iPhone dan Android Memang Canggih tapi BlackBerry Lebih Aman dari Peretasan

Anda boleh saja mencibir para pemilik BlackBerry. Mengatai mereka “goblok”, “kuno”, “ketinggalan zaman”, bahkan “alay” sekalipun. Tetapi jangan salah, keamanan perangkat berpapan ketik fisik itu malah lebih baik daripada iPhone dan ponsel Android yang berlayar sentuh lebar dan lapang yang digilai pengguna ponsel saat ini.

Saya juga seorang pengguna BlackBerry. Saya menggunakan perangkat ini setelah tren itu luntur. Saat tak banyak orang memakainya inilah saya justru menemukan kenyamanan menggunakan BlackBerry. Q5 yang saya gunakan memiliki papan ketik yang lebih nyaman dari ponsel pintar lainnya yang sejenis, LG Pro. Kenyamanan papan ketiknya sungguh-sungguh lebih baik dari brand lainnya.

Menurut laman Slate.com, bahkan pejabat negara sekelas Barack Obama pun hanya menggunakan perangkat BlackBerry. Ia tak diizinkan memakai iPhone dan Android. Mengapa? Tentunya Anda amat penasaran.

iPhone yang mengunggulkan ekosistem iOS yang mapan dan telah dilengkapi ratusan ribu aplikasi itu ternyata memiliki kelemahan. Apalagi bagi Anda yang mengutamakan keamanan informasi yang peka dan penting dari pihak ketiga yang tidak diinginkan. Dalam laporan Spiegel, dikatakan bahwa makin banyak sebuah sistem operasi memiliki aplikasi, artinya makin banyak pula celah keamanan yang bisa dimanfaatkan peretas (hackers).

Masih mau pakai iPhone dan Android? Ya, masih. Kan saya bukan Obama.

BlackBerry Still Rocks, so Do iPhone and Android

“Still a huge fan of BlackBerry?”‎he mocked me while I had my handset in hand. I was there, eating my meal and guess what, blogging (now you all know why I blog a little bit too frequently). On my BlackBerry, I find it more convenient to type because the keyboard is still cute and wildly functional to me.

It got me thinking:”Why are people so mean to me just because I’m (and will be) using BlackBerry?”‎ I love it for a strong reason: blogging.

At work, I have a bunch of coworkers who are, let me call them this way, Android maniacs. These folks are those typical fandroid who may be willingly married and having an intercourse with their Android handsets if these gadgets were alive.‎ They sneered as I was found to have a BlackBerry handset at work. “Disappointing… Downgrade,”murmured they.

I don’t get the point of this fanaticism.

On another occasion, when I lashed out on Facebook on how my iPhone failed to receive signals several times a day, ‎I was addressed by a distant friend who happened to think I was a hater of Apple products. He himself is a user of iPhone and would love to voluntarily endorse it to anyone he knows about the huge potential of iPhone in improving our lives. I thanked him for the nice words.

Android fans hate BlackBerry, saying it’s obsolete.
Android fans loathe iPhone, arguing it’s overpriced.
iPhone worshippers mock BlackBerry, claiming it has begun to be part of history.
iPhone worshippers dissed Android, accusing Google Play of having too many crappy and spammy apps to lure us.
BlackBerry owners love the joy of typing so hate the sensation of virtual keyboard use but still long for iPhone or Android to enjoy the web surfing.

This has got to cease. Because it’s ridiculously childish.

Buy anything which suits your needs best! Period.

There I said it.

BBM Mulai ‘Umbar’ PIN Anda ke Pengguna BBM Lain?

There’s no free lunch. Menjadi seorang pengguna layanan jejaring sosial saat ini memang butuh kesabaran. Mengapa? Karena gratis dan praktisnya jejaring sosial harus ditebus dengan privasi yang terusik tanpa peringatan.

Seperti yang terjadi pada saya beberapa hari lalu.

Tiba-tiba PIN BBM saya mendapatkan notifikasi baru yang menunjukkan seseorang sudah menambahkan saya sebagai temannya. Tunggu, siapa orang ini? Saya tidak merasa mengenalnya. Dan memang ia juga tidak mengenal saya.

Usut punya usut, si pengguna BBM di iPhone itu baru mendapatkan pembaruan aplikasi yang menawarkan pertemanan baru dengan kontak-kontak LinkedIn miliknya yang terintegrasi dengan daftar kontak smartphone berplatform iOS itu. Dan saya ada dalam daftar teman di LinkedIn orang tersebut. Saya tidak bisa memastikan kebenarannya karena saya kebetulan cuma menggunakan BlackBerry dan Android.

Terlepas dari benar tidaknya keterangan itu, saya masih bertanya bagaimana bisa LinkedIn dan BBM bekerja sama? Dan mengapa BBM dengan mudah mengumbar PIN saya ke orang lain? Tetapi kemudian setelah dipikir lagi, itu adalah salah saya sendiri yang menjadikan orang itu sebagai teman saya di LinkedIn. Untungnya, orang yang menambahkan saya menjadi temannya itu adalah orang yang baik-baik, tidak macam-macam, apalagi berniat negatif meski awalnya saya menaruh curiga. Benarkah karena fitur terbaru aplikasi BBM for iOS atau apa?

Bagaimana dengan Anda? Apakah mengalami hal serupa?

Tingkat Paparan Radiasi BlackBerry Lebih Tinggi dari Smartphone Merek Lain

image

Iseng-iseng saya menelusuri informasi di lembaran Informasi Produk dan Keselamatan – yang banyak diabaikan pengguna ponsel baru – dan menemukan fakta mencengangkan bahwa smartphone BlackBerry Curve 9220 saya memiliki tingkat paparan yang TERTINGGI dari semua ponsel yang pernah saya miliki, yaitu 1,35 W/kg atau untuk penggunaan di telinga.

