Dari Bincang Batik Sekar Jagad (1)

kurnia effendi
Perbincangan tentang kain batik sekar jagad dengan Kurnia Effendi, Neneng Iskandar dan Sartono di Museum Tekstil, Jakarta Barat Sabtu lalu (20/ 12/ 2014) . (Sumber foto: Kurnia Effendi)

Nama Sri Shinta Sari mungkin bukan nama yang terdengar familiar bagi para pecinta batik nusantara. Namun, begitu disebut nama Neneng Iskandar, mungkin akan ada lebih banyak yang merasa akrab.

Hari itu saya menyaksikan sebuah acara diskusi batik di halaman tengah Museum Tekstil, Jakarta dan di tengah acara, dipanggillah oleh si pembicara sekelompok wanita yang dianggapnya mengenakan busana tradisional khas Indonesia, bukan cuma pakaian yang terinspirasi oleh kebaya. Benar-benar kebaya yang sebenarnya. Neneng adalah salah satunya.

Entah berapa usianya, tetapi mungkin lebih tua dari ibu saya. Kebayanya putih, kain jariknya kecoklatan. Nama jenis kebaya dan batiknya saya juga tak tahu. Maklumlah, saya bukan pemerhati kebaya dan kain. Saya sungguh-sungguh awam tentang dunia batik dan kain meski saya orang Indonesia dan Jawa asli.

Di balik kebaya putihnya yang menawan dan anggun itu, Neneng yang juga bersanggul dan rambut putihnya dibiarkan tak diwarnai itu ternyata menyimpan kejutan. Ia bisa silat. Bukan “silat lidah” seperti sebagian ibu-ibu, tetapi ia memang benar-benar bisa silat, seni bela diri asli tanah air. Dan tak hanya sampai di situ, Neneng juga menjadi pengurus penting di asosiasi pencak silat kita. Sangat di luar dugaan mengingat ia demikian fasih berbicara mengenai kain dan segala seluk beluknya.

Di Galeri Batik dalam kompleks bangunan Museum Tekstil Sabtu itu (20/ 12/ 2014), Neneng melangkah masuk  ke dalam untuk menjadi pembicara dalam acara diskusi lain mengenai batik sekar jagad yang dikoleksi oleh Kurnia Effendi. Saya tak menyangka wanita yang saya saksikan tadi siang di panggung acara di halaman tengah juga ikut menghadirinya.

Saya dan teman saya Edy didaulat menjadi peraga koreografi yoga yang sederhana. Menyebut kami sebagai penari rasanya kurang tepat, menyebut kami yogi juga agak terlalu berlebihan. Pegiat yoga, mungkin lebih pas di telinga tanpa menimbulkan kesan pongah. Kami cukup lama memperagakannya, tanpa henti, terus mengalir hingga lagu latar kami habis diputar.

Sehabis koreografi yoga kami suguhkan, acara diskusi batik sekar jagad pun dihelat. Ruangan depan Galeri Batik memang tak seluas auditorium atau aula. Namun, tak bisa dipungkiri ada antusiasme di dalam diri para hadirin yang menyimak informasi batik dengan tekun dari dua sosok di depan kami ini. Sebagian ada yang benar-benar awam seperti saya, ada juga yang sudah menyatakan ketertarikan untuk mengkoleksi batik tulis dengan lebih serius. Yang lain ada yang sudah bergelut dengan batik sejak kecil dan masih ingin menggiatkan semangat membatik di kalangan orang muda. Ada juga yang datang karena merasa familiar dengan batik, yang dikenakan juga oleh ibunya.

Neneng mengakui dirinya terpukau dengan koreografi yoga yang kami bawakan. Akan tetapi, akan lebih pas rasanya kalau diiringi alunan gamelan, saran Neneng pada kami. Benar juga, pikir saya. Neneng mengatakan gamelan memiliki pesonanya sendiri. Alunan gending Jawa, kata Neneng yang teringat dengan satu penelitian di AS, bisa mengendalikan emosi. Gending, khususnya dari Jawa, memiliki khasiat penyembuhan alami. “Ada alunan-alunan lembut dalam gending Jawa yang memang bisa menyentuh ‘roso’ (rasa, perasaan – pen) dan menenangkan emosi kita,” ujarnya.

Keterlibatannya dalam Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia yang bermarkas di Masjid At-Tiin dekat Taman Mini Indonesia Indah bersama sang suami selama 3 periode hingga tahun 2016 juga didasari oleh ketertarikan Neneng pada hal-hal yang berbau tradisi Indonesia.

“Ternyata batik itu juga ada hubungannya dengan silat karena kalau kita membatik yang betul itu harus ‘jejeg’ (tegak, tegap -pen),” terang Neneng. Membatik itu sebaiknya dilakukan dalam kondisi badan yang tegak. Membatik dalam keadaan badan membungkuk sebenarnya tak disarankan. Mengapa ini penting? Karena semua hasil membatik itu nantinya juga akan terpengaruhi oleh postur tubuh si pembatik.

Neneng telah mulai menekuni batik sejak berdirinya Museum Tekstil di Jl. K. S. Tubun, Jakarta Barat itu. Inisiatif pendirian Museum Tekstil ialah dari gubernur Jakarta yang menjadi role model Ahok, mendiang Ali Sadikin. “Beliau ke Belanda, masuk ke sebuah museum, isinya barang-barang Indonesia khususnya kain-kain kita padahal kita sendiri belum punya. Setelah kembali ke Jakarta, Ali Sadikin mengatakan,’Harus ada museum (kain – pen)!’” Begitulah awal mula Museum Tekstil.

Riwayat Museum Tekstil

Sebelum tahun 1976, bangunan yang sekarang adalah Museum Tekstil itu digunakan sebagai kantor Departemen Sosial RI. Karena bangunannya sudah tua dan cocok sebagai museum, kantor Depsos itu dipindah dan kemudian diisi dengan kain-kain koleksi pribadi sekelompok penggemar batik yang nantinya adalah cikal bakal perkumpulan Wastra Prema. Beberapa di antaranya adalah Aji Damai, Gusti Putri, Herawati Diah, Min Syafi Alim, Tin Sofyan.  Mereka inilah yang mengisi museum tersebut pertama kali. Dari 500-600 kain, jumlah koleksi Museum Tekstil hingga saat ini sudah mencapai 3000-an.

Lebih lanjut Neneng menceritakan bahwa asal mula nama Wastra Prema dipilih ialah karena ide dari ibu Syamsu Rizal, istri salah satu gubernur Jakarta dahulu. “Usulan pertamanya ‘tapih’ dan ‘jarik’, cuma terlalu (bernuansa- pen) Jawa. Diambillah ‘wastra’ yang dalam bahasa Sansekerta artinya kain, ‘prema’ itu pecinta.”

Belajar dari Go Tik Swan

Neneng mencintai batik sebagian juga karena dididik oleh sang ibu untuk mengenakannya dalam berbagai kesempatan. Suatu kali ia pernah menemukan kain batik milik ibunya. Di dalamnya tertera nama seseorang berdarah Tionghoa yang memakai nama Indonesia juga:” Go Tik Swan”. Ibunya kala itu mengatakan Go adalah pembuat batik yang berkualitas.

Ternyata Go Tik Swan bukan cuma pembatik ulung. Ia juga ahli tosan aji (keris), seorang penari Jawa, dan ahli gamelan. Neneng remaja sampai terkagum-kagum padanya.

Setelah menikah tahun 1969, Neneng mulai sering memakai kain batik produk Go. Saat itu ia belum pernah bertemu dengan Go.

Dalam satu kesempatan, ia sempat ditegur oleh istri menteri Chairul Saleh yang juga penggemar batik. Ia yang belum banyak berpengalaman dalam berbusana di acara-acara publik pun kini selalu ingat dengan nasihat: “Dalam berbagai kesempatan, tunjukkan jati diri kamu.” Saat itu Neneng hanya mengenakan long dress bermotif batik dan blus lengan panjang, yang menurutnya sudah bagus. Namun, di mata mereka yang menggemari batik, busananya belum menunjukkan jati diri Indonesia Neneng. “Saya memang sering pakai kain tetapi di acara-acara tertentu, dan saya tidak pakai saat itu karena pikir saya itu acara biasa,” terangnya. Dari sini, pemikirannya mengenai berbusana pun berubah. Tak peduli acaranya, jika memungkinkan, ia memakai kain bahkan dalam kegiatan sehari-hari.

Tahun 1972 menjadi tonggak yang bermakna dalam bagi perjalanan Neneng sebagai pecinta batik. Saat itu, kakak iparnya mengajaknya berdiskusi mengenai bagaimana mengangkat prestasi seseorang yang karyanya sangat adiluhung ke muka publik.

Menurut penuturan Neneng, Go Tik Swan mengaku diamanahi oleh Soekarno pada tahun 1950 untuk membuat batik yang khas Indonesia. Kala itu batik-batik sogan banyak dipakai di Solo dan Yogya, sementara batik-batik berwarna cerah di daerah pesisir. Go memadukan kedua jenis batik itu menjadi sehelai kain batik parang dengan warna-warni berani. Karyanya itu dilegitimasi oleh Bung Karno sebagai batik Indonesia, kata Neneng yang menulis sebuah buku tentang perjalanan hidup Go.

Neneng terkejut saat ia sadar bahwa kain yang dikatakan karya adiluhung itu adalah kain yang dimiliki ibunya juga. “Saya pikir ibu saya keren juga ya, sudah memilih pembatik yang bagus,” kenang perempuan dengan satu anak itu.

Sejak tahun 1972, Neneng berkenalan dengan Go kemudian berinteraksi dengannya. Ia menjadi muridnya selama 35 tahun sampai Go meninggal dunia. “Darinya, saya belajar banyak sekali tentang seni budaya.”

Neneng mengatakan seni batik terkait erat dengan aspek-aspek budaya lainnya. Ia juga terkejut saat Go menyuruhnya belajar seni merias pengantin (maes manten). “Saya bilang,’ Apa hubungannya?’ (Bersambung ke bagian 2)

Mengapa Daerah Casablanca Jakarta Selatan Angker?

Jauh sebelum saya menghuni daerah ini, saya pernah mendengar film yang berjudul “Terowongan Casablanca” di media. Dikatakan film tersebut diangkat dari ‘urban legend’ masyarakat Jakarta. Terowongan itu sendiri benar-benar ada di ruas jalan Prof. Dr. Satrio Jakarta Selatan, yang ternyata sangat dekat dengan daerah saya tinggal saat ini.

Dengan berbekal rasa penasaran, saya melontarkan sejumlah pertanyaan bernada investigasi kepada bapak dan ibu kos. Mereka menjadi sumber yang tepercaya karena sudah sejak saya belum lahir tinggal dan mengais rupiah di daerah Karet Kuningan ini.

Dari penuturan pak kos saya yang sudah melanglang buana di ibukota sejak tahun 1970-an saat posisi gubernur dijabat oleh Ali Sadikin yang legendaris itu, diketahui bahwa dulu ada beberapa sebutan untuk area-area tertentu di Karet Kuningan dekat terowongan Casablanca tersebut. Yang sekarang ini diisi oleh ITC Kuningan dan sekitarnya termasuk Mall Ambassador bernama “Karet Komplek” dan area yang berada jauh dari ruas jalan disebut “Karet Sedikit”, mungkin karena dulu permukiman penduduk masih sangat sedikit, tidak sepadat saat ini. Dan area yang sekarang ditempati apartemen Somerset Grand Citra Mega Kuningan adalah ruas jalan kecil yang bernama “Gang Bernuk”.

Sebelum menjadi seperti sekarang, Karet Kuningan adalah pusat produksi batik yang cukup aktif. Pak kos masih ingat bagaimana ia bekerja setiap hari di pabrik pembuatan batik cap dengan menggunakan trolley dengan muatan 50-60 kodi kain batik cap, lalu mendorongnya dengan seorang teman kerja ke gang Genteng Ijo.

Kemudian saya bertanya pada mereka,”Apakah di sini daerah yang dulunya banyak pekuburan?” Ibu kos yang juga sudah lama tinggal di daerah ini sebelum saya lahir pun mengiyakan. “Termasuk kantor lama saya yang banyak pohonnya itu?”saya bertanya lebih spesifik. Ia mengangguk.

Pantas saja…

Bahkan di dekat tempat kami tinggal pun ada sepetak tanah yang dulunya adalah makam. “Itu rumahnya mbak X (sambil menunjuk ke salah satu rumah tetangga)dulunya juga makam,”katanya. “Makam apa? Makam Belanda, makam China?”cerocos saya, tidak sabar menelisik masa lalu. “Enggak, makam orang biasa aja,”tukasnya. Apa yang ia maksud dengan ‘orang biasa’ saya pun tidak terlalu jelas. Mungkin artinya orang pribumi muslim.

Di area berdirinya ITC Kuningan dan Carrefour saat ini, kata ibu kos, dulu dipenuhi tempat produksi konveksi. Dan saat proses pembangunan pondasi (paku bumi), sejumlah pekerja menjadi korban. Mereka terisap lumpur, menurut ibu kos. “Daerah itu kan dulunya rawa. Mega Kuningan itu semua rawa-rawa dulunya,”tandas bu kos.

Sementara itu, jalan Karet Pedurenan dulu dipenuhi dengan kali dan pabrik-pabrik konveksi yang kemudian digusur, karena dianggap mencemari lingkungan. Apa yang saya anggap sebagai saluran air buatan manusia yang terbentang dari gang Blumbang sampai ke bagian belakang kos saya itu ternyata menurut bu kos adalah kali kecil yang mengalir sampai aliran sungai yang lebih besar dan dalam di dekat Siloam Hospital dan di belakang bangunan Sampoerna Strategic Jakarta.

Hipotesis saya terverifikasi sudah. Setidaknya secara historis. Secara empiris, juga sudah banyak pengalaman misterius di sini. Secara ilmiah? Itu yang belum dan mungkin juga tidak perlu dilakukan karena sia-sia saja.

Makanya hati-hati kalau di sini!

%d bloggers like this: