Anti-Pandemic Yoga

SEANDAINYA ada yoga semacam itu, yang bisa mengusir pandemi, pasti akan laris kelasnya.

Karena baru-baru saya ditanyai seorang ibu: “Mas, ada yoga buat mengusir long covid nggak?”

Ia mengaku badannya tak seperti dulu lagi. Duh, memang yang dulu kayak gimana sih bu?

Doi sih mengaku badannya sekarang masih sering merasa meriang dan nggak fit.

Saat saya tanya apakah ia mengalami stres dalam bekerja, apakah ia tidur cukup di malam hari, apakah ia makah secara sehat dan seimbang, ia menjawab terbata-bata:

“Uhmm, saya memang lagi banyak kerjaan nih mas. Adaaa ajaa yang kayaknya mesti dikerjain. Nggak bisa nganggur dikit.”

Saya nggak mau buru-buru komentar. Takut jadi menghakimi.

“Memang pandemi bikin kerjaan jadi tambah banyak. Tidur juga jadi nggak nyenyak. Kadang malem-malem terbangun.”

Ya, padahal doi ini katanya sih direktur di organisasinya. Dan selevel direktur ternyata tak kuasa mengendalikan ritme dan kecepatan serta volume pekerjaan. Bukannya salah tapi sampai kapan dia bisa kuat melakoni pola kerja yang tidak berkelanjutan alias sustainable seperti ini? Nunggu sampai sekarat banget?

Lalu soal makanan, ia mengaku: “Iya karena kemarin kena Covid dan anosmia, akhirnya ya udah makan nggak usah bumbu-bumbu gitu, mas.”

Bagus dong lebih sehat, tukas saya mencoba mengangkat sisi cerahnya.

Sialnya tidak demikian tanggapannya.

“Tapi kolesterol saya memang masih tinggi, mas. Sempet 170. Sekarang sih 140,” ia bercerita blak-blakan.

Tapi sampai detik ini belum ada guru yoga hebat yang dengan jumawa menepuk dadanya di hadapan warga dunia untuk berkata: “Inilah yoga penangkal Covid.”

Kalaupun ada ya bakal di-roast habis-habisan sama mereka yang percaya sains dan WHO.

Tapi selama pandemi ini bisa dikatakan yoga di rumah adalah penyelamat kewarasan dan kesehatan fisik, mental dan rohani saya sih. Asli. Nggak bohong. No gimmick.

Kerasa banget kalau biaya yoga teacher training dulu itu menjadi suatu investasi berharga banget. Saya bisa tetap sehat dan waras dan malah masih bisa diberi kesempatan mengajak orang lain sehat dan waras pula. Jadi, combo benefits gitu lah. Nggak bisa henti-hentinya bersyukur. (*/)

Spread Too Thin

I’ve been asked about the podcast I initiated last year when the pandemic started to hit.

I just ditched the idea of podcasting since I’m not a speaker type of content maker.

I’m a texter. I love to text and type.

Speaking is not my domain and comfort area.

I can but I don’t feel extraordinary.

I also contacted a friend this morning to speak more about an opportunity of collaboration to build a blog together with him.

I know a niche that needs this knowledge and experience but I just didn’t have the right tools and partner.

I absolutely feel incapable of running this all alone. It’ll drive me crazy in just several months.

Together, I hope we can build stamina together.

We own the idea together and own the success or failure together.

Sharing risk is so important because my resource is also limited.

Of course I have many ideas to explore and materialize but I just can’t if I do it on my own.

Even if that’s my passion project.

Seberapa Banyak Olahraga yang Diperlukan Agar Tidak Kurang dan Tidak Berlebihan?

Berita kematian mendadak Ashraf Sinclair hari ini mengguncang masyarakat Indonesia. Saya sendiri baru menemukan kabar tersebut di Twitter karena pagi-pagi namanya sudah jadi Trending Topic. Jarang-jarang namanya disebut warganet seintens itu karena setahu saya juga dia selebriti yang berkelakuan baik, tidak pernah mabuk, setia, monogami, apalagi terlibat penyalahgunaan zat-zat psikotropika. Dan terlebih lagi gaya hidupnya juga sehat sekali. Ia suka berolahraga dan sempat saya menyaksikan foto-fotonya memamerkan badan hasil berolahraga keras itu.

Saya telusuri akun Instagram mendiang dan menemukan adanya unggahan saat ia menggunakan mesin yang konon fungsinya setara dengan melakukan puluhan ribu sit-up agar six-pack otot perut lebih terjaga. Lalu, serta merta warganet yang punya banyak waktu berlebih di jempol mereka menyerbu akun klinik kecantikan yang dimaksud dan menghujani dengan komentar pedas. Kasihan. Padahal belum tentu demikian juga penyebabnya.