Pertama-tama kita harus tahu angka SAR (specific absorption rate: angka yang menunjukkan paparan frekuensi radio terhadap tubuh manusia untuk berbagai perangkat nirkabel yang ditentukan lembaga berwenang; makin rendah, makin aman) yang bisa ditemukan tercantum produsen smartphone dalam kemasan setelah pengujian laboratorium. Angka SAR juga bisa dibaca di keterangan spesifikasi produk yang lengkap di situs-situs ulasan smartphone seperti GSMArena. Dari pengamatan saya selama ini, angka SAR sering ditempatkan paling bawah karena dianggap tidak banyak dibaca, dan kalah populer dibandingkan dengan detil spesifikasi lain semacam ketajaman kamera, besar layar, jenis sistem operasi, dan lain-lain.

Sebagai perbandingan, tingkat SAR maksimum yang tercatat untuk model Samsung Galaxy Nexus GT-I9250 adalah 0,303 W/kg. Ironis bukan? Angka SAR BlackBerry model Curve 9220 yang mencapai 1,35 W/kg itu ironisnya terhitung 4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan SAR smartphone Samsung Galaxy Nexus saya yang notabene lebih canggih dan sarat aktivitas data 3G (sementara BlackBerry Curve ini cuma bisa beroperasi di jaringan 2G dan EDGE alias 2,5G). Jika dibandingkan dengan tingkat paparan ponsel LG GS290, misalnya, selisihnya lumayan. LG GS290 itu cuma 0,993 w/kg, sementara ambang batas yang diperkenankan oleh International Commission on Non Ionising Radiation Protection adalah 2 w/kg; ambang batas SAR yang diberikan Dewan Uni Eropa ialah 2,0 W/kg. Sementara batas SAR yang disarankan FCC (Federal Communications Commission)/IC (Industry Canada) ialah 1,6 W/kg.

Mengetahui tingkat paparan yang lebih tinggi yang dipancarkan perangkatnya, BlackBerry memberikan peringatan untuk MENJAUHKAN smartphone BlackBerry sedikitnya 0,59 inci atau 1,5 cm atau 15 mm dari tubuh kita jika ponsel sedang melakukan transmisi (misal menerima atau melakukan panggilan telepon). Bila sedang menggunakan suatu fitur data, dengan atau tanpa kabel USB, pegang ponsel sedikitnya 0,59 inci atau 1,5 cm dari tubuh. Jika menggunakan aksesori yang dikenakan di tubuh yang disetujui RIM saat menggunakan BlackBerry, pastikan aksesori tidak mengandung logam dan jauhkan ponsel dari badan setidaknya 1,5 cm saat melakukan transmisi.

Penggunaan BlackBerry dan perangkat komunikasi nirkabel yang intens pada wanita hamil dan anak-anak memang perlu dibatasi sampai hanya seperlunya, bahkan jika darurat saja. Jika perlu, dan memang sangat perlu, selalu pakai earphone atau speakerphone untuk menelpon, karena dengan begitu, tingkat paparan bisa dikurangi seminimal mungkin dengan menjauhnya ponsel yang bertransmisi dari sel-sel tubuh terutama sel otak yang sering terkena akibatnya saat seseorang menelepon dengan ponsel dalam waktu lama. Sekali dua kali memang tidak akan membuat kita mengidap kanker atau tumor otak atau gangguan kesehatan lainnya, tetapi jika itu terjadi tiap hari selama bertahun-tahun, dampaknya bisa berakumulasi bukan?

Selain menggunakan perangkat smartphone sejauh mungkin dari badan, diperingkatkan pula agar kita tidak menggunakan ponsel saat berada di daerah yang sinyal nirkabelnya lemah. Semakin lemah sinyal seluler yang tampak di layar ponsel, semakin tinggi output daya yang dikeluarkan ponsel agar bisa tetap terhubung dengan menara pemancar sinyal (BTS). Karena itu, hanya gunakan ponsel jika sinyal sedang kuat (3-5 bar di indikator sinyal). Jika sinyal lemah (1-2 bar, atau bahkan SOS) di satu tempat, pindahlah dan carilah tempat yang jangkauan sinyalnya lebih stabil dan kuat lalu baru lakukan panggilan atau menggunakan ponsel lagi. Di mana saja tempat-tempat dengan jangkauan sinyal seluler yang biasanya lemah dan membuat ponsel mengeluarkan radiasi lebih kuat? Gedung parkir bawah tanah, di dalam kabin kereta api, di dalam mobil atau bus. Bagaimana jika darurat? Gunakan pesan pendek (SMS) atau layanan pesan instan seperti Whatsapp, Line atau KakaoTalk (sehingga Anda masih bisa berkomunikasi tanpa mendekatkan ponsel ke kepala, atau badan, termasuk perut bagi yang sedang mengandung atau bagi anak-anak kecil yang masih rentan), atau gunakan earphone saat menelepon dengan tetap menjauhkan ponsel dari badan. Saya sendiri lebih nyaman dan yakin dengan earphone atau handsfree berkabel daripada headset tanpa kabel yang menggunakan koneksi bluetooth, karena pada dasarnya bluetooth juga frekuensi radio.

Saya sendiri masih membiasakan untuk tidak membiarkan ponsel terus ON (sinyal seluler terus menyala) di samping kepala sepanjang malam. Jika mau menggunakan ponsel sebagai alarm, hidupkan ponsel dalam modus OFFLINE sehingga kepala dan badan tidak terkena radiasi sinyal seluler atau frekuensi radio secara terus menerus saat tertidur. Pun saat saya mengantongi ponsel, saya pastikan ponsel sudah dalam modus offline sehingga tidak memancarkan radiasi saat berada di kantong celana, kantong baju, yang artinya dekat bahkan melekat dengan badan. Jika mau menggunakan, saya keluarkan saku dan ubah ke modus online. Sedikit repot agar tidak menyesal di kemudian hari. Takut melewatkan panggilan atau pesan penting? Bawa saja ponsel dalam genggaman tangan agar lebih jauh dari badan dan kepala. Atau masukkan ponsel dalam tas yang cukup tebal agar tidak terlalu dekat dengan badan tetapi nada deringnya cukup nyaring agar Anda tahu ada panggilan atau pesan masuk. Repot? Pasti sangat repot, tetapi lebih merepotkan jika harus menanggung sakit di masa datang yang sebenarnya bisa dicegah dari sekarang.

Mungkin tidak hanya produk BlackBerry saja yang bisa memiliki SAR yang relatif tinggi dan mendekati ambang batas, tetapi dari pengalaman dan apa yang pernah saya baca, beberapa model BlackBerry memang pernah disebutkan sebagai produk dengan SAR yang relatif tinggi, menurut situs aplikasi pengukur tingkat radiasi ponsel Tawkon.com. Selain itu, masih menurut Tawkon.com, iPhone dari Apple juga pernah dikatakan memiliki SAR yang relatif lebih tinggi, terutama jika dibandingkan smartphone-smartphone Samsung yang menjadi pesaing utamanya di pasar dunia.

Bagaimana dengan ponsel Anda? Sudahkah Anda tahu berapa SAR ponsel yang Anda, atau yang lebih penting lagi, anak-anak Anda gunakan? Atau baru kali ini Anda tahu ada istilah SAR?

Trik Blogging via BlackBerry Tanpa Install Aplikasi WordPress

blackberry
blackberry (Photo credit: arrayexception)

BlackBerry, ponsel ‘relatif pintar’ yang kerap menjadi bulan-bulanan pengguna smartphone lain ternyata bisa membuat blogger jadi lebih produktif. Alasannya tentu adalah tombol qwerty-nya yang masih terlalu nyaman untuk digadaikan dengan layar sentuh.

Jika Anda suka blogging di platform WordPress (baik wordpress.com yang gratis dan praktis atau wordpress.org yang juga gratis tetapi memerlukan lebih banyak pengetahuan teknis saat instalasi dan pemeliharaan) dan memiliki sebuah ponsel BlackBerry, jangan sia-siakan BlackBerry hanya untuk bertukar pesan di BlackBerry Messenger saja. Dan jika Anda termasuk orang yang seperti saya (tidak terlalu suka ribet dengan upgrade sistem operasi BlackBerry yang justru kadang membuatnya bermasalah), tak perlu menginstal aplikasi WordPress di BlackBerry Anda. Setahu saya makin minim aplikasi, makin minim risiko ngadat. Dan saya juga tidak mengupgrade sistem operasi setelah tahu risiko yang harus dibayar jika upgrade tidak berakhir mulus dan berbagai gangguan menjengkelkan lainnya.

Akan tetapi ada satu fitur sederhana yang terlupakan banyak blogger WordPress. Fitur itu adalah “post by email”, yaitu mengunggah tulisan cukup melalui email. Dan karena BlackBerry memiliki email sebagai fungsi dasarnya, tentu kita bisa menggunakannya jika kondisi tidak memungkinkan untuk membuka laptop di tengah jalan atau diburu waktu atau sekadar ingin menulis di blog kesayangan tetapi tak ada koneksi internet yang stabil di musim hujan seperti sekarang.

Your BlackBerry is your savior, bloggers!

Simak saja prosedur berikut untuk mengaktifkan fitur simpel “post by email” ini di akun WordPress.com Anda (jadi ini BUKAN untuk akun blog yang menggunakan software blogging WordPress.org dengan hosting sendiri. Saya belum tahu ada kemiripan atau tidak dengan prosedur aktivasi fitur tersebut di sana).

Langkah 1: login ke wordpress.com dan masuk ke dasbor, temukan tab “Setting” dan klik

Langkah 2: temukan tab “Writing” dan klik

Langkah 3: temukan tab “post by email” dan klik

Langkah 4: akan ditemukan kalimat
“You can publish posts using emails with the post by email feature. To enable this visit your My Blogs page and create a secret address” (Anda bisa mengunggah artikel via email dengan fitur ini. Untuk mengaktifkannya, kunjungi laman web ‘My Blogs’ dan buat alamat email rahasia). Jadi logikanya, kita harus membuat alamat email rahasia yang kita bisa jadikan perantara dan hanya kita yang bisa mengetahuinya agar akses unggahan ke blog kita tidak dimiliki sembarang orang. Alamat email ini dihasilkan secara acak dan agak sukar diprediksi karena memang hakikatnya agar tidak mudah ditemukan orang yang tidak berhak mendapat akses.

Langkah 5: temukan nama blog (jika blog Anda di 1 akun wordpress ada lebih dari satu), dan klik.

Langkah 6: aktifkan fitur “post by email” dengan 1 klik kiri, dan muncul nama email rahasia, catat (saran saya buat entri tersendiri di kontak BlackBerry, misalnya “my blog”). Jika tidak suka dengan alamat email rahasia pemberian WordPress itu, klik “regenerate” sampai menemukan yang lebih cocok.

Langkah 7: cobalah mengetik satu tulisan di email pada BlackBerry, jika ada gambar dan video yang mau ditayangkan bersama tulisan, lampirkan saja seperti attachment file biasa. Tentu harus sadar dengan kemampuan perangkat, artinya jika Blackberry hanya bisa 2G, jangan dipaksa mengunggah video yang ukurannya besar sekali. Alamatkan tulisan ke email rahasia yang sudah dicatat tadi sebagai, misalnya, “my blog” di daftar kontak Anda.

