3 Akun Instagram Berbasis Teks yang Wajib Di-follow

SELAMA 2022 banyak sekali akun Instagram yang saya temukan dan ikuti.

Tapi dari semua yang saya ikuti di tahun ini, cuma secuil yang sepenuhnya berbasis teks.

Dan entahlah, tapi 3 akun ini yang saya rasa paling kena di hati.

Cuma huruf, tidak ada foto atau ilustrasi apapun sama sekali. Lain dari konten akun-akun lain yang melulu memanjakan mata dan telinga.

Meski demikian, masih saja isi akun-akun ini terasa menarik untuk dinikmati.

Ya karena rangkaian katanya sangat terpilih, terseleksi sedemikian rupa sehingga sangat menyentuh hati. Pas sekali dibaca saat di kereta, atau saat ingin mengisi waktu luang. Buat renungan atau riset buat konten.

WE’RE NOT REALLY STRANGERS

Isi akun ini sangat simpel bentuknya. Tangkapan layar, jepretan foto yang isinya teks di layar hp atau gawai lain.

Nggak neko-neko atau susah untuk mengedit dalam pembuatannya meski pasti ada strategi di baliknya.

Kadang ada juga sih video TikTok yang masuk tapi itu sangat jarang sekali.

Kebanyakan isinya SMS, chat, DM, atau catatan di aplikasi Notes yang menggelitik, membuat trenyuh atau haru biru.

BRIANNA WIEST

Kalau satu ini saya ikuti karena saya sudah membaca bukunya yang bertema self journaling.

Lumayan seru meski postingannya cuma sederet teks yang buat mereka yang menyukai visual, bakal membosankan parah.

Kadang Wiest membagikan penggalan bukunya yang menurutnya paling ‘nyes’ di hati atau paling relevan dengan sebuah momen, misal tahun baru begini.

DIMOETRY

Akun ini milik seorang mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) jurusan Computer Science bernama Ariel Dimitri.

Awalnya ia cuma mengisi iseng-iseng akunnya dengan tulisan pendek yang ia klaim sebagai puisi tapi sebetulnya menurut saya lebih mirip verbal sketch.

Saya sebut demikian sebab kata-katanya menggambarkan suasana hatinya pada momen tertentu.

Terkesan sendu, agak ‘menye-menye’, melankolis, cenderung overthinking. Tapi ya bukankah begitu memang semua sastrawan dan penyair? Mesti overthinking. Hahaha… (*/)

Pandemic Diary: Is 2023 The End of It All?

PANDEMIC is over in Indonesia. But for real?

As far as I know, the policy of social and mobility restriction has been over since…. a long time ago.

I mean, we can already enjoy trips to anywhere across the archipelago for quite some time whil China and some other countries are still combatting the new variants of Covid-19.

For those who are in favor of economic growth (and that means a lot of Indonesians), restriction of mobility means killing them slowly. And that’s even faster, especially after the recession news is blown full steam.

Days ago, Prof. Zubairi, a prominent physician cum a highly popular Instagram influencer, announced on his feed that he is in favor of the end of the restriction.

However, he underlines some points that there are still neighboring countries like China that are struggling to combat the new variant.

Joko Widodo, Indonesia’s president, is on the news today. He stated that tomorrow it will be announced whether or not Indonesian government will continue the notorious PPKM, which in fact has been ineffectual and not been put into practice by most Indonesians, I dare to say. LOL.

The policy may be rigidly implemented in public facilities such as public transportation and government-owned facilities but other than that, we are totally free of masks and can move pretty much freely without physical distancing.

People are now used to interacting without masks once again. We go anywhere without masks and no one will frown their eyebrows. The pandemic is unofficially over for most Indonesians. Mostly because we’ve been too tired and too stressed out financially.

I’ve heard of complaints from youngsters especially those who recently graduated (or graduated from university in the last few years) on Twitter how hard it has become for Generation Z to land a decent-paying job. Even low-paid internships are now highly desired. They need internships to just stay optimistic and afloat in spirit and personal finance.

