The Father of Modern Yoga BKS Iyengar Dies at 95

Born on 14 December 1918, our yoga role model authoring Light on Yoga (dubbed as the bible of yoga these days) died in Bellur, British India today 20 August 2014. He is 95 years old.

It’s a very devastating piece of news for us the yogis and yoginis as we see him as one of the pioneers of modern yoga, who serves as the best, the most flexible, the most credible source of learning to date. Now, he’s gone for good.

He, however, left invaluable heritages for the yoga world like Light on Yoga, Light on Pranayama, and Light on the Yoga Sutras of Patanjali. He would be pretty much missed.

And what I remember from his long life is photos of him on the book posing like a contortionist. So unforgettable, in every possible way.

Dedikasi dan Penghormatan untuk Yoga, Alasan B. K. S. Iyengar Latihan 2 Jam Tiap Hari Selama 80 Tahun

image

Berikut adalah petikan wawancara dengan tokoh yoga legendaris B. K. S. Iyengar yang saya kutip dan terjemahkan secara bebas dari laman Sakal Times.

Pertanyaan:”Apa yang memotivasi Anda berlatih yoga selama 2 jam setiap hari bahkan di usia 95 tahun?”

Jawaban:”Saya sudah berlatih yoga selama 80 tahun. Saya tidak perlu motivasi eksternal. Semua datang dari diri sendiri.

Yoga sudah memberikan saya nama, ketenaran dan semuanya. Maka dari itu, saya memberikan penghormatan pada yoga dengan melaksanakannya setiap hari. Dedikasi saya pada yoga adalah satu-satunya motivasi saya.”

Pertanyaan:”Apa pesan Anda pada generasi muda?”

Jawaban:”Tubuh ini seperti pakaian bagi jiwa. Tugas kita adalah memeliharanya. Ia wadah bagi jiwa. Tanpa pakaian ini, kita tidak bisa bergerak dan berbicara. Maka dari itu, badan harus dipelihara. Yoga tidak cuma memelihara badan fisik tetapi membawa kedamaian pada pikiran. Dengan ketenangan pikiran, Anda bisa menjadi lebih toleran, sabar dan penuh welas asih. Inilah yang paling diperlukan di masa sekarang. Ia akan mengajarkan pada Anda bagaimana membebaskan diri dari kesombongan. Yoga merupakan cara terbaik memelihara jiwa dan raga dan itulah mengapa yoga harus dilakukan setiap hari dengan sepenuh hati. Setiap orang semestinya melakukan latihan yoga setiap hari. Seseorang tak perlu mengorbankan kegiatan lainnya untuk berlatih yoga. Sembari kita menjalani rutinitas hidup, kita juga harus menyisihkan waktu untuk diri sendiri.”

Pertanyaan:”Seberapa banyak yoga yang harus dilakukan setiap hari?”

Jawaban:”Seseorang seharusnya berlatih yoga setidaknya selama satu jam setiap hari. Itu yang paling minimum, tidak bisa lebih rendah dari itu. Sebagian orang berpendapat berlatih yoga selama 15-20 menit sudah cukup. Itu belum cukup. Jika Anda melakukan olahraga lain seperti renang, berjalan, lari, Anda masih harus sisihkan waktu setidaknya separuh jam untuk yoga. Itu karena yoga melatih pikiran Anda, sesuatu yang tidak bisa dilakukan olahraga lainnya.

Waktu yang Anda habiskan untuk berlatih yoga adalah satu-satunya waktu saat Anda fokus pada diri sendiri. Hanya inilah yang bisa membawa ketenangan dalam pikiran.”

Stop Thinking B. K. S. Iyengar was Born That Flexible. He was NOT!

B. K. S. Iyengar is widely known for his masterpiece “Light on Yoga”, a thick how-to book that most yogis and yoginis refer to as ‘yoga bible’. The pictures are captivating and jaw dropping, too, especially if you’re a beginner. There are too many unusually contorted photos of Iyengar there that murders almost every beginner’s spirit of starting doing yoga, or conversely, these novices are so motivated that they vow to themselves they want to be the super bendy guy they see in the book. It seems like every yoga enthusiast, practitioner and guru endlessly cite the sentences of Iyengar.

And today, once again Iyengar had a mention in the workshop at which Christina Sell was teaching. As she said we needed to take a look at Light on Yoga, some of us blurted,”He (Iyengar) was born that way.” Christina said,”No.”

REALLY? We stared and frowned at each other, in utter disbelief. How can it not be an innate tendency, a gift from God? Was Christina possibly joking?

Christina went on once she thought we wouldn’t believe her words that easily. “He (Iyengar) was born very sickly,”she explained. As he grew up, he couldn’t sit down properly for 30 minutes in regular classroom chairs. He thought it was abnormally shameful, because everyone else managed to do that. His mother passed away following his birth and being the son in the family, he wasn’t treated like a golden boy. Iyengar was cast off by the family, who thought he must have been dead anytime soon. His older sister got married and practically left young Iyengar alone. With such a frail body, Iyengar also found it hard to touch his knees. In other words, he wasn’t born that bendy and stretchy!

To add to the amazement, Christina told us he started to practice yoga of his own style during his middle age (40’s). “Not really young. He wasn’t a 20 something man.”

Now Iyengar is in his 90’s. Still alive and kicking. ‘Pretty fly’ for a yogi that age.

So it’s all about regular practice as we can see it. He earned his being outstandingly bendy with a long time of toil.

Seperti Apa Tubuh Ideal Seorang Yogi agar Dapat Kuasai Semua Asana dengan Mudah?

Setelah membaca sebuah artikel dan data tentang dimensi tubuh rata-rata para pesenam yang berlaga di ajang Olimpiade dan memenangkan medali emas, saya mengetahui mengapa tubuh para pesenam unggulan itu rata-rata pendek. Makin pendek, bisa dikatakan berpeluang makin baik dalam arena kompetisi senam. Dan memang demikian adanya.

“Manlet”: Si Pendek Kekar yang Proporsional

Seorang pesenam pria asal Slovenia bernama Leon Stukelj yang memenangkan medali emas terakhirnya di usia 37 tahun tingginya hanya 5 kaki 5 inci, sebuah ukuran tinggi badan yang tergolong kurang bagi standar ras Kaukasia. Leon memiliki sejarah karir yang panjang di laga Olimpiade dan meninggal 4 hari sebelum ulang tahunnya yang ke 101. Menakjubkan bukan?

Sementara itu, pesenam Kohei Uchimura dari Jepang pemenang medali emas Olimpiade malah tinggi badannya cuma 5 kaki 3 inci. Meskipun secara fisik kedua pesenam pria ini sangat bugar dan baik, masing-masing tampaknya memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri. Tubuh Leon (di tahun 1924) lebih tinggi 2 inci tetapi bahu dan lengannya kurang berotot. Kohei (tahun 2012) lebih pendek tetapi memiliki bahu dan lengan yang lebih kokoh. Hal itu mungkin karena pengaruh latihan sehari-hari yang berbeda. Menurut pengamatan sekilas saya, Leon lebih mengandalkan ketangkasan dan Kohei lebih banyak menjurus pada kekuatan tubuh bagian atas.
image

Disimpulkan pula bahwa dari pengukuran indeks massa tubuh yang dilakukan pada para atlet senam ini, trennya dari masa ke masa menunjukkan penurunan (sumber: Mag Bodies). Kohei, misalnya, hanya memiliki indeks massa tubuh sekitar 20. Dan sebagai perbandingan, indeks massa tubuh pria Amerika Serikat ialah 32 di era yang sama. Apakah ada hubungannya dengan pola latihan atau pola diet, jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari? Hmm, tampaknya dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang hal itu.

Perihal tinggi badan, para atlet senam secara umum berperawakan pendek. Dengan tubuh yang lebih kecil, gerakan seorang pesenam akan jauh lebih efisien. Masih menurut data yang disusun Mag Bodies, dibandingkan tinggi badan rata-rata atlet pria cabang olahraga lainnya di Olimpiade, tinggi rata-rata atlet senam berada di jajaran terbawah. Mereka lebih kecil dari kebanyakan olahragawan sampai sebagian orang menyebut pesenam laki-laki ini sebagai “manlet” (dengan analogi babi “pig” dan anak babi “piglet”). Tetapi kebugaran dan bentuk tubuh secara keseluruhan atlet-atlet senam ini tidak perlu diragukan lagi. Mereka tampak lebih proporsional dan kokoh meskipun kecil dan pendek.
image

Bagaimana dengan YOGI?

Menilik dari dunia senam, saya pun tergelitik untuk melontarkan pertanyaan yang serupa:”Seperti apa tubuh ideal seorang yogi agar ia mampu berasana demikian lincah, kuat, lentur dan memiliki daya tahan yang tinggi pada saat bersamaan?”

Pernah suatu kali seorang teman bercerita ia mengetahui kelenturan di atas rata-rata seseorang dari caranya duduk saja. Saya pikir, hebat sekali dia! Tetapi apakah mengetahui kepiawaian seseorang beryoga (baca: berasana) bisa dilakukan tanpa harus melihatnya berasana? Entahlah, saya belum pernah mencoba dan memang mustahil untuk memberikan vonis pasti itu. Di saat bertemu teman-teman yoga baru, sering saya mendapati ‘kejutan-kejutan’ yang sebetulnya tidak mengejutkan tetapi terasa mengejutkan karena saya sudah memberikan cap pada seseorang dengan berdasarkan pada penilaian sekilas bentuk dan proporsi tubuhnya. “Ah, dia berpinggul lebar dan besar pasti dia tidak bisa headstand,”batin saya, tetapi orang itu bisa. Di kesempatan lain, saya mencap seseorang,”Wah, lengan, bahu dan telapak tangannya kokoh dan besar, pasti dia bisa handstand dengan mudah!” Begitu gumam saya suatu saat melihat seseorang di kelas tetapi ternyata jangankan handstand, teman tersebut saja kerepotan saat melakukan bakasana (bird pose).

Pengamatan saya pun selama ini menghasilkan satu hipotesis: tinggi badan seorang yogi idealnya tidak lebih dari 170 cm agar bisa bermanuver dengan lebih leluasa. Ambil contoh guru yoga dari AS Kathryn Budig yang memiliki bentuk badan yang lumayan pendek (untuk standar Kaukasia) dan berpinggul besar (saya pernah menonton dan membandingkannya dengan tubuh para muridnya yang lebih tinggi dalam sebuah video yang menunjukkan ia saat mengajar). Tetapi ia mampu mengimbangi besarnya tubuh bagian bawah dengan kekuatan tubuh bagian atas yang membuat Budig cukup lihai di pose-pose arm balance yang membutuhkan tangan, lengan dan bahu yang kuat serta inversi. Sementara itu, Tiffany Cruikshank yang pernah saya temui di Namaste Festival 2013 tidaklah begitu semampai, mungkin maksimal hanya 170 cm atau 5 kaki 5 inci. Dan lain dari Budig, hampir tidak ada lemak di tubuh Cruikshank. Kekuatan ototnya baik tetapi tidak sampai tampak kekar sekali. Pas. Femininely strong. Briohny Smith juga tergolong pendek. Ia lebih pendek dari suaminya Dice, yang membuat saya yakin ia hanya bertinggi badan cuma 160-an cm. Jarang sekali saya menyaksikan guru yoga yang hebat berasana tetapi badannya tinggi besar seperti model catwalk. Bahkan Dice Iida-Klein juga tidak setinggi yang saya bayangkan. Hanya dalam kisaran 5 kaki 6 inci atau 170 cm lebih tetapi tidak sampai 6 kaki atau 180-an cm. Dan ketrampilan berasana Dice patut diapresiasi. Di sisi lain, guru yoga yang berfokus pada nafas Leslie Kaminoff tingginya menjulang sampai lebih dari 6 kaki! Saya tahu karena saya pernah berfoto dengannya dan ia begitu semampai di samping saya. Dan saya amati Kaminoff tidak begitu piawai dalam berasana, tetapi ia memiliki kelebihan sendiri yaitu pranayama dan metode berasana yang lebih aman (baca: tidak bermanuver gila-gilaan dengan menekuk, memelintir atau membalik tubuh). Hipotesis itu pun makin solid saat saya menyaksikan Kaminoff melakukan kayang (urdhva dhanurasana). Struktur tubuhnya yang tinggi besar dan kokoh yang tipikal pria
Kaukasia usia senja membuatnya kesulitan untuk mencapai posisi kayang yang sepenuhnya.

Lalu apakah simpulan dari penelitian di dunia senam bisa diterapkan juga di yoga? Menurut hemat saya, bisa. Dalam aspek tinggi badan, seorang yogi atau yogini akan lebih mudah melakukan berbagai asana jika ia berpostur sedang atau pendek. Terlalu semampai, sekitar 180 cm lebih, akan menyulitkan karena efisiensi tenaga akan jauh lebih sukar dan menantang. Secara kasar, tinggi badan antara 150-170 cm mungkin lebih ideal karena berada di kategori sedang, tidak terlalu pendek dan tidak juga sangat tinggi.

Untuk berat badan akan sangat relatif, karena berat seseorang bisa berarti lemak (baca: kendala yang memberatkan badan dalam berasana) atau otot (baca: faktor penting dalam melakukan sejumlah asana yang menantang dan membutuhkan kekuatan luar biasa). Seseorang dengan berat badan yang sama bisa memiliki tinggi badan yang berbeda dan perawakan yang berbeda pula.

Menghakimi apakah seseorang yogi yang hebat dari dimensi fisik memang agak dangkal rasanya. Tetapi karena yang diukur adalah aspek fisik yoga (penguasaan asana), kita tidak bisa menghindarinya.

%d bloggers like this: