Pengalaman Mengganti Baterai Macbook Air Awal 2014 Agar Masih Bisa Dipakai di 2022

Oktober adalah awal musim gugur saat Apple mulai gencar menjual gawai-gawai model terbarunya.

Dunia heboh dengan antre para pembeli iPhone 14 dan iPhone 14 Pro yang katanya bisa zoom lebih jauh. Video zoom itu diposting seorang pengguna iPhone 14 yang menonton konser NCT yang gegap gempita. Meski ia berada jauh dari panggung toh masih bisa melihat muka para idolanya.

Tapi buat saya sih yang lebih memuaskan bukan memiliki gawai baru tapi bagaimana mempertahankan gawai lama selama mungkin.

Dengan semangat mempertahankan gawai lama ini, saya iba melihat Macbook Air saya yang sudah tak bisa beroperasi tanpa dicolok ke sumber daya saat dipakai sehingga saya tak mungkin beraktivitas jauh dari colokan atau power outlet. Agak merepotkan sih.

Tanggal 24 Oktober lalu saya putuskan menggunakan jasa Mac Arena yang berlokasi di SDC Gading Serpong, Tangerang, Banten untuk mengganti baterai Macbook Air keluaran tahun 2014 awal yang saya miliki sudah sejak Oktober 2014. Artinya sudah 8 tahun ya. Sungguh sangat lama untuk ukuran gawai. Apalagi jika dibandingkan dengan laptop Windows.

BACA JUGA: ADU MACBOOK AIR KELUARAN 2014 DAN 2020

Karena seri lama, Macbook ini juga cuma bisa pakai OS Big Sur. Tidak bisa update lagi dengan OS keluaran anyar.

Macbook Air saya ini tidak ada keluhan apapun sejak dulu. Sangat amat awet meski pernah terbanting karena kecerobohan. Tapi itu cuma sedikit penyok di pojoknya. Permukaan keyboard huruf N juga sudah hilang karena aus. Padahal saya tidak punya kuku yang panjang dan tajam lho. Anehnya cuma huruf N yang hilang. Haha.

Saya hubungi nomor WhatsApp yang tertera di website mereka. Kalau Anda ingin menghubungi, bisa di nomor (021) 29171182.

Awalnya saya dijelaskan bahwa baterai bisa diganti dan ada garansi sampai setahun kalau mau tapi begitu mengetahui tahun produksi laptop saya ini, pihak Mac Arena tidak sanggup memberi garansi sampai setahun. Haha nasib gawai lama.

Lalu saya iyakan saja dan diberi garansi 2 bulan deh. Ya daripada tidak ada sama sekali.

Biayanya total Rp1.299.000 (termasuk harga baterai baru dan biaya kunjungan teknisi ke tempat pelanggan). Tidak murah memang tapi cukup memuaskan dan praktis karena saya tinggal duduk di kantor atau rumah dan ada teknisi datang untuk mengganti baterai.

Untuk charger, alhamdulillah masih bisa dipakai lancar tanpa gangguan. Padahal usianya juga sama tuanya lho. Pokoknya alhamdulillah banget sih kalau punya gawai yang tahan lama. Irit banget ‘jatuhnya’. Mungkin lebih murah dan nggak merepotkan seperti gawai murah yang terus-terusan diservis. Capek pikiran dan repot saat bekerja. (*/)

BACA JUGA: BAGAIMANA MEMBERDAYAKAN MACBOOK AIR YANG SUDAH KUNO/ VINTAGE?

Adu MacBook Air Keluaran 2014 & 2020

Lebih nyaman mana MacBook Air 2014 atau 2020 dengan chip M1?

Atas MacBook Air rilisan 2020 dengan chipset M1 dan bawah MacBook Air awal 2014 dengan prosesor Intel Core. (Foto: Dok. pribadi)

SUDAH beberapa waktu terakhir ini saya mengeluhkan sistem operasi Mac OS yang sudah tak bisa lagi diperbarui di MacBook Air awal 2014 yang saya punya. Memang sih ada update sedikit dari Apple ternyata setelah Monterey rilis tempo hari. Tetap saja ini versi Big Sur yang tak bakal sebaik Monterey yang lebih terkini.

Tapi ya sudahlah. Tujuh tahun memang sudah terbilang awet banget untuk ukuran sebuah laptop ya. Itu tak bisa dipungkiri. Rasanya kok muluk-muluk untuk menuntut bisa pakai OS terbaru sampai 1 dekade masa pemakaian.

Sempat saya terpikir memasang Linux di laptop MBA lama ini tapi sayang banget dengan OS yang masih ada ini. Bagaimanapun OS yang sudah familiar itu susah ditinggalkan.

Inersia atau kelembaman dalam pemakaian gawai memang terasa saat kita mesti beralih dari satu gawai jadul ke gawai terkini. Artinya, sebagai pemakai teknologi kita cenderung susah ‘berpindah ke lain hati’. Ini saya sangat rasakan saat saya kebetulan bisa menggunakan MBA keluaran 2020 yang sudah memakai chipset M1 punya Apple sendiri, bukan milik Intel.

Ucapkan selamat tinggal pada kenyamanan menggunakan tetikus/ mouse dengan sekali colok ke laptop. (Foto: Dok. pribadi)

Satu hal yang paling saya tangisi saat menggunakan MBA tahun 2020 adalah hilangnya colokan untuk flashdrive/ flashdisk dan tetikus berkabel (wired mouse). Bahkan wireless mouse pun masih butuh dongle untuk dicolok ke laptop yang mesti menancap di port ini lho. Setelah dipikir-pikir inilah alasan kenapa teman saya yang sudah pakai MBA keluaran terbaru tak lagi pernah pakai tetikus saat bekerja. Bekerja tanpa tetikus membuat agak ‘kagok’. Terasa kurang lancar. Tanpa memakai tetikus rasanya kurang serius kerja. Menavigasi dengan hanya pakai touchpad rasanya cuma seperti mengelus-elus laptop. Kurang mantap! Haha. Tapi sekali lagi ini tinjauan psikologis saja karena kebiasaan.

MBA 2014 lebih lebar secara keseluruhan tapi touchpad lebih sempit sedikit. Sementara MBA 2020 lebih sempit sedikit panjang dan lebarnya tapi touchpad-nya lebih lapang. (Foto: Dok. pribadi)

Soal baterai tentunya sudah jaminan mutu lah ya. Baterai ini memang salah satu keunggulan produk MacBook Air dari zaman dulu. Selalu bisa tembus 10 jam. Bahkan mungkin kalau saya tidak streaming YouTube atau Spotify sepanjang kerja, daya tahannya bisa mencapai 12 jam. Mungkin saja ya. Tapi kan saya juga ngapain harus seirit itu. Toh saya sedang kerja di rumah dan tak masalah kalau mau mengisi ulang dayanya kapanpun.

Kalau soal bodi, kok saya merasa MBA 2020 lebih solid dan berat ya. Sedikit saja sih selisihnya tapi lumayan terasa. MBA 2014 lebih tipis, lebar dan ringan. Terasa MBA 2020 seperti versi MBA 2014 yang dipadatkan dan disolidkan. Saya tak mau mengecek spesifikasi masing-masing karena saya ingin cuma bersandar pada pengalaman dan perasaan saya sebagai pengguna saja ya. Saya nggak mau repot pusing soal data spesifikasi yang akurat.

MBA 2020 sudah diberi Touch ID. (Foto: Dok. pribadi)

Satu kemajuan yang diberikan di MBA terbaru adalah adanya TouchID di pojok kanan atas laptop. Ini menggantikan tombol POWER di MBA 2014 saya rupanya. Lalu bagaimana menyalakan MBA 2020? Tinggal dibuka saja dan dia nyala sendiri. Sesimpel itu, guys.

Chipset M1 yang lebih efisien membuat MBA 2020 tak sepanas dulu. Jadi masuk akal kalau laptop ini tak pakai kipas lagi. Artinya bisalah diajak ngetik di atas tempat tidur empuk. Kalau yang MBA 2014, didudukkan di bantal bisa menghangat dan meledak. Terutama kalau saya selesai video call, kerja kipas terasa maksimal dan berisik. Kasihan, sepertinya laptop MBA 2014 tak sanggup mengimbangi tuntutan kerja saya sekarang. Karenanya saya harus matikan MBA 2014 dulu habis video call baru menyalakannya lagi supaya suhunya turun dan kipasnya mati. Dengan chipset M1, kebiasaan ini tinggal sejarah. Entahlah mungkin juga bakal sama lagi di masa datang kalau MBA 2020 ini makin uzur di tahun 2027 atau 2028. Haha. Semuanya hanya masalah menunggu waktu ajalnya.