Sebenarnya ada lagi cara untuk mengelompokkan artikel yang diunggah berdasar kategori dan memberikan tags pada artikel, tetapi caranya agak rumit dan tidaklah sekrusial esensi dari tulisan/ konten Anda. Kategori dan tag bisa dilakukan setelah menemukan PC atau laptop atau sambungan Internet yang lebih stabil.

Untuk Anda yang ingin blogging lebih dinamis via BlackBerry, ini adalah salah satu solusi. Selamat mencoba!

This is Not a Treachery!

image

This just in. I just got myself a BlackBerry fortnight ago. After all these years of strong resistance, I know…
And my coworkers thought that was a mindblowing piece of news. I never thought I would embrace this so-called rotten conventional (RIM networks suck lately here despite huge number of users in the country) thing because mainly I was thought of as a BlackBerry hater.
I do hate BB only if it is used as a tool of sheer pleasure. So I have my own reason for this. Productivity, that is it. Though my Android worshipping coworkers think I am a traitor, I have my own reason, which I am pretty sure they won’t listen.
First of all, the qwerty keyboard is one of the best. It is not like I did not try other products but I did try typing on LG and Samsung qwerty phone but still my BlackBerry Curve works best when it comes to lots of typing job on the go. I tried first hand the Samsung Galaxy Chat but they keypad is not that comfortable to type on. No ample space between the buttons. Such a pain in the *ss! I can type much faster on the BB.
Secondly, I love how it enables me to write anywhere anytime even in a moving train or car. I am now typing on BB and the best thing I can find here is the blogging app: WordPress. One more favorite app is Documents to Go. I don’t have to kill myself while typing on my Samsung Galaxy Nexus’ touch screen. The display is big enough but virtual keyboard is still virtual one. I can type my articles on the BB and easily send them to my email and copy and paste it my laptop to work on later. Isn’t that wonderful?
Thirdly, typing a lengthy email, news articles and/or a long essay would be totally fine on Blackberry. Maybe I can write drafts of books to publish later here. Well, who knows? You will never know what and how and when and where ideas come along. Get ready always to capture them!
I love this useful and awesome handset as a writing tool, not as a social media (BlackBerry Messenger) avid user. So that is really not my priority even.
So why do you have to hate one of the two if you can have the best of two worlds: Android and BlackBerry?I am eclectic and I guess brand fanaticism is groundless.
Next time, Apple product anyone?

The Murder of Handwriting

wpid-IMG_20121230_192440.jpgI’ve had the extreme fondness for handwriting from an early age. I knew it when I found it pleasant to spend my spare time at my maternal grandparents’ home, writing with my tiny right hand and sharp pencils circa late 1980’s. I remember, that was when I was a 5-year-old kindergarten student. I, to be honest, didn’t really like to play with some of my classmates (who happened to be terribly annoying) because they were so noisy, which led me to playing with myself – not at the yard – but inside the classroom. I found playing with myself a lot more fun. So I experimented with crayon, color pencils, and pencils. I’d tried to scribble on paper to show everyone I could do something other than weeping over my intruded private playing ground throughout the day. Yes, I was that selfish when it came to self enjoyment. God forgive.

So one day I got a practice book in which there was much space to write cursively. On each page, I could read a line of proverb that I should copy for several times on the same page. No one could tell how I really liked this handwriting exercise. Something in my head told me to write on and on and on. Endlessly, tirelessly. There came unsurpassed satisfaction when I was done writing on every page. I would simply look at it, smile and admire the beauty of my own handwriting. Maybe I was a bit narcissist but I was at the time very fascinated by the fact that an ordinary human can create a lovely artwork like this. I enjoyed it so much and got perpetually engrossed.
Days ago, the handwriting madness arose once again. This time is stronger than ever. I watched a documentary movie aired by BBC. J. K. Rowling was the central figure on it. She was to seek her French root. It turned out great. And I saw abundant samples of cursive handwriting on the movie that inspired me to write again every single day, with my own right hand instead of keyboards. Her great grandfather’s handwriting was shown. Also there were some samples of cursive handwriting that registrars of births, deaths, and marriages in England, France and Germany wrote. These types of handwriting are ones I typically discover in the elder generation and something in my head, once again, pushed me to write again just like during my younger days.

I crave handwriting so much I’ve begun to keep a handwritten journal of my daily activities and some drafts of my blog posts (but this one is typed on my laptop as I have no time to write and type). Every time I spot a nicely designed notebook to write in, I seem to have a sudden, uncontrollable urge to buy as many books as I can afford so I can have a supply of notebooks in my room for me to write my drafts of short stories and, inshaAllah, novels.

Typing all of a sudden is less sexy, to me. Yes, I hate being a mainstream idea adopter and follower. With the abundance of electronic gadgets these days, I suppose we are now losing the arts of handwriting. Young children are now much more familiar with desktop computers, laptops, tablet PCs, etc. They swipe and tap but obviously start to forget how to write with their hands. In fact, for your information, learning how to write with hands can benefit children’s motor skills and their ability to compose ideas and achieve goals throughout life, according to Gwendolyn Bounds on “How Handwriting Trains the Brain” (source: us.wsj.com).

I too agree on the proposition that typing increasingly ‘murders’ handwriting. If that sounds too hyperbolic, I can safely say that handwriting fades away as more and more people forget how to write to become a speedy typist. Writer Kitty Burns commented on the issue, the art of handwriting declines rapidly.

Burns is true. I also conducted my little research. Everyone at my age (generation Y/ people born after 1980) now cannot write cursively in a proper manner. They either prefer block or cursive badly. As we graduated, no one demands the eligibility of our handwriting. Combined with the habit of typing, we gradually lost the ability of writing neatly with hands.

