Yang Terlambat

“Waktu saya tidak banyak,” katanya dalam suatu perjumpaan tahun lalu. “Jadi saya ingin menulis pengalaman ini dalam bentuk buku. Sebelum terlambat…”
.
Ia tahu saya gemar mencatat dengan kalimat berbunga-bunga sehingga saya orang yang ia pertama hubungi untuk membantunya mewujudkan impian itu. Saya menyambut ajakannya. Di balik air mukanya yang selalu ceria tiap bertemu orang, saya tahu ia banyak menderita karena sakitnya yang mematikan itu. Tetapi semangat hidupnya lebih besar dari sakit itu sendiri. Setidaknya hingga saat saya bersua dengannya kala itu. Ia masih bisa bepergian, makan di luar, mengobrol layaknya kita yang sehat.
.
Ia ingin berbagi pengalamannya melalui buku itu, dengan tujuan sederhana:membangkitkan semangat hidup sesama penderita penyakit mematikan tersebut dengan jalan alami yang mencakup juga yoga dan meditasi.
.
Kami pun bercakap-cakap panjang lebar di suatu restoran makanan Sunda di Plaza Blok M. Ia menerangkan perjalanan hidupnya dan saya mencatat lalu bertanya jika hanya sangat perlu untuk rinciannya. Begitu seterusnya.
.
Dalam obrolan kami, ia juga menyampaikan wasiatnya jikalau ia dijemput malaikat maut kapan saja. Ia hanya ingin orang lain mengetahui penderitaannya setelah ia tiada. Jiwanya memang kuat, enggan dikasihani, dan berupaya mandiri selama ia masih bisa.
.
Hari ini saya dengar kabar ia dipanggil pulang ke rahmatullah. Dan sekarang saya hanya bisa memandangi draft buku itu dan rencana wawancara yang belum terlaksana jua. Mangkrak sudah pengerjaan buku itu.
.
Tetapi mungkin saya harus melanjutkannya, entah bagaimanapun juga caranya. Cuma itu cara penghormatan terakhir yang saya bisa lakukan baginya. Sampai berjumpa kembali jika Tuhan menghendaki, batin saya.

Yogi Harus Berani Lawan Gravitasi

17795749_10210578405393721_731692790818310210_n

TUJUH tahun lalu tidak terbersit dalam benak saya untuk mempelajari, menekuni apalagi membagikan nilai dan pelajaran positif yoga ke banyak orang. Saya justru lebih tertarik pada biola. Untuk itu saya rela merogoh kocek untuk melego sebuah biola murah untuk pemula yang saya setiap akhir pekan mainkan di Taman Suropati, Menteng.

Tiga bulan berlalu. Saya terus belajar biola tetapi tak kunjung ada kemajuan berarti pula. Sementara itu, teman-teman selevel saya yang masih duduk di bangku SD sudah melesat. Mereka bermain lebih lincah, terampil, dan memukau.

Mulanya saya tak bergeming. Saya terus berlatih, dengan harapan akan terjadi perubahan suatu hari. Saya akan bisa menggesek lebih piawai, dan bisa menempatkan jari jemari dengan lebih lincah di papan senar yang sempit dan panjang itu.

Saya terus berusaha. Tanpa putus asa.

Hingga suatu pagi, saya datang lebih awal sebelum pelajaran biola saya dimulai. Sembari menunggu, saya kitari taman tersebut. Karena ada sebuah kerumunan yang tidak lazim, saya pun tertarik. Seakan ada daya tarik atau gravitasi yang menghisap saya untuk mendekat dan rekat.

Sekelompok orang sedang berlatih yoga. Jumlah mereka tak banyak. Hanya empat atau lima. Di lain hari kadang hanya dua, yaitu saya dan gurunya.