Kualitas layar masih sama kayaknya di MBA 2020. (Foto: Dok. pribadi)

Layar TrueTone masih jadi andalan. Ya nggak sebagus MacBook Pro pastinya. Namanya juga ini versi entry level dari lini MacBook. Tapi sudah memadai kok buat orang yang kerjanya teks seperti saya. Tak perlu lah menggunakan layar yang konsisten warnanya dan mendekati asli. Mata saya masih bisa menolerir ketidakakuratan warna asal pikselnya masih bekerja dan bisa menampilkan teks WhatsApp dan Google Docs. Bisa dikatakan saya memang simple user seperti anak sekolahan. Banyak kerja dengan dokumen. Bukan konten berat macam video dan foto yang high resolution.

Keyboard lebih enak sensasi dan suaranya di MBA 2020. (Foto: Dok. pribadi)

Butterfly keyboard di MBA 2014 memang nyaman dan satisfying suaranya. Tapi suara dan sensasi keyboard MBA 2020 juga ternyata nggak kalah memuaskan. Saya suka keyboardnya. Ini penting karena saya mengutamakan kenyamanan keyboard saat bekerja. Maklum saya bekerja lebih banyak mengetik daripada melihat layar.

Soal ketahanan cat keyboard, kita lihat saja nanti ya. Karena di MBA 2014, Anda bisa lihat huruf N saya sudah terkelupas dan bahkan tutsnya jadi transparan betul. Saya tak tahu apakah itu karena cacat produksi atau memang jari saya yang sangat antusias memukul tuts N tadi. Frekuensi menggunakan huruf N saya juga tidak luar biasa. Aneh memang…

Dead pixel di MBA 2014. Mungkinkah dead pixel bisa dicegah supaya tidak membawa dalam tas yang penuh sesak? (Foto: Dok. pribadi penulis)

Saya juga suka ukuran chargernya MBA 2020 yang sudah mengecil. Mungkin sepertiganya. Lumayanlah kalau Anda sangat mengutamakan portabilitas saat bepergian sambil kerja.

Buat yang tertarik memboyong pulang MBA 2020, rasanya bisa lihat di sejumlah marketplace Indonesia semacam Tokopedia, Blibli, Shopee, dan sebagainya. Harganya sudah turun kok dari 15-16 jutaan ke 13 jutaan karena ini sudah tahun 2022. Artinya MBA 2020 ini sudah lumayan nggak fresh. Haha begitulah cepatnya dunia teknologi bergerak ya.

Memang kalau sudah ngomong rencana beli produk teknologi, yang terbaik pasti adalah menundanya sampai besok, besok dan besok sampai benar-benar tak bisa kerja dengan perangkat yang sekarang. (*/)

Charger MBA 2020 lebih mungil dan ringkas. Enak dibawa di tas tapi dengan panjang ala kadarnya ini kita harus duduk dekat colokan kalau sedang isi daya sambil kerja. (Foto: Dok. pribadi)

Bagaimana Memberdayakan Macbook Air yang Sudah Kuno/ Vintage?

SEPERTI sudah saya pernah bahas di sebuah artikel di blog ini, setelah 7 tahun lebih saya menggunakan Macbook Air keluaran awal 2014, saya harus rela menelan pil pahit bahwa laptop saya ini tak bisa mendapatkan pembaruan piranti lunak lagi. Akibatnya adalah tingkat keamanan makin rendah dan celah keamanan makin banyak. Bisa sih dipakai buat komputasi sederhana semacam mengetik atau berselancar di dunia maya tapi untuk transaksi keuangan sepertinya agak riskan. Ini menjadi kecemasan utama saya sih apalagi makin banyak kasus peretasan.

Macbook Air rilisan awal 2014 ini menurut situs MacWorld.co.uk sudah masuk golongan vintage alias tak dapat pembaruan lagi dan hardware-nya pun sudah tak dibuat Apple.Inc. Jadi kalau rusak pun ya biaya perbaikannya sama saja beli baru, yang artinya memaksa Anda membeli yang baru saja.

Tapi jika Macbook Air Anda juga masih berfungsi normal seperti punya saya yang hanya terkelupas satu tombol dan baterainya sudah soak (1-2 jam dipakai sudah mati – yang tergolong masih lumayan untuk ukuran laptop 7 tahun lebih, bandingkan dengan laptop Windows usia yang sepantaran), rasanya kok sayang banget ya membuang perangkat yang masih awet ini.

Maka dari itu saya mencoba mencari cara bagaimana jika kelak sistem operasi Apple ini sudah tak mendukung dan susah bekerja dengan aplikasi yang ada (karena biasanya makin lama, banyak aplikasi yang meninggalkan perangkat keluaran lebih dari 10 tahun), saya masih bisa menggunakan perangkat keras Macbook Air ini dengan selama mungkin.

Jalan satu-satunya yang ada adalah dengan menginstal sistem operasi Linux di sini. Cara ini legal dan GRATIS. Kelemahannya ya memang penggunaannya agak berbeda dari Windows dan Mac OS yang jauh lebih populer.

Tapi sekali lagi sih kalau menurut saya ini cara yang patut dicoba bagi para pemilik laptop Macbook Air keluaran lama yang sudah ‘ditelantarkan’ Apple Inc.

Tidak rumit kok. Cuma butuh sebuah USB flashdrive atau yang biasa disebut flashdisk. Di dalamnya Anda bisa mengunduh file instalasi Linux dan baru menancapkan flashdisk tadi ke Macbook Air saat hendak dihidupkan sembari menekan tombol ‘option’. Nah, di situ Anda akan bisa mencicipi OS Linux yang ringan dan clean ini.

Dari yang saya saksikan di video panduan berikut ini, sebetulnya isi Linux mirip banget kok dengan Mac OS. Cuma ya memang bakal ada perbedaan yang membuat kita mesti belajar menyesuaikan. Tapi itu bukan berarti susah banget dan nggak user friendly. Ini cuma masalah pembiasaan kinerja otak saja.

Tampilan homepage dan wallpapernya sendiri sangat non-mainstream. Sangat berbeda dari Windows. Dan bakal bikin orang melirik soalnya ya tampilan dan user experience-nya sangat unik dan berbeda.

Tapi secara keseluruhan, saya pernah memakainya dan cukup fungsional. Anda masih bisa menggunakan laptop lawas dengan sistem operasi gratis dan uhuk, minim gangguan virus yang biasanya menghantui para pengguna laptop Windows.

Font di Linux juga sangat lucu. Pilihan warna dan ikon-ikonnya sangat menarik dan tidak biasa.

Linux sendiri sistem operasi yang identik dengan kelompok computer nerds dan geeks. Cocok buat yang suka ngoprek. Tapi bisa juga dipakai masyarakat awam seperti saya dan Anda… (*/)

Dilema Pengguna Teknologi: Antara Konsumerisme dan Keamanan Siber

TIGA tahun lalu saya beli smartwatch Garmin. Seperti arloji pintar lain yang mulai aus baterainya, begitu pun milik saya.

Karena saya sudah merasakan penurunan kapasitas baterainya yang signifikan, saya pun jarang memakainya. Bayangkan saja sudah cas 2 jam, dipakai 4-5 jam sudah modyar. Capek ngecasnya aja kan? Buang listrik aja.

Biasanya sih saya pakai kalau mau olahraga buat mengukur detak jantung atau kalori yang dibakar. Tapi karena sekarang sudah soak begini, ya sudahlah saya pensiunkan pelan-pelan.

Saya jadi ingin mengganti baterainya dan mengirimkan email pertanyaan ke alamat service.id@garmin.com dan inilah jawabannya:

Dear Bpk/Ibu Akhlis,

Mohon maaf sebelumnya, berikut kami informasikan bahwa produk ini sudah tidak diproduksi pada tahun 2018 dan berhenti menerima reparasi pada tahun 2020.

Mohon maaf sekali lagi, perangkat Anda dengan tipe Vivosmart HR+ sudah tidak dapat diperbaiki lagi.

Terima kasih telah menghubungi Garmin melalui jasa layanan e-mail.

Tim Layanan Garmin berterima kasih atas partisipasi Anda

Silahkan hubungi kami kembali apabila ada pertanyaan lain.

Terima Kasih!

Terima kasih telah memilih Garmin

Jennifer Tseng

Layanan Produk

Garmin APAC Customer Service

Kaget dong saya sebagai konsumen. Masak sih secepat itu lifecycle sebuah produk smartwatch? Cuma 2 tahun?? Serius?

Demi kenyamanan dalam mengukur detak jantung, jarak yang ditempuh, jumlah langkah kaki dan anak tangga yang sudah dilewati?

Otomatis saya memandang smartwatch saya dengan lesu. Masih bagus gini fisiknya sudah nggak bisa dipakai lagi?

Dengan jutaan kasus seperti ini, bagaimana tidak volume sampah elektronik kita menggunung dari tahun ke tahun??

Tangkapan layar Instagram saya

Belum pulih benar saya dari insiden smartwatch Garmin yang sudah dicap kuno dalam waktu kurang dari 3 tahun ini, saya kemarin malam diberitahu Apple bahwa MacBook Air milik saya yang keluaran awal tahun 2014 sudah tak bisa lagi mendapatkan sistem operasi versi terbaru mereka: Monterey.

Tapi tentu Apple tidak seperti Garmin yang baru 2 tahun sudah menghentikan layanan. Mengingat harganya yang juga hampir 7 kali lipat dari gawai Garmin ini, saya sih berharap masih bisa menggunakan laptop MacBook Air 2014 ini sampai 10 tahun. Pokoknya sampai benar-benar bobrok dan tak bisa dioperasikan lagi.

Soal dukungan dan layanan purnajual produk-produk teknologi semacam ini, saya sempat berdiskusi dengan seorang teman juga yang sedang mempertimbangkan mengganti laptop Asus Vivobooknya dengan yang baru dan lebih bertenaga.

Ia masih ragu apakah membeli MacBook yang berprosesor M1 tapi memiliki layanan purnajual yang buruk dan durasi garansi yang cuma 1 tahun dari iBox sebagai distributor resmi (dan kalaupun ada servisnya ya harganya bisa selangit jadi mending beli baru aja haha) atau pilih laptop Windows keluaran Dell atau Lenovo.

Dell karena menurutnya garansi laptop ini bisa sampai 3 tahun. Bahkan sampai 5 tahun kalau mau membeli garansi ekstranya.

Sementara Lenovo juga terkenal dengan sensasi penggunaan keyboard yang tiada duanya, nyaman sekali. Maklum mereka berpengalaman membuat laptop IBM yang identik dengan laptop bisnis yang tangguh dan tahan lama serta bandel saat dipakai lembur. Durasi garansi mereka juga sama kok seperti Apple, cuma 12 bulan.

Tapi dari riwayat brand Lenovo dan masih banyaknya beredar di marketplace laptop jenis secondhand Lenovo seri lama yang ternyata masih bisa dipakai sampai tahun 2022 ini, saya bisa katakan Lenovo juga sebetulnya bisa dipakai sampai satu dekade lebih kalau kita pintar mengoprek dan mengutak-atik.

Nah, masalahnya saya bukan tipe orang yang paham hacking hardware komputer kayak gini. Maunya yang praktis aja lah, nggak mau mikir repotnya, beli antivirus atau stres karena data dan file sirna kena ulah virus. Ini sesuatu yang traumatis dan saya tak mau alami lagi. Makanya saya ‘cerai’ dari segala produk Windows.

Sempat seorang teman berkeluh-kesah juga pada saya: “Gila itu Apple ‘jahat’ banget lho. iPad aja baru berapa taun udah harus ganti karena aplikasi-aplikasi sekarang nggak bisa dijalanin di situ lagi. Akhirnya terpaksa beli baru deh…”

Kata “jahat” ini memang agak kurang enak tapi bagaimana ya, memang dari sisi konsumen, kita kan beli produk elektronik maunya ya supaya bisa dipakai selama mungkin tapi apa daya perkembangan teknologi juga sangat pesat. Produk sekarang jadi tak sanggup mengakomodasi perkembangan yang terkini. Begitulah jadinya, mesti ganti barang baru lagi saban beberapa tahun. Yang hasilnya juga volume sampah elektronik menumpuk parah di negara kita yang masih payah banget banget manajemen sampah elektroniknya. Jangankan pengelolaan sampah elektronik, smapah rumah tangga saja masih keteteran. Plastik dibuang di sungai dan laut. Hadeh!

Tapi kalau dipikir lagi dari sisi produsen juga memang harus ada pergantian supaya mereka juga bisa cuan terus lah. Kalau sekali beli terus produknya tahan seumur hidup, wah bagaimana bisa meningkatkan angka penjualan??

Dan dari level harga juga, kalau memang harga lebih mahal seharusnya lifecycle-nya juga lebih lama. Misalnya katakanlah laptop 2 jutaan saja bisa dipakai sampai 5 tahun, laptop 10 jutaan seharusnya ya lebih lama dari itu. Tapi sayangnya kenyataanya tidak demikian. Ongkos ekstra itu kita bayar demi mendapatkan kenyamanan ekstra juga seperti prestise (dari memakai brand yang bernilai tinggi), atau keamanan siber yang memang tak kasat mata dan belum dianggap penting semua orang di Indonesia.

Faktor keamanan siber inilah yang saya anggap makin penting bagi konsumen dan pengguna laptop apapun mereknya. Kenapa? Karena insiden peretasan makin sering dan bisa menimpa siapa saja. Bukan cuma orang kaya atau terkenal. Kita yang jelata dan bukan siapa-siapa juga bisa jadi korban kalau lalai dengan data pribadi kita sendiri.

Saya terkesan rewel dengan berhentinya dukungan pembaruan sistem operasi dari Apple untuk MacBook Air saya ini karena saat sistem operasi laptop atau ponsel atau produk teknologi apapun yang kita pakai itu sudah dihentikan dari pihak produsennya, otomatis kita akan kehilangan perlindungan dari risiko peretasan. Ibaratnya serangan hackers dan virus itu makin hebat kayak coronavirus. Variannya makin lama makin tak terhitung dan agar kita aman tentu saja haruslah kita pakai software terbaru yang sudah diperbaiki dan ditutup celah-celah keamanannya. Software dan sistem operasi lama lebih rentan terhadap hackers karena pastinya mereka sudah tahu celah-celah keamanan yang bisa dimanfaatkan. Tapi di software dan sistem operasi terbaru, semua celah sudah ditambal.

Nah, kita dalam kurang dari 2 tahun saja sudah harus suntik vaksin booster supaya lebih kuat dalam menahan serangan varian baru seperti Delta, Omicron, dan entah apalagi itu nanti yang keluar. Bayangkan jika itu laptop dan ponsel Anda yang dipakai untuk bekerja, mencari nafkah, berkomunikasi secara privat, bertransaksi keuangan. Jika privasi dibobol, data pribadi di laptop dan ponsel kita diumbar dan duit yang kita simpan di bank ditarik hacker ke rekening lain, kita bakal susah mendapatkan kembali semua privasi dan aset tadi (kalau dibilang tak mungkin sama sekali).

Jadi, mau mengutamakan keamanan siber (yang artinya harus beli baru segera) atau menghemat saja meski keamanan sudah menurun?

Akhirnya semua ini kembali ke isi saldo rekening masing-masing. Chuaksss! (*/)

Kekuatan Cerita dalam Perdagangan NFT

Wild Lion Society NFT Project (Foto: NFTCulture.com)

SEBAGAI generasi awal millennial, saya merasakan masa-masa kebangkitan internet 1.0 di akhir tahun 1990-an. Ya meski itu masih sebatas angan tapi kala itu saya sudah bersentuhan dengan komputer, belajar Microsoft Windows edisi lama, penggunaan Microsoft Words dan Excel. Disket juga sempat saya pakai untuk menyimpan data. Sebuah kenangan yang sangat menegaskan garis batas usia dan generasi.

