Yoga Is Not Your Hiding Place from Reality

‎”Some people might think that by practicing Yoga you’re running away from the world and are not going to enjoy anything. But yogis are the people who are going to enjoy everything. Because when you’re the master of your life, you’re not controlled by anything and you can enjoy everything. This is the aim of Yoga.” – Swami Satchidananda

I stumbled upon the gorgeously arranged string of words on a fellow yogi’s Instagram feed. So though some people think social media is full of prentention, it can be filled with true wisdom, too.

It reminded me of a friend who complained right after he was on board, flying to Jakarta after his amazing yoga retreat in Bali. “Back to the real world, guys! Wish I could stay longer there,” he blurted on Facebook, wanting us to know what he truly felt about being back to the hectic life and the daily grind that sucks most of the time.

Another friend of his noticed the escapism attitude in the complaint, criticizing:”So yoga is your way to flee the reality?”

That, however, did stun me in someway as well. There is a point, or some, in our life when things really don’t go the way we want. And if you’re a yogi/ni or familiar with yoga practice, yoga may help alleviate all or most or some of the pain.

I totally can relate to my friend’s complaint. Yoga — as far as I’m concerned — enables me to rest from the binding monotonous routines, study our Self more profoundly, solemnly, without any unnecessary external intervention. ‎Yoga provides me arare opportunities to be on my own, be my own master. I feel free, unchained, uncontrolled, let go by the norms and demands of the society and authority. What a sanctuary!

So when a yoga class is over, I suddenly turn miserable and forlorn again. ‎What’s wrong with this feeling and mind?

‎What Swami Satchidananda states indeed opens my eyes that what I feel after yoga classes is somewhat similar to what my escapist friend felt after his glorious yoga retreat.

Can we enjoy everything we go through in life just like what the Indian thinker suggests?

That, I suppose, is one of the most worth thinking subject matters a yogi/ni can have. ‎That could be our lifelong homework, too.

Business Plan untuk Peminat Bisnis Yoga

Prinsip ‘go with the flow’ seperti yang dianut banyak yogi kadang bisa diterapkan dalam keseharian kita. Dan kadang juga tidak. Kapan ia tidak bisa diterapkan? Misalnya dalam membangun bisnis studio yoga. Bila Anda ingin membangun sebuah bisnis studio yoga yang sukses, Anda tentu bisa melakukannya dengan setengah-setengah. Tetapi konsekuensinya adalah Anda tidak akan bisa memajukan bisnis itu secara maksimal. Dan jika keyakinan Anda demikian, tulisan ini mungkin tidak akan banyak berguna untuk Anda. Namun, bagi Anda yang ingin tahu bagaimana menyusun rencana bisnis atau business plan yang efektif sebagai pijakan awal yang baik untuk menjalankan bisnis studio yoga Anda, silakan terus membaca paparan di bawah ini.

Berikut ini ialah garis besar rencana bisnis yang perlu dimasukkan dalam rencana bisnis Anda apapun bidangnya, yakni:

  1. Executive Summary
  2. Analisis Perusahaan
  3. Analisis Industri
  4. Analisis Pelanggan
  5. Analisis Pesaing
  6. Rencana Pemasaran
  7. Rencana Operasional
  8. Tim Manajemen
  9. Rencana Keuangan
  10. Lampiran

Bagian pertama memuat pembuka. Bagian kedua berisi latar belakang. Bagian ketiga isinya ialah pasar yang Anda ingin bidik, tren-tren terkini di sana, dan sebagainya. Bagian keempatnya ialah pembahasan mengenai pelanggan secara lebih mendalam.

Keempat ialah telaah persaingan dan para kompetitor di ceruk bisnis yang Anda garap. Di sini Anda juga perlu menyatakan daya saing dan daya pembeda yang Anda miliki dibandingkan para pesaing yang sudah ada. Yang keenam mencakup rencana dan strategi pemasaran. Selanjutnya ialah rincian bagaimana Anda akan menjalankan bisnis Anda. Untuk bagian Tim Manajemen, Anda perlu menyediakan biograf singkat dan riwayat hidup masing-masing anggota tim yang ada.

Sementara itu, untuk rencana keuangan, Anda bisa menuangkan prediksi keuangan bisnis Anda di masa mendatang (2-3 tahun setelah ini) dengan disertai argumentasinya yang kuat. Terakhir ialah lampiran. (*/)

Tortue Yoga Mat: Seawet Kura-kura

Kura-kura dan yoga sekilas memang tidak ada kaitannya. Tetapi kura-kura dianggap sebagai salah satu satwa yang menginspirasi yogi zaman dahulu. Saya selalu teringat dengan analogi yang disampaikan oleh seorang guru yoga mengenai resep usia yang panjang dalam sebuah ceramah singkat. Ia berceloteh demikian kurang lebih:”Anda tahu mengapa anjing dan kura-kura berbeda umurnya?”
Saya yang belum tahu apa-apa cuma termangu menunggu jawabannya. Begitu juga hadirin yang lain.
Guru itu pun menjawab sendiri pertanyaannya, setelah beberapa saat menunggu jawaban. “Lihatlah anjing dan kura-kura saat bernapas.”
Anjing menurutnya bernapas lebih cepat. Itu dapat dilihat dari gerakannya yang trengginas dan agresif. Lidahnya komat-kamit untuk mengeluarkan sebagian panas tubuhnya.
Sementara itu, seekor kura-kura bergerak jauh lebih lamban sebab cangkang keras di badannya tidak memungkinkannya bermanuver selincah anjing. Gerakan yang lamban membuatnya juga bernapas lebih lamban.
Soal usia kedua spesies berbeda ini, anjing terbukti lebih pendek. Saat anjing cuma bisa hidup sekitar 20-an tahun, seekor kura-kura bisa menembus usia seabad. Bila hidup di alam bebas yang tanpa gangguan predator, seekor kura-kura bisa mencapai usia 175 (jenis Galapagos) bahkan 250 tahun (jenis Aldabra).
Terkait dengan yoga terutama olah pernapasan (pranayama), diyakini bahwa semakin rendah frekuensi nafas, semakin panjang umur makhluk hidup. Beberapa contoh pada binatang menunjukkan hal ini. Anjing misalnya, frekuensi nafasnya mendekati 50 kali per menit, dan umurnya hanya sampai sekitar 14 tahun saja. Sedangkan kuda yang frekuensi nafasnya 35 kali per menit, umurnya bisa mencapai 29 sampai 30 tahun. Gajah yang bernafas 20 kali per menit, umurnya bisa mencapai 100 tahun. Sementara seekor kura-kura lebih rendah lagi frekuensi nafasnya, yakni hanya 5 kali dalam semenit; oleh karenanya umurnya hingga 400 tahun.
Karena tertarik dengan filosofi ‘biar lambat asal panjang umur’ ini, saat saya memilih mat yoga baru untuk saya pakai, saya cari juga yang memiliki filosofi tersebut. Selama 7 tahun belakangan, saya tidak pernah secara khusus mengalokasikan dana dan waktu untuk memilih dan memiliki sebuah mat yoga. Mat yoga pertama saya hanyalah selembar banner yang tipis dengan fungsi sekadar untuk membuat tidak kotor saat duduk, berbaring dan tengkurap. Lain dari kebanyakan orang, saya tidak begitu meributkan soal mat di awal saya mulai berlatih. Kemudian mat pertama saya yang memang benar-benar mat ialah sebuah mat PVC pemberian penyelenggara event yoga massal yang lumayan tebal tetapi berpermukaan licin. Meski tangan saya bukan tipe yang mengeluarkan keringat demikian deras saat berlatih, tetap saja terasa kurang nyaman. Tapi saya tetap bersyukur juga dengan mat itu. Buktinya saya tetap menggunakannya hingga suatu saat saya diberi mat baru juga sebagai hadiah oleh beberapa kolega kerja. Mat ini lebih bagus dari yang pertama tapi permukaannya tetap agak licin. Tekstur permukaannya menurut saya terlalu halus hingga kekesatanya kurang memuaskan. Dalam posisi downward facing dog, tangan saya bisa berjalan sendiri ke depan.

13402315_1731860410385475_1059588841_n
(Source: lmgrum)

Setelah sekian lama mendapatkan mat dengan spesifikasi yang kurang pas, hati saya akhirnya tertambat pada Tortue Travel Mat. Logonya sekali lagi menarik karena berbentuk kura-kura, yang memiliki makna khusus dalam dunia yoga sebagaimana saya kemukakan di awal tulisan.
Kelebihan lain yang membuat saya menyukai mat satu ini ialah ketipisan yang pas (3 mm) sehingga mudah dilipat hingga bisa dimasukkan dalam tas punggung saya. Ini sungguh memudahkan karena saya tidak perlu repot membawa tas yoga khusus yang panjang dan merepotkan terutama jika sedang bepergian untuk hadir dalam acara-acara lain selain yoga. Membawa tas khusus mat yoga terasa aneh jika masuk ke kafe, toko, mall apalagi di gedung perkantoran. Saya tidak mau terlalu menarik perhatian orang apalagi sekuriti. Karena jangankan di Indonesia, di Amerika Serikat saja seorang wanita dikeluarkan dari gedung saat Donald Trump berkampanye dulu gara-gara dicurigai membawa peledak (atau bazooka?) yang bisa membahayakan nyawa banyak orang. Padahal yang dibawa itu cuma gulungan mat yoga!
Meski tipis, yoga mat ini tidak serta merta meninggalkan unsur kenyamanan saat berasana. Saya pernah meminjam travel mat brand lain yang dimiliki teman tetapi tipisnya membuat pemakai kesakitan saat harus membiarkan lutut menumpu di lantai. Mat yang terlalu tipis juga cukup riskan jika dipakai di paving yang kurang rata (apalagi saya menyukai beryoga di ruang terbuka) dalam jenis pose-pose inversi karena kepala, leher dan bahu lebih peka dan rawan terhadap tekanan. Travel mat dari Tortue ini sekali lagi mampu melindungi pengguna dari sensasi kurang menyenangkan yang biasa ditemukan saat memakai mat tipe travel.
Tortue jenis ini juga bisa dipakai untuk mereka yang kurang suka mat licin. Permukaan yang bertekstur lebih menonjol membuat risiko terpeleset saat kelas vinyasa atau ashtanga yang intens juga lebih rendah.
Untuk penggunaan perdana, mat ini memang terasa agak licin. Untuk membuatnya lebih kesat, pakailah kain lap basah untuk menyekanya dengan lembut. Setelah lapisan licinnya terangkat, mat akan terasa lebih lengket (sticky).
Karena jenis material mat ini ialah closed cell, akan lebih mudah bagi kita membersihkannya. Tidak perlu dicuci dengan banyak air. Cukup seka dengan kain basah yang bersih kemudian anginkan di tempat teduh jika dirasa sudah kotor. Pemeliharaan mat jenis ini juga lebih mudah karena lebih tahan jamur meski disimpan dalam kondisi lembab. Hal ini berbeda dengan mat berbahan karet alam yang lebih mudah ditumbuhi jamur.
Jika kulit kita rentan pada alergen, mat ini juga lebih disarankan untuk dipilih karena lebih mudah dibersihkan (karena tidak berpori yang membuatnya menjadi tempat alergen seperti debu atau bulu hewan berkumpul dan menempel). Mat berbahan karet alam yang meski harganya lebih mahal – sepanjang pengalaman saya – justru membuat kulit bisa gatal dan ruam-ruam merah.
Menyoal harga, mat satu ini berada di kisaran Rp700.000 yang tergolong terjangkau untuk ukuran travel mat dengan brand dari luar negeri. Sebab mat Tortue ini berasal dari Jerman dan telah mulai diproduksi sejak 1988.
Untuk saya, travel mat ini sudah menjawab kebutuhan saya dalam berlatih yoga. Mudah dibawa ke mana-mana, ringan sehingga tidak begitu membebani area bahu, tetap kesat saat dipakai, mudah dibersihkan selesai beryoga dan mudah-mudahan bisa dipakai selama mungkin seperti kura-kura yang awet hidupnya. Bagaimana dengan Anda? (*)

Yang Terlambat

“Waktu saya tidak banyak,” katanya dalam suatu perjumpaan tahun lalu. “Jadi saya ingin menulis pengalaman ini dalam bentuk buku. Sebelum terlambat…”
.
Ia tahu saya gemar mencatat dengan kalimat berbunga-bunga sehingga saya orang yang ia pertama hubungi untuk membantunya mewujudkan impian itu. Saya menyambut ajakannya. Di balik air mukanya yang selalu ceria tiap bertemu orang, saya tahu ia banyak menderita karena sakitnya yang mematikan itu. Tetapi semangat hidupnya lebih besar dari sakit itu sendiri. Setidaknya hingga saat saya bersua dengannya kala itu. Ia masih bisa bepergian, makan di luar, mengobrol layaknya kita yang sehat.
.
Ia ingin berbagi pengalamannya melalui buku itu, dengan tujuan sederhana:membangkitkan semangat hidup sesama penderita penyakit mematikan tersebut dengan jalan alami yang mencakup juga yoga dan meditasi.
.
Kami pun bercakap-cakap panjang lebar di suatu restoran makanan Sunda di Plaza Blok M. Ia menerangkan perjalanan hidupnya dan saya mencatat lalu bertanya jika hanya sangat perlu untuk rinciannya. Begitu seterusnya.
.
Dalam obrolan kami, ia juga menyampaikan wasiatnya jikalau ia dijemput malaikat maut kapan saja. Ia hanya ingin orang lain mengetahui penderitaannya setelah ia tiada. Jiwanya memang kuat, enggan dikasihani, dan berupaya mandiri selama ia masih bisa.
.
Hari ini saya dengar kabar ia dipanggil pulang ke rahmatullah. Dan sekarang saya hanya bisa memandangi draft buku itu dan rencana wawancara yang belum terlaksana jua. Mangkrak sudah pengerjaan buku itu.
.
Tetapi mungkin saya harus melanjutkannya, entah bagaimanapun juga caranya. Cuma itu cara penghormatan terakhir yang saya bisa lakukan baginya. Sampai berjumpa kembali jika Tuhan menghendaki, batin saya.