Saya sendiri merasa hati ini makin lekat dengan yoga sampai satu ketika saya putuskan untuk meninggalkan biola saya di kamar (dan masih menyimpannya di pojok kamar hingga detik ini) dan pergi ke Taman Suropati di Minggu pagi dengan satu niat: berlatih yoga saja. Saya sudah bisa legawa menerima fakta bahwa biola bukan bakat terbaik saya. Yoga terasa lebih masuk akal dan ‘klik’ untuk saya. Saya tidak memakai logika untuk memutuskan hal ini. Cuma mengandalkan naluri.

Saya sadar bahwa yoga bukanlah olahraga (dan olah pikiran dan jiwa juga sebetulnya) yang populer di antara kaum pria. Apalagi di tahun 2010, saat para pelaku yoga pria belum sebanyak sekarang. Yoga masih diasosiasikan sebagai olahraga yang feminin. Para pelakunya kebanyakan ibu-ibu paruh baya yang ingin menyulap badan menjadi langsing; bukan pria-pria yang ingin menyehatkan diri dengan cara lebih alami dan hanya memakai berat tubuh. Dan meskipun masih ada, asumsi  semacam ini makin luntur sekarang.

Keputusan menekuni yoga mirip perjuangan melawan gravitasi yang menarik mayoritas orang untuk berpikir seragam dan penuh prasangka, tanpa mau mencoba sebelum memberi cap, terhadap hal-hal apapun di sekitar kita.

Tiba-tiba saya sadar bahwa untuk menjadi sebuah sumber gravitasi baru, kita perlu pertama-tama memiliki keberanian untuk melawan gravitasi lama yang menjadi status quo.

Dan yoga memberikan saya sebuah celah peluang untuk menilik lebih jauh ke dalam diri saya sehingga saya memahami potensi diri daripada menuruti keinginan yang sering belum sesuai dengan realitas. Sejak itu, saya mendedikasikan diri untuk yoga dan komunitas yang telah membesarkan saya hingga seperti sekarang.

12733599_10206965683397929_2548702930890611255_n.jpg

Soal menentang daya tarik bumi, dalam yoga, saya bisa menemukan filosofinya. Kita bisa jumpai banyak postur yang masuk dalam jenis inversion (posisi badan terbalik). Misalnya pincha mayurasana (pose merak) seperti pose dalam foto di atas. Pose-pose semacam ini konon membuat darah lebih terpacu deras ke otak, sehingga aliran darah otak lebih lancar, daya pikir lebih tajam, lebih bersemangat sebelum memulai aktivitas yang padat. Ditambah dengan kegemaran membaca, yoga seakan menjadi pelengkap yang harmonis untuk memperkaya intelektualitas, daya pikir dan wawasan mengenai berbagai hal dalam kehidupan.

Postur-postur inversion mengajarkan kita keberanian untuk berdiri tegak saat memiliki sebuah opini, pemikiran, pandangan yang dianggap orang-orang di sekitar kita kurang lazim, kurang populer, dan kurang keren tetapi kita yakini sebagai sesuatu yang baik dan positif bagi perkembangan diri kita, untuk kemudian memberikan pengaruh positif itu pada sebanyak mungkin orang di sekitar kita.

14519787_10208858301712204_7095540187430850385_n.jpg

Yoga melalui postur-postur serta filosofi di baliknya juga mengajarkan pada saya bagaimana hal-hal yang tampaknya aneh sebetulnya memiliki manfaat di baliknya. Gerakan-gerakan yang menurut banyak orang lucu, janggal, konyol, atau “kurang kerjaan” karena dianggap di luar kewajaran ternyata menyimpan manfaat kesehatan yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Ambil contoh postur satu kaki di belakang kepala di atas, yang terlepas dari keanehannya, mampu melonggarkan dan meregangkan sendi pinggul yang kaku setelah seharian bekerja, duduk selama minimal 8 jam di kantor. Perlu diketahui bahwa area pinggul menyimpan banyak tekanan dan beban dalam posisi duduk seperti ini. Jadi, bukan hal aneh lagi jika para pekerja kantoran banyak yang berpinggul kaku. Bahkan mereka yang masih muda sekalipun!

Dan setelah saya belajar yoga, saya simpulkan bahwa keanehan dalam diri kita justru bisa menjadi kelebihan yang berperan sebagai gravitasi yang menarik orang-orang dengan visi dan pemikiran yang sama untuk berkumpul dan mengadakan sebuah gerakan sosial yang besar.

15492334_10209604009754439_6707191168054862567_n.jpg

Kini saya masih aktif berkegiatan di Komunitas Yoga Gembira, Taman Suropati, Menteng, yang menjadi tempat saya mengenal yoga pertama kali tujuh tahun lalu. Dan untuk menyebarkan kampanye hidup sehat melalui yoga di ruang terbuka hijau di area perkotaan, saya juga dituntut berperan sebagai penanggung jawab media sosial dalam komunitas. (*)

Mengenal Patanjali

Nama Patanjali sebenarnya sering kita temukan dalam buku-buku bertema yoga. Namun, sebetulnya tidak ada orang yang mengetahui benar-benar siapa itu Patanjali. Kita bahkan tidak tahu dengan pasti kapan ia lahir dan wafat. Sejumlah praktisi meyakini sang orang bijak ini hidup sekitar abad kedua SM (Sebelum Masehi). Ia menulis beberapa karya penting mengenai Ayurveda (sistem pengobatan India kuno) dan tata bahasa Sansekerta, sehingga tak berlebihan jika kita menyebutnya sebagai sesosok cendekiawan yang membawa Pembaruan (Renaissance) dalam peradaban masa itu.

Namun, berdasarkan analisis-analisis bahasa dan ajaran sutra-sutra (kitab) , para pemikir modern menyepakati bahwa Patanjali hidup di sekitar abad kedua atau ketiga Masehi dan menyatakan tulisan-tulisan mengenai pengobatan dan tata bahasa tersebut ditulis oleh “Patanjali” yang lain.

Seperti banyak kisah mengenai pahlawan spiritual dunia lainnya, kisah kelahiran Patanjali yang kita kenal dalam dunia yoga ini memiliki kandungan dimensi mitis (berciri mitos/ kisah fiksi zaman dulu). Stau versi menceritakan bahwa untuk mengajarkan yoga di muka bumi, Patanjali turun dari surga dalam bentuk ular mungil, menjelma sebagai tangan (posisi tangan yang kita kenal sebagai anjali mudhra) dari sang ibunda, Gonika, yang juga seorang yogini hebat. Di dalam versi ini, ia dianggap sebagai inkarnasi raja ular yang berkepala seribu bernama Shesha (Prima) atau Ananta (Tak Berujung), yang tubuhnya dikatakan menjadi singgasana Wisnu.

Jati diri asli Patanjali tampaknya memang dengan sengaja dikaburkan karena di masa lampau anonimitas sudah mendarah daging dalam diri orang-orang bijak India Kuno. Mereka mengakui bahwa pengetahuan dan pengalaman mereka adalah akumulasi hasil upaya kelompok yang sudah ada sejak banyak generasi terdahulu. Mereka menolak untuk mengakui hasil kerja itu sendiri dan lebih memilih untuk memberikan penghormatan pada guru-guru generasi sebelumnya. Anonimitas ini berbeda dari masa kini saat banyak guru yoga – entah sengaja atau tidak, mau atau terpaksa – menonjolkan diri, metode yoga dan sekolah mereka.

Mengapa Yoga Olahraga Ideal untuk Penulis

Salah satu olahraga (dan jiwa) yang ideal bagi para penulis ialah yoga. Ambil contoh pengarang termasyhur J. D. Salinger yang pernah melakukan kriya yoga. Salinger konon juga melakukan latihan pernafasan (pranayama) dua menit sehari dan bereksperimen dengan Ayurveda. Salinger mengenal yoga dari ajaran Swami Vivekananda, seorang sosok agamawan dan pemikir ulung dari Kalkutta yang mempopulerkan Vedanta dan yoga di Barat di akhir abad ke-19. Menurut Vivekananda, yoga bermakna satu:”Kesadaran akan Tuhan.”

Namun, yoga juga tidak hanya mengenai spiritualisme. Ia juga menyentuh aspek fisik dan keseimbangan jiwa raga agar manusia dapat berkarya dan berkegiatan dengan lebih baik. Mengapa yoga merupakan olahraga ideal untuk penulis? Ada delapan (8) alasan untuk menjelaskan argumen itu. Selamat menyimak!

ATASI SAKIT OTOT. Pose-pose yoga atau asana yoga memiliki dampak positif bagi kesehatan penulis yang sibuk di meja kerjanya. Sebagaimana kita ketahui, duduk berjam-jam membuat metabolisme tubuh berubah, memicu kegemukan, penyakit kardiovaskuler dan kondisi kesehatan menurun. Keluhan-keluhan ringan seperti sakit leher, bahu dan punggung juga bisa diatasi dengan menggunakan asana yoga yang tepat. Pose downward-facing dog, misalnya, bisa meregangkan kembali hamstring yang kaku akibat duduk. Jika dibiarkan, otot yang kaku itu akan memicu gangguan kesehatan yang lebih serius, membuat tubuh lebih kaku dan kurang bugar sehingga produktivitas menurun akibat sakit berkepanjangan.

ATASI SAKIT PUNGGUNG. Melakukan sejumlah asana yoga akan membuat sakit punggung Anda berkurang, bahkan menghilang. Sakit ini bisa meningkat intensitasnya hingga menghalangi proses kreatif menulis Anda.

CEGAH SINDROM META KARPAL. Penulis dirundung kecemasan terkena sindrom meta karpal (carpal tunnel syndrome) yang dipicu oleh aktivitas mengetik selama berjam-jam setiap hari. Studi menunjukkan bahwa mereka yang bekerja dengan mesin kasir, menjahit dengan mesin, menghabiskan waktu lama bekerja dengan mesin di pabrik manufaktur memiliki tingkat kerawanan menderita sindrom ini. Dan gerakan yoga sederhana bisa mengatasi risiko ini.

MENINGKATKAN ENERGI. Saat merasa lelah dan kurang berenergi, penulis bisa menggunakan asana yoga tertentu seperti berdiri dengan kepala di bawah (headstand) untuk meningkatkan energi dan semangat menulis. Konon novelis Dan Brown melakukannya. Sebuah studi tahun 2006 menemukan bahwa mereka yang ikut serta dalam latihan hatha yoga (yoga yang berdasarkan gerakan fisik) selama 6 bulan mengalami peningkatan signifikan dalam vitalitas, energi dan pencegahan kelelahan lebih baik daripada mereka yang hanya berolahraga jalan kaki.

MENJERNIHKAN PIKIRAN. Menurut sebuah studi, yoga juga dapat membantu mendorong pikiran lebih jernih sebelum menulis. Sekelompok orang yang berpartisipasi dalam kelas yoga 60 menit seminggu dilaporkan mengalami perbaikan dalam tingkat kejernihan pikiran, energi dan kepercayaan diri.

MENGENDALIKAN STRES, CEMAS DAN DEPRESI. Stres dalam jumlah moderat diperlukan agar kita bisa menyelesaikan pekerjaan atau tugas. Tetapi begitu kita merasa terlalu tertekan dan stres mengendalikan kita, saat itulah stres bisa membahayakan kesehatan jiwa raga. Kita semua bisa mengendalikan (bukan menghilangkan sama sekali, karena itu tidak mungkin) dalam kehidupan kita. Bagi banyak penulis, yoga bisa melakukan hal ini dengan efektif. Dalam sebuah studi tahun 2011, peneliti menyimpulkan bahwa latihan yoga rutin mampu mengurangi kecemasan, stres dan depresi serta meningkatkan kualitas hidup seseorang dalam jangka panjang. Sebuah studi lain menemukan bahwa para perempuan yang menderita tekanan mental yang mengikuti kelas yoga selama 3 bulan mengalami penurunan tingkat stres dan depresi dan peningkatan kesehatan jiwa raga. Disimpulkan juga dalam penelitian lain bahwa yoga dapat membantu mengatasi depresi, sehingga jika Anda merasa sedih setelah mengalami kejadian yang kurang menyenangkan dalam hidup, lakukan beberapa asana yoga, ambil napas lebih dalam dan amatilah jika Anda merasakan pikiran Anda menjadi lebih jernih dan rileks.

MELEJITKAN KREATIVITAS DAN MENYINGKIRKAN HAMBATAN MENULIS. Writer’s block, begitu istilahnya, kerap dikambinghitamkan jika penulis tidak mampu menyelesaikan karya sesuai jadwal yang disepakati. Jika dilakukan dengan benar dan aman serta di bawah pengawasan pihak yang berpengalaman, latihan yoga akan memberikan efek meditatif yang pada gilirannya melejitkan energi kreatif dalam diri penulis yang beryoga. Para peneliti yakin bahwa bila digabungkan dengan pernapasan yang lebih tenang, dalam dan rileks serta gerakan tubuh yang lembut, yoga dapat membuat ide-ide kreatif itu membuncah kembali. Yoga dan meditasi memberikan akses pada kita ke dalam relung-relung di dalam jiwa dan kesadaran yang memicu kemunculan ide kreatif. Sejumlah studi membuktikan bahwa para praktisi yoga dan pelaku meditasi memiliki kemampuan untuk memperlambat gelombang otak mereka dalam hitungan menit (mencapai tingkatan “alfa” dan bahkan ke pola gelombang “theta” yang berkaitan dengan pemikiran kreatif). Katakan selamat tinggal pada writer’s block!

MENGAJARKAN MANFAAT KONSISTENSI. Konsistensi dalam yoga juga mengajarkan pada kita betapa berharganya konsistensi dalam menulis juga. Keduanya sangat berkaitan. Untuk mendapatkan manfaat dari keduanya, lakukan secara teratur setiap hari. Jadikan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan Anda dan manfaat maksimal dari yoga dan menulis itu akan datang dengan sendirinya.

Delapan alasan tadi mungkin belum mencakup semua manfaat yoga bagi para penulis. Adakah alasan lain mengapa yoga menjadi pilihan olahraga bagi penulis? Bagikan di kotak komentar di bawah tulisan ini.

4 Steps to a Flawlessly Straight Handstand

Handstand needs your best core strength, which not everyone possesses.
Doing a totally straight handstand needs your best core strength, which not everyone possesses. (Photo credit: Wikimedia Commons)

Handstand is considered one of the most challenging yoga asanas taught in every modern, especially urban, yoga class. And we all know some yoga enthusiasts are obsessed with it in various degrees. I’m not kidding, because I’ve met a person who willingly and voluntarily spends several minutes of his time to perfect his handstand. He did it every single day. On and on and on, until he injured himself for a while. Nothing but injury can stop him doing the silly self harming practice further.

So the lesson learned is: I’m not going to injure myself from overly repetitive unmeasured practices without knowing and respecting my limit and without no professional supervision. Never ever.

But I was fortunate enough to attend a handstand-themed class days ago and to witness two acroyoga teachers –Claudine and Honza Lafond of Yoga Beyond – teaching doing handstands safely at Anandamaya Wellness Festival in Jakarta, last Saturday (19/9).

First and foremost, prepare the hand at shoulder width. Extend fully the arms. And jump with all force you’ve got.

First, PRESS. Using momentum from a series of jumps only tires you out. After a few jumps, you’ll find yourself too tired to  continue trying. Instead of doing that, Honza and Claudine gave a number of warmups for the handstand beginners like me. Have someone as your assistant and watch as you make attempts at this. Jump forward with all your core strength and widespread fingers as your solid fondation. Bear in mind your legs are still folded and thighs are held close to the abs (a.k.a tuck your legs). Once you find the balance, stay there and press your palms onto the earth!

Second, HUG THE MIDLINE. Squeeze your entire body towards the midline of body.

Third, GAZE. Look to your thumbs. Look towards the back of your head.

Last of all, BREATHE. That’s how we find the balance, advised Honza.

The “exit strategy” after reaching the final pose is slowly come down by tucking your legs onto the abs and then landing smoothly on the ground on tiptoes (instead of on your soles of feet).

Let’s give it a try…

Tetap Bersemangat Meski Minim Keringat

Dalam beryoga, orang biasanya mandi keringat. Apalagi dalam kasus para pemula, gerakan (yang terlihat) sederhana sudah bisa membuat napas tersengal, peluh bercucuran, otot-otot bergetar tanpa henti dan mulut melontarkan keluhan agar sang guru memberi keringanan. Kaos atau pakaian mungkin sudah tak mampu menyerap keringat. Mesti pakai handuk segera atau terpelanting di mat yang kena keringat. Handuk kecil pun kadang tak cukup. Harus handuk jumbo!

Akan tetapi, sebagian orang yang berbadan ‘kering’ mungkin tidak demikian. Tubuh mereka sukar dipanaskan, mirip mesin diesel. Tetangga di mat sebelah sudah berkali-kali menyeka butir-butir keringat di badan dan wajah, ia hanya sekali menyapu ’embun’ di dahi dan mengibasi punggung yang agak terasa gerah. Cukup itu. Sekali. Tak lagi-lagi.

Itulah yang saya alami.

Saya pernah ‘dituduh’ tidak melakukan pose-pose dan sekuen dengan maksimal alias cuma setengah-setengah dalam sebuah kelas. Padahal sudah sampai ‘jatuh bangun’ juga mengikuti setiap gerakannya. “Makanya kamu tidak berkeringat,” begitu tutur si instruktur.

Ia tidak tahu bahwa bagi saya, mengeluarkan keringat itu diperlukan lebih banyak waktu dan daya upaya.

Keringat yang diperoleh dengan susah payah tadi bisa lenyap begitu saja dari badan saya begitu tiupan angin sejuk mesin pendingin udara menyeruak. Semudah itu. Sesingkat itu. Dalam sekejap, saya tampak seperti orang yang belum mengikuti kelas yoga asana yang intens padahal sebaliknya!

Tubuh yang terlalu ‘kering’ ini memang lebih efisien mengelola energi. Bisa jadi karena cadangan energinya juga terbatas sehingga tak bisa leluasa memboroskannya. Mengangkat dan menggerakkan tubuh dengan indeks massa yang lebih rendah juga mungkin lebih hemat energi. Tujuan tercapai dengan lebih sedikit tenaga bagi para yogi yang bertubuh mungil. Dan sebaliknya bagi mereka yang berbobot di atas rata-rata. Setidaknya demikian logikanya.

[‎tags yoga asana, asana, yoga, yogi, english speaking yoga instructor jakarta, jakarta yoga guru, foto split handstand, handstand, foto handstand, split handstand]

Menuju Ekapada Koundinyasana II Tanpa Cedera

Pose ini terlihat mustahil bagi mereka yang belum pernah mencoba tetapi dengan persiapan yang memadai, hamstring Anda tidak akan terlukai.

Asana di atas bernama Ekapada Koundinyasana II, yang termasuk dalam jenis arm balance (pose yang menggunakan kedua lengan sebagai tumpuan). Kuncinya seperti yang Anda bisa saksikan di ilustrasi ialah kelenturan otot hamstring (yang ada di sekitar belakang paha) terutama kaki yang berada di depan dan tentu fondasi utama: lengan dan bahu (core bagian atas).

Bagi Anda yang tertarik mencoba pose satu ini tetapi merasa gentar, santai saja. Lakukan persiapannya secara bertahap dengan sabar agar cedera bisa terhindar. Kelak jika Anda sudah terbiasa, melakukan tanpa pemanasan yang selama sebelumnya mungkin tidak lagi diperlukan. Tetapi ingat, hanya bagi yang sudah terbiasa.

Apa saja yang harus dilakukan untuk menuju ekapada koundinyasana 2?

Ada yang mengeluh,”Sudah sun salutation berkali-kali sebagai pemanasan, tapi belum bisa juga!” sun salutation bagi saya adalah pemanasan secara umum tetapi kurang spesifik untuk bagian-bagian tertentu. Sun salutation kurang fokus mempersiapkan bagian-bagian yang akan dikerahkan saat melakukan ekapada koundinyasana 2 nanti.

Sebetulnya inti pemanasan menuju ekapada koundinyasana adalah menyiapkan hamstring dan pinggul kita agar lebih terbuka serta memperkuat tumpuan tangan. Pertama-tama, lakukan beberapa set sun salutation sesuai selera. Saat berada dalam posisi anjaneyasana (mirip lunge di posisi rendah – kaki dibentangkan ke depan dan belakang hampir split tetapi kaki depan masih ditekuk 90 derajat), bertahanlah agak lama. Nikmati peregangan di sepanjang kaki dan fleksor pinggul. Anjaneyasana akan membuat kaki belakang Anda di ekapada koundinyasana 2 akan lebih lurus. Lakukan anjaneyasana untuk kedua kaki agar seimbang.

Kemudian pemanasan selanjutnya ialah ardha hanumanasana (versi separuh/ mudah dari split). Dari anjaneyasana, sekarang ganti tekuk kaki belakang dan luruskan kaki depan. Kurang menantang? Silakan luruskan kedua kaki perlahan sambil jaga pinggul agar tetap mengarah ke depan, tidak miring ke samping. Cari titik maksimal rentangan kaki Anda. Masih kaku? Gunakan blok atau alat bantu lain sebagai pegangan di tangan dan membantu naik dan turun saat menuju dan keluar dari hanumanasana atau full split. Jangan buru-buru berhenti, tahan split itu dalam beberapa kali napas dalam dan tenang serta teratur. Boleh menundukkan badan atas ke kaki depan. ‎Jangan lupa ulangi untuk sisi satunya.

Dari hanumanasana, perlahan turunkan kedua telapak tangan ke lantai, angkat kedua kaki dari lantai dan mengalir ke downward-facing dog. Kali ini, coba lakukan three-legged dog, yaitu gerakan downward-facing dog dengan mengangkat salah satu kaki ke atas lalu ke arah samping yang berlawanan (jika kaki kanan yang diangkat artinya kaki dibuka ke samping kiri) dan membuka pinggul ke samping‎ sebisanya. Ingat tujuannya ialah membuka pinggul agar siap nanti.

Untuk kekuatan fondasi, kuatkan kedua lengan dan bahu.‎ Fokuskan pandangan ke satu titik di depan. Agar fondasi terlatih, lakukan banyak-banyak chatturanga dandasana (push-up) dengan posisi yang benar. Kenapa? Karena dalam ekapada koundinyasana 2, posisi lengan mirip dengan chatturanga. Otot core tubuh yang kuat dengan chatturanga akan membuat ekapada koundinyasana 2 Anda akan lebih solid.

Setelah itu, lakukan downward-facing dog dengan menggunakan dua blok sebagai penahan untuk kaki belakang Anda. Lalu lipat satu kaki dan tempatkan lutut tepat di lengan atas bagian belakang (makin dekat ketiak, makin bagus, meski agak sulit bagi yang berperut tidak kecil). Dalam posisi ini, bertahanlah atau jika sudah siap, doronglah tubuh agak ke depan sedikit dan kuatkan tumpuan tangan. Jika sudah merasa kokoh, lepaskan kaki belakang yang masih berada di blok penahan. Dan selanjutnya, cobalah merentangkan kaki depan yang dilipat itu sampai selurus mungkin. Merasakan sakit atau kurang lurus? Tetaplah berlatih dan ulangi lagi pemanasan sebelumnya.

Jangan lupa agar kedua kaki dan badan lebih lurus, bernapas lebih dalam dan aktifkan telapak kaki (tidak hanya lemas begitu saja). Anda bisa mengaktifkan telapak kaki dengan pointing seperti di gambar, atau flointing (telapak kaki seperti memakai sepatu hak tinggi), atau flexing (telapak kaki rata bak menjejak tanah).

Selamat mencoba!