Mulailah saat saya kuliah, internet makin merebak dalam kehidupan manusia Indonesia. Teknologi seluler memungkinkan hal ini terjadi. Teknologi EDGE memungkinkan saya mengunduh nada dering polifonik yang setingkat lebih tinggi dan bergengsi daripada nada dering monofonik. Bahkan mulai ada nada dering MP3 juga. Dan ini terus terang membuat saya keranjingan. Itulah pertama kalinya lagu-lagu kesayangan bisa didengar tanpa harus membawa pesawat radio yang berat ke mana-mana, memakai kaset dan walkman yang ditenagai baterai yang harus beli lagi kalau habis energinya. Pokoknya jauh dari kepraktisan mendengarkan musik sekarang. Belum lagi keterbatasan kapasitas penyimpanan di ponsel yang cuma 40-50 MB!! Gila kan, mana cukup buat 10 lagu MP3. Paling cuma 4-5 dengan bitrate sepantasnya. Tapi sekarang satu kartu memori bisa memuat ratusan lagu sampai kuping berdengung mendengar seharian. Alangkah drastisnya perubahan teknologi kita.

Akhir-akhir ini saya juga ‘dipaksa’ untuk mengenal sebuah produk teknologi baru lagi. Namanya NFT. Kepanjangannya Non-Fungible Tokens, yang akarnya dari Bitcoin, sebuah mata uang kripto yang merajai dunia sekarang.

Istilah ini sendiri pertama kali saya ketahui dari bio seorang techpreneur di Twitter. Kalau tidak salah ingat itu bio Elon Musk.

NFT sebenarnya bisa apa saja sesuai dengan keinginan manusia pembuatnya. Komunitas NFT sudah berkembang secara ‘bawah tanah’ sejak lama. Kenapa saya katakan ‘bawah tanah’ karena kalangan terbatas saja yang berada di dalamnya. Mereka ini para geek dan nerd yang paham bagaimana teknologi baru ini bekerja.

Gelombang Kripto terjadi mulanya saat Bitcoin muncul tahun 2009, disusul Litecoin tahun 2011 dan Dogecoin tahun 2013. Lalu muncul lebih banyak mata uang kripto lain.

Dari sini muncul keinginan dari para pengembangnya untuk membuat benda-benda digital yang bisa dikoleksi dan bisa diperjualbelikan dengan mata uang kripto ini. Begitulah setiap inovasi bermula. Dari pikiran iseng manusia-manusia yang kurang kerjaan dan merasa dunia ini sudah membosankan dan perlu sesuatu yang baru.

NFT pertama yang muncul mungkin ialah CryptoKitties, yang ada di Ethereum tahun 2017. Dari sana meledaklah proyek-proyek NFT.

APA ITU NFT?

NFT bisa diartikan sebagai catatan digital yang aman secara kriptografis karena bisa memverifikasi kepemilikan atau akses menuju sebuah karya seni digital. Bayangkan NFT ini sebagai sebuah plat mobil bisa memverifikasi kepemilikan kendaraan tersebut. Tanpa plat itu, meski mobilnya di garasi Anda pun, mobil itu bukan milik Anda.

Nah apa saja sih yang bisa dijual bersama NFT ini?

Kalau dari jawaban seorang teman yang menggeluti ini sih bisa apapun. Dari file gambar jpeg sederhana, video, lagu, suara lain, podcast, bahkan pindaian file yang menurut kita penting semacam ijazah sampai hal-hal yang tak penting dan konyol seperti gambar sederhana yang bisa dibuat anak balita. Haha.

CERITA YANG UTAMA

Dan ternyata harus ada storytelling yang harus dipakai di balik NFT ini juga agar bisa laku. Mirip karya seni di dunia nyata kok. Seringlah kita temui lukisan yang sepertinya saking abstraknya sampai kita tidak paham karena memang sekilas mirip karya yang dibuat asal-asalan. Tapi begitu dijelaskan cerita di balik itu, atau ideologi atau pemikiran di balik karya yang kelihatan simpel dan konyol itu, kita jadi paham mengapa karya ini dinilai begitu tinggi. Ya argumen kadang bisa masuk akal dan kadang ada yang terkesan mengada-ada. Tapi begitulah keragaman dan kemajemukannya.

Storytelling ini mesti dituangkan di titel, deskripsi NFT yang dijual ke pasar. Ada tag-tag yang mesti diberikan pada NFT agar punya makna dan kategori. Dengan demikian para kolektor bisa dengan mudah menemukan NFT yang unik.

Lihat saja pendiri Twitter Jack Dorsey yang menjual twit pertamanya sebagai NFT lalu berhasil dijual senilai Rp41 miliar. Tentu ini sekilas terkesan konyol dan tak masuk akal. Bagaimana twit ‘receh’ begini ditukar dengan uang sebesar itu? Tapi kisah di belakang hal receh itu harus dipertimbangkan. Inilah yang saya maksud dengan kekuatan storytelling.

Yang unik dari NFT ini adalah ada hak royalti sebagai produsen dan hak kepemilikan. Hak sebagai produsen akan terus melekat pada karya NFT meski ia sudah dijual sekalipun. Dan mereka yang membeli dari produsen dan dari pembeli sebelumnya cuma bisa memiliki hak kepemilikan. Hak sebagai produsen tak hilang meski NFT itu diperjualbelikan ke dan dari banyak tangan. Jadi, para produsen NFT bisa terus menangguk untung. Inilah kenapa anak-anak muda begitu tergiur masuk dunia NFT ini. Ya sebab bisa membuat karya apapun sebisa mereka dan seunik mereka lalu menjualnya dan untungnya dari royalti (yang besarannya sekitar 15%) bisa berakumulasi kalau dijual ke banyak orang. (*/)

Photo by David McBee on Pexels.com

PENGGUNAAN STORYTELLING

Kita bisa ambil contoh Wild Lion Society NFT Project ini. Mereka wajib menyusun sebuah tulisan yang mirip proposal dan berisi detail-detail penting proyek mereka agar kolektor mau membeli karya NFT yang mereka hasilkan.

Di sini mereka memberikan rincian tanggal peluncuran NFT milik mereka melalui kanal Discord (sebuah platform komunikasi digital baru), bagaimana ide NFT ini muncul, keunikannya, tim di baliknya, harga dan alasan mengapa harga tersebut layak dan pantas, dan gimmick-gimmick lain yang membuat orang lain merasa tertarik dan terlibat aktif sebagai anggota komunitas. (*/)

Penulis, Selalu Backup Tulisanmu!

KEMARIN baru saja menulis tentang betapa menjengkelkan plus mahalnya kalau MacBook kita rusak. Servis ke iBox yang resmi malah biayanya melebihi beli yang baru. Owalah!

Tapi jangan sedih, iFan se-Indonesia karena ternyata mahalnya biaya reparasi MacBook memang sudah dari dulu adanya. Bukan cuma sekarang aja. Atau cuma terjadi di Jakarta aja.

Dan memang sebagai penulis (atau profesi apapun sih ya), memang punya backup itu sangat penting. Jangan sampai nggak.

Tonton saja repotnya Carrie Bradshaw di serial legendaris “Sex and the City” yang memiliki MacBook dan sialnya laptop itu crash saat ia menulis.

Backup memang paling malesin. Kenapa ya padahal sebenernya juga nggak begitu rumit sih. Tapi memang kita serasa nyaman dengan MacBook yang konon punya ketahanan lebih baik daripada laptop Windows yang pabrikannya macam-macam itu.

Itulah kenapa saya sekarang lebih banyak menulis di cloud documents seperti Google Docs. Ya karena saya males kalau ada kejadian begini menimpa diri saya. Nggak kebayang sih repotnya kalau data dan file penting buat kerjaan lenyap bersama software laptop yang crash.

Ada juga beberapa waktu lalu teman pemilik MacBook yang berkeluh kesah soal laptopnya yang tak bertahan lama. Baru 1-2 tahun sudah ngadat. Ini aneh karena punya saya bisa bertahan bahkan sampai hampir 7 tahun hingga sekarang. Cukup awet lah ya. Baterainya masih lumayan panjang. Masih bisa bertahan 6-7 jam sehari (dari yang bisa 10-11 jam sehari sekali cas) dan hampir tidak ada keluhan berarti. Cuma tombol N dan M yang agak pudar karena penggunaan selama ini. Worth the money sih.

Dan semoga saya masih bisa menggunakannya selama beberapa tahun ke depan lagi karena saya benar-benar ingin menggunakan laptop ini sampai benar-benar rusak sak sakkk.

Sebab seperti Carrie di atas yang sangat sayang dengan MacBook-nya, saya sendiri merasa sudah malas jika harus memindahkan data saya ke laptop baru lagi. Dan faktor familiaritas sangatlah berperan saat kita bekerja. Ya mungkin banyak laptop baru yang lebih anyar dan canggih dan bagus tapi kok barang kesayangan lama masih tetap nggak bisa tergantikan yah.

Tapi ini cukup ironis juga sih. Sebagai seorang wanita petualang cinta, Carrie malah lebih setia pada laptopnya daripada pada pria-pria pacarnya itu. Haha. (*/)

Ke Mana Kalau MacBook Bermasalah?

Memang bagus sih tapi kalau servis bikin pening cuy! (Photo by Agung Pandit Wiguna on Pexels.com)

SEBUAH utas di Twitter kemarin ramai. Isinya membahas soal keluhan seorang pemilik MacBook bernama @commaditya yang kesal banget karena harga perbaikan MacBooknya mencapai Rp 53 juta di iBox yang selama ini dikenal sebagai reseller resmi MacBook di negara yang tak kunjung punya perwakilan Applenya sendiri. Ini ia anggap konyol abis karena harga beli laptop itu aja cuma Rp40 juta.

Ia sendiri sudah menjadi pengguna perangkat Mac sejak 10 tahun belakangan dan merasa puas dengan kinerjanya yang stabil. Ia menegaskan ini bukan masalah kinerja perangkat atau kepuasan pelanggan tapi lebih pada isu perbaikan perangkat Mac itu di Indonesia yang memang sampai detik ini belum ada toko resmi atau gerai resmi atau pusat servis yang resmi dari Apple Inc. sana.

Ia pun menduga-duga apakah itu karena logic board-nya yang rusak sehingga tarif perbaikannya melambung tinggi?

Untuk urusan servis Apple dari sananya, kata @commaditya, memang sudah bermasalah karena menurutnya sudah ada beberapa pengguna yang kesal dengan prosedur perbaikan mereka itu. Ia menyebut “right to repair” yang masih belum sesuai harapan.

Ini memang simalakama ya. Karena bagi pemilik perangkat yang masih bergaransi, garansi bisa menguap begitu saja kalau perangkat diservis pihak ketiga. Tapi kalau diservis di iBos sebagai perwakilan pihak Apple Inc di sini, harganya bikin melarat orang-orang kelas menengah ngehe.

Seseorang juga membagikan pengalaman buruknya servis MacBook di iBox yang cuma alami kerusakan USB type C-nya tapi harus mau menanggung biaya perbaikan sampai 7 juta karena sampai disuruh teknisi iBox mengganti board. Karena masygul, ia memilih servis di tempat lain yang cuma makan waktu perbaikan seminggu dan cuma dikenai tarif Rp3 juta.

Sejumlah orang bahkan menceritakan pengalaman buruk terhapusnya data di perangkat saat ganti baterai atau servis di iBox.

Kesan yang mereka dapatkan ialah bahwa iBox mau berjualan saja. Urusan reparasi secara halus mereka ‘cuci tangan‘.

Karena itulah, akhirnya bertumbuhlah banyak bisnis reparasi perangkat Mac dan iOS di sejumlah kota besar di Indonesia. Mereka tidak berafiliasi dengan Apple Inc. secara resmi memang sih tapi dari ulasan dan rekomendasi para pengguna jasa mereka, rasanya kualitas layanan perbaikan mereka nggak seburuk yang kita duga kok.

Berikut beberapa tempat servis selain iBox yang bisa dicoba untuk menyelamatkan perangkat iOS atau Mac kita:

  • iColor (instagram: @icolor_service) yang beralamat di Ruko Thamrin Residence Lt.2 Blok RTE/G/E12 di atas Dapur Cianjur, RT.4/RW.8, Kebon Melati, Tanah Abang, Central Jakarta City, Jakarta 10230.
  • iPrima Apple Service Repair di iprimaappleservicerepair.business.site.
  • iSolution Surabaya dengan akun Instagram @isolution.surabaya
  • MitraCare Service Center Apple (authorized service center) di Komplek Perkantoran Duta Merlin Blok C No. 6-7, Jl. Gajah Mada No.3-5, RT.2/RW.8, Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10130.
  • Bhaguz Hernawan (Twitter: @bhaguz_403) yang juga editor in chief @MakeMac dan pengelola website soal Mac MakeMac.com.
  • Mac Arena Store di Mal Ambasador, Jl. Prof. DR. Satrio No.2- 3, RT.11/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, dengan website macarena.co.id dan akun Instagram @macarena_id.
  • MacBiruni dengan akun Instagram @macbiruni dengan nomor kontak 0812 1516 3009 atau 0878 8338 7227 (WhatsApp).
  • iRepair Detos/ Lebak Bulus dengan website https://www.irepairaba.co.id/servis-iphone-depok/
  • Ustorem2m di Mangga Dua Mall Jakarta lantai 3 no 27A.
  • Koko Kaskus di Jakbar dengan nomor 08129253341.
  • Jaya Mac di Jalan Pondong Pinang #7B, RT.1/RW.2, Pd. Pinang, Kec. Kebayoran. Lama, Kota Jakarta Selatan, nomor kontak 0877-8890-9460.
  • Dr. Gadget (Instagram: @docgadget_) yang punya lokasi gerai di Kelapa Gading, Cilandak Town Square, Pantai Indah Kapuk, Puri, Tangerang, dan Bali. Websitenya di http://www.doc-gadget.com.

Kiat lain ialah dengan survei harga tiket pergi-pulang ke Singapura. Bandingkan dengan harga perbaikan di tanah air dulu. Kalau lebih mahal di Indonesia, katanya sih mending jalan ke Singapura aja dan perbaiki di Apple Store di bandara Changi Singapura yang kasih servis gratis tis tissss. (*/)

(Foto: https://www.apple.com/sg/retail/jewelchangiairport/)

Rendah, Kesadaran Perlindungan Data Pribadi di Indonesia

Beberapa hari lalu kita sempat dikagetkan dengan berita tentang Tokopedia, salah satu startup unicorn dari Indonesia, yang kabarnya terkena insiden peretasan. Jutaan data pribadi penggunanya seperti alamat surel, kata kunci, dan detail pribadi lainnya dijual di internet secara terbuka.

Tentunya ini sangat mengecewakan. Beberapa tahun lalu hal serupa juga menimpa startup ecommerce Indonesia lainnya yang berwarna merah. Hanya saja Tokopedia patut mendapatkan sorotan lebih banyak karena jumlah penggunanya sangat banyak. Bisa dikatakan terbanyak mungkin di negara ini.

Dikutip dari pernyataan manajemen Tokopedia 2 Mei 2020 lalu, diakui bahwa memang ada upaya mencuri data pengguna. Hanya saja mereka berani memastikan informasi penting pengguna mereka tidak bocor. Dikatakan oleh peretas bahwa data pribadi yang ia klaim milik para pengguna Tokopedia itu dijual Rp70 juta saja.

Muncul pertanyaan: “Apakah kita sebagai pengguna layanan ecommerce ini bisa menuntutnya atas kelalaian menjaga data pribadi yang sudah diserahkan?”

Secara teori memang bisa. Dasar hukumnya sudah ada, bahwa pihak penyedia layanan digital harus senantiasa memperbarui dan memeriksa keamanan layanannya. Dan pihak pemerintah bekerja sebagai pengawas.

“Data itu memiliki nilai yang luar biasa. Sekarang perusahaan aplikasi itu punya aset apa selain big data?” ujar perwakilan dari Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN).

Bukti luar biasanya nilai data pengguna ialah nilai perusahaan yang bergerak di bidang big data melampaui nilai perusahaan-perusahaan yang mengelola aset fisik

Hanya saja konsumen tidak bisa mencari keadilan sendiri. Itulah kenapa diperlukan peran negara di dalam kasus-kasus peretasan digital seperti Tokopedia ini. Konkretnya, pemerintah harus memanggil dan meminta keterangan dari pihak penyelenggara layanan sistem elektronik tersebut untuk memberikan keterangan secara detail dan faktual.

Kita sebagai konsumen juga bisa menuntut pihak penegak hukum untuk menyelidiki rekam jejak audit si pihak penyedia layanan digital. Rekam jejak tersebut kemudian yang nanti bisa dijadikan alat bukti apakah si penyedia layanan terbukti lalai dan bersalah atau tidak. Intinya, kita perlu memastikan apakah prosedur pengamanan sudah dilaksanakan seoptimal mungkin atau tidak oleh penyedia layanan. Jika mereka memang menganggap serius, pastinya dilaksanakan perbaikan dan pemantauan keamanan layanan secara rutin.

Undang-undang Perlindungan Konsumen bisa digunakan untuk pijakan gugatan class action. Namun, menurut catatan di republik ini tak banyak masyarakat yang mau memanfaatkan kesempatan ini.

Hal ini tentu bukan sesuatu yang aneh karena masyarakat Indonesia belum sepenuhnya paham akan tingginya harga data pribadi mereka. Kebanyakan orang Indonesia tak merasa bahwa data-data mereka cukup berharga untuk dicuri, padahal jika banyak ditilik dari modus operandi kejahatan, membiarkan data pribadi kita terumbar begtiu saja membuat kita menjadi calon mangsa kejahatan yang empuk. Barulah saat mereka terkena insiden yang diakibatkan keteledoran itu, mereka baru sadar pentingnya data pribadi tersebut.

BPKN sendiri sudah mendesak pemerintah untuk mengeluarkan undang-undang untuk melindungi data pribadi pengguna. Karena sekali data jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab, kita akan menanggung konsekuensinya yang berat.

BPKN menerima pengaduan konsumen yang merasa hak-haknya dilanggar dan diabaikan oleh penyedia layanan dalan kasus-kasus peretasan seperti ini.

BPKN sampai saat ini belum menerima pengaduan terkait dugaan peretasan data Tokopedia. Namun, ia mencatat adanya peningkatan pengaduan terkait layanan ecommerce selama masa pandemi ini. Ini karena banyak masyarakat yang harus berdiam di rumah sehingga frekuensi berbelanja daring menjadi lebih tinggi daripada sebelumnya.

BPKN sendiri menggarisbawahi bahwa pemahaman soal pentingnya perlindungan data pribadi konsumen di tanah air juga masih belum sesuai harapan. Konsumen di Indonesia rata-rata sangat mudah memberikan data pribadinya ke pihak lain tanpa memastikan keamanannya.

Karena tingkat kesadaran rendah inilah, negara juga idealnya terpanggil untuk melindungi warganya dengan aturan-aturan yang mewajibkan penyelenggara layanan agar bekerja dengan sebaik mungkin untuk memastikan perlindungan data penting konsumen. Dengan jumlah penyelenggara layanan yang lebih sedikit dibandingkan jumlah konsumen, lebih masuk akal juga bagi pemerintah untuk memfokuskan upaya perbaikan dan pemantauan kepada pihak-pihak penyelenggara jasa ecommerce.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Maukah ikut menuntut dalam gugatan class action agar para penyelenggara layanan digital bisa lebih ketat dan belajar tidak menganggap enteng kasus-kasus demikian di masa datang? (*/)

Radio: Tetap Relevan di Abad Digital

SIAPA sih yang masih mendengarkan radio di saat teknologi digital sudah menjamur seperti sekarang ini?

Saya!

Iya, saya masih setia mendengarkan radio.

Dalam kehidupan saya, radio memiliki peran yang tidak tergantikan. Di saat saya kecil, saya masih ingat sebuah radio yang jika dijinjing dengan tubuh kecil saya saat TK dulu pastinya akan sangat berat.

Dulu radio memberikan saya kesempatan untuk mendengarkan banyak acara. dan sebuah kebanggaan tersendiri jika saya bisa terlibat di dalamnya.

Pernah saat saya masih duduk di bangku TK, TK saya diundang ke sebuah radio di kota asal saya. Radio Muria namanya.

Kami sekelas diberikan slot waktu tersendiri untuk berceloteh. Dan karena usia kami yang masih sangat muda, gaya bicara kami juga masih belum ‘mapan’, sehingga membuat orang merasa gemas dan terhibur.

Saya juga didaulat mengucapkan sepatah dua patah kata saat acara itu berlangsung. Kalimat apakah yang saya rapalkan, saya kurang ingat. Namun, setahu saya anak-anak TK yang diundang biasanya disuruh menjawab sejumlah pertanyaan, misalnya “sebutkan sila-sila dalam Pancasila”, “coba baca surat (nama surat pendek dalam juz ke 30 di Al Qur’an)”, dan sebagainya. Tahulah, sederet pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya mengandalkan memori. Guru-guru TK kami memang belum seperti sekarang yang sudah mengenal pentingnya daya nalar kritis. Ya sudahlah. Tapi toh itu saja sudah cukup untuk membuat audiens kami di rumah mereka ternganga dan terkagum karena otak kami yang begitu ‘cemerlang’ menghapal beragam pengetahuan yang orang dewasa saja sudah lupakan.

Begitu saya beranjak remaja, radio masih memegang peranan penting dalam mengisi waktu dan menghibur saya. Bahkan saya dan adik saya sampai berebut radio sehingga akhirnya orang tua kami membawakan satu radio yang tak terpakai di rumah kakek untuk digunakan.

Radio membuat saya juga bersemangat belajar. Di sebuah radio lokal, acara dikte syair lagu bahasa Inggris secara berkala diudarakan dan dari sinilah sedikit banyak saya mengasah kemampuan berbahasa Inggris saya.

Radio juga membuat jantung saya bisa berdegup kencang di tengah malam karena menyimak acara kisah misteri yang memberikan sensasi tersendiri. Dan lain dari film, kisah-kisah ini terasa begitu nyata sebab lokasinya biasanya ada di sudut-sudut yang saya juga pernah datangi. Itulah kenapa rasanya lebih mencekam dan intens.

Radio bagi saya sendiri sekarang lebih dari sekadar media informasi. Akhir-akhir ini saya lebih sering menyimak radio daripada media sosial dan lebih mengandalkan radio sebagai sumber informasi yang lebih tepercaya dan netral daripada situs-situs berita daring, akun-akun media sosial, terlebih lagi kabar burung di aplikasi chat WhatsApp yang akan segera menjadi aplikasi berbayar itu.

Untungnya ukuran radio sekarang sudah lesap ke dalam tipisnya ponsel pintar. Semua fungsi perangkat radio kuno kini bisa dikempeskan ke dalam sebuah chip yang kemudian bisa ditanamkan di ponsel. Untuk mengoperasikannya juga tak perlu menggunakan baterai sebesar botol atau mencolokkannya ke sumber listrik terus. Saya kini bisa membawanya ke mana pun saya pergi dalam kantong kemeja tanpa merasa keberatan dan kerepotan. Cuma butuh earpiece untuk memggantikan antena konvensional yang panjangnya mirip penggaris itu.

Bagaimana menurut Anda?

Apakah radio masih menjadi sumber informasi atau sudah terlupakan di tengah hiruk pikuknya teknologi digital yang sudah memperhamba kita semua? (*/)

Ponselmu, Kepribadianmu

Kebanyakan artikel soal pengelompokan kepribadian berdasarkan pilihan seseorang hanya menggunakan asumsi yang tidak bisa dianggap ilmiah.

Tapi di tulisan kali ini, saya menggunakan hasil studi ilmiah untuk mencoba mengidentifikasi kepribadian pemilik ponsel cerdas.

Menurut hasil penelitian dari tim riset Lancaster University tahun 2016, para pengguna ponsel Android secara psikologis lebih jujur daripada pengguna iPhone.

Wah, benarkah?

Studi ini sendiri dilakukan dengan melibatkan lebih dari 550 pengguna ponsel pintar di Inggris, tempat 80% warganya pasti memiliki ponsel pintar dengan pangsa pasar iPhone dan Android yang sama kuatnya (50 banding 50).

Dalam penelitian yang hasilnya dipublikasikan di “Cyberpsychology, Behaviour and Social Networking” tersebut, ditemukan adanya kaitan kuat antara pilihan ponsel pintar dan kepribadian dengan argumen bahwa ponsel merupakan ekspresi dari pribadi kita.

KUBU iPHONE
Berikut merupakan beberapa kecenderungan yang ditemukan pada para pemilik iPhone.

Dibandingkan mereka yang menggunakan ponsel Android, para pengguna iPhone lazimnya berusia lebih muda. Perempuan biasanya juga menjadi pengguna iPhone. Kepemilikan iPhone bagi mereka dianggap sebagai sebuah ungkapan status baik ekonomi dan sosial. Orang-orang yang menggunakan iPhone juga dikatakan lebih ekstrovert dan tidak begitu memikirkan soal kepemilikan ponsel yang terlalu ‘pasaran’.

KUBU ANDROID
Sebaliknya, mereka yang menggunakan ponsel Android dikatakan memiliki kecenderungan kepribadian sebagai berikut.

Para pemilik iPhone biasanya berjenis kelamin pria dan berusia matang. Di studi ini juga ditemukan bahwa kepribadian mereka lebih terbuka, jujur dan menyenangkan.

Mereka ini lebih segan melanggar aturan demi kepentingan pribadi dan tidak begitu tertarik untuk meraih kekayaan dan status sosial dan ekonomi.

Mengutip Dr. David Ellis, seorang peneliti dari Lancaster University, studi ini menunjukkan bahwa pilihan sistem operasi ponsel bisa memberikan petunjuk yang bermanfaat jika kita hendak meramalkan kepribadian dan karakter seseorang.

Di studi lain, psikolog kemudian dapat mengembangkan program komputer yang bisa memprediksi jenis ponsel apa yang dimiliki seseorang berdasarkan perbedaan-perbedaan antara pengguna iPhone dan Android. (*/)

Menjajal Buat Podcast

Sejak akhir tahun lalu, saya tertarik untuk membuat podcast.

Selama ini saya pikir membuat podcast rumit. Ya memang rumit karena harus tahu tetek bengek teknisnya Dan melihat orang podcast dengan memakai mikrofon, saya pun berkata dalam hati,”Harus ya pakai mikrofon?” Ya karena saya tidak punya. Dan masak beli mikrofon hanya cuma karena mau iseng bikin podcast yang cuma berdasarkan iseng.

Nah, begitu suatu hari saya temukan aplikasi “Anchor”, saya girang. Ternyata aplikasi tersebut bisa membantu saya membuat rekaman podcast cuma dengan berbekal ponsel cerdas.

Langsung saja saya unduh aplikasi itu di Google Play dan menggunakannya.

Sebagai pengganti mikrofon, saya cuma pakai mikrofon ponsel saya. Praktis.

Dan karena saya bisa menggunakan ponsel untuk merekam suara saya sendiri, saya akhirnya bisa melakukan perekaman podcast di mana saja asal suasananya tenang sehingga ucapan saya terekam dengan baik.

Kemudian saya mencoba merekam dengan menggunakan Anchor.

Rekaman suara saya bisa dibagi-bagi lagi dan diedit dan dipotong-potong. Awalnya saya tidak pakai script. Alhasil kadang saya terbata-bata, kadang melantur ke mana-mana dan membosankan.

Setidaknya itulah kata teman-teman kerja saya yang mendengarkan podcast saya itu.

Saya sendiri memilih topik kesehatan dan tidur sebagai tema besarnya. Kenapa? Ya, karena saya punya passion di bidang kesehatan/ wellbeing jadi saya merasa lebih nyaman membicarakannya.

Kelebihan merekam tanpa script ialah saya bisa mengupas puas topik yang dipilih. Panjang lebar tidak masalah.

Masalahnya saya kemudian menyadari bahwa jalannya pikiran saya ternyata bisa ‘ngalor-ngidul’ jika tidak diberi panduan script. Jadinya durasi podcast saya panjanggg sekali. Sampai 30 menitan dan menurut pendengar, menjadi agak membosankan meskipun sudah diberi musik latar dan jeda.

Karena itu, saya disarankan seorang teman yang pernah bekerja di dunia penyiaran untuk memangkas durasi dan membuat script yang bis dibaca saat podcast. Setidaknya sebagai panduan agar tidak melantur. Berikut contoh script podcast tersebut.

CONTOH SCRIPT PODCAST

Music intro (Sex and the city soundtrack)

Opening: Hi Akhlicious, welcome to my podcast channel. Boleh tanya ga? Siapa yang ga suka nonton film? Saya rasa semua orang suka nonton film, if I may ask myself, Saat diajak menonton film-film fantasi seperti Gundala atau The End Game punya Marvel, saya tidak merasakan tertarik. Namanya juga pecinta film realis/

Jadi saat saya diajak menonton film satu ini, saya merasa lumayan ingin tahu. Sebab film ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Ada sesuatu dalam kisah nyata yang terasa lebih menggugah daripada film-film fantasi bertema superhero. Bukan saya bermaksud merendahkan genre itu, tetapi ini cuma berbeda selera semata/

Di situs Rotten Tomatoes, saya mendapati para kritikus sepakat dengan vonis “lucu, menyayat hati, dan cerdas” dalam konsensus mereka. Dan saya sendiri merasakan sensasi yang mirip/

Film ini diilhami oleh kisah cinta Kumail Nanjiani dan Emily V. Gordon ini diputar hampir 120 menit, tepatnya 119 menit/

Sebetulnya isu yang diangkat klise saja: perbedaan budaya dan kebangsaan yang cukup lebar di antara kedua manusia yang terlibat romansa/ Who doesn’t like romance?/

Kumail seorang pemuda yang sudah memasuki usia matang dan pantas menikah namun belum menemukan perempuan yang sesuai. Ia sendiri terus menerus disuguhi ibunya yang Pakistan totok untuk menikahi wanita-wanita pilihannya. Mereka ini sudah dipilih bobot, bibit, dan bebetnya oleh si ibu yang bersikeras bahwa anak-anaknya harus menikahi orang Pakistan juga meskipun mereka sudah tinggal lama di Inggris Raya/

(SARAN: persingkat cerita nya, lalu kasi punch line dibelakang story, kayak key take outs gitu)

Banyak pergulatan batin yang dialami oleh karakter utama Kumail di sini. ia mengalami pergulatan spiritual. Kumail berpura-pura masih meyakini agam Islam yang diyakini oleh semua anggota keluarganya. Ada adegan yang lucu, yakni saat ia disuruh oleh orang tuanya untuk salat di basement rumah mereka. Ia menurut saja, menggelar sajadah seolah sedang salat tetapi kenyataannya ia duduk dan menonton video di iPhonenya dan keluar dengan menenteng sajadah yang terlipat seolah habis salat dengan khusyuk. Kumail belum berani mengatakan ia ingin mencari keyakinan spiritualnya sendiri. Tidak cuma mengekor kedua orang tuanya yang sudah sejak lahir muslim taat.

Sang protagonis juga terus diam saat ia masih dijodohkan ibundanya dengan beragam gadis Pakistan yang diajak mampir si ibu. Begitu seringnya hingga ia sendiri hapal dengan skenario si ibu saat ada gadis Pakistan yang ‘mampir’. Seolah kehadiran mereka cuma kebetulan, padahal sudah direkayasa sedemikian rupa.

Dan sayangnya tidak ada satu gadis Pakistan pilihan ibunya yang ‘sreg’ di hati. Begitu banyaknya gadis yang sudah diajak ke rumah agar bisa bertemu dengan Kumail sampai sebuah kotak penuh dengan foto-foto mereka.

Semua itu terus terjadi dengan pergulatan karier yang dihadapi Kumail juga di kota kecil tempatnya tinggal. Ia belum mendapatkan pekerjaan tetap dan hanya mencari nafkah dengan menjadi pengemudi Uber. Ia terus berusaha mencari celah untuk bisa menjadi bintang comic di panggung standup comedy tapi belum begitu berhasil.

Suatu malam ia bertemu dengan Emily yang sedang studi S2 di bidang psikologi dan merasa cocok. Namun, karena Kumail sendiri sudah apatis dengan cinta, ia ‘berkomitmen’ tidak akan bertemu/ berkencan dengan seorang wanita lebih dari sekali. Mungkin istilahnya yang tepat ialah “one night stand”, suatu konsep berpacaran yang sangat melampaui kaidah syariah yang dianut keluarganya.

Yang saya sangat kagumi dari Kumail ialah keteguhan tekadnya. Begitu ia tahu Emily adalah sosok yang ia cari selama ini sebagai pasangan hidupnya, dengan gigih ia melakukan apapun, termasuk bersikeras menjagainya saat koma.

Konflik tercipta saat ibu Emily tampak tidak menyukainya. Namun, kebencian itu semua lumer begitu kedua ortu Emily menghadiri pentas standup comedy Kumail. Di situ terjadi hal yang mustahil terjadi dalam benak Kumail: ia dibela ibu Emily yang marah melihat ada celetukan rasis dari seorang penonton padahal Kumail sudah berupaya tenang dan tidak terprovokasi. Perlahan ia juga sanggup merebut hati ayah Emily.

Hanya saja, problem sejati biasanya berasal dari dalam, dalam kasus Kumail, ia harus menghadapi ibu dan ayahnya. Mereka berdua akan marah besar jika tahu ia akan menikahi gadis kulit putih yang tidak cuma seagama, tapi juga tidak seras, tidak sebudaya, tidak bisa memenuhi syarat menantu ideal karena ia sudah janda. Emily diketahui kemudian sudah pernah menikah dan gagal.

Hubungan Emily dan Kumail hampir retak. Dan Kumail dengan sabar menunggunya sampai benar-benar pulih dari penyakit langka yang ia derita.

Akhirnya keduanya kembali bertemu dan Emily menerima Kumail. Sebuah akhir yang manis dan bisa ditebak. Tidak tragis dan penuh ‘twist’.

 Until my next podcast, asta la vista akhlicious (harus ada closing line)

Pengalaman Update Sistem Operasi Samsung A6

Beberapa hari lalu saya mendapatkan pengalaman berharga mengenai betapa berharganya sambungan internet nirkabel yang berkecepatan tinggi.

Ponsel saya Samsung A6 keluaran 2018 yang baru saya beli Agustus tahun 2018. Terbilang anyar.

Lakukan pembaruan sistem operasi Anda di Pusat Layanan Samsung resmi kalau tidak ingin ada masalah. (Dok

Selasa sore saya mendapatkan pemberitahuan bahwa sistem operasi/ software di ponsel cerdas ini bisa diperbarui dengan mengunduh file tersebut.

Saya lakukan sesuai rekomendasi. Karena menurut hemat saya, memperbarui software ponsel akan memberikan lebih banyak manfaat terutama di sisi keamanan. Sistem operasi yang usang memberikan banyak celah keamanan yang bisa diterobos oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Saya sukses mengunduh file tersebut dan kemudian memasang (instal) di ponsel. Sejauh ini tidak ada masalah.

Masalah: Dari Restart Sampai File Hilang

Ponsel beberapa kali mati dan hidup kembali (restart) dan entah bagaimana, saya mendapati saya harus menerima bahwa file-file foto dan video serta audio di ponsel harus direlakan untuk terhapus!

Apaaaa??!

Sontak saya terkejut dan syok.

Apalagi saya baru saja liburan dan masih banyak foto-foto serta video yang belum saya unggah ke media sosial.

Sebenarnya saya tipe orang yang tidak begitu rajin mengunggah file sebagai cadangan (backup) di Samsung Cloud (mirip iCloud tapi punya Samsung, dengan kapasitas lumayan besar juga 15 GB). Kalau ada file yang hilang, saya hanya mengikhlaskan saja. Haha!

Namun, kali ini saya rupanya tidak hanya harus merelakan file-file itu hilang begitu saja.

Ponsel saya juga tiba-tiba restart berulang kali.

Mengisi daya ponsel di Samsung Service Center. (Dok. pribadi)

Dan ini di luar batas kewajaran, sebab hal itu terjadi ratusan kali. Dari sore sejak saya melakukan pembaruan hingga keesokan harinya, sampai baterai ponsel itu mati sendiri karena terkuras akibat hidup-mati terus-terusan.

Alhasil, kegiatan berkomunikasi terpaksa ditangguhkan. Memesan ojek daring pun terpaksa dengan meminta bantuan teman.

Untungnya saya bukan tipe orang yang membuang atau menjual ponsel lama yang masih berfungsi baik. Dan di situasi darurat seperti ini ponsel lama itu bisa sangat membantu.

Saya kemudian memakai iPhone 5 lama saya yang tersimpan baik di lemari dan komunikasi berjalan lancar kembali dengan lancar.

Karena ingin segera memperbaikinya, akhirnya saya putuskan mencari nomor layanan Samsung dan mendapatkan nomor bebas pulsa 08001128888.

Langsung tanpa ragu saya hubungi dan mendapatkan sejumlah pertanyaan dari si petugas. Ia memastikan apakah saya sudah mengecas ponsel karena siapa tahu baterainya tidak terisi penuh sehingga ia gagal dioperasikan. Saya jawab mantap, TIDAK. Insiden mati-hidup ini tidak wajar dan bukan karena baterai kehabisan energinya.

Kemudian saya ditanya apakah mengunduh file pembaruan itu via sambungan seluler atau wifi. Saya jawab wifi, dan ia menjawab bisa jadi gangguan itu akibat sinyal wifi yang kurang stabil sehingga file yang seharusnya diunduh dan dipasang tidak lengkap atau, entahlah…pokoknya menjadikan ponsel jadi kurang beres.

Nah! Saya kemudian berusaha ingat-ingat memang wifi yang saya gunakan itu beberapa kali mati dan hidup tanpa terduga. Ah, itu rupanya sebabnya!

Saya kemudian disarankan petugas untuk membawa ponsel Samsung A6 yang tak bisa digunakan ini ke Samsung Service Center terdekat.

Karena saya tinggal di wilayah Jakart Selatan, saya disarankan ke Lotte Shopping Avenue, jalan Professor Doktor Satrio, Kuningan.

Awalnya saya hanya ingin ke Ambassador Mall tapi ia menyarankan ke Lotte saja karena pusat layanan di Lotte itulah yang fokus untuk perbaikan piranti lunak perangkat Samsung.

Baiklah. Selang berapa menit saya meluncur ke tempat yang disarankan.

Enaknya di Jakarta memang begini, ke mana-mana dekat (meskipun terkesan jauh karena kemacetan yang mendera dan pengaturan lalin yang carut-marut tidak jelas).

Sampai di Samsung Service Center di Lotte Shopping Avenue, saya segera menjelaskan permasalahan ponsel ini dan petugas yang berjaga mengatakan insiden itu lazim ditemui pada ponsel yang dimutakhirkan dengan bantuan sambungan nirkabel (baik itu seluler atau wifi) yang kurang stabil kecepatannya.

Klop!

Itu juga penjelasan yang sama dengan yang saya terima sebelumnya dengan si operator di telepon tadi.

Langsung saja ia membantu saya menyambungkan ponsel ini dengan wifi di pusat layanan resmi Samsung tersebut dan kemudian secara bertahap, ia membantu mengunduh file pembaruan dan akhirnya memang ponsel saya bisa dinyalakan kembali.

Alhamdulillah!

Tapi masalahnya karena saya malas mengunggah file ke Samsung Cloud, saya memang harus merelakan semua file foto dan video liburan di Bangka itu.

Yang bisa diunduh dari file cadangan di Samsung Cloud ternyata file-file lama yang tak begitu saya butuhkan.

Repotnya kalau sudah gangguan semacam ini ialah melakukan log in kembali ke aplikasi-aplikasi yang kita gunakan. Melelahkan! Apalagi jika kata-kata kunci itu susah diingat dan berbeda-beda (sebagaimana disarankan oleh mereka yang sadar keamanan daring).

Simpulan

Maka untuk mencegah kejadian semacam ini, setelah ini saya berusaha mengingatkan diri sendiri dan Anda semua pentingnya:

  1. Lakukan backup secara berkala ke media penyimpanan awan (cloud) seperti Google Drive atau Samsung Cloud.
  2. Lakukan pembaruan Sistem Operasi ponsel dengan hanya menggunakan sambungan nirkabel yang stabil dan lancar. Jika tidak yakin dengan kestabilan sambungan wifi atau seluler Anda, kunjungi pusat layanan Samsung terdekat dan lakukan pemutakhiran di sana dengan panduan dari petugas yang berpengalaman.

%d bloggers like this: