Category Archives: writing

Pupuk Nasionalisme dengan Melancong

Screen Shot 2017-09-06 at 16.19.15.png

Nasionalisme dan melancong. Apa hubungannya?

Setelah begitu kerasnya membanting tulang, saya hadiahi diri saya sebuah liburan ke pulau Bali. Sebuah liburan yang direalisasikan secara impromptu karena jika direncanakan jauh-jauh hari justru berisiko buyar. Sebabnya bisa bermacam-macam. Hampir selalu begitu. Maka, saya putuskan hanya beberapa pekan sebelumnya untuk meluncur ke bagian tengah Indonesia dari Jakarta.

Di bandara Ngurah Rai, saya lepaskan beban apapun yang menggelayuti pikiran soal pekerjaan. Di depan, sudah menyongsong seorang teman. Narto namanya. Ia sendirian dan mengatakan sudah mengenali saya saat di gerbang.

“Saya cari orang berperawakan kecil dan kurus. Seperti di Facebook,” celetuknya. Tawa kami meledak. Kami memang belum pernah bertemu sebelumnya secara langsung. Janji kami untuk bertemu dirangkai lewat pesan di Facebook Messenger. Usia Marto memang sudah setara paman saya tetapi soal kekerapan menggunakan media sosial, saya mengaku kalah darinya.

Marto mengajak saya ke dalam mobil yang rupanya ia sewa dari seorang tetangga. Di belakang stir, seorang anak muda berperawakan penuh menyapa. Ia perkenalkan dirinya sebagai Wayan Amarta. Ia sedang libur sekolah dan tengah mencari uang tambahan untuk keluarganya. Marto memilih memakai jasanya sebab penggilingan padi mereka yang semula ramai pelanggan mulai sepi. Seorang tetangga lain membuka bisnis penggilingan yang sama dengan harga lebih murah. Hancurlah sumber penghidupan keluarga itu. Kini mereka memutar otak agar bisa bertahan hidup. Amarta ingin menabung agar bisa kuliah dan menjadi pekerja di kapal pesiar mewah yang mengarungi lautan luas.

Screen Shot 2017-09-06 at 16.21.38

Bersantai di penginapan terjangkau di Ubud, Bali. Surga!

Mobil meluncur ke beberapa tempat wisata, dan kami sampai juga di Ubud yang menjadi tujuan saya. Narto memberikan penjelasan sepanjang jalan dengan sukarela. Karena saya dianggap teman dan ia sedang tidak sibuk menemani wisatawan, ia merelakan sejumlah waktu berharganya menemani saya. Sungguh baik hati dirinya. Di kala sibuk, ia berkelana mengawal turis manca ke pulau-pulau timur nusantara, berdiri di dek kapal pesiar mewah yang bertarif ribuan dollar untuk bisa ikut di dalamnya sebagai peserta.

Saya pun sampai di penginapan rekomendasinya. Dekat dengan sebuah hutan penuh monyet-monyet yang dibiarkan liar. Saya sempat lupa saya tinggal dekat hutan karena terlalu lama di Jakarta yang sesak dan gersang hingga esok harinya saya bangun dan makan pagi di teras.

Saya tersentak. Seekor monyet kecil entah dari mana sampai di balkon tempat saya bersantai dan menghirup udara segar. Tak cuma satu ekor itu. Ia disusul oleh serombongan lainnya, yang rupanya juga sama kelaparannya seperti saya. Sekeluarga monyet itu mengamati saya dan memastikan tidak ada ancaman yang berarti dalam gerak-gerik saya. Barulah mereka turun, mengaduk-aduk tempat sampah dan sempat menjamah sekantong buah yang saya baru dapatkan kemarin.

Screen Shot 2017-09-06 at 16.22.13

Menikmati hidangan khas Indonesia di berbagai kesempatan menjadi bukti nasionalisme kita juga.

Senja turun dan kegelapan mulai melingkupi penginapan. Saya masih ingat tidak ada sinar rembulan dan sebagai orang yang terbiasa dengan kehidupan kota yang berlimpah cahaya, melihat pekatnya malam membuat saya bergidik panik juga.

Ponsel saya bergetar, sedikit mengusik ketenangan. Saya harap tidak soal pekerjaan. Untungnya dugaan tidak menjadi kenyataan.

Ternyata Narto yang menghubungi saya via WhatsApp. Ia dan istrinya mengundang saya bersantap malam. Mereka berdua menunggu saya di sebuah restoran dekat penginapan.

Saya memilih gado-gado dan sembari menunggu mereka datang, saya membuka laptop dan menuliskan beberapa pengalaman dalam perjalanan ini. Saya tidak mau sampai detail-detail berharga ini tidak tercatat dan terlupakan.

Mereka datang juga. Saya menutup laptop demi kesopanan dan kami segera memesan makanan. Saya nyaman dengan memakan gado-gado. Mereka dengan makanan ala Eropa. Maklum, istri Narto seorang perempuan Prancis totok.

“Claudine,” ia menjabat erat tangan saya dalam logat Prancis yang kental. Dari istrinya, Narto belajar bercakap bahasa Prancis hingga lancar. Ia memang pembelajar yang alami, sebagaimana saat ia mulai belajar bahasa Inggris hanya dengan mendengarkan siaran BBC setiap hari di radio pamannya. Saya mengagumi kemampuan istimewanya itu.

Kami mengobrol banyak hal, hingga sampai pada satu topik tentang frekuensi mudik Claudine ke tanah airnya. Saya menduga ia sekali setahun ke sana.

“Tidak, saya tidak sesering itu pulang, Akhlis. Tiket pesawatnya kan mahal! Haha,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata tetapi jelas bagi saya. Ia agak kesulitan melafalkan nama saya dengan benar tetapi saya paham lidahnya belum terbiasa dengan kata berakhiran /s/.

Ia mengatakan bahkan hanya beberapa tahun sekali jika ada penawaran tiket yang murah saja. Sebagai orang Prancis, ia memiliki kebiasaan mudik yang lain dari kebiasaan mudik orang Indonesia tiap Idul Fitri, yang mengharuskan menampakkan muka di rumah tempat keluarga besar berkumpul. Saat Natal, Claudine juga tidak menganggapnya sebagai suatu saat istimewa. Ia tidak lagi menjadi penganut Katholik yang taat karena ia bercerita sudah bosan dengan didikan dogmatis sepanjang masa kanak-kanaknya.

Ia sempat berceletuk,”Kalau saya bisa memilih tidak pulang ke sana, saya akan pilih demikian.”

“Kenapa?” selidik saya. Saya tidak paham dengan jawabannya itu. Bukankah seseorang pasti memiliki pertalian emosional yang erat dengan tanah kelahirannya?

“Karena saya sudah tidak merasa Prancis rumah saya. Saya lebih nyaman di sini,” ucap Claudine dengan mantap. Sejurus kemudian ia menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya.

Lebih lanjut, tanpa saya tanya, Claudine terus mengemukakan alasannya. Saya memperlambat kecepatan makan saya untuk berkonsentrasi pada ucapannya yang lirih.

“Kau tahu, Akhlis?”

“Tidak…” jawab saya jujur.

“Bangsa Prancis menganggap diri mereka lebih tinggi daripada bangsa-bangsa yang lain. Dan karena itulah, mereka enggan belajar dari kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu. Tiap kali ada kegagalan mereka menganggap itu bukan kesalahan mereka tetapi  bangsa lain. Prancis menjadi bangsa yang stagnan, terjebak dalam kejayaan masa lalunya. Karena itulah, saya merasa lebih nyaman di sini, Akhlis,” terang Claudine panjang lebar. 

Jujur, saya tidak tahu harus berkata-kata apa. Karena selama ini, saya sebagai orang luar menganggap bangsa Prancis sebagai bangsa yang besar, hebat, dan superior dengan Revolusi Prancisnya yang sangat berpengaruh dalam sejarah dunia modern ini. Belum lagi dengan bangunan-bangunan kuno mereka yang terawat apik, museum-museum, Paris yang selalu digadang-gadang orang sebagai Mekah-nya dunia mode. Tetapi toh ternyata, jika dikorek-korek, ada juga cacat dalam sebuah bangsa sebesar itu.

Kemudian inilah AHA Moment saya:

“Bagaimana dengan bangsa saya sendiri? Indonesia?”

Saya selama ini hampir selalu mendengarkan pernyataan-pernyataan bernada inferiority complex yang banyak diderita bangsa bekas jajahan, bahwa Indonesia harus banyak belajar dari bangsa X, bangsa Y, bangsa Z. Tidak ada habis-habisnya. Seolah-olah bangsa ini tidak memiliki kelebihan dan kekuatan sedikit pun yang bisa diangkat dan dibanggakan.

Sudah saatnya persepsi negatif kita tentang bangsa sendiri diubah. Caranya? Dengan banyak melancong!

Dengan melancong di dalam negeri, kita lebih banyak mengenali dan memahami lebih mendalam tentang keragaman dan kekayaan budaya, alam, kuliner, filosofi dan berbagai jenis aset material dan imaterial lain yang dimiliki bangsa besar ini. Mari kita belajar dari bangsa-bangsa lain seperti Prancis dengan mengambil sisi positif, yakni kebanggaan atas budaya, sejarah dan aset-aset nasional lainnya tetapi di saat yang sama kita juga perlu membuka diri untuk terus bisa belajar demi kemajuan bangsa.

Soal dana untuk melancong, patut disadari bahwa masyarakat Indonesia masih menghabiskan dana wisata mereka untuk berbelanja. Tentu tidak sepenuhnya salah dengan itu (karena itu menggenjot perekonomian juga), tetapi hendaknya jangan hanya mengutamakan oleh-oleh saat melancong tetapi juga belajar lebih banyak mengenai orang-orang yang kita kunjungi di daerah lain.

Screen Shot 2017-09-06 at 16.22.31

Kemacetan dan ketidaktertiban berlalu lintas selalu menjadi satu hal yang identik dengan sisi buruk Indonesia.

Pada Claudine, saya berharap saya bisa bertemu lagi dengannya untuk sekadar berterima kasih atas AHA Moment yang ia berikan pada saya. Sekaligus saya juga ingin menyampaikan kiat saya agar ia bisa pulang ke Prancis lagi lebih sering atau melancing ke negara lain sehingga bisa menemukan perspektif lebih baik mengenai bangsanya yang saya yakin ia rindu juga tak peduli banyaknya cacat yang dimiliki dalam kacamatanya.

Caranya mudah. Pakai layanan Skyscanner yang memiliki fitur pencarian tiket pesawat di bulan termurah. Fitur ini memudahkan kita menemukan momen pas saat tiket pesawat ke suatu destinasi berada di harga termurahnya. Ada juga fitur “Info harga” yang memungkinkan kita memonitor fluktuasi harga tiket pesawat via surel.

 

2 Comments

Filed under writing

Dari Lidah Turun ke Hati

IMG_9382

Semasa kecil saya terbilang anak yang susah makan sehat. Saya pembenci sayur mayur. Buah pun hanya saya makan sesekali. Tidak rutin setiap hari apalagi setiap makan. Kebanyakan asupan saya cuma makanan dengan kandungan makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Untuk mikronutrien (vitamin dan mineral), saya sangat berkekurangan. Dan saya merasa tidak ada makanan mengandung sayur yang enak untuk ditelan.

 

Nenek saya mengetahui masalah ini dan tentu merasa prihatin karena kecenderungan susah makan dan memilih-milih makanan yang saya derita. Akibatnya kondisi kesehatan dan tumbuh kembang saya kurang pesat. Beliau kerap memberikan saya minuman-minuman yang rasanya aneh, hambar dan kadang pahitnya tidak tertahankan.

 

Karena saya saat itu masih belum paham manfaat minuman-minuman yang dibuat nenek, saya kerap membuang dan sengaja tidak menghabiskannya. Padahal nenek sudah membuatkan dengan susah payah. Beliau ternyata membuat semua minuman alami tersebut dengan memarut lalu memerasnya sendiri dengan kedua tangannya. Dan beliau tidak memberikan tambahan gula atau pemanis seperti madu yang terlalu banyak sehingga saya sungguh-sungguh membenci rasanya.

 

Bahan-bahan natural yang kerap dipakai nenek saya untuk membuat minuman ini biasanya apotek hidup yang beliau tanam sendiri di halaman belakang rumah. Ada kunir, jahe, lalu temulawak. Bahan yang disebut terakhir ini dan kemudian hari saya ketahui sangat berguna dalam menjaga dan memulihkan kesehatan.

 

Saat saya duduk di tingkat 3 di kampus, saya pernah menderita demam dan rasa lemas serta sakit di ulu hati yang begitu hebat. Muka saya pucat dan tidak sanggup bergerak banyak. Saya merasa sangat mudah lelah.

 

Karena tidak kuat lagi, saya pulang ke rumah dengan kepayahan dan setelah memeriksakan diri ke rumah sakit, diagnosisnya bukan tifoid atau demam berdarah seperti yang saya bayangkan tetapi hepatitis C. Saya ingat lagi, memang saat itu saya tinggal di lingkungan yang kurang higienis sehingga saat satu orang terkena hepatitis, kami semua menjadi korban. Penularannya yang demikian cepat dan tidak terduga membuat kami sempat syok karena mirip sebuah wabah skala kecil di daerah kos yang saya tinggali saat itu.

 

Pengobatan secara medis pun saya jalani agar kesembuhan tercapai. Bola mata dan kulit saya menguning. Saya hanya bisa berbaring beberapa pekan. Benar-benar harus memulihkan diri total. Tidak mengerjakan dan memikirkan apapun karena percuma jika badan istirahat tetapi pikiran terus bekerja keras. Karenanya, saya hanya menuruti nasehat untuk benar-benar melepaskan dulu beban tugas kuliah sampai benar-benar pulih.

 

Mengetahui saya sakit hepatitis, nenek saya pun membuatkan jamu temulawak. Karena kali ini saya sakit lumayan parah, saya tidak bisa tidak menuruti nasihatnya untuk meneguk sampai habis jamu yang ia buatkan untuk saya.

 

“Minum sampai habis ya, ini kan bagus buat yang lagi sakit kuning. Biar cepat sembuh,” saran nenek saya dengan lembut dan sabar. Ia tahu saya tidak begitu suka dengan minuman itu. Toh ia tetap membuatkan saya dan menunggui saya meminumnya sampai habis.

 

Beberapa pekan berlalu dan nenek saya masih dengan tekun memberikan saya minuman temulawak alami tadi setiap harinya. Dari pertama saya begitu membenci baunya yang menyengat, berangsur-angsur saya memahami bahwa jika saya mau segera sembuh dan sehat seperti sediakala, saya harus menikmati proses ini dulu, termasuk meminum jamu yang tidak saya sukai awalnya.

 

Akhirnya setelah saya kembali memeriksakan diri ke rumah sakit dan laboratorium, saya dinyatakan sembuh dari hepatitis juga. Warna bola mata dan kulit saya kembali normal dan tidak lagi menguning.

 

Jika ingat saat-saat itu, saya patut berterima kasih pada nenek saya yang dengan setia menggunakan bahan alami untuk menunjang proses pemulihan liver saya yang meradang terkena virus hepatitis. Temulawak memang sudah terbukti sejak lama memelihara fungsi hati (liver) sebagai organ penting tubuh, mengurangi keluhan kesehatan yang lazim ditemui dalam masayarakat modern seperti masalah pencernaan (kita tahu semua bahwa pola makan dan bahan makanan orang masa kini sangat tidak sehat)

 

Setelah saya bekerja dan tinggal di ibukota sejak 7 tahun lalu, rasanya hampir mustahil saya bisa meracik minuman temulawak alami seperti yang pernah dibuatkan nenek saya itu sesering yang saya mau. Padahal cara hidup saya di Jakarta sangat rentan stres, bahkan lebih berat daripada cara hidup saya dulu saat masih mahasiswa. Kadang sebagai copywriter dan penulis, saya harus begadang untuk mengerjakan draft tulisan yang sudah dekat ke tenggat waktu. Cara kerja seperti ini sudah barang tentu sangat rawan kelelahan dan membebani kerja hati.

 

Karena saya sudah pernah merasakan betapa tidak enaknya sakit, kini saya lebih sadar kesehatan dengan menjaga pola makan dan makanan yang masuk, pola istirahat, dan segala hal yang berkaitan dengan kesehatan secara umum. Saya yang dulu benci sayur dan buah segar dan sangat pilih-pilih makanan dan jarang sekali berolahraga kini mencoba memperbaiki diri dengan membiasakan mengkonsumsi buah dan sayur segar setiap hari. Dan untuk olahraga, saya memilih yoga, yang selain meningkatkan kekuatan dan kelenturan tubuh, juga memiliki khasiat meredakan stress yang ampuh. Ini semua menjadi perisai yang ampuh bagi saya dalam melindungi diri dari tekanan stress yang datang bertubi-tubi. Selain itu, saya memiliki teman-teman yang jauh lebih banyak sekarang sehingga saya merasa lebih bahagia dan bisa berbagi keluh kesah apalagi saya yakin stress dan sakit liver bukan Cuma karena dipicu oleh faktor-faktor konkret dan bisa dilihat tetapi juga hubungan yang lebih halus dan sulit diukur seperti eratnya pertemanan dan kekeluargaan.

 

Setelah nenek saya berpulang beberapa tahun lalu, saya masih merindukan minuman-minuman yang ia racik itu. Dan yang pasti, saya juga sangat merindukan minuman temulawaknya yang mampu mempertahankan kesehatan liver saya di tengah hiruk pikuk lingkungan perkotaan yang padat dan penuh stress.

 

Akan tetapi, ternyata untuk bisa menikmati lagi khasiat kesehatan minuman temulawak khas nenek saya tersebut, saya tidak perlu bersusah payah menanam rimpang temulawak sendiri di halaman atau pot dan memeras airnya tiap hari seperti yang nenek saya dahulu lakukan. Kini ada Herbadrink Sari Temulawak yang dikemas secara praktis dalam kantung rapat dan higienis. Meski dikemas secara modern, produk ini tidak menggunakan bahan pengawet yang membahayakan kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Harganya juga relatif terjangkau. Untuk setiap dus yang isinya 5 sachet, harganya sekitar Rp10.000. Jumlah ini sudah cukup untuk bekal seminggu.

 

Untuk menikmati manfaat kesehatan dari temulawak secara praktis kapan saja dan di mana saja, saya tinggal simpan dan bawa beberapa sachet Herbadrink Sari Temulawak ini. Saya tidak perlu repot merebus air karena untuk menyeduhnya saya juga bisa menggunakan air suhu ruangan. Bahkan air dingin pun bisa melarutkan bubuk Herbadrink ini dengan baik. Namun, karena saya lebih suka dengan air suhu ruangan atau air hangat, saya lebih sering meminumnya hangat.

 

Bagi saya, menikmati minuman Herbadrink Sari Temulawak tidak hanya memberikan khasiat perawatan kesehatan liver agar tetap prima di tengah terpaan stres dalam padatnya jadwal pekerjaan tetapi juga memberikan saya pelipur rindu terhadap almarhumah nenek saya. Karena saya percaya lidah mampu menyimpan sekaligus membangkitkan ingatan-ingatan yang tak ternilai harganya dari masa lalu manusia. (*)

Leave a comment

Filed under health, writing

Sebelum Indonesia Gila

Energi bangsa hampir habis untuk membahas urusan SARA dan politik. Karena kalau bahas urusan teknologi saiber apalagi keamanannya, ketahuan betapa ketinggalannya kita.
.
Mungkin karena diskusi SARA lebih terbuka untuk diikuti siapa saja. Tidak perlu pemahaman yang mendalam untuk berkomentar atau berdiskusi. Cukup berbekal kutipan dari orang ini itu, tautan dari portal abal-abal ini itu, atau membaca judul berita selintas saja, sudah bisa ikut menghakimi dan memvonis.
.
Soal diskusi teknologi, harus diakui tingkat penguasaan isunya lebih berat lagi sehingga cuma sedikit yang bisa terlibat dalam perdebatan. Di sini kita sadari mata pelajaran TIK memang penting adanya sejak dini.
.
Dan bukan berarti menganggap politik dan SARA itu isu yang tidak penting tetapi masih banyak aspek lain dalam kehidupan bangsa yang butuh perhatian juga. Sampai kapan kita mau begini?

Leave a comment

Filed under writing

Yang Terlambat

“Waktu saya tidak banyak,” katanya dalam suatu perjumpaan tahun lalu. “Jadi saya ingin menulis pengalaman ini dalam bentuk buku. Sebelum terlambat…”
.
Ia tahu saya gemar mencatat dengan kalimat berbunga-bunga sehingga saya orang yang ia pertama hubungi untuk membantunya mewujudkan impian itu. Saya menyambut ajakannya. Di balik air mukanya yang selalu ceria tiap bertemu orang, saya tahu ia banyak menderita karena sakitnya yang mematikan itu. Tetapi semangat hidupnya lebih besar dari sakit itu sendiri. Setidaknya hingga saat saya bersua dengannya kala itu. Ia masih bisa bepergian, makan di luar, mengobrol layaknya kita yang sehat.
.
Ia ingin berbagi pengalamannya melalui buku itu, dengan tujuan sederhana:membangkitkan semangat hidup sesama penderita penyakit mematikan tersebut dengan jalan alami yang mencakup juga yoga dan meditasi.
.
Kami pun bercakap-cakap panjang lebar di suatu restoran makanan Sunda di Plaza Blok M. Ia menerangkan perjalanan hidupnya dan saya mencatat lalu bertanya jika hanya sangat perlu untuk rinciannya. Begitu seterusnya.
.
Dalam obrolan kami, ia juga menyampaikan wasiatnya jikalau ia dijemput malaikat maut kapan saja. Ia hanya ingin orang lain mengetahui penderitaannya setelah ia tiada. Jiwanya memang kuat, enggan dikasihani, dan berupaya mandiri selama ia masih bisa.
.
Hari ini saya dengar kabar ia dipanggil pulang ke rahmatullah. Dan sekarang saya hanya bisa memandangi draft buku itu dan rencana wawancara yang belum terlaksana jua. Mangkrak sudah pengerjaan buku itu.
.
Tetapi mungkin saya harus melanjutkannya, entah bagaimanapun juga caranya. Cuma itu cara penghormatan terakhir yang saya bisa lakukan baginya. Sampai berjumpa kembali jika Tuhan menghendaki, batin saya.

Leave a comment

Filed under writing, yoga