Category Archives: yoga

Tortue Yoga Mat: Seawet Kura-kura

Kura-kura dan yoga sekilas memang tidak ada kaitannya. Tetapi kura-kura dianggap sebagai salah satu satwa yang menginspirasi yogi zaman dahulu. Saya selalu teringat dengan analogi yang disampaikan oleh seorang guru yoga mengenai resep usia yang panjang dalam sebuah ceramah singkat. Ia berceloteh demikian kurang lebih:”Anda tahu mengapa anjing dan kura-kura berbeda umurnya?”
Saya yang belum tahu apa-apa cuma termangu menunggu jawabannya. Begitu juga hadirin yang lain.
Guru itu pun menjawab sendiri pertanyaannya, setelah beberapa saat menunggu jawaban. “Lihatlah anjing dan kura-kura saat bernapas.”
Anjing menurutnya bernapas lebih cepat. Itu dapat dilihat dari gerakannya yang trengginas dan agresif. Lidahnya komat-kamit untuk mengeluarkan sebagian panas tubuhnya.
Sementara itu, seekor kura-kura bergerak jauh lebih lamban sebab cangkang keras di badannya tidak memungkinkannya bermanuver selincah anjing. Gerakan yang lamban membuatnya juga bernapas lebih lamban.
Soal usia kedua spesies berbeda ini, anjing terbukti lebih pendek. Saat anjing cuma bisa hidup sekitar 20-an tahun, seekor kura-kura bisa menembus usia seabad. Bila hidup di alam bebas yang tanpa gangguan predator, seekor kura-kura bisa mencapai usia 175 (jenis Galapagos) bahkan 250 tahun (jenis Aldabra).
Terkait dengan yoga terutama olah pernapasan (pranayama), diyakini bahwa semakin rendah frekuensi nafas, semakin panjang umur makhluk hidup. Beberapa contoh pada binatang menunjukkan hal ini. Anjing misalnya, frekuensi nafasnya mendekati 50 kali per menit, dan umurnya hanya sampai sekitar 14 tahun saja. Sedangkan kuda yang frekuensi nafasnya 35 kali per menit, umurnya bisa mencapai 29 sampai 30 tahun. Gajah yang bernafas 20 kali per menit, umurnya bisa mencapai 100 tahun. Sementara seekor kura-kura lebih rendah lagi frekuensi nafasnya, yakni hanya 5 kali dalam semenit; oleh karenanya umurnya hingga 400 tahun.
Karena tertarik dengan filosofi ‘biar lambat asal panjang umur’ ini, saat saya memilih mat yoga baru untuk saya pakai, saya cari juga yang memiliki filosofi tersebut. Selama 7 tahun belakangan, saya tidak pernah secara khusus mengalokasikan dana dan waktu untuk memilih dan memiliki sebuah mat yoga. Mat yoga pertama saya hanyalah selembar banner yang tipis dengan fungsi sekadar untuk membuat tidak kotor saat duduk, berbaring dan tengkurap. Lain dari kebanyakan orang, saya tidak begitu meributkan soal mat di awal saya mulai berlatih. Kemudian mat pertama saya yang memang benar-benar mat ialah sebuah mat PVC pemberian penyelenggara event yoga massal yang lumayan tebal tetapi berpermukaan licin. Meski tangan saya bukan tipe yang mengeluarkan keringat demikian deras saat berlatih, tetap saja terasa kurang nyaman. Tapi saya tetap bersyukur juga dengan mat itu. Buktinya saya tetap menggunakannya hingga suatu saat saya diberi mat baru juga sebagai hadiah oleh beberapa kolega kerja. Mat ini lebih bagus dari yang pertama tapi permukaannya tetap agak licin. Tekstur permukaannya menurut saya terlalu halus hingga kekesatanya kurang memuaskan. Dalam posisi downward facing dog, tangan saya bisa berjalan sendiri ke depan.

13402315_1731860410385475_1059588841_n

(Source: lmgrum)

Setelah sekian lama mendapatkan mat dengan spesifikasi yang kurang pas, hati saya akhirnya tertambat pada Tortue Travel Mat. Logonya sekali lagi menarik karena berbentuk kura-kura, yang memiliki makna khusus dalam dunia yoga sebagaimana saya kemukakan di awal tulisan.
Kelebihan lain yang membuat saya menyukai mat satu ini ialah ketipisan yang pas (3 mm) sehingga mudah dilipat hingga bisa dimasukkan dalam tas punggung saya. Ini sungguh memudahkan karena saya tidak perlu repot membawa tas yoga khusus yang panjang dan merepotkan terutama jika sedang bepergian untuk hadir dalam acara-acara lain selain yoga. Membawa tas khusus mat yoga terasa aneh jika masuk ke kafe, toko, mall apalagi di gedung perkantoran. Saya tidak mau terlalu menarik perhatian orang apalagi sekuriti. Karena jangankan di Indonesia, di Amerika Serikat saja seorang wanita dikeluarkan dari gedung saat Donald Trump berkampanye dulu gara-gara dicurigai membawa peledak (atau bazooka?) yang bisa membahayakan nyawa banyak orang. Padahal yang dibawa itu cuma gulungan mat yoga!
Meski tipis, yoga mat ini tidak serta merta meninggalkan unsur kenyamanan saat berasana. Saya pernah meminjam travel mat brand lain yang dimiliki teman tetapi tipisnya membuat pemakai kesakitan saat harus membiarkan lutut menumpu di lantai. Mat yang terlalu tipis juga cukup riskan jika dipakai di paving yang kurang rata (apalagi saya menyukai beryoga di ruang terbuka) dalam jenis pose-pose inversi karena kepala, leher dan bahu lebih peka dan rawan terhadap tekanan. Travel mat dari Tortue ini sekali lagi mampu melindungi pengguna dari sensasi kurang menyenangkan yang biasa ditemukan saat memakai mat tipe travel.
Tortue jenis ini juga bisa dipakai untuk mereka yang kurang suka mat licin. Permukaan yang bertekstur lebih menonjol membuat risiko terpeleset saat kelas vinyasa atau ashtanga yang intens juga lebih rendah.
Untuk penggunaan perdana, mat ini memang terasa agak licin. Untuk membuatnya lebih kesat, pakailah kain lap basah untuk menyekanya dengan lembut. Setelah lapisan licinnya terangkat, mat akan terasa lebih lengket (sticky).
Karena jenis material mat ini ialah closed cell, akan lebih mudah bagi kita membersihkannya. Tidak perlu dicuci dengan banyak air. Cukup seka dengan kain basah yang bersih kemudian anginkan di tempat teduh jika dirasa sudah kotor. Pemeliharaan mat jenis ini juga lebih mudah karena lebih tahan jamur meski disimpan dalam kondisi lembab. Hal ini berbeda dengan mat berbahan karet alam yang lebih mudah ditumbuhi jamur.
Jika kulit kita rentan pada alergen, mat ini juga lebih disarankan untuk dipilih karena lebih mudah dibersihkan (karena tidak berpori yang membuatnya menjadi tempat alergen seperti debu atau bulu hewan berkumpul dan menempel). Mat berbahan karet alam yang meski harganya lebih mahal – sepanjang pengalaman saya – justru membuat kulit bisa gatal dan ruam-ruam merah.
Menyoal harga, mat satu ini berada di kisaran Rp700.000 yang tergolong terjangkau untuk ukuran travel mat dengan brand dari luar negeri. Sebab mat Tortue ini berasal dari Jerman dan telah mulai diproduksi sejak 1988.
Untuk saya, travel mat ini sudah menjawab kebutuhan saya dalam berlatih yoga. Mudah dibawa ke mana-mana, ringan sehingga tidak begitu membebani area bahu, tetap kesat saat dipakai, mudah dibersihkan selesai beryoga dan mudah-mudahan bisa dipakai selama mungkin seperti kura-kura yang awet hidupnya. Bagaimana dengan Anda? (*)

Leave a comment

Filed under yoga

Yang Terlambat

“Waktu saya tidak banyak,” katanya dalam suatu perjumpaan tahun lalu. “Jadi saya ingin menulis pengalaman ini dalam bentuk buku. Sebelum terlambat…”
.
Ia tahu saya gemar mencatat dengan kalimat berbunga-bunga sehingga saya orang yang ia pertama hubungi untuk membantunya mewujudkan impian itu. Saya menyambut ajakannya. Di balik air mukanya yang selalu ceria tiap bertemu orang, saya tahu ia banyak menderita karena sakitnya yang mematikan itu. Tetapi semangat hidupnya lebih besar dari sakit itu sendiri. Setidaknya hingga saat saya bersua dengannya kala itu. Ia masih bisa bepergian, makan di luar, mengobrol layaknya kita yang sehat.
.
Ia ingin berbagi pengalamannya melalui buku itu, dengan tujuan sederhana:membangkitkan semangat hidup sesama penderita penyakit mematikan tersebut dengan jalan alami yang mencakup juga yoga dan meditasi.
.
Kami pun bercakap-cakap panjang lebar di suatu restoran makanan Sunda di Plaza Blok M. Ia menerangkan perjalanan hidupnya dan saya mencatat lalu bertanya jika hanya sangat perlu untuk rinciannya. Begitu seterusnya.
.
Dalam obrolan kami, ia juga menyampaikan wasiatnya jikalau ia dijemput malaikat maut kapan saja. Ia hanya ingin orang lain mengetahui penderitaannya setelah ia tiada. Jiwanya memang kuat, enggan dikasihani, dan berupaya mandiri selama ia masih bisa.
.
Hari ini saya dengar kabar ia dipanggil pulang ke rahmatullah. Dan sekarang saya hanya bisa memandangi draft buku itu dan rencana wawancara yang belum terlaksana jua. Mangkrak sudah pengerjaan buku itu.
.
Tetapi mungkin saya harus melanjutkannya, entah bagaimanapun juga caranya. Cuma itu cara penghormatan terakhir yang saya bisa lakukan baginya. Sampai berjumpa kembali jika Tuhan menghendaki, batin saya.

Leave a comment

Filed under writing, yoga

Yogi Harus Berani Lawan Gravitasi

17795749_10210578405393721_731692790818310210_n

TUJUH tahun lalu tidak terbersit dalam benak saya untuk mempelajari, menekuni apalagi membagikan nilai dan pelajaran positif yoga ke banyak orang. Saya justru lebih tertarik pada biola. Untuk itu saya rela merogoh kocek untuk melego sebuah biola murah untuk pemula yang saya setiap akhir pekan mainkan di Taman Suropati, Menteng.

Tiga bulan berlalu. Saya terus belajar biola tetapi tak kunjung ada kemajuan berarti pula. Sementara itu, teman-teman selevel saya yang masih duduk di bangku SD sudah melesat. Mereka bermain lebih lincah, terampil, dan memukau.

Mulanya saya tak bergeming. Saya terus berlatih, dengan harapan akan terjadi perubahan suatu hari. Saya akan bisa menggesek lebih piawai, dan bisa menempatkan jari jemari dengan lebih lincah di papan senar yang sempit dan panjang itu.

Saya terus berusaha. Tanpa putus asa.

Hingga suatu pagi, saya datang lebih awal sebelum pelajaran biola saya dimulai. Sembari menunggu, saya kitari taman tersebut. Karena ada sebuah kerumunan yang tidak lazim, saya pun tertarik. Seakan ada daya tarik atau gravitasi yang menghisap saya untuk mendekat dan rekat.

Sekelompok orang sedang berlatih yoga. Jumlah mereka tak banyak. Hanya empat atau lima. Di lain hari kadang hanya dua, yaitu saya dan gurunya.

Saya sendiri merasa hati ini makin lekat dengan yoga sampai satu ketika saya putuskan untuk meninggalkan biola saya di kamar (dan masih menyimpannya di pojok kamar hingga detik ini) dan pergi ke Taman Suropati di Minggu pagi dengan satu niat: berlatih yoga saja. Saya sudah bisa legawa menerima fakta bahwa biola bukan bakat terbaik saya. Yoga terasa lebih masuk akal dan ‘klik’ untuk saya. Saya tidak memakai logika untuk memutuskan hal ini. Cuma mengandalkan naluri.

Saya sadar bahwa yoga bukanlah olahraga (dan olah pikiran dan jiwa juga sebetulnya) yang populer di antara kaum pria. Apalagi di tahun 2010, saat para pelaku yoga pria belum sebanyak sekarang. Yoga masih diasosiasikan sebagai olahraga yang feminin. Para pelakunya kebanyakan ibu-ibu paruh baya yang ingin menyulap badan menjadi langsing; bukan pria-pria yang ingin menyehatkan diri dengan cara lebih alami dan hanya memakai berat tubuh. Dan meskipun masih ada, asumsi  semacam ini makin luntur sekarang.

Keputusan menekuni yoga mirip perjuangan melawan gravitasi yang menarik mayoritas orang untuk berpikir seragam dan penuh prasangka, tanpa mau mencoba sebelum memberi cap, terhadap hal-hal apapun di sekitar kita.

Tiba-tiba saya sadar bahwa untuk menjadi sebuah sumber gravitasi baru, kita perlu pertama-tama memiliki keberanian untuk melawan gravitasi lama yang menjadi status quo.

Dan yoga memberikan saya sebuah celah peluang untuk menilik lebih jauh ke dalam diri saya sehingga saya memahami potensi diri daripada menuruti keinginan yang sering belum sesuai dengan realitas. Sejak itu, saya mendedikasikan diri untuk yoga dan komunitas yang telah membesarkan saya hingga seperti sekarang.

12733599_10206965683397929_2548702930890611255_n.jpg

Soal menentang daya tarik bumi, dalam yoga, saya bisa menemukan filosofinya. Kita bisa jumpai banyak postur yang masuk dalam jenis inversion (posisi badan terbalik). Misalnya pincha mayurasana (pose merak) seperti pose dalam foto di atas. Pose-pose semacam ini konon membuat darah lebih terpacu deras ke otak, sehingga aliran darah otak lebih lancar, daya pikir lebih tajam, lebih bersemangat sebelum memulai aktivitas yang padat. Ditambah dengan kegemaran membaca, yoga seakan menjadi pelengkap yang harmonis untuk memperkaya intelektualitas, daya pikir dan wawasan mengenai berbagai hal dalam kehidupan.

Postur-postur inversion mengajarkan kita keberanian untuk berdiri tegak saat memiliki sebuah opini, pemikiran, pandangan yang dianggap orang-orang di sekitar kita kurang lazim, kurang populer, dan kurang keren tetapi kita yakini sebagai sesuatu yang baik dan positif bagi perkembangan diri kita, untuk kemudian memberikan pengaruh positif itu pada sebanyak mungkin orang di sekitar kita.

14519787_10208858301712204_7095540187430850385_n.jpg

Yoga melalui postur-postur serta filosofi di baliknya juga mengajarkan pada saya bagaimana hal-hal yang tampaknya aneh sebetulnya memiliki manfaat di baliknya. Gerakan-gerakan yang menurut banyak orang lucu, janggal, konyol, atau “kurang kerjaan” karena dianggap di luar kewajaran ternyata menyimpan manfaat kesehatan yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Ambil contoh postur satu kaki di belakang kepala di atas, yang terlepas dari keanehannya, mampu melonggarkan dan meregangkan sendi pinggul yang kaku setelah seharian bekerja, duduk selama minimal 8 jam di kantor. Perlu diketahui bahwa area pinggul menyimpan banyak tekanan dan beban dalam posisi duduk seperti ini. Jadi, bukan hal aneh lagi jika para pekerja kantoran banyak yang berpinggul kaku. Bahkan mereka yang masih muda sekalipun!

Dan setelah saya belajar yoga, saya simpulkan bahwa keanehan dalam diri kita justru bisa menjadi kelebihan yang berperan sebagai gravitasi yang menarik orang-orang dengan visi dan pemikiran yang sama untuk berkumpul dan mengadakan sebuah gerakan sosial yang besar.

15492334_10209604009754439_6707191168054862567_n.jpg

Kini saya masih aktif berkegiatan di Komunitas Yoga Gembira, Taman Suropati, Menteng, yang menjadi tempat saya mengenal yoga pertama kali tujuh tahun lalu. Dan untuk menyebarkan kampanye hidup sehat melalui yoga di ruang terbuka hijau di area perkotaan, saya juga dituntut berperan sebagai penanggung jawab media sosial dalam komunitas. (*)

5 Comments

Filed under health, yoga

Mengenal Patanjali

Nama Patanjali sebenarnya sering kita temukan dalam buku-buku bertema yoga. Namun, sebetulnya tidak ada orang yang mengetahui benar-benar siapa itu Patanjali. Kita bahkan tidak tahu dengan pasti kapan ia lahir dan wafat. Sejumlah praktisi meyakini sang orang bijak ini hidup sekitar abad kedua SM (Sebelum Masehi). Ia menulis beberapa karya penting mengenai Ayurveda (sistem pengobatan India kuno) dan tata bahasa Sansekerta, sehingga tak berlebihan jika kita menyebutnya sebagai sesosok cendekiawan yang membawa Pembaruan (Renaissance) dalam peradaban masa itu.

Namun, berdasarkan analisis-analisis bahasa dan ajaran sutra-sutra (kitab) , para pemikir modern menyepakati bahwa Patanjali hidup di sekitar abad kedua atau ketiga Masehi dan menyatakan tulisan-tulisan mengenai pengobatan dan tata bahasa tersebut ditulis oleh “Patanjali” yang lain.

Seperti banyak kisah mengenai pahlawan spiritual dunia lainnya, kisah kelahiran Patanjali yang kita kenal dalam dunia yoga ini memiliki kandungan dimensi mitis (berciri mitos/ kisah fiksi zaman dulu). Stau versi menceritakan bahwa untuk mengajarkan yoga di muka bumi, Patanjali turun dari surga dalam bentuk ular mungil, menjelma sebagai tangan (posisi tangan yang kita kenal sebagai anjali mudhra) dari sang ibunda, Gonika, yang juga seorang yogini hebat. Di dalam versi ini, ia dianggap sebagai inkarnasi raja ular yang berkepala seribu bernama Shesha (Prima) atau Ananta (Tak Berujung), yang tubuhnya dikatakan menjadi singgasana Wisnu.

Jati diri asli Patanjali tampaknya memang dengan sengaja dikaburkan karena di masa lampau anonimitas sudah mendarah daging dalam diri orang-orang bijak India Kuno. Mereka mengakui bahwa pengetahuan dan pengalaman mereka adalah akumulasi hasil upaya kelompok yang sudah ada sejak banyak generasi terdahulu. Mereka menolak untuk mengakui hasil kerja itu sendiri dan lebih memilih untuk memberikan penghormatan pada guru-guru generasi sebelumnya. Anonimitas ini berbeda dari masa kini saat banyak guru yoga – entah sengaja atau tidak, mau atau terpaksa – menonjolkan diri, metode yoga dan sekolah mereka.

Leave a comment

Filed under yoga