Freelancing is still not prestigious as it was but if it pays the bills then they’ll do it anyway. Really, being unemployed is the worst feeling ever. You feel useless when in fact you’re so young and actually useful enough to make money for the nation. (*/)

ChatGPT Bukan Ancaman bagi Lapangan Kerja Pekerja Kata Asalkan…

Kecerdasan Buatan ChatGPT bisa menulis sebaik manusia, katanya. Tapi apakah bisa menggusur para jurnalis dan penulis manusia? Tunggu dulu!

SEPEKAN lalu saya membaca sebuah unggahan milik editor in-chief media Singapura di LinkedIn.

Di unggahannya, Terence Lee sang editor menyatakan kekagumannya terhadap ChatGPT, sebuah piranti lunak berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence).

Lee meminta ChatGPT mengubah sebuah rilis pers menjadi artikel berita pendek. Bersamaan dengan itu, dihasilkan juga beberapa pilihan judul bagi artikel tersebut.

“Meskipun percobaan pertama tak begitu bagus tapi ChatGPT memahami umpan balik saya dan mengubah artikel tadi menjadi sebuah tulisan yang hampir layak tayang. Dan itu cuma sekali penggunaan. OpenAI sungguh menakjubkan,” tuturnya.

Di unggahannya, Lee juga memuat beberapa tangkapan layar soal proses tersebut.

Pertama, ia mengetikkan sebuah arahan penulisan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan ChatGPT sebaik-baiknya: menulis artikel 200 kata mengenai topik yang ditentukan Lee.

Kemudian Lee menyalin rekat rilis pers yang dijadikan acuan. Di sinilah materi asal yang bisa diolah ChatGPT.

Kemudian ChatGPT menghasilkan satu paragraf panjang. Tentu kurang enak dibaca. Lee kemudian memerintahkan: “Bagi menjadi beberapa paragraf pendek”.

ChatGPT kemudian mematuhinya dan berhasil menghasilkan tulisan dengan 5 alinea pendek. Lee memberikan sedikit revisi di sini. Ia tak mau ada kata “saya” dan ChatGPT mengeksekusinya. Ia hapus semua kata “saya” dan “ku” agar artikel lebih formal dan profesional.

Kemudian ia memerintahkan ChatGPT menghasilkan 5 opsi judul yang menarik untuk calon artikel. Seketika ChatGPT memberikannya.

Lee memilih opsi pertama dan menyuruh ChatGPT memasukkan satu frasa agar lebih akurat dan memendekkan judul itu agar lebih ringkas. ChatGPT melakukannya dengan efisien.

PERLUKAH PANIK?

ChatGPT seperti sederet inovasi teknologi yang baru muncul pasti memunculkan resistensi/ perlawanan.

Ingat dahulu saat internet muncul, mereka yang bekerja di surat kabar menganggapnya sebagai ancaman. Ada betulnya, tapi itu kalau mereka tak mau beradaptasi kan?

Begitu juga saat email muncul, para pekerja kantor pos pasti menganggapnya sebagai ancaman yang harus dilawan dan dilenyapkan.

Begitu juga yang sekarang terjadi pada ChatGPT. Ia mengguncang banyak industri: dari media, SEO, hingga jurnalistik.

MENGENAI CHATGPT

ChatGPT ialah sebuah chatbot berbasis Kecerdasan Buatan yang baru-baru ini menghebohkan internet.

Dalam waktu 5 hari saja, ChatGPT meraih 1 juta pengguna aktif yang penasaran dengan kekuatannya mengolah kata.

Muncul banyak prediksi dengan kemunculan ChatGPT ini. Ada yang meramalkan tergusurnya lapangan kerja pekerja kata. Ada yang meramalkan otomatisasi bakal melanda seluruh industri di dunia. Ada lagi yang meramalkan kemunculan inovasi terbesar setelah kemunculan iPhone di awal abad 21.

Kita saat ini sedang di fase pertama. Dalam 10 tahun mendatang, banyak industri akan diguncang oleh kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) termasuk ChatGPT ini. Demikian ungkap entrepreneur teknologi Joe Speiser dalam utas Twitternya di akun @jspeiser tanggal 14 Desember 2022 lalu.

Menurut Speiser, AI bakal melejitkan kreativitas, alih-alih menghambatnya. Argumennya adalah karena kreativitas adalah soal menghubungkan ide-ide yang tak berkaitan erat. AI bisa dipakai untuk melakukan riset, menulis lirik lagu dan menghasilkan naskah film. Wow!

Yang patut dipahami ialah bahkan menulis dengan AI pun perlu proses. ia menggarisbawahi bahwa proses menulis dengan bantuan AI bisa berlangsung dalam hitungan hari hingga tahun.

“AI tidak menggantikan kreativitas tapi cuma membuatnya lebih cepat,” tegas Speiser. Itu karena AI bisa mengerjakan banyak tugas sekaligus. Beban pekerjaan yang kalau dikerjakan otak manusia bakal tak sanggup.

Lebih lanjut ia bahkan mengatakan AI bisa membantu para pekerja teknologi di bidang coding, pekerja konten, pemasaran, dan SEO. 

——————

Kembali ke unggahan Lee tadi, saya pun tergelitik untuk bertanya pada Lee: “Bagaimana para reporter dan editor bisa bertahan dan tetap relevan?” Mengingat ChatGPT bisa bekerja dengan kemampuan dan keterampilan yang pekerja kata miliki.

Lee mengatakan kita para pekerja kata dan pewarta sesungguhnya tidak perlu begitu antipati pada ChatGPT atau Kecerdasan Buatan apapun yang nanti muncul dengan alasan berikut ini.

JURNALISME TIDAK CUMA MENULIS

Kata Lee, sebagian besar pekerjaan pewarta melibatkan banyak hal dan menulis hanyalah secuil pekerjaan mereka.

Mendapatkan ide berita yang menarik (scoop) misalnya tak bisa dilakukan Kecerdasan Buatan sebagus apapun dia bisa bekerja. Hal ini cuma bisa dilakukan manusia yang punya otak yang bekerja dengan kejelian dan insting berita yang terasah.

PENGETAHUAN DAN PENGALAMAN MANUSIA TAK TERGANTIKAN

Pakar SEO Andrew Holland menanggapi bahwa meski memang bakal ada guncangan di dunia pekerja kata, tak bisa disangkal bahwa ada “tacit knowledge” milik manusia yang tidak bisa digantikan oleh Kecerdasan Buatan ini.

Apa sih yang dimaksud dengan “tacit knowledge” ini?

Maksudnya adalah pengetahuan dan pengalaman yang kita serap selama kita menjalani kehidupan sebagai manusia.

Inilah yang membedakan kita manusia dan mesin: pengalaman hidup. Mesin secerdas apapun masih belum bisa memilikinya. Entah nanti di masa depan.

KEPERCAYAAN

Kita niscaya akan tiba pada satu periode saat banyak tulisan dan konten dihasilkan dengan AI ini. Setidaknya ini akan terjadi sampai satu dekade mendatang.

Tapi sebagai manusia pekerja kata, kita tidak perlu menangis sebab di sini kita masih bisa menggunakan senjata pamungkas: kepercayaan, ungkap Speiser.

Ya, saat semua teks dibuat oleh robot, teks yang dibuat oleh manusia bakal langka dan lebih dipercaya. Masyarakat akan mencari-cari konten yang dibuat oleh sesama manusia karena pada hakikatnya konten ya dibuat oleh manusia untuk manusia demi menyampaikan sebuah pesan yang bermuatan emosi atau pemikiran.

PELUANG DARI KECERDASAN BUATAN

Masih menurut Speizer, bagi Anda yang merasa bahwa AI bakal menggusur lapangan kerja, Anda harus menyesuaikan diri dengan kondisi industri terkini.

Bagaimana caranya?

Speizer menjelaskan sekilas bahwa dalam setidaknya 10 tahun mendatang, kita bisa tetap relevan jika kita bergabung dengan tim-tim yang menciptakan AI.

Jika Anda suka mengajar, Anda juga bisa belajar menggunakan AI dan menerapkannya di industri atau bidang Anda lalu mengajarkannya pada orang lain yang pasti membutuhkan agar tetap ada di barisan terdepan angkatan kerjanya.

Cara ketiga bisa tetap punya pekerjaan di era AI ialah dengan menggabungkan AI ke dalam sistem-sistem bisnis kita. Jangan malah menolak AI! Bunuh diri itu namanya. (*/) 

Pandawara Group: Teladan Anak Muda Pembuat Konten Viral Positif

TIKTOK saat ini memang jadi sarangnya kreator konten anak-anak muda. Tidak cuma yang membuat eneg, tapi juga ada yang positif sih.

Konten TikTok didominasi oleh konten ghibah, saling kritik, saling singgung, yang sedikit sekali faedahnya.

Dan saya tak mendapatkan manfaatnya… Menghibur sih tapi cuma bisa memperkaya diri mereka.

Untungnya buat orang lain dan masyarakat banyak apa?

Tapi untung tidak semuanya begitu.

Salah satu kreator konten anak muda yang berbeda dan menurut saya patut diikuti dan diteladani adalah Pandawara (Pandawara Group).

Anak-anak muda Bandung ini memulai memunguti sampah yang bertebaran di sekitar mereka. Entah itu di pinggir jalan, sampai ke sungai-sungai dan saluran air yang penuh dengan sampah plastik terutama.

Dari cerita-cerita mereka kita bisa tahu bahwa masyarakat Indonesia itu mentalitas manajemen sampahnya sangat amat primitif sekali.

Mereka pikir jika dibuang ke sungai, sampah akan hilang. Memang sih hilang dari pandangan mata tapi bukan berarti hilang dari muka bumi.

Cerita-cerita mereka juga menunjukkan bahwa sungai masih menjadi tong sampah raksasa bagi masyarakat kita.

Jorok, bodoh, dan tidak beradab banget sih memang.

Lucunya lagi masyarakat saling menyalahkan kalau ada banjir. Padahal ya salah mereka sendiri karena mereka yang tidak mau membayar jasa petugas pengumpul sampah.

Dan jijiknya lagi sih ada oknum masyarakat yang begitu tahu bahwa aksi bebersih itu akan diunggah ke TikTok dan begitu tahu mereka terkenal di TikTok, orang-orang tak tahu malu itu ikut aksi bersih dengan tujuan ingin tampil di video TikTok mereka. Mereka cerita ada pak RW yang mengatasnamakan aksi bebersih mereka untuk mengangkat reputasi mereka.

Gobloknya lagi, mereka ini sudah membersihkan sungai yang bukan di sekitar rumah mereka tapi masyarakat di sekitar sungai itu malah marah-marah. Alasannya karena sampah di sungai itu dibuang ke TPS padahal mereka Pandawara ini bukan warga setempat. Tapi kan logikanya, dibantu bebersih kenapa situ marah, bebal?? Hahaha. Sudah bodoh, jorok pula.

Lalu ada cerita lagi saat mereka menemukan sungai yang sudah dibersihkan dan ada sampah-sampah tak lazim yang berbau klenik, dari boneka santet yang dibuka perutnya lalu ada anggota Pandawara yang sakit sampai 3 hari. Ada juga kain putih mirip pocong yang dibuang ke sungai oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Dan apa yang dilakukan mereka sebenarnya belum menuntaskan masalah lingkungan kita yang amat parah. Karena mereka mengakui mereka cuma bisa mengurangi keparahan. Tidak bisa sampai membersihkan secara tuntas karena begitu sudah dibersihkan ada saja warga yang mengotori lagi. Bahkan ada warga yang buang sampah di depan mata mereka saat bersih-bersih. Padahal sudah tua jadi harusnya beri contoh yang baik lah. Haha. Sungguh tak tahu malu yaaaa.

Masalah sampah memang sudah jadi masalah nasional di negara ini. Masalah yang tak kunjung diberikan solusi serius oleh Jokowi dan pemerintah dari dulu sampai detik ini.

Saya sendiri akan memilih kandidat presiden atau pemimpin daerah yang memperhatikan masalah sampah ini.

Dan mungkin jika tidak bertemu ya, saya ingin pindah negara saja. Sudah muak saya melihat manusia-manusia tak bersyukur yang mengotori rumah mereka yang indah dan permai ini dengan sampah-sampah. (*/)

Dunia Makin Sengsara, Bahkan Rusia

ENTAH siapa yang harus disalahkan dengan meluasnya gejala resesi ekonomi dunia saat ini.

Perang Rusia vs Ukraina yang meletus sejak dari Maret lalu sampai sekarang belum ada ujungnya. Bahkan setelah Jokowi mendatangi kedua negara dan mengundang kedua presiden negara serumpun itu ke pertemuan tingkat tinggi G20 di Bali nanti.

Di Indonesia sendiri, kehidupan rakyat juga sudah cukup sengsara ya. Gelombang PHK di startup dan pabrik-pabrik akibat melemahnya daya beli masyarakat yang dipicu tingkat inflasi yang makin tinggi sudah terasa efeknya.

Padahal baru saja kita lewat dari pandemi covid-19 dan sudah dihajar resesi yang sudah diumumkan secara resmi oleh IMF dan para petinggi negara kita tercinta.

Tapi bagaimana ya, ini itu seperti musibah buatan manusia sendiri. Bayangkan kalau kita nggak ada perang dan sok-sokan invasi negara lain. Ya Putin memang sering disebut sebagai pemicu semua kekacauan dunia ini tapi di balik tindakan invasi Putin itu juga sebetulnya pasti ada yang memicu. Blok Barat (NATO) pastinya sudah berulah juga.

Di Inggris sendiri resesi dan inflasi membuat sebagian anak sekolah kelaparan di jam istirahat. Ini Inggris yang notabene identik dengan status negara dunia pertama yang kaya dan maju. Kemakmuran sangatlah terjamin. Tapi mendengar berita itu, kita tentu bergidik. Jika Inggris saja begini sengsara, apalagi kita negara yang terjebak di status negara berkembang dan menengah?

Jadi siapa yang salah? Tak masalah siapa, karena yang penting kita sama-sama hidup makin susah sekarang.

Bahkan di Rusia, rakyatnya juga makin kesulitan. Tonton saja video YouTube satu ini.

On tiktok and content consumption pattern

I have known some youtubers getting comments on their channels from their subscribers: “Hey why don’t you create TikTok videos? This could be viral. So useful and eye-opening…”

But not all youtubers welcome such encouragement to swift their territory. YouTube has become their comfort zone. 

I myself came from different content background. I grew up as a digital citizen as a blogger. I write stuff. I have never seen myself as an expressive personality that eloquently gets my messages across with my own voice, demonstrate things, and show my face carefreely for unclear purposes. As a yoga instructor, I know I have to show my body because this is my tool. But to show off my face is a different thing. I am no beauty blogger or model. 

With such prohibition in mind, i entered the TikTok world to share what I know and experience as a yoga and general movement practitioner. 

TiktTok has brought us to the new era of content packaging. Now we don’t have to make so much effort to create serious and professional YouTube content or a well researched blog post that may take days or weeks to craft and edit and polish. 

One can just record or even stitch videos and add a home-made, amateurish, blurry and shaky video with least preparation and simplest tools and it gets viral. Boom! Million views in a day. Crazy! 

