Category Archives: writing

Puisi Indonesia Kembali Menggeliat

Joko Pinurbo, penyair Indonesia, mengatakan bahwa setelah kematian Chairil Anwar, Indonesia mengalami kelangkaan penyair berkualitas. Namun, nyatanya banyak bermunculan penyair-penyair muda. Dan karya-karya mereka sudah bermunculan dan bisa dinikmati khalayak ramai. Beberapa di antaranya adalah Norman Erikson, Ni Made Purnama Sari dan Cyntha Hariadi yang hari ini tampil sebagai para pemenang Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015.

Menanggapi pernyataan Joko Pinurbo yang dikutip seorang hadirin, Norman berpandangan para penulis dan penyair memiliki tantangannya masing-masing sehingga tidak perlu terlalu terpaku dengan kejayaan penyair dan penulis di masa lalu. Cyntha dan Ni Made Purnama Sari menegaskan penyair muda tak perlu meniru penyair senior yang lebih terkenal.

Ketiganya terpilih dengan proses yang cukup panjang dan melelahkan. Menurut penuturan Mikael Johani, salah satu juri lomba Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015 selain Joko Pinurbo dan Oka Rusmini ini, dari 574 naskah puisi yang masuk, terpilihlah tiga manuskrip yang terbaik dengan alasan bahwa manuskrip ketiga penyair ini:
1. Menawarkan keberagaman dalam tema ,
2. Menunjukkan keunggulan gaya berpuisi, dan
3. Menunjukkan teknik penulisan yang terbaik dari yang terkumpul.

Ditanya apakah ia menulis puisi dengan keinginan agar karyanya abadi, Norman tak mempermasalahkan karena ia menulis untuk masa kini tanpa banyak memusingkan keharusan dikenang banyak orang di era anak cucu. Ni Made juga tidak mempermasalahkan soal itu sebab ia yakin yang perlu menjadi fokusnya berpuisi ialah bagaimana agar puisinya mampu mewakili zamannya sendiri.

Cyntha Hariadi yang menerima kabar gembira kemenangannya pada hari ibu tahun lalu melalui surel itu mengatakan dirinya tidak percaya pada awalnya. “Saya sebenarnya bukan penyair. Tapi peminat saja. Saya bekerja sebagai copywriter iklan,” ujarnya yang merasa bangga bersama dengan dua pemenang lainnya. Buku puisinya yang berjudul “Ibu Mendulang, Anak Berlari” menceritakan bagaimana pengalamannya sebagai ibu yang selalu diagungkan dan disucikan. Namun, ia juga tidak ketinggalan dalam menambahkan aspek-aspek lain dari seorang ibu. Bisa dikatakan buku ini merangkum hubungan ibu dan anak, sebuah urusan domestik yang terkesan ‘remeh temeh’ tetapi sejatinya fondasi bagi semua lini kehidupan umat manusia.

Sementara itu, Norman sendiri tidak begitu yakin tetapi saat itu ia baru percaya jika dipanggil sebagai salah satu jawaranya. Ia baru percaya saat mereka bertiga bertemu. Sebelumnya Norman sudah menerbitkan kumpulan cerpen yang begitu panjang. Menurut Norman yang suka bermain dalam menulis, puisi memaksanya memadatkan dan meringkaskan gagasan dan pesan yang ingin ia sampaikan.Ini berbeda dari proses menulis cerpen. Norman menerbitkan buku kumpulan puisi “Sergius Mencari Bacchus” yang terilhami oleh kisah Sergius dan Bacchus yang merupakan dua prajurit di masa Romawi yang memiliki ‘kedekatan khusus’. Menurutnya inilah kisah bertema LGBT yang tersimpan dalam khasanah literatur sejarah gereja Katholik.

Ni Made Purnamasari memilih menjelaskan makna dalam judul buku puisinya “Kawitan” yang merujuk pada awalan. “Empat puluh dua puisi dalam buku ini merupakan pemaknaan saya atas asal muasal saya tadi,” jelas perempuan bersuara berat itu. Dalam sebuah puisi ia mengangkat tanah kelahirannya Bali dan membuatnya mempertanyakan asal mula. Di bagian kedua ia mengangkat pertanyaan asal mula tetapi mulai meninggalkan batasan etnosentris/ kedaerahan.

Ada yang menggelitik saat Norman ditanya saran apa yang ia sampaikan pada Dewan Kesenian Jakarta. “Jangan korupsi!” Dan kami semua tertawa.

Leave a comment

Filed under writing

6 Kiat Beryoga dengan Anak Anda

Anak-anak biasanya dianggap gangguan saat orang tuanya beryoga. Di banyak studio yoga, anak-anak bahkan dilarang masuk ke studio saat kelas berjalan. Padahal sebagaimana yoga, anak-anak juga bagian penting dalam kehidupan orang tua.
Bagi Anda orang tua, ubah asumsi bahwa anak Anda menghalangi latihan yoga Anda. Bagaimana caranya? Ini dia.
Fokus pada pose-pose dasar: Orang tua bisa membolehkan anak ikut dan meniru mereka saat memeragakan downward facing dog, warrior 2, cobra atau pose pohon. Semua ini pose-pose dasar yang relatif aman untuk mereka.
Biarkan mereka mengejutkan Anda: Ajari anak apa yang harus dilakukan namun jangan terlalu memaksa agar pose mereka sempurna. Izinkan mereka meniru sesuka dan semampu mereka. Sedikit pose acro yoga? Silakan saja. Asal Anda tahu tekniknya.
Bermain dengan pose-pose hewan: Peragakan pose-pose yang mirip dengan bentuk hewan. Misalnya, pose unta, kupu, kobra, kucing-sapi. Anda akan tekejut betapa mereka lebih bagus memeragakan semuanya daripada Anda sendiri yang sudah bertahun-tahun berlatih yoga.
Modifikasi agar lebih menyenangkan: Anak biasanya lebih lentur secara alami. Biarkan mereka melakukan pose yang lebih dalam jika mereka mampu. Seperti menyentuh kepala dengan telapak kaki dalam pose kobra. Jangan memaksa berlatih sampai akhir: Anak biasanya memiliki rentang fokus yang lebih pendek dari orang dewasa. Jika mereka mulai bosan dalam 5-10 menit berlatih yoga dengan Anda, izinkan mereka melakukan aktivitas lain.
Sediakan perlengkapan yoga anak: Bagi anak, memiliki perlengkapan yoganya sendiri adalah sebuah kemewahan dan motivasi untuk memulai. Daripada Anda memaksa mereka ikut kelas yoga Anda yang panjang dan membosankan, kenapa tidak memberikan mereka ruang dan waktu di rumah untuk berlatih sendiri sesuka mereka? (disarikan dari YogaJournal.com)

Leave a comment

Filed under writing

Bea Cukai Indonesia Bertekad Terus Perbaiki Diri

Kata “bea cukai” lekat dengan rokok dan ‎formulir di benak saya. Rokok, karena saya akrab dengan istilah “cukai rokok” di kota kelahiran saya, Kudus. Formulir? Karena saya biasanya disodori formulir pernyataan kepemilikan barang sebelum mendarat kembali di teritori RI. Digabung dengan suasana bandara dan pintu imigrasi yang kerap membuat frustrasi, bea cukai cukup berhasil memberikan kesan menyeramkan dan kaku.

Namun, siang tadi saya bisa katakan kesan itu tidak sepenuhnya benar juga.‎ Buktinya saya bisa bercakap-cakap dengan nyaman di barisan belakang bersama seorang pria berkumis tipis yang didaulat membuka dan memimpin jalannya acara kami hari ini di gedung Pos ibukota, dekat Lapangan Banteng.

Namanya Muhamad Akhadi Jatmiko. Ia melihat catatan saya dan berseloroh,”Tulis saja Jatmiko.” Tentu saja saya tidak bisa menuruti permintaannya. Saya ingin orang-orang tahu nama asli sang pemangku jabatan Kepala Bidang Analisis dan Tindak Lanjut Kepatuhan Internal PUSKI Kepabeanan dan Cukai.‎ Sementara saya mengobrol dengan pak Jatmiko, Nurtanti Widyasari yang bekerja sebagai Kepala KPPBC Tipe Pratama Kantor Pos Pasar Baru juga tengah asyik menjelaskan prosedur dan alur penerimaan barang, lalu berbagai informasi mengenai bea cukai.

‎Pada saya, Jatmiko mengatakan betapa kurangnya 12 ribu pegawai yang ada saat ini. “Kayaknya banyak tapi kurang.”

Saya kejar lagi,”Lalu idealnya rasionya berapa, pak?” Indonesia negeri yang luar biasa besar sehingga pastinya kekurangan ialah suatu keniscayaan. Itulah masalah utama negeri ini: kurang orang yang berketrampilan.

Jatmiko menyebutkan kondisi ideal itu tercapai bila “setiap perbatasan bisa dijaga petugas bea cukai”. Namun, masalahnya belum komprehensif saat ini. Perkataannya membuat saya seperti hidup di sebuah rumah megah dengan pagar lidi-lidi kecil ala kadarnya dengan sekeliling kami bertumbuh hutan belantara dan margasatwa. Besar tetapi rapuh, hampir tanpa pertahanan. “(Idealnya – pen) ada level pimpinan, staf tapi kenyataannya tidak bisa seperti itu. Bahkan di beberapa tempat cuma diawasi dari satu titik saja,” keluhnya. Ia contohkan perbatasan darat di Kalimantan yang belum jua terjaga dengan rapat oleh jajaran Bea Cukai.

Soal infrastruktur, Bea Cukai kita bisa dibilang merana. Mayoritas kapal patroli mereka sudah berusia 50-40 tahun alias keluaran dekade 60an dan 70an. Bagaimana bisa berkejaran dengan kapal-kapal penyelundup yang lebih anyar itu? “Yang paling modern saja tahun 80an.” Ah, trenyuh. Jatmiko tidak lupa menceritakan kebanggaan baru lembaganya:kapal baru berukuran panjang 60 meter. Itu yang terbesar, ucapnya.

Keterbatasan menjadi kendala Bea Cukai untuk maju menjawab tantangan yang semakin besar. Kapal-kapal tua itu mesti dipacu kencang menjaga teritori dari tindak penyelundupan. Alhasil, Bea Cukai harus cukup puas bekerja layaknya “bermain galasin”, kejar-kejaran seperti Tom and Jerry.

Kondisi makin pelik saja, karena sebagian penyelundup menggunakan warga tak bersalah sebagai perisai manusia. Begitu petugas Bea Cukai mendekat, warga yang telah dipersenjatai bom molotov itu menyerang mereka. “Kalau kami tembak, nanti kami yang dituduh melanggar HAM,” tandas Jatmiko mengenai kondisi penjagaan di lautan kita yang ‎sebetulnya.

“Nanti ada ‘busway’ untuk kontainer‎,” kata Jatmiko soal rencana Bea Cukai ke depan. Nanti dari Tanjung Priok akan ditarik ke Cikarang. Sampai saat ini jumlah kontainer yang tertangani di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta cuma 3 persen, akunya. Sisanya dibuka sebentar lalu dilimpahkan ke pelabuhan lain seperti di Surabaya dan Makassar. Tiga persen itu saja sudah mampu memacetkan pelabuhan seperti itu, apalagi nanti di masa depan saat perdagangan makin intens.

Saat saya tanyakan realisasi busway itu, Jatmiko cuma bisa berkata,”Itu proyek Pelindo. Bukan Bea Cukai.” Kau tahu apa itu artinya, bukan? Ya, sabarlah menunggu.

Bea Cukai juga ingin menggeser dominasi cara kerja manual menjadi cara kerja otomatis dengan teknologi terkini agar lebih efisien dan produktif. Apa daya, pemerintah sekarang “uangnya lagi tipis”, ucapnya.

Teringat tema anti korupsi, saya sisipkan pertanyaan yang berkaitan sembari kami menikmati suasana Museum Bea Cukai yang baru dibangun tahun lalu. “Dari sisi normatifnya, kesejahteraan pegawai Bea Cukai lebih tinggi. Ada remunerasi dan sebagainya.”

Jatmiko juga menyinggung soal integritas jajaran staf Bea Cukai. Ia ingin semua staf Bea Cukai bekerja dengan jujur, tak peduli ada atasan atau tidak.

Tak puas, saya coba korek keterangan dari Triyono, pemandu kami siang itu yang bekerja di Kantor Pusat Bea Cukai Rawamangun,‎ tutur bapak satu anak itu:”Sebelumnya ada pelatihan prajabatan yang wajib dijalani CPNS. Ada banyak pelajaran seperti etika. Dari Bea Cukai sendiri, diberikan kedisiplinan.” Urusan satu ini, Kopassus dilibatkan. Di belakang kantor pusat tadi, ucapnya, ada tempat pendidikannya. Sebulan mereka digembleng Kopassus sebelum jadi abdi negara.

‎Bea Cukai ingin lebih bersih dan lebih baik. Namun, itu semua percuma tanpa sokongan rakyat semua. Jadilah kita rakyat yang bersih juga. Caranya? Dengan memberikan saran dan kritik yang membangun pada mereka melalui:

  • Situs resmi Bea Cukai RI http://www.beacukai.go.id
  • Email pengaduan kinerja internal pegawai Bea Cukai ‎:pengaduan.beacukai@gmail.com
  • Layanan Sipuma: 0800-100-3545

Leave a comment

Filed under writing

Talk about Being 10 and on a Constant World Tour

Liam’s (L) voice was so low I had to leaned forward while we were in a brief interview. He is now living the dream of million other children at his age: on a Disney tour around the planet. Fascinating indeed, and exhausting at the very same time. As I interviewed him, Liam was on “Beauty and the Beast World Tour.” Here’s the excerpt of our conversation.

‎AP: Since what age have you started to perform on stage?
L: ‎Maybe 3 or 5 years old and now I’m 10.

AP: How do you feel to be on Disney’s Musical?
L: I haven’t done a show for a while. I should do this and the experience is amazing and I have no regrets saying yes.

AP: How about the jetlag?
L: Quite a bit sometimes. From New York to Bangkok, because our first stop is Bangkok, it was 24 hours and I was definitely sleeping in the day and waking up at night.

AP: How about your school?
L: That’s a bit of a problem but that’s okay. They know that I am working on a tour because this is my job. This is what I have to do. So it’s really hard to leave home, and my friends, family and my pets.

AP: You have pets? What are they?
L: ‎I have two pets. A rabbit and two cats.

AP: What lesson do you want Indonesian kids learn from Ms. Potts? E: Stay positive! Things are gonna work out. She tries to keep the innocent Chip, who is turned into a cup, optimistic. For kids and all audience, I think : stay curious and stay positive, and to look beyond the exterior of somebody. Don’t judge a book by its cover.

‎AP: What’s your most challenging scene in the show?
L: It’s actually when I say:”Mama mama, you’re not gonna believe what I saw!” l Because it’s really long and I have to say it fast. ‎And the other is when I am asking if it’s possible for me to be human again.

E: I think the hardest part of me is when there’s a moment in the show when things don’t seem to work out for Belle and the Beast. And I am the one that kind of have to tell the Beast that because he doesn’t quite realize that things are not gonna work out. And that’s really hard because ‎Ms. Potts has become so optimistic about the whole thing, she always is holding up hope. And there is a moment where it looks like hope is not there anymore. And to tell somebody else that is so heartbreaking.

‎A: What’s the hardest part of the show?
E: I’d say the biggest difficulty for me is keeping it fresh every night because we have done lots of shows and travel a lot. We experience jetlag, different cultures, different time zones, etc. Having to leave all of that, we must put on the costumes and be like the very first time we’re stepping on stage. That’s the challenge of an actor, the hardest and also the most rewarding.

L: When I have to change my tone of voice. Because my voice is low. When I’m getting into the scene, it’s also easy for me to ‎think I am in the movie and I am Chip.

Leave a comment

Filed under writing