I still remember a week ago when I wrote on a sheet of paper to let an old lady with 2 sons know my address. She works at a shipping agent near where I stay now. Upon reading my handwriting, she said, “Young man, your handwriting looks so pretty compared to both of my sons’.” I smiled at her, thanking for the sincere compliment.

It’s true that I now work more often with keyboard but I also still make time writing with pens. I find it more therapeutic than typing on a gadget, which is why I ditch the idea of writing a diary entry on a BlackBerry (not to mention to write a book on it so I was shocked when I learned E. L. James typed parts of her novels on a BlackBerry) or Android qwerty phone. To add to the therapeutic effect, handwriting also enables us to write really anytime anywhere, even when electricity is non-existent around us. So bringing along a journal or notebook anywhere is a safe bet especially when you have gadgets with keypads that are too small or too tricky to type on when passing on a bumpy road. And, ah…it saves our eyes from the glaring screens for hours! Isn’t that marvelous, people? Because I’m so fatigued at the end of the day with my eyes being glued for more than 8 hours a day to my laptop screen.

We modern humans are so obssessed with data and information gathering. We collect more and more data and information faster in the digital form. People need no handwriting again. Hence, no wonder we slowly pile up oceans of data and information without any personality in it. When tests are now administered online, answers and essays are allowed to be typed instead of being handwritten, we lose all those personality details. The core message is intact still yet the individual distinct impression is lost. The suppressed parts of identity, unraveled feelings, hidden emotions evaporate just like that.

As I’ve been experiencing, keeping a journal in a notebook is fun. I have to say Sylvia Plath’s journal writing inspires me a lot. Writing a physical letter is also safer, digitally speaking. No need to worry about all the viruses, trojans that may delete all your journal files without warning.

And one more silly thing is that I want someday the latter generation – whether that be my offspring or anyone – can learn something from what I jot down. Oh God, now I think I’m Anne Frank of 2013’s….

Gossip Girl: Kebangkitan Era Social Media dan Citizen Journalism

serena snapped on lgPagi ini saya tanpa sengaja membaca sebuah artikel di Mashable.com yang mengupas tentang serial TV yang pernah saya gandrungi, GOSSIP GIRL. Bukan bergosip ria-nya yang saya sukai, tetapi karena lewat serial ini saya mengajarkan ekspresi-ekspresi komunikatif yang membumi, bukan ala buku teks, untuk mahasiswa yang saya ajar di kelas Speaking saya dahulu kala tahun 2008. Dan tanpa sadar saya telah mempelajari bidang pekerjaan saya sekarang sejak saya mengenal serial tersebut: social media.

Dalam artikel op-ed miliknya yang berjudul “Goodbye Gossip Girl, Social Media Pioneer“, blogger Zoe Fox mengatakan:

But they’re missing an important story behind this show. Gossip Girl was the first about the lives of the Connected Generation — the millennials who grew up with the Internet, consider their cellphones an essential accessory and share content comfortably with friends and strangers on social networks.

Di balik kritik sejumlah pihak terutama orang tua yang cemas dengan pesan moral dalam kisah GG, tersembunyi sebuah pelajaran fenomena sosial yang besar bagi peradaban modern. Secara sekilas, memang kita bisa mencap bahwa tayangan seperti ini mengkampanyekan seks bebas, hedonisme, gaya hidup mewah ala borjuis yang tidak peduli masyarakat bawah, dan sebagainya.

Namun, jangan salah, kita juga bisa belajar banyak hal dari sini. Amati saja dari tayangan episode pertamanya “PILOT” yang menampilkan Serena van Der Woodsen berada di stasiun Grand Central dan seorang kontributor atau citizen journalist, katakanlah begitu, bernama Melanie91, mengambil potret Serena dan mengirimkan foto tersebut via email ke admin blog Gossip Girl dari ponsel LG-nya.

Isi scoop berita dari Melanie91:

Spotted at Grand Central, bags in hand, Serena van der Woodsen”

Di sini belum kita kenal penggunaan Facebook dan Twitter serta jejaring sosial seperti sekarang, bahkan blog pun belum demikian luas penggunaannya. Di sini ponsel dan pesan pendek serta MMS sangat berperan penting. Blog masih dianggap sebagai sebuah temporary fad, alias suatu tren yang sesaat. Si penulis GG sendiri,  Cecily von Ziegesar, mengakui ia terkejut dengan karyanya sendiri yang bisa mencerminkan tren di masa depan. Saat ia menulis novel GG, blog masih dipandang sebelah mata. Blog biasanya berfungsi sebagai catatan harian yang penuh keluh kesah dan kegiatan sehari-hari yang remeh temeh, tetapi Cecily terpikir untuk juga menjadikannya sebuah sumber berita tepercaya yang dikelola secara aktif dan rutin dan hebatnya lagi disokong secara luas oleh para anggota komunitas eksklusif  tersebut.

Sepanjang tayangan, kita bisa saksikan bagaimana dunia kecil para remaja sosialita Upper East Side  ini dibentuk oleh interaksi di dunia maya. Pola yang serupa dalam interaksi offline juga bisa ditemukan di sini. Mereka yang membenci bisa mengirimkan sebuah pesan pendek dan foto untuk menghancurkan kredibilitas lawan, seperti saat Jenny Humphrey ingin menghancurkan reputasi gadis baik-baik Blair Waldorf di sekolah. Ia cukup mengirimkan pesan pendek ke Gossip Girl, seorang blogger anonim yang menulis banyak detil kehidupan anggota sosialita komunitas ini.

Di sini, Dan Humphrey juga menyinggung sedikit tentang bagaimana memanfaatkan produk teknologi baru seperti blog dan jejaring sosial dan meninggalkan cara lama. Ini petikannya saat berbicara pada ayahnya yang sibuk menempelkan flyer ke tiang listrik untuk mempromosikan kursus memetik gitar dan bassnya:

You know dad, there’s this thing called MySpace where you could post all this information online. Save some trees. Have a blog”

Menarik bukan? Amati bagaimana Dan memperkenalkan cara baru berinteraksi dengan orang lain yang lebih baru, melalui salah satu layanan jejaring sosial paling keren saat itu: MySpace. Rufus sang ayah, seperti tipikal generasi baby boomer yang memiliki resistensi tinggi dalam mengadopsi teknologi baru, menangkis ajakan itu dengan mengatakan mungkin jika semua musisi meninggalkan blog mereka, industri musik akan jauh lebih baik dan ia tetap ngotot menempelkan  flyer itu ke setiap tiang listrik yang ada di sekitarnya.  Itu juga yang banyak kita alami saat harus menghadapi pihak-pihak konservatif dan berpikiran kaku seperti atasan, orang tua, dan sebagainya yang masih belum menyadari pentingnya membuka diri di dunia maya (meski selalu ada pengecualian untuk itu).

Di sini, kita juga bisa mengamati awal mula citizen journalism, yang membuka kesempatan bagi semua orang untuk menjadi kontributor berita atau konten. Dengan perangkat teknologi terkini seperti ponsel-ponsel keluaran SideKick, LG, BlackBerry, Apple, dan sebagainya yang dikombinasikan dengan jaringan Internet nirkabel serta seluler berkecepatan tinggi, penyebaran informasi menjadi begitu cepat dan mudah. Misalnya saja saat Serena tertangkap basah membeli pregnancy test pack atau alat uji kehamilan di sebuah apotek oleh seorang siswa yang kemudian dikirimkan ke email Gossip Girl. Sontak seisi sekolah membicarakannya.

Satu fenomena menarik yang saya juga temukan dalam Gossip Girl ialah ghost blogger. Kita sudah banyak mengenal ghost writer, sosok penulis yang menulis atas nama dan untuk orang lain dan dibayar untuk itu tetapi di saat yang sama harus menjaga kerahasiaannya atau tidak diperbolehkan menunjukkan identitasnya terkait karya yang dimaksud (let’s say, ada Non Disclosure Agreement untuk itu). Di sini, kita bisa temukan sosok blogger tanpa identitas Gossip Girl yang dinarasikan sepanjang cerita sebagai salah satu anggota komunitas sosialita Upper East Side. Namun, siapa sangka jika Gossip Girl itu adalah Dan Humpfrey yang notabene tidak diakui sepenuhnya sebagai anggota komunitas? Dan, lain dengan mereka yang kaya raya, hanyalah seorang anak musisi kurang terkenal dari Brooklyn, sebuah kawasan yang bereputasi proletar di New York. Ia dan adiknya Jenny kebetulan bisa bersekolah ke sekolah swasta yang dimasuki oleh anak-anak orang kaya di Upper East Side, New York. Dan melalui Internet-lah, ia bisa melakukan perlawanan kasta sosial itu. Ia yang di dunia nyata dianggap outsider, kelas pariah, oleh mayoritas temannya, bisa dengan mudah masuk ke lingkaran sosial elit dengan berbekal blog Gossip Girl, yang ia kelola. Inilah yang banyak kita temui sekarang. Semua orang yang dulu merasa tidak didengar, tersingkir, termarginalisasi, sekarang muncul dan bersuara dengan menggunakan berbagai kanal media baru di Internet. Demikian kata Dan Humpfrey tentang alasannya memulai blog:

“I wasn’t born into this world. Maybe I could write myself into it”

Entah apakah Dan menganggap blog sebuah sarana untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa ia bukan bagian masyarakat sosialita yang ia benci tetapi dalam hati begitu dambakan (escapism) atau memandang kegiatan menulis blog sebagai sarana dan ritual untuk menumpahkan emosi sosialnya dengan lebih terorganisir (purgation) dan lebih sesuai dengan kepribadiannya yang pemalu, menyukai seni dan sastra. Atau bisa juga ini menjadi sebuah ekspresi rendah diri dari dalam diri Dan. Ia cemas tidak bisa diterima sebagai seorang Dan, anak laki-laki cerdas yang tinggal di Brooklyn yang kumuh, tetapi bisakah ia diterima orang di sekitarnya jika mau berpura-pura sebagai seorang gadis penggosip yang genit di Internet? Terbukti ia bisa. Ia merasa diakui dan memperoleh kepercayaan diri itu melewati Internet. Dan kepercayaan diri (baca: ketenaran) itu sering kita ukur dengan banyaknya LIKE, RETWEET, HITS, GOOGLE PAGE RANK, ALEXA RANK dan sebagainya.

GG seolah menjadi sebuah manuskrip berharga dalam bentuk sinema yang menunjukkan pada kita bagaimana (r)evolusi yang terjadi di dunia social media dan citizen journalism. Meskipun serial TVnya ditayangkan perdana tanggal 19 September 2007 (dan baru saja berakhir 17 Desember 2012 yang lalu), sebenarnya GG tampil pertama dalam bentuk novel karya penulis Cecily von Ziegesar yang diterbitkan pertama kali April 2002. Ide tentang tema ghost blogger ini tampaknya sudah ada sejak novel ditulis (berarti sebelum tahun 2002, saat  blogging dan social media tak semarak sekarang. Dugaan saya adalah saat skenario serial TVnya dibuat, dialog tentang MySpace di atas ditambahkan karena relevan dengan perkembangan terkini saat itu (pertengahan 2000-an). MySpace sendiri baru didirikan Tom Anderson tahun 2003, sementara proses penulisan novel GG telah dimulai di awal dekade 2000-an. Dan sebagai informasi tambahan, jejaring sosial Friendster  yang dijuluki sebagai “kakeknya jejaring sosial” didirikan Jonathan Abrams tahun 2002, setahun sebelum MySpace beroperasi.