The instant gratification is so much higher on TikTok than on Instagram or any other social media platforms. So high they are pushing themselves harder than ever before to surpass TikTok and its algorithm. 

Review Sepeda Perkotaan (Citybike) Elops 100 Merek BTwin dari Decathlon Indonesia

https://platform.twitter.com/widgets.js
Sepeda elops 100 B Twin dari Decathlon Indonesia

Karena melihat foto sepeda di website decathlon ini, saya jadi tergiur memiliki sepeda dengan desain jadul ini.

Dan harus saya akui saya cukup puas dengan pembelian yang saya lakukan ini, dengan beberapa catatan tentunya. Hmm. Simak saja tulisan ini sampai habis ya.

Dari tampilan sekilas, desainnya mirip sepeda onthel Phoenix yang legendaris itu. Sampai beberapa orang tetangga yang melihat mengatakannya. Sangat nostalgik!

Dan memang itulah yang menjadi salah satu kelebihan sepeda keluaran Decathlon ini.

Dari apa yang saya temui di internet, ada orang yang mencap sepeda serupa yang dirilis di Eropa lebih baik mutunya daripada yang dirilis di pasar sini.

B Twin sendiri punya reputasi bagus di benua biru sana. Jadi saya cukup percaya dengan keandalannya.

Bagi Anda yang ingin membeli sepeda ini secara online dan rumah Anda jauh dari outlet Decathlon, siap-siap untuk membayar mahal ongkos kirim dan kesabaran.

Untuk ongkir saya mesti menebus Rp400.000 dan sampainya pun sdeminggu lebih dengan ditambahi sedikit ‘bumbu drama’ karena kurir JNE dua kali ke rumah saat saya di luar. Padahal kan bisa saja di-SMS atau ditelepon beberapa menit sebelumnya agar saya bisa standby atau pulang cepat atau minta dititipkan ke sekuriti atau tetangga. Jadi saya harus menghubungi service center JNE cuma untuk mengomel. Apa gunanya saya kasih nomor ponsel jika tidak dihubungi dulu? Haha. Ada-ada saja ya. Padahal itu jauh dan paketnya besar. Akhirnya balik lagi ke gudang penyimpanan dan saya mesti menunggu lagi tanpa kepastian.

Begitu sampai, paketnya memang besar sekali karena sepeda tidak dipereteli. Sudah terakit baik. Cuma bannya kempesss.

Saya mesti beli pompa ban sepeda dan itu merepotkan sedikit tapi ya sudahlah.

Saya harus memasang pedal sendiri dan bisa dilakukan tanpa alat sih.

Yang saya sayangkan adalah di paketnya tidak ada manual pemasangan pedal atau apa lah supaya pengguna tidak kebingungan memasang pedal ini.

Saya sempat salah pasang dan kurang kokoh sehingga pedalnya lepas saat dikayuh di jalan. Saya pikir rusak tapi ternyata cuma karena saya kurang ‘masuk’ saat memasangnya.

Karena tidak ada ‘gigi’, jadi ya saya pasrah saja mengayuhnya. Memang agak berat kalau mengayuh di medan yang menanjak tapi bagus buat latihan kaki. Haha. Paha saya jadi kencang juga.

Setelah saya pakai 2 bulan, saya simpulkan produk sepeda ini cukup pantas dimiliki bagi Anda yang tinggal di lingkungan perumahan dan cuma ingin bersepeda untuk tujuan rekreasional. Bukan yang kompetitif.

Makanya bodi sepeda ini lumayan berat tapi kelebihannya adalah desainnya yang klasik banget dan bikin orang melirik dan bernostalgia.

Ada tetangga yang membandingkan dengan sepeda listrik tapi saya pikir tidak apple-to-apple karena pakai sepeda ini saya bisa berolahraga tapi sepeda listrik tidak. Saya mau bergerak dan sembari menikmati pemandangan tanpa menghabiskan bensin yang harganya makin naik. (*/)

Blog sebagai Pusara Digital

Ridwan Kamil dan Emeril Kahn anak sulungnya. (Foto: https://sumbar.suara.com)

UNTUK apa menulis blog?

Bagi orang awam mungkin tidak ada arti yang signifikan ya.

Blog buat sebagian orang untuk menumpahkan uneg-uneg, mirip diare kata-kata. Tidak jelas isi pesannya apa tapi pokoknya asal banyak dan keluar setiap hari. Begitulah, seperti membuang kotoran tiap hari.

Tapi tidak semua orang harus menikmati ‘kotoran’ tadi.

Kita bisa seleksi agar blog kita berisi hal-hal yang indah dan baik serta menenteramkan hati juga lho.

Kenapa begitu?

Ya karena nantinya kita semua bakal mati.

Dan blog adalah salah satu peninggalan yang berupa jejak digital kita yang bisa jadi lebih abadi daripada jejak kita di dunia nyata.

Hal ini baru saya sadari setelah ada berita soal blog almarhum Emeril Kahn, anak gubernur Jabar Ridwan Kamil yang beberapa waktu lalu meninggal dunia tenggelam di sungai Are, Eropa sana. Tenggelam di awal musim panas saat semua es melebur sehingga air sungai melimpah ruah.

Blog milik Emeril sebenarnya bukan blog yang wow banget. Bahkan blog ini terkesan apa adanya, blak-blakan, amatiran, karena inilah pemikiran-pemikiran anak muda seusianya.

Meski bahasa Inggris yang dituliskan Emeril di situ kurang tertata secara gramatikal, saya maklumi saja karena dia anak Bandung, bukan London atau New York.

Artikel-artikel di situ juga beragam topiknya, dari sebuah pembukaan restoran pizza di Bandung bernama Papa Jabroni’s Pizza hingga catatan soal class meeting khas anak SMA. Sungguh khas anak muda.

Tapi satu tulisan menurut saya cukup berisi dan bisa jadi dikatakan sebagai tulisan unggulan di blog itu, yakni sebuah artikel berjudul “Interview” yang Emeril publikasikan tanggal 27 Mei 2015.

Isinya soal pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada sang ayah soal apa dan mengapa ayahnya bersedia menjadi walikota Bandung saat itu mengingat Ridwan sudah mengecap kesuksesan besar dengan menjadi arsitek yang termasyhur di mana-mana.

Di sini saya kagum bahwa Eril di usia yang begitu muda sudah lumayan bisa mengendalikan caranya menggunakan media sosial dan internet. Itu artinya ada peran orang tuanya yang mendidiknya supaya memelihara etika dan sopan santun di dunia maya.

Jika kita bisa runut ke belakang, tidak pernah ada satu pun berita buruk soal Eril. Bandingkan dengan anak-anak muda yang seolah berlomba membuat sensasi dan berita tak peduli baik atau buruk demi bisa viral di media sosial.

Ini menandakan sebuah keluarga yang orang tuanya tidak disfungsional. Baik Ridwan dan istrinya mampu mendidik Eril sedemikian rupa sehingga ia bertindak tanduk baik selama hidupnya yang relatif singkat itu.

Jadi ini menjadi semacam teguran bagi kita agar mencatatkan hal-hal baik di akun media sosial dan blog kita.

Agar saat kita meninggalkan dunia ini, orang bisa melihat dan mengenang sisi baik kita. Bukan sisi buruk dan gelap kita. (*/)

Jokowi Asks Housewives Not to Give Birth to Babies Every Year, But That’s Just Sexist

JOKOWI made another blunder. As reported by Pikiran-Rakyat.com, President Joko Widodo commemorated the 29th National Family Day at Merdeka Square, Medan, North Sumatera on Thursday, July 7th 2022.

On the occasion, he asked all elements of the nation to work together to lower the number of stunting cases in Indonesia.

The commemoration was broadcast live on YouTube official channel of Presidential Secretariate in Jakarta.

Jokingly or not, Jokowi asked housewives not to give birth to babies every year.

Stunting has been a national issue that hinders the country from its ambitious goal to be a developed nation.

How is it possible to become a developed nation when many kids are still so malnourished, their growth in their golden early years is far from the standard?

He said that it is noteworthy that in preventing stunting cases, we need to regulate and give breaks between births.

But seriously, why didn’t he tell Indonesian men to just wear condoms or even better, undergo a proper vasectomy procedure?

I am a man myself but I find his advice incredibly sexist and unfair.

Women get pregnant because they are fucked by men!

So it is important that men also pay attention to available methods for them.

It’s not only about women giving birth like crazy but also men who don’t care about birth control.

Pandemic Diary: Angka Kasus Covid Naik Lagi

BERITA kenaikan jumlah kasus Covid santer lagi. Detik.com mengabarkan kita mesti hati-hati dengan potensi gelombang entah ke berapa ini.

Memang benar sih kewaspadaan pasca mudik kemarin sudah menurun drastis. Semua orang sudah berani membuka masker di luar rumah, sesuatu yang bukan hal baru di Indonesia.

Negeri tetangga Singapura meningkatkan kewaspadaan lagi karena kemunculan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5.

Apakah kita akan kembali terjebak dalam rumah? Atau akankah kita mengantre lagi demi vaksinasi booster untuk ke sekian kalinya?

Pandemic Diary: PPKM Lanjut Habis Idulfitri

SEMPAT beredar kabar bahwa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat alias PPKM yang sama saja artinya dengan lockdown ala-ala itu akan berakhir segera.

Ya bagaimana lagi, wong mudik saja sudah diperbolehkan kok. Mobilitas rakyat sudah jor-joran ke luar rumah, ke tempat wisata bahkan sampai ke luar negeri. Mulai banyak yang jalan-jalan lagi. Insta stories di bandara dan terminal sudah banyak lagi.

Intinya kehidupan pra-pandemi sudah kembali, jadi omong kosong kalau kita bilang PPKM belum berakkhir.

Tapi pemerintah memang belum berniat menghapuskan PPKM. Buktinya ini:

https://platform.twitter.com/widgets.js

Lebaran Progresif

MENDENGAR seorang teman berkata tak harus mudik pas Idulfitri ini karena jauh hari sebelumnya sudah mudik, rasanya kok iri juga ya. Kenapa orang Indonesia banyak yang terjebak pada definisi mudik di momen Lebaran saja?

Rasanya terkungkung sekali oleh tradisi yang dibuat sendiri, setahun sekali pas Idulfitri mesti balik ke kampung halaman. Padahal ada 300 hari lain yang bisa dipilih lho. Itu jumlah yang banyak sekali. Tapi kenapa harus itu? Kenapa harus saat itu?

Kalau saya nanti menjadi tetua atau patriark nanti, saya pastikan tidak ada yang merasa terikat dengan tradisi konyol ini.

Mau mudik atau tidak saat Idulfitri tidak masalah. Asal jangan merasa terpaksa atau tersiksa.

Seakan dengan bermacet-macetan dosa otomatis tertebus. Ya nggak juga sih.

Bayangkan jika penduduk terus bertambah dan tradisi ini terus seketat sekarang, bahwa mudik itu wajib. Nggak bisa ditinggalkan. Dan yang tidak mudik ya durhaka atau memutus silaturahmi. Chill!

Seberapa banyak jalan tol dibangun, bus diproduksi, kereta dirakit, bandara dibuat, kapal feri diapungkan, rasanya kok tidak bakal bisa mengimbangi kenaikan arus mudik per tahun.

Semua demi keafdolan sebuah tradisi turun temurun.

Tradisi yang sebenarnya bisa direvisi. Jika kita mau mengubah pola pikir. (*/)

%d bloggers like this: