoga and the mixture of other physical disciplines that I adore and believe, such as gymnastics, ballet and pilates).

And what I can notice and be aware of is my sleeping intensity is disrupted at night, which causes a bit sluggishness during the day. This has not impacted my work performance significantly so far but I can tell I yawn during the working hours, something I never experienced before. And that is alarming to me because sleep is sacred to me! 😅

Thus far I am still lucky to have only kind followers and commenters who leave nice words. Which is why I can never imagine how it will impact me and my sanity if I find a harsh comment or a rude follower.😭

I found a comment or two about my body shape. Despite the fact that I am a man, this also hits me hard. So far it has been only compliments. Nothing is abrassive or offensive. So i thank everyone here for that 🙏🏼because I have seen another Tiktoker defending himself for something unnecessary or to prove something wrong. I don’t need to do such a thing for I am a pacifist Tiktoker, I should say. 😂

But the good things and amazing potentials from tiktok are also numerous. 

Never have I gained so many followers in a matter of weeks on instagram or any other social media platforms. My twitter following is stuck at 900-ish. Such a shame considering I have been actively tweeting since 2009.😆😆

So i kind of understand as to why Meta as the parent company of instagram is furious about tiktok’s rise. Instagram might be still going strong for now but we will never know what will happen even in the following months in 2022. That is why instagram copies all tiktok’s amazing features but again if you are a follower, you will always come second regardless of how smart or unbeatable you are in reality. 

One thing i noticed even more on tiktok is the body image issue. It is so amplified here! Instagram is problematic but tiktok is just as messy as instagram was and is. 

At first i had a hunch that these people on tiktok only care about shallow stuff like ideal body images. In this case, i somehow find it true and wrong. 

It is true because showing off your physical body like fitness models, financial assets like Sisca Kohl, quirky and outlandish talents like Popo Barbie, or the most ridiculous and bestial side of humanity is the most effective intangible capital to get likes here. 

This is why my first most popular content is abs workout. 🤣 i kind of read these people’s insecurities about their beer bellies and dad bodies. They don’t want to look fat and ugly and horrible. 

But i also find that some tiktok users also are not as shallow. They are wise, polite, educated even. They crave for more self improvement. And i discovered this by means of my split tiktok tutorial video, which is a blast. They liked it so much apparently. It wasn’t shared or liked by millions but still, you know, it means a lot to microinfluencers like myself😌.

To conclude, I want to say that I am not going to leave Tiktok anytime soon because if used properly and moderately it offers so many benefits. For example I can reach out new people who don’t even know yoga before or motivate those who don’t even know how to start an active lifestyle.  (*/)

Firefox Monitor: Cara Praktis Pantau Privasi Anda di Internet

SP_FX_Monitor_blogheader_01-1000x500Bertransaksi informasi dan data di dunia web memang makin mudah. Namun, di balik kemudahan itu juga ada banyak risikonya!

Dan salah satu indikator terlindunginya privasi dan keamanan kita di dunia maya ialah keamanan akun-akun surel (email) dan akun media sosial kita. Apakah kata kunci yang kita pakai sudah cukup sulit untuk ditebak dan diganti secara rutin (misalnya 1-2 bulan sekali)?

Nah!

Saya bersyukur bahwa sejauh ini saya belum pernah mengalami musibah akibat peretasan atau penyalahgunaan semacam itu. Tetapi itu cuma perasaan saya saja. Apakah memang kenyataannya demikian? Hal itu masih belum diverifikasi oleh suatu instrumen/ alat yang lebih tepercaya.

Untuk menguji keamanan dan privasi kita di dunia, ternyata ada alatnya yang lebih objektif. Sebagai relawan aktif dari Komunitas Mozilla Indonesia, saya beruntung bisa mendapatkan informasi bahwa memang ada alat digital yang dibuat untuk menguji keamanan dan privasi kita. Namanya Firefox Monitor. Menurut Mozilla, Firefox Monitor dirancang untuk menjaga informasi pribadi Anda tetap aman. Di sini kita akan diberitahu apa saja informasi kita yang sudah diretas oleh para peretas (hackers) dan bagaimana kita mesti lebih maju daripada mereka. Firefox Monitor akan mendeteksi beragam ancaman terhadap akun-akun daring kita, misalnya akun Facebook, LinkedIn, hingga layanan daring seperti situs belanja daring.

Bagaimana cara menggunakannya?

Mudah saja. Kamu cukup mengunjungi Monitor.Firefox.com. Di laman tersebut, kamu bisa memasukkan alamat surel yang ingin diuji keamanan dan privasinya. Kenapa harus alamat surel? Karena surel adalah bagian dari jatidiri daring kita yang sangat penting. Lihat saja, di dunia maya, pendaftaran apapun pastinya menggunakan alamat surel yang masih aktif. Kalaupun ada nomor seluler, itu cuma faktor pengaman sekunder.

Saya bereksperimen memasukkan alamat surel Gmail saya yang sudah berusia 9 tahun lebih. Begitu ada hasil laporannya, saya terkejut. Ternyata banyak akun daring milik saya yang menggunakan akun email ini untuk mendaftar sudah diretas. Berikut rincian laporan Firefox Monitor yang saya maksudkan yang memuat tanggal peretasan, skala peretasan, data yang diretas:

Dan masih ada banyak lainnya, yang terus terang membuat saya syok juga! Gila, ‘jeroan’ saya diumbar di Internet! Bagaimana tidak, satu situs pencari kerja bahkan kebobolan data pribadi pengguna dari alamat fisik, nomor ponsel sampai nomor KTP. Ngeri!

Di Indonesia, kasus peretasan semacam ini memang dampaknya belum dianggap serius tetapi begitu nantinya kita akan makin masuk ke era digital seperti China dan negara-negara di Asia Timur dan Eropa, keamanan siber bukan isu yang dianggap enteng.

Begitu diberikan temuan yang mencengangkan itu, Firefox Monitor tidak diam begitu saja. Diberikan rekomendasi berupa langkah-langkah nyata yang bisa dilakukan oleh kita semua agar ke depan keamanan dan privasi daring kita lebih terjaga dengan baik. Berikut saran Firefox Monitor:

  • Ganti kata kunci bahkan jika akun itu sudah lama tidak diakses
  • Ambil langkah lebih lanjut untuk mengamankan akun-akun keuangan
  • Jika Anda menggunakan kata kunci yang sudah diketahui peretas, segera ubah
  • Minta bantuan untuk membuat kata kunci yang lebih rumit dan simpan di tempat yang aman

Saya kemudian juga mengecek alamat surel lainnya yang saya miliki. Dan mungkin karena alamat surel ini lebih baru dan belum saya pakai untuk mendaftar banyak layanan, hasil pantauan Firefox Monitor menunjukkan tingkat keamanan dan privasi yang baik. “So far, so good,” vonisnya. Alamat surel saya itu tidak tampak dalam hasil pemindaian dasar dan itu berita yang bagus.

Sebagai langkah pencegahan selanjutnya, kita bisa berlangganan dengan pembaruan dari Firefox Monitor terkait laporan lengkap mereka dan pemberitahuan bila peretasan masif melanda sebuah situs daring atau layanan umum.

Lagi-lagi, tak bosan-bosannya Firefox Monitor juga mengingatkan kita untuk menggunakan kata kunci yang lebih rumit dan susah ditebak agar perlindungan terhadap keamanan dan privasi di dunia maya juga terjaga dengan lebih baik. Jangan hanya menggunakan kata kunci sesimpel “abcd1234″ lalu berharap akun kita akan aman selamanya! Absurd itu namanya. Tidak berlebihan jika dikatakan:”Informasi kita di dunia maya akan aman jika kata kunci kita juga memenuhi standar keamanan.”

Bagaimana caranya menggunakan kata kunci dengan baik dan lebih minim risiko untuk ditembus peretas?

  • Gunakan kata kunci berbeda untuk akun yang berbeda
  • Buat kata kunci yang susah ditebak
  • Gunakan alat pengelola kata kunci seperti  1Password, LastPass, Dashlane, dll
  • Gunakan pertanyaan pengamanan (security password)
  • Tambahkan keamanan ekstra dengan autentikasi dua faktor (biasanya dengan menghubungkan ke nomor ponsel yang aktif)
  • Mendaftar ke pemberitahuan Firefox Monitor (begitu ada kasus peretasan, kita akan mendapat pemberitahuan segera)

Momen akhir tahun ini menjadi saat yang tepat untuk kita semua dalam mengevaluasi keamanan dan privasi digital kita selama setahun belakangan. Segera gunakan Firefox Monitor untuk memastikannya! (*/)

 

Agar Linimasa Anda Bersih dari Politik

Jepretan Layar 2018-07-05 pada 07.30.37

PAGI ini saya iseng mengotak-atik pengaturan di akun Twitter dan menemukan sebuah fitur yang mungkin sudah lama ada tetapi terlupakan dan terbukti sangat bermanfaat menjelang musim politik yang ‘panas’, ‘bising’, dan ‘riuh’ sekarang ini.

Setelah menyeleksi beberapa akun yang terbukti membuat linimasa Twitter saya penuh energi negatif, persengketaan, aksi tuduh-menuduh dan saling menyalahkan yang membuat saya lelah dan demotivated di pagi hari yang semestinya menjadi momen paling bergairah untuk memulai hari, akhirnya saya menelusuri fitur yang bisa ditemukan di settings => notifications => Mute specific words from your notifications and timeline. Langkah ini saya rasa lebih praktis daripada hanya memblokir beberapa akun yang kontennya kita hindari dengan berbagai alasan.

Jepretan Layar 2018-07-05 pada 07.30.57

Baiklah, karena saya sudah mulai muak dengan berbagai pemberitaan yang santer soal perpolitikan Indonesia di tahun 2019 nanti, saya putuskan menambahkan frasa “pilpres2019” ke dalam saringan konten saya di Twitter. Bukannya saya hendak abai terhadap politik yang penting untuk menentukan masa depan bangsa (karena saya juga tidak akan golput begitu saja di 2019) tetapi saya ingin linimasa yang lebih adem di pagi hari maupun di sore hari.

Jepretan Layar 2018-07-05 pada 07.32.38

Beginilah daftar beberapa istilah yang saya blokir dari linimasa saya agar kesejukan bermedia sosial tercipta. Kalau saya ingin membaca berita politik, saya baru akan menuju ke situs berita yang tepercaya dan kredibel, bukan dengan membaca tweet-tweet komentar orang yang sok tahu dan sok paham politik dan membuat kacamata saya untuk melihat dunia ini menjadi keruh dan suram. (*/)

 

 

Menyoal Nasionalisme Digital Kita yang Kurang Kental

Mungkin bagi sebagian orang meninggalkan dua jejaring sosial paling populer di jagad maya terlalu musykil. Jujur, saya baru saja beberapa hari lalu menutup akun Facebook dan Twitter saya. Tentu ini semua ada hubungannya dengan skandal penyalahgunaan data oleh Facebook yang membuat geger dunia.

Saya sendiri memang sudah mulai tidak meminati Facebook dan Twitter. Entah itu kebosanan atau sekadar ingin berbeda dari selera arus utama (mainstream).

Namun, saya memiliki alasan utama sendiri untuk meninggalkan jejaring sosial tadi. Karena saya ingin pengambilan keputusan saya dalam berdemokrasi nanti lebih murni karena apa yang saya yakini. Tidak goyah oleh hoax yang bertebaran di media sosial.

Dan yang terpenting, saya bisa menghemat waktu dan tenaga saya untuk mengerjakan sesuatu yang jauh lebih positif, seperti berjejaring soal profesi via LinkedIn atau berbagi informasi soal yoga dan kesehatan yang saya minati via Instagram. Di kedua jejaring sosial ini saya lebih pilih karena relatif lebih netral dalam hal berita palsu dan politik.

Memang masih ada yang mencibir,”Lha kan kamu masih pakai Instagram dan WhatsApp. Itu juga punya Facebook kan?” Tetapi alasan yang bisa saya berikan kemudian ialah saya setidaknya sudah berusaha memulai ketergantungan saya pada produk digital bangsa lain. Saya memiliki alternatif lain yang bisa lebih saya percayai karena dihasilkan oleh bangsa saya sendiri.

Ini juga menjadi awal untuk menegakkan kedaulatan kita sendiri. Selama ini Indonesia dan rakyatnya banyak dianggap sebagai pasar yang empuk. Dalam banyak kesempatan, orang-orang menyebutkan dengan bangga bahwa penetrasi internet di Indonesia terus naik dan pengguna media sosial seperti Facebook dan Twitter makin banyak.

Setelah skandal penyalahgunaan data oleh Facebook beberapa waktu lalu, harusnya kita makin sadar bahwa fakta itu bukan sebuah kebanggaan. Kita sebagai bangsa mesti segera sadar bahwa kita sudah ditelanjangi habis-habisan dengan menggunakan ‘pelet’ bernama media sosial. Kita ungkapkan data pribadi kita begitu saja di media sosial, menyebarkannya dan ini membuat kita makin mudah dikendalikan oleh sebagian pihak yang tidak bertanggung jawab.

Bayangkan bangsa sebesar dan semaju AS dan Inggris saja bisa digiring ke plot tertentu demi keuntungan pihak-pihak yang haus kekuasaan, apalagi kita yang masih banyak belajar dalam banyak hal seperti ini.

Namun, itu semua bisa kita ubah.

Kita mesti memiliki niat yang kuat untuk menjadi lebih mandiri di tengah perkembangan teknologi digital sekarang. Misalnya, untuk menggantikan Facebook dan Twitter, sebenarnya kita juga punya jejaring sosial produk anak bangsa.

Satu yang saya sudah pernah pakai empat tahun lalu saat diperkenalkan secara luas ke publik ialah Sebangsa.com. Menurut pengetahuan saya, aplikasi jejaring sosial Sebangsa ini lumayan bagus dan sudah bisa diunduh di dua platform ponsel cerdas masa kini, yakni Android dan iOS. Sementara itu, aplikasi jejarig sosial lainnya baru menyediakan versi Androidnya.

Lalu saya terpikir untuk mulai beralih menggunakan layanan email/ surel saya dengan produk dalam negeri seperti MerahPutih.id. Dulu saat zaman kuliah saya malah pakai Plaza.com, yang entah sekarang masih ada atau tidak. Baru dalam kurun 9 tahun terakhir saya sangat aktif memakai Gmail dan Outlook, yang notabene produk buatan Google dan Microsoft (baca: AS).

Saya memang masih mustahil meninggalkan GMail tetapi saya sudah mulai memakai email MerahPutih.id sebagai alat korespondensi saya sehari-hari. Seorang teman ‘bule’ saya bahkan terkagum dengan nama domain email saya yang menurutnya unik itu. “Wow, merahputih!” serunya saat saya katakan ia bisa menulis email ke alamat email baru ini daripada ke Gmail saya yang lama.

Tiba-tiba saya kembali teringat dengan kebijakan pemerintah Tiongkok untuk mencekal Facebook dan Twitter di negerinya. Mereka pasti sudah memikirkan efek buruknya masak-masak. Mereka sadar bangsa mereka bisa dieksploitasi bangsa lain, dan mereka tidak mau itu terjadi. Ini juga didukung dengan pemerintahnya yang secara tegas melarang demi kepentingan bersama.

Saya juga teringat dengan tetangga kos saya yang warga asli Korsel. Saban ponselnya rusak, ia pasti membeli Samsung atau LG. Seberapapun murah dan bagusnya merek ponsel lain, dua merek itu menjadi pilihannya karena itu merek-merek kepunyaan bangsanya sendiri. Ia tahu perkembangan ekonomi Korsel banyak bergantung pada performa bisnis kedua chaebol pemilik perusahaan raksasa tadi.

Jadi, walaupun kecil dan hampir terkesan tidak berarti, ia sudah merasa berkontribusi.

Saya tentu tidak menyarankan kita harus sampai seekstrem itu dalam menyikapi perkembangan dunia digital saat ini. Tetapi sudah saatnya kita sebagai bangsa bertanya pada diri sendiri:”Apakah kita akan selalu menjadi bangsa yang memakai produk bangsa lain?

Atau kita mulai mempercayai bangsa kita sendiri dengan menggunakan produk-produk yang saudara-saudara sebangsa kita buat dengan susah payah?” (*/juga ditayangkan di Kompasiana.com)

Jagonya Coklat yang Keok

‎Menemukan coklat Cap Jago bagi sebagian orang adalah sebuah bentuk nostalgia penuh makna. Persetan dengan rasa atau kualitas coklatnya. Brand ini memang bukan mengenai sensasi eksklusif atau mahal. Dengan harga yang begitu terjangkau bahkan bagi anak-anak sekolah dua dekade lalu, produknya tidak berbahan dasar coklat bermutu super tinggi dari Belgia, atau dikemas dengan material pembungkus yang ‘wah’. Kesan merakyat memang menjadi nilai jualnya.

Kesetiaan pelanggan coklat Cap Jago rupanya masih belum luntur jua. Pagi ini di Facebook, saya kebetulan temukan sebuah fanpage. ‎Coklat Cap Jago, begitu namanya. Trenyuh, karena di dalamnya saya tidak menemukan ada informasi menarik apalagi interaksi yang terbangun apik antara si pembuat laman dan para liker. Seorang di antara mereka meninggalkan pesan yang bernada nostalgia. Ia menyebut keakrabannya dengan brand coklat ini semasa kecil. Ada lagi yang membeli coklat itu dalam jumlah banyak. Mungkin ia akan menjualnya lagi. Sementara itu, ada seseorang yang tampaknya seorang mahasiswa yang tertarik mengangkat riwayat coklat Cap Jago dalam karya akademiknya.

Sayangnya, tak ada jawaban.

Ada keriaan tersendiri memang begitu kita menemukan sesuatu dari masa lalu kita hadir juga akhirnya di jagat maya. Sesuatu yang mengingatkan kita pada era pra-Internet, zaman pra-smartphone, yang ironisnya ikut tersedot pula ke layar perangkat kita.

Jikalau saya mendapatkan kesempatan dan wewenang PENUH (karena bagi saya akan sukar jika bekerja dengan penuh campur tangan) untuk menjadi pengelola ‎fanpage Coklat Cap Jago ini, saya akan pastikan semua cerita nostalgia itu menjadi kekuatan yang utama bagi kebangkitan brand ini. Its strength really lies in the brand’s story.

I Told You Kindle Won’t Win!

An Instagram account is trying to romanticize the joy of reading books. By books, it means real books with paper sheets and covers you can touch and rip and write on.

A friend mocked me, sometime ago, that I should’ve bought Kindle instead. He thought my collection of books in the bed room is so yestercentury. Well, there might be a strong reason I dispel the idea of getting myself a Kindle. Yeah, Kindle books are cheaper but still I can’t let go the joy of grabbing physical books.

So this Instagram account is made for guys who read apparently. But you’ll find no Kindle users because you must read physical books to be published on this account.

Such a great idea to make more people go to bookstores and read! And yes, reading makes men sexier in an unexplainable way.

She Brings LinkedIn to the Whole New Level

wika

Haphazardly enough, this lady singer added me on LinkedIn. We all know what LinkedIn is. We know what kind of people typically flock on this social media site. It’s way different than Facebook which has already been inundated with baby boomers like your fathers and mothers, Twitter which is known to be addictive to youngsters with lack of long form writing ability, Instagram which really is full of valueless selfies, and so forth.

To tell you the truth, she is the first dangdut singer ever adding me to her network. Is it herself or her manager doing it all? I suppose the later.

After all, my point is people now tend to use anything as their marketing tools.

ANYTHING.

They don’t care if a social media site suits their needs, personality, audiences or not but the most important thing is they’re on it first. If it works, they’re lucky. If it doesn’t, they pretty much have nothing to lose.

Transparansi CEO AirAsia Tony Fernandes

Air Asia QZ8501 telah ditemukan tadi sore pukul 15.00 WIB. Mengingat lokasi kecelakaan di perairan terbuka, sulit untuk memastikan sebagian besar korban masih bisa bertahan, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa pesawat sudah menjadi serpihan-serpihan. Yang saya bisa lakukan hanyalah mendoakan mereka yang menjadi korban agar diterima di sisi Tuhan YME dan semoga saat detik-detik terakhir itu terjadi, rasa sakitnya begitu cepat hingga hampir tak terasa.

Dikabarkan CNN, CEO AirAsia Tony Fernandes begitu terpukul oleh kabar itu. Tweet pertama darinya yang mengabarkan menghilangnya pesawat tersebut ialah retweet dari kicauan akun resmi perusahaannya @AirAsia dalam bahasa Inggris:

AirAsia Indonesia regrets to confirm that QZ8501 from Surabaya to Singapore has lost contact at 07:24hrs this morning http://on.fb.me/1xpx5pl “ @AirAsia
Retweets 48,664
Favorites 5,989
10:47 AM – 28 Dec 2014

Kemudian ia berkata lagi:
“We will be putting out another statement soon. Thank you for all your thoughts and prays.we must stay strong.”

Retweets 4,857
Favorites 1,593

11:52 AM – 28 Dec 2014

Tony kemudian me-retweet kicauan @AirAsia yang mengeluarkan pernyataan pers resmi:

Updated statement: QZ8501 on.fb.me/1H6rusl

Sang CEO terus memberikan kabar terbaru.

On my way to Surabaya where most of the passangers are from as with my Indonesian management. Providing information as we get it.

Retweets 2,988
Favorites 1,050

2:58 PM – 28 Dec 2014

My only thought are with the passangers and my crew.We put our hope in the SAR operation and thank the Indonesia, Singapore and Malaysian governments.”

Retweets 1,516
Favorites 688

3:40 PM – 28 Dec 2014

I am touched by the massive show of support especially from my fellow airlines. This is my worse nightmare. But there is no stopping.”

Retweets 2,374
Favorites 1,103
6:06 PM – 28 Dec 2014

To all my staff Airasia all stars be strong, continue to be the best. Pray hard. Continue to do your best for all our guests. See u all soon

Retweets 3,167
Favorites 1,355

6:09 PM – 28 Dec 2014

I as your group ceo will be there through these hard times. We will go through this terrible ordeal together and I will try to see as many of you.

Retweets 744
Favorites 440
6:11 PM – 28 Dec 2014

Our priority is looking after all the next of Kin for my staff and passangers. We will do whatever we can. We continue to pass information aa it comes.”

Retweets 652
Favorites 380

6:13 PM – 28 Dec 2014

Tony me-retweet kicauan akun @andiistiabudi:

“Let’s keep optimism and positive thinking. My full support to you, Air Asia and all SAR team for the missing airplane …

Retweets 134
Favorites 142

6:01 PM – 28 Dec 2014

[Updated statement] QZ8501 as at 10:35pm (GMT+7) http://on.fb.me/1A2p0YK

Retweets 938
Favorites 386

10:35 PM – 28 Dec 2014

In Jakarta this morning to communicate with Search and Rescue. All assets now in region. Going back to Surabaya now to be with families.”

Retweets 394
Favorites 207

11:58 AM – 29 Dec 2014

Keeping positive and staying strong. My heart bleeds for all the relatives of my crew and our passangers. Nothing is more important to us.

Retweets 1,617
Favorites 619

11:59 AM – 29 Dec 2014

My Allstars in Surabaya and red house in Jakarta have been amazing. Its at times like this you see the true quality of humans.”

Retweets 522
Favorites 318

12:20 PM – 29 Dec 2014

“The staff in Indonesia have been brave, strong, committed and doing 150 percent for all our guests. My pride for them is enormous.”

Retweets 1,178
Favorites 607

12:22 PM – 29 Dec 2014

The warmth and support from the people of Indonesia has been incredible. Everywhere I go. Nothing but pure support.

Retweets 1,460
Favorites 674

12:41 PM – 29 Dec 2014

Been one of my toughest days. Spent a large part of day meeting families of passangers. Doing whatever we can.

Retweets 652
Favorites 440

4:44 AM – 30 Dec 2014

I also met the families of my crew and pilots. Not been able to see 3 families. Engineer, fo and one crew.”

Retweets 356
Favorites 258

4:45 AM – 30 Dec 2014

The relatives of my crew were inspirational and so moving. Their support and love for Airasia was unbelievable. Gave me huge strength.”

Retweets 857
Favorites 593

4:48 AM – 30 Dec 2014

My heart is filled with sadness for all the families involved in QZ 8501. On behalf of AirAsia my condolences to all. Words cannot express how sorry I am.”

Retweets 8,996
Favorites 2,109

3:11 PM – 30 Dec 2014

I am rushing to Surabaya. Whatever we can do at Airasia we will be doing.”

Retweets 3,208
Favorites 1,348

3:12 PM – 30 Dec 2014

Tidak heran jika @essentialairsvc mengatakan Tony sebagai CEO yang paling transparan. Tetapi jika saya boleh berkomentar, saya hanya ingin bertanya: Apakah ini Anda sendiri yang berkicau, pak Tony? Atau ada admin? Kalau ada admin, pastinya admin itu amat piawai mengolah kata agar jitu menyampaikan pesan dalam batasan karakter tanpa membuang esensinya.

Kehadiran Tony secara langsung di Surabaya juga menunjukkan keseriusan yang tinggi dalam menangani krisis yang sedang terjadi. Ia menunjukkan komitmen tinggi bahwa semua tanggung jawab AirAsia sebagai maskapai penerbangan akan diselesaikan sesuai hukum yang berlaku di Indonesia. Dalam konferensi pers, Tony tak mencoba berkelit dari tanggung jawab. Jika Tony masih menunjukkan determinasi yang sama untuk menjaga citra brand AirAsia, harga saham AirAsia yang sempat turun di bursa saham Malaysia mungkin tak akan lama mengalami masa suram.

Taktik Social Media Terkeji yang Pernah Saya Temui

Screen Shot 2014-12-05 at 09.24.55Demi mengumpulkan likers di Facebook, sekelompok orang picik menggunakan foto-foto janin bayi yang dibuang. Di bawahnya, ada lagi foto bayi yang terlahir belum sempurna dan tampaknya tak bergerak, meninggal, dengan seorang pria yang mungkin ayahnya menggendong tertunduk.

Lalu seseorang menuliskan kalimat:
“”MOHON AAMIINKAN SAHABATKU”

Jangan abaikan gambar ini !!
Bagi yang melihat gambar ini,
sempatkanlah diri untuk
menulis ”AAMIIN” di ruangan komentar..
Bayi dengan ari-ari ini dibuang oleh orang tuanya.
1 like = insya Allah 10 kebaikan
1 BAGIKAN = insya Allah 100 kebaikan

Semoga anak ini khusnul khotimah dan masuk surga Allah. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin

Tuliskan kata “Aamiin” di Komentar, Semoga Allah mengabulkan Do’a kita Semua “MOHON AAMIINKAN SAHABATKU” Jangan abaikan gambar ini !! Bagi yang melihat gambar ini, sempatkanlah diri untuk menulis ”AAMIIN” di ruangan komentar.. Bayi dengan ari-ari ini dibuang oleh orang tuanya. 1 like = insya Allah 10 kebaikan 1 BAGIKAN = insya Allah 100 kebaikan Semoga anak ini khusnul khotimah dan masuk surga Allah. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin Tuliskan kata “Aamiin” di Komentar, Semoga Allah mengabulkan Do’a kita Semua”

Anda bisa temukan itu di grup “Facebook Toko Online Termurah” (https://www.facebook.com/groups/772058849518942/?fref=nf).

Yang saya tidak habis pikir ialah bagaimana mereka mengeksploitasi musibah menjadi penarik lebih banyak anggota di grup tersebut.

Dan yang saya heran lagi, banyak yang like dan mengucapkan AMIN!

Daripada Anda like status dan foto seperti itu, laporkan saja ke Facebook supaya dihapus.

New Indonesian-Flavored Social Media Sebangsa.com Tries to Gain Traction

The fact that American social media Twitter is set to open its new branch office in Jakarta and the strong interest of Bakrie Global showed in investing in Path (despite all the outcry and condemnation) indicates how promising our market has become to anyone who is willing to make money from social media niche. After Koprol emerged and got acquired by Yahoo years ago and wilted afterwards after Yahoo decided to let it go, a new social media startup once again emerges to attract the never-bored young (or young in spirit) consumers in Indonesia.

Sebangsa.com is another digital platform launched recently trying to blend the staple features of social media platforms (those we find on Facebook and Twitter) with local cultures. By default, you won’t see English is used in the iOS and Android apps of Sebangsa, because it’s aimed for Indonesians, which is great! But for those who preferr English, there’s an option of Eglish as well.

Founded by all Indonesian founders (Enda Nasution and Adi P. Widjonarko), Sebangsa could be the real Indonesia substitute for Facebook and Twitter.

As I explored the platform, I found I can post a bit longer than a tweet but not as long as a Facebook status, which confuses me. As a blogger who gets used to write longer than tweets, this is a ‘flaw’. But the concept of Sebangsa is more like Twitter than Facebook in my opinion. There are groups like what you can find on Facebook but there’s a follow button and timeline and hashtags.

But what sets Sebangsa apart from the rest of the social media services is two features called “Sebangsa 911” and “Sebangsa 1800”. In Sebangsa 911, you’ll find a panic message and precautionary message feature when emergency strikes or you’re under risky circumstances. Meanwhile, Sebangsa 1800 is very much like fanpages on Facebook or verified Twitter accounts of famous brands and public figures. You’re encouraged to ask information about service providers or corporates or small medium enterprises you wish to know more or think too cool to miss.

Like Path, Sebangsa also enables you to cross-update your thoughts and content on Facebook and Twitter, but not on Tumblr, WordPress or Foursquare.

Like I said on my first update on my Sebangsa account, I’m wondering whether this social media platform would become the next big thing or just vanish in a matter of years like Koprol. Time will tell.

LINE Successfully Steals the Hearts of AADC Fans

WhatsApp, WeChat, BlackBerry Messenger and Kakao Talk should beware of LINE! As we’ve witnessed social media feeds for the last 2 days, LINE has literally stolen the millenials’ heart in Indonesia. They’re people who are not as old and tech-challenged as the baby boomers, but definitely not as young and penniless as those teenagers who must seek parents’ approval before purchasing stuff they like. The age bracket is absolutely ‘fat’ and profitable. These people – who back then in 2002 (when “Ada Apa dengan Cinta” was premiered) were teenagers – are now able to make money themselves and their socioeconomic level can be improving a lot after graduation. Making money is what they do every day. So they’re productive as hell, and don’t forget, the consumption rate of these age brackets (mid 20’s-30’s) can never be this high. They are enjoying their life and why should stop consuming if they have plenty of money to spend? Splurging is exactly what these young adults are doing.

So far, LINE has been doing quite well. They tried an offline campaign at malls, which I’ve never heard of. They sold merchandises that look particularly funny, but pricey. A giant doll of Cony head could cost us Rp5 million and the medium one Rp280,000. Insane! Who would’ve spent their hard-earned money for this stuff? A few teenagers may have done it, but I’m not sure Millenials like me would have. It’s too silly for us to hug, even for our new-born babies (yes, some Millenials are young parents also), the dolls are way to big to cuddle.

LINE claimed to possess 14 million registered users in the country as of August last year (2013) but after the successful marketing campaign involving “Ada Apa dengan Cinta?” casts, there should be some exponential growth occuring right now.

So LINE may be proud enough to tell the marketers out there that brand marketing success is achievable without having to obey the established marketing rules like ones we usually stumble upon huge business sites like Forbes or Fortune. Those already turn obsolete. Now, brands don’t even have to create their own characters (if you read the Forbes article in the previous link)! LINE showed us you – whatever brands on earth – can find existing likeable, and widely favorited characters out there to help your brands gain more fame and exposure, and most importantly, generate some extra sales and more profits eventually.

The mini drama proves to be effective to make its audience to crave, want more and push them to adopt the app. How so? Because Cinta and Rangga – their teenagehood idols are also using it on their touchscreen smartphone. The app looks way cooler when your favorite characters also use it. And LINE doesn’t tell the whole story. Definitely the audience wants more to come. Some even demand a whole new sequel, which could turn a huge huge huge success.

In the meantime, we’ll watch how it goes. Good job, LINE!

Tampilan Baru Hootsuite Lebih Segar di Mata

Dasbor platform pengelola akun jejaring sosial Hootsuite versi web mendapatkan perombakan yang lumayan signifikan kali ini. Perbedaan yang paling menyolok adalah ukuran font yang makin besar dan spasi antara satu tweet dan yang lain yang jauh lebih lapang. Efek dari semua itu ialah lebih lapang dan segar bagi mata.

%d bloggers like this: