Penerjemahan Karya Sastra, Pekerjaan Rumah Berlimpah bagi Indonesia

Ada hal yang menggelitik tatkala Wakil Pimpinan Frankfurt Book Fair Claudia Kaiser menyampaikan kritik transparannya mengenai proses kerjasama dengan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), yang menurutnya berjalan sangat lamban. Kaiser menyatakan dengan nada kritis, yang segera dihentikan oleh editor John H. McGlynn dari Yayasan Lontar yang tampil bersamanya hari itu (22/3/2015) dalam diskusi “The Role of Literary Translation” dalam rangkaian Asean Literary Festival 2015 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Meskipun interupsi McGlynn itu disampaikan dengan mimik muka bercanda, saya tahu hal yang Kaiser coba untuk sampaikan mungkin bisa disalahartikan oleh sebagian pihak dan berdampak pada kerjasama nantinya.

Desliana Maulipaksi telah menuliskan laporan selayang pandangnya yang berjudul “Pentingnya Program Penerjemahan Karya Sastra Suatu Negara” di Kemdikbud.go.id. Dan kini saya akan melengkapi reportasenya itu, bukan dengan sudut pandang birokrat atau pihak luar/ asing yang bekerjasama dengan birokrat, tetapi lebih sebagai bagian dari kelompok akar rumput alias rakyat yang mencemaskan kemajuan susastra negerinya di tingkat dunia.

Kaiser mengaku pemerintah Indonesia saat itu memiliki minat yang besar dalam berpartisipasi dalam Frankfurt Book Fair. “Tetapi kami katakan dibutuhkanwaktu setidaknya 3 tahun untuk mempersiapkan diri dengan baik,” sarannya pada kementerian. “Kami pun banyak menelepon, bertukar surel, dan kami menunggu selama 2 tahun. Akhirnya kami putuskan kami tak bisa menunggu lebih lama. Saat kami sudah berhenti berharap, nota kesepahaman diteken tiba-tiba. Namun, (persiapannya) sudah terlambat. Akhirnya hanya ada waktu 2 tahun untuk bersiap-siap.”

Masih kata Kaiser, program pendanaan penerjemahan juga menemui aral. Perubahan dari pihak pemerintah Indonesia terjadi terus menerus bahkan setelah jadwal dan linimasa sudah ditetapkan sebelumnya oleh pihak Frankfurt Book Fair.

McGlynn bukannya tidak mengkritik sama sekali. Tinggal di Indonesia puluhan tahun membuatnya tahu bagaimana menyampaikan kritik dengan lebih ‘Indonesia’, lain dari cara Kaiser yang lebih ‘Aryan’. Ia turut memberikan masukan mengenai kurangnya perhatian pemerintah pada perkembangan dunia susastra di sini. “Sudah banyak festival sastra di Indonesia, itu bagus. Akan tetapi untuk menghadiri acara-acara itu pun para penulis dan penerbit masih belum didukung oleh pemerintah. Tidak ada anggaran yang teralokasikan secara khusus untuk mendanai kegiatan para penulis dan penerbit untuk memperkenalkan karya-karya di festival sastra,” ujar McGlynn.

Selama ini, masih kata McGlynn, para penulis harus menggunakan kenalan mereka di dalam lingkaran birokrasi. Mereka yang diberangkatkan biasanya adalah para pegiat sastra yang dikenal kalangan pemerintah juga. Jika tidak dikenal, pupus sudah harapan untuk diajak.

McGlynn menyarankan pemerintah untuk merealisasikan rencana besar (grand plan) khusus bagi pegiat sastra di Indonesia agar mereka makin dimudahkan dalam berkarya dan memperkenalkan karya-karya mereka. Bertahun-tahun lalu saat McGlynn memulai karirnya sebagai penerjemah, digagas sebuah program penerjemahan sastra ke bahasa-bahasa negara Asean. Dan ia menegaskan ini bukan proyek yang bersifat komersial. “Siapapun yang memberikan uangnya untuk proyek ini akan kehilangan uangnya itu,” tegas McGlynn terus terang.

“Karena itulah diperlukan peran pemerintah,” timpal Kaiser dengan gemas sedetik setelah McGlynn berbicara.

Di Indonesia, peran pemerintah memang tidak bisa diabaikan. Namun, sebuah kebodohan untuk menunggu pemerintah mengatasi semua tantangan di lapangan secara otomatis dalam waktu secepatnya.

Untungnya, pihak swasta juga sudah menunjukkan kepeduliannya. “Ada sebagian kalangan swasta yang sudah menunjukkan kepeduliannya,” katanya. Lagi-lagi, tidak ada skema insentif yang dapat mendorong korporasi swasta Indonesia untuk secara kontinu menjadi penyandang dana proyek-proyek penerjemahan. Buktinya, tidak diberikan pemotongan terhadap jumlah pajak yang dibebankan pada perusahaan-perusahaan yang menyumbang di proyek-proyek penerjemahan karya sastra. McGlynn menjelaskan,”Diperlukan adanya struktur pajak yang memberikan keuntungan bagi korporasi swasta yang bersedia memberikan sumbangsih bagi keberlangsungan institusi-institusi budaya. Anda bisa mendapatkan insentif pajak untuk olahraga di Indonesia, tetapi tidak untuk sastra.” Skema insentif pajak semacam itu sudah terbukti sukses di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita semua.

Jerman juga mengalami tantangan yang sama. Menurut Kaiser, minat korporasi swasta di negerinya untuk mendanai program penerjamahan karya sastra masih rendah karena mereka lebih mengutamakan visibilitas brand. Karenanya, mendukung sebuah acara olahraga akan lebih menguntungkan daripada mendukung program sastra, tandas wanita yang menguasai bahasa Mandarin itu. Kalaupun ada proyek penerbitan yang didanai, lanjutnya, buku hasil pendanaan biasanya bertema sejarah perusahaan yang memberikan pendanaan.

Inilah Proses Produksi Buku Terjemahan

Ingin tahun bagaimana sebuah buku terjemahan bisa dihasilkan? Berikut penjelasannya, seperti saya kutip dari penjelasan penerjemah fiksi berpengalaman Dina Begum.

Akuisisi

Dalam tahap pencarian naskah, editor akuisisi mencari naskah asli bahasa asing. Bila dianggap bagus dan lisensi menerbitkannya ke bahasa Indonesia tersedia, naskah dibawa ke rapat redaksi. Di rapat redaksi, rapat ini biasanya juga diikuti pihak marketing dan keuangan dan membahas prediksi penjualan naskah, apakah akan diterima konsumen atau tidak. Memasuki tahap negosiasi, bila naskah disetujui, editor akuisis menghubungi agen atau penerbit naskah untuk memperoleh lisensi menerbitkannya ke bahasa Indonesia.

Editorial

Selama proses penerjemahan, editor menunjuk penerjemah yang akan menggarap naskah. Penrjemah menerima Surat Perintah Kerja (SPK) dari penerbit dan bekerja sesuai dengan tenggat waktu yang disepakati. Pengeditan 1, editor mengedit naskah. Setelah selesai, naskah dikirim ke bagian tata letak (setter). Untuk tata letak, setter mulai mengatur tata letak dan menghasilkan cetak coba (pruf/ proofreading). Kemudian editor membaca cetak coba (pruf) untuk memeriksa apakah ada kesalahan dalam ejaan, tanda baca, tata letak, dan sebagainya. Tahap ini bisa berlangsung 3-4 kali. Naskah yang telah melalui tahap tata letak dan baca pruf akan kembali ke editor untuk disunting lagi secara keseluruhan sebelum diserahkan ke bagian produksi.

Produksi

Pembuatan sampul buku dan ilustrasi. Tahap ini biasanya berlangsung simultan dengan tahap-tahap di atas. Setelah itu, naskah yang sudah rampung dikirimkan ke percetakan. Untuk waktu pencetakan bisa beragam. Jika sudha tercetak, buku-buku akan didistribusikan ke berbagai tempat agar dapat dibeli konsumen. Sejumah salinan/ eksemplar buku akan dikirim juga ke pemegang lisensi buku asli dan penerjemahnya (sebagai bukti bahwa buku terjemahannya sudah diterbitkan).

Tips untuk Penerjemah agar Tetap Dilirik Penerbit

Penerjemahan selalu terkait dengan tenggat waktu. Semua selalu dilakukan dengan berpatokan pada durasi pengerjaan padahal kerumitannya juga mungkin tak kalah tinggi.  Penerjemah harus mempertahankan tingkat akurasi hasil penerjemahannya dan tetap berpacu melawan waktu.

Selama ini saya selalu berpikir bahwa penerjemahan yang berkualitas haruslah yang dikerjakan dengan penuh ketelitian dan karena itu tidak bisa diburu-buru. Tetapi sebuah sudut pandang lain diberikan oleh Maria E. Sundah, salah satu penerjemah kawakan Himpunan Penerjemah indonesia. Ia beralasan sebuah proses penerjemahan harus dilakukan dengan cepat berdasarkan pertimbangan tersendiri, yaitu karena jika dilakukan terlalu lama, buku yang diterjemahkan sudah tidak in lagi alias sudah basi. Ini bisa dipahami karena sekarang buku-buku baru selalu bermunculan di rak toko buku dan etalase e-bookstore dalam kecepatan yang lebih tinggi.

Maria kembali memberikan ‘bocoran’ tentang bagaimana menjadi penerjemah idaman penerbit. Menurutnya, penerjemah harus sudah familiar dengan buku-buku terbitan penerbit yang bersangkutan. Itu karena setiap penerbit memiliki gaya yang berbeda-beda. Dengan memahami gaya mereka yang khas, peluang untuk mengerjakan dengan lebih baik sesuai keinginan penerbit juga akan lebih tinggi dan waktu yang dihemat untuk menyunting juga lebih banyak.

Masih tentang penghematan waktu, Maria juga mengatakan perlunya kemampuan penerjemah menghasilkan teks sasaran yang (almost) zero-defect alias (mendekati) sempurna.  Apa hubungannya teks hasil yang akurat dan penghematan waktu? Maria berargumen, “Dengan menghasilkan teks yang zero defect, penyunting akan membutuhkan waktu lebih pendek untuk memperbaiki naskah dan akhirnya buku akan lebih cepat diterbitkan.” Sangat masuk akal.

Belajar ‘Ilmu Monyet’ dalam Penerjemahan

Ilmu monyet dalam menerjemahkan? Aliran dan jenis ilmu apa itu? Mungkin ini pertama kali Anda menemukan istilah aneh ini. Akan tetapi, itulah terminologi khusus Maria E. Sundah, seorang pakar dan praktisi penerjemahan yang terlontar dalam perbincangan santai kami siang itu di acara Kopi Darat anggota Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) yang bertempat di Kafe Dedaunan, Kebun Raya Bogor, 12 Maret 2013 yang lalu.

Ilmu monyet Maria gunakan untuk merujuk pada kiat yang menurutnya sangat efektif memecahkan teks yang sebelumnya ia tak begitu pahami karena tingkat pemahamannya yang kurang di disiplin ilmu yang berkaitan dengan teks tersebut. “Saat di kelas (pen- Maria dulu bekerja sebagai pengajar di Universitas Indonesia) dulu saya selalu ngomong ilmu monyet. Niruuu!” celetuk Maria yang diiringi gelak tawa kami semua yang mendengarkan paparannya dengan  seksama. Sebenarnya ia belum memberikan uraian pengalamannya di penerjemahan kuliner di sesi berbagi kepada semuanya tetapi di percakapan santai kami ini pun banyak ilmu bertebaran yang bisa dituai.

Mari berkata, pernah ia harus menerjemahkan teks bertema sosiologi. “Padahal saya tidak terlalu mengerti sosiologi,” ujarnya. Solusinya menurut Maria ialah seorang penerjemah harus tidak segan untuk banyak membaca dan melakukan riset sendiri. Caranya meriset ini cukup sederhana, hanya dengan banyak membaca teks-teks sosiologi dalam bahasa Indonesia (atau bahasa lain yang relevan) dengan tujuan untuk mengakrabkan otak dengan istilah-istilah serta jargon yang digunakan dalam disiplin ilmu sosiologi. Dengan membaca kita juga secara perlahan memahami cara gagasan dituangkan dalam teks-teks bertema sosiologi. “Kita jadi tahu cara ngomong mereka. Kita juga menebak-nebak arti istilah-istilah asing dalam teks,” paparnya. Internet juga membantu untuk memeriksa akurasi, dengan menggunakan Google Translate, kamus online berbagai bahasa, dan situs layanan kamus elektronik lain yang lebih spesifik. Dengan demikian, kita bisa mengetahui lumrah tidaknya, lazim tidaknya, berterima tidaknya hasil penerjemahan kita nantinya karena percuma saja jika kita sudah bekerja keras menerjemahkan tetapi akhirnya pembaca hasil terjemahan kebingungan karena semua istilahnya aneh dan sama sekali asing di telinga mereka mesti itu disajikan dalam bahasa ibu mereka.

Seorang penerjemah yang baik, menurut Maria, harus bisa mempertanggungjawabkan hasil penerjemahannya dan itu berlaku untuk semua teks, fiksi atau non-fiksi. “Penerjemah harus memiliki simpati pada pembaca terjemahannya, sehingga ia tidak bekerja asal-asalan, karena pembaca tidak memiliki ‘kemewahan’ untuk membaca dan memahami teks sumber,” tandas Maria.

Free Download Trados 2011 (Trial Version)

 For any of you who really want to give Computer Assisted/ Aided Translation tools (CAT) a try,  maybe you need to download and use this before making a purchase.

Here is the link:  http://www.mediafire.com/?gnt2ktfai1c6s. Hope it doesn’t get blocked because in some of my connection the file sharing service sites like mediafire get blocked.

Clue: After downloading all the files in the folder on Mediafire, click twice disk1.exe to unite all the separate files. Trados Studio 2011 and Multiterm 2011 will be of great help for a professional translator or a pro translator wannabe like me.

Happy downloading…

Thanks to Arfan Achyar, my fellow translator for providing the link above.

Pusat Penerjemahan Sastra: Impian Eliza Vitri Handayani, Penerjemah dan Masyarakat Sastra Indonesia

Dari kiri ke kanan: Penerjemah David Colmer, penggagas InisiatifPenerjemahanSastra.org Eliza Vitri Handayani, penerjemah Kari Dickson dan penerjemah bahasa Inggris-Norwegia Kate Griffin

Saat saya masuki aula besar di atas galeri seni di Erasmus Huis Sabtu pukul 7 lewat 15 menit malam kemarin (13/10/2012), suasana khidmat terasa. Ruangan yang besar tersebut tidak terisi penuh. Kursi di bagian depan cuma terisi satu dua orang. Hampir setahun lalu saya juga pernah berada di sini, untuk menonton film pemenang ajang SBM Golden Lens Award di bulan November 2011. Sangat berkesan.

Malam kemarin juga tak kalah berkesan. Saya bertemu teman yang selama ini hanya bersua secara virtual di Facebook dan blog, Dina Begum. Teman-teman baru sesama penerjemah juga banyak bertebaran di seantero ruangan sampai saya bingung harus memilih meredam gesekan usus yang masih kosong atau berkenalan dengan sebanyak mungkin orang di kesempatan langka malam itu. Cuma sempat berkenalan dengan Budi Suryadi yang membuat kami tergelak dengan lelucon angsa dan kuda nil di tengah danau dan Asep Gunawan yang mengira saya masih lulusan  baru.

Eliza Vitri Handayani malam itu membuka acara pembacaan hasil penerjemahan karya sastra penulis Gustaaf Peek dari Belanda dan Kjesrti A. Skomsvold dari Norwegia. Wanita muda penggagas InisiatifPenerjemahanSastra.org itu menyampaikan pidato pembukaan dengan fasih di hadapan peserta lokakarya penerjemahan sastra yang telah berlangsung selama 5 hari sebelumnya, para pembicara dan sejumlah pemerhati dunia penerjemahan di tanah air. Kalangan penerbit dan badan lain yang menaruh minat pada penerjemahan juga menyempatkan hadir.

Eliza tampak sibuk melayani percakapan dengan tamu lain sehingga saya harus berpikir beberapa kali untuk menemukan cara menyela obrolannya dengan orang lain. Terus terang saya bukan orang yang suka menyela. Itu salah satu hal yang paling tidak berbudaya menurut saya.  Dan sekonyong-konyong, saya terkejut saat Eliza menghampiri saat saya menundukkan pandangan untuk berfokus pada makanan di piring yang sudah hampir tandas. Mungkin ia dengan sengaja menghampiri semua orang di ruangan ini. Peluang emas, pikir saya. Saya bombardir saja dengan pertanyaan-pertanyaan spontan. Inilah cuplikan singkat wawancara impromptu saya dengan Eliza.

 

Apa tujuan utama diadakannya lokakarya ini?

Tujuannya sebagai alat pengembangan kompetensi penerjemah. Berdasarkan wawancara dengan penerjemah, editor dan penerbit, saya temukan 3 kendala utama dalam dunia penerjemahan di tanah air yakni: kompetensi penerjemah, kondisi kerja di penerbitan, dan rendahnya apresiasi terhadap karya terjemahan. Dan tahun ini tujuan acara ini (lokakarya penerjemahan di Erasmus Huis) adalah untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Pertama, meningkatkan kompetensi penerjemah dengan mengadakan lokakarya, seminar, membahas kondisi kerja dan acara umum seperti ini untuk mengangkat profil penerjemah. Apalagi mereka jarang diundang. Jika diundang pun, penerjemah jarang diberikan kesempatan berbicara di depan. Di sini, mereka diwawancarai dan diberikan kesempatan berbicara.

Orang juga perlu menyadari bahwa proses penerjemahan karya sastra itu tidak hanya baca karyanya lalu mengetik, atau menbuka kamus dan tinggal memasukkan arti kata. Prosesnya sangat rumit.

Ada alasan khusus mengapa memilih karya sastra dari Norwegia dan Belanda untuk lokakarya tahun ini?

Sebenarnya bisa dari mana saja karena kebetulan saya tinggal di Norwegia separuh tahun dan (kita memilih) Belanda karena kita memiliki hubungan sejarah yang kuat dan dukungan praktisnya juga karena mereka juga memiliki lembaga tersendiri untuk mendukung penerjemahan karya-karya sastra mereka.

Apakah benar apresiasi terhadap hasil penerjemahan karya sastra lebih rendah dibandingkan terhadap karya aslinya?

Saya pikir tidak. Hanya banyak yang kurang percaya dengan terjemahan bahasa Indonesia sebab banyak orang berpikir dengan kemampuan berbahasa Inggris sedikit, orang sudah bisa menerjemahkan, banyak buku yang tidak diedit, penerbit cuma mengejar tenggat waktu untuk merilis buku, dan banyak pembaca yang bisa membaca bahasa Inggris. Jadi mereka tidak percaya dengan hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Mengapa memilih karya Gustaaf Peek?

Ada berbagai pertimbangan yang tidak hanya dari kita tetapi juga dari donor. Gustaaf belum menerjemahkan karyanya ke bahasa Inggris, kita ingin karyanya bisa diterjemahkan ke bahasa Inggris dan lainnya. Dan karena karyanya menarik.

Dalam lokakarya dilakukan penerjemahan secara relay (dari bahasa Norwegia –> Inggris –> Indonesia). Apakah dengan cara ini risiko kesalahan justru akan makin tinggi?

Betul, biasanya memang demikian. Tapi kita berusaha mengatasi itu dengan mendatangkan penulis aslinya dan penerjemah asal. Saya dengan berat hati mengadakan penerjemahan relay tetapi tidak merekomendasikan relay translation tanpa partisipasi penerjemah pertama.

Apakah nanti jika penerjemah Indonesia membutuhkan bantuan untuk menghubungi penulis atau penerjemah pertama, apakah akan dibantu?

Ya, jika kami nanti sudah menjadi sebuah pusat penerjemahan sastra di Indonesia. Sekarang pun jika kami bisa membantu, akan kami bantu.

Seberapa perlu penerjemah karya sastra memahami konteks sosial budaya yang menjadi latar belakang karya sastra?

Itu juga perlu, seperti tadi saat membahas keadaan cuaca di Norwegia yang tidak bisa ditemui di Indonesia. Unsur pakaian juga. Dengan menghadirkan penulis, kita bisa mengetahui semua itu, bagaimana rasanya memakai pakaian itu.

Itu kalau penulisnya masih ada, jadi proses penerjemahan lebih lancar karena masih bisa berdiskusi. Bagaimana jika penulisnya sudah meninggal?

Tujuan lokakarya ini bukan supaya kita menjadi lebih tergantung pada penulis. Kita tidak selalu memiliki kesempatan untuk bertukar pikiran dengan penulis. Ini hanya sebagai cara untuk membaca teks lebih dekat. Karena penulis juga sebisa mungkin ingin memasukkan semua yang ingin ia sampaikan ke dalam teks.

Untuk tahun-tahun mendatang, apa yang akan dilakukan setelah penyelenggaraan lokakarya penerjemahan karya sastra ini?

Kita memiliki ide untuk memberikan penghargaan bagi buku terjemahan karya sastra terbaik karena belum ada yang khusus mengapresiasi terjemahan sastra sampai sekarang. Padahal itu ada prosesnya dan seninya sendiri.

Kira-kira kapan realisasinya?

Pinginnya tahun depan.

Sudah melobi pihak apa saja untuk realisasi ini?

Rahasia dulu deh. Haha.

Tapi secara umum, apakah antusiasmenya sudah ada terhadap apresiasi terjemahan karya sastra?

Sudah. Secara umum saja, dari Festival Sastra. Sebab itu pesta, kita memberi anugerah untuk merayakan pencapaian jadi alangkah baiknya kalau di Festival Sastra. Jadi akan ada banyak penonton sehingga suasananya meriah. Pihak lain ialah organisasi yang tertarik dalam bidang penerjemahan, media yang banyak bergerak di bidang penerjemahan.

Apakah tahun depan diadakan lagi lokakarya seperti ini?

Sedang direncanakan. Kalau bisa dari bahasa-bahasa Asia.

Apakah ada rencana untuk memberikan lokakarya tetapi yang melibatkan bahasa-bahasa lain yang tidak sepopuler bahasa Inggris?

Ada. Tantangannya akan lebih sulit mencari pesertanya. Tetapi itu memang harus ditumbuhkan seperti misalnya yang sekarang di lokakarya yang langsung dari bahasa Belanda, kan kebanyakan dosen atau pengajar bahasa dan itu memiliki kesulitan sendiri karena mereka belum tentu memiliki kemampuan menulis yang baik tapi di sisi lain kita harus tumbuhkan minat mereka untuk menerjemahkan karya sastra Belanda.

Bagaimana dengan kualitas para penerjemah kita?

Banyak yang sudah hebat seperti para pembicara di lokakarya tadi. Tapi banyak juga yang lain yang masih perlu ditingkatkan.

Wawancara pun harus berhenti karena dua teman Elisa menghampiri dan mengajak mengobrol sejenak untuk berpamitan dan mengucapkan dukungan terhadap inisiatifnya mendirikan pusat penerjemahan sastra pertama di Indonesia. Saya pun mempersilakan padanya untuk menyantap makanan yang sudah diambil sebelum saya memberondongnya dengan pertanyaan.

Semoga impian Eliza, yang juga impian kita semua, akan terwujud dengan lancar segera!

 

 

A Feast of Translators’ Souls at Erasmus Huis Jakarta (Photo Albums)

I was having a great time at Erasmus Huis #Jakarta , attending a celebration for translators of literary works. On stage the translators and the author of the translated work collaborated to read the original text and translation result as well as to bring the scene to life.

The long haired tall slender guy is Gustaaf Peek,an award winning author from the Netherlands,whose work titled ‘Dover’ is translated in the lit works translation workshop by the participants. And standing by his side,a blonde English lady named Kate Griffin who specializes in intl literature translated into English.

The workshop is an initial step towards an Indonesian literary translation centre,says Eliza Vitri Handayani the founder and director of InisiatifPenerjemahanSastra.org.

An interesting compilation of lit works and photos published by Lontar Foundation. Lontar is a tree whose leaves were used to write on. Lontar to Indonesia is like papyrus to Egypt. It’s what brought our ancestors to the higher civilization, historic age.

Simultaneous translation is such a pain for speakers,translators and listeners. Many distortions of meaning are found here and there unless the translators are actively involved in each and every progress of a given subject matter.

An impressive performance of a passage from Gustaaf Peek’s “Dover” by 3 female translators from Semarang. Mr. Peek himself said the depiction and translation process gave him a different fresh perspective on his own writing. He reckoned “Dover” too horrifying, and kidded “Who wants to watch such a horrifying movie?” as he explained his novel will be filmed.

The panel discussion last night: look at Arif Bagus Prasetyo, the man sitting at the right end. Isnt he an impersonator of mr @budionodarsono  (CEO and founder of Detik.com) ?

It is not a pricey wealth seminar that can bring me a great deal of money but this is something I’d really like doing even if I already have everything in life: arts and languages.

 

Menyoal Tarif Penerjemah

Apa yang Anda akan baca adalah satu untai percakapan antarpenerjemah di grup Facebook Himpunan Penerjemah Indonesia.

Ahnan Alex Sayang sekali hasil survei ini akhirnya dijual dengan harga yang fantastis oleh lembaga ini dan hanya sebagian yang dibeberkan. Saya sekali saja mengikuti survei ini mengenai income agency. Tapi tiada salahnya dicoba :))

  • Ade Indarta Justru itu kan? Kalau yg beli perusahaan-perusahaan besar yg lagi cari info harga tarif terjemahan Indonesia dan yg ikut survey ini dari Indonesia adalah penerjemah-penerjemah yg tarifnya tinggi, jadi deh ntar hasilnya di laporan “tarif terjemahan Eng-Ind di pasar saat ini adalah USD 0.08 he2

    Yesterday at 9:00am via mobile · Like · 5
  • Fuji Mulia USD 0.08? :O

  • Aditya Ikhsan Prasiddha ‎Fuji Mulia sangat mungkin kok, hehe

    Yesterday at 10:32am · Like · 1
  • Fuji Mulia hahaha maklum Mas Aditya Ikhsan Prasiddha saya masih nubi heheh :malus

  • Arif Furqon Kalau bisa pengaruhi harga pasar sampai 2 digit 🙂

    Yesterday at 12:37pm · Like · 1
  • Ade Indarta ‎2 digit? Bang Hipyan Nopri, Bang Arfan Achyar, NiFiSofia Mansoor, Mas Teguh Irawan wajib ngisi survei ini kalau gitu.he2

  • Arfan Achyar males… gak ada gunanya… hanya butuh satu orang penerjemah yang mau terima kecil untuk menghancurkan pasar terjemahan indonesia

    Yesterday at 2:47pm · Like · 2
  • Hipyan Nopri Baru selesai ikut ngisi surveinya, De.:)

    Yesterday at 2:57pm · Like · 1
  • Ijul Baso Pakde Eddie R. Notowidigdo juga udah 2 digit tuh, De 😀

    Yesterday at 7:16pm · Like · 1
    Salam hangat buat rekan-rekan.. Saya ingin meminta saran, bagi pengalaman dan juga ingin meminta pengalaman dari rekan-rekan sekalian. Begini kasusnya:

    Saya sedang membuat quotation untuk klien, dan setelah saya kirim, beliau memberikan feedback. Sekedar informasi, beliau adalah expat. Dan perusahaannya juga lumayan elit, saya pernah ke kantornya juga. Fee yang saya berikan ya standarlah untuk fee ke perusahaan seperti itu. Yang jelas tidak banting harga, karena saya yaking mereka mampu bayar. Pagi ini saya dikirimi email yang dengan sangat sopan, meminta penjelasan, karena katanya dia dapat harga dari supplier list perusahaannya, adalah 35.000 – 50.000 per lembar, dan katanya, supplier yang lain itu juga adalah sworn translator. Bagaimana enaknya kita menyikapi ini, karena sepanjang pengalaman saya, pekerjaan yang dia butuhkan tidak membutuhkan sworn translator (gak perlu cap dan tanda tangan legal-nya) dan juga harga 35rb-50rb jauh di bawah harga pasar yang saya tahu. Harap saran dan masukannya. Saya tidak mau banting harga, peduli dengan nasib sesama penerjemah. Like ·  · Follow Post · Wednesday at 12:02pm

  • Menerjemahkan Tumpulkan Bakat Menulis?

    image

    ” A translator is a writer who fails.” Siapapun bisa setuju atau menolak kebenaran kutipan tadi. Ini negeri (pseudo) demokrasi. Semua orang (seharusnya) bisa dan boleh mengutarakan pendapatnya selama tidak melanggar hak orang lain juga. Menurutku (egoku besar juga ya) , kutipan tadi cukup valid. Setidaknya dalam kasusku sendiri. Menjadi seorang penulis (dan penulis ulang) konten dan admin jejaring sosial yang seolah tak pernah ada hari libur itu adalah hal yang kusukai karena luasnya ruang berkreasi dengan kata,gambar, dan semua jenis konten yang mungkin disebarkan di sana. Tapi entah kenapa rasanya tak berdaya saat harus mengejar kuantitas dan mengesampingkan kualitas. I still and always feel like a jerk every time I post things not my pure hardwork. Dan kemampuan menerjemahkan justru mempermudahku untuk meninggalkan kesusahpayahan berpikir mandiri dan berkreasi dengan dunia kata-kata. Ini kurang baik. Aku menjadi merasa seperti pengekor. I want to create high quality contents , and share them around the web. Viral atau tidak itu urusan belakangan. Entah dengan Anda semua, saat menerjemahkan rasanya pikiran ini terbimbing dan terkungkung dalam ide dan pemikiran penulis teks sumber. I want to break free! Write like no one else reads! Tak perlu editor. Tak perlu komentator. You like it or not, just read. Mungkin di blog ini saja aku bisa begini. Dan mungkin karena itulah blog ini tetap sepi pengunjung. Tak apalah.

    As Creative Industry Thrives, More Indonesian Translators are Needed

    The Indonesian creative industry is blooming, and gaming is one of the most  promising.  As more and more games with foreign languages on the interface should be localized, translators’ service is needed.

    “International social media sites targetting Indonesia require translators’ service. Hence the demand of such a profession is high,” stated Indra Blanquita Danudiningrat, a sworn translator and a linguist to Hilda Sabri Sulistyo, a journalist of Bisnis Indonesia.

    Recently there are more variations of games played on social media, Internet-based media, or even other celular devices.

    The increasingly numerous number of players in the Indonesian gaming market triggers higher demand of games with Bahasa Indonesia on the interface. This explains why there are pools of opportunities for translators in Indonesia to focus on games translation niche.

    “Aside from games translation opportunities, the development of creative industry also taps another stream of opportunities due to the higher demand in Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions business (MICE business),” added Indra.

    Linguists or interpreters are required in almost every international conferences and seminars. Last year after Indonesia served as the ASEAN leader and host to various international conferences, it is revealed that there are high prospects in this MICE industry.

    Sadly, translator as a profession has not received wide acknowledgment  of people yet so translators need to work hard on getting this. It is such an anomaly as the profession started to come into existence since the country regained independence.

    “Translators’ service is badly needed but it is not admitted as one of profession types here. That’s why we translators find it difficult to apply for credit to banks,” Indra reasoned.(Translated from the Bisnis.com)

    Lokakarya Regional IATIS Diadakan Maret 2013

    Bahasa Indonesia: Universitas Negeri Semarang ...
    Universitas Negeri Semarang di Jawa Tengah Indonesia (Photo credit: Wikipedia)

    The International Association for Translation and Intercultural Studies (IATIS) akan menggelar lokakarya regional pertamanya di kota Semarang, Jawa Tengah. Acara ini akan diselenggarakan tanggal 25 hingga 27 Maret 2013 mendatang.

    Dengan waktu yang panjang ini, panitia penyelenggaraan lokakarya dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengundang para akademisi untuk mengirimkan makalahnya untuk dibahas selama sesi paralel (20 menit presentasi dan 10 menit tanya jawab).

    Tujuan lokakarya ialah untuk mengeratkan hubungan antara para akademisi yang bergelut dalam bidang penerjemahan dan studi antarbudaya di wilayah Asia Pasifik dan sekitarnya.

    Tema lokakarya yaitu  “Translation and Cultural Identity” yang dibagi menjadi subtema sebagai berikut:

    • Penerjemahan dan masalah-masalah multibudaya dan multibahasa
    • Pemeliharaan, pembentukan dan memberi tantangan pada jati diri setempat/ nasional dalam penerjemahan
    • Kebijakan pemerintah dan dampaknya pada hasil penerjemahan
    • Masalah-masalah keberterimaan terjemahan antara bahasa-bahasa yang memiliki perbedaan budaya
    • Penerjemahan budaya populer dan dampak enkulturasinya
    • Penerjemahan dalam dunia maya dan tantangannya terhadap jati diri budaya

    Untuk yang ingin berpartisipasi, diharapkan mengirimkan abstraksi sekitar 300 kata ke alamat surel: iatis_indonesia@yahoo.com paling lambat 15 Juni 2012. Makalah yang lolos akan diumumkan pada 28 September 2012.

    P.S. : Informasi lebih lanjut bisa diketahui dengan menghubungi Issy Yuliasri di alamat surel: issyuliasri@yahoo.com. Sekretariat lokakarya berada di Gedung B3, UNNES, Kampus Sekaran, Gunungpati Semarang 50229, Indonesia dengan nomor telepon dan faksimile +62 (24) 8508071.

    “Where” dan “Di Mana”: Cermin Pengaruh Bahasa Inggris terhadap Bahasa Indonesia

    Salah satu faktor terjadinya kesalahan berbahasa Indonesia ialah pengaruh bahasa asing pada bahasa Indonesia dalam berbagai aspek. Menurut seorang profesor yang juga pakar bahasa Indonesia di sebuah universitas di Australia, sebagian pengguna bahasa Indonesia akhir-akhir ini amat dipengaruhi bahasa Inggris. Salah satunya adalah penggunaan kata “adalah” yang kadang tidak perlu tetapi dipaksakan untuk ada karena dianggap sebagai keharusan untuk bisa sesuai dengan pola kalimat  bahasa Inggris yang mewajibkan adanya verba “be”. Misalnya, “I am a man” diterjemahkan sebagai “Saya adalah laki-laki”, padahal dalam bahasa Indonesia yang wajar kata “adalah” bisa dihilangkan. Dengan kata lain, tidak ada yang salah untuk menerjemahkannya menjadi “Saya laki-laki”.  Hal ini memang tidak salah tetapi tidak wajar dalam bahasa Indonesia.

    Hal lain yang profesor tersebut soroti pula ialah penggunaan kata “di mana” yang sering digunakan sebagai konjungsi (kata sambung) , bukan sebagai kata tanya (yang menjadi fungsi yang sepatutnya). Ini menunjukkan pengaruh penggunaan konjungsi  “where” dan “which”. Parahnya lagi, penulisan “di mana” sebagai konjungsi (yang tidak disarankan) juga mengalami dua variasi: “di mana” dan “dimana”. Yang kedua jelas-jelas salah.

    Menurut Ivan Lanin, sebagai penyunting yang berpatokan pada tata bahasa yang sudah tertulis di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) IV dan EyD (Ejaan yang Disempurnakan), kata “di mana” harus dihindari. Alasannya ialah kata “di mana” dalam bahasa Indonesia tidak dikenal sebagai konjungsi tetapi sebagai kata tanya.

    Misal:

    1. Di mana buku saya? (Penggunaan yang benar karena “di mana” digunakan sebagai kata tanya)
    2. Ia meninggalkan kota di mana ia lahir. (Penggunaan yang salah karena “di mana” digunakan sebagai konjungsi)

     

    Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kalimat yang menggunakan “di mana” sebagai konjungsi? Menurut Sofia Mansoor, ada dua opsi yang bisa dipilih. Pertama ialah dengan menggantinya dengan kata “tempat”. Dengan demikian, kalimat (2) bisa diperbaiki menjadi “Ia meninggalkan kota tempat ia lahir.” Kedua ialah dengan merombak kalimat tersebut menjadi lebih wajar dan berterima dalam kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

    Seorang rekan peserta pelatihan lain juga sempat menanyakan bahwa ia mengamati banyaknya penggunaan “di mana” justru bukan sebagai konjungsi yang menerangkan tempat atau lokasi. Saya sendiri juga sempat membenarkan dalam hati karena pertanyaannya itu belum sempat dibahas tuntas oleh Sofia Mansoor dan Ivan Lanin. Contohnya mudah saja, kita bisa temui penggunaan “di mana” yang tidak berfungsi sebagai konjungsi dalam berbagai pidato impromptu para pejabat. Kita bisa amati seorang pejabat yang ditanyai oleh nyamuk pers dalam berbagai kesempatan. Kemungkinan besar ia akan menggunakan kata “di mana” bukan sebagai konjungsi tetapi menurut saya hanya sebagai kata untuk mengisi jeda saat berbicara sehingga terkesan lebih lancar. Dalam bahasa Inggris kita bisa sebut sebagai “filler”. “Filler” ini tidak memiliki makna tetapi hanya untuk memberikan kesempatan bagi si pembicara untuk berpikir mengenai kata yang akan ia ucapkan berikutnya. Tidak mutlak salah mungkin tetapi penggunaan “filler” ini membuat kalimat kita kurang efisien dan ringkas. Lagipula “filler” adalah sesuatu yang mungkin masih bisa dimaklumi dalam taraf tertentu dalam ragam percakapan, tetapi tidak begitu mudah ditolerir dalam ragam tulisan.

    (URL Gambar: http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSrlTIj2XW2eps42CzT2SbK7eYGf9rGod6-H2L6Kjr4nn7jrV6bueJexj6GKg)

    %d bloggers like this: