Au Revoir, Android (On How Uncool Android Has Become)

‎Having an Android handset has never been a disappointment like this. As more and more people have Android phones on earth, one thing you must know is that you should be ready if your handset turns obsoletely unupgradable within 1-2 years of use. Yes, it costs us cheap as hell but if you don’t want to have a pricey smartphone that will end up too soon in a landfill, or even worse, left unused in the drawer though actually still it can function, you’d better find any other alternatives. Such as Apple’s iPhone. Ahem…

I know BlackBerry sucks when it comes to apps, ecosystem, and so on, but admit it, even if you think it sucks a lot, the security is much better. That’s why Obama doesn’t use Android or iPhone. Because the security of BlackBerry is better! How come? Thanks to the much fewer apps it provides on BlackBerry World! A security expert says the more apps a platform has, the higher the security risk means. Within an app, comes also a bunch of security flaws that are maybe exploited by hackers.

Android is way too unsecure for sure. Look at the uncurated, unfiltered Google Play, which is filled with fake applications for anyone to download. As Nathaniel Mott of Pando Daily puts it some days ago, “Android can sometimes seem like a no-win product for Google, especially where security is concerned.” And I can hardly believe how ignorant Google is to the cyber safety of older Android handsets owners. They pretty much don’t care.

Mott says again:

“The company can either assert more control over the platform and risk the alienation of its manufacturing partners, or it can leave things alone and receive criticism when security vulnerabilities aren’t fixed in a timely manner — if they’re ever fixed at all. This problem is highlighted by Google’sinability to fix several security vulnerabilities in the WebView component included with versions of the platform before the release of Android 4.4 “KitKat” in October 2013. As the company’s engineers told the developer of the Metasploit Project after he emailed them about the newly-discovered vulnerabilities: If the affected version [of WebView] is before 4.4, we generally do not develop the patches ourselves, but welcome patches with the report for consideration. Other than notifying OEMs, we will not be able to take action on any report that is affecting versions before 4.4 that are not accompanied with a patch. It’s not that Google doesn’t want to fix the vulnerability — it’s that Android was designed in such a way that it can’t fix the problem itself. Manufacturers have to develop their own fixes, or decide to send Google’s updates to their devices because they’re responsible for the software installed on their smartphones. (Carriers also have some input.) The only problem? Manufacturers often stop sending updates to older devices after a certain period of time because they’re focused on newer products. That has hurt consumers in the past, like when Google revealed thatpeople using older Android devices will remain vulnerable to the infamous Heartbleed bug until manufacturers release a fix. This problem is further exacerbated by the fact that many manufacturers never update older devices to more recent versions of Android. After all, if they can’t be bothered to release security updates, why go through the trouble of working on a much larger Android update? So even though Google is working on this issue, it will be years before consumers benefit. Google is trying to do the right thing, but it made a mistake when it sacrificed control over Android for the sake of market share. Now its customers are paying the price, and because its name is attached to Android despite its lack of say over how manufacturers use the platform, it could face backlash for the perception of it not caring about consumers.‎” (Nathaniel Mott)

I ditched my Samsung Galaxy Nexus 2 months ago. Not that it defuncted or started to fall apart, but I just develop a new interest in iPhone. The Nexus 2 and iPhone 4S don’t differ much but one thing I notice is the fact that you are less likely to find a malware, or crapware on App Store. And I have a BlackBerry for a blogging and writing purpose (this is the thing I am writing this very blog post on). So I don’t quite care about the apps on my BlackBerry Q5. As long as it can work well to blog and draft my news articles on the go, why should I download crappy apps?

iPhone dan Android Memang Canggih tapi BlackBerry Lebih Aman dari Peretasan

Anda boleh saja mencibir para pemilik BlackBerry. Mengatai mereka “goblok”, “kuno”, “ketinggalan zaman”, bahkan “alay” sekalipun. Tetapi jangan salah, keamanan perangkat berpapan ketik fisik itu malah lebih baik daripada iPhone dan ponsel Android yang berlayar sentuh lebar dan lapang yang digilai pengguna ponsel saat ini.

Saya juga seorang pengguna BlackBerry. Saya menggunakan perangkat ini setelah tren itu luntur. Saat tak banyak orang memakainya inilah saya justru menemukan kenyamanan menggunakan BlackBerry. Q5 yang saya gunakan memiliki papan ketik yang lebih nyaman dari ponsel pintar lainnya yang sejenis, LG Pro. Kenyamanan papan ketiknya sungguh-sungguh lebih baik dari brand lainnya.

Menurut laman, bahkan pejabat negara sekelas Barack Obama pun hanya menggunakan perangkat BlackBerry. Ia tak diizinkan memakai iPhone dan Android. Mengapa? Tentunya Anda amat penasaran.

iPhone yang mengunggulkan ekosistem iOS yang mapan dan telah dilengkapi ratusan ribu aplikasi itu ternyata memiliki kelemahan. Apalagi bagi Anda yang mengutamakan keamanan informasi yang peka dan penting dari pihak ketiga yang tidak diinginkan. Dalam laporan Spiegel, dikatakan bahwa makin banyak sebuah sistem operasi memiliki aplikasi, artinya makin banyak pula celah keamanan yang bisa dimanfaatkan peretas (hackers).

Masih mau pakai iPhone dan Android? Ya, masih. Kan saya bukan Obama.

BlackBerry Still Rocks, so Do iPhone and Android

“Still a huge fan of BlackBerry?”‎he mocked me while I had my handset in hand. I was there, eating my meal and guess what, blogging (now you all know why I blog a little bit too frequently). On my BlackBerry, I find it more convenient to type because the keyboard is still cute and wildly functional to me.

It got me thinking:”Why are people so mean to me just because I’m (and will be) using BlackBerry?”‎ I love it for a strong reason: blogging.

At work, I have a bunch of coworkers who are, let me call them this way, Android maniacs. These folks are those typical fandroid who may be willingly married and having an intercourse with their Android handsets if these gadgets were alive.‎ They sneered as I was found to have a BlackBerry handset at work. “Disappointing… Downgrade,”murmured they.

I don’t get the point of this fanaticism.

On another occasion, when I lashed out on Facebook on how my iPhone failed to receive signals several times a day, ‎I was addressed by a distant friend who happened to think I was a hater of Apple products. He himself is a user of iPhone and would love to voluntarily endorse it to anyone he knows about the huge potential of iPhone in improving our lives. I thanked him for the nice words.

Android fans hate BlackBerry, saying it’s obsolete.
Android fans loathe iPhone, arguing it’s overpriced.
iPhone worshippers mock BlackBerry, claiming it has begun to be part of history.
iPhone worshippers dissed Android, accusing Google Play of having too many crappy and spammy apps to lure us.
BlackBerry owners love the joy of typing so hate the sensation of virtual keyboard use but still long for iPhone or Android to enjoy the web surfing.

This has got to cease. Because it’s ridiculously childish.

Buy anything which suits your needs best! Period.

There I said it.

Update Software Biang Konsumerisme?

Apple sial! Hanya dalam waktu 3 tahun, iPhone-nya sudah menjadi barang usang. Bagi Anda yang memiliki iPhone 4, jangan berharap akan ada update iOS 8. Dan bahkan bagi pemilik iPhone 4S, jangan berlega hati dulu! Karena konon meskipun masih memungkinkan untuk mengunduh versi terbaru iOS itu, iPhone Anda akan makin BOROS baterainya dan LAMBAT kinerjanya!!! Bagaimana bisa? Mari salahkan hardwarenya yang kurang mendukung. Lalu solusinya apa? Beli iPhone baru lagi. wtf!!!

Sebetulnya sayang sekali bukan menghambur-hamburkan uang demi membeli perangkat baru yang belum begitu mendesak untuk dimiliki sekaligus membuang perangkat lama yang masih berfungsi baik? Tetapi bagaimana lagi, memang itu yang kerap terjadi di dunia teknologi. Tak ayal sampah makin menggunung saja. Jadi kalau ada anggapan Apple perusahaan yang paling ramah lingkungan, mungkin harus dipertanyakan lagi.

Namun, di balik update software yang membakar semangat konsumerisme itu memang ada sisi positifnya. Keamanan makin yahud. Dengan kemunculan virus Heartbleed yang konon menyebar luas di dunia maya, yang artinya juga bisa menjangkiti perangkat bergerak apapun yang tersambung ke Internet, aspek keamanan berselancar terutama dalam hal transaksi keuangan dan data pribadi semacam surel menjadi melemah. Karenanya, produsen software semacam Apple harus menyempurnakan sistem operasinya lagi agar tidak akan ada lagi insiden memalukan seperti bocornya foto tanpa busana aktris Jennifer Lawrence.

Dunia Android juga setali tiga uang. Saya pernah memiliki Samsung Galaxy Nexus 2 yang diberi gelar sebagai smartphone flagshipnya Google-Samsung. Tahun 2012 Nexus 2 dirilis dan begitu mendapat 2 x update sistem operasi Android secara otomatis via jaringan seluler dalam beberapa bulan berikutnya, tak akan ada lagi update yang bisa dinikmati. Itulah kebijakan Samsung. wtf!!!

Dan kabar buruknya bagi para pengguna smartphone beranggaran cekak (atau yang sengaja membatasi anggaran pembelian perangkat barunya) seperti saya dan mayoritas pengguna ponsel pintar di dunia ini, sisi keamanan harus dikorbankan agar tetap bisa berhemat. Duh!

When An Android User Switched to iPhone

Whenever I show a new, non-Android gadget to coworkers who happen to be avid and loyal Android users, I was terribly judged as a traitor. Seriously, why is it so?

Once I got a BlackBerry, they thought it was a total crap. An utter fad I would at last lament with utmost remorse. I don’t.

As I switch to another mobile phone, I learn new things, and that’s particularly good as it stimulates my brain. Learn to use new stuff and your grey cells keep agile and connected to each other, just a way to stay away from premature dementia.

So I switched to the iPhone, after being an Android user for about 3 years. I was just curious why some Apple fanboys and girls are that fanatic. I wish I could feel the enthusiasm, adopt the fanaticism but alas! I never manage to be a staunch fan of any single thing on earth. Just be modest. Anything, anyone has their own strengths and weaknesses so be cool every time possible. Fanaticism has been proved to have a long dark shameful history, and I’m not going to be part of that.

To be blunt, fanaticism never works on me, whether it be politics, education, religion, or technology. I want to be free. And fanaticism won’t let you as free as a bird. It shackles you. It is the cage that never let’s you fly to roam the vast world.

That said, possibly my next gadget is some cool Windows Phone. But definitely not now, when the variety of apps is less than exciting.

Mengenal Odin Mode di Android

Pagi kemarin tiba-tiba ponsel cerdas saya Nexus 2 menampilkan ikon robot hijau dengan tulisan: “Dowloading. Do not turn off target”

Apa maksudnya ini? Saya teliti lagi semua tulisan itu dan saya temukan tulisan “Odin Mode” yang berukuran halus sekali di pojok layar.

Apa itu Odin Mode?

Odin Mode merupakan software yang digunakan Samsung untuk meng-flash perangkat atau mengunduh ROM dan firmware baru (terlalu rumit mungkin istilahnya buat kalangan awam seperti saya).

Intinya, ia dibuat untuk membantu melakukan flash di ponsel-ponsel pintar keluaran Samsung.

Masalah muncul saat perangkat tidak bisa keluar dari Odin Mode dan tidak bisa dipakai apa-apa. Sangat meresahkan dan mengganggu produktivitas pastinya. Untuk mereka yang pekerjaannya sangat tergantung pada ponsel, sudah pasti gangguan ini membuat jengkel dan geram karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Odin Mode dibuat dengan tujuan menyegarkan kembali perangkat Android itu. Serupa dengan SBF (factory restore) pada perangkat Moto besutan Motorola Mobility. Inilah cara alternatif bagi smartphone untuk kembali ke kondisi awal sebelum diubah-ubah sesuai keinginan pemilik.

Dalam kasus saya, penyebabnya bisa jadi kernel baru, atau aktivasi toggle charging cepat.

Apakah itu artinya ponsel saya rusak?

Tidak. Tenang dulu. Ponsel saya masih bisa dipakai sampai sekarang [update: bahkan masih bisa saya pakai sejak 6 tahun dari tanggal pembelian!]. Normal, berjalan mulus sama seperti sebelumnya.

Berapa lama Odin Mode berlangsung?

Stres memang kalau cuma bisa melihat ponsel kita tidak bisa dipakai. Seharusnya Odin Mode cuma berlangsung sekitar 10-20 menit. Dan kemudian ponsel akan restart. Setelah itu harusnya ponsel bisa dipakai seperti biasa.

Mengapa ini bisa terjadi?

Odin Mode memang dirancang untuk memperkenalkan firmware baru kepada ponsel kita. Jadi seharusnya tidak perlu dihindari karena bakal membuat ‘jeroan’ (software) ponsel makin kuat terhadap bugs dan segala macam gangguan.

Cara Mengatasinya

Saya cukup tekan tombol ON/OFF di samping kanan atas dan ponsel kembali reboot ( restart) dan semuanya kembali. Tak ada yang hilang. Jadi kalau Anda menghadapi masalah yang sama, tenang. Tidak berarti smartphone Android kesayangan sedang “sakit”.

Jika cara saya tadi gagal, coba Anda lepas saja baterai (ini tentu tidak berlaku bagi ponsel dengan baterai terintegrasi dengan bodi) dan mulai hidupkan ulang. Tekan tombol volume saat menghidupkan, demikian saran seseorang di forum

Kalau Anda sudah mencoba tapi masih gagal juga, jangan menangis apalagi membanting ponsel Anda dulu. Kesabaran diperlukan karena ini semua bergantung pada ketepatan waktu untuk menekan tombol power. Ada juga yang menyarankan menekan tiga tombol yang ada di bodi ponsel (mungkin ini tergantung modelnya juga), yakni tombol power (on-off), home, dan volume. Jangan lepas sampai ada animasi Samsung yang muncul di layar ponsel. Alternatif lain, tekan bersamaan semua tombol tadi sampai layar menampilkan menu Recovery.

Bila masih juga masuk ke layar Download, jangan cuma lepas baterai, tapi lepas juga kartu SIM dan kartu memori (SD card atau micro SD card jika ada, jika adanya memori internal seperti ponsel saya berarti tidak usah). Masukkan kembali baterai dan semua kartu tadi ke ponsel dan coba hidupkan lagi sambil membaca doa. Hehe. Tapi serius, kadang berdoa bisa sedikit banyak membantu.

Jika ponsel sudah bisa beroperasi secara normal, biarkan dulu, jangan keburu nafsu diotak-atik. Begitu sudah hidup dan tampil modus siaga atau standby, matikan ponsel dengan sengaja. Copot lagi baterainya dan kartu-kartu di dalamnya, lalu masukkan lagi semua tadi dan barulah hidupkan lagi.

Masih Gagal Juga?

Dari situs, diterangkan bahwa Anda yang sudah mencoba semua cara di atas tapi masih gagal juga mengembalikan ponsel seperti semula, bisa mencoba Odin Flash tool. Hanya saja, buat yang gagap teknologi (gaptek), mesti cari bantuan ke teman yang lebih paham. Atau jika tidak ada, ke pusat servis ponsel terdekat.

Kalau mau coba, cari saja dan unduh “Odin Flash tool” dan firmware yang cocok di komputer Anda. Barulah Anda klik kanan file untuk memilih opsi Run as Administrator. Tekan agak lama tombol Power, Volume Down (volume bagian bawah untuk mengecilkan suara) dan Home untuk menghidupkan perangkat menuju ke  Download Mode dan lepas tombol Power begitu ponsel hidup. Tekan tombol volume bagian atas agar Download Mode bisa tampil. Hubungkan ponsel Samsung Anda ke komputer dengan kabel USB dan software itu akan mendeteksi perangkat secara otomatis. Kemudian sebuah pesan akan mengatakan perangkat telah ditambahkan. Klik “PDA” atau “AP” di jendela Odin untuk menemukan firmware. Akhirnya klik Start untuk memperbaiki masalah ini. Selamat mencoba dan semoga berhasil!


Masih belum bisa juga keluar dari Odin Mode?

Saatnya Anda beralih ke iPhone mungkin yaaa. Karena cuma di iPhone, kita tidak akan menemukan Odin Mode yang menjengkelkan ini! Hahaha. (*/update: 24 Desember 2020)

how to fix samsung phone stuck on odin mode

Trik Blogging via BlackBerry Tanpa Install Aplikasi WordPress

blackberry (Photo credit: arrayexception)

BlackBerry, ponsel ‘relatif pintar’ yang kerap menjadi bulan-bulanan pengguna smartphone lain ternyata bisa membuat blogger jadi lebih produktif. Alasannya tentu adalah tombol qwerty-nya yang masih terlalu nyaman untuk digadaikan dengan layar sentuh.

Jika Anda suka blogging di platform WordPress (baik yang gratis dan praktis atau yang juga gratis tetapi memerlukan lebih banyak pengetahuan teknis saat instalasi dan pemeliharaan) dan memiliki sebuah ponsel BlackBerry, jangan sia-siakan BlackBerry hanya untuk bertukar pesan di BlackBerry Messenger saja. Dan jika Anda termasuk orang yang seperti saya (tidak terlalu suka ribet dengan upgrade sistem operasi BlackBerry yang justru kadang membuatnya bermasalah), tak perlu menginstal aplikasi WordPress di BlackBerry Anda. Setahu saya makin minim aplikasi, makin minim risiko ngadat. Dan saya juga tidak mengupgrade sistem operasi setelah tahu risiko yang harus dibayar jika upgrade tidak berakhir mulus dan berbagai gangguan menjengkelkan lainnya.

Akan tetapi ada satu fitur sederhana yang terlupakan banyak blogger WordPress. Fitur itu adalah “post by email”, yaitu mengunggah tulisan cukup melalui email. Dan karena BlackBerry memiliki email sebagai fungsi dasarnya, tentu kita bisa menggunakannya jika kondisi tidak memungkinkan untuk membuka laptop di tengah jalan atau diburu waktu atau sekadar ingin menulis di blog kesayangan tetapi tak ada koneksi internet yang stabil di musim hujan seperti sekarang.

Your BlackBerry is your savior, bloggers!

Simak saja prosedur berikut untuk mengaktifkan fitur simpel “post by email” ini di akun Anda (jadi ini BUKAN untuk akun blog yang menggunakan software blogging dengan hosting sendiri. Saya belum tahu ada kemiripan atau tidak dengan prosedur aktivasi fitur tersebut di sana).

Langkah 1: login ke dan masuk ke dasbor, temukan tab “Setting” dan klik

Langkah 2: temukan tab “Writing” dan klik

Langkah 3: temukan tab “post by email” dan klik

Langkah 4: akan ditemukan kalimat
“You can publish posts using emails with the post by email feature. To enable this visit your My Blogs page and create a secret address” (Anda bisa mengunggah artikel via email dengan fitur ini. Untuk mengaktifkannya, kunjungi laman web ‘My Blogs’ dan buat alamat email rahasia). Jadi logikanya, kita harus membuat alamat email rahasia yang kita bisa jadikan perantara dan hanya kita yang bisa mengetahuinya agar akses unggahan ke blog kita tidak dimiliki sembarang orang. Alamat email ini dihasilkan secara acak dan agak sukar diprediksi karena memang hakikatnya agar tidak mudah ditemukan orang yang tidak berhak mendapat akses.

Langkah 5: temukan nama blog (jika blog Anda di 1 akun wordpress ada lebih dari satu), dan klik.

Langkah 6: aktifkan fitur “post by email” dengan 1 klik kiri, dan muncul nama email rahasia, catat (saran saya buat entri tersendiri di kontak BlackBerry, misalnya “my blog”). Jika tidak suka dengan alamat email rahasia pemberian WordPress itu, klik “regenerate” sampai menemukan yang lebih cocok.

Langkah 7: cobalah mengetik satu tulisan di email pada BlackBerry, jika ada gambar dan video yang mau ditayangkan bersama tulisan, lampirkan saja seperti attachment file biasa. Tentu harus sadar dengan kemampuan perangkat, artinya jika Blackberry hanya bisa 2G, jangan dipaksa mengunggah video yang ukurannya besar sekali. Alamatkan tulisan ke email rahasia yang sudah dicatat tadi sebagai, misalnya, “my blog” di daftar kontak Anda.

Sebenarnya ada lagi cara untuk mengelompokkan artikel yang diunggah berdasar kategori dan memberikan tags pada artikel, tetapi caranya agak rumit dan tidaklah sekrusial esensi dari tulisan/ konten Anda. Kategori dan tag bisa dilakukan setelah menemukan PC atau laptop atau sambungan Internet yang lebih stabil.

Untuk Anda yang ingin blogging lebih dinamis via BlackBerry, ini adalah salah satu solusi. Selamat mencoba!

This is Not a Treachery!


This just in. I just got myself a BlackBerry fortnight ago. After all these years of strong resistance, I know…
And my coworkers thought that was a mindblowing piece of news. I never thought I would embrace this so-called rotten conventional (RIM networks suck lately here despite huge number of users in the country) thing because mainly I was thought of as a BlackBerry hater.
I do hate BB only if it is used as a tool of sheer pleasure. So I have my own reason for this. Productivity, that is it. Though my Android worshipping coworkers think I am a traitor, I have my own reason, which I am pretty sure they won’t listen.
First of all, the qwerty keyboard is one of the best. It is not like I did not try other products but I did try typing on LG and Samsung qwerty phone but still my BlackBerry Curve works best when it comes to lots of typing job on the go. I tried first hand the Samsung Galaxy Chat but they keypad is not that comfortable to type on. No ample space between the buttons. Such a pain in the *ss! I can type much faster on the BB.
Secondly, I love how it enables me to write anywhere anytime even in a moving train or car. I am now typing on BB and the best thing I can find here is the blogging app: WordPress. One more favorite app is Documents to Go. I don’t have to kill myself while typing on my Samsung Galaxy Nexus’ touch screen. The display is big enough but virtual keyboard is still virtual one. I can type my articles on the BB and easily send them to my email and copy and paste it my laptop to work on later. Isn’t that wonderful?
Thirdly, typing a lengthy email, news articles and/or a long essay would be totally fine on Blackberry. Maybe I can write drafts of books to publish later here. Well, who knows? You will never know what and how and when and where ideas come along. Get ready always to capture them!
I love this useful and awesome handset as a writing tool, not as a social media (BlackBerry Messenger) avid user. So that is really not my priority even.
So why do you have to hate one of the two if you can have the best of two worlds: Android and BlackBerry?I am eclectic and I guess brand fanaticism is groundless.
Next time, Apple product anyone?

Why I will Never Ever Install Facebook and Twitter

Why will I never ever install Facebook and/or Twitter app for Android again on my phone? It is not a trick question. Maybe some already have the answer in their mind but let me tell you this: Never download or by any means install those two Android applications?
I have an Android handset as my everyday sidekick. A full touch screen Samsung Galaxy Nexus. It is not as pricey as HTC-produced ones, I know, or even the later more sophisticated Samsung Galaxy 3 my coworker just bought. But guess what? My Nexus is just affordable and the best thing to buy in terms of both price and functionality aspects.
Having no external data storage, Its memory capacity though is limited to 16 GB. But it turned out to be a few GBs smaller as I learned while using this. I definitely can hold all the data and apps here. No problems at all. If I record or store too much stuff on this phone, I can copy the files and save it on to my laptop. No big deal.
But when it comes to applications, your phone memory capacity needs to be ready for upcoming updates. The updates are random in frequency but one thing I know for sure is that the update fills your phone up with accumulated amount of data. I am not a geek so excuse my inability to explain this subject matter in a technical sense that looks cool to you but I am just a lay man in this case, an everyday user of Android with less than ample amount of knowledge. Yet I know for certain that the more updates we donwload and install on phones, the less storage memory capacity is left. No brainer, right?
That brings me to this idea of refusing to download mobile apps because you cannot risk that loss of memory space. So how can I access my Facebook and Twitter accounts? Installing social media apps which simplify everything like Hootsuite or Seesmic or Tweetdeck has become my solution. But if I really have to be on these two social media sites, I would just log in on my mobile browser. That is it! Accessing them on a browser looks frustrating I know but my phone has been so much calmer and works faster with roomier memory since I uninstall all apps by resetting my phone and ONLY install apps that won’t eat the memory up with such greed like Facebook and Twitter. To add to my point, my carrier is so generous by not charging us while we are on mobile sites of Facebook and Twitter on a mobile browser. Thus, my data plan is relatively ‘untouched’ and ‘intact’.
What do you think? Do you have an Android phone like me and have another point of view? Let me know in the comment box below.

5 Langkah Lindungi Smartphone Android dari Serangan Malware

smartphonesSaya masih ingat bagaimana dulu populernya Symbian dalam beberapa jenis ponsel Nokia di pertengahan tahun 2000-an. Saya masih terkesima dengan ponsel-ponsel Nokia berkamera VGA yang saat itu masih tergolong canggih dan terdepan. Sayangnya, satu kelemahan ponsel Nokia yang dijalankan dalam platform Symbian ialah risikonya untuk terjangkit virus dan gangguan keamanan lainnya yang cukup riskan. Sementara di ponsel sederhana seperti Nokia 3315 saya saat itu, data pribadi akan tersimpan dengan aman, karena sederhana saja, ponsel itu tak terhubung dengan dunia maya.

Dan saya sadar bahwa semakin populer sebuah sistem operasi, akan semakin tinggi pula risikonya terkena serangan virus, atau malware. Software jahat ini bisa membuat ponsel mengalami berbagai gangguan dari yang ringan sampai berat. Untungnya saya belum pernah harus mengalami serangan seperti itu yang misalnya bisa menghapus semua data dalam memori ponsel atau membuat ponsel terus menyedot pulsa.

Sebagai jawara dalam dunia smartphone, ponsel-ponsel yang bersistem operasi Android menjadi sasaran empuk bagi pihak-pihak iseng dengan itikad kurang baik. Tidak heran karena jumlah penggunanya makin banyak dari hari ke hari, dan semakin tidak terbendung laju pertambahannya. Malware makin banyak dan payahnya belum banyak orang yang menyadari bahaya di balik malware itu. Apalagi di Indonesia, tempat banyak pengguna ponsel masih begitu abai dengan isu security isi ponselnya yang berharga.

Baru-baru ini IC3, sebuah kemitraan antara FBI dan kelompok pendukung penegakan hukum The National White Collar Crime Center (Pusat Kejahatan Kerah Putih Nasional), telah mengidentifikasi “Loozfon” dan “Finfisher” sebagai versi terbaru jenis malware yang telah diketahui.

Sebagai informasi saja, ‘malware’ ialah software atau piranti lunak seperti program atau dalam konteks smartphone adalah aplikasi mobile yang tersebar melimpah di arena Android Market atau yang sekarang disebut Google Play.

Menurut IC3, satu cara yang digunakan para kriminal untuk menyembunyikan malware Loozfon dari deteksi program antivirus ialah menyamarkannya sebagai sebuah iklan tawaran bekerja di rumah yang menjanjikan uang dalam jumlah menggiurkan hanya dengan mengirim surel. Setelah pengguna klik di iklan yang tampil, mereka akan digiring menuju situs web yang menambahkan malware itu pada smartphone yang digunakan tanpa sepengetahuan pengguna yang awam. Aplikasi ini kemudian mencuri detil kontak dari daftar kontak ponsel pengguna dan nomor ponsel pengguna.

Sementara itu, Finfisher ialah satu jenis spyware, yang artinya software yang berguna untuk memata-matai pengguna ponsel. Spyware sangat berbahaya karena bisa mengambil alih komponen perangkat bergerak. Dengan kata lain, saat ponsel Anda terinfeksi spyware, seketika itu juga ponsel bisa dikendalikan dari jarak jauh oleh si pembuat spyware. Malware ini biasa disamarkan sebagai tautan/ link atau teks mengenai pemutakhiran atau update sistem, kata IC3.

Di samping mengunduh software virus dari vendor yang tepercaya seperti Norton, FBI memberikan 5 kiat dasar agar ponsel Android Anda tetap aman dari serangan malware.

Gunakan enkripsi

Beberapa jenis ponsel Android dilengkapi dengan kemampuan enkripsi. Aktifkan kemampuan itu jika ponsel Android Anda memilikinya. Enkripsi bisa digunakan untuk melindungi data pribadi Anda jika suatu saat ponsel hilang atau dicuri. Jika ponsel tidak memiliki kemampuan enkripsi, jangan cemas karena masih ada alternatif lainnya seperti aplikasi WhisperCore dari Whisper Systems yang diakuisisi oleh Twitter tahun lalu. Juga pertimbangkan untuk menambahkan kata kunci saat harus membuka ponsel.

Ketahui pengembang aplikasi sebelum menginstal

Saat akan menginstal aplikasi dari Google Play / Android Market, cermati dulu baik-baik ulasan/ review pihak pengembang yang membuat aplikasi. Juga pastikan untuk memahami perijinan (permission) yang harus Anda berikan sebelum menggunakan aplikasi. Sejumlah aplikasi meminta akses menuju informasi-informasi sensitif dan pribadi seperti lokasi dan daftar kontak di ponsel.

Pastikan menggunakan jaringan wi-fi yang aman

Jangan menggunakan jaringan wi-fi yang Anda tidak ketahui. Para peretas alias hacker biasa menggunakan jaringan wi-fi yang tidak terlindungi kata kunci untuk mendapatkan informasi yang ditransfer antara perangkat ponsel Anda dan server.

Pertimbangkan masak-masak sebelum melakukan ‘jailbreaking’ atau ‘rooting’ pada ponsel

Setelah Anda melakukan jailbreak dan rooting, ponsel Anda secara otomatis akan lebih berisiko terkena malware karena kedua jenis manipulasi ini akan menghilangkan pembatasan dari pabrikan ponsel. Anda bisa menginstal segala jenis program termasuk aplikasi yang Anda mau. Namun di saat yang sama Anda harus tahu bahwa ponsel juga akan lebih rentan diserang, jelas IC3.

Hapus semua data dan aplikasi sebelum menjual kembali

Siapa tidak pernah menjual kembali ponsel lamanya setelah merasa bosan atau karena berbagai sebab? Nah, jika Anda memutuskan menjual atau menukar ponsel pintar, pastikan Anda tidak lupa melakukan ‘factory reset’ yang biasanya ada di bagian pengaturan ponsel. Setelah ‘factory reset’, ponsel akan kembali seperti baru, dalam arti software dan memorinya bersih sama sekali dari data yang sudah pernah disimpan sebelumnya. Ini bisa menghindarkan Anda dari kerepotan dan insiden penyebarluasan informasi pribadi yang sebenarnya tidak perlu terjadi karena pencegahannya sangat mudah, yakni dengan memulihkan kondisi ponsel ke kondisi semula seperti baru. (Entrepreneur Mag)

My Galaxy Nexus Got Jelly Bean Update Right Before iPhone 5 Launch (Coincidence?)








Ternyata Dulu Google Ingin Subsidi Pengguna Android

Screenshot of Android Emulator for SDK (latest...
Screenshot of Android Emulator for SDK (latest version, now v2.3) (Photo credit: Wikipedia)

Fakta masa lalu ini ialah satu bagian dari sejumlah fakta menarik yang bermunculan seputar maraknya perselisihan antara Google dan Oracle yang pada intinya berhubungan dengan tuduhan pelanggaran hak paten dan Android. Ponsel rancangan Google yang direncanakan pada awalnya untuk dijual ke pasar sebenarnya tidak didominasi layar sentuh seperti yang kita ketahui kini.Tak hanya pemerintah kita yang getol menerapkan kebijakan subsidi. Google dulu juga pernah berniat melakukannya pada para pengguna perangkat Android. Namun, itu hanya sebatas wacana karena kita ketahui itu tidak pernah terjadi hingga sekarang.

Jadi, kembali pada soal subsidi tadi. Ternyata Google pernah melemparkan usulan untuk memberikan subsidi. Untuk apa subsidi tersebut? Subsidi itu diberikan bagi para early adopter Android atau mereka yang menggunakan Android pada tahap awal saat sistem operasi ini baru bisa digunakan kalangan terbatas. Alasan Google hendak melakukannya ialah untuk mempromosikan Android sebagai sistem operasi perangkat mobile baru yang belum banyak diadopsi orang.
Menurut detil yang didapat, Google berniat untuk mengucurkan subsidi biaya data dengan T-Mobile untuk pengguna ponsel pintar Android sebanyak 9,99 dollar per bulan. Paket abonemen data ini diperuntukkan bagi Google agar menjual ponsel secara langsung melalui toko dan gerainya sendiri. T-Mobile sendiri rencananya akan memberikan paket tersebut. Jika terealisasi, Google mungkin tidak akan mendapat keuntungan dari T-Mobile atau dari penjualan perangkat Android dan sudah menggunakan uang itu untuk  mengganti biaya paket data bagi pengguna.

Meski tampaknya rencana yang matang dan sesuatu yang akan disambut baik konsumen, sayangnya kesepakatan Google dan T-Mobile urung terealisasi saat T-Mobile tak pernah menawarkan paket data pada kisaran tersebut di atas. Google juga menemukan bahwa menjual ponsel pintar secara langsung tidak terlalu menguntungkan.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah Anda sebagai pengguna Android juga masih menginginkan rencana ini diwujudkan oleh Google?
[via SlashGear]