Sementara itu, teman saya mendapat ‘bocoran’ bahwa mendiang baru saja pulang dari Amerika Serikat dan alih-alih tidur dan istirahat untuk memulihkan kondisi tubuh karena ‘jet-lag’ sebab perbedaan zona waktu, ia malah berolahraga. Entah ini betul atau tidak, silakan jika ada yang bisa mengklarifikasi lebih lanjut.

Saya berhenti di sini untuk mengupas soal kasus Ashraf ini dan beralih ke isu yang lebih krusial dan general bagi kita semua. Sekali lagi orang banyak bertanya:

Lho sudah bergaya hidup sehat, rajin olahraga, jaga makanan tapi kok masih juga kena serangan jantung di usia yang masih terbilang muda lagi!?

Jadi, apakah berolahraga teratur itu baik?

Jadi, apakah olahraga dengan tujuan untuk memburu ‘six-pack’ idaman itu haram?

Jadi, olahraga yang benar itu jumlahnya seberapa dan sesering apa supaya sehat dan panjang umur, bukannya kena serangan jantung atau meninggal mendadak?

Daripada berspekulasi, mari kita telaah beberapa sumber/ literatur yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ternyata olahraga juga bisa ‘membunuh’ kita bila dosisnya berlebihan. Banyak orang menyangka, olahraga lebih sering dan lebih keras pasti juga lebih baik buat kesehatan dalam jangka pendek dan panjang.

Keliru!

Meskipun olahraga teratur memang bagus dan bahkan wajib bagi mereka yang sudah menderita beragam penyakit degeneratif semacam penyakit jantung, diabetes, stroke, tekanan darah tinggi dan sebagainya, ternyata sebagaimana obat, olahraga juga punya ambang batasnya.

The Physical Activity Guidelines for Americans yang dipublikasikan Elsevier di tahun 2014 merekomendasikan orang berolahraga dengan intensitas moderat selama 150 menit per minggu. Jika mau berolahraga intensitas berat, silakan batasi sampai 75 menit saja per minggu.

Dari temuan studi Mayo Clinic Proceedings, dinyatakan bahwa ada bukti konkret bahwa kasus kematian akibat serangan jantung pada mereka yang sudah pernah menderita serangan jantung yang berolahraga sampai berlebihan juga ditemukan di tengah masyarakat. Para ilmuwan meneliti hubungan olahraga dan kematian akibat serangan jantung pada sekitar 2400 penyintas serangan jantung.

Manfaat positif olahraga semacam jalan kaki dan jogging menurut ilmuwan bisa dinikmati jika kita tidak melampaui jarak 30 mil seminggu atau berjalan sepanjang 46 mil per minggu.

Memang mereka tidak serta merta mengatakan kita yang berjalan kaki atau jogging melebihi jumlah itu akan mati cepat tetapi setidaknya membuat kita berpikir: “Apa faedahnya jika saya menghabiskan waktu untuk sesuatu yang bahkan kontraproduktif untuk kesehatan saya? Bukankah saya berolahraga agar sehat dan panjang usia?

Para peneliti memang menggarisbawahi bahwa olahraga intensitas tinggi yang dilakukan para atlet pro misalnya tidak membuat mereka tewas tetapi ingatlah bahwa kebanyakan dari kita tidak memiliki tingkat kebugaran dan ‘kemewahan’ dalam menjaga kesehatan sebagaimana dimiliki para atlet profesional ini. Mereka ini sudah mulai berolahraga dari kecil dan secara konsisten berolahraga dan menjaga pola hidup sehat dengan ketat. Sementara itu, kita yang bukan atlet profesional (cuma aktif di akhir pekan alias ‘weekend warriors‘) mengira bahwa dengan menjalani pola latihan dan makan atlet pro, kita akan bisa sebugar mereka. Padahal di balik itu ada banyak faktor yang bermain.

Para ilmuwan menamakan fenomena yang banyak ditemukan di tengah orang-orang yang berolahraga dengan strategi ‘lebih banyak, lebih baik’ ini sebagai “cardiac overuse injury“.

Jadi, yang terbaik itu yang bagaimana?

Bapak kedokteran modern Hippocrates mengatakan lebih dari 2000 tahun lalu bahwa semua manusia bisa sehat dengan cara yang aman jika mereka bisa mendapatkan asupan dan olahraga yang pas. Tidak terlalu rendah dan tidak juga terlalu berlebihan.

Mungkin kita perlu menjadikan lagu Vetty Vera (penyanyi dangdut era 1990-an) “Sedang-sedang Saja” sebagai semboyan kita dalam berolahraga. (*/)

Yang Terlambat

“Waktu saya tidak banyak,” katanya dalam suatu perjumpaan tahun lalu. “Jadi saya ingin menulis pengalaman ini dalam bentuk buku. Sebelum terlambat…”
.
Ia tahu saya gemar mencatat dengan kalimat berbunga-bunga sehingga saya orang yang ia pertama hubungi untuk membantunya mewujudkan impian itu. Saya menyambut ajakannya. Di balik air mukanya yang selalu ceria tiap bertemu orang, saya tahu ia banyak menderita karena sakitnya yang mematikan itu. Tetapi semangat hidupnya lebih besar dari sakit itu sendiri. Setidaknya hingga saat saya bersua dengannya kala itu. Ia masih bisa bepergian, makan di luar, mengobrol layaknya kita yang sehat.
.
Ia ingin berbagi pengalamannya melalui buku itu, dengan tujuan sederhana:membangkitkan semangat hidup sesama penderita penyakit mematikan tersebut dengan jalan alami yang mencakup juga yoga dan meditasi.
.
Kami pun bercakap-cakap panjang lebar di suatu restoran makanan Sunda di Plaza Blok M. Ia menerangkan perjalanan hidupnya dan saya mencatat lalu bertanya jika hanya sangat perlu untuk rinciannya. Begitu seterusnya.
.
Dalam obrolan kami, ia juga menyampaikan wasiatnya jikalau ia dijemput malaikat maut kapan saja. Ia hanya ingin orang lain mengetahui penderitaannya setelah ia tiada. Jiwanya memang kuat, enggan dikasihani, dan berupaya mandiri selama ia masih bisa.
.
Hari ini saya dengar kabar ia dipanggil pulang ke rahmatullah. Dan sekarang saya hanya bisa memandangi draft buku itu dan rencana wawancara yang belum terlaksana jua. Mangkrak sudah pengerjaan buku itu.
.
Tetapi mungkin saya harus melanjutkannya, entah bagaimanapun juga caranya. Cuma itu cara penghormatan terakhir yang saya bisa lakukan baginya. Sampai berjumpa kembali jika Tuhan menghendaki, batin saya.

Yogi Harus Berani Lawan Gravitasi

17795749_10210578405393721_731692790818310210_n

TUJUH tahun lalu tidak terbersit dalam benak saya untuk mempelajari, menekuni apalagi membagikan nilai dan pelajaran positif yoga ke banyak orang. Saya justru lebih tertarik pada biola. Untuk itu saya rela merogoh kocek untuk melego sebuah biola murah untuk pemula yang saya setiap akhir pekan mainkan di Taman Suropati, Menteng.

Tiga bulan berlalu. Saya terus belajar biola tetapi tak kunjung ada kemajuan berarti pula. Sementara itu, teman-teman selevel saya yang masih duduk di bangku SD sudah melesat. Mereka bermain lebih lincah, terampil, dan memukau.

Mulanya saya tak bergeming. Saya terus berlatih, dengan harapan akan terjadi perubahan suatu hari. Saya akan bisa menggesek lebih piawai, dan bisa menempatkan jari jemari dengan lebih lincah di papan senar yang sempit dan panjang itu.

Saya terus berusaha. Tanpa putus asa.

Hingga suatu pagi, saya datang lebih awal sebelum pelajaran biola saya dimulai. Sembari menunggu, saya kitari taman tersebut. Karena ada sebuah kerumunan yang tidak lazim, saya pun tertarik. Seakan ada daya tarik atau gravitasi yang menghisap saya untuk mendekat dan rekat.

Sekelompok orang sedang berlatih yoga. Jumlah mereka tak banyak. Hanya empat atau lima. Di lain hari kadang hanya dua, yaitu saya dan gurunya.

Saya sendiri merasa hati ini makin lekat dengan yoga sampai satu ketika saya putuskan untuk meninggalkan biola saya di kamar (dan masih menyimpannya di pojok kamar hingga detik ini) dan pergi ke Taman Suropati di Minggu pagi dengan satu niat: berlatih yoga saja. Saya sudah bisa legawa menerima fakta bahwa biola bukan bakat terbaik saya. Yoga terasa lebih masuk akal dan ‘klik’ untuk saya. Saya tidak memakai logika untuk memutuskan hal ini. Cuma mengandalkan naluri.

Saya sadar bahwa yoga bukanlah olahraga (dan olah pikiran dan jiwa juga sebetulnya) yang populer di antara kaum pria. Apalagi di tahun 2010, saat para pelaku yoga pria belum sebanyak sekarang. Yoga masih diasosiasikan sebagai olahraga yang feminin. Para pelakunya kebanyakan ibu-ibu paruh baya yang ingin menyulap badan menjadi langsing; bukan pria-pria yang ingin menyehatkan diri dengan cara lebih alami dan hanya memakai berat tubuh. Dan meskipun masih ada, asumsi  semacam ini makin luntur sekarang.

Keputusan menekuni yoga mirip perjuangan melawan gravitasi yang menarik mayoritas orang untuk berpikir seragam dan penuh prasangka, tanpa mau mencoba sebelum memberi cap, terhadap hal-hal apapun di sekitar kita.

Tiba-tiba saya sadar bahwa untuk menjadi sebuah sumber gravitasi baru, kita perlu pertama-tama memiliki keberanian untuk melawan gravitasi lama yang menjadi status quo.

Dan yoga memberikan saya sebuah celah peluang untuk menilik lebih jauh ke dalam diri saya sehingga saya memahami potensi diri daripada menuruti keinginan yang sering belum sesuai dengan realitas. Sejak itu, saya mendedikasikan diri untuk yoga dan komunitas yang telah membesarkan saya hingga seperti sekarang.

12733599_10206965683397929_2548702930890611255_n.jpg

Soal menentang daya tarik bumi, dalam yoga, saya bisa menemukan filosofinya. Kita bisa jumpai banyak postur yang masuk dalam jenis inversion (posisi badan terbalik). Misalnya pincha mayurasana (pose merak) seperti pose dalam foto di atas. Pose-pose semacam ini konon membuat darah lebih terpacu deras ke otak, sehingga aliran darah otak lebih lancar, daya pikir lebih tajam, lebih bersemangat sebelum memulai aktivitas yang padat. Ditambah dengan kegemaran membaca, yoga seakan menjadi pelengkap yang harmonis untuk memperkaya intelektualitas, daya pikir dan wawasan mengenai berbagai hal dalam kehidupan.

Postur-postur inversion mengajarkan kita keberanian untuk berdiri tegak saat memiliki sebuah opini, pemikiran, pandangan yang dianggap orang-orang di sekitar kita kurang lazim, kurang populer, dan kurang keren tetapi kita yakini sebagai sesuatu yang baik dan positif bagi perkembangan diri kita, untuk kemudian memberikan pengaruh positif itu pada sebanyak mungkin orang di sekitar kita.

14519787_10208858301712204_7095540187430850385_n.jpg

Yoga melalui postur-postur serta filosofi di baliknya juga mengajarkan pada saya bagaimana hal-hal yang tampaknya aneh sebetulnya memiliki manfaat di baliknya. Gerakan-gerakan yang menurut banyak orang lucu, janggal, konyol, atau “kurang kerjaan” karena dianggap di luar kewajaran ternyata menyimpan manfaat kesehatan yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Ambil contoh postur satu kaki di belakang kepala di atas, yang terlepas dari keanehannya, mampu melonggarkan dan meregangkan sendi pinggul yang kaku setelah seharian bekerja, duduk selama minimal 8 jam di kantor. Perlu diketahui bahwa area pinggul menyimpan banyak tekanan dan beban dalam posisi duduk seperti ini. Jadi, bukan hal aneh lagi jika para pekerja kantoran banyak yang berpinggul kaku. Bahkan mereka yang masih muda sekalipun!

Dan setelah saya belajar yoga, saya simpulkan bahwa keanehan dalam diri kita justru bisa menjadi kelebihan yang berperan sebagai gravitasi yang menarik orang-orang dengan visi dan pemikiran yang sama untuk berkumpul dan mengadakan sebuah gerakan sosial yang besar.

15492334_10209604009754439_6707191168054862567_n.jpg

Kini saya masih aktif berkegiatan di Komunitas Yoga Gembira, Taman Suropati, Menteng, yang menjadi tempat saya mengenal yoga pertama kali tujuh tahun lalu. Dan untuk menyebarkan kampanye hidup sehat melalui yoga di ruang terbuka hijau di area perkotaan, saya juga dituntut berperan sebagai penanggung jawab media sosial dalam komunitas. (*)

4 Steps to a Flawlessly Straight Handstand

Handstand needs your best core strength, which not everyone possesses.
Doing a totally straight handstand needs your best core strength, which not everyone possesses. (Photo credit: Wikimedia Commons)

Handstand is considered one of the most challenging yoga asanas taught in every modern, especially urban, yoga class. And we all know some yoga enthusiasts are obsessed with it in various degrees. I’m not kidding, because I’ve met a person who willingly and voluntarily spends several minutes of his time to perfect his handstand. He did it every single day. On and on and on, until he injured himself for a while. Nothing but injury can stop him doing the silly self harming practice further.

So the lesson learned is: I’m not going to injure myself from overly repetitive unmeasured practices without knowing and respecting my limit and without no professional supervision. Never ever.

But I was fortunate enough to attend a handstand-themed class days ago and to witness two acroyoga teachers –Claudine and Honza Lafond of Yoga Beyond – teaching doing handstands safely at Anandamaya Wellness Festival in Jakarta, last Saturday (19/9).

First and foremost, prepare the hand at shoulder width. Extend fully the arms. And jump with all force you’ve got.

First, PRESS. Using momentum from a series of jumps only tires you out. After a few jumps, you’ll find yourself too tired to  continue trying. Instead of doing that, Honza and Claudine gave a number of warmups for the handstand beginners like me. Have someone as your assistant and watch as you make attempts at this. Jump forward with all your core strength and widespread fingers as your solid fondation. Bear in mind your legs are still folded and thighs are held close to the abs (a.k.a tuck your legs). Once you find the balance, stay there and press your palms onto the earth!

Second, HUG THE MIDLINE. Squeeze your entire body towards the midline of body.

Third, GAZE. Look to your thumbs. Look towards the back of your head.

Last of all, BREATHE. That’s how we find the balance, advised Honza.

The “exit strategy” after reaching the final pose is slowly come down by tucking your legs onto the abs and then landing smoothly on the ground on tiptoes (instead of on your soles of feet).

Let’s give it a try…

Tetap Bersemangat Meski Minim Keringat

Dalam beryoga, orang biasanya mandi keringat. Apalagi dalam kasus para pemula, gerakan (yang terlihat) sederhana sudah bisa membuat napas tersengal, peluh bercucuran, otot-otot bergetar tanpa henti dan mulut melontarkan keluhan agar sang guru memberi keringanan. Kaos atau pakaian mungkin sudah tak mampu menyerap keringat. Mesti pakai handuk segera atau terpelanting di mat yang kena keringat. Handuk kecil pun kadang tak cukup. Harus handuk jumbo!

Akan tetapi, sebagian orang yang berbadan ‘kering’ mungkin tidak demikian. Tubuh mereka sukar dipanaskan, mirip mesin diesel. Tetangga di mat sebelah sudah berkali-kali menyeka butir-butir keringat di badan dan wajah, ia hanya sekali menyapu ’embun’ di dahi dan mengibasi punggung yang agak terasa gerah. Cukup itu. Sekali. Tak lagi-lagi.

Itulah yang saya alami.

Saya pernah ‘dituduh’ tidak melakukan pose-pose dan sekuen dengan maksimal alias cuma setengah-setengah dalam sebuah kelas. Padahal sudah sampai ‘jatuh bangun’ juga mengikuti setiap gerakannya. “Makanya kamu tidak berkeringat,” begitu tutur si instruktur.

Ia tidak tahu bahwa bagi saya, mengeluarkan keringat itu diperlukan lebih banyak waktu dan daya upaya.

Keringat yang diperoleh dengan susah payah tadi bisa lenyap begitu saja dari badan saya begitu tiupan angin sejuk mesin pendingin udara menyeruak. Semudah itu. Sesingkat itu. Dalam sekejap, saya tampak seperti orang yang belum mengikuti kelas yoga asana yang intens padahal sebaliknya!

Tubuh yang terlalu ‘kering’ ini memang lebih efisien mengelola energi. Bisa jadi karena cadangan energinya juga terbatas sehingga tak bisa leluasa memboroskannya. Mengangkat dan menggerakkan tubuh dengan indeks massa yang lebih rendah juga mungkin lebih hemat energi. Tujuan tercapai dengan lebih sedikit tenaga bagi para yogi yang bertubuh mungil. Dan sebaliknya bagi mereka yang berbobot di atas rata-rata. Setidaknya demikian logikanya.

[‎tags yoga asana, asana, yoga, yogi, english speaking yoga instructor jakarta, jakarta yoga guru, foto split handstand, handstand, foto handstand, split handstand]

Menuju Ekapada Koundinyasana II Tanpa Cedera

Pose ini terlihat mustahil bagi mereka yang belum pernah mencoba tetapi dengan persiapan yang memadai, hamstring Anda tidak akan terlukai.

Asana di atas bernama Ekapada Koundinyasana II, yang termasuk dalam jenis arm balance (pose yang menggunakan kedua lengan sebagai tumpuan). Kuncinya seperti yang Anda bisa saksikan di ilustrasi ialah kelenturan otot hamstring (yang ada di sekitar belakang paha) terutama kaki yang berada di depan dan tentu fondasi utama: lengan dan bahu (core bagian atas).

Bagi Anda yang tertarik mencoba pose satu ini tetapi merasa gentar, santai saja. Lakukan persiapannya secara bertahap dengan sabar agar cedera bisa terhindar. Kelak jika Anda sudah terbiasa, melakukan tanpa pemanasan yang selama sebelumnya mungkin tidak lagi diperlukan. Tetapi ingat, hanya bagi yang sudah terbiasa.

Apa saja yang harus dilakukan untuk menuju ekapada koundinyasana 2?

Ada yang mengeluh,”Sudah sun salutation berkali-kali sebagai pemanasan, tapi belum bisa juga!” sun salutation bagi saya adalah pemanasan secara umum tetapi kurang spesifik untuk bagian-bagian tertentu. Sun salutation kurang fokus mempersiapkan bagian-bagian yang akan dikerahkan saat melakukan ekapada koundinyasana 2 nanti.

Sebetulnya inti pemanasan menuju ekapada koundinyasana adalah menyiapkan hamstring dan pinggul kita agar lebih terbuka serta memperkuat tumpuan tangan. Pertama-tama, lakukan beberapa set sun salutation sesuai selera. Saat berada dalam posisi anjaneyasana (mirip lunge di posisi rendah – kaki dibentangkan ke depan dan belakang hampir split tetapi kaki depan masih ditekuk 90 derajat), bertahanlah agak lama. Nikmati peregangan di sepanjang kaki dan fleksor pinggul. Anjaneyasana akan membuat kaki belakang Anda di ekapada koundinyasana 2 akan lebih lurus. Lakukan anjaneyasana untuk kedua kaki agar seimbang.

Kemudian pemanasan selanjutnya ialah ardha hanumanasana (versi separuh/ mudah dari split). Dari anjaneyasana, sekarang ganti tekuk kaki belakang dan luruskan kaki depan. Kurang menantang? Silakan luruskan kedua kaki perlahan sambil jaga pinggul agar tetap mengarah ke depan, tidak miring ke samping. Cari titik maksimal rentangan kaki Anda. Masih kaku? Gunakan blok atau alat bantu lain sebagai pegangan di tangan dan membantu naik dan turun saat menuju dan keluar dari hanumanasana atau full split. Jangan buru-buru berhenti, tahan split itu dalam beberapa kali napas dalam dan tenang serta teratur. Boleh menundukkan badan atas ke kaki depan. ‎Jangan lupa ulangi untuk sisi satunya.

Dari hanumanasana, perlahan turunkan kedua telapak tangan ke lantai, angkat kedua kaki dari lantai dan mengalir ke downward-facing dog. Kali ini, coba lakukan three-legged dog, yaitu gerakan downward-facing dog dengan mengangkat salah satu kaki ke atas lalu ke arah samping yang berlawanan (jika kaki kanan yang diangkat artinya kaki dibuka ke samping kiri) dan membuka pinggul ke samping‎ sebisanya. Ingat tujuannya ialah membuka pinggul agar siap nanti.

Untuk kekuatan fondasi, kuatkan kedua lengan dan bahu.‎ Fokuskan pandangan ke satu titik di depan. Agar fondasi terlatih, lakukan banyak-banyak chatturanga dandasana (push-up) dengan posisi yang benar. Kenapa? Karena dalam ekapada koundinyasana 2, posisi lengan mirip dengan chatturanga. Otot core tubuh yang kuat dengan chatturanga akan membuat ekapada koundinyasana 2 Anda akan lebih solid.

Setelah itu, lakukan downward-facing dog dengan menggunakan dua blok sebagai penahan untuk kaki belakang Anda. Lalu lipat satu kaki dan tempatkan lutut tepat di lengan atas bagian belakang (makin dekat ketiak, makin bagus, meski agak sulit bagi yang berperut tidak kecil). Dalam posisi ini, bertahanlah atau jika sudah siap, doronglah tubuh agak ke depan sedikit dan kuatkan tumpuan tangan. Jika sudah merasa kokoh, lepaskan kaki belakang yang masih berada di blok penahan. Dan selanjutnya, cobalah merentangkan kaki depan yang dilipat itu sampai selurus mungkin. Merasakan sakit atau kurang lurus? Tetaplah berlatih dan ulangi lagi pemanasan sebelumnya.

Jangan lupa agar kedua kaki dan badan lebih lurus, bernapas lebih dalam dan aktifkan telapak kaki (tidak hanya lemas begitu saja). Anda bisa mengaktifkan telapak kaki dengan pointing seperti di gambar, atau flointing (telapak kaki seperti memakai sepatu hak tinggi), atau flexing (telapak kaki rata bak menjejak tanah).

Selamat mencoba!

“Let the Beauty of What You Love Be What You Do”

‎Kata Rumi…

‎Cinta kita pada sesuatu sudah sepatutnya direalisasikan dalam tindakan nyata. Bagi yang bekerja dalam bidang yang disukai, kalimat mutiara ini terasa pas. Tetapi bukan berarti tanpa konsekuensi. Keseimbangan hidup acap kali menjadi tumbal.

Bekerja sebagai seorang reporter membuat saya lebih sadar dengan kesehatan. Bukan sekadar gaya hidup sehat yang hanya berlangsung sesaat dan terlupakan begitu saja saat saya merasa sehat, tetapi menjadi sebuah bagian tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari.

Karena banyak padatnya pekerjaan, menyisihkan waktu untuk berolahraga selama 1-2 jam sungguh menyulitkan bagi saya. Saya pun memilih yoga
dengan alasan mudahnya melakukan yoga di mana saja, kapan saja, jika saya ingin dan membutuhkannya. Tanpa alat khusus dan memakan banyak waktu, yoga memudahkan saya mengendalikan stres dan meningkatkan produktivitas dalam bekerja.

Meski bergelut dengan pekerjaan yang akrab dengan tenggat waktu, saya menghindari kebiasaan bekerja dalam waktu yang terlalu panjang. Hal itu saya mulai dengan berdisiplin dengan jam tidur. Saya merasa lebih segar dengan bangun pagi pukul 5-6 dan tidur sekitar pukul 10-11 malam sesuai dengan irama sirkadian tubuh.

Untuk memulai hari, saya memilih untuk bermeditasi singkat dan melakukan latihan asana sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan
waktu. Saya tidak pernah mewajibkan diri untuk latihan secara militan yang memaksakan diri tetapi lebih memberikan kesempatan bagi pikiran
dan tubuh untuk ‘memilih’. Saat agak lelah, saya tentu akan menyesuaikan dengan mengubah latihan yoga saya menjadi lebih singkat,
lebih lembut dan pelan serta menenangkan tubuh dan pikiran. Dan sebaliknya jika sedang ingin membangkitkan semangat dalam menghadapi
hari yang menantang, saya akan lebih memilih berlatih yoga dengan banyak unsur Yang.

Agar bekerja dengan pikiran yang lebih fokus dan tidak terkantuk-kantuk, buah menjadi pilihan makan pagi saya. Dengan mengkonsumsi buah yang manis dan matang tanpa campuran dan tambahan apapun, tubuh menjadi lebih mudah menyerap nutrisi dan membersihkan diri dari toksin-toksin yang dihasilkan dari metabolisme hari sebelumnya.

Saya merasa beruntung mengenal yoga karena yoga bisa diintegrasikan tanpa mengganggu rutinitas. Yoga dapat melebur dengan mudahnya bahkan saat saya harus menyelesaikan tugas yang mendesak. Untuk mengurangi stres dan menggenjot pruktivitas kerja, alih-alih menyalakan rokok atau minum minuman berenergi, minuman ringan, soda atau kopi secara berlebihan, saya bisa mengandalkan yoga. Hanya dengan duduk tegak dan melakukan latihan pranayama (pernapasan) ringan, saya dapat mengajak pikiran dan tubuh fokus pada napas dan diri untuk meningkatkan
konsentrasi bekerja dan setelah pekerjaan tuntas, meditasi dan berlatihan asana yang menenangkan dapat membuat tidur menjadi lebih nyenyak.

Di sela kesibukan, saya pun lebih memilih memperbanyak konsumsi air putih daripada jenis minuman lain. Saat banyak teman kerja yang
menggunakan wadah minuman yang besar agar tidak perlu banyak berjalan hilir mudik mengambil air minum, saya memilih memakai gelas yang lebih
kecil agar bisa berjalan kaki lebih sering. Minum lebih banyak air putih juga membuat saya bangkit dari kursi kerja lebih sering. Inilah yang membuat tubuh tidak kaku. Di saat yang sama, kita terhindar dari dehidrasi yang kerap tidak terasa karena tubuh tidak merasa haus. Ini banyak terjadi pada mereka yang bekerja di ruangan yang memiliki mesin penyejuk (AC).

Untuk membuat saya selalu ingat bangkit dari kursi dan meregangkan tubuh sejenak, saya sering memakai aplikasi timer Pomodoro yang slot
waktu kerja dan istirahatnya bisa disesuaikan dengan selera dan kebutuhan. Saya mengatur agar satu set-nya sepanjang 30 menit, yang terdiri dari waktu kerja sebanyak 25 menit lalu istirahat 5 menit.

Pun di saat makan, meditasi bisa diterapkan. Saya membiasakan untuk menerapkan konsep “mindful eating” dalam menyantap apapun yang terhidang. Caranya dengan berdoa lalu mengunyah makanan hingga lebih lembut, tidak dalam kondisi pikiran yang tergesa-gesa, tidak banyak bicara, dan tidak menggunakan gawai (gadget) saat makan. Walaupun makan menjadi lebih lambat, cara ini memudahkan saluran cerna untuk memroses makanan dan menyerap nutrisi di dalamnya. Dengan “mindful eating”, makan berlebihan (overeating) dan makan secara emosional
(emotional eating) juga bisa dihindari karena kita akan lebih dapat menyadari jumlah dan jenis makanan yang kita masukkan dalam tubuh.


Yoga Gembira di @5thiccefe (5th Indonesia Climate Change Education Forum and Expo)

‎Yoga Gembira hadir menyemarakkan 5th Indonesia Climate Change Education Forum and Expo yang digelar hingga esok hari di Balai Sidang Jakarta Convention Center. Agenda besar acara tersebut sendiri sangat sesuai dengan salah satu misi komunitas Yoga Gembira untuk mendekatkan warga urban dengan alam (baca : bumi) dan menjaga kelestariannya, sebagaimana dinyatakan Yudhi Widdyantoro sebagai inisiatornya.

ICCEFE kelima ini memberikan manfaat edukasi yang tinggi mengenai peningkatan kesadaran dan partisipasi semua orang mengenai isu perubahan iklim. Seperti dikatakan Utusan Khusus Presiden tentang Perubahan Iklim Rachmat Witoelar Jumat (15/5/2015) lalu saat meresmikan acara, ini semua akan percuma jika masyarakat di akar rumput tidak melaksanakan. Perubahan iklim dan antisipasinya bukan tugas kelompok elit, pemerintah, atau pembuat keputusan semata tetapi juga kita semua sebagai pelaksana di lapangan.

Bagi Anda yang kebingungan harus ke mana akhir pekan ini, kunjungi saja JCC di Senayan, Jakarta. Besok hari terakhir dan jangan khawatir akan bosan di dalamnya, karena ada banyak booth peserta pameran yang memberikan game menarik dan hadiah, seperti booth pemerintah DKI Jakarta yang membagikan ‎power bank untuk para peserta kuis yang menjawab pertanyaan dengan tepat.

When The Imperfect Desires Perfection

There are times when you are sitting in a yoga class and the guru says repeatedly,”It’s OK not to be perfect.”

I roll my eyes whenever I hear it.

I almost always believe it’s a sheer joke or a remark filled with pretention and hypocricy at its most subtle and ambiguous. Confusion is what such words lead us to.

To err is humane, but to forgive is divine. And most evidently, to err and not to forgive imperfection is very humane. That holds true in this case, when someone with flaws — both major and minor — still sets a very high standard for others.

What is the problem with being imperfect?

That I can’t understand.

So I try to say this to myself and my students,”It’s ok to be imperfect. It is no big deal when you can’t do challenging poses just like Iyengar did. Embrace the flaws. Comprehend them‎. Because who knows your flaws can turn into your forte in some inconceivable way? It may take a simple yet fundamental shift of paradigm or perspective to accept your flaws. As you shall believe who you are includes your flaws.”

I Swear You’ll Sweat

‎No no no. I’m not saying it’s going to be an intimidatingly super hard-core or insanely advanced class requiring you to have a trained contortionist’s ability. I’ll be gentle and kind with myself and whoever cares to be there. It’s in the morning after all.

I’m saying this will make you sweat a lot because of its abundant exposure of sunshine. And for your information, unlike many, I have got a problem with my perspiration system: I don’t sweat quite easily. I have no idea whether it shows my abnormality or metabolism efficiency. And though I finally sweat, it’ll go away. Poof! Just like that.

But anyway, let me know if you have time to just see me there. I’ll totally appreciate your coming.

%d bloggers like this: