Inspirator vs Inspirer

‎Mana yang betul menurut Anda, “inspirator” atau “inspirer”?

Inilah salah satu kasus yang menunjukkan bahwa yang benar justru tampak salah hanya karena lebih jarang dipakai atau diucapkan.

Saya pun pertama kali terkecoh saat seseorang bertanya pada saya,”Kata ‘inspirator’ itu dalam bahasa Inggris ada nggak ya?”‎ Spontan saja saya mengangguk, karena kata itu begitu familiar dalam bahasa Indonesia. Semua orang tampaknya juga berpikir demikian.

‎Begitu diperiksa di kamus bahasa Inggris, ternyata tidak ada kata “inspirator”! Mencengangkan juga. Bagaimana bisa?!

Usut punya usut, betul juga kalau kata “inspirator” itu sebenarnya kesalahan yang melanggar logika bahasa, terutama morfologi. Hanya saja, karena ia lazim sehingga kesalahan itu dianggap benar saja oleh khalayak ramai.

Jadi begini penjelasannya: Kata “inspire” (menginspirasi) dapat diubah menjadi pelaku (agent/ doer) dengan ditambahi akhiran (suffix) -er/or/r . Jadi bagaimana bisa “inspire” menjadi “inspirator” (orang yang menginspirasi)? Bahasa Inggris tidak mengenal akhiran -ator/tor. Nah, dari aturan itulah akhirnya kita bisa memahami secara logis bahwa “inspire” haruslah menjadi “inspirer”.

Merasa Tak Kuasai Bahasa Inggris, Orang Ini Bunuh Diri

depressedKemampuan berbahasa asing terutama bahasa Inggris memang hampir menjadi sebuah keharusan dalam era globalisasi. Dalam banyak bidang, bahasa Inggris dipakai sebagai alat komunikasi utama. Bagi mereka yang berkemampuan bahasa Inggris terbatas, terdapat dorongan yang besar untuk mencapai penguasaan yang disyaratkan oleh berbagai lembaga yang hendak mereka masuki.

Akan tetapi, kita tidak tahu besarnya tekanan untuk belajar bahasa asing di masyarakat hingga kita tahu adanya kasus semacam ini. Mahkamah Agung Korea Selatan mengeluarkan putusan bahwa seorang pekerja kantor tewas dianggap melakukan bunuh diri karena tidak mampu menguasai bahasa Inggris. Penguasaan ini disyaratkan oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Sang pria yang bernama keluarga Oh itu sebenarnya bukan orang yang bodoh. Ia lulusan teknik sipil dari sebuah kampus kenamaan di Seoul dan mulai bekerja untuk konglomerat besar di tahun 1990. Oh lalu dipromosikan hingga ia menjadi kepala proyek konstruksi pabrik di Kuwait pada bulan Juli 2008 dan dikirimkan ke negara Timteng itu.

Sayangnya, ia tidak percaya diri dengan kemampuannya berbahasa Inggris. Kelemahannya itu membuatnya selalu merasa dihantui. Ia memutuskan belajar bahasa Inggris mati-matian namun tetap merasakan tidak ada banyak kemajuan yang dicapai. Tahun 2008, ia menghabiskan 10 hari di pabrik di Kuwait dan kembali dengan keyakinan kuat bahwa ia tidak kompeten untuk posisinya.

Setelah didiagnosis dengan gejala gastroentritis akibat stres yang berlebihan, Oh memberitahu perusahaannya bahwa ia tidak seharusnya ditugaskan ke luar negeri.

Oh kemudian dipromosikan manajer departemennya dua bulan setelah itu tetapi menulis dalam catatan hariannya bahwa ia tak bisa ke Kuwait lagi karena penguasaan bahasa Inggrisnya yang begitu buruk. Oh bahkan tak percaya diri dan ingin segera pensiun dini.

“Rasanya saya tak bisa bernapas,” tulisnya dalam catatan harian. Ia kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap bangunan kantornya.

Mengapa Banyak Orang India Pintar Berbahasa Inggris?

Kalau dibandingkan negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, Korea atau negeri Indo China seperti Thailand, kecakapan orang Indonesia berbahasa Inggris masih lebih bagus. Tetapi jika dibandingkan dengan orang Singapura, Malaysia, dan India, kecakapan kita berbahasa Inggris kurang sekali.
Bagaimana ini bisa terjadi?

Sopir taksi yang pernah saya jumpai menjelaskan mengapa rakyat India banyak yang pandai berbahasa Inggris. Rupanya karena di sana belajar bahasa Inggris bukan sebuah mata pelajaran pelengkap atau ekstrakurikuler semata. Semua orang diajari bahasa Inggris gratis.

Pemerintah India juga mendukungnya. Siapapun baik yang bersekolah menengah atau perguruan tinggi dapat dipastikan diajari bahasa internasional ini. Tidak seperti di tanah air yang mengharuskan bayar untuk kursus. Kata sopir taksi yang saya temui itu, kata mantan majikan Indianya dulu, pemerintah India memberikan subsidi untuk rakyat yang mau belajar bahasa pergaulan dunia ini. Jadi jangan heran rata-rata orang India berbahasa Inggris dengan lancar. Karena semuanya gratis! “Gratis, tinggal datang kalau mau belajar bahasa Inggris!”kata sopir taksi itu lagi.

Di India, tampaknya bahasa Inggris dianggap sebagai salah satu bekal penting dalam kecakapan menjalani hidup. Bukan hanya sekadar formalitas di rapor sekolah yang membuat murid hapal aturan berbahasa tetapi tersendat saat menulis memo atau surat pendek sehari-hari atau tergagap saat berhadapan dengan orang lain yang mengajak bercakap-cakap dalam bahasa Inggris sederhana. Mereka yang berpendidikan rendah atau tinggi pun menjadi pintar berbahasa Inggris. Bahasa Inggris sungguh-sungguh menjadi modal untuk lebih maju dan lebih sejahtera.

Mantan majikan sopir taksi itu buktinya. Sekolahnya tidak tinggi tetapi bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Dari keahliannya berbahasa (bahkan ia juga sempat belajar berbahasa Indonesia) , ia berani merantau dan berdagang di India lalu meninggalkan lingkungan masa kecilnya nan kumuh di India.

(Sumber foto: Wikimedia – portrait of Shah Nawaz Khan.jpg)

“Where” dan “Di Mana”: Cermin Pengaruh Bahasa Inggris terhadap Bahasa Indonesia

Salah satu faktor terjadinya kesalahan berbahasa Indonesia ialah pengaruh bahasa asing pada bahasa Indonesia dalam berbagai aspek. Menurut seorang profesor yang juga pakar bahasa Indonesia di sebuah universitas di Australia, sebagian pengguna bahasa Indonesia akhir-akhir ini amat dipengaruhi bahasa Inggris. Salah satunya adalah penggunaan kata “adalah” yang kadang tidak perlu tetapi dipaksakan untuk ada karena dianggap sebagai keharusan untuk bisa sesuai dengan pola kalimat  bahasa Inggris yang mewajibkan adanya verba “be”. Misalnya, “I am a man” diterjemahkan sebagai “Saya adalah laki-laki”, padahal dalam bahasa Indonesia yang wajar kata “adalah” bisa dihilangkan. Dengan kata lain, tidak ada yang salah untuk menerjemahkannya menjadi “Saya laki-laki”.  Hal ini memang tidak salah tetapi tidak wajar dalam bahasa Indonesia.

Hal lain yang profesor tersebut soroti pula ialah penggunaan kata “di mana” yang sering digunakan sebagai konjungsi (kata sambung) , bukan sebagai kata tanya (yang menjadi fungsi yang sepatutnya). Ini menunjukkan pengaruh penggunaan konjungsi  “where” dan “which”. Parahnya lagi, penulisan “di mana” sebagai konjungsi (yang tidak disarankan) juga mengalami dua variasi: “di mana” dan “dimana”. Yang kedua jelas-jelas salah.

Menurut Ivan Lanin, sebagai penyunting yang berpatokan pada tata bahasa yang sudah tertulis di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) IV dan EyD (Ejaan yang Disempurnakan), kata “di mana” harus dihindari. Alasannya ialah kata “di mana” dalam bahasa Indonesia tidak dikenal sebagai konjungsi tetapi sebagai kata tanya.

Misal:

  1. Di mana buku saya? (Penggunaan yang benar karena “di mana” digunakan sebagai kata tanya)
  2. Ia meninggalkan kota di mana ia lahir. (Penggunaan yang salah karena “di mana” digunakan sebagai konjungsi)

 

Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kalimat yang menggunakan “di mana” sebagai konjungsi? Menurut Sofia Mansoor, ada dua opsi yang bisa dipilih. Pertama ialah dengan menggantinya dengan kata “tempat”. Dengan demikian, kalimat (2) bisa diperbaiki menjadi “Ia meninggalkan kota tempat ia lahir.” Kedua ialah dengan merombak kalimat tersebut menjadi lebih wajar dan berterima dalam kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Seorang rekan peserta pelatihan lain juga sempat menanyakan bahwa ia mengamati banyaknya penggunaan “di mana” justru bukan sebagai konjungsi yang menerangkan tempat atau lokasi. Saya sendiri juga sempat membenarkan dalam hati karena pertanyaannya itu belum sempat dibahas tuntas oleh Sofia Mansoor dan Ivan Lanin. Contohnya mudah saja, kita bisa temui penggunaan “di mana” yang tidak berfungsi sebagai konjungsi dalam berbagai pidato impromptu para pejabat. Kita bisa amati seorang pejabat yang ditanyai oleh nyamuk pers dalam berbagai kesempatan. Kemungkinan besar ia akan menggunakan kata “di mana” bukan sebagai konjungsi tetapi menurut saya hanya sebagai kata untuk mengisi jeda saat berbicara sehingga terkesan lebih lancar. Dalam bahasa Inggris kita bisa sebut sebagai “filler”. “Filler” ini tidak memiliki makna tetapi hanya untuk memberikan kesempatan bagi si pembicara untuk berpikir mengenai kata yang akan ia ucapkan berikutnya. Tidak mutlak salah mungkin tetapi penggunaan “filler” ini membuat kalimat kita kurang efisien dan ringkas. Lagipula “filler” adalah sesuatu yang mungkin masih bisa dimaklumi dalam taraf tertentu dalam ragam percakapan, tetapi tidak begitu mudah ditolerir dalam ragam tulisan.

(URL Gambar: http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSrlTIj2XW2eps42CzT2SbK7eYGf9rGod6-H2L6Kjr4nn7jrV6bueJexj6GKg)

%d bloggers like this: