Yang Terlambat

“Waktu saya tidak banyak,” katanya dalam suatu perjumpaan tahun lalu. “Jadi saya ingin menulis pengalaman ini dalam bentuk buku. Sebelum terlambat…”
.
Ia tahu saya gemar mencatat dengan kalimat berbunga-bunga sehingga saya orang yang ia pertama hubungi untuk membantunya mewujudkan impian itu. Saya menyambut ajakannya. Di balik air mukanya yang selalu ceria tiap bertemu orang, saya tahu ia banyak menderita karena sakitnya yang mematikan itu. Tetapi semangat hidupnya lebih besar dari sakit itu sendiri. Setidaknya hingga saat saya bersua dengannya kala itu. Ia masih bisa bepergian, makan di luar, mengobrol layaknya kita yang sehat.
.
Ia ingin berbagi pengalamannya melalui buku itu, dengan tujuan sederhana:membangkitkan semangat hidup sesama penderita penyakit mematikan tersebut dengan jalan alami yang mencakup juga yoga dan meditasi.
.
Kami pun bercakap-cakap panjang lebar di suatu restoran makanan Sunda di Plaza Blok M. Ia menerangkan perjalanan hidupnya dan saya mencatat lalu bertanya jika hanya sangat perlu untuk rinciannya. Begitu seterusnya.
.
Dalam obrolan kami, ia juga menyampaikan wasiatnya jikalau ia dijemput malaikat maut kapan saja. Ia hanya ingin orang lain mengetahui penderitaannya setelah ia tiada. Jiwanya memang kuat, enggan dikasihani, dan berupaya mandiri selama ia masih bisa.
.
Hari ini saya dengar kabar ia dipanggil pulang ke rahmatullah. Dan sekarang saya hanya bisa memandangi draft buku itu dan rencana wawancara yang belum terlaksana jua. Mangkrak sudah pengerjaan buku itu.
.
Tetapi mungkin saya harus melanjutkannya, entah bagaimanapun juga caranya. Cuma itu cara penghormatan terakhir yang saya bisa lakukan baginya. Sampai berjumpa kembali jika Tuhan menghendaki, batin saya.

Leave a comment

Filed under writing, yoga

Yogi Harus Berani Lawan Gravitasi

17795749_10210578405393721_731692790818310210_n

TUJUH tahun lalu tidak terbersit dalam benak saya untuk mempelajari, menekuni apalagi membagikan nilai dan pelajaran positif yoga ke banyak orang. Saya justru lebih tertarik pada biola. Untuk itu saya rela merogoh kocek untuk melego sebuah biola murah untuk pemula yang saya setiap akhir pekan mainkan di Taman Suropati, Menteng.

Tiga bulan berlalu. Saya terus belajar biola tetapi tak kunjung ada kemajuan berarti pula. Sementara itu, teman-teman selevel saya yang masih duduk di bangku SD sudah melesat. Mereka bermain lebih lincah, terampil, dan memukau.

Mulanya saya tak bergeming. Saya terus berlatih, dengan harapan akan terjadi perubahan suatu hari. Saya akan bisa menggesek lebih piawai, dan bisa menempatkan jari jemari dengan lebih lincah di papan senar yang sempit dan panjang itu.

Saya terus berusaha. Tanpa putus asa.

Hingga suatu pagi, saya datang lebih awal sebelum pelajaran biola saya dimulai. Sembari menunggu, saya kitari taman tersebut. Karena ada sebuah kerumunan yang tidak lazim, saya pun tertarik. Seakan ada daya tarik atau gravitasi yang menghisap saya untuk mendekat dan rekat.

Sekelompok orang sedang berlatih yoga. Jumlah mereka tak banyak. Hanya empat atau lima. Di lain hari kadang hanya dua, yaitu saya dan gurunya.

Saya sendiri merasa hati ini makin lekat dengan yoga sampai satu ketika saya putuskan untuk meninggalkan biola saya di kamar (dan masih menyimpannya di pojok kamar hingga detik ini) dan pergi ke Taman Suropati di Minggu pagi dengan satu niat: berlatih yoga saja. Saya sudah bisa legawa menerima fakta bahwa biola bukan bakat terbaik saya. Yoga terasa lebih masuk akal dan ‘klik’ untuk saya. Saya tidak memakai logika untuk memutuskan hal ini. Cuma mengandalkan naluri.

Saya sadar bahwa yoga bukanlah olahraga (dan olah pikiran dan jiwa juga sebetulnya) yang populer di antara kaum pria. Apalagi di tahun 2010, saat para pelaku yoga pria belum sebanyak sekarang. Yoga masih diasosiasikan sebagai olahraga yang feminin. Para pelakunya kebanyakan ibu-ibu paruh baya yang ingin menyulap badan menjadi langsing; bukan pria-pria yang ingin menyehatkan diri dengan cara lebih alami dan hanya memakai berat tubuh. Dan meskipun masih ada, asumsi  semacam ini makin luntur sekarang.

Keputusan menekuni yoga mirip perjuangan melawan gravitasi yang menarik mayoritas orang untuk berpikir seragam dan penuh prasangka, tanpa mau mencoba sebelum memberi cap, terhadap hal-hal apapun di sekitar kita.

Tiba-tiba saya sadar bahwa untuk menjadi sebuah sumber gravitasi baru, kita perlu pertama-tama memiliki keberanian untuk melawan gravitasi lama yang menjadi status quo.

Dan yoga memberikan saya sebuah celah peluang untuk menilik lebih jauh ke dalam diri saya sehingga saya memahami potensi diri daripada menuruti keinginan yang sering belum sesuai dengan realitas. Sejak itu, saya mendedikasikan diri untuk yoga dan komunitas yang telah membesarkan saya hingga seperti sekarang.

12733599_10206965683397929_2548702930890611255_n.jpg

Soal menentang daya tarik bumi, dalam yoga, saya bisa menemukan filosofinya. Kita bisa jumpai banyak postur yang masuk dalam jenis inversion (posisi badan terbalik). Misalnya pincha mayurasana (pose merak) seperti pose dalam foto di atas. Pose-pose semacam ini konon membuat darah lebih terpacu deras ke otak, sehingga aliran darah otak lebih lancar, daya pikir lebih tajam, lebih bersemangat sebelum memulai aktivitas yang padat. Ditambah dengan kegemaran membaca, yoga seakan menjadi pelengkap yang harmonis untuk memperkaya intelektualitas, daya pikir dan wawasan mengenai berbagai hal dalam kehidupan.

Postur-postur inversion mengajarkan kita keberanian untuk berdiri tegak saat memiliki sebuah opini, pemikiran, pandangan yang dianggap orang-orang di sekitar kita kurang lazim, kurang populer, dan kurang keren tetapi kita yakini sebagai sesuatu yang baik dan positif bagi perkembangan diri kita, untuk kemudian memberikan pengaruh positif itu pada sebanyak mungkin orang di sekitar kita.

14519787_10208858301712204_7095540187430850385_n.jpg

Yoga melalui postur-postur serta filosofi di baliknya juga mengajarkan pada saya bagaimana hal-hal yang tampaknya aneh sebetulnya memiliki manfaat di baliknya. Gerakan-gerakan yang menurut banyak orang lucu, janggal, konyol, atau “kurang kerjaan” karena dianggap di luar kewajaran ternyata menyimpan manfaat kesehatan yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Ambil contoh postur satu kaki di belakang kepala di atas, yang terlepas dari keanehannya, mampu melonggarkan dan meregangkan sendi pinggul yang kaku setelah seharian bekerja, duduk selama minimal 8 jam di kantor. Perlu diketahui bahwa area pinggul menyimpan banyak tekanan dan beban dalam posisi duduk seperti ini. Jadi, bukan hal aneh lagi jika para pekerja kantoran banyak yang berpinggul kaku. Bahkan mereka yang masih muda sekalipun!

Dan setelah saya belajar yoga, saya simpulkan bahwa keanehan dalam diri kita justru bisa menjadi kelebihan yang berperan sebagai gravitasi yang menarik orang-orang dengan visi dan pemikiran yang sama untuk berkumpul dan mengadakan sebuah gerakan sosial yang besar.

15492334_10209604009754439_6707191168054862567_n.jpg

Kini saya masih aktif berkegiatan di Komunitas Yoga Gembira, Taman Suropati, Menteng, yang menjadi tempat saya mengenal yoga pertama kali tujuh tahun lalu. Dan untuk menyebarkan kampanye hidup sehat melalui yoga di ruang terbuka hijau di area perkotaan, saya juga dituntut berperan sebagai penanggung jawab media sosial dalam komunitas. (*)

5 Comments

Filed under health, yoga

Puisi Indonesia Kembali Menggeliat

Joko Pinurbo, penyair Indonesia, mengatakan bahwa setelah kematian Chairil Anwar, Indonesia mengalami kelangkaan penyair berkualitas. Namun, nyatanya banyak bermunculan penyair-penyair muda. Dan karya-karya mereka sudah bermunculan dan bisa dinikmati khalayak ramai. Beberapa di antaranya adalah Norman Erikson, Ni Made Purnama Sari dan Cyntha Hariadi yang hari ini tampil sebagai para pemenang Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015.

Menanggapi pernyataan Joko Pinurbo yang dikutip seorang hadirin, Norman berpandangan para penulis dan penyair memiliki tantangannya masing-masing sehingga tidak perlu terlalu terpaku dengan kejayaan penyair dan penulis di masa lalu. Cyntha dan Ni Made Purnama Sari menegaskan penyair muda tak perlu meniru penyair senior yang lebih terkenal.

Ketiganya terpilih dengan proses yang cukup panjang dan melelahkan. Menurut penuturan Mikael Johani, salah satu juri lomba Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015 selain Joko Pinurbo dan Oka Rusmini ini, dari 574 naskah puisi yang masuk, terpilihlah tiga manuskrip yang terbaik dengan alasan bahwa manuskrip ketiga penyair ini:
1. Menawarkan keberagaman dalam tema ,
2. Menunjukkan keunggulan gaya berpuisi, dan
3. Menunjukkan teknik penulisan yang terbaik dari yang terkumpul.

Ditanya apakah ia menulis puisi dengan keinginan agar karyanya abadi, Norman tak mempermasalahkan karena ia menulis untuk masa kini tanpa banyak memusingkan keharusan dikenang banyak orang di era anak cucu. Ni Made juga tidak mempermasalahkan soal itu sebab ia yakin yang perlu menjadi fokusnya berpuisi ialah bagaimana agar puisinya mampu mewakili zamannya sendiri.

Cyntha Hariadi yang menerima kabar gembira kemenangannya pada hari ibu tahun lalu melalui surel itu mengatakan dirinya tidak percaya pada awalnya. “Saya sebenarnya bukan penyair. Tapi peminat saja. Saya bekerja sebagai copywriter iklan,” ujarnya yang merasa bangga bersama dengan dua pemenang lainnya. Buku puisinya yang berjudul “Ibu Mendulang, Anak Berlari” menceritakan bagaimana pengalamannya sebagai ibu yang selalu diagungkan dan disucikan. Namun, ia juga tidak ketinggalan dalam menambahkan aspek-aspek lain dari seorang ibu. Bisa dikatakan buku ini merangkum hubungan ibu dan anak, sebuah urusan domestik yang terkesan ‘remeh temeh’ tetapi sejatinya fondasi bagi semua lini kehidupan umat manusia.

Sementara itu, Norman sendiri tidak begitu yakin tetapi saat itu ia baru percaya jika dipanggil sebagai salah satu jawaranya. Ia baru percaya saat mereka bertiga bertemu. Sebelumnya Norman sudah menerbitkan kumpulan cerpen yang begitu panjang. Menurut Norman yang suka bermain dalam menulis, puisi memaksanya memadatkan dan meringkaskan gagasan dan pesan yang ingin ia sampaikan.Ini berbeda dari proses menulis cerpen. Norman menerbitkan buku kumpulan puisi “Sergius Mencari Bacchus” yang terilhami oleh kisah Sergius dan Bacchus yang merupakan dua prajurit di masa Romawi yang memiliki ‘kedekatan khusus’. Menurutnya inilah kisah bertema LGBT yang tersimpan dalam khasanah literatur sejarah gereja Katholik.

Ni Made Purnamasari memilih menjelaskan makna dalam judul buku puisinya “Kawitan” yang merujuk pada awalan. “Empat puluh dua puisi dalam buku ini merupakan pemaknaan saya atas asal muasal saya tadi,” jelas perempuan bersuara berat itu. Dalam sebuah puisi ia mengangkat tanah kelahirannya Bali dan membuatnya mempertanyakan asal mula. Di bagian kedua ia mengangkat pertanyaan asal mula tetapi mulai meninggalkan batasan etnosentris/ kedaerahan.

Ada yang menggelitik saat Norman ditanya saran apa yang ia sampaikan pada Dewan Kesenian Jakarta. “Jangan korupsi!” Dan kami semua tertawa.

Leave a comment

Filed under writing

Mengenal Patanjali

Nama Patanjali sebenarnya sering kita temukan dalam buku-buku bertema yoga. Namun, sebetulnya tidak ada orang yang mengetahui benar-benar siapa itu Patanjali. Kita bahkan tidak tahu dengan pasti kapan ia lahir dan wafat. Sejumlah praktisi meyakini sang orang bijak ini hidup sekitar abad kedua SM (Sebelum Masehi). Ia menulis beberapa karya penting mengenai Ayurveda (sistem pengobatan India kuno) dan tata bahasa Sansekerta, sehingga tak berlebihan jika kita menyebutnya sebagai sesosok cendekiawan yang membawa Pembaruan (Renaissance) dalam peradaban masa itu.

Namun, berdasarkan analisis-analisis bahasa dan ajaran sutra-sutra (kitab) , para pemikir modern menyepakati bahwa Patanjali hidup di sekitar abad kedua atau ketiga Masehi dan menyatakan tulisan-tulisan mengenai pengobatan dan tata bahasa tersebut ditulis oleh “Patanjali” yang lain.

Seperti banyak kisah mengenai pahlawan spiritual dunia lainnya, kisah kelahiran Patanjali yang kita kenal dalam dunia yoga ini memiliki kandungan dimensi mitis (berciri mitos/ kisah fiksi zaman dulu). Stau versi menceritakan bahwa untuk mengajarkan yoga di muka bumi, Patanjali turun dari surga dalam bentuk ular mungil, menjelma sebagai tangan (posisi tangan yang kita kenal sebagai anjali mudhra) dari sang ibunda, Gonika, yang juga seorang yogini hebat. Di dalam versi ini, ia dianggap sebagai inkarnasi raja ular yang berkepala seribu bernama Shesha (Prima) atau Ananta (Tak Berujung), yang tubuhnya dikatakan menjadi singgasana Wisnu.

Jati diri asli Patanjali tampaknya memang dengan sengaja dikaburkan karena di masa lampau anonimitas sudah mendarah daging dalam diri orang-orang bijak India Kuno. Mereka mengakui bahwa pengetahuan dan pengalaman mereka adalah akumulasi hasil upaya kelompok yang sudah ada sejak banyak generasi terdahulu. Mereka menolak untuk mengakui hasil kerja itu sendiri dan lebih memilih untuk memberikan penghormatan pada guru-guru generasi sebelumnya. Anonimitas ini berbeda dari masa kini saat banyak guru yoga – entah sengaja atau tidak, mau atau terpaksa – menonjolkan diri, metode yoga dan sekolah mereka.

Leave a comment

Filed under yoga