The Vacation Took Its Toll! (A Random Post Written Desperately in the Commuter Line Train)

Wednesday November 23, 2011

6.53 pm

Here I am stuck in the train . “It was struck by the lightning, he says. Ok, to tell you the truth what I worry about more is NOT about when I get home tonight but when I can have my dinner tonight. And drink! I swear I’ve been severely dehydrated after walking around the Botanical Garden all day long. It was tough, my bodily system is screaming for water. But I can’t get any here! While outside, hevy downpour is falling. My lips are so dry as well as my throat! Too many are standing here but sorry I can’t give this seat away. I’m much too weak to stand up during the rest of the train trip.

It started this morning and hell, I thought I already woke up early enough but what it apparently wasn’t.I set off around 7 am, dashed to the Sudirman Train Station, forgetting that the train is scheduled at 6.30, 6. 55, and 9.40. , which is like “CRAP, I have to wait for more than 60 minutes!”

You may remember Tata Young's "Bitchy, Naughty". And this man sets the song chorus as his phone ringtone!

Enough with the confusion! I shrieked by heart after moving from one coach to another FOUR TIMES (let’s choke the public train official commanding on the megaphone! ). How can this happen to me?? What have I done to deserve this? For God’s sake, I have to work tomorrow! And I here find myself, being stranded in a train coach with this man in front of me talking about rubbish in broken In-glish (Indonesian-English) with 3 alumni of Universitas Diponegoro. I’ve been there, having to endure this sort of conversation which is usually overly boring, so boring you want to bite the vein in his neck to prevent the boredom from killing you, figuratively saying. You simply have to act politely, open your mouth a bit once in a while to please the man and at the same time trying to digest  each and every word the preacher is blurting to no end. It’s, I swear, an ultimate torment if you’re not up to being social and kind. I feel terribly sorry for those 3 young men. They’re exhausted, bored to death and upset for being so powerless to leave the hellish conversation with someone of their grandfathers’ age. Wearing a mask and looking seemingly busy with my notebook writing this post did save me. Busy yourself with anything and no Indonesian passengers will make a mess with you.

The experience was undoubtedly fun. Not having to update any social network accounts, upload images, type like crazy, rewrite articles, summarize long texts, translate stuff, be called on the phone by coworkers or the owner, or inhale the same air of Jakarta today. But there’s a price to pay.

— ∞–

If you're wearing headphones and having a Blackberry in your hand but you litter in the train, you seem more like a neanderthal than a bipedal modern homo sapiens living in the digital age.

7.49 pm

It’s been more than an hour and we’re still here, at Pasar Minggu Station. I miss my maghrib pray, feel excruciatingly hungry and thirsty, until I reach the pointh where I could think of anything but enjoy what it is as it is. Enjoying the present, yes that is exactly what I’m trying to do now. I’ve read a number of pages of “Eat, Pray, Love“, which is kind of great as this novel is comical, witty in some way.

But well, I’m not going to act like a hypocrite. I hate it. I hate this very situation. Being stuck, being unable to rest and claim my private space, to dine, to strectch my stiff legs. I want to scream but why bother? I can’t, will not allow myself to commit such a faux pas. And this man on the loud speaker was definitely a practical joker. Thank to him, we passengers moved to and fro like a flock of fools. Please, f*cking move NOW!! Oh, and that gut said the train is about to move within 4 minutes. Yay!

Oh, speaking of what I did all day long in Bogor, I did different things this time. I metaphorically climb the same mountain but doing extra things on the list. So this is quite productive, I suppose!

Jakarta-Bogor Nov 23, 2011
This man sitting by the door spitted in front of me with his eyes glued to his smartphone! In the train! Public space! What a filthy jackass!

In short, I’d been wandering around the Botanical Garden since noon. And as I waited the pray time (around 11.40 am), I got a terribly shocking, shameful experience. So there was an elderly man (appears to be the mosque’s janitor or something) sprung out of the door and without warning asked one of us (I was there with the other two men sitting in the porch) to give the call to prayer. “Gimme a break!” I thought and grinned bitterly at the old man. I’m not afraid of making mistakes but.. you know I need rehearsal!! It’s hard to just shout the azan lines while you never do it on a regular basis before. Ok, I feel guilty but what if I did something wrong and the entire neighborhood came out of their houses and mocked me or considered that profane? That’s much too risky! And I hear kids are screaming , just like a school but this is buzzing endlessly. I-N-D-O-N-E-S-I-A!!! That’s what they’re yelling. The soccer madness lingers and even escalates in some pockets of the country, believe it or not. Considering the saddening fact that there’re two casualties who lost their lives  for a sheet of soccer match ticket at Gelora Bung Karno Stadium, that is supposed to be better than a one-night-trending spirit.

–∞–

LIAR! So this transportation tragedy is NOT even close to its end. He said 4 minutes, but look where we’re now still. Until now, 5 minutes after the promised time, the train doesn’t even move a single inch. I still sense NO movement at all! I can’t be  mad at anyone because it’s purely out of their control. Huge thanks to myself for bringing this notebook along. It DOES keep my brain active, to survive the unbearably boring predicament.

I swear all passengers here in this ill-fated commuter line train are so fed up right now. They’re like yawning repeatedly, exchanging texts on the phone, checking BlackBerry Messenger,  restlessly or calling people at home they’re gonna be home unusually late. But it’s true, I even want to smash my own head to the glass window.

And the man is announcing again, “The train heading to Jakarta Kota Train Station isn’t allowed to set off now just yet.” God is good. He wants to assess my patience level.

–∞–

Talking about  the Botanical Garden, I already have with me a number of seeds! Yes, seeds of some plants I happened to find along the way. It was lazy of me to even jot down the names or shoot the nametag of each tree but as Shakespeare stated centuries ago, “What is a name?” Names don’t matter, to a certain extent.

And oh, there is a train moving beside our train and every one of us in this train, like responded by a quick, sudden stare filled with annoyance, envy, or hopelessness. The eyes speak for their mind, “How can they move while we’re stuck for hours here?” Or maybe what is popping out on their mind is the urge to hijack the train newly arriving? I have no idea.

Boredom is at the moment intruding even more deeply, seeping through the deeper level of our souls. I succumb. I got the Android phone and check th e Facebook newsfeed and Twitter mentions. And to my utter annoyance, the connection is stuck, just like this train. I sigh, desperately enough.

The guy announced again, only telling us to wait longer. The problem in Manggarai isn’t fixed yet and what hurts me eve more is the fact that the connection speed on this mobile phone goes a lot slower than snails. I now activate the 3G in hope that it’ll significantly boost the speed. Enough with the experiment, I switch the phone to airplane mode!

–∞–

9.01 pm

It’s 9.01 pm and the God-blessed train isn’t moving yet. And this is sickening!  can’t even survive another hour. Please God, I beg of You…

Everyone starts to call or be callled by their dad, mom, or relatives at home. Can barely stand it any further.

Now I sincerely pray for the people at Manggarai that they can fix whatever the problem is IMMEDIATELY, considering it’s been more than 2 hours straight we’re in the train wasting our invaluable life time for cursing other innocent people.

–∞–

10. 17 pm

IT IS MOVING, I CAN FEEL THE MOTION, FOLKS! THANK GOD *Crying for joy*

A Bit of Yogic Essence in Ramadan (An Excerpt from Yudhi Widdyantoro’s Speech)

Yudhi in action!

In the broader sense, ‘yoga’ itself can be defined as ‘a controlled mind’, ‘a harmonious bond between individual soul and the universe soul. It’s an effective method to calm and ease the troubled, anxious mind, which in turns can channel the energy in the right, constructive manner.

The highest purpose of yoga is to reach unity with the Divine in order to create a inner peace of mind and soul. Both physical and mental aspect are equally honed while doing yoga. This will eventually enable us to gain a fuller, more well-rounded perspective of life.  The unity here may also be interpreted as  how mind, body and soul complete with each other.

On “the Pursuit of HappYness”

Human beings are destined to continuously pursue happiness. We, unhappily, tend to seek bliss from the outside (read: material, earthly) world, some of which are the greed for financial satisfaction (money we spend extravagantly during Ramadan), the urge to impress others (that BlackBerry),  social status, and so forth. We’re inclined to forget that happiness lies within ourselves by getting to know ‘inner conflicts’ . As told earlier, yoga is a synthesis of body, mind, and soul.

When it comes to the needs of body, yoga provides what the body exactly needs. Performing yoga poses  (asanas) gives health benefits as each of the poses may give different body therapeutic effects. Bhujangasana, for instance, is good for digestive system health in general when done properly.

As for the needs of mind, yoga can train us to control or ‘tame’ our unmanagable mind as well so that our ability to focus upon the present improves. More often than not, most of us are usually distracted by what happened or what we experienced in the past or what will occur in the future. Both types of attachments (to the bygone past and the uncertain future) prevent us from enjoying what matters to us most, that is living to the fullest in the present.

So what should we do to dismantle these attachments? By meditation, concentration, and proper rhythmic breathing exercise (pranayama), we’ll find it much more easily to focus on what is happening in our inner ‘self’. Listen to how our lungs work, observe the way the fresh air comes in and out of our respiratory system.

The most important thing for yogis and yoginis, which is related to fasting and the spirit of abstinence in Ramadan, is to get to know ourselves by doing good deeds that we think we don’t have to do or we can otherwise ignore. For example, while performing a yogic pose, one is supposed to hold it for some time although it feels a bit painful or uncomfortable. We may release the pose and give up to the pain at once but that way we fail to know who we really are, what fear we have to conquer, which affliction we have to overcome.

This is analogous to fasting in Ramadan. We try to hold ourselves in torturing hunger and agonizing thirst while consciously learning about how we feel about an external or internal stimulus and thus how we react to it. It’s part of the undertake of knowing who we are, which at last enables us to know the Almighty.

Does Twitter Suck? Yes, But…

Free twitter badge
Please follow me and I'll suck you up.

Call me a Twitter whore. I tweet night and day, both for entertainment and professional reason.  I’ve been tweeting so much I almost abandon this blog all over. For this reason, I very well understand why some people blame the diminishing popularity of blogs on the advent of Twitter. Even Raditya Dika admitted this once on his tweet. He isn’t updating his blog as much as he did before, thanks to the addictive social networking service.

So this happened to me a couple of weeks ago. It never occured to me that some people really resent Twitter, even for clearly-defined corporate purposes. They think Twitter is time wasting, unproductive, and silly! It’s a pastime for people with no jobs. To me, it sounded like they condemn and ban the use of knives as people can get hurt or murdered by it. So how about butchers or chefs trying to make a living with knives? Do they have to leave their jobs or use a tiny razor to slice up meat? In other words, what I’m trying to say here is why people keep creating technologies while blaming their chaotic lives on them? As absurd as it may sound but it’s true and really happening. I mean, how many times do we Indonesian mass media consumers read headlines pointing at Facebook for a series of crimes like minor abductions, rapes, fraud and so on?

Continue reading “Does Twitter Suck? Yes, But…”

%d bloggers like this: